Anda di halaman 1dari 16

BAB II

AKUNTANSI SOSIAL DAN LINGKUNGAN


2.1

Pengertian
Akuntansi menurut Abu Bakar A dan Wibisono (2004), akuntansi adalah proses identifikasi,
pencatatan, dan komunikasi terhadap transaksi ekonomi dari suatu entitas/perusahaan. Akuntansi adalah
kumpulan prosedur-prosedur untuk mencatat, mengklasifikasikan, mengikhtisarkan, dan melaporkan dalam
bentuk laporan keuangan yang baik dan trasparan memerlukan pengetahuan dan ketermapilan akuntansi
secara baik kemampuan pelaku bisnin dalam memberikan informasi keuangan yang akurat akan sangat
berdampak terhadap stakeholder bisnis itu sendiri.
Pengertian akuntansi sosial menurut pendapat Ramanathan (1976) dalam Arief Suadi (1988)
merupakan proses pemilihan variabel-variabel yang menentukan tingkat prestasi sosial perusahaan baik
secara internal maupun eksternal. Sedangkan Lee D Parker (1986) dalam Arief Suadi (1988) pengertian
akuntansi sosial yaitu proses pengukuran, pengaturan dan pengungkapan dampak pertukaran antara
perusahaan dengan lingkungannya.
Pengertian lengkap mengenai Akuntansi sosial dan lingkungan menurut Djogo (2002) Akuntansi
lingkungan Environmental Accounting atau EA adalah istilah yang berkaitan dengan dimasukkannya biaya
lingkungan (environmental cost) ke dalam praktek akuntansi perusahaan atau lembaga pemerintah. Biaya
lingkungan adalah dampak (impact) baik moneter maupun non moneter yang harus dipikul sebagai akibat
dari kegiatan yang mempengaruhi kualitas lingkungan.
Lemanthe (2001) memberikan pendapatan akuntansi biaya lingkungan secara sistematis dan tidak
hanya berfokus pada akuntansi untuk biaya proteksi lingkungan, tetapi juga mempertimbangkan biaya
lingkungan terhadap material dan energi. Akuntansi biaya lingkungan menunjukkan biaya riil atas input dan
proses bisnis serta memastikan adanya efisiensi biaya dan diaplikasikan unutk mengukur biaya kualitas dan
jasa.
Akuntansi lingkungan mengidentifikasi, menilai dan mengukur aspek penting dari kegiatan sosial
ekonomi perusahaan dalam rangka memelihara kualitas lingkungan hidup sesuai dengan tujuan yang telah
ditetapkan (haniffa, 2002). Sehingga perusahaan tidak bisa seenaknya untuk mengolah sumber daya tanpa
memperhatikan dampaknya terhadap masyarakat.
2.2
Bidang Akuntansi Sosial dan Lingkungan
Aspek-aspek yang menjadi bidang garap akuntansi lingkungan adalah sebagai berikut (Cahyono,
2002):
1. Pengaruh dan identifikasi pengaruh negatif aktivitas bisnis perusahaan terhadap lingkungan dalam
praktek akuntansi konvensional.
2. Identifikasi, mencari dan memeriksa persoalan bidang garap akuntansi konvensional yang bertentangan
dengan kriteria ingkungan serta memberikan alternatif solusinya.
3. Melaksanakan langkah-langkah proaktif dalam menyusun inisiatif untuk memperbaiki lingkungan pada
praktik akuntansi konvensional.
4. Pengembangan format baru sistem akuntansi keuangan dan nonkeuangan, sistem pengendalian pendukung
keputusan manajemen ramah lingkungan.
5. Identifikasi biaya-biaya (cost) dan manfaat berupa pendapatan (revenue) apabila perusahaan lebih peduli
terhadap lingkungan dari berbagai program perbaikan lingkungan.
6. Pengembangan format kerja, penilaian dan pelaporan internal maupun eksternal perusahaan.
7. Upaya perusahaan yang berkesinambungan, akuntansi kewajiban, resiko, investasi biaya terhadap energi,
limbah dan perlindungan lingkungan.
8. Pengembangan teknik-teknik akuntansi pada aktiva, kewajiban dan biaya dalam konteks non keuangan
khususnya ekologi.
Selanjutnya Gray dan Walters (1993) memaparkan bahwa Akuntansi lingkungan mencakup tujuh hal
berikut ini:
1. Akuntansi untuk resiko
2. Akuntansi untuk penilaian kembali asset dan proyeksi modal
3. Analisis biaya terutama untuk area kunci (key areas) seperti energi, limbah, dan perlindungan lingkungan
4. Investasi yang didalamnya menyangkut faktor lingkungan
5. Pengembangan system informasi akuntansi (SIA) baru
6. Mengukur costs and benefits terhadap program-program pengembangan lingkungan
7. Pengembangan teknik-teknik akuntansi yang mengekspresikan harta, utang dan biaya yang bernuansa
ekologi.
7

8
Dengan memperhatikan lingkup pekerjaan akuntan tersebut membawa konsekuensi perubahan bagi
tugas akuntan yaitu:
Akuntan Keuangan
1. Menyusun neraca yang didalamnya mencakup akun-akun berikut: Penetapan nilai asset; Hutang; Biaya tak
terduga; Provisi.
2. Menyusun laporan keuangan yang didalamnya mencakup biaya-biaya yang berkaitan dengan pengelolaan
limbah/sampah dan kebersihan lingkungan.
3. Menyusun laporan tahunan yang mencakup gambaran kinerja perusahaan untuk lingkungan.
4. Menyusun laporan kerjasama dengan bank, manajer lembaga keuangan, dan lembaga asuransi.
2.3
Tujuan Akuntansi Sosial dan Lingkungan
Akuntansi lingkungan dipertimbangkan karena akan menjadi perhatian bagi pemegang saham
dengan cara mengurangi biaya yang berhubungan dengan lingkungan sehingga diharapkan dengan
pengurangan biaya lingkungan tersebut akan menciptakan kualitas lingkungan yang lebih baik. Selain itu,
tujuan akuntansi lingkungan juga untuk menjembatani kepentingan perusahaan dengan pemangku
kepentingan secara menyeluruh. Hal tersebut untuk mengetahui kegiatan perusahaan dalam menangani
pencemaran lingkungan serta kewajiban perusahaan atas masalah tersebut melalui laporan keuangan
perusahaan.
Selain itu, hal tersebut juga bertujuan untuk memenuhi tuntutan terhadap undang-undang yang
menyangkut kewajiban lingkungan (environmental liabilities) (Anonim, MediaAkuntansi 1998).
Tujuan akuntansi sosial, yaitu:
1. Akuntansi lingkungan merupakan sebuah alat manajemen lingkungan.
Alat yang digunakan untuk menilai keefektifan kegiatan konservasi berdasarakan ringkasan dan
klasifikasi biaya konservasi lingkungan. Data akuntansi lingkungan juga digunakan untuk menentukan biaya
fasilitas pengelolaan lingkungan, biaya konservasi lingkungan keseluruhan dan juga investasi yang
diperlukan untuk kegiatan pengelolaan lingkungan. Selain itu akuntansi lingkungan juga digunakan untuk
menilai tingkat keluaran dan capaian tiap tahun untuk menjamin perbaikan kinerja lingkungan yang harus
berlangsung terus menerus.
2. Akuntansi lingkungan sebagai alat komunikasi dengan masyarakat.
Alat komunikasi dengan publik, akuntansi digunakan untuk menyampaikan dampak negative
lingkungan, kegiatan koservasi lingkungan dan hasilnya kepada publik. Tanggapan dan pandangan terhadap
akuntansi lingkungan dari para pihak, pelanggan dan masyarakat digunakan sebagai umpan balik untuk
merubah pendekatan perusahaan dalam pelestarian atau pengelolaan lingkungan.
Di dalam akuntansi lingkungan ada beberapa komponen pembiayaan yang harus dihitung misalnya:
1. Biaya operasional bisnis yang terdiri dari biaya depresiasi fasilitas lingkungan, biaya perbaikan fasilitas
lingkungan, jasa atau fee kontrak untuk menjalankan fasilitas pengelolaan lingkungan, biaya tenaga kerja
untuk menjalankan operasi fasilitas pengelolaan lingkungan serta biaya kontrak untuk pengelolaan limbah
(recycling).
2. Biaya daur ulang yang dijual yang disebut sebagai cost incurred by upstream and down-stream business
operations is the contract fee paid to the japan container and package recycling association.
3. Biaya penelitian dan pengembangan (litbang) yang terdiri dari biaya total untuk material dan tenaga ahli,
tenaga kerja lain untuk pengembangan material yang ramah lingkungan, produk dan fasilitas pabrik.
2.4
Perbedaan akuntansi konvensional dengan akuntansi sosial dan lingkungan
Akuntansi Konvensional menurut Craig & Ben Gorgon (2001:187-199) memiliki beberapa
karakteristik, yaitu:
1. Mengidentifikasi entitas akuntansi
2. Mengaitkan aktivitas ekonomi dari entitas akuntansi
3. Mencatat kejadian ekonomi (economic events)
4. Hanya diperuntukkan secara khusus untuk investor dan lainnya yang berkepentingan dengan entitas
akuntansi (stockholder).
Sedangkan karakteristik akuntansi lingkungan, yaitu:
1. Mengidentifikasi kejadian ekonomi, sosial dan lingkungan
2. Entitas akuntansi
3. Memperhatikan dampak kejadian ekonomi, sosial dan lingkungan demi kelangsungan hidup organisasi
perusahaan
4. Menghasilkan informasi untuk para stakeholder seperti masyarakat, publik, karyawan atau buruh, generasi
yang akan datang.

9
Akuntansi konvensional tidak memiliki perhatian terhadap transaksi-transaksi yang bersifat non
reciprocal transactions, tetapi hanya mencatat transaksi secara timbal balik (reciprocal transactions).
Sedangkan akuntansi lingkungan mencatat transaksi yang bersifat tidak timbal balik, seperti polusi,
kerusakan lingkungan atau hal-hal negatif dari aktivitas perusahaan.
Dalam sistem akuntansi lingkungan berorientasi pada flow yang berdasarkan pada analisis sebab dan
akibat secara sistematis khususnya biaya yang terkait dengan output, seperti emisi, pembuangan sampah dan
limbah yang dijadikan input perusahaan. Namun dalam akuntansi konvensional, biaya-biaya tersebut
diberlakukan sebagai biaya overhead (factory overhead cost) dan dialokasikan secara terpisah.
Sistem akuntansi lingkungan mengenal adanya potentially hidden costs, contingent cost dan image
and relationship costs, sedangkan sistem akuntansi konvensional hanya mengenal biaya-biaya yang melekat
langsung pada produk.
Potentially hidden costs adalah biaya-biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk memproduksi suatu
produk sebelum proses produksi (misal: biaya desain produk), biaya selama proses produksi (seperti biaya
bahan baku, biaya tenaga kerja kerja langsung, biaya overhead) dan backend environment cost (misal: lisensi
mutu produk).
Contingent cost adalah biaya yang mungkin timbul dan mungkin tidak terjadi dalam suatu
perusahaan dan dibebankan pada contingent liabilities cost (contoh: biaya cadangan untuk kompensasi
kecelakaan yang mungkin terjadi).
Image and relationship costs adalah biaya yang dipengaruhi oleh persepsi manajemen, pelanggan,
tenaga kerja, publik dan lembaga pemerintah tentang kepatuhan terhadap undang-undang lingkungan dan
bersifat subyektif, contoh: pelaporan biaya lingkungan secara sukarela oleh perusahaan.
Dalam akuntansi lingkungan dipertimbangkan private cost dan societal cost dalam membuat
keputusan, sedangkan dalam akuntansi konvensional tidak mempertimbangkan kedua biaya tersebut dalam
pembuatan keputusan perusahaan. Private cost merupakan biaya yang terjadi dalam suatu perusahaan yang
berpengaruh langsung terhadap bottom line perusahaan. Social cost menggambarkan dampak biaya
lingkungan dan sosial dalam suatu entitas dan merupakan biaya eksternal, contohnya adalah biaya yang
dikeluarkan sebagai dampak pencemaran lingkungan.
Sedangkan sistem akuntansi konvensional, biaya sosial lingkungan dialokasikan ke biaya overhead
dengan beberapa cara, antara lain dialokasikan ke produk tertentu (spesifik) atau dikumpulkan menjadi biaya
tertentu dan tidak dialokasikan ke produk secara specifik. Pengalokasiaan biaya lingkungan dalam sistem
akuntansi yang berbasis lingkungan dapat menggunakan dua pendekatan, yaitu:
1. Mengalokasikan biaya lingkungan secara langsung ke dalam sistem akuntansi biaya
2. Mengalokasikan secara terpisah dari sistem akuntansi biaya.
2. 5
Pendorong Munculnya Akuntansi Sosial dan Lingkungan
Akuntansi dalam dunia bisnis terlalu berpihak pada stockholders daripada stakeholders, sehingga
konsep akuntansi sekarang tidak mampu memenuhi kebutuhan masyarakat akan situasi dan kehidupan yang
aman berkeadilan, serta alam yang lestari dan terpelihara. Karena itu kemudian berkembang akuntansi
lingkungan (environmental accounting).
Akuntansi lingkungan dipertimbangkan karena menjadi perhatian bagi pemegang saham dengan cara
mengurangi biaya yang berhubungan dengan lingkungan dan diharapkan dengan pengurangan biaya
lingkungan akan tercipta kualitas lingkungan yang baik.
Pendorong munculnya akuntansi lingkungan ialah kecenderungan terhadap kesadaran lingkungan.
Dalam literatur, paradigma ini dikenal dengan the human exeptionalism paradigm menuju the environment
paradigm. environment paradigm menjadi pedoman akuntansi lingkungan yang menganggap bahwa manusia
adalah makhluk diantara bermacam-macam makhluk yang mendiami bumi yang saling memiliki keterkaitan
sebab akibat dan dibatasi oleh sifat keterbatasan itu sendiri, baik ekonomi, sosial maupun politik.
Eksternalitas
Dalam ilmu ekonomi, dampak dari kegiatan produksi biasa disebut Spillower effect, External
economies (jika menguntungkan) atau external diseconomies jika merugikan. Secara umum diistilahkan
externalities.
Item social costs yang utama bagi perusahaan adalah sebagai berikut:
1. Merosotnya faktor kemanusiaan dalam produksi
2. Pencemaran udara dan air
3. Berkurangnya dan rusaknya sumber-sumber hewani
4. Berkurangnya sumber-sumber energi sebelum waktunya
5. Perubahan teknologi

10
6. Erosi, berkurangnya kesuburan tanah dan gundulnya hutan.
2.6
Pengukuran dalam Akuntansi Sosial dan Lingkungan
Sofyan Syafri harahap dalam bukunya teori akuntansi (2001:369) merangkum metode-metode
pengukuran informasi yang akan dilaporkan dalam social economic reporting, antara lain:
1. Menggunakan penelitian dengan menghitung opportunity cost approached. Misalnya dalam
menghitung environment costs dari pembuangan, maka dihitung berapa kerugian manusia dalam
hidupnya, berapa berkurangnya kekayaan, berapa kerusakan wilayah disekitar lokasi dan lain sebagainya
akibat pembuangan limbah. Total kerugian itulah yang menjadi environment cost perusahaan.
2. Menggunakan hubungan antara kerugian, misal dengan permintaan untuk barang perorangan dalam
menghitung jumlah kerugian masyarakat.
3. Menggunakan reaksi pasar dalam penentuan harga.
4. Menggunakan daftar kuesioner.
Sedangkan menurut Harahap (2001:363), bentuk keterlibatan perusahaan dalam kegiatan sosialnya
dapat berupa:
A. Lingkungan hidup
Pengawasan terhadap efek polusi, perbaikan perusakan alam, konservasi alam, keindahan lingkungan,
pengurangan suara bising, penggunaan tanah, pengelolaan sampah dan air limbah, riset dan
pengembangan lingkungan, kerjasama dengan pemerintah, dan pembangunan lokasi rekreasi.
B. Membantu masyarakat lingkungan
Membangun klinik kesehatan, bantuan dana kepada masyarakat sekitar.
2.7
Pelaporan Kinerja Sosial
Menurut Martin Freedman, ada tiga pendekatan yang digunakan dalam melaporkan kinerja sosial
perusahaan dalam kaitannya dengan penerapan akuntansi sosial:
1. Pemeriksaan sosial (social audit)
Yaitu dengan mengukur dan melaporkan dampak-dampak ekonomi, sosial dan lingkungan dari
operasi perusahaan yang berorientasi sosial lingkungan. Pelaporan ini dilakukan dengan membuat daftar
aktivitas-aktivitas perusahaan yang memiliki konsekuensi sosial, lalu auditor sosial akan mengestimasi dan
mengukur dampak-dampaknya.
2. Laporan sosial (social report)
Terdapat beberapa pendekatan dalam laporan sosial seperti yang telah dirangkum oleh Billey and
Weygandt dalam bukunya Intermediate accounting, yaitu:
a. Inventory approach, yaitu suatu pendekatan yang menjelaskan bahwa perusahaan mengkompilasi dan
mengungkapkan sebuah data yang komprehensif dari aktivitas-aktivitas sosial perusahaan.
b. Cost approach, pendekatan ini menguraikan bahwa perusahaan membuat daftar aktivitas perusahaan yang
berkenan dengan penanganan terhadap lingkungannya dan mengungkapkan jumlah pengeluaran masingmasing aktivitas tersebut. Biaya dan aktivitas tersebut berhubungan dengan periode pelaporan yang
berjalan dibebankan ke expense pada periode berikutnya.
c. Program management approach, perusahaan tidak hanya mengungkapkan aktivitas terhadap lingkungan,
tetapi juga tujuan dari kegiatan tersebut serta hasil yang sudah dicapai oleh perusahaan sesuai dengan
tujuan yang telah ditetapkan itu. Kelebihan dari pendekatan ini adalah memudahkan pemakai laporan
keuangan untuk menilai tingkat keberhasilan aktivitas sosial lingkungan perusahaan untuk mencapai
tujuan.
d. Cost-benefit approach, pendekatan ini menjelaskan bahwa perusahaan mengungkapkan aktivitas yang
memiliki dampak positif terhadap lingkungan serta biaya dan manfaat dari aktivitas tersebut. Kesulitan
dari pendekatan ini adalah mengukur biaya dan manfaat terhadap masyarakat.
2.8
Unsur Biaya dalam Akuntansi Sosial dan Lingkungan
Menurut Irawan (Lintasan Ekonomi: 2001), biaya lingkungan dapat diartikan sebagai biaya yang
muncul dalam usaha untuk mencapai tujuan seperti pengurangan biaya lingkungan yang meningkatkan
pendapatan, meningkatkan kinerja lingkungan yang perlu dipertimbangkan saat ini dan yang akan datang.
Menurut Susenohaji (balance volume 1:2003), biaya lingkungan adalah biaya yang dikeluarkan
perusahaan berhubungan dengan kerusakan lingkungan yang ditimbulkan dan perlindungan yang dilakukan.
Biaya ini mencakup biaya internal (berhubungan dengan pengurangan proses produksi untuk mengurangi
dampak lingkungan) maupun biaya eksternal (berhubungan dengan perbaikan kerusakan akibat limbah yang
ditimbulkan).
Biaya lingkungan terkait erat dengan lingkungan. Biaya ini meliputi antara lain; biaya degradasi
tanah, pencemaran lingkungan, biaya penyusutan air, biaya untuk daur ulang, biaya untuk membayar denda,

11
bunga, dan biaya ganti rugi karena kerusakan lingkungan serta kehilangan flora dan fauna. Akuntansi
lingkungan dapat menghitung dan mencatatat berbagai biaya lingkungan, biaya tersembunyi dan biaya yang
umumnya tidak dimasukkan dalam akuntansi konvensional.
Selain itu, ada juga biaya lingkungan yang cenderung tidak diketahui dengan jelas oleh pimpinan
perusahaan atau organisasi lain. Biaya ini cenderung tersembunyi seperti biasa untuk persiapan asuransi,
pengendalian polusi, dan biaya untuk pengolahan limbah.
Dengan demikian, maka perusahaan harus memberi perhatian khusus pada biaya lingkungan. Salah
satu caranya adalah dengan menarik sebagian biaya lingkungan dari biaya overhead dan mengalokasikannya
pada akun yang tepat. Dengan mengalokasikan biaya lingkungan kepada produk atau proses yang
menimbulkannya, perusahaan dapat memotivasi manajer terkait dan karyawan untuk menemukan alternative
pencegahan polusi yang lebih rendah biayanya, dan meningkatkan laba. Biaya yang rendah dan laba yang
meningkat merupakan keunggulan kompetitif perusahaan.
Sumber-sumber biaya lingkungan, yaitu:
1. Biaya pemeliharaan dan penggantian dampak akibat limbah dan gas buangan (waste and emission
treatment), yaitu biaya yang dikeluarkan untuk memelihara, memperbaiki, mengganti kerusakan
lingkungan yang diakibatkan oleh limbah perusahaan.
2. Biaya pencegahan dan pengelolaan lingkungan (prevention and environmental management) adalah biaya
yang dikeluarkan untuk mencegah dan mengelola limbah untuk menghindari kerusakan lingkungan.
3. Biaya pembelian bahan untuk bukan hasil produk (material purchase value of non-product) merupakan
biaya yang dikeluarakan untuk membeli bahan yang bukan hasil produksi dalam rangka pencegahan dan
pengurangan dampak limbah dari bahan baku produksi.
4. Biaya pengolahan untuk produk (processing cost of non-product output) ialah biaya yang dikeluarkan
perusahaan untuk pengolahan bahan yang bukan hasil produk.
5. Penghematan biaya lingkungan (environmental revenue) merupakan penghematan biaya atau penambahan
penghasilan perusahaan sebagai akibat dari pengelolaan lingkungan.
Ada empat macam biaya lingkungan yang timbul dari dampak pencemaran terhadap lingkungan
yang ditanggung oleh masyarakat:
a. Damage Cost, yaitu biaya akibat dampak langsung dan tak langsung dari limbah, misalnya
meningkatnya berbagai macam penyakit dan terganggunya reproduksi makhluk hidup.
b. Avoidance Cost, biaya ekonomi dan social dalam kaitannya dengan berbagai upaya untuk
menghindari dampak pencemaran yang terjadi. Misalnya biaya untuk penyaring udara.
c. Abatement Cost, yaitu biaya sumber daya yang digunakan untuk melakukan penelitian, perencanaan,
pengelolaan dan pemantuan pencemaran.
Tingkatan biaya lingkungan dalam melakukan analisa full costing ada empat macam, yaitu:
a. Usual cost and operating cost adalah cost yang berkaitan langsung dengan produk, termasuk biaya
pembuatan, peralatan, material, pelatihan, tenaga kerja dan energi.
b. Hidden regulatory cost
Merupakan biaya yang berkaitan dengan ketaatan terhadap peraturan pemerintah seperti biaya pengujian,
monitoring, dan inspeksi.
c. Contingent liability cost
Biaya yang berkaitan dengan kemungkinan kewajiban perusahaan di masa yang akan datang seperti
kerusakan dan biaya perbaikan di masa yang akan datang.
d. Less tangible cost
Dengan mengurangi atau mengeliminasi pencemaran dan merespon permintaan konsumen atas produk
yang ramah lingkungan, suatu perusahaan dapat merealisasikan cost saving (less tangible cost) berupa
naiknya revenue atau menurunnya expense.
Adapun alasan-alasan yang mendasari perusahaan harus berpikir tentang pentingnya pengelolaan
biaya lingkungan dalam mengatasi pencemaran lingkungan:
1. Besarnya jumlah yang akan terkena dampak akibat kegiatan perusahaan
2. Luasnya wilayah penyebaran dampak
3. Intensitas dan lamanya dampak berlangsung
4. Banyaknya komponen lingkungan hidup lain yang akan terkena dampak dan sifat kumulatif dampak.
Salah satu kepedulian perusahaan terhadap kelestarian lingkungan adalah dengan menetapkan biaya
lingkungan dalam penyusunan anggaran perusahaan dengan maksud:

12
a. Meningkatkan kepedulian perusahaan terhadap lingkungan dengan mengumpulkan informasi tentang
lingkungan termasuk pencemaran dan kerusakan lingkungan serta jalan keluar dalam mengatasi persoalan
ini.
b. Sebagai alat untuk mengukur kinerja manajer, karena dengan dimasukkannya biaya lingkungan dalam
biaya produksi (anggaran perusahaan) maka dapat mencerminkan biaya yang akurat atas suatu produk, agar
dapat diketahui laba bersih yang sesungguhnya yang menjadi hak perusahaan tanpa harus dikaitkan dengan
masalah kerusakan lingkungan di kemudian hari.
Pengelolaan sisa produksi/limbah harus menggunakan teknologi, maka sangat tidak mungkin apabila
perusahaan tidak memasukkan biaya lingkungan ke dalam biaya produksi sebagai bagian dari kepedulian
perusahaan terhadap lingkungan maka perusahaan akan memperoleh manfaat sebagai berikut:
1. Nilai harga pokok produksi ditetapkan pada suatu produk tidak terlalu rendah, karena sudah dimasukkan
biaya lingkungan. Perusahaan mencoba memperkirakan tingkat pencemaran yang telah dilakukan
terhadap lingkungan dengan melihat berapa unit bahan baku yang masuk dalam produksi, berapa unit
yang hilang pada awal dan akhir produksi, dan berapa unit yang benar-benar menjadi output.
2. Dengan nilai harga pokok produksi yang tidak terlalu rendah maka penetapan harga jual atas produk pun
tidak terlalu rendah, karena telah memperhitungkan biaya perlindungan terhadap lingkungan, maka
kerusakan yang berdampak pada lingkungan tersebut telah diatasi oleh perusahaan.
3. Dengan penetapan biaya lingkungan dalam anggaran prusahaan secara dini, maka perusahaan akan lebih
berhati-hati terhadap lingkungan sehingga volume pencemaran akan relatif kecil.
4. Dengan menetapkan biaya lingkungan dalam anggaran perusahaan, maka perusahaan sudah memikirkan
alat mana yang dapat digunakan dalam pengolahan limbah yang di daur ulang.
Adapun manfaat lain yang dapat dirasakan langsung oelh masyarakat dengan adanya kepedulian
perusahaan terhadap lingkungan adalah:
1. Tercapainya keselarasan, keserasian dan keseimbangan antara manusia dan lingkungan hidup.
2. Terwujudnya manusia Indonesia sebagai insane lingkungan hidup yang memiliki sikap dan tindakan
untuk melindungi dan membina lingkungan hidup.
3. Terjaminnya kepentingan generasi masa kini dan generasi masa mendatang.
4. Tercapainya kelestarian fungsi lingkungan hidup.
5. Terkendalinya pemanfaatan sumber daya secara bijaksana.
2.9
Analisa Pengungkapan Akuntansi Lingkungan
Salah satu cara untuk mewujudkan akuntansi lingkungan adalah dengan menerapkan prinsip
pengungkapan (disclosure) dalam praktik akuntansi.
Seperti yang dinyatakan dalam PSAK No. 1 paragraf 9:
Perusahaan dapat pula menyajikan laporan tambahan seperti laporan mangenai lingkungan hidup
dan laporan nilai tambah (value added statement), khususnya bagi industri dimana faktor-faktor
lingkungan hidup memegang peranan penting dan bagi industri yang menganggap pegawai sebagai
kelompok pengguna laporan yang memegang peranan penting.
Alasan-alasan perusahaan untuk mengungkapkan akuntansi lingkungan, yaitu:
1. Internal decision making
Manajemen membutuhkan informasi untuk menentukan efektivitas dari kegiatan perusahaan yang
berkaitan dengan lingkungan dalam mencapai tujuan sosial perusahaan.
2. Product differentiation
Laporan keuangan merupakan rangkuman dari banyak transaksi sehingga dapat menyembunyikan
informasi penting yang dapat mempengaruhi keputusan pemegang saham dan pihak lainnya.
3. Enlightened self interest
Perusahaan melakukan pengungkapan untuk menjaga keselarasan sosialnya dangan stockholder, kreditor,
karyawan, pemasok, pelanggan, pemerintah dan masyarakat karena dapat mempengaruhi pendapatan
penjualan dan harga saham perusahaan.
Pengungkapan memiliki tiga sifat yang menampilkan informasi keuangan dan non keuangan opersi
perusahaan, yaitu :
1. Adequate disclosure, yang berhubungan dengan kuantitas unsure yang diungkapkan.
2. Fair disclosure, yang berhubungan dengan aspek etis memberikan informasi yang sama rata kepada
semua pengguna.
3. Full Disclosure, berarti menampilkan seluruh informasi yang relevan.

13
Sedangkan Muh. Muslim Utomo (2002: 102-103), menyajikan beberapa teori kecenderungan
pengungkapan social lingkungan, diantaranya:
1. Decision Usefullness Studies
Teori ini menemukan bahwa pengungkapan atas lingkungan dilakukan karena informasi tentang
aktivitas social perusahaan tersebut memang dibutuhkan oleh pemakai laporan keuangan sebagai bahan
pertimbangan dalam proses pengambilan keputusan mereka dan informasi ini ditempatkan pada posisi
moderately important.
2. Economic Theory Studies
Teori ini mengemukakan bahwa sebagai agen dari suatu principal yang mewakili seluruh interest
group perusahaan, pihak manajemen melakukan pengungkapan social terhadap lingkungannya sebagai
pemegang saham, namun pengertian principal kini telah meluas menjadi seluruh pihak yang berkepentingan
terhadap perusahaan.
3. Social and Political Theory Studies
Studi di bidang ini menggunakan teori stakeholder, yaitu teori yang mengasumsikan bahwa
eksistensi perusahaan ditentukan oleh para stakeholder, sehingga perusahaan akan terus berusaha mencari
pembenaran.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pengungkapan informasi akuntansi lingkungan, yaitu:
1. Peraturan pemerintah yang bersifat memaksa sehingga perusahaan mau tidak mau harus mengikutinya.
2. Penerapan standar pelaporan dan pengungkapan khususnya di bidang informasi mengenai tanggung jawab
terhadap lingkungan perusahaan oleh badan pembuat standar akuntansi di berbagai negara.
3. Kesadaran perusahaan untuk bersifat proaktif merumuskan pandangannya mengenai konstituen sosial dan
politik sehingga memperoleh image positif dari masyarakat.
4. Kebutuhan pengguna laporan keuangan terhadap informasi sosial untuk membuat keputusan alokasi dana
yang ditanamkan di perusahaan.
5. Pihak investor membutuhkan informasi sosial untuk mempertimbangkan dampak negatif dengan tepat
setiap pengeluaran biaya sosial per lembar saham selama kompensasi, dampak positifnya dapat
mengurangi risiko atau menimbulkan ketertarikan yang lebih besar dari kelompok investor.
Manfaat pengungkapan informasi akuntansi lingkungan yang diterapkan oleh perusahaan kecil
maupun besar, manufaktur atau jasa dengan alasan:
1. Akuntansi lingkungan memerlukan cara baru dalam memandang biaya lingkungan perusahaan, kinerja dan
keputusan perusahaan,
2. Akuntansi lingkungan bukan semata-mata permasalahan akuntansi, dan informasi diperlukan oleh semua
kelompok entitas.
Evaluasi terhadap investasi modal sangat berguna jika mempertimbangkan biaya lingkungan dan
cost savings, dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Mengidentifikasi dan menghitung kuantitas biaya lingkungan
2. Mengalokasikan biaya lingkungan dan keuntungan yang diperoleh
3. Menggunakan indikator keuangan seperti time value of money
4. Memprediksi keuntungan yang diperoleh perusahaan dengan melihat cash flow dan profitabilitas
perusahaan seperti economic life of the capital investment.
Akuntansi lingkungan dapat digunakan pada desain produk dan proses produksi oleh perusahaan.
Desain produk dan proses produksi memiliki pengaruh signifikan pada kinerja dan biaya lingkungan. Proses
desain memerlukan balancing cost, performance cultural, legal dan environment criteria. Perusahaan yang
mengadopsi desain lingkungan (life cycle design) akan mempertimbangkan evaluasi alternatif desain ke
dalam biaya lingkungan, kinerja, budaya dan peraturan yang ada.
Banyak juga perusahaan yang membelanjakan miliaran rupiah dalam satu tahun untuk membiayai
operasi yang berhubungan dengan lingkungan dan modal investasi. Tetapi sistem akuntansi, sistem
pembiayaan dan sistem modal investasi mereka tidak mengidentifikasi dan mengukur biaya-biaya lingkugan
dengan baik. Sebagai gantinya, mereka menyembunyikan biaya-baiaya administratif dan rekening biaya
overhead. Lebih lanjut, peralatan modal investasi yang dikembangkan dengan baik jarang digunakan
perusahaan untuk modal invenstasi lingkungan.(Akuntansi Lingkungan, Yuliusman).
2.10 Pengungkapan Akuntansi Sosial Lingkungan dalam Laporan Tahunan
Adalah pengungkapan informasi mengenai aktivitas perusahaan yang berhubungan dengan
lingkungan perusahaan, dilakukan melalui berbagai media antara lain: laporan tahunan, laporan interim,
prospectus, pengumuman kepada bursa efek atau media massa.

14
Pelaporan atau pengungkapan informasi akuntansi sosial lingkungan terkait dengan aspek-aspek
interaksi antara organisasi perusahaan dengan lingkungan sosial dan lingkungan fisik (alam). Oleh karena
itu, pelaporan informasi akuntansi sosial lingkungan mencakup informasi akuntansi tentang kontribusi
lingkungan alam, energi, sumber daya manusia (karyawan) dan keterlibatan masyarakat terhadap aktivitas
bisnis dan kinerja keuangan perusahaan, dampak-dampak ekonomis, sosial, dan ekologis yang positif dan
negatif dari aktivitas bisnis perusahaan terhadap lingkungan alam, energi, karyawan dan masyarakat serta
shareholders lainnya, kontribusi perusahaan untuk mengatasi masalah-masalah sosial, ekonomis, dan
ekologis. (Andreas Lako, 2003 dalam Anonim; 2011).
Akuntansi pertanggungjawaban sosial dan lingkungan berada dalam koridor akuntansi keuangan.
Bentuk akuntansi pertanggungjawaban sosial selama ini dikenal dengan istilah corporate social
responsibility (CSR) dan sustainability reporting (SR).
Laporan akuntansi pertanggungjawaban sosial dapat dilaporkan pada annual report atau sebagai
laporan terpisah dari annual report. Ikatan Akuntan Indonesia Kompartemen Akuntan Manajemen telah
menyelenggarakan Indonesia Sustainability Reporting Award (ISRA), yaitu penghargaan yang diberikan
kepada perusahaan yang telah menerapkan SR dengan baik. Dampak dari penghargaan ini diharapkan akan
meningkatkan reputasi perusahaan dan kemudian kesadarannya dalam melaporkan apa saja yang telah
mereka lakukan untuk memberikan nilai tambah untuk sosial dan lingkungan.
Pelaporan Lingkungan dalam situs resmi Kementrian Lingkungan Hidup (www.menlh.go.id) bahwa:
Environmental reporting adalah sebuah istilah yang biasanya digunakan oleh suatu institusi atau organisasi
untuk mengungkapkan data yang berhubungan dengan lingkungan, disahkan (diaudit) atau tidak, mengenai
risiko lingkungan, dampak lingkungan, kebijakan, strategi, target, biaya, pertanggungjawaban atau kinerja
lingkungan kepada pihak-pihak yang memiliki kepentingan terhadap informasi dengan tujuan meningkatkan
nilai hubungan dengan institusi atau organisasi yang memberi laporan melalui laporan tahunan, a standalone corporate environmental statement (pernyataan mengenai pengelolaan lingkungan) atau dalam bentuk
newsletter dan website).
Dalam penelitian Henry dan Murtanto (2001) menunjukkan bahwa tingkat pengungkapan sosial di
Indonesia masih relatif rendah yaitu 42,32 %. Pengungkapan sosial dilakukan oleh perusahaan paling banyak
ditemui pada bagian catatan atas laporan keuangan dan tipe pengungkapana yang paling banyak digunakan
adalah tipe naratif kualitatif.
2.10.1 Environmental Management Accounting (EMA)
EMA merupakan bidang disiplin ilmu akuntansi yang bertujuan memberikan informasi pada
manajemen atas pengelolaan lingkungan, dampaknya terhadap biaya produksi dan mengukur kinerja suatu
perusahaan. Sehingga tercapai model pengukuran kinerja yang seimbang antara ukuran financial profit
dengan kinerja pengelolaan lingkungan.
EMA dirumuskan berdasarkan dua pendekatan yaitu pertama prosedur aliran fisik atas konsumsi dan
pembuangan material dan energi (material flow balance procedure), kedua prosedur pengukuran nilai atas
biaya, penghematan dan pendapatan (monetary procedure) yang berhubungan dengan kemungkinan dampak
lingkungan. Kedua pendekatan tersebut sebagai dasar dalam mengidentifikasi, mengukur dan
mengalokasikan biaya lingkungan. Bagi manajer hal ini penting untuk menentukan harga pokok produksi
atas alokasi biaya lingkungan, juga sebagai dasar pengendalian biaya lingkungan dimasa yang akan datang.
Sehingga dapat dihasilkan produk yang ramah lingkungan.
Konsep prosedur aliran fisik material memberikan informasi penting dalam mengukur kinerja
manajemen lingkungan. Sedangkan prosedur pengukuran nilai memberi dasar dalam mengidentifikasi biaya
dan dasar alokasi sehingga dapat diukur biaya, penghematan, dan pendapatan atas pengelolaan lingkungan.
Sistem akuntansi biaya konvensional memperlakukan biaya lingkungan dan biaya bukan lingkungan
ke dalam rekening yang sama yaitu overhead. Perlakuan ini menghasilkan biaya tersembunyi atas biaya
lingkungan untuk manajemen. Hal ini membuktikan bahwa manajemen cenderung underestimate
mengembangkan dan meningkatkan kepedulian terhadap biaya lingkungan. Dengan sistem identifikasi,
penilaian, dan alokasi biaya lingkungan, EMA memberikan kesempatan untuk mengidentifikasi dan
mengukur penghematan biaya yang dapat dilakukan oleh perusahaan. Sehingga manajemen mempunyai
informasi untuk mengontrol dan mengendalikan biaya lingkungan demi tercapainya produk yang efisien dan
murah.
Terdapat dua pendekatan dalam merumuskan EMA, yaitu:
1. Monetary accounting (berbasis pada monetary procedure) merupakan upaya mengidentifikasi, mengukur
dan mengalokasikan biaya lingkungan berdasarkan perilaku aliran keuangan dalam biaya tersebut.

15
2. Physical accounting (berbasis pada material flow balance procedure) adalah suatu pendekatan untuk
mengidentifikasi berbagai perilaku sumber biaya lingkungan. Hal ini berguna bagi manajemen untuk dasar
alokasi biaya lingkungan yang terjadi.
Dengan pendekatan gabungan ini dapat dihasilkan alokasi biaya produksi yang tepat sehingga benarbenar mencerminkan harga pokok yang akurat setiap produk. Selain itu manajemen dapat melakukan
pengendalian terhadap aktivitas produksi yang mengakibatkan munculnya berbagai biaya lingkungan.
2.10.2 CSR (Corporate Social Responsibility)
Adanya alokasi dana CSR didalam pengungkapan laporan lingkungan (sustainability report)
perusahaan. Isi laporan lingkungan perusahaan menjabarkan tiap-tiap jumlah dana pemasukan dan
pengeluaran perusahaan untuk melakukan program-program CSR. Alokasi dana CSR merupakan hasil
pertanggungjawaban yang diberikan perusahaan terhadap sosial dan lingkungan. Bentuk
pertanggungjawaban perusahaan tersebut dapat berupa program pendidikan, kesehatan, penanaman pohon
secara besar-besaran, bakti sosial, program kesejahteraan karyawan, penanganan limbah akibat kegiatan
bisnis perusahaan dan lain sebagainya.
Dana CSR yang dianggarkan perusahaan diasumsikan berasal dari total pendapatan atas penjualan
produk dan jasa perusahaan. Hal ini dikarenakan kegiatan produksi perusahaan akan menimbulkan limbah
sehingga perusahaan harus menjaga keseimbangan lingkungan sekitar perusahaan. Setiap produk dan jasa
yang diproduksi akan dibebankan nilai kelestarian lingkungan kepada pelanggan yang menggunakan produk
dan jasa tersebut. Dari total pendapatan yang diterima dari penjualan produk dan jasa, perusahaan akan
menganggarkan untuk alokasi dana CSR yang akan dilakukan demi kelestarian sosial dan lingkungan. Dana
CSR yang dialokasikan oleh perusahaan dan diungkapkan di laporan lingkungan (sustainability report).
Salah satu tujuan perusahaan dalam pengungkapan kinerja lingkungan, sosial, dan ekonomi di dalam
laporan tahunan atau laporan terpisah adalah untuk mencerminkan tingkat akuntabilitas, responsibilitas, dan
transparansi corporate kepada investor dan stakeholders lainnya. Pengungkapan tersebut bertujuan untuk
menjalin hubungan komunikasi yang baik dan efektif antara perusahaan dengan publik dan stakeholders
lainnya tentang bagaimana perusahaan telah mengintegrasikan corporate social responsibilty (CSR)
lingkungan dan sosial dalam setiap aspek kegiatan operasinya (Darwin, 2007).
Tolak ukur kinerja lingkungan yang akan dipakai di dalam setiap penelitian dapat saja beragam,
tergantung dari indikator yang dipakai. Paling tidak ada empat indikator kinerja lingkungan yang saat ini bisa
digunakan; AMDAL (uji BOD dan COD air limbah), PROPER, ISO (yakni ISO 9001 untuk sistem
manajemen kualitas/mutu), ISO 14001 untuk sistem manajemen lingkungan internasional, dan ISO 17025
untuk Sertifikasi Uji Lingkungan dari lembaga independen), program lingkungan perusahaan (Corporate
Social Responsibility /CSR) dan GRI (Global Reporting Initiative). GRI merupakan pioner dalam
mengembangkan kerangka kerja pelaporan sustanability yang berisikan laporan keuangan lingkungan dan
sosial sebagai pembanding laporan keuangan.
Kinerja lingkungan yang digunakan dalam penelitian ini akan diwakilkan dengan ISO 9001 dan ISO
14001 yaitu sertifikasi manajemen kualitas (mutu) serta manajemen lingkungan yang diperoleh perusahaan
yang listing di Bursa Efek Indonesia (BEI). Pemilihan ini dikarenakan ISO 9001 dan ISO 14001 umumnya
diberikan kepada perusahaan yang telah memiliki Sistem Manajemen Kualitas dan Lingkungan yang
memenuhi standar internasional dan dikeluarkan oleh pihak yang berkompeten.
Pada program lingkungan perusahaan atau CSR, peneliti melihat dari ada tidaknya pelaksanaan
program CSR perusahaan kepada masyarakat yang tertuang pada Sustanaibility Reporting (SR). Pemberian
nilai 1 kepada perusahaan yang melaksanakan program lingkungan perusahaan dan nilai 0 bagi perusahaan
yang tidak melaksanakan. Pemilihan variabel alokasi dana CSR terdiri dari ada tidaknya Sustainability
Reporting (SR) dan dana yang dikeluarkan untuk program lingkungan perusahaan. Pemberian nilai 1 kepada
perusahaan yang masing-masing memiliki Sustanability Reporting (SR) dan dana program tanggung jawab
sosial dan lingkungan perusahaan. Dan pemberian nilai 0 pada sebaliknya. Selain itu, dipakai juga variabel
persentase dana program tanggung jawab sosial dan lingkungan perusahaan yang biasanya tertera dalam
biaya administrasi 40 umum yang terperinci salah satunya sebagai biaya pemeliharaan terhadap penjualan
bersih. Hal ini didasarkan pada keterkaitan yang mendekati terhadap alokasi dana CSR.
1. Kinerja Ekonomi, antara lain:
Persentase marjin perusahaan
Persentase ROA
Persentase ROE
Mempunyai tiga indikator, yaitu:
Marjin perusahaan

16

1.
2.
3.

ROA
ROE
2. Kinerja Lingkungan, antara lain:
Ada / Tidak ISO 9001
Ada / Tidak ISO 14001
Ada / Tidak program lingkungan
Mempunyai tiga indikator, yaitu:
ISO 9001
ISO 14001
Program Lingkungan
3. Alokasi Dana CSR, antara lain:
Ada / Tidak laporan lingkungan ( Sustainability Reports )
Ada / Tidak dana perusahaan yang dialokasikan untuk program lingkungan perusahaan
Persentase dana CSR yang dikeluarkan perusahaan
Mempunyai tiga indikator, yaitu:
Sustainability Report
Dana Lingkungan
Persentase Dana Lingkungan
Perusahaan menjadikan program lingkungan sebagai investasi masa depan perusahaan karena
program ini dinilai sangat efektif untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap produk dan jasa
perusahaan. Sehingga perusahaan dapat melakukan aktifitas bisnis yang berkelanjutan.
2.10.2.1 Laporan Berkelanjutan (Sustainability Report)
Sustainability report mengandung narrative text, foto, tabel, dan grafik yang memuat penjelasan
mengenai pelaksanaan sustainability perusahaan. Sustainability reporting dapat didesain oleh manajemen
sebagai cerita retorik untuk membentuk image (pencitraan) pemakainya melalui pemakaian narrative text.
Teks naratif (narrative text) merupakan bagian yang memainkan peranan penting bagi perusahaan dalam
membentuk image perusahaan. Teks naratif antara lain meliputi diskusi dan analisis manajemen dan
sambutan yang disampaikan direktur dan komisaris (David 2002; Yuthas et al. 2002).
Laporan berkelanjutan mempunyai pedoman standar GRI (Global Reporting Initiative). Pedoman
GRI meliputi bagian-bagian sebagai berikut (GRI, 2002).
Bagian pengantar memberikan informasi mengenai overview tentang sustainability reporting.
Bagian pertama memberikan definisi isi, kualitas, dan batasan laporan
Bagian kedua memberikan petunjuk mengenai standar pengungkapan dalam SR. Pengungkapan dalam SR
meliputi pengungkapan informasi yang relevan dan material mengenai organisasi yang menjadi perhatian
berbagai stakeholder.
Standar pengungkapan meliputi tiga bagian yaitu, sebagai berikut:
a. Strategi dan profil perusahaan.
b. Pendekatan manajemen.
c. Indikator kinerja yang meliputi ekonomi, lingkungan, dan sosial.
Gambar 1 Sustainability Reporting Guidelines GRI

17
Akuntansi pertanggungjawaban sosial dan lingkungan telah diterapkan oleh perusahaan di Indonesia.
Namun khususnya penerapan akuntansi lingkungan masih kurang karena adanya kendala dalam
penerapannya. Akuntan perlu mencari jalan keluar untuk meningkatkan penerapnnya. Pertama, dengan
pembuatan standar pelaporan sustainability reporting (SR). Standar yang baku dan mewajibkan
penerapannya khusus bagi perusahaan yang aktivitasnya berdampak pada lingkungan. Kedua, mewajibkan
perusahaan untuk menyusun SR dengan pedoman yang telah ada, misalnya pedoman SR yang dikeluarkan
oleh GRI. Ketiga, memberikan penghargaan bagi perusahaan yang telah menerapkan SR dengan baik.
Keempat, audit lingkungan untuk meningkatkan kredibilitas SR. Terakhir, mekanisme GCG perlu
dikembangkan untuk melindungi seluruh kepentingan pemangku kepentingan.
Green Economy Report merupakan laporan yang membuat kasus ekonomi makro untuk
meningkatkan investasi publik dan swasta dalam sektor hijau, misalnya:
Pertanian yang berkelanjutan
Pembaharuan
Energi
Perikanan
Kehutanan
Industri
Transportasi
Pengelolaan limbah dan daur ulang
Green Economy adalah salah satu yang menghasilkan manusia dapat meningkatkan kesejahteraan
dan social ekuitas. Secara signifikan dapat mengurangi resiko lingkungan dan kelangkaan ekologis. Green
economy adalah ekonomi atau model pembangunan ekonomu yang didasarkan pada pembangunan
berkelanjutan dan pengetahua ekonomu ekologi.
Tujuan laporan ini adalah untuk memotivasi dan memungkinkan investasi di sector hijau dan
reformasi kebijakan hijau. Di Negara berkembang Green Economy Report akan mencoba untuk
menunjukkan bahwa investasi hijau berkontribusi terhadap pembangunan ekonomi, untuk penciptaan
pekerjaan yang layak, dan untuk pengurangan kemiskinan sekaligus mengurangi emisi karbon dan degradasi
lingkungan. Di negara maju akan mencoba untuk menunjukkan bahwa investasi di sector ini akan
memungkinkan pertumbuhan ekonomi lebih cepat dan lebih besar sementara meletakkan dasar bagi masa
depan ekonomi karbon rendah. Selain itu, laporan ini akan memberikan panduan tentang bagaimana untuk
menetapkan kondisi-kondisi penting yang akan memungkinkan investasi tersebut untuk tumbuh.
Contoh tanggung jawab perusahaan terhadap lingkungan yang mengadakan beberapa programprogram untuk CSR salah satu perusahaan sawit di Indonesia PT. XYZ, semua kegiatan-kegiatan yang
merupakan rencana perusahaan akan dipertanggung jawabkan dalam laporan berkelanjutan tahunan. Berikut
contoh laporan berkelanjutan tahunan:
Pelaksanaan tanggung jawab perusahaan terintegrasi dalam Pedoman CSR PTBA yang mencakup
enam kegiatan, yaitu bidang : (1) ekonomi, (2) lingkungan, (3) hak azasi manusia, (4) praktik
ketenagakerjaan, dan (5) kelaikan kerja, tanggung jawab produk, dan (6) kemasyarakatan.
Keenam focus kegiatan tersebut mengacu kepada kaidah internasional mengenai keberhasilan
implementasi CSR yang ditetapkan oleh Global Reporting Initiatives (GRI), dan dilandasi oleh
etika/norma bisnis yang berlaku. Meliputi pembangunan ekonomi dan pemberdayaan masyarakat
lokal, peduli terhadap pelestarian lingkungan hidup, jaminan pelaksanaan non diskriminasi dan
penghargaan hak azasi manusia, jaminan kesehatan dan keselamatan kerja serta upaya peningkatan
kesejahteraan para karyawan, jaminan keamanan penggunaan produk dan kepuasaan pelanggan,
menjalin hubungan harmonis dengan masyarakat.
Perseroan telah melaksanakan kegiatan dibidang sosial, ekonomi dan lingkungan agar hasil
kegiatan operasional dari sisi kinerja ekonomi, sosial dan lingkungan seimbang. Hal tersebut juga
sebagai bentuk Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan terhadap masyarakat sekitar perusahaan agar
meningkatkan taraf hidup masyarakat maupun pelestarian lingkungan.
Melalui program kemitraan dan bina lingkungan (PKBL) serta bina wilayah, Perseroan
mengadakan kegiatan yang bertujuan memberdayakan potensi sosial ekonomi dan penciptaan kualitas
hidup yang lebih baik untuk masyarakat dan lingkungan sekitar. Pelaksanaan PKBL dan program bina
wilayah tersebut berpedoman pada Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN)
dan Undang-Undang.

18
PENINGKATAN PROGRAM KEMITRAAN DAN BINA LINGKUNGAN
Tujuan Program Kemitraan PTBA adalah peningkatan kemampuan usaha kecil dan koperasi di sekitar
wilayah operasi Perseroan agar tangguh dan mandiri dengan pemanfaatan dana dari sebagian laba
perseroan. Kegiatan Bina Lingkungan sendiri bertujuan untuk pemberdayaan program sosial
kemasyarakatan.
Perseroan bertekad meningkatkan kuantitas dan kualitas pelaksanaan Program Kemitraan maupun
Bina Lingkungan. Untuk Program Kemitraan, Perseroan menargetkan peningkatan kemandirian mitra
binaan dan membantu perluasan penjualan produk mitra binaan di wilayah operasional Perseroan.
Kerja sama penyaluran dana PK maupun BL dengan beberapa pihak yang kompeten dilakukan untuk
peningkatan kualitas mitra binaan.
Pada tahun 2011 Perseroan semakin aktif mengajak dan melibatkan peran-serta masyarakat
secara langsung dalam proses perencanaan, pelaksanaan maupun monitoring program pemberdayaan
sosial ekonomi masyarakat di lingkar tambang, sehingga pembangunannya tepat sasaran dan sesuai
kebutuhan masyarakat. Perseroan juga menjadikan pelaksanaan kegiatan Bina Lingkungan bidang
pendidikan menjadi prioritas. Melalui program PKBL dan Bina Wilayah, Perseroan meyakini
tumbuhnya kesejahteraan sosial dan ekonomi masyarakat sekitar menjadi lebih berdaya dan lebih
mandiri.
Penyaluran total dana PKBL tahun 2011 yang dialirkan oleh Perseroan naik 55,4% dari
tahun 2010, dari sebesar Rp 93,42 miliar menjadi Rp 145,20 miliar.
PROGRAM KEMITRAAN
Perseroan terus meningkatkan kemandirian mitra binaan sekaligus membantu memperluas
penjualan produk mitra binaan. Penyaluran Dana Kemitraan dilakukan secara selektif dengan
mempertimbangkan kondisi yang dimiliki oleh calon mitra binaan.
Jenis komoditas calon mitra binaan yang diprioritaskan untuk mendapatkan bantuan pembinaan
meliputi komoditas yang menjadi andalan daerah, komoditas tradisional yang potensial untuk
dikembangkan, komoditas yang berpeluang ekspor, komoditas yang menyerap tenaga kerja.
Pada tahun 2011, Perseroan telah merealisasikan dana Program Kemitraan sebesar Rp 98,95
miliar. Dana yang disalurkan tersebut meliputi dana pinjaman lunak kepada Usaha Kecil Menengah
sebesar Rp 11,62 miliar, kerjasama dengan BUMN Penyalur sebanyak 6 (enam) perusahaan sebesar
Rp 84,81 miliar, dan dana pembinaan sebesar Rp 2,51 miliar. Penyaluran dana Program Kemitraan
yang direalisasikan pada tahun 2011 meningkat 45,9% dari realisasi tahun 2010 sebesar Rp 67,63
miliar.
Efektivitas penyaluran dana Program Kemitraan tahun 2011 sebesar 85%, sedangkan tingkat
kolektibilitas pengembalian pinjaman mencapai 79%. Dana pinjaman lunak tersebut disalurkan kepada
473 (empat ratus tujuh puluh tiga) mitra binaan/Usaha kecil dan koperasi yang tersebar di 5 (lima)
wilayah. Perseroan juga akan meningkatan upaya sinergi dan profesionalitas dalam kegiatan
penyaluran dan berupaya meningkatkan tingkat kolektibilitas pengembalian pinjaman dana Program
Kemitraan.
PROGRAM BINA LINGKUNGAN
Program Bina Lingkungan PTBA dielaborasi dalam enam fokus kegiatan, yaitu Program
Pendidikan, Program Pengembangan Prasarana dan Sarana Umum, Program Perbaikan Sarana Ibadah,
Program Peningkatan Kesehatan, Program Pelestarian Alam dan Program Bantuan Bencana. Tujuan
dari program tersebut adalah untuk peningkatan standar hidup dan kesejahteraan masyarakat.
Total dana yang disalurkan melalui pelaksanaan Program Bina lingkungan meningkat sebesar
76,9% dari Rp 25,7 miliar di tahun 2010 menjadi Rp 45,3 miliar di tahun 2011. Semua bantuan
tersebut disalurkan melalui empat wilayah kerja mencakup Unit pertambangan Tanjung Enim, Unit
Pertambangan Ombilin, Pelabuhan Tarahan dan Dermaga Kertapati.
PROGRAM BINA WILAYAH
Program Bina Wilayah bertujuan untuk memberdayakan potensi ekonomi masyarakat sekaligus
mewujudkan komitmen Perseroan untuk bersama-sama menciptakan kualitas hidup yang lebih baik
bagi masyarakat. Program ini merupakan pemberian bantuan berupa bantuan fisik maupun non-fisik
dengan jangkauan wilayang yang lebih luas.
Pada tahun 2011, pelaksanaan program tersebut banyak digunakan untuk kepentingan
masyarakat. Partisipasi pembangunan tersebut disalurkan dalam bentuk dana Peran Serta
Pembangunan Daerah. Tahun 2011 Perseroan menyalurkan dana Peran Serta kepada Pemprov Sumsel,
Lampung, Pem Kab Muara Enim dan Lahat sebesar total Rp 38,6 miliar meningkat 125,4% dari tahun
sebelumnya

19
Perseroan bertasipasi dibidang olahraga melalui penyelesaian pembangunan sarana olah raga
berupa gedung tenis dalam rangka penyelenggaraan SEA GAMES di Palembang. Selain itu Perseroan
juga berpartisipasi dalam penyaluran dana pengembangan kegiatan olahraga ditingkat nasional maupun
lokal.
Di tahun 2011, total dana yang disalurkan melalui Program Bina Wilayah mencapai Rp 74,09
miliar, naik 229,5% dari nilai sebesar Rp 22,49 miliar di tahun 2010.
PENGELOLAAN PELESTARIAN LINGKUNGAN
Misi Perseroan dalam bidang ini diwujudkan melalui penerapan program-program pengelolaan,
pemantauan, pengembangan dan rehabilitasi lingkungan secara berkelanjutan.
Pengelolaan Lingkungan Dengan Sistem Terakreditasi
Perseroan menjalankan sistem terakreditasi ISO 14001: 2004 untuk meningkatkan efektifitas kegiatan
pengelolaan lingkungan yang mencakup sistem manajemen lingkungan, audit lingkungan, evaluasi
kinerja lingkungan dan kajian daur hidup pokok.
Penelitian dan Pengembangan Lingkungan
Beberapa kegiatan penelitian dan pengembangan bidang lingkungan yang dilaksanakan pada tahun
2011 adalah Perseroan mengembangkan mikoriza Arbuskula dalam kegiatan pembibitan tanaman dan
telah melakukan produksi massal, Perseroan mengembangkan teknik Kultur Jaringan, pemanfaatan Oli
bekas untuk peledakan, melakukan revegetasi dengan tanaman sawit, ujicoba revegetasi secara
lansung ,, serta melakukan konservasi tanaman lokal.
Selain itu, Perseroan juga mengimplementasikan pola Green Mining dan sosialisasi lingkungan
Laporan Pelaksanaan Reklamasi dan Rehabilitasi
Pembukaan lahan dan proses reklamasi areal tambang Perseroan telah dilaksanakan sesuai dengan butirbutir ketentuan pada UU No. 4 Tahun 2009 dan Permen No 18 tahun 2008. Seluruh ketentuan tersebut
telah dipenuhi oleh Perseroan.
Perseroan melaksanakan program pembangunan Taman Hutan Raya / Tahura Enim dengan
membagi area pasca tambang menjadi 3 blok dan 12 zona, yaitu :
1. Blok Perlindungan (766,40 Ha)
2. Blok Koleksi Tanaman (2.973,14 Ha)
3. Blok Pemanfaatan (1.655,03 Ha)
Sedangkan pembagian zona adalah sbb :
1. Zona Penerima/Rekreasi
2. Zona Sarana Prasarana
3. Zona Hutan Tanaman
4. Zona Kebun Koleksi
5. Zona Kebun Buah
6. Zona Peternakan
7. Zona Wisata Air
8. Zona Penelitian Produktif
9..Zona Pertanian/Agroforestry
10. Zona Perikanan
11. Zona Bumi Perkemahan
12. Zona Satwa
Tahun 2011, program reklamasi lahan pasca tambang sebagai Tahura Enim yang telah dilaksanakan
adalah :
- Pembuatan laboratorium Kultur Jaringan,
- Proses pelaksanaan relokasi penduduk dan TPU,
- Menyelesaikan pembangunan Gedung olah raga, sarana olah raga Bowling, jogging track dan
Futsal,
- Melanjutkan rencana pembuatan kantor terpadu untuk Satker K3 dan BWE System,
- Melakukan kerjasama penelitian lapangan lokal dengan Universitas Bengkulu,
- Melakukan kerjasama penelitian jenis-jenis tanaman jarak dengan Universitas Sriwijaya di IUP
Banko Barat,
- Melakukan pengkayaan tanaman dengan jenis tanaman lokal yang bernilai ekonomis tinggi dan
- Melakukan review master plan TAHURA ENIM.

20
PEMENUHAN HAK-HAK KARYAWAN DAN PENGHARGAAN TERHADAP HAK AZASI
MANUSIA
Perseroan menyadari pentingnya untuk menciptakan hubungan kerja sama yang serasi antara
manajemen dan seluruh karyawan Perseroan. Oleh karena itu, dalam praktiknya Perseroan
memperlakukan hal yang sama terhadap semua karyawan dengan tidak memandang suku, ras, agama,
jender dan haluan politiknya, begitu juga karyawan memiliki kebebasan berserikat dan melaksanakan
Perjanjian Kerja Bersama.
KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA SERTA LINGKUNGAN
Untuk mecapai standar kesehatan dan keselamatan kerja serta lingkungan yang tinggi, Perseroan
menerapkan kebijakan serta penyediaan sarana dan prasarana untuk setiap karyawan. Dalam
implementasi K3, Perseroan telah memperoleh sertifikasi Sistem Manajemen K3 (SMK3) dari
Depnakertrans RI.
KOMITMEN TERHADAP KUALITAS PRODUK DAN PERLINDUNGAN PELANGGAN
Standar kualitas dan perlindungan konsumen terhadap setiap produk yang dihasilkan mempunyai
pengaruh yang signifikan bagi pertumbuhan kinerja usaha secara berkelanjutan. Oleh karena itu,
Perseroan menetapkan dan memberlakukan kriteria yang ketat dalam proses dan output produksi
maupun pengawasan kualitas setiap produknya.
HUBUNGAN HARMONIS DENGAN MASYARAKAT BERLANDASKAN PRINSIP-PRINSIP
TATA KELOLA YANG BAIK
Melalui Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL), serta program Bina Wilayah, Perseroan
secara sistematis telah melaksanakan serangkaian kegiatan dengan melibatkan masyarakat. Sesuai
dengan prinsip transparansi, Perseroan juga membuka akses dan menjalin komunikasi timbal balik
dengan masyarakat dan pihak-pihak yang terkait.
Indonesia Sustainability Reporting Award merupakan ajang penghargaan yang diprakarsai oleh
Ikatan Akuntan Manajemen Indonesia (IAMI) bekerja sama dengan National Center for Sustainablity
Reporting (NCSR). PT. Aneka Tambang Tbk. memenangkan penghargaan The Best Sustainability Report
2007 sebagai bentuk apresiasi terhadap perusahaan-perusahaan yang concern terhadap sustainable
development. Adanya pelaporan tersebut adalah merupakan pencerminan dari perlunya akuntabilitas
perseroan atas pelaksanaan kegiatan CSR, sehingga para stakeholders dapat menilai pelaksanaan kegiatan
tersebut. Dengan adanya transparansi dan akuntabilitas, tujuan akhir yangdiharapkan adalah bahwa perseroan
dengan kesadaran sendiri akan melaksanakan kegiatan CSR.
CSR dijalankan terintegrasi dengan bisnis perusahaan, memperhatikan kepentingan stakeholders
dengan harapan memberikan manfaat/kesejahteraan bagi masyarakat.
2.11 Dasar Hukum
1. Berdasarkan pasal 47 UU PT No.40/2007 menyatakan bahwa:
a. Perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang dan/atau berkaitan dengan sumber daya
alam wajib melaksanakan tanggung jawab sosial dan lingkungan,
b. Tanggung jawab sosial dan lingkungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan kewajiban
perseroan yang dianggarkan dan perhitungan sebagai biaya perseroan yang pelaksanaannya dilakukan
dengan memperhatikan kepatutan dan kewajaran.
c. Perseroan yang tidak melaksanakan kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikenai sanksi
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
2. Sebagaimana tertulis pada Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) no. 1 (Revisi 1998). Paragraf
9 yang berbunyi sebagai berikut:
Perusahaan dapat pula menyajikan laporan tambahan seperti laporan mengenai lingkungan hidup dan
laporan nilai tambah (value added statement), khususnya bagi industri dimana faktor faktor lingkungan
hidup memegang peranan penting dan bagi industri yang menganggap pegawai sebagai kelompok
pengguna laporan yang memegang peranan penting.
PSAK tersebut tidak secara tegas mengharuskan perusahaan untuk melaporkan tanggung jawab
sosial mereka. Pengelompokkan, pengukuran dan pelaporan juga belum diatur, jadi untuk pelaporan
tanggung jawab sosial diserahkan pada masing-masing perusahaan. Standar akuntansi keuangan di Indonesia
belum mewajibkan perusahaan untuk mengungkapkan informasi sosial terutama informasi mengenai
tanggung jawab perusahaan terhadap lingkungan, akibatnya yang terjadi di dalam praktik perusahaan hanya
dengan sukarela mengungkapkannya.

21
3. Berdasarkan PSAK No. 33 paragraf 04 tahun 2009 menyatakan bahwa:
Sebagai akibat dari sifat dan karakteristik industry pertambangan umum, maka terdapat beberapa
perlakuan akuntansi khusus untuk industry tersebut yang berbeda dengan industry yang lainnya
terutama perlakuan akuntansi biaya eksplorasi, pengembangan dan konstruksi, produksi, dan
pengelolaan lingkungan hidup.
4. Regulasi mengenai akuntansi pertanggungjawaban sosial di Indonesia telah diatur dalam Pernyataan
Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 57 yang diterbitkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI).
5. UU No.19 Tahun 2003 tentang BUMN. UU ini kemudiaan dijabarkan lebih jauh oleh Peraturan Menteri
Negara BUMN No.4 Tahun 2007 yang mengatur mulai dari besaran dana hingga tata cara pelaksanaan CSR.
6. Pasal 17, Undang Undang Republik Indonesia Nomor 25, Tahun 2007 tentang Penanaman Modal
misalnya menyatakan sebagai berikut:
Penanam modal yang mengusahakan sumber daya alam yang tidak terbarukan wajib mengalokasikan
dana secara bertahap untuk pemulihan lokasi yang memenuhi standar kelayakan lingkungan hidup,
yang pelaksanaannya diatur sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
7. Berdasarkan Undang-undang RI No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan
Hidup pasal 67: Setiap orang berkewajiban memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup serta
mengandalkan pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup. Pasal 68 yang berbunyi:
Setiap orang yang melakukan usaha dan/ atau kegiatan wajib : (a) memberikan informasi yang
terkait dengan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup secara benar, akurat, terbuka dan
tepat waktu, (b) menjaga keberlanjutan fungsi lingkungan hidup, dan (c) mentaati ketentuan tentang
baku mutu lingkungan hidup dan/atau criteria baku kerusakan lingkungan hidup.
Dalam undang-undang tersebut dapat disimpulkan bahwa perusahaan dalam menjalankan
kegiatannya wajib untuk menjaga dan memelihara kelangsungan lingkungan hidup.
8. MOU antara Kementerian Lingkungan Hidup dengan Bank Indonesia yang ditanda tangani pada tahun
2005 yang mengatur aktiva produktif untuk kredit termasuk pada kualitas kredit. BI menggunakan proper
(perangkat penilaian peringkat kinerja perusahaan dalam pengelolaan lingkungan hidup) KLH dalam menilai
kelayakan kredit. (tempo Interaktif, 8 april 2005). Proper ini dapat digunakan untuk menilai tanggung jawab
perusahaan terhadap lingkungan, dampak pada lingkungan, yang mempengaruhi penentuan kualitas kredit
dan kelayakan perusahaan. Hal ini diatur dalam keputusan menteri lingkungan hidup no. 27/MenLH/2002.
Bagi perusahaan swasta, tolak ukur dapat dinyatakan dalam AMDAL, PROPER, Atau ISO 14001 dan ISO
17025.
2.12 Kasus Permasalahan Lingkungan dan Sosial pada Dunia Bisnis di Indonesia
Kasus kerusakan lingkungan di lokasi penambangan timah inkonvensional di pantai Pulau BangkaBelitung dan tidak dapat ditentukan siapakah pihak yang bertanggung jawab atas kerusakan yang terjadi
karena kegiatan penambangan dilakukan oleh penambangan rakyat tak berizin yang mengejar setoran pada
PT. Timah. Tbk. Sebagai akibat penambangan inkonvensional tersebut terjadi pencemaran air permukaan
laut dan perairan umum, lahan menjadi tandus, terjadi abrasi pantai, dan kerusakan laut (Ambadar, 2008).
Contoh lain adalah konflik antara PT Freeport Indonesia dengan rakyat Papua. Penggunaan lahan
tanah adat, perusakan dan penghancuran lingkungan hidup, penghancuran perekonomian, dan pengikaran
eksistensi penduduk Amungme merupakan kenyataan pahit yang harus diterima rakyat Papua akibat
keberadaan operasi penambangan PT. Freeport Indonesia. Bencana kerusakan lingkungan hidup dan
komunitas lain yang ditimbulkan adalah jebolnya Danau Wanagon hingga tiga kali (20 Juni 1998; 20-21
Maret 2000; 4 Mei 2000) akibat pembuangan limbah yang sangat besar kapasitasnya dan tidak sesuai dengan
daya dukung lingkungan (Rudito dan Famiola, 2007).
Namun, ada juga industri pertambangan yang menjalankan kegiatannya dengan memperhatikan dan
menjaga kelestarian lingkungan hidup sekitarnya. Misal PT Kaltim Prima Coal menunjukkan citranya
sebagai perusahaan yang peduli terhadap komunitas sekitarnya melalui kesuksesannya dalam menjalankan
program baik di bidang lingkungan, ekonomi, maupun sosial sehingga menerima penghargaan sebagai The
Most Outstanding Recognition Awards dalam CSR Awards 2005 yang diselenggarakan oleh Surindo
bekerjasama dengan Corporate Forum For Community Development (CFD) oleh majalah SWA dan Mark
Plus (Anatan, 2006).
Seperti PT. Telkom Indonesia, Pengakuan dari komitmen TELKOM dalam pengembangan
keberlanjutan di bidang ekonomi, sosial dan lingkungan,Perusahaan telah mendapat sejumlah penghargaan
terkait program CSR di tahun 2008, termasuk Best Sustainability Reporting Award dari ISRA Awards 2008
yang diselenggarakan oleh Institut Akuntansi Manajemen Indonesia (IAMI). Penghargaan ini diberikan
kepada perusahaan yang melaporkan kegiatan tanggung jawab sosial dan lingkungannya secara terbuka dan

22
lengkap. TELKOM juga dianugerahkan Juara Utama untuk Partisipasi Masyarakat Bisnis dan Dukungan
untuk Pembangunan Rumah di tahun 2008 dari Kementrian Negara Perumahan Rakyat. Penghargaan ini
diserahkan kepada perusahaan yang menunjukkan keprihatinan, melalui program CSR, untuk membangun
perumahan layak dan kesehatan masyarakat sebagai hak dasar bagi setiap warganegara. TELKOM juga
memenangkan juara kedua pada CSR Awards 2008 yang diselenggarakan oleh CFCD dan Departemen
Lingkungan untuk kategori Sosial, Ekonomi dan Lingkungan untuk program E-Province Jawa Timur. Pada
acara yang sama, TELKOM juga menerima Penghargaan Silver untuk kategori Sosial untuk program Desa
Digital Sampali dan Penghargaan Platinum untuk kategori Sosial, Ekonomi dan Lingkungan untuk program
Education for Tomorrow (E4T).
Penghargaan ini menunjukkan komitmen dan kebijakan perusahaan; perencanaan, implementasi,
pemantauan dan penilaian dari program CSR; dan juga proses pendokumentasian dari program-program
tersebut.
2.13 Sanksi Pencemaran Lingkungan
Sanksi Administratif adalah instrumen hukum publik yang dapat didayagunakan oleh pemerintah
sebagai hukuman atas perbuatan ketidaktaatan melaksanakan kewajiban, perintah dan/atau larangan yang
tercantum dalam peraturan perundang-undangan dan izin lingkungan:
1. Sanksi Administratif Teguran Tertulis adalah sanksi yang diterapkan kepada penganggung jawab usaha
dan/atau kegiatan dalam hal penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan telah melakukan pelanggaran
peraturan perundang-undangan dan persyaratan yang ditentukan dalam izin lingkungan. Namun
pelanggaran tersebut secara teknis masih dapat dilakukan perbaikan dan belum menimbulkan dampak
negatif terhadap lingkungan.
2. Sanksi Administratif Paksaan Pemerintah adalah sanksi administratif yang berupa tindakan nyata
(feitelijke handeling) untuk menghentikan pelanggaran dan/atau memulihkan dalam keadaan semula.
(lihat Psl 25 UUPPLH)
UUPPLH Pasal 25 berbunyi:
(1) Gubernur/Kepala Daerah Tingkat I berwenang melakukan paksaan pemerintahan terhadap
penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan untuk mencegah dan mengakhiri terjadinya
pelanggaran, serta menanggulangi akibat yang ditimbulkan oleh suatu pelanggaran, melakukan
tindakan penyelamatan, penanggulangan, dan/atau pemulihan atas beban biaya penanggung jawab
usaha dan/atau kegiatan, kecuali ditentukan lain berdasarkan Undang-undang.
(2) Wewenang sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dapat diserahkan kepada Bupati/
Walikotamadya/ Kepala Daerah Tingkat II dengan Peraturan Daerah Tingkat I.
(3) Pihak ketiga yang berkepentingan berhak mengajukan permohonan kepada pejabat yang
berwenang untuk melakukan paksaan pemerintahan, sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat
(2).
(4) Paksaan pemerintahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), didahului dengan
surat perintah dari pejabat yang berwenang.
(5) Tindakan penyelamatan, penanggulangan dan/atau pemulihan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) dapat diganti dengan pembayaran sejumlah uang tertentu.
3. Sanksi Administratif Pembekuan Izin Lingkungan, adalah sanksi yang berupa tindakan hukum untuk tidak
memberlakukan sementara izin lingkungan yang berakibat pada berhentinya suatu usaha dan/atau
kegiatan.
4. Sanksi administratif Pencabutan Izin, adalah tindakan hukum yang tidak memberlakukan secara tetap izin
lingkungan, sehingga usaha dan/atau kegiatan berhenti secara permanen.
2.15
Kegiatan Perusahaan dalam Penanganan Masalah Lingkungan Hidup
Kegiatan-kegiatan yang seharusnya dilakukan oleh perusahaan dalam masalah lingkungan hidup
berdasarkan PSAK ialah sebagai berikut:
1. Penyusunan dokumen analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL)
2. Upaya pencegahan pencemaran sungai oleh air hasil kegiatan usaha.
3. Pengaturan bentuk lahan (landscaping), misalnya pengaturan saluran pembuangan akhir.
4. Pencegahan pencemaran akibat debu, antara lain: penyemprotan air di lokasi jalan produksi dan tempat
lain yang dapat menimbulkan debu.
5. Pemantauan kualitas air saluran pemukiman di sekitar lokasi industri.
6. Pemantauan kualitas udara di lokasi industri dan pemukiman karyawan, serta penduduk sekitarnya
7. Pemantauan keberhasilan dari usaha pengendalian dan pengelolaan lingkungan yang dilakukan.