Anda di halaman 1dari 41

PEMBAHASAN

BIAYA STANDAR
Berikut ini beberapa pengertian biaya standar menurut beberapa sumber:
1. Biaya standar adalah biaya yang ditentukan di muka, yang merupakan jumlah biaya yang
seharusnya dikeluarkan untuk satu satuan produk atau untuk membiayai kegiatan
tertentu, di bawah asumsi kondisi ekonomi, efisien dan faktor-faktor lain tertentu
(Mulyadi, 1995 : 415).
2. Biaya standar adalah biaya yang telah ditentukan terlebih dahulu (diperkirakan akan
terjadi) dan apabila penyimpangan terhadapnya, maka biaya standar ini dianggap benar
(Abdul Halim, 1998 : 9).
3. Sistem biaya standar sama dengan sistem biaya aktual kecuali ditambahkan perkiraan
varian. Biaya standar biasanya berbeda dengan biaya yang benar-benar dikeluarkan dan
diperkirakan varian merupakan tempat penampungan untuk perbedaan ini (Robert N
Anthony dan Roger H. Hermanson, 1993: 40).
Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa biaya standar adalah biaya yang
seharusnya dikeluarkan untuk membuat satu satuan produk dengan mempertimbangkan
kondisi ekonomi, efisiensi dan faktor-faktor lain tertentu.
Tujuan dan Manfaat Biaya Standar
Suatu sistem akuntansi biaya standar didesain untuk memenuhi tujuan:
1. Pengendalian biaya (cost control)
2. Penentuan harga pokok produksi (product costing)

1.
2.
3.
4.

Biaya standar bersama-sama analisis varian sangat bermanfaat karena beberapa alasan:
Menyediakan informasi kepada manajemen mengenai kendali suatu sistem
Sebagai dasar/basis suatu sistem evaluasi kinerja
Meyediakan informasi mengenai opportunity cost berkenaan dengan produksi suatu produk
Penentuan harga produk
Dari uraian di atas dapat diuraikan lebih lanjut mengenai tiga manfaat utama suatu
perusahaan menggunakan sistem akuntansi biaya standar:
1. Estimasi biaya produk. Dalam hal ini standar dikembangkan untuk konsumsi per unit
suatu produk akan bahan baku, tenaga kerja dan overhead. Standar ini akan bermanfaat
bagi penentaan diterima tidaknya suatu pesanan dari pelanggan.
2. Anggaran biaya dan pengelaran. Total biaya yang mencerminkan konsumsi untuk
setiap aktivitas dapat diprediksi berdasarkan jumlah standar konsumsi untu setiap
aktivitas untuk menghasilkan produk dan jasa. Namun manajemen harus berhati-hati
karena kemngkinan adanya time lag antara saat anggaran disusun dan saat
pelaksanaannya.
3. Pengendalian biaya relatif terhadap standar. Dalam hal ini biaya aktual dibandingkan
dengan biaya standar, dengan harapan bahwa biaya aktual akan tetap sejalan dengan
standar. Perbedaan atau selisih antara keduanya disebut varian biaya, yang selanjutnya
dianalisis untuk mencari penyebabnya.
1

MANFAAT SISTEM BIAYA STANDAR DALAM PENGENDALIAN BIAYA


Sistem biaya standar dirancang untuk mengendalikan biaya. Biaya standar merupakan
alat yang penting di dalam menilai pelaksanaan kebijakan yang telah ditetapkan sebelumnya.
Jika biaya standar ditentukan dengan realistis, hal ini akan merangsang pelaksana dalam
melaksanakan pekerjaannya dengan efektif, karena pelaksana telah mengetahui bagaimana
pekerjaan seharusnya dilaksanakan, dan pada tingkat biaya berapa pekerjaan tersebut
seharusnya dilaksanakan. Sistem biaya standar memberikan pedoman kepada manajemen
berapa biaya yang seharusnya untuk melaksanakan kegiatan tertentu sehingga memungkinkan
mereka melakukan pengurangan biaya dengan cara perbaikan metode produksi, pemilihan
tenaga kerja dan kegiatan yang lain. Sistem biaya standar yang menyajikan analisis
penyimpangan biaya sesungguhnya dari biaya standar memungkinkan manajemen
melaksanakan pengelolaan mereka dengan prinsip kelainan. Dengan memusatkan perhatian
mereka terhadap keadaan-keadaan yang menyimpang dari keadaan yang seharusnya,
manajemen dilengkapi dengan alat yang efektif untuk mengendalikan kegiatan perusahaan.
KELEMAHAN BIAYA STANDAR
Menurut Mulyadi (2009: 389), bahwa tingkat keketatan atau kelonggaran standar tidak
dapat dihitung dengan tepat. Meskipun telah ditetapkan dengan jelas jenis standar apa yang
dibutuhkan oleh perusahaan, tetapi tidak ada jaminan bahwa standar telah ditetapkan dalam
perusahaan secara keseluruhan dengan keketatan atau kelonggaran yang relatif sama.
Seringkali standar cenderung menjadi kaku atau tidak fleksibel, meskipun dalam jangka
waktu pendek. Keadaan produksi selalu mengalami perubahan, sedangkan perbaikan standar
jarang sekali dilakukan. Perubahan standar menimbulkan masalah persediaan. Jika standar
sering diperbaiki, hal ini menyebabkan kurang efektifnya standar tersebut sebagai alat
pengukur pelaksana. Tetapi jika tidak diadakan perbaikan standar, padahal telah terjadi
perubahan yang berarti dalam produksi, maka akan terjadi pengukuran pelaksanaan yang
tidak tepat dan tidak realistis.
PUSAT PERTANGGUNGJAWABAN
Sebelum membahas lebih lanjut system biaya standar, perlu diketahui berbagai macam
pusat pertanggungjawaban yang biasanya terdapat dalam suatu perusahaan. Hal ini penting
karena tidak semua pusat pertanggungjawaban dapat dikendalikan biayanya menggunakan
system biaya standar ini.
Pusat pertanggungjawaban adalah unit organisasi yang dikepalai oleh seorang manajer
yang bertanggungjawab atas akivitas-aktivitas yang terjadi pada unit organisasi tersebut.
Secara umum, kegiatan pusat pertanggungjawaban di dalam suatu perusahaan adalah
mengolah masukan menjadi keluaran. Jika masukan suatu pusat pertanggungjawaban
dikalikan dengan harganya, akan diperoleh biaya, sedangkan jika keluarannya dikalikan
dengan harganya akan diperoleh pendapatan pusat pertanggungjawaban tersebut.
Jenis-Jenis Pusat Tanggung Jawab
1 Pusat Beban / Biaya
Pusat tanggung jawab yang inputnya diukur secara moneter, namun outputnya tidak.
2

Ada 2 jenis pusat beban:


1. Pusat Beban Teknik, memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a.Input-inputnya dapat diukur secara moneter.
b. Input-inputnya dapat diukur secara fisik.
c.Jumlah dollar optimum dan input yang dibutuhkan untuk memproduksi satu unit
output dapat ditentukan.
2. Pusat Beban Kebijakan, meliputi: unit-unit administratif dan pendukung (seperti
akuntansi, hukum, hubungan industrial, hubungan masyarakat,sumber daya manusia)
Karakteristik anggaran biaya pusat beban kebijakan:
a.
Bukan merupakan pengukur efisiensi
b.
Batas atas pengeluaran biaya yang dapat dilakukan oleh manajer pusat beban
yang bersangkutan, dan biaya sesungguhnya tidak boleh melampaui anggaran.
c.
Kesanggupan manajer pusat beban yang bersangkutan untuk melaksanakan semua
kegiatan yang direncanakan dengan biaya yang dianggarkan.
2 Pusat Pendapatan
Suatu pusat tanggung jawab dalam suatu organisasi yang kinerja manajernya dinilai
atas dasar pendapatan dalam pusat tanggung jawab yang dipimpinnya. Pusat pendapatan
biasanya sekaligus merupakan pusat beban kebijakan.
3 Pusat Laba
Suatu pusat tanggung jawab dalam suatu organisasi yang kinerja manajernya dinilai
atas dasar selisih pendapatan dengan beban biaya dalam pusat tanggung jawab yang
dipimpinnya.
4 Pusat Investasi
Suatu pusat tanggung jawab dalam suatu organissasi yang kinerja manajernya dinilai
atas dasar pendapatan, beban, dan sekaligus investasi (aktiva atau modal) pada pusat
tanggung jawab yang dipimpinya atau berdasar pada laba dan investasi yang diperlukan
untuk memperoleh laba.
Sistem biaya standar hanya dapat diterapkan sebagai alat pengendalian biaya yang efektif
di dalam engineered expense center atau pusat pertanggungjawaban yang sebagian besar
biayanya merupakan engineered expense. Dalam pusat pertanggungjawaban ini ratio antara
masukan dan keluaran dapat diukur secara kuantitatif, sehingga dapat ditentukan tingkat
efisiensinya, sehingga memungkinkan diterapkannya pengendalian biaya dengan
menggunakan biaya standar.
PROSEDUR PENENTUAN BIAYA STANDAR
Berikut ini akan dibahas prosedur penentuan biaya standar yang dibagi ke dalam tiga
bagian yaitu:
1) Biaya Bahan Baku Standar
Biaya bahan baku standar terdiri dari :
a) Masukkan fisik yang diperlukan untuk memproduksi sejumlah keluaran fisik
tertentu, atau lebih dikenal dengan nama kuantitas standar.
b) Harga per satuan masukan fisik tersebut, atau disebut pula harga standar.
3

Penentuan kuantitas standar bahan baku dimulai dari penentapan spesifikasi produk,
baik mengenai ukuran, bentuk, warna, karakteristik pengolahan produk, maupun
mutunya. Dari spesifikasi ini kemudian dibuat kartu bahan baku yang berisi spesifikasi
dan jumlah tiap-tiap jenis bahan baku yang akan diolah menjadi produk selesai. Kuantitas
standar bahan baku dapat ditentukan dengan menggunakan:
a) Penyelidikan teknis
b) Analisis catatan masa lalu dalam bentuk :
Menghitung rata-rata pemakaian bahan baku untuk produk atau pekerjaan yang
sama dalam periode tertentu di masa lalu.
Menghitung rata-rata pemakaian bahan baku dalam pelaksanaan pekerjaan yang
paling baik dan yang paling buruk di masa lalu.
Menghitung rata-rata pemakaian bahan baku dalam pelaksanaa pekerjaan yang
paling baik.
Dalam kartu bahan baku ini dapat pula meliputi kelonggaran standar untuk
pemborosan atau kerugian yang normal terjadi, tetapi bisa juga pemborosan bahan baku
diperlihatkan sebagai selisih (variance) dari standar atau sebagai unsure biaya overhead
pabrik (sehingga kuantitas standar bahan baku tidak termasuk di dalamnya unsure
pemborosan bahan baku).
Untuk mengubah kuantitas standar bahan baku menjadi biaya bahan baku standar,
maka perlu ditentukan harga standar bahan baku. Harga standar ini pada umumnya
ditentukan dari daftar harga pemasok, catalog atau informasi yang sejenis, dan informasi
lain yang tersedia yang berhubungan dengan kemungkinan perubahan harga-harga
tersebut di masa depan. Jika biaya angkut dan biaya pengurusan bahan baku lain
dibebankan kepada bahan baku, maka harga standar tersebut harus juga
memperhitungkan biaya-biaya tersebut. Begitu juga pemotongan pembelian yang
diperkirakan akan diperoleh dari pemasok harus dikurangkan dari harga beli bruto dalam
penetapan harga standar.
Contoh 1
Harga beli
Biaya angkut
Dikurangi:
Potongan pembelian
Harga standar bahan baku

Rp 345 per satuan


40
(10)
Rp 375 per satuan

Harga yang dipakai sebagai harga standar dapat berupa:


a) Harga yang diperkirakan akan berlaku di masa yang akan datang, biasanya untuk
jangka waktu satu tahun.
b) Harga yang berlaku pada saat penyusunan standar.
c) Harga yang diperkirakan akan merupakan harga normal dalam jangka panjang.

Harga yang akan dipilih sebgaian tergantung dari jenis fluktuasi harga yang
diperkirakan dan tujuan penggunaan biaya standar tersebut. Jika fluktuasi harga
cenderung untuk berulang kali terjadi dan tidak dapat dipastikan mempunyai
kecenderungan turun atau naik, maka harga normal yang tepat untuk situasi ini. Di lain
pihak, jika arah perubahan harga di masa yang akan datang dapat diperkirakan dengan
baik, maka harga yang tepat untuk situasi ini adalah harga rata-rata dalam periode di
mana biaya standar tersebut akan dipakai.
Harga standar bahan baku digunakan untuk:
a) Mengecek pelaksanaan pekerjaan departemen pembelian.
b) Mengukur akibat kenaikan atau penurunan harga terhadap laba perusahaan.
Pada umumnya harga standar bahan baku ditentukan pada akhir tahun dan pada
umumnya digunakan selama tahun berikutnya. Tetapi harga standar ini dapat diubah bila
terjadi penurunan atau kenaikan harga yang bersifat luar biasa.
2) Biaya Tenaga Kerja Standar
Seperti halnya dengan biaya bahan baku standar, biaya tenaga kerja standar terdiri
dari dua unsur: jam tenaga kerja standard an tarif upah standar.
Syarat mutlak berlakunya jam tenaga kerja standar adalah:
a) Tata letak pabrik (plan layout) yang efisien dengan peralatan yang modern sehingga
dapat dilakukan produksi yang maksimum dengan biaya yang minimum.
b) Pengembangan staf perencanaan produksi, routing, scheduling dan dispatching, agar
supaya aliran proses produksi lancar, tanpa terjadi penundaan dan kesimpangsiuran.
c) Pembelian bahan baku direncanakan dengan baik, sehingga tersedia pada saat
dibutuhkan untuk produksi.
d) Standarisasi kerja karyawan dan metode-metode kerja dengan intruksi-intruksi dan
latihan yang cukup bagi karyawan, sehingga proses produksi dapat dilaksanakan di
bawah kondisi yang paling baik.
Jam tenaga kerja standar dapat ditentukan dengan cara:
1. Menghitung rata-rata jam kerja yang dikonsumsi dalam suatu pekerjaan dari kartu
harga pokok (cost sheet) periode yang lalu.
2. Membuat test-run operasi produksi di bawah keadaan normal yang diharapkan.
3. Mengadakan penyelidikan gerak dan waktu dari berbagai kerja karyawan di bawah
keadaan nyata yang diharapkan.
4. Mengadakan taksiran yang wajar, yang didasarkan pada pengalaman dan
pengetahuan operasi produksi dan produk.
Penentuan tarif upah standar memerlukan pengetahuan mengenai kegiatan yang
dijalankan, tingkat kecepatan tenaga kerja yang diperlukan dan rata-rata tarif upah per
jam yang diperlukan akan dibayar.
Tarif upah standar dapat ditentukan atas dasar:

1. Perjanjian dengan organisasi karyawan.


2. Data upah masa lalu. Yang dapat digunakan sebagai tarif upah standar adalah: ratarata hitung, rata-rata tertimbang, atau median dari upah karyawan masa lalu.
3. Penghitungan tarif upah dalam keadaan operasi normal.
3) Biaya Overhead Pabrik Standar
Prosedur penentuan tarif biaya overhead pabrik standar sama dengan prosedur yang
telah dibahas dalam Bab 3. Tarif overhead standar dihitung dengan membagi jumlah
biaya overhead yang dianggarkan pada kapasitas normal dengan kapasitas normal.
Manfaat utama tarif overhead standar ini, yang meliputi unsur biaya overhead pabrik
variabel dan tetap, adalah untuk menentukan harga pokok produk dan perencanaan. Agar
supaya tarif overhead standar ini dapat bermanfaat untuk pengendalian biaya, maka tarif
ini harus dipisahkan ke dalam tetap dan variabel. Untuk pengendalian biaya overhead
pabrik dalam system biaya standar, perlu dibuat anggaran fleksibel, yaitu anggaran biaya
untuk beberapa kisaran (range) kapasitas. Ada perbedaan pokok antara tarif biaya
overhead standar untuk penentuan harga pokok produk dengan tarif biaya overhead
standar untuk pembuatan anggaran fleksibel.
Anggaran Fleksibel Biaya Overhead Pabrik
Anggran Fleksibel - Departemen A
Produksi standar
1.500kg
2.000kg
Jam tenaga kerja standar
1.500
4.500
Kapasitas
60%
80%
Biaya overhead pabrik
Rp1.000.00
variabel
Rp750.000
0
Biaya overhead pabrik
tetap
1.500.000
1.500.000
Jumlah biaya overhead
Rp2.250.00 Rp2.500.00
pabrik
0
0

4.000kg
6.000
100%
Rp1.250.00
0
1.750.000
Rp3.000.00
0

Misalkan kapasitas normal departemen A tersebut pada tingkat 80%, dan tarif biaya
overhead didasarkan pada jam tenaga kerja, maka tarif biaya overhead pabrik standar
dihitung sebesar Rp 555,56 per jam tenaga kerja (Rp2.500.000 : 4.500).
Tarif tersebut terdiri dari:
Tarif overhead pabrik variabel Rp1.000.000 : 4.500 =
Tarif overhead pabrik tetap Rp1.500.000 :4.500 =
Tarif overhead pabrik standar pada kapasitas normal

Rp222,22 per jam


333,34 per jam
Rp555,56 per jam

JENIS STANDAR
Standar dapat di golongkan atas dasar tingkat keketatan atau kelonggaran sebagai
berikut:
1. Standar teoritis
2. Rata-rata biaya waktu yang lalu
3. Standar normal
4. Pelaksanaan terbaik yang dapat dicapai (attainable high performance).
6

Standar Teoritis. Standar teoritis disebut pula dengan standar ideal, yaitu standar yang ideal
yang dalam pelaksanaannya sulit untuk dapat dicapai. Pada awalnya akuntansi biaya standar
menjadi terkenal dan ada tendensi bagi sebagian manajemen untuk mengunakan standar
teoritis. Asumsi yang mendasari standar teoritis ini adalah standar merupakan tingkat yang
paling efisien yang dapat dicapai oleh para pelaksanan. Kebaikan standar teoritis adalah
bahwa standar tersebut dapat digunakan dalam jangka waktu yang relative lama. Tetapi
pelaksanakan yang sempurna yang dapat dicapai oleh orang atau mesin jarang dapat dicapai
sehingga standar ini seringkali menimbulkan frustasi.
Rata-rata Biaya Waktu Yang Lain. Jika biaya standar ditentukan dengan menghitung ratarata biaya periode yang telah lampau, sstandar ini cenderung merupakan standar yang longgar
sifatnya. Rata-rata biaya waktu yang lalu dapat mengandung biaya-biaya yang tidak efisien,
yang seharusnya tidak boleh dimasukkan sebagai biaya standar. Tetapi jenis standar ini
kadang-kadang beguna pada saat permulaan perusahaan menetapkan system biaya standar,
dan terhadap jenis biaya standar ini secara berangsur-angsur kemudian diganti dengan biaya
yang benar-benar menunjukkan efisiensi.
Standar Normal. Standar normal didasarkan atas taksiran biaya di masa yang akan datang di
bawah asumsi keadaan ekonomi dan kegiatan yang normal. Kenyataannya standar normal
didasarkan pada rata-rata biaya di masa yang lalu, yang disesuaikan dengan taksiran keadaan
biaya di masa yang akan datang. Standar normal berguna bagi manajemen dalam perencanaan
kegiatan jangka panjang dan dalam pengembalian keputusan yang bersifat jangka panjang.
Pelaksanaan Terbaik yang Dapat Dicapai (Attainable High Performance). Standar jenis
ini banyak digunakan dan merupakan criteria yang paling baik untuk menilai pelaksanaan.
Standar ini didasarkan pada tingkat pelaksanaan terbaik yang dapat dicapai dengan
memperhitungkan ketidakefisienan kegiatan yang tidak dapat dihindari terjadinya.
ANALISIS PENYIMPANGAN BIAYA SESUNGGUHNYA DARI BIAYA STANDAR
Penyimpangan biaya sesungguhnya dari biaya standar dengan selisih (variance). Selisih
biaya sesungguhnya dengan biaya standar dianalisis, dan dari analisis ini diselidiki penyebab
terjadinya, untuk kemudian dicari jalan untuk mengatasi terjadinya selisih yang merugikan.
Analisis selisih biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja berbeda dengan analisis selisih
biaya overhead pabrik. Dalam analisis selisih biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja
langsung hanya dikenal dua macam kapasitas: kapasitas sesungguhnya dan kapasitas standar;
sedangkan analisis selisih biaya overhead pabrik dikenal tiga macam kapasitas: kapasitas
sesungguhnya, kapasitas standar, dan kapasitas normal (kapasitas yang terakhir ini digunakan
untuk menghitung tarif biaya overhed pabrik). Oleh karena itu, pembahasan analisis selisih ini
dibedakan menjadi dua: analasis biaya produksi langsung (biaya bahan baku dan biaya tenaga
kerja langsung) dan biaya overhead pabrik.
ANALISIS SELISIH BIAYA PRODUKSI LANGSUNG
Ada tiga model analisis selisih biaya produksi langsung:
1. Model Satu Selisih (The One-Way Model)
7

2. Model Dua Selisih (The Two-Way Model)


3. Model Tiga Selisih (The Three-Way Model)
1. Model Satu Selisih (The One-Way Model)
Dalam model ini, selisih antara biaya sesungguhnya dengan biaya standard tidak
dipecah ke dalam selisih harga dan selisih kuantitas, tetapi hanya ada satu macam selisih
yang merupakan gabungan antara selisih harga dengan selisih kuantitas titik. Jadi dalam
analisis selisih biaya produksi hanya akan dijumpai tiga selisish: selisish biaya bahan
baku, selisish biaya tenaga kerja langsung, dan selisih biaya overhead pabrik. Hasil
perhitungan selisih diberi tanda L (selisih laba atau selisih yang menguntungkan) dan
tanda R (selisih rugi). Analisis selisih dalam model ini dapat digambarkan dengan rumus
berikut ini:
St = (HSt x KSt) (HS x KS)
dimana:
St = Total selisih
HSt = Harga standard
KSt = Kuantitas standard
HS = Harga sesungguhnya
KS = kuantitas sesungguhnya
2. Model Dua Selisih (The Two-Way Model)
Dalam model analisis selisih ini, selisih antara biaya sesungguhnya dengan biaya
standard dipecah menjadi dua macam selisih, yaitu selisih harga dan selisih kuantitas atau
efisiensi. Rumus perhitungan selisih dapat dinyatakan dengan persamaan berikut ini:
SH = (HSt HS) x KS (rumus perhitungan selisih harga)
SK = (KSt KS) x HSt (rumus perhitungan selisih kuantitas)
dimana:
SH = Selisih Harga
HSt = Harga Standard
HS = Harga Sesungguhnya

SK = Selisih Kuantitas/Efesiensi
KSt = Kuantitas Standard
KS = Kuantitas Sesungguhnya

Dalam hubungannya dengan biaya bahan baku, analisis selisih biaya bahan baku
menjadi selisih harga dan selisih kuantitas ditunjukkan untuk membebankan tanggung
jawab terjadinya masing-masing jenis selisih tersebut kepada manajer yang bertanggung
jawab. Selisih harga yang timbul menjadi tanggung jawab manajer fungsi pembelian,
sedangkan selisih kuantitas menjadi tanggung jawab manajer fungsi produksi.
Contoh 2
PT. X menggunakan system biaya standard. Biaya bahan baku standard per unit
produk ditentukan sebesar 100 kg @ Rp 500. Biaya bahan baku sesungguhnya untuk
memproduksi 1000 unit produk dalam bulan Januari 19X1 adalah sebanyak 90.000 kg @
Rp 550. Dengan demikian biaya bahan baku standard dan biaya bahan baku
sesungguhnya dalam bulan Januari 19X1 disajikan dalam Gambar 13.2.
8

Gambar 13.2
Data Biaya Bahan Baku Standard an Biaya Bahan Baku Sesungguhnya
Kuantitas

BBB

Harga

standar

sesungguhnya

standar

sesungguhnya

100.000 kg

90.000 kg

Rp 500

Rp 550

Gambar 13.3
Selisih Harga dan Selisih Kuantitas dalam Model Dua Selisih

Jika biaya bahan baku standard dan biaya bahan baku sesungguhnya tersebut dalam
Gambar 13.2 digambarkan dalam suatu grafik, maka akan terlihat perhitungan selisih
harga dan selisih kuantitas seperti tercantum dalam Gambar 13.3.
3. Model Tiga Selisih (The Three-Way Model)
Dalam model ini, selisih antara biaya standar dengan baiya sesungguhnya
dipecahkan menjadi tiga macam selisih berikut ini: selisih harga, selisih kuantitas, dan
selisih harga/kuantitas. Model dua selisih menjadi tidak teliti untuk memisahkan selisih
harga dan selisih kuantitas jika harga dan kuantitas standar masing-masing lebih tinggi
atau lebih rendah dari harga dan kuantitas sesungguhnya atau jika kuantitas
sesungguhnya lebih tinggi dari kuantitas standar, namun sebaliknya harga sesungguhnya
lebih rendah dari harga standar.
Hubungan harga dan kuantitas standar dengan harga dan kuantitas sesungguhnya
dapat terjadi dengan tiga kemungkinan berikut ini:
1. Harga dan kuantitas standar masing-masing lebih besar atau lebih kecil dari harga
dan kuantitas sesungguhnya
2. Harga standar lebih rendah dari harga sesungguhnya, namun sebaliknya kuantitas
standar lebih tinggi dari kuantitas sesungguhnya
9

3. Harga standar lebih tinggi dari harga sesungguhnya, namun sebaliknya kuantitas
standar lebih rendah dari kuantitas sesungguhnya.
Dalam model tiga selisih, rumus perhitungan selisih harga dan selisih kuantitas
tergantung dari jenis hubungan harga dan kuantitas standar dengan harga dan kuantitas
sesungguhnya tersebut di atas.
Harga standard dan kuantitas standar masing-masing lebih tinggi atau lebih
rendah sesungguhnya dan kuantitas sesungguhnya. Rumus perhitungan selisih harga
dan selisih kuantitas dalam kondisi harga standar dan kuantitas standar masing-masing
lebih rendah dari harga sesungguhnya dan kuantitas sesungguhnya dapat dinyatakan
dalam persamaan berikut ini:
SH = (HSt HS) x KSt
untuk menghitung selisih harga
SK = (KSt KS) x HSt
untuk menghitung selisih kuantitas
SHK = (HSt HS) x (KSt KS)
untuk menghitung selisih gabungan yang
merupakan selisih harga/kuantitas
Untuk memberikan gambaran perhitungan selisih harga dan selisih kuantitas dengan
model tiga selisih dalam kondisi harga standar dan kuantitas standar masing-masing
lebih rendah dari harga sesungguhnya dan kuantitas sesungguhnya, silahkan mengikuti
perhitungan dalam contoh 3.
Contoh 3
Biaya bahan baku standar dan biaya bahan baku sesungguhnya disajikan dalam
Gambar 13.4.
Gambar 13.4
Data Biaya Bahan Baku Standard an Biaya Bahan Baku Sesungguhnya

Dari gambar 13.4 tersebut terlihat harga standar lebih rendah dari harga
sesungguhnya dan kuantitas standar juga lebih rendah dari kuantitas sesungguhnya.
Perhitungan selisih harga dan selisih kuantitas dalam kondisi seperti tersebut dalam
gambar 13.4 disajikan dalam gambar 13.5.
Gambar 13.5
Perhitungan Selisih Harga dan Kuantitas dalam Kondisi Kuantitas dan Harga Standar
Masing-masing Lebih Rendah dari Kuantitas dan Harga Sesungguhnya

10

Dalam gambar 13.5 tersebut, harga standar lebih rendah dari harga sesungguhnya
dan kuantitas standar lebih rendah dari kuantitas sesungguhnya, sehingga menimbulkan
selisih gabungan (joint variance) yang mengandung unsur selisih harga dan kuantitas
sekaligus. Dalam hubungannya dengan bahan baku, selisih harga bahan baku menjadi
tanggung jawab fungsi pembelian, sedangkan selisih kuantitas bahan baku menjadi
tanggung jawab fungsi produksi. Selisih harga/kuantitas menjadi tanggung jawab
bersama fungsi pembelian dan fungsi produksi.
Rumus perhitungan selisih harga dan selisih kuantitas dalam kondisi harga standard
dan kuantitas harga standar masing-masing lebih tinggi dari harga sesungguhnya dan
kuantitas sesungguhnya dapat dinyatakan dalam persamaan berikut ini:
SH = (HSt HS) x KS
untuk menghitung selisih harga
SK = (KSt KS) x HS
untuk menghitung selisih kuantitas
SHK = (HSt HS) x (KSt KS)
untuk menghitung selisih gabungan yang
merupakan selisih harga/kuantitas
Contoh 4 berikut ini menggambarkan perhitungan selisih harga dan selisih kuantitas
dalam model tiga selisih dalam kondisi harga standar dan kuantitas standar masingmasing lebih tinggi dari harga sesungguhnya dan kuantitas sesungguhnya.
Contoh 4
Biaya Bahan Baku Standar dan Sesungguhnya disajikan dalam Gambar 13.6
Gambar 13.6
Data Biaya Bahan Baku Standar dan Biaya Bahan Baku Sesungguhnya

Dari gambar 13.6 tersebut terlihat harga standar lebih tinggi dari harga sesungguhnya
dan kuantitas standar juga lebih tinggi dari kuantitas sesungguhnya. Perhitungan selisih
harga dan selisih kuantitas dalam kondisi seperti tersebut dalam Gambar 13.6 disajikan
dalam gambar 13.7.
Gambar 13.7
11

Perhitungan Selisih Harga dan Kuantitas dalam Kondisi Harga Standar dan Kuantitas
Masing-masing Lebih Tinggi dari Harga Sesungguhnya dan Kuantitas Sesungguhnya

Harga standar lebih rendah dari harga sesungguhnya, namun sebaliknya


kuantitas standar lebih tinggi dari kuantitas sesungguhnya. Jika harga standar lebih
rendah dari harga sesungguhnya, maka selisih gabungan yang merupakan selisih
harga/kuantitas tidak akan terjadi. Dengan demikian perhitungan selisih harga dan selisih
kuantitas dalam kondisi seperti ini dengan model tiga selisih dilakukan dengan rumus
berikut ini:
SH = (HSt HS) x KS
untuk menghitung selisih harga
SK = (KSt KS) x HS
untuk menghitung selisih kuantitas
Selisih harga/kuantitas sama dengan nol
Karena selisih harga/ kuantitas sama dengan nol, maka dengan demikian tidak
terdapat selisih biaya yang menjadi tanggung jawab bersama diantara dua manajer
(misalnya manajer fungsi pembelian dan manajer fungsi produksi)
Untuk menjelaskan perhitungan selisih gabungan dalam keadaan harga standar lebih
rendah dari harga sesungguhnya, namun sebaliknya kuantitas standar lebih tinggi dari
kuantitas sesungguhnya, berikut ini contoh 5.
Contoh 5
Biaya bahan baku standar dan sesungguhnya disajikan dalam Gambar 13.8.
Gambar 13.8
Data Biaya Bahan Baku Standar dan Biaya Bahan Baku Sesungguhnya

Dari Gambar 13.8 tersebut terlihat harga standar lebih rendah dari harga
sesungguhnya, namun sebaliknya kuantitas standar lebih tinggi dari kuantitas
12

sesungguhnya. Perhitungan selisih harga dan selisih kuantitas dalam kondisi seperti
tersebut dalam Gambar 13.8 disajikan dalam Gambar 13.9.
Harga standar lebih tinggi dari harga sesungguhnya, namun sebaliknya
kuantitas standar lebih rendah dari kuantitas sesungguhnya. Jika harga standar lebih
tinggi dari harga sesungguhnya, namun sebaliknnya kuantitas standar lebih rendah dari
kuantitas sesungguhnya, selisih gabungan tidak akan terjadi. Dengan demikian
perhitungan selisih harga dan kuantitas dalam kondisi seperti ini dengan model tiga
selisih dilakukan dengan rumus berikut ini:
SH = (HSt HS) x KSt
untuk menghitung selisih harga
SK = (KSt KS) x HS
untuk menghitung selisih kuantitas
Selisih harga/kuantitas sama dengan nol.
Gambar 13.9
Harga standar lebih rendah dari harga sesungguhnya, namun kuantitas standar lebih
tinggi dari kuantitas sesungguhnya sehingga selisih gabungan tidak terjadi.

Untuk menjelaskan perhitungan selisih gabungan dalam keadaan harga standar lebih
tinggi dari harga sesungguhnya, namun sebaliknya kuantitas standar lebih rendah dari
kuantitas sesungguhnya, berikut contoh 6.
Contoh 6
Biaya bahan baku standard an sesungguhnya disajikan dalam Gambar 13.10
Gambar 13.10
Harga Biaya Bahan Baku Standar dan Biaya Bahan Baku Sesungguhnya

Dari Gambar 13.10 tersebut terlihat harga standar lebih tinggi dari harga
sesungguhnya, namun sebaliknya kuantitas standar lebih rendah dari kuantitas
13

sesungguhnya. Perhitungan selisih harga dan selisih kuantitas dalam kondisi seperti
tersebut dalam Gambar 13.10 disajikan dalam Gambar 13.11.
Model tiga selisih menghasilkan informasi selisih yang lebih teliti untuk
pertanggungjawaban selisih dibandingkan dengan model dua selisih. Dalam model dua
selisih dalam kondisi apapun, selisih harga selalu menggunakan kuantitas sesungguhnya
sebagai pengali selisih antara harga per unit standar dengan sesungguhnya. Begitu pula
dalam perhitungan selisih kuantitas, dalam kondisi apapun, model dua selisih
menggunakan harga per unit standar sebagai pengali selisih antara kuantitas standar
dengan kuantitas sesungguhnya.
SH = (HSt HS) x KS
SK = (KSt KS) x HSt
Gambar 13.11
Harga standar lebih tinggi dari harga sesungguhnya, namun kuantitas standar lebih
rendah kuantitas sesungguhnya, sehingga selisih gabungan tidak terjadi.

Dalam model tiga selisih, rumus perhitungan selisih harga dan kuantitas dapat
dilakukan dengan tiga cara tergantung dari kondisi berikut ini:
1 Jika harga standar dan kuantitas standar masing-masing lebih tinggi atau lebih
rendah dari harga sesungguhnya dan kuantitas sesungguhnya, model tiga selisih
lebih teliti dalam membebankan selisih harga kepada manajer fungsi pembelian dan
selisih kuantitas kepada manajer fungsi produksi dibandingkan dengan model dua
selisih.
a Dalam kondisi harga dan kuantitas standar masing-masing lebih tinggi
dibandingkan dengan harga dan kuantitas sesungguhnya, model dua selisih
membebankan selisih kuantitas lebih banyak kepada manajer fungsi produksi,
karena rumus perhitungan selisih kuantitas adalah (KSt-KS) x HSt, sehingga
sebagian selisih harga dibebankan sebagai bagian selisih kuantitas. Lihat grafik
#1 dalam Gambar 13.12
b Dalam kondisi harga dan kuantitas standar masing-masing lebih rendah
dibandingkan dengan harga dan kuantitas sesungguhnya, model dua selisih
membebankan selisih harga lebih banyak kepada manajer fungsi pembelian,
14

karena rumus perhitungan selisih harga adalah (HSt-HS) x KS, sehingga


sebagian selisih kuantitas dibebankan sebagai bagian selisih harga. Lihat grafik
#2 dalam Gambar 13.12
c Model tiga selisih membebankan selisih harga yang memang benar-benar
menjadi tanggungjawab manajer fungsi pembelian dan membebankan selisih
kuantitas yang benar-benar menjadi tanggungjawab manajer fungsi produksi,
karena selisih gabungan yang merupakan selisih harga/kuantitas dipisahkan
tersendiri. Lihat grafik #3 dalam Gambar 13.12.
Gambar 13.12
Harga dan Kuantitas Standar Lebih Tinggi atau Lebih Rendah dari Harga
Kuantitas Sesungguhnya

Jika harga standar lebih rendah dari harga sesungguhnya, namun sebaliknya
kuantitas standar lebih tinggi dari kuantitas sesungguhnya, maka perhitungan selisih
harga dengan model tiga selisih adalah sebagai berikut:
SH = (HSt - HS) x KS
SK = (KSt - KS) x HSt
SHK = nol
Lihat grafik #1 dalam Gambar 13.13
Dalam kondisi harga standar lebih rendah dari harga sesungguhnya, namun
sebaliknya kuantitas standar lebih tinggi dari kuantitas sesungguhnya, perhitungan
selisih harga dan kuantitas dengan model dua selisih dilakukan dengan rumus yang
sama dengan yang digunakan dalam model tiga selisih tersebut.
Jika harga standar lebih tinggi dari harga sesungguhnya, namun sebaliknya kuantitas
standar lebih rendah dari kuantitas sesungguuhnya, maka perhitungan selisih harga
dan kuantitas dengan model tiga selisih adalah sebagai berikut:
SH = (HSt - HS) x KSt
SK = (KSt - KS) x HS
SHK = nol
Lihat grafik #2 dalam Gambar 13.13
Dalam model dua selisih, selisih harga dan selisih kuantitas dihitung sebagai
berikut:
SH = (HSt - HS) x KS
SK = (KSt - KS) x HSt
15

Lihat Grafik #3 dalam Gambar 13.15. dari grafik tersebut terlihat manajer fungsi
pembelian dibebani selisih harga yang lebih banyak dan manajer fungsi produksi
dibebani selisih kuantitas yang lebih banyak karena di dalam masing-masing jenis
selisih tersebut terdapat unsur selisih gabungan yang sebenarnya tidak terjadi.
Gambar 13.13
Perbandingan Model Tiga Selisih dengan Dua Model Selisih

Untuk memberikan gambaran secara jelas mengenai perhitungan selisih harga


dan selisih kuantitas untuk unsur biaya produksi langsung biaya bahan baku dan
biaya tenaga kerja langsung, dalam berbagai model tersebut, berikut ini disajikan
contoh 7.
Contoh 7 :
PT. Rimendi menggunakan sistem biaya standar. Data biaya standar dan data
biaya sesungguhnya dalam bulan Januari 19X1 adalah tampak dalaam Gambar
13.14.
Gambar 13.14
Data Biaya Standard dan Biaya Sesungguhnya PT Rimendi

Perhitungan selisih biaya sesungguhnya dari biaya standar dengna berbagai


model tersebut di atas adalah sebagai berikut:
a. Model Satu Selisih
1. Selisih biaya bahan baku
(KSt x HSt) (KS x HS)
(4.000 x Rp 20) (5.000 x Rp 15) = Rp 5.000 L
2. Selisih biaya tenaga kerja
16

(JKSt x TUSt) (JKS x TUS)


Dimana :
TUSt
= tarif upah standar
TUS
= tarif upah sesungguhnya
JKSt
= jam kerja standar
JKS
= jam kerja sesungguhnya
(1.000 x Rp 10) (2.000 x Rp 20) = Rp 30.000 R
b. Model Dua Selisih
1. Selisih Biaya Bahan Baku
a Selisih harga bahan baku
(HSt - HS) x KS
(Rp20 Rp15) x 5.000 = Rp25.000 L
b Selisih kuantitas bahan baku
(KSt - KS) x HSt
(4.000 5.000) x Rp20 = Rp 20.000 R
2. Selisih Biaya Tenaga Kerja Langsung
a. Selisih tarif upah
(TUSt - TUS) x JKS
(Rp10 Rp20) x 2.000 = Rp20.000 R
b Selisih efisiensi upah
(JKSt - JKS) x TUSt
(1000 - 2000) x Rp10 = Rp10.000 R
c. Model Tiga Selisih
1. Selisih biaya bahan baku
a Selisih harga bahan baku
(HSt HS) x KSt
(Rp20 Rp15) x 4.000 = Rp20.000 L
b Selisih kuantitas bahan baku
(KSt - KS) x HS
(4.000 5.000) x Rp15 = Rp15.000 R
c Selisih harga/kuantitas bahan baku
Tidak terdapat selisih harga/kuantitas
Perhitungan selisih biaya bahan baku dengan model tiga selisih dapat dilihat
dalam Gambar 13.15.
Gambar 13.15
Harga Standar Lebih Tinggi dari Harga Sesungguhnya Namun Kuantitas
Standar Lebih Rendah dari Kuantitas Sesungguhnya, Sehingga Selisih Gabungan
Tidak Terjadi

17

2. Selisih biaya tenaga kerja


a Selisih tarif upah
(TUSt - TUS) x JKSt
(Rp10 Rp20) x 1.000 = Rp10.000 R
b Selisih efisiensi upah
(JKSt - JKS) x TUSt
(1.000 2.000) x Rp10 = Rp10.000 R
c Selisih tarif/efisiensi upah
(JKSt - JKS) x (TUSt - TUS)
(1.000 2.000) x (Rp10 Rp20) = Rp10.000 R
Perhitungan selisih biaya tenaga kerja dengan menggunakan model tiga
seslisih dapat dilihat dalam Gambar 13.16.
Gambar 13.16
Tarif Upah Standar Lebih Rendah dari Tarif Upah Sesungguhnya dan Jam
Kerja Standar Juga Lebih Rendah dari Jam Kerja Sesungguhnya Sehingga Terjadi
Selisih Gabungan

18

SELISIH BIAYA OVERHEAD PABRIK


Seperti telah disebutkan di atas, perhitungan selisih biaya overhead pabrik berbeda
dengan perhitungan selisih biaya produksi langsung yang telah diuraikan. Perhitungan tarif
biaya overhead pabrik adalah menggunakan kapasitas normal, sedangkan pembebanan biaya
overhead pabrik kepada produk menggunakan kapasitas sesungguhnya yang dicapai. Dalam
perusahaan yang menggunakan system biaya standar, analisis selisih biaya overhead pabrik
diperbaharui pula oleh kapasitas standar. Oleh karena itu, ada 5 model analisis selisih biaya
overhead pabrik: model satu selisih, model dua selisih, model tiga selisih, model empat
selisih.
1. Model Satu Selisih
Dalam model ini, selisih biaya overhead pabrik dihitung dengan cara mengurangi
biaya overhead pabrik dengan tarif standar pada kapasitas standar dengan biaya overhead
pabrik sesungguhnya.
2. Model Dua Selisih
Selisih biaya overhead pabrik yang dihitung dengan model satun selisih dapat
dipecah menjadi dua macam selisih: selisih terkendalikan dan selisih volume. Selisih
terkendalikan adalah perbedaan biaya overhead sesungguhnya dengan biaya overhead
yang dianggarkan pada kapasitas standar, sedangkan selisih volume adalah perbedaan
antara biaya overhead yang dianggarkan pada jam standar dengan biaya overhead yang
dibebankan kepada produk (kapasitas standar dengan tarif standar).
3. Model Tiga Selisih
Selisih biaya overhead yang dihitung dengan model satu selisih dapat dipecah
menjadi tiga macam selisih: selisih pengeluaran, selisih kapasitas, dan selisih efisiensi.
Selisih pengeluaran adalah perbedaan biaya overhead pabrik sesungguhnya dengan biaya
overhead yang dianggarkan pada kapasitas sesungguhnya. Seslisih kapasitas adalah
perbedaan antara biaya overhead pabrik yang dianggarkan pada kapasitas sesungguhnya
dengan baiaya overhead pabrik yang dibebankan kepada produk pada kapasitas
sesungguhnya (kapasitas sesungguhnya dengan tarif standar). Selisih efisiensi adalah tarif

19

biaya overhead pabrik dikalikan dengan selisih antara kapasitas standar dengan kapasitas
sesungguhnya.
4. Model Empat Selisih
Model empat selisih ini merupakan perluasan model tiga selisih. Dalam model ini,
selisih efisiensi dalam model tiga selisih dipecah lebih lanjut menjadi dua selisih berikut
ini: selisih efisiensi variable dan selisih efisiensi tetap.
Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas perhitungan biaya overhead pabrik,
berikut ini disajikan Contoh 8.
Contoh 8
Untuk memproduksi 1 satuan produk diperlukan biaya produksi menurut standar dibawah ini:
Data Biaya Produksi Standar pe Satuan
Biaya bahan baku 5 kg @ Rp1.000
Biaya tenaga kerja 20 jam @ Rp500
Biaya overhead pabrik:
Variable 20 jam @ Rp400
Tetap *) 20 jam @ Rp300
Total

Rp

5.000
10.000

8.000
6.000
Rp 29.000

*) kapasitas produksi per bulan direncanakan 5.200 jam tenaga kerja langsung

Transaksi yang terjadi dalam bulan Januari 20X1 adalah sebagai berikut:
1. Jumlah bahan baku yang dibeli adalah 1500kg @ Rp1.100.
2. Jumlah produk yang diproduksi dan selesai diproses dalam bulan Januari 20X1 adalah
250 satuan dengan biaya produksi sesungguhnya sebagai berikut:
a) Biaya bahan baku 1.050 kg @ Rp1.100
= Rp 1.155.000
b) Biaya tenaga kerja 5.100 jam @ Rp475 =
2.422.500
c) Biaya overhead pabrik
=
3.650.000
Atas alasan data dalam contoh 8 tersebut di atas, berikut ini disajikan analisis selish
biaya produksi langsung dan biaya overhead pabrik.
A. Biaya Bahan Baku
1. Model Satu Selisih
Selisih biaya bahan baku
(HSt x KSt) (HS x KS)
(Rp1.000 x 1.250) (Rp1.100 x 1.050) =
2. Model Dua Selisih
Selisih harga biaya bahan baku
(HSt HS) x KS
(Rp1.000 1.100) x 1.050 kg =
Selisih kuantitas biaya bahan baku
(KSt KS) x HSt
(R1.250 1.050) x Rp1.000 =
Total selisih biaya bahan baku
3. Model Tiga Selisih
Selisih harga biaya bahan baku
(HSt HS) x KS

Rp 95.000 L

Rp105.000 R
Rp200.000 L
Rp 95.000 L

20

(Rp1.000 1.100) x 1.050 kg =


Selisih kuantitas biaya bahan baku
(KSt KS) x HSt
(1.250 1.050) x Rp1.000 =
Selisih harga/kuantitas biaya bahan baku =
Total selisih biaya bahan baku
B. Biaya Tenaga Kerja
1. Model Satu Selisih
Selisih biaya tenaga kerja
(TUSt x JKSt) (TUS X JKS)
(Rp500 x 5.000) (Rp475 x 5100)
2. Model Dua Selisih
Selisih tarif upah
(TUSt TUS) x JKS
(Rp500 475) x 5100 jam
Selisih efisiensi upah
(JKSt JKS) x TUS
(5000 5100) x Rp500
Total selisih biaya tenaga kerja langsung
3. Model Tiga Selisih
Selisih tarif upah
(TUSt TUS) x JKSt
(Rp500 475) x 5000 jam
Selisih efisiensi upah
(JKSt JKS) x TUS
(5.000 5.100) x Rp475
Selisih harga/efisiensi upah
Total selisih biaya tenaga kerja langsung

Rp105.000 R
200.000 L
0
Rp 95.000 L

Rp 77.500 L

Rp127.500 L

50.000 R
Rp 77.500 L

Rp125.000 L

47.500 R
0
Rp 77.500 L

C. Selisih Biaya Overhead Pabrik


1. Model Satu Selisih
Selisih total biaya overhead pabrik:
Biaya overhead pabrik sesungguhnya
Rp 3.650.000
Biaya overhead pabrik yang dibebankan:
250 x 20 jam x Rp 700
3.500.000
Selisih total biaya overhead pabrik
Rp 150.000 R
2. Model Dua Selisih
Selisih tersebut dipecah menjadi dua macan selisih sebagai berikut:
Selisih terkendalikan (controllabale variance)
Biaya overhead pabrik sesungguhnya
Rp 3.650.000
Biaya overhead pabrik tetap pada kapasitas normal
5.200 x Rp 300
1.560.000
Biaya overhead pabrik variable sesungguhnya
Rp 2.090.000
Biaya overhead pabrik variable pada jam standar
5000 jam x Rp400
2.000.000
Selisih terkendalikan
Rp
90.000 R
Selisih volume (volume variance)
Jam tenaga kerja pada kapasitas normal
5.200 jam
Jam tenaga standar
5.000 jam
21

Selisih
Tarif biaya overhead pabrik tetap

Rp

Selisih volume

Rp

200 jam
300 per jam
x
60.000 R

3. Model Tiga Selisih


Selisih biaya overhead pabrik sebesar Rp150.000 tersebut dapat dipecah menjadi 3
macam selisih berikut ini:
Selisih pengeluaran (spending variance)
Biaya overhead pabrik sesungguhnya
Rp 1.560.000
Biaya overhead pabrik tetap pada kapasitas normal
5.200 x Rp 300
1.560.000
Biaya overhead pabrik variable sesungguhnya
Rp 2.090.000
Biaya overhead pabrik variable yang dianggarkan
Pada jam yang sesungguhnya dicapai
5100 jam x Rp400
2.040.000
Selisih pengeluaran
Rp
50.000 R
Selisih kapasitas (idle capacity variance)
Kapasitas normal
5.200 jam
Kapasitas sesungguhnya
5.100 jam
Kapasitas yang tidak terpakai
100 jam
Tarif biaya overhead pabrik tetap
Rp
300 per jam
Selisih kapasitas
Rp
30.000 R
Selisih Efisiensi
Jam standar
5000 jam
Jam sesungguhnya
5100 jam
Selisih efisiensi
100 jam
Tarif biaya overhead pabrik
Rp
700 per jam
Selisih efisiensi
Rp
70.000 R
4. Model Empat Selisih
Seperti yang telah disebutkan diatas, model empat se;lisih ini merupakan perluasan
model tiga selisih. Selisih efisiensi dalam model tiga selisih tersebut dipecah
menjaadi: selisih efisiensi variable dan selisih efisiensi tetap dalam model empat
selisih ini. Selisih biaya overhead pabrik dalam contoh 2 sebesar Rp150.000 R
tersebut dipecah menjadi 4 macam selisih sebagai berikut:
Selisih pengeluaran
Rp
Selisih kapasitas
Rp
Selisih efisiensi yang dipeecah lebih lanjut menjadi:
Selisih efisiensi variable 100 jam x Rp400
Selisih efisiensi tetap 100 jam x Rp300
Total selisih biaya overhead pabrik
Rp

50.000 R
30.000 R
40.000 R
30.000 R
150.000 R

AKUNTANSI BIAYA STANDAR


Secara garis besar, sistem akuntansi biaya standar dapat dibagi menjadi dua yaitu metode
tunggal (single plan) dan metode ganda (partial plan). Perbedaan antara kedua sistem
22

tersebut terletak pada waktu penyajian informasi mengenai terjadinya penyimpangan antara
biaya standar dengan biaya sesungguhnya kepada manajemen.
Dalam metode tunggal, rekening barang dalam proses didebit dengan biaya standar dan
dikredit dengan biaya standar atau dengan kata lain, rekening barang dalam proses didebit
dan dikredit dengan angka tunggal yaitu angka standar. Dalam sistem ini, penyimpangan
biaya sesungguhnya dan biaya standar dihitung pada saat masukan dipakai dalam proses
produksi, sehingga setiap saat manajemen dapat mengetahui berapa penyimpangan yang
terjadi antara biaya sesungguhnya dengan biaya standar. Penyimpangan antara biaya standar
dan bisa sesungguhnya dicatat pada rekening selisih pada saat terjadinya. Berikut adalah
rekening barang dalam proses dalam metode tunggal pada Gambar 13.18.
Gambar 13.18
Rekening Barang dalam Proses dalam Metode Tunggal
Barang Dalam Proses
Kuantitas standar x harga standar
Kuantitas standar produk jadi x harga pokok
produksi standar per satuan
atau
atau
Jam standar x tarif upah standar
Kuantitas standar produk dalam proses x
harga pokok produksi standar
atau
Kapasitas standar x tarif standar
Dalam metode ganda, dalam rekening barang dalam proses dicatat angka ganda, sebelah
debit diisi dengan biaya sesungguhnya, dan sebelah kredit diisi dengan biaya standar. Dalam
metode ini, penyimpangan biaya sesungguhnya dari biaya standar dihitung pada akhir periode
akuntansi. Berikut adalah rekening barang dalam proses dalam metode ganda pada Gambar
13.19.
Gambar 13.19
Rekening Barang dalam Proses dalam Metode Ganda
Barang Dalam Proses
Kuantitas sesungguhnya x harga
Kuantitas standar produk jadi x harga pokok
sesungguhnya per satuan
produksi standar per satuan
atau
atau
Jam sesungguhnya x tarif upah
Kuantitas standar produk dalam proses x
sesungguhnya
harga pokok produksi standar
Atau
Biaya overhead pabrik sesungguhnya
METODE GANDA (PARTIAL PLAN)
Karakteristik metode ganda adalah:
1. Rekening barang dalam proses didebit dengan biaya sesungguhnya dan dikredit
dengan biaya standar. Dalam metode ini persediaan bahan baku dicatat pada biaya
23

sesungguhnya dan persediaan produk jadi dicatat pada harga pokok standar. Harga
pokok penjualan dicatat pada harga pokok standar.
2. Selisih biaya sesungguhnya dari biaya standar dihitung pada akhir periode akuntansi,
setelah harga pokok persediaan produk dalam proses ditentukan dan harga pokok
produk jadi yang ditransfer ke gedung dicatat dalam rekening barang dalam proses.
3. Selisih biaya sesungguhnya dari biaya standar merupakan jumlah total perbedaan
antara biaya standar dengan biaya sesungguhnya. Analisis terhadap selisih-selisih
tersebut memerlukan bantuan informasi yang tidak tersedia dalam rekening-rekening
buku besar.
Analisis Biaya Standar dalam Metode Ganda
Berdasarkan data dalam Contoh 8, berikut ini disajikan jurnal-jurnal yang dibuat untuk
mencatat biaya produksi sesungguhnya, biaya produksi standar, dan selisih.
1. Pencatatan biaya bahan baku
Barang dalam Proses Biaya Bahan Baku
Rp 1.155.000
Persediaan Bahan Baku
Rp 1.155.000
(Pemakaian Bahan Baku Sesungguhnya 1.050 kg @ Rp 1.100 = Rp 1.155.000)
2. Pencatatan biaya tenaga kerja langsung
Barang dalam Proses Biaya Tenaga Kerja Langsung Rp 2.422.500
Gaji dan Upah
Rp 2.422.500
(Pembebanan Biaya Tenaga Kerja Sesunguhnya 5.100 jam @ Rp 475 = Rp 2.422.500)
3. Pencatatan biaya overhead pabrik
Dalam metode ganda, biaya overhead dicatat dengan menggunakan salah satu
metode berikut ini:
Metode 1
Rekening barang dalam proses didebit dengan biaya overhead pabrik yang
sesungguhnya terjadi dalam periode akuntansi tertentu dan dikredit dengan biaya
standarnya. Dengan demikian, selisih biaya overhead pabrik dihitung dan saldo rekening
barang dalam proses biaya overhead pabrik. Jurnal pencatatan biaya overhead pabrik
yang sesungguhnya terjadi berdasarkan data dalam contoh 8 adalah sebagai berikut:
Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya
Rp 3.650.000
Berbagai Rekening yang Dikredit
Rp 3.650.000
(Biaya overhead pabrik sesungguhnya yang terjadi)
Pada akhir periode, biaya overhead pabrik yang sesungguhnya terjadi tersebut
dibebankan ke produksi dengan jurnal sebagai berikut:
Barang dalam Proses-Biaya Overhead Pabrik
Rp 3.650.000
Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya
Rp 3.650.000
(Pembebanan Overhead Pabrik Sesungguhnya ke Rekening Barang dalam Proses)
Metode 2
Rekening barang dalam proses didebit dengan biaya overhead pabrik atas dasar tarif
standar. Dalam metode ini selisih biaya overhead pabrik dihitung dari saldo rekening
barang dalam proses-biaya overhead pabrik dan biaya overhead pabrik sesungguhnya.
24

Jurnal pencatatan biaya overhead pabrik yang sesungguhnya terjadi berdasarkan data
dalam contoh 8 adalah sebagai berikut:
Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya
Rp 3.650.000
Berbagai Rekening yang Dikredit
Rp 3.650.000
(Pencatatan Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya)
Jurnal pencatatan pembelanjaan biaya overhead pabrik kepada produk atas dasar
tarif standar (5.100 jam x Rp 700 = Rp 3.570.000) adalah sebagai berikut:
Barang dalam Proses-Biaya Overhead Pabrik
Rp 3.570.000
Biaya Overhead Pabrik yang Dibebankan
Rp 3.570.000
Pada akhir periode akuntansi, rekening biaya overhead pabrik yang dibebankan
ditutup ke rekening biaya overhead pabrik sesungguhnya, untuk perhitungan sebagian
dari selisih biaya overhead pabrik. Jurnal penutupannya adalah sebagai berikut:
Biaya Overhead Pabrik yang Dibebankan
Rp 3.570.000
Biaya Overhead Pabrik yang Sesungguhnya
Rp 3.570.000
(Penutupan rekening biaya overhead pabrik yang dibebankan)
4. Pencatatan harga pokok produk jadi
Harga pokok produk jadi dihitung dengan cara mengalikan kuantitas produk jadi
yang ditransfer ke gudang dengan biaya standar per satuan. Dari data dalam contoh 8
dibuat jurnal pencatatan harga produk jadi berikut ini:
Persediaan Produk Jadi
Rp 7.250.000
Barang Dalam Proses-Biaya Bahan Baku
Rp 1.250.000
Barang Dalam Proses-Biaya Tenaga Kerja
Rp 2.500.000
Barang Dalam Proses-Biayan Overhead Pabrik
Rp 3.500.000
(Biaya Bahan Baku = Rp 5.000 x 250 unit = Rp 1.250.000)
(Biaya Tenaga Kerja = Rp 10.000 x 250 unit = Rp 2.500.000)
(Biaya Overhead Pabrik = Rp 14.000 x 250 unit = Rp 3.500.000)
5. Pencatatan harga pokok produk dalam proses
Harga pokok produk dalam proses dihitung dengan cara mengalikan unit ekuivalensi
kuantitas produk dalam proses pada akhir periode dengan biaya standar per satuan.
Karena dalam contoh 8 tidak tersedia data mengenai persediaan produk dalam proses,
maka contoh jurnal berikut ini tidak menggunakan angka.
Persediaan Produk Dalam Proses
xxx
Barang Dalam Proses-Biaya Bahan Baku
xxx
Barang Dalam Proses-Biaya Tenaga Kerja
xxx
Barang Dalam Proses-Biayan Overhead Pabrik
xxx
6. Pencatatan harga pokok produk yang dijual
Harga pokok produk yang dijual dihitung dengan cara mengalikan kuantitas produk
yang dijual selama periode akuntansi dengan biaya standar per satuan. Karena dalam
contoh 8 tidak tersedia data mengenai persediaan produk dalam proses, maka contoh
jurnal berikut ini tidak menggunakan angka.
Harga Pokok Penjualan
xxx
Persediaan Produk Jadi
xxx
25

7. Pencatatan selisih antara biaya sesungguhnya dengan biaya standar


a. Selisih biaya bahan baku
Selisih biaya bahan baku ditentukan dengan cara menghitung saldo rekening
barang dalam proses-biaya bahan baku pada akhir periode. Atas dasar data dalam
contoh 8 dan jurnal-jurnal tersebut di atas, rekening barang dalam proses-biaya
bahan baku pada akhir bulan Januari bersaldo kredit sebesar Rp 95.000, yang dalam
model dua selisih terdiri dari selisih harga Rp 105.000 R dan selisih kuantitas Rp
200.000 L, dan model tiga selisih terdiri dari selisih harga Rp 105.000 R, selisih
kuantitas Rp 200.000 L, dan selisih harga/kuantitas sama dengan nol. Jurnal untuk
mencatat selisih biaya bahan baku dengan model dua selisih tersebut adalah sebagai
berikut:
Selisih Harga Bahan Baku
Rp 105.000
Barang dalam Proses-Biaya Bahan Baku
Rp 95.000
Selisih Kuantitas Bahan Baku
Rp 200.000
b. Selisih biaya tenaga kerja langsung
Selisih biaya tenaga kerja langsung ditentukan dengan cara menghitung saldo
rekening barang dalam proses-biaya tenaga kerja langsung pada akhir periode. Atas
dasar data dalam contoh 8 dan jurnal-jurnal tersebut di atas, rekening barang dalam
proses-biaya tenaga kerja langsung pada akhir bulan Januari bersaldo kredit sebesar
Rp 77.500, yang dalam model dua selisih terdiri atas selisih tarif upah Rp 127.500 L
dan selisih efisiensi upah Rp 50.000 R, yang dalam model tiga selisih terdiri dari
selisih tarif upah Rp 127.500 L, dan selisih efisiensi upah Rp 47.500 R. Jurnal untuk
mencatat selisih biaya tenaga kerja langsung dengan model dua selisih tersebut
adalah sebagai berikut:
Selisih Efisiensi Upah
Rp 50.000
Barang dalam Proses-Biaya TKL
Rp 77.500
Selisih Tarif Upah
Rp 127.500
Jurnal untuk mencatat selisih biaya tenaga kerja langsung dengan model tiga
selisih tersebut adalah sebagai berikut:
Selisih Efisiensi Upah
Rp 47.500
Barang dalam Proses-Biaya TKL
Rp 77.500
Selisih Tarif Upah
Rp 125.000
c. Selisih biaya overhead pabrik
Penentuan selisih biaya overhead pabrik tergantung pada metode pencatatan
biaya overhead pabrik. Jika pencatatan biaya overhead pabrik menggunakan metode
1, maka selisih biaya overhead pabrik dihitung dengan mencari saldo rekening
barang dalam proses biaya overhead pabrik. Dari data dalam contoh 8 dan jurnaljurnal tersebut di atas, rekening barang dalam proses-biaya overhead pabrik bersaldo
debit Rp 150.000. Selisih biaya overhead pabrik dengan model tiga selisih dicatat
sebagai berikut:
Selisih Pengeluaran
Rp 50.000
Selisih Kapasitas
Rp 30.000
Selisih Efisiensi
Rp 70.000
26

Barang dalam Proses-Biaya Overhead Pabrik

Rp 150.000

Jika pencatatan biaya overhead pabrik menggunakan metode 2, maka selisih


biaya overhead pabrik dihitung dengan mencari saldo rekening barang dalam prosesbiaya overhead pabrik dan saldo rekening biaya overhead pabrik sesungguhnya
setelah rekening biaya overhead pabrik yang dibebankan ditutup ke dalamnya. Dari
data dalam contoh 3 dan jurnal-jurnal tersebut di atas, rekening barang dalam prosesbiaya overhead pabrik bersaldo debit Rp 70.000 (rekening ini didebit Rp 3.570.000
yang merupakan pembebanan biaya overhead pabrik atas dasar tarif standar, dan
dikredit sebesar Rp 3.500.000, yang merupakan hasil kali kuantitas produk jadi
dengan tarif biaya overhead pabrik standar). Rekening biaya overhead pabrik
sesungguhnya bersaldo kredit Rp 80.000 (rekening ini didebit sebesar Rp 3.650.000
yang merupakan biaya overhead pabrik sesungguhnya, dan dikredit sebesar Rp
3.570.000, yang merupakan penutupan rekening biaya overhead pabrik yang
dibebankan). Selisih biaya overhead pabrik dengan model tiga selisih dicatat sebagai
berikut:
Selisih Efisiensi
Rp 70.000
Barang dalam Proses
Rp 70.000
Selisih Pengeluaran
Rp 50.000
Selisih Kapasitas
Rp 30.000
Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya
Rp 80.000

METODE TUNGGAL (SINGLE PLAN)


Untuk memberikan gambaran penggunaan metode tunggal, berikut ini disajikan
akuntansi biaya standar, yang dibagi menjadi tiga bagian, yaitu: pencatatan biaya bahan baku,
pencatatan biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik.
Pencatatan Biaya Bahan Baku
Pencatatan biaya bahan baku dipengaruhi pada saat pencatatan selisih harga bahan baku.
Pencatatan biaya bahan baku dalam metode tunggal dibagi menjadi tiga bagian, yaitu:
1. Selisih harga bahan baku dicatat pada saat bahan baku dibeli
2. Selisih harga bahan baku dicatat pada saat bahan baku dipakai.
3. Selisih harga bahan baku dicatat pada saat bahan baku dibeli dan dipakai.
a. Selisih Harga Bahan Baku Dicatat pada Saat Bahan Baku Dibeli
Rekening persediaan bahan baku didebit sebesar kuantitas sesungguhnya bahan baku
yang dibeli dengan harga standar bahan baku per satuan. Selisih antara pendebitan bahan
baku yang dibeli dengan harga sesungguhnya bahan baku per satuan. Selisih antara
pendebitan rekening persediaan bahan baku dengan pengkreditan rekening hutang
dagang dicatat dalam rekening selisih harga pembelian bahan baku.
Pada saat bahan baku dipakai, rekening dalam proses didebit dengan hasil kali
kuantitas standar bahan baku yang dipakai dengan harga standar, sedangkan rekening
persediaan bahan baku dikredit sebesar kuantitas bahan baku yang sesungguhnya dipakai
27

dengan harga standar. Selisih pendebitan rekening barang dalam proses dengan
pengkreditan rekening persediaan bahan baku dicatat dalam rekening selisih pemakaian
bahan baku.

Metode pencatatan bahan baku ini menimbulkan kesulitan apabila pada akhir periode
akuntansi terdapat persediaan bahan baku di gudang. Kesulitan yang timbul adalah dalam
menentukan selisih harga pembelian bahan baku yang melekat pada persediaan bahan
baku yang melekat pada persediaan bahan baku pada akhir periode tersebut. Rekening
selisih harga pembelian bahan baku hanya dapat menunjukkan jumlah seluruh selisih
harga pembelian bahan baku yang terjadi dalam suatu periode akuntansi.
Contoh 9
PT Rimendi menggunakan sistem biaya standar. Biaya bahan baku standar per satuan
produk adalah sebagai berikut:
Kuantitas standar
Harga standar per kg

50 kg
Rp100

Dalam bulan Januari 20X1, jumlah produk yang dihasilkan adalah 2.000 satuan,
yang mengkonsumsi bahan baku sebanyak 120.000 kg. Dalam bulan tersebut, kuantitas
bahan baku yang dibeli adalah 150.000 kg, dengan harga beli Rp90 per kg. Perusahaan
menggunakan model dua selisih (the two-way model) dalam menganalisis selisih biaya
sesungguhnya dari biaya standar.
Perhitungan selisih biaya bahan baku adalah sebagai berikut:

Selisih harga pembelian bahan baku:


Harga pembelian standar: 150.000 x Rp100
Harga pembelian sesungguhnya: 150.000 x Rp90
Selisih harga pembelian bahan baku

Rp15.000.000
13.500.000
Rp1.500.000 L
28

Selisih pemakaian bahan baku:


Pemakaian standar: 2.000 x 50 kg x Rp100

Rp10.000.000

Pemakaian sesungguhnya: 120.000 kg x Rp100

12.000.000

Selisih pemakaian bahan baku

Rp2.000.000 R

Selisih harga bahan baku yang dipakai:


Kuantitas bahan baku yang dipakai sesungguhnya pada
harga standar: 120.000 kg x Rp100

Rp12.000.000

Kuantitas bahan baku yang dipakai sesungguhnya pada


harga sesungguhnya: 120.000 kg x Rp90

10.800.000

Selisih harga bahan baku yang dipakai

Rp1.200.000 L

Jika selisih bahan baku dicatat pada saat bahan baku dibeli, jurnal yang dibuat oleh
PT Rimendi pada saat pembelian dan pemakaian bahan baku adalah sebagai berikut:
Persediaan Bahan Baku

Rp15.000.000

Utang Dagang

Rp13.500.000

Selisih Harga Perubahan Bahan Baku

1.500.000

(Untuk mencatat pembelian bahan baku)


Barang dalam Proses-bahan baku
Selisih Pemakaian Bahan Baku
Persediaan Bahan Baku

Rp10.000.000
2.000.000
Rp12.000.000

(Untuk mencatat pemakaian bahan baku)

b. Selisih Harga Bahan Baku Dicatat pada Saat Bahan Baku Dipakai
Dalam metode ini, pada saat bahan baku dibeli, rekening persediaan bahan baku
didebit sebesar hasil kali kuantitas bahan baku yang dibeli dengan harga sesungguhnya
bahan baku per satuan dan rekening utang dagang dikredit dengan jumlah yang sama.
Dengan demikian pada pembelian, tidak diadakan pencatatan selisih harga yang terjadi.
Pada saat bahan baku dipakai, rekening barang dalam proses didebit sebesar hasil
kali kuantitas standar bahan baku dikalikan dengan harga standar bahan baku per satuan,
sedangkan rekening persediaan bahan baku dikalikan dengan harga standar bahan baku
per satuan, sedangkan rekening persediaan bahan baku dikredit sebesar kuantitas
sesungguhnya bahan yang timbul dari pendebitan rekening barang dalam proses dan
29

pengkreditan rekening persediaan bahan baku adalah: selisih harga dan selisih kuantitas.
Selisih harga dicatat dalam rekening selisih harga bahan baku yang dipakai dan selisih
kuantitas dicatat dalam rekening selisih pemakaian bahan baku.

Berdasarkan data dalam Contoh 9, jurnal pencatatan pembelian dan pemakaian


bahan baku dengan metode ini adalah sebagai berikut:
Persediaan Bahan Baku
Rp13.500.000
Utang Dagang
Rp13.500.000
(Untuk mencatat transaksi pembelian bahan baku)
Barang dalam Proses
Rp10.000.000
Selisih Kuantitas Bahan Baku
2.000.000
Persediaan Bahan Baku
Rp10.800.000
Selisih Harga Bahan Baku yang Dipakai
1.200.000
(Untuk mencatat pemakaian bahan baku)
c. Selisih Harga Bahan Baku Dicatat pada Saat Bahan Baku Dibeli dan Dipakai
Pada saat bahan baku dibeli, selisih harga yang terjadi dicatat dalam rekening selisih
harga pembelian bahan baku. Pada saat bahan baku dipakai ditransfer ke rekening selisih
harga bahan baku yang dipakai. Dalam metode ini, rekening persediaan bahan baku
didebit dan dikredit dengan harga standar bahan baku.

Dari contoh 9, jurnal yang dibuat adalah sebagai berikut:


Persediaan Bahan Baku
Rp15.000.000
Utang Dagang
Rp13.500.000
Selisih Harga Pembelian Bahan Baku
1.500.000
30

(Untuk mencatat pembelian bahan baku)


Barang dalam Proses-Bahan Baku
Selisih Pemakaian Bahan Baku
Persediaan Bahan Baku
(Untuk mencatat pemakaian bahan baku)

Rp10.000.000
2.000.000
Rp12.000.000

Selisih Harga Pembelian Bahan Baku


Rp1.200.000
Selisih Harga Bahan Baku yang Dipakai
Rp1.200.000
(Untuk mencatat selisih harga pembelian bahan baku yang melekat pada bahan
baku yang dipakai dalam produksi)
Pencatatan Biaya Tenaga Kerja Langsung
Pencatatan biaya tenaga kerja langsung dilakukan melalui 3 tahap berikut ini:
1. Pencatatan utang upah langsung
2. Pencatatan distribusi upah langsung
3. Pencatatan pembayaran upah langsung
Pada saat daftar upah langsung selesai dibuat, bagian akuntansi keuangan membuat
jurnal sebagai berikut:
Gaji dan Upah

xxx

Utang Gaji dan Upah

xxx

Distribusi upah langsung dilakukan dengan mendebit rekening barang dalam proses
sebesar hasil kali jam kerja standar dengan tarif upah standar dan mengkredit rekening gaji
dan upah sebesar hasil kali jam kerja sesungguhnya dengan tarif upah sesungguhnya. Selisih
pendebitan rekening barang dalam proses dengan pengkreditan rekening gaji dan upah dicatat
dalam rekening selisih tarif upah dan selisih efisiensi upah.
Jurnal distribusi upah langsung adalah sebagai berikut (misalnya selisih yang terjadi
merupakan selisih yang merugikan):
Barang dalam proses

xxx

Selisih tarif upah

xxx

Selisih efisiensi upah

xxx

Gaji dan upah

xxx

31

Pembayaran upah langsung dijurnal sebagai berikut:


Utang Gaji dan Upah

xxx

Kas

xxx

Untuk memberikan gambaran pencatatan biaya tenaga kerja langsung, berikut ini
digunakan data yang terdapat dalam contoh 8.
Jika perusahaan menggunakan model dua selisih dalam analisis selisih biaya
sesungguhnya dari biaya standar, maka perhitungan selisih biaya tenaga kerja adalah sebagai
berikut:
Biaya tenaga kerja langsung standar: 250 x 20 jam x Rp500

Rp2.500.000

Biaya tenaga kerja sesungguhnya: 5.100 jam x Rp475

2.422.500

Selisih biaya tenaga kerja langsung

Rp 77.500

Dari perhitungan selisih dengan model dua selisih dalam Contoh 8 diperoleh selisih tarif
upah sebesar Rp127.500 L dan selisih efisiensi upah Rp50.000 R.
Jurnal pencatatan biaya tenaga kerja langsung adalah sebagai berikut:
Barang dalam Proses
Selisih Efisiensi Upah
Gaji dan Upah
Selisih Tarif Upah

Rp2.500.000
50.000
Rp2.422.500
127.500

32

Pencatatan Biaya Overhead Pabrik


Pencatatan biaya overhead pabrik dalam metode tunggal (single plan) dipengaruhi oleh
metode analisis biaya overhead yang digunakan.
a. Metode Dua Selisih
Jika metode dua selisih digunakan untuk analisis selisih biaya overhead pabrik, maka
prosedur pencatatan biaya overhead pabrik disajikan pada gambar dibawah ini.

Pada contoh 8, jurnal pencatatan biaya overhead pabrik adalah sebagai berikut:

Jurnal pembebanan biaya overhead pabrik kepada produk:


Barang dalam Proses

Rp3.500.000*

Biaya Overhead Pabrik yang Dibebankan

Rp3.500.000

*250 x 20 jam x Rp700

Jurnal untuk mencatat biaya overhead pabrik sesungguhnya:


Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya
Rp3.650.000
Berbagai Rekening yang Dikredit
Rp3.650.000

Jurnal untuk mencatat penutupan rekening biaya overhead pabrik yang


dibebankan ke rekening:
Biaya Overhead Pabrik yang Dibebankan
Rp3.500.000
Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya
Rp3.500.000

Jurnal untuk mencatat selisih biaya overhead pabrik:


Selisih Terkendalikan
Rp90.000
Selisih Volume
60.000
Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya

Rp150.000
33

b. Metode Tiga Selisih


Jika metode tiga selisih digunakan untuk analisis selisih biaya overhead pabrik, maka
prosedur pencatatan biaya overhead pabrik seperti yang disajikan dalam gambar.

Berdasarkan contoh 8 dan perhitungan selisih dalam contoh tersebut, jurnal


pencatatan biaya overhead pabrik adalah sebagai berikut:
Jurnal pembebanan biaya overhead pabrik kepada produk:
Barang dalam proses
Rp3.500.000*
Selisih Efisiensi
70.000
Biaya Overhead Pabrik yang Dibebankan
Rp3.570.000**
*5.000 jam x Rp700
**5.100 jam x Rp700

Jurnal untuk mencatat biaya overhead pabrik sesungguhnya:


Biaya Overhead Pabrik sesungguhnya
Rp3.650.000
Berbagai Rekening yang Dikredit
Rp3.650.000

Jurnal untuk mencatat penutupan rekening biaya overhead pabrik yang


dibebankan ke rekening biaya overhead pabrik sesungguhnya:
Biaya Overhead Pabrik yang Dibebankan
Rp3.570.000
Biaya Overhead Pabrik yang Sesungguhnya
Rp3.570.000

Jurnal untuk mencatat selisih biaya overhead pabrik:


Selisih Pengeluaran
Rp50.000
Selisih Kapasitas
30.000
Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya

Rp80.000

c. Metode Empat Selisih


Pencatatan biaya overhead pabrik dalam metode empat selisih dilakukan dengan
membentuk rekening selisih efisiensi variable dan rekening selisih efisiensi tetap. Dari
data dan perhitungan selisih dalam Contoh 8, jurnal pencatatan selisih efisiensi adalah:
Barang dalam Proses
Rp3.500.000
Selisih Efisiensi Variabel
40.000
Selisih Efisiensi Tetap
30.000
Biaya Overhead Pabrik yang Dibebankan
Rp3.570.000
34

Pencatatan Harga Pokok Produk Jadi


Pencatatan harga pokok produk jadi yang ditransfer ke gudang dilakukan dengan
mengkredit rekening barang dalam proses dan mendebit rekening persediaan produk jadi
sebesar hasil kali kuantitas produk jadi yang ditransfer ke gudang dengan harga pokok standar
per satuan produk.
Pencatatan harga produk selesai dari Contoh 8 adalah sebagai berikut:
Persediaan Produk Jadi

Rp7.250.000*

Barang dalam Proses

Rp7.250.000

*250 unit produk x Rp29.000 = Rp7.250.000

SELISIH KOMPOSISI BAHAN BAKU DAN SELISIH HASIL (MATERIALS MIX


AND YIELD VARIANCE)
Selisih Komposisi Bahan Baku
Jika spesifikasi bahan baku standar telah ditentukan dan komposis jenis bahan baku yang
digunakan dalam proses produksi telah ditetapkan, maka bila terjadi penyimpangan antara
komposis standar dengan komposisi sesungguhnya bahan yang dipakai, penyimpangan ini
disebut selisih komposisi.
Selisih Hasil
Hasil dapat didefinisikan sebagi jumlah produk utama yang dihasilkan pengolahan
sejumlah bahan baku tertentu. Jika untuk menghasilkan 10 satuan produk dibutuhkan 20kg
bahan baku, maka presentase hasil dalam hal ini adalah 50% (10/20x100%). Jika presentase
hasil sesungguhnya menyimpang dari standar, maka penyimpangan ini disebut selisih hasil.
Contoh 10
Untuk menghasilkan 5 satuan produk A dibutuhkan bahan baku menurut komposisi
standar sebagai berikut
Biaya Bahan Baku Standar
Jenis
Bahan
Baku

Kuantitas
Jumlah

6 kg

60

Rp. 15

Rp. 90

4 kg

40

Rp. 20

Rp. 80

Harga per kg

Biaya BB utk
5 unit produk

35

10kg

100

Rp. 170

Misalkan produk A yg dihasilkan dalam periode tertentu berjumlah 4.550 unit dengan
pemakaian bahan baku X = 5.200 kg dan Y = 3.800 kg

Selisih Komposisi bahan dihitung sbb :

Jns
BB

Komp
standar

(1)

Kuantitas Sesungguhnya BB yg
dipakai

Selisih
Komp BB
dlm kg

Harga
standar
BB per kg

Selsisih
Komp BB

Menurut komp
sesungguhnya

Menurut komp
standar

(2)

(3)

(4) = (2) x 9.000

(5)= (3)-(4)

(6)

(7) = (5) x(6)

60%

5.200 kg

5.400 kg

200 kg

Rp. 15

Rp. 3.000 L

40%

3.800 kg

3.600 kg

200 kg

Rp. 20

Rp. 4.000 R

9.000 kg

40% x (5.200
+3.800)

Rp. 1.000 R

60% x (5.200
+3.800)

Jadi Selisih Komp dlm KG adalah :


X = 200 kg (L)
Y = 200 kg (R)
36

Jadi Selisih Komp dlm Rp adalah :


X = Rp. 3.000 (L)
Y = Rp. 4.000 (R)
= Rp. 1.000 (R)
Perhitungan Selisih Hasil :
Menurut standar untuk menghasilkan 5 unit produk dibutuhkan bahan baku 10 kg (yi 6
kg + 4 kg) atau persentasenya 50%.
Dalam periode itu bahan baku yg diolah = 9.000 kg. Menurut persentase hasil standar
maka mestinya menghasilkan = 50% x 9.000 = 4.500 unit produk A. Padahal hasil
sesungguhnya adalah 4.550 unit produk A

Per 5 unit
produk A
dibutuhkan Rp.
170,- Mk per
unit nya =

Perhitungan selisih hasil dpt diringkas sbb :


Hasil Sesungguhnya

= 4.550 unit

Hasil meurut standar 50% x 9.000

= 4.500 unit

Selisih hasil dlm kuantitas

50 unit
Rp 34,-

Selisih hasil dlm rupiah

Rp. 1.700,-

Misalkan dari contoh diatas biaya tenaga kerja Rp 150 dan biaya overhead pabrik standar
Rp 200 untuk menghasilkan 5 satuan produk, maka hasil dapat dihitung sebagai berikut:
Selisih Hasil Biaya Tenaga Kerja
Hasil Sesungguhnya x biaya TK standar per unit
4.550 unit

30

= Rp 136.500

Hasil Standar x biaya TK standar per unit


4.500 unit

30

Selisih Hasil Biaya TK

= Rp 135.000
= Rp

1.500 L

Selisih Hasil Biaya Overhead Pabrik


Hasil Sesungguhnya x biaya overhead pabrik standar per unit
4.550 unit

40

= Rp 182.000
37

Hasil Standar x biaya overhead pabrik standar per unit


4.500 unit

30

Selisih Hasil Biaya overhead pabrik

= Rp 180.000
= Rp

2.000 L

PENCATATAN SELISIH KOMPOSISI BAHAN BAKU DAN SELISIH HASIL


Perbedaan antara selisih komposisi dan selisih hasil bahan baku merupakan selisih
pemakaian bahan. Dalam contoh diatas selisih pemakaian bahan adalah
Selisih hasil bahan baku

Rp 1.700 L

Selisih komposisi bahan baku

Rp 1.000 R
Rp

700 L

Selisih komposisi bahan baku dicatat pada saat bahan baku dipakai dalam produksi. Dari
contoh diatas pencatatan selisih komposisi bahan baku adalah sebagai berikut:
Barang dalam proses biaya bahan baku

Rp 153.000

Selisih komposisi bahan baku

1.000

Persediaan bahan baku

Rp 154.000

Sedangkan pencatatan untuk selisih bahan baku adalah


Persediaan produk jadi

Rp 154.700*)

Selisih hasil bahan baku

Rp

1.700

Rp

1.500

Barang dalam proses biaya bahan baku


153.000**)
*) 4.550 satuan x Rp 34 =

Rp 154.700

**) 5.400 satuan x Rp 15=

81.000

3.600 satuan x Rp 20=

72.000
Rp 153.000

Untuk pencatatan selisih upah dibuat jurnal sebagai berikut:


Produk jadi
Selisih hasil biaya tenaga kerja
Barang dalam proses biaya tenaga kerja

Rp 136.500

135.000
38

Untuk pencatatan selisih hasil biaya overhead pabrik


Persediaan produk jadi

Rp 182.000

Selisih hasil overhead pabrik

Rp

Barang dalam proses biaya overhead pabrik

2.000
180.000

PERLAKUAN TERHADAP SELISIH


Selisih yang terjadi dapat diperlakukan dengan cara:
a) ditutup ke rekening laba rugi
b) dipakai untuk menyesuaikan rekening-rekening harga pokok penjualan dan
persediaan produk jadi dan persediaan barang dalam proses.
Perlakuan terhadap selisih tergantung pada:
1. Jenis selisih: selisih biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, biaya overhead pabrik
2. Besarnya selisih. Jika jumlah selisih relatif kecil, disajikan langsung dalam laporan
laba rugi, sedangkan jika jumlahnya relatif besar, diperlakukan sebagai penyesuaian
terhadap persediaan dan harga pokok penjualan.
3. Pengalaman penggunaan biaya standar
4. Sebab-sebab terjadinya selisih (misalnya: apakah selisih terjadi karena kesalahan
dlam penentuan standar)
5. Waktu terjadinya selisih (misalnya: apakah selisih yang terjadi merupakan selisih
yang tidak biasa, yang disebabkan karena fluktuasi musim)
Saldo Ditutup ke Rekening Laba Rugi
Dari contoh prosedur akuntansi biaya stndar dengan metode ganda (partial plan) dapat
dibuat ringkasan sebagai berikut:
Jumlah Selisih

Jumlah

Selisih harga bahan baku

Rp 105.000 R

Selisih kuantitas bahan baku

Rp 200.000 L

Selisih tarif upah

Rp 127.500 L

Selisih efisiensi upah

Rp 50.000 R

Selisih pengeluaran

Rp 50.000 R

Selisih kapasitas

Rp 30.000 R

Selisih efisiensi overhead

Rp 70.000 R

39

Jurnal penutup untuk selisih-selisih tersebut ke dalam rekening laba rugi adalah sebagai
berikut:
Selisih kuantitas bahan baku

Rp 200.000

Selisih tarif upah

127.500

Selisih harga bahan baku

Rp 105.000

Selisih efisiensi upah

50.000

Selisih pengeluaran

50.000

Selisih kapasitas

30.000

Selisih efisiensi overhead

70.000

Rugi laba

22.500

Penyajian selisih dalam laporan laba rugi adalah sebagai berikut


PT. Eliona Sari
Laporan Laba Rugi
Untuk Bulan Januari 20X1
Hasil penjualan
Harga pokok penjualan (standar)
Laba bruto standar
Selisih rugi
Selisih harga bahan baku

Rp 10.000.000
7.250.000
Rp 2.750.000
Rp 105.000

Selisih efisiensi upah

50.000

Selisih pengeluaran

50.000

Selisih kapasitas

30.000

Selisih efisiensi overhead

70.000

Jumlah selisih rugi


Selisih laba
Selisih kuantitas bahan baku
Selisih tarif upah
Jumlah selisih laba
Laba bruto sesungguhnya

Rp 305.000
Rp 200.000
127.500
Rp 327.500
Rp 22.500
Rp 2.772.500

40

SELISIH DIBAGIKAN KE REKENING-REKENING PERSEDIAAN DAN HARGA


POKOK PENJUALAN
Pembagian selisih ke rekening-rekening persediaan dan harga pokok penjualan dapat
didasarkan pada perbandingan harga pokok dan kuantitasnya
PERBAIKAN TERHADAP STANDAR
Standar harus diubah hanya apabila kondisi yang mendasari penentuannya telah
mengalami perubahan. Mengenai kapan standar harus diubah, ada 2 pendapat. Pendapat yang
pertama mengatakan bahwa standar harus diubah dalam periode akuntansi, yaitu segera
setelah diketahui bahwa standar tersebut keliru ditetapkan.
Pendapat yang kedua mangatakan bahwa jika standar diperbaiki dalam akuntansi,
perubahan tersebut akan menghancurkan standar sebagai alat pengukur efisiensi. Oleh karena
itu, meskipun standar yang ditetapkan telah mengalami kekeliruan, perbaikan standar harus
ditunda sampai akhir periode akuntansi.
Jalan tengah yang diambil dalam pertentangan dua pendapat tersebut adalah ditinjau dari
segi praktisnya, apabila terjadi perubahan yang penting dalam metode produksi, tenaga kerja,
atau bahan baku yang dipakai baik kuantitas maupun kualitasnya, maka standar harus segera
diubah. Baik standar harga maupun standar tarif upah harus diubah bila terjadi perubahan
yang penting pada harga pasar bahan baku dan tarif upah. Setiap sistem harga pokok standar
harus ditinjau secara periodik sehingga bisa dilakukan perbaikan jika standar tersebut ternyata
keliru atau menjadi ketinggalan terhadap metode produksi. Bagian akuntansi biaya harus
selalu mengadakan penyesuaian dan perbaikan biaya standar agar standar tersebut tidak
menyesatkan manajemen. Perubahan hendaknya diterapkan pada standar tertentu tanpa
mengganggu sistem harga pokok standar secara keseluruhan.

41

Anda mungkin juga menyukai