Anda di halaman 1dari 28

TUGAS KOMUNIKASI MASSA

Oleh:
Irene Nathania Setyanto
14140110022

Universitas Multimedia Nusantara


Public Relations
2014

BAB 1
RESUME BUKU 2
BAGIAN 4 ORGANISASI
11. Organisasi Media: Tekanan dan Permintaan
-

Tujuan terpenting dari bab ini adalah untuk mengidentifikasi dan menilai pengaruh yang
berpotensi dari berbagai faktor organisasional dan komunikator terhadap apa yang betulbetul diproduksi.
Hipotesis tentang faktor-faktor yang memengaruhi konten (Shoemaker dan Reese, 1991):
Konten mencerminkan realitas sosial (media massa sebagai cermin masyarakat).
Konten dipengaruhi oleh sosialisasi dan sikap pekerja media (pendekatan yang
terpusat pada komunikator).
Konten dipengaruhi oleh kerutinan organisasional media.
Konten dipengaruhi oleh kekuatan dan institusi sosial di luar media.
Konten adalah suatu fungsi posisi ideologis dan mempertahankan status quo
(pendekatan hegemonik).
Tujuan-tujuan utama dari organisasi media:

Laba.
Prestise dan pengaruh sosial.
Memaksimalkan khalayak.
Sasaran dari berbagai bidang (politik, agama, budaya, dan lain sebagainya).
Melayani kepentingan publik.
Kesimpulan : Pekerjaan media terinstitusionalisasi secara lemah jika dibandingkan,
misalnya dengan bidang hukum, kedokteran, atau akuntansi, dan kesuksesan professional
sering kali tergantung pada naik turunnya selera publik yang tidak terduga atau
berdasarkan kualitas pribadi yang unik yang tidak dapat ditiru atau disebarkan. Terlepas
dari keahlian kinerja tertentu, sangat sulit menentukan pencapaian media yang esensial
atau inti. Barangkali bahwa kemerdekaan, kreatifitas, dan pendekatan kritis yang masih
dihargai oleh banyak personel media meskipun adanya latar belakang kerja yang
birokratis yang pada dasarnya tidak cocok dengan profesionalisasi utuh secara
tradisional. Terdapat konflik yang tidak dapat dihindari pada jantung kerja media, baik

terbuka maupun tersembunyi. Barangkali dilemma yang paling mendasar adalah


kebebasan melawan batasan di dalam institusi yang memiliki ideologi yang menghargai
keaslian dan kebebasan, tetapi latar organisasinya membutuhkan control yang relatif
ketat.
12. Produksi Budaya Media
-

Saat ini kita membahas mengenai serangkaian faktor yang kurang lebih statis atau

konstan yang membentuk kinerja organisasi media. Secara khusus, hal ini berkaitan dengan
komposisi dan struktur sosial internal dari para pekerja media dan hubungan yang dipelihara,
di bawah berbagai tekanan ekonomi dan sosial dengan dunia di luar organisasi. Konteks
media sebenarnya tidak pernah statis, tetapi terlihat stabil sebagai hasil dari keseimbangan
yang dicapai antara kekuatan luar dengan tujuan organisasi. Masih terdapat banyak
perubahan dan ketidakstabilan yang terjadi. Penyebab tunggal yang paling signifikan
mungkin adalah munculnya konektivitas (connectivity) jaringan dan potensi baru untuk
menghindari saluran komunikasi massa yang lama.
Faktor Prediksi Peliputan Berita Asing (Galtung dan Ruge, 1965)

Peristiwa yang skalanya besar.


Kejadian yang dekat dengan rumah.
Kejelasan makna.
Kejadian yang waktunya singkat.
Relevan dengan khalayak.
Serupa dengan peristiwa di masa lalu.
Adanya potensi personifikasi.
Hal yang negatif.
Signifikansi yang besar dan konsekuensi yang luas.
Drama dan aksi dalam penyampaian kisahnya.

Faktor pemilihan berita

Kekuasaan, status, atau popularitas individu yang terlibat dalam peristiwa.


Kontak personal atas reporter.
Lokasi peristiwa.
Lokasi kekuasaan.
Dapat diperkirakan dan rutin.
Kedekatan dengan khalayak dari orang-orang dan peristiwa yang ada di berita.

Kebaruan dan ketepatan waktu dari peristiwa.


Pemilihan waktu dalam hubungannya dengan siklus berita.
Ekslusivitas.
Keuntungan ekonomi (dari khalayak, sponsor, dan lain-lain).

Tiga rantai dalam produksi documenter (Elliot, 1972)


Rantai subjek yang berkaitan dengan pengumpulan gagasan program untuk serial.
Rantai kontak yang menghubungkan produser, sutradara, dan peneliti dengan kontak
dan sumber mereka.
Rantai presentasi di mana realitas slot waktu dan anggaran saling berhubungan
dengan gagasan yang umum bagi presentasi yang efektif.
Prinsip utama logika media

Kebaruan.
Kedekatan.
Tempo yang tinggi.
Personalisasi.
Singkat.
Konflik.
Dramatisasi.
Orientasi pada pesohor.

Lima model pembuatan-keputusan media

Jalur perkumpulan.
Keahlian dan kewirausahaan.
Persetujuan dan formula.
Citra khalayak dan konflik.
Citra produk.
Kesimpulan: Masalah yang dibahas dalam bab ini sebagian besar berhubungan dengan
proses seleksi dan pembentukan didalam organisasi media formal, seiring dengan
gagasan dan citra yang diubah menjadi produk untuk didistribusikan. Pengaruh atas
proses ini sangat banyak dan seringkali berkonflik. Meskipun terdapat fitur konstanta
tertentu yang terus terjadi, produksi media masih memiliki potensi untuk menjadi tidak
dapat diprediksi dan inovatif, sebagaimana seharusnya terjadi dalam masyarakat bebas.
Faktor ekonomi, budaya, dan teknologi yang membatasi dapat juga memberikan sarana,

jika terdapat cukup uang untuk membeli kebebasan dan kemampuan inovasi budaya,
serta jika inovasi teknologi bekerja untuk mengatasi hambatan.

BAGIAN 5 KONTEN
13. Konten Media: Isu, Konsep, dan Metode Analisis
- Tujuan utama dari bab ini adalah untuk membahas pendekatan alternative terhadap konten
media dan metode yang tersedia. Bagaimanapun, pilihan akan pendekatan maupun metode
tergantung pada tujuan yang kita miliki yang sangat beragam. Umumnya, kita berhadapan
dengan tiga aspek analisi konten: konten sebagai informasi; konten sebagai makna yang
tersembunyi (semiologi); dan analisis konten kuantitatif tradisional. Tidak ada teori yang
koheren atas konten media dan tidak ada consensus mengenai metode terbaik analisis karena
metode alternatif dibutuhkan untuk tujuan dan jenis konten yang berbeda dan untuk beragam
genre media.
Strukturalisme/semiologi: prinsip utama

Teks memiliki makna yang dibangun melalui bahasa.


Makna bergantung pada kerangka rujukan budaya dan linguistik yang lebih luas.
Teks mewakili proses pemaknaan.
Sistem tanda dapat ditafsirkan berdasarkan basis pengetahuan akan budaya dan sistem

tanda.
Makna teks dapat bersifat konotatif, denotatif, atau mitos.
Komunikasi sebagai informasi
Komunikasi didefinisikan sebagai transfer informasi dari pengirim ke penerima

individual.
Teks media adalah bahan informasi.
Inti dari informasi adalah pengurangan ketidakpastian.
Kualitas informasi dan sifat informatif dari teks dapat diukur.
Arah evaluatif dari informasi dapat diukur.

Kesimpulan: masa depan dari analisis konten dalam satu dan lain hal, harus terletak pada
mengaitkan konten, sebagaimana yang dikirim kepada struktur makna yang lebih luas

di dalam masyarakat. Alur ini barangkali lebih baik dilakukan dengan cara analisis
wacana yang memperhitungkan sistem makna lain didalam budaya asli, atau dengan cara
analisis penerimaan khalayak yang menganggap serius gagasan bahwa pembaca juga
membuat makna. Keduanya diperlukan dalam beberapa tingkatan dalam studi media
yang layak. Berbagai kerangka dan perspektif untuk membuat teori mengenai konten
media yang telah diperkenalkan sering kali melibatkan pemisahan yang tajam dari
metode penelitian sebagaimana pula perbedaan tujuan.
14. Genre dan Teks Media
- Tujuan dari bab ini adalah untuk melihat lebih dekat beberapa contoh konten media
sebagaimana yang diungkapkan dengan menerapkan beberapa pendekatan dan metode yang
dibahas dalam bab 13. Bab ini juga memperkenalkan beberapa konsep yang digunakan untuk
mengelompokkan keluaran dari media massa. Secara khusus, kita mendalami konsep dari format,
genre, dan teks media.
Persepsi yang muncul mengenai mesin pencari Internet sebagai sebuah genre media

Pintu yang dapat diakses menuju jagat raya konten dalam cyberspace.
Tujuan utamanya adalah informatif.
Merupakan sumber yang netral, tidak disunting, tidak disensor, dan menyeluruh.
Secara bebas dan setara terbuka bagi semua pengirim dan penerima.
Bentuknya memungkinkan pengguna untuk mengikuti alur dan tautan pencarian yang

tidak terhitung.
Tidak ada indikasi status atau nilai, kecuali sebagaimana yang dipandang oleh si
pencari.
Genre berita: atribut utama

Ketepatan waktu dan kebaruan.


Ketidakterdugaan.
Jenis yang dapat diperkirakan.
Sifat alami yang terpisah-pisah.
Cepat using.
Melambangkan fungsi atau efek.
Dibentuk oleh nilai.
Menarik.
Kondisi fakta.

Kesimpulan: Generalisasi mengenai konten media massa telah menjadi semakin sulit
seiring dengan media yang meluas dan beragam serta bentuk multimedia yang menjadi
semakin dominan. Genre yang mapan telah berlipat ganda dan bermutasi, membuat
analisis genre diragukan sebagai kerangka yang stabil untuk menjelaskan keluaran media.
Kapasitas untuk menganalisis dan memahami bagaimana teks bekerja tidak mampu
menandingi keragaman keluaran bahkan dari media konvensional, apalagi dari Internet
dan bentuk penyampaian baru yang lain.

15. Teori Khalayak dan Tradisi Penelitian


- Kata khalayak sangat akrab sebagai istilah kolektif dari penerima dalam model urutan
sederhana dari proses komunikasi massa (sumber, saluran, pesan, penerima, efek) yang dibuat
oleh para pelopor di bidang penelitian media (misalnya lihat Schramm, 1955). Untuk permulaan,
konsep khalayak menunjukkan adanya sekelompok pendengar atau penonton yang memiliki
perhatian, reseptif, tetapi relative pasif yang terkumpul dalam latar yang kurang lebih bersifat
publik. Penerimaan sesungguhnya dari media massa sangat beragam dan merupakan pengalaman
yang berantakan dengan hanya sedikit konsistensi dan tidak cocok dengan versi ini. Hal ini
terutama berlaku pada saat mobilitas, individualisasi, dan berlipatgandanya penggunaan media.
Kedua, munculnya media baru telah memperkenalkan sejumlah bentuk perilaku, melibatkan
interaktivitas dan pencarian, alih-alih menonton atau mendengarkan saja. Ketiga, batasan antara
produsen dan khalayak telah menjadi kabur karena alasan-alasan yang telah diberikan
sebelumnya.
Karakteristik khalayak asli
Merencanakan dan mengatur kegiatan menonton dan mendengarkan sebagaimana
pula pertunjukkan itu sendiri.
Peristiwa dengan karakter yang public dan populer.
Konten penampilan yang sekuler (karenanya tidak religius)untuk hiburan,
pendidikan, dan pengalaman emosional yang termediasi.
Tindakan pilihan dan perhatian individual yang sukarela.
Spesialisasi dari peranan pengarang, penampil, dan penonton.
Lokasi fisik dari penampilan dan pengalaman penonton.

Khalayak sebagai pasar: ciri teoretis utama


Khalayak merupakan kumpulan dari banyak konsumen, baik konsumen nyata
maupun konsumen potensial.
Anggota khalayak tidak saling berkaitan satu sama lain dan tidak memiliki identitas
diri bersama.
Batasan yang ditentukan kepada khalayak umumnya berdasarkan kriteria sosial

ekonomi.
Khalayak adalah objek pengaturan dan kontrol oleh media.
Pembentukannya bersifat sementara.
Kepentingan publik adalah sesuatu yang dinomorduakan.
Hubungan khalayak dengan media adalah saling perhitungan dan bukan berdasarkan

moral.
Kesimpulan: Untuk sebagian besar industri media, khalayak kurang lebih sama dengan
pasar bagi layanan media, dan dikelompokkan berdasarkan hal tersebut. Dari sudut
pandang khalayak atau mereka yang mengambil perspektif khalayak, pandangan
mengenai khalayak ini bersifat peripheral atau tidak dapat dipahami. Pengalaman
khalayak sebagai peristiwa budaya atau sosial merupakan hasil dari berbagai motif yang
berbeda. Kemungkinan lain pun dapat muncul ketika pandangan dari pihak pengirim atau
komunikator yang diambil, dalam kaitan tidak menjual layanan, tetapi mencoba
mengomunikasikan makna. Khalayak dapat dianggap oleh komunikator dalam kaitannya
dengan selera, ketertarikan, kapasitas atau komposisi sosial, dan lokasi mereka. Situasi
ini akan lebih rumit lagi dengan munculnya alat baru komunikasi dengan implikasi
terhadap banyak faktor yang telah disebutkan.

16. Pembentukan dan Pengalaman Khalayak


- Bab ini melihat alasan mengapa khalayak terbentuk pada awalnyaterutama motif untuk
memperhatikan media massa dan kepuasan yang diharapkan atau didapatkan. Ada teori-teori
yang berbeda mengenai ini karena menjadi khalayak bukan hanya hasil dari pilihan pribadi,
tetapi juga tergantung pada apa yang tersedia untuk dipilih, dari latar belakang sosial atau gaya
hidup dan kondisi pada saat itu. Bab ini juga membahas aspek lain dari pengalaman khalayak,
termasuk hubungannya dengan konteks sosial dan budaya. Penggunaan media bersifat sosial dan
sering kali merupakan aktivitas yang sosial dan diatur hingga tahapan tertentu oleh pengharapan
dan norma yang beragam dari satu tempat ke tempat lain dan jenis media yang terlibat. Akhirnya,

bab ini membahas implikasi perubahan media bagi khalayal, terutama pertanyaan mengenai
kemunduran khalayak massa.
Tipologi interaksi media dengan orang (McQuail et al., 1972)

Pengalihan: melarikan diri dari rutinitas atau masalah sebagai pelepasan emosi.
Hubungan personal: pertemanan, kegunaan sosial.
Identitas pribadi: rujukan-sendiri, eksplorasi realitas, penguatan nilai.
Pengawasan (bentuk pencarian informasi).

Norma khalayak bagi perilaku dan konten media


Terlalu banyak penggunaan media, terutama TV adalah hal yang buruk terutama bagi

anak-anak.
Penggunaan TV oleh anak-anak harus dijaga dan diawasi.
Genre dan media yang berbeda menerima penilaian yang berbeda.
Khalayak mengharapkan akurasi dan keberimbangan dalam berita.
Konten untuk khalayak umum haruslah tidak menyinggung nilai moral atau norma

sosial yang dominan.


Media seharusnya tidak boleh merusak kepentingan atau keamanan nasional.
Perubahan media memengaruhi khalayak

Penggandaan saluran.
Konglomerasi meningkatkan beberapa jumlah khalayak.
Fragmentasi khalayak massa.
Segmentasi menurut karakteristik pasar.
Pelarian khalayak dari manajemen dan pengukuran.
Muncul jenis baru khalayak: interaktif dan konsultatif.

Dimensi utama dari khalayak

Derajat keaktifan atau kepasifan.


Derajat interaktivitas dan dapat saling dipertukarkan.
Ukuran dan durasi.
Kedudukan di dalam ruang.
Karakter kelompok (identitas sosial atau budaya).
Kontak yang simultan dengan sumber.
Komposisi yang heterogen.
Hubungan sosial antara pengirim dan penerima.
Pesan versus definisi situasi secara sosial/behavioral.

Derajat kehadiran sosial yang dirasakan.


Sosiabilitas dari konteks penggunaan.
-

Kesimpulan: konsep khalayak secara berangsur berubah ke dalam istilah lain untuk
menggambarkan penggunaan teknologi komunikasi yang lain. Bagaimanapun, ada dasar
bersama yang mengangkangi batasan antara bentuk-bentuk komunikasi, terutama jika
kita mempertimbangkan: cara alternatif untuk menggunakan waktu luang; beragam
fungsi yang dapat dipenuhi oleh alat-alat yang berbeda; fakta atas ketergantungan yang
berlipat ganda pada teknologi; kepemilikan dan organisasi massa dan media baru; dan
beberapa bentuk konten. Jelas bahwa cukup banyak teori khalayak juga diterapkan
kepada situasi nonkomunikasi massa meskipun dalam bentuk yang disesuaikan atau
diperluas.

BAGIAN 7 EFEK
17. Proses dan Model dari Efek Media
- Bab ini menampilkan pandangan umum dari teori dan efek media massa yang dimulai dengan
paradoks. Ada kepercayaan yang hampir pasti bahwa media massa merupakan alat yang kuat
dalam membentuk opini serta efek dalam perilaku. Pada saat bersamaan, terdapat kesulitan
dalam memprediksi efek mendesain efek, atau membuktikan bahwa efek terjadi setelah suatu
kejadian. Meskipun terdapat kesulitan ini, pengetahuan tentang proses terkait telah meningkat
perlahan-lahan dan kita berada dalam posisi yang lebih baik untuk mengatakan kapan dan efek
mana yang kurang lebih berpengaruh.
Ciri khas elemen dan urutan kampanye media publik
Sumber kolektif dengan tujuan yang disetujui masyarakat, menggunakan beberapa
saluran dan dengan pesan yang berbeda untuk target kelompok yang berbeda, subjek
menyaring kondisi dan memproses variabel informasi untuk mencapai efek yang
direncanakan yang telah dievaluasi.
-

Kesimpulan: Bab ini memperkenalkan tentang efek media dan pengukurannya secara
umum. Bahwa media tidak diragukan lagi memiliki efek walaupun sulit untuk diketahui
kapan dan tingkat efek yang sudah terjadi dan yang mungkin terjadi. Kesulitan ini bukan

selalu karena kesulitan metodologi walaupun memang ada. Kesulitan pada umumnya
muncul dari jumlah dan keragaman efek yang mungkin terjadi dan dari fakta dan kondisi
yang terkait dengan terjadinya efek tersebut. Hal yang juga menjadi masalah adalah fakta
bahwa efek, ketika mereka terjadi, tidak hanya meliputi aksi komunikator, tetapi juga
orientasi dan aksi dari khalayak. Sebagian besar efek terjadi dalam interaksi antara
pengirim dan penerima. Banyak efek jangka panjang dari media massa tidak melibatkan
khalayak sama sekali, tetapi merupakan respons lanjutan dari lainnya.
18. Efek Sosial Budaya
Bab ini membahas mengenai serangkaian efek media yang luas, baik proses jangka pendek
atau panjang yang kolektif maupun individual dan dianggap positif maupun negatif. Untuk
hampir seluruh bagian, teori dasar dan proses efek telah dibahas pada Bab 17 meskipun ada
beberapa tambahan, terutama dalam model feel behavioral yang berada pada awal bab ini.
Tujuan utama di sini adalah untuk menilai secara singkat dengan rujukan kepada bukti,
sejumlah hipotesis mengenai pengaruh sosial dan budaya dari media terutama televise.
Media massa dan perkembangan: proposisi
Media massa bertindak sebagai agen perkembangan dengan cara:

Menyebarluaskan pengetahuan teknis


Mendorong perubahan dan pergerakan individual
Menyebarkan demokrasi (pemilihan)
Mempromosikan permintaan konsumen
Membantu literasi, pendidikan, kesehatan, pengendalian populasi, dan sebagainya

Kesimpulan: efek sosial dan budaya dari komunikasi massa sulit untuk diukur karena alasanalasan di atas. Hanya ada sedikit keraguan bahwa media memang memiliki banyak efek dan
mereka memang bertanggung jawab atas beberapa tren umum. Bagaimanapun, efek mereka
sering kali tidak konsisten dan saling meniadakan satu sama lain dan masyarakat yang
kompleks sering kali dicirikan oleh alur perkembangan yang berbeda pada saat yang
bersamaan. Media sepertinya bukanlah kekuatan pendorong yang utama dari meningkatnya
difusi informasi yang pesat dan mendalam, serta gagasan dan citra dalam skala global
seharusnya tidak diremehkan.

19. Berita, Opini Publik, dan Komunikasi Politik


Bab ini berkaitan dengan perangkat beragam lain dari kemungkinan efek media yang
utamanya dibedakan melalui hubungan mereka dengan konten media informasi dari berbagai
jenis, tetapi terutama dari berita dan berbagai bentuk komunikasi politik. Efek yang dibahas
berkaitan dengan pengetahuan public, opini, dan sikap, terutama untuk jenis yang jangka
pendek atau menengah. Berita dan komunikasi politik secara umum membentuk wilayah
komunikasi di mana media tradisional adalah yang paling terbuka terhadap kompetisi dan
ditantang oleh media daring baru, terutama internet. Pada prinsipnya, internet dapat
menawarkan lebih banyak sumber dan berita yang lebih beragam daripada surat kabar atau
saluran televise manapun, dan memungkinkan penerimanya untuk memilih berdasarkan
kepentingan pribadi (meskipun pada kenyataannya gagal memenuhi sejumlah besar
potensinya).
Faktor yang dibutuhkan dengan pembelajaran berita:

Pengetahuan sebelumnya serta kepentingan dari pihak khalayak


Relevansi yang dipersepsikan atas topic
Saluran atau sumber berita yang dapat diandalkan dan dapat dipercaya
Ilustrasi visual
Subjek masalah yang konkrit dan karakter hard news
Berita yang sesuai dengan kerangka interpretasi yang tersedia
Pengulangan berita
Bentuk naratif dari teks

Hipotesis agenda-setting

Debat public diawali oleh seperangkat isu yang penting (agenda untuk bertindak)
Agenda berasal dari opini publik dan proposal dari elit politik
Kepentingan yang bersaing mencoba mempromosikan kepentingan isu mereka

masing-masing
Berita media massa memilih isu untuk diberikan perhatian lebih banyak atau sedikit
berdasarkan tekanan-tekanan tertentu, terutama dari elit yang berkepentingan, opini
publik dan peristiwa di dunia nyata

Keluaran dari media (tingkat relative dari kepentingan suatu isu) memberikan
pemahaman publik terhadap agenda yang terjadi dan juga memiliki efek yang lebih

jauh terhadap opini dan evaluasi ranah politik


Efek agenda bersifat peripheral dan jangka pendek

Faktor yang memengaruhi kesempatan efek media terhadap opini dan sikap

Otoritas, kewenangan, dan kredibilitas yang dipersepsikan atas sumber


Konsistensi konten pesan media
Keterikatan dan kesetiaan terhadap sumber
Motif perhatian terhadap media
Persetujuan terhadap konten dengan opini atau keyakinan yang telah ada
Jumlah dan kualitas perhatian yang diberikan
Keahlian dan daya tarik pesan dan penyajian
Dukungan dari kontak personal dan lingkungan

Kesimpulan: Pembaca akan keluar dengan pandangan bahwa ada jarang sekali jawaban
yang hitam-putih mengenai hubungan timbal balik dalam hal efek media. Ada cukup banyak
kejadian, terutama dalam hal pembelajaran dan pembentukan opini, ketika sulit untuk
melihat apalagi selain media massa yang dapat menyebabkan efek yang dapat menjadi
masalah. Pencarian bukti akan masih berlanjut, berdasarkan teori, konsep, dan model yang
semakin berkembang, dan sulit untuk membayangkan masa di mana ketertarikan atas topik
ini mereda.
20. Masa Depan Komunikasi Massa
Dari satu perspektif, hipotesis umum dari komunikasi massa memainkan peranan yang
berguna berdasarkan fakta bahwa ia secara komprehensif diperselisihkan dan dibantah.
Dalam hal ini, secara berulangkali kita diingatkan bahwa kondisi efek (bagaimanapun
didefinisikan) utamanya bergantung pada struktur dan konteks sosial dan pada variabel ciri
penerimaan, alih-alih kepada fakta penyiaran; bahwa komunikasi antarpribadi sering kali
lebih menarik atau bahkan merupakan bentuk yang bersaing dan juga sumber pengaruh;
bahwa konsep khalayak yang terdiri atas individu-individu yang terisolasi pada umumnya
merupakan ilusi; dan bahwa konten media biasanya tidak memiliki tujuan yang jelas bagi

mereka yang menyebarkannya dan tidak memiliki makna yang tetap bai penerimanya,
sehingga umumnya tanpa ada efek yang melekat dapat diprediksi.
Media baru telah muncul sebagai hasil dari inovasi teknologi yang sering kali dicirikan
dengan cara yang memisahkan mereka dari media massa yang lama, tetapi teori massa
yang telah muncul belumlah menjadi panutan yang baik atas realitas media. Masih belum
jelas seberapa banyak media akan beradaptasi atau bergabung, seperangkat kemungkinan
komunikasi yang sangat beragam yang terus-menerus berkembang melalui basis uji coba di
pasar media.
Kesimpulan: Saat ini, kita dapat melihat lebih jelas bahwa era komunikasi massa,
sebagaimana konsep yang diangkat dalam buku ini, paling baik dilihat sebagai fase peralihan
dari komunikasi publik massa industrial. Akan tetapi, kita telah dapat mengenali
keberlanjutan dari komunikasi massa sebagai sebuah proses setingkat masyarakat dalam
bentuk baru yang terbuat dari jaringan yang jauh lebih baik dan rapi dari jalur hubungan yang
memiliki karakter organik alih-alih dibentuk dan dikendalikan oleh sedikit orang demi
tujuan mereka sendiri. Kita harus menyadari bahwa rangkaian teknologi komunikasi dan
penggunaannya sekarang sangat besar dan bervariasi.

BAB II
REVIEW BUKU 1 (KOMUNIKASI MASSA GLOBAL)

Asal mula globalisasi


Awal mulai globalisasi, dapat kami simpulkan dalam 3 pengaruh besar yang sampai saat
ini dirasakan oleh para penduduk Global Village di seluruh dunia, yaitu :
1. Media percetakan surat kabar dan buku.
Mengapa media percetakan surat kabar dan buku menjadi awal mula globalisasi? Pada jaman
dulu, orang orang menuliskan pemikirannya, hasil karyanya, hasil observasinya dan
pendapatnya dalam bentuk tulisan, entah itu mereka menulis buku, membuat artikel dan berita
berita di surat kabar. Karena tulisan mereka yang berisi pendapat mereka itu dianggap menarik,
benar atau kontroversial, tulisan mereka mulai dicetak dan diperluas. Tidak jarang buku buku
yang dianggap kompeten dan baik sekali juga diterjemahkan ke dalam banyak bahasa dan
disebar luaskan lagi di negeri orang.
Maka dari itu mulai timbullah adanya kesadaran bahwa ternyata media cetak bisa membuat
orang orang di negara yang berbeda merasa terhubung atau connected. Karena pemikiran
si A di negara X yang ia tulis dalam bukunya ternyata bisa sama dengan si B di negara Y. Atau
bahkan si A menulis pandangannya mengenai si B yang ternyata kontroversial dan mengundang
pro kontra dari berbagai belahan dunia. Media cetak mulai mengenalkan Global Village
karena apa yang terjadi di belahan bumi barat, dalam waktu singkat belahan bumi timur akan
tahu apa yang terjadi di barat. Misal: Koran The News of The World (sebelum Perang Dunia II).
2. Perang Dunia II dan Radio.
Pada awal abad ke 20, pemerintah di negara negara mapan mulai memakai media cetak dan
radio untuk meluncurkan propaganda mereka, mereka mulai menemukan keuntungan media
baik untuk tujuan domestik maupun internasional. Pemerintah negara negara mapan banyak
menggunakan media cetak dan radio untuk kepentingan dalam negeri mereka sekaligus untuk
kepentingan luar negeri.
Mereka bisa membentuk public opinion hanya dengan menyajikan suatu berita, artikel, atau
rekaman pidato orator yang ditata sedemikian rupa dengan berbagai tujuan dan kepentingan,
baik itu domestik ataupun internasional.

Hal ini membuat globalisasi semakin gencar dilakukan, bahkan saat itu dua negara yang
idealismenya berlawanan (Rusia dan Amerika), membuat banyak sekali propaganda
propaganda mereka di mata dunia melalui media cetak, dan itulah titik awal terjadinya
globalisasi besar-besaran, dan saat itulah juga bumi memanas dan pecahlah PD II.
3. Musik dan Film yang berkiblat pada Barat.
Perekaman musik, bersifat semi internasional, pertama karena repertoar klasik, dan kedua
karena meningkatnya penyebaran lagu rock Amerika, itu juga merupakan sebuah celah dalam
globalisasi yang diambil Amerika dan pada akhirnya berdampak hingga kini.
Pada masa kini, globalisasi bukan lagi mengenai propaganda saja, musik rock saja, film
film Hollywood saja, tetapi hampir dalam semua aspek kehidupan manusia, ditambah lagi
dengan new media segala yang terdapat di dalamnya. Dalam hitungan beberapa menit saja,
kejadian di USA bisa langsung disiarkan di Indonesia, begitu juga sebaliknya. Desa Global,
pemikiran McLuhan, memang sudah benar terjadi.
Tenaga penggerak: teknologi dan uang
Ada berbagai alat penyebaran lain yang bekerja dalam arah yang sama selain new media
yaitu CD dan DVD. Akan tetapi, tujuan utama dari penyebaran tersebut adalah mengekspor
konten melalui media internasional. Pada saat ini, teknologi menjadi kondisi yang diperlukan
untuk menjadi penggerak yang paling cepat dan bertahan lama dibalik globalisasi ekonomi.
Televise dibangun dari proses penyiaran radio sebagai layanan informasi selama 24 jam. Sejak
tahun 1980-an, sudah ada ekspansi televise yang memungkinkan teknologi penyiaran yang baru,
efisien, dan murah. Selain itu, ekspasi ini juga telah digerakkan oleh motif komersial. Hal ini
mempengaruhi industri produksi audiovisual baru yang dicari pasar baru. Apabila dulu kita
hanya bisa mendapatkan informasi yang tidak setiap saat melalui radio, melalui munculnya new
media seperti televise kita lebih mudah mendapat informasi setiap saat. Televise itu sendiri
menjadi penggerak teknologi yang digemari oleh pengusaha untuk menjadi pasar yang bisa
mereka kelola sendiri. Komponen penting dari komunikasi massa internasional adalah iklan yang
berhubungan dengan globalisasi dari banyak agen yang mendominasi pasar. Pesan iklan yang
muncul di banyak negara membawa efek internasionalisasi secara tidak langsung. Dengan kata
lain, perkembangan teknologi yang ada saat ini digunakan sebagai bisnis yang bisa menghasilkan

uang. Contoh kasusnya itu adalah perusahaan media yang ada saat ini menggunakan uang untuk
menggerakkan teknologi. Salah satu perusahaan media yang saya ambil adalah MNC Group. Ia
memiliki beberapa anak buah perusahaan untuk menghasilkan uang dengan memanfaatkan
teknologi, seperti iklan yang melalui iklan media tersebut mereka mendapatkan keuntungan dari
pasar.
Struktur media global
Dilihat dari struktur media global, ada perbedaan dalam struktur media global. Cara
paling untuk mengetahui struktur media global adalah perbedaan wilayah suatu negara. Faktorfaktor utama dari struktur media global yaitu ukuran, tingkat perkembangan ekonomi, bahasa,
sistem politik, dan budaya. Keadaan yang mendasari struktur media global mengatur situasi bagi
pembentukan realitas dan ketertarikan atas globalisasi. Contohnya, adanya perbedaan struktur
media global antara MNC group dengan BBC.
Kepemilikan dan Kontrol Media Multinasional
Fase terkini dari revolusi komunikasi ditandai dengan adanya fenomena baru
konsentrasi media, tradisional maupun multimedia. Beberapa jenis konten media menawarkan
diri mereka sendiri kepada kepemilikan global dan kontrol produksi serta distribusi yang
mencakup berita, film, music popular, serial tv, dan buku. Media unik ini dapat lebih mudah
dirancang bagi produk internasional dan fleksible untuk jangka waktu yang lebih lama. Berita
adalah produk pertama yang dikomodifikasi melalui agen berita internasional yang besar. Inilah
pemasok berita grosiran sebagai komoditas dan mudah untuk melihat mengapa media nasional
lebih memilih untuk membeli berita mengenai dunia daripada mengumpulkannya sendiri.
Variasi Media Massa Global
Fenomena multifaset yang merupakan komunikasi massa global memiliki beberapa bentuk
yang mencakup:
Transmisi atau distribusi langsung saluran media atau publikasi suatu Negara kepada
khalayak di negara lain (penjualan surat kabar dan buku kepada asing, saluran tv satelit
tertentu, dan layana penyiaran radio yang disponsori internasional)
Media internasional khusus (MTV Eropa, CNN Internasioal, BBC World, dst)

Bermacam bentuk konten (film, musik, program tv, artikel jurnalistik, dst) guna
memenuhi keluaran media domestic.
Format dan genre asing yang beradaptasi untuk menyesuaikan dengan khalayak
domestic.
Artikel berita internasional (dalam negeri maupun luar negeri)
Konten lainnya seperti, peristiwa olahraga, iklan, dan gambar yang berasal dari luar
negeri.
World Wide Web (WWW) dalam berbagai bentuk.

Tidak ada garis pembatas yang jelas antara konten media global maupun lokal. Komunikasi
massa dapat berpotensi global walaupun tidak secara langsung menjadi global dengan orientasi
sebagian besar produksinya menuju kepada pasar dunia.
Negara pengekspor memiliki kapasitas yang cukup untuk memengaruhi pengalaman media
nasional dari Negara penerima. Ada hal yang harus dipertimbangkan seberapa jauh konten asing
yang tunduk pada pengendalian gatekipping di wilayah impor (seperti diedit, disaring, dan
diseleksi atau diterjemahkan dengan konteks yang akrab). Mekanisme dari pengendalian adalah
tuntutan penonton akan konten media mereka sendiri dalam bahasa mereka sendiri. Bahasa dan
budaya dapat menjadi hambatan yang melawan globalisasi seperti halnya ekonomi yang dapat
membatasi rangsangan impor.

Secara umum, semakin makmur suatu negara, bahkan jika

populasinya kecil, semakin banyak kesempatan untuk melakukan otonomi media. Bentuk
globalisasinya sangat beragam dan fleksibel.
Ketergantungan Media Internasional
Teori dependensi adalah kondisi yang diperlukan untuk menghentikan hubungan yang
bersifat ketergantungan dengan memilki kecukupan diri (self-sufficiency) dalam hal informasi,
ide, dan budaya. Terdapat model Mowlana yang dua dimensinya merupakan penentu utama dari
derajat komunikasi yang bergantung pada otonomi. Urutannya dimulai dari pengirim (1) ke
penerima (4), diperantarai oleh produksi yang berbasis teknologi (2) dan system distribusi (3).
Namun dalam komunikasi internasional, berlawanan dengan situasi media nasional secara
umum, empat tahapan sebelumya seringkali bergantung secara wilayah, organisasi, dan budaya
terpisah dari satu sama lain. Secara serupa, dalam kaitannya dengan film dan televisi,
keseluruhan produksi yang berlangsung di satu negara dan disalurkan ke negara lain.

Proses yang secara umum luas dan terputus-putus ini tergantung pada dua jenis keahlian,
piranti keras dan piranti lunak. Produksi piranti keras (kamera, studio, pabrik percetakan,
komputer, dan seterusnya). Distribusi piranti keras merujuk pada pemancar, hubungan satelit,
transportasi, alat perekam, dst. Produksi piranti lunak tidak hanya mencakup konten yang
sebenarnya, tetapi juga kinerja dari hak, manajemen, norma, dan rutinitas profesional yang
menjalankan praktik organisasi media (pengetahuan). Distribusi piranti lunak termasuk publikasi,
manajemen, pemasaran, dan penelitian. Keduatahap produksi dan distribusi dipengaruhi variable
di dalam dan luar media dalam situasi kepemilikan, dan konteks social budaya, dan sisi distribusi
ekonomi pasar media tertentu.
Model tersebut menggambarkan kondisi ketergantungan arus komunikasi negara maju ke
negara miskin tetapi dapat dikendalikan oleh negara asalnya. Situasi komunikasi global
merupakan kompleksitas yang semakin meningkat sebagai hasil dari pasar yang baru, media
baru, dan perubahan ekonomi realitas geopolitik, tentunya dalam media yang berbeda. Secara
keseluruhan, system arus komunikasi global yang belum jelas kemungkinan negara bangsa akan
menjadi unit analisis yang kurang penting. Lebih sulit untuk menunjuk informasi dan budaya ke
negara asalnya. Produksi dan pemasaran multinasional dalam kendali perusahaan besar dan
aliran media multilateral akan membangun pola dominasi dan dependensi mereka sendiri.
Contoh Kasus :
Adanya channel media internasional tertentu yang lebih menarik serta cenderung
mendominasi daripada channel media nasional. Dalam hal ini media tersebut memiliki konten
yang beragam jenisnya (berita, musik, film, dan lainnya). Beberapa khalayak lebih memilih
untuk mengkonsumsi konten yang disediakan media internasional karena beberapa alasan
tertentu seperti, konten yang disediakan lebih menarik, fresh, mewakili kehidupan remaja,
merasa prestige bila mengkonsumsi konten tersebut, dst.
IMPERIALISME BUDAYA DAN SESUDAHNYA
Di masa negara segera setelah Perang Dunia II, ketika penilitan komunikasi sebagian
besar dimonopoli Amerika, media massa secara umum dipandang sebagai salah satu saluran
modernisasi yang menjanjikan (misalnya westernisasi) dan terutama bagi alat yang kuat untuk
mengatasi sikpa tradisional (Lerner, 1985). Dari persperktif ini, aliran media massa dari negara
kapitalis Barat atau negara maju ke negara berkembang di pandang bagus, baik untuk

penerimanya dan juga berguna dalam melawan model modernisasi alternatif yang berdasarkan
sosialisme, perencanaan, dan kontrol pemerintah. Jenis arus media yang dibayangkan bukanlah
berupa propaganda atau instruksi langsung, tetapi hiburan biasa (ditambah iklan dan berita) yang
diduga mempertontonkan gaya hidup yang mewah dan lembaga sosial demokrasi liberal yang
bekerja. Banjirnya media cetak, film, musik, dan televisi Amerika memberikan contoh utama dan
pengujian bagi teori ini.
Teori imperialisme budaya menyatakan bahwa negara Barat mendominasi media di
seluruh dunia ini. Ini berarti pula, media massa negara Barat juga mendominasi media massa di
dunia ketiga. Alasannya, media Barat mempunyai efek yang kuat untuk mempengaruhi media
dunia ketiga. Media Barat sangat mengesankan bagi media di dunia ketiga. Sehingga mereka
ingin meniru budaya yang muncul lewat media tersebut. Dalam perspektif teori ini, ketika terjadi
proses peniruan media negara berkembang dari negara maju, saat itulah terjadi penghancuran
budaya asli di negara ketiga.
Konsep imperialisme budaya dan imperialisme media sebenarnya memiliki tujuan yang
sama, yaitu untuk mendominasi, menyerang, atau menumbangkan ranah budaya yang lain dan
menyarankan derajat koersi dalam hubungan tersebut. Hal ini juga menyiratkan beberapa jenis
keseluruhan pola budaya dan ideologis dalam apa yang disiarkan yang mana sering kali
dimaknai memiliki nilai barat, terutama nilai individualisme, sekularisme, dan matrealisme.
Globalisasi yang dievaluasi kembali
Masalah kerusakan budaya potensial dari transnasionalisasi media mungkin dilebihlebihkan. Secara global, banyak budaya regional, nasional (dan subnasional) yang penting di
Eropa dan wilayah lain yang masih kuat dan bertahan. Khalayak yang mungkin dapat
bertoleransi atas beberapa praktik budaya yang berbeda dan tidak konsisten tanpa harus saling
menghancurkan satu sama lain. Media dapat memperluas pilihan budaya dengan cara yang
kreatif, dan internasionalisasi dapat bekerja secara kreatif. Relativitas masalah ini tidak
menghapuskannya, dan ada beberapa situasi di mana kehilangan budaya benar-benar terjadi.
Perspektif yang direvisi dan lebih positif mengenai globalisasi ini berdesarkan pada
pengamatan bahwa arus media internasional secara umum adalah respons dari tuntutan, dan
harus dipahami dalam kaitannya dengan keinginan dan kebutuhan penerima dan ukan hanya
sekedar motif dari pemasok saja. Fakta ini tidak dengan sendirinya membatalkan kritik terhadap
imperialisme media dalam batasan pasar media global. Banyak ciri-ciri situasi media di dunia

yang menegaskan kekuatan aparat dan etos kapitalis yang lebih besar terhadap media di hampir
semua tempat, tidak menyisakan tempat untuk sembunyi.
Aliran Berita Internasional
Berita adalah produk media pertama yang secara efektif dikomodifikasi untuk perdangan
internasional.
Berita telah menjadi kurang lebih terstandarisasi dan genre universal sebagai komponen
media cetak dan elektronik, da nada pula kisah berita.
Kisah berita dapat bernilai sebagai informasi yang berharga tau dapat memuaskan
keingintahuan serta human interest, di manapun berita tersebut didengar.
Pemuatan berita di televise telah meningkatkan daya tarik lintas budaya dari berita
dengan mengisahkan berita melalui gambar yang dapat diberi tulisan dalam bahasa apa
pun atau dengan sudut pandang bagaimanapun.
Factor yang memengaruhi pemilihan dan aliran berita internasional:
Kejadian peristiwa di luar negeri dengan relevansi atau kepentingan lokal.
Berita akan cenderung tidak mengurusi Negara-negara yang jauh dan secara politik
tidak penting (kecuali dalam beberapa krisis sementara) dengan non-elit atau dengan
gagasan, struktur, dan lembaga.
Waktu peristiwa dan siklus berita .
Operasi agen berita internasional
Agensi mengumpulkan berita asing dengan pandangan apa yang akan menarik bagi
khalayak local dan editor berita asing di medua lokal juga menerapkan perangkat
kinerja yang serupa. Hasilnya adalah untuk menghilangkan berita-berita dari tempat
yang jauh yang tidak dramatis atau relevan secara langsung kepada Negara penerima.
Nilai berita jurnalistik.
Pola geografi, perdagangan, dan diplomasi.
Kesamaan budaya antar Negara.
Contoh studi kasus:
Paris Attack. Serangan bom yang diluncurkan oleh ISIS pada Perancis khususnya Paris
menjadi salah satu jenis aliran berita internasional karena melibatkan banyak Negara di eropa
termasuk Rusia. Hal ini juga mengundang simpati banyak orang untuk ikut berprihatin atas
kejadian pengeboman oleh ISIS tersebut.

Perdagangan Global dalam Budaya Media

Adanya ekspansi besar-besaran dalam produksi dan transmisi televisi di luar AS sejak tahun
70 an membuat AS kurang dominan dalam hal media global. Hal ini menunjukkan bahwa lebih
banyak negara dapat memuaskan kebutuhan mereka sendiri melalui produksi lokal. Dengan latar
belakang kasus Eropa, terdapat sejarang panjang ketidakpuasan yang biasanya dialami oleh
adanya elit budaya, mengenai ancaman Amerikanisasi terhadap nilai budaya atau bahkan
peradaban. Dampak dari perang dunia ke II adalah media Amerika yang nyata tetapi negara
miskin masih membatasi adanya impor film dan mendukung pertumbuhan film nasional dan
industri televisi. Secara umum, layanan televisi dibangun berdasarkan model layanan public
nasional yang memberikan prioritas untuk mempromosikan dan menjaga identitas budaya
nasional. Sikap baru Eropa Barat dalam mengimpor konten audiovisual dibentuk oleh tiga faktor
utama, yang pertama adalah proyek politik budaya dari Eropa yang lebih bersatu, kemudian yang
kedua adalah tujuan menciptakan pasar internal Eropa yang lebih luas dimana seharusnya
industry audiovisual Eropa memiliki posisi yang dominan dan yang ketiga adalah terdapat
keinginan untuk mengurangi deficit perdagangan yang besar dalam produk media. Dengan
adanya percobaan unutk memperluas pasar secara umum menguntungkan pengekspor Amerika
dengan menciptakan pasar tunggal dan membuka kompetisi.
Praktik paket kumpulan konten yang dijual secara bersama-sama sebenarnya tidak terlalu
diinginkan. Harga ekspor AS cenderung selalu disesuaikan kepada situasi pasar tertentu, dan ada
faktor diskon budaya yang berhubungan dengan harga bagi derajat kesamaan budaya antar
eksportir dengan importir dimana semakin rendahnya kesamaan antara importir dengan eksportir
maka semakin rendah juga harganya. Kemudian, dengan munculnya televisi digital telah
memberikan momentum bagi transasionalisasi, tetapi halangan utamanya adalah bukan bersifat
teknologis. Proses kebijakan regionalisasi dengan memperkerjakan bahasa lokal ini berlanjut
dan pelajarannya adalah meskipun bahasa inggris merupakan asset karena merupakan bahasa
music pop, hal ini bukan secara umum menjadi keuntungan bagi penyajian saluran. Berhubungan
dengan komunikasi massa, secara umum mengabaikan bentuk lain dari globalisasi budaya,
walaupun seringkali berhubungan dengan media dan sebaliknya. Negara kaya selalu meminjam
elemen budaya dari negara jajahan, dependen, dan rekan dagang dalam bentuk gagasan,
rancangan, dan lainnya. Begitu pula dengan kelompo imigran juga mengambil budaya asli

mereka ketika mereka bergabung dengan negara-negara kaya. Saat ini, penyebaran budaya
simbolik terjadi melalui media, periklanan, dan pemasaran, seringkali melalui pencarian produk
baru untuk memenuhi tuntutan gaya hidup konsumen.

Menuju Budaya Media Global?

Budaya media yang diimpor dianggap menghambat perkembangan budaya asli dari negara
penerima atau bahkan banyak budaya lokal dan regional di dalam sebuah negara. sistem
kepercayaan yang kuat menyatakan bahwa budaya adalah perlengkapan kolektif yang berharga
dari bangsa dan juga sangat rapuh terhadap pengaruh budaya asing. Schlesinger menyarankan
pendekatan melalui sebuah konsep umum dari identitas kolektif. Identitas kolektif dalam hal
ini, berlangsung di dalam kurun waktu dan tahan terhadap perubahan walaupun kemampuan
bertahan juga dibutuhkan sehingga dapat diekspresikan , dikuatkan, dan disiarkan secara sadar.
Maka dari itu, memiliki akses dan dukungan dari media komunikasi yang relevan sangatlah
penting. Televisi khususnya, dapat memainkan peranan penting dalam mendukung identitas
nasional melalui bahasa dan representasi. Castello (2007) mengatakan bahwa, mangambil dari
pengalaman Catalan membuat kasus yang meyakinkan bagi pandangan bahwa negara
membutuhkan fiksinya sendiri dan maka dari itu, kebijakan budaya yang membantunya
berkembang. Adanya internasionalisasi media cenderung mengarah pada homogenisasi atau
sinkronsisai budaya. Menurut Hamelink, proses ini menyatakan bahwa keputusan terkait
perkembangan budaya di suatu negara dibuat berdasarkan kepentingan dan kebutuhan negara
pusat yang berkuasa. Kemudian mereka dipaksa secara samar, tetapi sangat efektif tanpa
menghiraukan kebutuhan adaptif dari negara dependen. Sebagai hasilnya, budaya menjadi
kurang penting dan kohesif dan juga kurang eksklusif.
Budaya media global dicirikan oleh penekanannya pada kebaruan, mode, pesohor di segala
bidang, anak muda, dan seks. Menurut Thussu, globalisasi televisi yang terjadi karena model
dorongan pasar Amerika mengarah pada sirkulasi dunia dari infotainment dengan standar nilai
berita yang sama dan seringkali berita yang sama dengan sumber yang sama, dimanapun.
Meskipun budaya media global semacam itu terlihat bebas-nilai, kenyataannya mengandung
cukup banyak sekali nilai-nilai kapitalisme barat, termasuk individualisme, konsumerisme,
hedonism, dan komersialisme. Mungkin dengan adanya hal tersebut akan menambah pilihan

budaya yang terbuka bagi beberapa orang, tetapi juga menantang dan menjajah tanah budaya
lokal yang sebelumnya sudah ada, asli, tradisional, dan minoritas.
Pengelolaan Media Global
Dengan tiadanya pemerintah global, komunikasi internasional tidak tunduk pada sistem
kontrol atau konsisten manapun. Kekuatan pasar bebas dan kemandirian nasional berpadu
untuk menjaganya tetap seperti ini. Asal mula pengelolaan global ditemukan dalam
persetujuan yang dirancang untuk memfasilitasi layanan pos internasional, melalui universal
Post Union pada pertengahan abad ke-19.
Saat ini, badan-badan berikut memainkan berbagai peranan kunci di dalam pengelolaan
yang berkembang:
Internasional Telecommunication Union, dikelola oleh sekumpulan delegasi yang
dinominasikan oleh pemerintah nasional, mengurusi standar teknis telekomunikasi,
alokasi spektrum, orbit satelit, dan hal hal lainnya.
World Trade Organization memiliki kekuatan yang besar dalam masalah ekonomi
dan lambat laun semakin bercampur tangan terhadap media, seiring perusahaan yang
tumbuh semakin besar dan semakin komersial.
United Nasional Educational, Scientific, and Cultural Organization (Unesco), cabang
dari PBB yang berdiri pada tahun 1945, memiliki kompetensi yang luas dalam
masalah budaya dan pendidikan, tetapi memiliki kekuasaan yang kecil dan tidak
memiliki fungsi media secara spesifik yang jelas.
World Intellectual Property Organization (WIPO) dibangun pada tahun 1893,
memiliki tujuan utama menyelaraskan aturan dan prosedur yang relevan dalam
mengatasi perselisihan antara pemilik hak, pencipta, dan pengguna.
Internasional Corporation For Assigned Names and Number adalah tambahan paling
baru dari badan-badan pengelolaan.
Terdapat juga banyak badan-badan lain yang mengurusi berbagai isu terkait media
internasional. Banyak yang mewakili kepentingan industri, termasuk para penerbit, jurnalis,
dan produser. Meskipun demikian, ada banyak lembaga yang tersebar dari pertumbuhan
internasionalisme dan yang dapat diperdebatkan, kebutuhan untuk kerangka analisis yang
lebih cocok daripada yang ditawarkan oleh sekumpulan negara bangsa.

Studi Kasus:
Stasiun Televisi TVRI yang dulunya hanya TV nasional dan siarannya juga hanya di
Televisi jakarta. Dalam situasi sekarang ini, dimana peran televisi semakin menentukan
dalam perang informasi, maka TVRI ingin menjadi barisan terdepan dalam mewakili
kkepentingan bangsa Indonesia. Karena tujuan itu, maka TVRI mutlak melakukan
perombakan manajemen pengelolaan agar lebih profesional dan modern. Contoh, sekarang
TVRI bisa ditonton di luar juga, karena ada program bahasa inggrisnya, TVRI juga
menyiarkan informasi berita-berita tidak hanya di media Televisi, tetapi juga di media-media
lain seperti media Radio, dan TVRI juga menyiarkan informasi, berita-beritanya di seluruh
pelosok Indonesia.

BAB III
STUDI KASUS DAN PEMBAHASAN
STUDI KASUS:

PARIS ATTACK

TEMPO.CO, Paris - Sejumlah lokasi di Paris diserang aksi teror yang telah
menewaskan lebih dari seratus orang pada Jumat, 13 November 2015. Presiden Prancis
Francois Hollande menyebut penyerangan tersebut adalah hal yang menakutkan.
"Ini adalah horor," kata Hollande yang terlihat terguncang dalam pidato televisi tengah
malam sebelum memimpin pertemuan kabinet darurat.
Sejumlah pihak menduga penyerangan ini ada kaitannya dengan aksi kelompok Negara
Islam Irak dan Suriah (ISIS), kelompok radikal Islam. Kelompok Said and Cherif
Kouachi yang diduga terkait dengan ISIS pernah menyerang Charlie Hebdo dan
supermarket di Paris pada 8 Januari lalu yang mengakibatkan 18 orang tewas.

Saat itu mereka menyerang tabloid mingguan itu karena mengejek Nabi Muhammad
melalui kartun yang dibuatnya. Mereka telah ditembak mati pihak kepolisian.
"Kami tahu dari mana serangan ini berasal," kata Hollande, tanpa menyebut nama
kelompok penyerang. Namun, hingga saat ini, kepolisian setempat belum menyebutkan
siapa pelaku penyerangan di sejumlah lokasi di Paris.
Dua pejabat kontra-terorisme Amerika Serikat menyebut serangan ini diduga terkait
dengan kembalinya orang-orang Paris yang telah bergabung dengan ISIS. Sebelumnya,
sejumlah warga Prancis melakukan perjalanan ke Suriah dan Irak. Diduga, mereka ke
sana untuk bergabung dengan kelompok tersebut.
Serangan di Paris itu terjadi beberapa hari setelah serangan yang diklaim militan ISIS di
distrik Syiah, Beirut selatan, Lebanon, dan penyerangan pesawat Metrojet Rusia yang
jatuh di Semenanjung Sinai, Mesir.
Sebelumnya pada Jumat lalu, Amerika Serikat dan Inggris menyatakan telah melancarkan
serangan kepada militan British Negara Islam, Jihad John, di salah satu kota di Suriah,
Raqqa. Mereka memastikan Jihad John telah tewas.
Hingga saat ini, ISIS juga belum memberikan pernyataan atas serangan tersebut. Namun

ada sebuah respons kemenangan dalam sebuah posting-an simpatisan ISIS di Twitter.
"Negara kekhalifahan telah menghantam rumah salib," bunyi kicauannya.
Source: https://www.google.co.id/search?
q=berita+tentang+serangan+isis+ke+paris&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwiSxOR1rvJAhUMU44KHRnJD1IQ_AUICCgC&biw=1366&bih=667#imgrc=MoeANKm9qruwtM%3A

PEMBAHASAN
Pada Bab 10 ini membahas tentang komunikasi Massa Global. Banyak hal-hal yang dapat
kita pelajari pada bab ini, salah satu contoh sub-bab yang akan saya bahas dengan studi
kasus adalah sub-bab aliran berita internasional. Seperti yang saat ini kita lihat, bahwa dunia
global saat ini sudah mulai menikmati apa yang namanya internet. Melalui internet, ada
harapan bahwa seluruh orang dan instansi didalam dunia ini bisa berkomunikasi dengan
mudah. Begitu juga dalam halnya berita, berita juga saat ini bisa menyebar luas dengan
cepat dengan bantuan internet.
Mengapa harus studi kasus tentang Paris Attack? Karena jika dikaitkan dengan materi
yang sudah dibahas diatas, berita ini mengandung beberapa unsur dari apa yang dibahas,
termasuk salah satunya unsur aliran berita internasional. Saat Paris di terror, seluruh dunia
ikut prihatin, termasuk Indonesia. Bukan hanya itu, di sosial media pun kemudian banyak
bermunculan dukungan-dukungan dengan misalnya menggunakan hastag #PrayForParis,
kemudian mengganti foto profil di Facebook dengan diberi nuansa warna bendera Perancis
dan sebagainya. Hal ini dapat membuktikan bahwa berita Paris Attack ini telah berhasil
menjadi berita aliran internasional, karena selain diketahui negara-negara lain di dunia,

mengundang banyak perhatian, Paris Attack juga melibatkan banyak negara eropa lain
seperti Inggris dan Rusia.