Anda di halaman 1dari 25

BAB IV

EKSPOR

4. 1

PENGERTIAN EKSPOR

Yang dimaksud dengan kegiatan ekspor adalah perdagangan dengan cara


mengeluarkan barang dari dalam keluar wilayah Pabean suatu negara dengan memenuhi
ketentuan yang berlaku Djauhari (2002:1).
Ekspor pada hakikatnya adalah suatu transaksi yang sederhana dan tidak lebih dari
membeli dan menjual barang antara pengusaha-pengusaha yang bertempat di negara-negara
yang berbeda. Namun dalam pertukaran barang dan jasa yang menyeberangi laut dan darat ini
tidak jarang timbul berbagai masalah yang kompleks antara pengusaha-pengusaha yang
mempunyai bahasa, kebudayaan, adat istiadat, dan cara yang berbeda-beda Hutabarat
(1989:1).
Ekspor adalah proses transportasi barang atau komoditas dari suatu negara ke negara
lain secara legal, umumnya dalam proses perdagangan. Proses ekspor pada umumnya adalah
tindakan untuk mengeluarkan barang atau komoditas dari dalam negeri untuk memasukannya
ke negara lain. Ekspor barang secara besar umumnya membutuhkan campur tangan dari bea
cukai di negara pengirim maupun penerima. Ekspor adalah bagian penting dari perdagangan
internasional.
Ekspor merupakan kegiatan mengeluarkan barang dari daerah pabean. Barang ekspor
adalah barang yang dikeluarkan dari daerah pabean. Kegiatan ekspor akan meningkatkan
devisa negara, untuk melakukan kegiatan ekspor suatu barang ke negara tertentu, diperlukan
prosedur ekspor yang harus dilakukan sesuai dengan dasar hukum yang berlaku di setiap
negara. Jika ekspor yang dilakukan tidak mengikuti prosedur dan tidak sesuai dengan dasar
hukum yang mengatur kegiatan ekspor, maka si pengekspor akan dikenai sankasi sesuai
dengan peraturan yang berlaku. Setiap negara memiliki peraturan dan ketentuan perdagangan
yang berbeda-beda. Produk yang akan dipasarkan haruslah memiliki standar mutu yang baik
(export quality) sehingga dapat memuaskan konsumen serta pengiriman barang yang tepat
waktu yang dapat berdampak terhadap pemesanan secara reguler. Disamping itu eksportir
haruslah mengerti selera konsumen negara tujuan ekspor.
(Sumber : Hutabarat, Roselyne. 1989. Transaksi Ekspor Impor, Jakarta: Erlangga.)

4.2

TUJUAN KEGIATAN EKSPOR

a. Meningkatkan laba perusahaan melalui perluasan pasar serta untuk memperoleh harga jual
yang lebih baik.
b. Membuka pasar baru di luar negeri sebagai perluasan pasar dalam negeri.
c. Memanfaatkan kelebihan komoditas yang dimiliki.
d. Membiasakan diri bersaing dalam pasar internasional sehingga mampu bersaing dengan
negara lain.

4.3

PRODUK EKSPOR DI INDONESIA

Pada prinsipnya semua produk/barang dapat diekspor, kecuali barang-barang yang


terlarang dan untuk tujuan pelestarian maupun karena aturan internasional.
Barang/jasa terdiri dari 4 kelompok :
a. Barang-barang yang diatur ekspor.
Dalam rangka mengikuti ketentuan internasional, menyangkut kesehatan, keselamatan,
keamanan, lingkungan hidup dan moral bangsa (K3LM), menjaga kelestarian alam dan
meningkatkan nilai tambah.

b. Barang-barang yang diawasi ekspornya.


Dalam rangka memenuhi kebutuhan dalam negeri dan menjaga kelestarian alam.
c. Barang-barang yang dilarang ekspornya.
Dalam rangka menjaga kelangkaan, menyangkut kesehatan, keselamatan, keamanan,
lingkungan hidup dan moral bangsa (K3LM), kelestarian alam dan bernilai sejarah.
d. Barang-barang yang bebas ekspornya.
Dalam rangka mendorong ekspor melalui pembukaan akses pasar peningkatan diversifikasi
produk.

Produk ekspor Indonesia meliputi hasil produk pertanian, hasil hutan, hasil perikanan,
hasil pertambangan, hasil industri dan begitupun juga jasa.
a. Hasil Pertanian
Contoh karet, kopi kelapa sawit, cengkeh,teh,lada,kina,tembakau dan cokelat.

b. Hasil Hutan
Contoh kayu dan rotan. Ekspor kayu atau rotan tidak boleh dalam bentuk kayu gelondongan
atau bahan mentah, namun dalam bentuk barang setengah jadi maupun barang jadi, seperti
mebel.
c. Hasil Perikanan
Hasil perikanan yang banyak di ekspor merupakan hasil dari laut. produk ekspor hasil
perikanan, antara lain ikan tuna, cakalang, udang dan bandeng.

d. Hasil Pertambangan
Contoh barang tambang yang di ekspor timah, alumunium, batu bara tembaga dan emas.
e. Hasil Industri
Contoh semen, pupuk, tekstil, dan pakaian jadi.
f. Jasa
Dalam bidang jasa, Indonesia mengirim tenaga kerja keluar negeri antara lain ke malaysia
dan negara-negara timur tengah.
(Sumber : Anindika, Ratya & Reed, R. Michael. Bisnis dan Perdagangan Internasional. 2008.
Andi: Yogyakarta)

4.4

PIHAK-PIHAK YANG BERPERAN DALAM KEGIATAN EKSPOR


Kegiatan perdagangan antarnegara lebih rumit daripada perdagangan di dalam negeri.

Hal ini karena perdagangan antarnegara melibatkan banyak pihak. Selain itu, ada perbedaan
bahasa, mata uang dan peraturan perdagangan di tiap-tiap negara. Para pelaku kegiatan
ekspor yaitu sebagai berikut:
a. Produsen Eksportir
Produsen Eksportir adalah perusahaan yang memproduksi barang-barang untuk
diekspor. Produsen eksportir tidak menggunakan jasa perantara yaitu pedagang ekspor.
Perusahaan yang bisa berperan sebagai produsen ekportir biasanya merupakan perusahaan
besar atau berskala internasional. Perusahaan ini biasanya sudah memiliki pasaran di luar
negeri. Misalnya, perusahaan di bidang tekstil, mebel, makanan kemasan dan elektronik.

b. Pedagang Ekspor
Pedagang ekspor merupakan badan usaha yang diberi izin pemerintah untuk
melakukan kegiatan ekspor. Pedagang ekspor tidak memproduksi sendiri barang yang
diekspornya, tetapi menjual hasil produksi orang lain. Pedagang ekspor harus memiliki izin
pemerintah dalam bentuk surat pengakuan eksportir, disertai dengan kartu Angka Pengenal
Ekspor (APE). Dengan surat tersebut, pedagang ekspor diperbolehkan untuk melaksanakan
ekspor komoditas sesuai yang tercantum dalam surat tersebut.
c. Wisma Dagang
Wisma dagang merupakan suatu perusahaan ekspor yang besar dan dapat mengekspor
berbagai komoditas. Perusahaan ini mempunyai jaringan pemasaran di seluruh dunia. Wisma
dagang bisa bermula dari eksportir yang hanya mengekspor satu komoditas. Seiring
perkembangan usahanya, eksportir mampu mengekspor berbagai komoditas.

4.5

PROSEDUR ATAU LANGKAH-LANGKAH DALAM PROSES EKSPOR


Berikut langkah-langkah yang bisa dilakukan dalam proses ekspor :
1. Mencari tahu terlebih dahulu apakah barang yang akan kita ekspor tersebut termasuk
barang yang dilarang untuk di ekspor, diperbolehkan untuk di ekspor tetapi dengan
pembatasan, atau barang yang bebas di ekspor (Menurut undang-undang dan
peraturan di Indonesia).
2. Memastika juga apakah barang kita diperbolehkan untuk masuk ke Negara tujuan
ekspor.
3. Jika kita sudah mendapatkan pembeli (buyer), menentukan sistem pembayaran,
menentukan

quantity

dan

spesifikasi

barang,

dll,

maka

selanjutnya

kita

mempersiapkan barang yang akan kita ekspor dan dokumen-dokumennya sesuai


kesepakatan dengan buyer.
4. Melakukan pemberitahuan pabean kepada Pemerintah (Bea Cukai) dengan
menggunakan dokumen Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB) beserta dokumen
pelengkapnya.

5. Setelah eksportasi kita di setujui oleh Bea Cukai, maka akan diterbitkan dokumen
NPE (Nota Persetujuan Ekspor). Jika sudah terbit NPE, maka secara hukum barang
kita sudah dianggap sebagai barang ekspor.
6. Melakukan stuffing dan mengapalkan barang kita menggunakan moda transportasi
udara (air cargo), laut (sea cargo), atau darat.
7. Mengasuransikan barang atau kargo kita (jika menggunakan term CIF)
8. Mengambil pembayaran di Bank (Jika Menggunakan LC atau pembayaran di akhir)

4.6
SISTEM DAN PROSEDUR TATALAKSANA KEPABEANAN DI BIDANG
EKSPOR
DASAR HUKUM
1. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 Tentang Kepabeanan jo. Undang-Undang Nomor
17 tahun 2006 tentang Perubahan UU Nomor 10/1995.
2. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1995 Tentang Cukai

Tatalaksana Ekspor
1. Kep. Menkeu nomor 557/KMK.04/2002 tentang Tatalaksana Kepabeanan di bidang Ekspor
2. Kep. DJBC nomor KEP-151/BC/2003 tentang Petunjuk Pelaksanaan Tatalaksana
Kepaneanan di bidang Ekspor
3. Kep. DJBC nomor KEP-152/BC/2003 tentang Petunjuk Pelaksanaan Tatalaksana
Kepaneanan di bidang Ekspor untuk Barang Ekspor yang mendapat Kemudahan Impor
Tujuan Ekspor

Konsepsi Dasar
Ekspor adalah kegiatan mengeluarkan barang dari Daerah Pabean
1. Ps.2(2)UUNo.17/2006:
Barang yang telah dimuat di sarana pengangkut untuk dikeluarkan dari Daerah
Pabean dianggap telah diekspor dan diperlakukan sebagai barang ekspor
2. Ps.2(3)UUNo.17/2006:

Barang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) bukan merupakan barang ekspor dalam
hal dapat dibuktikan bahwa barang tersebut ditujukan untuk dibongkar di suatu tempat dalam
Daerah Pabean
3. Ps.4UUNo.17/2006(samadenganUU No. 10/1995):
Terhadap barang ekspor dilakukan penelitian dokumen dan dalam hal tertentu dapat
dilakukan pemeriksaan fisik atas barang ekspor
1. Pemeriksaan fisik atas barang ekspor, hanya dilakukan untuk barang ekspor yang:

Berdasarkan petunjuk yang kuat akan terjadi pelanggaran atau telah terjadi
pelanggaran ketentuan di Bidang Ekspor (NI/NHI);

Akan dimasukkan kembali ke dalam Daerah Pabean (re-impor);

Berasal dari impor sementara;

Seluruhnya atau sebagian berasal dari barang impor yang mendapatkan fasilitas
pembebasan Bea Masuk, penangguhan pembayaran PPN/PPn BM, dan pengembalian Bea
Masuk serta pembayaran pendahuluan PPN/PPn BM.

4. Ps. 11A UU 17/2006:


Barang yang akan diekspor wajib diberitahukan dengan Pemberitahuan Pabean
5. Ps. 5 (2) dan 5A UU 17/2006:
Pemberitahuan Pabean diserahkan kepada Pejabat Bea dan Cukai di Kantor Pabean
atau tempat lain yang disamakan dengan Kantor Pabean dalam bentuk formulir atau melalui
media elektronik.

Larangan/Pembatasan Ekspor
1. Acuan:
Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan nomor558/MPP/Kep/12/1998 yg
telah beberapa kali diubah, terakhir dengan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor : 01/MDAG/PER/2007
2. Kategori:
O Yang diatur tata niaga ekspornya ekspornya hanya dapat dilakukan oleh eksportir terdafta
O Barang yang diawasi ekspornya ekspornya hanya dapat dilakukan dengan persetujuan
Menteri Perdagangan

O Barang yang dilarang ekspornya tidak boleh diekspor

Pungutan Ekspor
Pungutan ekspor adalah pungutan yang dikenakan terhadap barang ekspor tertentu
1.
Barang yang dikenakan pungutan ekspor adalah barang sebagaimana ditetapkan
dalam Lampiran Peraturan Menteri Keuangan 92/PMK.02/2005 jo. PMK 95/PMK.02/2005
jo. 61/MK.011/2007 meliputi: Kelapa sawit, CPO dan Produk turunannnya; Rotan; Kayu;
Pasir; Kulit; dan Batu bara Pungutan Ekspor wajib dibayarkan paling lambat pada saat PEB
didaftarkan secara tunai dan disetor ke Kas Negara melalui Bank Devisa Persepsi.

PENELITIAN DOKUMEN
1.

Komputer Kantor Pabean melakukan kegiatan penelitian :

Kelengkapan & Kebenaran pengisian data PEB


Kebenaran perhitungan dan pelunasan PE dalam hal barang ekspor terkena PE
Pos Tarif barang ekspor yang terkena PE dan diatur, diawasi, atau dilarang ekspornya
Jenis barang ekspor termasuk barang yang :
1.Akan diimpor kembali
2.Diekspor kembali
3.Mendapat kemudahan ekspor

4.7

PERMASALAHAN DALAM EKSPOR

Barang-barang yang diperdagangkan ke luar negeri atau di ekspor terdiri dari


bermacam-macam jenis hasil bumi disamping hasil tambang dan hasil laut dan lainnya. Kita
mengetahui bahwa masalah ekspor itu bukanlah persoalan yang berdiri sendiri, tetapi
hanyalah sebagai ujung dari suatu kegiatan ekonomi yang menyangkut bidang yang amat
luas, atau paling banyak dapat dikatakan hanya sebagai salah satu dari satu mata rantai
akitifitas perekonomian pada umumnya.
Hasil bumi misalnya sebagian dihasilkan oleh perkebunan-perkebunan milik
pemerintah maupun swasta, sedangkan sebagian lagi oleh petani-petani kecil yang bertebaran
diseluruh tanah air. Bahkan hasil-hasil itu masih bertebaran di hutan. Akan tetapi semuanya
itu tidak akan menjelma menjadi devisa nyata kalau tidak diusahakan. Hasil-hasil itu setidak-

tidaknya harus dikumpulkan lebih dulu sedikit demi sedikit dari tempat kecil yang terpencil
di pedalaman. Dari situ harus diangkut ke kota dan kemudian dalam umlah yang agak banyak
baru diagkut ke pelabuhan yang terdekat.
Sampai pada taraf itu Indonesia sudah dihadapkan pada masalah-masalah tertentu, yaitu :
A. Masalah pengumpulan dan masalah angkutan darat
Masalah pengumpulan merupakan persoalan tersendiri, bagaimana caranya mengumpulkan
barang itu dari tempat-tempat kecil dan dari produsen yang tersebar itu. Bidang prasarana
ekonomi inonesia memang tidak sempurna, sehingga dalam banyak hal menjadi hambatan
dalam usaha ke arah perbaikan dalam bidang-bidang lain.
B. Masalah pembiayaan Rupiah ( Rupiah Financing)
Persoalan pembiayaan ini merupakan pesoalan yang penting pula, apakah keuangan sendiri
dari setiap pengusaha cukup kuat untuk membiayainya, ataukah tidak perlu bantuan dari
bank-bank pemerintah atau badan-badan keuangan lainnya. Kalau demikian halnya sampai
sejauh mana pemerintah dapat memberikan bantuan dalam pemecahan persoalan pembiayaan
rupiah ini.
Barang ekspor kita sebagian dihasilkan oleh produsen kecil ataupun hanya dipungut dari
hutan-hutan, laut dan sungai. Produsen atau pengumpul pertama itu mempunyai tingkat
pengetahuan dan cara pengolahan yang tidak sama, sehingga barang yang dihasilkan belum
mempunyai mutu yang seragam, bahkan mungkin sekali belum dilakukan pengolahan sama
sekali. Barang masih sedemikian itu sudah tentu belum dapat diperdagangkan ke luar negeri,
tetapi masih perlu di olah lebih dahulu.
C. Masalah sortasi dan Up-grading (sorting & up-grading)
Baik di desa maupun di kota-kota pelabuhan barang-barang yang sudah terkumpul harus
disimpan dengan baik dan dimasukkan di dalam karung ataupun peti yang kuat sehingga
terhindar dari kemungkinan kerusakan selama dalam penyimpanan atau selama dalam
perjalanan. Jadi dalam hal inipun tidak dapat diabaikan persoalan.

4.8

PENGERTIAN IMPOR

Transaksi Impor adalah perdagangan dengan cara memasukkan barang dari luar
negri kedalam daerah pabean Indonesia dengan mematuhi ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku. Importir adalah perusahaan yang melakukan kegiatan perdagangan
dengan cara memasukkan barang dari luar negri ke dalam wilayah pabean Indonesia dengan
memenuhi ketentuan yang berlaku.
Kebijakan umum di bidang impor berikut ini bersumber dari Kebijakan Umum di
bidang Impor yang ditetapkan oleh Kantor Departemen Perdagangan Pusat pada akhir tahun
2008.Indonesia merupakan Negara anggota WTO yang harus mematuhi rambu-rambu dan
peraturan perdagangan internasional yang telah disepakati bersama.Aturan di bidang impor
yang boleh diterapkan oleh suatu Negara harus berkaitan dengan kesehatan keselamatan
keamanan lingkungan hidup dan moral bangsa (K3LM). Kebijakan impor merupakan bagian
dari kebijakan perdagangan yang melindungi kepentingan nasional dan pengaruh masuknya
barang-barang dari negara lain.
Impor merupakan kegiatan membeli barang atau jasa dari negara lain.
kegiatanmenghasilkan devisa bagi negara. Devisa merupakan masuknya uang asing kenegara
kita dapat digunakan untuk membayar pembelian atas impor dan jasa dari luar negeri.
Setiap negara memiliki sumber daya alam yang berbeda-beda antara satu sama lain
yang tidak terdapat di negara lain, suatu negara yang membutuhkan komoditi yang tidak
tersedia di negaranya tetapi tersedia di negara lain, maka negara tersebut akan melakukan
perdagangan atau pertukaran komoditi dengan negara lain sehingga terjadilah kegiatan ekspor
dan impor tiap negara.
Kegiatan impor dilakukan untuk memenuhi kebutuhan rakyat. Produk impor
merupakan barang-barang yang tidak dapat dihasilkan atau negara yang sudah dapat
dihasilkan,tetapi tidak dapat mencukupi kebutuhan rakyat. Kegiatan ekspor impor sudah
menjadi agenda wajib dalam perdagangan setiap Negara.

4.9

KETENTUAN DAN PERSYARATAN

Berdassarkan keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor


229/MPR/Kep/7/1997 tanggal 1 Juli 1997 tentang Ketentuan Umum di Bidang Impor serta
Kebijakan Umum di Bidang Impor yang disusun oleh Departemen Perdagangan dan
diterrbitkan :
1.
Impor hanya dapat dilakukan oleh perusahaan yag telah memiliki API kecuali : barang
pindahan dari barang Impor sementara barang kiriman barang contoh tidak diperdagangkan.

2.
Barang Impor harus dalam keadaaan baru kecuali : Kapal Pesiar dan kapal ikan atau
ditetapkan oleh Mentri perdagangan.
3.

Angka Pengenal Impor (API)

1)
Angka Pengenal Importir, selanjutnya disingkat API adalah tanda pengenal sebagai
importir. Importir sendiri adalah orang perorangan atau badan usaha yang berbentuk badan
hukum atau bukan badan hukum yang melakukan kegiatan impor.
Sedangkan untuk API, menurut pasal 3 Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 45/MDAG/PER/9/2009 Tahun 2009 tentang Angka Pengenal Importir(Permendag API), ada dua
macam API, yaitu:
a.
API Umum (API-U). API U diberikan kepada importir yang melakukan impor
barang untuk keperluan kegiatan usaha dengan memperdagangkan atau memindahtangankan
barang kepada pihak lain.
b.
API Produsen (API-P). API P diberikan kepada importir yang melakukan impor
barang untuk dipergunakan sendiri dan/atau untuk mendukung proses produksi dan tidak
diperbolehkan untuk memperdagangkan atau memindahtangankan kepada pihak lain.
Menurut pasal4 Permendag API, API U diterbitkan oleh Kepala Dinas Provinsi
Perdagangan. Sedangkan untuk API P, penerbitannya dibagi-bagi, yaitu:
1.
bagi badan usaha atau kontraktor di bidang energi, minyak dan gas bumi, mineral
serta pengelolaan sumber daya alam lainnya yang melakukan kegiatan usaha, berdasarkan
perjanjian kontrak kerja sama dengan Pemerintah Republik Indonesia, API P dimohonkan
kepada Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri, Departemen Perdagangan.
2.
bagi perusahaan penanaman modal asing dan perusahaan penanaman modal dalam
negeri kepada dimohonkan kepada Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).
3.
Bagi importir pemilik izin usaha di bidang industri atau izin usaha lain yang sejenis
yang diterbitkan oleh instansi/dinas teknis yang berwenang, selain dari perusahaanperusahaan di point 1 dan 2 di atas, API P dimohonkan kepada Kepala Dinas Perdagangan
Provinsi.
Menurut pasal 11 ayat (1) Permendag API, permohonan untuk mendapatkan API-U
diajukan dengan mengisi formulir kepada Kepala Dinas Provinsi dan tembusan kepada
Kepala Dinas Kabupaten/Kota setempat, dengan melampirkan dokumen-dokumen sebagai
berikut:
1.

fotokopi Akta Notaris Pendirian Perusahaan dan perubahannya jika ada.

2.
fotokopi surat keterangan domisili kantor pusat perusahaan yang masih berlaku dari
kantor Kelurahan setempat atau fotokopi perjanjian sewa tempat berusaha dengan pengelola
atau pemilik bangunan.
3.
fotokopi Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) atau izin usaha lain yang sejenis yang
diterbitkan oleh instansi/dinas teknis yang berwenang di bidang perdagangan.

4.

fotokopi Tanda Daftar Perusahaan (TDP).

5.
fotokopi Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) Perusahaan atau perseorangan dan
Penanggung Jawab Perusahaan.
6.
pas foto terakhir dengan latar belakang warna merah masing-masing Pengurus atau
Direksi Perusahaan 2 (dua) lembar ukuran 3 x 4.
7.

fotokopi KTP atau Paspor dari Pengurus atau Direksi Perusahaan.

Sedangkan, untuk permohonan API P bagi badan usaha atau kontraktor di bidang
energi, minyak dan gas bumi, mineral serta pengelolaan sumber daya alam lainnya yang
melakukan kegiatan usaha berdasarkan perjanjian kontrak kerja sama dengan Pemerintah
Republik Indonesia, menurut pasal 11 ayat (2) Permendag API, diajukan dengan mengisi
formulir yang ditujukan pada Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri, dalam hal ini
Direktur Impor, dengan melampirkan dokumen berikut:
1.
salinan Kontrak Kerjasama dengan Pemerintah atau Badan Pelaksana yang dibentuk
oleh Pemerintah untuk melakukan pengendalian kegiatan usaha di bidang energi, minyak dan
gas bumi, mineral serta pengelolaan sumber daya alam lainnya.
2.
asli Rekomendasi dari Pemerintah atau Badan Pelaksana sebagaimana dimaksud pada
huruf a.
3.

fotokopi Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) badan usaha atau kontraktor.

4.
pas foto terakhir dengan latar belakang warna merah masing-masing penanggung
jawab Kontraktor Kontrak Kerjasama 2 (dua) lembar ukuran 34.
5.

fotokopi bukti identitas/paspor masing-masing penanggung jawab.

Permohonan API P yang diajukan pada BKPM, dilakukan dengan mengisi formulir dan
melampirkan dokumen-dokumen sebagai berikut:
1.

fotokopi Akta Notaris Pendirian Perusahaan dan perubahannya.

2.
fotokopi surat keterangan domisili kantor pusat perusahaan yang masih berlaku dari
kantor kelurahan setempat atau fotokopi perjanjian sewa atau kontrak tempat berusaha.
3.

fotokopi Surat Pendaftaran Penanaman Modal.

4.
fotokopi izin usaha di bidang industri atau izin usaha lain yang sejenis yang
diterbitkan oleh Kepala BKPM.
5.

fotokopi Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) Perusahaan sesuai dengan domisilinya.

6.

fotokopi Tanda Daftar Perusahaan (TDP).

7.
pas foto terakhir dengan latar belakang warna merah masing-masing Pengurus atau
Direksi Perusahaan 2 (dua) lembar ukuran 3 x 4.

8.

fotokopi KTP atau Paspor dari Pengurus atau Direksi.

9.
fotokopi Izin Menetap Tenaga Asing (IMTA), khusus untuk tenaga kerja asing yang
menandatangani API.
Sedangkan API P yang diajukan pada Kepala Dinas Perdagangan Provinsi, diajukan
dengan mengisi formulir dan melampirkan dokumen-dokumen sebagai berikut:
1.

fotokopi Akta Notaris Pendirian Perusahaan dan perubahannya.

2.
fotokopi surat keterangan domisili kantor pusat perusahaan yang masih berlaku dari
kantor kelurahan setempat atau fotokopi perjanjian sewa tempat berusaha.
3.
fotokopi izin usaha di bidang industri atau izin usaha lain yang sejenis yang
diterbitkan oleh instansi/dinas teknis yang berwenang.
4.

fotokopi Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) Perusahaan sesuai dengan domisilinya.

5.

fotokopi Tanda Daftar Perusahaan (TDP).

6.
pas foto terakhir dengan latar belakang warna merah masing-masing Pengurus atau
Direksi Perusahaan 2 (dua) lembar ukuran 3 x 4.
7.

fotokopi KTP atau Paspor dari Pengurus atau Direksi Perusahaan.

Sementara itu, dokumen yang diurus ke pihak Bea Cukai bukanlah API, melainkan
Nomor Identitas Kepabeanan (NIK). NIK adalah nomor identitas yang bersifat pribadi yang
diberikan oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai kepada importir yang telah melakukan
registrasi untuk mengakses atau berhubungan dengan sistem kepabeanan yang menggunakan
teknologi informasi maupun secara manual (lihat pasal 1 angka 4 Peraturan Menteri
Keuangan Nomor 124/PMK.04/2007 tentang Registrasi Importir).

Dasar hukum :
1.
Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 45/M-DAG/PER/9/2009 Tahun 2009 tentang
Angka Pengenal Importir.
2.

Peraturan Menteri Keuangan Nomor 124/PMK.04/2007 tentang Registrasi Importir

Barang dapat diimpor tanpa API adalah :


1.

Barang pindahan , barang promosi dan barang impor sementara.

2.

Barang keperluan penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan.

3.

Barang contoh yang tidak untuk diperdagangkan.

4.
Barang untuk keperluan badan internasional beserrta pejabat yang bertugas di
Indonesia berdasarkan asaa timbal balik.
5.
2)

Barang yang telah diekspor untuk keperluan perbaikan, pengerjaan dan pengujian.
Nomor Pengenal Importir Khusus (NPIK)

Maraknya penyelundupan atau imor illegal, peningkatan jumlah impor yang cukup
besar sehingga dikhawatirkan akan mengganggu industry dalam negeri.
Barang yang diimpor tanpa NPIK adalah :
1.

Barang keperluan pemerintah dan lembaga Negara lainnya.

2.

Barang keperluan oenelitian dan pengembangan teknologi.

3.
Barang keperluan bantuan teknik dan bantuan proyek berdasarkan Peraturan
Pemerintah No.19 Tahun 1955 tentang Peraturan Pembebasan dari Bea Masuk dan Bea
Keluar.
4.
Keperluan pemberian hadiah untuk tujuan ibadah umum, amal, social, kebudayaan
untuk kepentingan bencana alam.
5.

3.)

Barang pribadi penumpang atau awak sarana pengangkutan lintas batas.

Kewajiban Importir

1.
Importir pemilik NPIK setiap bulan wajib menyampaikan laporan secaraa tertulis
kepada Direktur Impor tentang dilaksanakan tidak dilaksanakan impor baik melalui faks, jasa
kantor pos, atau disampaikan langsung.
2.
Laporan tersebut disampaikan paling lambat tanggal 15 bulan berikutnya sejak NPIK
diterbitkan.

4.)

Tujuan Kebijakan Impor

1.
Menunjang terciptanya iklim usaha yang mendorong peningkatan efisiensi dalam
perdagangan nasional.
2.
Mengendalikan impor yang berkaitan dengan perlindungan terhadap Hak Atas
Kekayaan Intelektual.
3.

Mendorong pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

4.

Mendorong investasi dan produksi untuk tujuan ekspor dan impor.

5.

Penghematan devisa dan pengendalian inflasi.

6.

Meningkatkan efisiensi impor melalui Harmonisasi Tarif dan Tata Niaga Impor.

7.

Menertibkan dan meningkatkan peranan sarana serta lembaga penunjang impor.

8.

Memenuhi ketentuan WTO

5.)

Verifikasi / Penelusuran Teknis Impor

1.
Jenis barang yang wajib diverifikasi adalah beras, gula, tekstil, dan produk tekstil,
garam, nitro celluloe ,cakram optik, prekursor, barang modal baru, mesin multifungsi
berwarna, mesin fotokopi berwarna dan meisn cetak berwarna dan keramik.
2.
Setiap pelaksanaan impor barang tertentu wajib dilakukan verifikasi di pelabuhan
negara muat barang yang dilakukan oleh surveyor yang ditetapkan oleh Menteri
Perdagangan.
3.

Verifikasi yang dilakukan meliputi :

4.

Uraian spesifikasi barang yang emncakup nomro Pos Tarif/HS.

5.

Jumlah serta berat bersih (neto) per jenis barang.

6.

Data atau keterangan mengenai negara asal barang

7.

Waktu pengapalan

6.)

Tata Tertib Administrasi Importir

Dalam Pasal 49 Undang-undang Nomor 10 Tahun 1995 menimbulkan hambatan


dalam upaya peningkatan penemrimaan negara dan pajak Bea Masuk serta peningkatan
kelancaran arus barang dan dokumen impor juga dengan berlakunya Undang-undang Nomor
7 tahun 1994 tentang Pengesahan Agreement Eastablishing the World Trade Organization
(WTO) maka pemegang API yang melakukan kegiatan impor dilakukan tertib administrasi
diantaranya :
1.
Melakukan mengecekan kebenaran alamat, identitas pengurus dan penanggung jawab
sesuai API dan nomor NPWP.
2.

Kebenaran jenis usaha.

3.

Pembukuan importir dapat diaudit.

4.10

PRODUK IMPOR SI INDONESIA

Indonesia mengimpor barang-barang konsumsi bahan baku dan bahan penolong serta
bahan modal. Barang-barang konsumsi merupakan barang-barang yang digunakan untuk
memenuhi kebutuhan sehari-hari,seperti makanan, minuman, susu, mentega, beras, dan
daging. bahan baku dan bahan penolong merupakan barang- barang yang diperlukan untuk
kegiatan industri baik sebagai bahan baku maupun bahan pendukung, seperti kertas, bahanbahan kimia, obat-obatan dan kendaraan bermotor
Barang Modal adalah barang yang digunakan untuk modal usaha seperti mesin, suku
cadang, komputer, pesawat terbang, dan alat-alat berat. produk impor indonesia yang berupa
hasil pertanian, antara lain, beras, terigu, kacang kedelai dan buah-buahan. produk impor
indonesia yang berupa hasil peternakan antara lain daging dan susu.
Produk impor Indonesia yang berupa hasil pertambangan antara lan adalah minyak
bumi dan gas, produk impor Indonesia yang berupa barng industri antara lain adalah barangbarang elektronik, bahan kimia, kendaraan. dalam bidang jasa indonesia mendatangkan
tenaga ahli dari luar negeri.
4.11

PROSEDUR DALAM IMPOR

Yang diijinkan untuk melakukan importasi barang hanyalah perusahaan yang


mempunyai Nomor Identitas Kepabeanan (NIK) atau Nomor Registrasi Importir (SPR). Bila
sebuah Perusahaan ingin mendapatkan fasilitas ijin impor, maka perusahaan tersebut terlebih
dahulu harus mengajukan permohonan ke Direktorat Jendral Bea dan Cukai untuk
mendapatkan NIK/ SPR.
Adapun Perusahaan yang belum mempunyai NIK/ SPR maka hanya diijinkan
melakukan importasi sekali saja.
Persyaratan tambahan yang juga harus dipenuhi sebelum perusahaan melakukan
importasi adalah harus mempunyai Angka Pengenal Impor (API) yang dikeluarkan oleh
Kementerian Perdagangan. Apabila perusahaan belum mepunyai API dan berniat melakukan
importasi harus terlebih dahulu mendapatkan persetujuan impor tanpa API.

Berikut ini diagram dari prosedur impor di Indonesia :


Adapun penjelasan prosedur umum proses impor di Indonesia melalui portal INSW adalah
sebagai berikut :
1.

Importir mencari supplier barang sesuai dengan yang akan diimpor.

2.
Setelah terjadi kesepakatan harga, importir membuka L/C di bank devisa dengan
melampirkan PO mengenai barang-barang yang mau diimpor; kemudian antar Bank ke Bank
Luar Negeri untuk menghubungi Supplier dan terjadi perjanjian sesuai dengan perjanjian isi
L/C yang disepakati kedua belah pihak.

3.
Barangbarang dari Supplier siap untuk dikirim ke pelabuhan pemuatan untuk
diajukan.
4.
Supplier mengirim faks ke Importer document B/L, Inv, Packing List dan beberapa
dokumen lain jika disyaratkan (Serifikat karantina, Form E, Form D, dsb)
5.

Original dokumen dikirim via Bank / original kedua ke importir

6.
Pembuatan/ pengisian dokumen PIB (Pengajuan Impor Barang). Jika importir
mempunyai Modul PIB dan EDI System sendiri maka importir bisa melakukan penginputan
dan pengiriman PIB sendiri. Akan tetapi jika tidak mempunyai maka bisa menghubungi pihak
PPJK (Pengusaha Pengurusan Jasa Kepabeanan) untuk proses input dan pengiriman PIB nya.
7.
Dari PIB yang telah dibuat, akan diketahui berapa Bea masuk, PPH dan pajak yang
lain yang akan dibayar. Selain itu Importir juga harus mencantumkan dokumen kelengkapan
yang diperlukan di dalam PIB.
8.
Importir membayar ke bank devisa sebesar pajak yang akan dibayar ditambah biaya
PNBP
9.
Bank melakukan pengiriman data ke Sistem Komputer Pelayanan (SKP) Bea dan
Cukai secara online melalui media Pertukaran Data Elektronik (PDE)
10.
Importir mengirimkan data Pemberitahuan Impor Barang (PIB) ke Sistem Komputer
Pelayanan (SKP) Bea dan Cukai secara online melalui media Pertukaran Data Elektronik
(PDE)
11.
Data PIB terlebih dahulu akan diproses di Portal Indonesia National Single Window
(INSW) untuk proses validasi kebenaran pengisian dokumen PIB dan proses verifikasi
perijinan (Analizing Point) terkait Lartas.
12.
Jika ada kesalahan maka PIB akan direject dan importir harus melakukan pembetulan
PIB dan mengirimkan ulang kembali data PIB
13.
Setelah proses di portal INSW selesai maka data PIB secara otomatis akan dikirim ke
Sistem Komputer Pelayanan (SKP) Bea dan Cukai.
14.
Kembali dokumen PIB akan dilakukan validasi kebenaran pengisian dokumen PIB
dan Analizing Point di SKP
15.

Jika data benar akan dibuat penjaluran

16.
Jika PIB terkena jalur hijau maka akan langsung keluar Surat Persetujuan Pengeluaran
Barang (SPPB)
17.
Jika PIB terkena jalur merah maka akan dilakukan proses cek fisik terhadap barang
impor oleh petugas Bea dan Cukai. Jika hasilnya benar maka akan keluar SPPB dan jika tidak
benar maka akan dikenakan sanksi sesuai undang-undang yang berlaku.

18.
Setelah SPPB keluar, importir akan mendapatkan respon dan melakukan pencetakan
SPPB melalui modul PIB
19.
Barang bisa dikeluarkan dari pelabuhan dengan mencantumkan dokumen asli dan
SPPB
Beberapa hal yang membuat dokumen mendapat Jalur Merah antara lain :
1.

Impor baru

2.

Profil Importir High Risk

3.

Barang impor tertentu yang ditetapkan oleh Pemerintah

4.

Barang Impor Sementara

5.

Barang Operasional Perminyakan (BOP) golongan II

6.

Ada informasi intelejen/ NHI

7.

Terkena sistem acak / Random

8.
Barang impor yang termasuk dalam komoditi berisiko tinggi dan/atau berasal dari
negara yang berisiko tinggi
Keterangan : Importir dapat melacak status dokumennya secara realtime melalui portal INSW
dengan terlebih dahulu mendaftarkan usernya. Proses mendapatkan user dapat dilihat di
portal INSW (www.insw.go.id)

Kegiatan pertukaran barang dan jasa antara Indonesia dan luar negeri
Secara umum pertukaran barang dan jasa antara satu negara dengan negara lain dilakukan
dalam bentuk kerjasama antar lain:
o Kerjasama Bilateral
kerjasama bilateral adalah kerjasama yang dilakukan oleh kedua negara dalam pertukaran
barangdan jasa.
o Kerjasama regional
kerjasama regional adalah kerjasama yang dilakukan dua negara atau lebih yang berada
dalam satu kawasan atau wilayah tertentu.
o Kerjasama multilateral
kerjasama multilateral adalah kerjasama yang dilakukan oleh lebih dua negara yang
dilakukan dari seluruh dunia.

Manfaat kegiatan ekspor dan impor


1.

Dapat memenuhi kebutuhan masyarakat.

2.

Pendapatan negara akan bertambah karena adanya devisa.

3.

Meningkatkan perekonomian rakyat.

4.

Mendorong berkembangnya kegiatan industri

4.12

MANFAAT KEGIATAN EKSPOR DAN IMPOR

Berikut ini manfaat dari kegiatan ekspor dan impor


manfaat perdagangan internasional adalah sebagai berikut.
Memperoleh barang yang tidak dapat diproduksi di negeri sendiri
Banyak faktor-faktor yang mempengaruhi perbedaan hasil produksi di setiap negara. Faktorfaktor tersebut diantaranya : Kondisi geografi, iklim, tingkat penguasaan iptek dan lain-lain.
Dengan adanya perdagangan internasional, setiap negara mampu memenuhi kebutuhan yang
tidak diproduksi sendiri.
Memperoleh keuntungan dari spesialisasi
Sebab utama kegiatan perdagangan luar negeri adalah untuk memperoleh keuntungan yang
diwujudkan oleh spesialisasi. Walaupun suatu negara dapat memproduksi suatu barang yang
sama jenisnya dengan yang diproduksi oleh negara lain, tapi ada kalanya lebih baik apabila
negara tersebut mengimpor barang tersebut dari luar negeri.
Memperluas pasar dan menambah keuntungan
Terkadang, para pengusaha tidak menjalankan mesin-mesinnya (alat produksinya) dengan
maksimal karena mereka khawatir akan terjadi kelebihan produksi, yang mengakibatkan
turunnya harga produk mereka. Dengan adanya perdagangan internasional, pengusaha dapat
menjalankan mesin-mesinnya secara maksimal, dan menjual kelebihan produk tersebut keluar
negeri.
Transfer teknologi modern
Perdagangan luar negeri memungkinkan suatu negara untuk mempelajari teknik produksi
yang lebih efesien dan cara-cara manajemen yang lebih modern.

Faktor Pendorong
Banyak faktor yang mendorong suatu negara melakukan perdagangan internasional, di
antaranya sebagai berikut :
Untuk memenuhi kebutuhan barang dan jasa dalam negeri
Keinginan memperoleh keuntungan dan meningkatkan pendapatan negara
Adanya perbedaan kemampuan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam
mengolah sumber daya ekonomi
Adanya kelebihan produk dalam negeri sehingga perlu pasar baru untuk menjual produk
tersebut.
Adanya perbedaan keadaan seperti sumber daya alam, iklim, tenaga kerja, budaya, dan
jumlah penduduk yang menyebabkan adanya perbedaan hasil produksi dan adanya
keterbatasan produksi.
Adanya kesamaan selera terhadap suatu barang.
Keinginan membuka kerja sama, hubungan politik dan dukungan dari negara lain.
Terjadinya era globalisasi sehingga tidak satu negara pun di dunia dapat hidup sendiri.

4.13 MASALAH DALAM EKSPOR DAN IMPOR


FAKTOR EKSTERNAL
Tidak selamanya kegiatan perdagangan internasional dapat berjalan sesuaidengan
kondisi yang diinginkan, biasanya sering terjadi hambatan atau masalah-masalah yang
menjadi faktor penghalang bagi setiap negara yang terlibat didalamnya.Masalah tersebut
terbagi dalam dua kelompok utama yaitu masalah internal dan eksternal. Masalah yang
bersifat eksternal meliputi hal-hal yang terjadi di luar perusahaanyang akan mempengaruhi
kegiatan ekspor impor. Masalah tersebut antara lain :
Kepercayaan Antara Eksportir Importir
a.

memanfaatkan buku petunjuk perdagangan yang berisi nama, alamat, dan jenis usaha

b.

mencari dan mengunjungi perusahaan di negara lain

c. meminta bantuan bank di dalam negri yang selanjutnya mengadakan kontak dengan bank
korespondennya di luar negri untuk menghubungkan nasbahkedua ban
d.
e.

membaca publikasi dagang dalam dan luar negri


Konsultasi dengan pengusaha dalam bidang yang sama

f.

Melalui perwakilan perdagangan

g.

Iklan .

Pemasaran
Sistem Kuota dan Kondisi Hubungan Perdagangan Dengan Negara Lain
Keterkaitan Dalam Keanggotaan Organisasi Internasional
Kurangnya Pemahaman Akan Tersedianya Kemudahan-kemudahan

FAKTOR INTERNAL
Keharusan perusahaan-perusahaan ekspor impor untuk memenuhi persyaratan
berusaha adakalanya tidak mendapat perhatian sungguh-sungguh. Persiapan teknis
yangseharusnya telah dilakukan diabaikan karena diburu oleh tujuan yang lebih utama yakni
mendapatkan keuntungan yang cepat dan nyata Masalah yang bersifat internal meliputi halhal yang terjadi di dalam perusahaanyang akan mempengaruhi kegiatan ekspor impor.
Masalah tersebut antara lain:
Kemampuan dan Pemahaman Transaksi Luar Negri
Persiapan Teknis
Pebiayaan
Kekurang sempurnaan dalam mempersiapkan barang
Kebijakan dalam pelaksaaan ekspor dan impor

Pengaruh ekspor impor dalam perkembangan perekonomian di Indonesia


Pengutamaan ekspor bagi Indonesia sudah digalakkan sejak tahun 1983. Sejak saat itu,
ekspor menjadi perhatian dalam memacu pertumbuhan ekonomi seiring dengan berubahnya
strategi industrialisasi dari penekanan pada industri substitusi impor ke industri promosi
ekspor. Konsumen dalam negeri membeli barang impor atau konsumen luar negeri membeli
barang domestik, menjadi sesuatu yang sangat lazim. Persaingan sangat tajam antar berbagai
produk. Selain harga, kualitas atau mutu barang menjadi faktor penentu daya saing suatu
produk. Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia Januari-Oktober 2008 mencapai USD118,43
miliar atau meningkat 26,92% dibanding periode yang sama tahun 2007, sementara ekspor
nonmigas mencapai USD92,26 miliar atau meningkat 21,63%. Sementara itu menurut sektor,
ekspor hasil pertanian, industri, serta hasil tambang dan lainnya pada periode tersebut
meningkat masing-masing 34,65%, 21,04%, dan 21,57% dibandingkan periode yang sama
tahun sebelumnya.

Adapun selama periode ini pula, ekspor dari 10 golongan barang memberikan kontribusi
58,8% terhadap total ekspor nonmigas. Kesepuluh golongan tersebut adalah, lemak dan
minyak hewan nabati, bahan bakar mineral, mesin atau peralatan listrik, karet dan barang dari
karet, mesin-mesin atau pesawat mekanik. Kemudian ada pula bijih, kerak, dan abu logam,
kertas atau karton, pakaian jadi bukan rajutan, kayu dan barang dari kayu, serta timah.
Selama periode Januari-Oktober 2008, ekspor dari 10 golongan barang tersebut memberikan
kontribusi sebesar 58,80% terhadap total ekspor nonmigas. Dari sisi pertumbuhan, ekspor 10
golongan barang tersebut meningkat 27,71% terhadap periode yang sama tahun 2007.
Sementara itu, peranan ekspor nonmigas di luar 10 golongan barang pada Januari-Oktober
2008 sebesar 41,20%.
Peranan dan perkembangan ekspor nonmigas Indonesia menurut sektor untuk periode
Januari-Oktober tahun 2008 dibanding tahun 2007 dapat dilihat pada. Ekspor produk
pertanian, produk industri serta produk pertambangan dan lainnya masing-masing meningkat
34,65%, 21,04%, dan 21,57%.
Dilihat dari kontribusinya terhadap ekspor keseluruhan Januari-Oktober 2008, kontribusi
ekspor produk industri adalah sebesar 64,13%, sedangkan kontribusi ekspor produk pertanian
adalah sebesar 3,31%, dan kontribusi ekspor produk pertambangan adalah sebesar 10,46%,
sementara kontribusi ekspor migas adalah sebesar 22,10%.
Secara keseluruhan kondisi ekspor Indonesia membaik dan meningkat, tak dipungkiri
semenjak terjadinya krisis finansial global, kondisi ekspor Indonesia semakin menurun.
Ekspor per September yang sempat mengalami penurunan 2,15% atau menjadi USD12,23
miliar bila dibandingkan dengan Agustus 2008. Namun, dari tahun ke tahun mengalami
kenaikan sebesar 28,53%.
Keadaan impor di Indonesia tak selamanya dinilai bagus, sebab menurut golongan
penggunaan barang, peranan impor untuk barang konsumsi dan bahan baku selama Oktober
2008 mengalami penurunan dibanding bulan sebelumnya yaitu masing-masing dari 6,77%
dan 75,65% menjadi 5,99% dan 74,89%. Sedangkan peranan impor barang modal meningkat
dari 17,58% menjadi 19,12%. Impor Indonesia dari ASEAN mencapai 23,22 % dan dari Uni
Eropa 10,37%.

2.3 Faktor-faktor yang menjadi penyebab menurunnya atau meningkatnya ekspor impor bagi
perekonomian di Indonesia.
Penyebab krisis ekonomi menurut identifikasi para pakar, adalah sebagai berikut:
1) Fenomena productivity gap (kesenjangan produktifitas) yang erat berkaitan dengan
lemahnya alokasi aset ataupun faktor-faktor produksi.
2)
Fenomena diequilibrium trap (jebakan ketidak seimbangan) yang berkaitan dengan
ketidakseimbanagan struktur antarsektor produksi.

3) Fenomena loan addiction ( ketergantungan pada hutang luar negeri) yang berhubungan
dengan perilaku para pelaku bisnis yang cenderung memobilisasi dana dalam bentuk mata
uang asing (foreign currency).
Dampak krisis ekonomi bagi Indonesia:
Pada Juni 1997, Indonesia terlihat jauh dari krisis. Tidak seperti Thailand, Indonesia memiliki
inflasi yang rendah, perdagangan surplus lebih dari 900 juta dolar, persediaan mata uang luar
yang besar, lebih dari 20 milyar dolar, dan sektor bank yang baik.
Tapi banyak perusahaan Indonesia banyak meminjam dolar AS. Di tahun berikut, ketika
rupiah menguat terhadap dolar, praktisi ini telah bekerja baik untuk perusahaan tersebut,
level efektifitas hutang dan biaya finansial telah berkurang pada saat harga mata uang lokal
meningkat.
Pada Juli, Thailand megambangkan baht, Otoritas Moneter Indonesia melebarkan jalur
perdagangan dari 8% ke 12%. Rupiah mulai terserang kuat di Agustus. Pada 14 Agustus
1997, pertukaran floating teratur ditukar dengan pertukaran floating bebas. Rupiah jatuh lebih
dalam. IMF datang dengan paket bantuan 23 milyar dolar, tapi rupiah jatuh lebih dalam lagi
karena ketakutan dari hutang perusahaan, penjualan rupiah, permintaan dolar yang kuat.
Rupiah dan Bursa Saham Jakarta menyentuh titik terendah pada bulan Septemer. Moodys
menurunkan hutang jangka panjang Indonesia menjadi junk bond.
Meskipun krisis rupiah dimulai pada Juli dan Agustus, krisis ini menguat pada November
ketika efek dari devaluasi di musim panas muncul di neraca perusahaan. Perusahaan yang
meminjam dalam dolar harus menghadapi biaya yang lebih besar yang disebabkan oleh
penurunan rupiah, dan banyak yang bereaksi dengan membeli dolar, yaitu dengan cara
menjual rupiah, dan menurunkan harga rupiah lebih jauh lagi.
Masalah pasar Asean-China dalam kerangka Asean China Free Trade Agreement (ACFTA)
juga menjadi problem yang cukup kompleks. Karena produk hilir Indonesia tidak mampu
bersaing hadapi produk asal China. Sedangkan andalan Indonesia di pasar bebas Asean-China
tersebut lebih pada komoditas primer seperti minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO),
karet, dan batu bara. Dengan demikian pasar domestik akan kebanjiran barang China dan
komoditas dari negara Asean lainnya. Implementasi ACFTA bisa menjadi bumerang jika
banjirnya consumer goods semakin tak tertahankan.
Faktor pendorong suatu negara melakukan perdagangan internasional, di antaranya sebagai
berikut:

Untuk memenuhi kebutuhan barang dan jasa dalam negeri.

Keinginan memperoleh keuntungan dan meningkatkan pendapatan negara.

Adanya perbedaan kemampuan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam


mengolah sumber daya ekonomi.


Adanya kelebihan produk dalam negeri sehingga perlu pasar baru untuk menjual produk
tersebut.

Adanya perbedaan keadaan seperti sumber daya alam, iklim, tenaga kerja, budaya, dan
jumlah penduduk yang menyebabkan adanya perbedaan hasil produksi dan adanya
keterbatasan produksi.

Adanya kesamaan selera terhadap suatu barang.

Keinginan membuka kerja sama, hubungan politik dan dukungan dari negara lain.

Terjadinya era globalisasi sehingga tidak satu negara pun di dunia dapat hidup sendiri.

2.4 Kebijakan yang diupayakan pemerintah untuk meningkatkan ekspor impor di Indonesia.
Beberapa ekonom menyebutkan bahwa Indonesia mengalami perbaikan ekonomi. Pasar
internasional juga sedang menunjukkan pemulihan dengan kemampuan pasar yang berpotensi
menyerap pasokan produk industri nasional.
Jadi ada peluang meningkatkan kinerja ekspor bila Indonesia bisa mengoptimalkan kapasitas
produksi dalam negeri karena pulihnya pasar global. Tentu merumuskan kebijakan ekspor
yang menjamah permasalahan semua lini bisnis dalam perdagangan internasional menjadi
penting. Prestasi mengangkat kembali nilai ekspor tergantung dari kebijaksanaan ekonomi
yang ditempuh baik yang berada dalam lini bisnis vital maupun pendukung. Baik yang
kualitatif maupun yang kuantitatif.
Kebijakan-Kebijakan perdagangan Internasional yang telah diupayakan oleh pemerintah,
diantaranya:
1) Tarif
Tarif adalah sejenis pajak yang dikenakan atas barang-barang yang diimpor. Tarif spesifik
(Specific Tariffs) dikenakan sebagai beban tetap atas unit barang yang diimpor. Misalnya $6
untuk setiap barel minyak). Tarifold Valorem (od Valorem Tariffs) adalah pajak yang
dikenakan berdasarkan persentase tertentu dari nilai barang-barang yang diimpor (misalnya,
tarif 25 % atas mobil yang diimpor). Dalam kedua kasus dampak tarif akan meningkatkan
biaya pengiriman barang ke suatu negara.
2) Subsidi ekspor
Subsidi ekspor adalah pembayaran sejumlah tertentu kepada perusahaan atau perseorangan
yang menjual barang ke luar negeri, seperti tarif, subsidi ekspor dapat berbentuk spesifik
(nilai tertentu per unit barang) atau Od Valorem (presentase dari nilai yang diekspor). Jika
pemerintah memberikan subsidi ekspor, pengirim akan mengekspor, pengirim akan
mengekspor barang sampai batas dimana selisih harga domestic dan harga luar negeri sama

dengan nilai subsidi. Dampak dari subsidi ekspor adalah meningkatkan harga dinegara
pengekspor sedangkan di negara pengimpor harganya turun.
3) Pembatasan impor
Pembatasan impor (Import Quota) merupakan pembatasan langsung atas jumlah barang yang
boleh diimpor. Pembatasan ini biasanya diberlakukan dengan memberikan lisensi kepada
beberapa kelompok individu atau perusahaan. Misalnya, Amerika Serikat membatasi impor
keju. Hanya perusahaan-perusahaan dagang tertentu yang diizinkan mengimpor keju, masingmasing yang diberikan jatah untuk mengimpor sejumlah tertentu setiap tahun, tak boleh
melebihi jumlah maksimal yang telah ditetapkan. Besarnya kuota untuk setiap perusahaan
didasarkan pada jumlah keju yang diimpor tahun-tahun sebelumnya.

4) Pengekangan ekspor sukarela


Bentuk lain dari pembatasan impor adalah pengekangan sukarela (Voluntary Export
Restraint), yang juga dikenal dengan kesepakatan pengendalian sukarela (Voluntary Restraint
Agreement = ERA).
VER adalah suatu pembatasan kuota atas perdagangan yang dikenakan oleh pihak negara
pengekspor dan bukan pengimpor. Contoh yang paling dikenal adalah pembatasan atas
ekspor mobil ke Amerika Serikat yang dilaksanakan oleh Jepang sejak 1981.
VER pada umumnya dilaksanakan atas permintaan negara pengimpor dan disepakati oleh
negara pengekspor untuk mencegah pembatasan-pembatasan perdagangan lainnya. VER
mempunyai keuntungan-keuntungan politis dan legal yang membuatnya menjadi perangkat
kebijakan perdagangan yang lebih disukai dalam beberapa tahun belakangan. Namun dari
sudut pandang ekonomi, pengendalian ekspor sukarela persis sama dengan kuota impor
dimana lisensi diberikan kepada pemerintah asing dan karena itu sangat mahal bagi negara
pengimpor.
VER selalu lebih mahal bagi negara pengimpor dibandingan dengan tarif yang membatasi
impor dengan jumlah yang sama. Bedanya apa yang menjadi pendapatan pemerintah dalam
tariff menjadi (rent) yang diperoleh pihak asing dalam VER, sehingga VER nyata-nyata
mengakibatkan kerugian.
5) Persyaratan kandungan lokal.
Persyaratan kandungan local (local content requirement) merupakan pengaturan yang
mensyaratkan bahwa bagian-bagian tertentu dari unit-unit fisik, seperti kuota impor minyak
AS ditahun 1960-an. Dalam kasus lain, persyaratan ditetapkan dalam nilai, yang
mensyaratkan pangsa minimum tertentu dalam harga barang berawal dari nilali tambah
domestik. Ketentuan kandungan lokal telah digunakan secara luas oleh negara berkembang
yang beriktiar mengalihkan basis manufakturanya dari perakitan kepada pengolahan bahan-

bahan antara (intermediate goods). Di amerika serikat rancangan undang-undang kandungan


local untuk kendaraan bermotor diajukan tahun 1982 tetapi hingga kini berlum diberlakukan.

Daftar Rujukan
Ahmeth, Adie. 2010. Makalah Dampak Globalisasi Terhadap Terekonomian. (Online), (http://om Adie
ahmeth.blogspot.com, diakses pada tanggal 15 April 2011).
Amir. 2001. Korespodensi Bisnis Ekspor Impor, Jakarta: PPM.
Djauhari Ahsar, Amirullah. 2002. Teori dan Praktek Ekspor Impor, Yogja: Graha Ilmu.
Fernando, Youbil. 2010. Ekspor Impor Indonesia. (Online), ( http://www.makalah ekspor-imporindonesia.html, diakses pada tanggal 18 April 2011).
Hutabarat, Roselyne. 1989. Transaksi Ekspor Impor, Jakarta: Erlangga.
Krugman, Paul dan Maurice Obstfeld. 2003. Ekonomi Internasional, Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada.