Anda di halaman 1dari 33

Topik: TB Paru

Tanggal kasus : 2016


Presenter: dr. Amalia Rosdiani
Tanggal presentasi:
Pendamping: dr. Adi; dr. Niken DPD
Tempat presentasi:
Obyektif Presentasi :
Keilmuan
Keterampilan
Penyegaran
Tinjauan Pustaka
Diagnostik
Manajemen
Masalah
Istimewa
Neonatus
Bayi
Anak
Remaja
Dewasa
Lansia
Bumil
Deskripsi : Perempuan berusia 35 tahun sakit kepala sejak 1 minggu.
Tujuan
: Mendiagnosis TB Paru dengan tepat dan memberikan penanganan yang tepat.
Bahan Bahasan :
Tinjauan Pustaka
Riset
Kasus
Audit
Cara Membahas:
Diskusi
Presentasi dan diskusi
Email
Pos
Data pasien :
Nama : Tn. T
No. reg:
Nama klinik : RSUD Soedarsono
Telp : Terdaftar sejak : Data utama untuk bahan diskusi:
1. Diagnosis/gambaran klinis : Tn.T 35 tahun batuk berdarah
2. Riwayat pengobatan : 3. Riwayat kesehatan/ penyakit : riwayat HT +, DM +
4. Riwayat keluarga : HT +
5. Riwayat pekerjaan : Bekerja sebagai ekspedisi
6. Lain- lain : Merokok sekitar 10 batang setiap hari selama 10 tahun.
Daftar Pustaka:
American Thoracic Society. Diagnostic Standard and Classification of Tuberculosis in Adults and Children.
2000. USA.
Bahar, A. Tuberkulosis Paru dalam Soeparman, WS. Ilmu Penyakit Dalam, jilid II, Balai Penerbit FKUI, 2003:
Jakarta.
Departeman Kesehatan. Republik Indonesia. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis, 2007: Jakarta.
E, Jewetz, Mikrobiology Untuk Profesi Kesehatan edisi 16, Fransisico (terjemahan), EGC, 2004: Jakarta.
Wilson, Price, Patofisiologi,Konsep-konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, ed,4. EGC, 2004: Jakarta.
World Health Organization. Treatment of Tuberculosis Guideline. 2010 : Geneva, Switzerland
World Health Organization. Global Tuberculosis Control. 2011 : Geneva, Switzerland
Hasil Pembelajaran:
1. Mendiagnosis awal pasien dengan Tb Paru
2. Memberikan penanganan dan rujukan yang tepat

Catatan:
Subyektif
Tn.T 35 tahun datang ke UGD RSUD Soedarsono dengan keluhan batuk berdarah
sejak 2 minggu yang lalu. 2 bulan SMRS pasien mengeluh batuk berdahak dengan dahak
berwarna kemerahan. Pasien juga merasa sering merasa lelah, keringat malam, demam
yang naik turun sehingga pasien merasakan seperti meriang, nafsu makan menurun, dan
berat badan menurun. 2 minggu SMRS pasien mengeluh batuk berdarah. Darah berwarna
merah segar, sebanyak sekitar setengah gelas. Darah tidak bercampur dengan makanan.
Batuk berdarah didahului dengan batuk dan tidak diikuti dengan perasaan mual. Apabila
pasien batuk berdarah, maka pasien akan merasakan sesak napas. Pasien merasakan mual
tetapi tidak muntah. Pasien juga merasakan mudah merasa lelah. BAK dani BAB pasien

normal.
Riwayat Penyakit Dahulu

Pasien belum pernah mengalamai gejala seperti yang dikeluhkan sekarang.

Pasien ada riwayat hipertensi.

Ada riwayat Diabetes Mellitus

Tidak ada riwayat penyakit jantung.

Riwayat Penyakit Keluarga

Pasien ada riwayat hipertensi didalam keluarga.


Tidak ada riwayat penyakit jantung.
Tidak ada riwayat Diabetes Mellitus didalam keluarga

Riwayat Pengobatan

Pasien belum di berikan obat apapun.

Riwayat Alergi

Tidak ada riwayat alergi obat-obatan.


Tidak ada riwayat alergi makanan , dll

Riwayat Psikososial
Pasien merokok sekitar 10 batang setiap hari selama 10 tahun. Tidak minumminuman beralkohol, jarang berolahraga, makan teratur, pasien bekerja sebagai ekspedisi.

Status Interna Singkat


1. Keadaan Umum
- Cukup, GCS 456
- Berat badan sebelum sakit : 45 kg
- Berat badan sesudah sakit : 42 kg
- Temperatur : 36,20 Celsius
- Nadi: 80 x/menit, teratur
- RR: 20 x/menit
- TD: 150/100 mmHg
2

2. Kepala dan Leher


-Umum: Tampak sakit sedang
- Mata:
Anemia (+/+), Ikterus (-)
-Telinga:
dbN
-Hidung: pernapasan cuping hidung -/-Mulut: Mukosa bibir kering
-Leher:
Kesan umum simetris
Tidak ada pembesaran kelenjar getah bening
Tidak ada peningkatan JVP
Trakea di tengah
3. Thorax
- Bentuk Normal
- Paru
Depan
Kanan
Kiri

Pemeriksaan
INSPEKSI
Bentuk
Pergerakan
PALPASI
Pergerakan
Fremitus raba

Belakang
Kanan
Kiri

Simetris
Simetris

+
+

+
+

+
+

+
+

Simetris

+
+
+
+

+
+
+
+

+
+
+
+

+
+
+
+

Simetris

PERKUSI
Suara ketok
AUSKULTASI

Suara nafas

Ronkhi

Sonor
Sonor
Sonor
Sonor
Sonor
Sonor
Depan
Kanan
Kiri
Vesikula
r
Vesikular
Vesikula
Vesikular
r
Vesikular
Vesikula
r
-

Sonor
Sonor
Sonor
Sonor
Sonor
Sonor
Belakang
Kanan
Kiri
Vesikula
r
Vesikular
Vesikula
Vesikular
r
Vesikular
Vesikula
r
-

Wheezing

4. Jantung dan Kardiovaskuler


Inspeksi : Ictus cordis tidak nampak, Pulsasi jantung (-)
Palpasi
: Ictus teraba di ICS V MCL sinistra
Perkusi
: Batas kanan dan kiri jantung normal
Auskultasi
: S1 S2 tunggal, regular. Murmur (-), Gallop (-)
5. Abdomen
Inspeksi:
Flat, Umbilicus masuk merata, Kulit dalam batas normal
Auskultasi

Bising usus (+) normal


Palpasi
Tonus normal
Turgor normal
Blast penuh
Nyeri tekan epigastrium (+)
Massa Hepar lien tidak teraba
Perkusi
Ascites (-)
Timpani (+)
6. Ekstremitas
Ekstremitas Atas dan Bawah
o Akral hangat (+), Edema (-)
Darah Lengkap :
Hb
Eritrosit
Leukosit
Trombosit
Hct
LED
Kimia Darah:
GDA
DIAGNOSIS

:
:
:
:
:

8 g/dl
2,52 x 106/L
9,5 x 103/L
304.000
24,5 %
: 125 mm/jam

: 304 mg/dl

Haemoptoe e.c Susp. TB Paru + Diabetes Melitus + Sindroma Dispepsia


PLANNING
Terapi
O2 3 lpm
IVFD NS 8 tpm
Inj. Ranitidin 2x1
Inj. Asam tranexamat 3 x 1
Inj. Cefotaxim 1 gr
Inj. Novorapid 3 x 6 unit
p.o: Amlodipin 1 x 1
Codein 2 x 1
Monitoring
Vital sign, klinis.
Edukasi
Memberikan informasi kepada pasien dan keluarga tentang penyakit
pasien dan terapi yang diberikan.

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Penyakit TB Paru hampir selalu fatal tanpa pengobatan, data terbaru di

Indonesia tahun 2001 di kemukakan oleh Dirjen Pemberantasan Penyakit Menular


dan penyehatan lingkungan Dep Kes RI, Prof.Dr Umar Fahcri Ahmadi, MPH kasus
terbaru penderita TBC di Indonesia sekitar 583.000 kasus per tahun. Secara nasional
TBC membunuh kira-kira 140.000 orang per tahun atau setiap hari 43 orang
meninggal karena penyakit TBC ini.
Insidensi Tuberculosis

dilaporkan meningkat secara drastis pada dekade

terakhir ini di seluruh dunia termasuk juga di Indonesia. Penyakit ini biasanya banyak
terjadi pada negara berkembang atau yang mempunyai tingkat sosial ekonomi
menengah ke bawah. Tuberculosis merupakan penyakit infeksi penyebab kematian
dengan urutan atas atau angka kematian (mortalitas) tinggi, angka kejadian penyakit
(morbiditas), diagnosis dan terapi yang cukup lama
Jika tidak ditangani secara tepat, mortalitas penyakit ini mendekati 100%,
tetapi dengan pengobatan yang dini dan adekuat mortalitas dapat di tekan, Karena itu
penanggulangan TBC tidak hanya terkait dengan masalah kesehatan saja namun juga
mencakup masalah sosial, ekonomi, sikap dan prilaku penderita perlu mendapat
perhatian. Karena itu sangat penting untuk mengenal, mendiagnosa, secara dini dan
melakukan pengobatan yang adekuat terhadap penderita TBC. Dan di harapkan
kepada tenaga medis agar angka-angka tersebut dapat di tekan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1

Definisi dan Klasifikasi


Tuberkulosis Paru adalah penyakit infeksi bakteri menahun yang disebabkan

oleh kuman Mycobacterium tuberculosis. Kuman tersebut biasanya masuk kedalam


tubuh manusia melalui udara pernapasan kedalam paru. Kemudian kuman tersebut
menyebar dari paru kebagian tubuh lainnya, melalui sistem peredaran darah, sistem
saluran limfe, melalui saluran napas (bronchus) atau penyebaran langsung ke bagianbagian tubuh lainnya. TB dapat terjadi pada semua kelompok umur, baik di paru
maupun di luar paru.
Penentuan klasifikasi penyakit dan tipe pasien tuberkulosis memerlukan suatu
definisi kasus yang meliputi empat hal, yaitu :
1) Lokasi atau organ tubuh yang sakit : paru atau ekstra paru
2) Bakteriologi ; hasil pemeriksaan mikroskopis : BTA positif dan BTA negatif
3) Tingkat keparahan penyakit : ringan atau berat
4) Riwayat pengobatan TB sebelumnya : baru atau sudah pernah diobati
Manfaat dan tujuan menentukan klasifikasi dan tipe adalah
1. Menentukan paduan pengobatan yang sesuai
2. Registrasi kasus secara benar
3. Menentukan prioritas pengobatan TB BTA positif
4. Analisis kohort hasil pengobatan
Beberapa istilah dalam definisi kasus:
1. Kasus TB : Pasien TB yang telah dibuktikan secara mikroskopis atau
didiagnosis oleh dokter.
2. Kasus TB pasti (definitif) : pasien dengan biakan positif untuk Mycobacterium
tuberculosis atau tidak ada fasilitas biakan, sekurang kurangnya 2 dari 3
spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif.

Kesesuaian paduan dan dosis pengobatan dengan kategori diagnostik sangat


diperlukan untuk:
1. Menghindari terapi yang tidak adekuat (undertreatment) sehingga
2. Mencegah timbulnya resistensi,
3. Menghindari pengobatan yang tidak perlu (overtreatment) sehingga
4. Meningkatkan pemakaian sumber-daya lebih biaya efektif (costeffective)
5. Mengurangi efek samping.
Klasifikasi berdasarkan organ tubuh yang terkena:
1) Tuberkulosis paru. Tuberkulosis paru adalah tuberkulosis yang menyerang
jaringan (parenkim) paru. Tidak termasuk pleura (selaput paru) dan kelenjar
pada hilus.
2) Tuberkulosis ekstra paru. Tuberkulosis yang menyerang organ tubuh lain
selain paru, misalnya pleura, selaput otak, selaput jantung (pericardium),
kelenjar lymfe, tulang, persendian, kulit, usus, ginjal, saluran kencing, alat
kelamin, dan lain-lain.
Klasifikasi berdasarkan hasil pemeriksaan BTA sputum
a. Tuberkulosis paru BTA ( + ) adalah :
i. Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak menunjukkan hasil BTA
positif.
ii. Hasil pemeriksaan satu specimen dahak menunjukkan hasil BTA positif
dan kelainan radiologi menunjukkan ganbaran tuberculosis aktif.
iii. Hasil pemeriksaan satu specimen dahak menunjukkan BTA positif dan
biakan positif
b. Tuberkulosis paru BTA (-)
i. Hasil pemeriksaan dahak 3 kali menunjukkan BTA negatif, gambaran
klinis dan radiologis menunjukkan tuberkulosis aktif
ii. Hasil pemeriksaan dahak 3 kali menunjukkan BTA negatif dan biakan
Myccobacterium tuberculosis positif

Klasifikasi berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya dibagi menjadi beberapa tipe


pasien, yaitu:
1) Kasus baru
Adalah pasien yang belum pernah diobati dengan OAT atau sudah pernah
menelan OAT kurang dari satu bulan (4 minggu).
2) Kasus kambuh (Relaps)
Adalah pasien tuberkulosis yang sebelumnya pernah mendapat pengobatan
tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh atau pengobatan lengkap
didiagnosis kembali dengan BTA positif (apusan atau kultur).
3) Kasus setelah putus berobat (Default )
Adalah pasien yang telah menjalani pengobatan minimal 1 bulan dan putus
berobat 2 bulan atau lebih dengan BTA positif atau BTA negatif.
4) Kasus setelah gagal (Failure)
Adalah pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif atau kembali
menjadi positif pada bulan kelima atau lebih selama pengobatan.
5) Kasus Pindahan (Transfer In)
Adalah pasien yang dipindahkan dari UPK yang memiliki register TB lain
untuk melanjutkan pengobatannya.
6) Kasus lain:
Adalah semua kasus yang tidak memenuhi ketentuan diatas. Dalam kelompok
ini termasuk Kasus Kronik, yaitu pasien dengan hasil pemeriksaan masih BTA
positif setelah selesai pengobatan ulangan.
Catatan:
TB paru BTA negatif dan TB ekstra paru, dapat juga mengalami kambuh, gagal,
default maupun menjadi kasus kronik. Meskipun sangat jarang, harus dibuktikan
secara patologik, bakteriologik (biakan), radiologik, dan pertimbangan medis
spesialistik.
TB paru juga dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
1) TB Paru BTA (+) yaitu:

Dengan atau tanpa gejala.

Gambaran radiology sesuai dengan TB paru.

2) TB paru BTA (-)

Gejala klinik dan gambaran radiologi sesuai dengan TB paru.

BTA (-).

3) Bekas TB paru

BTA (-).

Gejala klinik tidak ada, ada gejala sisa akibat kelainan paru yang di
tinggalkan.

Radiolgi menunjukkan gambaran lesi TB inaktif, terlebih gambaran


serial menunjukan foto yang sama

Riwayat pengobatan TB (+)

Sedangkan WHO membagi penderita TB atas 4 kategori:


1. Kategori I:

kasus baru dengan dahak (+) dan penderita

dengan keadaan berat seperti meningitis, TB milier, perikarditis,


peritonitis, spondilitis dengan gangguan neurologik dan lainlain.
2. Kategori II:

kasus kambuh atau gagal dengan dahak yang

tetap (+).
3. Kategori III:

kasus dengan dahak (-), tetapi kelainan paru

tidak luas dan kasus TB diluar paru selain kategori I.


4. Kategori IV:
II.2

tuberkulosis kronik.

Etiologi

Penyebab tuberkulosis adalah Mycobacterium tuberculosis. Kuman ini


berbentuk batang, mempunyai sifat khusus yaitu tahan terhadap asam pada pewarnaan
(Basil Tahan Asam). Kuman TB cepat mati dengan sinar matahari langsung tetapi
dapat bertahan hidup beberapa jam di tempat yang gelap dan lembek. Dalam jaringan
tubuh, kuman ini dapat dorman selama beberapa tahun. Kuman dapat disebarkan dari
10

penderita TB BTA positif kepada orang yang berada disekitarnya, terutama yang
kontak erat.
II.3

Patofisiologi
Tempat masuk kuman M. tuberculosis adalah saluran pernapasan, saluran

pencernaan dan luka terbuka pada kulit. Kebanyakan infeksi tuberculosis terjadi
melalui udara (airborne), yaitu melalui inhalasi droplet yang mengandung kumankuman basil tuberkel, kuman ini tidak menghasilkan toksin yang di kenal. Dalam
tetesan droplet yang terhirup dan mencapai alveoli. Penyakit timbul akibat
menetapnya dan berproliferasinya kuman tersebut dan adanya interaksi dari tuan
rumah, misalnya basil tidak virulen yang di suntikan contoh BCG hanya dapat hidup
selama beberapa bulan atau tahun pada tuan rumah normal. Resistensi dan
hipersensitivitas tuan rumah sangat mempengaruhi perkembangan penyakit.
Penyakit ini dikendalikan oleh respon imunitas perantara sel, sel efektornya
adalah makrofag, sedangkan limfosit biasanya sel T adalah sel imunoresponsinya.
Tipe imuniitas seperti ini biasanya lokal, melibatkan makrofag yang di aktifkan
ditempat infeksi oleh limfosit dan limfokinnya.Respon ini disebut sebagai reaksi
hipersensitivitas atau reaksi lambat.
Pembentukan dan perkembangan lesi-lesi dan penyembuhannya atau
progresifnya terutama ditentukan oleh:
1.

Jumlah kuman yang masuk dan perkembangbiakan selanjutnya.

2.

Resistensi dan hipersensivitas dari hospes.


Saat masuk ke tubuh manusia kuman mycobacterium tuberculosis akan

membentuk dua tipe lesi utama:


1.

Tipe eksudatif, ini terdiri dari reaksi peradangan akut, lekosit


polimorfonuklir dan kemudian, monosit sekitar basil tuberkel. Tipe ini terlihat
pada jaringan paru-paru, dimana lesi ini mirip dengan pnemonia bakterie, tipe
ini dapat sembuh dengan resolusi sehingga seluruh eksudat di absorpsi
sehingga mengakibatkan nekrosis massif dari jaringan atau dapat berkembang
menjadi tipe produktif, selama fase ini tes tuberculin positif.

11

2.

Tipe produktif, bila berkembang maksimal lesi ini akan menjadi suatu
granuloma menahun yang terdiri dari 3 daerah:

Daerah sentral yang luas, yang mempunyai sel sel inti banyak yang
mengandung basil tuberkel.

Daerah tengah terdiri dari sel-sel epiteloid pucat.

Derah perifer yang terdiri dari fibroblas, limfosit dan monosit


kemudian terbentuk jaringan fibrosa perifer dan daerah sentral mengalami
nekrosis dan membentuk kaverne, selanjutnya lesi ini sembuh dengan
fibrosis atau kalsifikasi.

Basil juga menyebar melalui getah bening menuju kelenjar getah bening
regional, basil dapat menyebar lebih lanjut dan mencapai aliran darah yang
selanjutnya menyebar ke seluruh organ, tetapi kuman ini mutlak hidup ditempat yang
memiliki kandungan oksigen yang tinggi oleh karena itu lokasi utama penyakit ini
adalah di paru.
Makrofag yang mengadakan infiltrasi menjadi lebih panjang dan bersatu
sehingga membentuk sel tuberkel epiteloid yang di kelilingi oleh limfosit, reaksi ini
membutuhkan waktu 10 sampai 20 hari. Nekrosis bagian sentral lesi memberikan
gambaran yang relatif padat dan seperti keju, lesi seperti ini disebut dengan nekrosis
kaseosa.
Lesi primer paruparu dinamakan fokus Ghon dan gabungan terserangnya
kelenjar getah bening regional dan lesi primer dinamakan kompleks Ghon. Ini dapat
dilihat pada orang sehat yang selalu menjalani pemeriksaan radiologi.
Cara penularan kuman mycobacterium tuberculosis:
1.

Kuman dibatukkan atau dibersinkan oleh penderita TB menjadi droplet


nuclei (partikel kecil yang merupakan gabungan antara sel tubuh dan sel yang
sudah terinfeksi. Setiap kali penderita TB batuk akan dikeluarkan 3000 droplet
yang infektif (memiliki kemampuan menginfeksi), partikel infeksi ini dapat hidup
pada udara bebas selama 1-2 jam, tergantung ada tidaknya sinar ultra violet,

12

ventilasi yang baik dan kelembaban. Dalam suasana lembab kuman dapat hidup
berhari-hari.

2.

Kuman yang terhirup dapat menghindari pertahanan mekanik saluran


napas bagian atas dan akan menuju alveoli dimana infeksi awal terjadi, kuman ini
akan membentuk sarang primer dan di ikuti pembesaran kelenjar getah bening
yang disebut komplek primer.

3.

Komplek primer selanjutnya mengalami perjalanan penyakit tergantung


virulensi, jumlah kuman, dan ketahanan tubuh penderita. Ini dapat sembuh sama
sekali tanpa cacat, sembuh dengan meninggalkan sedikit jaringan paru atau
berkomplikasi dan menyebar baik secara hematogen atau limfatogen.
Tidak semua orang yang menghirup kuman TBC akan tertular penyakit

tersebut. Pada orang yang sehat, biasanya kuman tersebut menjadi tidak aktif dan
orang itu tetap sehat tetapi kuman tersebut akan jadi aktif bila:

Kekurangan gizi

Kondisi fisik yang lemah

Terkena penyakit tertentu sepeti HIVdan Diabetes melitus

Pecandu obat-obat terlarang

Menggunakan hormon steroid

Perokok berat
Kuman-kuman akan mulai berkembang-biak dan menimbulkan penyakit TBC.

Timbulnya penyakit bisa langsung terjadi setelah terinfeksi atau butuh waktu tahunan
untuk berkembang.
II.4

Gejala Klinis
Penderita TB paru akan mengalami berbagai gangguan kesehatan, seperti

batuk berdahak kronis, demam subfebril, berkeringat tanpa sebab di malam hari, sesak

13

napas, nyeri dada, dan penurunan nafsu makan. Semuanya itu dapat menurunkan
produktivitas penderita bahkan kematian.

Gejala klinik TB paru dapat dibagi menjadi 2 golongan:


1.

Gejala Respiratorik
Batuk lebih dari 3 minggu
Dahak (sputum)
Batuk darah
Sesak nafas
Nyeri dada
Wheezing

2.

Gejala Sistemik
Demam dan menggigil
Penurunan berat badan
Rasa lelah dan lemah (Malaise)
Berkeringat banyak terutama di malam hari
Tidak ada nafsu makan (Anoreksia)
Sakit-sakit pada otot (Mialgia)

II.5

Diagnosa

Diagnosis penyakit tuberculosis didasarkan pada:


1. Anamnesis dan pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan tanda-tanda:
a.

Tanda-tanda infiltrat (redup, bronchial, ronkhi basah).

b.

Tanda-tanda penarikan paru, diafragma, dan mediastinum.

c.

Secret di saluran nafas dan ronkhi.

d.

Suara nafas amforik karena adanya kavitas yang berhubungan langsung

dengan bronchus.
2. Laboratorium
a. Kultur sputum.
b. Mantoux Test/Tuberkulin Test.
c. Biopsi jarum pada jaringan paru.
3. Radiologis
Foto Thoraks PA dan lateral. Gambaran foto toraks yang menunjang diagnosis
TB yaitu:
a.

Bayangan lesi terletak dilapangan atas paru atau segmen apical lobus
bawah.

14

b.

Bayangan berawan (patchy) atau berbercak (nodular).

c.

Adanya kavitas, tunggal, atau ganda.

d.

Kelainan bilateral, terutama di lapangan atas paru.

e.

Adanya kalsifikasi.

f.

Bayangan menetap pada foto ulang beberapa minggu kemudian.

g.

Bayangan milier.

Gambar3: Uji Tuberkulin


II.6

Penatalaksanaan

Tujuan Pengobatan
Pengobatan TB bertujuan untuk menyembuhkan pasien, mencegah kematian,
mencegah kekambuhan, memutuskan rantai penularan dan mencegah terjadinya
resistensi kuman terhadap OAT.

Prinsip pengobatan
Pengobatan tuberkulosis dilakukan dengan prinsip - prinsip sebagai berikut:

15

OAT harus diberikan dalam bentuk kombinasi beberapa jenis obat, dalam
jumlah cukup dan dosis tepat sesuai dengan kategori pengobatan. Jangan
gunakan OAT tunggal (monoterapi). Pemakaian OAT-Kombinasi Dosis

Tetap (OAT-KDT) lebih menguntungkan dan sangat dianjurkan.


Untuk menjamin kepatuhan pasien menelan obat, dilakukan pengawasan
langsung (DOT = Directly Observed Treatment) oleh seorang Pengawas

Menelan Obat (PMO).


Pengobatan TB diberikan dalam 2 tahap, yaitu tahap intensif dan lanjutan.

Tahap awal (intensif)

Pada tahap intensif (awal) pasien mendapat obat setiap hari dan perlu diawasi

secara langsung untuk mencegah terjadinya resistensi obat.


Bila pengobatan tahap intensif tersebut diberikan secara tepat, biasanya pasien

menular menjadi tidak menular dalam kurun waktu 2 minggu.


Sebagian besar pasien TB BTA positif menjadi BTA negatif (konversi) dalam
2 bulan.

Tahap Lanjutan

Pada tahap lanjutan pasien mendapat jenis obat lebih sedikit, namun dalam

jangka waktu yang lebih lama.


Tahap lanjutan penting untuk membunuh kuman persister sehingga mencegah
terjadinya kekambuhan

Paduan OAT yang digunakan di Indonesia

Paduan OAT yang digunakan oleh Program Nasional Penanggulangan


Tuberkulosis di Indonesia:
Kategori 1 : 2(HRZE)/4(HR)3.
Kategori 2 : 2(HRZE)S/(HRZE)/5(HR)3E3.
Disamping kedua kategori ini, disediakan paduan obat sisipan (HRZE)

Kategori Anak: 2HRZ/4HR


Paduan OAT kategori-1 dan kategori-2 disediakan dalam bentuk paket berupa
obat kombinasi dosis tetap (OAT-KDT), sedangkan kategori anak sementara
ini disediakan dalam bentuk OAT kombipak.
Tablet OAT KDT ini terdiri dari kombinasi 2 atau 4 jenis obat dalam satu
tablet. Dosisnya disesuaikan dengan berat badan pasien. Paduan ini dikemas
dalam satu paket untuk satu pasien.

Paket Kombipak.
Adalah paket obat lepas yang terdiri dari Isoniasid, Rifampisin, Pirazinamid
dan Etambutol yang dikemas dalam bentuk blister. Paduan OAT ini disediakan
16

program untuk digunakan dalam pengobatan pasien yang mengalami efek


samping OAT KDT.
Paduan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) disediakan dalam bentuk paket, dengan tujuan
untuk memudahkan pemberian obat dan menjamin kelangsungan (kontinuitas)
pengobatan sampai selesai. Satu (1) paket untuk satu (1) pasien dalam satu (1) masa
pengobatan.
KDT mempunyai beberapa keuntungan dalam pengobatan TB:
1) Dosis obat dapat disesuaikan dengan berat badan sehingga menjamin
efektifitas obat dan mengurangi efek samping.
2) Mencegah penggunaan obat tunggal sehinga menurunkan resiko terjadinya
resistensi obat ganda dan mengurangi kesalahan penulisan.
3) Jumlah tablet yang ditelan jauh lebih sedikit sehingga pemberian obat
menjadi sederhana dan meningkatkan kepatuhan pasien
Paduan OAT dan peruntukannya.
a. Kategori-1 (2HRZE/ 4H3R3)
Paduan OAT ini diberikan untuk pasien baru:
Pasien baru TB paru BTA positif.
Pasien TB paru BTA negatif foto toraks positif
Pasien TB ekstra paru

b. Kategori -2 (2HRZES/ HRZE/ 5H3R3E3)


Paduan OAT ini diberikan untuk pasien BTA positif yang telah diobati
sebelumnya:
Pasien kambuh
17

Pasien gagal
Pasien dengan pengobatan setelah putus berobat (default)

c. OAT Sisipan (HRZE)


Paket sisipan KDT adalah sama seperti paduan paket untuk tahap intensif kategori 1
yang diberikan selama sebulan (28 hari).

18

Penggunaan OAT lapis kedua misalnya golongan aminoglikosida (misalnya


kanamisin) dan golongan kuinolon tidak dianjurkan diberikan kepada pasien, baru
tanpa indikasi yang jelas karena potensi obat tersebut jauh lebih rendah daripada OAT
lapis pertama. Disamping itu dapat juga meningkatkan terjadinya risiko resistensi
pada OAT lapis kedua.
Pemantauan Hasil Kemajuan Pengobatan TB
Pemantauan kemajuan hasil pengobatan pada orang dewasa dilaksanakan
dengan pemeriksaan ulang dahak secara mikroskopis. Pemeriksaan dahak secara
mikroskopis lebih baik dibandingkan dengan pemeriksaan radiologis dalam
memantau kemajuan pengobatan. Laju Endap Darah (LED) tidak digunakan untuk
memantau kemajuan pengobatan karena tidak spesifik untuk TB.
Untuk memantau kemajuan pengobatan dilakukan pemeriksaan spesimen
sebanyak dua kali (sewaktu dan pagi). Hasil pemeriksaan dinyatakan negatif bila ke 2
spesimen tersebut negatif. Bila salah satu spesimen positif atau keduanya positif, hasil
pemeriksaan ulang dahak tersebut dinyatakan positif.

19

20

b. Hasil Pengobatan Pasien TB BTA positif


Sembuh
Pasien telah menyelesaikan pengobatannya secara lengkap dan pemeriksaan ulang
dahak (follow-up) hasilnya negatif pada AP dan pada satu pemeriksaan follow-up
sebelumnya
Pengobatan Lengkap
Adalah pasien yang telah menyelesaikan pengobatannya secara lengkap tetapi tidak
memenuhi persyaratan sembuh atau gagal.

21

Meninggal
Adalah pasien yang meninggal dalam masa pengobatan karena sebab apapun.
Pindah
Adalah pasien yang pindah berobat ke unit dengan register TB 03 yang lain dan hasil
pengobatannya tidak diketahui.
Default (Putus berobat)
Adalah pasien yang tidak berobat 2 bulan berturut-turut atau lebih sebelum masa
pengobatannya selesai.
Gagal
Pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif atau kembali menjadi positif
pada bulan kelima atau lebih selama pengobatan.
EFEK SAMPING OAT DAN PENATALAKSANAANNYA
Tabel berikut, menjelaskan efek samping ringan maupun berat dengan pendekatan
gejala.

22

Penatalaksanaan pasien dengan efek samping gatal dan kemerahan kulit:


Jika seorang pasien dalam pengobatan OAT mulai mengeluh gatal-gatal singkirkan
dulu kemungkinan penyebab lain. Berikan dulu anti-histamin, sambil meneruskan
OAT dengan pengawasan ketat. Gatal-gatal tersebut pada sebagian pasien hilang,
namun pada sebagian pasien malahan terjadi suatu kemerahan kulit.
Bila keadaan seperti ini, hentikan semua OAT. Tunggu sampai kemerahan kulit
tersebut hilang. Jika gejala efek samping ini bertambah berat, pasien perlu dirujuk
II.7

Komplikasi

Menurut Depkes RI (2002), merupakan komplikasi yang dapat terjadi pada penderita
tuberculosis paru stadium lanjut yaitu :
1.

Hemoptisis berat (perdarahan dari saluran napas bawah)


yang dapat mengakibatkan kematian karena syok hipovolemik atau karena

tersumbatnya jalan napas.


2.
Atelektasis (paru mengembang kurang sempurna) atau
3.

kolaps dari lobus akibat retraksi bronchial.


Bronkiektasis (pelebaran broncus setempat) dan
fibrosis (pembentukan jaringan ikat pada proses pemulihan atau
reaktif) pada paru

4.

Penyebaran infeksi ke organ lain seperti otak,


tulang, persendian, dan ginjal.

II.8
1.

Prognosis
Jika berobat teratur sembuh total (95%).

2.

Jika dalam 2 tahun penyakit tidak aktif, hanya sekitar 1 % yang mungkin
relaps.

23

BAB III
LAPORAN KASUS

I.

IDENTITAS
Nama

: Tn.T

Jenis kelamin

: Laki laki

Umur

: 35 tahun

Suku/bangsa

: Jawa/Indonesia

Agama

: Islam

Alamat

:-

Status marital

: Menikah

Tgl Pemeriksaan

: 2016

II. KELUHAN UTAMA


Batuk berdarah sejak 2 minggu SMRS.
III. ANAMNESIS
III.1. Riwayat Penyakit Sekarang
Tn.T 35 tahun datang ke IGD dengan keluhan batuk berdarah sejak 2 minggu
yang lalu. 2 bulan SMRS pasien mengeluh batuk berdahak dengan dahak berwarna
kemerahan. Pasien juga merasa sering merasa lelah, keringat malam, demam yang
naik turun sehingga pasien merasakan seperti meriang, nafsu makan menurun, dan
berat badan menurun. 2 minggu SMRS pasien mengeluh batuk berdarah. Darah
berwarna merah segar, sebanyak sekitar setengah gelas. Darah tidak bercampur
dengan makanan. Batuk berdarah didahului dengan batuk dan tidak diikuti dengan
perasaan mual. Apabila pasien batuk berdarah, maka pasien akan merasakan sesak
napas. Pasien merasakn mual tetapi tidak muntah. Pasien juga merakan mudah merasa
lelah. BAK pasien normal tetapi BAB pasien normal.
III.2. Riwayat Penyakit Dahulu

Pasien belum pernah mengalamai gejala seperti yang dikeluhkan sekarang.

24

Pasien ada riwayat hipertensi.

Ada riwayat Diabetes Mellitus

Tidak ada riwayat penyakit jantung.


III.3. Riwayat Penyakit Keluarga
Penyakit keturunan

: Ada riwayat hipertensi didalam keluarga..

Penyakit menular- tropik

: Tidak ada

Penyakit kongenital

: Tidak ada

Penyakit tumor

: Tidak ada

Penyakit lain

: Tidak ada

III.4. Riwayat Pengobatan


Pasien belum pernah berobat
III.5. Riwayat Alergi

Tidak ada riwayat alergi obat-obatan.


Tidak ada riwayat alergi makanan , dll

III.4. Riwayat Psikososial (Pendidikan dan Sosial Ekonomi)


Pasien merokok sekitar 10 batang setiap hari selama 10 tahun. Tidak minum-minuman
beralkohol, jarang berolahraga, makan teratur, pasien bekerja sebagai ekspedisi.
III.5. Anamnesis Keadaan Gizi
Makan

: teratur

Jumlah

: sedikit-sedikit

Jadwal

: 3 kali sehari

Berat badan

: Turun 3 kg

III.6. Anamnesis Umum (Review of Systems)


Kulit

: tidak ada keluhan

Paru

: sesak napas

Kepala

: pusing

Jantung

: tidak ada keluhan

Mata

: tidak ada keluhan

Alat pencernaan: tidak ada keluhan

25

Telinga: tidak ada keluhan

Saluran kencing: tidak ada keluhan

Mulut

: tidak ada keluhan

Alat kelamin

: tidak ada keluhan

Hidung

: tidak ada keluhan

Alat gerak

: terasa lemas

Leher

: tidak ada keluhan

Sistim urat saraf: tidak ada keluhan


Endokrin

: tidak ada keluhan

IV. PEMERIKSAAN FISIK


IV.1 Keadaan Umum
Kesadaran

: kompos mentis, GCS: 456

Berat badan sebelum sakit

: 45 kg

Berat badan sesudah sakit

: 42 kg

Suhu badan (aksiler) : 36,2 C


Nadi

: 80 kali /menit,teratur

Tekanan darah

: 150/100

Pernapasan

: 20 kali /menit, teratur

Suara bicara

: normal

IV.2 Kepala dan Leher


Mata

: Dalam batas normal


- konjungtiva : anemis (+/+)
- sklera

: ikterus (-),

- pupil

: bulat, isokor, diameter 3 mm / 3 mm

Telinga

: Dalam batas normal

Hidung

: Dalam batas normal, tidak ada tanda-tanda perdarahan mukosa.


Pernapasan cuping hidung -/-

Mulut

: Tampak kering, tidak ada tanda-tanda perdarahan mukosa, gusi,


maupun lokasi lain

Leher
- Umum

: simetris

- Kelenjar limfe

: tidak ada pembesaran

- Trakea

: di tengah (tidak ada deviasi)

- Tiroid

: tidak ada pembesaran

- Vena jugularis

: tidak ada peningkatan Jugular Venous Pressure

- Arteri carotis

: dalam batas normal

26

IV.3. Thorax
IV.3.a. Umum
Bentuk : normal
ICS

: kanan kiri simetris

Retraksi

: (-)

Kulit

: dalam batas normal

Axilla

: dalam batas normal

IV.3.b. Paru
Depan
Kanan
Kiri

Pemeriksaan
Inspeksi
Bentuk
Pergerakan
Palpasi
Pergerakan
ICS
Perkusi

Belakang
Kanan
Kiri

Simetris
Simetris

+
+

+
+

+
+

+
+

Simetris
Simetris

+
+

+
+

+
+

+
+

Sonor

Sonor

Sonor

Sonor

Sonor

Sonor

Sonor

Sonor

Sonor

Sonor

Sonor

Sonor

Suara ketok
Auskultasi

Vesikuler Vesikuler Vesikuler Vesikuler


Suara nafas

Vesikuler Vesikuler Vesikuler Vesikuler


Vesikuler Vesikuler Vesikuler Vesikuler
-

Ronkhi

Wheezing

IV.3.c. Jantung dan Sistem Kardiovaskuler


A.

Tekanan Vena Sentral

27

Tidak terdapat peningkatan


B.

Jantung
Inspeksi
Iktus

: tidak tampak

Pulsasi jantung

: tidak tampak

Palpasi
Iktus

: teraba, pada ICS V midclavicular line sinistra

Pulsasi jantung

: teraba, pada apeks

Suara yang teraba

: tidak ada

Getaran (thrill)

: tidak ada

Perkusi
Batas kanan

: ICS IV parasternal line dextra

Batas kiri

: ICS V midclavicular line sinistra

Auskultasi

IV.4.

Suara 1, suara 2

: tunggal

Suara 3, suara 4

: tidak ditemukan

Bising jantung

: tidak ditemukan

Abdomen

Inspeksi:
Flat, Umbilicus masuk merata, Kulit dalam batas normal
Auskultasi

Bising usus (+) normal


Palpasi
Tonus normal
Turgor normal
Blast Penuh
Nyeri tekan epidastrium (+)
Massa Hepar lien tidak teraba
Perkusi
Ascites (-)
Timpani (+)
IV.5. Ekstremitas
Ekstremitas Atas
Akral

: hangat
28

Capillary Refill Time

: < 2 detik

Deformitas

: (-) / (-)

Edema

: (-) / (-)

Ptechiae

: (-) / (-)

Ekstremitas Bawah
Akral

: hangat

Capillary Refill Time

: < 2 detik

Deformitas

: (-) / (-) selulitis (-), gangren (-)

Edema

Petechiae

: (-)

V. Pemeriksaan Penunjang
Darah Lengkap :
Hb
Eritrosit
Leukosit
Trombosit
Hct
Kimia Darah:
GDA

:
:
:
:
:

8 g/dl
2,52 x106 /L
9,5 x 103 /L
304.000
24,5 %

: 304 mg/dl

DIAGNOSIS
Haemoptoe e.c Susp. TB Paru + Diabetes Melitus + Sindroma
Dispepsia
PLANNING
Terapi
O2 3 lpm
IVFD NS 8 tpm
Inj. Ranitidin 2x1
Inj. Asam tranexamat 3 x 1
Inj. Cefotaxim 1 gr
p.o: Codein 2 x 1
Amlodipin 1 x 10 mg
29

Monitoring
Vital sign, klinis.
Edukasi
Memberikan informasi kepada pasien dan keluarga tentang penyakit
pasien dan terapi yang diberikan.

DAFTAR PUSTAKA

30

American Thoracic Society. Diagnostic Standard and Classification of Tuberculosis


in Adults and Children. 2000. USA.
Bahar, A. Tuberkulosis Paru dalam Soeparman, WS. Ilmu Penyakit Dalam, jilid II,
Balai Penerbit FKUI, 2003: Jakarta.
Departeman Kesehatan. Republik Indonesia. Pedoman Nasional Penanggulangan
Tuberkulosis, 2007: Jakarta.
E, Jewetz, Mikrobiology Untuk Profesi Kesehatan edisi 16, Fransisico (terjemahan),
EGC, 2004: Jakarta.
Wilson, Price, Patofisiologi,Konsep-konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, ed,4.
EGC, 2004: Jakarta.
World Health Organization. Treatment of Tuberculosis Guideline. 2010 : Geneva,
Switzerland
World Health Organization. Global Tuberculosis Control. 2011 : Geneva, Switzerland

31