Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI

ANALISIS MIKROSKOPIS, HISTOKIMIA DAN KROMATOGRAFI


LAPIS TIPIS FOLIUM
Simplisia Guazumae Folium ( Guazuma ulmifolia )
Disusun oleh:

1. Agne Yuliana
2. Berylian Arief Kurniawan
3. Bagus Tri Laksono
4. Ulfia Dwi Novita
5. Intan Alvi Ayu Novita S.
6. Mohammad Zulfikhar A.
7. Zubaidah Hoiril Wafiq
8. Irsalina Triastutik
9. Regol Sasaka Raudiah
10.Septi Sudianingsih

(152210101056)
(152210101058)
(152210101062)
(152210101065)
(152210101067)
(152210101068)
(152210101069)
(152210101070)
(152210101075)
(152210101076)

BAGIAN BIOLOGI FARMASI FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS JEMBER
2016

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Bangsa Indonesia telah lama mengenal menggunakan tanaman berkhasiat obat
sebagai salah satu upaya dalam menganggulangimasalah kesehatan. Pengetahuan
tentang tanaman berkhasiat obat berdasarkan pada pengalaman ketrampilan yang
secara turun temurun telah diwariskan dari saatu generasi ke generasi berikutnya.
Salah satu tanaman yang biasa digunakan sebagai obat tradisional adalah Jati Belanda
( Guazuma ulmifolia Lamk). Tanaman ini yang digunakan sebagai obat pelangsing ,
perut kembung, diare, batuk dan sesak napas.
Obat-obatan dalam bentuk tumbuh-tumbuhan dan mineral telah ada jauh lebih
lama dari manusianya sendiri. Penyakit pada manusia dan nalurinya untuk
mempertahankan hidup,

setelah

penemuan obat. Penggunaan

bertahun-tahun,

obat-obatan

membawa kepada penemuan-

walaupun dalam

bentuk

sederhana

tidak diragukan lagi sudah berlangsung sejak jauh sebelum sejarah yang ditulis,
karena naluri orang-orang primitif untuk menghilangkan rasa sakit pada luka dengan
merendamnya dalam air dingin atau menempelkan daun segar pada luka tersebut atau
menutupnya dengan lumpur, hanya berdasarkan pada kepercayaan serta belajar dari
pengalaman untuk mendapatkan cara pengobatan yang lebih efektif dari yang lain,
dari dasar permulaan ini pekerjaan dengan terapi dimulai (Ansel, 1989).
Makalah ini akan membahas mengenai hasil pengamatan Guazumae Folium
dengan mengidentifikasi seruk daun dengan penambahan reagen kimia dan
menganalisis senyawa identitas serbuk daun dengan metode kromatografi lapis tipis
(KLT).
1.2 RUMUSAN MASALAH

1. Apa fungsi penambahan reagen-reagen kimia dalam identifikasi dengan uji histokimia
Guazumae Folium?
2. Apa saja kandungan senyawa kimia yang terdapat dalam Guazumae Folium?
3. Bagaimanakah cara menganalisis senyawa identitas (kandungan kimia) Guazumae
Folium dengan metode KLT?
1.3 TUJUAN

1. Mahasiswa dapat mengetahui

fungsi

penambahan reagen-reagen kimia yang

digunakan dalam identifikasi dengan uji histokimia


2. Mahasiswa dapat mengetahui kandungan senyawa-senyawa kimia

yang terdapat

dalam Guazumae Folium.


3. Mahasiswa dapat menganalisis senyawa identitas Guazumai Folium dengan metode
KLT.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Klasifikasi Guazumae Folium
Berikut adalah taksonomi dari Guazuma ulmifolia :

Kingdom

: Plantae (Tumbuhan)

Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)


Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi

: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

Kelas

: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)

Sub Kelas

: Dilleniidae

Ordo

: Malvales

Famili

: Sterculiacea

Genus

: Guazuma

Spesies

: Guazuma ulmifolia(Conqruist, 1981)

Simplisia daun jati belanda disebut Guazum folium, mengandung zat berkhasiat antara
lain tanin, lendir, damar. Secara tradisional maupun modern, daun jati belanda memang
berkhasiat dalam mengatasi masalah kesehatan. Banyak produk obat yang dihasilkan dari
daun Jati Belanda. Umumnya, ekstrak daun Jati Belanda dimanfaatkan untuk obat pengontrol
kolesterol. Selain itu bisa juga digunakan sebagai obat mencret dan sering dimanfaatkan
sebagai jamu pelangsing atau slimming tea.
Penggunaan obat-obat tradisional Indonesia telah merambah kemanca negara, dan
banyak masyarakat kini beralih ke ramuan yang murah, mudah didapat, mudah melakukannya
dan tidak punya efek samping. Sebagai obat mencret, tiga buah jati belanda dicuci kemudian

digoreng tanpa minyak (disangrai) sampai hangus. Setelah itu digiling sampai halus, seduh
dengan air panas sebanyak 1/3 cangkir dan beri madu satu sendok makan. Bila telah agak
dingin (suam-suam kuku) diminum hingga habis.
2.2 HISTOKIMIA
Uji histokimia bertujuan untuk mengetahui berbagai macam zat kandungan yang terdapat
dalam jaringan tanaman. Dengan pereaksi spesifik, zat zat kandungan tersebut akan memberikan
warna yang spesifik pula sehingga mudah dideteksi. (Anonim,1987)

Asam sulfat P (H2SO4)


Asam sulfat 10N (H2SO4)
Asam Klorida P (HCl)
Asam Klorida Encer
Natrium hidroksida 5%
Kalium Hidoksida (KOH) 5%
Amonia 25%
KI 6%
Ferri Klorida 5%

: Hitam Coklat
: Hijau muda
: Hijau
: Hijau
:Coklat kuning
: Coklat Hijau
: Hijau
: Hijau Coklat
: Hijau

2.3 KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS

Kromatografi merupakan bentuk kromatografi planar, selain kromatografi kertas dan


elektroforesis. Meskipun demikian, kromatografi planar ini dapat dikatakan sebagai bentuk
terbuka dari kromatografi kolom. Fase gerak yang dikenal sebagai pelarut pengembang akan
bergerak sepanjang fase diam karena pengaruh kapiler pada pengembangan secara menaik
(ascending) atau karena pengaruh gravitasipada pengembanngan secara menurun
(descending) (Rohman, 2007).
Dalam teknik kromatografi, sampel yang merupakan campuran dari berbagai macam
komponen ditempatkan dalam situasi dinamis dalam sistem yang terdiri dari fase diam dan
fase gerak. Semua pemisahan pada kromatografi tergantung pada gerakan relatif dari masingmasing komponen diantara kedua fase tersebut. Senyawa atau komponen yang tertahan lebih
lemah oleh fase diam akan bergerak lebih cepat daripada komponen yang satu dengan lainnya
disebabakan oleh perbedaan dalam adsorbsi, partisi, kelarputan atau penguapan diantara
kedua fase.

BAB III
METODELOGI PENELITIAN
3.1 Histokimia
3.1.1

Alat
Plat tetes
Spatula

3.1.2

Bahan
Serbuk Guazumae Folium

3.1.3

Asam Sulfat P
Asam Sulfat 10 N
Asam Klorida P
Asam Klorida Encer
NaOH 5%
KOH 5%
Kalium Iodida 6%
Amonia 25%
Feri Klorida 5%

Cara kerja
1. Diambil secukupnya (2 mg) simplisia daun jatibelanda ( Guazumae folium) yang
akan diujiDibagi di 9 lubang plat tetes Dibagi di 9 lubang plat tetes
2. Masing-masing lubang ditetesi dengan reagen-reagen yang ditentukan dalam lemari
asam. (Asamsulfat pekat, asam sulfat 10N, Asam klorida pekat,asam klorida encer,
NaOH, KOH, amonia, KI,feriKlorida)
3. Masing-masing lubang ditetesi dengan reagen-reagen yang ditentukan dalam lemari
asam. (Asamsulfat pekat, asam sulfat 10N, Asam klorida pekat,asam klorida encer,
NaOH, KOH, amonia, KI,feriKlorida)

3.2 Kromatografi Lapis Tipis

3.2.1

Alat
Tabung reaksi
Beaker Glass
Micro pipet
Lempeng Silika Gel 6 F254
Hot plate stirrer
Botol timbang
Gelas ukur
Kertas saring
Corong

3.2.2

Bahan
Guazumae Folium
Methanol

3.2.3 Cara Kerja


1. Buat larutan uji dengan cara menimbang Guazumae folium sebanyak 0,5 g lalu
masukkan dalam tabung reaksi
2. Tambahkan methanol sebanyak 10 mL ke dalam tabung reaksi
3. Taruh tabung reaksi di hot plate stirrer selama 10 menit
4. Saring larutan uji menggunakan corong dan kertas saring, taruh di botol timbang

5. Siapkan lempeng silica gel, dan totolkan larutan guazuma folium dengan mikropipet
6.
7.
8.
9.

sebanyak 3 kali.
Cek noda larutan ujidan eluen di dalam sinar UV.
Taruh ujung lempeng ke dalam eluen dengan tegak lurus,
ditunggu hingga cairan merambat naik tidak boleh melebihi garis.
Lingkari noda yang terlihat dan dihitung nilai R f nya

BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 HASIL PENGAMATAN
4.1.1 Histokimia
Reagen
Asam Sulfat P
Asam Sulfat 10N
Asam Klorida P
Asam Klorida encer
NaOH 5%
KOH 5%
Ammonia 25%
Kalium Iodida 6%
Feri Klorida 5%

4.1.2 Kromatografi Lapis Tipis

Hasil Pemeriksaan

Perubahan Warna
Hitam Coklat
Hijau Muda
Hijau
Hijau
Coklat Kuning
Coklat Hijau
Hijau
Hijau Coklat
Hijau

Pembanding :
Kuersetin 0,5% dalam methanol
Volume pentoloan :
10 L
Fase Gerak :
Kloroform : Metanol : Air = 40 : 10 :1
Fase Diam :
Silica gel 60 F254
Penampak noda :
Sitroborat
Warna Noda :
Kuning
Rf :
Rf Kuersetin = 4cm/8cm = 0,5
Rf Guazumae folium = - (noda tidak tampak)

4.2 PEMBAHASAN
4.2.1 Histokimia

4.2.1 Fungsi Penambahan Reagen


-

Reagen Asam sulfat pekat


Setelah dilakukan pengujian pada simplisia denganmenambahkan beberapa tetes

reagen asam sulfat pekat maka telahdiperoleh hasil bahwa terjadi perubahan warna menjadi
hitam coklatsesuai dengan hasil yang tercantum pada literatur. Hal ini menunjukkanbahwa

simplisia positif mengandung triterpen dan steroid.Triterpenoid adalah senyawa yang


kerangka karbonnya berasaldari enam satuan isoprene dan secara biosintesis diturunkan
darihidrokarbon C30 asiklik, yaitu skualena. Triterpenoid dapat dipilahmenjadi sekurang
kurangnya empat golongan senyawa : triterpenasebenarnya, steroid, saponin dan glikosida
jantung. Kedua golonganyang terakhir sebenarnya triterpena atau steroid yang terutama
terdapatsebagai glikosida. Sterol adalah triterpena yang kerangka dasarnyasistem cincin
siklopentana perhidrofenantrena. Dahulu sterol terutamadianggap sebagai senyawa satwa
(sebagai hormone kelamin, asamempedu, dll), tetapi pada tahun tahun terakhir ini makin
banyak senyawa tersebut yang ditemukan dalam jaringan tumbuhan.(Harbrone.J.B,1987)
-

Reagen Asam Sulfat Encer


Setelah dilakukan pengujian pada simplisia denganmenambahkan beberapa tetes

reagen Asam Sulfat Encer maka telahdiperoleh hasil bahwa terjadi perubahan warna menjadi
coklat hijau.Hal ini menunjukkan terjadinya ketidaksesuain antara literatur dan hasiluji yang
dilakukan di laboratorium,karena pada literatur ditunjukkanwarna perubahan yang
seharusnya terjadi adalah warna hijau muda.
-

Reagen Asam Klorida Pekat


Setelah dilakukan pengujian pada simplisia denganmenambahkan beberapa tetes

reagen Asam Klorida Pekat maka telahdiperoleh hasil bahwa terjadi perubahan warna
menjadi hijau sesuaidengan hasil yang tercantum pada literatur. Hal ini menunjukkan
bahwasimplisia positif mengandung flavonoid.Flavonoid berfungsi sebagai antibakteri
dengan

cara

membentuksenyawa

kompleks

terhadap

protein

extraseluler

yang

menggangguintegritas membrane sel bakteri. Flavonoid merupakan senyawa fenol,sementara


senyawa fenol dapat bersifat koagular protein.
-

Reagen Asam Klorida Encer


Setelah dilakukan pengujian pada simplisia denganmenambahkan beberapa tetes

reagen Asam Klorida Encer maka telahdiperoleh hasil bahwa terjadi perubahan warna
menjadi hijau sesuaidengan hasil yang tercantum pada literatur. Hal ini menunjukkan
bahwasimplisia positif mengandung minyak atsiri.Minyak atsiri atau juga dikenal minyak
eteris (aetheric oil),minyak esensial,

dan minyak aromatik, adalah kelompok besar

minyaknabati yang berupa cairan kental

namun mudah menguap sehinggamemberikan

aroma yang khas. Minyak atsiri merupakan bahan dasar dari wangi-wangian atau minyak
gosok (untuk pengobatan) alami.Sulingan minyak atsiri dikenal sebagai biang minyak wangi.
-

Reagen NaOH 5%
Setelah dilakukan pengujian pada simplisia denganmenambahkan beberapa tetes

reagen NaOH 5% maka telah diperolehhasil bahwa terjadi perubahan warna menjadi coklat
kuning sesuaidengan hasil yang tercantum pada literatur. Hal ini menunjukkan
bahwasimplisia positif mengandung kuinon.Kuinon adalah senyawa berwarna dan
mempunyai kromofordasar seperti kromofor pada benzokuinon, yang terdiri atas dua
guguskarbonil yang berkonjugasi dengan dua ikatan rangkap karbon karbon. Untuk tujuan
identifikasi, kuinon dapat dipilah menjadi empatkelompok : benzokuinon, naftokuinon,
antrakuinon, dan kuinonisoprenoid. Tiga kelompok pertama biasanya terhidroklisasi dan
bersifatsenyawa fenol serta mungkin terdapat in vivo dalam bentuk gabungandengan gula
sebagai glikosida atau dalam bentuk kuinol.
-

Reagen KOH 5%
Setelah dilakukan pengujian pada simplisia denganmenambahkan beberapa tetes

reagen KOH 5% maka telah diperolehhasil bahwa terjadi perubahan warna menjadi coklat
hijau sesuai denganhasil yang tercantum pada literatur. Hal ini menunjukkan bahwasimplisia
positif

mengandung

tannin.Tanin

terdapat

luas

dalam

tumbuhan

berpembuluh,

dalamangiospermae terdapat khusus dalam jaringan kayu. Menurut batasanya,tanin dapat


bereaksi dengan protein membentuk kepolumer mantapyang tidak larut dalam air. Dalam
industri, tanin adalah senyawa yangberasal dari tumbuhan, yang mampu mengubah kulit
hewan yangmentah menjadi kulit siap pakai karena kemampuanya menyambungsilang
protein.
-

Reagen Ammonia 25%


Setelah dilakukan pengujian pada simplisia denganmenambahkan beberapa tetes

reagen Ammonia 25% maka telahdiperoleh hasil bahwa terjadi perubahan warna menjadi
hijau sesuaidengan hasil yang tercantum pada literatur. Hal ini menunjukkan bahwasimplisia
positif mengandung Alkaloid.
-

Reagen KI 6%

Setelah dilakukan pengujian pada simplisia denganmenambahkan beberapa tetes


reagen KI 6% maka telah diperoleh hasilbahwa terjadi perubahan warna menjadi hijau coklat
sesuai dengan hasil yang tercantum pada literatur. Hal ini menunjukkan bahwa
simplisiapositif mengandung alkaloid.
-

Reagen FeCl 5%
Setelah dilakukan pengujian pada simplisia denganmenambahkan beberapa tetes

reagen FeCl 6% maka telah diperolehhasil bahwa terjadi perubahan warna menjadi hijau
sesuai dengan hasilyang tercantum pada literatur. Hal ini menunjukkan bahwa
simplisiapositif mengandung Tannin .Tanin terdapat luas dalam tumbuhan berpembuluh,
dalamangiospermae terdapat khusus dalam jaringan kayu. Menurut batasanya,tanin dapat
bereaksi dengan protein membentuk kepolumer mantapyang tidak larut dalam air. Dalam
industri, tanin adalah senyawa yangberasal dari tumbuhan, yang mampu mengubah kulit
hewan yangmentah menjadi kulit siap pakai karena kemampuanya menyambungsilang
protein.
4.2.2 Kromatografi Lapis Tipis
Fase diam yang digunakan dalam percobaan ini adalah silika gel F254 yang memiliki
mekanisme

adsorbsi.

Gel

silica

dapat

digunakan

pada

senyawa-senyawa

yang

mengandungasam amino, hidrokarbon, vitamin, dan alkaloid. Kebanyakan fase diam


dikontrol keajegan ukuran partikel dan luas permukaannya.
Eluen adalah fase gerak yang berperan penting pada proses elusi bagi larutan umpan
(feed) untuk melewati fase diam (adsorbent). Interaksi antara adsorbent dengan eluen sangat
menentukan terjadinya pemisahan komponen. Eluen dapat digolongkan menurut ukuran
kekuatan teradsorbsinya pelarut atau campuran pelarut tersebut pada adsorben dan dalam hal
ini yang banyak digunakan adalah jenis adsorben alumina atau sebuah lapis tipis silica. Suatu
pelarut yang bersifat larutan relatif polar, dapat mengusir pelarut yang relatif tak polar dari
ikatannya dengan alumina. Fase gerak yang digunakan pada pratikum kali ini adalah
Kloroform : Metanol : Air dengan perbandingan 40 :10 : 1.
Adsorben yang digunakan pada kromatogrfai lapis tipis biasanya terdiri dari silika gel
atau alumina dapat langsung atau dicampur dengan bahan perekat misalnya kalsium sulfat
untuk disalutkan pada pelat. Pada pemisahannya, fase bergerak akan membawa komponen
campuran sepanjang fase diam pada pelat sehingga terbentuk kromatogram. Pemisahan yang

terjadi berdasarkan adsorbsi dan partisi. Teknik kerja KLT prinsipnya hampir sama dengan
komatografi lapis tipis (KLT).
Faktor retensi (Rf) adalah jarak yang ditempuh oleh komponen dibagi dengan jarak
yang ditempuh oleh eluen. Rumus faktor retensi adalah:

Dari hasil praktikum ini, noda tidak tampak saat dilihat dengan sinar UV. Padahal
dalam literature, Guazuma ulmifolia mempunyai kandungan kuersetin namun sedikit. Tidak
terdapatnya noda ini mungkin disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya :
1. Suhu ruangan
2. Penyemprotan penampak noda yakni sitroborat.
3. Kelembapan udara.
4. Penotolan yang kurang tepat
5. Proses homogenisasi yang kurang
6. Kadar dalam ekstrak Guazumae folium terlalu kecil, sehingga
nodanya tidak tampak

BAB V
PENUTUP
5.1 KESIMPULAN
Setelah dilakukan pengujian simplisia dengan histokimia dan KLT maka dapat
disimpulkan bahwa Guazumae Folium mengandung triterpen, steroid, minyak atsiri,
flavonoid, tanin, musilago, renin, damar, karotenoid, karbohidrat, dan alkaloid.
5.2 SARAN

Pratikan harus lebih teliti saat membedakan warna setelah ditambah reagen (misalnya coklat

hijau dengan hijau coklat).


Penambahan reagen-reagen pekat dilakukan di lemari asam karna reagennya mudah menguap.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim.1987. Analisis Obat Tradisional. 2 3. Jakarta : Depkes RI

Anonim. 2009. Farmakope Herbal Indonesia Edisi I. Jakarta : Departemen Kesahatan


Republik Indonesia
Anonim. 1978. Materia Medika Indonesia Jilid II. Jakarta : Departemen Kesahatan Republik
(Hal 44-45)

Anonim, 1989, Materia Medika Indonesia Jilid V-VI. Jakarta : Departemen kesehatan
Republik Indonesia

LAMPIRAN
1. Hasil Pengamatan Histokimia Guazumae Folium
Ralat KOH dan HCL
Encer

2. Hasil Pengamatan KLT Guazumae Folium

Sebelum disemprot Sitroborat

Disemprot Sitroborat