Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

Cholinesterase (ChE) atau disebut enzim asetylcholinesterase adalah suatu


enzim yang terdapat didalam jaringan tubuh yang berperan untuk menjaga sistem
saraf pusat berfungsi dengan tepat. Cholinesterase dapat ditemukan pada
membran sel terminal syaraf kolinergik juga pada membran lainnya, seperti dalam
plasma darah dan sel plasenta (Knechtges, 2008).
Cholinesterase berfungsi sebagai katalis untuk menghidrolisis acetylcholine
menjadi choline dan acetat.

Gambar 1 : Reaksi biokimia Cholinesterase (Tohir, 2016).

Choline merupakan amina yang penting, merupakan prekusor dari fosfolipid,


fosfatidilkolin dan sfingomielin membrane dan merupakan prekusor dari penggiat
platelet fosfolipid. Choline secara aktif diambil kedalam neuron kolinergik dengan
menggunakan suatu transporter khusus. Sementara itu, asetat diaktifkan melalui
penggabungan gugus asetat dengan koenzim A reduksi. Reaksi antara asetat aktif
dengan kolin, dikatalisis oleh enzim kolinasetiltransferase. Enzim ini ditemukan
pada konsentrasi tinggi di sitoplasma ujung-ujung saraf kolinergik. Acetylcholine
adalah suatu agen yang terdapat dalam fraksi ujung syaraf dari sistem syaraf yang
akan menghambat penyebaran impuls dari neuron ke post ganglionik (Kovarik, Z
et al, 2003).

Enzim asetilkoliesterase juga dikenal sebagai enzim cholinesterase sejati atau


spesifik. Afinitasnya paling kuat adalah terhadap asetilkolin. Cholinesterase yang
terdapat diplasma ada dibawah kendali system endokrin dan dipengaruhi oleh
perubahan-perubahan fungi hati. Sebaliknya molekul-molekul cholinesterase
spesifik tersebar di membrane post sinaptik dan sinaps-sinaps kolinergi esterase.
Hidrolisis asetilkolin oleh kolinesterase yang berlangsung dengan cukup cepat
dapat menjadi dasar penjelasan perubahan konduktans Na+ dan kegiatan listrik
yang terjadi pada transmisi sinaptik (Knechtges, 2008).

Gambar 2 : Neurotransmitter AChE (Jaya, 2015).

Cholinesterase disintesis didalam hati atau liver, terdapat dalam sinaps, plasma
darah dan sel darah merah. Sekurang- kurangnya ada 3 jenis cholinesterase
utama, yaitu enzim cholinesterase yang terdapat dalam sinaps, cholinesterase
dalam plasma, dan cholinesterase dalam sel darah merah. Cholinesterase sel
darah merah merupakan enzim yang ditemukan dalam sistem syaraf, sedangkan
cholinesterase plasma diproduksi didalam hati. Cholinesterase dalam darah
umumnya digunakan sebagai parameter keracunan pestisida, karena cara ini lebih
mudah dibandingkan pengukuran cholinesterase dalam sinaps. Jika aktivitas
cholinesterase jaringan tubuh mengalami peningkatan atau penurunan, akan
berdampak pada kelumpuhan pada system saraf pusat (Worek et al, 2013).

Cholinesterase mengatur otot-otot, kelenjar-kelenjar dan sel-sel syaraf bekerja


secara terorganisir dan harmonis di dalam tubuh. Terjadinya hambatan pada enzim
cholinesterase

menyebabkan

terjadinya

gangguan

terhadap

penghentian

penyampaian rangsangan saraf. Keadaan tersebut menyebabkan impuls syaraf


mengalir terus sehingga menyebabkan suatu twitching, yaitu bergeraknya seratserat otot secara sadar dengan gerakan halus maupun kasar, pengeluaran air mata,
pernafasan yang menjadi lambat da lemah sehingga pada akhirnya mengarah pada
kelumpuhan dan terjadi depresi nafas akibat kelemahan otot-otot pernafasan.
Aktifitas cholinesterase dalam darah dari pasien yang diuji dinyatakan sebagai
suatu persentase dari aktifitas cholinesterase dalam darah normal. Pengujian ChE
dilakukan untuk mengevaluasi potensi paparan bahan kimia yang bertindak
sebagai inhibitor cholinesterase. Bahan kimia yang paling sering adalah
organofosfat dan karbamat pestisida (Worek et al, 2013).
Kadar cholinesterase yang tinggi (hypercholinesterase) ditemui pada pasien
yang menderita hipertiroid dan diabetes mellitus. Kadar cholinesterase yang
rendah ditemui pada pasien dengan gangguan fungsi hati dan intoksikasi
organofosfat (Knechtges, 2008).
Terdapat beberapa metode yang dapat digunakan untuk mengukur kadar
cholinesterase dalam tubuh. Namun terdapat tiga kategori pemeriksaan yang
sampai dengan saat ini masih banyak digunakan dalam pengukuran kadar
cholinesterase (Wilson, 2005)
Tabel 1. Metode Pengukuran Kadar Cholinesterase (Wilson, 2005).
No Metode

Prinsip
Dipastikan melalui perubahan
pH dalam periode tertentu
(dalam beberapa jam).

Sampel
RBC /
Plasma

Keterangan
Hasil dinyatakan
dalam delta
pH/Hour

Radioactive AcH

Reaksi enzimatik melalui


ekstraksi organik.

Serum

Biaya terlalu besar


Tidak ramah
lingkungan

Kinetik Assays

Penggunaan thiocholine substrat, Serum


melalui hidrolisis asetilkolin oleh
kolinesterase yang dipastikan
dengan penggunaan
spectrophotometer.

Hasil yang
didapatkan dalam
bentuk
mikromol/min/mL
atau U/mL

1.

Delta pH

2.

3.

Beberapa perbedaan metode yang digunakan berkaitan dengan hasil yang


didapatkan. Hasil yang didapatkan dapat berupa hasil pengujian berkala atau
dalam bentuk kadar ChE serial. Beberapa metode laboratorium baru untuk
menganalisa kadar ChE telah dikembangkan dalam beberapa tahun terakhir. Salah
satu metode tersebut adalag metode analisis yang dilakukan dengan cara
mengukur secara kuantitatif enzim ChE. Metode lain yang dikembangkan adalah
metode proteomic menggunakan spektrometri massa, yang secara kuantitatif
mengukur kadar peptide yang telah dimodifikasi secara kimiawi, hasil pengujian
dengan metode ini dinilai cukup sensitive (Haigh et al., 2006).

BAB II
PEMERIKSAAN CHOLINESTERASE

A. Pra Analitik
1. Tujuan
Untuk mengukur secara kuantitatif enzim kolinesterase dalam serum dan
plasma darah.
2. Alat dan Bahan
a. Alat
i. Pemeriksaan kadar enzim kolinesterase dalam serum dan plasma ini
menggunakan Test-mate TM kit, produksi EQM Research, Inc.
1.) Autoclic
2.) Tabung indicator
3.) Tabung substrat
4.) Tabung aquades
5.) Gelas kimia
6.) Gelas ukur.

Gambar 3: ChE Test-mate TM kit (Wilson, 2006)

b. Bahan
i.

Aquades bebas CO2 atau destiled water sebanyak 15 mL

ii.

Buffer 2 mL untuk masing-masing tabung. Mengandung phosphate,


surfaktan dan EDTA.

iii.

Reagen AChE Eritrosit Cholinesterase : 96

tetes reagen

terlipofilisasi untuk masing-masing plate. Simpan reagen yang telah


terlipofilisasi dalam suhu 15-350C, hindarkan dari cahaya matahari
langsung.
iv.

Reagen PChE plasma Cholinesterase: 96 tetes reagen terlipofilisasi


untuk masing-masing plate. Simpan reagen tersebut dalam suhu 1530 0C, hindarkan dari sinar matahari langsung.

v.

Sampel darah

3. Persiapan
a. Persiapan pasien
Sebelum pemeriksaan tidak diperlukan persiapan khusus, karena aktivitas
fisik, diet dan waktu pengambilan sampel tidak banyak berpengaruh pada
perubahan kadar kolinesterase.
b. Persiapan reagen
Reagen kolinesterase dimasukkan ke dalam kontainer reagen dengan
hati-hati.
c. Persiapan alat
i. Kalibrasi.
Test-Mate ChE photometric analyzer tidak memerlukan kalibrasi,
karena sudah terkalibrasi oleh sistem pabrik pembuatnya.
ii. Quality Control (QC)
Quality

control

dengan

menggunakan

standar

yang

telah

direkomendasikan oleh pihak penyedia alat. Selama operasi dari


analisa setidaknya dua tingkat bahan kontrol kualitas yang tepat harus
diuji minimal sekali sehari. Selain itu, kontrol harus dilakukan setelah
kalibrasi, dengan masing-masing reagen baru. Kualitas pengujian

kontrol harus dilakukan sesuai dengan persyaratan peraturan dan


prosedur standar masing-masing laboratorium. Hasil kontrol diterima
bila sesuai dengan range yang ditentukan. Larutan kontrol harus
sesuai dengan spesifikasi alat.
4. Sampel
Dianjurkan untuk menggunakan sampel darah segar. Darah yang diambil
dengan menggunakan fingerstick atau dengan menggunakan sampel darah +
EDTA. Sampel tertutup dan segera ditransfer ke tabung substrat dalam
waktu 10 detik untuk menghindari hasil negative palsu akibat penyimpanan
yang terlalu lama. (Smith RL, 2003).
5. Penyimpanan Reagen
Reagen yang belum digunakan dan masih tersegel disimpan pada suhu 535oC dan dapat bertahan sampai dengan masa kadaluwarsa yang tertera
pada kemasan/wadah reagen. Tidak dianjurkan untuk meletakkan reagen di
dalam freezer. Reagen yang sudah dibuka dapat bertahan dan tetap stabil
selama 72 jam setelah kemasan dibuka pertama kali (reagent on board).
B. Analitik
1. Prinsip Kerja
Cholinesterase mengkatalisasi hidrolisis dari butyrylthocoline (BTC)
menjadi butyrate danthiocholine, yang mereduksi 5,5-dithiobis (2-asam
nitrobenzoic) (DTNB) menjadi 5-thio-2-nitrobenzoate (TNB).
BCGBTC + H2O

ChE

Butyrate + Thiocolin.

2. Prosedur Kerja
a. Hidupkan photometric analyzer. Tekan tombol mode untuk memilih
AChE assay prosedur atau PChe assay prosedur. Tekan tombol Test
untuk memulai.
b. Tambahkan tabung pemeriksaan baru ke dalam analyzer. Tekan tombol
Test untuk melanjutkan.
c. Pastikan sampel yang digunakan adalah sampel darah sesuai dengan
identitas barcode pada tabung dan permintaan pemeriksaan.

d. Jumlah sampel yang diperlukan untuk pemeriksaan adalah minimum 10


L.
e. Masukan sampel pada tabung sampel dan tempatkan pada tray khusus
untuk sampel. Sampel dibolak-balik selama 15 detik. Masukkan tabung
pemeriksaan ke dalam analyzer. Tekan tombol Test untk melanjutkan
pemeriksaan.
f. Larutkan reagen dengan menggunakan 3 tetes aquades. Tambahkan
reagen yang teah dilarutkan tersebut kedalam tabung pemeriksaan yang
telah berada di dalam analyzer. Tekan tombol Test untuk melanjutkan.
g. Jalankan pemeriksaan dengan menekan tombol Test.

Rekaman

pemeriksaan akan terlihat pada monitor display.


h. Tekan tombol Done setelah semua prosedur selesai dilakukan.

C. Paska Analitik
1. ChE Test-mate didasarkan pada metode Ellman. Acetylthiocholine (AcTC)
atau butyrylthiocholine (BuTC) dihidrolisis oleh AChE atau PChE, masingmasing, menghasilkan asam karboksilat dan thiocholine yang bereaksi dengan
reagen Ellman (DTNB, asam dithionitrobenzoic) untuk membentuk warna
kuning yang diukur spektrofotometri di 450nm. Laju pembentukan warna
sebanding dengan jumlah baik AChE atau PChE.
Cholinesterase
thiocholine ester (AcTC / BuTC) =============> thiocholine
thiocholine + DTNB =============> TNB-thiocholine + TNB (kuning).
2.Cholinesterase yang diukur dihitung oleh analyzer fotometri menggunakan
persamaan berikut:
(A/min) (mL assay volume)
U/mL blood =
(e, mM-1cm-1) (cm light path) (mL blood)
3. Sensitifitas (minimum detection limit) Test-mateTM photometric analyzer
adalah 10 L.
8

4. Spesifitas/interferensi.
a. Interferensi fisiologis:
i. Paroxysmal Nocturnal Hemoglobinuria (PNH).
ii.

Anemia makrositik atau mikrositik

iii.

Penyakit hati kronis.

iv.

Malnutrisi

v.

Infeksi kronis

vi.

Usia Tua

b. Interferensi analitik :
i.

Obat-obatan yang menghambat sekresi kolinesterase, contohnya


adalah pyridostigmin.

ii.

Sabun pencuci tangan yang mengandung detergen, seperti


benzithonium chloride.

5. Presisi
Perkiraan presisi, berdasarkan CLSI recommendations, konsisten dengan
kinerja yang khas. Dalam waktu jangka presisi kurang dari 5% CV dan
jumlah presisi kurang dari 10% CV. Dalam menjalankan, N = 40, 1 - 5 U /
mL: 3 - 5% CV. Antara menjalankan, N = 40, 1 - 5 U / mL: 5 - 7% CV.
6. Linearitas
Linearitas pemeriksaan albumin dengan Test-mateTM photometric analyzer
adalah 0-7 U/mL, 0-50 U/g HgB untuk eritrosit AChE dan 0-7 U/mL untuk
plasme PChE.

BAB III
SIMPULAN

1. Cholinesterase (ChE) atau disebut enzim asetylcholinesterase adalah suatu


enzim yang terdapat didalam jaringan tubuh yang berperan untuk menjaga
sistem saraf pusat berfungsi dengan tepat.
2.Pemeriksaan Cholinesterase dalam darah umumnya digunakan sebagai
parameter keracunan organofosfat / pestisida.
3.Metode standar yang sering digunakan untuk pemeriksaan Cholinesterase
adalah metode Ellman yaitu Acetylthiocholine (AcTC) atau butyrylthiocholine
(BuTC) dihidrolisis oleh AChE atau PchE. Acetylthiocholine (AcTC) atau
butyrylthiocholine (BuTC) dihidrolisis oleh AChE atau PChE

10

DAFTAR PUSTAKA
Burtis C. A., Ashwood E., Bruns D. E. 2006. Tietz Textbook of Clinical Chemistry and
Molecular Diagnostics. 4th ed. USA: Elsevier Saunders, pp:538-546.
Cormay S. A. 2013. Prestige 24i Albumin: Diagnostic Kit for Determine of Albumin
Concentration. Poland: PZ Cormay SA.
Depkes. 2013. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2013
Tentang Cara Penyelenggaraan Laboratorium Klinik Yang Baik. Jakarta:
Depkes.
Doumas B. T., Peters, T. Jr. 2009. Origin of dye-binding methods for measuring serum
albumin. J Clin Chem. 55(3):583-584.
Gosavi S., Shinde P. 2016. Serum albumin : a prognostic marker in critically ill patient.
IJSR. 253(5):207-210.
Kaplan L. A., Pesce A. J. 2010. Clinical Chemistry . Theory, Analysis, Correlation. 5th ed.
USA: Mosby In, pp:512-513.
Kaplan L. A., Pesce A. J. 1989. Clinical Chemistry . Theory, Analysis, Correlation. 2nd
ed. USA: Mosby In, pp:1030-1031.
OConnel T. MD., Horita, T. MD., Kasravi B. MD. 2005. Understanding and
Interpreting Serum Protein Electrophoresis. USA: American Family
Presicion,p:71.
Peralta R. MD. 2016. Hypoalbuminemia. http://emedicine.medcape.com/article/166724overview. (diunduh 5 September 2016).
Pherson Mc., Pincus. 2012. Henrys Clinical Diagnosis and Management by Laboratory
Methods. 22th ed. USA: Elsevier Saunders,pp:264-265.
Proline. 2016. Albumin FS : Reagen Diagnostik untuk Pemeriksaan In Vitro Secara
Kuantitatif Terhadap Albumin pada Serum atau Plasma dengan Sistem
Fotometrik. Germany: DiaSys Diagnostic Systems.
Tojo A., Kinugasha S. 2012. Mechanism of glomerular albumin filtration and tubular
reabsorbtion. Int J Nephrol. 219(4):854-855.
Uaida P. O., Urumwensodia K. O., Arainru G. E., Agwubike E. O. 2016. Effect of
physical and flexibily exercise on plasma level of Some liver enzyme of young
adults. Trop J Pham Res.15(2):421-425.
Varcoe J. S. 2001. Clinical Biochemistry : Techniques and Instrumentation, A Practical
Course. London : World Scientific,pp:67-68.

11

12