Anda di halaman 1dari 29

BAB I

PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang
Perkembangan penelitian selanjutnya diketahui bahwa organisame
archaebateria memiliki sifat molekuler yang lebih mirip dengan eukariot.
Pada tahun 1990 peneliti dari Universitas Illionis, Dr. carl Woese dan
koleganya dapat membuktikan bahwa Archea memiliki perbedaan yang
mendasar dengan bakteri eukaria. Sehingga dia memisahkan archaea ke
dalam domain tersendiri yaitu archaea. Pemisahan ini berdasarkan
pendekatan sekuen gen penyandi 16S rRNA yang bersifat universal bagi
seluruh organisme. Atas dasar penelitiannya tersebut, Woese mengajukan
bahwa kehidupan dibagi menjadi tiga domain, yaitu bacteria, eukaria, dan
archaea (Weose et al, 1990).
Beberapa anggota archaea diketahui merupakan organisme penghuni
lingkungan paling ekstrim di bumi. Diantaranya, hidup di dekat kantungkantung gas di dasar laut, sementara lainnya berada pada sumber mata air
panas atau bahkan pada air dengan kadar garam/asam yang sangat tinggi.
Beberapa archaea juga ditemukan pada saluran pencernaan sapi, rayap.
Mereka juga dapat hidup pada lumpur di dasar laut tanpa oksigen sekalipun.
Namun, saat ini telah ditemukan beberapa archaea yang juga hidup pada
kondisi normal seperti bakteri kebanyakan.

B.

Rumusan Masalah

1.

Apa yang dimaksud dengan Archaebacteria dan bagaimana sejarah


penemuan
Archaebacteria

2.

Bagaimana ciri-ciri dari Archaebacteria dan pengelompokannya ?

3.

Bagaimana karakteristik dan sel Archaebacteria?

4.

Bagaimana morfologi dan organel sel Archaebacteria?

5.

Bagaimana pemanfaatan Archaebacteria dalam bidang farmasi dan non


farmasi ?

C.

Tujuan Penulisan

1.

Mengetahui pengertian Archaebacteria.

2.

Mengetahui ciri-ciri dan dan pengelompokan dari Archaebacteria.

3.

Mengetahui karakteristik sel Archaebacteria.

4.

Mengetahui morfologi dan organel sel Archaebacteria.

5.

Mengetahui pemanfaatan bidang farmasi dan non farmasi

BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Archaebacteria
Arkea atau archaea (bahasa Yunani: "yang tua"), juga
disebut arkeobakteri, merupakan satu divisi organisme hidup yang utama.
Meskipun filogeni yang tepat masih tidak dapat dipastikan untuk
kumpulan-kumpulan ini, Arkea, Eukariota, dan Bakteria merupakan kelas
yang termasuk sistem tiga domain. Sama dengan bakteria, Arkea
merupakan organisme yang tidak memiliki nukleus, oleh sebab itu, Arkea
termasuk Prokariota. Awalnya, termasuk dalam kerajaan Monera. Arkea
berhabitat di lingkungan kotor, tetapi ditemukan bahwa arkea terdapat di
setiap tempat.
Pokok filogenetik berdasarkan data rRNA yang menunjukkan
pemisahan bakteria, arkea, dan eukariota.
Arkea ditemukan pada tahun 1977 oleh Carl Woese dan George Fox
berdasarkan pemisahan dari prokariot yang lain dalam pohon filogentik
rRNA 16S. Awalnya, kedua kumpulan ini adalah Arkeabakteria dan
Eubakteria, dan dibagi dalam kingdom atau subkingdom yang
diistilahkan oleh Woses dan Fox sebagai Urkingdom. Woese berpendapat
bahawa Arkea pada dasarnya merupakan satu cabang hidupan yang
berlainan. Ia kemudian memberi nama Arkea dan Bakteria untuk
memperkuat pendapatnya, dan berpendapat bahwa Arkea merupakan
bagian dari tiga domain.

Istilah biologi, Arkea, harus tidak dikelirukan dengan frasa geologi,


eon Arkean, yang juga dikenal sebagai Era Arkeozoik. Istilah kedua ini
merujuk kepada zaman primordium dalam sejarah bumi ketika Arkea dan
Bakteria merupakan organisme bersel yang tunggal di bumi. Fosil-fosil
ini kemungkinan merupakan fosil mikroba yang berasal dari 3,8 juta
tahun yang lalu.

B.

Ciri-ciri Archaebacteria

Archaebacteria memiliki ciri-ciri sebagai berikut.


1.

Sel bersifat prokaryotik.

2.

Lipida pada membran sel bercabang.

3.

Tidak memiliki mitokondria, retikulum endoplasma, badan golgi, dan


lisosom.

4.

Habitat di lingkungan bersuhu tinggi, bersalinitas tinggi, dan asam.

5.

Berukuran 0,1 um sampai 15 um, dan beberapa ada yang berbentuk filamen
dengan
Panjang 200 m.

6.

Dapat diwarnai dengan pewarnaan Gram.


Archaebacteria berukuran dari 0,1 um sampai 15 um, dan ada beberapa
Archaebacteria yang berbentuk filamen mencapai panjang 200 m. Bentuk
Archaebacteria bervariasi, seperti berbentuk bola, batang, spiral, cuping, dan
empat persegi panjang. Bentuk-bentuk yang berbeda ini menunjukkan
perbedaan tipe metabolismenya.

2.2. Pengelompokan atau K;asifikasi Archaebacteria


Archaebacteria banyak ditemukan hidup di lingkungan ekstrim
seperti di sumber air panas, telaga garam, bahkan dalam saluran
pencernaan hewan ruminansia (sapi, domba). Berdasarkan lingkungan
yang ekstrim Archaebacteria dibedakan menjadi 3 kelompok :
1. Metanogen
Kelompok Archaebacteria ini bersifat anaerobik dan kemosintetik. Bakteri
ini memperoleh makanan dengan mereduksi CO2 menggunakan H2
menjadi metana (CH4). Hidup di rawa-rawa dan danau yang kekurangan
oksigen karena konsumsi mikroorganisme lain.
4H2 + CO2 CH4 + 2H2O

Ciri ciri dari bakteri ini adalah sebagai berikut :

Hidup di lingkungan yang tidak membutuhkan oksigen (anaerob


obligat)

Mendapatkan energi dengan cara merubah senyawa H2 dan CO2


menjadi gas metana (CH4).

Sebagian besar bakteri ini hidup di lumpur atau di rawa-rawa yang


miskin oksigen. Gas metana yang dihasilkan keluar sebagai
gelembung-gelembung yang disebut sebagai gas rawa. Selain itu, ada
juga yang hidup di saluran pencernaan hewan ruminansia misalnya
sapi dan kambing.

Contoh spesies bakteri metanogen beserta peranannya:

Methanobacterium ruminantium (membantu mencerna selulosa dari


rumput dan menghasilkan 400 liter gas metana dalam sehari)

Lachnospira multipara (menghidrolisis pektin).

Ruminococcus albus (menghidrolisis glukosa)

Methanococcus janascii hidup di lumpur dan rawa (mengeluarkan gas


metana atau gas rawa)

2.

Halofilik
Bakteri Halofilik (halo : garam, philis: suka) ini hidup pada lingkungan
dengan kadar garam tinggi dan sebagian memerlukan kadar garam 10 kali
lebih tinggi daripada air laut untuk dapat hidup. seperti di danau Great Salt
(danau garam), Laut Mati, atau di dalam makanan yang bergaram. Beberapa
bakteri halofilik dapat berfotosintesis dan memiliki zat warna yang disebut
bacteriorodhopsi

a. Ciri-ciri halofil ekstrem:


1. Bersifat heterotrof
2. Energi

didapat

dengan

melakukan

respirasi

aerobik

dan

berfotosintesis
3. Sebagian dari bakteri halofil mampu melakukan fotosintesis karena
mempunyai pigmen berupa bakteriorhodopshin. Pigmen merah/orange
(bakteriodopsin) digunakan untuk memanfaatkan energi cahaya dalam
mengubah CO2 menjadi bahan organik
4. Hidup di lingkungan yang berkadar garam tinggi, sepuluh kali
keasinan air laut.
5. Hidup berkoloni dan dapat membusukkan bahan makanan yang
diasinkan
Contoh bakteri halofil yaitu Halobacterium salinarium, Halococcus.

3.

Termofilik

Sesuai dengan namanya (thermo: panas, philis: suka), Archaebacteria ini


hidup di tempat dengan suhu 60C hingga 80C. Beberapa bakteri termofilik
mampu mengoksidasi sulfur, seperti Sulfolobus yang hidup di mata air sulfur.
Bahkan, beberapa spesies mampu dengan suhu 105C
Ciri-ciri termofil ekstrim:

Hidup di tempat bersuhu tinggi mencapai 113oC dan bersifat asam


yaitu pH diatas 2.

Hidup dengan mengoksidasi sulfur

Hidup di lubang vulkanis, kawah vulkanis dan mata iar bersulfur

Contoh termofil ekstrim:


1. Geogemma dapat bertahan hidup selama 2 jam pada suhu 130oC
2. Pyrodictium diisolasi dari dasar laut
3. Thermoproteus hidup di perairan panas yang kaya belerang

4. Sulfolobus hidup di mata air panas dan kadang di tanah Bakteri


Sulfolubus hidup di mata air sulfur di Yellowstone National Par
2.3 . Karakteristik dan sel Archaebacteria
Archaebacteria berukuran dari 0,1 um sampai 15 um, dan ada beberapa
Archaebacteria yang berbentuk filamen mencapai panjang 200 m. Bentuk
Archaebacteria bervariasi, seperti berbentuk bola, batang, spiral, cuping, dan
empat persegi panjang. Bentuk-bentuk yang berbeda ini menunjukkan
perbedaan tipe metabolismenya.

Karakteristik yang dimilik oleh Archaebacteria antara lain :


1. Sel Penyusun tubuhnya bertipe prokariotik
2. Memiliki RNA polimerase yang sederhana
3. Dinding sel bukan dari peptidoglikan
4. Tidak memiliki membran nukleus dan tidak memiliki organel sel
5. ARNt-nya berupa metionin
6. Sensitif terhadap toksin dipter

2.4. Morfologi dan Organel sel Archaebacteria


a.Morfologi Archaebacteria
Berbagai arkea individu dari 0,1 mikrometer (m) sampai lebih dari 15 m
dengan diameter, dan terjadi dalam berbagai bentuk, umumnya sebagai bola,
batang, spiral atau piring. Morfologi lain di Crenarchaeota termasuk sel
berlobus yang bentuknya tidak teratur di Sulfolobus, filamen seperti-jarum
yang kurang dari setengah mikrometer diameter di Thermofilum, dan batang
hampir sempurna persegi panjang di Thermoproteus dan Pyrobaculum
Haloquadratum walsbyi adalah arkea persegi yang datar, yang hidup di kolam
hypersaline. Bentuk yang tidak biasa ini mungkin dipertahankan baik oleh
dinding sel mereka dan sitoskeleton prokariotik. Protein yang terkait dengan
komponen sitoskeleton organisme lain ada di arkea dan filamen terbentuk
dalam sel mereka, tetapi berbeda dengan organisme lain, struktur seluler ini
kurang dipahami. Dalam Thermoplasma dan Ferroplasma ketiadaan dinding
sel berarti bahwa sel memiliki bentuk yang tidak teratur, dan dapat
menyerupai ameba.
Beberapa spesies membentuk agregat atau filamen sel hingga panjang
200 m. Organisme ini bisa menonjol dalam biofilm . Khususnya, agregat sel
Thermococcus coalescens menyatu bersama dalam kultur, membentuk sel-sel
raksasa tunggal. Arkea di genus Pyrodictium menghasilkan koloni multisel
rumit yang melibatkan jajaran panjang, tabung berongga tipis yang disebut
kanula yang menonjol dari permukaan sel dan menghubungkan mereka ke
dalam aglomerasi padat seperti-semak. Fungsi dari kanula ini tidak
diselesaikan, tetapi mereka dapat memungkinkan komunikasi atau pertukaran
nutrisi dengan tetangga. Koloni multi-spesies yang ada, seperti komunitas

"string-of-pearls" yang ditemukan pada tahun 2001 di sebuah rawa Jerman.


Koloni putaran keputihan dari novel spesies Euryarchaeota spasi sepanjang
filamen tipis yang dapat berkisar hingga 15 sentimeter (5,9 in) panjang;
filamen ini terbuat dari spesies bakteri tertentu.

b.Struktur Organel sel Archaebacteria


Archaea merupakan organisme yang berukuran sangat kecil, yaitu sekitar 1.52.5 m (Beveridge, 2001). Ukuran yang kecil ini memberikan keuntungan
tersendiri bagi sel tersebut. Sel yang berukuran lebih kecil memiliki luas
permukaan yang lebih besar dibandingkan dengan volume sel, jika
dibandingkan dengan sel yang berukuran lebih besar. Sehingga memiliki rasio
permukaan terhadap volume lebih tinggi. Rasio permukaan/volum
memberikan beberapa akibat pada kehidupannya. Sebagai contoh pada
pertukaran nutrisi, sel yang memiliki rasio permukaan/volum lebih tinggi akan
mendukung pertukaran nutrisi lebih cepat dibanding yang lebih rendah, oleh
karena itu sel yang lebih kecil akan tumbuh lebih cepat dibandingkan dengan
sel yang lebih besar karena memiliki rasio yang lebih tinggi. Sedangkan
secara genetik, hal ini dapat berdampak pada evolusi karena sel Archaea
adalah haploid, sehingga mutasi akan diekspresikan secara langsung.
Sedangkan mutasi itu sendiri adalah sumber dari suatu evolusi. Oleh sebab itu
Archaea dapat lebih cepat menanggapi perubahan lingkungan.
1. Membran sitoplasma pada Archaea
Struktur dasar dari membran sel Archaea tersusun atas fosfolipid. Struktur ini
tersusun dari molekul gliserol yang berikatan dengan fosfat pada ujung
pertama (kepala) dan berikatan dengan rantai samping yang berupa isoprenoid
pada ujung lainnya (ekor).

Gambar 4. membran sel Archaea.


Karena sifatnya yang hidrofilik maka ketika membran sel berada pada
lingkungan cair, ujung molekul yang mengandung gugus fosfat akan berada
pada permukaan luar membran yang berhubungan langsung dengan
lingkungan luar sel, dan sisi lainnya yang bersifat hidrofobik akan berada
dibagian dalam. Pelapisan seperti ini menciptakan penghalang kimia yang
sangat efektif disekitar sel dan membantu dalam menciptakan keseimbangan
kimiawi. Secara komposisi, membran sel Archaea memiliki perbedaan dengan
membran sel bakteri dan eukaria.

Perbedaan tersebut antara lain adalah perbedaan kiralitas gliserol yang


menjadi penyusun membran sel, ikatan antara gliserol dan rantai samping
isoprenoid berupa ikatan eter, rantai samping berupa isoprenoid bukan asam
lemak seperti pada bakteri dan eukaria, dan memiliki rantai samping yang
bercabang.
2. Kiralitas dari gliserol
Gliserol yang digunakan Archaea untuk membentuk fosfolipid merupakan
stereoisomer dari gliserol yang digunakan untuk membentuk membran sel

pada bakteri dan eukaria. Dua molekul yang stereoisomer adalah cerminan
satu sama lain. Pada membran sel bakteri dan eukaria, gliserol yang menyusun
membran selnya berupa D-Gliserol, sedangkan pada arkaea berupa L-gliserol.

Gambar 5. Struktur penyusun membran sel Archaea dan bakteri/eukaria.


3 . Ikatan eter
Pada kebanyakan organisme, gliserol yang terdapat pada membran selnya
akan berikatan dengan rantai samping menggunakan ikatan ester. Namun
tidak demikian halnya pada membran sel Archaea. Ikatan yang terbentuk
antara gliserol dan rantai samping pada membran sel Archaea adalah ikatan
eter. Hal ini memberikan fosfolipid yang dihasilkan memiliki sifat mekanik
kimia yang berbeda dari lipid membran organisme lain.

Gambar 6. Ikatan yang terbentuk pada membran sel bakteri/eukaria dan


Archaea.

4. Rantai Isoprenoid
Archaea memiliki rantai samping penyusun fosfolipid yang berbeda dengan
bakteri dan eukaria. Rantai samping penyusun fosfolipid pada bakteri dan
eukaria adalah asam lemak, sedangkan pada Archaea rantai samping yang
dimilikinya adalah isoprenoid. Isoprenoid merupakan hidrokarbon yang
memiliki 20 atom C dan merupakan anggota paling sederhana dari kelas
bahan kimia yang disebut terpene. Menurut definisi, terpene adalah molekul
yang menghubungkan molekul isoprenoid bersama-sama.

Gambar 7. Struktur membran monolayer pada Archaea.


Lipid yang terdapat pada Archaea termoasidodfil dan metanogen adalah
tetralipid, dimana ujung rantai samping phytanil pada struktur tetralipid
berikatan secara kovalen dengan molekul gliserol yang lain. Sehingga akan
membentuk struktur monolayer. Struktur seperti ini tidak memiliki area
tengah yang kosong seperti pada struktur lipid bilayer. Sehingga struktur
seperti ini memiliki resistensi yang lebih terhadap temperatur tinggi
dibandingkan struktur lipid bilayer. Pada umumnya Archaea yang hidup
optimal pada suhu tinggi, membran selnya terdiri dari lipid monolayer
ataupun kombinasi antara lipid bilayer dan monolayer.

Gambar 8. Membran monolayer dan bilayer.


5. Rantai samping yang Bercabang
Tidak hanya rantai samping Archaea yang dibentuk dari komponen yang
berbeda. Akan tetapi rantai sampingnya memiliki struktur fisik yang juga
berbeda. Rantai samping pada membran sel Archaea memiliki cabang, karena
penggunaan isoprenoid untuk membentuk rantai sampingnya. Asam lemak
pada bakteri dan eukariot tidak memiliki rantai cabang, sehingga sifat ini
menjadikan membran Archaea yang memiliki karakter unik. Hal ini
menciptakan beberapa properti yang menarik di membran Archaea. Rantai
samping isoprenoid bisa bergabung bersama-sama antara dua rantai samping
fosfolipid tunggal atau bergabung ke rantai fosfolipid sisi lain di sisi lain
membran (membentuk fosfolipid transmembran). Rantai samping tersebut
juga dapat mempunyai kemampuan untuk membentuk cincin karbon. Hal ini
terjadi ketika salah satu cabang mengelilingi dan mengikat atom bawah rantai
untuk membuat cincin lima atom karbon. Cincin tersebut diperkirakan
memberikan stabilitas struktural membran.
6. Dinding Sel Archaea
Archaea memiliki keragaman dalam hal lapisan yang menyelubungi selnya.
Beberapa Archaea memiliki lapisan protein permukaan atau S-layer. Lapisan
ini terdiri dari protein monomolekular yang identik atau lebih dikenal dengan

sebutan glikoprotein (Kandler dan Konig, 1993). Lapisan ini secara langsung
berhubungan dengan bagian luar membran plasma dan berfungsi untuk
melindungi dari lisis osmotik. Lapisan ini juga dapat berfungsi sebagai
penyeleksi molekul yang dapat masuk kedalam sel.

Gambar 9. S-Layer.
Selain S-Layer, diketahui beberapa Archaea juga memiliki struktur yang mirip
dengan dinding sel pada bakteri, namun berbeda dalam hal komposisi kimia
penyusunnya. Dinding sel Archaea tidak memiliki peptidoglikan namun
memiliki

molekul

yang

mirip

dengan

peptidoglikan

yang

disebut

pseudomurein. Pseudomurein dibangun dari N-Asetil glukosamin dengan


Asam N-Asetil talosamin uronat yang berikatan dengan ikatan glikosidik pada
-1,3 hal ini berbeda dengan peptidoglikan pada bakteri yang dibangun
menggunakan N-Asetil glukosamin dan N-Asetil muramat yang berikatan
pada -1,4.

Gambar 10. Struktur pseudomurein.

Perbedaan lainnya adalah asam amino yang terdapat pada pseudomurein


semuanya berupa L-Steroisomer. Struktur seperti ini memberikan dampak
yang menguntungkan pada Archaea, yaitu dinding sel mereka resisten
terhadap antibiotik dan juga tidak terpengaruh terhadap aktivitas lisosim dan
protease yang umum (Konig, 2001). Beberapa Archaea tidak memiliki
pseudomurein namun memiliki polisakarida lainnya, yaitu glutaminylglycan,
heterosakarida, methanochondroitin.
7. Struktur Permukaan Sel Archaea, Inklusi Sel, dan Vesikula Udara
Penelitian mengenai struktur tambahan pada permukaan sel Archaea telah
banyak dilakukan dengan memanfaatkan observasi elektron mikroskopis pada
beberapa jenis Archaea. Penelitian ini menunjukkan beberapa tipe struktur
tambahan pada permukaan sel Archaea, seperti pili dan flagella yang tampak
seperti struktur yang ada pada bakteri, tetapi ternyata memiliki perbedaan.
Selain itu struktur lain seperti cannulae (kanula), Hami, Iho670 Fibers, dan
bindosome muncul sebagai struktur unik lain yang dimiliki oleh Archaea.

8. Struktur Permukaan Sel Archaea


a. Pili
Fimbriae dan pili merupakan struktur filamen yang tersusun atas protein yang
memanjang dari permukaan sel dan memiliki banyak fungsi. Fimbriae
memungkinkan sel untuk menempel pada suatu permukaan. Secara umum pili
mirip dengan fimbriae, tetapi pili lebih panjang dan hanya satu atau sebagian
kecil pili yang bisa melekat pada permukaan sel. Fungsi pili itu sendiri adalah
untuk memfasilitasi pertukaran gen di antara sel pada suatu proses yang

disebut sebagai konjugasi. Walaupun sebenarnya proses konjugasi tidak selalu


diperantarai oleh pili.

Gambar 11. Tanda panah menunjukkan pili pada struktur permukaan sel.
b. Cannula, Hami, Iho670 Fibers, dan Bindosome
Struktur permukaan sel Archaea terdiri dari banyak bagian, yaitu kanula,
hami, Cannula, Hami, Iho670 Fibers, dan Bindosome. Struktur permukaan
tersebut tidak banyak dibahas seperti halnya pili dan flagella, hal ini
disebabkan karena sistem genetik di dalam struktur tersebut tidak mudah
untuk dipelajari dan tidak ditemukan pada semua jenis Archaea.
c. Cannulae (Kanula)
Kanula merupakan jaringan tubula yang sampai saat ini hanya ditemukan
pada genus Pyrodictium. Kanula berupa pipa berongga berdiameter luar 25
nm (Gambar 12) yang sangat resisten terhadap panas dan proses denaturasi
(Rieger et al., 1995). Strukturnya hampir sama dengan struktur permukaan sel
lainnya yaitu terbentuk atas lapisan glikoprotein, yang memiliki tiga subunit
glikoprotein yang homolog. Kanula menunjukkan aktivitasnya sebagai
penghubung intraseluler antar ruang periplasmik sel yang berbeda (Nickell et
al., 2003). Walaupun fungsi kanula belum diketahui secara jelas, tetapi dapat

diasumsikan bahwa dengan adanya kanula, sel dapat melakukan pertukaran


nutrisi atau bahkan materi genetik.

Gambar 12. Kanula (Rieger et al., 1995).


d. Hami
Struktur permukaan Archaea yang lain adalah hamus atau hami (Gambar 13).
Hami banyak ditemukan pada Archaea yang hidup di daerah suhu rendah yang
mengandung kadar sulfat tinggi (cold sulphidic springs). Strukturnya
menunjukkan filamen-filamen yang sangat kompleks dengan kenampakan
seperti kawat berduri yang ujungnya memiliki kait dengan diameter 60 nm
(Moissl et al., 2005). Masing-masing sel dikelilingi oleh sekitar 100 hami.
Hami stabil pada kisaran temperatur dan pH yang luas yaitu antara 070 oC dan 0,5-11,5. Hami dapat bertindak sebagai perantara proses adesi
seluler permukaan terhadap komposisi kimia yang berbeda sebagaimana adesi
yang berlangsung di antara sel. Hami juga terbukti menjadi komponen protein
utama dalam pembentukan biofilm Archaea, dimana sel membentuk susunan
tiga dimensi yang jaraknya konstan melalui proses perlekatan antar sel
Archaea (Henneberger et al., 2006).

Gambar 13. (a) Sekitar 100 hami keluar secara melingkar di permukaan sel.
(b) Kenampakan kait yang berada di ujung hami. Tanda panah menunjukkan
lokasi kait. (c) Hami menunjukkan kenampakan seperti kawat berduri (Moissl
et al., 2005).
e. Bindosome
Bindosome (Gambar 14) adalah struktur Archaea yang diduga mempunyai
fungsi unik pada Sulfolobus solfataricus (Albers dan Pohlschrder, 2009).
Komponen struktural bindosome yang utama adalah substrat pengikat protein
(substrat binding protein/SBP) yang diketahui sebagai glikoprotein (Elferink
et al., 2001), yang disusun oleh Pilin tipe IV seperti pada sekuen peptida
sinyal dan mengandung protein khas yang diketahui mampu membentuk
struktur oligomerik pada Archaea dan bakteri. Susunan oligomerik komplek
berperan dalam penyerapan gula, hal ini dapat membantu S. solfataricus untuk
dapat tumbuh pada substrat yang bervariasi (Ng et al., 2008).

Gambar 12. Gambar asli bindosome belum diketahui secara pasti, dan gambar
diatas merupakan formasi alternatif yang menunjukkan bindosome terletak
pada S-layer (Ng et al., 2008).
f. Iho670 Fibers
Pada pertengahan tahun 2009 telah dilakukan penelitian oleh Muller et al.
mengenai struktur permukaan Ignicoccus hospitalis, hasilnya menunjukkan
adanya tambahan permukaan sel baru yang kemudian diberi nama Iho670
fiber (Gambar 15). Iho670 fiber merupakan struktur yang sangat rapuh,
berbeda dengan flagella dan pili yang memliliki struktur primer dari protein.
Hal ini juga menunjukkan bahwa Iho670 fiber bukan salah satu organel sel
yang motil. yang menjadi bagian menarik adalah bahwa komponen utama
Iho670 fiber disintesis oleh Pilin tipe IV seperti peptida sinyal dan diproses
oleh peptidase prepilin homolog. Karena Pilin tipe IV seperti sistem ini juga
digunakan untuk flagela, pili tertentu, dan bindosome dalam Archaea, Pilin
tipe IV menjadi jalur yang sangat banyak digunakan oleh Archaea dalam hal
perakitan struktur permukaan.

Gambar 13. Hasil analisis serat Ignicoccus hospitalis menggunakan TEM


(Transmission Electron Microscopy) yang mengindikasikan adanya Iho670
fibers.
8. Inklusi Sel
Di dalam sel prokariotik biasanya terdapat senyawa lain yang menyertai sel di
dalam sitoplasma yang disebut dengan inklusi sel. Inklusi sel berfungsi
sebagai energi cadangan atau sebagai tempat penyimpanan struktur building
blocks. Penyimpanan karbon atau senyawa lain di dalam inklusi yang tidak
larut dalam air bermanfaat bagi sel karena dapat mengurangi tekanan osmotik
yang dapat mungkin terjadi apabila senyawa dalam jumlah yang sama terlarut
dalam sitoplasma (Madigan et al., 2012).

Gambar 16. Tanda panah menunjukkan poly--hydroxyalkanoat (PHA)


(Madigan et al., 2012).

Salah satu jenis inklusi sel yang paling banyak ditemukan di dalam organ
prokariotik adalah asam poly--hydroxybutirat (PHB). PHB adalah lipid yang
tersusun atas unit-unit asam -hydroxybutirat. Sedangkan polimer yang
diproduksi oleh Archaea adalah poly--hydroxyalkanoat (PHA) (Gambar 16).
PHA disintesis oleh Archaea di dalam polimer penyimpanan ketika sel
mengalami kondisi pertumbuhan yang tidak seimbang. PHA merupakan salah
satu jenis komoditas plastik yang dapat dirombak menjadi karbondioksida dan
air melalui proses mineralisasi mikrobiologis secara alami.
9 . Vesikula Udara
Salah satu jenis Archaea yang bersifat planktonic dan mampu hidup di air laut
adalah Nitrosopumilus maritimus dari kelompok Crenarchaeota (BrochierArmanet et al., 2011). Jenis organisme ini mampu mengapung di air laut
karena memiliki vesikula udara. Kemampuan mengapung yang dimilikinya
memungkinkan untuk menempatkan diri dalam kolom air untuk dapat
merespon kondisi lingkungan.

Gambar 17. Vesikula udara pada struktur permukaan sal Archaea.


Secara umum struktur vesikula udara tersusun atas protein yang berbentuk
kumparan, berongga namun kaku dengan panjang dan diameter yang
bervariasi (Gambar 17). Panjang vesikula udara yang dihasilkan oleh masing-

masing organisme berbeda-beda, mulai dari 300 sampai lebih dari 1000 nm
dengan lebar 45 sampai 120 nm, tetapi kisaran ukuran tersebut masih bisa
berubah-ubah.
Jumlah vesikula dalam satu organisme sangat bervariasi mulai dari sedikit
hingga ratusan tiap selnya, kedap air dan larut dalam gas (Madigan et al.,
2012).
Pergerakan Sel Archaea
a. Flagella Archaea
Flagella Archaea berukuran sangat kecil hingga mencapai setengah dari
ukuran flagella bakteri, yaitu 10-13 nm (Madigan et al., 2012). Flagella
Archaea memberikan kemampuan terhadap sel Archaea untuk dapat bergerak
memutar seperti halnya bakteri. Flagella Archaea tidak hanya sebagai alat
untuk bergerak, tetapi juga berperan dalam interaksi di dalam sel dan sebagai
pengenal pada permukaan sel sebagai syarat terbentuknya biofilm pada
beberapa Archaea. Flagella ditemukan pada semua sub kelompok utama
Archaea Crenarchaeota dan Euryarchaeota yaitu halofil, haloalkalofil,
metanogen, hipermetrofil, dan termoasidofil. Sampai saat ini telah dilaporkan
berbagai macam Archaea yang memiliki flagella, termasuk Methanococcus,
Halobacterium, Sulfolobus, Natrialba, Thermococcus dan Pyrococcus (Ng et
al., 2006).

2.5. Pemanfaatan Archaebacteria dalam bidang farmasi dan non


farmasi
Dalam bidang farmasi
1. Enzim dari Archaebacteria ditambahkan ke dalam sabun cuci atau
detergen untuk meningkatkan kemampuan sabun cuci dan deterjen
pada suhu dan pH tinggi.
2. Beberapa enzim Archaebacteria juga digunakan dalam industri
makanan untuk mengubah pati jagung menjadi dekstrin (sejenis
karbohidrat).
Dalam bidang non farmasi
1. Beberapa

jenis

Archaebacteria

digunakan

pencemaran, misalnya tumpahan minyak.

untuk

mengatasi

BAB III
PENUTUP
A.

Kesimpulan
Dalam sistem klasifikasi pada sistem enam kingdom, Archaebacteria
termasuk dalam satu kingdom tersendiri. Yang termasuk Archaebacteria, yaitu
bakteri yang hidup di sumber air panas, di tempat berkadar garam tinggi, di
tempat yang panas dan asam.
Archaebacteria

termasuk

kelompok

prokariotik.

Pertama

kali

diidentifikasikan pada tahun 1977 oleh Carl Woese dan George Fox. Ada tiga
kelompok

dari

Archaebacteria,

yaitu

methanogens,

halophiles,

dan

thermophiles. Peranan archae dalm kehidupan adalh pegubah karbondioksida


dan hydrogen menjadi metan, yang digunakan sebagai biogas.

DAFTAR PUSTAKA
Wikipedia. (2013). Arkea, [Online]. Tersedia: http://id.wikipedia.org/wiki/Arkea.
[30 September 2013]
Autis, Incos (2010). Klasifikasi ArchaeBacteria, [Online]. Tersedia: http://incostig.
blogspot.com/2010/11/klasifikasi-archaebacteria.html.
Maulana, putri. (2012). Archaebacteria (Archaea): Penegertian, Ciri-ciri, struktur
Sel,

dan

Contoh,

[Online].

http://perpustakaancyber.blogspot.com/2012/12/

Tersedia:

archaebacteria-archaea-

pengertian-ciri-struktur-sel-contoh.html.
Purnomo, Sigit. (2012). Archaebacteria dan Eubacteria, [Online]. Tersedia: http://
zonemakalah.blogspot.com/2012/02/archaebacteria-dan-eubacteria.html.
Zona Pelajar. (2013). Ciri-Ciri, Bentuk dan Jenis Archaebacteria, [Online].
Tersedia:

http://www.zonapelajar.com/2013/06/ciri-ciri-archaebacteria-

bentuk-dan.html.
Sativa,

Gita.

(2010).

Archaebacteria,

[Online].

http://id.scribd.com/doc/26659777/ archaebacteria.

Tersedia:

Lampiran
Pembagian tugas masing masing per orang
1.Mentari Panca putri bertugas mencari materi tentang Pengertian dan sejarah
penemuan.
2.Lorreine Elisa Faruq bertugas mencari materi tentang Pengelompokan dan
contoh Archeabacteria.
3. Intan Haryati bertugas mencari materi tentang Morfologi dan Organel sel
Archeabacteria.
4. Yanti hidayanti bertugas mencari materi tentang Karakteristik sel
Archeabacteria.
5.

Yopatun Naeni bertugas mencari materi tentang pemanfaatan


Archeabacteria dalam bidang Farmasi dan Non Farmasi.