Anda di halaman 1dari 46

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Masyarakat di era moderen kerap mengkonsumsi makanan tanpa

memperhitungkan nilai gizi yang terkandung di dalamnya. Salah satunya makanan


yang mengandung banyak lemak. Menurut Puspitasari (2014) jika tidak diiringi
dengan olahraga yang cukup, mengkonsumsi makanan-makanan yang banyak
mengandung lemak dapat mengakibatkan munculnya timbunan lemak dalam
tubuh terutama kolesterol. Kelebihan kolesterol di dalam tubuh dapat memicu
timbulnya beberapa penyakit antara lain hipekolesterolemia, aterosklerosis,
jantung koroner dan penyakit degeneratif lainnya yang dapat menyebabkan
kematian.
Penyakit degeneratif akibat hiperkolesterolemia merupakan penyebab
kematian pertama dengan angka mortalitas 14% (Riskesdas, 2007). Menurut data
WHO (2002) kematian akibat gangguan kolesterol tinggi sebanyak 44,4 juta jiwa
terjadi pada negara-negara berkembang seperti Indonesia. Sebanyak 40%
hiperkolesterolemia menyebabkan salah satu penyakit degeneratif seperti jantung
koroner. Kasus ini meningkat per tahunnya sebanyak 28% dan biasanya
menyerang usia produktif (di bawah 40 tahun). Provinsi Gorontalo merupakan
Provinsi dengan prevalensi tertinggi ke-8 di Indonesia dengan presentasi 1,8%
(Riskesdas, 2013). Adapun data yang dihimpun WHO pada tahun 2008
memperlihatkan bahwa prevalensi faktor resiko hiperkolesterol pada wanita di
Indonesia lebih tinggi yaitu 37,2 ketimbang pria yang hanya 32,8 (Handayani,
2009).
Hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi atau menormalkan kadar
kolesterol dalam darah dengan cara mengurangi konsumsi makanan yang
mengandung lemak dan kolesterol tinggi, serta menambah konsumsi makanan
yang mengandung serat (Sitepoe, 1993).
Pemakaian obat-obat sintesis juga merupakan salah satu alternatif untuk
menormalkan kadar kolesterol dalam darah, akan tetapi dalam menurunkan kadar
kolesterol dalam darah, obat sintesis juga mempunyai kekurangan antara lain
harga yang mahal, dan efek samping yang ditimbulkan sangatlah besar. Contoh
obat yang digunakan yaitu simvastatin. Menurut Suyatna (1995) efek samping

dari penggunaan simvastatin sebagai obat penurun kolesterol darah dapat


menyebabkan miopati toksik.
Hal ini mendorong masyarakat untuk menggunaan bahan alam sebagai
alternatif penurunan kadar kolesterol dalam darah dengan efek samping yang
rendah dan harga terjangkau. Salah satu bahan alam yang dilaporkan dapat
menurunkan kolesterol adalah cangkang kepiting. Sebagian besar cangkang
kepiting dianggap sebagai limbah oleh masyarakat dan kerap dibuang begitu saja
di perairan. Menurut Swastawati (2008) limbah yang dibuang ke perairan dapat
mengakibatkan biological oxygen demand diperairan karena penguraiannya yang
lama sehingga menyebabkan organisme yang ada diperaian kekurangan oksigen.
Menurut Marganov (2003) cangkang kepiting mengandung kitin lebih
banyak dibandingkan dengan cangkang crustacea lainnya yaitu sebesar 50-60%
Menurut Johnson dan Peniston (1982) kulit udang dan kepiting merupakan limbah
pengolahan yang besarnya mencapai 50-60% berat utuh, dengan kandungan khitin
sebesar 20-30 %. Kitosan sebagai salah satu produk olahan dari kitin yang dapat
diperoleh dengan cara deasetilasi kitin. Kitosan yang ada pada cangkang kepiting
memiliki banyak manfaat antara lain dapat digunakan sebagai pemurniaan air
dengan cara mengikat logam-logam berat, pewarna, dan pestisida. Kitosan
digunakan dalam bidang kosmetik, obat-obatan, dan pangan. Pada saat ini
perkembangan pemakaian kitosan banyak mendapat perhatian adalah pembuatan
obat-obatan yang dilepaskan secara lambat (slow release drugs), penyembuhan
luka dan bahan penurun kolesterol. Kitosan tidak toksik dan dapat terurai secara
biologis serta mempunyai kemampuan untuk membentuk senyawa kompleks
dengan kolesterol (Bastaman, 1990). Secara in vitro, kitosan dapat mengikat
kolesterol sebesar 63,5% (Muflihunna, 2010), Sehingga peningkatan kolesterol
dapat dicegah.
Senyawa ini dapat menyatu dengan zat asam empedu sehingga mengurangi
penyerapan kolesterol, karena lemak yang masuk bersama makanan harus dicerna
dan diserap dengan bantuan zat asam empedu yang disekresikan di liver
(Hargono, 2008). Selain dapat berikatan dengan asam empedu, kitosan juga
mampu berikatan dengan lemak, sehingga lemak dapat terhindar dari serangan
enzim-enzim lipid, dan langsung membuangnya melalu feses. Hal ini sesuai

dengan penelitian Agustina (2015) bahwa kadar lemak pada feses tikus percobaan
sebelum dan setelah pemberian kitosan mengalami kenaikan. Hal ini disebabkan
kitosan merupakan salah satu serat larut yang berbentuk gel yang dapat berfungsi
mengikat lemak sehingga lemak tidak diserap oleh tubuh tetapi dikeluarkan dari
tubuh bersama feses.
Berdasarkan hal tersebut, maka perlu dilakukan penelitian untuk menguji
pengaruh kitosan yang ada pada cangkang kepiting di Gorontalo sebagai penurun
kadar kolesterol pada kelinci jantan (Oryctolagus cuniculus).
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut maka dapat dirumuskan suatu
permasalahan yaitu:
1. Apakah

kitosan

pada

cangkang

kepiting

mempunyai

efek

antihiperkolesterolemia pada kelinci jantan (Oryctolagus cuniculus) yang


diinduksikan pakan lemak ?
2. Berapa
konsentrasi
kitosan

yang

dapat

memberikan

efek

antihiperkolesterolemia pada kelinci jantan (Oryctolagus cuniculus) ?


1.3

Tujuan Penelitian

1. Mengetahui efek kitosan sebagai antihiperkolesterolemia pada kelinci


jantan (Oryctolagus cuniculus) yang diinduksikan pakan lemak
2. Mengetahui konsentrasi kitosan yang dapat memberikan
antihiperkolesterolemia

terbesar

pada

kelinci

jantan

efek

(Oryctolagus

cuniculus)
1.4

Manfaat Penelitian

1. Instansi
Diharapkan agar penelitian ini mampu mendorong instansi-instansi farmasi
agar lebih memanfaatkan sesuatu yang bersifat limbah untuk dijadikan obat
seperti halnya limbah cangkang kepiting sebagai obat kolesterol
2. Masyarakat
Manfaat penelitian ini bagi masyarakat yaitu masyarakat dapat mengetahui
bahwa cangkang kepiting memiliki kandungan kitosan yang dapat berkhasiat
menurunkan kadar kolesterol dalam tubuh sehingga diharapkan dapat mengurangi

pembuangan limbah cangkang kepiting yang dapat mengakibatkan kerusakan


lingkungan.
3. Peneliti
Dengan penelitian ini membuat peneliti mengetahui bahwa limbah yang
dapat merusak lingkungan ternyata memiliki senyawa yang dapat digunakan
sebagai salah satu obat kolesterol yang memiliki efek samping yang rendah atau
bahkan tidak memiliki efek samping

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Uraian Biota Laut
2.1.1 Klasifikasi
Suryaningsi (2006) mengklasifikasikan kepiting bakau sebagai berikut;
Kingdom : Animalia
Filum
: Arthropoda
Sub Filum : Mandibulata
Kelas
: Crustacea
Ordo
: Decapoda
Sub Ordo : Pleocyemata
Famili
: Portunidae
Genus
: Scylla
Spesies
: Scylla spp
gambar diatas merupakan gambar kepiting bakau yang dijual di pasar marisa

Gambar 2.1: Kepiting Bakau


2.1.2

Morfologi Kepiting Bakau (Scylla spp)


Kepiting merupakan salah satu hewan air yang banyak dijumpai di

Indonesia dan merupakan Arthropoda yang terbagi menjadi empat famili yaitu,
portunidae (kepiting perenang), xanthidae (kepiting lumpur), cancridae (kepiting
cancer), dan potamonidae (kepiting air tawar) (Afrianto dan Liviawati, 1992).
Kepiting jenis potamonidae (kepiting air tawar) merupakan kepiting yang banyak
dijumpai di Indonesia. Jenis kepiting ini diperkirakan lebih dari 100 spesies.
potamonidae (kepiting air tawar) merupakan salah satu keluarga kepiting yang
mempunyai pasangan kaki jalan dan pasangan kaki kelimanya berbentuk pipih
dan melebar pada ruas yang terakhir (distal) dan sebagian besar hidup di laut,
perairan bakau, dan perairan payu (Kanna, 2001). Salah satu spesie kepiting jenis
potamonidae (kepiting air tawar) yaitu kepiting bakau.
Ciri- ciri kepiting bakau menurut Rusmadi (2014) adalah sebagai berikut:
karapas berwarna sedikit kehijauan, pada kiri-kanannya terdapat Sembilan buah
duri-duri tajam, dan pada bagian depannya diantaranya tangkai mata terdapat
enam buah duri, sapit kanannya lebih besar dari sapit kiri dengan warna
kemerahan pada kedua ujungnya, mempunyai tiga pasang kaki pejalan dan satu
kaki perenang yang terdapat pada ujung abdomen dengan bagian ujungnya
dilengkapi dengan alat pendayung.
2.1.3

Kandungan Cangkang Kepiting


Berdasarkan data USDA Nutrient Database for Standard Reference (1998)

daging kepiting merupakan salah satu sumber protein, lemak, vitamin, dan
mineral, seperti kalsium, seng, dan besi. Hasil penelitian Swasthikawati (2014)
menunjukkan bahwa pada kepiting bakau Scylla mengandung 1,36 % lemak dan
8,81 % Protein. Sebelas persen (11 %) dari total lemaknya merupakan EPA
(eicosapentaenoic acid) dan 5,2 6,6 % DHA (docosahexaenoic acid). Selain itu
Afrianto (1992) juga melaporkan bahwa bahwa kepiting Scylla serrata
mengandung kalsium 11,5 mg/100 g, besi 19,1 mg/100 g dan seng 13,0mg/100g.
Menurut Margahof (2003) dalam cangkang kepiting mengandung protein,
pigmen, abu, kalsium karbonat dan kitin. Kitin merupakan salah satu senyawa
yang dapat dimanfaatkan dalam berbagai bidang. Kandungan kitin dalam

cangkang kepiting lebih banyak dibandingkan dalam cangkang udang yaitu 50%
60%. Menurut Knorr (1984) selain kitin, di dalam eksoskeleton crustacea juga
terdapat protein, meterial organik terutama kalsium karbonat, pigmen dan
sebagian kecil lemak. Secara umum pemurnian kitin secara kimiawi terdapat dua
tahap yaitu demineralisasi dan tahap deproteinisasi. Untuk hasil lebih baik
biasanya dilanjutkan dengan proses depigmentasi.

2.2 Kitin dan Kitosan


a. Kitin
Kitin berasal dari bahasa Yunani chitin, yang berarti kulit kuku yang
merupakan komponen utama dari eksoskeleton invertebrata, crustaceae, insekta,
dan juga dinding sel dari fungi. Komponen ini berfungsi sebagai salah satu
penyokong dan pelindung. Kitin merupakan salah satu polimer anhidro N-asetolD-glukosamin, mempunyai massa molekul relatif besar yaitu 1,2 x 10 6 g/mol.
Kitin mempunyai rumus kimia (C8H13NO5)n. Secara umum kitin mempunyai
bentuk fisik berupa kristal putih hingga kuning muda, tidak berasa, tidak berbau
dan memiliki berat molekul yang besar (Kusumaningsih , 2004).

Gambar 2.2: Struktur Kitin (Kusumanigsih, 2014)

Gambar 2.3: Struktur Selulosa (Apsari, 2010)


Secara struktural terdapat perbedaan antara kitin dengan selulosa dilihat
dari gugusnya, kitin termasuk ke dalam heteropolimer dan glukosa termasuk

homopolimer. Kitin merupakan polimer alamiah (biopolimer) dengan rantai


molekul yang sangat panjang dengan rumus molekul yaitu (C 8H13NO5)n. Rumus
molekul tersebut mempunyai berat molekul adalah [203,19] n (Apsari, 2010).
Secara kualitatif adanya kitin dapat dideteksi dengan reaksi warna Van Wesslink.
Pada cara ini kitin direaksikan dengan I 2 dalam KI yang memberikan warna
coklat, kemudian jika ditambahkan asam sulfat berubah warnanya menjadi violet.
Perubahan warna dari coklat hingga violet menunjukan reaksi positif adanya kitin.
Secara kuantitatif untuk mengidentifikasi suatu senyawa kitin dilakukan dengan
analisis FTIR (Agustina, 2015).
Knorr (1984), menyatakan bahwa kitin merupakan senyawa yang tidak
beracun sebagai unsur serat makanan dan dapat menurunkan kadar kolesterol.
Selain itu kitin juga diketahui tidak alergi dan dapat memicu pertumbuhan bakteri
enzim laktase yang bisa hidup dalam organ pencernaan. Senyawa kitin sulit
dicerna oleh tubuh karena berupa polimer glukosa, namun dapat mengikat racun
dan glukosa didalam tubuh. Glukosa yang terdapat pada kitin tidak berubah
menjadi glukosa darah sehingga tidak menambah produksi kolesterol (Dirijen
Perikanan, 1989).
Kitin mampu menurunkan absorbsi kolesterol lebih efektif dari pada
selulosa dan mempunyai potensi sebagai hipokolesterolemik yang tinggi serta
digesti dan absorbsi lemak dalam traktus intestinal berinteraksi dengan
pembentukan misel atau emulsifikasi lipid pada fase absorbsi (Agustina, 2015).
Menurut Suryaningsi (2006) pengaruh kitin terhadap hipokolesterolemik pada
manusia, jika 3-4 gram kitin perhari diberikan kepada diet 8 orang laki-laki sehat
dapat menurunkan kadar kolesterol serum, meningkatkan HDL (High Density
Lipoprotein), menurunkan LDL (Low Density Lipoprotein), meningkatkan
pengeluaran asam empedu dalam feses.
Kitin termasuk ke dalam kelompok serat dari hewan yang memiliki struktur
mirip selulosa dengan kadar total serat kasar 72,52 sehingga dikelompokkan ke
dalam makanan dengan kadar serat tinggi. Kemampuan serat untuk menurunkan
kadar kolesterol darah berkaitan dengan sifat daya ikatnya terhadap bahan organik
termasuk asam empedu. Asam empedu berfungsi untuk mengemulsikan lemak
menjadi asam lemak yang dapat diserap oleh tubuh, dengan diikatnya asam

empedu oleh serat maka jumlah asam empedu bebas akan berkurang dan memicu
dibentuknya asam empedu baru dari kolesterol yang ada dalam darah sehingga
konsentrasi kolesterol dalam darah akan menurun (Purnamawati, 1997).
b. Kitosan
Kitosan (C6H11NO3) merupakan turunan dari kitin merupakan hasil dari
deasetilasi kitin. Kitosan merupakan suatu polimer yang bersifat polikationik.
Kitosan telah digunakan dalam bidang-bidang biomedikal dan farmasi karena
kitosan bersifat biokompatibel, biodegradasi, dan tidak beracun (Sanusi, 2014).
Keberadaan gugus hidroksil dan amino sepanjang rantai polimer
mengakibatkan kitosan sangat efektif mengikat ion logam berat maupun zat-zat
organik (protein dan lemak). Interaksi logan dengan kitosan terjadi melalui
pembentukan kelat koordinasi oleh atom N gugus amino dan O gugus hidroksil
(Sanjaya, 2007). Kitosan juga dapat membentuk sebuah membran yang berfungsi
sebagai adsorben pada waktu terjadinya pengikatan zat-zat organik maupun
anorganik oleh kitosan. Hal ini menyebabkan kitosan lebih banyak dimanfaatkan
dibandingkan dengan kitin (Sanjaya, 2007)

Gambar 2.4: Struktur Kitosan (Kusumanigsih, 2014)


Menurut Maryati (2009) gugus amino pada kitosan membuat kitosan
menjadi polielektrolit kation (pKa 6,5) ha yang sangat jarang terjadi secara
alami. Sifat yang basa ini menjadikan kitosan:
a. Dapat larut dalam media asam encer membentuk larutan kental sehingga dapat
digunakan dalam pembuatan gel. Dalam beberapa variasi konfigurasi seperti
butiran, membran, pelapis kapsul, serat dan spon
b. Membentuk kompleks yang tidak larut air dengan polikation yang dapat juga
digunakan untuk pembuatan butiran gel, kapsul dan membran

c. Dapat digunakan sebagai pengkhelat ion logam berat dimana gelnya menyediakan
sistem produksi terhadap efek dekstruksi dari ion
Kitosan banyak diaplikasikan dalam berbagai bidang. Hal tersebut dikarenakan
adanya gugus amino pada posisi C2 dan jug karena gugus hidroksil primer dan
sekunder pada posisi C3 dan C6. Adanya gugus fungsi tersebut menyebabkan
kitosan memiliki reaktivitas kimia yang tinggi (Marganov, 2003). Kitosan
merupakan senyawa yang tidak larut air namun hanya larut dalam asam organik
dan mudah bereaksi dengan zat-zat organik sepert protein. Kitosan larut dalam
asam anorganin seperti asam nitrat, HCL, asam perklorat, dan H 3PO4 setelah
dikocok dan dipanaskan untuk waktu yang lama asam amino dalam kitosan
membentuk larutan kental yang dugunakan untuk membentuk gel dalam berbagai
bentuk seperti partikel, membran, lapisan, serat dan spon (Agustina, 2015).
Kitosan banyak digunakan dalam aplikasinya di bidang farmasi,
kedokteran,

karena

mudah

dicerna

dan

toksisitasnya

sangat

rendah

memperlihatkan aksi biologis dengan menyerap logan berat (Agustina, 2015)


Pada bidang kesehatan kitosan banyak digunakan sebagai penyerap lemak, dan
hipokolesterolemia (Amirullah, 2010). Penelitian secara in vitro menunjukkan bila
kitosan dicampur dengan kolesterol akan terjadi reaksi pengikatan, sehingga
kolesterol tidak lagi bebas (Agustina, 2015). Terikatnya molekul kolesterol oleh
kitosan diharapkan dapat mengurangi masuknya kolesterol berlebihan ke dalam
peredaran darah.
Telah dilakukan pula penelitian yang mengungkapkan bahwa serat kitosan
dapat menghambat penyerapan lemak baik secara in vitro maupun in vivo baik
pada hewan coba seperti tikus, kelinci maupun pada tubuh manusia. Penelitian
oleh suatu tim di Laboratorium Biokimia IPB (2002) menunjukan bahwa secara in
vitro (dalam tabung) molekul kitosan dapat mengikat molekul kolesterol sampai
18,6%. Uji yang dilakukan pada tikus percobaan menunjukan bahwa penambahan
kitosan 5% pada pakan selama 20 minggu dapat mengurangi level kolesterol
darah hingga 65%. Pada penelitian selanjutnya disimpulkan bahwa pada kondisi
normal kitosan mampu menyerap 4-5 kali lemak dibandingkan serat lain. Dalam
suatu pengujian uji klinik dilaporkan bahwa kadar kolesterol berkurang hingga
32% setelah menggunakan kitosan selama lima minggu (Amirullah, 2010).

Mekanisme pengikatan lemak oleh kitosan belum dimengerti secara utuh


dan menyeluruh. Tetapi, sejumlah pengamatan penelitian mendukung terjadinya
dua mekanisme dasar pengikatan.

Pertama,

melibatkan

tarik menarik dua

muatan yang berlawanan, layaknya tarik kutub magnet. Jadi, kitosan yang
mempunyai gugus bermuatan positif akan menarik muatan negatif dari asam
lemak dan membentuk ikatan yang tak bisa dicerna. Kedua, penetralan muatan.
Dalam model ini kitosan menyelubungi sisi aktif lemak dan melindunginya dari
serangan dan penguraian enzim-enzim lipida (Amirullah, 2010).
2.2.1 Pembuatan kitin menjadi kitosan
a. Demineralisasi
Proses demineralisasi dilakukan dengan proses menggunakan larutan asam
klorida encer. Proses ini bertujuan untuk menghilangkan garam-garam anorganik
atau kandungan mineral yang ada pada kitin terutama kalsium karbonat dan
kalium phospat dalam jumlah kecil (Hargono, 2008).
Adapaun reaksi yang terjadi dalam demineralisasi adalah sebagai berikut
(Hargono, 2008):
Ca3(PO4)2(S) + 6HCL(aq)

3CaCl2(aq) + 2H3PO4(1)

(1)
(2)

CaCO3(s) + 2HCl(aq)

CaCl2(aq) + H2CO3(g)
b. Deproteinisasi
H2CO3(g)
CO2(g)
+ H2O(i)dengan kitin. Dalam proses ini
Protein dalam cangkangberikatan
kovalen
cangkang kepiting direaksikan dengan larutan natrium hidroksida panas dalam
waktu yang relatif lama. Adapun tujuan dari proses ini untuk memisahkan atau
melepaskan ikatan-ikatan antara protein dan kitin (Hargono, 2008).
c. Depigmentasi
Penghilangan zat-zat warna dilakukan pada waktu pencucian residu setelah
proses demineralisasi dan proses deproteinasi. Pada proses ini hasil dari proses
deproteinasi direaksikan lebih lanjut dengan menggunakan reagensia pemutih
berupa natrium hipoklorid (NaOCl) atau peroksida, proses depigmentasi bertujuan
menghasilkan warna putih pada kitin (Hargono, 2008).
d. Deasetilasi
Proses deasetilasi merupakan proses pembentukan kitosan dari kitin
menggunakan NaOH untuk mengganti gugus asetamida dengan gugus amino
(Hargono, 2008). Reaksi pembentukan kitosan dari kitin yaitu merupakan reaksi

10

hidrolisis suatu amida oleh suatu basa. Kitin bertindak sebagai amida dan NaOH
sebagai basanya. Mula-mula terjadi reaksi adisi, gugus OH - masuk ke dalam
gugus NHCOCH3 kemudian terjadi eliminasi gugus CH3COO- sehingga
dihasilkan suatu amina yaitu kitosan (Mahatmanti, 2001). Mekanisme
pembentukan kitosan dari kitin dapat dilihat dari persamaan gambar dibawah ini:

Gambar 2.5: Mekanisme Pembentukan Kitosan dari Kitin (Mahatmanti,


2001)
Menurut Hargono (2008) deasetilasi kitin adalah penghilangan gugus asetil
yang berikatan dengan gugus amin menggunakan larutan basa kuat yang pekat.
Hal ini disebabkan karena basa lemah tidak dapat memutuskan ikatan C-N pada
asetamida kitin, sedangkan basa kuat akan memutuskan ikatan antara gugus asetil
dengan atom N, sehingga terbetuk gugus (NH 2) pada kitosan. Transformasi kitin
menjadi kitosan adalah reaksi hidrolisa.
2.3 Kolesterol dan Hiperkolesterol
2.3.1 Kolesterol
Kolesterol (C27H46OH) adalah lipida struktual (pembentuk struktur sel)
yang berfungsi sebagai komponen yang dibutuhkan dalam kebanyakan sel tubuh.
Kolesterol merupakan bahan yang menyerupai lilin, sekitar 80% dari kolesterol
diproduksi oleh hati dan selebihnya diperoleh dari makanan yang kaya kandungan
kolesterol seperti daging, telur dan produk berbahan dasar susu (Silalahi, 2006).
Keberadaan kolesterol di dalam tubuh sangat esensial untuk kebutuhan hidup sel
dan berfungsi sebagai bahan baku sintesis fosfolipid yang merupakan komponen
dalam membran sel. Meskipun mempunyai peranan penting, kelebihan kolesterol
berdampak buruk bagi kesehatan. Oleh karena itu penurunan kolesterol darah ke

11

tingkat normal dapat ditempuh dengan dua cara yaitu mengurangi konsumsi
lemak dan kolesterol, dan menggunakan obat yang menghambat penyerapan
kolesterol atau sintesis kolesterol endogen (Hernawati, 2008).
Kolesterol (C27H46OH) adalaha alkohol steroid yang ditemukan dalam
lemak hewani/minyak, empedu, susu, kuning telur. Kolesterol sebagian besar
disintesiskan oleh hati dan sebagian kecil diserap dari diet. Keberadaan kolesterol
dalam pembuluh darah yang kadarnya tinggi akan membuat endapan/kristal
lempengan yang akan mempersempit/menyumbat pembuluh darah (Sutejo, 2006).
Menurut E.N Kosasih dan A.S Kosasih (2008) kolesterol bersifat tidak larut
dalam air sehingga diperlukan suatu alat transportasi untuk beredar dalam darah
yaitu apoprotein yang merupakan salah satu jenis protein. Kolesterol akan
membentuk kompleks dengan apoprotein sehingga membentuk suatu ikatan yang
disebut lipoprotein. Lipoprotein ini dibagi menjadi 4 jenis:
a) Kilomikron: komponen utamanya adalah trigliserida (85-90 %) dan
kolesterol hanya 6%.
Fungsinya mentransfer lemak dari usus
b) VLDL (very low density lipoprotein) terdiri dari protein (8-10 %) dan
kolesterol (19 %) dibentuk dihati dan sebagian di usus.
c) LDL (low density lipoprotein) komponen terdiri dari protein 20 % dan
kolesterol 45 %
Fungsinya mentransfer kolesterol dalam darah ke jaringan perifer dan
memegang peranan mentransfer fosfolipif membran sel, yang kemudian
diambil oleh sel sasaran melalui endositosis yang diperantarai reseptor
d) HDL (high density lipoprotein) disebut juga Alpha-1-Lipoprotein dibentuk
oleh sel hati dan usus.
Fungsinya mentransport kolesterol dari peifer ke hati dimana zat tersebut
dimetabolisme dan diekskresi.
Metabolisme kolesterol mengikuti beberapa jalur dari metabolisme
lipoprotein. Secara garis besar ada tiga jalur metabolisme lipoprotein yang terjadi
di dalam tubuh, yaitu jalur metabolisme eksogen, jalur metabolisme endogen, dan
jalur reverse cholesterol transport atau jalur balik kolesterol. Kedua jalur pertama
lipoprotein berhubungan dengan metabolisme kolesterol-LDL (low density
lipoprotein) dan trigliserida, sedangkan jalur terakhir berhubungan dengan

12

metabolisme kolesterol-HDL (high density lipoprotein) (E.N Kosasih dan A.S


Kosasih, 2008).
Metabolisme jalur eksogen
Makanan di dalam usus dipecah menjadi asam lemak dan kolesterol. Asam
lemak yang diperoleh dengan aldehid membentuk trigliserida. Trigliserida dan
kolesterol yang berasal dari makanan dikemas sebagai kilomikron. Kilomikron ini
diangkut ke dalam pembuluh darah. Namun, karena kilomikron memiliki diameter
yang besar, sehingga sebelum masuk ke dalam pembulu darah, kilomikron
dihidrolisis oleh lipoprotein lipase menjadi asam lemak menjadi asam lemak dan
kilomikron remnan. Asam lemak bebas akan menembus endotel dan masuk ke
dalam jaringan lemak atau sel otot untuk diubah menjadi trigliserida kembali
(cadangan). Kilomikron remnan adalah kilomikron yang telah dihilangkan
sebagian trigliseridanya sehingga ukurannya mengecil tetapi jumlah ester
kolesterolnya tetap. Kilomikron remnan ini akan dibawa ke hati dan melepas
kolesterol dan trigliserida (dalam bentuk asam lemak) (Syamsudin, 2011).
Metabolisme jalus endogen
Trigliserida dan kolesterol yang dibiosintesis di hati kemudian diangkut
secara endogen dalam bentuk VLDL kaya trigliserida dan mengalami hidrolisis
oleh lipoprotein lipase sebelum masuk ke pembuluh darah. Hal ini sama seperti
kilomikron yang tidak dapat menembus pembuluh darah karena diameter ini
memiliki VLDL besar. Namun, untuk VLDL, hasil hidrolisisnua adalah LDL.
LDL kemudian menjalankan tugasnya mengangkut kolesterol dari hati ke jaringan
yang membutuhkan. Peningkata kadar kolesterol dalam darah sebagian disalurkan
ke dalam makrofag yang akan berpengaruh dalam terjadinya aterosklerosis
(Syamsudin, 2011).
Menurut Adam (2009) trigliserida dan kolesterol di hati akan disekresikn ke
dalam sirkulasi sebagai lipoprotein VLDL. Dalam sirkulasi, VLDL akan
mengalami hidrolisis oleh enzim lipoprotein lipase dan akan berubah menjdi
LDL. LDL adalah lipoprotein yang paling banyak mengandung kolesterol.
Sebagian LDL akan dibawa ke hati, kelenjar adrenal, testis dan ovarium yang
mempunya reseptor untuk LDL. Sebagian lainnya akan mengalami oksidasi dan
ditangkap oleh sel magrofag.

13

Gambar 2.6: Transport Lipid Jalur Eksogen dan Endogen


(Syamsudin, 2011)
Metabolisme jalur reverse cholesterol transport
HDL dilepaskan sebagai partikel kecil miskin kolesterol yang mengandung
apolipoprotein A, C, dan E dan fosfolipid yang disebut HDL remnan/nascent.
HDL remnan berasal dari sintesis apolipoprotein yang berada dalam hati dan usus.
HDL remnan dapat diubah menjadi HDL dewasa ketika telah melakukan tugasnya
yaitu mengangkut kolesterol bebas dari sel makrofag, oleh enzim LCAT (Lecitine
Cholesterol Acyl-Transferase) diesterifikasi menjadi kolesterol ester. Kolesterol
ester ini kemudian dibawa ke hati dan diubah menajadi asam empedu dan
diekskresikan dalam bentuk feses (Syamsudin, 2011).
Menurut Adam (2009) HDL dilepaskan sebagai partikel kecil miskin
kolesterol mengandung apoliprotein yang disebut HDL nescent. HDL nescent
yang berasal dari usus halus dan hati mengandung apoliprotein A1. HDL nescent
mengambil kolesterol bebas yang tersimpan di magrofag. Setelah mengambil
kolesterol bebas, kolesterol tersebut akan diesterifikasi oleh enzim LCAT, dan
dibawa ke hati

14

Gambar 2.7: Transport Lipid Jalur Reverse Cholesterol Transport


(Syamsudin, 2011)
Biosintesis kolesterol
Asam asetat dengan menggunakan energi ATP dan dikatalis oleh enzim
asetil KoA sintetase membentuk Asetil KoA. 2 molekul Asetil KoA dan dibantu
oleh enzim tiolase berkondensasi membentuk Asetoasetil KoA. Asetoasetil KoA
kemudian berkondensasi dengan Asetil KoA membentuk HMG KoA dengan
bantuan enzim pengkatalisis HMG KoA sintetase. Proses ini menggunakan air dan
menghasilkan produk sampingan berupa KoA-SH. HMG KoA yang terbentuk
direduksi oleh HMG KoA reduktase dengan bantuan NADPH dan H
menghasilkan Mevalonat. Kemudian Mevalonat mengalami fosforilasi oleh 3 ATP
dan kehilangan 1 atom karbon membentuk isopentanil pirofosfat. 2 molekul
isopentanil pirofosfat membentuk farnesil pirofosfat dengan 30 atom karbon yang
kemudian berkondensasi dengan 1 molekul isopentenil pirofosfat bergabung
membentuk skualena dengan 30 atom karbon. Skualena kemudian membentuk
lanosterol dan lanosterol membentuk kolestero (Syamsudin, 2011).
2.3.2

Hiperkolesterolemia
Hiperkolesterolemia merupakan penyakit gangguan metabolisme kolesterol

yang disebabkan oleh kadar kolesterol dalam darah melebihi batas normal.
Peningkatan kolesterol dalam darah disebabkan kelainan pada tingkat lipoprotein.
Tingginya kadar kolesterol dalam tubuh menjadi pemicu munculnya berbagai
penyakit (Sutedjo, 2006).
Kadar kolesterol di dalam darah adalah dibawah 200 mg/dl. Apabila
melampaui

batas

normal

maka

disebut

sebagai

hiperkolesterolemia.

15

Hiperkolesterolemia biasanya terdapat pada penderita obesitas, diabetes mellitus,


hipertensi, perokok serta orang yang sering minum-minuman beralkohol.
(Hardjono, 2003).
Dalam istilah

medis,

kadar

kolesterol

tinggi

sering

disebut

hiperkolesterolemia. Kadar kolesterol tinggi adalah suatu kondisi saat nilai kadal
kolesterol total darah meningkat di antara nilai normal (>240mg/dl) (Garnadi,
2012).
Konsentrasi kolesterol total atau Total Plasma Cholesterol (TPC)
merupakan resultan konsentrasi dari molekul-molekul lipoprotein kilomikron,
VLDL, IDL, LDL, dan HDL. Konsentrasi kolesterol total darah dapat melebihi
batas normalnya karena berbagai hal, antara lain akibat kelaunan genetik, obesitas,
asupan makanan kaya kolesterol, dan asam lemak jenuh, kekurangan hormon
estrogen, lanjut usia, dan gangguan metabolisme (Wahyudi, 2009).

Berdasarkan pemeriksaan profil lemak darah, maka kolesterol dapat


dikategorikan dalam kelompok normal, ambang batas, dan normal.
1. Untuk manusia
Tabel 2.1: Kriteria Diagnostik Kolesterol (Ardhilla dan Oktaviana, 2003)
Tes
Kolesterol Total
HDL
LDL
Trigliserida

Normal
< 200
> 45
< 130
< 120

Ambang Batas
200 239
35 45
130 160
200 400

Tidak Normal
> 240
< 35
> 160
> 400

2. Untuk Hewan
Tabel 2.2: Nilai Fisiologi Hewan (Malole dan Pramono, 1989)
Hewan Coba
Mencit
Tikus
Kelinci

Kadar Kolesterol Normal


Kolesterol : 26 82 mg/dl
Kolesterol : 40 -130 mg/dl
Trigliserida : 26 -145 mg/dl
Kolesterol : 35 53 mg/dl
Trigliserida : 124 156 mg/dl

16

Mekanisme terjadinya hiperkolesterol terdiri atas 2 cara yakni pertama,


adanya kelebihan kolesterol yang dibuat hati untuk diekspor ke sel-sel di seluruh
tubu, akibat kecenderungan genetis, sehingga kolesterol dalam aliran darah juga
berlebihan. Kelebihan kolesterol mengakibatkan kolesterol yang ketika dalam
aliran darah dibawa partikel LDL ini, membuat LDL menimbun kolesterol di
dalam arteri yang biasannya menyebabkan penyumbatan bahkan serangan jantung
(Freeman dan Junge, 2008).
Kedua kelebihan kolesterol yang dibuat oleh hati akibat adanya makanan.
Tubuh memang membutuhkan makanan untuk dijadikan bahan bakar dalam
proses produksi kolesterol. Namun, kebanyakan makan makanan khususnya
makanan yang mengandung lemak jenuh atau berkolesterol tinggi menyebabkan
hati lebih banyak memproduksi kolesterol dan LDL (Freeman dan Junge, 2008).
2.4 Simvastatin
Gambar 2.8: Struktur Simvastatin

Simvastatin (C25H38O5) merupakan salah satu obat hipolipidemik golongan


HMG-CoA reduktase inhibitor. Golongan obat ini paling efektif dan paling baik
toleransinya dalam mengobati dislipidemia. Simvastatin merupakan senyawa yang
diisolasi dari jamur Penicillium citrinum, senyawa ini memiliki struktur yang
mirip HMG-CoA reduktase pada proses sintesis kolesterol di hati.
Mekanisme Kerja Simvastatin
Simvastatin menghambat HMG-CoA reduktase pada proses mengubah
asetil-CoA menjadi asam mevalonat. Simvastatin jelas menginduksi suatu
peningkatan reseptor LDL dengan afinitas tinggi. Efek tersebut meningkatkan
kecepatan ekstraksi LDL oleh hati, sehingga megurangi simpanan LDL plasma
(Katzung, 2002).
Simvastatin merupakan prodrug dalam bentuk lakton yang harus dihidrolisis
terlebih dahulu menjadi bentuk aktifnya yaitu -hidroksi di hati, hasil hidrolisis itu
lebih dari 95% berikatan dengan protein plasma. Konsentrasi obat bebas di dalam
sirkulasi sistemik sangan rendah yaitu 5%, dan memiliki wktu paruh 2 jam.

17

Sebagian besar obat disekresi melalui hati. Dosis awal maksimal 80 mg/hari.
Pemberian obat ini dilakukan pada malam hari (Wiztum, 1996).
Menurut Wiztum (1996) simvastatin memiliki efek utama yaitu penurunan
kadar LDL melalui hambatan kerja enzim HMG-CoA reduktase. Adanya
kolesterol sebenarnya menekan transkripsi gen yang mensintesis reseptor LDL.
Sehingga sebagai respon berkurangnya kolesterol maka efek penekanan gen tadi
menghilang. Proses tersebut terjadi dalam sel hepatosit dengan mekanisme rinci
yaitu SREBP (sterol regulatory element binding protein) yang terikat pada
membran dipecah oleh enzim protease dan dipindahkan ke nukleus. Faktor
transkripsi kemudian diikat oleh unsur gen reseptor LDL yang responsif terhadap
sterol, kemudian meningkatkan sintesis dan menurunkan degradasi reseptor LDL.
Peningkatan jumlah reseptor LDL di permukaan hepatosit inilah yang
menyebabkan semakin banyak LDL hilang dari darah karena berikatan dengan
reseptor.
Efek Samping
Efek samping dari pemakaian simvastatin adalah miopati. Miopati adalah
gangguan otot yang menyebabkan serabut otot tidak dapat berfungsi dengan
normal akibatnya otot dapat mengalami kelemahan atau kelumpuhan, kram atau
tegang, sehingga pada pasien dengan resiko tinggi terhadap gangguan otot,
pemberian simvastatin harus diperhatikan (Suyatna, 1995). Wanita hamil tidak
boleh menggunakannya karena derdaya teratogen (mengakibatkan cacat pada
bayi), lagi pula kolesterol mutlak dibutuhkan bagi pemgembangan janin (Tan dan
Rahardja, 2007).
2.5 Kajian Penelitian yang Relevan
1. Penelitian Muflihunna A (2010)
Dalam penelitian yang berjudul Preparasi Kitosan dari Limbah Udang
Windu dan Uji Penurunan Kolesterol Pada Kelinci (Oryctolagus Cuniculus)
Secara In Vivo Muflihunna melakukan penelitian untuk mengetahui pada
konsentrasi berapa kitosan mampu menurunkan kadar kolesterol.
Penelitian Muflihunnah ini menggunakan kelinci yang dikelompokkan
dalam 6 kelompok. Kelompok I (kontrol negatif) diberi makanan dan minuman
standar, kelimpok II (kontrol positif) diberi diet kolesterol tinggi dan minum
dengan air yang telah diberi Propiltiourasil 0,01% (PTU), kelompok III dan IV

18

masing-masing diberi diet kolesterol tinggi dan minum yang telah diberi PTU,
serta diberi kitosan dengan konsentrasi 5% (kelompok III) dan 10% (kelompok
IV) secara oral. Pemberian diet kolesterol, minum yang telah diberi PTU, dan
kitosan berlangsung selama 7 minggu. Pemberian makan dan minum secara ad
libitum.
Pengambilan darah dilakukan pada minggu pertama dan minggu ke-7.
Darah yang diperoleh kemudian disentrifus, selanjutnya serumnya diambil untuk
diukur kadar kolesterolnya.
Adapun hasil yang didapatkan dalam penelitian ini yaitu kadar kolesterol
serum awal pada kelinci kelompok kontrol, kelompok hiper kolesterolemia, dan
kelompok diberi kitosan 5% dan 10 % masing-masing adalah 74.982.26 mg/dl,
70.341.23 mg/dl, 72.221.67 mg/dl, dan 71.892.00 mg/dl. Setelah diberi
perlakuan dengan pakan berkadar kolesterol selama 7 minggu, kadar kolesterol
serum kelinci kelompok hiperkolesterolemia menjadi 366.892.89mg/dl. Hasil ini
menunjukkan bahwa kelompok kontrol positif sudah mencapai kondisi
hiperkolesterolemia. Sedangkan kelinci kelompok perlakuan yang diberi kitosan
5% dan 10 % menunjukkan perbedaan yang nyata (P0.005) dengan kelinci
kelompok hiper kolesterolemia (kontrol positif). Tapi pada kelinci kelompok
perlakuan yang diberi kitosan 10% tidak menunjukkan perbedaan nyata (P0.05)
dengan kelinci kelompok kontrol negatif.
Perbedaan penelitian ini dengan penelitian Muflihunna yaitu penelitian
Muflihunns menggunakan kitosan yang berasal dari cangkang kulit udang,
sedangkan pada penelitian yang akan dibuat, kitosan akan diambil dari cangkang
kulit kepiting yang menurut beberapa literatur juga mempunyai kandungan
kitosan (setelah diasetilasi dari kitin) yang sama seperti pada udang. Perbedaan
yang lain juga terdapat pada prosedur pemberian kitosan. dalam jurnal ini kitosan
diberikan terlebih dahulu kepada hewan uji, kemudian hewan uji diberi makanan
diet kolesterol. Sedangkan pada proposal yang akan dibuat, hewan uji akan diberi
makanan diet kolesterol terlebih dahulu, lalu di berikan kitosan, dan diukur kadar
kolesterolnya.
2. Penelitian Suharyanto (2013)

19

Dalam penelitian yang berjudul Pemanfaatan Cangkang Kepiting Untuk


Menurunkan Kolesterol Darah Suharyanto melakukan penelitian untuk
mengetahui apakah kitosan dapat menurunkan kadar kolesterol pada hewan coba
yang kemudian dibandingkan dengan simvastatin.
Penelitian Suharyono menggunakan tiga kelompok kelinci uji. Kelompok
A sebagai kontrol 1, kelompok B sebagai kontrol 2 dan kelompok C sebagai
hewan uji. Kelompok A tanpa obat, kelompok B diberikan Simvastasin secara
oral, kelompok C diberikan kitosan secara oral, masing-masing dibiarkan selama
tiga hari

kemudian diuji kadar kolesterolnya. Metode penelitian Suharyono

dilakukan dalam dua tahapan yaitu isolasi kitosan sampai pada bentuk tepung dan
uji klinis kitosan untuk penurunan kadar kolesterol dalam darah. Isolasi kitin dari
limbah kepiting dilakukan secara bertahap. Tahap awal dimulai dengan pemisahan
protein (deproteinasi) dengan larutan basa, demineralisasi, pemutihan (bleancing)
dengan aseton dan natrium hipoklorit. Sedangkan untuk transformasi kitin
menjadi kitosan dilakukan tahap deasetilasi dengan basa berkonsentrasi tinggi,
pencucian, pengeringan dan penepungan hingga menjadi kitosan bubuk.
Adapun hasil dari penelitian Suharyanto yaitu Pemberian Simvastasin pada
hewan Uji memberikan reaksi penurunan kadar kolesterol sebesar 46,3 % selama
16 hari. Sedangkan pemberian Kitosan denga dosis 500 mg / hari pada hewan
percobaan dapat menurunkan kadar kolesterol sebesar 15, 38 % selama 16 hari,
dan untuk hewan kontrol kadar kolesterol relatif konstan.
Perbedaan penelitian ini dengan penelitian Suharyono yaitu penelitian
Suharyanto menggunakan minyak sayur sebagai diet kolesterol yang diberikan
kepada hewan uji. Sedangkan dalam proposal yang akan dibuat, diet kolesterol
yang akan digunakan berupa pemberian kuning telur kepada hewan coba.
3. Penelitian Sry Agustina (2015)
Dalam penelitian yang berjudul Pemanfaatan Kitosan Kulit Udang
Sebagai Penurun Kadar Kolesterol Darah Tikus (Sprague dawley) Sri melakukan
penelitian untuk mengetahui apakah kitosan mampu mengikat kolesterol dalam
tubuh dengan cara mengukur kadar kolesterol dalam tubuh dan peningkatan lemak
pada feses setelah pemberian kitosan.
Dalam penelitiannya, Sry menggunakan tikus Sprague dawley berumur 2
bulan dengan bobot badan rata-rata 150-200 g. tikus jantan yang telah

20

hiperkolesterolemia disiapkan 20 ekor dibagi kedalam lima kelompok perlakuan


dengan dua kali pengulangan, diadaptasi dalam kandang individu selama satu hari
dengan memberi ransum standar dan air secara ad libitum kemudian dilanjutkan
dengan pemberian kitosan dan simvastatin selama lima minggu. Kelompok A
sebagai kelompok kontrol positif, yaitu tikus yang dibuat hiperkolesterolemia
tanpa pemberian kitosan maupun simvastatin hanya diberikan plasebo berupa
asam asetat 1%. Kelompok B sebagai kelompok perlakuan tikus yang dibuat
hiperkolesterolemia dan diberikan obat standar penurunan kolesterol darah yaitu
simvastatin. Dosis simvastatin yang biasa digunakan oleh manusia berkisar 5-80
mg/hari.
Hasil dari Penelitian Sry yaitu pada minggu ke V kadar total kolesterol
darah pada kelompok perlakuan yang diberikan kitosan 2% b/v (E) tidak berbeda
nyata dengan kelompok perlakuan yang diberikan simvastatin (B), tetapi berbeda
nyata dengan kontrol positif (A), pemberian kitosan 0,5% b/v (C) dan pemberian
kitosan 1% b/v (D) . Hal ini mengindikasikan bahwa aktivitas penurunan kadar
total kolesterol darah pada tikus yang diberikan kitosan 2% b/v sama dengan obat
standar penurun kolesterol darah yaitu simvastatin dengan dosis 0,6mg/BB. Selain
itu Rata-rata kadar lemak pada feses tikus percobaan sebelum dan setelah
pemberian kitosan mengalami kenaikan, kandungan lemak feses meningkat
dengan bertambahnya jumlah kitosan yang diberikan yang mengakibatkan
menurunnya pertambahan bobot badan tikus.
Perbedaan penelitian ini dengan penelitian Sry terdapat pada penggunaan
hewan coba dan cara pengurukan kadar kolesterol. Penelitian ini menggunakan
kelinci sebagai hewan coba dan cara pengukuran kadar kolesterol dilakukan
dengan menggunakan alat pengukur kolesterol. Selain itu pada penelitian Sry,
beliau juga mengukur kadar lemak feses, sedangkan pada penelitian ini hanya
mengukur kadar kolesterol total dalam darah.
4. Muhammad Amirullah Pagala (2010)
Dalam penelitian yang berjudul Pengaruh Kitosan Asal Cangkang Udang
Terhadap Kadar Lemak Dan Kolesterol Darah Itik, amirullah melakuakn
penelitian untuk mengetahui respon itik petelur dalam memanfaatkan ransum
yang telah ditambahkan ekstrak limbah cangkang udang berupa kitosan dengan

21

konsentrasi yang berbeda terhadap lemak dan kolesterol darah pada itik.
Amirullah menggunakan ransum yang telah dicampurkan kitosan dengan
konsentrasi yang berbeda-beda yaitu: R0 = ransum basal + 0% kitosan, R1 =
ransum basal + 0,5% kitosan, R2 = ransum basal + 1,0% kitosan, R3 = ransum
basal + 1,5% kitosan. Ransum basal yang digunakan adalah ransum komersial
dengan merk RK- 24 -AA produksi PT Charoen Pokphand Indonesia, sedangkan
kitosan diperoleh dengan cara diekstrak dari cangkang/kulit udang. Hasil analisis
ransum basal yang dilakukan di Laboratorium Kimia Fakultas MIPA Universitas
Haluoleo Kendari.
Perlakuan terhadap hewan coba dilakukan sebanyak 6 kali dengan
mengukur beberapa variabel seperti triasilgliserol, HDL, LDL. Adapaun hasil
yang diperoleh yaitu nilai triasilgliserida pada darah itik dengan supplementasi
kitosan dalam ransum berkisar 102,67 127,67 mg/dl, dengan nilai tertinggi
terdapat pada kontrol (R0) yakni 127,67 mg/dl dan rataan nilai terendah pada
kitosan 1% (R3) yakni 102,67 mg/dl Hal ini menunjukkan pada kisaran
Triasilgliserol yang masih normal. Rataan nilai Triasilgliserida pada itik yang
disuplementasi kitosan cenderung menurun dibandingkan dengan kontrol seiring
dengan meningkatnya level kitosan dalam ransum. Hal ini disebabkan serat
kitosan yang menghambat penyerapan lemak oleh tubuh ternak, dengan kata lain
kitosan dapat mengikat dan menyerap lemak dengan efisien sehingga berdampak
pada berkurangnya berat badan ternak itik.
Nilai kadar HDL (High Density Lipoprotein) darah itik berkisar 31,33
45,0. Rataan nilai terendah terdapat pada perlakuan R0 (31,33) dan tertinggi pada
R3 (45,0). Hal ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi pemberian kitosan
dalam ransum akan diikuti dengan meningkatnya kadar HDL darah itik.
Sedangkan rataan nilai kadar LDL (Low Density Lipoprotein) darah itik berkisar
antara 66,47 - 98,8. Rataan nilai terendah terdapat pada perlakuan R3 (66,47) dan
tertinggi terdapat R0 (98,8). Data ini menunjukkan bahwa meningkatnya
pemberian kitosan dengan level yang berbeda dalam ransum itik akan diikuti
dengan menurunnya kadar LDL darah itik. Hal ini terjadi karena terjadinya
penurunan kadar lemak dan kolesterol darah karena penambahan kitosan yang

22

dapat mengikat LDL dalam darah itik dengan efektif, sehingga berdampak
terhadap semakin menurunnya kadar LDL darah itik.
Perbedaan penelitian yang akan dilakukan dengan penelitian Amirullah
yaitu amirullah menggunakan hewan coba itik pada penelitian, selain itu dalam
hal perlakuan untuk hewan coba sangatlah berbeda dimana amirullah
mencampurkan kitosan dalam ransum sedangkan dalam penelitian yang akan
dilakukan kitosan ditidak dicampurkan ke dalam pakan yang akan diberika. Selain
itu perbadaan lain terletak pada sumber kitin. Dalam penelitiannya Amirullah
menggunakan cangkang udang sebagai pengghasil kitin, sedangkna penelitian
yang akan dilakukan menggunakan kitin yang bersumber dari cangkan kepiting.
5. Penelitian Guangfei Xu (2007)
Dalam penelitian Guangfei Xu tentang Studi mekanisme kitosan pada
metabolisme lipid di tikus hiperlipidemia, Guangfei melakukan penelitian untuk
menguji pengaruh kitosan pada plasma kolesterol tingkat hati, berat hati dan
ekskresi asam empedu menggunakan diat sterol selam 12 minggu pada tikus.
Selain itu ia juga meneliti apakah kitosan mampu mempengaruhi reseptor LDL
tingkan mRNA pada hati tikus.
Dalam penelitiannya Guangfei menggunakan 30 ekor tikus jantan dengan
berat 60-80 gram. Hewan diaklimatisasi selama 1 minggu sebelum diberi
perlakuan. Perlakuan dilakukan selama 12 minggu. Sebelum dilakukan
pemeriksaan kadar kolestero, tikus dipuasakan selama 15 jam terlebih dahulu.
Tikus dibagi menjadi 3 kelompok yaitu kelompok diet bebas kolesterol (NC),
kelompok diet kolesterol dan 5% kitosan (CH), dan kelompok diet kolesterol dan
5% selulosa (CE). Untuk pengukuran : Kolesterol total dan trigliserida konsentrasi
di Plasma ditentukan menggunakan kit komersial dari Yilikang biologis
Technology Co. Total kolesterol dari masing-masing fraksi diukur oleh enzimatik
Metode dengan kit yang dibeli dari Yilikang biologi Technology Co.
Pada akhir perlakuan, total kolesterol plasma dan kadar dan kadar
kolesterol LDL dalam kelompok CE meningkat menjadi 62% dibandingkan
dengan kelompok NC, sedangkan kelompok HC lebih rendah dari kelompok CE
dan NC. Kolesterol hati dan konsentrasi trigliserida yang lebih besar pada
kelompok CE (p < 0,05), diikuti oleh CH kelompok (p < 0,05), yang keduanya

23

lebih besar dari NC kelompok, sedangkan ekskresi asam empedu tinja harian
dalam kelompok CH lebih besar dari kelompok NC dan kelompok CE (p < 0,05),
sedangkan tidak ada perbedaan antara NC dan kelompok CE (P > 0,05). Sehingga
dapat disimpulkan bahwa bahwa kitosan menurunkan plasma kadar kolesterol
total dengan peningkatan LDL hati reseptor mRNA dan kitosan mungkin
berpotensi untuk meningkatkan ekskresi asam empedu tinja.
Adapun perbedaan dengan penelitian yang akan dilakukan yaitu dalam
penelitian Guangfein meneliti tentang pengaruh kitosan pada plasma tingkat hati
dan ekskresi asam empedu menggunakan diet sterol selama 12 minggu pada tikus
dan menentukan apakah kitosan mampu mempengaruhi reseptor LDL mRNA
pada hati tikus. Sedangkan dalam penelitian yang akan dilakukan hanya akan
mengetahu kadar kolesterol dalam plasma darah dan menggunakan hewan coba
kelinci jantan.
6. Penelitan Durdi Qujeq (2000)
Dalam penelitian Durqi yang berjudul Efek dari diet Chitosan pada
konsentrasi Serum Lipid dan Lipoprotein pada Tikus Durqi melakukan penelitian
penelitian tetang efek pemberian kitosan terhadap konsentrasi serum lipid, lipid
hati, dan lipoprotein. Penelitiannya menggunakan hewan coba tikus laki-laki
Sprague dawley denga berat 220-240 gram dan berusia 6-8 minggu. Sebelum
diberi perlakuan hewan diaklimatisasi selama 3-4 hari. Hewan-hewan dibagi
menjadi berikut dua kelompok : Kelompok 1 (kontrol) : Hewan diberi makan
dengan kontrol diet yang terdiri dari diet bubuk komersial, dan kelompok 2
(pengobatan) : Hewan diberi makan dengan kontrol diet yang terdiri dari diet
bubuk komersial dan kitosan 5%.
Menurut data penelitian Durqi yang telah diperoleh, kitosan mampu
mengurangi kolesterol hati dan trigliserida pada tikus dengan cara kitosan mampu
menggangu penyerapan kolesterol pada tikus. kitosan yang telah dicerna akan
bergabung dengan asam empedu disaluran pencernaan dan diekskresi dalam tinja
sehingga mengurangi lipid dalam tubuh. Selain itu tingkat HDL serum meningkat
secara signifikan dibandingkan dengan kelompok kontrol dan LDL serum
menurun pada kelompok yang mengkonsumsi kitosan. Hal ini dikarenakan adanya
penurunan konsentrasi kolesterol serum akibat tidak adanya penyerapan kolesterol

24

di usus. Kegagalan penyerapan kolesterol dalam usus diakibatkan karena kitosan


mampu berikatan dengan asam empedu sehingga terjadi gangguan pada
pembentukan misel dalam usus yang mengakibatkan lipid tidak dapat diserap
sehinggan terjadi peningkatan kolesterol pada hati. Dalam penelitiannya Durqi
mengakatakn bahwa kitosan merupakan produk alami paling kuat hipolipidemik
yang ditemukan sejauh ini dan memiliki toksisitas yang rendah.
Perbedaan penelitian ini dengan penelitian Durqi yaitu hewan coba pada
penelitan ini menggunakan kelinci dan perlakuan pada hewan coba juga berbeda.
Dalam penelitian ini hewan coba dibagi menjadi 4 kelompok dan mula-mula
diberi diet kolesterol untuk meningkatkan kadar kolesterolnya setelah itu diberi
perlakuan pada masing-masing hewan coba dan untuk melihat efek dari kitosan,
dalam penelitian ini hanya difokuskan pada pengukuran kadar kolesterol total.
7. Penelitian Erryana Martati (2008)
Dalam penelitain Erryana yang berjudul Pengaruh Kitosan Terhadap Profil
Lipid Serum Darah Tikus Sprague dawley Erryana melakukan penelitian dengan
memberi kitosan pada tikus hiperkolesterolemik dan megukur penurunan
kolesterol HLD, LDL dan trigliserida serum darah. Selain itu Erryana juga
mengukur penurunan berat badan dan berat liver pada tikus. Penelitian Erryana
menggunakan tikus jantan sebagai hewan coba. Tikus dibagi secara acak menjadi
6 kelompok, dan masing-masing terdiri dari 7 ekor tikus. Tiga kelompok pertama
diperlakukan dengan pakan standar dan perlakuan penambahan khitosan, 0%,
2,5% dan 5%. Tiga kelompok kedua diperlakuan dengan pakan hiperkholesterol
dengan perlakuan penambahan khitosan 0, 2,5% dan 5%. Analisis yang dilakukan
meliputi kadar kolesterol total, HDL kolesterol, kadar trigliserida. Kadar LDL
kolesterol, berat, dan kadar air digesta, serta kadar kolesterol digesta.
Adapun hasi dari penelitian Erryana yaitu pemberian khitosan sebanyak
2,5% dan 5% dalam pakan tidak mempengaruhi berat badan tikus pada kondisi
pakan standar tetapi pada kondisi pakan hiperkolesterol dapat menurunkan berat
badan dan berat liver. Pemberian khitosan sebanyak 2,5% dan 5% dapat
meningkatkan berat digesta karena khitosan merupakan polimer yang tidak
tercerna sehingga akan keluar bersamasama dengan feses. Pemberian khitosan
sebanyak 2,5% dan 5% dapat meningkatkan kadar kolesterol. Secara umum

25

pemberian khitosan 2,5% atau 5% pada tikus kontrol (pakan standar) dan tikus
hiperkolesterolemia dapat menu-runkan kadar total kolesterol, LDL kolesterol,
dan trigliserida dan menaikkan HDL kolesterol dalam serum.
Perbedaan penelitian Erryana dengan penelitian yang akan dilakukan
terletak pada penggunaan hewan coba, perlakuan terhadap hewan coba dan
konsetrasi kitosan yang diberikan pada masing-masing hewan coba. Dalam
penelitian ini peneliti hanya memfokuskan pada pengukuran kadar kolesterol total
yang terjdi setelah pemberian kitosan. Adapun persaamaan dari penelitian ini yaitu
melihat pengaruh kitosan terhadap penurunan kolesterol, sehingga jurnal ini dapat
dijadikan sebagai acuan dalam penelitian ini.
8. Penelitian Muhammad Fatah Wiyatna (2005)
Penelitian Fatah yang berjudul Pengaruh Tepung Cangkang Rajungan
(Portunus Pelagicus) Sebagai Sumber Kitin Dalam Ransum Terhadap Kandungan
Lemak Feses Dan Efisiensi Pakan Tikus Putih (Rattus Norvegiccus) Strain
Wistar, bertujuan untuk mengetahui pengaruh tepung cangkang rajungan
(Portunus pelagicus) sebagai sumber kitin dalam ransum terhadap kadar lemak
feses dan efisiensi pakan tikus putih (Rattus norvegicus) strain Wistar. Dalam
penelitiannya Fatah menggunakan 30 ekor tikus putih (Rattus norvegicus) strain
Wistar berumur 6 minggu, terdiri dari 15 ekor jantan dan 15 ekor betina. Berat
awal rata-rata tikus jantan 114,48 21.67 gram dan betina 105.76 13.11 gram.
Adapun parameter yang diukur dalam penelitian Fatah yaitu pertambahan bobot
badan dan kandungan lemak feses. Bobot badan dihitung setiap minggu selama 6
minggu pengamatan. Pengambilan data lemak feses dilakukan pada dua minggu
akhir penelitian dari seluruh hewan percobaan
Menurut Fatah penambahan tepung rajungan sebagai sumber kitin dalam
ransum dapat menghambat penyerapan lemak oleh tubuh dan mempercepat
berlalunya lemak tersebut keluar melalui feses. Hal ini terlihat dari jumlah lemak
feses dari tikus yang diberi tepung rajungan 10% (0,737%) lebih tinggi dari
kontrol (0,688%). Penambahan tepung rajungan dalam ransum tidak memberikan
pengaruh yang nyata terhadap kandungan lemak feses tikus putih. Kandungan
lemak feses tikus yang paling tinggi diperoleh dari tingkat penggunaan tepung
rajungan 10% (0.737%) yang diikuti level 15% (0.725%).

26

Penelitian yang dilakukan oleh Fatah memiliki perbedaan dengan penelitian


yang akan di lakukan yaitu sampel yang digunakan adalah tepung dari cangkang
kepiting yang mengandung kitin, sedangkan pada penelitian yang akan dilakukan
menggunakan kitosan yang merupakan turunan dari kitin. penelitian Fatah dapat
dijadikan acuan karena dalam penelitiannya terbukti bahwa dalam serbuk cangkan
mampu menyerap lemak yang ada pada tikus, hal ini dapat dilihat dari adanya
peningkatan lemak pada feses dari hewan coba.

BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup dari penelitian ini yaitu ilmu farmakologi dan fitokimia
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian di Laboratorium Fitokimia dan Farmakologi, Fakultas Olahraga
dan Kesehatan Universitas Negeri Gorontalo pada tahun 2016
3.3 Desain Penelitian
Desain penelitian yang digunakan yaitu true eksperimental dengan Posttest Only Control Design untuk menguji efek antihiperkolesterolemia dari kitosan
yang ada pada cangkang kepiting sebagai penurun kadar kolesterol pada kelinci
jantan (Oryctolagus cuniculus) yang diinduksi pakan lemak.

27

3.4 Alat dan Bahan


3.4.1 Alat
Alu, ayakan, disposable syringe (steriel e.o.gas), cawan porselin, gelas
kimia (pyrex), gelas ukur (pyrex), jarum injeksi, kandang kelinci, kain putih,
lumpang, oven, pipet, rak tabung reaksi, sentrifuge, NGT no 8, tabung reaksi,
tabung darah, tabung sentrifuge, timbangan analitik (KERN), timbangan digital
(Ohaus), baskom
3.4.2 Bahan
Alokohol 70%, aquadest, kertas saring, kertas lakmus, Na-CMC, asam
klorida (HCl), natrium hidroksida (NaOH), pakan lemak, serbuk cangkang
kepiting, kapas, tisu, aluminium foil, larutan ninhidrin, simvastatin
3.5 Cara Kerja
3.5.1 Pengambilan Sampel
Sampel kepiting bakau dibeli di pasar Baru Marisa Desa Duhiadaa
Kecamatan Duhiadaa Kabupaten Pohuwato.
3.5.2
a

Pengolahan Cangkang Kepiting


Pembuatan serbuk cangkang kepiting
Kepiting direndam dalam air panas untuk mempermudah pemisahan antara

cangkang dan bagian-bagian kepiting lainnya. Cangkang yang sudah dipisahkan


kemudia dicuci menggunakan air yang mengalir dan direndam dalam air hangat,
lalu dikeringkan di dalam oven. Setelah kering, cangkan kepiting kemudian
ditumbuk hingga halus kemudian diayak. Serbuk kepiting yang telah halus
kemudian disimpan dalam wadah.
b Pembuatan kitin
Demineralisasi
Serbuk cangkang kepiting ditimbang sebanyak 200 gram dimasukkan
kedalam gelas kimia. Ditambahkan larutan HCl 1 N dengan perbandingan 1:15
(b/v) ke dalam gelas kimia yang berisi serbuk kepiting dan diaduk. Serbuk
cangkang kepiting yang telah dilarutkan dengan HCl kemudian didiamkan selama
24 jam. Setelah itu disaring untuk memisahkan larutan dengan padatan. Padatan
yang diperoleh kemudian di cuci dengan aquadest beberapa kali sampai pH netral.
Jika pH padatan telah netral, maka padatan dikeringkan dalam oven. Serbuk kulit
kepiting yang diperoleh tanpa mineral kemudian didinginkan, lalu ditimbang.
Deproteinasi

28

Serbuk kulit kepiting hasil demineralisasi dimasukkan kedalam gelas kimia.


Ditambahkan larutan NaOH 3% dengan perbandingan 1:10 (b/v) ke dalam gelas
kimia yang berisi serbuk kepiting lalu dipanaskan pada suhu 85 0C selama 4 jam
sambil sesekali diaduk. Setelah itu disaring untuk memisahkan larutan dengan
padatan. Padatan yang diperoleh kemudian di cuci dengan aquadest beberapa kali
sampai pH netral. Jika pH padatan telah netral, maka padatan dikeringkan dalam
oven. Serbuk kulit kepiting yang diperoleh tanpa mineral kemudian didinginkan,
lalu ditimbang.
c

Pembuatan Kitosan

Deasetilasi
Hasil yang diperoleh dari proses deproteinasi (kitin) dilanjutkan dengan
proses deasetilasi dengan menambahkan NaOH 50% dengan perbandingan 1:20
(b/v). Campuran diaduk dan dipanaskan pada suhu 100 0C selama 4 jam sambil
sesekali diaduk. Setelah itu disaring untuk memisahkan larutan dengan padatan.
Padatan yang diperoleh di cuci dengan aquades beberapa kali sampai pH netral.
Padatan kemudia dikeringkan didalam oven pada kemudian didinginkan dan
ditimbang sampai berat konstan. Padatan (kitosan) yang diperoleh kemudian
dikarekterisasi secara kualitatif untuk menguji adanya

kitosan dengan

menggunakan larutan ninhidrine. Seberat 0,1 gram kitosan yang diperoleh


ditempatkan pada suatu wadah dan disemprotkan dengan larutan ninhidrine
kemudian didiamkan selama 5 menit. Diamati perubahan yang terjadi, jika sampel
berubah warna menjadi ungu makan benar padatan tersebut merupakan kitosan
karena adanya gugus amina bebeas.
Karakteristik Kirosan
Karakteristik kitosan yang dilakukan meliputi: tekstur, rendamen,
transformasi kitin menjadi kitosan, kadar air, dan kelarutan kitosan.
1. Rendamen
Rendamen transformasi kitin menjadi kitosan ditentukan berdasarkan
presentasi berat kitosan yang dihasilkan terhadap berat kitin yang digunakan
dalam proses transformasi kitin menjadi kitosan (Agustina, 2015):
% rendamen transformasi kitin menjadi kitosan
=Berat kitosan yang dihasilkan
X 100%
Berat kitin
29

2. Uji Ninhidrine
Seberat 0,1 gram kitosan yang diperoleh dari penelitian ditempatkan dalam
suatu wadah dan ditetesi dengan larutan ninhidrine kemudian didiamkan selama 5
menit. Diamati perubahan yang terjadi, jika sampel berubah warna menjadi ungu
maka benar adanya gugus amina bebas dalam sampel.
3.5.3 Pembuatan Pakan Lemak
Untuk pembuatan pakan lemak, digunakan kombinasi lemak kambing,
minyak kelapa, dan kuning telur dengan perbandingan 1:2:2. Jadi, jika dibuat 100
mL pakan lemak maka diukur 20 mL lemak kambing, 40 mL minyak kelapa dan
40 mL kuning telur, kemudian dicampur hingga homogen.
3.5.4 Pembuatan Suspensi Na-CMC 1% b/v
Untuk membuat larutan Na-CMC 1%, ditimbang Na-CMC sebesar 1 g dan
kemudian dimasukkan sedikit demi sedikit ke dalam 50 mL aquades panas sambil
diaduk dengan pengaduk hingga terbentuk larutan koloidal dan dicukupkan
volume hingga 100 mL dengan aquades dalam gelas kimia 100 mL.
3.5.5 Pembuatan Kitosan Dengan Konsentrasi 2%, 4% dan 6%
Pembuatan kitosan dengan 3 konsentrasi yaitu 2% 4%, dan 6% dilakukan
dengan melarutkan kitosan 2 g, 4 g, dan 6 g masing-masing ke dalam 100 mL
suspensi Na-CMC 1% lalu diaduk. Kitosan ini siap diberikan kepada hewan coba.
3.5.6 Pembuatan Suspensi Simvastatin 0,00583%
Simvastatin sebanyak 10 tablet ditimbang dan hitung bobot rata-rata. Setelah
itu, semua tablet simvastatin dimasukkan ke dalam lumpang dan digerus sampai
menjadi serbuk. Ditimbang 5,83 mg serbuk simvastatin kemudian disuspensikan
dalam Na-CMC 1% sedikit sambil diaduk, dicukupkan volumenya sampai 100
mL.
3.5.6 Perlakuan Terhadap Hewan Uji
Hewan uji yang akan digunakan adalah kelinci jantan (Oryctolagus
cuniculus) dengan BB 1,5 2,5 kg sebanyak 15 ekor. Kelinci diaklimatisasi
selama 1 minggu, ditimbang dan diberi pakan normal. Pada hari ke-8, semua
kelinci dipuasakan selama 8 jam diambil darahnya dan diukur kadar kolesterol
total sebagai kolesterol awal (H0). Setelah itu kelinci diinduksi dengan pakan
lemak sebanyak 20 mL menggunakan NGT nomor 10 selama 5 hari. Setelah
diinduksi kelinci dipuasakan selama 8 jam kemudian di ukur kadar kolesterol total
sebagai kondisi kolesterol yang melebihi normal (hiperkolesterolemia) (Ht).

30

Kelinci hiperkolesterolemia kemudian dikelompokkan secara acak menjadi


5 kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 3 ekor kelinci. Kelompok I
(kontrol negatif) diberikan pakan lemak 5 mL + Na-CMC 1% dan kelompok II
(kontrol positif) diberikan pakan lemak 5 mL + obat penurun kolesterol
simvastatin 46,5 mg. Kelompok III, IV, V masing-masing diberikan pakan lemak
5 mL + kitosan dengan konsentrasi 2 %, 4%, dan 6%.
Perlakuan pada masing-masing kelompok tersebut dilakukan selama 12
hari, setelah itu pada hari ke-4, 8 dan 12 kelinci dipuasakan lagi selama 8 jam,
kemudian diambil sampel darah untuk diukur kadar kolesterol total (H4) (H8),
(H12).
Pengambilan sampel darah
Rambut yang ada pada permukaan telinga kelinci dicukur menggunakan
pisau cukur, dibalut dengan air hangat dan dioleskan alkohol sehingga akan
nampak vena marginalis pada telinga kelinci. Kemudian dengan menggunakan
disposible syringe 1 mL diambil darah dari vena marginalis sebanyak 0,1 mL
(darah pertama) lalu dibuang. Darah (kedua) selanjutnya diambil sebanyak 1 mL
dimasukkan ke dalam tabung darah untuk diuji kadar kolesterol.
3.6

Analisis Data
Data yang diperoleh kemudian dihitung presentase penurunan kadar

kolesterol totalnya. Presentase penurunan kadar kolesterol total hari ke-3, 6, dan 9
pada kontrol positif, kontrol negatif, tidak diberikan perlakuan, pemberian kitosan
2%, 4%, dan 6% dapat dihitung dengan cara sebagai berikut:
Ct C0
X 100%
Keterangan:Penurunan
Ct = Kadar kolesterol
induksi
Presentase
= Ct setelah
C0 = Kadar kolesterol setelah diberi perlakuan
Analisis data dilakukan dengan uji stasistika anova satu arah One Way
Anova. Namun sebelum dilakukan analisis anova harus dipenuhi terlebih dahulu
syarat yaitu sampel harus berasal dari kelompok yang independen, varian antara
kelompok harus homogen dan data masing-masing kelompok terdistribusi secara
normal. Oleh karena itu, masing-masing data diuji varian homogenitasnya (Test of
Homogeneity of Variance) dengan standar deviasi dan uji Levens, serta diuji
normalitasnya (Test of Normality) dengan Shapiro-Wilk. Jika data yang didapat

31

setelah uji tersebut bervarian homogen dan tersistribusi secara normal, maka
dilanjutkan dengan uji anova satu arah (One Way Anova) dengan taraf
kepercayaan 95% untuk mengetahui adanya perbedaan bermakna antara
kelompok perlakuan. Setelah itu, dilakukan lagi Uji Post Hoc yang berdasarkan
Uji Beda Nyata Terkecil (LSD) untuk melihat perbedaan perlakuan pada masingmasing kelompok (Siraita, 2001).
BAB IV
HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian
1.
Presentasi Rendamen Kitosan
Tabel 4.1: Berat Padatan yang Diperoleh dari masing-masing Proses
Berat Sampel Proses Pembuatan Kitosan
Pelarut
Berat Serbuk
200 gram
Demineralisasi
HCl 1,5 M
89,12 gram
89,12 gram
Deproteinasi
NaOH 3%
59,05 gram
59,05 gram
Deasetilasi
NaOH 50%
26,07 gram
Tabel 4.1 menunjukan bahwa berat padatan kitosan yang diperoleh adalah
26,07 gram setelah melalui beberapa proses yaitu proses demineralisasi,
deproteinasi, dan deasetilasi. Pada proses demineralisasi, serbuk yang diperoleh
yaitu 82,12 gram, sedangkan pada proses deproteinasi serbuk (kitin) yang
diperoleh yaitu 59,05 gram. Untuk mendapatkan kitosan maka dilakukan proses
deasetilasi pada serbuk kitin. Kitosan yang diperoleh setelah proses deasetilasi
yaitu 26,07 gram.
2.
Uji Skrining Fitokimia
Tabel 4.2: Hasil Uji Skrining Fitokimia
Pereaksi
Hasil Uji
Simpulan
Ninhidrine
Serbuk berwarna ungu
Positif Kitosan
Untuk mendeteksi kitosan dapat digunakan pereaksi ninhidrine. Menurut
Sanjaya (2007) pereaksi ninhidrin digunakan untuk mengetahui ada dan tidaknya
gugus amina bebas pada serbuk kitosan. Apabila terdapat gugus amina bebas pada
kitosan maka serbuk akan berubah menjadi warna ungu.

32

Tabel 4.3: Penurunan Kadar Kolesterol Total dan Presentasi Rata-rata


Penurunan Kadar Kolesterol Total
Kadar Kolesterol Total Darah
Setelah
Setelah diberi kitosan

Perlakuan

Hewan
Coba

Awal
(H0)

induksi

2%, 4%, dan 6%

pakan

(mg/dl)

lemak (Hari
ke-5) (Ht)

Kitosan 2%

Kitosan 4%

Kitosan 6%

Simvastatin

Na-CMC 1%

1
2
3
Rata-rata
4
5
6
Rata-rata
7
8
9
Rata-rata
10
11
12
Rata-rata
13
14
15
Rata-rata

43
51
56

(mg/dl)
182
152
119

49
39
51

136
123
111

54
48
44

109
133
96

52
42
43

111
135
128

44
50
52

122
109
102

H4

H8

H12

196
159
127
160,66
115
151
100
122
100
93
80
91
111
125
100
112
148
138
118
134,67

115
125
140
128
101
91
86
92,67
52
52
49
51
92
99
87
92,67
190
193
168
183,67

129
107
78
104,67
50
52
51
51
35
35
25
31,67
53
47
35
45
251
220
233
234,67

Tabel 4.4 Nilai fisiologi kelinci (Malole dan Pramono, 1989)


Hewan Coba
Kelinci

Kadar Kolesterol Normal


Kolesterol : 35 53 mg/dl
Trigliserida : 124 156 mg/dl

Tabel 4.3 menunjukan penurunan kadar kolesterol total kelinci pada saat
sebelum perlakuan, setelah diberi pakan lemak, dan setelah perlakuan selama 12
hari. Sebelum diberi perlakuan kadar kolesterol total dalam darah kelinci
menunjukan 13 dari 15 kelinci memiliki kadar kolesterol normal yakni masuk
dalam range 35-53 mg/dl sesuai dengan tabel 4.4, dan 2 kelinci lainnya memiliki

33

kadar total kolesterol darah yang melebihi angka normal. Tabel 4.3 juga
menunjukan adanya peningkatan kadar total kolesterol dalam darah setelah
diinduksi dengan pakan lemak dan penurunan kadar kolesterol oleh masingmasing kelompok perlakuan kecuali untuk kelompok dengan perlakuan Na-CMC.
Dari masing-masing kelompok setelah diberikan perlakuan selama 12 hari,
ditemukan 1 ekor hewan yang mengalami hipokolesterolemia yaitu pada
kelompok perlakuan yang diberi kitosan 6% dengan kadar kolesterolnya mencapai
25 mg/dl. Sedangkan untuk kadar kolesterol total pada hewan dengan perlakuan
kitosan 4%, 2 ekor hewan coba dengan kitosan 6%, dan simvastatin menunjukan
kadar kolesterol total normal. hal ini dikarenakan kadar kolesterol total hewan
pada masing-masing kelompok tersebut masuk dalam range kategori kadar
kolesterol total normal pada kelinci yaitu 35-53 mg/dl (Malole dan Pramono,
1989).

Tabel 4.5 Presentasi Rata-rata Penurunan Kadar Kolesterol Total

Perlakuan

Pakan lemak 5 ml
+ Kitosan 2%
Pakan lemak 5 ml
+ Kitosan 4%
Pakan lemak 5 ml
+ Kitosan 6%
Pakan lemak 5 ml

Presentase Rata-

Presentase Rata-

Presentase Rata-

rata Penurunan

rata Penurunan

rata Penurunan

Kadar

Kadar Kolesterol

Kadar Kolesterol

Kolesterol Pada

Pada hari ke-8

Pada hari ke-12

hari ke-4 (%)

(%)

(%)

-6,34%

15,02

31,07

0,73%

24,64

58,33

18,33%

45,05

71,84

9,76%

25,30

63,36

34

+ Simvastatin
Pakan lemak 5 ml

-23,26%
-65,84
-111,99
+ Na-CMC 1%
Tabel 4.5 menunjukan rata-rata penurunan kadar kolesterol total kelinci

pada hari ke 4, 8 dan 12 setelah perlakuan dengan kitosan 2%, 4% dan 6%,
kontrol positiv (simvastatin), dan kelompok negatif (Na-CMC). Hari ke 4 setelah
perlakuan terlihat kelompok dengan kitosan 6% memiliki presentasi penurunan
kadar kolesterol paling besar yaitu 18,33% akan tetapi hal ini belum menurunkan
kadar kolesterol total pada kelinci karena data kadar kolesterol total belum masuk
kategori normal. penurunan kadar total kolesterol menjadi normal terlihat pada
data kelompok kitosan 6% pada hari ke 8 setelah perlakuan dengan presentasi
penurunan sebesar 45,05%. Sedangkan pada hari ke 12 setelah perlakuan terlihat
penurunan kadar kolesterol total pada kelompok perlakuan kitosan 4%,
simvastatin dan kitosan 6% dengan pesentase terbesar yaitu 71,84%.
4.2

Pembahasan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek antihiperkolesterolemia dari

kitosan cangkang kepiting pada kelinci jantan yang telah dihiperkolesterolemia


terlebih dahulu dan kemudian diberi kitosan. Kitosan adalah turunan dari kitin
yang merupakan salah satu penyusun kulit hewan crustaceae, insekta, fungi,
mollusca dan arthropoda. Cangkang kepiting, udang dan lobster telah lama
diketahui sebagai sumber bahan dasar produksi kitin, karena kandungan kitinnya
cukup tinggi yaitu 20-50% (Suhardi,1993). Dalam penelitian ini digunakan
cangkang kepiting karena menurut Margahof (2003) kandungan kitin dari kulit
udang lebih sedikit dibandingkan kulit atau cangkang kepiting. Kandungan kitin
pada cangkang kepiting mencapai 50-60% sementara pada limbah udang
menghasilkan 20-30%, sedangkan pada cumi-cumi dan kerang masing-masing 20
dan 14-15%.
Pemanfaatan kitin sebagai antihiperkolesterolemia sangat jarang digunakan
karena secara kimiawi kitin merupakan polimer yang tidak dapat dicerna oleh
mamalia. Kitin tidak larut dalam air dan apabila bercampur dengan protein dalam
tubuh akan mengendap. Namun dengan memodifikasi struktur kimianya maka

35

akan diperoleh senyawa turunan kitin yang dapat dicerna oleh tubuh yaitu kitosan
(Suharyanto, 2013).
Selain kitin, cangkang kepiting juga mengandung protein, mineral dan
pigmen (Margahof, 2003), oleh sebab itu perlu dilakukan pemisahan untuk
mendapatkan serbuk kitin yang murni. Pemisahan senyawa pada cangkang
dilakukan

dengan

beberapa

proses

yaitu

demineralisasi,

deproteinasi,

depigmentasi, dan untuk mengubah kitin menjadi kitosan dilakukan proses


deasetilasi. Pada penelitian ini tidak dilakukan proses depigmentasi karena
menurut Agustina (2015) Proses depigmentasi atau decolorisasi bertujuan untuk
menambah nilai estetika pada serbuk kitin yaitu untuk menghasilkan warna putih
pada kitin dan tidak berpengaruh dalam penurunan kadar kolesterlol. Hal ini dapat
dilihat dari penelitan Muflihunna (2010) dan Puspitasari (2014)

yang tidak

melakukan proses ini.


4.2.1 Rendamen Kitosan
Dalam proses pembuatan kitosan, cangkang kepiting harus melalui
beberapa proses antara lain demineralisasi, deproteinasi, dan deasetilasi. Sebelum
dilakukan ketiga proses tersebut, cangkang kepiting dibuat serbuk terlebih dahulu
agar mempermudah pemisahan senyawa lain yang ada pada cangkang. Pembuatan
serbuk dilakukan dengan mengumpulkan cangkang kepiting yang telah dipisahkan
dari bagian dagingnya, kemudian dicuci bersih dengan air yang mengalir lalu
direndam dalam air hangat. Pencucian dan pernedama ini bertujuan untuk
menghilangkan kotoran-kotoran pada cangkang kepiting. Setelah dibersihkan,
cangkang kemudian di keringkan dalam oven hingga kering. Pengeringan
bertujuan agar saat pembuatan serbuk nanti, serbuk yang dihasilkan tidak
mengandung air (serbuk kering). Setelah kering, cangkang kemudian dihaluskan,
lalu diayak dan ditimbang. Serbuk cangkang kepiting yang diperoleh adalah 200
gram.
Proses awal yang dilakukan yaitu demineralisasi. Proses ini bertujuan untuk
menghilangkan kandungan mineral yang ada pada cangkang. Kandungan mineral
yang ada pada cangkang yaitu kalsium karbonat (CaCO 3) dan kalsium fosfat
(Ca3(PO4)2) dalam jumlah kecil. Mineral yang terkandung dalam cangkang ini
lebih mudah dipisahkan dibandingkan protein karena hanya terikat secara fisik

36

(Marganov, 2003). Proses demineralisasi dilakukan dengan melarutkan serbuk


cangkang kepiting dengan asam klorida (HCl) 1 N dengan perbandingan 1:15
(b/v). Menurut Ramadhan (2010), Kusumaningsih (2014) dan Muflihunna (2010)
asam klorida 1 N dapat menghilangkan mineral yang ada pada cangkang.
Penambahan larutan asam klorida 1 N dilakukan secara perlahan sambil diaduk
agar sampel tidak meluap. Setelah itu serbuk yang telah direndam oleh asam
klorida di tutup menggunakan Aluminium foil dan didiamkan selama 24 jam.
Proses yang terjadi pada tahap demineralisasi adalah serbuk cangkang akan
bereaksi dengan asam klorida sehingga akan terjadi pemisahan mineral dari
serbuk cangkang. Proses pemisahan mineral ini ditunjukan dengan terbentuknya
gas CO2 berupa gelembung udara saat larutan asam klorida ditambahkan ke dalam
sampel (Agustina, 2015). Sampel kemudian dicuci dengan aquadest sampai pH
sampel netral. Pencucian sampel bertujuan untuk menghilangkan asam klorida
yang telah bereaksi dengan mineral pada sampel. Hilangnya asam klorida pada
sampel ditandai dengan netralnya pH sampel. Setelah pH sampel netral, sampel
kemudian dikeringkan di dalam oven sampai kering. Sampel yang kering akan
menjadi serbuk dengan warna kecoklatan, serbuk bebas mineral tersebut
kemudian ditimbang. Pada proses demineralisasi ini serbuk bebas mineral yang
didapatkan yaitu 89,12 gram.
Proses kedua yaitu

deproteinasi.

Deproteinasi

dilakukan

dengan

menggunakan larutan basa encer untuk menghilangkan sisa-sisa protein yang


masih terdapat dalam bahan baku (Puspitasari, 2014). Menurut Agustina (2015)
protein yang terkandung dalam cangkang kepiting larut dalam larutan basa
sehingga protein yang terikat secara kovalen pada gugus fungsi kitin akan
terpisah. Adapun tujuan dari proses ini untuk memisahkan atau melepaskan
ikatan-ikatan protein dari kitin. Penghilangan protein pada kitin dilakukan dengan
mencampurkan serbuk yang telah bebas mineral dengan larutan NaOH 3% dengan
perbandingan 1:10 (b/v) pada suhu 85 0C selama 4 jam sambil diaduk. Proses
pengadukan dan pemanasan bertujuan untuk mempercepat pengikatan ujung
rantai protein dengan NaOH sehingga proses degradasi dan pengendapan protein
berlangsung sempurna (Austin, 1981). Menurut Sukardjo (2011) dan Muflihunna

37

(2010) Menambahkan serbuk cangkang kepiting dengan NaOH 3% pada suhu 80850C selama 4 jam dapat mengikat protein yang terkandung di dalamnya dengan
cara protein akan diubah menjadi garam natrium proteinat yang larut dalam air.
Setelah itu sampel kemudian dicuci dengan aquadest sampai pH sampel menjadi
netral. Pencucian ini bertujuan untuk menghilangkan natrium hidroksida dan
protein yang telah larut dalam air pada sampel. Sampel yang telah bebas protein
kemudian dikeringkan dalam oven lalu ditimbang. Berat sampel yang didapat
yaitu 59,05 gram dengan warna sampel coklat pudar. Menurut Ramadhan (2010)
dan Weska (2006) serbuk cangkang kepiting yang telah melewati tahap
demineralisasi dan deproteinasi atau dengan kata lain telah bebas dari mineral dan
protein merupakan serbuk kitin. Berat kitin yang diperoleh sesuai dengan yang
dikatakan oleh Rochima (2006) yaitu kitin yang terkandung dalam crutaceae
berada dalam kadar yang cukup tinggi yaitu berkisar 20-60%.
Penggunaan kitin sangat terbatas, oleh sebab itu kebanyakan kitin
dimodifikasi menjadi kitosan. Pembuatan kitosan dilakukan melalui proses
deasetilasi kitin. Deasetilasi merupakan proses pembentukan kitosan dari kitin
dengan menggunakan NaOH untuk mengganti gugus asetil (-NHCOCH3) dengan
gugus amina (-NH2) (Hargono, 2008). Hargono (2008) dan Ramadhan (2010)
menyatakan deasetilasi dengan menggunakan NaOH 50% akan mendapatkan
kitosan yang lebih baik. Oleh sebab itu serbuk kitin yang telah didapat tadi
dicampurkan dengan NaOH 50% dengan perbandingan 1:20 dan dipanaskan pada
suhu 100 0C Selama 4 jam. Menurut Bastaman (1989) proses deasetilasi dalam
basa kuat dan panas menyebabkan hilangnya gugus asetil pada kitin dan
mengakibatkan kitosan bermuatan positif sehingga dapat larut dalam asam
organik.
Serbuk yang telah melalui proses deasetilasi kemudian dicuci dengan
aquades hingga pH serbuk menjadi netral. Hal ini sama seperti pada proses
demineralisasi dan deproteinasi. Serbuk yang telah memimiliki pH netral lalu
dikeringkan di oven dan ditimbang. Serbuk tersebut adalah kitosan. Kitosan yang
diperoleh adalah 26,07 gram.
Reaksi yang terjadi pada proses deasetilasi yaitu serbuk kitin yang
direaksikan dengan alkali pada suhu tinggi akan menyebabkan gugus (CH3CHO-)

38

dari molekul kitin akan putus. Gugus amida pada kitin akan berikatan dengan
gugus hidrogen bermuatan positif sehingga membentuk gugus amina bebas (NH2) (Mahatmanti, 2001). Menurut (Agustina, 2015) reaksi pembentukan kitosan
dari kitin merupakan reaksi hidrolisis dari kitin yaitu reaksi hidrolisis suatu amida
oleh suatu basa. Kitin bertindak sebagai amida dan NaOH sebagai basanya. Mulamula terjadi reaksi adisi, gugus OH- masuk ke dalam gugus NHCOCH 3
kemudian terjadi eliminasi gugus CH3COO- sehingga dihasilkan suatu amina
yaitu kitosan. Kitosan lebih mudah dimodifikasi dari pada kitin, karena dapat larut
dalam beberapa pelarut sedehana. Selain itu, keberadaan gugus amina yang lebih
banyak memudahkan kitosan berinteraksi dengan senyawa lain dibandingkan kitin
(Irawati, 2007).
4.2.2 Skirining Fitokimia
Serbuk kitosan yang

diperoleh

dilakukan

uji

kualitatif

dengan

menggunakan pereaksi ninhidrine dengan cara 0,1 gram serbuk yang diperoleh
ditempatkan pada suatu wadah, lalu disemprotkan dengan pereaksi ninhidrine dan
didiamkan selama 5 menit. Serbuk kitosan yang telah disemprotkan pereaksi
ninhidrine akan berwarna ungu. Menurut Sanjaya (2007) hasil uji ninhidrine
kitosan menunjukan positif dapat dilihat dari perubahan warna kitosan yang
berwarna putih krem menjadi ungu. Ninhidrine merupakan oksidator kuat yang
bereaksi dengan gugus amina dari senyawa kitosan menghasilkan warna ungu.
Adapun reaksi yang terjadi yaitu: C9H6O4 + C6H11NO4 = C15H17NO8. Produk
(C15H17NO) yang dihasilkan oleh campuran antara ninhidrine dan kitosan
mengasilkan warna ungu dikarenakan adanya dua molekul ninhidrin yang
bereaksi dengan atom nitrogen pada kitosan (Marwan, 2010).
Ninhidrine digunakan untuk mengetahui ada dan tidaknya gugus amina
bebas pada kitosan. Berdasarkan penelitian ini serbuk kitosan yang telah
disemprotkan pereaksi ninhidrine berubah warna menjadi ungu, hal ini
membuktikan bahwa serbuk yang diperoleh positif kitosan.
4.2.3 Perlakuan pada Hewan Uji
Setelah serbuk positif kitosan, maka langkah selanjutnya dilakukan
pengamatan terhadap pengaruh kitosan cangkang kepiting terhadap penurunan
kadar kolesterol total pada kelinci jantan. Seperti yang dikatakan dalam jurnal
Amirullah (2010) bahwa telah dilakukan penelitian yang mengungkapkan bahwa

39

serat kitosan dapat menghambat penyerapan lemak baik secara in vitro maupun in
vivo baik pada hewan coba maupun tubuh manusia. Penelitian oleh suatu tim di
laboratorium Biokimia IPB (2002) menunjukan bahwa secara in vitro (dalam
tabung) molekul kitosan dapat mengikat molekul kolesterol sampai 18,6%.
Dalam penelitian ini digunakan 15 ekor kelinci jantan yang berusia 1 tahun
dengan berat 1-2,5 kg. Penggunaan kelinci sebagai hewan percobaan karena
fisiologi kelinci mirip dengan manusia (Raharjo, 2010). Pengambilan darah pada
kelinci lebih banyak yaitu sebanyak 20-50 mL dibandingkan dengan hewan coba
mencit dan tikus (Malole dan Pramono, 1989). Selain itu, digunakan kelinci jantan
agar hasil yang diperoleh bervariasi dan homogen, serta memudahkan dalam
penginduksian lemak. Hal ini disebabkan penginduksian lemak memungkinkan
kadar kolesterol total pada kelinci jantan lebih tinggi dari pada kelinci betina yang
memiliki banyak hormon salah satunya estrogen yang dapat mempengaruhi
peningkatan kolesterol total dalam darah, akibatnya kelinci betina membutuhkan
waktu yang lama untuk meningkatkan kadar kolesterolnya (Tiano, 2011). Kelinci
yang digunakan juga berusia 1 - 2,5 tahun karena kelinci ini merupakan kelinci
dewasa yang peningkatan kolesterolnya lebih cepat jika diinduksi pakan lemak
berlebihan dibandingkan kelinci yang berusia tua yang memiliki pencernaan yang
kurang baik, sehingga tidak dapat mencerna pakan lemak yang diinduksi dan
mengakibatkan peningkatan kadar kolesterol kelinci membutuhkan waktu yang
lama (Foster dan Smith, 2012).
Kelinci yang digunakan berjumlah 15 ekor dan dibagi menjadi 5 kelompok
masing-masing kelompok terdiri dari 3 ekor kelinci. Kelompok I diberi pakan
lemak 5 mL dan kitosan 2%, kelompok II diberi pakan lemak 5 mL dengan
kitosan 4%, kelompok III diberi pakan lemak 5 mL dan kitosan 6 %, kelompok IV
diberi pakan 5 mL dan simvastain (kontrol positif) kelompok V yaitu kelompok
yang diberi pakan lemak 5 mL dan Na-CMC (kontrol negatif). Penambahan pakan
lemak 5 ml saat perlakuan ini bertujuan untuk mengilustrasikan seperti seseorang
yang dalam keadaan hiperkolesterol tetapi masih sering mengkonsumsi makananmakan yang mengandung kolesterol tinggi.
Penelitian ini dilakukan selama 24 hari dengan terlebih dahulu
mengaklimatisasi hewan coba selama 8 hari kemudian dilakukan pengukuran

40

kadar kolesterol yang terdiri atas pengukuran kadar kolesterol awal, kadar
kolesterol setelah diinduksi pakan lemak selama 5 hari dan kadar kolesterol
setelah pemberian perlakuan. Pengamatan setelah perlakuan dilakukan selama 12
hari dengan pengambilan sampel darah sebanyak 3 kali yaitu pada hari ke- 4, 8,
dan 12.
Untuk kondisi hiperkolesterolemia, kelinci diinduksi dengan pakan lemak
sebagai penginduksi karena pakan lemak ini mampu meningkatkan kadar
kolesterol dalam darah. Komposisi pakan lemak yang digunakan terdiri dari
lemak kambing, kuning telur dan minyak kelapa dengan perbandingan 1:2:2. Hal
ini seperti pada penelitian Advinda (2010) yang membuktikan bahwa penggunaan
lemak kambing, kuning telur, dan minyak kelapa dengan perbandingan tersebut
dapat dengan cepat meningkatkan kadar kolesterol dalam darah. Selian itu
pemilihan kombinasi lemak kambing, kuning telur, dan minyak kelapa karena
kombinasi ini memiliki kadar lemak jenuh dan kolesterol yang tinggi. Minyak
kelapa dan kuning telur mengandung lemak jenuh sebesar 85 mg dan 54 mg atau
29,98% dari bobot kuning telur. Sedangkan untuk kandungan kolesterol lemak
kambing mengandung lemak jenuh sebesar 550 mg (Santoso 2013).
Simvastatin dipilih sebagai kontrol positif karena simvastatin merupakan
obat pilihan pertama yang efektif, aman dan paling banyak digunakan oleh
masyarakat dalam pengobatan hiperkolesterolemia. Mekanisme kerja dari
simvastatin dan kitosan berbeda. Simvastatin bekerja sebagai inhibitor kompetitif
yaitu menghambat kerja enzim dengan cara menempati sisi aktif enzim HMGCoA reduktase sehingga substrat tidak dapat berikatan dengan enzim dan terjadi
kegagalan sintesis kolesterol (Witztum, 1996). Sedangkan menurut Anderson
(1990) kitosan merupakan salah satu serat larut bekerja di dalam usus mengikat
asam empedu sehingga bahan dasar atau prekursor untuk sintesis kolesterol
berkurang dann menyebabkan sintesis kolesterol menurun. Mekanisme kerja
kitosan sama seperti obat kolesterol golongan asam empedu sequestrans dan
golongan penghambat absorbsi kolesterol. Namun kedua golongan obat ini kurang
dikonsumsi oleh masyarakat sebagai obat antikolesterol karena memiliki efek
samping dan dapat beriteraksi dengan obat lain lebih banyak dibandingkan dengan
simvastatin. Dalam beberapa jurnal seperti pada jurnal Agustina (2015),

41

Suharyono (2013) tentang kitosan, penggunaan simvastatin sering digunakan


karena sama-sama menurunkan kolesterol total khususnya kolesterol LDL
meskipun memiliki mekanisme yang berbeda. Alasan lain digunakan simvastatin
sebagai kontrol positif adalah berdasarkan latar belakang penelitian ini didasarkan
pada efek samping dari obat simvastatin yang dapat menimbulkan miopati toksik.
Oleh sebabnya dalam penelitian ini menggunakan obat simvastatin sebagai
pembanding (kontrol positif).
Kontrol negatif yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Na-CMC karena
Na-CMC merupakan pembawa untuk kitosan dan simvastatin yang keduanya
tidak larut dalam air. Penggunaan Na-CMC bertujuan untuk melihat pengaruh NaCMC teerhadap kadar kolesterol total darah kelinci sehingga penurunan kadar
kolesterol total darah oleh kitosan dan simvastatin dapat terlihat dengan jelas.
4.2.4 Penurunan Kadar Kolesterol Total
Hasil yang diperoleh dari penelitian ini ditunjukan pada tabel 4.4 pada hasil
pengamatan. Berdasarkan tabel tersebut, dapat dilihat bahwa setelah pemberian
pakan lemak selama 5 hari terjadi peningkatan kadar kolesterol darah kelinci yang
melebihi batas normal (35-53 mg/dl). Keadaan ini disebut hiperkolesterolemia
yaitu suatu keadaan dimana kadar kolesterol dalam darah melebihi batas normal
(Hardjono, 2003). Pada hari ke 4 setelah perlakuan terjadi perubahan kadar
kolesterol dalam darah pada masing-masing kelompok dimana kelompok yang
diberi 5 mL pakan lemak dan kitosan 2% dan kelompok yang diberi pakan lemak
5mL dan Na-CMC tidak menunjukan adanya penurunan pada kadar kolesterol
total, hal ini ditunjukan oleh

nilai dari presentasi kadar dari masing-masing

kelompok adalah -6,34 mg/dl dan -23,26 mg/dl (angka (-) menunjukan adanya
kenaikan kadar kolesterol). Sedangkan untuk kelompok perlakuan yang diberi
pakan lemak 5 mL dan kitosan 4%, pakan lemak 5 mL dan kitosan 6%, pakan
lemak 5 mL dan simvastatin mengalami penurunan dengan presentasi penurunan
sebanyak 0,73%, 18,33% dan 9,76%.
Sedangkan pada hari ke 8 setelah perlakuan terjadi penurunan kadar
kolesterol oleh masing-masing kelompok perlakuan yang diberi kitosan dan
simvastatin (kontrol positif). Untuk kelompok yang diberi kitosan 2% terjadi
penurunan sebesar 15,02%, untuk kelompok yang diberi kitosan 4% terjadi

42

penurunan sebesar 24,64%, untuk kelompok yang diberi kitosan 6% terjadi


penurunan sebesar 45,05%, dan untuk kelompok yang diberi simvastatin terjadi
penurunan sebesar 25,30%. Hal sebaliknya terjadi pada kolompok yang diberikan
Na-CMC. Pada kelompok Na-CMC terjadi kenaikan kadar kolesterol hal ini
ditandai dengan presentase penurunan kadar kolesterol menjadi -65,84%. Pada
hari ke 12 setelah perlakuan kelompok yang diberi kitosan dan simvastatin
mengalami penurunan, sedangkan pada kelompok yang diberikan Na-CMC
mengalami peningkatan kadar kolesterol. Presentasi penurunan kadar kolesterol
terbesar terjadi pada kelompok yang diberikan kitosan 6% dengan presentasi
penurunan sebesar 71,84% lalu simvastatin dengan presentasi penurunan sebesar
63,36%. Kelompok yang diberi kitosan 2% dan 4% masing-masing terjadi
penurunan kadar kolesterol sebesar 31,07% dan 58,33%, sedangkan untuk
kelompok yang diberikan Na-CMC tidak terjadi penurunan akan tetapi terjadi
kenaikan kadar kolesterol total.
Penurunan kadar kolesterol total terbesar terjadi pada kelompok yang
diberikan kitosan 6%. Menurut Agustina (2015) Dilihat dari kemampuan kitosan
dalam menurunkan kadar kolesterol total dalam darah, semakin tinggi kadar
kitosan yang diberikan maka semakin rendah kadar kolesterol total dalam darah.
Pada kelompok perlakuan yang diberi kitosan 6% terdapat 1 ekor hewan
coba mengalami hipokolesterolemia dengan kadar kolesterol yang mencapai 25
mg/dl. Keadaan hipokolesterolemia adalah keadaan dimana kadar kolesterol
dalam darah tidak mencapai angka normal yaitu 35-53 mg/dl (Malole dan
Pramono, 1989). Akan tetapi setelah dilihat dari beberapa jurnal keadaan
hipokolesterolemia pada hewan tersebut dipengaruhi oleh keadaan fisiologi
hewan. Hal ini didukung oleh penelitian Muflihunna (2010) yaitu penggunaan
kitosan 5%-10% dapat menurunkan kadar kolesterol dan tidak ditemukan adanya
hewan uji yang mengalami hipokolesterolemia. Selain itu pada penelitian
Warsono (2014) menyatakan bahwa penggunaan kitosan 15%-20% menyebabkan
terjadinya peningkatan kadar kolesterol setelah mencapai penurunan pada
pemberian kitosan 10%. Ia juaga menyatakan bahwa, apabila jumlah kolesterol
eksogen kecil, maka sintesis kolesterol endogen akan meningkat sampai ambang
batas normal untuk menjaga homeostatisnya. Berdasarkan perhitungan konversi

43

dosis kelinci ke manusia, pemberian kitosan 2%, 4%, dan 6% masih bisa
ditoleransi oleh tubuh manusia karena menurut Hardjito (2006) belum ada efek
negatif kitosan terhadap manusia dan toleransi untuk manusia adalah 1,333 gr/kg
berat badan, sedangkan dosis kitosan yang diperoleh pada masing-masing
konsentrasi adalah 0,284 g, 0,568 g, dan 0,852 g. Pada manusia kitosan tidak
dapat dicerna sehingga tidak mempunyai nilai kalori dan langsung dikeluarkan
oleh tubuh bersama feses.
Adapun mekanisme penurunan kolesterol oleh kitosan yaitu kitosan mampu
berikatan dengan bahan organik termasuk asam empedu. Asam empedu berfungsi
untuk mengemulsikan lemak menjadi asam lemak yang dapat diserap oleh tubuh,
dengan diikatnya asam empedu oleh kitosan maka jumlah asam empedu bebas
akan berkurang dan memicu dibentuknya asam empedu baru dari kolesteol yang
ada

didalam

darah

(Purnawati,1997).

sehingga

Dalam

kadar

penelitian

kolesterol
yang

darah

dilakukan

akan
Guangfei

menurun
(2007)

menyimpulkan pembentukan asam empedu oleh hati mengakibatkan peningkatan


reseptor LDL dihati. Menurut Amirullah (2010) selain mengikat asam empedu,
kitosan juga mampu berikatan dengan asam lemak dengan cara kitosan yang
mempunyai gugus bermuatan positif akan menarik muatan negatif dari asam
lemak, sehingga asam lemak tidak dapat diserap oleh tubuh dan dibuang melalu
feses. Penelitian Agustina (2015) juga menyimpulkan bahwa jumlah kadar lemak
pada feses mengalami peningkatan pada kelompok yang diberi kitosan
dibandingkan dengan kelompok yang diberikan simvastatin.
Hasil dari penurunan kadar kolesterol total darah tersebut selanjutnya
dianalisis statistika untuk mengetahui pengaruh pemberian dari masing-masing
perlakuan terhadap hewan uji. Untuk uji normalitas data (Test of Normality) diuji
dengan menggunakan Shapiro-Wilk dan uji varians homogentiasnya (Test of
homogeneity of Variances) diuju dengan menggunakan uji Levene. Hasil
perolehan pada tabel Test of Normality dan Test of homogeneity of Variances pada
lampiran 11 menunjukkan bahwa presentasi penurunan kadar kolesterol total
darah berdistribusi normal dan memiliki varians yang homogen artinya
penyebaran data presentase penurunan kadar kolesterol tidak beda jauh dengan
angka presentase yang sama.

44

Uji selanjutnya yang dilakukan yaitu uji Anova (One Way Anova) untuk
mengetahui perbedaan yang bermakna antar kelompok perlakuan dengan kitosan,
kelompok kontrol positif (simvastatin) dan kelompok kontrol negatif (Na-CMC).
Hasil analisis statistika dengan menggunakan One Way Anova untuk pengujian
perurunan kadar kolesterol total darah menunjukan bahwa nila Fhitung > Ftabel pada
taraf 5% yakni 4.875 serta nilai P atau nilai Sig < 0,05 yakni 0,019 < 0,05. Hal
ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan bermakna pada nilai rata-rata
penurunan kadar kolesterol dari masing-masing kelompok perlakuan pada hari ke
4, 8, dan 12 yaitu perlakuan dengan kitosan 5% memiliki rata-rata -6,34%,
15,02%, dan 31,07%, perlakuan dengan kitosan 4% memiliki rata-rata 0,73%,
24,64%, dan 58,33%, perlakuan dengan kitosan 6% memiliki rata-rata 18,33%,
45,05%, 71,84%, untuk perlakuan simvastatin memiliki rata-rata 9,76%, 25,03%,
dan 63,36%, sedangkan untuk perlakuan dengan Na-CMC memiliki rata-rata
-23,26%, -65,84%, dan -111,99%.
Hasil analisis selanjutnya dilanjutkan denga uji Post Hoc yang berdasarkan
test LSD untuk mengetahui perbedaan presentasi penurunan kadar kolesterol pada
masing-masing kelompok. Hasil yang diperoleh dari uji Post Hoc yaitu nilai Sig >
0,05 untuk perbandingan kelompok kitosan 2%, 4%, 6% dan simvastatin
sehingga tidak terdapat perbedaan nyata yang artinya keempat kelompok ini
mempunyai presentasi penurunan kadar kolesterol dan terjadi penurunan kadar
kolesterol. Hal ini berbanding terbalik dengan kelompok yang Na-CMC, dimana
nilai Sig > 0,05 yang artinya terdapat perbedaan yang nyata antara kelompok
Na-CMC dengan kelompok yang diberi perlakuan kitosan 2%, 4%, 6% dan
simvastatin, dimana kelompok kitosan 2%, 4%, 6% dan simvastatin terjadi
penurunan kadar kolesterol sedangkan kelompok Na-CMC tidak terjadi
penurunan kadar kolesterol.

45

BAB V
KESIMPULAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil dari penelitian yang telah dilakukan, maka dapat diambil
kesimpulan sebagai berikut :
1. Kitosan cangkang kepiting pada kelinci jantan yang diinduksikan pakan lemak
memberikan efek antihiperkolesterolemia.
2. Konsentrasi kitosan yang memberikan efek antihiperkolesterolemia terbesar
adalah 6%
5.2 Saran
1. Perlu dilakukan penelitian uji efek antihiperkolesterolemia dengan konsentrasi
yang lebih besar dari 6%
2. Perlu dilakukan pengukuran kadar kolesterol di laboratorium Farmasi dengan
menggunakan spektrofotometri Uv-Vis
3. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai efek toksik dari kitosan jika
digunakan dalam waktu yang lebih lama
4. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut pengaruh kitosan terhadap penyakit
degeneratif lain
5. Perlu dilakukan penelitian uji klinis efek antihiperkolesterolemia kitosan pada
manusia
6. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang kitosan jika konsentrasi pelarut
pada proses demineralisasi, deproteinasi, dan deasetilasi diubah
7. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan menggunakan hewan coba lain
8. Perlu dilakukan penelitian uji efek antihiperkolesterolemia kitosan dengan
menggunakan pakan lemak selain yang digunakan pada penelitian ini

46