Anda di halaman 1dari 3

LAPORAN PRAKTIKUM BIOKONSERVASI (BIO4012)

LOCAL USER VALUE INDEX (LUVI)


Kelompok 7 : Nuraini Sagala (1410421016), Rahmi Yaniska Putri (1410421018), Afina Amalia (1410421034), Dwisa
Fitri (1410421042), Hafni Aurida (1410422014), Ayunda Putri Suryadini (1410422030), Finarti (1410422048)
Laboratorium Teaching 4, Jurusan Biologi, FMIPA Universitas Andalas

PENDAHULUAN
LUVI merupakan Local User Value Index sama dengan kepentingan spesies keseluruhan. Kepentingan suatu jenis
kegunaan dari suatu spesies akan diwakili oleh suatu nilai individu genus. Suatu spesies yang berguna mungkin
memiliki satu atau beberapa kegunaan. Menurut Cifor (2000) misalnya satu tumbuhan mengandung dua bahan obat
yang berbeda dari akar dan daunnya, dan kulit kayunya juga baik untuk racun ikan, dan dari batangnya untuk kayu
bakar. Sedangkan menurut Gadgil (2000) LUVI, biasanya digunakan dua metode khusus yang digunakan, yaitu
pendekatan penetapan skor (Metode Distribusi Kerikil/ Pebble Distribution Method (PDM)) dan unit sampel luas
beragam. Dalam sistem ini perbandingan dilakukan dalam memboboti setiap kelas untuk serangkaian perhitungan,
kemudian kelas-kelas itu sendiri dibandingkan sekaligus.
Metode khusus yang biasa digunakan, yaitu pendekatan penetapan skor (Metode Distribusi Kerikil/ Pebble
Distribution Method (PDM)) dan unit sampel luas beragam. Dua metode khusus ini digunakan lebih detail secara teknis
dalam LUVI daripada yang lainnya dengan alasannya, kedua metode ini masih cukup baru, sehingga memerlukan
penjelasan tentang teori dasarnya. Meskipun beberapa bagian lain menggambarkan intisarinya, metode ini bermanfaat
sebagai petunjuk bagi yang kurang berpengalaman, atau setidaknya berguna untuk memberikan pilihan mana nilai yang
lebih pentin antara spesies. Dalam sistem ini perbandingan dilakukan dalam memboboti setiap kelas untuk Gij, sebagai
bagian dari serangkaian perhitungan, kemudian kelas-kelas itu sendiri dibandingkan sekaligus (Cifor, 2002).
Erlich (2002), menambahkan penentuan kelas-kelas tersebut harus dilakukan secara hati-hati sehingga tidak
terlalu membatasi pemikiran responden, dan masyarakat mungkin perlu diingatkan untuk menjaga agar semua informasi
kelas-kelas tetap sesuai dengan tujuannya. Sedangkan menurut Hadiwinoto (2002) dengan melakukan kegiatan-kegiatan
dalam kelompok maka perbedaan-perbedaan di antara para responden dapat dikurangi. Kenyataannya, hal ini jarang
sekali terjadi. Resiko nilai total tumbuhan dan binatang di lingkungan nilai-nilai individu akan terabaikan. Jika suatu
kegunaan terus-menerus terlupakan, kemungkinan kegunaan tersebut tidak penting, tetapi ada resiko bahwa kegunaan
tersebut mungkin terus-menerus terabaikan bukan karena telah dilupakan tetapi karena bentuk pertanyaannya. Sehingga
untuk menganalisis keanekaragaman jenis dapat dilakukan dengan cara perbandingan yang didasarkan pada bentuk,
pola atau kurva banyaknya jenis dan perbandingan yang didasarkan pada indeks keanekaragaman.
CARA KERJA
Praktikum mengenai Local User Value Index (LUVI) dilaksanakan pada tanggal 23 September 2016 di Laboratorium
Teaching 4, Jurusan Biologi, FMIPA Universitas Andalas. Adapun metoda yang digunakan pada praktikum ini ialah
Pebble Distribution Methods (PDMs), Focused Group Discussion (FGD), dan simulasi. Alat dan bahan yang digunakan
pada praktikum ini ialah 100 buah kerikil, alat tulis, karton bewarna, dan kalkulator/laptop.
Pengambilan data pada praktikum ini dilakukan dengan cara memilih 5 orang responden yang berbeda.
Masing-masing responden diberi pertanyaan yang sama, namun masing-masing responden akan memberikan jawaban
yang berbeda. Awalnya disiapkan 100 buah kerikil. Responden diberi pertanyaan manakan yang lebih penting antara
tumbuhan dan hewan, lalu responden akan membagi 100 kerikil menjadi dua bagian tanpa menghitung, dan
menentukan manakah kelompok kerikil untuk tumbuhan dan kelompok kerikil untuk hewan. Selanjutnya setelah
dilakukan penghitungan pada masing-masing kelompok kerikil dan telah diketahui hewan atau tumbuhankah yang lebih
penting berdasarkan jumlah kerikil terbanyak. Responden diberi pertanyaan kedua, pada tumbuhan apa sajakah manfaat
yang dirasakan oleh responden begitupun dengan hewan. Lalu dilakukan lagi pengelompokan 100 kerikil seperti
sebelumnya lalu di hitung. Pada masing-masing manfaat yang disebutkan responden, selanjutnya responden diminta
untuk menentukan jenis tumbuhan atau hewan yang dimanfaatkan, dan kembali alokasikan 100 kerikil yang ada pada
masing-masing kelompok tumbuhan atau hewan tadi berdasarkan tinggkat kepentingannnya. Lalu lakukan perhitungan
untuk melihat tingkat pentingnya suatu jenis tumbuhan atau hewan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Tabel 1. Perbandingan antar responden jenis tumbuhan
Responden 1
Responden 2
Responden 3
Jenis
LUVI
Jenis
LUVI
Jenis
LUVI
kumis
durian
0,952% kucing
1,690% Sirsak
1,663%
mawar
1,008% kembang
1,950% mahkota
1,739%

Responden 4
Jenis
LUVI
mengkudu
daun sirsak

0,44%
0,55%

Responden 5
Jenis
LUVI
alga merah
lidah buaya

15,12%
5,04%

sepatu

dewa

anggrek

1,120%

jeruk

2,512%

1,890%

3,245%
3,380%

Jahe
kumis
kucing
singkong

manggis
Sirsak

1,512%
1,680%

kangkung
bayam

beringin
jeruk nipis
Sirih
bayam
mahoni
tomat
coklat
Cabe

2,022%
2,408%
2,710%
3,024%
3,511%
3,584%
3,819%
4,592%

melon
anggrek
mawar
bougenvil
anggur
apel
kamboja
alpokat
mahkota
dewa

3,380%
3,494%
3,494%
3,494%
3,515%
3,931%
4,077%
4,477%

rambutan
Bayam
Padi
Jati
Rambutan
mangga
mahoni
kapas

2,495%
2,570%
2,646%
2,646%
7,938%
9,419%
10,263%
15,120%

kapas

5,040%

Jati
gambir
Akasia

5,600%
5,790%
7,627%

kayu putih

4,680%

2,268%
2,356%

jarak
kacang
tanah
sirih
kembang
sepatu
kelapa
kacang padi
jati
kapas
padi

0,94%

anggrek
bulan

15,84%

1,33%
1,54%

jeruk
manggis

1,01%
2,43%

jahe
ganja
opium
morfin

3,31%
13,55%
8,06%
10,64%

2,04%
4,54%
5,320%
8,91%
12%
12,350%

4,680%

Tabel 2. Perbandingan antar responden jenis Hewan


Responden 1
Responden 2
Responden 3
Jenis
LUVI
Jenis
LUVI
Jenis
LUVI
Sapi
1,267% Anjing
1,824% kerbau
2,000%
lumbalumba
2,341% Lele
2,246% udang
2,000%
Semut
3,366% Kucing
3,072% gajah
2,000%
Ayam
5,034% Ikan
4,454% kambing
2,000%
ulat
sutra
5,280% Kelinci
4,704% ikan
2,000%
mencit
6,002% Kerbau
5,760% kuda
4,965%
ikan
Ikan
6,406% Kuda
6,240% tongkol
5,000%
Lebah
6,807% Ayam
8,693% ayam
6,238%
Ular
7,498% Sapi
11,006% sapi
10,297%

Responden 4
Jenis
LUVI
harimau
1,080%

Responden 5
Jenis
LUVI
unta
0,360%

ular
kerbau
buaya

1,520%
2,025%
2,375%

ayam
kerang
beruang

0,495%
0,900%
0,998%

kerang
ulat sutra

2,700%
5,605%

lopster
kepiting

1,125%
1,480%

ikan
sapi
ayam

7,290%
12,015%
15,390%

ikan
sapi
kelinci
walet
kupu-kupu
kelelelawar
ular

1,530%
1,605%
2,205%
2,940%
2,940%
4,165%
4,253%

Dari praktikum yang telah dilaksanakan didapatkan nilai penting tumbuhan dan hewan. Tumbuhan memiliki nilai
penting lebih tinggi dari tumbuhan. Nilai penting tumbuhan 75 %, sedangakan nilai penting hewan yaitu 25%.
Responden menilai tumbuhan lebih tinggi tingkat kepentinganya daripada hewan. Pada tabel 1 dapat diketahui nilai
manfaat yang paling besar pada tumbuahan yaitu pangan, sandang dan papan. Ketiga nilai manfaat tersebut didapatkan
dari jenis tumbuhan padi, kapas dan jati. Pada tabel 2 dapat diketahui beberapa nilai manfaat hewan dan beberapa
spesies hewan yang banyak digunakan. Jenis hewan yang paling banyak digunakan yaitu sapi, ayam dan ikan dengan
berbagai nilai manfaatnya. Dari ketiga hewan tersebut dapat dimanfaatkan untuk makanan, hewan ternak dan dapat juga
membantu pekerjaan manusia. Nilai penting sapi, ayam dan ikan lebih besar dai pada hewan lainya, karena hewan
tersebut lebih banyak terdapat disekitar manusia dan lebih mudah untuk didapatkan dibandingkan hewan lainnya.
Semakin tinggi nilai LUVI suatu sumber daya alam, maka hal ini menunjukkan bahwa sumber daya alam tersebut
paling dibutuhkan oleh masyarakat (responden) dan hal inilah yang akan membuktikan bahwa sumberdaya alam
tersebut akan makin banyak dieksplorasi karena sangat dibutuhkan dan tentunya akan banyak ancaman untuk
sumberdaya tersebut sehingga nantinya dapat menuju kepunahan.
Banyaknya nilai dari keanekaragaman hayati dan pentingnya hal itu bagi perkembangan mengindikasikan
mengapa konservasi keanekaragaman hayati berbeda dari konservasi alam tradisional. Konservasi keanekaragaman
hayati membutuhkan perubahan dari sikap pasif melindungi alam dari dampak perkembangan ke arah usaha proaktif
yang mencari penyelesaian dari kebutuhan manusia akan sumber daya hayati sementara tetap menjamin kelangsungan
ekologi jangka panjang dari kekayaan biotik bumi. Pada tingkat global juga meliputi tidak hanya perlindungan terhadap
spesies alami dan habitatnya tetapi juga menjaga keragaman genetik dari spesies yang telah dibudidayakan dan

dimanfaatkan serta yang memiliki hubungan dekat dengan mereka dialam bebas. Konservasi dari keanekaragaman
hayati bertujuan untuk menjaga sistem pendukung kehidupan yang disediakan oleh alam dan segala keragamannya,
serta sumber daya hidup yang penting untuk perkembangan yang dapat diterima secara ekologis (Resosoedarmo, 1990).
Keanekaragaman hayati menyimpan nilai manfaat yang sekarang belum disadari atau belum dapat
dimanfaatkan oleh manusia, namun seiring dengan perubahan permintaan, pola konsumsi, dan asupan tekhnologi, nilai
ini menjadi penting di masa depan. Keanekaragaman yang kecil terdapat pada komunitas yang ada di daerah dengan
lingkungan yang ekstrim, seperti daerah kering, tanah miskin, dan pegunungan tinggi. Sementara itu keanekaragaman
yang tinggi terdapat di daerah dengan lingkungan optimum (Gardner, 1995). Nilai budaya dari konservasi
keanekaragaman hayati untuk generasi saat ini dan masa depan merupakan alasan penting untuk tetap menjaganya
sekarang. Budaya manusia turut berevolusi sesuai dengan lingkungannya, dan konservasi keanekargaman hayati dapat
menjadi penting sebagai identitas budaya (Departemen Kehutanan dan Perkebunan Republik Indonesia, 2006).
KESIMPULAN
Adapun kesimpulan yang dapat diambil pada praktikum ini yaitu semakin tinggi nilai LUVI menandakan suatu spesies
sangat perlu dilakukan konservasi terlebih dahulu.
DAFTAR PUSTAKA
Cifor. 2000. ACM-Report of Workshop Building Plans Together II (Bangun Rencana Bersama II) Setulang, Kab.
Malinau, East Kalimantan 46 December 2000. CIFOR, Bogor, Indonesia.
Cifor. 2002. Technical Report, Phase I (19972001). ITTO Project PD 12/97 Rev. 1 (F), Forest, Science and
Sustainability: The Bulungan Model. CIFOR, ITTO and MOF. Bogor, Indonesia
Departemen Kehutanan dan Perkebunan Republik Indonesia, 2006. Kondisi Hutan di Indonesia. Jakarta
Erlich, P.R. and Erlich. A.H., 2002. The Value of Biodiversity. Ambio 21. 219-226.
Gadgil, M. dkk. 2000. Participatory Local Level Assessment of Life Support Systems, A methodology manual. Technical
Report No. 78 Centre for Ecological Sciences, Indian Institute of Science Bangalore, India.
Gardner, S.M., Cabido, M.R.., Valladares, G.R. and Diaz, M.(1995). The influence of habitat structure on arthropods
diversity in Argentine semi-arid Chaco forest. Journal of Vegetation Science. 6. 349-356.
Hadiwinoto, S. Beberapa Aspek Pelestarian Warisan Budaya. Makalah disampaikan pada Seminar Pelestarian dan
Pengembangan Masjid Agung Demak, di Demak, 17 Januari 2002.
Resosoedarmo, R. S.1990. Pengantar Ekologi. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.