Anda di halaman 1dari 31

FINANCIAL SHENANIGANS

A. Pengertian
Financial Shenanigans merupakan tindakan yang sengaja dilakukan oleh
manajemen untuk mendistorsi atau menyembunyikan atau mengubah kinerja atau
kondisi finansial yang asli pada suatu entitas.

Tipe perusahaan yang paling mungkin melakukan Shenanigans adalah:


1.

Perusahaan dengan lingkungan pengendalian yang lemah

a.

Tidak ada anggota independen

Dalam hal ini misalkan dewan komisaris independen yang akan berpihak kepada
kepentingan masyarakat (jika perusahaan publik).
b.

Kurangnya kompeten / independen auditor

c.

Fungsi audit internal yang tidak memadai

2.

Manajemen yang menghadapi tekanan kompetitif ekstrim

3.

Newly-public companies

4.

Privately held companies

Untuk mendeteksi terjadinya Shenanigans dapat menggunakan petunjuk sebagai


berikut :

1.

Manajemen yang tidak jujur

2.

Kontrol atau pengendalian lingkungan yang tidak memadai

3.

Perubahan auditor, konsultan hukum di luar, atau CFO

4.

Mengubah prinsip akuntansi

5.

Large deficit of CFFO relative to net income

6.

Adanya perbedaan yang besar antara penjualan dan piutang

7.

Adanya perbedaan yang besar antara penjualan dan persediaan

8.

Besarnya kenaikan atau penurunan gross margin

9.

Mencatat pendapatan when risks remain dengan penjual

10. Adanya komitmen dan kontinjensi

B. Teknik Financial Shenanigans

Berikut ini adalah tujuh kategori teknik financial shenanigans yang biasa
digunakan:
1. Mencatat pendapatan terlalu dini, misalnya:
a. Mencatat pendapatan padahal masih banyak aktivitas layanan yang belum
dilakukan
b.

Mencatat pendapatan dari item yang belum dikirimkan

c.

Mencatat pendapatan dari item yang belum diterima klien

d.

Mencatat penjualan yang dilakukan dengan afiliasi

e.

Mencatat pendapatan

2. Megakui pendapatan fiktif, misalnya:


a.

Mencatat penjualan tanpa alasan

b.

Mengklasifikasikan hasil dari investasi sebagai pendapatan

c. Mencatat kas yang diperoleh dari transaksi pinjam meminjam sebagai


pendapatan
d.

Mencatat diskon dari supplier sebagai pendapatan

3. Menciptakan transaksi khusus untuk memperoleh gain, misalnya:


a.

Menjual aset yang undervalue untuk meraih laba

b. Menjual investasi dan memperoleh gain, kemudian mencatatnya sebagai


pendapatan
c.

mengklasifikasi ulang sejumlah akun di neraca untuk menciptakan pendapatan

4. Tidak mencatat ataupun mengurangi utang secara tepat, misalnya:


a.

tidak memasukkan beban dan utang yang terkait

b.

memodifikasi asumsi demi menurunkan utang

c.

tidak mencatat unearned revenue

5. Mengalihkan beban saat ini ke periode lampau ataupun masa depan, misalnya:
a.

mereklasifikasi capitalized cost menjadi beban operasi

b.

meningkatkan umur aset untuk mengurangi beban amortisasi

c.

mengurangi asset reserve

d.

tidak mencatat aset yang nilainya sudah jatuh (impaired)

e. mengubah praktik akuntansi untuk mengalihkan beban saat ini ke periode


sebelumnya..
f.

mengubah asumsi akuntansi untuk menurunkan utang yang terlapor

g.

tidak mencatat unearned revenue

6. Menahan pendapatan saat ini untuk periode masa depan, misalnya


a.

meningkatnya allowance terhadap kredit macet

b.

meningkatnya garansi dan retur

7.Mengalihkan beban yang akan datang ke periode sekarang, misalnya:


a.

menggelembungkan one time charge

b.

meningkatkan beban untuk R&D, iklan, dan sebagainya

c. mengakui beban yang akan memberikan manfaat ekonomis bagi perusahaan,


seperti R&D, iklan dan sebagainya.

C. Teknik Financial Shenanigans yang Paling Berbahaya

Pada dasarnya, secara garis besar terdapat dua strategi utama dalam melakukan
financial shenanigans, yakni menggelembungkan pendapatan, serta menyusutkan
pendapatan. Menggelembungkan pendapatan dianggap punya dampak yang lebih
serius, karena tidak merefleksikan kinerja perusahaan yang sebenarnya, atau
seolah-olah lebih baik. Sementara, menyusutkan pendapatan tidak bermasalah,
karena itu merupakan salah satu bentuk dari earnings management.
Atas dasar pertimbangan tersebut dan berdasarkan tujuh jenis financial
shenanigans diatas maka kelompok dapat mengatakan teknik yang paling
berbahaya adalah pengakuan pendapatan fiktif. Karena dengan demikian seolaholah kinerja perusahaan terkait adalah baik dan investor akan terkelabuhi oleh hal
tersebut, baik yang dimaksud seolah-olah perusahaan menpunyai pendapatan yang

besar padahal tidak, jika hal ini berlanjut maka bisa dikatakan tujuan perusahaan
untuk Going Concern tak akan terpenuhi. Memang pada dasarnya pergeseran
pengakuan pendapatan (mengakui lebih awal, menahan, mengakui lebih cepat)
juga berbahaya namun pada poin ini kelompok menilai bagaimanapun pendapatan
itu tetap terjadi hanya beda waktu pengakuan dan tidak ada pengurangan
pendapatan, walaupun memang hal ini mengindikasikan keburukan manajemen
(Ingat kasus Xerox pada laporan keuangan 1997-2000 menggeser waktu pengakuan
pendapatan yang berakibat pada penurunan harga sahamnya). Pada intinya adalah
perusahaan mengakui apa yang memang menjadi haknya sementara dalam
pengakuan pendapatan fiktif perusahaan mengakui yang bukan menjadi haknya
bahkan mengelompokkan beberapa akun yang salah, misalnya Mencatat kas yang
diperoleh dari transaksi pinjam meminjam sebagai pendapatan. Ketika suatu
perusahaan melakukan hal ini maka seolah-olah rasio Debt to Equity Ratio (DER)
perusahaan adalah baik yang artinya kreditur akan terkecoh akan keputusan
investasinya.
Berikut ilustrasinya :

DER PT Mundur Maju 1.23 kali, kondisi ini terjadi ketika perusahaan mengakui
utang sebagai pendapatan. Padahal seharusnya DER perusahaan 0.90 kali. Artinya
ketika investor melihat hasil yang pertama dengan DER 1.23 kali ada kemungkinan
investor akan melakukan investasi ke PT Mundur Maju tersebut karena setiap 1
satuan utang akan dijaminkan dengan 1.23 satuan aktiva walau memang rasio
yang baik menurut beberapa penelitian adalah 1:2. Jika investor mengetahui hasil
sebenarnya dengan DER 0.90 kali kemungkinan investor untuk melakukan investasi
kecil, jika pun ada pastinya dengan tingkat pengembalian yang cukup besar karena
memiliki risiko yang besar.

Sama halnya dengan perbedaan pengakuan pendapatan, perbedaan waktu


pengakuan beban juga kelompok anggap tidak terlalu berbahaya, karena biasanya
beberapa perushaan juga sampai sekarang menggunakan teknik-teknik ini untuk
pengakuan bebannya, misalkan melakukan iklan besar-besaran di akhir tahun demi
mengecilkan pendapatan tahun ini yang berujung pada penurunan laba dan pajak
yang kecil. Bagaimanapu juga nantinya beban tersebut akan diakui oleh perusahaan
yang menjadi pembeda adalah waktu pengakuan.
Demikian adalah beberapa teknik financial shenanigans yang umum dipraktekkan
oleh perusahaan. Analis maupun investor perlu lebih jeli dalam memperhatikan
kemungkinan dijalankannya praktek-praktek seperti ini.

Manipulasi Laporan Keuangan Accounting Shenanigans


Posted on November 11, 2015by bangliman
Artikel ini merupakan kelanjutan dari artikel sebelumnya mengenai Financial
Reporting & Analysis Long Term Liabilities.
Financial Shenanigans adalah suatu tindakan yang di lakukan dengan tujuan
untuk menyembunyikan atau mendistorsikan keadaan keuangan suatu perusahaan.
Accounting dengan sistem accrual basis sangat rentan manipulasi karena terdapat
banyak judgment dan estimasi di dalam pelaporannya. Misalnya usia depresiasi
suatu asset, perbedaan penentuan useful life suatu asset akan menyebabkan biaya
depresiasi yang berbeda-beda pada perusahaan di industri yang sama.
Motivasi perusahaan melakukan over stated earning di antaranya adalah untuk
meet ekspektasi analyst supaya perusahaannya tetap mendapatkan predikat yang
bagus di mata investor, atau misalnya memenuhi debt covenants, atau untuk
meningkatkan incentive kompensasi bagi manajemen dari shareholders (bahwa
mereka kerjanya bagus).
Sementara motivasi perusahaan dengan under stated earning di
antaranya misalnya untuk mendapatkan bantuan atau insentif fiskal dari
pemerintah pada industry tertentu, atau untuk negosiasi dengan misalnya serikat
pekerja, dan lain sebagainya.
Manipulasi pada balance sheet memiliki tujuan:

Overstate atau understate pada liabilities: yaitu untuk mempercantik


leverage ratios dan liquidity ratios.

Understate assets:

Meningkatkan rasio ROA atau asset turnover.

Mencatatkan goodwill yang lebih besar pada saat akuisisi.

Untuk negosiasi dengan karyawan.

Cash flow lebih sulit untuk di manipulasi karena merupakan laporan real cash flow
keluar dan masuk pada perusahaan. Tetapi tetap saja cash flow statement bisa di
manipulasi, terutama Cash Flow from Operation (CFO). CFO yang sustainable adalah
penting bagi perusahaan sehingga beberapa perusahaan berusaha memanipulasi

CFO untuk mendapatkan outlook yang positive dari investor. Manipulasi dapat di
lakukan dengan cara misalnya:

Mempermainkan klasifikasi cash flow: kadangkala CFO di kategorikan


sebagai CFF karena menurut standard akuntansi IFRS itu memang di
perbolehkan.

Mempermainkan timing cash flow: misalnya seharusnya CFO pada Q4 2015


adalah minus, tetapi di postpone ke periode berikutnya.

Metode yang dapat di lakukan untuk manipulasi income di antaranya:


Menunda pembayaran hutang

Jadi perusahaan memilih salah satu atau beberapa dari hutangnya atau
semua dari hutangnya, di catat bukan sebagai hutang pada periode ini tetapi
sebagai hutang pada periode berikutnya. Contoh: perusahaan harus
membayar hutang pada Q4 2015, tetapi di delay hutang tersebut baru di
bayar pada Q1 2016, dengan demikian maka Cash Flow from Operation (CFO)
pada Q4 2015 akan terlihat lebih banyak karena tidak ada pembayaran
hutang, sehingga pada laporan keuangan tahun 2015 atau specifically Q4
2015 akan terlihat lebih bagus.

Terdapat 2 alasan kenapa perusahaan menunda pembayaran hutang, yaitu:

Perusahaan memang dalam keadaan kesulitan keuangan.

Prudent cash flow management: manajemen sebenarnya sanggup


membayar hutang tetapi ingin hold cash tersebut lebih lama dengan
tujuan untuk mendapatkan bunga dari cash yang seharusnya mereka
pakai untuk bayar hutang, jadi manajemen yang seperti ini adalah
manajemen yang tidak prudent.

Teknik ini tidak sustain karena:

Perusahaan tidak bisa menunda hutang selama-lamanya, suatu saat


pasti harus di bayar, dan bentuk asli keadaan keuangan perusahaan
akan ketahuan.

Supplier akan memperketat credit term apabila perusahaan sering


menunda pembayaran.

Dengan mempelajari days sales payable akan dapat di ketahui apakah


perusahaan menunda pembayaran hutang. Yaitu day says payable = 365 /
COGS / Account Payable, apabile nilai days sales payable naik, maka
kemungkinan perusahaan tersebut stretching payable nya.

Membayar hutang dengan hutang

Perusahaan melakukan transaksi financing (berhutang) untuk


membayar account payable (A/P adalah bagian dari operating expense dan
akan masuk kategori CFO).

Skenarionya yaitu:

misalnya PT. ABC memiliki account payable = $2 juta yang harus di


bayar kepada suppliers (apabila PT. ABC membayarkan hutang ini,
maka CFO akan berkurang).

Daripada membayar $2 juta dari internal cash perusahaan, PT. ABC


datang ke bank BCD dan pinjem duit $2 juta untuk bayar suppliers.
Bank BCD setuju, dana cair, bayar ke supplier dan supplier happy.

PT. ABC kemudian convert account payable senilai $2 juta


tersebut menjadi notes payable = $2 juta. Sehingga dari sisi cash
flow statement tidak terjadi perubahan apa-apa, padahal sebenarnya
seharusnya PT. ABC membayar $2 juta kepada supplier dan
mengurangi CFO pada periode tersebut.

Di kemudian hari, pada saat PT. ABC membayarkan hutangnya kepada


bank, pembayaran tersebut atau cash out flow tersebut di catat dan di
kategorikan sebagai Cash Flow from Financing (CFF) instead of CFO,
sehingga CFO perusahaan terjaga terlihat bagus (karena misklasifikasi
yang di sengaja oleh perusahaan).

Menjual Surat Berharga (Account Receivable)

Yaitu perusahaan menjual piutangnya kepada perusahaan lain yang biasanya


di sebut SPE (Special Purpose Entity) atau di sebut juga VIE (Variable Interest
Entity), SPE atau VIE ini yang nantinya merupakan perusahaan yang akan
menerima cash pembayaran dari piutang tersebut.

Skenarionya yaitu:

Misalnya PT. ABC memiliki 3 piutang, sebut saja AR1, AR2, dan AR3.
PT. ABC mengemas ke tiga account receivable tersebut dan di jual
kepada perusahaan lain sebut saja PT. DEF. Jadi PT. DEF membeli surat
berharga paket piutang tersebut dan memberikan cash kepada PT.
ABC, dan sebagai gantinya PT. DEF menerima surat berharga atau
sekuritas atas AR1, AR2, dan AR3.

Kemudian, yang terjadi adalah secara otomatis account receivable di


PT. ABC akan berkurang.

Penjualan PT. ABC akan naik, dan CFO akan terlihat melonjak karena
menerima cash dari penjualan surat berharga kepada PT. DEF. Padahal
sebenarnya tanpa menjual A/R tersebut, piutang tersebut pasti akan di
bayar juga oleh customer kepada PT. ABC.

Skenario ini juga tidak bisa sustain karena perusahaan tidak selalu memiliki
account receivable.

Jadi, simple nya metode ini adalah perusahaan meminjam uang dari SPE atau
VIE dengan A/R sebagai collateral. Ke depan nya, apabila perusahaan ini
bangkrut, A/R tersebut akan menjadi milik si SPE.

Melakukan Stock Buy Back Untuk Dilusi Earning

Perusahaan di perbolehkan untuk menerbitkan stock option untuk


karyawannya. Ketika karyawan exercise stock option tersebut, jumlah lembar
saham di market (outstanding shares) akan bertambah, dan secara otomatis
akan mendilusi earning. Perusahaan dapat buy back stock option tersebut
untuk mengurangi dilusi.

Sedikit pengulangan, ketika perusahaan menerbitkan stock option kepada


karyawan, misalnya strike price dari harga saham perusahaan per lembar
adalah = $10. Lalu ketika market price sudah naik menjadi = $15, dan
kebetulan si karyawan ini sedang butuh duit, dia boleh exercise stock option
tersebut. Yang terjadi pada saat karyawan exercise stock option tersebut
adalah, karyawan ini berhak membeli saham perusahaan di harga $10, jadi
dia bayar kepada perusahaan $10, lalu kemudian dia jual di market di harga
$15, sehingga dia untung $5. Pada saat dia exercise, dia membeli di harga
$10 (bayar uang kepada perusahaan $10), dia memegang saham, maka
jumlah saham beredar di market akan bertambah, sehingga EPS perusahaan
akan terdilusi. Lebih detail mengenai stock option silahkan buka
halaman Derivative Options.

Contohnya:

Perusahaan melakukan buy back stock option (cash out flow) =


$24,000.

Karyawan membayar kepada perusahaan saat exercise stock option


(cash in flow bagi perusahaan) = $20,000.

Maka, net cash outflow dari transaksi exercise stock option + buy back
tersebut adalah = -$4,000.

Menurut peraturan accounting, -$4,000 di kategorikan sebagai Cash Flow


from Financing karena cash out flow tersebut di gunakan untuk buy back
stock dan di anggap sebagai aktivitas financing.

Bagi analyst, untuk case seperti ini maka -$4,000 tersebut harus di adjust
dan di kategorikan sebagai CFO instead of CFF, karena sebenarnya yang
terjadi adalah -$4,000 cash out flow tersebut di gunakan untuk membayar
kompensasi kepada karyawan. Jadi, apabila ada perusahaan yang melakukan
aktifitas seperti ini, maka CFO nya adalah overstated.

Cash out flow -$4,000 tersebut akan di anggap sebagai expense oleh
perusahaan. Sehingga secara otomatis metode ini akan membantu
perusahaan membayar pajak lebih sedikit.

Concern yang lain apabila perusahaan melakukan stock buy back adalah,
stock buy back akan mengurangi outstanding share di market. Apabila
outstanding shares berkurang, maka EPS akan naik (perusahaan kelihatan
bagus), Price-to-Earning ratio kemungkinan besar akan menjadi lebih kecil
karena faktor EPS nya yang naik (saham terlihat murah), sehingga
biasanya akan menyebabkan harga saham di market menjadi naik.

Beberapa skenario shenanigans yang lainnya seperti:


Mencatat revenue yang premature atau kualitasnya di ragukan, misalnya:

Mencatat revenue padahal sebagian dari jasanya belum di deliver.

Mencatat revenue yang barangnya belum di deliver.

Mencatat revenue yang belum fully accepted oleh klien secara tertulis
melalui berita acara.

Mencatat revenue atas suatu transaksi yang sebenarnya klien tidak memiliki
obligasi untuk membayar.

Mencatat revenue fiktif:

Mencatat revenue atas suatu transaksi yang tidak pernah ada.

Mengklasifikasikan income dari investasi sebagai revenue operasional


perusahaan.

Mencatat revenue atas cash yang di terima dari meminjam uang kepada
perusahaan lain sebagai revenue operasional perusahaan, padahal bukan
perusahaan financing.

Mencatat insentif dari supplier (supplier rebates) sebagai revenue.

Melakukan one-time transaction untuk menciptakan gain:

Menjual undervalued asset sebagai sumber profits.

Menjual investment atau sekuritas untuk di recognize sebagai gain, atau di


gunakan untuk reduce expenses (seperti contoh stock buy back di atas).

Klasifikasi ulang balance sheet untuk menghasilkan income.

Tidak mencatat unearned revenue (customer prepayment) dan di catat


sebagai revenue.

Menunda revenue periode ini untuk di catat di periode berikutnya:


Misalnya menahan untuk mencatat revenue sebelum suatu aksi merger atau
akusisi, supaya setelah M&A revenue terlihat melonjak.
Aggresive accounting policies:

Memperpanjang useful life suatu asset dari yang seharusnya.

Penggunaan metode FIFO ketimbang average cost atau LIFO untuk


pencatatan inventory.

Melakukan accrual loss terhadap contingency (suatu loss yang kemungkinan


terjadi di masa depan tetapi belum pasti).

Amortisasi cost secara pelan-pelan sehingga mengurangi expenses.

Capitalize semua biaya software development dan biaya R&D.

Tidak mencatatkan alokasi dana untuk biaya warranties, retur, provision


untuk doubtful account yang kemungkinan tidak di bayar oleh klien.

Indikasi dan Menemukan Shenanigan


Indikasi praktik manipulasi laporan keuangan dapat di lihat dari tanda-tanda seperti
misalnya:

Perusahaan melakukan perubahan metode akuntansi yang menyebabkan


perubahan angka-angka yang cukup signifikan pada beberapa tahun terakhir.

Perubahan auditor, kemungkinan perusahaan mau macem-macem dan


auditor yang sebelumnya susah untuk di ajak kompromi.

Penambahan footnotes yang tidak wajar banyaknya.

Pada auditors report terdapat catatan:

Qualified opinion dari auditor: qualified opinion artinya auditor


menemukan satu atau beberapa situasi di dalam laporan keuangan
yang tidak comply dengan prinsip akunting.

Tidak ada audit committee, atau audit committee rata-rata masih


terafiliasi sama perusahaan sehingga tidak netral.

Pada bagian footnotes:

Perubahan accounting principles misalnya metode pencatatan


inventory dari sebelumnya FIFO menjadi LIFO, atau
perubahan estimasi misalnya estimasi useful life asset.

Ketidak wajaran di dalam mendeskripsikan policy perusahaan dalam


pencatatan laporan keuangan.

Off balance sheet transaction (operating lease).

Pada bagian Management Discussion & Analysis (MD&A):

Terdapat porsi rencana anggaran yang besar sekali.

Kebutuhan modal kerja yang tidak wajar.

Penurunan likuiditas.

Perusahaan melakukan swap dan barter agreement, misalnya perusahaan


developer properti melakukan transaksi barter dengan kontraktornya.
Misalnya dengan barter 50% unit apartemennya dengan si kontraktor
sebagai ongkos untuk membangun apartemen, kemudian 50% apartemen
tersebut misalnya 200 unit di anggap sudah terjual, padahal perusahaan
tidak menerima cash in flow dari transaksi tersebut, tetapi di income
statement penjualannya terlihat fantastis.

Menelusuri CFO dengan earning, yaitu perubahan pada CFO dengan


perubahan pada net income selama periode tertentu. Wajarnya apabila
earning bertambah, seharusnya cash flow juga positive. Apabila earning
positive tetapi cash flow negative pada suatu periode, maka kemungkinan
perusahaan melakukan manipulasi laporan keuangan.

Menelusuri AR versus revenue, yaitu apabila AR naik dengan fantastis tidak


proporsional dengan kenaikkan sales, ada kemungkinan di lakukan
manipulasi atau pencatatan penjualan yang fiktif.

Mengklasifikasikan non-recurring atau non-operating item sebagai revenue


untuk menutupi penurunan penjualan, misalnya penjualan investasi atau
fixed asset di anggap sebagai revenue.

Perusahaan terlalu banyak melakukan transaksi off balance sheet financing


(operating lease), mungkin dengan tujuan supaya asset tidak
membesar sehingga return on asset terlihat bagus.

Mengklasifikasikan expenses operational sebagai non-recurring expenses.

Perusahaan meng capitalize operating expense menjadi asset, sehingga net


income terlihat lebih bagus.

Perusahaan melakukan LIFO liquidation pada inventory. Yaitu apabila


penjualan pada periode ini lebih besar daripada pembelanjaan inventory
pada periode ini, sehingga stock inventory lama harus di liquidate.
Sedikit pengulangan, LIFO yaitu Last In First Out, artinya pencatatan COGS di
I/S akan menggunakan harga stock yang terakhir kali di beli. Ketika di lakukan
LIFO liquidation, yang terjadi adalah stock lama dengan harga lebih murah
(asumsi inflationary environment) akan tercatat di COGS, sehingga COGS
lebih kecil di match sama revenue saat ini yang lebih tinggi menghasilkan net
income yang lebih besar, namun trade off nya adalah pembayaran pajak
yang lebih tinggi karena EBIT yang lebih tinggi.

Apabila pada quarter terakhir tercatat revenue yang tinggi yang tidak seperti
biasanya, atau expenses yang rendah dan tidak wajar serta tidak terkait
sama season tertentu, maka ada indikasi perusahaan melakukan manipulasi
laporan keuangan.

Beneish Model (M-Score)

Sebuah model matematika di ciptakan untuk menemukan apakah sebuah


perusahaan melakukan manipulasi laporan keuangan atau tidak, yaitu di sebut
dengan Beneish Model atau M-Score. Beneish Model melakukan breakdown financial
statement suatu perusahaan menjadi 8 variabel yaitu:
1. DSRI: Day Sales in Receivable Index.
2. GMI: Gross Margin Index.
3. AQI: Asset Quality Index.
4. SGI: Sales Growth Index.
5. DEPI: Depreciation Index.
6. SGAI: Sales & General Administrative Index.
7. LVGI: Leverage Index.
8. TATA: Total Accrual to Total Assets.
Kemudian dari 8 variable tersebut di kombinasikan dan di hasilkan suatu score di
sebut dengan M-Score. Apabila nilai M-Score di bawah -2.22 maka kemungkinan
perusahaan tersebut prudent, tetapi apabila M-Score lebih besar dari -2.22 maka
kemungkinan perusahaan tersebut melakukan manipulasi pada laporan
keuangannya. Kita tidak perlu cape-cape menghitung M-Score, ada yang
menyediakan excel spreadsheet secara gratis, tinggal kita download dan input
beberapa parameter dari financial statement suatu perusahaan, dan M-Score akan
di dapat. Keyword di Google untuk download spreadsheet tersebut: m score
calculator.
Kembali lagi, secanggih apa pun alat untuk mendeteksi fraud, maling selalu
berusaha lebih kreatif untuk menjebol. Jadi, M-Score pun katanya saat ini sudah
tidak terlalu reliable lagi untuk di jadikan sebagai tool untuk mengukur apakah
sebuah perusahaan melakukan manipulasi atau tidak, karena perusahaan memiliki
banyak cara yang kreatif untuk melakukan manipulasi dan mengelabui formula MScore.

Memahami Financial Shenanigans, Kejahatan Finansial


Posted by ICT Monday, October 26, 2009
(managementfile - Finance) - Financial shenanigans adalah suatu istilah yang
menggambarkan tindakan untuk menyembunyikan atau mengubah kinerja atau
kondisi finansial yang asli pada suatu entitas. Selama beberapa dekade terakhir ini,
kita telah melihat banyak financial shenanigans yang terekspos secara publik.
Mungkin Anda masih ingat skandal Enron dan Worldcom pada tahun 2000-an? Atau
yang termasuk baru yakni kasus Satyam yang terjadi di India? Itu semua adalah
contoh-contoh financial shenanigans yang memang terjadi secara riil.
Pada dasarnya, secara garis besar terdapat dua strategi utama dalam melakukan
financial shenanigans, yakni menggelembungkan pendapatan, serta menyusutkan
pendapatan. Menggelembungkan pendapatan dianggap punya dampak yang lebih
serius, karena tidak merefleksikan kinerja perusahaan yang sebenarnya, atau
seolah-olah lebih baik. Sementara, menyusutkan pendapatan tidak bermasalah,
karena itu merupakan salah satu bentuk dari earnings management.
Howard Schilit merupakan pengarang dibalik buku `Financial Shenanigans` yang
dirilis pada tahun 1993. Saat itu, mata orang belum terlalu terbuka terhadap
masalah ini. Namun, begitu terkuaknya skandal Enron dan perusahaan-perusahaan
AS lainnya, namanya langsung meroket. Apalagi, ia sudah memberikan peringatan
terhadap laporan keuangan Enron sejak tahun 1995, namun tidak terlalu didengar.
Berikut ini adalah tujuh kategori teknik financial shenanigans yang biasa digunakan:
1. Mencatat pendapatan terlalu dini, misalnya:
Mencatat pendapatan padahal masih banyak aktivitas layanan yang belum
dilakukan
Mencatat pendapatan dari item yang belum dikirimkan
Mencatat pendapatan dari item yang belum diterima klien
Mencatat penjualan yang dilakukan dengan afiliasi
Mencatat pendapatan
2. Mencatat pendapatan fiktif, misalnya
Mencatat penjualan tanpa alasa
Mengklasifikasikan hasil dari investasi sebagai pendapatan
Mencatat kas yang diperoleh dari transaksi pinjam meminjam sebagai pendapatan
Mencatat diskon dari supplier sebagai pendapatan
3. Menciptakan transaksi khusus untuk memperoleh gain, misalnya:
Menjual aset yang undervalue untuk meraih laba
Menjual investasi dan memperoleh gain, kemudian mencatatnya sebagai
pendapatan

mengklasifikasi ulang sejumlah akun di neraca untuk menciptakan pendapatan

4. Tidak mencatat ataupun mengurangi utang secara tepat, misalnya:


tidak memasukkan beban dan utang yang terkait
memodifikasi asumsi demi menurunkan utang
tidak mencatat unearned revenue
5. Mengalihkan beban saat ini ke periode lampau ataupun masa depan, misalnya
mereklasifikasi capitalized cost menjadi beban operasi
meningkatkan umur aset untuk mengurangi beban amortisasi
mengurangi asset reserve
tidak mencatat aset yang nilainya sudah jatuh (impaired)
mengubah praktik akuntansi untuk mengalihkan beban saat ini ke periode
sebelumnya..
mengubah asumsi akuntansi untuk menurunkan utang yang terlapor
tidak mencatat unearned revenue
6. menahan pendapatan saat ini untuk periode masa depan, misalnya
meningkkatnya allowance terhadap kredit macet
meningkatnya garansi dan retur
7.Mengalihkan beban yang akan datang ke periode sekarang, misalnya:
menggelembungkan one time charge
meningkatkan beban untuk R&D, iklan, dan sebagainya
mengakui beban yang akan memberikan manfaat ekonomis bagi perusahaan,
seperti R&D, iklan dan sebagainya.
Demikian adalah beberapa teknik financial shenanigans yang umum dipraktekkan
oleh perusahaan. Analis maupun investor perlu lebih jeli dalam memperhatikan
kemungkinan dijalankannya praktek-praktek seperti ini.
sumber: http://managementfile.com

Akunting Kreatif ( Accounting shenanigan )


4 Januari 2013 pukul 1:45
Creative Accounting
Pendahuluan
Seharusnya laporan keuangan menjadi alat informasi yang efektif bagi investor dan
kreditor dalam membuat keputusan penggunaan dana dalam bentuk investasi pada
saham atau Surat utang.
Akan tetapi sangat naf apabila pembaca berpikir bahwa pelapor, yaitu emiten yang
di wakili oleh direktur (CEO), apabila mereka tidak berkepentingan terhadap laporan
keuangan tersebut.
Dalam kasus-kasus besar di America, Selain direktur, akuntan juga turut
berkontribusi daam maniulasi laporan keuangan, seperti terjadi pada kasus Enron.
Jadi manipulasi laporan dapat terjadi dengan kerjasama antara pelapor dan auditor.
Sebenernya beberapa kasus penyelewengan dapat kita temui Indonesia Akan tetapi
dengan rendahnya kasus yang terungkap di Indonesia, sulit untuk memperoleh
contoh yang sangat jelas.
Jenis Jenis Manipulasi Laporan Keuangan yang sering di gunakan.
Manipulasi ini sering di sebut sebagai Creative Accounting atau Financial
Shenanigans.
Bagian ini sengaja di pisahkan dari pembahasan tentang rasio, karena tidak
membahas rasio tertentu yang di kaitkan dengan creative accounting.
Walaupun demikian pemahaman tentang creative accounting tetap penting untuk di
ketahui oleh para pembaca dan analis laporan keuangan.
Alasan Melakukan Manipulasi
Manipulasi dilakukan dengan alasan tertentu yang member insentif kepada
pelakunya. Beberapa alasan melakukan manipulasi keuangan antara lain :
-

Pelaku memperoleh bayaran

Mudah Melakukan Nya

Tidak Akan di tangkap Petugas

Pelaku Memperoleh bayaran


Seperti diketahui bahwa seorang direktur di kontrak oleh pemegang saham
(pemilik) untuk menjalankan bisnis perusahaan. Apabila mereka mencapai sasaran
laba tertentu, maka mereka akan mendapatkan pengakuan dalam beberapa bentuk,
misalnya :

Bonus

Perpanjangan masa jabatan

Stock Option

Dengan demikian mereka jelas berkepentingan terhadap tercapainya sasaran yang


sudah ditetapkan oleh pemillik, yaitu laba.
Pada saat anggaran sudah disetujui, dalam pelaksanaannya dapat saja terjadi
bahwa laba tidak dapat dicapai denganc ara yang normal.
Sementara itu direktur harus diukur kinerjanya pada akhir tahun. Sasaran laba tidak
dapat tercapai bisa disebabkan oleh beberapa alasan, misalnya :
-

Kondisi ekonomi memberuk

Volume industry turun

Ketidakmampuan manajemen dalam bersaing

Dengan menurunnya kinerja manajemen, sedangkan keinginan meningkatkan


kesejahteraan manajemen tetap ada, maka manipulasi adalah jalan singkat untuk
mendapatkan kekayaan. Manipulasi diakukan dengan melihat peluang yang
tersedia pada system akuntansi dan kebijakan.
Peluang yang tersedia antara lain :
-

Penentuan umur asset

Membebankan vs mengapitalisasi

Pengakuan pendapatan

Penentuan beban

Ide dasar manipulasi adalah bagaimana laba yang di laporkan sesuai dengan yang
dikehendaki. Laba yang dikehendaki akan bermuara terhadap bonus atau
mempengaruhi harga saham, pada perusahaan public, Khusus perusaahaan yang
menerapkan ESOP (Employee Stock Option Propgram ), maka kenaian harga saham
akan berpengaruh secaralangsung terhadap kesejahteraan manajemen yang
mempunyai saham atau berhak membeli saham.
Arah manipulasi tidak hanya pada kenaikan laba saja, tetapi bagaimana kenaikan
laba terebut membuat persepsi pasar modal yang posifti dan mendongrak harga
saham. Selanjutnya kenaikan harga saham akan berpengaruh terhadap
kesejahteraan manajemen.
Mudah melakukan nya
Melakukan manipulasi keuangan dapat di lakukan dengan mudah, yaitu dengan
mengubah tingkat estimasi, misalnya umut asset. Suatu asset bernilai Rp 40 Milliar
berumur 20tahun.

Maka penyusutan nya akan sebesar Rp 2 Miliar setahun. Manajemen meninjau asset
tersbeut menjadi berumur 40 tahun, maka penyusutannya turun menjadi Rp 1
Miliar.
Manajemen melaporkan kenaikan kinerja sebesar Rp 1 miliar berupa laba, tanpa
melakukan pekeraaan sesungguhnya, Ditinjau dari laba akuntansi maka laba
meningkat Rp 1 Miliar, dilihat dari arus kas tidak ada kenaikan sama sekali.
Cara lain yang terbua adalah pengakuan pendapatan. Peluang ini menjadi terbuka
pada :
Perusahaan jasa, dimana saat pengakuan memerlukan estimasi, misalnya
dalam membuat faktur penagihan.
Perusahaan perdagangan, dimana jarak terbentang cukup lebar antara
barang di ambil di gudang penjual sampai diterima di gudang pembeli.
-

Perubahan cara pengakuan pendapatan dari konservatif menjadi agresif.

Tidak akan di tangkap petugas.


Pelanggarn di bidang pelaporan keuangan tidak secara langsung terindentifikasi
menjadi peristiwa kejahatan. Apalagi kalau hal tersebut di bungkus dengan
kebijakan manajemen. Ada laporan keuangan perusahaan public yang wajib di
audit, yaitu laporan keuangan tahunan. Sedangkan laporan triwulanan menjadi
laporan yang tidak wajib audit.
Dengan demikian laporan triwulanan menjadi lebih mungkin di garap dalam
manipulasi. Penjualan yang tidak merata antar triwulan menjadi terbuka
kemungkinannya untuk di manipulasi. Memajukan atau memundurkan pendapatan
dalam rangka mencapai pendapatan tertentu untuk dilaporkan adalah peluang yang
besar. Apalagi kalau secara total penjualan nya memang tidak di geser antar
waktu , alias masih pada tahun yang sama. Maka secara total penjualan nya tidak
berubah.
Jadi secara total tidak, tetapi secara triwulanan laporan tersebut menyesatkan.
Menyesatkan di sini harus di artikan bahwa laporan keuangan dapat di jadikan
sandaran sebagai dasar pengambilan keputusan apakah investasi saham atau surat
utang.
Keputusan berdasar informasi tidak akurat menghasilkan misalokasi dana.
Ciri-ciri Pelaku
Sayangnya kejahatan kerah putih tidak dengan mudah di kenali dari cirri fisik
pelakunya. Beberapa cirri pelaku yang dapat di indentifikasi antara adalah.
-

Umur 30+

55% pria, 45% wanita

Dengan penampilan keluarga mapan

Pendidikan di atas rata rata ( master )

Kurang punya catatan criminal

Kesehatan psikologi baik

Pada posisi yang di percaya

Pengetahuan system akuntansi secara detail beserta kelemahannya

Punya pengalaman akuntansi sebelumnya

Pengetahuan akuntansi yang memadai dapat di gunakan untuk memanipulasi


laporan keuangan. Pelaku berlatar belakang akuntansi lebih dahulu bagaimana
melakukan treatment terhadap laporan keuangan dibanding dengan latar
belakang non akuntansi dan keuangan.
Pola Dasar Manipulasi
Dalam memahami manipulasi akan lebih mudah kalau kita mengarahkan
pengaruhnya terhadap :
-

Terutama laba atau

Harga saham

Dalam rangka mencapai laba seperti yang ingin di laporkan, terdapat


peluang untuk bermain (manipulasi).
Laba adalah selisih antara pendapatan dan beban. Dengan demikian maka laba
dapat di tingkatkan dengan :
-

Meningkatkan pendapatan atau

Menurunkan beban

Peningkatan pendapatan dan penurunan beban dapat dilakukan secara terpisah


atau bersama-sama sekaligus.
-------- Gb A-1.1 : Pola Manipulasi
Menemukan Manipulasi
Menemukan manipulasi laporan keuangan tidak dengan sendirinya di mulai dari
laporan keuangan. Kemungkinan menemukan manipulasi dapat dilakukan dengan
cara memperhatian beberapa item.
Tabel di bawah adalah beberapa catatan penting untuk menemukan manipulasi.
------ Gb A-1.1 : Informasi Manipulasi
7 CARA MANIPULASI LAPORAN KEUANGAN

Manipulasi Laporan Keuangan ( Financial Shenaningans ) , adalah kegiatan yang


secara sengaja mendistorsi laporan keuangan dan kondisi keuangan. Secara
sistematis manipulasi laporan keuangan dapat di bagi menjadi 7 Cara dengan 30
Trik.
1. Mengakui pendapatan terlalu dini
2. Mengakui pendapatan semu
3. Mendongkrak laba dengan gain sekali pukul
4. Menggeser biaya ke periode sebelum atau sesudah nya
5. Gagal mencatat kewajiban
6. Menggeser pendapatan ke periode sebelum nya
7. Menggeser beban masa datang ke periode sekarangan dengan tarif khusus

Pada bagian ini akan di bahas secara garis besar contoh dari trik yang ada.
Mengakui pendapatan terlalu dini
Peluang ini terjadi terutama pada perusahaan jasa, misalnya perusahaan penjual
perangkat lunak computer. Kebiasaan dalam industry perangkat lunak adalah
adanya perjanjian kontrak.
Misalkan perusahaan mempunyai kontrak penjualan selama 6 tahun. Pendapatan
akan di akui selama 6 tahun secara proporsional. Misalnya suatu saat perusahaan
mengalami penurunan penjualan secara signifikan karena kalah bersaing.
Perusahaan kemudian mengubah cara pengakuan pendapatan dari proporsional
selama 6 tahun menjadi 1 tahun. Yang terjadi kemudian adalah penjualan
meningkat, tetapi tidak terjadi peningkatan arus kas. Laba juga meningkat untuk
tahun tersebut. Pertanyaannya adalah sampai kapan perusahaan dapat melakukan
hal tersebut secara terus menerus?. Di tahun tahun berikutnya semakin susah
untuk menarik pendapatan mendatang ke periode sekarang karena :
-

Jumlah yang di tarik berkurang dan

Penjualan memang menurun

Manipulasi jenis ini tidak dapat bertahan lama sepanjang kondisi bisnis
sesungguhnya memang menurun secara sistematis dn permanen.
Kalaupun perusahaan dapat mengelabui pasar sesaat dengan melaporkan
peningkatan laba sehingga harga saham meningkat, maka periode berikutnya sulit
untuk bertahan dengan pola yang sama. Suatu saat akhirnya pasar akan
mengetahui kondisi yang sesungguhnya.
Mengakui Pendapatan Semu

Pendapatan semu terjadi apabila pendapatan yang di akui kurang dukungan dasar
ekonominya. Seperti diketahui bahwa pendapatan (revenue) diakui apabila sudah
terjadi penyerahan barang dan jasa dari penjual kepada pembeli. Transfer dari
penjual ke pembeli haruslah bersifat menyerahkan barang atau jasa dan pembeli
mengetahui dengan sengaja menyerahkan barang atau jasa dan pembeli
mengetahui dengan sebenernya konsekuensi penerimaan barang tersebut beserta
pembayarannya.
Hal yang sulit di endus oleh auditor adalah adanya kontrak tambahan ( side
contract ), di luar kontrak penjualan yang utama. Pada kontrak tambahan tersebut
bisa aja isinya memodifikasi kontrak utama.
Contohnya adalah :
Pada kontrak tambahan disebutkan bahwa pembeli bisa saja mengembalikan
barang kapan saja apabila diperlukan dengan pengembalian penuh.
-

Perjanjian janga waktu kredit yang melebihi 12 bulan

Pendapatan yang bukan utama di akui sebagai pendapatan utama.

Mendongkrak Laba Dengan Gain Sekali Pukul


Apabila di amati, pengukuran profitabilitas seringkali bertumpu pada besarnya laba
bersih. Kondisi ini membuka peluang adanya usaha dari manajemen untuk bermain
pada tingkat laba bersih. Situasi ini jua di mungkinkan akibat pengukuran kinerja
yang memang mengakomodasi hal tersebut.
Beberapa modus operandi yang biasa di lakukan, antara lain :
Menjual asset tetap, misalnya tanah yang dibeli sekian tahun yang lalu,
sehingga memperoleh gain yang besar dengan sekali pukul.
Gain sekali pukul di laporkan sebagai pengurang biaya. Cara ini akan sama
besar pengaruhnya apabila di cantumkan sebagai gain biasa. Akan tetapi efek bagi
pembaca akan lain, karena mungkin pembaca akan melihatnya sebagai perbaikan
efesiensi.
Menggegrser biaya ke periode sebelum atau sesudahnya
Isu yang sering dihadapi manajemen dalam pengeluaran yang besar adalah
pengelompokkan kedalam salah satu criteria dari :
-

Pengeluaran operasional (operational expenditure, opex)

Pengeluaran modal (capital expenditure, capex)

Apabila pengeluaran operasional yang cukup besar terjadi pada tahun tersebut dan
dilaporkan sebagai biaya, maka jelas laba akan turun. ALternatif kedua adalah
manajemen dengan berbagai macam alasan akhirnya bisa membuatnya diklasifikasi
sebagai investasi. Maka efek dari pengeluaran tersebut akan lebih kecil karena di
bebankan sebagai penyusutan.

Akuntansi juga berhubungan dengan masalah estimasi. Perusabahan estimasi umut


suatu asset tetap dengan sendirinya akan membuat laba terlihat lebih besar. Akan
tetapi efek terhadap arus kas akan sama saja, kecual hal tersebut secara langsung
mempengaruhi jumlah pajak yang di bayarkan.
Pada perusahaan dengan persediaan sebagai asset utama di bagian asset lancar,
tersedia peluang untuk melakukan valuasi atas persediaan tersebut. Kasus
semacam ini cocok untuk suatu kondisi dimana :
Secara fisik persediaan masih terlihat ada, walaupun secara fungsi sudah
menurun.
-

Persediaan tersebut sebenarnya memang sudah tidak laku

Persediaan yang memang sudah tidak lakku terjadi pada :


-

Buku yang sudah tidak sesuai tren, atau edisi barunya sudah keluar.

Suku cadang computer yang teknologinya cepat berubah, sementara valuasi


persediaan menggunakan biaya (cost)
Gagal mencatat kewajiban
Kewajiban timbul karena beberapa hal. Kewajiban terhadap kreditur pendanaan
timbul setelah adanya penerimaan dana dari kreditur. Sementara kewajiban di luar
pendanaan, mungkin, timbul karena :
-

Sudah terjadinya biaya, tetapi perusahaan belum mencatatnya

Penerimaan atas pendapatan di muka sebagai pendapatan saat itu

Kasus yang pertama berhubungan dengan kesengajaan perusahaan untuk tidak


mencatatkan biaya yang timbul, tetapi belum dibayar, sebagai utang (akrual). Hal
ini menguntungan pelapor dengan dua hal:
-

Biaya kelihatan lebih kecil

Utang kelihatan lebih kecil

Kasus kedua terjadi pada sisi pendapatan. Perusahaan harusnya menunda


pengakuan pendapatan sampai ada penyerahan barang atau jasa. Apabila
pendapatan di muka dia kui sebagai pendapatan, pelapor di untungkan dengan dua:
-

Pendapatan keliahatan lebih besar

Utang kelihatan lebih kecil

Menggeser pendapatan ke periode sebelumnya


Karena beberapa sebab, sebuah perusahaan pada tahun tersebut memperoleh
pendapatan yang besar. Manajemen memprediksi bahwa target dari laba pada
tahun tersebut sudah akan tercapai. Dari segi kinerja, manejemn sudah merasa
aman. Sementara itu manajemen melihat kemungkinan lain yang belum jelas, yaitu
bagaimana prospek pendapatan tahun depan.

Cara yang bisa di tempuh perusahaan adalah dengan menggeser pendapatan ke


masa yang akan datang. Tindakan ini adalah untuk mengamankan target tahun
berikutnya yang belum bisa diharapkan sebaik tahun sekarang.
Menggeser beban masa datang ke periode sekarang dengan tariff khusus.
Perusahaan bisa saja mengalami masa sulit. Masa sulit bisa berlanjut ke waktu yang
akan datang. Salah satu kesulitan bisa timbul dengan adanya biaya-biaya di periode
yang akan datang. Untuk hal ini manajemen bisa saja menggunakan trik menggeser
biaya ke periode sekarang.
Contoh yang bisa dilakukan adalah
Menghapus asset yang seharusnya masih bai atau bisa di gunakan di
periode sekarang
-

Biaya-biaya diskresioer (discretionary expense) dipercepat pengeluarannya.

Teknik pertama membuat laba di waktu yang akan datang kelihatan lebih tinggi
karena sebagai beban( biaya) yang akan terjadi sudah ditarik ke masa sekarang.
Teknik kedua adalah dengan mempercepat biaya yang penetapannya sangat
tergantung keputusan (discretionary expense).
Ciri khas biaya diskresioner adalah pengeluarannya tidak langsung mempengaruhi
kinerja atau pendapatan. Dengan menariknya ke periode sekarang, maka biaya di
waktu yang akan datang menjadi lebih kecil, dan dengan sendirinya laba akan
membesar.
Kesimpulan
Para manajer dituntut untuk memperoleh laba sesuai yang di targetkan oleh
investor. Dalam pelaksanaannya target tersebut tidak selalu dapat di capai. Kondisi
ekonomi memburuk, dan ketidakmampuan manajemen bersaing di sertai tidak
terhaganya etika para manajer, maka melakukan creative accounting (shenanigan )
menjadi jalan keluar yang mampu mendongkrak kinerja dalam waktu singkat.
Melakukan manipulasi tidak dapat di lakukan secara terus menerus. Cepat atau
lambat pasar akan mengendusnya sehingga informasi yang terungkap akan
mengoreksi harga saham. Dengan terungkapnya informasi tersebut reputasi para
manajer itu sendiri akhirnya juga akan hancur.

Narasumber : Investigasi Laporan Keuangan dan Analisis Rasio Keuangan - Toto


Prihadi - Pengembangan eksekutif

Mengatasi Financial Shenanigans


Tidak ada obat mujarab untuk mengatasi penyakit yang kronis terhadap praktek
earning management yang dijalankan oleh perusahaan karena sifat dasar manusia
yang tidak akan pernah merasa puas terhadap yang dimiliknya.
Namun demikian Howart Schilit, mengatakan bahwa paling tidak masyarakat dapat
mengurangi dampak dari praktek yang tidak sehat ini dengan mnelakukan antara
lain:
Improving auditors ability to audit
Improving training for user of financial report
Improving the control environment within organization
Restructuring managers incentive and governance.
Keempat hal tersebut diatas hanya dapat dilaksakan jika semua pihak seperti
pemerintah, penegak hukum, internal dan independent auditors, dewan komisaris,
audit komite, dan pihak
pihak lainnya yang terkait dapat menjalankan fungsinya secara memadai.

Dari sisi manajemen perusahaan (BOD) perlu memiliki etika dan intergritas yang
baik dalam menjalankan tugasnya.
Posted by ken at 1:32 PM No comments:
Labels: dan Rekayasa Keuangan. Akuntan Indonesia Edisi No. 8: 53 60., Financial
Shenanigans, Ludovicus. 2008. Memahami Lebih Jauh Aspek Earning
Management, Sumber ; Sensi
Tanggung Jawab Manajemen dan Akuntan dalam Mendeteksi Financial
Shenanigans
Sudah sejak lama peran dan profesi akuntan menjadi sasaran kritik masyarakat
pada umumnya dan dunia usaha pada khususnya. Keprihatinan tersebut memuncak
pada masa masa sulit dimana semua telinga akan tertutup bagi para independen
auditor (prakarsa,1996)
Keruntuhan perusahaan perusahaan terkemuka didunia benar-benar
menempatkan kepercayaan public pada laporan keuangan dan profesi akuntan
public semakin memudar (Enron, Adelphia, Dinergy, Global Crossing, Tyco
Internatioanl, Xerox, Pharmalat, dan terakhir kasus Tax Sheltering yang menimpa
KPMG) sehingga mendorong para pihak seperti regulator, investor, creditor dan
pihak yang berkepentingan lainnya menjadi prihatin dengan profesi ini.
Dalam kondisi yang sangat tidak menentu ini, potensi resiko yang dihadapi KAP
menjadi semakin tinggi yang tidak sebanding dengan professional fee yang
diperoleh oleh KAP itu sendiri.
Earning management yang bersifat abusive dapat dikatagorikan merupakan
tindakan kecurangan dan dapar diklasifikasikan sebagai tindak pidana, yang
berakibat akan di kenakan sanksi pidana.
Manajemen perusahaan yang melakukan kecurangan dalam menyusun laporan
keuangan perushaan akan dikenakan sanksi pidana ex pasal 263 KUHP(penipuan)
Selanjutnya, perusahaan yang melakukan kecurangan dalam penyusunan laporan
keuangan perusahaan dan menerima class action dari independent auditor (misal,
wajar tanpa pengecualian, wajar dengan empasis paragrafhdsb) dapat dikenakan
sanksi pidana ex pasal 263 KUHP ayat (2) KUHP(memakai surat palsu dalam
melakukan pemeriksaan), pasal 55 (melakukan atau menyuruh melakukan atau
turut serta melakukan perbuatan), Pasal 56 dan 57 KUHP(membantu kejahatan).
Dasar pandangan universal menyatakan bahwa manajemen perusahaan yang
mempunyai tanggung jawab utama untuk:
Menyajikan Laporan Keuangan secara benar, sesuai dengan standar akuntansi
keuangan yang diterapkan secara taat asas;
Memberikan keterangan yang benar kepada auditor (dilarang melakukan

misrepresentasi);
Menciptakan lingkungan pengendalian internal yang handal untuk mengurangi
terjadinya kecurangan dan memberikan peringatan dini apabila kecurangan masih
juga terjadi.
Tanpa landas pemikiran universal mengenai tanggung jawab manajemen
sebagaimana diatas, maka:
Tidak ada satu auditor pun di dunia yang dapat melaksanakan fungsi auditnya.
Tidak ada bursa efek didunia yang dapat berjalan sebagaimana mestinya.
Tidak ada satupun badan pengawas seperti Bapepam, SEC, atau badan
pengawasan lainnya dapat menjalankan pengawasan sebagaimana mestinya.
IAI KAP secara khusus mengeluarkan Pernyaatan standar Audit (PSA) yang secara
khusus mengatur mengenai pertimbangan kecurangan dalam laporan keuangan
dan tindakan larangan hukum yang dilakukan oleh klien, yaitu:
a. SA Seksi 316 PSA no. 70 tentang pertimbangan atas kecurangan dalam adit
laporan keuangan.
b. SA Seksi 317 PSA No. 31 tentang unsur tindakan pelanggaran hukum oleh klien
Kedua PSA itu secara khusus mengatur mengenai langkah langkah yang perlu
ditempuh oleh auditor apabila menemukan adanya indikasi pelanggran hukum, atau
kecurangan yang dilakukan oleh manajemen perusahaan seperti:
Menaksir dampak resiko terhadap laporan keuangan secara keseluruhan
Berkomunikasi dengan tingkat manjemen yang lebih tinggi seperti komisaris atau
komite audit
Berkomunikasi denga penasehat hukum klien atau penasehat hukum auditor
Mempertimbangan untuk mengundurkan diri dari penugasan.
Mengingat hal hal tersebut bersifat sensitif, maka auditor perlu secara hati hati
dalam melaporkan unsur pelanggaran hukum dan kecurangan yang dilakukan oleh
kliennya dan disarankan untuk berkomunikasi dengan konsultan hukum terlebih
dahulu.
Posted by ken at 1:31 PM No comments:
Labels: dan Rekayasa Keuangan. Akuntan Indonesia Edisi No. 8: 53 60., Financial
Shenanigans, Ludovicus. 2008. Memahami Lebih Jauh Aspek Earning
Management, Sumber : Sensi
Earning Managemen Good or Bad ???
Dari hasil survei yang dilaukan E. Mulford dan E Comiskey terhadap para akademisi,
CFO, security analyst, lenders, akuntan public,dan mahasiswa MBA menunjukan
adanya pro dan kontra atas praktek earning management yang dilakukan oleh
perusahaan, hasil survey menunjukan, earning management adalah tindakan yang
dapat merugikan investor dan tindakan abusive earning management yang
dilakukan manjemen ditindak tegas oleh regulator (SEC) .

Ringkasan survai dapat dilihat dari kutipan berikut ini :


Financial professionals are generally in agreement on when earning management
crosses the line between the exercise of the legitimate flexibility inherent in GAAP
and abusive or fraudulent financial reporting. However, a nontrivial subset of
professionals appears to understate the potential seriousness of certain earnings
management action.
Financial professionals agree that earning management is common, that is has
increased over the past decade, and that the SEC campaign against abusive earning
management is necessary.
The major objectives of earning management are to reduce earning volatility.
Support or increase stock price, increase earning based compensation, and meet
consensus earning forecast of analysts.
The major categories of earning management action in order of frequency, are the
timing of expense recognition, big bath and cookie jar reserves, the timing of
revenue recognition, and real action. While not in conflict with GAAP real action still
could be used to produce misleading result.
Trend analysis (analytical review), analysis of high-likelihood condition and
circumstances, footnote review, days statistic, and the proximity of actual to
estimated result are the most frequently mentioned earning management detection
technique.
Earning management is viewed as more likely to be harmful than helpful.
Harmful earning management effect are see to include the distortion of financial
performance, inflation of share price, and potential damage to firm performance.
Possible helpful effect from earning management include a reduction in earning
volatility and shareprice volatility, the potential for management to signal its
private information, helping to met forecast and rationalize expectation.
Posted by ken at 1:30 PM No comments:
Labels: dan Rekayasa Keuangan. Akuntan Indonesia Edisi No. 8: 53 60., Financial
Shenanigans, Ludovicus. 2008. Memahami Lebih Jauh Aspek Earning
Management, Sumber : Sensi
Teknik Financial Shenanigans
Menurut penelitian Center for Finacial research &Analysis (CFRA) yang ada di US,
terdapat 30 teknik earnings management (shenanigans) yang biasanya dilakukan
oleh perusahaan untuk mengelabuhi investor atau stokeholders (Howart
Schilit,2002). Dari 30 teknik tersebut, kemudian dibagi menjadi tujuh katagori,
yaitu:
Shenanigans No.1:
Recording revenue too Soon or of Questionable Quality
a. Recording revenue when future services remain to be provided
b. Recording revenue before shipment or before the customers unconditional
acceptance
c. Recording revenue even though the customer is not obligated to pay

d. Selling to an affiliated party


e. Giving the customer something of value as aquid pro quo Grossing up revenue
Shenanigan No.2:
Recording bogus Revenue
a. Recording sales that lack economic substance
b. Recording cash received in leading transactions as revenue
c. Recording investment income as revenue
d. Recording as revenue supplier rebates tied to future re-quired purchases
e. Releasing revenue that was improperly held back before a merger
Shenanigan No.3:
Boosting income with One-Time Gains
a. Boosting profits by selling undervalued assets
b. Including investment income or gains as part of revenue
c. Reporting investment income or gains as a reduction in operating expenses
d. Creating income by reclassification of balance sheet account
Shenanigan No.4:
Shifting Current Expenses to a Later or Earlier Period
a. Boosting profit by selling undervalued assets
b. Capitalizing normal operating costs, particularly if recently changed from
expensing
c. Changing accounting policies and shifting current expenses to an earlier period
d. Amortizing cost too slowly
e. Failing to write down or write off impaired assets
f. Reducing asset reserves
Shenanigan No.5:
Failing to record or improperly reducing Liabilities
a. Failing to record expenses and related liabilities when future obligation remain
b. Reducing liabilities by changing accounting assumptions
c. Releasing questionable reserves into income
d. Creating sham rebates
e. Recording revenue when cash is received, even though futher obligation remain
Shenanigan No.6:
Shifting Current Revenue to a Later Period
a. Creating reserves and releasing them into income in a later period
b. Improperly holding back revenue just for an acquisition closes
Shenanigan No.7:
Shifting Future Expenses to the Current Period as a Special Charge
a. Improperly inflating amount included in a special charge
b. Improperly writing off in-process R & D costs from an acquisition
Dari 30 teknik earnings management (shenanigans) tersebut diatas pada dasarnya
dapat juga dikategorikan menjadi lima fenomena dasar (C Mulford and E
Commiskey, 2003), yaitu:
1. Recognizing Premature or Fictitious Revenue
2. Aggressive Capitalization and Expended Amortization Policies
3. Misreported Assets and Liabilities

4. Getting Creative with the income Statement: Classification and Disclosure


5. Problem with Cash flow Reporting
Posted by ken at 1:26 PM No comments:
Labels: dan Rekayasa Keuangan. Akuntan Indonesia Edisi No. 8: 53 60., Financial
Shenanigans, Ludovicus. 2008. Memahami Lebih Jauh Aspek Earning
Management, Sumber : Sensi
Pola Financial Shenanigans
Pola earnings management dapat dibedakan menjadi beberapa macam, antara lain:
Taking a Bath atau Big Bath
Pola ini terjadi pada saat perusahaan melakukan reorganisasi, termasuk
penggantian CEO, jika perusahaan harus melaporkan kerugian,manajemen akan
melaporkan nilai kerugian yang lebih besar dengan tujuan utnuk meningkatkan laba
dimasa datang (Scott 2003 dan levit, dalam the Financial numbers game by C
Mulford and E Commiskey)
Income Minimization
Pola ini hampir sama dengan taking a bath namun tidak di laksanakan secara
ekstrim dan dilakukan dengan cara memilih kebijakan akuntansi yang mempunyai
dampak mengurangi laba (income decreasing).
Income Maximization
Pola ini dilakukan untuk tujuan untuk memperoleh bonus, compensations dan juga
digunakan perusahaan yang mendekati pelanggaran debt covenants (Scott,2003).
Pola ini dapat dilakukan dengan melakukan creative acquisition accounting yaitu
perusahaan
akuisisi mengklasifikasikan sebagai harga beli sebagai in-process research and
development yang kemudian segera dihapuskan sehingga mengurangi biaya
amortisasi harga beli sehingga laba di masa dating akan meningkat (levitt, dalam
the financial numbers Game by C mulford and E commiskey,2002)
Income Smoothing
Manajer memiliki insentif melakukan earnings management sehingga tetap berada
antara bogey dan cap. Jika manajer risk averse, mereka lebih suka aliran bonus
yang konstan sehingga mereka meratakan laba perusahaan (Healy,1985 dan
Scott,2003)
Cadangan Cookie jar
Manajemen secara bebas membentuk cadangan di masa bomingyang kemudian
digunakan untuk meratakan laba di masa sulit. Dimana booming tersebut
cadangan justru cenderung diperbesar sehingga dapat digunakan pada saat
perusahaan mengalami kerugian ataupun penurunan laba agar perusahaan tidak
terlihat jelek (levitt, dalam the Financial numbers game by C Mulford and E.
Commiskey, 2002)
Abuse of Materiality
Penyesuaian tanpa didukung dengan dokumen lengkap sering diabaikan oleh
auditor Karena jumlahnya tidak material. Walaupun jumlahnya tidak material,
namun penyesuaian perusahaan misalnya meningkatkan laba perusahaan ataupun

sebaliknya menurunkan laba perusahaan.


Revenue Recognation
Perusahaan mengakui pendapatan secara premature. Penjualan periode dimasa
datang diakui sebagai penjualan pada periode berjalan dan atau menggeser biaya
penjualan periode mendatang untuk menghasilkan laba yang dilaporkan pada tahun
berjalan yang lebih tinggi dan melakukan hal sebaliknya, jika ingin menurunkan
laba yang akan dilaporkan.
Posted by ken at 1:25 PM No comments:
Labels: dan Rekayasa Keuangan. Akuntan Indonesia Edisi No. 8: 53 60., Financial
Shenanigans, Ludovicus. 2008. Memahami Lebih Jauh Aspek Earning
Management, Sumber : Sensi
Motivasi Financial Shenanigans
Penelitian yang dilakukan oleh Scoot (1997), Healy dan Wahlen (1999), Defond and
Jiambalvo (1994), beattty et all (2002), Gaver and Gaver (1999), Jones (1991), Han
and Wang (1998), Ramesh and Revshine (2001), Aboody, Kznik et all (2000), Reidl
(2004), wyatt (2004), serta Cheng dan Warfield (2005), menunjukan bahwa
tindakan manajemen untuk melakukan earnings management didorong oleh
motivasi berikut:
Bonus scheme motivation (bonus hypothesis)
Debt covenant hypothesis
Political atau size hypothesis
Pepajakan (Taxation)
Pergantian Management (CEO)
Initial public Offering (IPO)
Regulatory motivations
Berdasarkan penelitian-penelitian yang telah dilakukan tersebut, terbukti bahwa
manajemen melakukan earnings management karena adanya motivasi yang lebih
bersifat opportunistic dibandingkan dengan alasan efficiency. Pada dasarnya
rewards yang diperoleh oleh management dengan melakukan earnings
management adalah :
Harga saham perusahaan yang semakin baik (share price effect),
biaya modal yang lebih rendah (borrowing cost effect),
manajemen insentif yang tinggi (bonus plan effect) dan
biaya politis yang rendah (political cost effect).
Posted by ken at 1:23 PM No comments:
Labels: dan Rekayasa Keuangan. Akuntan Indonesia Edisi No. 8: 53 60., Financial
Shenanigans, Ludovicus. 2008. Memahami Lebih Jauh Aspek Earning
Management, Sensi
Tujuan Financial Shenanigans

Tujuan dilakukannya earnings management adalah untuk memberikan fleksibilitas


kepada manajemen perusahaan untuk melindungi diri dan perusahaanya dalam
menghadapi keadaan yang tidak diinginkan seperti kerugian bagi pihak-pihak yang
terlibat dalam kontrak dengan perusahaan. Earning management tidak
mempengaruhi tingkat propabilitas perusahaan dalam
jangka panjang. Earnings management terjadi apabila manajemen menggunakan
judgement-nya dalam menyusun laporan keuanganya sehingga dapat menyesatkan
stakeholders dalam menilai kinerja perusahaan.
Posted by ken at 1:22 PM No comments:
Labels: dan Rekayasa Keuangan. Akuntan Indonesia Edisi No. 8: 53 60., Financial
Shenanigans, Ludovicus. 2008. Memahami Lebih Jauh Aspek Earning
Management, Sumber : Sensi
Financial Shenanigans
ISTILAH UMUM
Beberapa istilah umum (common label) yang sering digunakan oleh para praktisi
dan kalangan bisnis tentang earnings management antara lain :
creative accountans practices,
income smoothing,
income manipulation,
agresive accounting,
financial numbers game
financial shenanigans
Istilah yang banyak digunakan di kalangan pasar modal di Amerika (USSEC) adalah
financial shenanigans, yaitu earnings management yang kadarnya mulai dari
tingkatan sopan dan tidak berbahaya (benign) sampai dengan tingkatan kotor
(penipuan) dan membahayakan publik atau lebih dikenal dengan istilah fraudulent
financial statement (Schilit, 2002).
DEFINISI
Beberapa definisi earnings management, antara lain:
Menurut Scott (2000): Earnings management is the choice by a manager of
accounting policies so as to achieve some specific objectives.
Menurut SEC dalam annual report, reportnya tahun 1999,mengatakan: During
1999 we focused on financial reporting problem attributable to abusive earnings
management by public companies. Abusive earnings management involves the use
of various forms of financial performance in order to achieve a desired redult
(Washington DC, SEC, 1999 dalam C Mulford and E Commiskey, 2002).
Menurut C Mulford and E Commiskey (2002): Earnings management is the active
manipulation of accounting result for the purpose of creating an altered impression
of business performance.

Hasil riset akuntansi didunia menunjukan bahwa biasanya earnings Management


dilakukan bersamaan dengan adanya restruktursasi usaha atau adannya pergantian
manajemen yang dilakkan perusahaan. Sedangkan akun dalam laporan keuangan
yang paling disering dijadikan objek untuk melakukan earning management
adalah :
persediaan(inventory),
kewajiban (terutama aspek yang terakhir dengan discreationary accrual) dan
pengakuan pendapatan (revenue recornation).
Penelitian akuntansi juga menunjukan bahwa earnings management biasanya
dilakukan kuartal 4 (Q4) dalam periode pelaporan (reporting period).
Para akuntan harus lebih peka dan hati-hati dengan beberapa istilah dalam bisnis
yang terkait dengan huruf R seperti :
Retructuring,
Realign,
Redeploy,
Reconfigure,
Resize,
Right Size,
Rationalize,
Reposition,
Reingineer, dan
Reorganize.