Anda di halaman 1dari 8

ANALISIS LONGSORAN

A. Definisi
Longsor atau sering disebut gerakan tanah adalah suatu aktivitas Geologi
yang terjadi karena adanya pergerakan masabatuan atau tanah dengan berbagai
tipe dan jenis seperti bahan rombakan, jatuhnya bebatuan atau gumpalan besar
tanah yang bergerak keluar lereng atau bergerak ke bawah.. Secara umum
kejadian longsor disebabkan oleh dua faktor yaitu faktor pendorong dan faktor
pemicu. Faktor pendorong adalah faktor-faktor yang memengaruhi kondisi
material sendiri yang mana bila gaya pendorong lebih besar dari gaya penahan
dari massa batuan serta dipengaruhi oleh besarnya sudut kemiringan dari suatu
lereng serta struktur geologi yangterbentuk didalamnya, sedangkan faktor
pemicu adalah faktor yang menyebabkan bergeraknya material tersebut.
Meskipun penyebab utama kejadian ini adalah gravitasi yang memengaruhi
suatu lereng yang curam, namun ada pula faktor-faktor lainnya yang turut
berpengaruh. Ada beberapa jenis longsoran yang umum dijumpai pada massa
batuan ditambang terbuka, yaitu :
Longsoran Bidang (Plane Failure)
Longsoran Baji (Wedge Failure)
Longsoran Guling (Toppling Failure)
Longsoran Busur (Circular Failure)
Kelongsoran lereng suatu lubang bukaan tambang dapat mengganggu
kelancaran kegiatan penambangan, oleh karena itu diperlukan kajian untuk
mengetahui aspek geomekanik lereng tersebut dan juga kimia mineral batuan,
supaya dapat diketahui cara penanggulan yang baik dan cepat. Secara
keseluruhan kondisi lereng dengan factor keamanan = 2,0 cukup stabil walaupun
sering terjadian jatuhan material batuan, terutam pada muka lereng yang
tersusun oleh batu lempung hal ini disebabkan oleh kandungan kimia dan
mineral batu lempung yang kurang resisten terhadap pelapukan.
Pelongsoran lereng terjadi pada tambang batubara di kabupaten Berau,
antara lain disebabkan oleh kandungan mineral di dalam batu lempung berupa

anti gorit, kuarsa grafit haloysit, muskovit/eastonik, mika dan orlymanit yang
mempunyai nilai pertahanan yang rendah terhadap pelapukan.

Sumber : http:// www. bamseko.blogspot.com

Gambar 1
Longsoran lereng pada tambang batubara

Di samping hal tersebut muka lereng yang tersususun atas batu lempung yang
meski genesanya berasal dari batuan beku plutonik harus tetap diperhatikan,
sebab batuan tersebut memperlihatkan kandungan mineral kaolinit dan haloisit
dalam tingkat pelapukan moderat serta mempunyai kestabilan rendah terhadap
pelapukan. Dalam kondisi yang demikian itu, maka geometri lereng highwall PIT
C3 tetap dipertahankan seperti kondisi yang dinilai ideal saat ini. Untuk
menanggulangi kelongsoran di lokasi tersebut, dapat di ambil langkah teknis
seperti pembersihan atau pengambilan material yang mudah longsor dan
stabilisasi mekanis.

B. Mekanisme Longsoran

Metode kesetimbangan batas menggunakan asumsi lereng dibagi ke


dalam beberapa irisan dan menganalisis kestabilannya agar dihasilkan faktor
keamanan untuk lereng yang paling kritis. Dalam menentukan faktor keamanan
dengan menggunakan metode kesetimbangan batas, terdapat beberapa
persamaan statis yang digunakan dalam menentukan faktor keamanan, meliputi :
1. Penjumlahan gaya pada arah vertikal untuk setiap irisan yang digunakan untuk
menghitung gaya normal pada bagian dasar irisan.
2. Penjumlahan gaya pada arah horizontal untuk setiap irisan yang digunakan
untuk menghitung gaya normal antar irisan.
3. Penjumlahan momen untuk keseluruhan irisan yang bertumpu pada satu titik.
4. Penjumlahan gaya pada arah horizontal untuk seluruh irisan.
Sifat- sifat material yang relevan dengan masalah kemantapan lereng
adalah sudut geser dalam ( ), kohesi (c), dan berat satuan () batuan. Gambar
2 menjelaskan secara sederhana tentang suatu spesi batuan yang mengandung
bidang diskontinu, di mana bekerja tegangan normal dan tegangan geser,
sehingga batuan retak pada bidang diskontinu dan mengalami pergeseran.
Tegangan geser yang dibutuhkan untuk meretakkan dan menggeser batuan
batuan tersebut akan bertambah sesuai dengan pertambahan tegangan normal.
Hubungan ini dapat dilihat pada grafik tersebut dimana secara linier membentuk
garis dengan sudut kemiringan sebesar terhadap horizontal. Sudut ini disebut
Sudut Geser 23Dalam. Bila tegangan normal dibuat nol dan kemudian batuan
diberikan tegangan geser sampai batuan mulai retak, maka harga tegangan
geser yang dibutuhkan pada saat batuan mulai retak merupakan harga kohesi (c)
dari batuan tersebut. Hubungan antara kuat geser () dan tegangan normal ()
dapat dinyatakan oleh persamaan berikut :
= c + Tan ...................................................................................................(1)

Sumber : http:// www. bamseko.blogspot.com

Gambar 2
Hubungan Antara Kuat Geser () dan Tegangan Normal ()

Longsoran Akibat Beban Gravitasi


Jika suatu massa seberat W berada di atas suatu bidang miring yang

membentuk sudut terhadap horizontal dan berada dalam keadaan setimbang,


maka bekerja komponen gaya-gaya seperti tertera pada Gambar

Sumber : http:// www. bamseko.blogspot.com

Gambar 3
Longsoran Akibat Beban Gravitasi

Tegangan normal dapat dinyatakan sebagai :

(W cos )
A

.......................................................................................................(2) di mana A
adalah luas permukaan dasar balok.
Dengan mensubstitusikan persamaan (1) dan persamaan (2) diperoleh :
=c+

(W cos )
Tan
A

Jika diketahui F= .A, maka gaya penahan F adalah :


F += ( CosW cA )Tan .....................................(3)
Berdasarkan hukum kesetimbangan batas, besar gaya penahan sebanding
dengan besar gaya penggerak, maka
W sin =cA+(W cos ) Tan................................(4)
Jika tidak terdapat gaya kohesi (c = 0) yang bekerja pada dasar balok, maka
kondisi kesetimbangan dapat disederhanakan menjadi :
= .......................................(5)

Pengaruh Tekanan Air Pada Kuat Geser


Pengaruh tekanan air pada kuat geser dapat dianalogikan seperti yang

diterangkan oleh gambar di bawah ini. Sebuah bejana yang diisi air dan
diletakkan di atas bidang miring seperti yang terlihat pada Gambar 4

Sumber : http:// www. bamseko.blogspot.com

Jika diketahui c = 0 dan = , dari persamaan (3) akan diperoleh:


F = Cos . Tan
F=(W Cos 2 U). Tan ................................(6) di
mana tekanan air sebesar u atau gaya angkat sebesar U = u.A, dengan A adalah
luas dasar bejana. Jika berat satuan dari bejana dan air adalah t dan berat per
unit volume air adalah w maka :
W=yt.h.A
A=

W
y t .h

, dan

U=yw.hw..A
Pengaruh Tekanan Air Pada Rekahan Tarik Gambar di bawah ini menjelaskan
kasus di mana suatu balok dengan berat W yang berada di atas bidang miring.
Balok tersebut dipisahkan oleh suatu rekahan tarik (tension crack) yang terisi
oleh air.

Sumber : http:// www. bamseko.blogspot.com

Gambar 5
Pengaruh Tekanan Air Pada Rekahan Tarik

V adalah total gaya yang bekerja pada tension crack akibat tekanan air yang
bertambah secara linier sesuai dengan kedalamannya, yang akan menambah
besarnya gaya geser (WSin ). U adalah total gaya dorong ke atas akibat
tekanan air yang terdistribusi pada permukaan bidang geser yang akan
mengurangi gaya normal yang bekerja pada permukaan bidang geser tersebut.
Berdasarkan kondisi kesetimbangan batas seperti persamaan (4), maka
diperoleh : W Sin s + V =cA + (W Cos - U) Tan ..............(7)

C. Analisa Faktor Keamanan Longsoran Baji


Longsoran dapat terjadi pada suatu lereng yang mempunyai struktur
bidang lemah , salah satunya adalah model longsoran baji pada lereng yang
terjadi apabila lereng tersebut mempunya lebih dari satu bidang lemah serta
saling berpotongan antar struktur bidang lemahnya, yang mana syarat dan
ketentuan berlaku untuk longsoran baji adalah :

Suatu longsoran tergolong kedalam longsoran baji apabila terdapat dua

set atau lebih yang saling berpotongan.


Dip dari perpotongan harus lebig besar dari friction angel
Arah yang dibntuk dari garis perpotongan sama dengan arah penggalian
kurang lebih 200.

D. Analisa Faktor Keamanan Longsoran Bidang


Longsoran Bidang merupakan suatu longsoran yang dapat terjadi di
sepanjang bidang gelincir yang berbentuk mendekati bidang datar. Bidang
sesar, bidang perlapisan ataupun joint akan membentuk bidang gelincir
yang memicu terjadinya longsoran Bidang. Adapun ketentuan ketentuan
pada longsoran bidang antara lain:
Longsoran baji mempunyai bidang luncur yang bebas sebagai

mediasi terjadinya mekanisme longsoran.


Arah bidang luncur yang terbentuk mempunyai arah yang sejajar

atau hampir sejajar.


Mempunyai bidang yang bebas, tidak adanya gaya penahan dari
suatu massa batuan pada sisi longsoran

Sdut kemiringan yang terbentuk lebih besar daipada sudut geser


dalam dari massa batuan pada suatu lereng.

KESIMPULAN

Longsor dapat terjadi karena ada gerakan dari

massa batuan

atau adanya pergerakan dari tanah degan berbagai tipe dan jenis seperti bahan
rombakan, jatuhnya bebatuan atau gumpalan besar tanah yang bergerak keluar
lereng atau bergerak ke bawah.. Secara umum kejadian longsor disebabkan oleh
dua faktor yaitu faktor pendorong dan faktor pemicu. Faktor pendorong adalah
faktor-faktor yang memengaruhi kondisi material sendiri yang mana bila gaya
pendorong lebih besar dari gaya penahan dari massa batuan serta dipengaruhi
oleh besarnya sudut kemiringan dari suatu lereng serta struktur geologi
yangterbentuk didalamnya. Ada beberapa jenis longsoran yang umum dijumpai
pada massa batuan ditambang terbuka, yaitu :
Longsoran Bidang (Plane Failure)
Longsoran Baji (Wedge Failure)
Longsoran Guling (Toppling Failure)
Longsoran Busur (Circular Failure)

DAFTAR PUSTAKA

Hendra,2012, Longsoran , http//karyailmiah. blogspot.com /2010/ longsoran


.html. Diakses 20 Mei 2015 ( online )
Perdana,wahyu,2011,AnalisaLongsoranhttp://bamseko.blogspot.com/2011/an
alisa-longsoran .html. Diakses 20 Mei 2015 ( online )