Anda di halaman 1dari 16

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Gastritis merupakan suatu keadaan peradangan atau perdarahan mukosa lambung yang
dapat bersifatakut dan kronik (Price dan Wilson,2012) Faktor yang dapat menyebabkan
kerusakan mukosa lambung yaitu produksi mukus yang terlalu sedikit dan terlalu banyak
asam yang diproduksi atau dikirimkan ke saluran cerna. Zat kimia maupun makanan
yang merangsang akan menyebabkan sel epitel kolumner yang berfungsi untuk
menghasilkan mukus mengurangi produksinya, sehingga kadar mukus akan menurun dan
kadar HCl yang dihasilkan oleh sel parietal akan meningkat yang menyebabkan
terjadinya gastritis .Gejala yang umum terjadi pada penderita gastritis adalah rasa tidak
nyaman pada perut, perut kembung, sakit kepala, mual, muntah, hilang selera makan,
bersendawa, rasa tak nyaman di epigastrium. Gastritis juga menyebabkan perih atau sakit
seperti terbakar pada perut bagian atas yang dapat menjadi lebih baik atau lebih buruk
ketika makan. Selain itu dapat pula disertai demam, menggigil (kedinginan), dan
cegukan (hiccups) (Mansjoer, Arif, 2011).
Gastritis merupakan radang pada jaringan dinding lambung paling sering diakibatkan
oleh ketidakteraturan diet. Misalnya makan terlalu banyak, terlalu cepat, makan-makanan
terlalu banyak bumbu atau makanan yang terinfeksi penyebab yang lain termasuk
alcohol, aspirin, refluk empedu atau therapy radiasi. (Brunner & Suddarth, 2012)
Banyaknya faktor yang dapat menyebabkan gastritis yang membuat angka kejadian
gastritis juga meningkat Budiana (2012), mengatakan bahwa gastritis ini tersebar di
seluruh dunia dan bahkan diperkirakan diderita lebih dari 1,7 milyar. Pada negara yang
sedang berkembang infeksi diperoleh pada usia dini dan pada negara maju sebagian
besar dijumpai pada usia tua.
Menurut World Health Organization (WHO) angka kematian di dunia akibat kejadian
gastritis di rawat inap yaitu 17-21% dari kasus yang ada pada tahun 2012. Di Amerika,
kejadian gastritis dikatakan sekitar 22 % dari seluruh populasi dengan insiden 1,1 kasus
per 1000 penduduk per tahun. Dari segi usia, usia 20-30 tahun adalah usia yang paling
sering mengalami gastritis dan menyerang lebih banyak pada perempuan dibandingkan
pada laki-laki. Hal ini disebabkan karena kebiasaan pola makan yang kurang baik dan
mengkonsumsi makanan yang justru dapat menyebabkan iritasi pada lambung.
Di Indonesia menurut WHO (2012) adalah 40,8%. Angka kejadian gastritis pada
beberapa daerah di Indonesia cukup tinggi dengan prevalensi 274.396 kasus dari
238.452.952 jiwa penduduk. Berdasarkan profil kesehatan di Indonesia tahun 2012,
merupakan salah satu penyakit dalam 10 penyakit terbanyak pada pasien rawat inap di
rumah sakit di Indonesia dengan jumlah 30.154 kasus (4,9%).

B. Tujuan
1.
Untuk mengetahui definisi dan klasifikasi dari penyakit gastritis
2.
Untuk mengetahui etiologi penyakit gastritis
3.
Untuk mengetahui manifestasi klinis penyakit gastritis
4.
Untuk mengetahui dan memahami patofisiologi penyakit gastritis
5.
Untuk mengetahui komplikasi dari penyakit gastritis
6.
Untuk mengetahui penatalaksanaan penyakit gastritis

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Gastritis
Gastritis atau yang lebih dikenal dengan magh berasal dari bahasa Yunani
yaitu gastro yang berarti perut/lambung dan itis yang berarti inflamasi atau peradangan.
Gastritis bukan merupakan penyakit tunggal tetapi terbentuk dari beberapa kondisi yang
semuanya menyebabkan peradangan pada lambung. Gastritis mempunyai beberapa
pengertian antara lain:
1. Gastritis adalah inflamasi dari mukosa lambung
2. Gastritis adalah inflamasi pada dinding gaster terutama pada lapisan mukosa gaster
3. Gastritis adalah peradangan lokal atau penyebaran pada mukosa lambung dan
berkembang dipenuhi bakteri (Mansjoer Arif, 2011)
Jenis-jenis Gastritis
Gastritis dibagi menjadi 2 yaitu:
a. Gastritis akut
Gastritis akut adalah suatu peradangan permukaan mukosa lambung yang akut dengan
kerusakan-kerusakan erosi. Gastritis akut yang sering dijumpai di klinik adalah
gastritis akut erosif. Disebut erosif apabila kerusakan yang terjadi tidak lebuh dalam
dari pada mukosa muskularis.
b. Gastritis kronik
Gastritis kronis adalah suatu peradangan bagian permukaan mukosa lambung yang
menahun. Gastritis kronik adalah inflamasi lambung yang lama yang disebabkan oleh
ulkus benigna atau maligna dari lambung atau oleh bakteri Helicobacter Pylori.
Dari pengertian-pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa gastritis adalah inflamasi
atau peradangan pada dinding lambung terutama pada mukosa lambung dapat bersifat
akut dan kronik.
B.

Etiologi
1. Stress fisis yang disebabkan oleh luka bakar, sepsis, trauma, pembedahan, gagal
2.
3.
4.
5.

pernafasan, gagal ginjal, kerusakan SSP, dan refluks usus lambung


Bahan kimia seperti lisol, alkohol dan merokok
Terapi radiasi
Makanan perangsang seperti makanan panas, pedas, asam/alkali kuat
Bakteri H. Pylory, Endotoxin bakteri dari stapilokokus, escherichia coli atau
salmonella.

C.

Manifestasi Klinis

1. Nyeri seperti terbakar


2. Nyeri ulu hati setelah makan
3. Anoreksia
4. Mual, muntah dan cegukan
5. Sakit kepala
6. Malaise
7. Perut kembung
8. Rasa asam dimulut
9. Hemoraghi
10. Kolik usus dan diare

D.

Patofisiologi
1. Gastritis akut
Gastritis akut dapat disebabkan oleh karena stress, zat kimia, misalnya obat-obatan
dan alkohol, makanan yang pedas, panas, maupun asam. Pada para penderita yang
mengalami stress akan terjadi perangsangan saraf simpatis nervus vagus yang akan
meningkatkan produksi asam klorida (HCL) didalam lambung. Adanya HCL yang
berada didalam lambung akan menimbulkan rasa mual, muntah dan anoreksia.
Zat kimia maupun makanan yang merangsang akan menyebabkan sel epitel
kolumner yang berfungsi untuk menghasilkan mukus, mengurangi produksinya.
Sedangkan mukus itu fungsinya untuk memproteksi mukosa lambung agar tidak ikut
tercerna. Respon mukosa lambung karena penurunan sekresi mukus bervariasi
diantaranya vasodilatasi sel mukosa gaster. Lapisan mukosa gaster terdapat sel yang
memproduksi HCL (terutama daerah fundus) dan pembuluh darah. Vasodilatasi
mukosa gaster akan menyebabkan produksi HCL meningkat.
Anoreksia juga dapat menyebabkan rasa nyeri. Rasa nyeri ini ditimbulkan oleh
karena kontak HCL dengan mukosa gaster. Respon mukosa lambung akibat
penurunan sekresi mukus dapat berupa eksfeliasi (pengelupasan). Eksfeliasi sel
mukosa gaster akan mengakibatkan erosi pada sel mukosa. Hilangnya sel mukosa
akibat erosi memicu timbulnya perdarahan. Perdarahan yang terjadi dapat
mengancam hidup penderita, namun dapat juga berhenti sendiri karena proses
regenerasi, sehingga erosi menghilang dalam waktu 24-48 jam setelah pendarahan.
2.

Gastritis Kronik
Helicobacter Pylory merupakan bakteri gram negatif. Organisme ini menyerang sel
permukaan gaster, memperberat timbulnya desquamasi sel dan muncullah respoin
radang kronis pada gaster yaitu: destruksi kelenjar dan metaplasia. Metaplasia
adalah salah satu mekanisme pertahanan tubuh terhadap iritasi, yaitu dengan
mengganti sel mukosa gaster dengan sel desquamosa yang lebih kuat. Karena sel
desquamosa lebih kuat maka elastisitasnya juga berkurang.
Pada sat mencerna makanan, lambung melakukan gerakan peristaltik tetapi karena
sel penggantinya tidak elastik maka akan timbul kekakuan yang pada akhirnya
menimbulkan rasa nyeri. Metaplasia ini juga menyebabkan kerusakan pembuluh

darah lapisan mukosa. Kerusakan pembuluh darah ini akan menimbulkan


perdarahan.
E. Pathway

F. Komplikasi
a. Ulkus peptikum
b. Perdarahan saluran cerna bagian atas

G.

Pemeriksaan Penunjang
1. EGD (Esofagogastriduodenoskopi): tes diagnostik kunci untuk perdarahan GI atas,
dilakukan untuk melihat sisi perdarahan/derajat ulkus jaringan/cidera.

2. Minum barium dengan foto rontgen: dilakukan untk membedakan diagnosa


penyebab/sisi lesi.
3. Analisa gaster: dilakukan untuk menentukan adanya darah, mengkaji aktifitas
sekretori mukosa gaster, contoh peningkatan asam hidroklorik dan pembentukan asam
nokturnal penyebab ulkus.
4. Angiografi: vaskularisasi GI dapat dilihat bila endoskopi tidak dapat disimpulkan atau
tidak dapat dilakukan. Menunjukkan sirkulasi kolatera dan kemungkinan isi
perdarahan.
5. Amilase serum: meningkat dengan ulkus duodenal, kadar rendah diduga gastritis

H.

Penatalaksanaan
Pengobatan gastritis meliputi:
1. Mengatasi kedaruratan medis yang terjadi
2. Mengatasi atau menghindari penyebab apabila dapat dijumpai
3. Pemberian obat-obat antasid atau obat-obat ulkus lambung yang lain
a. Gastritis Akut
1) Instruksikan pasien untuk menghindari alkohol
2) Bila pasien mampu makan melalui mulut, diet mengandung gizi dianjurkan
3) Bila gejala menetap, cairan perlu diberikan secara parenteral
4) Bila perdarahan terjadi, lakukan penatalaksanaan untuk hemoraghi saluran
gastromfestinal
5) Untuk menetralisir asam gunakan antasida umum
6) Untuk menetralisir alkali gunakan jus lemon encer atau cuka encer
7) Pembedahan darurat mungkin diperlukan untuk mengagkat gangren atau
perforasi.
8) Reaksi lambung diperlukan untuk mengatasi obstruksi pilorus
b. Gastritis Kronis
1) Memodifikasi diet pasien, diet makan lunak diberikan sedikit tapi sering
2) Mengurangi stress
3) H. Pylori diatasi dengan antibiotik seperti tetraciklin , amoxillin) dan gram
bismuth (pepto-bismol)

I.

Pencegahan
Sangat mudah menghindari penyakit maag. Yaitu tidak makan dan minum yang pedas
maupun asam secara berlebihan, pola makan seimbang (tidak berlebihan lemaknya), dan
teratur. Hindari berlebihan minum kopi, teh, soft drink. Lebih aman dengan sering
minum air putih.

Namun demikian, seorang bisa terserang penyakit maag karena pengaruh ras, keturunan
dan kebiasaan makannya. Mungkin saja orang dengan ras tertentu sudah terbiasa dengan
makanan yang merangsang, tetapi tidak ada keluhan lambung, misalnya suku Minang.
Bagi yang sudah menderita penyakit maag berat, jika harus memakan makanan yang
dikelola secara massal (bersama) -misalnya dalam asrama, instansi hendaklah
memperhatikan syarat makanan, seperti harus mudah dicerna, porsi makanan sedikitsedikit tetapi sering, tidak merangsang lambung (pedas, asam, tektur keras), dapat
mengeluarkan cairan lambung dan dapat menetralkan kelebihan asam lambung. Satu hal
yang juga perlu diperhatikan, bahwa ketenangan jiwa seseorang bisa mengurangi resiko
sakit maag.

Asuhan Keperawatan Dengan Gastritis


1.

Pengkajian

A. Anamnesa meliputi:
a. Identitas Pasien
- Nama
- Usia
- Jenis kelamin
- Jenis pekerjaan
- Alamat
- Suku/bangsa
- Agama
- Tingkat pendidikan
b. Riwayat sakit dan kesehatan
c. Keluhan utama
d. Riwayat penyakit saat ini
e. Riwayat penyakit dahulu
B. Pemeriksaan fisik : Review of System
- B 1 (breath)
: takhipnea
- B 2 (blood)
: takikardi, hipotensi, disritmia, nadi perifer lemah,
pengisian perifer lambat, warna kulit pucat.
- B 3 (brain)
: sakit kepala, kelemahan, tingkat kesadaran dapat
-

B 4 (bladder)
B 5 (bowel)

terganggu, disorientasi, nyeri epigastrum.


: oliguri, gangguan keseimbangan cairan.
: anemia, anorexia,mual, muntah, nyeri ulu hati, tidak

B 6 (bone)

toleran terhadap makanan pedas.


: kelelahan, kelemahan

C. Pemeriksaan Diagnostik
1) Pemeriksaan Darah
Tes ini digunakan untuk memeriksa apakah terdapat H. Pylori dalam darah.Hasil tes
yang positif menunujukkan bahwa pasien pernah kontak dengan bakteri pada suatu
waktu dalam hidupnya tapi itu tidak menunjukkan bahwa pasien tersebut terkena
infeksi.Tes darah dapat juga dilakukan untuk memeriksa anemia yang terjadi akibat
perdarahan lambung karena gastritis.
2) Uji Napas Urea
Suatu metode diagnostik berdasarkan
ureaseH.Pylori dalam

lambung

prinsip

menjadi

bahwa

amoniak

urea
dan

diubah

oleh

karbondioksida

(CO2).CO2 cepat diabsorbsi melalui dinding lambung dan dapat terdeteksi dalam
udara ekspirasi.
3) Pemeriksaan Feces
Tes ini memeriksa apakah terdapat bakteri H. Pylori dalam feses atau tidak.Hasil yang
positif dapat mengindikasikan terjadinya infeksi.Pemeriksaan juga dilakukan terhadap
adanya darah dalam feses.Hal ini menunjukkan adanya pendarahan dalam lambung.
4) Endoskopi Saluran Cerna Bagian Atas

Dengan tes ini dapat terlihat adanya ketidaknormalan pada saluran cerna bagian atas
yang mungkin tidak terlihat dari sinar-x. Tes ini dilakukan dengan cara memasukkan
sebuah selang kecil yang fleksibel (endoskop) melalui mulut dan masuk ke dalam
esofagus, lambung dan bagian atas usus kecil. Tenggorokan akan terlebih dahulu
dianestesi sebelum endoskop dimasukkan untuk memastikan pasien merasa nyaman
menjalani tes ini. Jika ada jaringan dalam saluran cerna yang terlihat mencurigakan,
dokter akan mengambil sedikit sampel (biopsy) dari jaringan tersebut. Sampel itu
kemudian akan dibawa ke laboratorium untuk diperiksa. Tes ini memakan waktu
kurang lebih 20 sampai 30 menit.Pasien biasanya tidak langsung disuruh pulang
ketika tes ini selesai, tetapi harus menunggu sampai efek dari anestesi menghilang
kurang lebih satu atau dua jam. Hampir tidak ada resioko akibat tes ini.Komplikasi
yang sering terjadi adalah rasa tidak nyaman pada tenggorokan akibat menelan
endoskop.
5) Rontgen Saluran Cerna Bagian Atas
Tes ini akan melihat adanya tanda-tanda gastritis atau penyakit pencernaan lainnya.
Biasanya akan diminta menelan cairan barium terlebih dahulu sebelum dirontgen.
Cairan ini akan melapisi saluran cerna dan akan terlihat lebih jelas ketika di rontgen.
6) Analisis Lambung
Tes ini untuk mengetahui sekresi asam dan merupakan tekhnik penting untuk
menegakkan diagnosis penyakit lambung.Suatu tabung nasogastrik dimasukkan ke
dalam lambung dan dilakukan aspirasi isi lambung puasa untuk dianalisis. Analisis
basal mengukur BAO (basal acid output) tanpa perangsangan. Uji ini bermanfaat
untuk menegakkan diagnosis sindrom Zolinger- Elison(suatu tumor pankreas yang
menyekresi gastrin dalam jumlah besar yang selanjutnya akan menyebabkan asiditas
nyata).
7) Analisis Stimulasi
Dapat dilakukan dengan mengukur pengeluaran asam maksimal MAO (maximum
acid output) setelah pemberian obat yang merangsang sekresi asam seperti histamin
atau pentagastrin.Tes ini untuk mengetahui teradinya aklorhidria atau tidak.
D. Psikososial
Meliputi perasaan pasien terhadap penyakitnya, bagaimana cara mengatasinya serta
bagaimana perilaku pasien terhadap tindakan yang dilakukan terhadap dirinya, kecemasan
terhadap penyakit.
2. Diagnosa Keperawatan

10

a. Nyeri berhubungan dengan mukosa lambung teriritasi


b. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan masukan
nutrisi yang tidak adekuat.
c. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan masukan cairan tidak cukup dan
kehilangan cairan berlebih.

3. Rencana Keperawatan
NO Diagnosa Keperawatan
NOC
Nyeri
berhubungan Pain level
dengan mukosa lambung Pain control
teriritasi
Comfort level

NIC
Pain management
1. Lakukan
pengkajian nyeri
secara
Definisi: pengalaman
Kriteria hasil:
komperehensif
sensori dan emosional yang a. Mampu mengontrol nyeri
termasuk lokasi,
tidak menyenangkan yang
(tahu penyebab nyeri, mampu
karakteristik,
muncul akibat kerusakan
menggunakan teknik
durasi, frekuensi,
jaringan yang actual atau
nonfarmakologi untuk
kualitas, dan faktor
potensial atau digambarkan
mengurangi nyeri, mencari
presipitasi.
dalam hal kerusakan
bantuan)
2. Observasi reaksi
sedemikian rupa
b. Melaporkan bahwa nyeri
nonverbal dari
(International Association
berkurang dengan
ketidaknyamanan.
for the study of Pain):
menggunakan manajemen
3. Gunakan teknik
awitan yang tiba-tiba atau
nyeri
komunikasi
lambat dari intensitas ringan c. Mampu mengurangi nyeri
terapiutik untuk
hingga berat dengan akhir
(skala intensitas, frekuensi
mengetahui
yang dapat diantisipasi atau
dan tanda nyeri)
pengalaman nyeri
diprediksi dan berlangsung d. Menyatakan rasa nyaman
pasien.
<6 bulan.
setelah nyeri berkurang
4. Kaji kultur yang
mempengaruhi
Batasan karakteristik:
respon nyeri.
a. Perubahan selera makan
5. Evaluasi
b. Perubahan tekanan darah
pengalaman nyeri
c. Perubahan frekuensi
masa lampau.
jantung
6. Evaluasi bersama
d. Perubahan frekuensi
pasien dan tim
pernafasan
kesehatan lain
e. Diaphoresis
tentang
f. Perilaku distraksi (mis;
ketidakefektifan
berjalan mondar-mandir
control nyeri masa
mencari orang lain dan
lampau.
aktivitas yang berulang)
7. Bantu pasien dan
g. Mengekspresikan
keluarga untuk
perilaku, mis; gelisah,
mencari dan
merengek, dan
menemukan

11

h.

i.
j.
k.
l.
m.
n.
o.

menangis.
Masker wajah, mis; mata
kurang bercahaya,
tampak kacau, dan
gerakan mata berpencar.
Sikap melindungi area
nyeri
Fokus menyempit
Indikasi nyeri yang dapat
diamati
Perubahan posisi untuk
menghindari nyeri
Dilatasi pupil
Melaporkan nyeri secara
verbal
Gangguan tidur

Faktor yang berhubungan


a. Agen cedera (mis;
biologis, zat kimia, fisik,
psikologis)

dukungan.
8. Kontrol lingkungan
yang dapat
mempengaruhi
nyeri seperti suhu
ruangan,
pencahayaan, dan
kebisingan.
9. Kurangi faktor
presipitasi nyeri
10. Pilih dan lakukan
penanganan nyeri
(farmakologi,
nonfarmakologi,
dan interpersonal)
11. Kaji tipe dan
sumber nyeri untuk
menentukan
intervensi
12. Ajarkan tentang
teknik
nonfarmakologi
13. Berikan anlgetik
untuk mengurangi
nyeri
14. Evaluasi
keefektifan kontrol
nyeri
15. Tingkatkan
istirahat
kolaborasikan
dengan dokter jika
ada keluhan dan
tindakan nyeri
tidak berhasil
16. Monitor
penerimaan pasien
tentang manajemen
nyeri
Analgetic administration
17. Tentukan lokasi
karakteristik,
kualitas, dan
derajat nyeri
sebelum pemberian
obat

12

Ketidakseimbangan
nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh
berhubungan dengan
masukan nutrisi yang
tidak adekuat
Definisi : Asuhan nutrisi
tidak cukup untuk
memenuhi kebutuhan

18. Cek intruksi dokter


tentang jenis obat,
dosis, dan
frekuensi
19. Cek riwayat alergi
20. Pilih analgesic
yang diperlukan
atau kombinasi dari
analgesic ketika
pemberian lebih
dari satu
21. Tentukan pilihan
analgesic
tergantung tipe dan
beratnya nyeri
22. Tentukan analgesic
pilihan, rute,
pemberian, dan
dosis optimal
23. Pilih rute
pemberian secara
IV, IM untuk
pengobatan nyeri
secara teratur
24. Monitor vital sign
sebelum dan
sesudah pemberian
analgesic pertama
kali
25. Berikan anlgesik
tepat waktu,
terutama saat nyeri
hebat
26. Evaluasi efektivitas
analgesic tanda dan
gejala
Nutritional status :
Nutrition Management
Nutritional status : food and 1. Kaji adanya alergi
fluid intake
makanan
Nutritional status : nutrient 2. Kolaborasi dengan ahli
intake
gizi untuk menentukan
Weight control
jumlah kalori dan
nutrisi yang
Kriteria Hasil
dibutuhkan pasien.
a. Adanya peningkatan berat 3. Anjurkan pasien untuk
badan sesuai dengan tujuan
meningkatkan intake

13

metabolic

b. Berat badan ideal sesuai


Fe.
dengan tinggi badan
4. Anjurkan pasien untuk
Batasan karakteristik :
c. Mampu mengidentifikasi
meningkatkan protein
a. Kram abdomen
kebutuhan nutrisi
dan vitamin C
b. Nyeri abdomen
d. Tidak ada tanda-tanda
5. Berikan substansi gula
c. Menghindari
malnutrisi
6. Yakinkan diet yang
makanan
e. Menunjukan peningkatan
dimakan mengandung
d. Berat badan 20%
fungsi pengecapan dari
tinggi serat untuk
atau lebih dibawah
menelan
mencegah konstipasi
berat badan ideal
f. Tidak terjadi penurunan berat 7. Berikan makanan yang
e. Kerapuahan kapiler
badan yang berarti
erpilih (sudah
f. Diare
dkonsltasikan dengan
g. Kehilangan rambut
ahli gizi
berlebihan
8. Ajarkan pasien
h. Bising usus
bagaimana membuat
hiperaktif
catatan makanan
i. Kurang makanan
harian.
j. Kurang informasi
9. Monitor jumlah nutrisi
k. Membrane mukosa
dan kandungan kalori
pucat
10. Berikan informasi
l. Ketidakmampuan
tentang kebutuhan
memakan makanan
nutrisi
m. Tonus otot menurun
11. Kaji kemampan pasien
n. Mengeluh gangguan
untuk mendapatkan
sensasi rasa
nutrisi yang
o. Mengeluh asupan
dibutuhkan.
makanan kurang
Nutrision monitoring
p. RDA (recormmended
12. BB pasien dalam batas
daily allowance)
normal
q. Cepat kenyang
Monitor adanya berat
setelah makan
badan
r. Sariawan rongga
13. Monitor tipe dan
mlut
jumlah aktivitas yang
s. Steatorea
biasa dilakukan
t. Kelemahan otot
14. Monitor interaksi anak
pengunyah
atau orang tua selama
u. Kelemahan otot
makan.
untuk menelan
15. Monitor lingkungan
selama makan
Faktor-faktor yang
16. Jadwalkan pengobatan
berhubungan
tidak selama jam
a. Faktor biologis
makan
b. Faktor ekonomi
17. Monitor kulit kering
c. Ketidak mampuan untuk
dan perubahan monitor
mengabsorbsi nutrient
turgor kulit
d. Ketidakmampuan untuk
18. Monitor kekeringan

14

mencerna makanan
e. Ketidakmampuan
menelan makanan
f. Faktor psikologis

Kekurangan volume
cairan berhubungan
dengan masukan cairan
tidak cukup dan
kehilangan cairan
berlebih.

rambut kusam dan


mudah patah
19. Monitor mual dan
muntah
20. Monitor total protein
Hb dan kadar Ht
21. Monitor pertumbuhan
dan perkembangan
22. Monitor pucat,
kemerahan, jaringan
konjungtiva
23. Monitor kalori dan
intake nutrisi
24. Catat adanya edema,
hiperemi,hipertonik,
papilla lidah,cavitas
oral.
25. Catat jika lidah
berwarna magenta
scarlet.

Fluid balance
Fluid management
Hydration
1. Timbang popok atau
Nutritional status : food and
pembalut jika
fluid intake
diperlukan
2. Pertahankan catatan
Kriteria hasil
intake dan output yang
a. Mempertahankan urine
akurat
Definisi: penurunan cairan
output sesuai dengan usia,
3. Monitor status hidrasi
intravaskuler, intertistisal
BB, Bj urine normal, Ht
jika diperlukan
dan atau intraseluler ini
normal
4. Monitor vital sign
mengacu pada dehidrasi
b. Tekanan darah, nadi, suhu
5. Monitor masukan
kehilangan cairan tanpa
tubuh dalam batas normal.
makanan atau cairan
perubahan pada natrium
c. Tidak ada tanda-tanda
dan hitung intake
dehidrasi, elastisitas turgor
kalori harian
Batasan karakteristik:
kulit baik, membram mukosa 6. Kolaborasikan
a. Perubahan status mental
lembab, tidak ada rasa haus
pemberian cairan IV
b. Penurunan tekanan darah
yang belebihan.
7. Monitor status nutrisi
c. Penurunan tekanan nadi
8. Berikan cairan IV pada
d. Penurunan volume nadi
suhu ruangan
e. Penurunan turgor kulit
9. Dorong masukan oral
f. Penurunan turgor lidah
10. Berikan penggantian
g. Penurunan pengeluaran
nesogratik sesuai
urine
output
h. Penurunan pengisian
11. Dorong keluarga untuk

15

i.
j.
k.
l.
m.
n.
o.
p.
q.

vena
Membran mukosa kering
Kulit kering
Peningkatan hematokrit
Peningkatan suhu tubuh
Peningkatan frekuensi
nadi
Peningkatan konsentrasi
urine
Penurunan berat badan
Haus
Kelemahan

Faktor yang berhubungan:


a. Kehilangan cairan aktif
b. Kegagalan mekanisme
regulasi

membantu pasien
makan
12. Tawarkan snack
13. Kolaborasikan dengan
dokter atau
kemungkinan transfuse
14. Persiapkan untuk
transfuse
Hipovolemia
management
15. Monitor status cairan
termasuk intake dan
output cairan
16. Pelihara IV line
17. Monitor tingkat Hb
dan hematokrit
18. Monitor tanda vital
19. Monitor respon pasien
terhadap penambahan
cairan
20. Monitor berat badan
21. Dorong pemberian
untuk menambah
pemberian IV monitor
adanya tanda dan
gejala kelebihan
volume cairan
22. Monitor adanya tanda
gagal ginjal

16

DAFTAR PUSTAKA
Dermawan, Deden. 2010. Keperawatan Medical Bedah Sistem Pencernaan. Yogyakarta :
Gosyen Publishing
Imam, S Dkk.2005. Asuhan Keperawatan Keluarga. Malang : Buntara Media
Mansjoer, Arif.2011. Kapita Selekta Kedokteran Jilid I. Jakarta : EGC
http://www.scribd.com/doc/14051235/Gastritis
http://www.scribd.com/doc/28055902/Pathways-Gastritis
http://bluebear.student.umm.ac.id/download-as-pdf/umm_blog_article_12.pdf