Anda di halaman 1dari 19

Makalah AIK III

Muhammadiyah Gerakan Islam


Yang Berwatak Tajrid dan Tajdid

Nama Anggota Kelompok:


1.

Lalu Reza Gunawan

201401230311168

2.

Zakaria Arif Rahman

201410230311169

3.

Aldy Sanza Nasukha

201410230311172

Kelas

: Psikologi C 2014

FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2016

BAB I
PERNDAHULUAN
A. Latar Belakang
Modernitas muhammadiyah lahir sebagai respon atas sejarah, bukan spontanitas.
Ketika rakyat tenggelam dalam kemiskinan dan kebodohan semasa rezim kolonial,
muhammadiyah lahir dengan banyak respon; pendidikan modern dan mengembangkan
spirit PKO ( Pertolongan Kesengsaraan Oemoem) ketika masyarakat telena dalam
tradisional dan pencampuran ajaran agama, muhammadiyah memberikan wacana dan
spirit baru, tajdid dan purifikasi.
Muhammadiyah sebagai gerakan islam merumuskan gerakan pembaharuannya
dalam bentuk purifikasi dan dinamisasi. Purifikasi didasarkan pada sumsi bahwa
kemunduran umat islam terjadi karena umat islam tidak mengembangkan aqidah islam
yang benar, sehingga harus dilakukan purifikasi dalam bidang aqidah-ibadah dengan teori
Segala sesuatu dalam ibadaH adalah dilaksanakan bila ada perintah dalam Al-Quran
dan Hadist sedangkan dinamisasi dilakukan dalam bidang muamalah, dengan
melakukan gerakan modernisasi sesuai dengan teori Segala sesuatu boleh dikerjakan
selama tak ada larangan dala Al-quran dan Hadist.
Muhammadiyah dalam gerakan pembaharuannya di lakukan bersamaan antara
gerakan purifikasi dengan gerakan muamalah. Purifikasi dalam bidang aqidah yang
dilakukan oleh muhammadiyah adalah aqidah yang memiliki keterkaitan dengan aspek
sosial kemasyarakatan.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian tajdid dan tajrid?
2. Bagaimana model tajrid dan tajdid Muhammadiyah?
3. Bagaimana model gerakan keagamaan Muhammadiyah?
4. Apa makna gerkakan keagamaan Muhammadiyah?
5. Apa gerakan tajdid pada 100 tahun kedua?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertuan tajdid dan tajrid.
2. Untuk mengetahui model tajrid dan tajdid Muhammadiyah.
3. Untuk mengetahui model gerakan keagamaan Muhammadiyah.
4. Untuk mengetahui makna gerakan keagamaan Muhammadiyah.
5. Untuk mengetahui gerakan tajdid pada 100 tahun kedua.

BAB II
PEMBAHASAN
1. Pengertian Tajdid dan Tajrih
a. Tajdid
Istilah tajdid berasal dari bahasa Arab yaitu jaddada, yang berarti
memperbaharui atau menjadikan baru. Dalam kamus Bahasa Indonesia tajdid berarti
pembaruan, modernisasi atau restorasi.
Secara bahasa (etimologi) tajdid memiliki makna pembaharuan dan pelakunya
disebut mujaddid (pembaharu). Sedangkan dalam pengertian istilah (terminologi),
tajdid berarti pembaharuan terhadap kehidupan keagamaan, baik dalam bentuk
pemikiran ataupun gerakan, sebagai respon atau reaksi atas tantangan baik internal
maupun eksternal yang menyangkut keyakinan dan sosial umat (Ibnu Salim dkk,
1998).
Dalam pengertian lain, tajdid adalah upaya untuk memperbaharui interpretasiinterpretasi atau pendapat-pendapat ulama terdahulu terhadap ajaran-ajaran dasar
Islam, atas dasar bahwa ajaran tersebut sedah tidak relevan dengan tuntutan dan
perkembangan zaman. Oleh karena itu, tajdid adalah usaha yang kontinyu dan
dinamis, sebab selalu berhadapan dan berinteraksi dengan historisitas kehidupan
manusia.
Dalam konteks Muhammadiyah, tajdid bertujuan untuk menghidupkan
kembali ajaran al-Qur'an dan Sunnah serta memerintahkan kaum muslimin untuk
kembali kepadanya. Adapun yang masih merupakan rumpun tajdid dalam perspektif
Muhammadiyah adalah seperti diurakan oleh beberapa tokoh Muhammadiyah sebagai
berikut: Pertama, K.H. Azhar basyir menyebutkan bahwa Muhammadiyah bertujuan
memurnikan ajaran al-Qur'an dan Sunnah dari praktek-praktek takhayul, bidah dan
khurafat yang dianggap syirik.
Dengan kata lain, Muhammadiyah berkepentingan mengusung Islam murni
(Azhar Basyir, 1993). Kedua Syafii Maarif menyebutkan bahwa Muhammadiyah
mentahbihkan dirinya sebagai gerakan non-mazhab, dinamisasi di tengah-tengah arus
utama umat Islam yang terkungkung dalam belenggu mazhab (Syafii Maarif, 1997).

Dan Ketiga, K. H. Suja inti dari pendirian Muhammadiyah sebagai jawaban terhadap
surat al-Maun yang dikaitkan dengan pembebasan kaum tertindas. (Q.S. Al-Anfal: 24,
dalam Sukrianto AR 1990).
Secara garis besar, perkembangan tajdid dalam Muhammadiyah dapat
dibedakan menjadi tiga pase, yakni fase aksi-reaksi, konsepsionalisasi dan pase
rekonstruksi. Ketika Muhammadiyah didirikan, para tokoh Muhammadiyah, termasuk
K.H. Ahmad Dahlan, belum memikirkan landasan konseosional dan teoritis tentang
apa yang akan dilakukannya. Yang terjadi adalah, upaya mereka untuk secara praktis
dan pragmatis menyebarkan ajaran Islam yang baik dan benar sesuai dengan tuntunan
Rasulullah. Konsentrasi mereka difokuskan pada bagaimana praktek keagamaan yang
dilakukan masyarakat waktu itu disesuaikan dengan apa yang dilakukan oleh
Rasulullah di satu sisi, tapi juga memperhatikan tradisi agama lain, khususnya kristen,
yang kebetulan disebarkan oleh penjajah negeri ini. Adapun rumusan tajdid yang
resmi dari Muhammadiyah itu adalah sebagai berikut:
Dari segi bahasa, tajdid berarti pembaharuan, dan dari segi istilah, tajdd
memiliki dua arti, yakni:

pemurnian dan peningkatan sebagai pengembangan,

modernisasi dan yang semakna dengannya.


Dalam arti pemurnian tajdid dimaksudkan sebagai pemeliharaan matan
ajaran Islam yang berdasarkan dan bersumber kepada al-Qur'an dan As-Sunnah AshShohihah. Dalam arti peningkatan, pengembangan, modernisasi dan yang semakna
dengannya, tajdid dimaksudkan sebagai penafsiran, pengamalan, dan perwujudan
ajaran Islam dengan tetap berpegang teguh kepada al-Qur'an dan As-Sunnah AshShahihah.
Untuk melaksanakan tajdid dalam kedua pengertian istilah tersebut,
diperlukan aktualisasi akal pikiran yang cerdas dan fitri, serta akal budi yang bersih,
yang dijiwai oleh ajaran Islam. Menurut Persyarikatan Muhammadiyah, tajdid
merupakan salah satu watak dari ajaran Islam.
Yang diperbaharui adalah hasil pemikiran atau pendapat, dan bukan
memperbarui atau mengubah apa yang terdapat dalam al-Quran maupun al-Hadis.
Dengan kata lain, yang diubah atau diperbarui adalah hasil pemahaman terhadap alQuran dan al-Hadis tersebut.

b. Tajrih
Tarjih berasal dari kata rojjaha yurajjihu- tarjihan, yang berarti mengambil
sesuatu yang lebih kuat. Menurut istilah ahli ushul fiqh adalah, usaha yang dilakukan
oleh mujtahid untuk mengemukakan satu antara dua jalan (dua dalil) yang saling
bertentangan , karena mempunyai kelebihan yang lebih kuat dari yang lainnya
Tarjih dalam istilah persyarikatan, sebagaimana terdapat uraian singkat
mengenai

Matan

Keyakinan

dan

Cita-cita

hidup

Muhamadiyah

adalah

membanding-banding pendapat dalam musyawarah dan kemudian mengambil mana


yang mempunyai alasan yang lebih kuat .
Tarjih secara etimologi berarti menguatkan. Konsep tarjih muncul ketika
terjadinya pertentangan secara lahir antara satu satu dalil dengan dalil lainnya yang
sederajat dan tidak bisa diselesaikan dengan cara al jamu wat taufiq. Dalil yang
dikuatkan disebut rajih, sedangkan dalil yang dilemahkan disebut dengan marjuh.
Dari pengertian di atas maka unsur-unsur yang ada dalam tarjih adalah :
a. Adanya dua dalil
b. Adanya sesuatu yang menjadikan salah satu itu lebih utama dari yang lain.
Tarjih bergerak dalam bidang pemurnian atau purifikasi. Sedangkan, tajdid
adalah reformasi atau pembaruan. Keduanya (tarjih dan tajdid), ibarat dua sisi mata
uang yang saling membutuhkan dan tak mungkin dipisahkan. Jika dilihat secara
umum, tarjih lebih bersifat masa lampau, sedangkan tajdid untuk masa depan.
2. Model Tajdid dan Tajrih Muhammadiyah
a. Model Tajdid Muhammadiyah
1) Pertama, kongkrit dan produktif, yaitu melalui amal usaha yang didirikan,
hasilnya kongkrit dan dapat dirasakan serta dimanfaatkan oleh umat Islam, bangsa
Indonesia dan umat manusia di seluruh dunia. Suburnya amal saleh di lingkungan
aktivis Muhammadiyah ditujukan kepada komunitas Muhammadiyah, bangsa dan
kepada seluruh umat manusia di dunia dalam rangka rahmatan lil alamin.
2) Kedua, tajdid Muhammadiyah bersifat terbuka. Maksud dari keterbukaan
tersebut, Muhammadiyah mampu mengantisipasi perubahan dan kemajuan di
sekitar kita. Dari sekian amal usahanya, rumah sakitnya misalnya, dapat dimasuki
dan dimanfaatkan oleh siapapun. Sekolah sampai kampusnya boleh dimasuki dan

dimanfaatkan oleh siapa saja. Kalau Muhammadiyah mendirikan lembaga


ekonomi dan usaha atau jasa, maka yang menjadi nasabah, partner dan
komsumennya pun bisa siapa saja yang membutuhkan.
3) Ketiga, tajdid Muhammadiyah sangat fungsional dan selaras dengan cita-cita
Muhammadiyah untuk menjadikan Islam itu, sebagai agama yang berkemajuan,
juga Islam yang berkebajikan yang senantiasa hadir sebagai pemecah masalahmasalah (problem solv), temasuk masalah kesehatan,pendidikan, dan masalah
sosial ekonomi.
Dengan Demikian model Tajdid dibagi dalam tiga bidang, yaitu :
1) Bidang keagamaan
Pembaharuan dalam bidang keagamaan adalah penemuan kembali
ajaran atau prinsip dasar yang berlaku abadi, yang karena waktu lingkungan
situasi dan kondisi mungkin menyebabkan dasar-dasar tersebut kurang jelas
dan tertutup oleh kebiasan dan pemikiran tambahan lain.
Pembaharuan dalam bidang kaagamaan adalah memurnikan kembali
atau mengembalikan kepada aslinya, oleh karena itu dalam pelaksanaan
agama baik yang menyangkut akidah atau pun ibadah harus sesuai dengan
aslinya, yang sebagai mana diperintahkan dalam Al-Quran dan as sunah.
Dalam masalah akidah muhammadiyah bekerja untuk tegaknya akidah
islam yang murni, bersih dari gejala kemusyrikan, bidah dan curafat tanpa
mengabaikan prinsip toleransi menurut islam. Sedangkan dalam ibadah,
muhammadiyah bekerja untuk tegaknya ibadah tersebut sebagaimana yang
dituntunkan Rasullah tanpa perubahan dan tambahan dari manusia. Usaha
permurnian yang dilakukan muhamaadiyah terhadap keadaan keagamaan
yang tampak dari serapan berbagai unsur kebudayaan yang ada di indonesia
yaitu, penentuan arah kiblat dalam sholat, yang sebelumnya mengarah tepat ke
arah barat.
2) Bidang pendidikan
Dalam bidang ini Muhammadiyah mempelopori dan meyelenggarakan
sejumlah pembaharuan dan inovasi yang lebih nyata. Bagi Muhammdiyah
pendidikan memiliki arti yang penting dalam penyebaran ajaran islam, karena

melalui bidang pendidikan pemahaman tentang islam dapat diwariskan dan


ditanamkan dari generasi kegenerasi.
Pembaharuan dari segi pendidikan memiliki dua segi yaitu
a. Segi cita-cita
Dari segi ini ingin membentuk manusia muslim yang baik budi,
alim dalam agama, luas dalam pandangan dan paham masalah ilmu
keduniaan, dan bersidia berjuang untuk kemajuan masyarakatnya.
b. Segi teknik pengajaran
Dari

segi

ini

lebih

banyak

berhubungan

dengan

cara

penyelenggaraan pengajaran. Dengan mengambil unsur-unsur yang baik


dari sistem pendidikan barat dan sistem pendidikan tradisonal,
muhammadiyah berhasil membangun sistem pendidikan sendiri. Seperti
sekolah model barat yang dimasukkan pelajaran agama didalamnya,
sekolah agama dengan menyertakan perlajaran umum.
Selain pembaharuan dalam pendidikan formal, Muhammadiyah juga telah
mempebaharui pendidika tradisional non formal yaitu pengajian. Dimana yang
semula pengajarnya hanya mengajar ngaji dan ibadah oleh muhammadiyah
diperluas dan pengajian di sistematiskan dan diarahkan pada masalah kehidupan
sehari-hari. Begitupula muhammadiyah telah mewujudkan bidang bimbingaan
dan penyuluhan agama dalam masalah-masalah yang diperlukan dan mungkin
bersifat pribadi.
3) Bidang sosial masyarakat
Muhammadiyah

merintis

bidang

sosial

kemasyarakatan

dengan

mendirikan rumah sakit, piklinik, panti auhan, rumah singgah, panti jompo, Pusat
kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), posyandu lansia yang dikelola melalui
amal usahanya dan bukan secara individual sebagai mana dilakukan orang pada
umumnya. Usaha pembaharuan dalam bidang sosial kemasyarakatan ditandai
dengan didirikannya Pertolongan Kesengsaraan Oemoen (PKO) di tahun 1923.
Perhatian terhadap kesengsaraan orang lain merupakan kewajiban orang muslim,
sebagai perwujudan tuntunan agama yang jelas untuk ber amal maruf dan juga

sebagai bentuk pengamalan firman Allah dalam surat Al-ma;un 107: 1-7 yang
artinya:
Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama, itulah orang yang
menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makanan orang miskin.
Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat,(yaitu) orang yang lalai dari
sholatnya, orang-orang berbuat riya dan enggan(menolong dengan) barang
berguna..
b. Model Tarjih Muhammadiyah
1) Al-Tarjih Baina al-Nusush
Al-tarjih baina al-nusush, atau menguatkan salah satu nash (ayat atau
hadits) yang saling bertentangan. Untuk mengetahui kuatnya salah satu nash yang
saling bertentangan, ada beberapa cara yang dikemukakan para ulama usul fiqh,
yaitu:
a. Dari Segi Sanad ( Para Perawi Hadith)
Imam al-Syawkany ( 1172-1250 H/ 1759-1828 M) berpendapat bahwa
pentarjihan dapat dilakukan dengan 42 cara, yang di antaranya dikelompokkan
kepada:
a) Menguatkan salah satu nash dari segi sanadnya.
Cara ini antara lain dengan meneliti kuantitas perawi hadith.
Jumhur ulama hadith yang sanadnya lebih banyak ditarjihkan dari hadith
yang sanadnya lebih sedikit. Karena kemungkinan terjadinya kesalahan
dalam suatu hadith yang diriwayatkan oleh banyak perawi sangat kecil.
b) Pentarjihan dengan melihat riwayat itu sendiri.
Yaitu hadith Mutawatir dikuatkan dari hadith Masyhur atau
menguatkan hadith Masyhur daripada hadith Ahad. Bisa juga dilakukan
dengan cara melihat persambungan sanadnya, yaitu mentarjih hadith yang
sanadnya bersambung sampai kepada Rasulullah SAW dari hadith yang
sanadnya terputus.
c) Pentarjihan melalui cara menerima hadith dari Rasulullah SAW.
Yaitu menguatkan hadith yang langsung didengar dari Nabi SAW
dari pada hadith yang didengar melalui perantaraan orang lain atau tulisan.

Dirajihkan juga riwayat yang memakai lafal langsung dari Nabi SAW
yang menunjukkan kata kerja, seperti kata naha (melarang), amara
(memerintahkan), dan adzina (mengizinkan), daripada riwayat yang
lainnya
b. Dari Segi Matan
Yang dimaksud dengan matan di sini adalah teks ayat, hadith, atau
ijma`. Imam al-Amidi ahli ushul fiqh mazhab Syafi`i (551-631 H/ 1156-1233
M), mengemukakan 51 cara dalam pentarjihan dari segi matan, di antaranya
adalah:
a) Teks yang mengandung larangan diutamakan daripada teks yang
mengandung perintah, karena menolak kemudharatan lebih utama
daripada mengambil manfaat.
b) Teks yang mangandung perintah didahulukan daripada teks yang
mengandung kebolehan karena melaksanakan perintah berarti sekaligus
kebolehan sudah tercakup di dalamnya.
c) Makna hakikat suatu lafaz lebih didahulukan darpada makna majaz.
d) Dalil Khusus lebih didahulukan dari dalil umum.
e) Teks umum yang belum ditakhsis lebih didahulukan daripada teks umum
yang telah ditakhsis.
c. Dari Segi Hukum atau Kandungan Hukum
Cara pentarjihan melalui metode ini, Imam al-Amidi mengemukakan
ada

11

cara,

sedangkan

Muhammad

ibn

Ali

al-Syawkani

menyederhanakannya menjadi 9 cara, di antaranya sebagai berikut:


Teks yang mengandung bahaya Jumhur lebih didahulukan dari teks
yang membolehkan. Alasannya hadith Rasulullah SAW:
Artinya: "Tidaklah berkumpul antara yang halal dengan yang haram,
kecuali yang haram lebih dominan". (HR. Al-Baihaqy).
Suatu teks yang mengandung hukum menetapkan, sedangkan yang
lain meniadakan, maka dalam hal

seperti ini terjadi perbedaan pendapat

ulama. Misalnya Ibn `Abbas meriwayatkan sebuah hadith bahwa Rasulullah

SAW mengawini Maimunah dalam keadaan ihram sebagaimana hadith berikut


ini:
Artinya: "Sesungguhnya Nabi SAW mengawini Maimunah binti alHarith sewaktu beliau sedang ihram". (HR.Bukhari dan Muslim).
d. Pencarihan dengan Menggunakan Faktor (dalil) Lain di Luar Nash (amr alKharij).
Al-Amidi mengemukakan lima belas cara pentarjihan dengan
menggunakan faktor di luar nash. Dan Imam al-Syawkani meringkasnya
menjadi sepuluh cara, di antaranya:
1. Mendahulukan salah satu dalil yang mendapatkan dukungan dari dalil lain,
baik dalil itu al-Qur`an, Sunnah, ijma`, maupun logika.
2. Mendahulukan salah satu dalil yang didukung oleh amalan ahli Madinah,
karena mereka lebih mengetahui persoalan turunnya al-Qur`an dan
penafsirannya serta adanya anjuran Rasulullah SAW untuk mengikuti
mereka.
3. Mendahulukan nash yang menyebutkan `illat (motivasi) hukumnya
daripada nash yang tidak menyebutkan `illatnya
4. Mendahulukan dalil yang mengandung kehati-hatian (ihtiyath) daripada
dalil yang tidak menyebutkan demikian
5. Mendahulukan dalil yang dibarengi dengan perbuatan atau perkataan
perawinya dari dalil yang tidak demikian halnya
2) Tarjih Bain al-Aqyisah
Ta`arudh dengan segala macam cara penyelesaiannya tersebut di atas
adalah bertentangan antara dua dalil syara` yang berupa nash. Di samping itu ada
ta`arudh yang terjadi antara dua dalil syara` yang bukan nash yaitu ta`arudh
antara qiyas dengan qiyas. Muhammad bin `Ali al-Syawkani mengemukakan
tujuh belas macam pentarjihan dalam persoalan qiyas yang saling bertentangan
(ta`arudh). Ketujuh belas macam pentarjihan tersebut dikelompokkan oleh
Wahbah al-Zuhaily (guru besar fikih Islam/usul Fiqh di Universitas Damaskus,
Suriah) menjadi empat kelompok, yaitu, Tarjih dari Segi Hukum Asal, Tarjih dari
Segi Hukum Furu`, Tarjih dari Segi `Illat, Tarjih Qiyas Melalui Faktor Luar.

3. Model gerakan keagamaan Muhammadiyah


Seperti yang dituliskan di awal bahwa dalam konstitusi Muhammadiyah, terdapat
tiga model gerakan yang mewujud menjadi modal gerakan yaitu: Pertama:
Muhammadiyah sebagai gerakan Islam. Kedua: sebagai gerakan dakwah amar
maruf nahi munkar, dan ketiga: Muhammadiyah sebagai gerakan tajdid.
Pada dasarnya, Muhamadiyah telah menggagas mengenai penguatan basis
gerakan, sejak awal berdirinya. Bahkan dalam Muktamar pada tahun 1970-an telah
diputuskan untuk menggalang jamaah dan dakwah jamaah (GJDJ). Hanya saja, gagasan
tersebut belum ter-implementasi secara maksimal dalam aktivistas gerakan organisasi.
Kesadaran yang sama muncul pada Muktamar ke 46 Yogyakarta dengan adanya
program revitalisasi cabang dan ranting serta pembentukan Lembaga Pengembangan
Cabang dan Ranting (LPCR), sebagai respons atas kondisi global dan tantangan yang
dihadapi.
Kesadaran untuk memperhatikan masyarakat di akar rumput merupakan
kelanjutan dari spirit perubahan formasi sosial dengan terlibat dalam penguatan
kesadaran sosial, politik, ekonomi dan ideologi, -kini terkooptasi oleh kecenderungan
kapitalistik, birokrasi, politisasi yang berlangsung secara massif pasca Orde Baru. Dan
terakhir, beberapa dekade yang lalu, telah di rumuskan pembinaan Jamaah, keluarga
sakinah, dan qaryah thoyyibah untuk memperkuat basis gerakan.
a. Gerakan Jamaah dan Dakwah (GDJD)
Esensi GDJD adalah penguatan kesadaran jamaah dan kepedulian mereka
terhadap lingkungan sosialnya. Definisi sederhana tentang jamaah adalah kumpulan
keluarga muslim yang berada dalam suatu lingkungan tempat tinggal. Ajakan warga
aktif merupakan landasan gerakan Muhammadiyah yang menuntut adanya komunitas
yang solid dan terorganisir untuk memperjuangkan tegaknya kebaikan menentang
segala macam keburukan. Orientasi dari gerakan ini adalah membangun basis
kehidupan dakwah bil halal di bidang pendidikan, sosial, ekonomi dan kesehatan.
KH. Ahmad Dahlan sebagai pendiri Muhammadiyah dan beberapa sahabatnya
sangat peduli terhadap pembinaan jamaah. Beliau melakukan perjalanan keliling Jawa
untuk melakukan pembinaan hingga ke Banyuwangi, Jakarta dan Jawa Tengah. Itu

artinya, penguatan jamaah sudah menjadi platform dari berdiri dan pengembangan
gerakan Muhamaadiyah.
b. Langkah Penguatan Jamaah
Langkah pemberdayaan melalui penguatan institusi cabang dan ranting akan
memberi kontribusi bagi penguatan kohesi sosial /solidaritas antar warga di tengah
meluasnya paham-paham radikal yang cenderung anarkis belakangan ini. Ledakan
bom di Pesantren Umar Bin Khattab Bima NTB, dapat menjadi bukti betapa
rapuhnya kohesi sosial warga. Komunitas kecil jauh di Bima saja, terdapat tindakan
kekerasan terhadap ummat Islam. oleh karena itu, memperkuat kembali identitas lokal
melalui gerakan jamaah, dipandang perlu dalam kerangka penguatan potensi dan
basis gerakan untuk hal-hal yang produktif.
Langkah yang dapat dilakukan untuk menggiatkan cabang dan ranting
Muhammadiyah melalui gerakan jamaah dan dakwah jamaah antara lain:
1. Melakukan assesment awal mengenai kehidupan keagamaan di desa atau
komunitas atau ranting
2. Memantapkan konsep dakwah jamaah yang akan dipergunakan agar sesuai
dengan kondisi sosial, ekonomi dan budaya masyarakat basis
3. Melakukan sosialisasi dan pelatihan bagi para fasilitator yang akan menggerakkan
cabang dan ranting
4. Melakukan pendampingan dakwah jamaah
5. Memantapkan organisasi gerakan di akar rumput (pimpinan ranting) sebagai
ujung tombak gerakan dakwah jamaah
Untuk mensinergiskan langkah-langkah diatas, diperlukan adanya keterlibatan
berbagai lembaga amal Muhammadiyah, seperti: sekolah, rumah sakit ataupun masjid
dari seluruh daerah di Indonesia. Pelibatan lembaga amal itu dalam mempercepat
proses pengembangan cabang dan ranting sebagai sentral untuk mengembangkan
Muhammadiyah sebagai organisasi yang bercorak community based. Agar nantinya
tidak hanya memperkuat infrastruktur Muhammadiyah, tetapi juga memperkuat
infrastruktur

masyarakat,

sehingga

sebagaimana cita-cita Muhammadiyah.

terbentuk

masyarakat

khairah

ummah

4. Makna gerakan keagamaan Muhammadiyah


Secara harfiah ada perbedaan antara kata gerak, gerakan, maupun
pergerakan. Gerak adalah perubahan sesuatu materi dari tempat yang satu ke tempat
lainnya, gerakan adalah perbuatan atau keadaan bergerak, sedangkan pergerakan adalah
usaha atau kegiatan. Pergerakan identik dengan kegiatan dalam ranah sosial. Dengan
demikian, kata gerakan atau pergerakan mengandung arti, unsur, dan esensi yang dinamis
tidak statis.
Muhammadiyah merupakan organisasi pergerakan. Kader muhammadiyah di
tuntut untuk selalu bergerak dalam menyebar syariat islam yang terinspirasi dari surat AlImran ayat 104.
Muhammadiyah bukanlah gerakan sosial-keagamaan yang biasa. Tetapi sebagai
gerakan Islam, pergerakan organisasi terkait erat dengan perkembangan agama Islam di
Nusantara. Tidak hanya bergerak, karena setiap dakwah yang disampaikan dan
disebarkan harus berdasarkan bingkai petunjuk ajaran agama Islam: Islam tidak
terbangun sebagai asas formal (teks), tetapi menjiwai, melandasi, mendasari,
mengkerangkai, memengaruhi, menggerakan dan menjadi pusat orientasi dan tujuan.
Tidak sekadar meng-Islam KTP, menjadikannya slogan dan simbolik belaka, tetapi
menjadikannya jalan dan ruh kehidupan.
Inilah Islam yang modern, Islam yang melintasi batas-batas kaku tradisional dan
budaya, Islam yang senantiasa melangkah maju ke depan. Sebagaimana semangat dasar
gerakan Muhammadiyah dalam menyebarkan panji-panji agama Islam dan menghadapi
pergolakan arah global dunia.
Oleh karena itu, aktor-aktor gerakan dakwah wajib masuk dalam lingkaran
organisasi agar dapat terorganisir dan memiliki power yang kuat. Sehingga, kelelahan dan
keteteran dalam menyebarkan nilai-nilai ke-Islam-an dapat teratasi sejak dini dan secara
organisatoris. Dalam hal ini, para pendahulu Muhammadiyah memaknainya dengan
kaidah fiqhiyah ma layatim al-wajib Illa bihi da huma wajib. Artinya: organisasi
menjadi wajib adanya, karena keniscayaan dakwah memerlukan perangkat-perangkat
organisasi
Di sisi lain: Muhammadiyah bertujuan untuk mencetak ummat terbaik atau
ummat

yang

unggul.

Sebagaimana

pokok

pikiran

keenam Anggaran

Dasar

Muhammadiyah. Disebutkan bahwa: organisasi adalah satu-satunya alat atau cara


perjuangan yang sebaik-baiknya.
Ciri-cirinya adalah:
a) Muhammadiyah adalah subjek atau pemimpin, dan masyarakat semuanya adalah
objek atau yang dipimpinnya
b) Lincah (dinamis), maju (progresif), selalu dimuka dan militan;
c) Revolusioner;
d) Mempunyai pemimpin yang kuat, cakap, tegas dan berwibawa; dan
e) Mempunyai organisasi yang susunannya lengkap dan selalu tepat atau up to date (PP
Muhammadiyah, Manhaj Gerakan Muhammadiyah, 2000).
5. Gerakan Tajdid Pada 100 Tahun Kedua
Tajdid merupakan proses yang tidak pernah berhenti. Ia akan tumbuh dan
berkembang seiring dengan perkembangan kehidupan manusia. Dalam ranah agama,
tajdid dimaknai sebagai upaya untuk redefinisi makna di tengah-tengah kehidupan
manusia yang progresif Islam seringkali dimaknai penganutnya sebagai agama yang
rahmatan lil alamin, agama yang senantiasa sesuai di setiap tempat dan zaman. Untuk
mengejawantahkannya, seringkali dihadapkan pada dilema antara normativitas teks
dengan realitas sosial. Dalam menghadapi dilema ini, maka yang harus diubah adalah
cara pandang terhadap teks al-Quran dan al-Sunnah. Amin Rais menyebut tajdid
dilakukan secara konprehensif yang mengarah kepada future oriented. (Amin Rais, Visi
dan Misi Muhammadiyah, 1998).
Muhammadiyah sebagai gerakan tajdid menggunakan tiga paradigma dalam
membaca teks yakni bayani, burhani, dan irfani. Ketiga paradigma ini diharapkan mampu
menjawab dilema antar teks dan konteks sehingga menghasilkan Islam yang rahmatan lil
alamin.
Pengetahuan dan peradaban manusia senantiasa berubah dan berkembang seiring
dengan perkembangan zaman. Sebagai bagian dari narasi besar ilmu pengetahuan, ilmuilmu keislaman pun mengalami pergeseran paradigmatik. Hal ini terjadi karena ilmuilmu yang lahir tidak lepas dari bingkai sosial yang mengkonstruk realitas. Bingkai sosial
inilah yang selalu mengalami perubahan seiring dengan pperkembangan peradaban
manusia. Oleh karena itu, pergeseran paradigma merupakan tuntutan sejarah.

Perkembangan peradaban manusia kini sampai pada era pluralisme dan


multikulturalisme. Agama-agama yang selama ini mapan dengan dirinya, ternyata
mengalami problematika ketika berhadapan dengan realitas luar yang makin kompleks
dan plural. Untuk itu, maka, harus ada redefinisi terhadap makna dan orientasi agama,
sehingga agama senantiasa relevan dengan peradaban manusia.
Tantangan selanjutnya datang dari ranah budaya atau kultur sosial masyarakat
lokal. Agama sebagai sistem nilai, norma dan ajaran yang dominan, berhadapan dengan
sistem nilai yang datang dari tradisi atau adat masyarakat setempat. Sistem nilai itu lahir
dari kearifan lokal yang secara turun temurun dipegang oleh sebuah masyarakat sebagai
suatu ajaran yang harus dijunjung tinggi. Dialektika antara agama dan budaya (kearifan)
lokal ini juga sering memicu ketegangan, konflik dan perpecahan.
Muhammadiyah 100 tahun kedua, meninjau ulang paradigma yang selama ini
dipegang merupakan suatu keharusan. Misalnya, sikap Muhammadiyah terhadap
persoalan budaya lebih bersifat monolitik. Kecendrungan ini bisa dilihat dari identitas
yang melekat dalam Muhammadiyah yakni gerakan Islam yang murni, di samping
sebagai gerakan modernisme.
Muhammadiyah 100 tahun kedua, diharapkan mampu melangkah dengan
pandangan dan strategi yang lebih tepat sasaran dan mencapai keberhasilan dalam
mewujudkan visi dan tujuannya, baik tujuan jangka menengah dan jangka panjang,
maupun tujuan ideal yakni terbentuknya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.
Untuk mencapai tujuan yang ideal ini, diperlukan transformasi baru dalam
aktualisasi gerakannya di berbagai bidang kehidupan. Disinilah pentingnya aktualisasi
ideologi medernisme-reformasi Islam dalam gerakan dakwah dan tajdid gelombang
kedua yang diperlukan Muhammadiyah. melalui potensi dan modal sebagai gerakan
pencerahan, Muhammadiyah diharapkan terus berkiprah untuk pencerahan dan kemajuan
bangsa, serta mampu menjadikan gerakan Islam kosmopolitan yang membawa Islam
sebagai rahmat bagi seluruh alam.
Selain transformasi dalam aktualisasi gerakan, juga transformasi di bidang
pemikiran, pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan usaha-usaha lain yang bersifat unggul
dan terobosan, Muhammadiyah dituntut untuk terus berkiprah dengan inovatif. Dengan

demikian transformasi dakwah dan tajdid, yakni melakukan perubahan-perubahan


pandangan dan strategi dakwah dan tajdid lebih mendasar sebagai alternatif.
Sejumlah tawaran bagi Muhammadiyah dalam melakukan reorientasi terhadap
gerakan tajdid yang diperankannya. Jalaluddin Rahmat pernah menawarkan formulasi
Tauhid Sosial sebagaimana gagasan Dr. M. Amien Rais sebagai blueprint (cetak biru)
tajdid Muhammadiyah jilid dua. Ahmad Syafii Maarif menawarkan Muhammadiyah
sebagai gerakan ilmu untuk melangkah ke depan di tengah pergulatan pemikiran Islam
dan tantangan besar yang demikian kompleks saat ini.
Nurcholish Madjid secara isyarat memberikan catatan agar gerakan-gerakan Islam
modernis seperti Muhammadiyah memperkaya khazanah keilmuan dan pemikiran agar
kunci metodologis yang selama ini kuat dimiliki dilengkapi dengan kekayaan materi
pemikiran baik yang bersifat pemikiran Islam klasik maupun kontemporer.
Tawaran-tawaran pemikiran tersebut berangkat dari penilaian bahwa gerakan
Islam modern seperti Muhammadiyah selama ini cenderung terlalu ad-hoc, kaya amal
tetapi kering pemikiran, dan kehilangan daya transformasionalnya di tengah perubahan
dan perkembangan zaman yang sarat kompleksitas masalah dan tantangan sebagaimana
kritik kaum noemodernisme terhadap modernisme.
Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid, M. Syamsul Anwar juga memberikan tawaran
bahwa kini tajdid Muhammadiyah memerlukan pengembangan dari paradigma tajdid
juzi-alami (pembaruan praksis amaliah) ke tajdid usuli-nazari (pembaruan pemikiran
yang lebih mendasar).Dalam konteks ini secara sistemik tentu saja keseluruhan
pengembangan pemikiran tajdid itu berada dalam bingkai dan legalitas organisasi, bukan
bersifat perseorangan kecuali untuk wacana dan pengembangan wawasan pemikiran.
Tajdid Muhammadiyah bersifat jamaiy atau kolektif, tetapi tentu saja
memerlukan etos ijtihad dan sistem yang lebih dinamis agar tidak mengalami
kelambanan dan tidak terperangkap pada posisi statis. Sedangkan berbagai variasi dan
pengembangan wacana pemikiran sebaiknya diberi ruang yang lebih longgar agar tradisi
pemikiran terus berkembang, tentu saja disertai sikap tasamuh dan memiliki
pertanggungjawaban intelektual yang tinggi.
Keberhasilan Muhammadiyah melangkah melintasi zaman menuju 100 tahun
kedua, karena potensi dan modal dasar yang dimiliki sebagai gerakan pencerahan.

Melalui gerakan pencerahan yang membawa misi dakwah dan tajdid yang membebaskan,
memberdayakan, dan memajukan kehidupan di tengah dinamika abad modern yang sarat
tantangan.

DAFTAR PUSTAKA
Abdurrohman, Asjmuni. (2002). Manhaj Tarjih Muhammadiyah, Metodologi dan Aplikasi.
Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Badan

pendidikan

Kader

PP.

Muhammadiyah.

(1994).

Materi

Induk

Perkaderan

Muhammadiyah. Yogyakarta: BPK PP.Muhammadiyah.


Majlis Tarjih Dan Pengembangan Pemikiran Islam Pimpinan Pusat Muhammadiyah. (2003).
Buku Panduan Munas Tarjih ke 26. Yogyakarta: MTPPI PP Muhammadiyah.

Anda mungkin juga menyukai