Anda di halaman 1dari 17

KELOMPOK KERJA AIR MINUM DAN PENYEHATAN LINGKUNGAN KOTA

SORONG
TAHUN 2014

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Permasalahan sektor sanitasi merupakan isu penting, terlebih di negara berkembang
seperti Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Nasional, pada tahun 2013
jumlah rumah tangga di Indonesia yang telah memiliki sanitasi layak baru mencapai 59,71
%. Di daerah perkotaan, persentase rumah tangga yang memiliki sanitasi layak tersebut
baru mencapai 75 %. Sedangkan di perdesaan jumlah rumah tangga dengan sanitasi layak
baru mencapai 44 %. Jika disandingkan dengan target MDG bidang sanitasi tahun 2015,
maka nilai tersebut masih berada di bawah target MDG. Untuk sektor sanitasi, kesepakatan
target MDG tahun 2015 menetapkan bahwa proporsi rumah tangga perkotaan dengan
akses berkelanjutan terhadap sanitasi layak yaitu sebesar 76,82 %, sedangkan untuk di
perdesaan target proporsi rumah tangga yang ditetapkan yaitu 55,55 %. Meninjau
perbandingan target MDG dengan kondisi capaian saat ini, tampak bahwa masih di
perlukan effort besar untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas pelayanan sanitasi di
Indonesia.
Persoalan di sektor sanitasi hampir dihadapi oleh semua Kabupaten/ Kota di Indonesia,
termasuk Kota Sorong. Kurangnya dukungan infrastruktur sanitasi yang memadai serta
masih rendahnya kesadaran masyarakat untuk melakukan pola hidup bersih menjadi salah
satu penyebab rendahnya kualitas dan kuantitas sanitasi, baik dalam hal air limbah,
persampahan, maupun drainase permukiman. Hingga tahun 2013, kondisi sanitasi Kota
Sorong masih berada jauh di bawah target MDG. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota
Sorong, cakupan akses pelayanan Sistem Penyaluran Air Limbah (SPAL) di Kota Sorong
pada tahun 2013 baru mencapai 37,23 %. Sedangkan dalam hal persampahan, wilayah
pelayanan kebersihan eksisting di Kota Sorong pada tahun yang sama baru mencapai
13,21 %. Begitupula dalam hal drainase permukiman, banjir tahunan yang kerap terjadi di
Kota Sorong menunjukkan masih buruknya sistem drainase permukiman eksisting.
Dilatarbelakangi hal tersebut, Pemerintah Kota Sorong terus melakukan berbagai upaya
perbaikan kondisi sanitasi di Kot Sorong, salah satunya yaitu melalui pernyataan komitmen
untuk tergabung dalam Program Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman (PPSP).
Pernyataan komitmen Kota Sorong tersebut ditindaklanjuti oleh surat Kepala Badan
Perencanaan Pembangunan Daerah Provinsi Papua Barat kepada Direktur Permukiman
dan Perumahan Bappenas (selaku ketua Pokja Air Minum dan Penyehatan Lingkungan
Nasional) perihal pernyataan minat Kabupaten/ Kota di Provinsi Papua Barat untuk ikut
menjadi peserta program PPSP Tahun 2014. Dalam perkembangan selanjutnya, dengan
terbitnya Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 648-112/Kep/Bangda/2014 tentang
Perubahan
Kedua Atas
Keputusan
Menteri
Dalam
Negeri
Nomor
648Buku Putih Sanitasi Kota Sorong 2014

KELOMPOK KERJA AIR MINUM DAN PENYEHATAN LINGKUNGAN KOTA


SORONG
TAHUN 2014
1726/Kep/Bangda/2013 tentang Penetapan Kabupaten atau Kota Sebagai Peserta Program
Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman Tahun 2014, Kota Sorong resmi tergabung
dalam Program PPSP Tahun 2014.
Program PPSP pada dasarnya merupakan program perbaikan sanitasi permukiman yang
dilakukan dengan menggunakan prinsip berdasarkan data aktual, berskala kota/kabupaten,
disusun sendiri oleh kabupaten/ kota (dari, oleh dan untuk kabupaten/ kota) serta
menggunakan pendekatan bottom-up dan top-down. Dengan status kepesertaan Kota
Sorong dalam Program PPSP tersebut, maka mengikuti alur hirarki dalam Program PPSP,
Pemerintah Kota Sorong diwajibkan untuk membentuk kelompok kerja khusus yang dapat
berperan sebagai koordinator, advisor dan fasilitator pada Program PPSP Kota Sorong
tahun 2014. Sebagai koordinator dalam hal ini memiliki pengertian bahwa selama kegiatan
PPSP kelompok kerja akan berperan dalam mengkoordinasikan perencanaan
pembangunan sanitasi di Kota Sorong. Sebagai advisor, kelompok kerja akan berperan
dalam menyusun Buku Putih Sanitasi (BPS) dan Strategis Sanitasi Kota (SSK), serta
memberikan input strategis pada Pemerintah Kota Sorong dalam rangka meningkatkan
kinerja pembangunan sanitasi. Sedangkan sebagai fasilitator, kelompok kerja akan
berperan dalam memfasilitasi peningkatan kesadaran dan komitmen dari berbagai
stakeholder utama sanitasi di tingkat kabupaten untuk terlibat dalam pembangunan
sanitasi, serta memfasilitasi pengembangan sistem pemantauan dan evaluasi sanitasi di
Kota Sorong. Melalui Keputusan Walikota Nomor 658/704 tanggal 13 Mei 2013, Pemerintah
Kota Sorong membentuk Kelompok Kerja Air Minum dan Penyehatan Lingkungan seiring
terbitnya Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Nomor: 660/4919/SJ tentang Pedoman
Pengelolaan Program PPSP di Daerah.
Sebagai tahap awal untuk menciptakan perbaikan kondisi sanitasi di Kota Sorong,
Kelompok Kerja Sanitasi Kota Sorong melakukan pemetaan kondisi sanitasi eksisting.
Pemetaan tersebut di anggap perlu dan penting dilakukan sebagai patokan untuk
menentukan parameter sejauh mana upaya yang perlu dilakukan untuk meningkatkan
kualitas dan kuantitas sanitasi Kota Sorong sehingga dapat sesuai target yang ditetapkan.
Baik itu target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Sorong,
target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Provinsi (RPJMP) Papua Barat, target
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), maupun dengan target
MDG di sektor sanitasi. Pada proses pelaksanaannya, pemetaan kondisi eksisting sanitasi
Kota Sorong ini dilakukan melalui beberapa tahapan kegiatan, dimana setiap tahapan
dilakukan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi Kota Sorong secara terstruktur
menyesuaikan dengan jangka waktu perencanaan Kota Sorong.
Hasil pemetaan berbagai kondisi eksisting sanitasi yang telah dilakukan, kelompok kerja
tuangkan ke dalam dokumen Buku Putih Sanitasi Kota Sorong. Tujuannya yaitu agar
terbentuk satu basis data sanitasi Kota Sorong yang komprehensif sehingga dapat menjadi
dasar bagi penyusunan strategi dan kebijakan sanitasi Kota Sorong kedepan. Harapannya,

Buku Putih Sanitasi Kota Sorong 2014

KELOMPOK KERJA AIR MINUM DAN PENYEHATAN LINGKUNGAN KOTA


SORONG
TAHUN 2014
penyusunan Buku Putih Sanitasi Kota Sorong ini dapat membawa kondisi sanitasi Kota
Sorong ke arah yang lebih baik dalam segi kuantitas maupun kualitas.
Buku Putih tersebut berisikan informasi yang lengkap tentang situasi dan kondisi sanitasi di
Kabupaten/Kota sebagai dasar untuk membuat perencanaan pengembangan sanitasi
dimasa mendatang. Tahapan dalam penyusunan Buku Putih Sanitasi antara lain :
1. Internalisasi dan penyamaan persepsi;
2. Penyiapan profil wilayah;
3. Penilaian profil sanitasi (sanitation assessment);
4. Penetapan prioritas pengembangan sanitasi; dan
5. Finalisasi buku putih.

1.2. Landasan Gerak


1.1.1. Pengertian Sanitasi
Sanitasi didefinisikan sebagai suatu proses multi-langkah, Dimana berbagai jenis limbah
dikelola dari titik timbulan (sumber limbah), ke titik pemanfaatan kembali atau pemrosesan
akhir (Buku Referensi Opsi Sistem dan Teknologi Sanitasi: 2010). Mengacu kepada definisi
tersebut, sanitasi dapat dipahami sebagai suatu sistem yang membentuk suatu siklus
dimana limbah pada akhirnya merupakan suatu produk yang dapat memiliki nilai tambah.
Dalam sistem sanitasi, produk akan melalui beberapa tahapan (kelompok fungsional). Tiap
kelompok fungsional memiliki bentuk penanganan dan teknologi tersendiri.
Sanitasi pada dasarnya meliputi tiga sektor, yaitu sektor air limbah, sektor persampahan
dan sektor drainase tersier. Kelompok fungsional dalam sistem sanitasi berbeda- beda
tergantung pada sektor sanitasi dan tipikal tiap tiap sektor sanitasi. Sistem pada
pengolahan air limbah setempat akan berbeda dengan sistem pada pengolahan air limbah
terpusat. Demikian halnya dalam hal persampahan, tergantung bentuk teknologi
pengelolaan yang digunakan di suatu wilayah.
Dalam pemilihan sistem dan pemilihan teknologi sanitasi terdapat beberapa faktor yang
mempengaruhi. Untuk pilihan sistem faktor- faktor tersebut meliputi faktor fisik, faktor
pengelolaan serta faktor keuangan dan pendanaan. Beberapa variabel yang berkaitan
dengan faktor fisik misalnya kepadatan penduduk, pemanfaatan lahan, kecocokan lahan
dan topografi. Sedangkan variabel yang berkaitan dengan faktor pengelolaan/ pengaturan
antara lain pengaturan sanitasi, pengelolaan kelembagaan serta kepemilikan asset. Adapun
variabel- variabel yang berkaitan dengan faktor finansial dan pendanaan antara lain
kapasitas fiskal kabupaten/ kota, serta dukungan dan mekanisme pendanaan.
Dalam hal pemilihan teknologi, beberapa faktor yang mempengaruhi antara lain faktor biaya
modal dan biaya berulang, faktor lingkungan dan faktor budaya dan prilaku. Beberapa
variabel yang berkaitan dengan faktor lingkungan antara lain variabel resiko kesehatan
serta pemanfaatan air tanah dan air permukaan. Sedangkan variabel yang berkaitan
Buku Putih Sanitasi Kota Sorong 2014

KELOMPOK KERJA AIR MINUM DAN PENYEHATAN LINGKUNGAN KOTA


SORONG
TAHUN 2014
dengan faktor biaya modal dan biaya berulang antara lain variabel keterjangkauan serta
variabel ketepatan teknologi. Untuk faktor budaya dan prilaku, beberapa variabel terkait
antara lain variabel tingkat kesadaran masyarakat serta keterampilan manajemen
masyarakat.
a. Sistem Pengelolaan Air Limbah
Sistem pengelolaan air limbah dapat dikelompokkan ke dalam tiga kategori sebagai berikut:
1. Sistem setempat. Dalam sistem setempat limbah black water dan grey water dioleh
langsung secara setempat.
2. Sistem Terpusat. Dalam sistem terpusat, limbah dialirkan melalui perpipaan menuju
Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL)
3. Sistem Hibrida. Sistem ini merupakan gabungan antara sistem pengelolaan air limbah
setempat dan sistem pengelolaan air limbah terpusat. Pada sistem ini, terdapat
beberapa instalasi pengolahan air limbah bersifat komunal yang melayani beberapa
rumah. Produk air limbah yang di tampung di instalasi pengolahan air limbah komunal,
untuk selanjutnya dialurkan menuju Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) pusat.
b. Sistem Pengelolaan Persampahan
Aktivitas utama dalam pengelolaan sampah yaitu aktivitas pengumpulan dan pemrosesan
akhir. Ssistem Pelayanan Minimal Pekerjaan Umum mengklasifikasikan bentuk
pengumpulan sampah kedalam tiga kategori yaitu pengumpulan langsung pintu ke pintu,
pengumpulan tidak langsung serta pengumpulan secara hibrida yang merupakan kombinasi
dari pengumpulan langsung pintu ke pintu dengan pengumpulan tidak langsung. Dalam hal
pemrosesan akhir, berdasarkan UU 18/ 2008 tentang pengelolaan sampah, telah ditetapkan
bahwa sejak 2012 tempat pemrosesan akhir dengan sistem open dumping sudah tidak
diperbolehkan lagi. Bentuk pemrosesan akhir sampah sudah harus mulai bergeser ke
bentuk controlled landfill dan sanitary landfill.
c. Sistem Drainase
Sistem drainase terdiri dari dua kategori yaitu drainase mikro dan drainase sekunder.
Drainase mikro yaitu drainase yang terdiri dari drainase primer dan sekunder yang
umumnya dioperasikan oleh Provinsi atau Balai. Sedangkan drainase makro atau biasa
disebut juga drainase tersier yaitu drainase yang direncanakan, dibangun dan di rawat oleh
Pemerintah Kota. Berdasarkan sistemnya, drainase dikelompokkan menjadi tiga kategori
sebagai berikut:
1. Sistem Gravitasi, yaitu sistem drainase yang mengalir mengikuti gaya gravitasi
2. Sistem Pemompaan, yaitu sistem drainase yang dilengkapi dengan pompa. Biasanya
digunakan di daerah yang berelevasi rendah sebagai bentuk pencegahan terhadap
banjir.
3. Sistem Polder, yaitu sistem drainase yang biasa di gunakan di daerah yang berelevasi
rendah atau dapat pula di bawah permukaan laut dengan luas permukaan cukup luas.
Perbedaan dengan sistem pemompaan, pada sistem polder, pemompaan dilakukan
sepanjang tahun.

Buku Putih Sanitasi Kota Sorong 2014

KELOMPOK KERJA AIR MINUM DAN PENYEHATAN LINGKUNGAN KOTA


SORONG
TAHUN 2014

1.1.2. Wilayah Studi


Wilayah studi dalam penyusunan Buku Putih Sanitasi Kota Sorong ini yaitu wilayah
administratif Kota Sorong yang meliputi 6 kecamatan, dan 31 kelurahan.
1.1.3. Visi Misi Kota Sorong
Berdasarkan kajian yang telah dilakukan pada proses penyusunan Rencana Pembangunan
Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Sorong Tahun 2013 2017, dapat disimpulkan
bahwa beberapa isu yang dihadapi Kabupaten Bandung antara lain dalam bidang
keamanan dan ketertiban masyarakat, pelayanan publik, lingkungan hidup dan bencana,
kualitas sumber daya manusia, pembangunan perdesaan dan ketahanan pangan,
infrastruktur wilayah dan tata ruang serta kemiskinan. Berdasarkan isu permasalahan
tersebut, visi Pemerintah Kota Sorong sebagaimana dituangkan dalam RPJMD tahun 2013
2017 yaitu: TERWUJUDNYA KOTA SORONG SEBAGAI KOTA TERMAJU DI TANAH
PAPUA
Adapun arti dan makna dari pernyataan Visi di atas adalah dengan pembangunan yang
dilakukan selama kurun waktu 5 (lima) tahun ke depan Kota Sorong harus mampu dibawa
menjadi Kota yang termaju di tanah Papua, termaju disini adalah kemajuan di segala
bidang baik dalam penyelenggaraan pemerintahan, pelaksanaan pembangunan dan
pembinaan kehidupan kemasyarakatan. Kota Sorong harus selangkah di depan dari
Kabupaten / Kota se tanah Papua. Sebab sudah sejak awal terbentuknya provinsi Irian
Jaya (sekarang Papua) Kota Sorong telah dicanangkan oleh Pemerintah Provinsi Irian Jaya
waktu itu sebagai otonomi percontohan di tanah Papua.
Dalam rangka pencapaian visi Kota Sorong tahun 2013 2017 yang telah dipaparkan
diatas, Kota Sorong menetapkan beberapa misi sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Meningkatnya infrastruktur dasar perkotaan


Meningkatnya pengembangan sosial dan kesehatan masyarakat
Meningkatnya kualitas sumber daya manusia
Meningkatkan perekonomian dan jasa
Meningkatkan pengelolaan lingkungan hidup dan pembangunan yang berkelanjutan
Meningkatkan supremasi hukum
Meningkatkan pelayanan publik
Meningkatkan persatuan dan kesatuan bangsa
Peningkatan dan pengembangan pariwisata, budaya, pemuda dan olahraga

Buku Putih Sanitasi Kota Sorong 2014

KELOMPOK KERJA AIR MINUM DAN PENYEHATAN LINGKUNGAN KOTA


SORONG
TAHUN 2014

Maksud dari masing-masing misi tersebut diatas adalah sebagai berikut :


1.

Meningkatnya infrastruktur dasar perkotaan yang memadai,


dalam rangka aksebilitas pelayanan kebutuhan dasar rakyat dan penanggulangan
kemiskinan masyarakat perkotaan,maka pemerintah daerah mempunyai tanggungjawab
moral menyediakan infrastruktur perkotaan yang memadai dalam rangka menjawab
permasalahan utama pembangunan tercapai yaitu kesejahteraan dan kemakmuran.

2.

Meningkatnya
pengembangan
social
dan
kesehatan
masyarakat, pembangunan kesehatan sosial masyarakat merupakan upaya Pemerintah
Kota Sorong untuk meningkatkan kehidupan harmoni sosial masyarakat melalui
peningkatan dan pemantapan sarana dan prasarana kesehatan yang tersedia serta
terjangkau oleh masyarakat.

3.

Meningkatnya kualitas sumber daya manusia, sumber daya


manusia merupakan prioritas Pemerintah Daerah Kota Sorong dalam rangka
meningkatkan aparatur yang berkualitas dan profesional.

4.

Meningkatnya perekonomian dan jasa, pembangunan ekonomi


pada hakikatnya merupakan upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui
peningkatan dan pemantapan pendapatan masyarakat. Pembangunan ekonomi di
dasarkan pada sistem ekonomi kerakyatan dan pengembangan sektor unggulan
terutama sektor jasa yang banyak menyerap tenaga kerja yang berorientasi pada ekspor
yang didukung dengan peningkatan sumber daya manusia dan teknologi untuk
memperkuat landasan pembangunan yang berkelanjutan dan meningkatkan daya saing
yag berorientasi pada globalisasi ekonomi.

5.

Meningkatkan
pengelolaan
lingkungan
hidup
dan
pembangunan yang berkelanjutan, Pembangunan berwawasan lingkungan atau yang
disebut berkelanjutan adalah usaha untuk meningkatkan kualitas manusia secara
bertahap dengan mempertahankan faktor lingkungan untuk memenuhi kebutuhan masa
kini maupun masa yang akan datang. Upaya ini dilakukan oleh Pemerintah Daerah Kota
Sorong bertujuan mewujudkan lingkungan yang, bersih, sehat dan nyaman.

6.

Meningkatkan supremasi hukum, penegakan hukum merupakan


komitmen Pemerintah Daerah Kota Sorong konsent meminimalisir hal-hal yang sering
timbul dan bertentangan serta mengabaikan hak-hak dasar masyarakat.

7.

Meningkatkan
pelayanan
publik,
upaya
Pemerintah
meningkatkan pelayanan publik bagi masyarakat Kota Sorong, ini merupakan prinsipprinsip tata pemerintahan (Good Governance) artinya bagaimana Pemerintah
memberikan pelayanan prima kepada masyarakat Kota Sorong.

Buku Putih Sanitasi Kota Sorong 2014

KELOMPOK KERJA AIR MINUM DAN PENYEHATAN LINGKUNGAN KOTA


SORONG
TAHUN 2014
8.

Meningkatkan persatuan dan kesatuan bangsa, untuk dapat


menciptakan suasana yang harmonis, tertib, damai serta nyaman bagi masyarakat Kota
Sorong maka peran Pemerintah Daerah Kota Sorong memberikan kesadaran tentang
pemahaman ideologi kebangsaan dalam rangka merkokoh persatuan dan kesatuan
bangsa.

9.

Peningkatan dan pengembangan pariwisata, budaya, pemuda


dan olahraga, mengingat letak Kota Sorong yang sangat strategis (entry point) maka
Pemerintah Daerah dipacu untuk menyiapkan infrastruktur dasar yang memadai
sehingga semua sektor khususnya sektor pariwisata, budaya dan olahraga menjadi
perhatian Pemerintah Daerah dan tidak terlepas dari pengembangan budaya setempat
sesuai dengan potensi masyarakat perkotaaan.
TABEL 1.1
RUMUSAN PENJELASAN MISI RPJMN KOTA SORONG
TAHUN 2013 2017

No

TUJUAN

SASARAN

INDIKATOR

MISI I MENINGKATKAN INFRASTRUKTUR DASAR PERKOTAAN


1.1

Terwujudnya

1.1.1

Meningkatnya Kualitas dan

Sarana dan Prasarana

Infrastruktur

Kuantitas Sarana dan

Perkotaan yang

Dasar Perkotaan

Prasarana Perkotaan

berkualitas;

Yang Memadai

Jumlah sarana dan

prasarana bertambah.

MISI II MENINGKATKAN PENGEMBANGAN SOSIAL DAN KESEHATAN MASYARAKAT


2.1

Terwujudnya
Interaksi Sosial,

2.1.1

Meningkatnya Kualitas
Hidup dan Perlindungan

Buku Putih Sanitasi Kota Sorong 2014

Kesejahteraan
masyarakat meningkat;

KELOMPOK KERJA AIR MINUM DAN PENYEHATAN LINGKUNGAN KOTA


SORONG
TAHUN 2014
Kesetaraan dan

Terhadap Perempuan dan

Keadilan Gender

Anak

Kekerasan Dalam Rumah


Tangga (KDRT)
menurun.

2.2

2.3

Terwujudnya

2.2.1

Meningkatnya Pembinaan

Jumlah masyarakat

Pelayanan Sosial

dan Pelayanan

penyandang masalah

Yang Berkualitas

Kesejahteraan Sosial

sosial berkurang.

Terwujudnya

2.3.1

Meningkatnya Mutu dan

Menurunnya masyarakat

Derajat Kesehatan

Jangkauan Pelayanan

yang menderita gizi

Masyarakat

Kesehatan

buruk;

Angka kematian ibu dan


anak menurun;

Angka harapan hidup


meningkat;

Obat dan
sarana/prasarana
kesehatan meningkat;

Puskesmas, pustu dan


pusling bertambah.

2.3..2

Meningkatnya Partisipasi

Masyarakat Menuju
Keluarga Yang Sehat,

Sarana dan prasarana


kesehatan bertambah;

Mandiri dan Sejahtera

Masyarakat yang sehat


semakin bertambah;

Bertambahnya tenaga
para medis.

MISI III MENINGKATKAN KUALITAS SUMBER DAYA MANUSIA


3.1

Terwujudnya

3.1.1 Meningkatnya Kompetensi dan

Sumberdaya

Profesionalisme Aparatur

Manusia Yang
Buku Putih Sanitasi Kota Sorong 2014

Kualitas pelayanan
publik semakin
berkualitas;

KELOMPOK KERJA AIR MINUM DAN PENYEHATAN LINGKUNGAN KOTA


SORONG
TAHUN 2014
Berkualitas

Menggunaan sarana dan


prasarana semakin
efektif dan efesien.

3.1.2 Meningkatnya Pemerataan

Jumlah masyarakat yang

Kesempatan Belajar Bagi

buta huruf semakin

Masyarakat

berkurang;

Kualitas SDM
masyarakat Kota Sorong
semakin meningkat.

MISI IV MENINGKATKAN PEREKONOMIAN DAN JASA

4.1

Terwujudnya

4.1.1 Meningkatnya Pelayanan

Penguatan

Kebutuhan Barang dan Jasa

Ekonomi Yang

Perekonomian

PDRB;

Lapangan kerja baru.

PDRB; dan

Lapangan kerja baru

4
PDRB meningkat.

Jumlah pengangguran

Berbasis
Kerakyatan
4.1.2 Meningkatnya Sarana dan
Prasarana Perekonomian

1
4.2

2
Terwujudnya
Produktivitas

3
4.2.1 Meningkatnya Produksi dan
Mutu Pertanian

Pertanian

4.3

Terwujudnya
Tenaga Kerja Yang

4.3.1 Meningkatnya Kualitas


Tenaga Kerja Mandiri

menurun.

Terampil dan
Mandiri
4.3.2 Meningkatnya Perluasan dan
Perlindungan Tenaga Kerja

Buku Putih Sanitasi Kota Sorong 2014

Sengketa tenaga kerja


berkurang.

KELOMPOK KERJA AIR MINUM DAN PENYEHATAN LINGKUNGAN KOTA


SORONG
TAHUN 2014

MISI V MENINGKATKAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP DAN PEMBANGUNAN


YANG BERKELANJUTAN
5.1

Terwujudnya

5.1.1 Meningkatnya Daya Dukung

Kelestarian SDA dan

Kualitas

Lingkungan Dalam

kualitas lingkungan

Lingkungan

Pelaksanaan Pembangunan

hidup meningkat.

Hidup Lestari dan


Berkelanjutan
5.1.2 Meningkatnya Kebersihan

dan Keindahan Kota

5.2

Jumlah investor dan


wisatan meningkat.

Terwujudnya

5.2.1 Meningkatnya Kualitas

Pembangunan

Perencanaan dan

pembangunan yang

Yang Berwawasan

Pengendalian Pembangunan

berwawasan lingkungan.

Lingkungan

Yang Berwawasan

Dokumen perencanaan

Lingkungan
1
5.3

Terwujudnya

5.3.1 Meningkatnya Upaya

Mitigasi Bencana

Pedoman

Meminimalisasi Resiko

penanggulangan

Bencana

bencana alam.

MISI VI MENINGKATKAN SUPREMASI HUKUM


6.1

Terwujudnya

6.1.1 Meningkatnya Kualitas dan

Supremasi Hukum

Kuantitas Produk Hukum


Daerah
6.2.1 Meningkatnya Kesadaran dan
Kepatuhan Hukum Bagi

Perda dan peraturan


terkait lainnya.

Keamanan dan
ketertiban.

Masyarakat
MISI VII MENINGKATKAN PELAYANAN PUBLIK

Buku Putih Sanitasi Kota Sorong 2014

10

KELOMPOK KERJA AIR MINUM DAN PENYEHATAN LINGKUNGAN KOTA


SORONG
TAHUN 2014

7.1

Terwujudnya

7.1.1 Meningkatnya Kualitas

Penyelenggaraan

Perencanaan, Pelaksanaan

Pemerintahan

dan Pengawasan yang

yang Baik dan

Akuntabel

Efesiensi dan efektivitas


anggaran.

Bersih
7.1.2 Meningkatnya Akuntabilitas

dan Kinerja DPRD


7.1.3 Meningkatnya Kepatuhan

Kinerja pemerintah
daerah.

Terhadap Pengelolaan

Pedoman pengelolaan
keuangan daerah.

Keuangan Daerah
1
7.2

2
Terwujudnya
Pelayanan Publik

7.2.1 Meningkatnya Pelayanan

Partisipasi masyarakat.

Pendidikan dan

Publik Kepada Masyarakat

yang Transparan
dan Akuntabel

7.3

Terwujudnya

7.3.1 Meningkatnya Kemampuan

Pengelolaan

Pengelolaan Keuangan

Keuangan Daerah

Daerah

pelatihan.

yang Baik

MISI VIII MENINGKATKAN PERSATUAN DAN KESATUAN BANGSA


8.1

Terwujudnya

8.1.1 Meningkatnya Kesadaran

Stabilitas

Hidup Berbangsa dan

Keamanan dan

Bernegara

Ketentraman dan
ketertiban.

Ketertiban

8.2

Terwujudnya
Kerukunan Antar

8.2.1 Meningkatnya Toleransi


Kehidupan Beragama

Umat Beragama
Buku Putih Sanitasi Kota Sorong 2014

11

Ketentraman dan
ketertiban.

KELOMPOK KERJA AIR MINUM DAN PENYEHATAN LINGKUNGAN KOTA


SORONG
TAHUN 2014

2
3
4
MISI IX PENINGKATAN DAN PENGEMBANGAN PARIWISATA, BUDAYA, PEMUDA, DAN
OLAH RAGA

9.1

Terwujudnya

9.1.1 Meningkatnya Pengelolaan

Pengembangan

Pariwisata, Budaya, Seni,

Pariwisata,

Pemuda dan Olah Raga

PDRB;

PAD.

Kearifan lokal.

Budaya, Seni,
Pemuda dan Olah
Raga
9.1.2

Meningkatnya Pelestarian dan


Pengembangan Budaya Lokal

Sumber: RPJMD Kota Sorong Tahun 2013 2017

1.3. Maksud dan Tujuan Penyusunan Buku Putih


Maksud penyusunan Buku Putih Sanitasi Kota Sorong yaitu untuk memetakan kondisi
sanitasi Kota Sorong saat ini dalam rangka menciptakan baseline data bagi penyusunan
Strategi Sanitasi, monitoring dan evaluasi sanitasi Kota Sorong. Adapun tujuan penyusunan
Buku Putih Sanitasi Kota Sorong yaitu:
1. Menyediakan informasi faktual mengenai kondisi eksisting sarana prasarana
sanitasi beserta cakupan pelayanannya.
2. Memberikan informasi mengenai isu strategis, indikasi permasalahan dan potensi
sektor sanitasi Kota Sorong
3. Menyediakan informasi tentang pendanaan dan pembiayaan sektor sanitasi serta
partisipasi dunia usaha saat ini dalam bidang sanitasi di Kota Sorong.
4. Memberikan informasi mengenai program pengembangan sanitasi saat ini beserta
rencana kedepan.
5. Menyediakan basis informasi untuk menentukan kebijakan dan strategi sanitasi Kota
Sorong.

1.4. Metodologi
1.4.1.

Metode Pengumpulan Data

Buku Putih Sanitasi Kota Sorong 2014

12

KELOMPOK KERJA AIR MINUM DAN PENYEHATAN LINGKUNGAN KOTA


SORONG
TAHUN 2014

Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penyusunan Buku Putih Sanitasi yaitu
survey data primer dan survey data sekunder.
1. Survey Data Primer;
2. Survey data primer dilakukan untuk mengumpulkan data primer. Teknik yang digunakan
dalam survey data primer ini meliputi penyebaran kuesioner, observasi/ pengamatan
lapangan, wawancara mendalam (depth interview);
3. Survey Data Sekunder; dan
4. Survey data sekunder dilakukan untuk mengumpulkan data sekunder yang telah ada
sebelumnya. Teknik yang digunakan dalam survey data sekunder meliputi desk study
(studi literatur), survey data instansi dan rapat rutin dengan para pemangku kepentingan
dalam sektor sanitasi di Kota Sorong.
1.4.2.

Metode Analisis Data

Metode analisis data yang digunakan dalam penyusunan Buku Putih Sanitasi Kota Sorong
ini adalah sebagai berikut:
1. Analisis Statistik
Analisis statistik yang digunakan meliputi analisis deskriptif dan analisis statistic
skalogram. Analisis statistik deskriptif digunakan untuk menggambarkan dan
menginterpretasikan kondisi sanitasi eksisting di Kota Sorong. Sedangkan analissis
statistic skalogram digunakan untuk menentukan hirarki dari kecamatan dan desa/
kelurahan berdasarkan kelengkapan sarana, prasarana dan utilitasnya.
2. Analisis Kebijakan
Analisis kebijakan digunakan untuk mengidentifikasi kebijakan dan strategi sanitasi Kota
Sorong. Teknik analisis yang dipergunakan selain melalui tahap identifikasi strength,
weakness, opportunity and weakness (SWOT), juga digunakan teknik analisis isi
(content analysis) yang didasarkan pada dokumen resmi pemerintah atapun dokumen
yang tidak resmi tetapi dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah.
3. Analisis Proyeksi
Analisis proyeksi digunakan untuk mengidentifikasi kondisi kependudukan di masa yang
akan datang. Nilai tersebut akan digunakan untuk menentukan keperluan sarana
prasarna sanitasi pendukung yang dapat mengakomodir pertumbuhan penduduk.

1.5. Dasar Hukum dan Kaitannya dengan Dokumen Perencanaan Lain


1.5.1. Dasar Hukum
Penyusunan Buku Putih Sanitasi di Kota Sorong didasarkan pada aturan-aturan dan produk
hukum yang meliputi:

Buku Putih Sanitasi Kota Sorong 2014

13

KELOMPOK KERJA AIR MINUM DAN PENYEHATAN LINGKUNGAN KOTA


SORONG
TAHUN 2014
1. Peraturan Pemerintah
a. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 1982 tentang
Pengaturan Air;
b. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 1990 tentang
Pengendalian Pencemaran Air;
c. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 1991 tentang Sungai;
d. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis
Mengenai Dampak Lingkungan;
e. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 74 Tahun 2001 tentang
Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun;
f. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 82 Tahun 2001 tentang
Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air;
g. Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2004 tentang Pengembangan Sistim
Penyediaan Air Minum;
h. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan
Daerah;
i. Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2005 tentang Standar Pelayanan Minimum;
j. Peraturan Pemerintah Nomor 38 tahun 2007 tentang Pembagian urusan
Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintah daerah Provinsi, dan Pemerintah
Daerah Kabupaten/Kota;
k. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana
Pembangunan Jangka Panjang dan Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 20102014;
2. Keputusan Presiden
a. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2000 tentang Badan
Pengendalian Dampak Lingkungan;
b. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 123 Tahun 2001 tentang Tim
Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air;
c. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 83 Tahun 2002 tentang Perubahan
atas Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 123 Tahun 2001 tentang Tim
Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air;
3. Peraturan Menteri Republik Indonesia
a. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 416 Tahun 1992 tentang
Persyaratan dan Pengawasan Kualitas Air.
b. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 294/PRT/M/2005 tentang Badan
Pendukung Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum.
c. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 69/PRT/1995 tentang Pedoman Teknis
Mengenai Dampak Lingkungan Proyek Bidang Pekerjaan Umum.
d. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 14/PRT/M/2010 tentang Standar
Pelayanan Minimal bidang Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang.

Buku Putih Sanitasi Kota Sorong 2014

14

KELOMPOK KERJA AIR MINUM DAN PENYEHATAN LINGKUNGAN KOTA


SORONG
TAHUN 2014

4. Keputusan Menteri
a. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 35/MENLH/7/1995
tentang Program Kali Bersih.
b. Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 269/1996 tentang Petunjuk Teknis
Penyusunan UKL dan UPL Departemen Pekerjaan Umum.
c. Keputusan Menteri Negara lingkungan Hidup No 337/1996 tentang Petunjuk Tata
Laksana UKL dan UPL Departemen Pekerjaan Umum.
d. Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 296/1996 tentang Petunjuk Teknis
Penyusunan UKL UPL Proyek Bidang Pekerjaan Umum.
e. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 829/Menkes/1999 tentang
Persyaratan Kesehatan Perumahan.
f. Keputusan Menteri Kimpraswil 534/2000 tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang
Permukiman.
g. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2001
tentang Jenis Usaha dan atau kegiatan yang wajib dilengkapi degan AMDAL.
h. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 112 Tahun 2003
tentang Baku Mutu air Limbah Domestik.
i. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1205/Menkes/Per/X/2004
tentang Pedoman Persyaratan Kesehatan Pelayanan Sehat Pakai Air (SPA).
j. Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 45/KPTS/M/2005 tentang Pedoman
Pemberdayaan Penanggung Jawab Teknik Badan Usaha Jasa Konstruksi Kualifikasi
Kecil.
k. Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 21 Tahun 2006 Tentang Kebijakan dan
Strategi Nasional Pengelolaan persampahan.
l. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 852/Menkes/SK/IX/2008
tentang Strategi Nasional Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM).
5. Petunjuk Teknis
a. Petunjuk Teknis Nomor KDT 307.14 Man P judul Manual Teknis MCK
b. Petunjuk Teknis Nomor KDT 307.14 Man P judul Manual Teknis Saluran Irigasi.
c. Petunjuk Teknis Nomor KDT 361.728 Pet I judul Petunjuk Teknis Penerapan Pompa
Hidran Dalam Penyediaan Air Bersih.
d. Petunjuk Teknis Nomor KDT 361.728 Pet I judul Petunjuk Teknis Pengomposan
Sampah Organik Skala Lingkungan.
e. Petunjuk Teknis Nomor KDT 361.728 Pet I judul Petunjuk Teknis Spesifikasi Instalasi
Pengolahan Air Sistem Berpindah pindah (Mobile) Kapasitas 0.5 Liter/detik.
f. Petunjuk Teknis Nomor KDT 363.72 Pet B judul Petunjuk Teknis Pembuatan Sumur
Resapan.
g. Petunjuk Teknis Nomor KDT 363.728 Pet D judul Pedoman Teknis Tata Cara Sistem
Penyediaan Air Bersih Komersil Untuk Permukiman.
h. Petunjuk Teknis Nomor KDT 363.728 Pet D judul Petunjuk Teknis Tata Cara
Pengoperasian Dan Pemeliharaan Instalasi Pengolahan Air Limbah Rumah Tangga
Non Kakus.
Buku Putih Sanitasi Kota Sorong 2014

15

KELOMPOK KERJA AIR MINUM DAN PENYEHATAN LINGKUNGAN KOTA


SORONG
TAHUN 2014
i.

Petunjuk Teknis Nomor KDT 616.98 Ped I judul Pedoman Teknis Penyehatan
Perumahan.
j. Petunjuk Teknis Nomor KDT 627.54 Pan I judul Panduan Dan Petunjuk Praktis
Pengelolaan Drainase Perkotaan.
k. Petunjuk Teknis Nomor KDT 636.728 Pet. I judul Petunjuk Teknis Spesifikasi
Kompos Rumah Tangga, Tata cara Pengelolaan Sampah Dengan Sistem Daur
Ulang Pada Lingkungan, Spesifikasi Area Penimbunan Sampah Dengan Sistem
Lahan Urug Terkendali Di TPA Sampah.
6. Peraturan Daerah
a. Peraturan Daerah Kota Sorong Nomor 5 tahun 2014 tentang Rencana Tata Ruang
Wilayah Kota Sorong Tahun 2012 2032;
b. Peraturah Daerah Kota Sorong Nomor 15 tahun 2013 tentang Pengelolaan Sampah
di Kota Sorong;
c. Peraturan Daerah Kota Sorong Nomor 17 tahun 2013 tentang penyelenggaraan
Higiene Sanitasi Makanan dan Minuman di Tempat Pengelolaan Makanan;
d. Peraturan Daerah Kota Sorong tentang Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulaupulau Kecil Kota Sorong;
e. Peraturan Daerah Kota Sorong Nomor 30 tahun 2013 tentang Pedoman Kerjasama
Pemerintah Daerah dengan Pihak Ketiga;
f. Peraturan Daerah Kota Sorong Nomor 2 tahun 2014 tentang Perubahan Kedua Atas
Peraturan Daerah Kota Sorong Nomor 2 tahun 2011 tentang Retribusi Jasa Usaha;

1.5.2.

Keterkaitan Buku Putih Sanitasi (BPS) dengan Dokumen Perencanaan Lainnya

Dokumen perencanaan pembangunan Kota Sorong yang saat ini menjadi landasan dalam
pelaksanaan pembangunan tahunan meliputi dokumen perencanaan jangka panjang yaitu
Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Sorong 2005-2025 dan
dokumen perencanaan jangka menengah dalam bentuk Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Daerah (RPJMD) Kota Sorong 2013-2017. Buku Putih Sanitasi akan menjadi
salah satu dasar dalam perumusan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) yang
dilaksanakan setiap tahun. Dalam perumusan RKPD ke depan selain didasarkan atas
RPJPD dan RPJMD Kota Sorong , isue-isu strategis dan BPS pun akan menjadi landasan
dalam perumusan rencana kerja tahunan.

Buku Putih Sanitasi Kota Sorong 2014

16

KELOMPOK KERJA AIR MINUM DAN PENYEHATAN LINGKUNGAN KOTA


SORONG
TAHUN 2014
Buku Putih Sanitasi menyediakan data dasar yang esensial mengenai struktur, situasi dan
kebutuhan sanitasi Kota Sorong. Buku Putih Sanitasi Kota Sorong Tahun 2014 ini,
diposisikan sebagai salah satu acuan perencanaan strategis sanitasi tingkat
kota/kabupaten. Rencana pembangunan sanitasi dikembangkan atas dasar permasalahan
yang dipaparkan dalam Buku Putih Sanitasi.

Buku Putih Sanitasi Kota Sorong 2014

17