Anda di halaman 1dari 3

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Organisasi Papua Merdeka (OPM) merupakan gerakan sparatis yang
relatif tua. OPM sejak akhir tahun 60-an telah melakukan aksi gerilya untuk
menuntut pemisahan diri dari wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia
(NKRI). OPM di dirikan sebagai ekspresi kekecewaan terhadap ketidak adilan
yang di alami oleh penduduk Irian Jaya. Meletusnya gerakan separatis OPM
ternyata sebagai akibat terbatasnya komunikasi, khususnya dalam arti politik.
Padahal kamunikasi justru di harapkan memberi obyek terhadap pengalamam
politik atau proses sosialisasi politik terhadap masyarakat Irian Jaya. Kondisi
penduduk Irian Jaya yang terbelakang serta infrakstruktur yang minim, sungguh
sangat ironis dengan sumber daya alam yang sangat melimpah. Kondisi ini, telah
menyebabkan terjadinya eskalasi kekecewaan rakyat Irian Jaya. Hal ini di tengarai
juga dengan beberapa negara barat seperti Australia dan Amerika Serikat berada
di belakang maraknya aksi sparatis ini.
Berbagai usaha telah dilaksanakan oleh pemerintah RI, yaitu untuk
mengatasi separatis rakyat Irian Jaya dengan kemunculan dan aksi brutal OPM.
Usaha pemerintah RI untuk memadamkan OPM dilakukan sejak awal Irian Jaya
berintegrasi dengan Indonesia, yaitu pada tahun 1963 Usaha pemerintah RI untuk
memadamkan pemberontakan OPM, menggunakan dua pendekatan, dua
pendekatan itu adalah pendekatan sekuriti dan pendekatan kesejahteraan. Di mana
kedua pendekatan itu dilakukan sejak Irian Jaya masuk menjadi wilayah NKRI.
Pada tanggal 17 agustus 2016 OPM telah melakukan ikrar janji begabung dengan
Indonesia. Tiga ratus anggota OPM melakukan ikrar mendukung pembangunan
negara Indonesia, di kabupaten Puncak Jaya. Ratusan anggota OPM ini
sebelumnya terlibat aktif dalam perjuangan membentuk negara Papua Barat.
Mereka berasal dari wilayah Tingginambut sebanyak 60 orang, Philia 30 orang,
Yambi 90 orang, dan wilayah Kalome sebanyak 120 orang.

Terdapat penelitian mengenai Studi Tentang Pembangunan Stabilitas


Politik Di Indonesia, Peran dan Kepentingan para Aktor dalam Konflik di Papua,
Agenda dan Potensi Damai di Papua dan Agenda dan Potensi Damai di Papua
mencoba mengungkap konflik Papua. Perlu dipahami bahwa masalah dan sumber
konflik di Papua sebagian besar adalah Pertama, masalah marjinalisasi dan efek
diskriminatif terhadap orangasli Papua akibat pembangunan ekonomi, konflik
politik, dan migrasi massal ke Papua sejak 1970. Untuk menjawab masalah ini,
kebijakan afirmatif rekognisi perlu dikembangkan untuk pemberdayaan orang asli
Papua. Isu kedua adalah kegagalan pembangunan terutama di bidang pendidikan,
kesehatan dan pemberdayaan ekonomi rakyat. Untuk itu diperlukan semacam
paradigma baru pembangunan yang berfokus pada perbaikan pelayanan publik
demi kesejahteraan orang asli Papua di kampung-kampung. Masalah utama ketiga
adalah adanya kontradiksi sejarah dan konstruksi identitas politik antara Papua
dan Jakarta. Masalah ini hanya bisa diselesaikan dengan dialog seperti yang sudah
dilakukan untuk Aceh. Isu keempat adalah pertanggung-jawaban atas kekerasan
negara di masa lalu terhadap warga negara Indonesia di Papua. Untuk itu, jalan
rekonsiliasi di antara pengadilan hak asasi manusia (HAM) dan pengungkapan
kebenaran adalah pilihan- pilihan untuk penegakkan hukum dan keadilan bagi
Papua, terutama korban, keluarganya, dan warga Indonesia di Papua secara
umum.
OPM yang sudah mengikraran setia dengan NKRI membutuhkan strategi
penanganan dan intervensi yang tepat sesuai kekuatan NKRI sehingga OPM dapat
bertahan di NKRI. Keempat isu dan agenda tersebut di atas dapat dirancang
sebagai strategi kebijakan yang saling terkait untuk penyelesaian konflik Papua
secara menyeluruh dalam jangka panjang. Suasana reformasi, adanya Undangundang No 21/2001 tentang Otonomi Khusus (UU Otsus) yang akomodatif,
pemerintah pusat yang responsif, serta anggaran Papua yang sangat besar
membuat masalah Papua dapat diselesaikan secara adil, damai, dan bermartabat.

1.2 Rumusan Masalah


Bagaimana Model Road dapat mempertahankan anggota OPM bergabung
dengan NKRI?.

1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan umum
Menjelaskan Model Road Map untuk Mempertahankan anggota OPM
yang bergabung dengan NKRI .
1.3.2 Tujuan khusus
1. Mengidentifikasi anggota OPM yang bergabung dengan NKRI
2. Menganalisis Model Road Map untuk Mempertahankan anggota OPM
yang bergabung dengan NKRI
1.4 Manfaat
Dapat menjelaskan Model Road Map untuk Mempertahankan anggota
OPM yang bergabung dengan NKRI.