Anda di halaman 1dari 5

Nama : Faizal Syarif

NIM : 16/402963/PHK/09460

Arah dan strategi pembangunan hukum tahun 2015-2016


Dalam rangka mewujudkan pembangunan hukum perlu ditentukan arah dan
strategi untuk memperoleh cara mencapai politik hukum yang telah dicanangkan.
Beberapa sektor hukum perlu memperoleh arah pembaruan materi hukumnya. Pilihan
sektor hukum ini didasarkan pada urgensi dan besar pengaruhnya (impact) bagi
kelangsungan tujuan bernegara sebagaimana disebutkan dalam pembukaan UUD NRI
Tahun 1945, yaitu untuk membentuk suatu Pemerintahan negara indonesia yang
melindungi segenap bangsa indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk
memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut
melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan
keadilan sosial.1
Beberapa sektor hukum dimaksud adalah:
1. Demokrasi dan otonomi daerah
2. Sumber daya alam
3. Lingkungan hidup
4. Tata ruang dan pertanahan
5. Keperdataan (bisnis, keuangan, dan perbankan)
6. Pidana
7. Hukum adat
8. Hukum internasional
Sehubungan dengan hal tersebut, Badan Pembinaan Hukum Nasional (BPHN)
Kementerian Hukum dan Ham memandang bahwa pembangunan hukum dalam
negara hukum indonesia harus direncanakan dengan baik. Selain dapat
difungsikan sebagai arah jalan (roadmap) untuk memandu tahapan pencapaian
tujuan pembangunan hukum Nasional, perencanaan pembangunan hukum juga
berfungsi sebagai sarana untuk mewujudkan efisiensi dan efektivitas dengan
memfokuskan kegiatan prioritas pembangunan hukum yang telah ditetapkan,
mengoptimalkan sumber daya yang tersedia, sebagai tolak ukur kinerja
pembangunan hukum, dan sebagai acuan pengawasan dan penilaian target
pembangunan hukum. Sejalan dengan hal tersebut dan sesuai dengan tahapan
1 PPHN 2014, diakses pada 10 Oktober 2016, pukul 07.10 Wib.

pembangunan nasional, PPHN yang disusun oleh BPHN diarahkan untuk


memberikan masukan mengenai konsep dan strategi pembangunan hukum
nasional untuk rencana pembangunan jangka menengah nasional 2015-2019.
Berdasarkan pasal 3 UU no.17 tahun 2007 RPJP Nasional merupakan
penjabaran dari tujuan dibentuknya Pemerintahan Negara Indonesia yang
tercantum dalam pembukaan undang-undang dasar negara republik indonesia
tahun 1945, yaitu untuk melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah
indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan
ikut mlekasankan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian
abadi, dan keadilan sosial dalam bentuk rumusan visi,misi dan arah pembangunan
nasional.2
Kurun waktu RPJP Nasional adalah 20 (dua puluh) tahun. Pelaksanaan RPJP
Nasional 2005-2025 terbagi dalam tahap-tahap perencanaan pembangunan dalam
periodisasi perencanaan pembangunan jangka menengah nasional 5(lima).
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional, yang selanjutnya disebut
RPJM Nasional adalah dokumen perencanaan pembangunan nasional untuk
periode 5 (lima) tahunan, yaitu RPJM Nasional I Tahun 20052009, RPJM
Nasional II Tahun 20102014, RPJM Nasional III Tahun 20152019, dan RPJM
Nasional IV Tahun 20202024.3
Menurut kurun waktu sekarang Pelaksanaan RPJP Nasional telah masuk ke
dalam tahap ke III yaitu tahun 2015-2019 dimana Target legislasi DPR untuk
tahun 2016 berjumlah 50 RUU prioritas. Untuk itu, setidaknya dalam satu masa
sidang, DPR dapat menyelesaikan 9 RUU. Namun, pada kenyataannya, pada
masa sidang kedua sangat terlihat, DPR hanya mampu menyelesaikan 7 RUU.
Lima di antaranya merupakan RUU yang tertunda pada masa sidang sebelumnya.
Badan Legislasi telah menerima usulan RUU dari Komisi, Fraksi, dan
lembaga/masyarakat sebanyak 87 RUU.
sejumlah 27 RUU,

dan

Adapun Pemerintah mengusulkan

DPD mengajukan 18 RUU,

sehingga

secara

keseluruhan jumlah RUU yang diajukan oleh ketiga lembaga tersebut berjumlah
132 RUU.
34 RUU dalam tahap penyusunan yang sudah siap Naskah Akademik dan
draft RUU; serta 5 RUU baru yang memenuhi urgensi tertentu. Berdasarkan hasil
2 Undang-undang 17 Tahun 2007, diakses pada 10 Oktober 2016, pukul 08.15 Wib.
3 Undang-undang 17 Tahun 2007, diakses pada 10 Oktober 2016, pukul 08.50 Wib.

pembahasan

yang

dilakukan Badan

Legislasi, Pemerintah dan DPD RI,

kemudian disepakati:
40 RUU dalam Prolegnas RUU Prioritas Tahun 2016 dan Perubahan
Prolegnas RUU Tahun 2015-2019 yang semula 160 RUU menjadi 169 RUU,
hal ini terkait dengan adanya usulan 9 RUU baru yang belum masuk dalam
Prolegnas RUU Tahun 2015-2019. Selain dua hal tersebut di atas, juga telah
disepakati 32 RUU untuk perubahan Prolegnas RUU Prioritas Tahun 2016.
Maksudnya

RUU

ini menjadi prioritas untuk perubahan Prolegnas RUU

Prioritas Tahun 2016 apabila sudah ada RUU dalam Prolegnas RUU
Prioritas

Tahun

2016 diselesaikan pembahasannya.4 Dari 40 RUU dalam

Prolegnas RUU Prioritas Tahun 2016, sebanyak 25RUU diusulkan oleh DPR,
13 RUU diusulkan oleh Pemerintah, dan 2 RUU diusulkan oleh DPDRI.5
Berdasar daftar RUU prioritas yang diajukan, banyak RUU yang bertujuan
untuk pemajuan dalam bidang Sumberdaya Alam (SDA) beberapa diantaranya
RUU Pertanahan, RUU Sistem Penyelesaian Konflik Agraria, RUU Kedaulatan
Pangan, revisi UU Kehutanan, dan RUU Pengelolaan Sumberdaya Alam.
Secara khusus, dalam prioritas 2016 beberapa agenda legislasi akan
berdampak sangat strategis pada pembaruan sistem hukum dalam pertanahan
dikarenakan A. maraknya kasus-kasus pertanahan. B. ketimpangan penguasaan,
pemilikan, penggunaan, dan pemanfaatan tanah. C. Kendala penyediaan tanah
untuk pembangunan kepentingan umum. D. Belum optimalnya pelayanan
pertanahan.
Berikut daftar RUU yang telah disahkan menjadi Undang-Undang oleh DPR-RI
dari bulan Januari s/d Juli 2016 :
1. UU Tabungan Perumahan Rakyat (TAPERA) , disahkan pada tanggal 23 Februari
2016.
2. UU Pengesahan Persetujuan antara Pemerintahan RI dan Pemerintah RRC tentang
Kerjasama Aktivitas dalam Bidang Pertahanan, disahkan pada tanggal 1 Maret
2016.

4 Diakses dari http://www.pshk.or.id/wp-content/uploads/2016/02/Laporan-Baleg-ttg-PenetapanProlegnas-2016-dlm-Rapat-Paripurna-26Jan15.pdf pada tanggal 11 Oktober 2016, pukul 07.00 Wib.
5 Ibid.

3. UU Pengesahan Nota Kesepahaman (MoU) antara Kementerian Pertahanan RI


dan Kementerian Pertahanan Republik Federasi Jerman mengenai Kerjasama di
Bidang Pertahanan, disahkan pada tanggal 1 Maret 2016.
4. UU Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan, Pembudidayaan Ikan, dan
Petambak Garam , disahkan pada tanggal 15 Maret 2016
5. UU Jaring Pengaman Sistem Keungan (PPSK), disahkan pada tanggal 17 Maret
2016.
6. UU Penyandang Disabilitas, disahkan pada tanggal 17 Maret 2016.
7. UU Paten , disahkan pada tanggal 28 Maret 2016.
8. UU Pertanggungjawaban atas Pelaksanaan APBN Tahun Anggaran 2015, disahkan
pada tanggal 26 Juni 2016.
9. UU Perubahan APBN Tahun Anggaran 2016, disahkan pada tanggal 28 Juni 2016.
10. UU Pengampunan Pajak (TAX AMNESTY), disahkan pada tanggal 28 Juni 2016.
11. UU Perubahan UU Nomor 8 Tahun 2015 tentang Perubahan atas UU Nomor 1
Tahun 2015 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang
Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota menjadi
Undang-Undang, disahkan pada tanggal 2 Juni 2016.6
Melihat dari dinamika politik hukum yang terjadi di legislatif dari bulan
Januari s/d Juli 2016 pembahasan RUU tentang pertanahan masih dianggap
sebelah mata dikarenakan RUU tentang pertanahan masih saja masih belum
rampung. Hal ini dapat diindikasikan bahwa adanya ketidakseriusan dalam
merancang pembahasan UU tentang pertanahan padahal masalah pertanahan di
Indonesia sudah cukup mengkhawatirkan di mana semakin banyaknya kasuskasus pertanahan yang muncul serta penanganan yang berlarut-larut, beberapa
kasus berkembang menjadi skala nasional yang menunjukkan bahwa konflik
antar pihak semakin meningkat serta apabila tidak segera diantisipasi akar
permasalahannya maka dikhawatirkan akan banyak kasus lain yang berpotensi
besar menjadi konflik yang berdampak luas pada kehidupan sosial ekonomi
nasional, rendahnya cakupan peta dasar pertanahan, belum semua bidang tanah
bersertifikat, masalah tanah adat dan ulayat.
Kesimpulan
Dari pembahasan yang telah dijelaskan diatas, maka kesimpulan yang bisa
diambil adalah, dominasi kepentingan penguasa dalam menggunakan politik hukum
6 Berikut RUU yang telah disahkan DPR RI menjadi Undang-Undang dari Bulan Januari s/d Juli
Tahun 2016, diakses dari http://www.dpr.go.id/berita/detail/id/13803 , pada tanggal 11 Oktober 2016,
Pukul 08.21 Wib.

pemerintahan baik eksekutif maupun legislatif lebih mampu memenangkan


pertarungan pengesahan RUU tertentu, yang fungsinya langsung berdampak kepada
kelembagaan pemerintahan.
Padahal UU pertanahan dirasa sangat perlu untuk dirubah dikarenakan sudah
tidak sesuai dengan kehidupan sosial masyarakat sekarang Artinya, RUU ini masih
bisa tertunda hingga waktu yang tidak dapat dipastikan. Walaupun sudah masuk
dalam program legislasi prioritas nasional, namun hal tersebut tidak menjamin RUU
tersebut bisa disahkan dalam periode pemerintah sekarang ini.