Anda di halaman 1dari 33

COV 4_pembentukn koperasi tani.

indd 1

1/4/2013 11:59:53 PM

KATA PENGANTAR
Pengembangan kapasitas kelembagaan petani diarahkan untuk meningkatkan
kelembagaannya menjadi kelembagaan ekonomi dengan tujuan untuk meningkatkan
skala ekonomi dan efisiensi usaha, dan posisi tawar petani. Pengembangan
kapasitas ini dilakukan dengan memberi peluang bagi kelompoktani, gapoktan
yang telah mulai melakukan kegiatan usaha produktif sehingga kelembagaan
petani tersebut dapat berfungsi sebagai unit penyedia sarana produksi, unit usaha
pengolahan, unit usaha pemasaran, dan unit usaha keuangan mikro (simpan
pinjam).
Melalui pembinaan kelembagaan petani menjadi kelembagaan usahatani, pelaku
utama diorganisasikan dan ditingkatkan kemampuannya melalui pengembangan
kapasitas manajerial, kepemimpinan, dan kewirausahaan agar mampu menjadi
wirausaha agribisnis yang handal.
Pengembangan kelembagaan ekonomi petani diarahkan pada pembentukan
Badan Usaha Milik Petani (BUMP) berupa koperasi petani dan perusahaan yang
sahamnya dimiliki oleh petani. Pada saat ini di lapangan telah terbentuk sejumlah
koperasi dan perusahaan milik petani. Koperasi merupakan alternatif kelembagaan
ekonomi petani yang banyak dibentuk dari pengembangan kelompoktani maupun
gapoktan. Namun demikian dalam perkembangannya masih belum memiliki
kapasitas manajerial yang memadai.
Berkaitan dengan kondisi tersebut, maka diperlukan adanya materi penyuluhan
mengenai pembentukan koperasi tani yang tumbuh dari pengembangan usaha
kelompoktani maupun gapoktan, baik yang bergerak di sub sistem agro input
hingga yang bergerak di sub sistem pengolahan dan pemasaran hasil.
Kami berharap materi penyuluhan ini dapat memandu para penyuluh serta petugas
teknis lainnya dalam memfasilitasi pembentukan koperasi tani sebagai wujud dari
pengembangan kelembagaan ekonomi petani


Jakarta, Oktober 2012

Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian,

Dr. Ir. Momon Rusmono, MS


NIP. 19610524 198603 1 003

4 REV pembentukan koprasi NEW.indd 1

1/16/2013 9:11:24 AM

DAFTAR ISI

Kata Pengantar ................................................................................................ i


Daftar Isi ........................................................................................................... ii
Daftar Lampiran ................................................................................................ iii
Bab I.





PENDAHULUAN
A. Latar Belakang..............................................................................
B. Tujuan dan Sasaran......................................................................
C. Ruang Lingkup Materi...................................................................
D. Metode..........................................................................................
E. Fasilitator.......................................................................................
F. Waktu............................................................................................

1
2
2
2
3
3

Bab II. PEMBENTUKAN KOPERASI TANI



A. Syarat Gapoktan Membentukan Koperasi Tani.............................
6

B. Ciri-ciri Koperasi Sukses dan Kegiatan Usaha

Berkembang Baik.......................................................................... 7

1. Ciri-Ciri Koperasi Sukses..................................................... 7

2. Ciri-ciri Kegiatan Usaha Berkembang Baik..........................
8

C. Fasilitasi Pembentukan Koperasi Tani..........................................
8

1. Persiapan . ..........................................................................
9

2. Pembentukan Koperasi Tani................................................ 10

3. Pelaksanaan........................................................................ 10

4. Monitoring dan Evaluasi....................................................... 11
Bab III. DASAR-DASAR KOPERASI

A. Pengertian, Tujuan, Manfaat, Prinsip dan Jenis Koperasi ...........

1. Tujuan Koperasi...................................................................

2. Manfaat Koperasi.................................................................

3. Prinsip Koperasi...................................................................

4. Jenis Koperasi.....................................................................

B. Pendirian Koperasi........................................................................

C. Keorganisasian Koperasi..............................................................

1. Struktur Organisasi Koperasi...............................................

2. Keanggotaan Koperasi........................................................

3. Bagan Organisasi Koperasi.................................................

4. Modal dan Surplus Hasil Usaha Koperasi...........................

12
12
12
13
14
15
16
16
17
18
18

Bab IV. PENUTUP.............................................................................................

20

ii

4 REV pembentukan koprasi NEW.indd 2

1/16/2013 9:11:24 AM

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1

Nota kesepakatan bersama antara Kementerian


Pertanian dan Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan
Menengah Tentang Pembinaan dan fasilitasi
gabungan kelompoktani (Gapoktan) membentuk
Koperasi Pertanian ................................................................

21

iii

4 REV pembentukan koprasi NEW.indd 3

1/16/2013 9:11:24 AM

iv

4 REV pembentukan koprasi NEW.indd 4

1/16/2013 9:11:24 AM

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pengembangan kelembagaan ekonomi petani diarahkan pada pembentukan
Badan Usaha Milik Petani (BUMP) berupa koperasi petani dan perusahaan
yang sahamnya dimiliki oleh petani. Pada saat ini di lapangan telah terbentuk
sejumlah koperasi dan perusahaan milik petani. Koperasi merupakan alternatif
kelembagaan ekonomi petani yang banyak dibentuk dari pengembangan
kelompoktani maupun gapoktan.
Namun demikian dalam perkembangannya masih belum memiliki kapasitas
manajerial yang memadai. Hal ini disebabkan karena: 1) Kelembagaan petani
masih belum berorientasi usaha produktif; 2) Akses terhadap kelembagaan
keuangan/perbankan rendah; 3) Kelembagaan petani belum mampu melayani
kebutuhan pengembangan agribisnis bagi anggotanya; dan 4) Kelembagaan
petani belum mampu menghubungkan dengan sumber-sumber teknologi.
Berkenaan dengan hal tersebut di atas, kelembagaan usahatani berbasis
agribisnis di perdesaan perlu untuk dijadikan sebagai salah satu sasaran
pengembangan kapasitas petani, Pengembangan kelembagaan ekonomi
petani diarahkan pada pembentukan Badan Usaha Milik Petani (BUMP) berupa
koperasi petani dan perusahaan yang sahamnya dimiliki oleh petani. Pada saat
ini di lapangan telah terbentuk sejumlah koperasi dan perusahaan milik petani.
Koperasi merupakan alternatif kelembagaan ekonomi petani yang banyak
dibentuk dari pengembangan kelompoktani maupun gapoktan, karena
bentuk koperasi telah akrab dengan petani dan dalam pembentukannya tidak
memerlukan modal yang cukup banyak.
Agar pengembangan koperasi tani dapat berjalan dengan baik sesuai dengan
tujuan, untuk itu diperlukan adanya materi penyuluhan tentang pembentukan
koperasi tani berupa tahapan-tahapan dari pengembangan kelembagaan
petani menjadi koperasi tani, yang dapat digunakan sebagai bahan acuan oleh
penyuluh pertanian dan petugas terkait lainnya dalam memfasilitasi penumbuhan
dan mengembangkan kelembagaan ekonomi petani dalam bentuk koperasi.

4 REV pembentukan koprasi NEW.indd 1

1/16/2013 9:11:24 AM

B. Tujuan dan Sasaran


1. Tujuan
Memberikan acuan bagi para penyuluh dan petugas teknis lainnya dalam
memfasilitasi terbentuknya koperasi tani, agar tercapai tujuan sebagai
berikut:
a. Terwujudnya

pemberdayaan

petani

melalui

pengembangan

kelembagaan ekonomi petani dalam bentuk koperasi tani;


b. Terlaksananya pengawalan dan pendampingan dalam pembentukan
koperasi tani.
2. Sasaran
Sasaran pembentukan kelembagaan ekonomi petani dalam bentuk koperasi
tani adalah kelompoktani dan gapoktan yang sudah mengembangkan
usaha berorientasi agribisnis dan siap untuk membentuk koperasi tani.

C. Ruang Lingkup Materi


1. Pembentukan Koperasi, meliputi:
a. Syarat poktan dan gapoktan membentuk Koperasi Tani
b. Ciri-ciri Koperasi Sukses dan Kegiatan usaha Berkembang Baik
c. Perbedaan gapoktan dengan Koperasi
d. Cara Pembentukan Koperasi Tani.
2. Dasar-dasar Koperasi, meliputi:
a. Pengertian, Tujuan dan Manfaat Koperasi
b. Prinsip-prinsip Koperasi
c. Jenis-jenis Koperasi
d. Keorganisasian Koperasi
e. Keanggotaan Koperasi

D. Metode
Pengawalan dan pendampingan dari penyuluh dan petugas teknis lainnya dalam
bentuk kunjungan, anjangsana, diskusi yang menjadi bagian dari pelaksanaan
sistem kerja Latihan dan Kunjungan (LAKU).

4 REV pembentukan koprasi NEW.indd 2

1/16/2013 9:11:24 AM

E. Fasilitator
Penyuluh pertanian dan petugas teknis dari dinas/instansi yang menangani
koperasi

F. Waktu
Materi ini disampaikan pada waktu pertemuan berkala poktan/gapoktan atau
waktu lain yang telah disepakati bersama anggota.

4 REV pembentukan koprasi NEW.indd 3

1/16/2013 9:11:24 AM

BAB II

PEMBENTUKAN KOPERASI TANI


Pembinaan kelembagaan petani sesuai dengan Permentan Nomor. 273 Tahun 2007
tentang Pedoman Pembinaan Kelembagaan Petani diarahkan pada peningkatan
kemampuan dan penguatan kelembagaan petani menjadi organisasi yang kuat dan
mandiri dalam bentuk kelembagaan ekonomi petani.
Salah satu upaya pemberdayaan petani dalam rangka meningkatkan kapasitas
kelembagaan petani menjadi kelembagaan ekonomi petani salah satunya dilakukan
melalui pembentukan koperasi. Pengembangan koperasi, sebenarnya telah
dilaksanakan sejak lama, namun dalam pelaksanaannya seringkali terkendala oleh
beberapa hal diantaranya:
a. Pelayanan koperasi kepada petani sebagai anggota belum memuaskan;
b. Permodalan koperasi masih sangat terbatas;
c. Kapasitas pengurus dalam mengelola koperasi belum memadai;
d. Cakupan usaha kegiatan koperasi masih terfokus pada kegiatan on-farm;
e. Kepercayaan masyarakat tani terhadap koperasi masih relatif rendah.
Sejalan dengan adanya perbaikan dan penyempurnaan terhadap program
perkoperasian dan semakin berkembangnya usaha petani secara berkelompok,
maka pengembangan kelembagaan petani melalui pembentukan koperasi
digalakan kembali dengan tujuan:
a. Membangun kembali citra koperasi sebagai lembaga ekonomi milik petani;
b. Meningkatkan kapasitas manajerial bagi pengurus, pengawas, dan pembina
koperasi;
c. Meningkatkan sarana, prasarana, dan permodalan koperasi dalam bidang
agribisnis;
d. Meningkatkan pelayanan koperasi melalui penerapan one stop shopping
kepada petani dalam penyediaan sarana produksi, pembelian produk petani,
dan penyediaan modal usaha;

4 REV pembentukan koprasi NEW.indd 4

1/16/2013 9:11:25 AM

e. Memfasilitasi pengembangan koperasi berbasis komoditas dengan pendekatan


sistem agribisnis.
Berdasarkan hal tersebut, maka gapoktan sangat berpeluang untuk dikembangkan
menjadi koperasi. Adapun perbandingan antara Gapoktan dengan Koperasi antara
lain sebagai berikut:
Tabel 1. Perbandingan antara Gapoktan dengan Koperasi
No.

Aspek

Gapoktan

Koperasi

1.

Legalitas

Tidak berbadan hukum dan dibina


oleh Penyuluh Pertanian.

Berbadan hukum yang dibina oleh


Penyuluh Pertanian dan Petugas
Koperasi.

2.

Keanggotaan

Anggota terdiri dari anggota


kelompoktani yang bergabung
dalam gabungan kelompoktani.

Anggota terdiri dari anggota


kelompoktani yang bergabung
dalam gabungan kelompoktani
dan masyarakat bukan anggota
kelompoktani

3.

Hak dan
kewajiban
anggota

Hak anggota:

Hak anggota:

memperoleh pembinaan, pelatihan, memperoleh pembinaan, pelatihan


dan pelayanan jasa dari Gapoktan. dari Dinas/kantor koperasi
serta mendapatkan fasilitasi
Kewajiban anggota:
pengembangan usaha dan jasa
lainnya seperti kredit, simpan
mentaati dan mematuhi aturanpinjam dan pembagian SHU sesuai
aturan yang ditetapkan oleh
dengan jasa yang diberikan dari
Gapoktan.
Koperasi
Kewajiban anggota:
memenuhi Anggaran Dasar dan
Anggaran Rumah Tangga (ADART), termasuk iuran yang telah
ditetapkan oleh Koperasi.

4.

Cakupan
Pelayanan

Memberikan pelayanan hanya


kepada anggota yang berasal
dari anggota kelompoktani yang
bergabung.

Memberikan pelayanan kepada


anggota kelompoktani yang
bergabung dalam gapoktan dan
masyarakat sekitar yang telah
menjadi anggotanya.

4 REV pembentukan koprasi NEW.indd 5

1/16/2013 9:11:25 AM

A. Syarat Gapoktan Membentuk Koperasi Tani


Gabungan kelompoktani (Gapoktan) merupakan kelembagaan petani yang
ditumbuhkan secara partisipatif yang beranggotakan kelompok-kelompoktani
dalam rangka meningkatkan skala ekonomi dan efisiensi usaha. Gapoktan
berpeluang untuk ditingkatkan kapasitasnya menjadi koperasi, apabila gapoktan
tersebut telah menunjukan kemampuannya dalam pengembangan kegiatan
usaha dengan ciri-ciri sebagai berikut:
1. Telah mengembangkan usaha berkelompok yang dikelola secara komersial
dan berorientasi pasar;
2. Telah memiliki aturan /norma organisasi secara tertulis yang disepakati
dan ditaati bersama oleh semua anggota misalnya: aturan pertemuan/
rapat anggota/rapat pengurus yang diselenggarakan secara berkala dan
berkesinambungan; penghargaan dan sanksi yang berlaku bagi semua
anggota dan pengurus dll;
3. Telah memiliki kepengurusan yang bertugas dalam pengembangan usaha
dan berjalan sesuai dengan tugas dan kewajibannya;
4. Telah membangun kemitraan dan jejaring usaha dengan berbagai pihak
dalam rangka pengembangan usaha;
5. Memiliki pencatatan administrasi organisasi yang baik
6. Memiliki pencatatan kegiatan usaha sederhana tetapi dilakukan secara
berkesinambungan;
7. Memiliki rencana kerja/kegiatan dalam pengembangan usaha;
8. Adanya pemupukan modal usaha atau dana keswadayaan yang
berkembang baik yang berasal dari iuran anggota maupun penyisihan hasil
usaha/kegiatan Gapoktan;
9. Telah mencoba untuk mengembangkan kegiatan pengelolaan keuangan
dalam bentuk Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis(LKM-A) atau bentuk
pengelolaan jasa keuangan sederhana lainnya.

4 REV pembentukan koprasi NEW.indd 6

1/16/2013 9:11:25 AM

B. Ciri-ciri Koperasi Sukses dan Kegiatan Usaha Berkembang Baik


Untuk membangun koperasi tani yang ideal sesuai dengan tujuannya
sebagai kelembagaan ekonomi yang kuat di perdesaan, diperlukan dukungan
sumberdaya manusia yang berkualitas. Untuk itu diperlukan pengawalan dan
pendampingan yang berkesinambungan baik dari penyuluh, kelembagaan
penyuluhan serta dari dinas/instansi yang menangani koperasi di kabupaten/
kota.
Dalam rangka mengukur kapasitas dan aspek pengelolaan usaha koperasi,
maka dapat digunakan ukuran-ukuran yang dapat menunjukan ciri-ciri koperasi
yang sukses dan ciri-ciri kegiatan usaha koperasi berkembang baik.
1. Ciri-ciri Koperasi Sukses
a. Mempunyai Pengurus dan Pengawas yang dipilih dari dan oleh
Anggota. Bila Koperasi sudah berkembang dan Pengurus tidak
mampu lagi mengelola usaha koperasi, maka perlu diangkat seorang
Manajer dan merekrut karyawan;
b. Pengurus koperasi jujur, adil, dan disiplin;
c. Anggota koperasi berperan aktif, jujur, dan disiplin;
d. Tim Pengawas berfungsi sesuai dengan tugasnya;
e. Memiliki AD/ART yang disepakati dan ditaati;
f. Setiap tahun melaksanakan Rapat Anggota minimal sekali dengan
tingkat kehadiran lebih dari 75%;
g. Melaksanakan pendidikan kepada para anggotanya secara rutin.
h. Melayani anggota dengan baik, antara lain:
1) Jenis usahanya dapat memenuhi kebutuhan anggotanya.
2) Semua anggota mendapat pelayanan Koperasi.
3) Lebih 75% anggota merasa puas atas pelayanannya.
i.

Mempunyai administrasi yang baik, antara lain:


1) Memiliki Administrasi Keuangan dan Non Keuangan yang lengkap,
tertib, dan benar

4 REV pembentukan koprasi NEW.indd 7

1/16/2013 9:11:25 AM

2) Mempunyai kegiatan usaha dan laporan yang lengkap untuk


dipertanggungjawabkan pada setiap rapat pengurus dan pada
Rapat Anggota Tahunan (RAT).
3) Laporan kegiatan usaha disampaikan pada setiap rapat pengurus
dan pada Rapat Anggota Tahunan (RAT).
2. Ciri-ciri Kegiatan Usaha Koperasi Berkembang Baik
a. Pengurus Koperasi selalu berusaha menemukan atau menghimpun
potensi dan kemampuan anggota, sehingga dapat mengembangkan
usaha anggota terus bertambah, dan dapat meningkatkan pendapatan
serta kesejahteraannya.
b. Berjalannya fungsi penjualan dan pembelian dari produk anggota
dengan harga yang layak, pelayanan kepada anggota yang
memuaskan, dan tersediannya informasi pasar.
c. Nilai tunggakan pinjaman anggota ke Koperasi kurang dari 1%.
d. Sisa Hasil Usaha (SHU) selalu meningkat dan dibagikan maksimal
40% kepada anggota dan 25% bagi anggota luar biasa.
e. Menjalin kemitraan usaha yang baik dengan ciri:
1) Kemitraan usaha secara tertulis dalam bentuk kontrak.
2) Kemitraan usaha memberikan keuntungan kepada kedua belah
pihak dan terjadi secara terus-menerus.
f. Lebih dari 90% anggota dan masyarakat setempat merasakan manfaat
Koperasi.
g. Adanya pendidikan bagi para anggota Koperasi.

C. Fasilitasi Pembentukan Koperasi Tani


Fasilitasi pembentukan koperasi tani sesuai dengan Nota Kesepakatan
Bersama antara Kementerian Pertanian dan Kementerian Koperasi dan Usaha
Kecil dan Menengah tentang Pembinaan dan Fasilitasi Gabungan Kelompoktani
(Gapoktan) membentuk Koperasi Pertanian, merupakan tanggung jawab
bersama dari ke dua kementerian tersebut yang perlu untuk ditindaklanjuti
hingga ke tingkat lapangan.

4 REV pembentukan koprasi NEW.indd 8

1/16/2013 9:11:25 AM

Operasionalisasi fasilitasi pembentukan koperasi di tingkat lapangan menjadi


tugas para penyuluh pertanian berkoordinasi dengan petugas dari dinas/kantor
yang menangani koperasi di wilayah setempat.
Tahapan fasilitasi pembentukan koperasi tani terdiri dari persiapan, pembentukan
dan pelaksanaan serta monitoring dan evaluasi, dengan rincian sebagai berikut:
1. Persiapan
a. Penyuluh Pertanian melakukan identifikasi terhadap gapoktan yang
berpotensi untuk dikembangkan menjadi koperasi sesuai dengan
persyaratan;
b. Gapoktan yang memenuhi syarat diajukan oleh Kepala BP3K kepada
Kepala BP4K di tingkat kabupaten;
c. Verifikasi dan validasi kelayakan gapoktan yang diusulkan sebagai
calon koperasi tani oleh BP4K/Kelembagaan yang membidangi
penyuluhan bekerjasama dengan dinas/kantor yang menangani
koperasi di kabupaten/kota
d. Kepala BP4K dan kepala dinas/kantor yang menangani koperasi di
kabupaten/kota menyepakati gapoktan yang siap untuk difasilitasi
untuk membentuk tani;
e. Daftar Gapoktan yang memenuhi syarat selanjutnya dimasukan
menjadi salah satu bahan dalam penyusunan programa penyuluhan
tingkat kecamatan;
f. Setelah programa penyuluhan disusun, maka fasilitasi pembentukan
koperasi tani menjadi bahan bagi rencana kerja penyuluh;
g. Sosialisasi oleh penyuluh tentang manfaat dan tata cara pembentukan
koperasi yang dilakukan pada pertemuan berkala gapoktan untuk
memberikan wawasan tentang Koperasi Tani. Kegiatan sosialisasi
ini sebaiknya dengan menyertakan petugas dari dinas/kantor yang
menangani koperasi;
h. Musyawarah/rembug gapoktan untuk menyepakati pembentukan
koperasi tani, pada pertemuan ini sebaiknya dihadiri oleh petugas
dari dinas/kantor yang menangani koperasi agar untuk selanjutnya
gapoktan

tersebut

mendapat

fasilitasi

dalam

mempersiapkan

kelengkapan untuk membentuk koperasi;

4 REV pembentukan koprasi NEW.indd 9

1/16/2013 9:11:25 AM

i.

Fasilitasi berupa pendampingan oleh penyuluh pertanian bersama


dengan petugas oleh petugas dari dinas/kantor yang menangani
koperasi. Materi fasilitasi antara lain meliputi:
1) Persyaratan dan proses pembentukan koperasi tani;
2) Struktur, tugas, tanggung jawab dan fungsi kepengurusan koperasi
tani;
3) Penyiapan

dokumen-dokumen

kelengkapan

pembentukan

koperasi.
j.

Pendampingan oleh penyuluh pertanian dilakukan sebagai bagian dari


kunjungan penyuluh ke kelompoktani/gapoktan sesuai dengan jadwal
yang disepakati bersama kelompoktani/gapoktan;

2. Pembentukan Koperasi Tani


a. Setelah bentuk koperasi beserta namanya telah disepakati, maka
dilakukan pendirian koperasi dengan pembuatan Akta Pendirian
Koperasi yang dibuat oleh Notaris yang terdaftar pada dinas/kantor
yang menangani koperasi.
b. Apabila akta pendirian telah diterbitkan maka koperasi tersebut, harus
memperoleh pengesahan sebagai badan hukum, apabila lingkup
wilayah kerja koperasi di kabupaten/kota maka pengesahan badan
hukum dapat diperoleh dari dinas/kantor yang menangani koperasi di
kabupaten/kota.
3. Pelaksanaan
Setelah koperasi tani terbentuk, maka masih diperlukan adanya fasilitasi
dari berbagai pihak, agar kelembagaan tersebut mampu mengembangkan
usahatani berskala ekonomi yang menguntungkan dan efisien. Untuk itu
fasilitasi yang diperlukan antara lain:
a. Perencanaan usaha;
b. Pengembangan bidang usaha diantaranya:
1) Bidang usaha yang menyediakan dan menyalurkan sarana
produksi berupa alat-alat dan mesin- mesin pertanian;
2) Bidang usaha dalam produksi komoditas pertanian;
3) Bidang usaha industri pengolahan hasil pertanian (agroindustri);
4) Bidang usaha pemasaran hasil-hasil pertanian; dan

10

4 REV pembentukan koprasi NEW.indd 10

1/16/2013 9:11:25 AM

5) Bidang usaha pelayanan seperti perbankan, angkutan, asuransi,


atau penyimpanan.
c. Perencanaan dan strategi pemasaran
d. Keuangan, akuntansi dan perpajakan
e. Penguatan dan peningkatan likuiditas modal melalui pemupukan
modal secara produktif dan progresif serta mencari peluang fasilitasi
penguatan permodalan dari lembaga pembiayaan ;
f. Pencarian peluang pasar melalui pengembangan jejaring dan
kemitraan dengan pihak lain yang memiliki kesamaan visi dalam
mengembangkan usaha.
4. Monitoring dan Evaluasi
Monitoring dan evaluasi koperasi tani dilakukan oleh kelembagaan
penyuluhan atau kelembagaan yang membidangi penyuluhan serta di
setiap jenjang wilayah dengan ruang lingkup diantaranya :
a. Keragaan dan kesiapan gapoktan yang memenuhi persyaratan untuk
dikembangkan kapasitasnya menjadi koperasi tani;
b. Proses musyawarah/rembug gapoktan untuk menyepakati pemilihan
dan pembentukan koperasi tani;
c. Penyiapan dokumen-dokumen kelengkapan pembentukan koperasi
seusai dengan persyaratan;
d. Jumlah koperasi tani yang terbentuk;
e. Penguatan kapasitas manajerial usaha koperasi tani;
f. Jumlah koperasi tani yang melakukan jejaring dan kemitraan usaha
dengan pihak lain;

11

4 REV pembentukan koprasi NEW.indd 11

1/16/2013 9:11:25 AM

BAB III

DASAR-DASAR KOPERASI
A. Pengertian, Tujuan, Manfaat , Prinsip dan Jenis Koperasi
Koperasi adalah badan hukum yang didirikan oleh orang perseorangan atau
badan hukum Koperasi, dengan pemisahan kekayaan para anggotanya sebagai
modal untuk menjalankan usaha, yang memenuhi aspirasi dan kebutuhan
bersama di bidang ekonomi, sosial, dan budaya sesuai dengan nilai dan prinsip
Koperasi.
Berdasarkan keanggotaannya, Koperasi dapat berbentuk Koperasi Primer atau
Koperasi Sekunder. Koperasi Primer adalah Koperasi yang didirikan oleh dan
beranggotakan orang-seorang (perorangan/individu). Sedangkan Koperasi
Sekunder adalah Koperasi yang didirikan oleh dan beranggotakan Koperasi
(Undang Undang Nomor. 17 Tahun 2012 Tentang Perkoperasian).
1. Tujuan Koperasi
Koperasi bertujuan meningkatkan kesejahteraan Anggota pada khususnya
dan masyarakat pada umumnya, sekaligus sebagai bagian yang tidak
terpisahkan dari tatanan perekonomian nasional yang demokratis
dan berkeadilan. (Undang Undang Nomor. 17 Tahun 2012 Tentang
Perkoperasian).
2. Manfaat Koperasi
a. Manfaat bagi anggota
Koperasi untuk mencapai kesejahteraan anggotanya melakukan
kegiatan-kegiatan

ekonomi

yang

menguntungkan

dan

dapat

dimanfaatkan anggotanya, antara lain:


1) Sebagai tempat menyimpan dan meminjam uang dengan cepat
serta persyaratan yang mudah.
2) Tempat pemasaran produk hasil pertanian dari anggota dengan
harga yang layak, sehingga menguntungkan.
3) Sebagai tempat membeli sarana produksi pertanian maupun
kebutuhan rumah tangga sehari-hari dengan cepat dan harga yang
relatif murah atau sama dengan harga pasar.

12

4 REV pembentukan koprasi NEW.indd 12

1/16/2013 9:11:25 AM

4) Mengatasi

permasalahan

ekonomi

secara

bersama-sama

sehingga menjadi lebih ringan bila dibandingkan dengan membeli


sendiri-sendiri.
5) Meningkatkan kemampuan pengurus dan anggota mengenai
perkoperasian dan cara-cara berproduksi yang lebih maju melalui
pelatihan, serta sebagai wadah belajar bersama.
b. Manfaat bagi kelembagaan Koperasi
Koperasi dapat menjadi anggota induk koperasi pertanian yang ada
seperti Induk Tani dan Nelayan (INKOPTAN) yang dapat memberikan
kemudahan, antara lain: mendapat fasilitasi menjadi distributor sarana
dan prasarana pertanian dan dapat meminjam modal usaha dari
Lembaga Penyalur Dana Bergulir (LPDB).
3. Prinsip Koperasi
Prinsip adalah sesuatu yang harus dilaksanakan, sebab apabila
tidak dilaksanakan tujuan tidak tercapai. Prinsip-prinsip Koperasi dan
penjelasannya sesuai dengan UU RI No. 17 Tahun 2012 sebagai berikut:
a. Keanggotaan

bersifat

sukarela

dan

terbuka,

artinya

menjadi

anggota Koperasi tidak boleh dipaksakan oleh siapapun dan dapat


mengundurkan diri sesuai syarat yang ditentukan dalam Anggaran
Dasar Koperasi. Sedangkan sifat terbuka artinya keanggotaan tidak
dilakukan pembatasan atau diskriminasi dalam bentuk apapun.
b. Pengawasan

dan

pengelolaan

dilakukan

secara

demokratis,

maksudnya dilakukan atas kehendak dan keputusan para anggota.


Para anggota itulah yang memegang dan melaksanakan kekuasaan
tertinggi dalam Koperasi.
c. Anggota berpartisipasi aktif dalam kegiatan ekonomi Koperasi
d. Koperasi merupakan badan usaha swadaya yang otonom, dan
independen
e. Ada pembagian sisa hasil usaha (SHU), dilakukan secara adil
sebanding dengan besarnya jasa usaha masing-masing anggota.

13

4 REV pembentukan koprasi NEW.indd 13

1/16/2013 9:11:25 AM

f. Ada pemberian balas jasa yang terbatas terhadap modal, artinya tidak
melebihi suku bunga yang berlaku di pasar.
g. Kemandirian, maksudnya dapat berdiri sendiri tanpa bergantung pada
pihak lain yang dilandasi oleh kepercayaan kepada pertimbangan,
keputusan, kemampuan, dan usaha sendiri.
h. Koperasi bekerja untuk pembangunan berkelanjutan bagi lingkungan
dan masyarakatnya melalui kebijakan yang disepakati oleh Anggota
Dalam mengembangkan Koperasi, juga menerapkan prinsip lainnya, yaitu:
(1) Koperasi menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan bagi Anggota,
Pengawas, Pengurus, dankaryawannya, serta memb erikan informasi
kepada masyarakat tentang jati diri, kegiatan, dan kemanfaatan Koperasi dan
(b) kerja sama antar koperasi. Penyelenggaraan pendidikan perkoperasian
merupakan

prinsip

Koperasi

yang

penting

dalam

meningkatkan

kemampuan, memperluas wawasan anggota, dan memperkuat solidaritas


dalam mewujudkan tujuan Koperasi. Kerja sama dimaksud dapat dilakukan
antar koperasi di tingkat lokal, regional, nasional, dan internasional.
4. Jenis Koperasi
Jenis-jenis Koperasi ditentukan berdasarkan kesamaan kegiatan dan
kepentingan ekonomi anggotanya. Oleh karena itu dijumpai beberapa jenis
koperasi, yaitu:
a. Koperasi

Simpan

Pinjam

adalah

Koperasi

yang

memberikan

kepercayaan pada Anggotanya dalam bentuk pinjaman uang.


b. Koperasi Konsumen adalah Koperasi yang mengusahakan kebutuhan
sehari-hari, agar anggota-anggotanya dapat membeli barang-barang
konsumsi dengan kualitas yang lebih baik dan harga yang layak.
Contoh Koperasi Pegawai Negeri.
c. Koperasi Produsen adalah Koperasi yang anggotanya terdiri dari
orang yang mampu menghasilkan suatu barang atau jasa. Orang
tersebut adalah buruh, pedagang, pengusaha kecil dan menengah.
Contoh Koperasi kerajinan, Koperasi batik, Koperasi Produsen Tahu
dan Tempe (KOPTI), dan lain-lain.

14

4 REV pembentukan koprasi NEW.indd 14

1/16/2013 9:11:25 AM

d. Koperasi Serba Usaha adalah Koperasi yang menjalankan usaha lebih


dari satu macam usaha kebutuhan ekonomi atau kepentingan ekonomi
para anggotanya. Contohnya adalah Koperasi Unit Desa (KUD).
e. Koperasi Jasa adalah koperasi yang berusaha di bidang penyediaan
jasa tertentu bagi para anggota maupun masyarakat umum. Contohnya
adalah Koperasi Jasa Angkutan, Koperasi Asuransi Indonesia, Koperasi
Perancangan dan Konstruksi Bangunan, Koperasi pengurusan
dokumen seperti SIM, STNK, Pasport, Sertifikat Tanah, dan lain-lain.

B. Pendirian Koperasi
Koperasi Primer didirikan oleh paling sedikit 20 (dua puluh) orang perseorangan
dengan memisahkan sebagian kekayaan pendiri atau Anggota sebagai modal
awal Koperasi sedangkan Koperasi Sekunder didirikan oleh paling sedikit 3
(tiga) Koperasi Primer.
Pendirian Koperasi dilakukan dengan Akta Pendirian Koperasi yang dibuat
oleh Notaris yang terdaftar pada Kementerian yang menyelenggarakan urusan
Pemerintahan di bidang Koperasi. Apabila di suatu kecamatan tidak terdapat
Notaris, maka Akta Pendirian Koperasi dapat dibuat oleh Camat yang telah
disahkan sebagai Pejabat Pembuat Akta Koperasi Notaris.
Akta Pendirian Koperasi memuat Anggaran Dasar dan keterangan yang
berkaitan dengan pendirian Koperasi yang memuat sekurang-kurangnya:
a. nama lengkap, tempat dan tanggal lahir, tempat tinggal, dan pekerjaan
pendiri perseorangan ataunama, tempat kedudukan, dan alamat lengkap,
serta nomor dan tanggal pengesahan badan hukum;
b. susunan, nama lengkap, tempat dan tanggal lahir, tempat tinggal, dan
pekerjaan Pengawas dan Pengurus yang pertama kali diangkat;
Dalam pembuatan Akta Pendirian Koperasi, seorang pendiri dapat diwakili
oleh pendiri lain berdasarkan surat kuasa sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang- undangan.
Permohonan Akta Pendirian Koperasi diajukan secara tertulis oleh para pendiri
secara bersama-sama atau kuasanya untuk mendapatkan pengesahan sebagai
badan hukum.

15

4 REV pembentukan koprasi NEW.indd 15

1/16/2013 9:11:25 AM

C. Keorganisasian Koperasi
Keorganisasian Koperasi terdiri dari Struktur Organisasi, keanggotaan dan
Bagan Organisasi.
1. Struktur Organisasi Koperasi
Struktur organisasi Koperasi terdiri dari Perangkat Organisasi, Penasehat
atau Pembina (bila diperlukan), dan Manajer.
a. Perangkat Organisasi meliputi Rapat Anggota, Rapat Anggota Luar
Biasa (bila diperlukan), Pengurus, dan Pengawas:
1) Rapat Anggota merupakan pemegang kekuasaan tertinggi pada
Koperasi, diantaranya memilih dan memberhentikan Pengurus,
Pengawas dan lain-lain. Rapat Anggota merupakan forum yang
dilaksanakan minimal setahun sekali yang biasa disebut Rapat
Anggota Tahunan (RAT), dihadiri oleh seluruh Anggota, dan setiap
Anggota memiliki hak suara yang sama.
2) Selain RAT, Koperasi dapat melakukan Rapat Anggota Luar Biasa
yang wewenangnya sama dengan wewenang RAT. Rapat Anggota
Luar Biasa dilaksanakan atas permintaan anggota Koperasi atau
atas keputusan Pengurus yang pelaksanaannya diatur dalam
Anggaran Dasar. Permintaan dari anggota terutama karena
Pengurus dinilai telah melakukan kegiatan yang bertentangan
dengan

kepentingan

Koperasi

dan

menimbulkan

kerugian

terhadap Koperasi. Sedangkan atas permintaan Pengurus untuk


kepentingan pengembangan Koperasi.
3) Pengurus adalah anggota yang dipilih dalam Rapat Anggota dan
mendapat kepercayaan untuk memimpin organisasi Koperasi
dalam masa jabatan paling lama lima tahun, dan dapat dipilih
kembali setelah masa jabatannya habis. Pengurus merupakan
pemegang kuasa Rapat Anggota. Pertama kali, susunan dan nama
anggota Pengurus dicantumkan dalam akta pendirian Koperasi.
Persyaratan untuk dapat menjadi anggota Pengurus ditetapkan
dalam Anggaran Dasar.

16

4 REV pembentukan koprasi NEW.indd 16

1/16/2013 9:11:25 AM

4) Pengawas adalah anggota yang dipilih dalam Rapat Anggota


dan harus bertanggung jawab kepada Rapat Anggota. Tugasnya
adalah melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan kebijakan
dan pengelolaan Koperasi, dan membuat laporan tertulis tentang
hasil pengawasannya.
b. Penasehat atau Pembina, apabila dirasa perlu dapat diangkat seorang
penasehat/pembina dari Kantor Koperasi atau dari pemerintah daerah.
c. Manajer adalah seorang pemimpin dari karyawan milik Koperasi yang
diberi tugas dan tanggung jawab oleh Pengurus. Tugasnya adalah
mengelola dan menjalankan usaha koperasi yang dibantu oleh beberapa
karyawan.
2. Keanggotaan Koperasi
Anggota Koperasi sebagai pemilik dan sekaligus pengguna jasa Koperasi.
Keanggotaan Koperasi dicatat dalam buku daftar anggota.
a. Anggota Koperasi Primer adalah setiap warga negara Indonesia
yang mampu melakukan tindakan hukum dan memenuhi persyaratan
sebagaimana ditetapkan dalam Anggaran Dasar.
b. Koperasi dapat memiliki anggota luar biasa, yaitu orang yang ingin
mendapat pelayanan dan menjadi anggota Koperasi, namun tidak
sepenuhnya dapat memenuhi persyaratan anggota sebagaimana
ditetapkan dalam Anggaran Dasar. Namun persyaratan, hak, dan
kewajiban anggota luar biasa ditetapkan juga dalam Anggaran Dasar.
Anggota luar biasa tidak mempunyai hak untuk dipilih maupun memilih
dalam kepengurusan organisasi Koperasi.
c. Keanggotaan Koperasi dapat diperoleh atau diakhiri setelah syarat
sebagaimana diatur dalam Anggaran Dasar dipenuhi.
d. Keanggotaan Koperasi tidak dapat dipindahtangankan. Kecuali
anggota Koperasi meninggal dunia, keanggotaannya dapat diteruskan
oleh ahli waris yang memenuhi syarat dalam Anggaran Dasar. Hal
ini dimaksudkan untuk memelihara kepentingan ahli waris dan
mempermudah proses mereka untuk menjadi anggota.

17

4 REV pembentukan koprasi NEW.indd 17

1/16/2013 9:11:25 AM

anggota Koperasi meninggal dunia, keanggotaannya dapat diteruskan


oleh ahli waris yang memenuhi syarat dalam Anggaran Dasar. Hal ini
dimaksudkan

untuk

memelihara

kepentingan

ahli

waris

dan

mempermudah proses mereka untuk menjadi anggota.


3.

Bagan Organisasi Koperasi


3. Bagan Organisasi Koperasi
Struktur organisasi koperasi disepakati dan dimuat dalam AD/ART, jumlah
Struktur
koperasi
dan dimuat
dalam AD/ART,
dan
jenis organisasi
bidang yang
aada disepakati
dalam koperasi
disesuaikan
denganjumlah
jenis
dan jenis bidang yang aada dalam koperasi disesuaikan dengan jenis
koperasi dan kebutuhan dalam pengembangan usaha. Contoh bagan
koperasi dan kebutuhan dalam pengembangan usaha. Contoh bagan
organisasi Koperasi yang telah berkembang dapat digambarkan berikut
organisasi Koperasi yang telah berkembang dapat digambarkan berikut ini.
ini.
Rapat Anggota
Pengurus

Penaseha

Pengawas

Manajer
Ka.
Kary

Ka.
Kary

Kary

Ka.
Kary

Kary

Kary

Anggota
Keterangan:
= Garis Komando

= Garis Koordinasi
4.

Modal dan Surplus Hasil Usaha Koperasi


4. Modal dan Surplus Hasil Usaha Koperasi
Modal Koperasi terdiri dari Setoran Pokok dan Sertifikat Modal Koperasi
Modal Koperasi terdiri dari Setoran Pokok dan Sertifikat Modal Koperasi
sebagai modal awal. Selain itu modal koperasi dapat dapat berasal dari:
sebagai modal awal. Selain itu modal koperasi dapat dapat berasal dari:
a. Hibah;
a. Hibah;
b.b. Modal
ModalPenyertaan;
Penyertaan;
c.c. Modal
Modalpinjaman
pinjamanyang
yangberasal
berasaldari:
dari:
1) Anggota;

2) Koperasi lainnya dan/atau Anggotanya;


Pembentukan Koperasi Tani
3) bank dan lembaga keuangan lainnya;

4) penerbitan obligasi dan surat hutang lainnya; dan/atau

19

5) Pemerintah dan Pemerintah Daerah.

18

4 REV pembentukan koprasi NEW.indd 18

1/16/2013 9:11:25 AM

d. Sumber lain yang sah yang tidak bertentangan dengan Anggaran


Dasar dan/atau ketentuanperaturan perundang-undangan.

Selisih Hasil Usaha adalah Surplus Hasil Usaha yang diperoleh dari hasil
usaha atau pendapatan Koperasi dalam satu tahun buku setelah dikurangi
dengan pengeluaran atas berbagai beban usaha. Surplus Hasil Usaha
disisihkan terlebih dahulu untuk Dana Cadangan dan sisanya digunakan
seluruhnya atau sebagian untuk:
a. Anggota sebanding dengan transaksi usaha yang dilakukan oleh
masing-masing Anggota dengan Koperasi;
b. Anggota sebanding dengan Sertifikat Modal Koperasi yang dimiliki;
c. pembayaran bonus kepada Pengawas, Pengurus, dan karyawan
Koperasi;
d. pembayaran kewajiban kepada dana pembangunan Koperasi dan
kewajiban lainnya;
e. penggunaan lain yang ditetapkan dalam Anggaran Dasar.

19

4 REV pembentukan koprasi NEW.indd 19

1/16/2013 9:11:25 AM

BAB IV

PENUTUP
Pengembangan

kelembagaan

ekonomi

petani

merupakan

upaya

untuk

meningkatkan kapasitas kelembagaan petani agar sejajar dengan kelembagaan


ekonomi lainnya dalam melaksanakan agribisnis dan agroindustri di perdesaan
melalui perbaikan manajerial usahatani berskala ekonomi, pengembangan dan
diversifikasi usaha yang dibangun dalam satu kelembagaan usaha formal.
Koperasi merupakan alternatif kelembagaan ekonomi petani yang mempunyai
peran sangat strategis dalam mendukung pengembangan agribisnis di perdesaan
sebagai upaya untuk meningkatkan pendapatan petani sekaligus mengurangi
pengangguran.
Untuk meningkatkan peran koperasi sebagai roda penggerak perekonomian di
perdesaan, maka perlu dibangun kembali citra koperasi yang positif dan progresif di
masyarakat tani sehingga keberadaannya dapat mencerminkan sebagai lembaga
ekonomi milik petani.
Program Pemberdayaan masyarakat tani sebagai program terobosan Kementerian
Pertanian perlu disinergikan dengan program pengembangan koperasi yang
sedang digalakkan oleh Dekopin dan Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil
Menengah. Penerbitan Nota Kesepakatan antara Kementerian Pertanian dan
Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah tentang Pembinaan dan
Fasilitasi Gabungan Kelompoktani (Gapoktan) membentuk koperasi pertanian,
menjadi landasan bagi para penyuluh dan petugas teknis di lapangan dalam
mengembangkan koperasi tani yang mandiri dan profesional.

20

4 REV pembentukan koprasi NEW.indd 20

1/16/2013 9:11:26 AM

LAMPIRAN

21

4 REV pembentukan koprasi NEW.indd 21

1/16/2013 9:11:26 AM

NOTA KESEPAKATAN BERSAMA


ANTARA
KEMENTERIAN PERTANIAN
DAN
KEMENTERIAN KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH
TENTANG
PEMBINAAN DAN FASILITAS GABUNGAN KELOMPOK TANI (GAPOKTAN)
MEMBENTUK KOPERASI PERTANIAN

NOMOR : 01/MENTAN/MOU/OT.220/1/2011
NOMOR : 01/NKB/M.KUKM/I/2011

Pada hari ini Jumat tanggal empat belas bulan Januari, tahun dua ribu sebelas,
bertempat di Surabaya, yang bertanda tangan di bawah ini:
1. Dr. Ir. Suswono, MMA., Menteri Pertanian Republik Indonesia, dalam hal ini
bertindak untuk dan atas nama Kementerian Pertanian Republik Indonesia, yang
diangkat berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 84/P Tahun
2009, yang berkedudukan di Jalan Harsono RM No. 3, Ragunan, Pasar Minggu,
Jakarta Selatan 12550, selanjutnya disebut PIHAK PERTAMA;
2. Dr. Sjarifuddin Hasan, MM., MBA., Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan
Menengah Republik Indonesia, yang diangkat berdasarkan Keputusan Presiden
Republik Indonesia, yang diangkat berdasarkan Keputusan Presiden Republik
Indonesia Nomor 84/P Tahun 2009 yang berkedudukan di Jalan H.R. Rasuna Said
Kav. 3-4, Kuningan, Jakarta Selatan 12940, selanjutnya disebut PIHAK KEDUA.
PIHAK PERTAMA dan PIHAK KEDUA untuk selanjutnya secara bersama-sama
disebut PARA PHIAK.

22

4 REV pembentukan koprasi NEW.indd 22

1/16/2013 9:11:26 AM

PARA PIHAK terlebih dahulu menerangkan:


a. Bahwa Kementerian Pertanian merupakan instansi pemerintah yang bertanggung
jawab menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pertanian, termasuk di
dalamnya bertanggung jawab dalam pengembangan sistem pemberdayaan petani,
kelembagaan petani dan usaha tani yang berdaya saing.
b. Bahwa Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah merupakan instansi
pemerintah yang bertanggung jawab menyelenggarakan urusan pemerintahan
di bidang koperasi dan usaha kecil dan menengah termasuk di dalamnya
bertanggung jawab dalam mengembangkan sinergi dan peran serta masyarakat
dalam pemberdayaan Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah.
c. Bahwa salah satu upaya pengembangan sistem pemberdayaan petani,
kelembagaan petani dan usaha tani yang berdaya saing yang dilakukan oleh
Kementerian Pertanian adalah melalui kebijakan pengembangan GAPOKTAN
yang diarahkan sebagai sebuah kelembagaan ekonomi di pedesaan yang dapat
meningkatkan kekuatan, status dan daya tawar petani dalam melakukan interaksi
sosial dengan pihak lain khususnya di bidang ekonomi.
d. Bahwa Koperasi merupakan institusi (lembaga) yang tumbuh atas dasar solidaritas
dan kerjasama antar individu yang sesuai dengan budaya masyarakat Indonesia
sehingga pengembangan GAPOKTAN sebagai sebuah kelembagaan ekonomi di
perdesaan diarahkan dengan membentuk koperasi pertanian.
e. Bahwa fasilitas gapoktan membentuk koperasi pertanian merupakan tanggung
jawab bersama Kementerian Pertanian dan Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil
dan Menengah.

Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, PARA PIHAK, sepakat untuk mengadakan


kesepakatan bersama dalam rangka pembinaan dan fasilitasi GAPOKTAN membentuk
koperasi pertanian dengan ketentuan sebagai berikut:

BAB I
MAKSUD DAN TUJUAN
Pasal 1
1) Maksud kesepakatan ini adalah untuk menetapkan upaya dan langkah-langkah
yang diperlukan dalam rangka pembinaan dan fasilitasi GAPOKTAN membentuk
koperasi pertanian sesuai dengan tugas dan kewenangan PARA PIHAK.

23

4 REV pembentukan koprasi NEW.indd 23

1/16/2013 9:11:26 AM

2) Tujuan kesepakatan ini adalaha pembinaan dan fasilitasi gapoktan yang mempunyai
sebuah lembaga koperasi pertanian yang dapat meningkatkan kekuatan, status dan
daya tawar petani dalam melakukan interaksi sosial dengan petani lain khususnya
dalam bidang ekonomi.

BAB II
RUANG LINGKUP
Pasal 2
Ruang lingkup kesepakatan ini mencakup kerja sama di bidang pembinaan, pelatihan,
sosialisasi, penyuluhan, pedampingan, fasilitasi dan perkuatan GAPOKTAN dalam
membentuk koperasi pertanian yang berkualitas dan mampu meningkatkan produktivitas
anggotanya.

BAB III
TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB
Pasal 3
(1) PIHAK PERTAMA, mempunyai tugas dan tanggung jawab:
a. Memfasilitasi pelatihan, pembinaan dan pendampingan serta penyuluhan
GAPOKTAN.
b. Memfasilitasi akses pendanaan dan prasarana serta sarana GAPOKTAN.
c. Melakukan inventarisasi dan pendataan terhadap gapoktan yang memiliki
kemampuan manajerial dan kewirausahaan untuk ditingkatkan kelembagaannya
menjadi koperasi pertanian.
d. Melakukan pembinaan teknis pengembangan agribisnis secara berkelanjutan.

(2) PIHAK KEDUA mempunyai tugas dan tanggung jawab:


a. Melakukan penyuluhan perkoperasian kepada anggota GAPOKTAN.
b. Memfasilitasi GAPOKTAN dalam proses pengesahan sebagai badan hukum
koperasi pertanian.
c. Meningkatkan kemampuan pengurus, pengawas dan pengelola koperasi melalui
pelatihan perkoperasian.

24

4 REV pembentukan koprasi NEW.indd 24

1/16/2013 9:11:26 AM

d. Meningkatkan fasilitasi dan perkuatan permodalan dalam pengembangan usaha


koperasi pertanian.
e. Meningkatkan fasilitasi dan perkuatan kemitraan usaha dalam pengembangan
usaha koperasi pertanian.

BAB IV
PELAKSANAAN
Pasal 4
Pelaksanaan Nota Kesepakatan ini memperhatikan peraturan perundang-undangan
dan kebijakan terkait serta diselenggarakan oleh pimpinan unit Kerja Eselon I yang
membidangi pelatihan, pembinaan dan pendampingan, penyuluhan GAPOKTAN, dan
pembinaan serta pengembangan koperasi di Lingkungan Kementerian Pertanian dan
Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah.

BAB V
JANGKA WAKTU
Pasal 5
(1) Nota Kesepakatan ini berlaku untuk jangka waktu 4 (empat) tahun terhitung sejak
tanggal ditandatanganinya dan dapat diperpanjang dan diperbaharui sesuai
kesepakatan PARA PIHAK.
(2) Salah satu pihak dapat mengakhiri Nota Kesepakatan ini dengan terlebih dahulu
mengajukan pemberitahuan secara tertulis kepada pihak lainnya selambatlambatnya 30 (tiga puluh) hari kalender sebeluk waktu pengakhiran yang
dikehendaki.

BAB VI
PEMBIAYAAN
Pasal 6
Pembiayaan yang timbul sebagai akibat pelaksanaan Nota Kesepakatan ini dibebankan
kepada anggaran PARA PIHAK sesuai dengan tugas dan tanggung jawab masingmasing serta dukungan sumber pembiayaan lain yang tidak mengikat.

25

4 REV pembentukan koprasi NEW.indd 25

1/16/2013 9:11:26 AM

BAB VII
PERUBAHAN
Pasal 7
Perubahan dan/atau hal-hal lain yang belum diatur dalam Nota Kesepakatan ini akan
diatur lebih lanjut dalam bentuk addendum atau amandemen yang disepakati PARA
PIHAK serta merupakan bagian yang tak terpisahkan dari Nota Kesepakatan ini.

BAB VIII
PERUBAHAN
Pasal 8
Nota Kesepakatan ini dibuat dan ditandatangani pada hari, tanggal, bulan, dan tahun
tersebut diatas, dibuat rangkap 2 (dua) masing-masing mempunyai kekuatan hukum
yang sama dan berlaku sejak ditandatangani.

PIHAK PERTAMA,

PIHAK KEDUA,

Dr. Ir. Suswono, MMA.

Dr. Sjarifuddin Hasan, MM., MBA

26

4 REV pembentukan koprasi NEW.indd 26

1/16/2013 9:11:26 AM

CATATAN

...................................................................................................................................
...................................................................................................................................
...................................................................................................................................
...................................................................................................................................
...................................................................................................................................
...................................................................................................................................
...................................................................................................................................
...................................................................................................................................
...................................................................................................................................
...................................................................................................................................
...................................................................................................................................
...................................................................................................................................
...................................................................................................................................
...................................................................................................................................
...................................................................................................................................
...................................................................................................................................
...................................................................................................................................
...................................................................................................................................
...................................................................................................................................
...................................................................................................................................
...................................................................................................................................
...................................................................................................................................
...................................................................................................................................
...................................................................................................................................
...................................................................................................................................
...................................................................................................................................
...................................................................................................................................
...................................................................................................................................
...................................................................................................................................

27

4 REV pembentukan koprasi NEW.indd 27

1/16/2013 9:11:27 AM

CATATAN

...................................................................................................................................
...................................................................................................................................
...................................................................................................................................
...................................................................................................................................
...................................................................................................................................
...................................................................................................................................
...................................................................................................................................
...................................................................................................................................
...................................................................................................................................
...................................................................................................................................
...................................................................................................................................
...................................................................................................................................
...................................................................................................................................
...................................................................................................................................
...................................................................................................................................
...................................................................................................................................
...................................................................................................................................
...................................................................................................................................
...................................................................................................................................
...................................................................................................................................
...................................................................................................................................
...................................................................................................................................
...................................................................................................................................
...................................................................................................................................
...................................................................................................................................
...................................................................................................................................
...................................................................................................................................
...................................................................................................................................
...................................................................................................................................

28

4 REV pembentukan koprasi NEW.indd 28

1/16/2013 9:11:27 AM