Anda di halaman 1dari 288

RANCANGAN KEGIATAN HARIAN (RKH)

MATA KULIAH KEANEKARAGAMAN TUMBUHAN


PENDIDIKAN BIOLOGI A
TAHUN AJARAN 2014/2015
Semester/bln/Minggu : II/4/XII
Alokasi Waktu
: 13.00-14.40
Bahan Ajar/Materi/Topik

Pertemuan 1:
Ruang Lingkup Keanekaragaman
Tumbuhan
Pertemuan 2:
Keanekaragaman Organisme Kehidupan
dan Taksonomi
Pertemuan 3 :
Hubungan Letak Lintang dan Ketinggian
Terhadap Keanekaragaman
Pertemuan 4 :
Sumber Variasi
Pertemuan 5:
Seleksi, Adaptasi, Modifikasi, Isolasi,
Spesiasi dan Evolusi
Pertemuan 6 :
Pusat-pusat Keanekaragaman di Dunia
Pertemuan 7 :
Klasifikasi Tumbuhan
Pertemuan 8 :
Identifikasi dan Tatanama Tumbuhan
Pertemuan 9 :
Obyek: Alga Biru, Hijau, Hias Dan
Karang
Pertemuan 10 :
Obyek : Alga Perak, Emas dan Kersik
Pertemuan 11 :
Obyek: Lumut (Bryophyta)
Pertemuan 12 :
Obyek: Paku (Pterydophyta)
Pertemuan 13 :
Obyek: Gymnospermae
Pertemuan 14 :
Obyek: Angiospermae Dikotil
Pertemuan 15 :
Obyek: Angiospermae Monokotil

Hari/Tempat : Selasa/D01.203
Jumlah Pertemuan : 16x
Pelaksanaan Kegiatan
Pembelajaran
I. PEMBUKAAN
II. KEGIATAN INTI
Presentasi
(Penyampaian
Materi)
III. TANYA JAWAB
IV. DISKUSI
Tema/Sub Tema dan
topik bahasan
V. PENUTUP
Doa

Metode
Pengajaran
Presentasi
dan Tanya
Jawab

RUANG LINGKUP
KEANEKARAGAMAN TUMBUHAN
(Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Keanekaragaman Tumbuhan)

Dosen Pengampu: Sudarsono, M.Si.

Disusun oleh:
1. Erni Tyas Fatnani

14304241001

2. Fajar Faozathul Khikmah

14304241003

3. Milade Annisa Muflihaini

14304241004

Kelompok 1/ Pendidikan Biologi A 2014

JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2015

A. PENGERTIAN KEANEKARAGAMAN
Keanekaragaman adalah variabilitas di antara makhluk hidup dari semua
sumber, termasuk interaksi ekosistem terestrial, pesisir dan lautan, dan ekosistem
akuatik lain, serta kompleks ekologik tempat makhluk hidup menjadi bagiannya,
hal ini meliputi keanekaragaman jenis, antarjenis, dan ekosistem (Convention on
Biological Diversity, 1993). Sedangkan pengertian lain, keanekaragaman hayati
adalah ketersediaan keanekargaman sumber daya hayati berupa jenis maupun
kekayaan

plasma

nufah

(keanekaragaman

genetik

di

dalam

jenis),

keanekaragaman antarjenis, dan keanekaragaman ekosistem) (Sudarsono, dkk.


2005: 6).
Menurut Global Village Translations (2007: 4), keanekaragaman hayati
adalah semua kehidupan di atas muka bumi, baik tumbuhan, hewan, jamur, dan
mikroorganismee serta berbagai materi genetik yang dikandungnya dan
keanekaragaman sistem ekologi di mana mereka hiudp, termasuk di dalamnya
kelimpahan genetik relatif organismee-organismee yang berasal dari semua
habitat, baik yang ada di darat, laut, maupun sistem peraiaran lainnya.
Keanekaragaman hayati adalah kelimpahan yang mencakup semua bentuk
kehidupan di muka bumi, mulai dari makhluk sederhana seperti jamur dan bakteri
hingga makhluk yang mampu berpikir seperti manusia (Bappenas, 2004: 6).

B. KONSEP KEANEKARAGAMAN GENETIK


MenurutWelsh (1991: 33), gen pada dasarnya merupakan segmen DNA
yang tersusun linear pada setiap kromosom. Setiap tempat gen atau lokus
berpotensi memindahkan informasi genetik dari DNA melalui RNA ke enzim
yang bertanggung jawab terhadap mekanisme biologis yang mengendalikan
pertumbuhan, fungsi, dan karakteristik organismee. Pelepasan dan pemasangan
gen-gen antarkromosom akan menghasilkan susunan gen yang bermacam-macam,
sehingga menimbulkan variasi tertentu dalam satu spesies (terjadi pada tingkatan
takson di bawah spesies, yaitu: anak jenis/subspesies, varietas, subvarietas, dan
forma). Inilah yang disebut dengan keanekaragaman genetik. Keanekaragaman
genetik terjadi karena mutasi, rekombinasi gen, dan aliran gen.
3

1. Mutasi
Mutasi adalah perubahan materi genetik (gen atau kromosom) suatu sel
yang diwariskan kepada keturunannya. Mutasi terjadi karena kesalahan dalam
sintesis materi genetik, baik secara alamimaupun buatan. Mutasi alami disebabkan
oleh radiasi sinar kosmos, batuan radio aktif, sinar ultraviolet matahari, sesuatu
yang tidak jelas dalam metabolisme sehingga terjadi kekeliruan dalam sintesis bahan
genetik, serta radiasi ionisasi internal dari bahan radioaktif yang mungkin

terkandung dalam jaringan. Mutasi buatan atau induksi terjadi dengan campur
tangan manusia, yang disebabkan karena pemakaian bahan radioaktif, senjata
nuklir, reaktor, dan zat kimia (kolkhisin, asenaptin, digitonin) (Sunarso, dkk.
2005: 12).
Mutasi gen ialah perubahan kimiawi pada satu atau beberapa pasangan
basa dalam satu gen tunggal yang menyebabkan perubahan sifat individu tanpa
terjadi perubahan jumlah dan susunan kromosomnya.
Mutasi kromosom adalah perubahan yang terjadi pada kromosom yang
disertai dengan perubahan struktur atau jumlah kromosom. Mutasi kromosom
dibedakan ke dalam dua jenis, yaitu:
a. Perubahan struktur kromosom (aberasi kromosom). Mutasi ini menyebabkan
kerusakan (aberasi) pada bentuk kromosom, diantaranya:
1) Translokasi adalah pemindahan sebagian dari segmen kromosom ke
kromosom lain yang bukan kromosom homolognya.
2) Duplikasi terjadi karena adanya segmen kromosom yang mengakibatkan
jumlah segmen kromosom lebih banyak dari kromosom aslinya.
3) Delesi adalah mutasi yang terjadi karena sebagian segmen kromosom
lenyap sehingga kromosom kekurangan segmen.
4) Inversi adalah mutasi yang terjadi karena selama meiosis kromosom terpilin
dan terjadinya kiasma, sehingga terjadi perubahan letak/kedudukan gen-gen.
b. Perubahan jumlah kromosom. Mutasi yang terjadi ditandai dengan perubahan
jumlah kromosom individual atau dalam jumlah perangkat kromosom.

1) Euploid terjadi karena adanya penambahan atau pengurangan perangkat


kromosom (genom). Contoh: haploid, diploid, triploid, tetraploid,
poliploid, dll.
2) Aneuploid terjadi karena adanya perubahan salah satu kromosom dari
genom individu.

Contoh: monosomik,

nullisomik,

trisomik,

dan

tetrasomik.

2. Rekombinasi dan Aliran Gen


Rekombinasi adalah hasil akibat kombinasi baru dari gen yang telah ada
dari pembawaan. Rekombinasi menghasilkan gen baru yang diakibatkan oleh
perkawinan silang, yaitu oleh perubahan (pindah silang) segmen-segmen dari
kromosom-kromosom yang sesuai ikut terjadi saat pemisahan kromosom pada
saat berlangsungnya meiosis. Proses inilah yang meningkatkan potensi variasi
genetik dengan mengatur ulang alel secara acak sehingga timbul kombinasi yang
berbeda-beda (Mochamad Indrawan, 2007: 15-25).
Kombinasi gen terlihat dalam pengekspresian gen atau aksi gen, yaitu
interaksi intralokus dan interaksi interlokus. Interaksi intralokus merupakan
interaksi antaralel pada lokus yang sama, mencakup tiga macam.
a. Dominansi, yaitu persilangan dua induk homozigot yang menghasilkan
perbandingan segergasi fenotipe normal pada F2 yaitu 3 dominan : 1 resesif.
b. Tidak ada dominansi (aditif), fenotipe heterozigot terletak di antara dua induk
homozigot. Pada persilangan Mirabilis jalapa merah dan putih dihasilkan F1
berbunga merah muda. Segergasi F2 menghasilkan 1 merah: 2 merah muda: 1
putih. Pada sistem aditif yang sempurna, heterozigot yang dihasilkan akan
mempunyai nilai fenotipe, tepat di antara kedua homozigot. Variasi sistem ini
dapat terjadi bilamana heterozigot dapat mencapai suatu nilai yang mendekati
salah satu karakter induknya. Keaadaan demikian disebut dominansi sebagian.
Pada persilangan tanaman arbei dengan arbei liar (Fragaria spp), tanamantanaman F1-nya lebih berbunga seperti induknya semula dan pola segragasi F2
memperlihatkan adanya mekanisme dominan parsial.

c. Dominansi berlebih. Pada proses ini heterozigot mempunyai nilai fenotipe


yang terletak di luar kedua induknya. Karena sifat heterozigot ini, proses
dominasi berlebih tidak dapat perpasangan dengan gen-gen
gen gen yang homozi
homozigot.
Sedangkan interaksi interlokus merupakan interaksi antaralel pada lokus
yang berbeda. Akibat interaksi interlokus ini, terjadi pemunculan sifat satu alel
dapat berubah karena adanya kehadiran atau ketidakhadiran salah satu alel atau
lebih pada lokus yang
ang berlainan. Proses demikian disebut epistasis, yang dapat
berlangsung bila minimal ada dua lokus yang mengendalikan pemunculan satu
karakter. Contoh: dinding polong kedelai (Glycine
(
max) masak, akan kehilangan
warna hijau dan diganti oleh beberapa karena
karena yang bervariasi, mulai dari warna
kehitam-hitaman,
hitaman, coklat, dan kuning kecoklatan. Bernard menunjukkan bahwa
ketiga warna tersebut dikendalikan oleh dua lokus. Pada satu lokus, L1dominan
menyebabkan batang kehitam-hitaman,
kehitam
l1resesif akan memunculkan warna coklat
bila L2 dominan, atau memunculkan warna kuning kecoklatan jika l2 resesif
homozigot. Persilangan L1L1L2L2 (hitam) dan l1l1l2l2 (kuning kecoklatan) akan
menghasilkan F1 L1l1L2l2 (hitam), dan pola segregasi F2-nya adalah:: 9 L1_L2_
(hitam), 3 L1_l2l2 (hitam), 3 l1l1L2_ (coklat), 1 l1l1l2l2(kuning kecoklatan). Pada
contoh tersebut, alel L1 bersifat epistasis terhadap alel L2, dan alel L2-nya
dikatakan bersifat hipostasis (Welsh, 1991: 35-36).
35
Sejumlah variasi genotip dalam sebuah populasi dapat terjadi karena
kombinasi gen yang berbeda, yang mana ada dalam populasi untuk beberapa
generasi. Jika dalam populasi tersebut terjadi pertukaran gen (aliran gen) misalnya
migrasi ke dalam atau ke luar populasi, maka dapat mengubah
mengubah frekuensi alel dan
menyebabkan variasi dalam genetika.
Contoh

keanekaragaman

genetik pada semangka berdaging


merah dan semangka kuning, serta
pada bunga Mirabilis jalapa yang
berwarna merah, puith, merah
muda, dan kuning.

C. KONSEP KEANEKARAGAMAN KROMOSOM


Menurut Suryo (1984) yang disebut kromosom ialah benda-benda halus
berbentuk lurus seperti batang atu bengkok dan terdiri atas zat yang mudah
mengikat zat warna di dalam nukleus. Salah satu sumber keanekaragaman genetik
adalah keanekaragaman kromosom, yang meliputi keanekaragaman ukuran,
bentuk, jumlah, dan kemampuan menyerap zat warna dari kromosom.
1. Keanekaragaman Ukuran Kromosom
Ukuran kromosom absolut pada tumbuahn sangat bervariasi. Kromosom
tumbuhan paku-pakuan dari 67 marga yang pernah dihitung mempunyai
ukuran 3-7,5 m. Tumbuhan Angiospermae rata-rata mempunyai ukuran
kromosom lebih besar daripada tumubuhan paku, yaitu 0,8-20 m. Variasi
ukuran relatif kormosom pada satu jenis tumbuhan biasanya dibandingkan
satu sama lain (kariotip) (Sudarsono, dkk. 2005: 62).
2. Keanekaragaman Bentuk Kromosom
Keanekaragaman bentuk kromosom dapat diamati dengan mudah saat
metafase, karena pada saat itu kromosom berada pada tingkat paling pendek
dan pada kondisi sanagat mudah diwarnai. Berdasarkan letak sentromernya,
bentuk kromosom dapat dibedakan menjadi empat tipe.
a. Metasentrik, sentromer berada ditngah-tengah kromosom, sehingga kedua
lengan kromosom sama panjang.
b. Sub metasentrik, sentromer berada dekat salah satu sisi lengan kromosom,
sehingga kedua lengan kromsom tidak sama panjang.
c. Akrosentrik, sentromer dekat salah satu ujung kromosom, sehingga lengan
kromosom yang satu panjang sedang lengan yang selain sangat pendek.
d. Telosentrik, sentromer berada pada salah satu ujung lengan kromosom,
sehingga kromosom hanya mempunyai satu lengan. Bentuk kromosom
tipe ini jarang ditemukan pada tumbuhan, dan diduga berasal dari
metasentrik atau akrosentrik.
3. Keanekaragaman Jumlah Kromosom
Keanekaragaman jumlah kromosom terjadi akibat perubahan jumlah
kromosom, baik penambahan atau pengurangan kromosom-kromosom utuh
7

atau satu set kromosom lengkap (genom). Individu-individu dalam satu


spesies biasanya mempunyai jumlah kromosom sama tetapi spesies yang
berbeda dalam satu genus sering mempunyai jumlah kromosom berbeda.
Berikut keanekaragaman jumlah kromosom pada tumbuhan:
a. Euploid, ialah suatu keadaan dimana jumlah kromosom yang dimiliki oleh
makhluk merupakan kelipatan dari kromosom dasarnya (kromosom
haploidnya). Istilah euploid ini menunjukkan keragaman dalam satu set
kromosom lengkap yang disebut genom dan disimbolkan dengan X.
Individu-individu dapat mempunyai 1, 2, 3, 4, 6 set kromosom dst dengan
istilah dan genom seperti ditunjukkan di bawah ini.

Monoploidi, satu set kromosom (genom), yaitu hanya ada satu homolog
untuk setiap kromosom dalam suatu individu.
Monoploid atau disebut juga haploid menunjukkan jumlah
kromosom gamet dari diploid. Istilah polihapolid menunjukkan
komplemen kromosom dari spesies poliploid, misalnya pada alfalfa, (1)
haploid (1x)=6 kromosom (satu set diwariskan dari orang tua (diploid), (2)
polihaploid (2x)=12 kromosom (setengah dari komplemen kromosom alfalfa
tetraploid, bentuk yang ditanam untuk perdagangan). X menunjukkan
jumlah haploid terendah/jumlah dasar dalam suatu seri poliploid.

Ganggang hijau-biru, bakteria dan virus biasanya haploid. Pada


rumput hati (livewort) dan lumut, keadaan haploid adalah bentuk utama
yang kita lihat (gametofit).
Tanaman haploid timbul secara spontan dari perkembangan sel telur
tanpa

pembuahan.

Penyerbukan

yang

terlambat

kadang-kadang

menyebabkan sel telur berkembang sebelum bersatu dengan unit sperma dari
gametofit jantan. Tanaman kembar kadang-kadang berkembang dari satu sel
telur dan salah satu haploid. Mungkin pernah dilihat bibit kembar yang
tumbuh dari satu biji apokat. Menumbuhkan kepala sari (tepungsari) pada
medium yang sesuai merupakan merupakan suatu cara yang sering
digunakan untuk memperoleh tanaman haploid.

Poliploidi, yaituterdapat lebih dari dua set kromosom dalam suatu individu
dan ada macam-macam tingkat ploidi.
Autoploidi, dalam beberapa spesies ada peningkatan mandiri dalam
jumlahkromosomnya (ploidi) yaitu peningkatan jumlah set kromosom
homolog.Autoploid dapat timbul dengan cara berikut.
1) Kegagalan mitosis selama megasporognesis.
2) Non-disjunction- kegagalan kromosom untuk memisah pada anafase
sehingga gamet fuingsional menerima 2 set kromosom (sama seperti sel
somatik).
3) Mutasi somatik, penggandaan jumlah kromosom diikuti dengan
pembelahan mitosis dan pembentukan jaringan poliploid yang dapat
berkembang menjadi batang atau cabang poliploid.
4) Penggunaan cochichicine (alkaloid dari autumn crocus, colchicum
autumnale)

pada

titik

tumbuh

dari

tanaman

akan

mencegah

pembentukan serabut-serabut gelendong dan pemisahan kromosom pada


anafase dari mitosis, menyebabkan penggandaaan kromosom tanpa
pembentukan

dinding

sel.

Perlakuan

ini

dapat

menyebabkan

peningkatan jumlah kromosom sebelum terjadi penggandaan.


Sifat-sifat poliploid
9

Poliploid biasanya lebih kekar daripada diploid, ukuran tanaman lebih


besar (daun, batang, bunga, buah, sel inti, kandungan vitamin dan
portein meningkat, tekanan orsmotik berkurang, pembelahan sel
terlambat, masa vgetatif lebih panjang).

Triploid, ada 3 genom lengkap dalam tiap inti. Triploid timbul dengan cara
sebagai berikut.
1. Kegagalan proses meiosis normal (non-disjunction) sehinga gamet
diploid (2n) terbnetuk, dan kemudian dibuahi oleh haploid (n) dari
spesies yang sama, menimbulkan triploid (3n).
2. Persilangan antara diploid (yang menghasilkan gamet haploid) dan
tetrapoloid (yang menghasilkan gamet diploid)
Dengan memperlakukan bibit diploid dengan kolkisin, dapat diperoleh
semangka tetraploid dengan 44 kromosom. Tipe ini tidak disukai dari sudut
perdagangan tetapi dapat digunakan sebagai induk untuk diserbuki
tepungsari dari tanaman diploid (2n=22). Sel telur dari tetraploid
mempunyai 22 kromosom dan tepung sari dari diploid mempunyai 11
kromosom, sehingga pada penggabungan membentuk tipe triploid. Biji
triploid menghasilkan semangka tak berbiji.
Pisang adalah triploid. Yang diploid mempunyai buah lebih kecil dan
penuh dengan biji hitam yang keras. Jika memakan pisang, lihatlah pada
jaringan di tengah seperti benang hitam yang merupakan sel telur yang tidak
berfungsi.

Tetraploid
Tanaman autotetraploid timbul karena:
1. Penyimpangan pada meiosis. Selama pembelahan pertama dari meiosis,
kromosom yang berpasangan gagal memisah pada anafas I, sehingga
satu sel telofase menerima seluruh kromosom diploid dan sel yang lain
tidak menerima seluruh kromosom diploid dan sel yang lain tidak
menerima satu pun. Sel yang pertama dapat mengalami pembelahan
10

meiosisi II untuk menghaliskan gamet diploid. Penggabungan satu dari


gamet ini dengan gamet haploid akan menghasilkan zigot triploid, tetapi
penggabungan dengan gamet diploid yang lain menghasilkan zigot
tetraploid. Hal ini jarang terjadi secara alami.
2. Penggunaan kolkisin. Metode yang paling penting dan berguna yaitu
menggandakan jumlah kromosom dengan perlakuan kolkisin yang
dipekatkan dalam pasta lanolin atau dalam larutan pada bahan vegetatif.
Pasta kolkisin diulaskan pada titik tumbuh bibit, atau bibit dapat
dimasukkan dalam larutan kolkisin dengan jalan membalikkan tanaman
muda atau merendahkannya ke dalam larutan selama periode waktu
tertentu. Tiap spesies mempunyai tanggapan yang berbeda terhadap
perlakuan untuk mengubah komposisi kromosom. Biasanya 0,5-1,0 %
pasta atau larutan kokisin dapat menimbulkan poliploidi. Kolkisin
ternyata mengganggu pembentukan serabut gelendong dan sitokinesis
berikutnya, sehingga membentuk sel dengan jumlah kromosom yang
meningkat. Perlakuan kolkisin biasanya mengakibatkan perbedaan
tingkat ploidi dalam jaringan dan batnag. Karena itu perlu membuat
pemeriksaan sitologis dari mixoploid untuk mengindentifiaksi tetraploid.
Sejumlah tanaman yang dibudidayakan tetraploid secara alami
adalah apel Mc. Intosh, kopi, kentang, kacang tanah. Tetraploid buatan
menggunakan kolkisin misalnya rye, barley, bit gula, red lover. Jagung
tetraploid lebih kekar daripada jagung diploid, menghasilkan tepung dengan
kandungan vitamanin A lebih tinggi, tetapi memperlihatkan tingkat sterilitas
yang tinggi sehingga hanya sedikit biji yang jadi, karena itu tidak digunakan
secara komersial.

b. Aneuploid, ialah perubahan set kromosom, yaitu perubahan pada


jumlah n-nya, yang menyangkut pengurangan atau penambahan
kromosom tunggal. Berbagai tipe aneuploidi terlihat pada table berikut.

11

ContohtumbuhanpadamargaVicia, memilikijumlahkromosom 2n=10,


12, 14, 24, da 28 (n=5 sebagaidasarjumlahkromosom).
c. Allopoliploid
Bila genom dari spesies yang berbeda (hibridisasi interspesifik)
bergabung, susunan genetiknya disebut alloploidi. Alloploid timbul di
alam dari hibridisasi antara dan proses atau genus, menghasilkan
kerturunan yang steril karena hanya ada beberapa atau tidak ada
kromosom homolog. Hal ini menyebabkan proses meiosis tak normal
dan gamet tidak mampu hidup. Kadang-kadang terjadi penggandaan
somatik dan menghasilkan rangkaian kromosom homolog. Apabila
meiosit diturunkan dari sel-sel ini maka terjadi proses meiosis normal.
Selain itu hibrida F1 steril dapat menghasilkan beberapa gamet dengan
kromosom tidak tereduksi yang dapat membuahi gamet lain yang
kromosomnya tidak tereduksi. Keturunan yang diahasilkan fertril
karena memiliki kromosom homolog yang mengalami proses meiosis
normal.
Sebagai contoh, pada jenis kobis Brassica napus (2n=38), jumlah
kromosom ini berasal dari dua hybrid jenis Brassica compestris
(2n=20) dengan Brassica oleraceae (2n=18) (Sudarsono, dkk. 2005:
61).

12

d. Amphidiploid
Tanaman macam ini adalah tetraploid fertil dengan dua set
kromosom yang berasal dari dua spesies atau genera yang berbeda.
Raphanobrassica yang dibuat oleh Karpepechenko, merupakan satu
contoh dari ampiplodi. Karpepechenko menyilangkan lobak dengan
kubis, diperoleh F1 steril yang menghasilkan gamet dengan kromosom
tak tereduksi dan kemudian digabungkan untuk mengahsilkan
amphidiplodi fertil dengan komplemen normal dari lobak diploid (18
kromosom) dan kubis (18 kromosom). Asal mula Raphanobrassica
dapat digambarkan sebagai berikut.
Tetua:

Raphanus

Brassica

2n = 18

2n = 18

Gamet-gamet :

x=9

Hibrida F1

x + x = 9+9

(steril)

2n = 18
Gamet tak tereduksi (x=18)

Raphanobrassica: 2x + 2x = 18 + 18
(fertil)

4n = 36

Catatan: Raphanobrassica tidak mempunyai nilai terkecuali untuk


memperlihatkan

amphidiploidi.

Mungkin

Karpenchenko

mengharapkan

tanaman dengan akar lobak dan daunnya kubis. Sebaliknya, dia memperoleh
keturunan dengan akar kubis dan daun lobak.

4. Keanekaragaman Kromosom Pada Reaksi Pewarnaan


Ahli sitologi biasanya dapat melihat kemampuan kromosom dalam
menyerap zat warna. Tumbuhan suku Malvaceae dan Onagraceae lebih sulit
diwarnai dibandingkan dengan suku Liliaceae dan Poaceae (Sudarsono, dkk.
2005: 62).

13

Berikut contoh keanekaragaman bentuk kromosom dan keanekaragaman


jumlah kromosom pada semangka berbiji (2n) dan semangka tanpa biji (3n),
serta pada pisang berbiji (2n) dan pisang tanpa biji (3n).

D. KONSEP KEANEKARAGAMAN FENOTIPE


Fenotipe berasal dari kata pheinein berarti kelihatan dan typos berarti
bentuk, artinya fenotipe merupakan sifat dan ciri makhluk hidup yang dapat
dikenali dengan indera kita. Fenotipe ini merupakan hasil kerjasama antara faktor
genotipe dan faktor lingkungan yang dapat dituliskan dengan rumus F = G + L.
Walaupun genotipe antarindividu sama, tetapi lingkungannya berbeda, maka
memunculkan fenotipe yang berbeda (Sudarsono, dkk, 2005: 67).
Genotipe adalah bentuk atau susunan genetis suatu karakter yang dikandung
individu. Genotipe terdiri dari pasangan alel yang sama (homozigot) atau berbeda
(heterozigot). Dengan demikian, keanekaragaman genotipe menimbulkan
keanekaragaman individu. Contoh: genotipe homozigot, MM bersifat dominan
penuh membawa karakter bunga Mirabilis jalapa berwarna merah, sedangkan
14

mm bersifat resesif membawa karakter bunga berwarna putih. Genotipe


heterozigot Mm bersifat dominan tak penuh membawa karakter bunga Mirabilis
jalapa berwarna merah muda.
Keanekaragaman fenotipe juga merupakan akibat dari respon individu
terhadap faktor-faktor lingkungan, seperti: air, angin, tanah, temperatur,
pencahayaan, dan lain-lain. Contoh: tanaman Salvinia molestra memiliki bentuk
daun berupa lembaran di permukaan atas air, sedangkan di bawah permukaan air
terdapat daun berbentuk seperti akar yang berfungsi memperluas permukaan
penyerapan. Selain itu, pada tanaman puring dijumpai daun yang berwarna-warni.
Keanekaragaman warna daun ini disebabkan karena faktor cahaya yang
mempengaruhi pigmen dalam proses fotosintesis. Keanekaragaman fenotipe juga
terdapat dalam fenomena semangka kotak. Hal ini dikarenakan tidak ada
pengubahan gen, baik semangka bulat dan kotak berasal dari induk (gen) yang
sama. Yang mempengaruhi bentuk tersebut adalah perlakuan tekanan dari
lingkungan luar yang diberikan pada buah semangka saat berkembang, sehingga
terbentuk semangka kotak atau segitiga.

Gambar Contoh Keanekaragaman Fenotiope

15

E. KONSEP KEANEKARAGAMAN JENIS


Menurut KM. Sawadski (1972) tentang konsep jenis adalah bahwa
organismee ada dalam satu jenis, jika tingkatannya spesies adalah memiliki
DNA/RNA/protein sama dan generasi berikutnya, menyerupai induknya atau jika
dikawinkan akan menghasilkan keturunan menyerupai induknya yang bersifat
fertil (subur). Pada tingkat genus dapat saja dikawinkan dan menghasilkan
keturunan, tetapi keturunan yang dihasilkannya bersifat mandul.
Jenis sendiri adalah suatu kesatuan yang dapat dikenal secara morfologi,
yang terdiri atas populasi yang diperkirakan dapat saling kawin antara sesamanya
secara bebas, untuk menghasilkan keturunan yang merupai tetua-tetuanya
(Sudarsono, dkk, 2005: 27).
Dalam definisi jenis menekankan kelangsungan genetik dan morfologi
dalam jenis dan tidak terputusnya hubungan antara jenis. Dalam suatu jenis,
adanya keanekaragaman ini dapat disebakan adanya suatu isolasi. Suatu jenis
tumbuhan yang sama dapat dianggap sebagai jenis yang berbeda apabila telah
mengalami isolasi reproduksi. Isolasi reproduksi sendiri adalah fenomena yang
menghalangi adanya interbreeding antar jenis. Sebagai contoh yaitu:
1. Luas wilayah
2. Faktor lingkungan
3. Reproduksi biologi
Selain adanya isolasi reproduksi juga adanya isolasi geografi. Isolasi
geografi adalah isolasi yang mana masing-masing dipisahkan oleh jarak yang
lebih besar dibandingkan radius normal biji dan polen mereka menyebar.
Contohnya adalah Plantanus occidentalis dan Plantanus orientalis, terjadi secara
alamai didaerah Amerika timur dan mediterania. Morfologinya berbeda baik
dalam isolasi ruang, tempat dan jarak (Sudarsono, dkk, 2005: 18).
Isolasi Ekologi yaitu isolasi yang disebabkan oleh perbedaan lingkungan
makhluk hidup. Contohnya saja pada Vernonia noveborancensis yang hidup
didaerah bersinar matahari dan tanah lembab dan tanah berumput dan Vernonia
glauca yang hidup didaerah rindang, drainase baik dan hutan tanaman keras
dewasa. Terakhir adalah Isolasi Etologi yaitu isolasi tingkah laku. Isolasi ini
16

kebanyakan terjadi pada hewan karena menyangkut tentang tingkah laku


(Sudarsono, dkk, 2005: 18)
Keanekaragaman jenis menunjukan seluruh variasi yang terdapat pada
makhluk hidup antar jenis. Perbedaan antar spesies organismee dalam satu
keluarga lebih mencolok sehingga lebih mudah diamati daripada perbedaan antar
individu dalam satu spesies. Misalnya saja dalam keluarga kacang-kacangan, kita
mengenal kacang tanah, kacang buncis, kacang hijau, dan lain-lain. Diantara
kacang-kacangan tersebut dapat dibedakan dengan mudah karena ciri-ciri
morfologinya baik yang sama maupun yang berbeda.

F. KONSEP KEANEKARAGAMAN ANAK JENIS


Anak jenis merupakan suatu populasi dari beberapa biotipe yang
mempunyai keluasan persebaran yang jelas berbeda dengan daerah persebaran
jenisnya dengan sifat-sifat morfologi yang berbeda pula. Biotipe sendiri adalah
suatu populasi yang individu-individunya mempunyai susunan genotip yang sama
(Sudarsono, dkk, 2005: 26-27).
Anak jenis merupakan variasi morfologi suatu jenis yang mempunyai
daerah distribusi geografis sendiri, tidak ditemukan bersama-sama dengan anggota
populasi lain sejenis.
Pada keanekaragaman anak jenis ini menjelaskan bahwa dalam suatu
daerah yang tidak dapat disebut lagi sebagai lokal terdapat jenis tanaman dengan
spesies yang sama namun memiliki ciri morfologi yang berbeda yang mana di
daerah tersebut merupakan jenis yang dominan sehingga membedakan dengan
tanaman yang ada di daerah lain walaupun sebenarnya masih satu jenis. Pada
tingkat anak jenis hal yang diperhatikan adalah persebaran dan luas
persebaraannya. Dalam hal ini satu daerah dengan daerah lain yang dapat dibatasi
oleh jarak geografis memiliki perbedaan morfologi pada tanaman yang sejenis
secara signifikan. Luas persebaran pada keanekaragaman anak jenis lebih luas
daripada pada keanekaragaman verietas dan forma. Hal inilah yang nantinya akan
membedakan apakah tanaman dari suatu tempat tersebut termasuk dalam
keanekaragan tingkat anak jenis, varietas maupun forma.
17

Contoh dari keanekaragaman anak jenis adalah pada belimbing yaitu


antara lain:
a. Bangkok Thailand
b.

Demak Jawa Tengah

c. Dewi Pasar Minggu


d. Malaya Malaysia
e. Penang Malaysia
f. Rawasari Rawasari
g.

Sembiring Sumatera Utara

h. Wulan Pasar Minggu


i.

Filipin Filipina
Pada belimbing diatas memiliki nama ilmiah yang sama namun yang

membedakan adalah daerah dimana belimbing tersebut ditemukan. Daerah


tersebut bukan lagi segai lokal suatu daerah namun suatu negara. Oleh karena hal
tersebut adanya distribusi yang lebih luas inilah yang menjadikan dasar
keanekaragaman tingkat anak jenis.

G. KONSEP KEANEKARAGAMAN VARIETAS


Sesuai dengan pasal 1 ayat 3 Undang-undang Nomor 29 Tahun 2009
tentang Perlindungan Varietas Tanaman, disebutkan varietas tanaman adalah
sekelompok tanaman dari suatu jenis atau spesies yang ditandai oleh bentuk
tanaman, pertumbuhan tanaman, daun bunga, dan ekspresi karakteristik genotip
atau kombinasi genotip yang dapat membedakan dari jenis atau spesies yang sama
sekurang-kurangnya satu sifat yang menentukan dan apabila diperbanyak tidak
mengalami perubahan.
Keanekaragaman Varietas adalah

adanya variasi pada sekelompok

tanaman yang merupakan satu varietas yang sama. Keanekaragaman ini dapat
berupa perbedaan sifat dan bentuk pada varietas tanaman tersebut. pada tumbuhan
satu varietas akan memiliki spesies yang sama namun ciri dan bibik uyang ada
dalam tumbuhan tersebut akan berbeda. Perbedaan inilah yang akan
memunculkan varietas unggul ,maupun tidak. Pembudidayaan tanaman sangat
18

berpengaruh pada varietas tanaman tersebut. masyarakat cenderung akan


membudidayakan varietas tanaman yang dinilai unggul dan memiliki nilai
ekonomis. Maka ada atau tidaknya suatu varietas disekitar kita tergantung oleh
aktivitas maniusia dan keadaan alamnya. Selain itu varietas juga bergantung pada
sebaran tanaman tersebut. dari sebarannya tersebut akan membedakan jenis
tanaman ini pada suatu daerah satu dengan satu daerah lain,
Bagi para ahli taksonomi tumbuhan istilah varietas dapat disebut sebagai:
a. Setiap varian morfologi suatu jenis tanpa mengkaitkan dengan masalah
distribusinya.
b. Varian morfologi dalam suatu jenis yang mempunyai daerah distribusi
sendiri.
c. Varian morfologi dalam suatu jenis yang bersama-sama varietas lain
dalam jenis yang sama menempati distribusi yang sama.
Contoh keanekaragaman varietas dapat ditemukan pada varietas padi dan
varietas belimbing manis. Pada padi terdapat beberapa varietas. Varietas inilah
yang akan membedakan bagaimana ciri khusus yang dimiliki oleh padi tersebut.
semisal terjadinya variasi tanaman tak terkecuali pada Rojolele yang dipercayai
dapat dipengaruhi oleh adanya faktor lingkungan dan faktor genetik.
Sitompul dan Guritno (1995) mengatakan bahwa penampilan bentuk
tanaman dikendalikan oleh sifat genetik tanaman dibawah pengaruh faktor-faktor
lingkungan. Faktor lingkungan yang diyakini dapat mempengaruhi terjadinya
perubahan morfologi tanaman antara lain iklim, suhu, jenis tanah, kondisi tanah,
ketinggian tempat, kelembaban. Apabila faktor lingkungan lebih kuat memberikan
pengaruh daripada faktor genetik maka tanaman di tempat yang berlainan dengan
kondisi lingkungan yang berbeda akan memiliki morfologi yang bervariasi. Tetapi
apabila pengaruh faktor lingkungan lebih lemah daripada faktor genetik , maka
walaupun tanaman ditanam di tempat yang berlainan tidak akan terdapat variasi
morfologi.
Beberapa contoh varietas padi yang dapat dilihat dari penulisan
varietasnya dalah jenis padi beras biasa yaitu Oryza sativa L var. sylvatica dan
Oryza sativa L var glutinosa.
19

H. KONSEP KEANEKARAGAMAN FORMA


Pengertian dari Forma sendiri adalah suatu populasi yang terdiri dari
beberapa biotipe (suatu populasi yang individu-indidvidunya mempunyai susunan
genotype yang sama) yang terdapat secara sporadik dalam populasi jenisnya,
tanpa mempunyai pola persebaran yang jelas. Baik secara lokal maupun kawasan
dan berbeda dari kelompok biotipe jenis yang sama dalam beberapa sifat
morfologi (Sudarsono, dkk, 2005: 26-27).
Keanekaragaman yang terjadi di tingkat forma ini cukup dibilang sangat sulit
untuk ditemukan atau dideteksi. Misalnya adalah spesies dari jeruk yang tumbuh
di beberapa tempat, walaupun memiliki jenis yang sama namun jeruk tersebut
tumbuh dan berkembang sesuai dengan kondisi lingkungan dan berbeda-beda, ada
yang berbentuk bulat besar namun ada yang tumbuh berbentuk bulat sedang.
Sehingga jeruk di tempat satu dengan tempat lain diberi nama yang berbeda
walaupun masih satu jenis namun berbeda bentuk, dan karena tempat dimana
tumbuhnya (persebaran) dari jenis jeruk ini tidak jelas maka kumpulan dari
tanaman yang seperti ini disebut dengan forma. Contoh keanekaragaman forma
lainnya yaitu terdapat pada spesies Musa acuminata antara lain Musa acuminata f
cerifer dan Musa acuminata f retilides.

20

DAFTAR PUSTAKA
Varietas.

Anonim.

Diunduh

dari

http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/9793?show=fullhttp://reposi
tory.ipb.ac.id/handle/123456789/9793?show=full.pdf pada tanggal 16
Februari 2015 pukul 10.15 WIB.
Australia Goverment Department of Industry Tourism and Resources. 2007.
Pengelolaan Keanekaragaman Hayati. Translated by Global Village
Translation Pty. Ltd. Jakarta: Persemakmuran Australia.
Bappenas. 2004. Wilayah Kritis Keanekaragaman Hayati di Indonesia. Jakarta:
Direktorat Pengendalian Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup.
Crowder, L.V. 2006.Genetika Tumbuhan. (Alih bahasa: Ir. Lilik Kusdiarti,
M.Sc.). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Sitompul, S.M dan B. Guritno.1995.ANalisis Pertumbuhan Tanaman.Yogyakarta:
UGM Press.
Sudarsono, dkk. 2005. Taksonomi Tumbuhan Tinggi. Surabaya: UM Press.
Warianto, Chaidar. 2011. Mutasi. Diunduh
darihttp://skp.unair.ac.id/repository/GuruIndonesia/Mutasi_ChaidarWarianto_17.pdf pada Minggu, 15 Februari
2015 pukul 14.48 WIB.
Welsh, James R. 1991. Dasar-Dasar Genetika dan Pemuliaan Tanaman. (Alih
bahasa: Ir. Johanis P. Mogea). Jakarta: Penerbit Erlangga.

21

Keanekaragaman Organisme Kehidupan dan


Taksonomi
(Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Keanekaragaman Tumbuhan)

Dosen Pengampu: Sudarsono, M.Si.

Disusun oleh:
1. Viki Ambarwati

14304241005

2. Teolina Restiani

14304241006

3. Dwi Nugrohowati

14304241007

Kelompok 2/ Pendidikan Biologi A 2014

JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2015
22

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Keanekaragaman tumbuhan adalah kondisi bermacam
macam tumbuhan yang ada, baik berdasarkan ukuran, bentuk, warna
tektur dan jumlah. Keanekaragaman terdapat dalam setiap tingkatan
taksonomi

dan

level

organisasi

kehidupan.

Misalnya

keanekaragaman tingkat jaringan, dalam suatu tumbuhan terdapat


berbagai jaringan yang menyusun suatu organ tumbuhan tersebut.
Dalam batang dari luar kedalam tersusun jaringan epidermis,
korteks, jarigan pengangkut dan stele. Apabila dibandingkan antara
tumbuhan satu dengan tumuhan yang lain maka akan muncul
keanekaragaman lagi. Penyusun korteks pada tumbuhan A adalan
jaringan aerenkim, sedangkan penyusun tumbuhan B adalah
klorenkim. Aerenkim dan klorenkim adalah contoh keanekaragaman
jarigan parenkim.
Keanekaragaman kenekargaman tersebut dapat dikaji
dengan dengan mudah adanya taksonomi dan level organisasi
kehidupan. Pada umumnya pembahasan keanekaragaman selalu
difokuskan pada tiga tingkat yaitu keanekaragaman tingkat gen,
tingkat jenis, dan tingkat ekosistem. Pembagian kanekaagaman
tersebut didasarkan pada definisi keanekaragaman yang menyatakan
bahwa keanekaragaman merupakan keadaan bermacam - macam
baik berdasarkan ukuran, bentuk, warna, tektur dan jumlah.
Perbedaan

ukuran,

warna,

dan

bentuk

dikaitkan

dengan

keanekaragaman tingkat gen atau pun jenis, sedangkan perbedaan


jumlah dikaitkan dengan keanekaragaman ekosistem. Nyatanya
diantara ketiga tingkatan tersebut masih terdapat tingkatan

23

tingkatan

yang

didalamnya

juga

menunjukkan

adanya

kenekaragaman.
Oleh karena itu makalah ini akan membahas mengenai
keanekaragaman apabila

ditinjau

dari

taksonomi

dan

level

organisasi.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana keanekaragaman tumbuhan ditinjau dari taksonomi
tumbuhan?
2. Bagaimana

keanekaragaman tumbuhan ditinjau dari

level

organisasi ?

C. Tujuan
1. Mengetahui bagaimana keanekaragaman tumbuhan ditinjau dari
taksonomi tumbuhan?
2. Mengetahui bagaimana keanekaragaman tumbuhan ditinjau dari
level organisasi ?

24

BAB II
PEMBAHASAN

Keanekaragaman tumbuhan dapat ditinjau dari dua sisi, yaitu Level


organisasi kehidupan dan taksonomi tumbuhan. Apabila keduanya digabungkan
akan menghasilkan sebuah grafik seperti gambar dibawah ini.
LEVEL ORGANISASI KEHIDUPAN

TAKSONOMI TUMBUHAN
Kingdom

Ekosistem

Divisi
Class
Komunitas

Ordo
Family
Genus
Populasi

Species

organisme
Sistem organ
Organ
Jaringan
Sel
Molekul

Dari skema di atas dapat disimpulkan bahwa spesies setara dengan


populasi, sehingga suatu spesies adalah kumpulan beberapa organismee organismee yang sejenis.

25

Keanekaragaman dari Level Organisasi Kehidupan


Keanekaragaman dari Level Organisasi Kehidupan dimulai dari Molekul
kemudian membentuk Sel, meningkat menjadi Jaringan, Organ, sistem Organ,
Organismee, Populasi, komunitas, dan ekosistem. Terdapat keanekaragaman
tumbuhan didalam masing - masing tingkatan organisasi tersebut.
1. Molekul
Molekul didefinisikan sebagai sekelompok atom (paling sedikit dua) yang
saling berikatan. Perbedaan atom penyusun molekul serta perbedaan ikatan antara
atom menyebabkan keanekaragaman tingkat molekul. Misalnya molekul gula
pentosa pada DNA dan RNA. Gula pentosa yang terhubung ke basa nitrogen
adalah gula ribosa pada RNA dan deoksiribosa pada DNA. Perbedaan antara
kedua gula ini yaitu deoksiribosa tidak memiliki atom oksigen pada karbon kedua
dalam cincinnya.

2. Sel
Sel adalah kumpulan materi paling sederhana yang dapat hidup dan
merupakan unit penyusun semua makhluk hidup. Keanekaragaman sel meliputi
bentuk dan ukuran sel, ketebalan dan penyusun dinding sel. Pada satu organ daun
dapat dilihat beberapa jaringan dengan masing - masing sel penyusunya. Sel
Epidermis berbeda dengan Sel Palisade. Sel epidermis berdinding tebal dan
tersusun rapat, serta biasanya berbentuk kotak. Sedangkan sel palisade berbentuk
panjang dan mengandung kloroplas di dalamnya.

26

3. Jaringan
Jaringan adalah kumpulan dari sel - sel yang memiliki bentuk yang sama
membentuk suatu kesatuan untuk menjalankan tugas yang sama. Sebelumnya
telah dijelaskan keanekaragaman tingkat sel, sehingga ketika masing - masing sel
yang beranekaragam tersebut saling bersatu dengan yang sejenisnya akan
membentuk jaringan - jaringan yang beranekaragam pula.
Misalnya keanekaragaman jaringan penguat. Terdapat dua macam jaringan
penguat yaitu kolenkim dan sklerenkim. Perbedaan keduanya adalah sebagai
berikut.

27

4. Organ
Jaringan - jaringan yang menyatu dan saling mendukung satu sama lain
dengan suatu tujuan tertentu akan membentuk sebuah organ. Dalam satu
tumbuhan terdapat organ - organ yang menyusunnya. Antara satu organ dengan
organ yang lain memiliki ciri dan sifat yang berbeda - beda. Misalnya bunga
sepatu Hibiscus rosa sinensis penyusunya adalah organ akar, batang, daun, dan

bunga. Kempat organ tersebut berbeda ukuran, bentuk, dan fungsinya.


Selain dalam satu individu keanekaragaman organ dapat terjadi dalam
beberapa tumbuhan. Misalnya tumbuhan dikotil dan monokotil, dua kelas
tersebut terdiri dari beberapa tumbuhan dengan organ yang berbeda.

5. Sistem Organ
Sistem organ adalah unit kesatuan yang bekerja bersama - sama yang
terdidi dari beberapa organ penyusun. Dalam tumbuhan terdapat beberapa sistem
yang berjalan, satu sistem berbeda dengan sistem yang lain. Misalnya dalam satu
tumbuhan terdapat sistem peyerapan zat - zat hara dan sistem pembagian hasil
fotosintesis. Penyerapan unsur hara yang akan digunakan untuk proses fotosintesis
meliputi organ akar, batang yang mencangkup jaringan xilem dan daun.
Sedangkan pembagian hasil fotosintesis meliputi daun, batang yang mencangkup
jaringan floem dan seluruh organ - organ dalam tumbuhan.

28

6. Organismee atau Individu


Organismee satu akan berbeda dengan organismee yang lain. Dalam suatu spesies
akan terdiri dari banyak organismee, meskipun satu jenis namun organismee satu
dengan organismee yang lain tetap akan memiliki perbedaan.
tertentu.
Keanekaragaman tumbuhan berdasarkan tingkat taksonomi
Kelompok taksonomi pada takson yang sama memiliki katagori yang sama.
Urutan takson dari yang tertinggi sampai terendah seperti berikut:
1. Kingdom (Kerajaan)
2. Divisi
3. Class (Kelas)
4. Ordo (Bangsa)
5. Familia (Suku)
6. Genus (Marga)
7. Spesies (Jenis)
8. Anak Jenis
9. Varietas
10. Anak Varietas
11. Forma
12. Anak Forma

Keanekaragaman Kingdom
Kingdom merupakan tingkatan takson teringgi pada dunia tumbuhan
takson tertinggi adalah Plantae. Contoh keanekaragaman tumbuhan pada
tingkat kingdom yaitu Plantae.

Keanekaragaman Divisi
Divisi merupakan tingkatan takson dibawah kingdom. Divisi digunakan
pada dunia tumbuhan sedangkan untuk dunia hewan yaitu filum. Contoh
keanekaragaman tingkat divisi yaitu keanekaragaman pada tingkat
29

kingdom meliputi divisi Bryophyta, Pteridophyta, dan Spermatophyta


Spermatophyta.
Bryophyta merupakan divisi untuk tumbuhan lumut, pteridophyta
merupakan divisi untuk tumbuhan paku dan spermatophyta merupakan
divisi untuk tumbuhan berbiji yang terdiri dari Angiospermae dan
Gymnospermae.

Keanekaragaman Class
Class atau kelas merupakan tingkat takson dibawah takson divisi. Contoh
keanekaragaman dalam tingkat class dalam satu divisi yaitu dari divisi
Byophyta terdapat class Hepaticae (lumut hati), Anthocerotopsida (lumut
tanduk), dan Bryopsida (lumut sejati).

Contoh lain keanekaragaman class dari divisi Pteridophyta yaitu terdapat


class Psilophytinae, Lycopodiinae, Equisetinae dan Filicinae.

30

Keanekaragaman Ordo
Ordo merupakan tingkat

takson dibawah takson class.

Conroh

keanekaragaman ordo dalam satu class yaitu dalam class Gnetinae yaitu
terdapat ordo Ephedrales, Gnetales dan Welwitschiales.

Keanekaragaman Famili
Famili adalah suatu kelompok organismee yang bersuku dekat dengan
cirri-ciri yang sama. Famili adalah tingkatan takson dibawah. Contoh
keanekaragaman famili dalam satu ordo yaitu pada ordo Taxales terdapat
famili Taxaceae dan Cephalotaxaceae. Contoh lain yaitu pada ordo
Passiflorales yaitu terdapat famili Caricaceae dan Cucurbitaceae.

Keanekaragaman Genus
Genus atau marga merupakan tingkat takson dibawah takson ordo. Contoh
keanekaragaman genus dalam satu famili yaitu pada famili Arecaceae
yaitu terdapat genus Cocos, Arenga, Borassusdan Areca.

Keanekaragaman Spesies
Spesies atau jenis merupakan tingkat takson dibawah takson genus.
Contoh keanekaragaman spesies dalam satu genus yaitu pada genus
Solanum yaitu terdapat spesies Solanum nigrum, Solanum betaceum,
Solanum melongena L. dan Solanum mammosum.

31

Kemudian untuk keanekaragaman spesies pada tingkat famili yaitu famili


Leguminosae yaitu terdapat spesies pete cina (Leucaena glauca), kacang
panjang (Vigna sinensis), kacang tanah (Arachis hypogaea), kacang kapri
(Pisum sativum), kacang hijau (Phasseolus radiatus) dan kacang buncis
(Phasseolus vulgaris).

Keanekaragaman Subspesies (Anak Jenis)


Subspesies merupakan satu tingkat takson dibawah takson spesies/jenis.
Contoh keanekaragaman tingkat subspesies yaitu pada spesies/jenis Musa
sp yaitu terdapat subspesies Musa acuminata ssp banksii,Musa acuminata
ssp sumatrana, dan Musa acuminata ssp malaccensis.

Musa acuminata ssp banksii

Musa acuminata ssp sumatrana

32

Musa acuminata ssp malaccensis

Keanekaragaman Varietas
Suatu populasi yang terdiri dari beberapa biotipe dengan sifat-sifat
morfologi yang jelas, serta mempunyai daerah persebaran secara lokal
yang tegas dalam daerah persebaran populasi jenisnya (Sudarsono dkk,
2005: 26).

Contoh keanekaragaman tingkat varietas yaitu pada jenis

Dendrobium sanderae antara lain Dendrobium sanderae var. Luzonense,


Dendrobium

sanderae

var.

Major,

Dendrobium

sanderae

var.

Parviflorum, dan Dendrobium sanderae var. Surigaoense.

Dendrobium sanderae var. Luzonense

Dendrobium sanderae var. Major

Dendrobium sanderae var. Parviflorum Dendrobium sanderae var. Surigaoense.


33

Keanekaragaman Forma
Suatu populasi yang terdiri dari beberapa biotipe yang terdapat secara
sporadit dalam populasi sejenisnya tanpa mempunyai pola persebaran
yang jelas, baik secara lokal maupun kawasan dan berbeda dari kelompok
biotipe jenis yang sama dalam beberapa sifat morfologi (Sudarsono dkk,
2005: 26). Contoh keanekaragaman forma yaitu terdapat pada spesies
Musa acuminata antara lain Musa acuminata f cerifer dan Musa
acuminata f retilides.

34

DAFTAR ISI

Campbell.2008.BIOLOGI, alih bahasa: Damaring Tyas Wukandari, S.Si. Jakarta:


Erlangga

35

Keanekaragaman Tumbuhan Berdasarkan Letak


Lintang dan Ketinggian
(Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Keanekaragaman Tumbuhan)

Dosen Pengampu: Sudarsono, M.Si.

Disusun oleh:
1. Septiana Damayanti

14304241008

2. Sifaul Faidah

14304241009

Kelompok 3/ Pendidikan Biologi A 2014

JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2015

36

BAB I
PENDAHULUAN

Organismee

yang

terdapat

Keanekaragaman ini bisa

di

bumi

sangat

diamati baik secara

beraneka

ragam.

mikroskopis maupun

makroskopis. Untuk memudahkan mempelajari keanekaragaman tersebut, para


ilmuwan menggolongkan keanekaragaman menjadi tiga tingkat yaitu
keanekaragaman

tingkat

spesies,

keanekaragaman

genetik

serta

keanekaragaman komunitas (World Wedlife Fund: 1989).


Keaneakaragaman tingkat spesies bisa diartikan bahwa sekelompok
individu mempunyai karakteristik yang berbeda dengan kelompok-kelompok
individu lain baik secara morfologi, fisiologi maupun secara biokimia.
Keanekaragaman genetik terjadi karena setiap individu mempunyai susunan
genetik

yang

khas

dan

berbeda

dengan

individu

lain.

Sedangkan

keanekaragaman komunitas adalah sejumlah spesies yang menempati suatu


tempat kemudian saling berinteraksi satu sama lain.
Keanekaragaman bisa kita lihat pada berbagai objek biologi. Salah satunya
adalah keaneka ragaman tumbuhan. Keanekaragaman tumbuhan terdiri dari
tumbuhan tingkat tinggi sampai tumbuhan tingkat rendah. Alam tumbuhan
kurang lebih sebanyak 300.000 jenis yang meliputi tumbuhan belah
(Schizophyta) 35.000 jenis, tumbuhan talus (Thallophyta selain Schizophyta)
60.000 jenis, tumbuhan lumut (Bryophyta) 25.000 jenis, tumbuhan paku
(Pteridophyta) 10.000 jenis dan tumbuhan berbiji (Spermatophyta) 120.00 jenis
(Sudarsono: 2005).
Salah satu dasar pengelompokkan tumbuhan yaitu dengan sumber bukti
morfologi tumbuhan. Sifat dan ciri morfologi yang sering dipakai adalah:
1. Sifat dan ciri vegetatif, meliputi perawakan, organ dalam tanah, akar,
batang dan daun.
2. Sifat dan ciri generatif, meliputi bunga, buah dan biji.
3. Sifat dan ciri ontogeni.
37

Sumber bukti morfologi bisa dijadikan parameter perbedaan antar spesies.


Akan tetapi diperlukan dasar pengelompokkan ini juga harus didukung dengan
sumber bukti taksonomi yang lain.

38

BAB II
PEMBAHASAN

Ekologi merupakan studi hubungan timbal balik diantara organismeeorganismee, dan antara organismee itu dan lingkungannya. Lingkungan yang
dimaksud adalah semua kondisi luar dan semua faktor yang mempengaruhi
kehidupan dan perkembangan di suatu tempat. Faktor ekologi atau faktor
lingkungan dapat dikelompokkan menjadi 3 kategori utama: (1) faktor iklim,
seperti misalnya presipitasi, temperatur udara, kelembapan udara, angin, cahaya;
(2) faktor tanah, seperti misalnya temperatur tanah, sifat-sifat kimia, dan fisik
tanah dan (3) faktor bionic, yaitu hasil kegiatan tumbuhan sendiri, serta binatang
dan manusia.
Faktor-faktor ekologi

atau faktor-faktor lingkungan itu banyak dan

beranekaragam, dan sering kali bercampur secara rumit dan saling bergantungan.
Baik secara berpisah-pisah maupun kombinasi, berbagai faktor ekologi dapat
berpengaruh ketidak hadiran atau kehadiran, kesuburan atau kelemahan,
keberhasilan atau kegagalan relative berbagai komunitas tumbuhan melalui
takson-takson penyusunya.
Faktor-faktor lingkungan ini bersifat kompleks, tidak bertindak sendirisendiri melainkan merupakan suatu satu kesatuan yang saling berinteraksi di
antara sesamanya dan bekerja bersama secara serentak terhadap tumbuhan.
Faktor-faktor tersebut bersifat dinamis dalam arti intensitas faktor-faktor tersebut
berubah-ubah setiap waktu, dalam jam, hari, dan musim.
1. Faktor Iklim
Faktor-faktor iklim meliputi sifat-sifat umum iklim daerah, kadang-kadang
bersifat beraturan, misalnya menunjukkan fluktuasi berdaur harian, musiman,
atau berjangka panjang.

39

a. Temperatur
Temperatur dan presipitasi adalah faktor-faktor iklim utama yang
menentukan tumbuhnya berbagai macam jenis tumbuhan dan pola
penyebaran vegetasi. Kedua faktor itu yang merupakan yang paling dekat
hubungannya dengan ketahanan tumbuhan. Temperatur mempengaruhi
semua kegiatan tumbuhan, seperti absorbs air, fotosintesis, transpirasi,
respirasi, perkecabahan, tumbuh dan reproduksi. Perbedaan yang besar
dalam suhu, durasi, dan lamanya masa tumbuh adalah faktor-faktor yang
penting. Faktor terakhir terutama menentukan tanaman apa yang dapat
dibudidayakan pada suatu daerah.
Tanaman kapas terbatas pada daerah yang tidak banyak curah
hujannya karena tumbuhan ini meminta masa hangat untuk tumbuh selam
sekurang-kurangnya 200 hari. Telah coba ditanam di Indonesia bagian
timur, di jawa Tengah dan Jawa Timur sebelah utara yang curah hujannya
rendah sekali.
Berlawanan dengan kapas, beberapa varietas jagung dan gandum
dapat menjadi matang kurang dari 100 hari. Yang terakhir sudah pul dicoba
tanam di daerah pegunungan di Jawa Barat.
Tanaman tropika seperti karet (Hevea brasiliensis), coklat (
Theobroma cacao), dan pisang (Musa sapientum) tidak dapat tumbuh
dengan baik di daerah beriklim dingin. Sebaliknya tanaman sayuran seperti
kentang, kol, kacang polong tidak dapat tumbuh di daerah yang panas,
namun dapat hidup di Utara sejauh Alaska.
Temperatur yang rendah hampir sama pengaruhnya dengan temperatur
tinggi.

Keduanya

sama-sama

mempengaruhi

proses

metabolisme

tumbuhan. Pengaruh temperatur rendah umumnya dijumpai di daerahdaerah subtropika, yang kadang-kadang mengalami musim dingin yang
dingin sekali sehingga dapat menyebabkan kematian tumbuhan karena
rusaknya sistem akar, pepagan, dan kuncup. Matinya tumbuhan yang
terkena suhu rendah sekali bukan disebabkan oleh pengaruhnya yang
langsung melainkan karena karena akibat terbentuknya es di dalam
40

jaringan. Terjadinya Kristal es di dalam protoplas biasanya berakibat


matinya sel tersebut. Pada temperatur di bawah titik beku , tekanan difusi
dalam air berbentuk cairan. Akibatnya air cenderung terdifusi dari sel-sel
dan berkumpul sebagai es interseluler. Hilangnya air dari sel-sel
mengakibatkan dehidrasi pda protoplasma dan dapat menyebabkan (ketika
suhu turun) koagulasi protoplasma dan kematian sel-sel tersebut. Jadi
matinya sel disebabkan oleh desikasi dan bukan oleh pembekuan.
Demikian pula hal yang dijumpai di daerah beriklim panas. Tingginya
temperatur mengakibatkan tumbuhan menjadi layu karena lebih banyak air
yang ditranspirasikan ke udara daripada yang diabsorpsi oleh akar.
Akibatnya tumbuhan menjadi layu karena kekeringan dan bila keadaan ini
berlangsung lama dapat menyebabkan kematian.

b. Presipitasi (curah hujan)


Curah hujan tanaman merupakan salah satu faktor utama dalam
menentukan distribusi tumbuhan. Meskipun demikian, pengaruhnya dapat
berubah oleh penyebaran hujan selama setahun, jumlah hujan pada suatu
saat, kemiringan tanah, kapasitas lapang tanah, kecepatan angin, dan
temperatur udara. Pada umumnya hutan menduduki daerah yang terbanyak
curah hujannya, sedangkan gurun yang paling rendah, dan diantara kedua
in ialah padang rumput dengan curah hujan yang sedang.
Untuk pertanian, distribusi hujan selama setahun lebih penting
daripada jumlah totalnya. Hujan yang lebat dan mendadak kurang
menguntungkan karena sebagian besar airnya hilang dari permukaan tanah
sebagai air larian, maka tanah akan menjadi tererosi.
Temperatur udara merupakan faktor yanga penting dalam menentukan
tingkat keefektifan hujan. Temperatur tinggi akan meningkatkan laju
evapotranspirasi di daerah yang panas misalnya, mungkin dibutuhkan air
sebanyak dua kali jumlah yang diperlukan tanaman yang sama di daerah
yang lebih dingin.

41

Berdasarkan adaptasi terhadap air, tumbuhan dapat dikelompokkan


menjadi tiga golongan, yaitu: (1) mesofit, (2) xerofit, dan (3) hidrofit.
Mesofit tumbuh pada keadaan lingkungan yang tidak terlalu basah maupun
amat kering, seperti misalnya lapangan rumput, hutan-hutan di daerah
beriklim ugahari dan daerah-daerah tertentu di tropika. Hampir semua
tumbuhan berpembuluh termasuk mesofit, jadi tidak asing bagi kita. Sukar
dekali menarik garis batas antara tumbuhan yang beradaptasi terhadap
lingkungan kering di satu pihak dan lingkungannya basah di pihak lain.
Xerofit ialah tumbuhan yang beradaptasi terhadap keadaan kering atau
habitat yang terbatas suplai airnya. Xerofit khas bagi daerah gurun dan
daerah semi-gurun. Dapat juga tumbuh di daerah mesofitik, yaitu di
tempat-tempat yang ketersediaan ainya kadang-kadang sangat terbatas,
seperti pada bukit pasir, tanah datar dari pegunungan, jurang, karang yag
terjal, atau daerah pantai. Juga terdapat di daerah yang mempunyai
perbedaan musim panas dan dingin yang jelas.
Hidrofit tumbuh dengan sebagian atau seluruhnya di dalam air atau
dekat air. Beberapa tumbuh di daratan dengan akar dalam tanah yang
basah. Baik xerofit maupun hidrofit diduga bersal dari mesofit yang oleh
perubahan evolusioner menjadi teradaptasi terhadap lingkungannya yang
baru.
Bentuk lain presipitasi adalah salju (yang dapat terletak di tanah untuk
membentuk selimut pelindung dan juga dan cadangan air, tetapi mungkin
dapat membatasi musim pertumbuhan karena kasib leburnya), hujan es
(yang dapat menimbulkan kerusaka serius terutama pada tanaman muda),
hujan es dan salju, embun (yang penting di beberapa gurun, yang
menyediakan banyak air di permukaan dan pada tersedianya air inilah
bergantung kehidupan tumbuhan efemetal)

c. Cahaya
Cahaya adalah faktor penting ketiga dalam ekologi yang membantu
menentukan

penyebaran

dan

pembentukan

masyarakat

tumbuhan.
42

Pengaruh cahaya terhadap pertumbuhan, pembungaan dan fotosintesis


sudah di bahas. Suatu pengaruh yang nyata ialah bahwa intensitas cahaya
rendah menyebabkan pertumbuhan terhambat pada rumput-rumputan yang
dinaungi pohon-pohon. Di dalam hutan, tajuk pohon saling menutupi
sehingga cahaya tidak dapat tembus ke permukaan tanah. Tumbuhan di
lapisan bawah tidak dapat tumbuh dan berkembang menjadi besar selama
cahaya tidak ke bawah. Jadi, hanyalah jika ada pohon besar tumbang maka
tumbuhan di bawah ini tumbuh dan berkembang.
Berdasarkan adaptasinya terhadap cahaya ada jenis-jenis tumbuhan
yang memerlukan cahaya penuh atau disebut peka naungan, seperti
misalnya bunga matahari dan berbagai jenis rumput. Selain itu ada pula
tumbuhan yang tahan naungan, yaitu tumbuhan yang justru perlu naungan
untuk pertumbuhannya. Sebagai contoh diantaranya ialah tanaman kopi dan
coklat.
Ketahanan terhadap naungan penting sekali pada jenis-jenis pohon
hutan, karena bibit pohon hutan harus dapat menetap di bawah naungan
dapat bertahan hidup dengan hanya 2-3% intensitas cahaya matahari penuh,
tetapi akan mati pada umur yang lebih tua karena keperluan makanannya
meningkat. Sejumalah jenis tumbuhan dapat tumbuh beberapa waktu
lamanya dengan cahaya sebanyak 4-5% cahaya matahari penuh. Tumbuhan
jenis ini dapat segera cepat tumbuh dengan cepat bila tajuk pohon yang
sudah tua rusak sehingga lebih banyak cahaya yang dapat menembusnya.
Meskipun ketahanan

semacam ini penting dalam menentukan

kehidupan jenis-jenis tumbuhan di suatu daerah tertentu, namun persaingan


dalam hal air dan unsur-unsur esensial oleh akar ternyata lebih penting
daripada yang disangka umum. Di beberapa tempat cahaya merupakan
faktor yang lebih penting. Di tempat lain cahaya dan persaingan akar
bersama-sama mempengaruhi adanya atau unggulnya suatu spesies
tertentu. Suatu pengetahuan tentang toleransi (ketahanan) jenis-jenis pohon
kayu yang bernilai itu teramat penting dalam pengelolaan hutan.

43

d. Suhu
Faktor ini mempunyai arti yang vital, karena suhu menentukan
kecepatan-kecepatan

reaksi

dan

kegiatan-kegiatan

kimiawi

yang

mencangkup kehidupan. Mintakat besar vegetasi dunia, seperti mintakatmintakat menurut ketinggian, terutama bergantung pada suhu, dan untuk
mudahnya kita membedakan tumbuhan yang megaterm (tumbuhan yang
menyukai habitat yang panas), mikroterm (tumbuhan yang menyukai
habitat yang dingin), mesoterm (diantaranya).
Tumbuhan yang berbeda, teradaptasi secara berbeda-beda terhadap
keadaan suhu yang menyangkut, minimum, optimum, dan maksimum
untuk hidupnya secara keseluruhan, demikian pula untuk komponenkomponen fungsi fisiologisnya, kendati suhu sebenarnya dapat berubah
pada variasi kondisi yang berbeda dan menurut keadaan tumbuhan (dan
tentu saja juga berbeda-beda pada tumbuhan yang berlainan).
Musim dingin (winter) secara formal merupakan periode istirahat,
dengan aktivitas minimal di daerah-daerah beriklim sedang, walaupun
banyak jenis tumbuhan tetap giat pada suhu yang lebih rendah di daerah
darat dan perairan kutub, beberapa diantaranya bahkan di bawah 0C. Di
lain pihak, suhu di atas titik beku sudah bersifat letal (mematikan) untuk
tumbuhan daerah tropika; demikian pula suhu diatas 45C, bila evaporasi
tidak menyebabkan turunnya suhu dan menyelamatkannya. Biarpun
demikian mungkin ada beberapa tempat yang secara alami terlalu panas
atau terlalu dingin untuk tumbuhan manapun. Yang secara langsung
bersifat penting adalah awan dan lain-lain pengaruh yang menurunkan
banyaknya penyinaran secara langsung, dan lembab nisbi yang besar
pengaruhnya terhadap kehilangan air oleh penguapan.

e. Daya Penguapan
Daya penguapan udara merupakan suatu yang penting sekali bagi
kehidupan tumbuhan, karean langsung berpengaruh terhadap transpirasi
tumbuhan. Daya penguapan kira-kira ditunjukkan oleh kelembapan nisbi
44

(perbandingan uap air yang terdapat dalam atmosfer dengan yang


diperlukan untuk kejenuhan pada suhu tertentu), atau lebih cermat oleh
defisit-kejenuhan, yang juga memperhatikan suhu, dan memnentukan
tarikan yang dilakukan oleh atmosfer dari rumah tangga air tumbuhan.
Lembab nisbi pada umumnya diukur dengan perantaraan suatu bola
basah dan kering higrometer (psikrometer) yang suhu bola termometer
basah dan kering memberikan ukuran kekurangan uap air di bawah titik
kejenuhan dalam udara yang diuji, sedang kekurangan kejenuhan dapat
dihitung langsung dari pembacaan yang berbeda. Meskipun instrument ini
digoyang di dalam udara yang memacu adanya angin dan menggantikan
setipa lapisan yang jenuh yang terbetuk di sekitar bola yang basah, yang
dari sudut pandang kita yang paling baik adalah bila dibiarkan stasioner
(tidak bergerak) seperti tumbuhannya sendiri. Higrometerpun hanya
memberikan pembacaan pada waktu tertentu; seringkali yang lebih penting
adalah untuk mengetahui pengaruh selama waktu tertentu, dan ini dapat
diukur dengan menggunakan atmometer (evaporimeter, alat pengukur
penguapan) yang menunjukkan kehilangan air melalui penguapan dari
suatu luas tertentudari suatu pot yang berpori.
Penguapan mengintegrasikan kandungan uap air dalam udara dengan
suhu, air dan faktor waku, dan dapat dibandingkan dengan tumbuhan yang
ditempatkan disamping. Atau untuk pencatatan yang kontinu pelacakan
dapat dilakukan dengan menggunakan higograf automatik, seperti yang
menggunakan berkas rambut manusia yang sangat peka terhadap
perubahan-perubahana kelembapan udara. Suatu deretan alat-alat demikian
sering akan menunjukkan perbedaan yang nyata dala lapisan hutan yang
tingginya berbeda-beda, misalnya menunjukkan variasi setempatyang dapt
mempunyai arti penting sekali dalam pengaruh tarikan yang dilakukan
pada tumbuhan yang berbeda, pada tumbuhan yang sama pada waktu yang
berlainan, atau bahkan pada bagian yang berbeda pada tumbuhan yang
sama pada waktu tertentu.

45

f. Angin
Karena ada gesekan dengan permukaan tanah,, batuan, bangunan
(gedung) dan selain itu semua sifat-sifat
sifat
fisiografi
fi utama dan masa
vegetasi, angin cenderung untuk meningkatkan kecepatannya dengan
semakin tinggi dari permukaan tanah. Angin pada umunya mempengaruhi
faktor-faktor
faktor ekologi lainnya di suatu tempat, misalnya kandungan air
dalam udara dan suhu, melalui pengaruhnya
pengaruhnya terhadap penguapan air, tetapi
juga dapat mempunyai pengaruh langsung terhadap vegetasi, terutama
dengan menumbangkan pohon
pohon-pohon
pohon atau dengan mematahkan dahan
dahandahan atau bagian-bagian
bagian
lain.
Angin mempunyai pengaruh yang sama terhadap tanah, biasanya
biasany
bersifat mengeringkan, atau kadang-kadang
kadang kadang dapat bertindak dengan arah
yang berlawanan dengan membawa udara yang lebih basah yang menunkan
transpirasi dan evaporasi, dan mungkin sebenarnya menyebakan terjadinya
turun hujan.
Beberapa Jenis Flora Di Indonesia
Indone Yang Dipengaruhi Oleh Iklim
a. Hutan Hujan Tropis

Hutan hujan tropis merupakan jenis vegetasi yang paling subur. Hutan
jenis ini terdapat di wilayah baru tropika atau didekat wilayah tropika di bumi
46

yang menerima curah hujan berlimpah sekitar 20004000 mm setahunnya.


Suhunya tinggi (sekitar 2526C) dan seragam, dengan kelembaban rata-rata
sekitar 80%. Komponen dasar hutan itu adalah pohon tinggi dengan tinggi
maksimun rata-rata 30 m. Tajuk pepohonan dengan tumbuhan terna,
perambat, epifit, pencekik, saprofit dan parasit (Ewusie, 1980).
Hutan hujan tropik (tropical rain forest) terdapat di daerah tropis basah
dengan curah hujan tinggi sepanjang tahun, seperti di Amerika Tengah dan
Selatan, Afrika, Asia Tenggara Timur Laut. Dalam kawasan ini pohonpohonnya tinggi, pada umumnya berdaun lebar, hijau dan jenisnya besar
(Syahbuddin, 1987).
Sebagian besar hutan-hutan di Indonesia termasuk dalam hutan hujan
tropis, yang merupakan masyarakat yang kompleks, tempat yang menyediakan
pohon dari berbagai ukuran. Di dalam kanopi iklim mikro berbeda dengan
keadaan sekitarnya, cahaya lebih sedikit, kelembaban sangat tinggi, dan
Universitas Sumatera Utara temperatur lebih rendah. Pohon pohon kecil
berkembang dalam naungan pohon yang lebih besar, di dalam iklim mikro
inilah terjadi pertumbuhan. Di dalam lingkungan pohon-pohon dengan iklim
mikro inilah terjadi pertumbuhan. Di dalam lingkungan pohon-pohon dengan
iklim mikro dari kanopi berkembang juga tumbuhan yang lain seperti
tumbuhan jenis liana (merambat), pemanjat, epifit, tumbuhan pencekik, parasit
dan saprofit (Irwanto, 2006). Ciri-ciri Bioma hutan hujan tropis ini adalah:

Iklim tropis

Suhu normal (25-30C)

Kelembapan udara tinggi

Curah hujan tinggi

Keanekaragam hayati tinggi

Tumbuh pepohonan tinggi (20-40 m) sehingga membentuk tudung/kanopi

Cahaya matahari tidak dapat masuk ke dalam tanah

Tumbuhan-tumbuhan jenis liana (merambat)


47

b. Hutan Musim/Hutan Gugur

Hutan

gugur

monsun (monsoon
monsoon

daun
forest
forest)

tropika, hutan
adalah

musim

tropika atau hutan

suatu bioma berupa hutan di

wilayah tropika dan subtropika yang memiliki iklim hangat sepanjang tahun,
namun mengalami musim kering (kemarau) yang panjang selama beberapa
bulan. Ciri khas bioma hutan gugur adalah tumbuhannya sewaktu musim
dingin, daun daunnya meranggas. Bioma ini dapat dijumpai di Amerika
Serikat, Eropa Barat, Asia Timur, dan Chili. Walaupun wilayah ini dicurahi
hujan hingga beberapa ratus milimeter tiap tahunnya bahkan lebih, musim
kering panjang itu memaksa kebanyakan tumbuhan menggugurkan
menggugurkan daun
daundaunnya, dan dengan demikian memengaruhi kehidupan makhluk di dalam
hutan itu. Itulah sebabnya hutan ini disebut musiman, atau ada pula yang
menyebutnya hutan luruh daun.
daun
Musim panas pada bioma hutan gugur, energi radiasi matahari yang
diterima cukup tinggi, demikian pula dengan presipitasi (curah hujan) dan
kelembaban. Kondisi ini menyebabkan pohon-pohon
pohon tinggi tumbuh dengan
baik, tetapi cahaya masih dapat menembus ke dasar, karena dedaunan tidak
begitu lebat tumbuhnya. Konsumen yang ada di daerah ini adalah serangga,
burung, bajing, dan racoon yaitu hewan sebangsa luwak/musang. Pada saat
menjelang musim dingin, radiasi sinar matahari mulai berkurang, subu mulai
48

turun. Tumbuhan mulai sulit mendapatkan air sehingga daun menjadi merah,
coklat akhirnya gugur, sehingga musim itu disebut musim gugur. Pada saat
musim dingin, tumbuhan gundul dan tidak melakukan kegiatan fotosentesis.
Beberapa jenis hewan melakukan hibernasi (tidur pada musim dingin).
Menjelang musim panas, suhu naik, salju mencair, tumbuhan mulai berdaun
kembali (bersemi) sehingga disebut musim semi.
Di Kepulauan Nusantara, terdapat pula sebuah sabuk hutan musim
tropika, yang melintas di kurang lebih kawasan Wallace sebelah utara,
melintasi Sulawesi dan sebagian Maluku, menyeberang kee selatan hingga
wilayah Nusa

Tenggara, Bali dan Jawa.

Keringnya

wilayah-wilayah
wilayah ini

terutama disebabkan olehangin monsun yang membawa perbedaan musiman


yang jelas dalam jumlah curah hujan bulanan.
bulanan Cirri-ciri
ciri dari bioma ini dalah:

Iklim sedang/dingin

Curah hujan
ujan merata sepanjang tahun, 75-100
75
cm/tahun.

Kepadatan pohon atau kerapatan spesiesnya kecil

Jenis pohon yang tumbuh: pohon bek, berangan, maple, redwood

c. Gurun

Gurun atau padang pasir adalah suatu daerah yang menerima curah
hujan yang sedikit-kurang
kurang dari 250 mm per tahun. Gurun/padang pasir
biasanya terletak disepanjang garis balik 231/2LU dan LS yang biasanya
merupakan daerah-daerah
daerah yang vegetasinya sangat miskin. Bioma ini paling
49

luas terpusat di sekitar 20LU, mulai dari Pantai Atlantik di Afrika hingga ke
Asia Tengah. Sepanjang daerah itu terdapat kompleks gurun Sahara, Gurun
Arab dan Gurun Gobi dengan luas mencapai 10 juta km persegi. Gurun juga
dianggap memiliki kemampuan kecil untuk mendukung kehidupan. Jika
dibandingkan dengan wilayah yang lebih basah hal ini mungkin benar,
walaupun jika diamati secara seksama, gurun sering kali memiliki kehidupan
yang

biasanya

tersembunyi

(khususnya

pada

siang

hari)

untuk

mempertahankan cairan tubuh. Kurang lebih sepertiga wilayah bumi adalah


berbentuk gurun.
Di Indonesia gurun pasir atau padang pasir dapat ditemui di dekat
Pantai Parangtritis, Bantul, Yogyakarta. Warga sekitar menyebutnya dengan
daerah Gumuk Pasir dan di wilayah Gunung Bromo. Uniknya walaupun
sama-sama padang pasir tapi pemandangan dikeduanya berbeda. Ciri-ciri dari
bioma gurun ini adalah

Gersang dan curah hujan rendah (25 cm/tahun).

Tanah berupa pasir atau kerikil kering

Intensitas matahari tinggi

Suhu siang hari tinggi (bisa mendapai 40-60C) sehingga penguapan


(evaporasi) juga tinggi, sedangkan malam hari suhu sangat rendah (bisa
mencapai 0C).

Perbedaan suhu antara siang dan malam sangat besar.

Kelembapan udara rendah

Curah hujan rendah, kurang dari 25 cm/tahun

Jumlah air terbatas

Tumbuhan yang hidup di daerah gurun umumnya tumbuhan yang


mempunyai daun yang kecil seperti duri dan berakar panjang, seperti
kaktus, semak-semak, alang-alang, kurma, dan palem.

50

d. Tundra

Bioma tundra merupakan bioma yang terdapat di sekitar lingkar


Artik, Greenland di wilayah kutub utara dan di wilayah kutub selatan
terdapat di Antartika dan pulau-pulau
pulau kecil disekitar Antartika. Bioma
tundra berdasarkan pembagian iklim terdapat di daerah beriklim es abadi
a
(ET) dan iklim Tundra (ET) sehingga iklimnya adalah iklim kutub. Istilah
tundra berarti dataran tanpa pohon, vegetasinya didominasi oleh lumut dan
lumut kerak, vegetasi lainnya adalah rumput-rumputan
rumput rumputan dan sedikit
tumbuhan berbunga berukuran kecil. Pada bioma ini tidak terdapat
pepohonan yang dapat tumbuh, yang ada hanya tumbuhan kecil sejenis
rumput dan lumut.

51

Secara altituda bentang alam vertikal (berdasarkan ketinggian-altimeter)


sebenarnya Negara Indonesia bisa juga didapatkan Bioma Tundra meskipun di
daerah tropis, caranya mudah kita cari tempat / pegunungan yang sangat tinggi
pada semua garis lintang. Pada area ini, mayoritas tumbuhan yang hidup
biasanya berupa lumut kerak, Bryophyta (lumut) rerumputan, dan pohon dari
bangsa Conifer, kemudian diakhiri dengan hamparan Lichenes yang tertutup
padang, yang disebut Bioma Tundra (Pegunungan Jaya Wijaya Irian Jaya).
Jenis-jenis vegetasi yang dapat hidup di bioma tundra misalnya lumut kerak,
lumut Sphagnum, rumput dan tumbuhan pendek lainnya yang biasanya hanya
berumur 4 bulan. Ciri-ciri dari bioma ini adalah:

Hampir semua wilayahnya tertutup oleh salju/es mudahnya gurun es .

Mendapat sedikit energi radiasi matahari, musim dingin sangat panjang


dapat berlangsung selama 9 bulan dengan suasana gelap.

Musim panas berlangsung selama 3 bulan, pada masa inilah vegetasi.

Memiliki musim dingin yang panjang dan gelap serta musim panas yang
panjang dan terang. Peristiwa ini terjadi karena gerak semu matahari hanya
sampai di posisi 23,5 LU/LS.

Permafrost (tanah bagian bawah yang membeku secara permanen)

Suhu yang sangat dingin,

Kecepatan angin yang tinggi dan suhu yang dingin menciptakan


komunitas tumbuhan yang sama, yang disebut tundra alpine

Sangat sedikit curah hujan tahunan, air tidak dapat menembus permafrost
di bawahnya dan akan menumpuk di dalam kolam di atas bunga tanah
yang dangkal selama musim panas yang pendek.

Tundra menutupi luas yang sangat besar di Arktik, yang mencapai 20 %


permukaan tanah Bumi.

Tumbuhan didominasi oleh rumput pendek, lumut Sphagnum, lumut kerak


(Lichens) dan bunga satu musim.

52

e. Stepa

Stepa adalah padang rumput yang tidak di selingi oleh kumpulankumpulan pepohonan, kalaupun ada hanya sedikit saja pepohonan yang ada.
Stepa dapat berupa semi-gurun, atau ditutupi oleh rumput atau semak atau
keduanya, tergantung dari musim dan garis lintang. Istilah ini juga digunakan
untuk menunjukkan iklim pada suatu daerah yang terlalu kering untuk
menunjang suatu hutan, tapi tidak cukup kering untuk menjadi gurun.
Bioma Stepa (padang rumput) terbentang dari daerah tropika sampai ke
daerah subtropika yang curah hujannya tidak cukup untuk perkembangan
hutan. Bioma Stepa berbeda dengan Bioma Sabana. Perbedaan antara Stepa
dengan Sabana adalah sebagai berikut:
Pada bioma Sabana merupakan padang rumput yang diselingi oleh
kumpulan pepohonan besar, sedangkan pada bioma Stepa merupakan
Persebaran bioma stepa terdapat di wilayah Hongaria (Puzta), Kanada (Great
Plains), Amerika Selatan (Pampa-Argentina), Rusia (Siberia), Amerika Serikat
(Praire), Australia, dan Selandia Baru. Di Indonesia Stepa juga dapat ditemui
di Nusa Tenggara dan di Taman Nasional Baluran, Jawa Timur. Ciri-ciri dari
bioma ini adalah:

terdapat di daerah peralihan antara iklim basah (hummid) dan iklim kering
(arid)

curah hujan antara 50-100 mm/tahun


53

curah hujan relatif rendah dan tidak teratur

porositas (air yang meresap ke tanah) dan drainase (pengairan) kurang


baik sehingga tumbuhan sulit mengambil air

tumbuhan yang mampu beradaptasi dengan lingkungan yang porositas dan


drainasenya kurang baik yaitu tumbuhan rumput dengan ketinggian 0,61,2 meter.

memiliki pohon yang khas, yaitu akasia

f. Sabana

Sabana adalah padang rumput yang dipenuhi oleh semak / perdu dan
diselingi oleh beberapa jenis pohon yang tumbuh menyebar, seperti palem
dan akasia. Sabana biasanya terbentuk di antara daerah tropis dan subtropis
yang curah hujannya sedikit. Beberapa benua yang memiliki padang sabana di
antaranya adalah Afrika, Amerika Selatan, dan Australia. Iklimnya tidak
terlalu kering untuk menjadi gurun pasir, tetapi tidak cukup basah untuk
menjadi hutan. Sabana juga di jumpai di kawasan tropis seperti Indonesia,
yaitu Sabana (Savana) di Kawasan Nusa Tenggara, seperti sabana di gunung
Rinjani.
Berdasarkan jenis tumbuhan yang menyusunnya, sabana dibedakan
menjadi dua, yaitu sabana murni dan sabana campuran.

54

Sabana murni: bila pohon-pohon yang menyusunnya hanya terdiri atas


satu jenis tumbuhan saja.

Sabana campuran: bila pohon-pohon penyusunnya terdiri dari campuran


berjenis-jenis pohon.
Ciri-ciri dari bioma ini adalah:

curah hujan kurang lebih 25-30 cm per tahun dan hujan turun tidak teratur.

porositas (peresapan air) tinggi dan drainase (aliran air) cepat.

tumbuhan yang ada terdiri atas tumbuhan terna (herbs) dan rumput yang
keduanya tergantung pada kelembapan.

2. Faktor-Faktor Tanah
Beberapa segi dari sifat-sifat tanah telah dikemukakan dalam hubungannya
dengan penelaah mengenai akar. Di antata faktor-faktor tanah yang
mempengaruhi penyebaran, pertumbuhan dan ketahanan ialah temperatur,
kandungan air, udara, dan bahan organik, struktur, komposisi mineral dan
derajat keasaman.
a. Temperatur Tanah
Temperatur tanah merupaan faktor nyata yang berpengaruh pada
pertumbuhan, pengaruhnya terutama pada absorbs air dan mineral. Pada
temperatur tanah rendah, laju absorpsi akan renadah pula karena respirasi
dan pertumbuhan akar yang rendah. Demikian pula halnya dengan bakteri
dalam tanah yang dingin menjadi tidak efektif, sehngga unsur-unsur hara
mineral menjadi kuarang tersedia bagi akar.
Rendahnya temperatur tanah dan temperatur udar, bersama-sama
dengan angin yang kuat, menyebabkan pertumbuhan di daerah pegunungan
menjadi kerdil. Seperti yang telah dikemukakan sebelumya, temperatur yang
rendah dapat mengakibatkan matinya tumbuhan karena terbentuknya es di
ruang intraseluker sel-sel hidup.

55

b. pH
Keasaman atau pH (potential of hidrogen) adalah nilai (pada skala 014) yang menggambarkan jumlah relatif ion H+ terhadap ion OH- di dalam
larutan tanah. Larutan tanah disebut bereaksi jika nilai pH berada pada
kisaran 0-6. Artinya, larutan tanah mengandung ion H+ dalam larutan tanah
lebih kecil dari pada ion OH- , larutan tanah disebut bereaksi basa (alkali)
atau memiliki nilai pH 8-14. Jika jumlah ion H+ di dalam larutan tanah sama
dengan jumlah ion OH- , larutan tanah disebut bereaksi netral dengan pH 7.
Semakin banyak kandungan ion H+ di dalam larutan tanah, reaksi tanah
tersebut akan semakin asam. Tanah bersifat asam karena berkurangnya
kation Kalsium, Magnesium, Kalium, atau Natrium. Unsur-unsur tersebut
terbawa oleh aliran air ke lapisan tanah yang lebih bawah (pencucian) atau
hilang diserap oleh tanaman. Karena ion-ion Universitas Sumatera Utara
positif yang melekat pada koloid tanah berkurang, kation pembentuk asam
seperti Hydrogen dan Alumunium akan menggantikannya. Terlalu banyak
pupuk Nitrogen, seperti ZA, juga menyebabkan tanah menjadi lebih asam
karena reaksinyaa didalam tanah menyebabkan peningkatan konsentrasi ion
H+

c. Tekstur tanah
Tekstur tanah adalah perbandingan relatif berbagai partikel tanah dalam
suatu massa tanah terutama perbandingan antara pasir, debu dan lempung.
Tekstur tanah sangat penting dalam kaitannya dengan kapasitas menampung
air dan udara tanah. Tanah dengan proporsi partikel partikel yang lebih
besar dapat mempunyai tata air yang baik. Tanah yang halus biasanya
memiliki potidak tersebar merata. Selain itu alirannya juga sangat lambat
sehingga tidak menguntungkan bagi tumbuh-tumbuhan.
Tanah-tanah yang butirannya terlalu kasar, seperti kerikil dan pasir
kasar, atau yang butirannya terlalu halus, seperti lempung kurang sesuai bagi
pertumbuhan vegetasi. Tanah yang baik bagi media pertumbuhan vegetasi
adalah tanah dengan komposisi perbandingan butiran pasir, debu, dan
56

lempungnya seimbang. Pasir adalah jenis butiran tanah yang kasar, debu
butirannya agak halus, sedangkan lempung merupakan butiran tanah yang
sangat halus.
d. Struktur tanah
Definisi dan Pengertian dari Struktur tanah adalah susunan agregat
primer tanah secara alami menjadi bentuk tertentu dibatasi oleh beberapa
bidang. Struktur tanah terbentuk karena penggabungan butir-butir primer
tanah oleh pengikat koloid tanah menjadi agregrat primer. Sekelompok
tanah terdiri dari gumpalan-gumpalan kecil beraneka bentuk yang disebut
agregat sekunder tanah. Bagian-bagian ini terbentuk dari penggabungan
butir-butir lebih kecil yang disebut agregat primer.
Agregat primer tersusun dari butir-butir mineral atau pecahan batuan
berbagai bentuk dan ukuran yang diselaputi oleh senyawa-senyawa hasil
pelapukan. Senyawa hasil pelapukan mineral dan pecahan batuan terdiri dari
koloid tanah, senyawa kapur, senyawa besi dan almunium yang bertindak
sebagai perekat yang menggabungkan agregat-agregat primer.
Penggabungan agregat primer menjadi bentukan yang masing-masing
bentukan tersebut dibatasi oleh bidang-bidang permukaan tertentu. Agregat
primer sering disebut struktur mikro, sedangkan agregat sekunder yang
merupakan struktur lapisan olah disebut struktur makro.
Struktur tanah yang baik adalah mengandung udara dan air dalam
jumlah cukup dan seimbang serta mantap. Struktur seperti ini hanya terdapat
pada ruang pori-pori besar dengan perbandingan yang sama antara pori-pori
makro dan mikro serta tahan terhadap kekuatan tetesan air hujan. Selain itu
struktur yang baik mempunyai perbandingan antara padatan, air dan udara
yang sama.

57

e. Porositas tanah
Porositas Tanah adalah ruang volume seluruh pori-pori makro dan mikro
dalam tanah yang dinyatakan dalam persentase volume tanah di lapangan.
Dengan kata lain porositas tanah adalah bagian dari volume tanah yang tidak
ditempati oleh padatan tanah.

Porositas tanah ada karena bentuk dan ukuran agregat tanah yang tidak
dapat saling merapa merupakan dasar dari pori-pori tanah. Merupakan ruang
antara agregat yang satu dengan yang lain disebut pori-pori mikro dan
makro tanah.
Menurut ukuran pori-pori dapat dibedakan sebagai berikut :

Makro porositas yang dibentuk oleh rongga-rongga besar yang dalam


keadaan normal terisi udara. Bila tanah terisi air sampai terlalu basah
maka tanaman akan mati lemas atau tumbuhnya menjadi kerdil.

Mikro porositas yang merupakan rongga-rongga paling halus yang


biasanya terisi air kapiler.
Tanah pasir mempunyai porositas kurang dari 50%, dengan jumlah pori-

pori makro lebih besar dari pada pori-pori mikro, bersifat mudah merembes
air dan gerakan udara di dalam tanah menjadi lebih lancar. Sebaliknya
berliat mempunyai porositas lebih dari 50%.
Jumlah pori-pori mikro lebih besar dan bersifat mundah menangkap air
hujan, tetapi sulit merembeskan air dan gerakan udara lebih terbatas. Untuk
pertumbuhan tanaman menghendaki keseimbangan antara porositas makro
58

dan mikro. Pada tanah yang


yang baik mikro porositas 60% dari pada seluruh
porositas. Porositas sangat dipengaruhi oleh tekstur tanah, struktur tanah,
kedalaman tanah, dan pengolahan tanah.

Beberapa Vegetasi Yang Dipengaruhi Oleh Edafik:


a. Hutan rawa

Ciri dari tipe ekosistem Hutan Rawa adalah hutan yang tumbuh pada
daerah-daerah
daerah yang selalu tergenang air tawar, tidak dipengaruhi iklim. Pada
umumnya terletak dibelakang hutan payau dengan jenis tanah aluvial dan
aerasinya buruk. Tegakan hutan selalu hijau dengan pohon-pohon
pohon pohon yang tingg
tinggi
bisa mencapai 40 m dan terdiri atas banyak lapisan tajuk.
Tipe ekosistem hutan rawa terdapat hampir di seluruh wilayah Indonesia,
misalnya di Sumatra bagian Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah,
Maluku dan Irian Jaya bagian Selatan. Vegetasi yang menyusun
enyusun ekosistem
hutan rawa termasuk kategori vegetasi yang selalu hijau, di antaranya adalah
berupa pohon-pohon
pohon dengan tinggi mencapai 40 meter dan mempunyai
beberapa lapisan tajuk. Oleh karena hutan rawa ini mempunyai beberapa
lapisan tajuk (beberapa stratum),
stratum), maka bentuknya hampir menyerupai
ekosistem hutan hujan tropis. Spesies-spesies
Spesies spesies pohon yang banyak terdapat
dalam ekosistem hutan rawa antara lain Eucalyptus degulpta, Palaquium
leiocarpum, Shorea uliginosa, Campnosperma macrophylla, Gareinia spp.,
Eugenia spp., Canarium spp., Koompassia spp., Calophyllum spp., Xylopia
59

spp.. Pada umumnya spesies-spesies


spesies spesies tumbuhan yang ada di dalam ekosistem
hutan rawa cendenmg berkelompok membentuk komunitas tumbuhan yang
miskin spesies. Dengan kata lain, penyebaran spesies
spesies tumbuhan yang ada di
ekosistem hutan rawa itu tidak merata.
Ada beberapa daerah berawa yang hanya ditumbuhi rumput, ada pula
yang hanya didominasi oleh pandan dan palem. Meskipun demikian ada juga
yang menyerupai hutan hujan tropis dataran rendah dengan pohon
pohon-pohon
berakar tunjang, berbagai spesies palem, dan terdapat spesies
spesies-spesies
tumbuhan epifit, tetapi kekayaan jenis dan kepadatannya tentu lebih rendah
dibandingkan dengan ekosistem hutan hujan tropis.

b. Hutan Mangrove

Hutan mangrove merupakan suatu tipe hutan yang tumbuh di daerah


pasang surut, terutama di pantai yang terlindung, laguna dan muara sungai
yang tergenang pada saat pasang dan bebas dari genangan pada saat surut
yang komunitas tumbuhannya bertoleransi terhadap
terhadap garam (Kusuma et al,
2003). Menurut FAO, Hutan Mangrove adalah Komunitas tumbuhan yang
tumbuh di daerah pasang surut.
Kata mangrove merupakan kombinasi antara bahasa Portugis Mangue
dan bahasa Inggris grove (Macnae, 1968). Dalam Bahasa Inggris kata
mangrove digunakan baik untuk komunitas tumbuhan yang tumbuh di daerah
60

jangkauan pasang surut maupun untuk individu-individu jenis tumbuhan yang


menyusun komunitas tersebut. Hutan mangrove dikenal juga dengan istilah
tidal forest, coastal woodland, vloedbosschen dan hutan payau (bahasa
Indonesia). Selain itu, hutan mangrove oleh masyarakat Indonesia dan negara
Asia Tenggara lainnya yang berbahasa Melayu sering disebut dengan hutan
bakau. Penggunaan istilah hutan bakau untuk hutan mangrove sebenarnya
kurang tepat dan rancu, karena bakau hanyalah nama lokal dari marga
Rhizophora, sementara hutan mangrove disusun dan ditumbuhi oleh banyak
marga dan jenis tumbuhan lainnya. Oleh karena itu, penyebutan hutan
mangrove dengan hutan bakau sebaiknya dihindari (Kusmana et al, 2003).
Tumbuhan mangrove bersifat unik karena merupakan gabungan dari ciriciri tumbuhan yang hidup di darat dan di laut. Umumnya mangrove
mempunyai sistem perakaran yang menonjol yang disebut akar nafas
(pneumatofor). Sistem perakaran ini merupakan suatu cara adaptasi terhadap
keadaan tanah yang miskin oksigen atau bahkan anaerob Mangrove tersebar di
seluruh lautan tropik dan subtropik, tumbuh hanya pada pantai yang
terlindung dari gerakan gelombang; bila keadaan pantai sebaliknya, benih
tidak mampu tumbuh dengan sempurna dan menancapkan akarnya. Mangrove
tumbuh dan berkembang pada pantai-pantai tepat di sepanjang sisi pulaupulau yang terlindung dari angin, atau serangkaian pulau atau pada pulau di
belakang terumbu karang di pantai yang terlindung (Nybakken, 1998).
Indonesia memiliki sebanyak tidak kurang dari 89 jenis pohon
mangrove, atau paling tidak menurut FAO terdapat sebanyak 37 jenis. Dari
berbagai jenis mangrove tersebut, yang hidup di daerah pasang surut, tahan air
garam dan berbuah vivipar terdapat sekitar 12 famili. Dari sekian banyak jenis
mangrove di Indonesia, jenis mangrove yang banyak ditemukan antara lain
adalah jenis api-api (Avicennia sp.), bakau (Rhizophora sp.), tancang
(Bruguiera sp.), dan bogem atau pedada (Sonneratia sp.) merupakan
tumbuhan mangrove utama yang banyak dijumpai. Jenis-jenis mangrove
tersebut adalah kelompok mangrove yang menangkap, menahan endapan dan
61

menstabilkan tanah habitatnya. Jenis api-api (Avicennia sp.) atau di dunia


dikenal sebagai black mangrove mungkin merupakan jenis terbaik dalam
proses menstabilkan tanah habitatnya karena penyebaran benihnya mudah,
toleransi terhadap temperartur tinggi, cepat menumbuhkan akar pernafasan
(akar pasak) dan sistem perakaran di bawahnya mampu menahan endapan
dengan baik. Mangrove besar, mangrove merah atau Red mangrove
(Rhizophora sp.) merupakan jenis kedua terbaik. Jenis-jenis tersebut dapat
mengurangi dampak kerusakan terhadap arus, gelombang besar dan angin.

62

c. Hutan pantai

Hutan pantai atau lebih tepatnya disebut vegetasi pantai atau vegetasi
pantai berpasir (Ingggris: beach vegetation) adalah tutupan vegetasi yang
tumbuh dan berkembang dipantai
di
berpasir di atas garis pasang tertinggi di
wilayah tropika.. Secara tradisi, pakar membedakan dua kadang-kadang
kadang kadang tiga
formasi vegetasi di wilayah ini. Daerah pantai berpasir yang tidak terkena
pengaruh abrasi biasanya di jumpai dua zona atau formasi yaitu
formasi Pescaprae dan formasi Barringtonia.
Formasi

pescapra
pescapraee

didominasi

oleh

tumbuhan

yang

merayap

seperti Ipomoea pescaprae merupakan jenis tumbuhan yang banyak ditemui


pada daerah pantai di Indonesia. Selain itu terdapat juga jenis Ipomea
carnosa, Ipomoea denticulata,
denticulata dan Ipomoea littoralis.
Di belakang formasi
formas Pescaprae umumnya terdapat jenis Barringtonia
asiatica sehingga Formasi ini disebut Formasi Barringtonia. Formasi
Barringtonia inilah yang sebenarnya disebut sebagai vegetasi hutan pantai.
Jenis-jenis
jenis yang sering terdapat daerah ini adalah Barringtonia asiatica,
Casuarina equisetifolia, Terminalia catappa, Hibiscus tiliaceus, Calophyllum
inophyllum, Hernandia peltata, Sterculia foetida, Manilkara kauki, Cocos
nucifera, Pongamia pinnata, Premna Corymbosa, Premna obtusifolia,
Pemphis acidula, Cordia subcordata
subcordata L,Erythrina variegata, Guettarda
speciosa, Pandanus bidur, Pandanus tectorius dan Nephrolepis
ephrolepis biserrata
biserrata.

63

3. Faktor Ketinggian
Berikut klasifikasi ketinggian tempat berdasarkan F.W. Jughuhn:
a. Daerah panas
Ketinggian tempat antara 0 600 m dari permukaan laut. Suhu 26,3
22C. Tanamannya seperti padi, jagung, kopi, tembakau, tebu, karet,
kelapa, dan cokelat.

b. Daerah sedang
Ketinggian tempat 600 1500 m dari permukaan laut. Suhu 2217,1C. Tanamannya seperti padi, tembakau, teh, kopi, cokelat, kina, dan
sayur-sayuran.

Tembakau

64

c. Daerah sejuk
Ketinggian tempat 15002500 m dari permukaan laut. Suhu 17,1
11,1C. Tanamannya seperti teh, kopi, kina, dan sayur-sayuran.

d. Daerah dingin
Ketinggian tempat lebih dari 2500 m dari permukaan laut. Suhu
11,1 6,2C. Jenis vegetasi tidak ada tanaman budidaya kecuali sejenis
lumut.

65

BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Berdasarkan letak lintang dan ketinggian, keanekaragaman tumbuhan di
dunia sangatlah bermacam-macam. Letak lintang dapat dibagi menjadi dua,
yaitu iklim dan edafik. Keanekaragaman tumbuhan berdasarkan iklim yaitu
Hutan Hujan tropis, Hutan Musim/Gugur, Gurun, Tundra, Stepa, dan sabana.
Sedangkan keanekaragaman berdasarkan edafik ada Hutan

Rawa, Hutan

Mangrove, dan Hutan Pantai. Kemudian berdasarkan ketinggian tempat,


keanekaragaman tumbuhan dapat digolongkan menjadi keanekaragaman di
daerah panas (0-600mdpl), daerah sedang (600-1500mdpl), daerah sejuk
(1500-2500mdpl), dan daerah dingin (lebih dari 2500 mdpl).

66

DAFTAR PUSTAKA
Anwar, J., S.J. Damanik, N. Hisyam, & A.J. Whitten. 1984. Ekologi ekosistem
Sumatera: 168. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Ewusie JY. 1980. Pengantar Ekologi Tropika (Alih bahasa Tanuwidjaya Usman).
Bandung. ITB Press.
Kusuma dkk. 2003. Jenis-Jenis Pohon Mangrove di teluk Bintuni, Papua. Bogor:
Diterbitkan atas kerjasama Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor
dan PT. Bintuni Utama Murni Wood Industries.
Nybakken, J.W. 1998. Biologi Laut, Suatu Pendekatan Ekologis. Jakarta: PT.
Gramedia.
Polunin, Nicholas. Pengantar Geografi Tumbuhan dan Beberapa Ilmu Serumpun.
Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Syahbudin. 1987. Dasar-Dasar Ekologi Tumbuhan. Padang: Universitas Andalas.
Tjitrosomo, Siti Sutarmi, dkk. 1983. Botani Umum 4. Bandung: Penerbit Aksara
Bandung.
Whitten, T., R.E. Soeriaatmadja, & S.A. Afiff. 1999. Ekologi Jawa dan Bali: 374.
Jakarta: Prenhallindo.
Whitmore, T.C. 1984. Tropical rain forests of the Far East: 176. Oxford:
Clarendon Press
http://file.upi.edu/Direktori/FPIPS/JUR._PEND._GEOGRAFI/195502101980021DADANG_SUNGKAWA/IKLIM_INDONESIA.pdf
https://materi78.files.wordpress.com/2013/06/biosf_geo2_21.pdf
http://www.cifor.org/mla/download/publication/keanekaragaman-hayati.pdf
https://muntul.files.wordpress.com/2011/12/keanekaragaman-hayati1.pdf

67

http://elisa1.ugm.ac.id/files/marhaento/4Bp7yftq/Konservasi%20Keanekaragaman
%20Hayati.pdf
http://file.upi.edu/Direktori/FPMIPA/JUR._PEND._BIOLOGI/197212031999031
WAHYU_SURAKUSUMAH/Perubahan_iklim_dan_pengaruhnya_terhad
ap_keanekaragaman_haya.pdf
http://eprints.uny.ac.id/9419/2/BAB%201%20-%2008308141036.pdf

68

Sumber Variasi
(Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Keanekaragaman Tumbuhan)

Dosen Pengampu: Sudarsono, M.Si.

Disusun oleh:
1. Anisatun Arviyani

(14304241010)

2. Nurhasanah

(14304241011)

Kelompok 4/ Pendidikan Biologi A 2014

JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2015

69

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Semua makhluk hidup di dunia tidak ada yang sama persis, meskipun
mereka berasal dari jenis yang sama. Termasuk juga di dunia tumbuhan.
Sedikit atau banyak pasti terdapat perbedaan baik dari segi genotip maupun
fenotipnya. Misalnya buah yang di dalamnya tidak terdapat biji, daun-daun
tanaman yang susunannya berubah seiring dengan berjalannya usia mereka,
buah-buah super, dan lain sebagainya. Perbedaan-perbedaan ini membuat
mereka menyimpang dari kondisi normalnya. Hal tersebut tidak begitu saja
terjadi, melainkan ada penyebabnya. Adapun penyebabnya disebut dengan
sumber variasi. Sumber variasi ada bermacam-macam yang akan kita pelajari
disini.
B. Tujuan
1. Mengetahui macam-macam sumber variasi
2. Mengetahui contoh dari masing-masing variasi tersebut

70

BAB II
PEMBAHASAN
(SUMBER VARIASI)
Variasi merupakan istilah umum yang mencakup kegiatan, proses atau
peristiwa menyimpang dari kondisi normal atau standar. Pada istilah biologi,
variasi merupakan penyimpangan struktur, fungsi dan perkembangan ciri
organisme dari induknya, dari organisme lain dalam populasi sama, atau dari
populasi lain dalam jenis sama atau kelompok berkerabat. Setiap individu
makhluk hidup di dunia pasti memiliki perbedaan dengan individu lainnya, baik
dari segi bentuk, ukuran, warna, struktur, fungsi, perawakan, lama tumbuh, dan
tanggapan terhadap faktor lingkungan, begitu juga dengan tumbuhan. Perbedaanperbedaan ini disebut dengan variasi. Variasi ini dapat terjadi karena disebabkan
oleh adaptasi, mutasi, modifikasi, perkembangan tumbuhan, faktor lingkungan,
dan genetika.
Varietas dalam dunia tumbuhan merupakan istilah umum yang dapat
digunakan pada keanekaragaman, populasi varian, variabilitas, variasi ciri dan
mungkin istilah lain yang menunjukkan macam atau tipe dari struktur, organ,
organisme dan seterusnya. Diversitas mengacu pada jumlah tipe organisme atau
taksa pada dunia tumbuhan. Hampir 250.000 spesies tumbuhan vaskuler terdapat
di permukaan bumi, yang terdiri dari 10.000 spesies pteridofit, 6.000 spesies
gymnospermae dan 235.000 spesies angiospermae.
Menurut (Bell, 1964) di dalam Soedarsono, dkk (2005), keseragaman dan
keanekaragaman tumbuhan hidup terlihat jelas di antara jenis, dan antar individu
dalam satu jenis. Tingkat variasi ini sedemikian rupa, sehingga tidak ada individu
yang sama persis. Variasi dipakai sebagai dasar baik untuk menjelaskan proses
evolusi, maupun dalam pengembangan system klasifikasi.
Variasi (variety) dalam dunia tumbuhan mencakup di dalamnya
keanekaragaman (diversity), populasi varian, variabilitas, variasi dari ciri-ciri
taksonomi, dan banyak lagi yang berkaitan dengan macam atau tipe struktur,
71

organ atau makhluk hidup. Varian (variant) adalah satu atau sejumlah individu
dalam satu populasi yang masih dapat dikenal (recognizable) atau dibedakan
(definable).
Bentuk dasar keseragaman dan keanekaragaman jenis dan individuindividu dalam jenis adalah evolusi dan klasifikasi. Pemahaman evolusi tumbuhan
didapatkan dari analisis yang seksama dari variasi berikut ini: (Sudarsono, dkk,
2005)
1. Variasi Perkembangan
Dalam variasi perkembangan, terjadi pada satu tanaman dengan
perubahan seiring bertambahnya usia. Tanaman yang telah dewasa sering
menunjukkan perbedaan dengan tanaman muda. Variasi perkembangan ini
ditentukan secara genetis dan memang selalu begitu. Sebagai contoh adalah (a)
Pada tanaman cocor bebek (Kalanchoe pinnata) terdapat daun tunggal dan
majemuk menyirip beranak daun tiga pada satu individu tanaman. Hal ini
sering dikenal dengan heteromorfisme. (b) Daun-daun yang telah tua dari
pohon getah (Eucalyptus) biasanya menggantung dan berseling, sedang pada
tanaman bibit dari beberapa jenis berhadapan dan horizontal terhadap batang
yang tegak lurus. (c) Pada tumbuhan akasia (Acacia) tanaman muda (semai)
berdaun majemuk menyirip rangkap dua sempurna dan setelah dewasa berdaun
tunggal yang merupakan modifikasi ibu tangkai daun yang memipih dan
menggantikan fungsi daun (Sudarsono, dkk, 2005) (d) Pada tanaman buncis
saat masih muda berdaun tunggal, namun setelah dewasa berdaun majemuk
berhadapan. (e) Pada tanaman Eceng (Monochoria vaginalis) saat masih muda,
daunnya cenderung sempit dan berbentuk jorong hingga memanjang. Namun
setelah tua, biasanya daun akan berbentuk bulat dan lebar-lebar.
2. Variasi Lingkungan
Tumbuh-tumbuhan

keseluruhan

beraneka

dan

banyak

jenis

menyimpang dalam pertumbuhannya, sebagai respon terhadap lingkungan.


Perubahan ini disebabkan karena sinar, air, makanan, suhu dan tanah. Sebagai
contoh ditemukan diantara jenis tumbuhan membentuk daun seperti anak

72

panah (Sagittaria). Tanaman ini berbentuk anak panah ketika muncul


dipermukaan air dan berbentuk pita panjang ketika tenggelam dalam air.
Tumbuhan air Water-buttercup (Ranunculus aquatis), daun-daunnya terbelah
ketika tenggelam tapi beberapa daun yang muncul berbentuk cuping
(Sudarsono, dkk, 2005).
Kemudian pada paku air (Salvinia molesta) mempunyai daun
mengapung berbentuk oval, alternatif dengan panjang tidak lebih dari tiga
sentimeter, tangkai pendek ditutupi banyak bulu dan berwarna hijau (Soerjani
dan Pancho, 1987) Namun daun yang tenggelam menggantung dengan panjang
mencapai delapan sentimeter, berbelah serta terbagi-bagi dalam bulu-bulu
halus. Sepintas penampilannya mirip akar, akan tetapi sebenarnya adalah daun
yang berubah bentuk dan mempunyai fungsi sebagai akar (Soerjani et al,.
1987)
Tumbuhan yang telah dewasa menyimpang dari ukurannya. Chickweed
(Stellaria media) akan mencapai 3 cm pada tanah yang kering dan kekurangan
zat makanan, tapi akan melampaui 20 cm bila beradap ada tanah yang basah
dan kaya zat-zat makanan. Dalam sistematik harus tahu variasi yang
disebabkan oleh lingkungan. Biasanya pertumbuhan tanaman rendah masingmasing berbeda tergantung kondisi lingkungan. Ketika eksperimen dengan
tumbuhan liar, fenotip biasanya agak berbeda ketika ditanam di lingkungan
yang berbeda (Clausen, Keck, dan Hissey, 1940). Ada juga variasi tanaman
yang disebabkan oleh sinar matahari yaitu pada Euphobia milli. Jika tanaman
tersebut berada pada daerah yang terkena sinar matahari, maka bunganya akan
berwarna merah. Namun jika berada pada tempat yang ternaungi, bunga akan
berubah menjadi putih serta batang akan tumbuh lebih besar dan tinggi.
Variasi lain adalah karena faktor air. Contohnya adalah tumbuhan
kaktus. Daun tumbuhan ini berbentuk seperi duri atau jarum dan tebal karena
tumbuh di daerah yang sinarnya berlebih yaitu di padang pasir atau gurun.
Sehingga agar tidak terjadi transpirasi berlebihan maka bentuk daun tidak
melebar seperti daun-daun pada umumnya. Begitu pula sama halnya dengan lidah buaya
73

(Aloe vera) yang mempunyai daun yang tebal dan berdaging untuk menyimpan air. Variasi
tumbuhan karena faktor air yang lain adalah pohon kurma dan bakau. Untuk menyesuaiakan
diri dengan lingkungnnya yang panas dan kekurangan air, maka pohon kurma memliki akar
yang panjang untuk menyerap air, daunnya berbulu, bentuknya kecil-kecil dan mempunyai duri
pada tangkai daunnya, serta kulit luarnya tebal.
Sedangkan pohon bakau merupakan salah satu tanaman yang bisa hidup pada
lingkungan yang airnya asin. Untuk menyesuiakan diri dengan lingkungannya, maka pohon
bakau ini melakukan ultrafiltrasi atau penyaringan ekstra sehingga dapat menyerap ion spesifik
tertentu saja dari air asin tersebut, sedangkan 97 persen garam yang ada pada air asin
ditinggalkan di akar. Garam yang ditinggalkan ini lalu akan dibuang melalui proses transpirasi.
Cara adaptasi yang selanjutnya adalah dengan mengeluarkan garam dalam larutan
terkonsentrasi melalui kelenjar khusus. Larutan ini akan terkristalisasi disepanjang tubuh pohon
bakau dan akan terbuang oleh angin atau hujan.
Variasi lingkungan yang selanjutnya adalah faktor makanan. Contohnya adalah
tanaman venus dan kantong semar. Karena hidup di daerah yang kurang nutrisi terutama
nitrogen, maka kantong semar memodifikasi ujung daunnya menjadi kantong untuk
menangkap serangga yang kemudian diserap nutrisisnya (nitrogen).
Contoh tanaman yang hidup pada variasi lingkungan karena faktor suhu adalah
purwoceng (Pimpinella puruatjana). Tanaman ini merupakan salah satu jenis tanaman yang
hidup di daerah pegunungan (bersuhu rendah). Apabila purwoceng ini dipindahkan pada
daerah yang dataran rendah (bersuhu tinggi) maka purwoceng ini bisa tetap hidup, namun tidak
bisa berbunga., karena faktor yang mempengaruhi tanaman purwoceng ini bisa berbungan atau
tidak adalah suhu.
Terdapat pula variasi lingkungan yang menyebabkan keanekaragaman
tumbuhan dalam bentuk:
a. Ketinggian
Perbedaan ketinggian suatu tempat dari garis pantai akan
menyebabkan perbedaan mikroklimat antara lain suhu, kelembaban, curah
hujan, dan lain-lain, sehingga mengakibat kansebaran berbagai jenis

74

tumbuhan berbeda-beda. Ketinggian tempat juga dapat menyebabkan isolasi


jenis.
b. Letak Geografis
Letak geografis menyebabkan perbedaan makroklimat yang sangat
tajam seperti perbedaan musim, curah hujan, kelembaban, suhu, intensitas
cahaya matahari, dan lamanya penyinaran. Keadaan ini akan berpengaruh
terhadap jenis-jenis flora (tumbuhan) dan fauna (hewan) yang menempati
suatu daerah.
Di daerah dingin terdapat bioma tundra. Di tempat ini tidak ada
pohon, yang tumbuh hanya jenis lumut. Di daerah beriklim sedang
terdapat bioma taiga. Jenis tumbuhan yang paling sesuai untuk daerah
ini adalah tumbuhan conifer. Pada iklim tropister dapat hutan hujan
tropis. Hutan hujan tropis memiliki flora (tumbuhan) yang sangat kaya
dan beranekaragam yang menempati suatu daerah dan membentuk
ekosistem yang berbeda (Sudarsono, dkk, 2005).
3. Variasi Genetika
Variasi individu terjadi dalam populasi semua spesies organisme yang
bereproduksi secara seksual. Variasi genetika ini bersifat turun-temurun yang
berasal dari dua sumber, yaitu:
a. Mutasi
Mutasi adalah perubahan yang terjadi secara mendadak dan bersifat
turun-temurun, sehingga akan menambah pembendaharaan variabilitas
genetika. Keturunan yang terjadi berbeda dengan induknya, baik dalam segi
bentuk maupun sifatnya. Mutasi dapat terjadi di alam bebas maupun secara
buatan. Dalam arti luas, istilah mutasi mencakup baik mutasi titik (point
mutation) dan mutasi kromosom (chromosomal mutation)
Mutasi merupakan puncak dari sumber variasi, sedangkan aliran gen
dan rekombinasi memberikan sumber variasi pada tingkat antara
(intermediate) pada tumbuhan dengan cara perkembangbiakan kawin.(I
Made Rideng, 1989)

75

Mutasi ini dapat terjadi di alam bebas maupun secara buatan.


Perubahan spontan atau alamiah terjadi karena sinar kosmos, batuan radio
aktif, sinar ultra violet matahari dan sesuatu yang tidak jelas dalam
metabolisme, sehingga terjadi kekeliruan dalam sintesa bahan genetis dan
radiasi ionisasi internal bahan radio aktif yang mungkin terkandung dalam
suatu jaringan. Sedang perubahan induksi atau buatan yaitu perubahan yang
terjadi karena unsur manusia seperti pemakaian unsur radio aktif, senjata
nuklir, reaktor, dan pemakaian zat kimia (misalnya kolkisin, asenaptin,
digitonin).
Mutasi Gen
Mutasi gen adalah peristiwa perubahan sebagai akibat dari
nukleotida yang membewa perilaku gen tersebut. Perputaran gen dalam
evolusi tergantung dari beberapa faktor:
1. Banyaknya pengaruh terhadap organisme
2. Adaptasi untuk mendapatkan keuntungan atau kerugian dari individu
yang mengalami mutan
3. Perputaran mutasi gen dalam interaksi populasi lingkungan.
Lingkungan tempat terjadinya mutasi akan mempunyai pengaruh yang
besar dalam mempersatukan tempat populasi. Jika tidak terjadi
perubahan lingkungan, mutasi memungkinkan menurunkan tingkat
adaptasi dari jenis.
Jika jenis diatur baik oleh lingkungan, kemungkinan mutasi
dalam lingkungan baru kecil tapi perubahan yang radikal tentu
membuat berkurang fungsinya.
Mutasi Kromosom
Mutasi ini mencakup Poliploid, aneuploid, perubahan secara
umum struktur kromosom itu sendiri, seperti misalnya: translokasi.
1. Poliploidi Multipikasi dari susunan kromosom (chromosome set) atau
genom disebut poliploidi (poliploidy), merupakan proses genetika
yang umum terjadi dan berpengaruh terhadap evolusi tumbuhan biji.

76

Pada jenis yang diploid, susunan dasar dari kromosom yang haploid
atau genom adalah X = n, tetapi pada jenis yang diploid n adalah
multipikasi atau penggandaan dari n. Misalnya da beberapa jenis dari
marga Crysanthemum (Compositae) yang masih dekat hubungannya
dengan jenis lainnya, namun berbeda dalam jumlah kromosom
membuat deretan poliploid.
2. Aneuploidi adalah peristiwa dimana jumlah kromosom tidak persis
merupakan kelipatan dari jumlah kromosom dasar. Sebagai contoh
ada beberapa jenis yang termasuk dalam marga Clarkia (dari keluarga
Onagraceae), tergolong dalam deretan aneuploidi, yaitu jumlah
kromosomnya

adalah

n=5,

n=6,

n=7,

n=8

dan

n=9

(https://zaifbio.wordpress.com/2013/12/02/).
Mutasi buatan dapat menyebabkan tanaman mempunyai buah yang
besar dan tidak berbiji. Misalnya buah semangka, pepaya, jeruk, dan anggur
tanpa biji. Namun sayangnya tanaman ini tidak dapat menghasilkan
tanaman baru sebagai keturunannya, karena buah-buahan yang dihasilkan
tidak memiliki organ reproduksi yaitu biji.
Contoh lain dari perubahan mutasi buatan yang dilakukan pada
gandum, buncis, tomat, ternyata dapat meningkatkan mutunya. banyak
tanaman panen (padi jagung gandum) yang dikembangkan sehingga tahan
terhadap suatu jenis hama.
b. Aliran gen
Aliran gen adalah pergerakan informasi genetik antara populasi yang
berbeda. Metode ini meningkatkan variasi genetik karena memperkenalkan
alel baru ke dalam populasi meningkatkan jumlah keanekaragaman.
Semakin banyak alel yang tersedia dalam suatu populasi, semakin banyak
variasi yang dapat terjadi. Reproduksi seksual menyebabkan variasi genetik
karena menciptakan kombinasi gen baru. Pindah silang selama reproduksi
seksual adalah ketika pertukaran untai DNA, dan ini juga menyebabkan
kombinasi genetik baru.

77

Variasi genetik merupakan jalur penting untuk seleksi alam karena ia


menciptakan kemungkinan-kemungkinan genetik baru dalam dan di antara
populasi. Mutasi genetik, aliran gen, dan kombinasi genetik baru adalah caracara untuk meningkatkan variasi genetik, dan kita dapat melihat banyak contoh
di alam ini (http://www.sridianti.com/pengertian-variasi-genetik.html).

78

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Suatu tumbuhan dapat bervariasi karena faktor perkembangan,
lingkungan, dan genetik. Bagian tumbuhan yang dapat mengalami perbedaan
perkembangan tersebut misalnya daun seperti pada tanaman cocor bebek,
akasia, pohon getah, eceng, dan buncis. Variasi lingkungan dapat disebabkan
oleh beberapa faktor misalnya air, cahaya matahari, nutrisi, suhu, kelembaban,
dan lain-lain. Tanaman yang mengalami variasi karena faktor lingkungan
misalnya euphorbia, kaktus, lidah buaya, kurma, bakau, kantong semar, venus,
purwoceng, dan chickweed. Sedangkan variasi genetik dapat disebabkkan oleh
mutasi (gen dan kromosom) dan aliran gen. Contoh dari variasi genetik ini
misalnya buah-buahan tanpa biji.
B. Saran
Untuk penelitian dan penyusunan makalah selanjutnya diharapakan
dapat mengulas lebih baik dan lebih banyak lagi mengenai variasi-variasi
dalam dunia tumbuhan, baik itu dalam variasi perkembangan, variasi
lingkungan, maupun variasi genetik.

79

DAFTAR PUSTAKA
Huzaifah Hamid. 2012. Mutasi (diakses dari
https://zaifbio.wordpress.com/2013/12/02/ pada tanggal 5 Mei 2015 pukul
15.30).
Rideng, I Made. 1989. Taksonomi Tumbuhan Biji. Jakarta: Dekdikbud.
Soerjani, M., A.J.G.H. Kostermans dan G. Tjitrosoepomo. 1987. Weed of Rice in
Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Sridianti. 2013. Variasi Genetik (diakses dari
http://www.sridianti.com/pengertian-variasi-genetik.html pada tanggal 11
Juni 2015 pukul 11.23).
Sudarsono,dkk. 2005. Taksonomi Tumbuhan Tinggi. Malang: Universitas Negeri
Malang.

80

Seleksi, Adaptasi, Modifikasi, Isolasi,


Spesiasi dan Evolusi
(Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Keanekaragaman Tumbuhan)

Dosen Pengampu: Sudarsono, M.Si.

Disusun oleh:
1. Nurul Halimah

(14304241012)

2. Hindun Hidayatun N

(14304241013)

Kelompok 5/ Pendidikan Biologi A 2014

JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2015

81

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam melangsungkan kehidupannya, makhluk hidup berhubungan
langsung terhadap lingkungannya. Terdapat berbagai jenis makhluk hidup
yang bervariasi serta terdapat bermacam macam lingkungan yang
bervariasi pula. Makhluk hidup pada kajian keanekaragaman tubuhan
yaitu tumbuhan. Terdapat berbagai macam tumbuhan dimana habitatnya
berbeda beda. Terdapat tumbuhan yang hanya hidup di daerah
pegunungan, maupun tumbuhan yang hanya hidup di daerah dataran
rendah.
Dalam bahasan evolusi, tentunya tidak terlepas dari istilah seleksi
alam. Seleksi alam disini adalah faktor lingkungan, yang dapat berupa
gangguan, tekanan, penyakit maupun predator. Adanya selektor tersebut,
yang nantinya akan menyeleksi tumbuhan mana yang dapat bertahan
hidup. Dan sebagai akibat dari adanya seleksi alam tersebut, tumbuhan
harus melakukan penyesuaian diri terhadap lingkungannya agar dapat
tetap bertahan hidup.
Ada kalanya tumbuhan tertentu hidup pada lingkungan yang bukan
sebagai habitat aslinya, sehingga kurang menguntungkan bagi tumbuhan
tersebut. Dalam melangsungkan kehidupan yang kurang sesuai terhadap
lingkungannya tersebut, tumbuhan melakukan penyesuaian diri terhadap
lingkungannya. Pada proses penyesuaian ini, ada kalanya tumbuhan
mampu menyesuaikan serta tumbuhan yang tidak mampu menyesuaikan
terhadap lingkungannya. Tumbuhan yang mmpu menyesuaikan terhadap
keadaan lingkungannya akan lestari sedangkan tumbuhan yang tidak
mampu menyesuaikan akan mati, dan dapat berujung kepunahan.
Proses penyesuaian diri tersebut yang selanjutnya disebut sebagai
adaptasi. Dari adaptasi makhluk hidup, dapat memunculkan kenampakan
yang berbeda dari sebelumnya. Makhluk hidup yang melakukan
penyesuaian, seringkali menunjukkan perbedaan. Perbedaan tersebut, tentu

82

berasal dari kondisi lingkngan yang berbeda sehingga memperlihatkan


fenotip. Dalam Sudarsono, dkk (2005) dijelaskan bahwa fenotip
merupakan sifat yang tampak pada suatu organisme yang merupakan
kerjasama antara gen dengan lingkungan. Sebagai contoh, tanaman
purwoceng di Wonosobo akan mengalami perbungaan, sedangkan pada
dataran rendah tanaman ini tidak mununjukkan adanya perbungaan. Hal
ini karena perbungaan erat kaitannya dengan suhu lingkungan. Pada
daerah pegunungan, suhu lingkungan cenderung rendah sedangkan pada
dataran rendah, suhu lingkungan cenderung lebih tinggi.
Adanya

perubahan perubahana

tersebut,

memungkinkan

munculnya spesies baru yang merupakan langkah awal dalam evolusi


makro. Pada makalah kali ini, akan di bahas mengenai seleksi, adaptasi,
modifikasi, isolasi, spesiasi dan evolusi.

B. Tujuan
Untuk mengetahui seleksi, adaptasi, modifikasi, isolasi, spesiasi, dan
evolusi.

83

BAB II
PEMBAHASAN

A. Seleksi
Dalam melangsungkan kehidupannya, setiap makhluk hidup selalu
berinteraksi dengan lingkungan. Baik lingkungan maupun abiotik.
Lingkungan tersebut berperan sebagai bagi makhluk hidup. Seleksi
disebabkan

oleh

tekanan,

gangguan,

predator

maupun

penyakit.

Mekanisme seleksi bermula dari populasi-populasi yang mengalami


perubahan dalam menanggapi lingkungan. Seleksi tersebut dapat terjadi
karena adanya beberapa selektor, diantaranya adalah :

1. Tekanan
Tekanan dapat berupa cahaya, kelembaban, pH, iklim, nutrisi dan lainlain.
2. Gangguan
Gangguan dapat berupa erupsi, kebakaran, tsunami, abrasi dan lainlain.
3. Kompetitor
Saling memperebutkan
4. Penyakit

Kasus

Selektor

Keterangan

Tanaman kelapa hidup di

Tekanan

Air

Tanaman mangrove di pantai

Tekanan

Kadar garam (Ph)

Kantung semar yang hidup di

Tekanan

Nutrisi

Tekanan

Kelembaban udara

lingkungan dengan kadar air


rendah

lingkungan rendah nutrisi


Tanaman yang hidup di daerah
yang kelembaban udaranya

84

tinggi
Alang-alang yang hidup pada

Gangguan

Kebakaran hutan

Gangguan

Erupsi

Kompetisi

Cahaya

Penyakit

Sebab: virus TMV

hutan yang mengalami


kebakaran
Ganggang biru yang tumbuh
setelah terjadinya erupsi
Kompetisi antara tanaman
yang mempunyai batang tinggi
dengan batang pendek
Penyakit Mosaik pada
tembakau

(Tobacco Mosaic
Virus).

B. Adaptasi
Ada beberapa pengertian dari adaptasi, yaitu :
1. Adaptasi adalah setiap sifat atau bagian yang dimiliki oleh organismee
yang berguna bagi kelanjutan hidupnya pada keadaan sekeliling
habitatnya.
2. Adaptasi merupakan proses penyesuaian diri makhluk hidup dengan
lingkungan sekitarnya.
3. Adaptasi sebagai kemampuan individu untuk mengatasi keadaan
lingkungan dan mengguanakan sumber-sumber alam dengan baik
untuk memepertahankan hidupnya dalam relung (niche) yang
ditempati.( Wayan Kantun, 2009).
Masing- masing individu mempunyai cara yang berbeda-beda
dalam penyesuaian diri dengan lingkungannya., ada yang mengalami
perubahan bentuk tubuh (adaptasi morfologi), ada yang mengalami
perubahan proses metabolism tubuh ( adaptasi fisiologi), dan ada juga
yang mengalami perubahan sikap dan tingkah laku (adaptasi tingkah
laku).(Wayan Kantun, 2009)

85

Adaptasi akan dilakukan oleh makhluk hidup apabila keadaan


lingkungan sekitarnya membahayakan atau tidak menguntungkan bagi
dirinya, sehingga perlu untuk menyelamatkan diri atau mempertahankan
kehidupannya. Sifat-sifat tersebut memungkinkan organismee atau
tanaman mampu menggunakan lebih baik unsur unsur yang tersedia
(hara,air, suhuh, cahaya juga sifat resistensi terhadap pengganggu atau
penyakit atau hama) (Wayan Kantun, 2009).
Setiap makhluk hidup dapat hidup di lingkungan tertentu ,
misalkan ikan hidup di dalam air karena pernafasannya. Banyak tanaman
di gurun yang memiliki struktur tertentu yang memungkinkan mereka
mampu hidup didalamnya. Pada kebanyakan tanaman di gurun, mereka
mempunyai zat lilin untuk mengurangi penguapan, letak stomata yang
tersembunyi, serta memiliki struktur akar yang jauh menancap ke dalam
tanah untuk mengembil air dan nutrisi. Semua kemampuan inilah yang
disebut adaptasi.(Wayan Kantun, 2009)
Lamarc ( 1744-1882) seorang ahli biologi Prancis yang juga
merupakan penganut paham teleoologi, mencoba menerangkan perubahan
perubahan tersebut. Teleologi adalah suatu paham yang menyatakan
bahwa adaptasi timbul karena diingini, yaitu perubahan struktur atau
bentuk yang terjadi karena adanya keinginan yang timbul dari dalam untuk
menghadapi perubahan lingkungan. Bahwa perkembangan tingakat suatu
organ adalah sebanding dengan penggunaannya dan pa yang diperoleh
atau diubah pada individu dalam masa hidupnya adalah kekal dan
bilamana

terdapat

dalamdua

jenis

kelamin,sifat

itu

akan

diturunkan.(Wayan Kantun, 2009).


Semua tumbuhan hasil modifikasi apabila menurunkan sifat ke
keturunannya dan tidak kembali seperti tetuanya ketika dikembalikan ke
tempat asalnya dinamakan proses adaptasi. Jadi, dapat dikatakan bahwa
adaptasi adalah perubahan fenotipe pada makhluk hidup yang apabila
dikembalikan ke habitat awalnya sudah tidak kembali seperti induknya.

86

Dalam penyesuaian diri terhadap lingkungannya, dalam Istamar


Syamsuri (2007) terdapat beberapa macam adaptasi, diantaranya adalah :
1. Adaptasi struktur
Struktur tubuh organisme bergantung pada tinggi rendahnya tingkatan
organisme tersebut. Umumnya. Semakin tinggi tingkatan organisme
itu semakin kompleks struktur tubuhnya. Kompleks tidaknya struktur
tubuh organismee itu merupakan hasil adaptasi organisme tersebut
terhadap lingkungannya. Struktur tubuh setiap organisme dikendalikan
oleh gen. Jadi, sepanjang sejarah evolusi adaptasi terhada lingkungan
diwujudkan dalaam bentuk gen yang mengendalikan sifat sifatnya.
Pada tumbuhan air, memiliki struktur tubuh yang berbeda dengan
tumbuhan yang hidup di padang pasir. Struktur tubuh tumbuhan air,
biasanya memilki bentuk daun yang lebar dan tipis, serta mempunyai
rongga udara.
2. Apdaptasi Fisiologi
Adaptasi fisiologi adalah penyesuaian kerja faal tubuh makhluk hidup
terhadap lingkungannya. Misalnya, untuk mengurangi penguapan air
dalam kondisi terik dan panas, tumbuhan kaktus memiliki daun
berukuran kecil atau tidak memiliki daun sama sekali, batangnya terisi
air dan memiliki klorofil untuk berfotosintesis, akarnya menyebar di
bawah permukaan tanah untuk memudahkan penyerapan air.
3. Adaptasi Tingkah Laku
Adaptasi tingkah laku merupakan salah satu jenis adaptasi dengan
menggunakan tingkah lakunya untuk merespon lingkungannya. Pada
tumbuhan, ada pengembangan tingkahlaku berupa gerak seluruh tubuh
atau sebagian tubuhnya. Contoh tumbuhan yang melakukan adaptasi
tingkah laku yaitu putrid malu ( Mimosa pudica). Yang akan
mengatupkan daun daunnya jika disentuh. Ini merupakan upaya
untuk menyelamatkan diri dari serangan hewan herbivore. Tumbuhan
di ruangan gelap membelokkan tubuhnya agar dapat memperoleh
cahaya matahari yang cukup.

87

4. Adaptasi Koevolusi
Adaptasi koevolusi dengan melakukan perubahan struktur organ antara
dua spesies yang berbeda sehingga memudahkan dalam bekerja sama.
Beberapa parasit juga telah mengadakan adaptasi koevolusi dengan
menyesuaikan struktur tubuhnya dengan inang.
5. Adaptasi reproduksi
Tumbuhan

melakukan

adaptasi

reproduksi

sesusi

dengan

lingkungannya. Tumbuhan yang hidup di daerah kering menghasilkan


biji yang bersayap, berbulu, dan ringan, sehinggabiji mudah terbawa
angin. Tumbuhan polong yang memiliki kulit biji kuat yang mampu
melemparkan biji sejauh beberapa meter. Serta untuk menarik hewan,
beberapa buah berdaging manis dan harum agar biji mnantinya
disebarkan oleh hewan.

C. Modifikasi
Makhluk hidup yang lolos dari seleksi akan bertahan dan yang
tidak lolos akan mati. Pada kasus ini, makhluk hidup yang lolos seleksi
harus melakukan penyesuaian diri terhadap 88actor88 Tumbuhan
dikatakan melakukan perubahan-perubahan 88acto morfologi yang disebut
modifikasi. Tanaman dikatakan mengalami modifikasi yaitu apabila
tumbuhan dikembalikan ke habitat semula akan mengalami perubahan
seperti indukannya. Contoh:
1. Tanaman ciplukan yang hidup dipantai memiliki daun yang tebal
dikarenakan adanya tekanan yang diakibatkan oleh 88actor88u88re.
Namun apabila dikembalikan ke sawah maka daunnya akan kembali
tipis.
2. Sebagai contoh lain pada tanaman alang-alang merupakan jenis
tanaman yang tahan terhadap gangguan tetapi tidak tahan terhadap
tekanan. Ketika alang alang dibakar, alang-alang tetap dapat
melangsungkan kehidupannya. Akan tetapi, ketika alang alang di
naungi maka alang-alang akan mati. Karena alang alang tidak tahan

88

terhadap tekanan cahaya.


3. Ganggang biru mempunyai kemampuan untuk menyerap nitrogen dan
uap air dari udara sehingga dapat bertahan hidup di lingkungan yang
baru saja terkena erupsi.
4. Penyesuaian diri pada makhluk hidup apabila kekurangan air, misalnya
pada kelapa maka kelapa memodifikasi daunnya dengan dilengkapi
dengan lapisan lilin.
5. Pada tanaman mangrove dapat menyesuaikan diri pada kondisi
lingkungan berkadar garam tinggi. Kelebihan garam di ekskresikan
melalui stomata, berbeda dengan rumput yang mensekresikan garam
berlebih dengan menyimpannya di vakuola.
6. Tanaman kantung semar mempunyai modifikasi daun seperti pada
gambar karena kantung semar

hidup di daerah yang kekurangan

nutrisi. Untuk mencukupinya maka kantung semar memodidikasi


daunnya sedemikian rupa, membentuk sebuah kantung untuk
menangkap serangga sebagai pemenuhan kebutuhan terhadap nitrogen.
7. Kompetisi antara tumbuhan di hutan yang memiliki batang tinggi dan
pendek untuk memperoleh cahaya. Tumbuhan berbatang pendek
memodifikasi daunnya sedemikian rupa sehingga dapat menyimpan
cahaya yang diterima walaupun hanya sedikit.

D. Isolasi
Apabila tumbuhan hasil modifikasi tidak lagi berhubungan dengan
tetuanya maka dapat disebabkan melalui mekanisme isolasi (baik sebelum
mau pun setelah perkawinan).
Berikut merupakan Isolasi sebelum perkawinan (prezigotik)
1.

Isolasi geografis :

tidak terjadinya saling kawin antar spesies

dikarekan keduanya dipisahkan oleh batas wilayah geografis.

89

Contoh : buah naga putih dan buah naga merah. Keduanya bisa
melakukan penyerbukan dan menghasilkan keturunan yang fertil,
tetapi mempunyai habitat alami yang berbeda sehingga tidak
memungkinkan terjadi fertilisasi antar keduanya.

Isolasi geografi pada buah naga putih ( Hylocereus undatus) dan buah
naga merah (Hylocereus costaricensis).
2.

Isolasi Musim
Yaitu

isolasi

yang

disebabkan

oleh

matangnya

alat

perkembang biakan antar dua spesies berada si waktu yang berbeda.


Contohnya pada tanaman oak.
3.

Isolasi mekanik
Kedua alat perkembang biakan dari dua spesies terdapat pada
lokasi dan waktu yang sama tetapi pola berpasangannya atau bentuk
alat perkembangbiakannya berbeda. Contohnya pada tanaman
anggrek yang mempunyai bentuk bunga sedemikian rupa sehingga
kemungkinan bertemu antara serbuk sari dan putik sulit.

Isolasi mekanik pada tanaman anggrek (Phalaenopsis amabilis)

90

4.

Isolasi ekologi
Isolasi ini terjadi pada tumbuhan dimana kedua alat
perkembang biakan dari dua spesies terdapat pada lokasi dan waktu
yang sama tetapi berada dalam kondisi yang berbeda dimana satu
sama lain sudah mempunyai karakteristik lingkungan hidup yang
berbeda.

Vernonia noveboracensis di tempat kering atau panas

Vernonia glauca di tempat ternaung (redup)

Isolasi setelah perkawinan (postzigotik) :

Mortalitas gametik : sperma atau telur di binasakan karena perkawinan


antara spesies. Tepung sari tidak mampu tumbuh pada stigma dari
spesies lain.

Mortalitas zigotik dan inviabilitas 91actor: telur mengalami fertilisasi


tetapi tidak dapat berkembang, atau berkembang menjadi 91actor91u

91

tetapi dengan viabilitas yang menurun. Contohnya, pada tembakau


hasil perkawinan spesies yang berbeda, mati sebelum berbunga karena
adanya tumor pada bagian vegetatifnya, kapas yang berbeda dapat
melakukan perkawinan dan menghasilkan turunan 92actor92, tetapi
kerusakan akan terjadi pada generasi berikutnya yang mati pada saat
berbentuk biji, atau tumbuh menjadi tumbuhan yang cacat.

Sterilitas 92actor: 92actor memiliki viabilitas normal tetapi steril


secara reproduktif.

E. Spesiasi
Spesiasi adalah pembentukan spesies baru dan berbeda dari spesies
sebelumnya dalam kerangka evolusi Makro. Setelah makhluk hidup
termodifikasi dan tidak memungkinkan terjadinya perkawinan diantara
keduanya karena telah terisolasi, sehingga memunculkan spesies baru.
Peristiwa munculnya spesies baru ini, disebut dengan spesiasi.
Menurut Istamar Syamsuri (2007), Spesiasi dibedakan menjadi dua
yaitu anagenesis dan kladogenesis. Anagenesis disebut juga sebagai
evolusi filetik, yaitu terbentuknya satu spesies baru dari satu populasi
tunggal. Sedangkan kladogenesis disebut juga sebagai evolusi bercabang
yaitu terbentuknya dua atau lebih spesies baru dari spesies asalnya.
Kladogenesis dapet meningkatkan keanekaragaman biologi dengan
bertambahnya spesies. Spesiasi dapat terjadi karena spesies yang sama
terpisah hidupnya akibat adanya penghalang. Penghalang tersebut dapat
berupa jarak yang jauh sehingga dua populasi atau individu dari dari
spesies yang sama tidak mungkin bertemu. Oleh karena terpisah dan tidak
dapat menukar gen maka tiap gen berkembang sendiri-sendiri. Dalam
jangka waktu yang lama, masing masing spesies beradaptasi dengan
kondisi lingkungan yang berbeda sehingga akhirnya keturunan mereka
memunculkan spesies yang berbeda dari nenek moyangnya. Kemudian
terbentuklah dua spesies yang berbeda dari spesies mula mula.

92

Spesies merupakan suatu kelompok yang apabila saling kawinmawin (interbreeding group) menghasilkan keturunan yang 93fertile.
Spesiasi terjadi dalam 2 cara berbeda yaitu alopatrik dan simpatrik.

Spesiasi alopatrik : spesiasi melalui isolasi geografik


Spesiasi simpatrik : spesiasi tanpa isolasi geografik

Spesiasi alopatrik

Spesiasi simpatrik

Satu populasi
saling kawin
Spesies B

Spesies A

Isolasi geografis
atau ekologis di
antara populasi
Zona ekologi baru

Peningkatan
divergensi genetik

Seleksi untuk
meningkatkan
isolasi reproduksi

Spesiasi selesai

93

F. Evolusi
Salah satu pandangan mengenai asal usul kehidupan menyatakan
bahwa kehidupan di bumi terbentuk melalui proses evolusi biologi.
Evolusi biologi adalah perubahan makhluk hidup secara perlahan lahan
dalam waktu yang lama, dari organsme tingkat rendah ke organismee
tingkat tinggi. Proses evolusi berlangsung selama jutaan bahkan miliaran
tahun. Proses yang berlangsung sekian lama itu tidak dapat diamati secra
langsung sehingga para pakar hanya dapat berteori. Beberapa pakr
mengatakan bahwa teori evolusi merupakan perpaduan antara gagasan
dan kenyataan, yaitu perpaduan antara ide dengan fakta. Gagasannya
adalah bahwa makhluk hidup mengalami evolusi, dari makhluk hidup
tingkat rendah ke makhluk hidup tingka lebih tinggi. Faktanya berupa
fosil,

alat tubuh yang tersisa, domestikasi, embriologi, embriologi

perbandingan, anatomi perbandingan, dan petunjuk biokimiawi. (Istamar


Syamsuri, 2007).
Dari berbagai fosil yang berhasil ditemukan, dapat diketahui
bahwa jenis jenis makhluk hidup yang hidup pada masa lampau berbeda
dengan jenis yang hidup pada masa sekarang. Beberapa jenis makhluk
purba pada saat ini bahkan telah punah dan hanya tinggal fosilnya saja,
misalnya dinosaurus (Istamar Syamsuri, 2007).
Berdasarkan sejarah perkembangan bumi yang dapat dipelajari di
lapisan batuan, periode jura, 150 juta tahun yang lalu merupakan masa
jaya bagi kelompok reptilia purba yang berukuran raksasa. Ada yang
hidup di perairan daratan, dan ada yang dapat terbang. Ukuran berbagai
jenis reptilia ini bervariasi, mulai reptilia sebesar kadal sampai dinosaurus
raksasa. Salah satu alasan terjadinya perubahan pada makhluk hidup
adalah perubahan dalam DNA (terjadi mutasi). Perubahan DNA dapat
disebabkan oleh rusak atau hilangnya segmen DNA. Perubahan pada
susunan kimia DNA akan mengakibatkan perubahan sifat organismee itu.
Perubahan pada makhluk hidup menimbulkan dua kemungkinan yaitu
makhluk hidup mampu menyesuaikan diri dengn lingkungannya sehingga

94

akan tetap hidup dan berkembag , dan kemungkinan kedua yaitu


mmakhluk hidup tidak mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya
sehingga tersingkir dan punah. (Istamar Syamsuri, 2007).
Mekanisme spesiasi merupakan jenis evolusi makro. Sedangkan
pembentukan sub spesies, varian, sub varian, forma disebut evolusi mikro.
Perlu dicatat bahwa proses pembentukan spesies baru dapat terjadi tetapi
tidak mengalami perbedaan yang sangat tajam dengan indukannya.
Sehingga, untuk tingkatan taksonomi yang mengalami evolusi adalah
tingkatan taksonomi yang mempunyai banyak persamaan diantara
anggota-anggotanya.

Hasil dari seleksi dijelaskan sebagai of the fittest hanya yang


paling kuat yang 95act hidup. Yaitu hanya individu dengan keberhasilan
dalam reproduksi pada suatu lingkungan tertentu.

Kemampuan reproduktif
untuk meningkatkan
jumlah
+

perjuangan
hidup

adanya 95actor95u

(modifikasi)

dari lingkungan (seleksi)

isolasi

tumbuhan

evolusi

beradaptasi
spesiasi
G. Kepunahan
Kepunahan adalah kematian 95 spesies. Kepunahan terjadi bila
suatu spesies tidak lagi mampu berreproduksi. Kebanyakan kepunahan
diperkirakan disebabkan oleh perubahan lingkungan yang mempengaruhi
spesies dalam dua cara :

95

Spesies mungkin tidak mampu beradaptasi terhadap lingkungan yang


berubah atau mati tanpa keturunan ;

atau dapat beradaptasi tetapi dalam prosesnya mungkin berkembang


menjadi spesies baru yang berbeda (spesiasi).
Dampak

manusia

pada

lingkungan

melalui

pemburuan,

pengumpulan dan perusakan habitat merupakan 96actor yang signifikan


pada kepunahan binatang maupun tumbuhan. Kepunahan merupakan fitur
yang sedang terjadi pada flora dan fauna di bumi, banyak spesies yang
pernah hidup telah punah.
Catatan fosil menunjukkan pernah terjadi beberapa kali kepunahan
masal, dengan setiap kali terjadi kepunahan spesies masal pula.
Di daerah tropis para ahli biologi menaksir terdapat 3 spesies
punah setiap jam. Kebanyakan penurunan ini disebabkan oleh kerusakan
habitat, terutama pembalakan. Hanya 6 % dari hutan di dunia secara
formal dilindungi, sisanya yang 33,6 juta km2 rentan terhadap eksploitasi.

96

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Seleksi merupakan suatu proses dimana penyeleksi (selektor)
memilih makhluk hidup yang dalam kajian ini adalah tumbuhan. Selektor
dapat berupa tekanan, gangguan, penyakit, maupun predator. Makhluk
hidup yang lolos seleksi akan lestari sedangkan yang tidak lolos akan mati
dan dapat mengalami kepunahan. Dalam proses selesksi alam, makhluk
hidup melakukan adaptasi yaitu penyesuaian diri terhadap lingkungannya.
Adaptasi dapat berupa adaptasi morfologi, fisiologi,tingkah laku,
reproduksi, dan adaptasi koevolusi. Pada proses adap tasi, tumbuhan dapat
mengalami modifikasi yaitu perubahan strukur tubuhnya yang disesuaikan
oleh selektor. Modifikasi, apabila dikembalikan ke lingkungan asalnya
maka akan sama seperti semula. Sedangkan pada adaptasi. Perubahan
terjadi secara permanen yaitu apabla tumbuhan dikembalikan ke tempat
asalnya tidak kembali seperti semula. Dan isolasi akan terjadi apabila hasil
modifikasi yang diturunkan sera keturunannya tidak dapat berhubungan
lagi dengan tetuanya. Setelah makhluk hidup termodifikasi dan terjadi
isolasi dapat memunculkan adanya spesies baru, yang disebut spesiasi.
Spesiasi merupakan awal dari evolusi dan evolusi bersumber pada variasi
genetic dan pengaturan kekuatan.

B. Saran
Dalam pembelajaran materi seleksi, modifikasi, adaptasi, isolasi, spesiasi
dan evolusi, akan berjalan lebih baik apabila :
1. Memperbanyak jkajian referensi.
2. Melakukan pengamatan secara langsung.
3. Lebih mengenal ciri morfologi tumbuhan agar dapat menganalisa dan
mengetahui modifikasi yang terjadi.
4. Mempelajari tentang spesimen tumbuhan yang pernah ada.

97

DAFTAR PUSTAKA

Kantun, Wayan. 2009. Adaptasi. Bali : STITEK Balik Diwa


Syamsuri,dkk. 2007. Biologi.Jakarta : Erlangga
Sudarsono, dkk. 2005. Taksonomi Tumbuhan Tinggi.Malang:UMPress

98

Pusat-pusat Keanekaragaman di Dunia

(Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Keanekaragaman Tumbuhan)

Dosen Pengampu: Sudarsono, M.Si.

Disusun oleh:
1. Fajar Gunadi

14304241014

2. Lailatul Fitriyah

14304241015

Kelompok 6/ Pendidikan Biologi A 2014

JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2015

99

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pusat penyebaran tanaman dapat dikatakan merupakan asal dari tanaman
budidaya. Pusat ini merupakan satu atau lebih daerah yang di dalamnya
terdapat banyak variasi suatu spesies tanaman termasuk jenis liarnya. Oleh
karena itu, bila pemulia ingin memeperoleh macam tanaman suatu spesies
maka perlu mengetahui dimana pusat penyebarannya.
Penyebaran yang tinggi di suatu daerah tertentu mungkin di sebabkan
oleh adanya kisaran besar dari lingkungan pada tempat yang jaraknya tidak
berjauhan, misalnya tanah pegunungan dengan banyak lembah-lembah cukup
dalam dan lebar sehingga membedakan lingkungannya. Jadi perbedaan spesies
terjadi akibat pengaruh lingkungan berbeda terus menerus. Ditambah dengan
adanya segresi dari hasil persilangan diantara kelompok tanaman di suatu
bagian daerah itu akan memperbesar perbedaan yang ada dan sekaligus
memperbesar variasinya.
Uraian di atas bila disimak sangat menarik dan pentingnya insan biologi
mengetahui tentang sumber pusat kenekaragamaan di dunia, hal itu menjadi
dasar kami menyusun makalah ini.
B. Tujuan
1. Mengetahui pengertian pusat dan daerah pusat keanekaragaman tumbuhan
2. Mengetahui faktor-faktor penyebab terjadinya pusat keanekaragaman
tumbuhan
3. Mengetahui daerah pusat keanekaragaman tumbuhan di dunia
C. Manfaat
1. Bagi penulis : Dapat menambah wawasan mengenai pusat-pusat
keanekaragaman tumbuhan yang ada di dunia serta sebagai acuan untuk
membuat karya tulis selanjutnya.

100

2. Bagi pembaca : Dapat dijadikan sebagai salah satu sumber bacaan sehingga
menambah wawasan serta pengetahuan mengenai pusat keanekaragaman
tumbuhan yang ada di dunia.

101

BAB II
ISI

A. Pengertia Keanekaragaman Tumbuhan


Organisme di alam ini sangat beranekaragam, manusia tidak dapat lepas
dari organisme seperti tumbuhan, hewan, dan protista dalam kehidupan
sehari-hari. Keanekaragaman ini merupakan fakta dan gejala yang dapat
diamati dengan baik dari segi ukuran, bentuk, struktur, warna, fungsi,
perawakan, lama tumbuh dan tanggapan terhadap faktor lingkunan (
Sudarsono, dkk, 2005:5). Keanekaragaman yang ada dapat disebabkan
adaptasi, mutasi, modifikasi, perkembangan tumbuhan, faktor lingkungan,
dan genetika.
Keanekaragaman hayati adalah variabilitas diantara makhluk hidup dari
semua sumber, termasuk interaksi ekosistem terestriaal, pesisir dan lautan,
dan ekosistem akuatik lain serta ekologik tempat makhluk hidup menjadi
bagiannya; hal ini meliputi keanekaragaman jenis, antarjenis, dan ekosistem
(Convention on biological Diversity, 1993). Sedangkan pengertian yang lain,
keanekaragaman hayati adalah ketersediaan keanekaragaman sumber daya
hayati berupa jenis maupun kekayaan plasma nutfah (keanekaragaman
genetik di dalam jenis), keanekaragaman antarjenis dan keanekaragaman
ekosistem (Sudarsono, dkk, 2005:6).
B. Variasi Keanekaragaman
Menurut Sudarsono (2005) variasi dibagi menjai 3 yaitu :
1. Variasi Perkembangan
Tanaman dewasa sering menunjukkan perbedaan dengan tanaman
muda. Variasi perkembangan ditentukan oleh genetis.
2. Variasi yang Disebabkan oleh Lingkungan
Tumbuhan-tumbuhan yang secara keseluruhan beragam diantaranya
banyak jenis yang menyimpang dari pertumbuhannya sebagai respon
terhdap lingkungan. Perubahan ini disebabkan karena sinar matahari, air,
makanan, suhu, dan tanah.

102

3. Variasi Genetika
Variasi ini bersifat turun-temurun yang mempunyai dua sumber :
a. Mutasi
Mutasi adalah perubahan yang terjadi secara mendadak yang
diteruskan ke generasi berikutnya yang sifatnya baka. Keturunan yang
terjadi berbeda baik bentuk maupu sifatnya dari induknya. Mutasi
dibagi dua yaitu mutasi gen dan mutasi kromosom.
b. Rekombinasi dan Aliran Gen
Gerakan dan perkembangan gen di antara anggota populasi
melukiskan perpindahan gen-gen (Sudarsono dkk, 2005:11-13).

C. Pengertian Pusat dan Daerah Pusat keanekaragaman Tumbuhan


Daerah Pusat keanekaragaman adalah suatu tempat dimana ditemukannya
varietas atau jenis suatu tanaman paling banyak dibanding tempat-tempat
lainnya, namun ditempat lain tanaman tersebut dapat ditemukan tapi dengan
jumlah yang lebih sedikit. Tanaman yang tumbuh di daerah pusat
keanekargaman berbeda dengan tanaman species endemik, dimana tanaman
yang tumbuh di daerah pusat keanekaragaman masih bisa ditemukan di tempat
lain dengan jumlah lebih sedikit dibanding daerah pusat, sedangkan tanaman
spesies endemik adalah tanaman yang hanya dapat hidup atau ditemukan di
daerahnya saja sehingga tidak ditemukan di tempat lainnya (Kimball, J.W :
1983).
1. Daerah Pusat Keanekaragaman Primer
Suatu daerah dimana dapat ditemukannya varietas atau jenis suatu
tanaman paling banyak dibanding tempat-tempat lainnya, namun ditempat
lain tanaman tersebut dapat ditemukan tapi dengan jumlah yang lebih
sedikit.
2. Daerah Pusat Keanekaragaman Sekunder
Suatu daerah pendukung ditemukannya varietas atau jenis suatu
tanaman dalam jumlah cukup banyak, namun tidak sebanyak daerah pusat
keanekaragaman primer.

103

3. Daerah Pusat Keanekaragaman Tersier


Suatu Suatu daerah pendukung ditemukannya varietas atau jenis suatu
tanaman dalam jumlah

banyak, namun tidak sebanyak daerah pusat

keanekaragaman primer maupun sekunder.

D. Faktor-faktor Penyebab Terjadinya Pusat Kenekaragaman Tumbuhan


1. Alami
Faktor alami disini diartikan faktor yang disebabkan interaksi dengan
unsur alam atau lingkungan, tanpa adanya campur tanagan manusia dan
proseSnya bejalan secara alamiah (Aryulina, Dyah, dkk : 2004).
Sebagai contohnya antara lain :
a. Garis lintang
b. Iklim
c. Temperatur
d. Edafik
e. Toleransi hidup tumbuhan
f. dll
2. Buatan
Faktor yang sengaja dibuat untuk memenuhi kebutuhan manusia,
dengan kata lain hal ini erat kaitannya dengan campur tangan manusai.
Sebagai contohnya yaitu Budidaya Tumbuhan.

E. Pusat keanekaragaman Tumbuahan di Dunia


Menurut zeven dan Zhukovsky terdapat 12 pusat keanekaragaman
tumbuhan di dunia :
1. Pusat Cina Jepang
Vavilov menyebutkan pusat cina- jepang sebagai pusat asia timur.
Dimana wilyahnya mencakup sebagian besar meliputi dataran cina, cina
utara denagan pertanian sayur-sayuran dan biji-bijian serta cina selatan yang
membentuk

zona

penyangga

antara

cina

utara

dengan

pusat

104

keanekaragaman Indocina-Indonesia. Jepang merupakan pusat sekunder


untuk beberapa tanaman. Diperkirakan awal budidaya pertanian untuk
kawasan ini dimulai di Yang Shao di daerah Cina Utara sekitar 1300 SM
(Sudarsono, dkk, 2005:7).
Cina merupakan salah satu daerah terkaya yang menyumbang banyak
tanaman budidaya penting khususnya tanaman buah-buahan. Tanaman
penting lainnya Brassica campestris dan jenis kerabatnya, Colocasia
esculenta, Glycine max, Raphanus sativus, dll. Daerah ini merupakan pusat
daerah sekunder Oryza sativa ssp, Japonica, Zae mays, dan beberapa
tanaman lainnya (Sudarsono, dkk, 2005:7).
2. Pusat Indocina-indonesia
Vavilov menamakan pusat ini pusat Asia Tropik. Darlington 1956 dan
Li 1966 membagi daearah ini kedalam Asia Timur meliputi Birma, Indocina
dan Asia Tenggara. Budidaya pertanian tertua dikawasan ini diperkirakan
terjadi di The Spirit Cave yang terletak sekitar 60 Km sebelah utara Mae
Hongson (Thailand). Menurut Gorman 1969 pembudidayaan telah
berlangsung di daerah ini sekitar sejak 10.000-5600 SM, sedangkan solheim
1972 memperkirakan budidaya holtikultura telah dimulai sejak 20.00015.000 SM, sedangkan untuk tanaman budidaya lainnya dan hewan
berlansung sekitar 15.000-8.000 SM. Di daerah Spirit Cave masih
ditemukan Prunus, Terminalia, Areca, Phaseolus, Piper, Canarium,
Lagenaria, dan Cucumis.
Berbeda dari pusat Cina-Jepang , perkembangan pertanian di pusat ini
pada umumnya meliputi tanaman budidaya yang diperbanyak secara
badaniah. Pusat ini penting penting untuk tanaman-tanaman seperti bambuh,
buah-buahan tropik jahe-jahean, Cocos nucifera, Colocasia esculenta,
Dioscorea sp, Musa sp, Oryza sp tipe liar dan Saccharum officinalis
(Sudarsono, dkk, 2005:7).
Untuk memberikan gambaran tentang penyebaran geografis dan
perubahan-perubahan keanekaragaman genetik selama migrasi dari tanaman
liar ke budidaya diberikan contoh penyebaran kultivar-kultivar pisang yang

105

dimakan. Marga Musa (2n=22,33,44) terbagi kedalam 4 seksi utama diaman


Eumusa merupakan kultivar penting, kultivar pisan yang dimakan
merupakan perkembangan dari M. acuminata Colla ( 2n= 22 bergenom AA)
diploid dan triploid (AAA), dan hibris M. acuminata dengan M. balbisinia
Colla (2n=22 genom BB) yang diploid (AB) dan triploi (AAB dan ABB)
dan tetraploid (ABBB). Tipe hibrid diberi nama M. sapientum L dan M.
paradisica L, M. acuminata merupakan jenis yang plimorpis. Pusat asal di
daerah Malaya , namun pada saat ini keanekaragaman terbesar ada di
daearah Irian Jaya (Sudarsono, dkk, 2005:8).
3. Pusat Australia
Pusat Australia tidakdideskripsikan oleh vavilov . Zhukovsky
menjadikan Australia satu pusat tersendiri karena di sinipun ditemukan
sejarag pembudidayaan berbagai jienis tanaman liar ketanaman bermanfaat,
atau penggunaan jenis liar

untuk tujuan pemulian. Jenis liar yang

diguanakan dalam pemulian tanaman tembakau adalah Nicotiana debneyi


dan N. goodspedii. Tanaman utama pusat ini adalah jenis Eucalyptus.
Australia juga merupakan pusat keanekaragaman sekunder untuk Trifolium
subterranaeum (Sudarsono, dkk, 2005:8).
4. Pusat Hindustan
Pusat Hindustan oleh vavilov dimasukkan kedalam pusat Asia tropik
bagian selatan. Zhukovsky 1968 memisahkannya menjadiakan pusat
tersendiri karena ditemukan beberapa jenis spesifikasi di daerah Hindustan.
Walaupun derah ini tidak jauh dari daerah pertanian tu di Thailand, namun
budidaya pertanian diintroduksi kedaerah ini lewat daerah tetangga di
sebelah barat laut. Budidaya pertanian di mulai sejak 2.500-2.000 SM di
Mohenjo Daro, Harappa, Pakistan, dan disekitar sungai Nerbada di India
Tengah untuk tanaman kapas, gandum, padi, kacang, dan Lathyrus sativus,
kecuali padi, tanaman telah dibudidayakan di luar daerah india kemudian
diintroduksi. Tanaman penting daerah ini adalah bambu, tanaman buahbuahan pohon,Cucurbita sativa, Mangifera indica, Musa sp, Oryza sativa,
Phaseolus mungo, Piper sp, Saccharum sinense, dan vigna sinensis. Jenis-

106

jenis dari pusat ini telah mempengaruhi perkembangan tanaman budidya ke


daerah-daerah Mesir purba, Assyria, dan Sumeria. Penyebaran tanaman
jeruk, kapas, jute, padi dan tebu kedaerah Mediterania telah dilakukan oleh
bangsa Arab pada abad 8-10 AD (Sudarsono, dkk, 2005:8-9).
5. Pusat Asia Tengah
Pusat Asia Tengah Oleh Vavilov disebut pusat Barat Daya Asia. Pusat
berperan sebagai zone transfer antara pusat Cina-Jepang dengan pusat
Hindustan, sehingga Himalaya menjadi daerah penerima banyak jenis
tanaman budidaya sebagai paerental stock. Introduksi teknik budidaya
pertanian dari daerah Timur Dekat ke daerah Asia Tengah berlansung
sekitar 5.000 SM. Tanaman penting pusat ini adalah buah-buahan pohon,
Allium cepa, A. sativus dan Vicia faba. Daerah Asia Tengah merupakan
pusat keanekaragaman sekunder untuk Cucumis melo (Sudarsono, dkk,
2005:9).
6. Pusat Timur Dekat
Vavilov menamakan pula pusat ini Pusat Timur Dekat, namun
sebagian daerah Pusat Asia Tengah digabungkan kedalam pusat ini. Pusat
ini terdapat daerah Fertile Crescent yang merupakan derah yang tidak
dipengaruhi oleh daerah-daerah lainnya,

budidaya

pertanian telah

dikembangkan di daerah ini sejak 9.000 tahun SM. Dari daerah ini budidaya
pertanian dikembangakan di Eropa, daerah Mediterania, Afganistan, India
dan kemungkinan juga ke daerah Afrika. tanaman penting pusat ini adalah
Brassica oleracea, Hordeum vulgare,Lens_esculenta, Medicago sp, Secale
sp, Triticum sp, dll (Sudarsono, dkk, 2005:9).
7. Pusat Mediterania
Pusat keanekaragaman genetik mediterania mencakup wilayah yang
sama dikemukan oleh vavilov . letaknya yang dekat dengan tempat lahir
pertanian di Pusat Timur Dekat memungkinkan terjadinya introduksi
tanaman budidaya dengan cepat. Awal pertanian pada pusat ini terjadi di
daerah Nea Nikomedia, Yunani 5470 SM. Banayak tanaman telah

107

dibudidayakan di daerah ini diantaranya Avena sp, Beta vulgaris, Brassica


napus, B. oleracea, Raphanus sativus, dll (Sudarsono, dkk, 2005:9).
8. Pusat Afrika
Pusat Afrkia oleh vavilov digabungkan ke pusat Abyssia. Awal
pertanian pada pusat ini terjadi di Etiopia, Afrika Timur dan afrika Barat.
Daerah Afrika Barat dianggap yang paling penting karena awal
perkembangan budidaya pertanian di derah tersebut berlansung bebas dari
pengaruh luar dibandingkan dengan kedua dearah lainnya tadi, dimana
budidaya pertaniannya diintroduksi dari Pusat Timur Dekat. Puasat Afrika
memberikan pengaruh terhadap budidaya pertanian dunia. Banyak tanaman
yang bersal dari Afrika antara lain Brassica juncea, Ceiba pentandra,
Coffea sp, Ricinus communis, pennisetum sp, Vigna unguiculata, dll
(Sudarsono, dkk, 2005:9-10).
9. Pusat Siberia-Eropa
Pusat ini dikemukakan oleh vavilov, Zhukovsky menyatakan sebagai
pusat yang relatif kurang penting. Budidya pertanian memasuki daerah ini
dar daerah timur dekat sekitar 4000 SM

kedaerah Eropa Barat Laut.

Beberapa tanaman budidaya yang berkembang di pusat ini adalah buahbuahan pohon Brassica sp, Lactuca sativa dan Medicago sp (Sudarsono,
dkk, 2005:10).
10. Pusat Amerika Selatan
Pusat Amerika Selatan sebelum dipisahkan dari daerah pegunungan
Andes dan Vavilon menggambarkan sebagai pusat Andes. Vavilov
membagi wilayah tersebut dalam dua daerah yaitu : a. peru, Equador,
Bolivia, darl. b. daerah yang lebih sempit, Chili dan kepulaun Chiloe.
Budidaya pertanian diintroduksi daerah Amerika Tengah ke pusat ini sekitar
6.000 SM.
Sejumlah tanaman berumbi seperti Rosa, Oxalis tubelanum, Ullucus
tuberosa dibududayakan dipusat ini. Jenis Solanum berumbi yang triploid
sampai heksaploid berkembang di dearah tersebut. Tanaman pentin lainnya
adalah Amaranthus sp, Ananas comosus, Arachis hypogea, capsicum sp,

108

Cucurbita maxima, Hevea sp, Manihot esculenta, Theobroma cacao, dll


(Sudarsono, dkk, 2005:10).
11. Pusat Amerika Tengah dan Meksiko Tengah
Vavilov mendiskripsika pusat ini sebagai pusat Amerika Tengah
dan Tamaulipasa serta Lembah Tehuacan. Tanaman yang dibudidayaka
pada waktu itu adalah Amaranthus sp, Avocado persica, Capsicum
annuum, Cucurbita pepo, C. mixta, Gossypium hirsutum dan Lagenaria
sicerania. Hanya beberapa tanaman penting yang telah dibudidayakan di
pusat ini antara lain Ipomoea batatas, Zae mays, Agave sp, dll (Sudarsono,
dkk, 2005:10).
12. Pusat Amerika Utara
Budidaya pertanian di pusat ini dimasukkan dari pusat Amerika
Tengah dan Meksiko Tengah. Tanaman yang pertanama diintroduksi
adalah Zae mays. Tanaman-tanaman yang dibudidayakan di pusat ini
adalah Fragaria virginia, Helianthus sp, Prunus sp, dll (Sudarsono, dkk,
2005:10).

109

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa

1. Pusat dan daerah pusat keanekaragaman adalah suatu tempat dimana


ditemukannya varietas atau jenis suatu tanaman paling banyak dibanding
tempat-tempat lainnya, namun ditempat lain tanaman tersebut dapat
ditemukan tapi dengan jumlah yang lebih sedikit. Dimana daerah pusat
keanekaragaman dapat digolongkan menurut jumlah varietas atau jenisnya
suatu tanaman yang ada di daearah itu.
2. Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya pusat keanekaragamaan
tumbuhan terbagi menjadi dua yaitu: alami dan buatan. Faktor alami,
misalnya garis lintang, iklim, temperatur, edafik, toleransi hidup tumbuhan
, dll, sedangakan faktor buatan, misalnya budidaya Tumbuhan.
3. Daerah pusat keanekaragaman tumbuhan di dunia menurut Zeven dan
Zhukovsky terdapat 12 pusat yaitu : Pusat Cina - Jepang, Pusat Indocina
Indonesia, Pusat Australia, Pusat Hindustan, Pusat Asia Tengah, Pusat
Timur Dekat, Pusat Mediterania, Pusat Afrika, Pusat Serbia-Eropa, Pusat
Amerika Selatan, Pusat Amerika Tengah dan Meksiko Tengah, serta yang
terakhir Pusat Amerika Utara.

110

DAFTAR PUSTAKA

Aryulina, Dyah, dkk. 2004. Biologi 1. Jakarta: Esis.


Sudarsono, dkk. 2005. Taksonomi Tumbuhan Tinggi. Yogyakarta: UM Press.
Kimball, J.W. 1983. Biologi. Jilid 2. Edisi Kelima. Terjemahan S.S. Tjitrosomo &
N. Sugiri. 1999. Erlangga. Jakarta.

111

Klasifikasi Tumbuhan
(Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Keanekaragaman Tumbuhan)

Dosen Pengampu: Sudarsono, M.Si.

Disusun oleh:
1.

Umi Latifah

(14304241016)

2.

Rizky MarAtun Nafis

(14304241017)

Kelompok 7/ Pendidikan Biologi A 2014

JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2015

112

BAB I
PENDAHULUAN

Makhluk hidup yang ada di bumi ini sangat banyak dan beranekaragam.
Bahkan di setiap daerah memiliki jenis makhluk hidup yang khas, yang tidak
ditemukan di daerah lain. Adanya keanekaragaman makhluk hidup ini menjadi
suatu masalah dalam mengenal dan mempelajarinya. Oleh karena itu,diperlukan
suatu sistem yang mengatur keanekaragaman yang ada. Klasifikasi merupakan
kata serapan dari bahasa Belanda, classificatie, yang sendirinya berasal dari
bahasa Inggris classification. Istilah ini menunjuk kepada sebuah metode untuk
menyusun data secara sistematis atau menurut aturan dan kaidah yang telah
ditentukan.
Secara harafiah bisa puladikatakan bahwa klasifikasi adalah pembagian
sesuatu menurut kelas - kelas. Klasifikasi adalah suatu cara pengelompokan yang
didasarkan pada ciri-ciri tertentu. Semua ahli biologi menggunakan suatu sistem
klasifikasi untuk mengelompokkan tumbuhan ataupun hewan yang memiliki
persamaan struktur. Kemudian setiap kelompok tumbuhan ataupun hewan
tersebut dipasang-pasangkan dengan kelompok tumbuhan atau hewan lainnya
yang memiliki persamaan dalam kategori lain.
Untuk mengenali dan mempelajari makhluk hidup secara keseluruhan tidak
mudah sehingga dibuat klasifikasi (pengelompokan) makhluk hidup. Klasifikasi
makhluk hidup adalah suatu cara memilah dan mengelompokkan makhluk hidup
menjadi golongan atau unit tertentu. Urutan klasifikasi makhluk hidup dari tingkat
tertinggi ke terendah yang sekarang digunakan adalah Kingdom (Kerajaan),
Phylum atau Filum(hewan)/Divisio (tumbuhan), Classis (Kelas), Ordo (Bangsa),
Famili (Suku),Genus (Marga), dan Spesies (Jenis).

113

BAB II
ISI

Keanekaragaman yang terdapat dimuka bumi sangatlah besar, baik dalam


bentuk, ukuran, struktur, fungsi dan lain sebagainya. Untuk memudahkan
mempelajari tumbuhan yang beraneka ragam dengan sifat dan ciri yang berbeda
maka secara sadar ataupun tidak sadar manusia menggolongkan tumbuhantumbuhan

yang ada sesuai

kepentingan masing-masing. Untuk mempelajari

obyek yang demikian besar jumlah dan keanekaragamannya, tidak ada jalan lain
kecuali dengan menyederhanakan obyek studi sehingga mudah dipahami. Obyek
studi

yang demikian besar jumlah dan keanekaragamannya

kemudian

dikelompokkan menjadi kelas-kelas atau unit-unit tertentu. Unit-unit inilah yang


sekarang disebut dengan istilah takson dan pembentukan takson-takson disebut
klasifikasi.
Klasifikasi adalah proses pengaturan hewan atau tumbuh-tumbuhan ke
dalam takson tertentu berdasarkan persamaan dan perbedaan. Hasil proses
pengaturan merupakan suatu sistim klasifikasi, yang sengaja diciptakan untuk
menyatakan hubungan kekerabatan jenis-jenis makhluk hidup satu sama lainnya.
Klasifikasi yang bertujuan untuk menyederhanakan obyek studi pada hakikatnya
adalah mencari keseragaman dalam keanekaragaman. Kesamaan-kesamaan atau
keseragaman itulah yang dijadikan dasar dalam mengadakan klasifikasi, dengan
demikian anggota suatu unit atau suatu takson mempunyai sejumlah kesamaankesamaan sifat. Takson yang anggotanya menunjukkan banyak kesamaan sifat
tentu merupakan takson yang lebih kecil daripada suatu takson yang anggotanya
menunjukkan kesamaan lebih sedikit (Tjitrosoepomo, 1993:5).
Permasalahan dalam klasifikasi tumbuhan adalah adanya sistem klasifikasi
berbeda-beda yang menurut Sudarsono (2005: 26) disebabkan oleh beberapa hal
sebagai berikut :
1.

Tumbuhan yang diklasifikasikan begitu banyak sehingga menghasilkan


klasifikasi yang berbeda-beda.

114

2.

Setiap ahli botani menggunakan dasar dan tujuan yang berbeda dalam
membuat klasifikasi.

3.

Setiap ahli botani memiliki kemampuan atau pengetahuan yang berbeda


dalam membuat klasifikasi

4.

Setiap ahli botani mempunyai interes dalam mengambil putusan,


pertimbangan terhadap pemilihan sifat dan ciri yang dipakai dalam
klasifikasi

5.

Adanya revisi atau perubahan peraturan tatanama

6.

Kelengkapan bahan dan data setiap ahli botani berbeda-beda

7.

Adanya taksonomi percobaan yang menggunakan disiplin ilmu


pengetahuan yang lain, seperti biokimia, sitologi.

A. Tujuan Klasifikasi
Adapun tujuan Klasifikasi makhluk hidup adalah :
1.

Mengelompokkan makhluk hidup berdasarkan persamaan ciriciri yang dimiliki.

2.

Mengetahui

ciri-ciri

suatu

jenis

makhluk

hidup

untuk

membedakannya dengan makhluk hidup dari jenis lain.


3.

Mengetahui hubungan kekerabatan makhluk hidup.

4.

Memberi nama makhluk hidup yang belum diketahui namanya


atau belum memiliki nama.

B. Proses Klasifikasi
Para biologiawan masih menggunakan buku Linnaeus yang berjudul
Systema Naturae (sistem Alam) yang diterbitkan tahun 1758 sebagai dasar
untuk klasifikasi ilmiah. Ada tiga tahap yang harus dilakukan untuk
mengklasifikasikan makhluk hidup, yaitu:
1.

Pencandraan

(identifikasi),

Pencandraan

adalah

proses

mengidentifikasi atau mendeskripsi ciri-ciri suatu makhluk


hidup yang akan diklasifikasi.
2.

Pengelompokan, setelah dilakukan pencandraan, makhluk hidup


kemudian dikelompokkan dengan makhluk hidup lain yang

115

memiliki ciri-ciri serupa. Makhluk hidup yang memiliki ciri


serupa dikelompokkan dalam unit-unit yang disebut takson.
3.

Pemberian nama takson, selanjutnya kelompok-kelompok ini


diberi nama untuk memudahkan kita dalam mengenal ciri-ciri
suatu kelompok makhluk hidup.

C. Sifat dan Ciri


Kegiatan taksonomi tidak dapat dilakukan tanpa melibatkan sifat dan
ciri beserta variasinya yang dimiliki oleh suatu individu. Sifat dan ciri
tersebut memungkinkan seseorang menggambarkan konsep dan mengenal
takson.
1. Sifat
Sifat adalah ciri khas pada makhluk hidup yang membedakan dengan
makhluk hidup yang lain. Sifat mengacu kepada bentuk, susunan,
tingkah laku yang digunakan untuk membandingkan dan memisahkan
antara organismee satu dengan lainnya. Terdapat beberapa sifat
menurut Sudarsono (2005:28), yaitu :
a. Sifat analisis, yaitu sifat yang digunakan untuk identifikasi,
pencirian dan pembatasan suatu takson.
b. Sifat sintesis, yaitu sifat yang ada secara serba sama dan
meluas merata pada seluruh anggota suatu takson.
c. Sifat kuantitatif, meliputi penilaian wujud dengan ukuran,
panjang, dan lain-lain. Contohnya adalah jumlah daun
mahkota.
d. Sifat kualitatif, meliputi sifat abstrak, misalnya tidak terdapat
benang sari.
2. Ciri
Ciri merupakan ekspresi dari sifat, selain itu juga dapat didefinisikan
sebagai wujud yang merupakan pernyataan sifat yang dapat diukur,
dihitung atau diberi penilaian lain.

116

D. Tingkatan atau Unit Klasifikasi


Dalam sistem klasifikasi, makhluk hidup dikelompokkan menjadi suatu
kelompok besar kemudian kelompok besar ini dibagi menjadi kelompokkelompok kecil. Kelompok-kelompok kecil ini kemudian dibagi lagi menjadi
kelompok yang lebih kecil lagi sehingga pada akhirnya terbentuk kelompokkelompok kecil yang beranggotakan hanya satu jenis makhluk hidup.
Tingkatan-tingkatan pengelompokan ini disebut takson. Taksa (takson) telah
distandarisasi di seluruh dunia berdasarkan International Code of Botanical
Nomenclature dan International Committee on Zoological Nomenclature.
Tingkat takson sangat penting karena tanpa adanya tingkat-tingkat takson
maka faedah dari sistem klasifikasi tidak dapat dihasilkan. Takson dinyatakan
sebagai unit taksonomi tingkat yang manapun. Bila setiap bagian yang lebih
kecil pada takson itu disebut dengan istilah yang sama dan diberi awalan anak
(sub), kita dapat memilah 25 takson termasuk yang terkecil yaitu individu.
Berikut ini urutan 25 takson tersebut dari yang paling besar ke yang kecil.
Dunia

= regnum/kingdom

Seksi

= sectio

Anak dunia

= sub regnum /

Anak seksi

= sub sectio

kingdom

Seri

= series

Divisi

= division/filum

Anak seri

= sub series

Anak divisi

= sub division/filum

Jenis

= spesies

Kelas

= classis

Anak jenis

= sub spesies

Anak kelas

= sub classis

Varitas

= varietas

Bangsa

= ordo

Anak varitas = sub varietas

Anak bangsa = sub ordo

Bentuk

= forma

Suku

= familia

Anak bentuk = sub forma

Anak suku

= sub familia

Individu

Rumpun

= tribus

= individu

Anak rumpun = sub tribus


Marga

= genus

Anak marga

= sub genus

117

Karena

tingkatan

takson

yang

terlalu

banyak,

maka

untuk

mempermudah hal tersebut didalam kehidupan sehari-hari hanya digunakan 7


tingkatan takson utama, yaitu :
1.

Kingdom, merupakan tingkatan takson tertinggi makhluk hidup.


Kebanyakan ahli Biologi sependapat bahwa makhluk hidup di dunia
ni dikelompokkan menjadi 5 kingdom (diusulkan oleh Robert
Whittaker tahun 1969). Kelima kingdom tersebut antara lain :
Monera, Proista, Fungi, Plantae, dan Animalia.

2.

Filum/divisio (keluarga besar). Nama filum digunakan pada dunia


hewan, dan nama division digunakan pada tumbuhan. Filum atau
division terdiri atas organisme-organismee yang memiliki satu atau
dua persamaan ciri. Nama filum tidak memiliki akhiran yang khas
sedangkan nama division umumnya memiliki akhiran khas, antara
lain phyta dan mycota.

3.

Kelas (classis). Kelompok takson yang satu tingkat lebih rendah dari
filum atau divisio.

4.

Ordo (bangsa). Setiap kelas terdiri dari beberapa ordo. Pada dunia
tumbuhan, nama ordo umumnya diberi akhiran ales.

5.

Famili. Famili merupakan tingkatan takson di bawah ordo. Nama


family tumbuhan biasanya diberi akhiran aceae, sedangkan untuk
hewan biasanya diberi nama idea.

6.

Genus (marga). Genus adalah takson yang lebih rendah dariada


family. Nama genus terdiri atas satu kata, huruf pertama ditulis
dengan huruf capital, dan seluruh huruf dalam kata itu ditulis dengan
huruf miring atau dibedakan dari huruf lainnya.

7.

Species (jenis). Species adalah suatu kelompok organisme yang


dapat melakukan perkawinan antar sesamanya untuk menghasilkan
keturunan yang fertile (subur).

118

E. Konsep Kategori
Menurut kesepakatan internasional, istilah-istilah untuk menyebut
masing-masing takson bagi tumbuhan itu tidak boleh diubah, sehingga
masing-masing istilah sekaligus menunjukkan kedudukan atau tingkat dalam
hierarki penataan takson tumbuhan yang disebut kategori. Kategori adalah
tingkat-tingkat atau derajad-derajad dalam sutu hirarki dimana golongangolongan ditempatkan. Kategori dibagi menjadi :
1. Kategori mayor
Kategori mayor terdiri atas takson marga ke atas yang meliputi
marga, anak tribus, tribus, anak suku, suku, anak bangsa, bangsa, anak
kelas, kelas, anak divisi, divisi dan dunia tumbuhan.
2. Kategori minor
Kategori ini terdiri atas takson dibawah marga sampai jenis yang
meliputi anak marga, seksi, anak seksi, deret, anak deret dan jenis.
3. Kategori dibawah jenis
Kategori dibawah jenis terdiri atas anak jenis, varietas, anak
varietas, forma, anak forma dan individu.
F. Macam-macam Sistem Klasifikasi
1. Klasifikasi Empirik
Klasifikasi empirik adalah klasifikasi yang tidak didasarkan
pada

sifat-sifat

yang

dimiliki

oleh

tumbuh-tumbuhan

yang

diklasifikasi, contohnya adalah klasifikasi berdasarkan abjad.


2. Klasifikasi Rasional
Klasifikasi rasional adalah suatu klasifikasi yang betul-betul
mempunyai hubungan langsung dengan tumbuha-tumbuhan, dengan
menggunakan sifat-sifat yang dimiliki tumbuhan itu sebagai dasarnya,
klasifikasi inilah yang digunakan secara ilmiah. Klasifikasi rasional
dibedakan atas lima yaitu:
a.

Klasifikasi praktis (klasifikasi khusus)


Klasifikasi praktis dibuat untuk memenuhi kepentingan
kepentingan tertentu, dimana tumbuh-tumbuhan digolongkan
119

berdasarkan sifatnya yang berguna untuk manusia. Klasifikasi ini


paling

banyak

digunakan

dalam

kehidupan

sehari-hari.

Contohnya; penggolongan tumbuhan serat, tanaman obat-obatan,


tumbuhan gulma, tumbuhan penghasil getah dan lain-lain.
b.

Klasifikasi buatan
Hampir semua klasifikasi terdahulu bersifat buatan. Tujuan
utamanya adalah untuk mempermudah pengenalan sehingga
biasanya hanya didasarkan pada satu atau dua ciri morfologi yang
mudah dilihat. Sekarang klasifikasi ini jarang dipakai karena
sudah tidak berimbangan dengan kemajuan dan keperluan botani
modern. Sistem klasifikasi ini diciptakan oleh Theophrastus (370285 SM) dimana tumbuhan digolongkan berdasarkan habitus atau
perawakannya yaitu menjadi kelompok pohon, semak, perdu dan
terna. Klasifikasi ini dipakai hampir selama 2000 tahun.
Linnaeus mengganti sistem habitus ini dengan sistim kelamin dan
dikenal 24 kelas tumbuhan berdasarkan jumlah, posisi dan
panjang benang sari. Kelas-kelas ini dibagi-bagi menjadi
beberapa bangsa berdasarkan sifat-sifat putiknya. Sistim ini juga
banyak mempunyai kekurangan karena mengabaikan ciri
morfologi lainnya dan tidak menunjukkan hubungan kekerabatan
yang sebenarnya.

c.

Klasifikasi fenetik
Klasifikasi ini didasarkan pada kekerabatan yang ditentukan
oleh banyaknya persamaan bentuk yang nampak. Pertama sekali
disusun oleh Antoine Laurent De Jussieu (1748-1836). Dunia
tumbuhan dibagi menjadi tiga golongan besar yaitu:
- Acotyledonae (jamur, ganggang, lumut dan paku-pakuan).
- Monocotyledonae
- Dicotyledonae
Sifat-sifat

tumbuhan

diberinya

nilai

yang

berbeda,

misalnya: embrio lebih penting dari benang sari, benang sari lebih
120

berharga dari nilai mahkota bunga dan seterusnya. Berdasarkan


ini tumbuhan biji digolongkannya menjadi 15 kelas, kemudian
dipecah menjadi 100 bangsa. Sistem ini diperluas oleh Agustine
Pyramus de Candolle (1778-1841), dalam buku Prodromus yang
berisi 60.000 jenis tumbuhan berbiji, 211 suku, urutannya dimulai
dari golongan yang mempunyai bagian bunga yang lepas, banyak
dan jelas perbedaannya, misalnya Magnoliaceae ,Annonaceae
dan lain-lain, diikuti golongan dengan bunga tereduksi. Selain
Pyramus terdapat beberapa tokoh lain antara lain Robert Brown
(1773-1858) menemukan bahwa biji Gymnospermae terbuka dan
tidak terlindung oleh bakal buah sperti pada Angiospermae,
Holfmeiter (1824-1877) memberi landasan pergiliran keturunan
pada lumut, paku dan tumbuhan berbiji, dikenallah takson-takson
Thallophyta, Bryophyta, Pteridophyta dan Spermatophyta dan
kerjasama George Bentham (1800-1844) dan Joseph Dalton
Hooker (1817-1911) menghasilkan klasifikasi yang terkenal dan
banyak digunakan, diungkapkan dalam Genera Plantarum.
Batasan-batasan yang digunakan cukup alamiah dan dianggap
mencerminkan arah evolusi.
d.

Klasifikasi filogeni (filetik)


Sejak terbitnya buku The Origin of Species dan
diterimanya teori evolusi yang diungkapkan di dalamnya oleh
Charles Darwin (1809-1882) maka sistem klasifikasi bertujuan
untuk mencerminkan evolusi jenis. Jenis yang ada sekarang tidak
lagi dianggap sebagai ciptaan khusus yang statis, mantap dan
tidak berubah-ubah, tetapi merupakan populasi yang bervariasi,
dinamis dan dianggap sebagai keturunan jenis-jenis sebelumnya.
Filogeni adalah perkembangan sejarah garis-garis evolusi dalam
suatu golongan makhluk hidup, jadi dapat diartikan sebagai asal
dan evolusi suatu takson. Klasifikasi ini menekankan keeratan
hubungan kekerabatan nenek moyang takson satu dengan yang
121

lainnya.

Dasar-dasar

teori

evolusi

sebenarnya

tidak

mengakibatkan perubahan klasifikasi luar biasa karena tidak


banyak berbeda denfgan Bentham & Hooker, hanya berbeda
dalam

istilah-istilah,

misalnya

kesamaan

diganti

dengan

kekerabatan.
Pada tahun 1883 Eichler (1839-1887), membagi dunia
tumbuh-tumbuhan ke dalam dua golongan besar yaitu:
- Cryptogame; dibagi tiga divisi: Thallophyta (Fungi dan
Alga), Bryophyta dan Pteridophyta
- Phanerogame; dibagi ke dalam Gymnospermae dan
Angiospermae
e.

Klasifikasi alamiah
Dikatakan bersifat alamiah bila sistim itu mencerminkan
keadaan sebenarnya seperti di alam, dan serbaguna karena banyak
pernyataan kekerabatan yang dimiliki kesatuan-kesatuannya
sehingga banyak memiliki sifat-sifat yang dapat diramalkan.
Sistim ini pertama sekali dicetuskan oleh Michel Adamson (17271806), dengan jalan mengikutsertakan, memperhitungkan dan
memperlakukan dengan sama semua sifat yang dimiliki
tumbuhan. Tumbuhan yang memiliki jumlah kesamaan ciri-ciri
terbesar dikelompokkan bersama-sama dengan memperhatikan
faktafakta evolusi yang sesuai sehingga hasilnya dapat ditafsirkan
dengan istilah-istilah filogeni.

G. Sistem Klasifikasi dalam Sejarah Perkembangan Taksonomi Tumbuhan


Pembentukan takson didasarkan atas banyak sedikitnya kesamaan sifat.
Sifat-sifat yang dijadikan dasar untuk penentuan takson dan juga sebagai
dasar dalam mengadakan klasifikasi berbeda dari masa ke masa, hal tersebut
antara lain dipengaruhi oleh ahli botani yang mengadakan klasifikasi dan
tujuan

yang

ingin

dicapai

dengan

pengklasifikasian

itu

sehingga

menyebabkan lahirnya sistem klasifikasi yang berlainan.

122

Dalam perkembangan peradaban, pada awalnya manusia melakukan


klasifikasi dengan cara memilah-milah dan mengelompokkan tumbuhan
dengan hanya didasarkan atas kesamaan ciri-ciri yang langsung ada kaitannya
dengan kehidupan manusia, misalnya manfaatnya. Selanjutnya berdasarkan
ciri-ciri lain yang mudah dilihat dan diamati dengan mata telanjang, misalnya
perawakan (habitus) tumbuhan. Sampai saat ini dalam dunia taksonomi
tumbuhan dikenal berbagai sistem klasifikasi yang masing-masing diberi
nama menurut tujuan yang ingin dicapai atau dasar utama yang merupakan
landasan dilakukannya pengklasifikasian.. Sistem klasifikasi yang bertujuan
praktis dengan tekanan utama pada tercapainya tujuan penyederhanaan obyek
studi dalam bentuk ikhtisar ringkas seluruh tumbuhan disebut dengan sistem
buatan atau sistem artifisial. Dengan keterlibatan ilmu-ilmu lain dalam
taksonomi tumbuhan kemudian muncul sistem klasifikasi yang tidak hanya
bertujuan

untuk

menyederhanakan

objek

studi,

tetapi

juga

untuk

mencerminkan apa yang sebenernya dikehendaki oleh alam sehingga sistem


klasifikasinya disebut sistem alam.
Setelah lahirnya teori evolusi muncul sistem filogenetik yang memiliki
tujuan untuk mengetahui hubungan kekerabatan antara golongan tumbuhan
yang satu dengan yang lain serta urut-urutannya dalam sejarah perkembangan
filogenetik tumbuhan.
Kemajuan dalam bidang kimia semakin dapat mengungkap zat-zat apa
saja yang terkandung dalam tubuh tumbuhan dan menyebabkan timbulnya
usul agar klasifikasi tumbuhan didasarkan pula atas kesamaan atau
kekerabatan zat-zat kimia yang terkandung didalamnya. Inilah yang menjadi
landasan untuk terciptanya suatu cabang dalam taksonomi tumbuhan yang
disebut kemotaksonomi.
Dalam garis besarnya, perkembangan sistem klasifikasi dari masa ke
masa adalah sebagai berikut.
1. Periode tertua
Dalam periode ini secara formal belum dikenal adanya system
klasifikasi yang diakui (sejak ada kegiatan dalam taksonomi sampai
123

kira-kira abad ke-4 sebelum masehi). Sejak awal kehidupan manusia


bergantung pada bahan-bahan yang berasal dari tumbuhan, manusia
sejak dahulu telah melakukan kegiatan-kegiatan yang termasuk dalam
lingkup taksonomi, seperti mengenali dan memilah-milah tumbuhan
mana yang berguna baginya dan yang mana yang tidak, termasuk
pemberian

nama,

sehingga

apa

yang

ditemukan

dapat

dikomunikasikan kapada pihak lain.


Dalam zaman prasejarah orang telah mengenal tumbuhtumbuhan penghasil bahan pangan yang penting seperti yang kita
kenal sampai saat ini. Jenis-jenis tumbuhan ini diperkirakan telah
diperkenal sejak 7 sampai 10 ribu tahun yang telah lalu, telah
dibudidayakan oleh bangsa Mesir, China, Asiria dan Tigris Di Timur
Tengah serta bangsa-bangsa Indian di Amerika Utara dan Selatan,
sejak beberapa ribu tahun yang lalu telah dikenal berbagai jenis
tumbuhan yang merupakan penghasil bahan pangan, sandang, dan
bahan obat yang berarti bahwa sebenarnya merekapun telah
menerapkan suatu sistem klasifikasi, dalam hal ini suatu sistem
klasifikasi yang didasarkan atas manfaat tumbuhan, sehingga tidak
dapat dianggap sebagai sistem buatan yang tertua. Jelaslah bahwa
sejak berpuluh puluh abad yang lalu orang telah terjun dalam
kegiatan kegiatan taksonomi tumbuhan, walaupun pengetahuan
yang telah mereka kumpulkan belum begitu berarti, juga belum ditata,
belum menunjukan hubungan sebab dan akibat, sehingga belum dapat
disebut sebagai ilmu pengetahuan (science) menurut ukuran sekarang
(Tjitrosoepomo, 1993:11).
2. Periode Sistem Habitus atau Perawakan
Taksonomi tumbuhan sebagai ilmu pengetahuan baru di anggap
pada abad ke-4 sebelum Masehi oleh orang-orang Yunani yang
dipelopori oleh Theophrastes (370-285 SM) murid seorang filsuf
Yunani bernama Aristoteles. Aristoteles sendiri adalah murid filsuf
Yunani yang semashur yaitu plato. Sistem klasifikasi yang diusulkan
124

bangsa Yunani dengan Theophrastes sebagai pelopornya juga diikuti


oleh kaum herbalis serta ahli-ahli botani dan nama itu terus dipakai
sampai selama lebih 10 abad.
Pengklasifikasian

tumbuhan

terutama

didasarkan

atas

perawakan (habitus) yang golongan-golongan utamanya disebut


dengan nama pohon, perdu, semak, tumbuhan memanjat, dan terna.
System klasifikasi ini bersifat dominan dari kira-kira abad ke-4
sebelum masehi sampai melewati abad pertengahan, dan selama
periode-periode ini ahli-ahli botani, herbalis, dan filsuf telah
menciptakan sistem-sistem klasifikasi yang pada umumnya masih
bersifat kasar, namun sering dinyatakan telah mencerminkan adanya
hubungan kekerabatan antara golongan yang terbentuk.
Theophrastes sendiri yang dianggap sebagai bapaknya ilmu
tumbuhan, dalam karyanya yang berjudul Historia Plantarum telah
memperkenalkandan memberikan deskripsinya untuk sekitar 480 jenis
tumbuhan. Dalam karya ini system klasifikasi yang diterapkan oleh
Theoprastes telah mencerminkan falsafah guru dan eyang gurunya (
Aristoteles dan Plato), yaitu suatu suatu system klasifikasi tumbuhan
berdasarkan bentuk dan tekstur. Selain golongan-golongan pohon,
perdu, semak seperti yang disebut di atas, ia juga mengadakan
pengelompokan menurut umur dan membedakan tumbuhan berumur
pendek (annual), tumbuhan berumur 2 tahun (biennial), serta
tumbuhan berumur panjang (perennial).
Theophrastes juga telah dapat membedakan bunga majemuk
yang berbatas (centrifugal) dan yang tidak berbatas (centripetal), juga
telah dapat membedakan bunga dengan daun mahkota yang bebas
(polipetal atau dialipetal) dan yang berlekatan (gamopetal atau
simpetal) bahkan ia telah dapat mengenali perbedaan letak bakal daun
yang tenggelam dan yang menumpang. Adapun yang telah dilakukan
oleh theoprastes hasil klasifikasi tumbuhan yang telah diciptakan
masih dianggap nyata-nyata merupakan suatu sistem artifisial.
125

3. Periode sistem numerik


Sistem klasifikasi pada periode ini didasarkan atas jumlah dari
suatu organ atau bagian tumbuhan. Contoh klasifikasi ini adalah
Corolus Linnaeus yang membagi alam tunbuhan menjadi 24 kelas
didasarkan atas jumlah, perlekatan dan panjang benang sari. Sistem
klasifikasi ini juga dikenal dengan sistem klasifikasi seksual
(Sudarsono, 2005 : 32)
4. Periode Sistem Alami
Menjelang berakhirnya abad ke-18 terjadi perubahan-perubahan
yang revolusioner dalam pengklasifikasiaan tumbuhan. Sistem
klasifikasi yang baru ini disebut sistem alam yaitu golongan yang
terbentuk merupakan unit-unit yang wajar (natural) bila terdiri dari
anggota-anggota itu,dan dengan demikian dapat tercermin pengertian
manusia mengenai yang disebut yang dikehendaki oleh alam. Secara
harfiah istilah sistem alam untuk aliran baru dalam klasifikasi ini
tidak begitu tepat karena pada hakekatnya semua sistem klasifikasi
adalah sistem buatan. Untuk sitem klasifikasi yang digunakan dalam
periode ini, digunakan nama sistem alam (natural system) dengan
maksud untuk memenuhi keinginan manusia akan adanya penataan
yang tepat yang lebih baik dari sistem-sistem sebelumnya. Contoh
klasifikasi ini adalah klasifikasi yang dibuat oleh De Jussieu,
membagi tumbuhan berdasarkan ada tidaknya kotiledon menjadi
Acotyledoneae, Monocotyledoneae dan Dicotyledoneae. Kamedian
Dicotyledoneae dibagi kedalam 5 golongan besar berdasarkan sifat
mahkota bunga menjadi apetalae, monopetalae, polypetalae, dichinae.
5. Periode Sistem Filogenetik
Teori evolusi, teori desendensd atau teori keturunan seperti yang
diciptakan oleh darwin merupakan suatru teori hingga sekarang oleh
sebagian orang terutama tokoh agama masih dianggap kontroversial
dan tetap ditentang kendati ajaran itu tetap diterima dan cepat tersebar
luas dikalangan kaum ilmuan yang begitu fanatik terhadap teori ini
126

sampai ada yang menyatakan, bahwa evolusi bukannya teori lagi,


tetapi adalah suatu aksioma yang tidak perlu diragukan kebenarannya,
dan oleh karenanya tidak perlu diperdebatkan lagi .
Sistem klasifikasi dalam periode ini berupaya untuk mengadakan
penggolongan tumbuhan yang sekaligus mencerminkan urutan
urutan golongan itu dalam sejarah perkembangan filogenetiknya dan
demikian juga menunjukan jauh dekatnya hubungan kekerabatan yang
satu dengan yang lain. Jadi dalam klasifikasi ini dasar yang digunakan
adalah filogeni dan dari sini lahirlah nama sistem filogenetik
kenyataanya, bahwa kemudian muncul sistem klasifikasi yang
berbeda, membuktikan bahwa persepsi dan interpretasi para ahli
biologi mengenai yang disebut filogeni itu masih berbeda beda.
Contoh sistem klasifikasi filogenetik adalah klasifikasi August
Wilhem Eichler yang mengusulkan sistem yang berdasarkan
pendekatan kekerabatan genetik antar tumbuhan tetapi belum
sempurna. Eichler menerima konsep evolusi, tetapi dalam pengertian
modern belum merupakan sistem filogenetik. Eichler membagi
tumbuhan dalam 2 kelompok yaitu Cryptogamae dan Phanerogamae.
6. Periode Sistem Klasifikasi Kontemporer
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat dalam
abad ke-20 ini pasti akan berpengaruh pula terhadap perkembangan
ilmu taksonomi tumbuhan. Kecenderungan untuk mengkuantitatifkan
data penelitian dan penerapan matematika dalam pengolahan data
yang diperoleh telah menyusup pula ke dalam ilmu-ilmu sosial yang
semula tak pernah atau belum memanfaatkan matematika serta belum
mempertimbangkan pula kemungkinan-kemungkinan yang dapat di
capai dengan penerapan pendekatan kuantitatif matematik.
Perkembangan teknologi, khususnya di bidang elektronika yang
dalam abad nuklir maju dengan pesat ini, telah pula menjamah bidang
taksonomi tumbuhan, yang sejak beberapa dasawarsa belakangan ini
juga sudah di jalari penyakit penerapan metode penelitian
127

kuantitatif

yang

pengelohan

datanya

memanfaatkan

jasa-jasa

komputer pula. Komputer telah digunakan secara luas dalam


pengembangan metode kuantitatif dalam klasifikasi tumbuhan, yang
melahirkan bidang baru dalam taksonomi tumbuhan yang dikenal
sebagai taksonomi numerik,taksometri atau taksonometri.
Pengolahan

data

secara

elektronik

(EDPElektronic

Data

Processing), juga sudah diterapkan untuk berbagai prosedur dalam


penelitian taksonomi antara lain dalam penyimpanan dan pengambilan
laporan-laporan atau informasi. Contoh klasifikasi sistem kontemporer
adalah Karl Christian Mez, seorang profesor dari Jerman yang
menganalisa reaksi protein untuk melihat hubungan kekerabatan
tumbuhan secara genetik.

128

BAB III
PENUTUP

Dari pembahasan yang telah ada dapat ditarik kesimpulan yaitu:


1. Klasifikasi adalah penyusunan makhluk hidup secara teratur ke dalam suatu
hierarki. Sistem penyusunan ini berasal dari kumpulan informasi makhluk
hidup secara individual yang menggambarkan kekerabatan.
2. Adapun tujuan klasifikasi makhluk hidup yaitu untuk mengelompokkan
makhluk hidup berdasarkan persamaan ciri-ciri yang dimiliki, mengetahui ciriciri untuk mengetahui hubungan kekerabatan makhluk hidup tersebut.

129

DAFTAR PUSTAKA

Gembong Tjitrosoepomo. 1993. Taksonomi Umum. 1993. Yogyakarta: Gajah


Mada University Press
Sudarsono, dkk. 2005. Taksonomi Tumbuhan Tinggi. Malang: UM Press.

130

Identifikasi dan Tatanama Tumbuhan


(Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Keanekaragaman Tumbuhan)

Dosen Pengampu: Sudarsono, M.Si.

Disusun oleh:
1. Mega Rini Puspitasari

14304241018

2. Estu Ria Dwi Yulianigsih

14304241019

Kelompok 8/ Pendidikan Biologi A 2014

JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2015

131

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sejak manusia mulai mengenal tumbuhan sejak itulah di berikan nama nama
tumbuhan. Orang Yunani memberi nama dengan bahasa Yunani, orang Cina
memberi nama dengan bahasa Cina, orang Mesir memberi nama dengan bahasa
Mesir, demikian seterusnya. Nama adalah suatu yang mutlak perlu untuk dapat
menyebut yang di maksud. Ahli ahli taksonomi kemudian berusaha menerbitkan
hal hal yang berhubungan pemberian nama supaya tercipta suatu sistem tata nama
yang mantap,sederhanadan mudah dipahami serta dapat di gunakan oleh ahli-ahli
taksonomi

di

seluruh

dunia.

Oleh

karena

itulahirlah

sistim

nama

ganda(binaryataubinomial nomenclature)menurut Carolus Linnaeus. Hal itu


karena Carolus Linnaeus merupakan orang yang pertama secara konsisten
menerapkan sistem tersebut yang terdapat dalam buku nya yang berjudul Spesies
Plantarumterbit pada 1 mei 1753. Dengan demikian, tanggal 1 mei 1753 titik
tolak berlaku nya tata nama hewan yang di akui setelah terbit nya buku karya
Linnaeus yang berjudul Systema Natureedisi X tahun 1758. Tata nama tumbuhan
berlaku secara internasional pada tahun 1876 dan untuk tatanama hewan pada
tahun 1898, sehingga Carolus Linnaeus di kenal sebagai Bapak Taksonomi.
Nama nama tumbuhan yang di kenal sekarang sebagai nama ilmiah atau
sering kali di kenal dengan nama latin atau nama dalam bahasa latin, yang sebenar
nya nama ilmiah ini tidak hanya berasal dari bahasa latin saja, tetapi dapat di
ambil dari bahasa apa saja bahkan ada yang di bentuk secara sembarang
(arbitarary).lebih tepat jika nama ilmiah adalah nama nama bahasa yang di
perlukan sebagai bahasa latin,tanpa memperlihatkan dari mana asal kata diatur
dalam kode internasional tata nama tumbuhan yang memberi indikasi untuk
kategori takson. Nama itu di berikan pada tumbuhan maupun hewan dan untuk
setiap takson dengan definisi, posisi, dan tingkat tertentu,tapi hanya ada satu nama
yang benar.

132

Sekalipun dari segi ilmiah nama sudah ada,tetapi orang awam banyak
mengenalnya dengan nama biasa (nama dalam bahasa daerah). Nama tersebut
tidak mengikuti ketentuan manapun dan hanya bersifat lokal, tetapi tidak jelas
untuk kategori takson yang mana nama di berikan. Biasanya satu takson dapat
mempunyai lebih dari satu nama yang berbeda-beda menurut bahasa yang
berbeda-beda menurut bahasa yang menyebutkan. Kadang nama biasa dari
tumbuhan tetap di perlukan, karena nama ilmiahnya belum ada atau tidak ada.
Nama ilmiah suatu tumbuhan atau tanaman budidaya, selain harus mudah
diingat harus mudah dipahami dan mudah diucapkan, juga harus mempunyai satu
kesatuan arti yang spesifik dan berlaku secara universal.Hal inilah yang
merupakan prinsip dasar tatanama tumbuhan dan tanaman. Sampai saat ini
ternyata masih sering terjadi kekeliruan penulisan nama ilmiah tumbuhan dan
tanaman budidaya. Pemakaian tatanama tumbuhan diatur oleh International Code
of Botanical Nomenclature (ICBN) atau Kode Internasional Tatanama Tumbuhan
(KITT) yang kemudian menjadi kode botani. Manusia kemudian berusaha merakit
tumbuhan tersebut menjadi tanaman budidaya yang sesuai dengan yang
diinginkan. Manusia antara lain bermanfaat, berdaya hasil tinggi, tahan terhadap
hama dan penyakit dan berkualitas baik. Semua teknik yang dilakukan dalam
budidaya tanaman (pemakaian pupuk, penggunaan zat zat kimia, dsb)
menyebabkan perubahan fenotipe suatu tumbuhan sehingga ciri, bentuk, dan
struktur populasinya sudah menyimpang dari bentuk asli alami yang biasa
ditemukan dalam keadaan liar. Oleh karena itu, cara penamaannya tidak dapat lagi
diatur dalam Kode Internasional Tatanama Tumbuhan atau Kode Botani tetapi
diatur oleh Internasional Code of Botanical Nomenclature (ICNCP) atau Kode
Internasional Tatanama Tanaman Budidaya (KINTB) yang dikenal juga dengan
Kode Kultivasi.
Berdasarkan hal-hal tersebut maka pengertian tentang tata nama tumbuhan
amatlah penting bagi seseorang yang berkecimpung di dalam kegiatan yang
melibatkan tumbuhan dan tata namanya. Oleh karena itu persoalan mengenai tata
nama, aturan mengenai tata nama dan cara mengetahui serta memberi nama
133

tumbuhan harus diketahui dengan benar yang akan dibahas lebih lanjut dalam
makalah ini.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana persoalan dalam identifikasi dan tatanama tumbuhan?
2. Bagaimana teknik identifikasi tumbuhan?
3. Bagaimana tingkat-tingkat takson dalam tatanama tumbuhan?
4. Apa saja tipifikasi dalam dalam identifikasi dan tatanama tumbuhan?
5. Bagaimana teknikbinomial nomenclaturedalam identifikasi dan tatanama
tumbuhan?
6. Bagaimana teknik pencantuman pengarang dalam identifikasi dan
tatanama tumbuhan?
7. Apa yang dimaksud dengan nama ilmiah, nama sah, nama yang tidak sah
dan nama yang benar dan nama yang tidak benar?
8. Apa yang dimaksud dengan homonim, sinonim, basionim, tautonim dan
nomina conservanda?

C. Tujuan
Mengetahui teknik identifikasi dan tatanama tumbuhan

D. Manfaat
1. Bagi Pembaca

Sebagai bahan acuan dalam mengidentifikasi dan menamakan suatu


tumbuhan

Menambah pengetahuan tentang teknik identifikasi dan tatanama


tumbuhan

2. Bagi Penulis

Menambah pengetahuan tentang identifikasi dan tatanama tumbuhan

Menambah keterampilan dalam menulis makalah identifikasi dan


tatanama
134

BAB II
PEMBAHASAN

A. Persoalan Tentang Tata Nama


Biasanya, tumbuhan secara lokal telah memiliki nama yang diberikan oleh
masyarakat setempat, misalnya: meranti, bayur, nyatoh, durian, kayu hitam, dan
lain lain. Dalam ilmu taksonomi atau dendrologi nama ini disebut dengan nama
daerah atau nama lokal (dalam Bahasa Inggris: common name atau
vernacularname). Selain itu tumbuhan atau pohon juga memiliki nama ilmiah
(scientific name) yang juga sering disebut nama Latin (Latin name), karena
menggunakan Bahasa Latin. Nama ilmiah adalah nama resmi species tumbuhan
yang dibuat berdasarkan peraturan tatanama (nomenclature).
Mengapa harus dibuat dan dipakai nama ilmiah, yang mana sulit untuk
dipahami dan diingat, padahal telah ada nama daerah yang telah umum
digunakan? Jawabannya, karena nama daerah yang hanya dipakai oleh masyarakat
lokal akan berbeda-beda antar satu daerah dengan daerah lainnya. Misalnya,
pisang diberi nama gedang dalam Bahasa Jawa, unti dalam Bahasa Bugis, biyu
dalam Bahasa Bali, banana dalam Bahasa Inggris, dan disebut juga dengan nama
lainnya di daerah lainnya. Dengan demikian, apabila nama tumbuhan ditulis
dalam nama daerah, maka dapat dibayangkan betapa sulitnya masyarakat ilmiah
international untuk memahaminya. Lebih dari sekedar kesulitan untuk memahami
tumbuhannya, penggunaan nama daerah dapat membingungkan karena satu
species akan memiliki banyak nama, sebaliknya beberapa species yang berbeda
secara taksonomi dapat memiliki nama yang sama. Sebagai contoh, gedang adalah
sebutan pisang (Musaparadisiaca) dalam Bahasa Jawa. Jika di daerah Sunda atau
di daerah Bali kita meminta sebuah gedang, maka orang akan datang membawa
sebuah pepaya (Carica papaya) karena di daerah tersebut gedang adalah sebutan
untuk pepaya. Karena nama ilmiah atau nama Latin berlaku internasional, maka
dengan menyebut satu nama ilmiah atau Latin, semua orang di dunia dapat
mengetahuinya (Putu Oka Ngakan, 2007).
135

Kelebihan dan Kekurangan Nama Daerah dan Nama Ilmiah


Dalam hal-hal tertentu, nama daerah juga memiliki kelebihan. Berikut ini
adalah kelebihan dan kekurangan dari nama daerah dan nama ilmiah (Harrington
and Durrell, 1957).
1. Kelebihan dari nama daerah:
a. Nama daerah merupakan nama yang dikenal dan dipakai secara umum pada
suatu daerah.
b. Nama daerah biasanya ringkas, sederhana dan relatif mudah diingat karena
menggunakan kata-kata umum, seperti "bunga matahari, kembang kertas,
atau putri malu".
c. Sebagaimana juga nama ilmiah, nama daerah juga sering mencirikan
diskripsi dari species tersebut, misalnya suatu species tumbuhan diberi nama
"sedap malam" karena bunganya berbau harum di malam hari, diberi nama
"kayu hitam" karena kayunya berwarna hitam, diberi nama "pandan wangi"
karena diantara species pandan yang ada, hanya species tersebut yang
berbau harum, "rambutan" karena buahnya ditutupi banyak rambut.
2. Kelemahan dari nama daerah
a. Pengertiannya hanya dapat dipahami oleh satu daerah diantara jutaan daerah
yang ada di dunia.
b. Tumbuhan yang sama dapat memiliki lebih dari satu nama. Nama yang
berbeda dapat diberikan oleh orang yang berbeda pada satu daerah yang
sama maupun pada daerah yang berbeda.
c. Satu nama yang sama dapat dipakai untuk beberapa species yang berbeda
pada daerah yang berbeda.
d. Nama daerah dapat sangat tidak masuk akal dan menggelikan. Misalnya,
nama buah dalam Bahasa Inggris "pineapple", yang mana berarti nenas,
sama sekali tidak ada hubungannnya dengan nama "pine" yang berarti
pohon pinus dan "apple" yang berarti buah apel.

136

e. Tidak ada aturan tatanama dalam pemberian nama daerah, sehingga tidak
ada dasar ketentuan yang dapat dipakai untuk menyatakan apakah nama
tersebut benar atau salah.
3. Kelebihan dari nama ilmiah
a. Nama ilmiah disusun dan dievaluasi menurut sistem hukum dan aturan
tatanama yang definitive (nomenclature). Hukum dan aturan tatanama ini
ditetapkan melalui Kongres International tentang Nomenclature Botani,
yang mana untuk terakhir kalinya diadakan di Paris, Perancis pada tahun
1954. Pada dasarnya semua ilmuwan taksonomi mengacu pada convensi ini
dalam memberikan nama untuk sebuah species tumbuhan.
b. Tumbuhan yang sekalipun memiliki penyebaran sangat luas di dunia akan
hanya memiliki satu nama yang sama dan dieja dengan huruf yang sama
pula.
c. Setiap tumbuhan hanya memiliki satu nama yang sah. Dapat saja terjadi
bahwa tumbuhan yang telah diberi nama ilmiah (misal A a) di suatu negara
diduga sebagai species baru oleh ilmuwan taksonomi di negara lain dan
diberi nama yang berbeda (misal B b). Dalam hal ini nama yang sah adalah
nama yang diberi lebih/paling dahulu (A a), sedangkan nama-nama lainnya
(B b) disebut "synonyms". Jadi nama "B b" tidak berlaku.
d. Satu nama hanya dimiliki oleh satu species tumbuhan. Dapat saja terjadi
kesalahan bahwa nama yang sudah dipakai untuk suatu species tumbuhan di
suatu negara, tanpa diketahui dipakai lagi untuk tumbuhan lain di negara
lain. Kesalahan ini disebut dengan "homonymes". Jadi penamaan untuk
species yang ke-dua adalah tidak sah dan harus diganti dengan nama baru.
e. Nama ilmiah pada umumnya bersifat diskriptif dan menjelaskan
karakteristik dari tumbuhannya dengan jelas. Misalnya, Dipterocarpus
grandiflorus: Di = dua, ptero = sayap, carp = buah, grandi = besar, -florus
(flora atau florum yang diletakkan di akhir kata) = bunga. Jadi,
Dipterocarpus grandiflorus berarti tumbuhan yang memiliki buah bersayap
dua dengan bunga berukuran besar. Distylium racemosum adalah tumbuhan

137

yang style-nya 2 atau bercabang 2 dengan untaian bunga berbemntuk


raceme.

4. Kemungkinan kelemahan nama ilmiah


a. Plant

nomenclature

sebagai

aturan

penamaan

tumbuhan

sedunia

diseragamkan pelaksanaannya sejak tahun 1867 (The Paris International


Botanical Congress), sedangkan sebagai sebuah cabang ilmu, taksonomi
telah berkembang jauh sebelumnya. Para ahli botani di Amerika, misalnya,
mengikuti dua model aturan tatanama. Sebagian mereka menggunakan
aturan international dan sebagian lagi menggunakan aturan yang hanya
berlaku di Amerika. Dengan demikian, terdapat sedikit kerancuan terutama
pada species tumbuhan yang telah diberi nama sebelum tahun 1930. Akan
tetapi, melalui beberapa proses revisi, kerancuan-kerancuan tersebut sedikit
demi sedikit telah disempurnakan.
b. Dalam kasus-kasus tertentu, hukum atau peraturan apa pun dapat
menghasilkan ketidak adilan atau kebingungan. Akan tetapi hal ini bukanlah
berarti kita lantas sebaiknya menjauhi hukum atau segala yang berkaitan
dengannya.
c. Dalam aturan tatanama, apabila terjadi bahwa satu species diberi beberapa
nama, maka nama yang sah secara hukum adalah nama yang terdahulu atau
pertama diberikan. Hal ini dikenal dengan "low of priority", dan tentunya
tak seorang pun ingin melanggarnya. Sayang sekali, terkadang beberapa
tumbuhan yang telah bertahun-tahun umum dikenal dengan nama tertentu
ternyata telah pernah diberikan nama sebelumnya. Untuk hal ini kita harus
tidak lagi menggunakan nama yang telah umum dipakai tersebut dan
menggantikannya dengan nama
d. yang benar tetapi tidak umum.
e. Dalam beberapa kasus, nama ilmiah dapat menyimpang dari pengertian
logis. Misalnya, Linnaeus telah memberi nama 2 species dari Convallaria
yang memiliki 2 dan 3 helai daun pada batangnya berturut-turut:
Convallaria bifolia L. dan Convallaria trifolia L. Belakangan Greene yang
138

melakukan revisi menetapkan bahwa genus ke dua species ini termasuk


dalam genus Unifolium, bukan Convallaria. Dengan demikian, menurut
aturan tatanama nama, genus dari ke dua species tersebut harus diubah tanpa
mengubah nama epitetnya, sehingga terjadilah kombinasi nama yang rancu
dan lucu: Unifolium bifolium (L.) Greene dan Unifolium trifolium (L.)
Greene, yang berarti species yang berasal dari genus berdaun 1 yang
memiliki 2 dan 3 daun.
f. Nama ilmiah sering sangat panjang dan tersusun dari suku kata yang tidak
umum. Hal ini membuat orang menjadi sulit untuk mengingatnya.

B. Teknik Identifikasi
Jika kita pergi ke suatu tempat di alam, kita akan menemukan puluhan ribu
species tumbuhan, mulai dari lumut-lumutan sampai pada pohon yang berukuran
besar. Umumnya setiap tempat atau habitat di bumi ini ditumbuhi oleh species
yangkhas. Diperkirakan jumlah keseluruhan tumbuhan berbunga saja yang ada di
bumi ini tidak kurang dari 25,000 species. Oleh karena itu, adalah mustahil bagi
seseorang untuk dapat mengenal apalagi menghafal seluruh species tumbuhan
yang ada di bumi ini. Di lain sisi, kita sering kali dituntut untuk mengetahui sifatsifatdan keistimewaan dari suatu species tumbuhan, baik untuk tujuan penelitian
ataupun karena tertarik akan keindahannya. Untuk dapat menelusuri lebih jauh
informasi mengenai species tersebut, maka terlebih dahulu kita perlu mengetahui
nama dari species tersebut. Bagaimana kita dapat mengetahui nama suatu species
tumbuhan? Berikut ini diuraikan beberapa cara yang dapat ditempuh untuk bisa
mendapatkan nama species tumbuhan.
1. Ingatan
Apabila kita sudah banyak mengenal tumbuh-tumbuhan, maka apabila kita
mendapatkan tumbuhan atau ingin mendeterminasi, kita tinggal mengingat
kembali identitas tumbuhan tersebut.
2. Bantuan orang lain
Pendeterminasian tumbuhan dapat dilakukan dengan menanyakan seorang
ahli botani atau taksonom. Apabila ragu-ragu dengan jawaban yang telah
139

diberikan, kita dapat mengecek kembali apakah jawaban yang tlah diberikan,
kita dapat mengecek kembali apakah jawaban yang diberikan benar atau tidak
yaitu dengan jalan melihat atau mencocokan pada buku yang memuat nama
tadi yang diikuti deskripsi tumbuhan tersebut
3. Spesimen acuan
Spesimen acuan dapat membantu kita untuk mendeterminasi tumbuhan, yaitu
dengan jalan membnadingkan tumbuhan yang akan kita cari namanya dengan
spesimen yang telah diketahui identitasnya atau yang telah dideskripsi.
Spesimen acuan ini banyak terdapat di herbarium-herbarium.
4. Pustaka
Pustaka dapat digunakan untuk mendeterminasi tumbuhan yaitu dengan jalan
mencocokan gambar-gambar yang dimuat dalam buku-buku yang ada, seperti
buku-buku atlas tumbuhan yang memuat gambar-gambar tumbuhan yang
telah mencantumkan nama tumbuhan tersebut. Selain dengan buku-buku si
atas juga dapat menggunakan buku-buku flora, revisi atau monografi yang di
dalamnya memuat deskripsi-deskripsi tumbuh-tumbuhan.
5. Komputer atau kunci determinasi
Komputer

atau

kunci

determinasi

dapat

membantu

kita

dalam

pendeterminasian tumbuhan, dengan catatan kita menguasai morfologi


tumbuhan.
(Sudarsono, dkk, 2005: 39-40)
C. Tingkat Tingkat Takson
Untuk memudahkan penentuan hubungan kekerabatan dan memperlancar
pelaksanaan

penggolongan

tumbuhan,

maka

diadakan

kesatuan-kesatuan

taksonomi yang berbeda-beda tingkatnya. Sesuai dengan ketentuan-ketentuan


yang dicantumkan dalam Kode Tatanama, maka suatu individu tumbuhan dapat
dimasukkan dalam tingkat-tingkat kesatuan taksonomi sebagai berikut (dalam
urutan menurun, beserta akhiran-akhiran nama ilmiahnya):
-

Dunia tumbuh-tumbuhan (Regnum Vegetabile)

Divisi (divisio -phyta)

140

Anak divisi (sub divisio -phytina)

Kelas (classis -opsida, khusus untuk Alga phyceae)

Anak kelas (subclassis idea)

Bangsa (ordo ales)

Anak bangsa (subordo ineae)

Suku (familia aceae)

Anak suku (subfamilia oideae)

Puak (tribus eae)

Anak puak (subtribus inae)

Marga (genus; nama ilmiah marga dan semua tingkat di bawahnya


tidakdiseragamkan akhirannya)

Anak marga (subgenus)

Seksi (sectio)

Anak seksi (subsectio)

Deret (series)

Anak deret (subseries)

Jenis (species)

Anak jenis (sub species)

Varietas (varietas)

Anak varietas (subvarietas)

Forma (forma)

Anak forma (subforma)


Urutan tingkat-tingkat kesatuan taksonomi itu tidak boleh diubah atau

dipertukarkan. Dengan tidak memperhatikan tingkatnya maka setiap kesatuan


taksonomi tersebut (misalnya suku, jenis, varietas) masing-masing disebut takson(
Tim Penyusun Buku Ajar Taksonomi Tumbuhan, 2006).

141

D. Tipifikasi
Para ahli tumbuhan memakai metode tipe (tipe tatanama) untuk mencapai
stabilisasai suatu taksa. Tipe tatanama adalah salah satu unsur takson yang
dikaitkan dengan nama untuk selama-lamanya. Berbagai macam tipe adalah
sebagai berikut :
1.

Holotipe ialah spesimen yang dipakai atau dirancang sebagai tipe tatanama.
Nama takson dapat dipastikan bila holotipe ini masih ada.

2.

Lektotipe (tipe pengganti) ialah spesimen tipe yang dipilih dari spesimen asli

3.

Neotipe (tipe baru) ialah spesimen tipe yang ditentukan dari spesimen mana
saja, karena spesimen asli sudah tidak ada lagi.

4.

Isotipe adalah duplikat dari spesimen holotie dari kumpulan yang sama dari
tanggal yang sama dan tempat yang sama.

5.

Sintipe adalah satu dari beberapa spesimen atau contoh yang disebutkan
pengarang kalau holotipenya tidak ditentukan atau salah satu dari beberapa
spesimen yang bersama-sama ditunjuk sebagai tipe.
(Sudarsono, dkk, 2005: 41)

E. Binomial Nomenclature
Sebelum pertengahan abad ke delapan belas, nama tumbuhan pada
umumnya adalah polynomials, terdiri dari beberepa kata yang kurang lebih
menjelaskan diskripsi dari tumbuhan tersebut. Dengan semakin berkembangnya
ilmu taksonomi tumbuhan, semakin banyak species baru yang harus dibuatkan
namanya dan harus diingat namanya, sehingga sistem polynomials menjadi tidak
praktis lagi untuk diterapkan.Adalah Linnaeus pada tahun 1753 (dalam tulisannya
berjudul Species Plantarum) (Lawrence, 1966), yang pertama kali mengajukan
gagasan agar sistem penamaan species tumbuhan diubah menajdi binomial.
System binomial mendalilkan bahwa, nama setiap species tumbuhan terdiri dari
hanya dua kata, misalnya Santalum albun, yaitu pohon cendana.
Dalam sistem binomial, kata pertama sebuah nama species (Santalum)
menunjukkan nama genus dari species tersebut dan nama kedua yang juga disebut
sebagai epitet adalah species tertentu dari genus tersebut. Tata penamaan ilmiah

142

tumbuhan diatur dalam aturan tata penamaan yang dikenal dengan nomenclature.
Kata nomenclature yang berarti pemberian nama berdasarkan sebuah sistem
berasal dari akar kata dalam Bahasa Latin nomen yang berarti nama. Munculnya
aturan penamaan species tumbuhan secara ilmiah tersebut berawal dari gagasan
yang dikemukakan oleh A. P. de Candole tahun 1813 yang diekspresikan dalam
teorinya "Thorie lmentaire de la Botanique" (Gledhill, 1989). Gagasan dari
Candole ini banyak mengacu pada apa yang telah dikemukanan oleh Linaeus
sebelumnya, tahun 1753 (Lawrence, 1966). Candole menyarankan bahwa
tumbuhan harus diberi nama dalam Bahasa Latin atau bahasa lain yang
diLatinkan. Selanjutnya putera dari A. P. de Candole mengembangkan gagasan
ayahnya yang kemudian diadopsi oleh Kongres Botani Internasional yang
diselenggarakan di Paris, Perancis tahun 1867 sebagai berikut:
a.

Satu species tumbuhan harus memiliki tidak lebih dari satu nama.

b.

Tidak boleh ada dua atau lebih species tumbuhan bernama sama.

c.

Jika tumbuhan memiliki dua nama, maka nama yang sah adalah nama yang
telahdiberikah lebih dulu yang dipublikasi setelah tahun 1753.

d.

Nama orang yang membuat nama tumbuhan tersebut harus ditulis setelah
namatumbuhan tersebut.
Penamaan tumbuhan diatur sesuai dengan hirarkhi taksonominya mulai dari

tingkat Divisi dampai ke tingkat di bawah species sebagaimana telah dijelaskan


sebelumnya (Putu Oka Ngakan, 2007).
1. Nama family
Nama family merupakan kata keterangan majemuk dibendakan yang
diambil dari nama sebuah genus dari family tersebut dengan memberikan
akhiran -aceae. Sebagai contoh family Dipterocarpaceae diambil dari nama
genusnya Dipterocarpus, family Anacardiaceae diambil dari nama genusnya
Anacardium, family Moraceae diambil dari nama genusnya Morus, family
Euphorbiaceae diambil dari nama genusnya Euphorbia, dan banyak lagi contoh
lainnya. Dengan adanya revisi kelompok tumbuhan, beberapa nama genus
terkadang berubah karena dianggap tidak relevan.
143

Untuk family yang nama genusnya mengalami perubahan, nama family


tersebut biasanya tidak diubah, namun akhirnya tidak mencerminkan nama
salah satu genusnya. Sebagai contoh, dari nama genus Ebenus telah dibuat
nama family Ebenaceae. Belakangan family Ebenaceae direvisi dan genus
Ebenusdinyatakan tidak relevan dan diganti dengan Maba, tetapi nama family
Ebenaceae tidak berubah menjadi Mabaceae. Terdapat delapan family yang
penamaannya

menyimpang dari

aturan

tatanam family,

yaitu

tidak

menggunakan akhiran -aceae. Berikut ini adalah pembaharuan dari kedelapan


nama family tersebut.

Beberapa ilmuwan botani mengangap family Fabaceae (Leguminosae)


terdiri dari tiga sub-family: Mimosaceae, Caesalpiniaceae, dan Papilionaceae,
tetapi beberapa ilmuwan botani lainnya menganggap setiap sub-family tersebut
sebagai family tersendiri (Putu Oka Ngakan, 2007).
2. Nama Genus
Nama genus terdiri dari satu kata yang adalah kata benda (atau kata lain
yang dibendakan) tunggal, dengan diawali oleh huruf kapital dan ditulis
dengan huruf miring. Nama genus dapat diambil dari beraneka macam sumber
dan malahan dapat disusun sekehendak hati. Oleh karena itu, etymology dari
nama genus adalah tidak selalu lengkap dan sering tidak memiliki arti,
walaupun merupakan gabungan dari beberapa kata. Beberapa contoh yang
diberikan oleh GLEDHILL (1989) adalah sebagai berikut:
a. Portulaca dari kata Latin Porto (saya membawa) dan lac (susu),
diterjemahkan sebagai "Pembawa-susu".

144

b. Pittosporum dari kata Yunani (=saya menter) dan (=sebuah


biji) diterjemahkan sebagai biji yang memiliki ter.
c. Hebe adalah dewi dari anak-anak muda, dipercayai sebagai puteri dari
Jupiter. Dalam kaitannya dengan nama genus, ini tidak dapat diterjemahkan
lebih jauh.
d. Petunia adalah diambil dari nama daerah di salah satu kampung di Brazil
untuk sebutan tembakau.
e. Sibara adalah anagram (penukaran pembalikan posisi huruf) dari kata
Arabis.
f. Aaadalah sebuah nama yang diberikan oleh Reichenbach untuk suatu genus
anggrek,

yang

mana

merupakan

dua

huruf

dicomot

dari

kata

Altensteinia.Nama ini sama sekali tidak memiliki arti.


Contoh-contoh di atas memberikan kesan betapa nama genus dapat dibuat
sekehendak hati, akan tetapi sebenarnya sebagian besar ilmuwan taksonomi
membuat nama genus dengan memiliki arti yang menyiratkan karakteristik
umum dari kelompok tumbuhan yang termasuk dalam genus tersebut, misalnya
Pentastemon disusun dari kata Penta dan stamen sehingga dengan demikian
berarti memiliki lima buah stamen. Pada prinsipnya ilmuwan taksonomi
mengikuti beberapa kriteria dalam membuat nama genus seperti yang
dikemukakan oleh Harrington dan Durrel (1957) sebagai berikut.
a. Nama genus dibuat untuk menghormati seseorang yang biasanya adalah orang
yang berjasa di bidang botani. Nama genus seperti ini dibuat dengan
melatinkan nama sesorang dengan cara menambahkan akhiran ia apabila
nama orang tersebut berakhir dengan huruf mati (contoh: Alstonia dari nama
Prof. Charles Alston dari Edinburgh; Lobelia dari nama Matthias de l'Obel
perintis ilmu botani zaman renaissance). Apabila nama orang yang diambil
berakhir dengan huruf hidup kecuali a maka tambahkan akhiran a (contoh:
Berteroa dari nama Carlo G. L. Bertero dari Italy, Bougainvillea dari nama
Louis Antoine Bougainville dari Perancis), ditambah dengan akhiran ae jika
nama orang yang diambil berakhir dengan huruf a dan bila nama orang yang

145

diambil berakhir dengan huruf ea maka tidak perlu dilakukan perubahan


akhiran. Selanjutnya, apabila nama orang yang diambil berakhir dengan huruf
us maka akhiran nama tersebut diganti dengan ia (contoh: Linnaea diambil
dari nama Carolus Linnaeus).
b. Nama genus dapat diambil dari nama klasik dari tumbuhan tersebut. Sebagai
contoh: Verbascum berasal dari sebuah nama Latin kuno, Durio yang diambil
dari bahasa Melayu yaitu durian, Amygdalus diambil dari nama Yunani untuk
sebutan bagi pohon almod.
c. Nama genus sering juga diambil dari karakteristik dan/atau sifat dari kelompok
tumbuhan yang termasuk dalam genus tersebut. Sebagai contoh adalah:
Dipterocarpus yang berasal dari kata Di (=dua) dan ptero (=sayap), carp
(=buah) dengan demikian Dipterocarpus berarti kelompok tumbuhan yang
memiliki buah bersayap dua; Tetragonolobus yang berasal dari kata Tetragon
(= persegi empat) dan lobe (= bertoreh) adalah nama genus dari tumbuhan
yang buahnya bercuping empat. Distylium yang berasal dari kata Di berarti dua
dan styleberarti tangkai putik adalah nama genus dari tumbuhan yang memiliki
dua batang tangkai putik atau tangkai putiknya bercabang dua.
Suatu aturan tatanama yang tidak boleh diabaikan dalam pembuatan
namagenus, sebagaimana juga epitet yang akan dibahas belakangan, adalah
kata yang mengakhiri nama tersebut. Akhiran pada nama genus menyatakan
apakah genustersebut "masculine, feminine, atau netral. Hal ini penting karena
dalam memasangkan nama genus dengan epitet untuk membuat nama species,
maka nama genus musculine harus dipasangkan dengan nama epitet musculine,
demikian juga nama genus feminine harus dipasangkan dengan nama epitet
feminine, sedangkan netral dapat dipasangkan baik dengan musculine maupun
feminine.
Ketentuan penggunaan akhiran untuk namagenus telah diatur dengan rinci
dalam aturan tatanama. Namun, aturan tersebut sangat rumit dan dalam
beberapa hal agak rancu dan terdapat banyak perkeculaian.Ada kalanya akhiran
146

feminine dipelakukan sebagai masculine atau sebaliknya. Sebagai contoh,


akhiran namagenus us sebenarnya adalah masculine, tetapi untuk species
pohon akhiran tersebut dapat berarti feminie, misalnya: Fagus, Pinus, Quercus,
Sorbus. Akhiran amenunjukkan feminine dan akhiran um menunjukkan
neutral, tetapi akhiran asering juga digunakan untuk menyatakan neutral.
Mungkin karena kerumitannya, sering kali pembuat nama genus tidak
memperhatikan aturan pemberian akhiran dalam tatapenamaan genus. Tabel
berikut memperlihatkan contoh beberapa akhiran yang menunjukkan gender
dari nama genus.

Ilmuwan taksonomi yang membuat nama suatu tumbuhan biasanya akan


lebih mudah untuk mencari nama epitet sebagai pasangannya jika nama genus
tersebut netral. Oleh karena itu, sebagian besar nama genus yang ada adalah
netral. Nama genus yang dibuat dengan tidak menuruti aturan atau diambil dari
namadaerah satu tumbuhan yang masuk dalam genus tersebut biasanya
berakhiran sesuai dengan keinginan orang yang memberikan nama (Putu Oka
Ngakan, 2007).

147

3. Nama Species
Nama species terdiri dari dua kata sebagai kombinasi antara nama genus
yang diikuti oleh sebuah epitet. Jika epitet berasal dari dua atau lebih kata,
maka kata-kata tersebut harus disambungkan dengan garis datar atau
sekaliandigabungkan menjadi satu kata.Epitet dapat berupa kata keterangan
yang berfungsi menerangkan genus.Oleh karena itu adalah wajar jika penulisan
epitet harus disesuaikan dengan penulisan genus.Akhiran pada epitet harus
diubah sesuai dengan gender. Sebagaimana juga nama genus, epitet ditulis
dengan huruf miring dan diawali dengan huruf kecil.
Epitet dapat di ambil dari berbagai macam sumber atau dapat disusun
sekehendak hati.Namun demikian, untuk memudahkan mengingat dan
mengenal species yang dimaksud, epitet sebaiknya dibuat atas dasar
karakteristik yang dimiliki oleh species tersebut.Berikut adalah beberapa
sumber yang sering dipakai sebagai epitet.
a. Epitet dapat dibuat dari nama seseorang, umumnya yang berjasa dalam bidang
botani. Epitet seperti ini biasanya dibuat dengan aturan sebagai berikut.
Apabila nama orang tersebut berakhir dengan huruf hidup (selain a) atau er
maka nama orang tersebut ditambah akhiran -i untuk masculine tunggal
(contoh: billardiereidiambil dari nama J. J. H. de la Billardiere, botanist dari
Perancis), -ae untuk feminine tunggal (contoh: alicae, diambil dari nama
seorang ratu Alice), -orumuntuk masculin jamak (contoh: manriqueorum
dari nama Manrique de Lara), dan -arum untuk feminine jamak (contoh: tidak
umum). Apabila nama orang tersebut berakhiran huruf a maka ditambah
akhiran -e untuk tunggal ( contoh: castellopaivaedari nama Baron Castello de
Piva) atau -rum untuk jamak (contoh: tidak umum). Apabila nama orang
tersebut berakhiran huruf mati (kecuali -er) maka ditambahkan akhiran -ii
untuk masculine tunggal (contoh: wilsonii, diambil dari nama Dr. E. H.
Wilson), -iae untuk feminine tunggal (contoh: willmottiaediambil dari nama
Miss Ellen Ann Willmott), -iorum untuk masculine jamak (contoh
manriqueorum, dari nama Manrique de Lara), atau -iarum untuk feminine
148

jamak (contoh: tidak umum). Apabila, epitet difungsikan sebagai kata


keterangan benda maka aturannya adalah sebagai berikut. Apabila nama orang
tersebut berakhiran huruf hidup (selain a) atau er maka nama orang tersebut
ditambah akhiran -anus untuk masculine (contoh: hookerianus, diambil dari
nama Sir W. J. Hooker dari Inggris), -ana untuk feminine (contoh: matsudana
dari nama Sadahisa Matsudo, seorang botanist Jepang), atau anum untuk
gender (contoh: gayanum diambil dari nama J. E. Gay, seorang botanist dari
Perancis). Apabila nama orang tersebut berakhiran a, tambahkan akhiran -nus
jika masculine (contoh: tidak umum), -najika feminine (contoh: tidak umum),
atau -num jika gender (contoh: tidak umum). Apabila nama orang tersebut
berakhiran huruf mati tambahkan -ianus untuk mascu line (contoh: dielsianus,
diambiul dari nama F. L. E. Diels dari Berlin), -iana untuk feminine (contoh:
pavoniana dari nama Don Jose Pavon, Botanis Spanyol), atau -ianum untuk
gender (contoh: scottianum dari nama RobertScott.dari Jerman)
b. Epitet dapat berasal dari sebuah nama klasik yang sangat tua. Misalnya,
thapsus(Verbascum thapsus L.). "Thapsus" adalah sebuah nama klasik, dari
zamanThapsus purba.
c. Epitet dapat berupa nama genus yang diadaptasikan sebagai epitet. Sebagai
contoh: rosa-sinensis (Hybiscus rosa-sinensis) berasal dari nama sebuah genus
Rosa, yaitu genus dari bunga mawar. Epitet ini mungkin diambil karena bunga
Hybiscus rosa-sinensis (kembang sepatu) mirip dengan bunga mawar merah.
d. Epitet dapat juga diadopsi dari nama lokasi dimana species tersebut ditemukan.
Epitet yang diambil dari nama tempat tumbuh biasanya berakhiran
ensis(bornensis, Borneo), -(a)nus (malayanus, Malaya), -inus atau -ianus
(cantianus,Kent di Inggris), atau -icus (sundaicus, Sunda) untuk yang
masculine, sedangkan yang feminine dapat berakhiran -ensis (sama seperti
pada masculine), -(a)na(Papuan, Papua), -ina (amboina, Ambon), -ica
(celebica, Sulawesi), dan untuk yang netral biasanya berakhiran sebagai brikut:
-ense (bogoriense, Bogor), -(a)num (peruvianum, Peru), -inum (palaestinum,

149

Palestina), dan icum(japonicum, Japan). Aturan penamaan epitet yang berasal


dari nama tempat sering tidak akurat oleh keterbatasan informasi yang ada
tentang penyebaran species tersebut. Sebagai contoh, sebuah specimen
tumbuhan yang dikoleksi di Pulau Sumatra diberi namaOctomeles sumatrana,
karena tumbuhan tersebut diduga hanya tumbuh di Pulau Sumatra. Ternyata
belakangan diketahui bahwa, tumbuhan tersebut tersebar merata hampir di
seluruh Kepulauan Indonesia.
e. Epitet dapat dibuat dari sifat-sifat atau karakteristik dari tumbuhan tersebut.
Sebagai contoh, macropoda: macro (=besar) pod (=buah) seperti pada
Plyathiamacropoda yang berarti Polyalthia yang buahnya besar, odoratum:
odor (=berbau) seperti pada Canangium odoratum yang berarti Canangium
yang bunganya berbau harum, albifolia: albi (=putih) folia (=daun) seperti pada
Euodia albifolia berarti Euodia yang permukaan bawah daunnya berwarna
putih. Sama dengan aturan yang berlaku pada tata penamaan genus, pada tata
penamaan epitet terdapat juga aturan pembuatan akhiran yang ada kaitannya
dengan gender (masculine, feminine, dan netral). Dalam pembuatan
namaspecies, genus masculine harus dipasangkan dengan epitet masculine,
demikian juga genus feminine harus dipasangkan dengan epitet feminine.
Genus netral dapat dipasangkan dengan epitet masculine, feminine, atau
netral.Demikian juga, epitet netral dapat dipasangkan dengan genus masculine,
feminine, atau netral. Tabel berikutmemperlihatkan beberapa contoh akhiran
nama epitet sesuai dengan gendernya(Putu Oka Ngakan, 2007).

150

4. Kategori Di Bawah Species


Oleh adanya perbedaan-perbedaan yang cukup nyata, tetapi secara
strukturmorfologis adalah sama, suatu species sering masih dibeda-bedakan
atau dipisahpisahkan. Sebagai contoh, ada dua tumbuhan yang memiliki
struktur morfologi organ-organ dan karakteristik sama, tetapi: yang satu
buahnya manis, sedangkan yang lainnya masam; yang satu corollanya
berwarna merah, sedangkan yang lainnya merah muda; yang satu selalu
berbuah di awal musim hujan, sedangkan yang lainnya di akhir musim hujan;
yang satu daunnya berbulu tebal, sedangkan yang lainnya jarang; dan
sebagainya. Keanekaragaman intraspecific seperti ini dapat terjadi karena
adanya persilangan baik secara buatan maupun alami serta proses adaptasi
terhadap habitat yang beranekaragam yang akhirnyamengarahkannya pada
perubahan morfologis melalui proses evolusi.
Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, kotegori di bawah species
dikeleompokkan mulai dari Subspecies (disingkat menjadi subsp. atau ssp.),
Variety (disingkat menjadi var.), Subvariety (disingkat menjadi subvar.), dan
Form (disingkat menjadi f.). Nama subspecies tumbuhan dibuat dengan
mengambil namaspecies induk dan menambahkan nama subspecies di
belakangnya. Sebagai contoh: Democarpus longan Lour. ssp. malesianus
Leenh. untuk subspecies dari Democarpus longan Lour. (kelengkeng); Knema
latericia Elmer. ssp. albifolia(Sinclair) de Wilde untuk subspecies dari Knema
latericia Elmer. Cara yang samajuga dilakukan untuk pemberian namavarietas,
subvarietas, dan form, dengan menggati huruf ssp. dengan var. untuk variety,
subvar. untuk subvariety, dan f. untuk forma (Putu Oka Ngakan, 2007).
5. Nama Species Hasil Persilangan
Perkawinan silang yang biasanya menghasilkan species baru dapat terjadi
baik secara buatan maupun alami. Proses persilangan biasanya mudah terjadi
diantara species dalam genus yang sama. Akan tetapi, tidak tertutup
kemungkinan bahwa proses perkawinan silang terjadi antara species dari genus
yang berbeda (umumnya masih dalam satu family). Species baru hasil

151

persilangan biasanya memiliki struktur morfologi gabungan antara kedua


induknya.
Individu hasil persilangan antar genus harus diberi nama genus baru yang
merupakan hasil penggabungan dari nama kedua genus induknya. Kedua
namagenus induknya boleh diambil hanya sebagian, atau yang satu sebagian
dan yang satu lagi seluruhnya, tetapi tidak boleh diambil secara lengkap dari
kedua nama genus induknya. Di depan nama sebuah genus baru hasil
persilangan harus diberi tanda silang (x) yang berarti bahwa genus tersebut
adalah hasil persilangan. Misalnya, individu hasil persilangan antara Mahonia
dan Berberis dapat diberinama genus xMahoberberis. Contoh lainnya adalah:
xFatshedera yang merupakan hasil persilangan dari Fatsia dan hedera;
xGastritis yaitu sebuah genus anggrek yang merupakan persilangan antara
Gastrochilus dan Dorotis. Cara lain untuk memberikan nama genus bagi
individu hasil persilangan adalah dengan mengambil secara lengkap kedua
nama genus induknya dengan memberikan tanda silang diantaranya. Misalnya:
MahonixBerberis (=Mahoberberis); FatsiaxHedera(=Fatshedera). Epitet dari
species hasil persilangan dapat dibuat sesuai aturan pembuatan epitet yang
berlaku sebagaimana dijelaskan sebelumnya.
Pemberian nama species hasil perkawinan silang antar species dalam
genus yang sama dapat dilakukan dengan menuliskan secara lengkap nama
species induknya dengan menempatkan tanda silang di antaranya: Digitalis
lutea L. x D.purpurea L. dalam hal ini, nama induk yang menghasilkan biji
hibrida harus ditempatkan di bagian awal, sedangkan induk sumber stamen
ditempatkan di bagianbelakang. Cara lain untuk membuat nama species hasil
persilangan dua induk dari satu genus adalah dengan menyebutkan hanya satu
kali nama genus diikuti dengan tanda silang dan epitet baru: Nepetax faasenii
Bermans ex Stern (Putu Oka Ngakan, 2007).
F. Pencantuman Nama Pengarang

152

Nama pengarang yang menerbitkan nama sah

suatu takson yang

pertama kali, perlu dicantumkan pada tata nama suatu takson tersebut. Hal ini
dikarenakan agar petunjuk nama takson tersebut dapat tepat dan lengkap, selain
itu juga agar tanggal mudah untuk diselidiki. Pencantuman author tersebut
mempunyai arti yang berbeda-beda, dalam hal ini mengenai adanya author
tunggal dan author ganda. Yang dimaksud dengan author tunggal itu sendiri
artinya orang yang berperan dalam pemberian nama dan pembublikasiannya
hanya satu orang, sedangkan author ganda artinya terdapat lebih dari satu orang
yang berperan dalam pemberian nama dan pembublikasiannya. Sebagai contoh
adalah :
1. Acacia auriculiformis A. Cunn. Ex Bth. , artinya nama ini diberikan
atau diusulkan oleh A. Cunn dan dipublikasikan secara efektif dan
valid oleh Bth
2. Callophyllum hasskarlii T & B ex Planch. & Triana, artinya nama ini
di diberikan oleh T&B (singkatan nama orang) dan dipublikasikan
secara efektif oleh Planch (singkatan nama orang) dan Triana
3. Commelina nudiflora Anet. Non L. , artinya nama yang diberikan
oleh Anet tidak sama dengan nama yang diberikan oleh L
4. Callopyllum lanceolatum T&B non Bl. , artinya nama yang diberikan
oleh T&B tidak sama dengan nama yang diberikan oleh Bl.
5. Phyllanthus L. emend Mull. Arg. , artinya nama yang diberikan oleh
L. Diubah oleh Mull. Arg. Contoh lain adalah Nymphaea L. emend
J. E. Smith
6. Jasminum sanbac (L). W. Ait. , artinya nama asli diberikan oleh L.
kemudian diubah menjadi marga baruoleh W. Ait. Dengan masih
menggunakan petunjuk jenisnya
7. Didymopanax gleisomi Britton et Wilson. , artinya nama diberikan
Britton dan Wilson bersama-sama
8. Streptpmyces alba-meyer Hesseltine et al, artinya nama diberikan
oleh Hesseltine dan kawan-kawan
(Sudarsono, dkk, 2005: 45-46)
153

G. Nama Ilmiah, Nama Sah, Nama Yang Tidak Sah Dan Nama Yang Benar
Dan Nama Yang Tidak Benar
Dalam menyebutkan suatu nama tumbuhan, biasanya dibedakan atas
nama setempat/nama local dan nama ilmiahnya. Kedua nama itu berasal dari
pengalaman sehingga mendorong seseorang untuk membuat suatu kesatuan
taksonomi atau takson. Sehingga dalam kehidupan sehari-haripun dalam
menyatakan suatu tumuhan, biasanya dimaksudkan untuk menyebut jenis
tumbuhan itu atau dalam arti lain sekolompok individu dalam jenis tersebut.
1. Nama Lokal atau Nama Biasa
Pada mulanya nama yang diberikan pada suatu tumbuhan tentu
menggunakan bahasa orang yang memberi nama. Dengan demikian satu
jenis tumbuhan dapat mempunyai nama yang berbeda-beda sesuai dengan
bahasa orang yang memberi nama. Sebagai contohpisang (Bahasa
Indonesia), Banana (Bahasa Inggris), Gedhang (Bahasa Jawa), dan Cauk
(Bahasa Sunda).Nama-nama demikian dalam taksonomi tumbuhan disebut
dengan nama lokal. Adapun pada umumnya, ciri-ciri dari nama local pada
tumbuhan adalah sebagai berikut:
a. Tidak umum, karena bahasa yang dipakai hanya dalam satu bahasa
tertentu
b. Di beberapa bagian dunia, relatif sedikit jenis yang punya nama lokal
dalam berbagai bahasa
c. Tidak dipakai dalam mendiskripsikan marga, jenis atau vegetasi juga
tidak dapat sebagai ukuran dan tidak dapat dipakai dalam
mengkatagorikan takson
d. Satu jenis punya nama local dua atau lebih yang tidak ada aturannya
2. Nama Ilmiah
Nama ilmiah adalah nama yang diberikan dan digunakan untuk
mendefinisikan nama di dalam pelaksanaan tentang aturan tata nama, yang
kreasi dan pemakaiannya diatur oleh aturan pokok, dimana aturan dan
rekombinasinya menimbulkan Kode Internasional Tatanama Tumbuhan
(International Code of Botanical Nomenclatur).
154

Pada mulanya nama ilmiah ini ditunjukkan dengan bahasa latin.


Yang mana maksud dari pemberian nama ilmiah tersebut adalah untuk
memberi arti yang menunjukkan takson yang membawa nama itu,
sehingga dapat diketahui apakah nama itu merupakan nama jenis, marga,
suku, atau tingkatan lain yang dikatagorikan dalam takson.
Adapun faktor yang menyebabkan adanya nama ilmiah adalah:
a. Beranekaragamnya nama bahasa
b. Nama biasa ada yang pendik da nada yang panjang (tidak ada aturan)
c. Banyaknya sinonim (ada duanama atau lebih) atau homonym untk satu
jenis tumbuhan
d. Sukar untuk diterima oleh dunia internasional jika salah satu bahasa
bangsa-bangsa yang sekarang masih dipakai sehari-hari diilih sebagai
bahasa untuk nama-nama ilmiah.
3. Nama Ilmiah yang Sah, Tidak Sah, Benat atau Tidak Benar
a. Nama yang Sah dan Tidak Sah
1) Nama dalam kelompok taksonomi yang berhubungan tingkat
suku diatas tingkatan marga tanpa penambahan
a) Nama pada anak suku tanpa penambahan oideae
b) Nama pada tribus tanpa penambahan eae
c) Nama pada anak tribus tanpa penambahan inae
2) Nama marga
Nama marga terdiri atas dua kata, digunakan untuk
menyebut seperti yang berlaku atau digunakan dalam
morfologi, perkecualian untuk aturan yang dipublikasikan
sebelum tanggal 1 januari 1912 dan nama waktu yang
dipublikasikannya disertai keterangan khusus yang tidak
mengikuti system Linnaeus. Kemudian kata seperti kata
antonym tidak diperkenankan dalam penamaan
3) Nama dalam jenis

155

a) Namadalam jenis dngan kata keterangan khusus yang


mengulang nama marganya atau tanpa mncantumkan
symbol/lambang
b) Nama jenis dengan mmuat bentuk bagian dari
keterangan khusus jenis itu
c) Nama ganda, namun bagian itu tidak sungguh-sungguh
atau dengan sengaja untuk menyebut nama
4) Nama yang semu yaitu nama yang diberikan untuk menyebut
tumbuhan yang sebetulnya nama itu telah ada (telah memunyai
nama)
5) Kata yang homonym yaitu nama yang sama yang diperuntukan
takson yang berbeda sebab telah dipakai untuk mmberi nama
sebelumnya
6) Nama

yang

didasarkan

pada

elemen-elemen

yang

dipertentangkan.
4. Nama yang benar dan tidak benar
Aturan pokok IV pada kode International Tatanama Tumbuhan
dikatakan masing-masing kelompok taksonomi terutama penyandraannya,
posisi dan tingkatannya hanya ada satu nama yang benar, waktu dulu hal
itu tidak mengikuti peraturan kecuali dalam sebab khusus. Perturan pokok
IV tidak hanya berlaku atau berhenti pada hal yang baru saja tetapi
teristimewa juga pada bagian yang dulu/lama, yang berhubungan dengan
aturan pokok lain yaitu peraturan pokok III.
H. Homonim, Sinonim, Basionim, Tautonim dan Nomina Conservanda
1) Basionim
Basionim merupakan "nama pembawa atau penunjuk pembawa sinonim"
yaitu nama orisinal (tetapi ditolak), sebagian nama digunakan dalam
kombinasi baru. Seperti terlihat di awal, jika nama spesies dan infraspesies
ditransfer tingkatannya atau posisinya penunjuk spesies atau infraspesies
basionim dipertahankan (retensi) kecuali melanggar aturan kode lainnya,
seperti prioritas publikasi yaitu jika nama telah digunakan untuk takson lain
156

pada tingkatan sama. Nama author yang secara orisinal menamai basionim
juga dipertahankan dan diletakkan dalam tanda kurung di depan author yang
membuat perubahan.
Contoh: Ketika Dilatris carolinianaLam. ditransfer ke marga Lachnanthes
oleh Dandy, nama spesies baru menjadi Lachnanthes caroliniana(Lam)
Dandy. Dalam hal ini basionim adalah Dilatris carolinianaLam.
2) Autonim
Autonym merupakan nama yang diciptakan secara otomatis untuk takson
infrafamili, inframarga, dan infraspesies. Autonym digunakan bila family
dipilah menjadi subfamily, puak atau subpuak; marga dipilah menjadi
submarga atau seksio; atau spesies dipilah menjadi subspecies.Dari dua taksa
atau lebih yang dibentuk, autonym ditentukan berdasarkan prioritas, yaitu
kelompok

yang

mencakup

takson

yang

telah

dipublikasikan

pertamakali.Autonym tidak memiliki author; hanya takson tinggi yang mana


didasarkan dan subtaksa lainnya mempunyai authorship resmi.
contoh Isely memilah Lotus stipularis (Benth.) E Greene menjadi dua
varitas: L. stipularis (Benth.) E Greene var ottleyi Isely dan L. stipularis
(Benth.)E Greene var stipularis Isely.
3) Tautonim
Tautonim merupakan binomial yang mana pengejaan nama marga dan
penunjuk spesies identik. Tautonim tidak diperkenankan dalam tatanama
tumbuhan.
contoh: nama Helianthus helianthus adalah tautonim dan tidak sah,
sedangkan Helianthus helianthoides bukan tautonim dan diperbolehkan
(catatan bahwa tautonim diijinkan dalam tatanama zoology)
4) Homonim
Homonym merupakan satu dari dua nama atau lebih yang identik (tidak
termasuk author) yang didasarkan atas tipe specimen yang berbeda. Homonim
157

berikutnya, didasarkan pada tanggal publikasi adalah tidak sah (kecauali yang
dilestarikan).
contoh: Tapeinanthus Herb (1837), anggota Amaryllidaceae, dan
Tapeinanthus Boiss. Ex Benth.(1848), anggota Lamiaceae adalah homonym.
Homonym berikutnya anggota Lamiaceae tidak sah [diberi nama lagi oleh
Thuspeinanta T.Durand (1888)]
5) Sinonim
Sinonim adalah nama yang ditolak (rejected name), oleh author tertentu.
Sinonim ditolak karena (1) nama tidak sah, bertentangan dengan aturan ICBN;
atau (2) karena pertimbangan taksonomi didasarkan atas tipe specimen yang
sama atau berbeda dari nama tepat. Nama tepat (correct name) adalah nama
sah yang diterima oleh author. Asas dasar ICBN yang menyatakan bahwa tiap
takson hanya dapat memiliki satu nama tepat. Jadi, jika terdapat dua nama
atau lebih bersaing untuk takson yang sama, contoh Malosma laurina (Nutt.)
Abraham dan Rhus laurina Nutt., hanya satu di antaranya yang tepat.
Bagaimanapun nama yang tepat tergantung pada author dari referensi jurnal
atau buku diberikan.
Contoh Cyrtanthera Nees = Justicia, nama tepat adalah Justicia,
sinonimnya adalah Cyrtanthera.

158

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari hasil praktikum identifikasi dan tata nama tumbuhan, dapat
disimpulkan bahwadalam mendeterminasi atau mengidentifikasi tumbuhan
dapat dilakukan yaitu dengan ingatan, bantuan orang lain, spesimen acuan,
pustaka, komputer atau kunci determinasi

B. Saran
Dalam identifikasi tatanama, agar hasil yang didapatkan sesuai dengan
aturan yang ada, terdapat beberapa saran yang kami anjurkan, antara lain:
1. Praktikan lebih jeli selama proses pengamatan perbedaan dan persamaan
pada objek yang diamati.
2. Praktikan lebih cermat dalam menentukan tingkatan takson suatu
tumbuhan.
3. Praktikanlebih rajin dalam mencari kajian pustaka mengenai identifikasi
dan tata nama tumbuhan.

159

DAFTAR PUSTAKA

H.D Harrington Illustrated by L.W. Durrell. 1957.How To Identify Plants. Athens:


Ohio University Press.
http://biologyeastborneo.com/wp-content/uploads/2011/09/Buku-ajar-TaksonomiTumbuhan.pdf di unduh pada tanggal 01 Juni 2015 pukul 14.10 WIB.
Putu Oka Ngakan. 2007. Langkah-langkah Mengenal Pohon. Makasar :Penerbit.
Sudarsono, Ratnawati, dan Budiwati. 2005. Taksonomi Tumbuhan Tinggi. Malang
: Universitas Negeri Malang Press.

160

Alga Gandar, Alga Karang dan Alga Hijau-Biru


(Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Keanekaragaman Tumbuhan)

Dosen Pengampu: Sudarsono, M.Si.

Disusun oleh:
1. Agustina Sekar Puspita

14304241020

2. Fitri Febriani

14304241021

Kelompok 9/ Pendidikan Biologi A 2014

JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2015

161

KELAS CONJUGATAE (GANGGANG GANDAR)


Conjugatae merupakan golongan ganggang dengan beraneka ragam bentuk
yang sebagian besar hidup dalam air tawar. Ada yang bersel tunggal, ada yang
merupakan koloni berbentuk benang yang tidak melekat pada sesuatu alas.
Ganggang ini tidak membentuk zoospora maupun gamet yang mempunyai bulu
cambuk bersatu menjadi suatu zigot. Setelah mengalami waktu istirahat, zigot
mengadakan pembelahan reduksi, kemudian berkecambah. Jadi Conjugatae
adalah organisme yang haploid. Conjugatae dibedakan menjadi dua bangsa yaitu
bangsa Desmidiales dan Zygnematales (Gembong tjitrosoepomo, 2005:69-72).

Ciri Ciri Conjugatae :


1. Organisme yang haploid
2. Berwarna hijau (mengandung klorofil a dan b)
3. Sel-selnya memiliki satu inti
4. Dinding sel berasal dari selulosa
5. Acontae (tidak membentuk zoospora maupun gamet yang mempunyai bulu
cambuk)
6. Bentuk bervariasi dan mayoritas habitatnya di dalam air tawar
7. Ada yang bersel tunggal dan ada yang berkoloni berbentuk benang yang tidak
melekat pada sesuatu alas (Purwati, 2012).

Kelas Conjugatae dibagi menjadi 2 Ordo (bangsa), yaitu:


1.

Ordo Desmidiales
Bentuknya beraneka rupa sehingga ganggang ini dinamakan ganggang

hias, terutama hidup dalam rawa- rawa yang airnya bereaksi asam. Sel selnya ada
yang berbentuk bulan sabit (Closterium) atau di tengah-tengah berlekuk hingga
mempunyai bentuk seperti biskuit atau bintang, sehingga sel terdiri atas 2 bagian
yang setangkup atau simetris di dalam tiap-tiap bagian itu suatu kloroplas yang
besar dengan susunan yang rumit, mempunyai satu atau beberapa pirenoid. Di
162

tengah tengah sel terdapat satu inti. Beberapa jenis dapat merayap dengan
perantaraan benang -benang lender yang dikeluarkan melalui liang-liang pada
dinding selnya (Purwati, 2012).
Perkembangbiakan terjadi secara:
a. Aseksual, sel membagi di tengah-tengahnya, dan masing-masing bagian lalu
menyempurnakan diri. Pada marga-marga tertentu sel-sel anakan itu tetap
berlekatan dan dengan demikian terbentuklah deretan sel-sel.
b. Seksual, dengan kopulasi, dua sel berdekatan lalu menyelubungi diri dengan
lendir. Dinding di bagian tengah lalu membuka dan protoplas kedua sel itu
bersatu di saluran kopulasi yang membesar dan terjadilah sebuah zigot, yang
dindingnya berduri, hingga dengan ini mudah dikenal dan dibedakan dari sel
biasa. Di samping zigot itu terdapat 4 belahan dinding sel dari kedua sel yang
berkopulasi tadi. Pada perkecambahan terjadi pembelahan reduksi sehingga
terbentuk 4 dinding haploid yang bebas, 2 kemudian mengalami degenerasi.
Dengan demikian dari satu zigot paling banyak hanya dapat tumbuh 2
individu baru (Purwati, 2012).
Dari bangsa ini terdapat satu familia yaitu Desmidiaceae, contoh spesienya antara
lain: Closterium moniliforme, Cosmarium botrytis, Desmidium aptoganum.
a.

Closterium moniliforme
Morfologi
Bentuk silinder memanjang, unisel terdiri dari semisel simetris tunggal
aksial. Terdapat banyak kloroplas disetiap semisel, vakuola terdapat pada
ujung sel dan terlihat sangat jelas (Nurhayanti, 2013).

163

Klasifikasi
Kingdom

: Plantae

Divisi

: Charophyta

Kelas

: Zygnemophyceae

Ordo

: Desmidiales

Famili

: Closteriaceae

Genus

: Closterium

Spesies

: Closterium moniliforme

b. Cosmarium botrytis
Morfologi
Kebanyakan alga memiliki dinding sel yang jelas, namun ada sebagian
alga yang tidak memiliki dinding sel. Sel tengah alga tidak memiliki dinding
sel tetapi memiliki balutan membran yang mengenali sebagai pelikel. Pelikel
dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu pelikel jenis keras dan pelikel jenis elastis
(Nurhayanti, 2013).
Klasifikasi
Kingdom

: Plantae

Filum

: Charophyta

Kelas

: Conjugatophyceae

Ordo

: Desmidiles

Famili

: Desmidiaceae

Genus

: Cosmarium

Spesies

: Cosmarium botrytis

c.

Micrasterias furcata
164

Morfologi
Micrasterias furcata berbentuk bulat, pipih dan umumnya dikenal sebagai
ganggang hijau, ukurannya 0.35mm eukariotik, uniseluler. Micrasterias bentuknya
simetri bilateral. Struktur semi-sel ganda adalah unik untuk kelompok ganggang
hijau yang dimiliki Micrasterias. Setiap sel semi mengandung kloroplas tunggal
yang besar, untuk berfotosintesis. Kloroplas mengandung klorofil A dan B dan
enzim yang diperlukan untuk fotosintesis. Gula dibuat untuk menyediakan energi
bagi organisme atau, jika tidak digunakan, diambil oleh pyrenoids bulat kecil yang
tertanam dalam kloroplas. Mereka mengubah gula ke pati untuk penyimpanan
cadangan makanan (Nurhayanti, 2013).

Klasifikasi
Regnum

: plantae

Divisi

: Thallophyta

Kelas

: Conjugatae

Ordo

: Desmidiales

Famili

: Desmidiaceae

Genus

: Micrasterias

Spesies

: Micrasterias furcata

d. Desmidium sp.
Morfologi
Filamen terdiri dari sel-sel berbentuk persegi panjang, dengan panjang sel
38-50 m dan lebar 12-21 m. Pada penampakan vertikal, sel berbentuk segitiga
dengan lekukan sedang pada bagian tengahnya. Semi sel memiliki apeks rata,
sinus dangkal dan tertutup (Nurhayanti, 2013).

165

Klasifikasi

2.

Kingdom

:Plantae

Filum

:Charophyta

Kelas

:Charophyceae

Ordo

:Desmidales

Famili

:Desmidiaceae

Genus

:Desmidium

Spesies

: Desmidium sp

Ordo Zygnematales

Menurut Purwati, (2012) ciri ciri Ordo Zygnematales:


a. Sel-selnya berbentuk koloni yang berupa benang yang tidak bercabang dan
selalu bertambah panjang karena pembelahan sel secara vegetatif, serta
pembentangan sel.
b. Dinding sel lunak, tidak berlubang-lubang, terdiri atas selulosa dengan
selaput pektin yang karena pembengkakan menjadi agak berlendir.
c. Tiap sel memiliki satu inti dan satu kloroplas berbentuk pita yang
melingkar seperti spiral, dan menempel pada dinding sel yang
mengandung pirenoid-pirenoid.
d. Pada Famili Zygnema kloroplas berbentuk bintang, sedangkan pada Famili
Mougeotia berbentuk pipih.

Perkembangbiakan
Pada konjugasi dua koloni yang berlainan jenis kelaminnya lalu
berdekatan dan sejajar satu sama lain. Pada tempat persentuhan antara dua sel lalu
terbentuk penonjolan-penonjolan, sehingga kedua koloni itu sedikit berjauhan
lagi. Karena terlarutnya dinding persentuhan , tonjolan menjadi saluran kopulasi.
Melalui saluran itu protoplas sel-sel pada benang yang jantan lalu bersifat sebagai
gamet jantan dan masuk ke dalam sel-sel pada koloni gamet betina. Peleburan

166

kedua protoplas itu lalu membulat dan karena kehilangan air sedikit mengecil dan
menjadi suatu zigot dengan beberapa lapis dinding yang tebal berwarna coklat
(pirang), penuh terisi dengan tepung dan minyak. Dalam zigot ini kloroplas yang
berasal dari gamet jantan mengalami degenerasi. Pada perkecambahan , zigot
mengadakan pembelahan reduksi, dan terbentuklah 4 inti haploid yang bebas.
Satu di antaranya agak besar dan tetap, yang 3 lainnya yang lebih kecil mengalami
degenerasi. Zigot lalu berkecambah menjadi individu baru (Purwati, 2012).
Kopulasi kedua gamet itu ada yang terjadi di tengah-tengah saluran
kopulasi, sehingga zigot terdapat di antara kedua koloni yang mangadakan
perkawinan, antara lain pada anggota Famili Zygnema dan Famili Mougeotia
(Purwati, 2012).
Berdasarkan susunan dan cara berkembang biaknya, Conjugatae merupakan
suatu golongan yang mempunyai batas yang jelas. Seringkali ganggang hias tidak
diberi kedudukan sebagai kelas tersendiri, melainkan digolongkan dalam
ganggang hijau (Chlorophyceae) (Purwati, 2012).
Contoh dari ordo Zygnematales:
a.

Spirogyra sp.
Morfologi
Koloni Spirogyra berbentuk benang, panjang sel sampai beberapa kali

lebarnya, dinding lateral sel terdiri dari tiga lapisan (lapisan terluar dari pektose
dan 2 lapisan dalam dari selulose).Pada beberapa spesies, lapisan pektose tipis,
tapi kebanyakan tebal, yaitu 10-15 mikron. Dinding transversal tersusun dari tiga
lapis : yang tengah lamella dari pektose, dan dua lapisan dari kiri dan kanan
lamella tersusun dari selulosa. Tiap sel Spirogyra mengandung sebutir kloroplas
yangumumnya berukuran besar dan terikat dalam sitoplasma tepat di dalam
dinding sel. Plastid ini memiliki bentuk menyerupai pita, berpilin dari pangkal
hingga ke ujung sel (Anonim, 2015).

167

Klasifikasi
Regnum

: Plantae

Divisi

: Thallophyta

Kelas

: Conjugatae

Ordo

: Zygnematales

Kelas

: Zygnemataceae

Genus

: Spirogyra

Spesies

: Spirogyra sp.

168

KELAS CHAROPHYCEAE (CHARACEAE)

Charophyceae adalah kelas dari tumbuhan ganggang yang disebut dengan


ganggang karang. Ciri umum kelas Charophyceae antara lain adalah:
a. Dinding selnya terdiri atas selulosa
b. Mempunyai pigmen klorofil a dan klorofil b
c. Hasil fotosintesisnya berupa zat tepung
d. Hidup di perairan sebagai bentos
e. Talusnya berbuku-buku
f. Merupakan ganggang makroskopis
Perkembangbiakan seksual dengan oogami. Oogonium diselubungi
benang-benang yang membentuk spiral. Di ketiak cabang sering tumbuhcabangcabang yang panjang dan susunannya sama dengan sumbu pokoknya.

2
1

1. Oogonium
2. Kumpulan anteridium
3. Spermatozoid
4. Sel spermatogen dengan spermatozoid

169

Pada Nitella tiap-tiap sumbu hanya tediri atas satu sel ruas saja, tetapi pada
characeae umumnya, selruas itu dikelilingi oleh selapis sel-sel yang tersusun
sejajar menurut poros bujur. Sel-selnyamengandung sebuah inti dan kloroplas
berbentuk bulat. Pembelahan amitosis, sehingga dalam sel-selruas terdapat
beberapa inti. Alat-alat pembiakan seksual berupa anteridium bulat berwarna
kekuningkuningan,dan oogonium berbentuk seperti telur berwarna hijau dan
terdapat dalam ketiak cabang.Anteridium berasal dari satu sel induk yang
kemudian membelah menjadi 8 sel, yang dinamakanoktan. Tiap-tiap oktan
membentuk 2 dinding tangensial menjadi 3 sel sehingga dengan initerbentuklah
24 sel. Delapan sel paling luar dinamakan sel-sel dinding (pelindung), 8 sel
ditengahdinamakan sel pemegang (manubrium), 8 lagi yang paling dalam
dinamakan sel-sel pokok.
Karena sifatnya sebagai pembentuk kapur, maka characeae penting
peranannya dalampembentukan tanah-tanah kapur. Dalam keadaan fosil,
characeae ditemukan pada lapisan-lapisantanah dari zaman jura. Semua warga
kelas ini hanya dimasukkan dalam satu bangsa saja, yaitucharales yang terbagi
dalam beberapa suku antara lain :
- Chara fragilis
- Chara intermedia
- Nitellagracilis
- Tolypella prolifera

Nitellagracilis
(Tim Dosen, 2006: 15-16)
170

ALGA HIJAU-BIRU (CYANOBACTERIA)


Cyanobacteria atau alga hijau-biru (Cyanophyta) adalah kelompok alga
yang paling primitif dan memiliki sifat-sifat bakterial dan alga. Kelompok ini
adalah organisme prokariotik yang tidak memiliki struktur-struktur sel seperti
yang ada pada alga lainnya, contohnya nukleus dan kloroplas. Mereka hanya
memiliki klorofila, namun mereka juga memiliki variasi fikobilin seperti halnya
karotenoid. Pigmen-pigmen ini memiliki beragam variasi sehingga warnanya bisa
bermacam-macam dari mulai hijau sampai ungu bahkan merah. Perbandingan zat
warna tersebut amat labil, oleh sebab itu wara alga tidak tetap. Perubahan zat
warna kemungkinann berhubungan dengan proses metabolisme seperti jumlah
sinar yang diterima, warna pigmen selubung atau pertukara gas dalam sel. Alga
biru hijau tidak pernah memiliki flagella, namun beberapa filamen membuat
mereka bergerak ketika berhubungan dengan permukaan (Wulan, 2011: 4).
Alga hijau-biru merupakan alga mikroskopis bersel tunggal, dapat
berbentuk filamen dan koloni dengan struktur tubuh yang sederhana dan bersifat
autotrof. Divisi Cyanophyta terdiri dari 4 ordo yaitu:
1. Chroococcales
2. Oscillatoriales
3. Nostocales
4. Stigonematales

1. Chroococcales
Ciri-ciri bangsa Chroococcales :
Bentuk sel membulat tunggal atau berkelompok
Memiliki klorofil, karotenoid, fikosianin, fikoklorofil
Berwarna kehijauan pada habitat berair
Di Bagian tepi protoplasma/dinding sel berlendir (menyebabkan
warnanya berkilau)
Habitat di tempat lembab seperti di batu cadas dan tembok

171

Berbentuk tunggal atau kelompok tanpa spora, warna biru kehijauhijauan.

Suku Chroococcaceae, termasuk di dalamnya jenis-jenis:


A. Chroococcus turgidus
B. Gloeocapsa sanguinea
Umumnya alga ini membentuk selaput lendir pada cadas atau tembok
yangbasah. Setelah pembelahan, sel-sel tetap bergandengan dengan perantaraan
lendirtadi, dan dengan demikian terbentuk kelompok-kelompok atau koloni.
Reproduksi dapat melalui pembelahan sel atau pemisahan koloni.

2. Oscillatoriales
Merupakan alga yang biasanya ditemukan di perairan tawar. Oscillatoria
dapat bertahan pada perairan dengan polusi, hulu sungai dan kanal. Struktur
tubuhnya berbentuk filamen yang pipih, lurus atau bisa juga membentuk torsi.
Trikomanya tidak bercabang dan panjang. Umumnya trikoma tidak dilapisi lendir,
kecuali pada beberapa spesies seperti Oscillatoria formosa .
Beberapa macam bentuk dari Oscillatoria dapat dilihat pada gambar dibawah ini

172

Sturktur anatomisnya seperti pada Cyanophyta secara umum. Di dalam selnya


terdapat

protoplasma

bergranula.

Nukleus

tidak

diselubungi

membran.

Protoplasma terbagi menjadi kromatoplasma dan sentroplasma.

173

Pergerakan Oscillatoria adalah dengan cara gerak osilasi, yaitu gerakan pada
filamen terminal. Gerak inilah yang menjadikan namanya adalah Oscillatoria.
Reproduksi Oscillatoria adalah dengan hormogonia dan fragmentasi.
3. Nostocales
Nostoc termasuk dalam golongan Cyanophyceae. Nostocdapatmemfiksasi
nitrogen yaitu bagian heterokista dengan dinding selnya yang tebal. Di dalamnya
terdapat enzim nitrogenase. Termasuk alga air tawar dan terestrial, kadang dapat
ditemukan di persawahan. Dapat ditemukan di tanah yang basah diantara tanaman
kecil seperti lumut, liken dan sebagainya. Koloni Nostoc dapat diselimuti gelatin.
Koloni ini berwarna kehijauan sampai kebiruan. Setiap koloni mengandung ribuan
trikoma yang berpilin (Sharma, 1986).
Heterokista strukturnya lebih tebal dan lebih besar. Sel heterokista biasanya
terletak di tengah, akan tetapii pada Nostoc muda dapat berada di tepi. Dalam
heterokista terdapat 2 badan polar yang terbentuk dari penebalan membran dalam
dari selulosa (Sharma, 1986).

174

Reproduksi secara seksual tidak ada. Reproduksi vegetatif secara


fragmentasi, satu koloni memisahkan diri menjadi dua atau tiga fragmen. Setiap
fragmen dapat berkembang menjadi koloni yang baru. Juga mengalami
perkembangbiakan dengan hormogonia, filamen berpisah
rpisah menjadi beberapa
bagian karena pembusukan dari sel vegetatif (Sharma, 1986).

175

4. Stigonematales
Ganggang hijau-biru dari ordo Stigonematales berbentuk multiselular, trikal,
memiliki heterokista serta tumbuh membentuk cabang cabang. Struktur selnya
yang mempunyai heterokista memungkinkan untuk memfiksasi nitrogen bebas.
Dari semua ordo Cyanophyta, Stigonematales adalah ordo yang menunjukkan
percabangan.

176

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. (2015). http://www.scribd.com/doc/130845882/Algasd#scribd. Diakses
pada tanggal 11 Juni 2015 jam 14.55.
Nurhayanti. (2013). http://yanti-ciamik.blogspot.com/2013/02/botani-tumbuhanrendah.html. Diakses pada tanggal 11 Juni 2015 jam 13.55.
Purwati,

Erny.

(2012).

http://ernyce-purwa.blogspot.com/2012/04/makalah-

taksonomi-tumbuhan.html. Diakses pada tanggal 11 Juni 2015 jam 13.45.


Sharma, OP. 1986. Text Book of ALGAE. New Delhi: Tata McGraw-Hill
Tjitrosoepomo, Gembong. 1986. Taksonomi Tumbuhan (Taksonomi khusus).
Jakarta: Bhatara.
Wulan Embun. 2011. Isolasi dan Idetifikasi Mikroalga Cyanophya dari Tanah
Persawahan Kampung Sampora, Cibinong, Bogor. Jakarta : UIN Syarif
Hidayatullah

177

ALGA
(Diatome, Phaeophyceae, Rodhophyceae)
(Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Keanekaragaman Tumbuhan)

Dosen Pengampu: Sudarsono, M.Si.

Disusun oleh:
1. Neny Andriyani

14304241022

2. Senja Fitriana

14304241023

Kelompok 10/ Pendidikan Biologi A 2014

JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2015

178

BAB I
PENDAHULUAN
Tumbuhan adalah organisme yang dicirikan dengan adanya dinding sel,
pigmen fotosintetik dan sifat autotrofik serta immobil. Secara garis besar,
tumbuhan dibedakan menjadi tumbuhan tingkat rendah dan tumbuhan tingkat
tinggi.Pembagian ini tidak mengacu secara spesifik kepada struktur tubuh dari
tumbuhan tersebut, tetapi lebih mengacu pada perkembangbiakan atau
reproduksinya.

Tumbuhan

tingkat

rendah

memiliki

organ

dan

cara

perkembangbiakan yang lebih sederhana bila dibandingkan dengan pada


tumbuhan tingkat tinggi.
Dalam dunia tumbuhan kita mengenal ada dua jenis tumbuhan yaitu
Cryptogamae dan Phanerogamae.Cryptogamae merupakan tumbuhan yang alatalat reproduksinya terletak tersembunyi, tumbuhan cryptogamae ini terdiri dari
Schizophyta, Thallophyta, Bryophyta, Pteridophyta. Sedangkan pada tumbuhan
Phanerogamae memiliki cara perkembangbiakan yang jelas, artinya cara
penyerbukannya yang lebih dahulu diketahui daripada peristiwa seksual yang
terjadi pada golongan tumbuhan tidak berbiji.
Pada tumbuhan tingkat rendah, kita mengenal kelompok Thallophyta yang
mencakup Algae (ganggang).Thallopyta merupakan tumbuhan bertalus atau
tumbuhan yang belum dapat dibedakan secara jelas antara akar, batang, dan
daun.Secara umum, kita memandang keseluruhan tubuhnya sebagai talus.
Algae merupakan tumbuhan akuatik yang menghuni habitat air. Dalam
system pengklasifikasian, Pembagian Algae dalam kelas-kelas tertentu didasarkan
pada jenis pigmen warna yang dikandungnya, sehingga kita dapat mengenal
istilah

Chlorophyta

(ganggang

hijau),

Rhodophyta

(Ganggang

merah),

Phaeophyta (ganggang coklat) dan sebagainya. Dalam makalah ini kami akan
membahas secara khusus mengenai Diatome (Ganggang kresik), Phaeophyta
(ganggang pirang/cokelat), Rhodophyta (Ganggang merah).

179

Tujuan
1. Mengetahui ciri utama Diatome, Phaeophyceae, Rodhophyceae
2. Mengetahui fase hidup/ perkembangbiakan Diatome, Phaeophyceae,
Rodhophyceae
3. Mengetahui

spesies

yang

termasuk

kedalam

Diatome,

Phaeophyceae, Rodhophyceae

180

BAB II
ISI
1. Kelas Diatome (Ganggang Kersik)
Diatomeae atau Bacilliariophyta adalah jasad renik bersel satu yang
masih dekat dengan flagellatae.Bentuk sel nya bermacam-macam, semuanya
dapat dikembalikan ke dua bentuk dasar yaitu bantuk bilateral dan
sentrik.Dinding sel mempunyai susunan khusus.Dinding sel terdiri atas pektin
dengan panser yang terdiri atas kersik disebelah luarnya. Panser kersik
tersebut tidak menutup seluruh sel (sebab dengan demikian pembelahan sel
akan terganggu)., melainkan terdiri atas dua belahan yang merupakan wadah
dan tutupnya. Oleh sebab itu sel dari bawah dan atas kelihatan berbedabeda.Batas pertemuan kedua wadah terseebut disebut dengan ikat
pinggang.Permukaan kedua bagian panser tersebut mempunyai susunan yang
rumit, yang mempunyai liang-liang yang halus sebagai jalan untuk keluarnya
lendir. Pada pembusukan atau pemijaran, rangka kersik tetap dengan
pembubuhan asam fluorida semua dindingnya akan terlarut (Tjitrosoepomo,
1989: 49).
Sel diatomeae mempunyai inti dan kromatofora berwarna kuning-coklat
yang mengandung klorofil-a, karoten, santofil, dan karotenoid lainnya yang
sangat menyerupai fikosantin.Beberapa jenis diatomeae tidak mempunyai zat
warna, dan hidup sebagai saprofit.Dalam sel diatomeae terdapat pirenoid,
tetapi tidak dikelilingi oleh tepung.Hasil-hasil asimilasi ditimbun diluar
kromatofora, berupa tetes-tetes minyak dalam plasma (sering dalam vakuola)
dan dismping minyak kadang-kadang juga leukosin (Tjitrosoepomo, 1989:
49).
Perkembangbiakan pada sel diatomeae terjadi dengan:
1. Membelah, mula-mula protoplas membesar, tutup dan wadahnya lepas pada
ikat pinggangnya. Sel lalu membelah. Masing-masing bagian pada dua sel itu
lalu membuat wadahnya sehingga dari setiap pembelahan terjadi dua
individu, yang satu sama dengan sel induk dan yang lainnya lebih kecil.

181

Yang kecil itu pun dapat terus membelah hingga mencapai minimum dan sel
mati.
2. Pembentukan auksospora, sebelum suatu sel mencapai minimum, panser
dilepaskan, protoplas tumbuh menjadi sebesar protoplas normal, baruu
kemudian panser dilepaskan kembali.
3. Seksual melalui oogami, sel dengan reduksi membuat gamet yang haploid
(sel telur dan spermatozoid).

Diatomeae dibagi menjadi dua bangsa, yaitu bangsa Centrales dan Pennales:
a. Bangsa Centrales
Habitat nya di dalam laut, merupakan salah datu penyusun
plankton.Oanser bulat dengan tonjolan radial atau konsentris yang berupa
sayap atau duri dengan perantara lendir perkembangbiakan seksual suatu sel
vegetatif mengadakan pembelahan reduksi sehingga terbentuk 4 inti yang
haploid.Tiga diantaranya binasa, sehingga tinggal satu inti saja yang
merupakan oogonium.Pada sel lainnya, ke 4 inti yang haploid itu tetap dan
akhirnya dari satu sel vegetatif menjadi suatu anteridium.Setelah tutup sel
membuka, spermatozoid dapat bergerak bebas menuju oogonium.Setelah

182

terjadi pembuahan, zigot lalu membentuk kulit dari pektin, kedua inti sel
kelamin bersatu dan akhirnya keluarlah auksospora, tumbuh menjadi besar
dan melepaskan diri dari selubung oogoniumnya
oogoniumnya (Tjitrosoepomo, 1989: 50).

b. Bangsa Pennales
Sel-sel
sel berbentuk jorong memanjang, berbentuk batang seperti perahu
atau pahat, tonjolan-tonjolan
tonjolan tonjolan pada panser tersusun menyirip dan ditengah
ditengahtengah panser terdapat celah membujur yang dinamakan rafe.Organis
rafe.Organisme ini
dapat bergerak merayap maju mundur.Hal ini terjadi karena pergeseran antara
alaas dan arus plasma ekstraselular pada rafe.Bangsa pennales bukan
merupakan penyusun plankton, hidupnya melekat pada tumbuhan.
Perkembangbiakan

seksual

melalui

isogami.Dua

sel

vegetati

berdekatan, lalu mengeluarkan zat pektin dan lendir.Masing-masing


lendir.Masing
melakukan pembelahan reduksi dan terbentuklah 4 inti haploid. Tetapi dari
masing-masing
masing sel tadi tidak keluar 4 melainkan hanya 2 gamet, tiap gamet
memiliki 2 inti yang satu dapat
dapat melakukan perkawinan dan yang lainnya
terdegenerasi(Tjitrosoepomo, 1989: 51) .

183

Dari gamet tersebut tidak terbentuk sel telur dan spermatozoid


melainkan panser membuka dan salah satu gamet lalu masuk ke dalam sel
lainnya dan mengadakan perkawinan. Zigot yang terbentuk lalu membentuk
perizonium yang segera pecah dan keluarlah auksospora.Setelah auksospora
mencapai normal lalu membentuk panser selanjutnya dapat mengadakan
pembelahan seperti biasanya.

2. KELAS PHAEOPHYCEAE (GANGGANG PIRANG)


Phaeophyceae

adalah

ganggang

berwarna

pirang.

Dalam

kromatoforanya terkandung klorofil-a, karotin dan santofil, tetapi terutama


fikosantin yang menutupi warna lainnya dan menyebabkan ganggang itu
kelihatan berwarna pirang. Sebagai hasil asimilasi dan zat cadangan makanan
tidak pernah ditenukan tepung, tetapi sampai 50% dari berat keringnya terdiri
atas laminarin, sejenis zat tepung yang menyerupai dekstrin dan lebih dekat
dengan selulosa daripada tepung. Selain laminarin ditemukan juga zat
minyak, manit dan zat lainnya.
Dinding sel sebelah dalam terdiri dari selulosa, dan sebelah luar terdiri
atas zat yang menyerupai gelatin yaitu garam Ca dari asam alginat yang pada
laminaria merupakan sampai 20-60% berat keringnya.Sel-sel hanya
mempunyai satu inti.Pada phaeophyceae tingkat perkembangan yang dapat
bergerak menggunakan zoospora dan gamet, mempunyai dua bulu cambuk
yang heterokon dan terdapat di bagian samping badannya.Yang terbentuk
buah per skoci. Pada waktu bergerak bulu cambuk yang panjang dan
memiliki rambut-rambut pendek mengkilat menghadap ke muka, dan yang
pendek menghadap ke belakang(Tjitrosoepomo, 1989: 77).
Kebanyakan Phaeophyceae hidup di air lau dan hanya beberapa yang
hidup di air tawar.Di dalam air laut, talusnya bisa berkembang menjadi sangat
besarr dan amat bermacam-macam bentuknya. Ganggang ini merupakan
184

bentos yang menempel pada dasar samudra dan beberapa juga hidup epifit
pada talus tumbuhan lain.
a) KELAS PHAEOSPORALES
Bangsa ini merupakan penyusun terbesar ganggang pirang.Kebanyakan
memiliki perawakan seperti Cladhopora, tetapi ada pula yang memiliki talus
lebih tinggi tingkatannya.Perkembangbiakan pada kelas ini terjadi secara
aseksual melalui zoospora yakni terjadi karena pembelahan reduki dan secara
seksual melalui isogami(Tjitrosoepomo, 1989: 78).

b) KELAS LAMINARIALES
Bangsa laminariales yang masih sederhana memiliki hubungan tingkat
kekerabatan dengan kelas phaeosporaales.Warga yang lebih tinggi memiliki
memiliki sporofit dan terdeferensiasi morfologi dan anatomi yang lebih tinggi
serta mempunyai ukuran yang besar.Pada laminaria terdapat pergiliran
keturunan yang beraturan.Sporofit yang bersifat diploid berganti menjadi
jantan dan betina serta memperlihatkan tanda-tanda sekunder yang jelas.
Gametofit betina berasal dari zoospora yang memiliki sifat cabang lebih
banyak, terdiri atas banyak sel kecil-kecil, dan pada ujung anteridium yang
terdiri hanya oleh

satu sel, masing-masing mengeluarkan sua sel

spermatozoid yang memiliki dua bulu cambuk. Sementara gamet betina


terdiri atas sel yang besar-besar tumbuhnya lambat dan selnya tidak banyak,
185

serta dalam keadaan luar biasa terdiri atas satu sel

berbentuk pipa

panjang(Tjitrosoepomo, 1989: 79).

c) KELAS DICTYOTALES

Ganggang ini sporanya tidak memiliki bulu cambuk.Sporangium beruang satu


dan mengeluarkan 4 tetraspora.Perkembangbiakannya melalui oogami.
Anteridium berkotak-kotak dan oogonium terdapat pada tumbuhan yang lain.
Sporofit dan gametofit bergiliran fase hidupnya.Serta keduanya memiliki pita
menggarpu.Misalnya Dictyota dichotoma(Tjitrosoepomo, 1989: 80).

186

d) BANGSA FUCALES

Bersama dengan bangsa laminariales ganggang ini merupakan


penyusun utama vegetasi lautan.Pembiakan generatif dengan oogami dan
tidak mengalami pembiakan vegetatif. Antheridium berupa sel-sel berbentuk
jorong duduk rapat satu sama lain dan benang-benang pendek bercabang.
Tiap antheridium menghasilkan 64 spermatozoid.Fucales hanya terdiri atas
satu suku yaitu Fucaceae, meliputi antara lain Fucussrratus. Fucus yang
sudah berumur beberapa tahun mempunyai talus yang berbentuk pita yang
ditengah-tengahnya diperkuat oleh rusuk tengah, kaku seperti kulit,
bercabang-cabang menggarpu dan melekat pada batu(Tjitrosoepomo, 1989: 81).
Berikut merupakan fase perkembangbiakan bangsa fucales:

187

188

3. KELAS RODHOPHYTA (ALGA MERAH)


Rodhophyta berwarna merah sampai ungu kadang-kadang juga lembayung
atau pirang kemerah-merahan.Kromatofora berbentuk cakram atau suatu lembaran
mengandung klofofil a dan karotenoid, tetapi warna itu tertutup oleh zat warna
merah yang mengadakan flourensi yaitu fikoeritrin.Pada jenis-jenis tertentu
terdapat fikosianin(Tjitrosoepomo, 1989: 89).
Sebagai hasil asimilasi terdapat sejenis karbohidrat yang disebut tepung
floride, yang juga merupakan hasil polimerisasi glukosa, berbentuk bulat, tidak
larut dalam air, seringkali berlapis-lapis jika dibubuhi yodium berwarna
merah.Tepung ini sifatnya lebih dekat dengan glikogen, dan tidak terdapat dalam
kromatofora, melainkan pada permukaanya.Selain terdapat tepung floridae
terdapat pula floridosida (senyawa gliserin dan galaktosa) dan tetes-tetes
minyak.Perenoid

kadang

juga

terdapat.Selain

beberapa

pengecualian

rodhophyceae selalu besifat autotrof. Yang heterotrof tidak memiliki kromatofora


dan idup sebagai parasit pada ganggang lain. Dinding se terdiri atas dua lapis, yag
dalam

terdiri

atas

selulosa

yang

luar

terdiri

atas

pektin

yang

berlendir(Tjitrosoepomo, 1989: 89).


Kebanyakan rodhophycheae hidup dalam air laut, terutama pada lapisanlapisan air yang dalam, yang hanya dapat dicapai oleh gelombang cahaya
pendek.Hidup sebagai bentos melekat pada suatu substrat dengan benang-benang
pelekat atau cakram pelekat.Talus bermacam-macam bentuknya, namun pada
golongan yang sederhana pun telah bersifat heterotrik. Jaringan tubuh belum
bersifat sebagai parenkim, melainkan hanya plektenkim(Tjitrosoepomo, 1989: 90).
Perkembangbiakan dapat secara seksual yaitu dengan oogami dan secara
aseksual dengan pembentukan spora.Baik spora maupon gametnya tidak memiliki
bulu cambuk, jadi tidak dapat bergerak akif.

189

Rodhophycheae dibagi dala dua kelas yaitu bangiae dan florodae.


A. Anak kelas Bangiae
Talus berbentuk benang, cakram atau pia dengan tidak ada percabangan
yang beraturan.Pembiakan vegetatif dengan monospora yang belum dapat
memperlihatkan gerakan amoeboid.Pembiakan seksual dengan ogami.Oogonium
berua sel yang sedikit berbeda dengan se sel talus.Kadang kadang memiliki alat
tambahan seperti trikogin.Antereduim menghasilkan gamet jantan yang disebut
spermatium. Zigot dengan langsug membuat spora atau setelah pembeahan baru
membuat spora(Tjitrosoepomo, 1989: 90).
Dalam golongan ini termasuk suku bangiaceaeyang membawahi antara
lain ganggang tanah phorphyridium cruentum dan ganggang laut Bangia
antroprpurea.(Tjitrosoepomo, 1989: 90)

Bangia antroprpurea

Trikogin

190

B. Anak kelas Florideae


Talus ada yang masih sederhana tapi umumnya hampir selalu bercabang dengan
beraturan dan mempunyai Beranekaragam bentuk, seperti benang, lembaranlembaran.Percabangan menyirip atau menggarpu. Pembiakan seksual berlangsung
sebagai berikut:

Dari sel-se ujung cabang cabang talus, terbntuk dua anteredium yang
msing-masing terdiri atas satu sel saja da berasa dari penonjolan satu sel
ujung.

Tiap anteredium menghasilkan gamet jantan yang oleh karena tidak dapat
bergerak tidak dinamakan spermaozoid melainkan spermatium.

Gamet betina dinamakan karpogonium, karpogonium terdapat pada ujung


cabang-cabang lain dari cabag talus yang mempunyai anteredium. Suatu
karpogonium terdiri atas sel-sel panjang yang bagian bawahnya membesar
seperti botol, bagian atasya berbentuk ganda atau benang disebut trikogin
inti telur terdapat pada bagian bawan=h yang membesar tadi. Spermatium
secara pasif (dengan bantuan air) akhirnya samai ke trikogin, dan melekat
pada trikogin.

191

Setelah dinding pelekat larut seluruh protoplas spermatium masuk


kedalam karpogonium.

Setelah

terjadi

pembuahanbagian

bawah

karpogonium

lali

membuatsumbat dan dengan sumbat tersebut menjadi terpisah dari


trikogin

Zigot tidak mengalami fase isirahat melainkan dari bidang sampingnya


membentuk benang sporogen.

Dalam sel-sel ujung benang itu terbentuk satu spora, masig masing dengan
satu inti dan satu pastidadan dinamakan karpospora.

Karpospora akhirnya keluar dari selsel terminal benang sporogen sebagai


protoplas telanjang dan tidak memiliki bulu cambuk.

Korpospora berkecambah manjadi protalium yang akhirnya tumbuh


menjadi individu baru dengan alat-alat generatif

Mengingat bahwa spora tidak dapat bergerak sehingga pembuahan sedikit,


maka untuk menutupi kekurangan itu dibentuklah banyak spora.
(Tjitrosoepomo, 1989: 90-91)

Jadi disini kita juga melihat adanya pergiliran keturunan, tetapi gametofit
dan

sporofit

yang

disini

berupa

benang

benang

sporogen

tidak

terpisah,sporofit yang berupa benang dan hanya terdiri atas beberapa sel itu
hidup sebagai parasit pada gametfitnya.
Peristiwa

seperti

diuraikan

diatas

terdapat

antara

lain

pada

batracospernum monoliforme. Pembelaha reduksi terjadi pada zigot jadi


antara gametofit dan sporofit bersifat haploid dan hanya zigot saja yang
merupakan fase diploid.
Pada warga floridae lainya terdapat pergiliran antara 3 keturunan dalam
daur hidupnya yaitu
1. Gametofit yang haploid memiliki anteredium dan karpogonium
2. Karposporofit, mengeluarkan karpospora diploid yang kemudian tumbuh
menjadi
3. Tetrasporofit, yang habitusnya menyerupai gametofit (keturunan pertama),
tetapi tidak memiliki alat alat seksual, melainkan memiliki sporangium
192

yang masing-masing
masing mengeluarkan 4 spora (tetraspora). Baru setelah
terjadi pembelahan tetra spora terjadi pembelahan reduksi. Jadi tetraspora
adalah haploid, dan kemudian tumbuh menjadi
menjadi gameofit yang haploid
juga. Daur hidup yang memperlihatkan 3 keturunan itu antara llain
terdapat pada Callithamnion corymbosum.
Gametofit dan tetrasporofit dapat isomorf, tetapi ada pula yang tidak misalnya
bonemaissoniahamifera.
Sporofit yang hidu sebagai tumbuhan asing mempunyai bentuk yang sering
dianggap sebagai tumbuhan asing yang benar-benar
benar benar hidup sebagai arasit dan
diberinama yang lain pula.
Floridae dibagi daam sejumlah bangsa diantaranya yaitu:
1. Bangsa Nemalionales
Didalamnya
idalamnya termasuk suku Helminthocladiaceae yang antara lain
mencakup Batrachosperum moniliforme
moniliforme, Bonnemaisonia hamifera
hamifera.

Galaxaura fastigiata
(Tjitrosoepomo, 1989: 93
93)

193

2. Bangsa gelidiales
Didalamnya termasuk suku gelidiaceae, misalnya Gelidium
cartilagenum dan Gelidium lichenoides,, terkenal sebagai penghasil agar
agaragar.

Gelidium
(Tjitrosoepomo, 1989: 93
93)

3. Bangsa Gigartineles
Kebanyakan terdiri dari ganggang laut. Yang penting ialah suku
Gigarlinaceae dengan dua warganya yang menghasilkan baha yang
berguna, ialah Chondrus crispus dan Gigartina mamilosa,, penghasil
karagen atau lumt islandia yang berguna sebagai obat(Tjitrosoepom
(Tjitrosoepomo,
1989:93)selain itu juga Hypnea musciformis, Hypnea spinella

Hypnea musciformis

Hypnea spinella

4. Bangsa Nemastomales

194

Dari
ari bangsa ini perlu disebut suku Rhodophyllidaceae yang salah
satu warganya terkenal sebagai penghasil agar-agar
a
agar yaitu Euchema
spinosum.
5. Bangsa Ceramiales

Pertumbuhan
ertumbuhan yang cepat dan toleransi yang tinggi terhadap variasi
suhuThallus
Thallus : tegak, lebat . Ukuran : 2-5cm.
2 5cm. Percabangan : dikotomis
dikotomis,
Warna spesimen hidup dari merah muda hingga putih . Warna spesimen
kering dari putih ke kuning .Contoh:
.
Polysiphonia havanensis

Polysiphonia

Suku

Sphaerococcaceae,

juga

mempunyai

anggota-anggota
anggota anggota

yang

merupakan penghasil agar-agar


agar agar pula. Diantaranya Graciaria lichenoides dan
berbagai jenis yang termasuk marga spaerococ
spaerococusbangsa
usbangsa ini termasuk antara ain
suku Ceramiaceae didalamnya. Contoh ganggang yag tergolong suku ini ialah
Callithamonim corymbosum.
Tempat rodhophyceae dalam sejarah filogenetik tumbuhan masih
merupakan suatu perrtanyaan.Ada yang mencari nenek
ne ek moyang Rodh
Rodhophyceae
pada Clorophyceae mengingat adanya trikogin pada karpogonium yang
mengigatkan oogonium dalam sel-sel
sel sel tumbuhan Coleochaete, megingat tidak
adanya florofil b pada Rodhophyceae, pendapat itu sukar diterima.Ada yang
mencari hubungan kekerabatan dengan Cyanophyceae dan menganggap

195

protofloridae sebagai jembatan nya.Bagaimanapun juga sekarang belum dapat


pemecahan soal ini dengan memuaskan.

196

KESIMPULAN
1. Diatome memiliki ciri utama bentuk selnya yang dapat dikembaikan
kepada bentuk pokok yaitu berbentik bilateral dan sentrik.
Phaeophyceae memiliki ciri utama memiliki pigmen utama fikosantin
yang menutupi warna lainnya dan menyebabkan ganggang itu kelihatan
berwarna pirang.
Rodhophyceae memiliki ciri utama memiliki pigmen utama fikoertin yang
mengadakan flourensi sehingga menimbulkan warna utama merah.
2. Perkembang biakan

Perkembangbiakan diatome dengan membelahauksospora dan


oogami.

Perkembang biakan rodhophyceae


Perkembangbiakkan vegetatif dengan aplanospora (spora tak
bergerak), dan dengan fragmentasi thallus.Sedangkan perkembangan
generatifnya dengan pembuahan sel telur di dalam korpogonium oleh
spermatium.

Perkembagbiakan Phaeophyceae aseksual dengan zoospore dan


seksual dengan isogamy.

197

DAFTAR PUSTAKA

Tjitrosoepomo, Gembong. 1989. Taksonomi Tumbuhan Rendah. Yogyakarta:


UGM Press
Eni Nuraeni. 2013. Panduan Praktikum Rhodophyta Mata Kuliah Botany
Cryptogama. Bandung: diunduh dari:
http://file.upi.edu/Direktori/FPMIPA/JUR._PEND._BIOLOGI/197606052
001122-ENI_NURAENI/BAHAN_AJAR/RHODOPHYTA.pdf pada
tanggal 3 April 2015 pukul19.00 WIB.

198

Lumut (Bryophyta)
(Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Keanekaragaman Tumbuhan)

Dosen Pengampu: Sudarsono, M.Si.

Disusun oleh:
1. Dhias Kartika Ningrum

14304241024

2. Ade Sukarman

14304241025

Kelompok 11/ Pendidikan Biologi A 2014

JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2015
BAB I

199

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Makhluk hidup mengalami perkembangan dari yang memiliki
struktur tubuh sederhana hingga memiliki struktur yang kompleks seperti
sekarang ini. Makhluk-makhluk hidup yang memiliki struktur sederhana
ini masuk kedalam golongan cormophyta dan atau tallus. Cormophyta
merupakan golongan tumbuhan yang memiliki alat perkembangbiakan
tersembunyi dan tallus merupakan golongan tumbuhan yang belum
mempunyai akar, batang dan daun sejati. Sedangkan golongan tumbuhan
tinggi seperti golongan Gymnospermae dan Angiospermae memiliki
karakteristik

phanerogamae

dan

cormus,

yaitu

memiliki

alat

perkembangbiakan yang terlihat jelas dan memiliki akar batang dan daun
sejati.
Lumut merupakan tumbuhan tidak berpembuluh yang tidak
mempunyai batang, daun dan akar sejati (tallus). Perbedaan mendasar
antara ganggang dengan lumut dan tumbuhan berpembuluh telah
beradaptasi dengan lingkungan darat yang kering dengan mempunyai
organ reproduksi (gametangium dan sporangium), selalu terdiri dari
banyak sel (multiselluler) dan dilindungi oleh lapisan sel-sel mandul,
zigotnya berkembang menjadi embrio dan tetap tinggal di dalam
gametangium betina. Oleh karena itu lumut dan tumbuhan berpembuluh
pada umumnya merupakan tumbuhan darat tidak seperti ganggang yang
kebanyakan aquatik (Tjitrosoepomo, 2011).
Lumut masuk kedalam golongan tumbuhan perintis, sebagai agen
suksesi hutan maupun erupsi gunung. Kebanyakan lumut hidup di tempat
lembab/ berair, sehingga memudahkan perpindahan spermatozoid dari
anteridium ke ovum di arkegonium, walau demikian lumut dapat juga
hidup di daerah kering, batuan, maupun epitif pada batang pohon, dinding,
dll yang sesuai dengan habitat hidupnya. Pada pembahasan kali ini penulis
200

akan mengulas tentang keanekaragaman pada makhluk hidup yaitu divisi


Bryophyta yang memiliki 3 jenis yang berbeda yaitu lumut daun, lumut
hatidan lumut tanduk.

B. Rumusan Masalah
1. Apa sajakah keanekaragaman pada tumbuhan lumut?
2. Apa sajakah jenis-jenis lumut?
3. Bagaimanakah daur hidup tumbuhan lumut?
4. Apakah manfaat lmut bagi kehidupan?

C. Tujuan
1. Mengetahui keanekaragaman tumbuhan lumut
2. Mengetahui jenis-jenis lumut
3. Mengetahui daur hidup tumbuhan lumut
4. Mengetahui peran dan manfaat lumut bagi kehidupan
D. Manfaat
1. Bagi Penulis
a) Mengetahui keaekaragaman yang ada pada tumbuhan lumut
b) Mengetahui jenis lumut dan dapat mendeskripsikan daur hidup
lumut
c) Mengetahui peran dan manfaat lumut bagi kehidupan manusia
d) Sebagai acuan bagi penelitian selanjutnya
2. Bagi masyarakat
a) Mengetahui keanekaragaman pada tumbuhan lumut
b) Mengetahui manfaat lumut bagi kehidupan dan dapa
memaksimalkan fungsinya.

BAB II
201

KAJIAN PUSTAKA

A. Karakteristik Lumut
Para ahli taksonomi membagi dunia tumbuhan menjadi dua
golongan

yaitu

Cryptogamae

dan

Phanerogamae.

Phanerogamae

(tumbuhan biji) yang alat perkawinannya tampak. Cryptogamae (cryptos :


tersembunyi, gamos : kawin) meliputi Scizhophyta, Tallophyta, Bryophyta
dan Pterydophyta (Tjitrosoepomo, 2011 : 219).
Bryophyte, berasal dari bahasa yunani yang berarti tumbuhan
lumut , pada umumnya lumut berwarna hijau, karena mempunyai sel sel
dengan plastid yang menghasilkan klorofil a dan b, dengan demikian
lumut bersifat autotrof. Tubuh lumut dapat dibedakan antara sporofit dan
gametofitnya.
Ciri-ciri :
1. Sel sel penyusun tubuhnya telah memiliki dinding sel yang terdiri
dari selulosa.
2. Pada semua tumbuhan yang tergolong lumut terdapat persamaan
bentuk

susunan

arkegonium)

gametangiumnya

terutama

susunan

(anteredium

arkegoniumnya,

maupun
mempunyai

susunan yang khas yang sering kita jumpai pada tumbuhan paku
(pteridophyta).
3. Batang dan daun pada tumbuhan lumut yang tegak memiliki
susunan yang berbeda beda, jika batangnya dilihat secara
melintang tampak bagian bagian sebagai berikut: Selapis sel
kulit, beberapa sel diantaranya memanjang membentuk rizoid
rizoid epidermis, Lapisan kulit dalam yang tersusun atas beberapa
lapisan sel dinamakan korteks, Silinder pusat terdiri dari sel sel
parenkimatik yang memanjang dan berguna untuk mengangkut air

202

dan garam garam mineral (makanan). Jadi pada tumbuhan lumut


belum terdapat floem maupun xylem.
4. Daun lumut umumnya setebal satu lapis sel, kecuali ibu tulang
daun, lebih dari satu lapis sel. Selse l daun kecil , sempit panjang
dan mengandung kloroplas yang tersusun seperti jala.
5. Pada tumbuhan lumut hanya terdapat pertumbuhan memanjang dan
tidak ada pertumbuhan membesar.
6. Rizoid tampak seperti rambut / benang benang , berfungsi
sebagai akar untuk melekat pada tempat tumbuhnya dan menyerap
air serta garam garam mineral (makanan).
7. Bagian sporofit lumut terdiri atas :
a. Vaginula , kaki yang diselubungi sisa dinding arkegonium.
b. Seta atau tangki
c. Apofisis, yaitu ujung seta yang agak melebar yang
merupakan peralihan antara seta dan kotak spora
d. Kaliptra atau tudung berasal dari dinding arkegonium
sebelah atas menjadi tudung kotak spora.
e. Kolumela, jaringan yang tidak ikut mengambil bagian
dalam pembentukan spora.
Tumbuhan ini hidup subur pada lingkungan yang lembab dan
banyak sekali dijumpai, khususnya di hutan-hutan tropik dan di tanah
hutan daerah iklim sedang yang lembab. Meskipun menyukai habitat
yang lembab, bryophyta merupakan tumbuhan darat, dan yang tumbuh di
air tawar hanya merupakan adaptasi sekunder terhadap kehidupan air.
Sifat ini tercermin dari kenyataan bahwa bryophyta air tetap
mempertahankan sifat yang khas bagi tumbuhan darat, antara lain
sporanya mengandung kutin dan dipencarkan oleh angin (Loveless, 1983:
57). Ditinjau dari habitatnya sendiri lumut dapat dihidup di tanah, batuan,
maupun epifit pada dahan pohon.
Lumut hati dan lumut sejati hidup di tanah, pada pasir lembab,
bebatuan, dan pada batang pohon serta cabang-cabangnya baik yang
203

tegak maupun yang melepa. Juga mereka itu, tumbuh dalam air dan
diantara tumbuhan lain-lain di lapangan, padang rumput dan rawa.
Beberapa spesies tumbuh subur diberbagai habitat, yang lain-lain terbatas
pada lingkungan yang khusus. Umpamanya, lumut sejati tertentu
meminta macam tanah khusus sehingga terbatas pada tanah asam saja
atau basa saja (Satiyem, 2012).
Pada umumnya, lumut sejati lebih toleran pada tempat
terlindung daripada tumbuhan tingkat yang lebih tinggi, dan hal ini
menerangkan

kemampuanya

menyerbu

lapangan

rumput

dan

menggantikan rumputnya ditempat-tempat yang teduh. Lumut hati


meliputi banyak bentuk xerofit, juga mesofit dan hidrofit. Bryophyta juga
dapat menyesuaikan diri pada suhu yang sangat ekstrim, karena mereka
berkisar antara yang hidup didaerah arktik sampai kepada yang ditropik,
dan tumbuh disekitar air panas. Perkembangannya yang paling subur
ialah dihutan-hutan basah dan sejuk (Satiyem, 2012).
Dalam proses hidupnya tumbuhan lumut dipengaruhi oleh faktor
lingkungan dan edafik. Faktor lingkungan yang mempengaruhi
diantaranya adalah : temperatur, kelembaban udara, dan intensitas
cahaya. Sedangkan faktor edafik, yaitu meliputi : kelembapan tanah, pH
tanah dan suhu tanah.

B. Jenis-Jenis Lumut
1. Lumut Daun
Klasifikasi
Regnum

: Plantae

Division

: Bryophyta

Kelas

: Bryopsida

Ordo

: Bryopceales

Family

: Bryopceae

Genus

: Bryopsida

Spesies

: Bryopsida sp
204

Lumut daun (Bryopsida) juga disebut lumut sejati. Bentuk


tubuhnya berupa tumbuhan kecil dengan bagian seperti akar (rizoid),
batang dan daun. Reproduksi vegetatif dengan membentuk kuncup pada
cabang-cabang batang. Kuncup akan membentuk lumut baru.
Lumut daun banyak terdapat ditempat tempat yang lembab,
mempunyai struktur seperti akar yang disebut rizoid dan struktur seperti
daun. Lumut daun dapat tumbuh diatas tanah-tanah gundul yang
periodic mengalami masa kekeringan, bahkan diatas pasir yang
bergerakpun dapat tumbuh. Selanjutnya lumut-lumut ini dapat juga kita
jumpai diantara rumput-rumput, diatas batu-batu cadas, pada batang
pohon dan cabang-cabang pohon, dirawa-rawa, tetapi jarang didalam
air.
Tumbuhan ini tersusun dari sumbu (batang), daun, dan rizoid
multiseluler. Daun tersusun dalam 3 sampai 8 baris. Daun mempunyai
rusuk (simetri radial). Sumbu batang pada lumut daun biasanya
menunjukkan diferensiasi menjadi epidermis korteks, dan silinder
pusat. Alat-alat kelamin terkumpul pada ujung batang atau pada ujung
cabang-cabangnya, dan dikelilingi oleh daun-daun yang letaknya paling
atas. Daun-daun itu kadang-kadang mempunyai bentuk dan susunan
yang khusus seperti pada jungermaniales juga dinamakan periantum.
Struktur tubuh lumut daun :

205

2. Lumut Hati
Tubuhnya terbagi menjadi dua lobus sehingga tampak seperti
lobus pada hati. Siklus hidup lumut ini mirip dengan lumut daun. Di
dalam spongaria terdapat sel yang berbentuk gulungan disebut alatera.
Elatera akan terlepas saat kapsul terbuka, sehingga membantu
memencarkan spora. Lumut ini juga dapat melakukan reproduksi
dengan cara aseksual dengan sel yang disebut gemma, yang
merupakan struktur seperti mangkok dipermukaan gametofit. Contoh
lumut hati adalah Marchantia polymorpha dan Porella.
Tumbuhan ini merupakan suatu kelas kecil yang biasanya
terdiri atas tumbuhan berukuran relatif kecil yang dapat melakukan
fotosintesis, meskipun selalu bersifat multiseluler dan tampak dengan
mata bugil. Lumut hati banyak ditemukan menempel di bebatuan,
tanah, atau dinding tua yang lembab. Bentuk tubuhnya berupa
lembaran mirip bentuk hati dan banyak lekukan. Tubuhnya memiliki
struktur yang menyerupai akar, batang dan daun. Hal ini menyebabkan
banyak yang menganggap kelompok lumut hati merupakan kelompok
peralihan dari tumbuhan Thalophyta menuju Cormophyta. Seperti
halnya lumut daun, lumut hati mempunyai rizoid yang yang berfungsi
untuk menempel dan menyerap zat-zat makanan (Satiyem, 2012).
Tubuhnya terbagi menjadi dua lobus sehingga tampak seperti
lobus pada hati. Berkembangbiak secara generatif dengan oogami, dan
secara vegetatif dengan fragmentasi, tunas, dan kuncup eram. Lumut
hati melekat pada substrat dengan rizoid uniseluler (Hasan dan
Ariyanti, 2004).
Lumut hati hidup pada tempat-tempat yang basah, untuk
struktur tubuh yang himogrof. Pada tempat-tempat yang kering, untuk
struktur tubuh yang xeromorf (alat penyimpan air). Lumut hati yang
hidup sebagai epifit umumnya menempel pada daun-daun pepohonan
dalam rimba di daerah tropika.

206

Struktur tubuuh lumut hati :

3. Lumut Tanduk
Klasifikasi
Divisi

: Anthocerotophyta

Kelas

: Anthocerotopsida

Bangsa

: Anthocerotales

Suku

: Anthocerotaceae

Marga

: Anthoceros

Jenis

: Anthoceros laevis
Nama lumut tanduk mengacu pada bentuk sporofit yang

panjang dan meruncing.


meruncing. Sporofit biasanya dapat tumbuh setinggi 5 cm.
Tidak seperti lumut daun, sporofit lumut tanduk tidak memiliki seta
dan hanya terdiri dari sporangium. Sporangium melepaskan spora
matang ketika pecah terbuka, dimulai dari ujung tanduk. Gametofit,
yang biasanya
asanya berdiameter 1-2
1 2 cm, biasanya tumbuh secara horizontal
dan seringkali dilekati oleh sporofil majemuk (Campbell&Reece, 2008 :
174).
Gametofit memiliki talus berbentuk cakram

dengan tepi

bertoreh, biasannya melekat pada tanah dengan perantara rizoid.


Susunan talusnya masih sederhana . Sel
Sel-selnya
selnya memiliki satu pirenoid
yang besr dan satu kloroplas. Stoma hampir selalu terisi dengan lendir.

207

Sel-sel penyusun kaki sporogonium berbentuk seperti rizoid, melekat


pada talusnya gametofitnya. Kaki itu befungsi sebagai haustorium (alat
penghisap). Sepanjang poros bujur sporogonium terdapat sel ringan
yang terdiri dari sederet sel mandul yang dinamakan kolumela.
Kolumela diselubungi jaringan yang kemudian akan menghasilkan
spora yang disebut arkeospora. Arkeospora juga menghasilkan sel
mandul yang dinamakan elatera (Tjitrosoepomo, 2011: 187-188).
Struktur elatera memanjang ke seluruh bagian kapsul. Di sebelah luar
kapsul terdapat sel-sel epidermis (dinding kapsul), dan umumnya
terdapat stomata. Sporofit tidak bertangkai dan mempunyai bentuk
seperti tanduk, inilah yang membedakannya dengan sporofit kelas
hepaticopsida.
Di sebelah luar kapsul terdapat sel-sel epidermis (dinding
kapsul), dan umumnya terdapat stomata. Sporofit tidak bertangkai dan
mempunyai bentuk seperti tanduk, inilah yang membedakannya dengan
sporofit kelas hepaticopsida. Secara aseksual, dengan pembentukan
spora, fragmentasi , pembentukan kuncup (gemma), pembentukan umbi
(tuber), penebalan ujung (tepi) talus yang meupakan suatu cara untuk
mempertahankan diri terhadap kekeringan, peristiwa apospori.

Bagian-bagian Lumut Tanduk :

Sporofit
Sporofit yang
sudah pecah

Gametofit

208

C. Daur Hidup Lumut Daun

Lumut mengalami siklus hidup diplobiontik dengan pergantian


generasi heteromorfik. Kelompok tumbuhan ini menunjukkan pergiliran
generasi gametofit dan sporofit yang secara morfologi berbeda. Generasi
yang dominan adalah gametofit, sementara sporofitnya secara permanen
melekat dan tergantung pada gametofit. Generasi sporofit selama hidupnya
mendapat makanan dari gametofit (Mishler et al., 2003).
Lumut adalah organisme yang mengalami pergiliran keturunan
atau yang kita kenal sebagai metagenesis. Daur hidup lumut adalah sebagai
berikut : Reproduksi secara seksual bryopsida adalah dengan cara penyatuan
gamet betina yang dihasilkan arkegonia berupa sel telur dan gamet jantan
yang dihasilkan oleh antheridia berupa sperma. Sperma bergerak menuju sel
telur di arkegonia dengan perantara air. Pertemuan sel telur dengan sperma ini
menyebabkan terjadinya fertilisasi yang menghasilkan zigot. Kemudian zigot
membelah secara mitosis menjadi protonema. Protonema tersebut terus
berkembang menjadi sporofit yang diploid (2n). Reproduksi yang terjadi
209

secara aseksual dan seksual ini akan terjadi pergiliran keturunan


(metagenesis) antara fase sporofit yang diploid (2n) dan fase gametofit yang
haploid (n) (Rikky Firmansyah dkk: 2007).
Bryopsida mengalami dua fase dalam siklus hidupnya, yaitu fase
gametofit dan fase sporofit. Fase gametofit adalah lumut yang menghasilkan
gamet dan biasa kita lihat sehari-hari. Fase sporofit merupakan lumut yang
berada dalam keadaan yang menghasilkan spora (Rikky Firmansyah dkk:
2007).
Dalam

siklus

hidupnya,

fase

gametofit

lebih

dominan

dibandingkan fase sporofitnya. Gametofit maupun sporofit lumut daun sudah


mempunyai bagian-bagian yang lebih kompleks. Gametofit dari lumut daun
umumnya dibedakan dalam 2 tingkatan yaitu protonema yang terdiri dari
benang bercabang-cabang, dan gametafora yang berbatang dan berdaun.
Sporogonium dari lumut daun terdiri atas bagian kaki, seta dan kapsul.
Selanjutnya bagian kapsul mempunyai bagian-bagian yang dinamakan
apofise, kotak spora atau teka, dan tutup atau operculum.
Bryopsida bereproduksi secara aseksual dan seksual. Reproduksi
secara aseksual terjadi melalui pembentukan spora. Spora ini dihasilkan dari
sporangium (kotak spora) melalui pembelahan meiosis. Spora yang dihasilkan
adalah spora haploid (n). Spora ini kemudian akan tumbuh menjadi
protonema (Rikky Firmansyah dkk:2007).

D. Peran dan Manfaat Lumut


1. Peran
a. Memiliki peran dalam ekosistem sebagai penyedia oksigen,
penyimpan air (karena sifat selnya yang menyerupai spons).
b. Bisa digunakan sebagai ornament tata ruang.
c. Sebagai tumbuhan perintis
d. Memperlambat terjadinya erosi
e. Penyimpan air (karena sifat selnya yang menyerupai spons), dan
sebagai penyerap polutan.
210

2. Manfaat
Tumbuhan lumut tidak berperan langsung dalam kehidupan
manusia , tetapi ada spesies tertentu yang dimanfaatkan oleh penduduk
untuk mengobati hepatitis, yaitu Marchantia polymorpha. Selain itu
jenis jenis lumut gambut dari genus Sphagnum dapat digunakan
sebagai pembalut atau pengganti kapas dan sebagai bahan bakar. Lumut
daun dipercaya bisa digunakan sebagai bahan obat, meski masih
diperlukan penelitian lebih lanjut, termasuk uji klinis. Secara tradisional
lumut dari marga Usnea dipakai untuk obat diare atau sakit perut
dengan cara direbus.. Sementara dari marga lumut spagnum dikenal
sebagai obat penyakit kulit dan mata.

211

BAB III
METODOLOGI
Metode yang digunakan merupkan metode telaah pustaka dan
presentasi. Metode telaah pustaka merupakan metode penulisan dengan
menggunakan objek kajian penelitian yang berfokus pada pustaka-pustaka.
Pustaka tersebut dapat berupa media cetak maupun elektronik yang valid
berupa artikel, jurnal, buku dan lain-lain yang berhubungan satu sama lain,
relevan dengan

permasalahan kajian tulisan serta mendukung uraian atau

analisis pembahasan. Telaah pustaka ini digunakan untuk menemukan teoriteori yang sesuai dengan kajian permasalahan, yaitu keanekaragaman
tumbuhan lumut. Kajian kepustakaan ini selanjutnya digunakan untuk
mendukung pembuatan makalah. Setelah melakukan telaah pustaka penulis
menggunakan metode presentasi didepan kelas, metode presentasi ini juga
didukung dengan tanya jawab antara presentator dan audience / peserta,
dilanjutkan dengan diskusi antara presentator dan audience tentang pertanyaan
yang telah diajukan serta pembahasan dengan dosen mengenai pertanyaan yang
diajukan dan kasus-kasus yang ada.
Pengkajian

Perumusan

Telaah pustaka

Makalah

Presentasi

Tanya jawab

Diskusi

Pembahasan dengan
dosen

212

BAB IV
KESIMPULAN

Kesimpulan yang diperoleh dari ulasan diatas adalah sebagai berikut :


1. Keanekaragaman pada tumbuhan lumut dapat dilihat dari habitatnya yaitu
di daerah lembab (higrofit), kering (xerofit), bebatuan (litofit) dan epifit.
2. Jenis-jenis lumut yaitu, lumut daun/lumut sejati, lumut hati dan lumut
tanduk.
3. Daur hidup lumut mengalami metagenesis, yaitu pergiliran keturunan fase
sporofit dan gametofit.
4. Lumut berperan dalam penyedia oksigen pada ekosistem, ornament tata
ruang, tumbuhan perintis, Penyimpan air (karena sifat selnya yang
menyerupai spons), sebagai penyerap polutan dan mengurangi erosi.
Sedangkan manfaatnya yaitu : sebagai obat hepatitis dari jenis Marchantia
polymorpha, Spaghnum sebagai obat penyakit kulit dan mata, sebagai
pengganti kapas bahan bakar.

213

DAFTAR PUSTAKA
Campbell, Neil A dan Jane Recee. 2008. Biologi Jilid 2. Jakarta : Erlangga.
Firmansyah, Rikky dkk. 2007. Mudah dan Aktif Belajar Biologi. Jakarta
Satiyem. 2012. Keanekaragaman Tumbuhan Lumut (Bryophyta) Pada Berbagai
Ketinggian Hubungannya Dengan Kondisi Lingkungan Di Wilayah Lereng
Selatan Merapi Pasca Erupsi. Yogyakarta : FMIPA Universitas Negeri
Yogyakarta.
Sudarsono, dkk. 2005. Taksonomi Tumbuhan Tinggi. Malang : Universitas Negeri
Malang.
Tjitrosoepomo, Gembong. 2011. Taksonomi Tumbuhan (Schizophyta,
Thallophyta, Bryophyta, Pterydhophyta). Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press.

214

LAMPIRAN
Lumut Hati

Gametofit

Gemma lumut hati

Lumut Daun
Polytricum commune

Spaghnum

Lumut Tanduk

215

Paku (Pterydophyta)
(Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Keanekaragaman Tumbuhan)

Dosen Pengampu: Sudarsono, M.Si.

Disusun oleh:
1. Oni Nur Rasjiatmi

14304241026

2. Yenni Rizqi Rahmawati K.E

14304241027

Kelompok 12/ Pendidikan Biologi A 2014

JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2015

216

KEANEKARAGAMAN TUMBUHAN PAKU


(PTERIDOPHYTA)

A. PENGERTIAN
Tumbuhan paku dalam dunia tumbuh-tumbuhan termasuk golongan besar
atau Divisi Pteridophyta (pteris = bulu burung; phyta = tumbuhan), yang
diterjemahkan secara bebas berarti tumbuhan yang berdaun seperti bulu burung.
Tumbuhan paku merupakan tumbuhan peralihan antara tumbuhan bertalus dengan
tumbuhan berkormus, sebab paku mempunyai campuran sifat dan bentuk antara
lumut dengan tumbuhan tingkat tinggi (Raven et al., 1992).
Menurut Rismunandar dan Ekowati (1991), Pteridophyta disebut juga dengan
nama Tracheopyta yang berarti tumbuhan yang berjaringan pembuluh. Jaringan
pembuluh ini terdiri atas pembuluh kayu (xylem) dan pembuluh tapis (floem).

B. CIRI-CIRI UMUM
1. Sudah dapat dibedakan akar, batang, dan daunnya.
2. Daun muda menggulung
3. Sudah memiliki berkas pembuluh (xylem dan floem).
4. Alat reproduksi aseksual berupa spora
5. Mengalami metagenesis (fase sporofit lebih dominan daripada fase
gametofit)

C. STRUKTUR TUBUH
1. Akar
Akar berupa akar serabut (pada generasi sporofit), pada generasi gametofit
berupa Rhizoid, ujungnya dilindungi kaliptra yang terdiri atas sel sel yang
dapat dibedakan dengan sel sel akarnya sendiri.
2. Batang
Batang tumbuhan paku sebagian besar berupa rimpang (rizom). Jika
muncul di atas permukaan tanah, batangnya sangat pendek sekitar 0,5 m.
217

Akan tetapi ada batang beberapa jenis tumbuhan paku seperti paku
pohon/paku tiang yang panjangnya mencapai 5 m dan kadang kadang
bercabang misalnya: paku tiang
3. Daun
Daun selalu melingkar dan menggulung pada usia muda. Daun paku
tumbuh dari tangkai daun (frond) sedangkan keseluruhan daun dalam satu
tangkai daun disebut pinna. Spora disimpan dalam sporangium (jamak:
sporangia) yang biasanya tumbuh mengelompok di permukaan bawah daun
berwarna coklat atau hitam. Tiap kelompok sporangia disebut sorus
(jamak:sori).

Pada

waktu

muda,

sori

dilindungi

oleh

indusium.

(Tjitrosomo.1983:115).

D. MACAM DAUN TUMBUHAN PAKU


Berdasarkan bentuk ukuran dan susunannya, daun paku dibedakan antara
epidermis, daging daun, dan tulang daun.
1. Macam daun tumbuhan paku berdasarkan ukurannya (dalam satu
tumbuhan)
a. Mikrofil
Daun ini berbentuk kecil kecil seperti rambut atau sisik, tidak
bertangkai dan tidak bertulang daun, belum memperlihatkan diferensiasi
sel, dan tidak dapat dibedakan antara epidermis, daging daun dan tulang
daun. Umumnya berupa sisik. Misal: Lycopodium, Asplenium
218

b. Makrofil
Merupakan daun yang bentuknya besar, bertangkai dan bertulang
daun, serta bercabang cabang. Sel sel penyusunnya telah
memperlihatkan diferensiasi, yaitu dapat dibedakan antara jaringan tiang,
jaringan bunga karang, tulang daun, serta stomata (mulut daun). Misal :
Asplenium, Lycopodium
Mikrofil

Makrofil

2. Macam daun tumbuhan paku ditinjau dari fungsinya


a. Tropofil. Merupakan daun yang khusus untuk fotosintesis (daun steril)
b. Sporofil. Daun ini berfungsi untuk menghasilkan spora (daun fertil) .
Tetapi daun ini juga dapat melakukan fotosintesis, sehingga disebut pula
sebagai troposporofil.
Keadaan dengan kedua macam daun tersebut dibentuk pada satu macam
tanaman dikenal dengan istilah dimorfisme (Tjitrosomo. 1983: 115).

E. HABITAT
Pada umumnya tumbuhan paku merupakan tumbuhan darat. Banyak
diantara mereka hidup sebagai epifit. Umumnya tumbuhan paku mudah
ditemukan di tempat-tempat lembab dan agak terlindung, walaupun tumbuhan ini
dapat ditemukan di daerah yang lebih luas misalnya di lingkungan air tawar,
pasang surut, atau lingkungan xerofitik (Ali Moertolo,dkk. 1999: 64).

F. PERKEMBANGBIAKAN

219

1. Generasi Aseksual. Tumbuhan paku dikenal sebagai sporofit yang berupa


tumbuhan paku dan dapat dibedakan antara daun, akar, dan batang.
Generasi aseksual ini disebut juga generasi diploid.
2. Generasi Seksual . Tumbuhan paku tergolong gametofit yang berasal dari
sporofit, sehingga gametofit ini bersifat haploid. Gametofit ini akan
membentuk gamet jantan (anterozoid) dan gamet betina (sel telur).
Generasi seksual ini disebut generasi haploid. (Eni Nuraeni. 2015.
http://file.upi.edu/Direktori/FPMIPA/JUR._PEND._BIOLOGI/197606052
001122-ENI_NURAENI/BAHAN_AJAR/PTERIDOPHYTA.pdf)

G. METAGENESIS TUMBUHAN PAKU

220

Spora (n)

Protalium (n) / protalus

Anteridium (n)

Arkegonium (n)
Ovum(n)

Spermatozoid (n)

Zygot (2n)

Tumbuhan paku (2n)

Sporangium

Sel induk spora


Fase gametofit:
1. Berupa protalium berupa lembaran berbentuk hati, memiliki rizoid pada
bagian bawahnya, serta memiliki klorofil untuk fotosintesis
2. Sebagai penghasil gamet: arkegonium (penghasil ovum) dan anteredium
(penghasil spermatozoid) (Perkembangbiakan generatif)
3. Berukuran beberapa milimeter
4. Protalium hidup bebas tanpa bergantung pada sporofit untuk kebutuhan
nutrisinya

221

Fase sporofit:
1. Berupa tumbuhan paku
2. Sebagai penghasil spora (Perkembangbiakan vegetatif )

H. KLASIFIKASI TUMBUHAN PAKU


Berdasarkan jenis spora yang dihasilkan
1. Paku Homospora
Paku Homospora yaitu jenis tumbuhan paku yang menghasilkan
satu jenis spora yang sama besar, berumah satu. Contohnya adalah paku
kawat (Lycopodium).
2. Paku Heterospora
Paku

heterospora

merupakan

jenis

tumbuhan

paku

yang

menghasilkan dua jenis spora yang berbeda ukuran, berumah dua. Spora
yang besar disebut makrospora (gamet betina) sedangkan spora yang kecil
disebut mikrospora (gamet jantan). Contohnya adalah paku rane
(Selaginella) dan Semanggi (Marsilea).
3. Paku Peralihan
Paku

peralihan

merupakan

jenis

tumbuhan

paku

yang

menghasilkan spora dengan bentuk dan ukuran yang sama, serta diketahui
gamet jantan dan betinanya, berumah satu. Contoh tumbuhan paku
peralihan

adalah

paku ekor

kuda

(Equisetum)

(Anonim.

2015.

http://eprints.uny.ac.id/9199/3/bab%202%20-%2008308144024.pdf)

222

Lycopodium

Selaginella

Equisetum

Berdasarkan struktur morfologinya:


1. Paku purba (Psilopsida)

Terdapat dua genus yaitu Psilotum dan Tmesipteris.

Hidup di daerah tropis dan subtropis.

Sporofit tidak memiliki akar dan daun sejati serta tidak memiliki
pembuluh pengangkut.

Daun pada umumnya berukuran kecil (mikrofil) dan berbentuk sisik.

Batang bercabang dikotomi, berklorofil

Bersifat homospora

Gametofit paku purba bersimbiosis dengan jamur untuk memperoleh


nutrisi.

Contoh: paku purba tidak berdaun (Rhynia) dan paku purba berdaun kecil
(Psilotum) (Anonim. 2015. http://eprints.uny.ac.id/9199/3/bab%202%20%2008308144024.pdf)

2. Paku kawat (Lycopsida)

Tumbuh di daerah tropik atau subtropik dan beriklim sedang di hutanhutan yang sejuk dan lembab

Terdiri atas dua genus, yaitu:


a. Lycopodium (paku rambat)
o Terdiri atas 100 spesies atau lebih
o Bersifat homospor
o Daun banyak, berukuran kecil, dan menyerupai sisik

223

o Akar tumbuh dari samping, berasal dari bawah bagian pucuknya yang
menjalar di tanah
o Hidup sebagai epifit
o Sporofit menggerombol membentuk strobilus
o Spora berbentuk tetrahedron,biasanya bergaris dan memencar pada
satu sisinya
b. Selaginella (paku rane atau paku lumut)
o Terdiri atas 500 spesies
o Bersifat heterospora (Tjitrosomo.1983: 125-126)
3. Paku ekor kuda (Sphenopsida)

Umumnya tumbuh pada daerah yang basah tetapi ada yang tumbuh ada
daerah padang rumput yang kering

Batang berbentuk silinder, berbuku, bergurat memanjang, ada yang


bercabang dan tidak bercabang

Daun berbentuk sisik, sangat kecil, tumbuh melingkar pada buku-buku.

Bentuk bersemak simetris seperti ekor kuda

Strobilus dibentk pada ujung-ujung batang utama atau cabang

Fotosintesis berlangsung di batang dan cabang-cabangnya

Bersifat homospora

Contoh: Equisetum debile

4. Paku sejati (Pteropsida/Filicopsida)

Tumbuh di lingkungan yang lembab, lingkungan xerofitik, air, maupun


tumbuh sebagai epifit.

Batang pada umunya berupa rizom yang tumbuh dibawah atau di atas
permukaan tanah

Daun biasa disebut ental merupakan daun tunggal yang bertoreh

Contoh:

Platycerium

bifurcatum,

Asplenium

nidus,

suplir

(Ali

Moertolo,dkk. 1999: 73-74)

224

Psilotum

Asplenium nidus

Berdasarkan tempat hidupnya:


1. Paku Hidrofit : paku yang hidup di air.

Contoh semanggi (Marsilea

crenata).
2. Paku Higrofit : Tumbuhan paku yang hidup di tanah seperti pada lereng
pegunungan ( tempat lembab). Contoh: paku ekor kuda.
3. Paku Epifit : Tumbuhan paku yang menempel pada tumbuhan lain Contoh:
paku

tanduk

rusa

(Platycerium

bifurcatum)

(Nurmiyati.

2015.

http://nurmiyati.staff.fkip.uns.ac.id/files/2013/04/Morfologi-tumbuhanpaku.pdf)

I. MANFAAT TUMBUHAN PAKU


1. Tanaman hias : Adiantum (suplir), Platycerium (paku tanduk rusa),
Asplenium (paku sarang burung), Nephrolepis, Alsophoila (paku tiang) dan
lainnya.
2. Bahan obat : Equisetum (paku ekor kuda) untuk antidiuretik (lancar seni),
Cyclophorus , untuk obat pusing dan obat luar, Dryopteris untuk obat
cacing pita, Platycerium bifurcata untuk obat tetes telinga luar, dan
Lycopodium untuk antidiuretik dan pencahar lemah dari sporanya.
3. Bahan sayuran : Marsilea (semanggi), Pteridium aquilinum (paku garuda),
dan lain-lain.
4. Kesuburan tanah : Azolla pinnata, karena mampu bersimbiosis dengan
Anabaena (alga biru) sehingga dapat mengikat unsur nitrogen dari udara.
5. Gulma pertanian : Salvinia natans (kayambang), pengganggu tanaman
padi.
(Eni

Nuraeni.

2015.http://file.upi.edu/Direktori/FPMIPA/JUR._PEND._BIOLOGI/197606052001122-

ENI_NURAENI/BAHAN_AJAR/PTERIDOPHYTA.pdf.)

225

DAFTAR PUSTAKA

Ali Moertolo,dkk. 1999. Keanekaragaman Tumbuhan. Malang:JICA

Anonim.

2015.

http://eprints.uny.ac.id/9199/3/bab%202%20-

%2008308144024.pdf. Diakses pada hari Selasa, 10 Februari 2015 pukul


18.59 WIB

Eni

Nuraeni.

2015.

http://file.upi.edu/Direktori/FPMIPA/JUR._PEND._BIOLOGI/197606052
001122-ENI_NURAENI/BAHAN_AJAR/PTERIDOPHYTA.pdf. Diakses
pada hari Selasa, 10 Februari 2015 pukul 18.59 WIB
x
Nurmiyati.

2015.

http://nurmiyati.staff.fkip.uns.ac.id/files/2013/04/Morfologi-

tumbuhan-paku.pdf. Diakses pada hari Selasa, 10 Februari 2015 pukul


19.00 WIB

Raven, P.H., R.F. Evert dan S.E. Eichhorn. 1992. Biology of Plants. Worth
Publishers. New York.

Tjitrosomo. 1983. Botani umum 3. Bandung: Penerbit Angkasa.

226

Gymnospermae
(Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Keanekaragaman Tumbuhan)

Dosen Pengampu: Sudarsono, M.Si.

Disusun oleh:
1. Asri Nur Rahmawati

14304241028

2. Elisabet Susana Wardani

14304241029

Kelompok 13/ Pendidikan Biologi A 2014

JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2015

227

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Gymnospermae

adalah

tumbuhan

yang

memiliki

biji

terbuka.Gymnospermae berasal dari bahasa Yunani, yaitu gymnos yang


berarti telanjang dan sperma yang berarti biji, sehingga gymnospermae
dapat diartikan sebagai tumbuhan berbiji terbuka. Gymnospermae
mempunyai bakal biji yang terbuka bebas tanpa pelindung baik sebelum
maupun sesudah pembuahan (fertilisasi). Bakal biji merupakan salah satu
bukti bahwa gimnosperma lebih berkembang daripada tumbuhan paku,
akan tetapi belum semaju Angiospermae yang bakal bijinya terlindung
atau terbungkus. Karena itu, diperkuat oleh bukti-bukti lain, kadang
dianggap bahwa Gymnospermae merupakan kelompok tumbuhan yang
tingkat perkembangannya terdapat di antara paku-pakuan dan tumbuhan
berbiji tertutup.Gymnospermae telah hidup di bumi sejak periode Devon
(410-360 juta tahun yang lalu), sebelum era dinosaurus.
Pada saat itu, Gymnospermae banyak diwakili oleh kelompok yang
sekarang

sudah

punah

dan

kini

menjadi

batu

bara,

seperti

Pteridospermophyta (paku biji), Bennettophyta, dan Cordaitophyta.


Anggota-anggotanya yang lain dapat melanjutkan keturunannya hingga
sekarang. Angiospermae yang ditemui sekarang dianggap sebagai penerus
dari salah satu kelompok Gymnospermae purba yang telah punah (paku
biji). Gymnospermae memiliki karakteristik yang unik, yaitu daur hidup
yang sama seperti tumbuhan paku heterospora.
Daur ini terdiri dari dua fase, yaitu fase gametofit dan fase sporofit.
Salah

satu

komponen

yang

terlibat

dalam

fase

ini

adalah

megagametogenesis. Megagametogenesis merupakan fase pembentukan


gamet betina. Dalam makalah ini akan dibahas lebih lanjut mengenai
Gymnospermae dan divisi-divisinya.

228

B. Tujuan
1. Mengetahui morfologi tumbuhan gymnospermae.
2. Mengetahui jenis-jenis alat perkembangbiakan pada tumbuhan
gymnospermae.
3. Mengetahui fase hidup gymnospermae.

229

BAB II
PEMBAHASAN
Gymnospermae merupakan tumbuhan yang juga memiliki jaringan pembuluh,
yaitu

xylem

dan

floem.

Gymnospermae

dibagi

menjadi

yakni

progymnospermae, gymnospermae sudah punah dan gymnospermae yang masih


ada hingga kini. Tiga ordo telah punah yaitu ordo Pteridospemae, Bennetiales, dan
Cordaitales. Sedangkan 4 ordo lagi merupakan gymnospermae masa kini yaitu
ordo Cycadales, Ginkgoales, Coniferales dan Gnetales.
Gymnospermae adalah kelompok tumbuhan yang berbiji terbuka, dimana
bakal biji tidak dibungkus oleh daun buah tetapi menempel pada daun buah. Ciri
morfologi, antara lain sebagai berikut :
1. Berakar tunggang
2. Batang tidak bercabang atau bercabang , berkayu, dan tumbuh tegak ke
atas
3. Berdaun sempit, tebal dan kaku seperti jarum
4. Biji terdapat dalam daun buah (makrosporofil) dan serbuk sari terdapat
dalam bagian yang lain (mikrosporofil), daun buah pernghasil dan badan
penghasil serbuk sari terpisah, dan masing-masing disebut strobilus.
Ciri anatomi meliputi sebagai berikut :
1. Akar berkambium dan mempunyai kaliptra
2. Batang berkambium dan mempunyai floeterma atau sarung tepung, yaitu
endodermis yang mengandung zat tepung
3. Pembuahan tunggal selang waktu antara penyerbukan dengan pembuahan
relatif lama
4. Berkas pembuluh angkut belum berfungsi secara sempurna karena masih
berupa tracheid.

A. Susunan Tubuh
Pada dasarnya perakaran gimnosperma ialah berakar tunggang.
Kadang-kadang pada akar didapatkan mikoriza (Pinus) atau bintil-bintil
(Cycas).
230

Umumnya tumbuhan ini mempunyai batang yang tegak menjulang


ke udara. Jenis jenis tertentu mempunyai batang berbaring (Juniperus
horisontalis) atau batangnya menjadi umbi di dalam tanah (Zamia).
Batangnya umumnya bercabang (Pinus, Cedrus), tetapi ada pula yang
tanpa cabang (Cycas, Bowenia). Beberapa jenis (Ginkgo, Pinus)
mempunyai percabangan yang berbeda. Cabang panjang merupakan
cabang gundul atau bersisik. Cabang pendek mempunyai daun dan alat
perkembangbiakan.
Sebagian

tumbuahan

berbiji

terbuka

mempunyai

mikrofil

(Cupressus, Bixa) sebagian lain mempunyai megafil (Ginkgo, Gnetum).


Pada umumnya daun tersebut tersusun terserak (Podocarpus, Taxus).
Beberapa jenis tumbuhan mempunyai daun terletak berhadapan atau
bersilang (Gnetum, Ephedra, Welwitschia), dan jenis lain mempunyai
daun berkarang (Cedrus). Daun Pinus tampak tersusun dalam berkas. Pada
jenis tertentu ujung anak daunnya menggulung (Cycas revoluta). Stomata
biasanya terletak sedikit tenggelam (Ginkgo) atau tenggelam cukup dalam
(Cydas, Pinus). Mereka ada yang terletak di permuakaan atas dan bawah
daun (Ginkgo) dan ada pula yang hanya terletak pada permukaan bawah
daun (Cycas, Taxus). Mesofil daun gymnsperma ada yang tersusun dari
sel-sel yang seragam (Pinus), ada pula yang dapat dibedakan antara
jaringan palisade dan jaringan sponsa (Cydas, Taxus, Gnetum). Urat daun
dapat tersusun mengarpu (Gingko), sejajar (Welwitschia), atau mematajala (Gnetum). Seperti halnya paku-pakuan tumbuhan ini pun pada xilem
tidak ditemukan trakea (kecuali Gnetum, Ephedra, Welwitschia), dan pada
floem tidak terdapat sel pengiring. Kelompok tumbuhan ini mempunyai
saluran damar atau saluran getah (Gnetum). Gimnosperma mengalami
pertumbuhan sekunder.

B. Alat Reproduksi
Gimnosperma

merupakan

tumbuhan

heterspori.

Mereka

membentuk mikrospora dan megaspora, walaupun kedua jenis spora


231

tersebut dapat berukuran sama atau bahkan mikrospora dapat lebih besar
dari megaspora. Spora dibentuk pada strobilus atau rujung. Strobilus
merupakan kelompok sporofil, yang sering disebut sisik strobilus yang
tersusun

spiral

pada

suatu

sumbu.

Strobilus

yang

mendukung

mikrosporofil beserta mikrosporangium disebut strobilus mikrosporangiat


atau strobilus jantan. Strobilus yang mendukung megasporofil beserta
bakal biji disebut strobilus megasporangiat atau strobilus betina. Kedua
jenis strobilus atau rujung dapat dibentuk pada pohon yang sama (Pinus)
atau pada tumbuhan yang berbeda (Ginkgo, Cycas). Bentuk, ukuran,
maupun letak strobilus sangat beraneka ragam.

C. Bakal Biji dan Megagametofit


Bakal biji terbentuk pada megasporofil. Bakal biji terdiri dari suatu
megasporangium, di sini disebut nuselus, yang dibungkus oleh selaput,
integumen (Gnetales, mempunyai dua intergumen). Selaput meninggalkan
suatu lubang sempit yang disebut mikropil. Intergumen terbagi menjadi
tiga lapisan. Lapisan paling luar dan paling dalam merupkan lapisan yang
lunak dan disebut sarkostesta, sedangkan lapisan tengah adalah lapisan
yang keras, disebut sklerotesta.
Nuleus (megasporangium) gimnosperma umumnya berisi sebuah
sel fertil, sel induk megaspora (megasporosit), yang setelah meiosis
membentuk empat sel megaspora haploid yang tersusun segaris. Di antara
keempat megaspora tersebut hanya sebuah yang fungsional (pada Gnetum
dan Welwitschia semuanya fungsional) yakni yang terletak paling dalam.
Megaspora yang fungsional membesar dan mengalami pembelahan inti
bebas, sehingga sel megaspora berisi banyak inti. Selanjutnya dinding sel
terbentuk

akan

memisahkan

inti-inti

tersebut

dan

terbentuklah

megagametofit yang seluler. Megagametofit terbentuk secara endosporik.


Pada kutub mikropil megagametofit dibentuk dua atau lebih arkegonium
yang sususnannya sangat sederhana (pada Gnetum sel telur tidak dibentuk
dalam arkegonium).
232

D. Daur Hidup Gymnospermae

E. Progymnospermae
Tumbuhan fosil yang hidup pada zaman Devon, puncak
perkembanganya

pada

zaman

Karbon

dan

punah

pada

zaman

Mesozoikum. Merupakan tumbuhan peralihan antara Pteridophyta dengan


Gymnospermae.
menyerupai

Daun

daun

menyerupai

biasa

tetapi

tumbuhan
belum

paku,
terkumpul

sporofilnya
menjadi

bunga.Pembentukan biji dari makrosporangium. Gymnospermae berasal


dari Progymnospermae melalui proses evolusi biji.

Selanjutnya

Progymnospermae dianggap sebagai nenek moyang dari tumbuhan biji.

F. Gymnospermae Sudah Punah


1.

Bennettitinae
Merupakan kelompok tumbuhan yang sudah punah, hidup pada
zaman Mesozoikum. Habitus; tumbuhan berkayu, batang pendek
seperti umbi atau panjang bercabang seperti anak payung menggarpu.
Daun menyirip, jarang tidak. Strobilus dalam ketiak daun, kadang233

kadang pada pangkal yang panjang diantara daun-daun,


daun daun, kadang
kadangkadang juga di ujung (terminal).
(terminal) Satu strobilus dapat terdiri dari
mikrosporofil saja atau mikro dan makrosporifil.
makrosporifil Mikrosporofil
menyerupai daun Makrosporofil
orofil banyak, terdapat di atas strobilus
2.

Cordaitinaee
Bakal biji dengan satu integument dan suatu ruang serbuk sari
sari.
Tanaman pada kelas ini umumnya memiliki cirri sebagai berikut:
Berupa pohon
pohon-pohon yang tinggi dan bercabang-cabang
cabang serta
memperlihatkan pertumbuhan sekunder. Daun tunggal bangun lanset
atau pita dan bertulang sejajar. Duduknya tersebar dan pada ujungujung dahan amat berdekatan. Bakal biji terpisah-pisah, tiap bakal biji
terdapat suatu tangkai yang menyerupai daun. Bijinya pipih terd
terdapat
pada tangkai yang panjang.

G. Gymnospermae
ymnospermae Masih Ada
1. Ginkgoales
Anggota ordo ini hanya satu species yaitu Ginkgo biloba
biloba.
Tumbuhan ini merupakan tumbuhan asli daratan cina. Tinggi pohon ini
dapat mencapai 30 m, daun berbentuk kipas, mudah gugur, dan
berumah dua (serbuk sari dan bakal biji di hasilkan oleh individu yang
berlainan). Berdasarkan bukti fosil, Ginkgo di perkirakan telah hidup
sejak zaman Juta
Jut ( 181 juta tahun yang lalu ).

Ginkgo biloba

Ginkgo biloba

234

2. Cycadales
Ordo ini beranggotakan sembilan genus yang masih hidup sampai
sekarang dan meliputi sekitar 100 species. Meskipun tumbuhan ini
tidak ditemukan
temukan dalam fosil, di duga sudah muncul pada zaman trias
sampai kapurawal. Tanda-tandak has golongan ini adalah batang tidak
bercabang, daun-daun
daun
majemuk tersusun sebagai tajuk di puncak
pohon. Cycadales di temukan baik di daerah trofik maupun sub tropik.
Misalnya Cycasrumphii ( pakis haji ).
Daun berubah warna dan menggugurkan daunnya pada musim
rontok, tumbuhan
umbuhan berumah dua. Daun muda menggulung, melebar
bentuk kipas
kipas. Daun terbagi dua simetris karena lekukan yang dalam
dalam.
Memilikii strobilus jantan dan betina (strobilus jantan berbentuk
kerucut). Ovulum mempunyai pembungkus berdaging yang dapat
berubah warna. Lembaga mempunyai dua kotiledon. Suku-suku
suku dalam
ordo Cycadales ada 3 yaitu Cycadaceae dengan genus Cycas,
Stangeriaceae dengan 2 genus Stangeria dan Bowenia,, Zamiaceae
dengan genus Ceratozamia, Dioon, Encephalartos, Lepidozamia
Lepidozamia,
Macrozamia,, Mikrozamia, dan Zamia.

Cycas revoluta

Cycas revoluta

3. Coniferales
Ordo ini meliputi semak-semak, perdu, atau pohon-pohon
pohon dengan
tajuk yang kebanyakan berbentuk kerucut (conus merupakan kerucut,
ferein merupakan mendukung). Daun tumbuhan ordo ini banyak yang
berbentuk jarum. Oleh karena itu sering di sebut pohonjarum. Pinaceae
235

dengan genus Pseudotsuga, Tsuga, Pseudolarix, Pinus, Abies


Abies, Cedrus,
Keteleeria,, Nothotsuga, dan Picea. Cupressaceae dengan genus
uniperus, Thuja, dan Xanthocyparis. Taxodiaceae dengan
Cupressus, Juniperus
genus Taxodium
Taxodium, Sequoia, Sequoiadendron Metasequoia, Cryptomeri
Arthrotaxis, Cunninghamia, Glyptostrobus, Sciadopitys, Taiwania.
Podocarpaceae dengan genus Pherosphaera, Microcachrys, Acmopyle,
Prumnopitysdan
Phyllocladus,, Afrocarpus, Dacrycarpus, Podocarpus, Prumnopitys
Saxegothaea.. Araucariaceae dengan genus Araucaria dan Agathis.
Cephalotaxaceae dengan 4 spesies.

Cephalotaxusharringtonia

Podocarpusmacrophyllus

Araucaria angustifolia

Cedrusdeodara

4. Gnetales
Tumbuhan ini berkayu yang batangnya bercabang-cabang
cabang atau
tidak. Atau hanya terdiri dari hipokotil yang menebal. Dalam kayu
sekunder terdapat vasa
va (trakea). Tidak ada saluran resin. Daunnya
tunggal, berhadapan. Bunga berkelamin tunggal, majemuk, terdapat
dalam ketiak daun pelindung yang besar, mempunyai tenda bunga.
Bunga betina mempunyai bakal biji yang tegak (atrop). Pembuahan
236

dengan perantaraan buluh serbuk dengan dua inti generatif yang tidak
sama besar di dalamnya. Terdapat dua lembaga. Yang termasuk dalam
ordo ini Ephedrales, Gnetales, Welwitschiales.

Welwitschia

Gnetum gnemon

237

BAB III
KESIMPULAN
A. Kesimpulan
Gymnospermae merupakan tumbuhan berbiji terbuka, dengan alat
perkembangbiakan berupa strobilus ataupun rujung. Terdiri dari tiga ordo
yakni Cycadales, Ginkgoales, ConiferalesdanGnetales. Gymnospermae
mengalami pergiliran fase hidup antara fase seksual (generatif) dan fase
aseksual (vegetatif).

238

DAFTAR PUSTAKA

Gunawan Susilowarno. 2007. Biologi SMA untuk SMA/MA Kelas X. Jakarta:


Grasindo.
Sudarsono, dkk.(2005). TaksonomiTumbuhanTinggi. Malang: UM Press.

239

Angiospermae Dikotil
(Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Keanekaragaman Tumbuhan)

Dosen Pengampu: Sudarsono, M.Si.

Disusun oleh:
1. Andini Setya Putri

14304241031

2. Alvie Aulia Sintia Dewi

14304241032

Kelompok 14/ Pendidikan Biologi A 2014

JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2015

240

BAB I
Pendahuluan
A. Latar Belakang
Tanaman
penting

Angiospermae termasuk tanaman yang penting. Dikatakan

karena sebagian besar tumbuhan tinggi yang mendominasi daratan

berasal dari divisi Angiospermae. Selain itu bahan makanan yang berasal dari
tumbuhan juga termasuk ke dalam divisi Angiospermae. Hal tersebut meliputi
akar, batang,daun, bunga hingga buah.
Angiospermae berasal dari Bahasa Yunani Kuno aggeion byang berarti
penyangga atau pelindung dan sperma yang berarti biji yang
diperkenalkan oleh Paul Herman pada tahun 1690. Angiospermae merupakan
tanaman berbiji yang bijinya tertutup daun buah atau karpela. Angiospermae
terbagi menjadi 2 berdasarkan sifat dan keadaan bijinya, yaitu monokotil dan
dikotil. R Dari kedua kelas tersebut memiliki jumlah spesies yang sangat banyak.
Pada kedua kelas tersebut terdiri sekitar 300 famili atau lebih dari 250.000
spesies, (Tjitrosomo,S.S,1984). Dari pernyataan bahwa banyaknya spesies dari
divisi ini, Angiospermae diklasifikasikan kebeberapa bangsa dan suku berdasrkan
ciri morfologinya.

241

BAB II
Pembahasan
A. Asal Angiospermae
Angiospermae telah ada dari zaman Kreta. Fosil yang ditemukan di Melbourne
Australia berupa serbuk sari yang memiliki porus dan bentuknya mirip spora paku
dan serbuk sari Gymnospermae.
B. Bagian bunga
angiospermae yang masih primitif memiliki variasi bagian dan susunan yang
beragam. Sedangkan yang modern memiliki susunan yang lebih konstan dan
sedikit variasi. Berikut bagian bagiannya:
a. Periantum
Bunga primitif yang memiliki periantum tidak terbagi secara jelas kalik
dan korolanya. Sedangkan yang modern pada umumnya ada transisi
gradual antara kaik dan korola. Pada beberapa angiospermae petalanya
modifikasi dari sepala yang berguna untuk menarik perhatia polinator.
Selama evolusi terjadi fusi pada petala sehingga menghasilkan tabung
korola yang merupakan ciri khas beberapa suku.
b. Androecium (andresium)
Pada angiospermae primitif

jumlah stamen cukup bervariasi namun

strukturnya melebar dan bewarna menarik, beberapa jenis menghasilkan


bau yang menarik bagi poliantor. Sedangkan stamen angiospermae
kontenporer biasanya tipis dan tidak menarik. Pada bunga yang telah
terspesialisasi stamennya berfungsi membentuk struktur kolumner atau
berfusi dengan korola. Pada angiospermae yang telah mengalami evolusi
beberapa stamennya menjadi sterilkarena sporangianya hilang dan berubah
bentuk menjadi struktur yang terspesialisasi.

242

c. Karpela
Pada angiospermae primitif struktur karpelanya bebas satu saman lain.
Sedangkan angiospermae modern pada umumnya karpela berfusi dan
terdefernsasi menjadi stigma, stilus dan ovarium, (Sudarsono, dkk, 2005).

Bagian bunga serta fungsinya


No. Bagian bunga

Fungsi

1.

Kelopak (kalik)

Melindungi kuncup bunga

2.

Mahkota (korola)

Menarik perhatian serangga

3.

Benang sari (stamen) terdiri Sebagai penghasil gamet jantan,


dari :

yaitu

a. tangkai sari (filamen)

serbuk sari (pollen)

b. kepala sari (antera) terdiri


atas 4 kantong sari

4.

Putik (pistilus) terdiri atas :

Sebagai penghasil gamet betina

a. tangkai putik (stilus)


b. kepala putik (stigma)
243

c. bakal buah (ovarium) di


dalam

bakal

buah terdapat

bakal biji (ovule)

C. Siklus hidup

D. Kecenderungan evolusi pada bunga


a. Bunga dengan bagian-bagian yang berjumlah tidak terbatas menjadi
terbatas
b. Jumlah macam bagian bunga tereduksi, dari 4 macam bagian hingga 1
macam pada bunga modern akibat fusi bagian bunga.
c. Posisi ovarium dari superior (atas) menjadi inferior (bawah).
d. Simetri radial menjadi simetri bilateral, (Sudarsono, dkk, 2005).

244

E. Macam bunga berdasarkan polinator


1. Bunga yang diserbuki dengan bantuan kumbang
Bunga yang diserbuki kumbang merupakan bunga yang berukuran besar
dan merupakan bunga tunggal. Warnanya tidak menarik, baunya tajam dan
letak bakal buah tersembunyi.
2. Bunga yang diserbuki dengan bantuan lebah, tawon dan lalat.
Bunga yang diserbuki berwarna menarik dan memiliki pola yang jelas
sebagai penanda posisi madu.
3. Bunga yang diserbuki dengan bantuan kupu-kupu dan ngengat.
Bunga

yang diserbuki memiliki daya tarik aroma dan warna. Pada

ngengat mencari bunga warna putih dan beraroma kuat. Contohya


Amaryllis belladonna. Pada bunga yang diserbuki kupu-kupu atau ngengat
kelenjar madunya terletak di dasar buluh korola.
4. Bunga yang diserbuki dengan bantuan burung
Bunganya mempunyai madu yang banyak namun tidak beraroma tajam.
Selain itu warna bunga cerah dan menarik.
5. Bunga yang diserbuki dengan bantuan kelelawar
Bunganya berukuran besar, kuat dan memiliki banyak madu. Warnanya
tidak menarik dan membuka pada malam hari. Biasanya bunga yang
menggantung dengan tangkai yang panjang atau tumbuh pada cabang
pohon. Memiliki aroma seperti buah atau fermentasi yang menarik
perhatian kelelawar. Contohnya bunga pisang, mangga dan sirsak.
6. Bunga yang diserbuki dengan bantuan angin
Bunga yang diserbuki angin merupakan anggota yang paling primitif.
Bunga memiliki stamen yang terpapar bebas ke udara. Memiliki jumlah
serbuk sari yang banyak dan terpisah. Epala putik terpapar ke udara bebas.
Penyerbukan dengan bantuan angin dianggap lebih efisien apabila
individu-indiviu sejenis tumbuh saling berdekatan satu sama lain.
7. Bunga yang diserbuki dengan bantuan air
Angiospermae yang diserbuki dengan bantuan air biasanya hidup
mengapung di perairan asin maupun tawar. Struktur bunganya memiliki
245

serbuk sari yang yang berbentuk benang dan tidak memiliki eksin. Bunga
betina memiliki cekungan yang berfungsi untuk tempat jatuhnya bunga
jantan, (Sudarsono, dkk, 2005).

F. Macam-macam bunga berdasarkan cara peyebaran buah dan bijinya:


1. Buah dan biji yang disebarkan oleh angin
Buah dan buah yang bijinya disebarkan angin memiliki ciri memiliki biji
yang kecil dan ringan sehingga dapat diterbangkan oleh angin seperti pada
biji anggrek. Selain itu ada yang memiliki sayap yang dibentuk dari bagian
periantum seperti pada tanaman mapel, buahnya membentuk pappus
sehingga dapat melayang di udara seperti pada dandelio, dan ada yang
menembakkan bijinya seperti pada Impatiens.
2. Buah dan bijinya yang disebarkan oleh angin
Buah dan biji yang disebarkan oleh air banyak hidup di daerah perairan
dan mengapung. Biji dan buah terbawa arus seperti arus laut yang
membawa tanaman yang ada di pantai serta hujan yang membawa turun
buah dan biji yang berada di kaki bukit atau gunung.
3. Buah dan biji yang disebarkan oleh binatang
Buah dan biji yang disebarkan oleh binatang kebanyak memiliki warna
yang menarik, daging buah yang tebal dan manis. Hal tersebut merupakan
daya tarik bagi binatang unuk menyebarkannya ke tempat lain. Selain itu
buah dan bunga yang disebarkan oleh binatang memiliki kait, duri,
rambut, atau struktur yang dapat melekat pada binatang sehigga terbawa
ketempat lain. Contohnya buah mangga, melon, viola, trilium, dan lain
sebagainya, (Sudarsono, dkk, 2005).

246

G. Pengelompokan Tanaman Angiospermae


Tumbuhan Angiospermae dikelompokkan menjadi dua kelas berdasarkan ciri
pokoknya yaitu berkeping biji satu atau monoktil dan berkeping biji dua atau
dikotil.
Dikotil

Monokotil

-biji berdaun lembaga dua

-biji berdaun lembaga satu

-daun biasanya berurat jala

- baun biasanya berurat sejajar dan


dihubgnkan dengan urat-urat lintang

-sistem akar biasanya tunggang, berakar -sisterm akar biasanya serabut


lateral
-bagian bunga biasanya berjumlah 4,5 -bagian bunganya biasanya berjumlah 3
atau kelipatannya atau banyak sekali
-berkas

pembuuh

kayu

atau kelipatannya

tersusun -berkas pembuluh kayu tersebar tidak

melingkae secar teratur dekat lingakar teratur diseluruh bagian batang


batang
(Loveless,
1998)
Dari cirri umum diatas terdapat anomali atau penyimpangan. Seperti halnya pada
daun pisang yang merupakan monokotil memiliki daun yang menyirip, pada daun
kayu manis yang merupakan dikotil memiliki daun yang melengkung, pada akar
jagung muda yang merupakan kelas monokotil memiliki akar tunggang, dan lain
sebagainya.
H. Pengelompokan pada Kelas Dikotil
Pada makalah ini kami akan membahas mengenai tumbuhan berkeping biji dua
atau dikotil. Yang termasuk kedalam kelas dikotil yaitu:
1. Bangsa Ranalaes atau Polycarpicae
Bangsa Ranalaes terbagi menjadi 2 yaitu suku Magnoliaceae dan suku
Annonaceae
247

1) Suku Magnoliceae
a. Tumbuhan ini berupa semak atau pohon.
b. Daun tunggal dan rontok pada musim gugur.
c. Memiliki bunga yang besar dan mencolok, bersimetri banyak,
hipogen dan memiliki bunga sempurna
d. Buahya baerupa buah folikel
e. Stamen banyak dengan filamen yang jelas
f. Endosperm mengandug minyak
Contohnya pada cempaka atau Michelia champaca, (Sudarsono,
dkk, 2005).
2) Suku Annonaceae
a. Tumbuhan berupa semak, pohon dan liana.
b. Daunnya berseling.
c. Bagian-bagian bunganya berkelipatan 3.
d. Biasanya buahnya terdiri dari sekelompok karpela kering atau
berdagingyang melekat pada dasar bunga.
e. Bijinya dengan embrio kecil dan endosperm yang besar.
Contohnya pada sirsak atau Anona squamosa, (Sudarsono, dkk,
2005).
2.

Bangsa Papaverales atau Rhoedales


Bangsa Papaverales terbagi menjadi dua suku yaitu suku Cruciferae dan
suku Moringaceae
1) Suku Cruciferae (Brassicaceae)
a. Merupakan tumbuhan herbal.
b. Daunnya berseling atau radikalis.
c. Memiliki bunga biseksual yang bersimetri banyak.
d. Jumlah sepala dan petala 4
e. Ovarium superior yang memiliki 2 karpela
f. Biji tanpa endosperm

248

Contohnya pada sawi cina atau Brassica chinenis, (Sudarsono, dkk,


2005).

2) Suku Moringaceae
a. Memiliki daun yang berseling.
b. Berkayu lunak
c. Ginesium berkarpela 3
d. Bunganya biseksual dan bersimetri bilateral.
e. Buahnya silikua memanjang yang menyerupai kapsul
f. Bijinya banyak dan bersayap tanpa endosperm.
Contohnya pada Moringa pterygosperma, (Sudarsono, dkk, 2005).

3. Bangsa Rosales
Bangsa Rosales menjadi dua suku yaitu suku

Rosaceae dan suku

Leguminosae
1) Suku Rosaceae
a. Merupakan tumbuhan semak.
b. Daunnya merupakan daun tunggal, daun majemuk, berseling dan ada
stipula.
c. Memiliki bunga biseksual, bersimetri banyak dan periginus.
d. Buahnya berupa buah drupa, pome dan aksene.
e. Ovarium berkarpela satu
f. Bijinya hanya memiliki sedikit endosperm atau tidak ada.
Contohnya pada Rosa sp, (Sudarsono, dkk, 2005).
2) Suku Leguminosae
a. Merupakan tumbuhan herba, semak atau pohon.
b. Daunnya berseling, berdaun tiga dan bentuknya majemuk menyirip.
c. Memiliki bunga yang besar atau kecil, bersimetri banyak dan tidak,
biseksual.
d. Jumlah benang sarinya kurang lebih sepuluh.
e. Buahnya berupa legum, dehisen atau indehisen.
249

f. Jumlah bijinya tak menentu


Contohnya pada kedelai atau Glycine max, (Sudarsono, dkk, 2005).

4. Bangsa Passiflorales
Bangsa Passiflorales terbagi menjadi dua suku yaitu suku Caricaceae dan
suku Cucurbitaceae
1) Suku Caricaceae
a. Tanaman pohon kecil dan berkayu lunak.
b. Daunnya tunggal bercangap atau majemuk yang tersusun spiral.
c. Bunganya uniseksual, dioecious, terkadang hermaprodit atau
uniseksual dan monoecious.
d. Buahnya berupa beri dan bijinya memiliki endosperm.
Contohnya padapepaya atau Carica papaya, (Sudarsono, dkk, 2005).
2) Suku Cucurbitaceae
a. Berupa herba memanjat
b. Bunga berkelipatan 5
c. Ovarium inferior
d. Buahnya terkadang berupa kapsul
e. Biji tanpa endosperm
Contohnya pada mentimun atau Cucumis sativus, (Sudarsono, dkk,
2005).

5. Bangsa Guttiferales
Bangsa Guttiferales terbagi menjadi dua suku yaitu suku Guttiferae atau
Clusiaceae dan suku Theaceae
1) Suku Guttiferae
a. Berupa pohon atau semak yang bergetah
b. Daun tunggal berhadapan
c. Jumlah sepala dan petala 4
d. Berupa buah bakata atau drupa
e. Bunga bersimetri banyak
250

f. Ovarium terdiri dari 3-5 karpela


g. Biji tanpa endosperm
Contohnya pada manggis atau Garcinia mangostana, (Sudarsono,
dkk, 2005).
2) Suku Theaceae
a. Berupa pohon atau semak
b. Daun tunggal, berseling
c. Bunga biseksual
d. Jumlah petala dan sepala umumnya 5
e. Berupa buah bakata atau kapsular
f. Endosperm sedikit atau tidak ada
Contohnya pada bunga camelia atau Camellia sinensis, (Sudarsono,
dkk, 2005).

6. Bangsa Carryophyllales atau Centrospermae


Bangsa

Carryophyllales

terbagi

menjadi

dua

suku

yaitu

suku

Amaranthaceae dan suku Nyctaginaceae


1) Suku Amaranthaceae
a. Merupakan tanaman herba, jarng berupa semak
b. Daunnya berseling berhadapan
c. Bunga biseksual
d. Stamen umumnya 5
e. Ovarium berlokulus 1
f. Bijinya memiliki endosperm
Contohnya pada Chatula prostrata, (Sudarsono, dkk, 2005).
2) Suku Nyctaginaceae
a. Berupa tanaman herba atau semak
b. Berdaun tunggal, berseling atau berhadapan
c. Bunga bersimetri banyak
d. Berupa bunga cymosa yang tekadang didukug involukrum yang
menyerupai periantum
251

e. Ovarium berkapela
f. Berupa buah aksen
g. Biji memiliki endosperm
Contonya pada bunga pukul empat (Mirabilis jalapa) (Sudarsono,
dkk, 2005).
7. Bangsa Piperales
Bangsa piperales hanya terdiri dari satu suku yaitu suku Piperaceae
Suku Piperaceae
a. Daunnnya berseling
b. Bunganya kecil
c. Ovarium superior
d. Bijinya mengandung endosperm atau perisperm
Contohnya lada ( Piper nigrum), (Sudarsono, dkk, 2005).

8. Bangsa Casuarinales atau Amentiferae


Bangsa Casuarinales hanya memiliki satu suku yaitu suku Casuarinacae
a. Tumbuhan berupa pohon
b. Cabangnya pendek dan hijau
c. Daun dari tiap ruas jumlahnya 4-6
d. Bunga jantan brupa spika yang ramping dan buga bertina berbentuk
sferis atau membulat
e. Bijinya tidak memiliki endosperm
Contohnya pada Casuarina nobilis, (Sudarsono, dkk, 2005).

9. Bangsa Malvales
Ciri khas, pada bunga terdapat Columna
perlekatan

yaitu, terdiri atas

bagian bawah tangkai sarinya membentuk badan yang

menyelubungi putik, pangkalnya berlekatan dengan pangkal mahkota, dan


apabila mahkota ditarik keseluruhannya akan terlepas bersama dengan
benang sari dengan meninggalkan kelopak dan bakal buah saja
252

(Sudarsono, dkk, 2005:136). Bangsa Malvales terbagi menjadi dua suku


yaitu :
1) Suku Malvaceae
Mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
a. Pohon berkayu lunak
b. Daun berseling
c. Bunga biseksual
d. petala 5
e. Buah kapsulur
Suku ini terdiri lebih dari 80 genera. Contoh suku ini yaitu Hibiscus
tiliaceus dan Hibiscus rossa-sinensis L. Beberapa jenis hibiscus
digunakan sebagai tanaman hias karena bunganya yang menarik
misalnya, Hibiscus rossa-sinensis L, Hibiscus schizopetalus Hook,
Gossypium, dan beberapa hibridnya merupakan penghasil kapas
(Sudarsono, dkk, 2005:136-137).
2) Suku Bombacaceae
Mempunyai Ciri-ciri sebagai berikut :
a. Pohon besar
b. Daun berseling
c. Bunga tunggal/majemuk
d. Bunga biseksual
e. petala memanjang
f. Buah berupa kapsul, besar dan berduri
Suku ini mempunyai 20 genera. Tumbuh di daerah tropis terutama di
Amerika. Jenis yang terkenal misalnya Durio zibethinus Murr
(durian). Buahnya yang sangat merangsang baunya dan cukup
digemari terutama orang-orang Asia. Selain itu, Kapok (Ceiba
pentandra Gaertn) dimanfaatkan rambut buahnya sebagai bahan
pengisi kasur dan bantal (Sudarsono, dkk, 2005:138).

253

10. Bangsa Mryrtales


Bangsa Mryrtales mempunyai ciri-ciri yaitu, berupa pohon/semak,
bunga umumnya biseksual, petala 4-5, buah kapsul atau drupa, biji tanpa
endosperm. Suku dari bangsa ini yaitu suku Myrtaceae.
1) Suku Myrtaceae
Suku ini terdiri dari 100-150 genera dan 3000-5000 jenis.
Penyebaran terutama di daerah tropis dan subtropis. Beberapa contoh
yaitu, Eucalyptus, Eugenia, Myrica, Sizygium dan lain-lain. secara
ekonomis suku ini mempunyai arti yang cukup penting . Eucalyptus
diversicolor merupakan pengasil kayu yang cukup bagus. Cengkeh
(Sizygium aromaticum) juga dapat menghasilkan minyak atsiri,
dipakai sebagai bumbu dapur dan rokok (Sudarsono, dkk, 2005: 135).

11. Bangsa Geraniales


1) Suku Rutaceae
Rutaceae (Rutaceae) adalah angiosperma, Dicotyledoneae. Bagian
180 marga dan 1.300 sampai 1.600 spesies, didistribusikan di seluruh
dunia, terutama di daerah tropis dan subtropis, siswa minoritas sedang.
Cina memiliki 29 genera dan 150 spesies di seluruh bagian utara dan
selatan, yang memproduksi Southwest utama dan Selatan. Gunung
Ephedra dan Poncirus endemik ke China. Selain itu, ciri-cirinya
biasanya bunga suku jeruk-jerukan berwarna putih dan berbau harum.
Buahnya merupakan buah buni. Buahnya banyak mengandung vitamin
C. Contoh : Citrus nobilis (jeruk keprok) dan Murraya paniculata
(kemuning).
2) Suku Meliciae
Tumbuhan yang termasuk dalam family Meliaceae mempunyai ciriciri:
a. Habitus: Pohon atau semak, jarang yang berwujud terna,
mempunyai kelenjar minyak.

254

b. Daun : Daunnya majemuk menyirip dengan duduk dauntersebar


dan tidak mempunyai daun penumpu.
c. Bunga : Bunga aktinomorf dan kebanyakan bunga banci.
Kerapkali kelopaknya kecil, terdiri dari 4-5 daun kelopak, biasanya
5 dan berlekatan satu dengan yang lain. Mahkota banyaknya sama
dengan jumlahnya daun kelopak. Mahkota lepas atau saling
berlekatan. Benang sari banyaknya sama dengan daun mahkota
atau 2 kali lipar yang pada umumnya saling berlekatan membentuk
pembuluh. Bakal buahnya menumpang, jarang setengah tenggelam,
beruang 3-5 dan tiap ruang berisi 1-2 bakal biji, jarang lebih.
Tangkai putik 1 dengan kepala putik yang berbentuk cakram atau
bongkol.
d. Buah : Buahnya buah buni, buah kendaga atau buah batu.
e. Spesies :

Melia azedarach (mindi kecil), Melia dubis (mindi

besar), Algaia odorata (pacar cina), Lansium domesticum (duku,


langsat,

Sandoricum

kokosan),

koetjape

(kecapi,

sentul),

Sandoricum emarginatum (kecapi kera), Swietenia mahagoni


(mahoni berdaun kecil), Swietenia macrophylla (mahoni berdaun
besar),

Cedrella

odorata

(kayu

sadar)

dan

Dysoxylum

macrocarpum (mentaos).
3) Suku Euphorbiaceae
Euphorbiaceae (suku getah-getahan). Merupakan tumbuhan herba,
berkayu, dan bergetah. Batangnya menjalar atau membelit. Contoh :
Ricinus comunis L. Dan Hevea brasiliensis (karet). Ciri-cirinya
sebagai berikut :
a. Pohon/semak bergetah
b. Daun tunggal
c. Daun berseling
d. Bunga uniseksual

255

12.

Bangsa Sapindales

1) Suku Sapindaceae
Sapindaceae sering disebut sebagai suku soapberry, merupaan
salah satu jenis tumbuhan berbiji tertutup (Angiospermae) yang masuk
dalam ordo atau bangsa Sapindales. Suku ini terdiri dari 1400-2000
spesies yang masuk dalam 140-150 genus. Spesies-spesies anggota
Sapindaceae tersebar di daerah beriklim tropis.
Kebanyakan spesies anggota Sapindaceae berupa semak, perdu, atau
pohon, kadang-kadang berupa liana dengan alat-alat pembelit. Daun
tunggal atau majemuk menyirip tunggal atau berganda, duduk daun
tersebar, jarang berhadapan, dengan atau tanpa daun penumpu. Bunga
banci, berkelamin tunggal, atau poligam, seringkali berumah dua,
tersusun atas dalam rangkaian yang bermacam-macam, biasanya
berbentuk malai, zigomorf dengan bidang simetri miring. Contonya
adalah Pometia pinnata (Matoa), Litchi chinensis (Leci), Dimocarpus
longan (Kelengkeng) dan lain-lain (Sudarsono, dkk, 2005: 136).
2) Suku Anarcadiaceae
Anacardiaceae adalah saah satu famili dalam tumbuhan yang
mempunyai kerajaan plantae, ordo sapindeles. Family Anacardiaceae
merupakan tumbuhan yang memiliki ciri-ciri habitus perdu, pohon.
Daun tunggalatau mejemuk, tersebar. Bunga mejemuk; biseksual atau
uniseksual; pentamer; stamen 5-10, seringterdapat staminodium;
terdapat diskus bentuk cincin dekat stamen; ovarium superum atau
semiinferumdengan 1-5 karpel, ruang sejumlah karpel, 1-2 ovul tiap
ruang. Buah tunggal; drupa. Contoh : Mangiferaindica. Habitus perdu
atau pohon, buah tunggal berupa drupa, bunga majemuk bisa
biseksual ataupununiseksual. Contohnya Mangifera indica (mangga)
(Sudarsono, dkk, 2005: 136).

256

13. Bangsa Umbellales


1) Suku Umbelliferae ( Apiaceae)
Tumbuhan yang termasuk dalam Suku Umbelliferae mempunyai ciriciri:
a. Habitus: Herba yang berdaun harum
b. Daun : Daunya tunggal atau majemuk dengan duduk daun
tersebar dalam roset akar. Daun memiliki pelepah dan tidak ada
daun penumpu.
c. Bunga : bunganya berkelamin dua, aktinomorf yang tersusun
menjadibunga majemuk paying,payungan ganda atau bongkol,
kelopak kecil berlekuk lima,mahkota lima, lepas dengan ujung
yang membengkok ke dalam dan cepat gugur. Kadang-kadang
takbermahkota, benang sari lima berseling dengan mahkota, kepala
benang sari beruas dua, bakal buah tenggelam yang tertutup oleh
pangkal dua tangkai putik menebal.
d. Buah : buahnya buah berbagi
e. Species : Aprium graveoleus (seledri), Pimpinella alpine
(purwonceng), Ferula asa-foetida (inggu), Funiculum vulgare
(adas), Coriandrum sativum (ketumbar), Cuminum cyminum
(jintan), Centella asiatica (kaki kuda) dan Daucus carota (wortel).

14. Bangsa Rubiales


1) Suku Rubiaceae
Suku ini memiliki ciri-ciri antara lain:
a. Habitus berupa semak, perdu, atu pohon jarang berupa terna
b. Daun tunggal berhadapan atu berkarang dengan daun penumpu
c. Bunga dalam rangkaian yang bersifat simos tau rasemos
d. Bunga banci, berkelamin tunggal, aktinomorf atu zigomorf
e. Daun-daun kelopak tersusun sebagai katup, daun mahkota
berlekatan, bentuk mahtoka bermacam-macam, benang sari

257

melekat pada mahkota, berseling dengan taju-taju mahkota, jarang


jumlah benang sari lebih kecil.
f. Dalam bunga biasanya terdapat cakram
g. Bakal buah tenggelam, beruang-ruang, jarang 1 sampai banyak,
tiap ruang dengan 1 sampai banyak bakal biji
h. Tangkai putik 1
i. Buah

bermacam-macam,

jarang

hanya

beruang

satu,biji

kebanyakan mempunyai endosperm, lembaga lurus atau bengkok


j. Suku ini meliputi tidak kurang dari 4500 jenis, terbagi dalam
kurang lebih 400 marga, tersebar di seluruh dunia, sebagian besar
di daerah iklim panas.

15. Bangsa Asterales


a.

Suku Composite
Suku ini merupakan suku dengan marga paling banyak, ditaksir
sampai sekitar 14.000 jenis dengan kurang lebih 1.000 marga tersebar
di seuruh dunia. Banyak di antara anggota-anggotanya yang
mempunyai buluh-buluh getah yang beruas atau kelanjar-kelenjar
minyak. Banyak jenis-jenis yang bermanfaat, sebagai penghasil
tanaman obat, sebagai tanaman hias, penghasil bunga potong. Suku ini
memilki ciri-ciri, yaitu:
a. Habitus Kebanyakan berupa terna, semak, atau perdu, jarang sekali
berupa pohon.
b. Daun tunggal, kadang-kadang berbagi sangat dalam hingga
menyerupai daun majemuk, duduknya berhadapan, jarang tersebar,
kebanyakan tanpa daun penumpu.
c. Bunga meupakan bunga cawan atau bongkol atau seperti bulir
pendek dengan daun-daun pembalut bersama untuk seluruh
rangkaian bunga.
d. Pembalut masing-masing bunga biasanya tereduksi berupa sisiksisik.
258

e. Bunga berkelamin tunggal atau banci, aktinomorf atau zigomorf,


berbilangan 5, biasanya kelopak tidak jelas dan sebagai pengganti
terdapat rambut-rambut atau sisik-sisik.
f. Daun-daun mahkota berlekatan, sering seperti lidah. Benang sari
tertanam pada buluh mahkota, tangkai sari bebas, kepala sari
berlekatan, berseling dengan taju-taju mahkota
g. Bakal buah tenggelam beruang satu dengan satu bakal biji.
h. Tangkai putik satu, kepala putik 2
i. Buahnya berupa buah kurung atau buah batu, biji berlekatan
dengan dinding buah, tanpa endosperm.

16. Bangsa Guttiferales


a.

Suku Camelliaceae
Semak perdu, atau pohon dengan daun tunggal yang tersebar tanpa
daun penumpu. Bunga biasanya terpisah-pisah, jarang tersusun
sebagai malai atau rangkain yang bersifat rasemos, aktinomorf, banci,
jarang berkelamin tunggal. Daun kelopak berjumlah 4 banyak,
kadang-kadang berlekatan pada pangkalnya. Benang sari banyak,
kadang-kadang

tersusun

bergerombol-geromol.

Bakal

buah

menumpang atau setengah tenggelam, beruang 210, kebanyakan


beruang 35, bakal biji 1banyak dan tembuni di sudut-sudut dan
masing-masing mempunyai 2 integumen. Buahnya buah buni atau
buah kendaga yang pecah dengan membelah ruang. Biji dengan atau
tanpa

endosprem,

lembaga

lirus

atau

bengkok.

Suku ini meliputi 400 jenis terbagi dalam lebih dari 20 marga,
kebanyakan di daerah tropika dan subtropika. Beberapa contoh :
Camelia (Thea): C. sinensi (teh cina), C. assamica (teh asam), C.
japonica. (Sudarsono, dkk, 2005: 138).

259

BAB III
Penutup
A.

Kesimpulan
Dari makalah ini dapat disimpulkan bahwa k arena banyaknya
spesies

yang

terkandung

dalam

tanaman

Angiospermae

maka

diklasifikasikan dalam beberapa kelompok yang memiliki ciri morfologi


yang berbeda. Tumbuhan tinggi dari divisi Angiospermae terbagi menjadi
dua kelas berdasarkan keadaan dan sifat bijinya yaitu dikotil dan
monokotil. Dari kelas dikotil terbagi lagi menjadi 16 bangsa yang terdiri
dari 26 suku.
B.

Saran
Kami menyadari bahwa dalam penyusunan Makalah Klasifikasi
Tumbuhan Angiospermae Dikotil masih memiliki banyak kekurangan.
Untuk penyusunan makalah selanjutnya kami dapat menyarankan untuk
memperkaya sumber tinjauan pustaka yang digunakan karena dalam tiap
buku memiliki sistem pengelompokan yang berbeda pula.

260

Daftar pustaka

Loveless, A.R.,1998.Prinsip-Prinsip Biologi Tumbuhan untuk Daerah


Tropik 1.Jakarta:Gramedia
Sudarsono, dkk.2005.Taksonomi Tumbuhan Tinggi.Malang:UMPress
Tjirosomo, Siti Sutarmi.1984.Botani Umum.Bandung:Angkas
(Sudarsono, dkk, 2005).

261

Lampiran

Penyerbukan dibantu
kumbang

Penyerbukan dibantu burung

Penyerbukan dibantu kupu


kupu

Penyerbukan dibantu
kelelawar

Penyerbukan dibantu angin

Penyerbukan dibantu air

Disebarkan oleh angin

Disebarkan oleh air

Disebarkan oleh binatang

Contoh Suku
Magnoliceae

Contoh Suku Annonaceae

Contoh Suku Caricaceae

262

Contoh suku
Cucurbitaceae

Contoh Suku Rosaceae

Contoh Suku Leguminosae

Contoh Suku Cruciferae


(Brassicaceae)

Contoh Suku Moringaceae

Contoh Suku Guttiferae

Contoh Suku Theaceae

Contoh Suku Amaranthaceae

Contoh Suku Nyctaginaceae

Contoh suku Malvaceae

Contoh suku Bombaceae

Contoh suku Sterculiaceae

Contoh suku Lytraceae

Contoh suku Rhizophoraceae Contoh suku Combretaceae

Contoh suku Punicaceae

Contoh suku Rutaceae

Contoh suku Meliaceae


263

Contoh suku
Euphorbiaceae

Contoh suku Sapindaceae

Contoh suku Anacardiaceae

Contoh suku
Umbelliferae (Apiaceae)

Contoh suku Apocynaceae

Contoh suku Asclepiadeceae

Contoh suku Rubiaceae

Contoh suku Composite

Contoh suku Camelliaceae


(Theaceae)

Contoh suku Clusiaceae

264

Angiospermae Monokotil
(Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Keanekaragaman Tumbuhan)

Dosen Pengampu: Sudarsono, M.Si.

Disusun oleh:
1. Andi Prasetyo

14304241033

2. Maghfira Jihan Mahani

14304241034

Kelompok 15/Pendidikan Biologi A 2014

JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2015

265

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sebagian besar tumbuhan yang kita jumpai dewasa ini termasuk
dalam Angiospermae yang merupakan kelompok tumbuhan yang
mendominasi daratan lebih dari 100 juta tahun yang lalu meliputi 235.000
spesies tumbuhan berbunga. Sebagian besar makanan yang kita konsumsi
berasal dari tumbuhan berbunga dapat berupa akar misalnya wortel,
kangkung, buah-buahan misalnya apel, mangga, pisang, pepaya; buah dan
biji Leguminosae, buah kariopsis dari Graminae misalnya padi dan jagung.
Angiospermae dibedakan ke dalam dua kelas berdasarkan jumlah
kotiledonnya, yakni monokotil dan dikotil.
Monokotil meliputi sekitar 65.000 spesies, termasuk di dalamnya
tumbuhan Graminae, anggrek, palem, bambu dan lain-lain. Daun, batang,
bunga dan akar monokotil bersifat spesifik. Sebagian besar monokotil
memiliki pertulangan daun sejajar, batang dengan berkas pembuluh
tersebar; daun mahkota bunga 3 atau kelipatannya, dan memiliki akar
serabut.
B. Tujuan
1.

Mengetahui pembagian tanaman monokotil dalam ordo dan familinya

2.

Mengetahui dasar pengelompokkan tanaman monokotil ke dalam ordo


dan familinya

266

BAB II
PEMBAHASAN

Tumbuhan

biji

merupakan golongan

tumbuhan

dengan tingkat

perkembangan filogenetik tertinggi, yang sebagai ciri khasnya ialah adanya


suatu organ yang berupa biji (sperma)

Amfimiksis

Apomiksis
Berikut ini merupakan tabel yang menunjukkan perkembangan

filogenetik tumbuhan dari tingkat rendah ke tingkat yang tertinggi


Pembanding Schizophyta Thallophyta Bryophyta Pteridophyta Spermathop
hyta
tubuh

talus

talus

Peralihan

kormus

Kormus

Jmlh sel
uniselular Uniselular, multiselular multiselular multiselular
pnysun tubuh
multiselular
Diferensiasi Belum jelas
sel
adanya inti
& plastida

Perkembangbi
akan

aseksual

Inti jelas,
Inti &
Inti & plastid
Inti &
plastid
plastid jelas
jelas
plastid jelas
beraneka
ragam/tidak
ada
Aseksual & Aseksual & Aseksual & Aseksual &
seksual
seksual
seksual
seksual

Alat
Sel anakan Sel anakan,
Bagian Bagian tubuh, Bagian
prkmbangbiak
spora
tubuh, spora
spora
tubuh, biji
an
metagenesis

Blm ada

Sbgian
blm/sdh

ada

ada

ada

Perbandingan
G&S

G=S, G>S,
G<S

G>S

G<S

G<S

267

Hubungan
G&S

Terpisah, G
S
S mula-mula G tumbuh &
menumpang menumpang
pada G,
brkembang
pada S atau
G
kmdian G
pada G
sebaliknya
mati

Teori-teori evolusi mengenai tanaman angiospermae yaitu sebagai


berikut:
a. Teori euantium
Bunga angiospermae adalah suatu rangkaian sporofil sederhana dengan satu
sumbu. Benang sari dan daun buah seperti pada gymnospermae berturutturut homolog dengan mikro dan makrosporofil pteridophyta yang
heterospor.
b. Teori pseudoantium
Bunga angiospermae merupakan organ yang homolog dengan bunga
majemuk pada gymnospermae, jd bunga angiospermae adalah suatu
pseudoantium. Benang sari dan putik dianggap homolog dengan bunga
jantan dan bunga betina yang tereduksi
c. Teori telom (unjung-ujungpercabangan batang)
Proses-proses evolusioner dasar (overtopping, pemipihan, webbing,
singenesis, dan rekurvasi) terjadi secara bebas menyebabkan modifikasi
system dikotomi primitive membentuk struktur daun, batang dan akar pada
tumbuhan berpembuluh modern.
Angiospermae sendiri terbagi menjadi dua yaitu dikotil (biji berkeping
dua) dan monokotil (biji berkeping satu). Berikut ini tabel yang membedakan
dikotil dan monokotil.
pembeda
biji

Dicotil
2 daun lembaga

Monokotil
1 daun
lembaga(mengalami
metamorphosis jd alat
penghisap makanan dr
endosperm)
268

Lembaga/kecam
bah

Akar lembaga tumbuh dan


jd akar tunggang.ujung
akar lembaga&pucuk
lembaga tidak punya
pelindung khusus

Akar lembaga mati,dan


tumbuh akar
adventif(serabut). ujung
akar lembaga dilindungi
koleoriza&pucuk
lembaga dilindungi
koleoptil

batang

Batang dr ujung-pucuk
sprit kerucut
pnjng,bercabang,buku&ru
as tidak jelas

Batang dr ujung-pucuk
sama besar, tidak
bercabang, buku&ruas
batang tampak jelas

daun

Daun
tunggal/majemuk,disertai
daun penumpu,jarang ada
upih

Daun tunggal berupih,


kadang-kadangpunya
lidah-lidahyang dianggap
metamorfosis daun
penumpu

bunga

Bagian bunga 2,4 atau 5

Bagian bunga berbilang


3

anatomi

Berkas pemb.pengkt
koateral
terbuka/bikolateral, pd
akar berkas
pengangkutnya semula
radial, setelah terjadi
pertumb. Sekunder jd
kolateral terbuka

Berkas pemb.pengkt
kolateral tertutup, berkas
pemb.pengkt pada akar
dr semula ttp radial

Kelas monokotil ini membawahi sejumlah bangsa dan suku tumbuhan


yang warganya dianggap memiliki tingkat perkembangan filogenetik tertinggi.
Ciri umum dari kelas monokotil yaitu sebagai berikut:
Berupa semak, terna, atau pohon yang mempunyai system perakaran
serabut
Batang berkayu atau tidak
Biasanya tidak atau tidak banyak bercabang-cabang
Buku-buku dan ruas biasanya tampak jelas
269

Daun biasanya tunggal dan bertulang sejajar/melengkung, duduknya


berseling (mengikuti rumus ) atau bentuk roset
Bunga berbilang 3,kelopak dan mahkota kadang-kadangtidak dpt
dibedakan
Buah dengan biji yang punya endosperm
Lembaga punya daun lembaga yang berubah jd alat penghisan
makanan dari endosperm
Akar lembaga dilindungi oleh koleoriza, pucuk lembaga dilindungi
koleoptil
Kelas monokotil dibagi ke dalam 10 ordo, diantaranya yaitu sebagai berikut :
1. Ordo Alismatales
Berupa tumbuhan air, berupa daun tunggal yang punya sisik pada
ketiaknya
Terdiri dari familia:
a. Famili Aponogetonaceae

Tumbuhan air yang berakar di dasar

Punya rimpang berbentuk umbi, daun tunggal bertangkai dengan


helaian bentuk lanset-telur yang mengapung/terendam air

Bunga banci tersusun dalam bulir yang bercabang diselubungi


sarung yang lekas gugur muncul di atas air

Benang sari 6, bakal buah menumpang berjumlah 3-6 masingmasing berisi 2-banyak bakal biji

Tenda bunga menyerupai mahkota, bakal buah menumpang, buah


pecah bila masak dengan biji tanpa endosperm

Terbagi atas 1 marga Aponogeton dan 20 jenis

Example: Aponogeton crispus

b. Famili Potamogetonaceae

Tumbuhan air yang berakar dan mempunyai rimpang pada dasar

Daun bangun garis, lanset/bulat telur

Hiasan bunga tunggal tidak menyerupai mahkota

270

Benang sari 8 bebas, bakal buah 6 masing-masing berisi 1 bakal


biji

Tanpa endosperm, lembaga dengan batang hipokotil yang besar

Hidup di air payau, tawar atau air asin

Terbagi dalam 8 marga dan 125 jenis

Example: Potamogeton natans

c. Famili Najadaceae

Tumbuhan air tenggelam dalam air(payau,tawar,laut), daun seperti


benang atau bangun garis dengan tepi bergerigi

Bunga kelamin tunggal, bunga jantan memiliki 1 benang sari dan


bunga betina punya 1 bakal buah dan biji

Hipokotil besar tanpa endosperm

Buah diselubungi seludang tidak membuka

Terdiri dari 1 marga Najas

Example: Najas graminea

d. Famili Scheuchzeriaceae

Terna air parenial dengan rimpang pada dasar, batang tegak dan
daun-daun bangun lanset dengan upih yang membalut batang dan
lidah-lidah pada batas upih & daun

Bunga banci, aktinomorf tersusun dalam bulir di ujung

Benang sari 6-8 bebas, putik terdiri dari 3-6 bakal buah
menumpang masing-masing berisi 2 bakal biji

Buah kurung biji tanpa endosperma

Terdiri dari 3 marga dengan 15 jenis

Example: Scheuchzeria palustris

e. Famili Alismataceae

Tanaman air, tumbuh tegak jarang mengapung

Daun dengan tangkai panjang membentuk upih terbuka pada


pangkal bertulang daun melengkung tersebar pada batang / rozet
akar
271

Bunga banci, 3 kelopak, 3 mahkota, benang sari 6-lebih (jika


banyak yang di bagian tepi mandul), putik terdiri dari 6 bakal buah
menumpang dengan masing-masing bakal buah berisi 1 bakal biji

Biji tanpa endosperm, buah keras

Terdiri 15 genus dan 80 jenis

Example: Machaerocarpus californicus

f. Famili Butomaceae

Terna air perennial dengan rimpang di dasar

Daun pada batang atau membentuk rozet akar dengan bangun


pedang atau pipih lebar

Bunga banci tersusun sebagai bunga payung terdiri dari 3 daun


kelopak, 3 daun mahkota, benang sari 8-9, putik terdiri dari 6 bakal
buah menumpang, tiap bakal buah berisi banyak bakal biji

Buah kurung tanpa endosperma

Terbagi dalam 6 genus dan 10 jenis

Exampe: Limnocharis flava (genjer)

g. Famili Hydrocharitaceae

Terna air, mengapung

Daun tunggal tersusun dalam rozet akar biasanya bertulang


melengkung

Bunga berkelamin tunggal, atau banci terdiri dari 3 daun kelopak, 3


daun mahkota, benang sari 3 dengan bakal buah tenggelam

Biji tanpa endosperma

Terdiri dari 14 genus dan 80 jenis di air tawar atau laut

Example: Hydrilla verticillata

2. Ordo Triuridales
Terdiri dari 1 suku Triuridaceae dengan ciri-ciri:

Saprofit dengan batang tunggal sederhana, daun bentuk sisik warna


hijau

272

Bunga sangat kecil bertangkai panjang berkelamin tunggal atau


banci

Tenda bunga mirip mahkota 3-8 segmen, benang sari 2-6 tertanam
pada pangkal tenga bunga, 1 putik dengan 1bakal biji

Memiliki endosperma

Terdiri dari 3 marga dengan 40 species

Contoh: Triuris hyalina

3. Ordo Bromeliales
a.

Terna, memiliki batang yang kokoh, kadang mirip rumput

b.

Bunga banci kadang tunggal ,aktinomorf atau zigomorf berbilang


3,benang sari kadang-kadang hanya 1

c.

Buah dengan biji yang endosperm nya bertepung

d.

Terdiri dari beberapa family:


fam. Flagellariaceae
a) Berupa tumbuhan memanjat dengan daun-daun yang panjang
yang ujungnya berubah menjadi alat pembelit
b) Bunga kecil, tersusun dalam malai pada ujung batang
c) Benang sari 6 berlekatan dengan pangkal tenda bunga
d) Terdiri dari 3 genus dan 8 jenis
e) Contoh: Flagellaria indica

fam. Restionaceae
a) Terna perennial dengan rimpang dibalut oleh upih yang serupa
sisik dengan batang pendukung bunga yang tegak
b) Bunga dalam ketiak daun pelindung terangkai sebagai bulir
atau malai
c) Berkelamin tunggal dan berumah 2
d) Buahnya berupa buah kendaga
e) Terdiri dari 20 genus dan 300 jenis
f) Contoh: Anathria prolifera

fam. Mayacaceae
a) Terna rawa-rawa, dengan daun bentuk pita pendek
273

b) Bunga terpisah/tersusun dalam bunga paying termasuk bunga


banci dengan 3 daun kelopak dan 3 daun mahkota
c) Bakal buah menumpang beruang 1
d) Buah kendaga dengan biji punya endosperm
e) Terdiri dari 1 genus dan 10 jenis
f) Contoh: Mayaca longipes

fam. Xyridaceae
a) Daun merupakan rozet akar, panjang mirip daun rumput
dimana batang pendukung bunga panjang dengan bunga yang
tersusun sebagai bulir rapat pada ketiak daun pelindung
b) Bunga banci yang zigomorf
c) Terdiri dari 2 genus yang meliputi 200 jenis
d) Contoh: Xyris indica

fam. Eriocaulaceae
a) Daun seperti daun rumput,sempit memanjang tersusun sebagai
rozet akar
b) Bunga kecil berkelamin tunggal tersusun dalam bonggol yang
terdapat pada ujung tangkai yang panjang
c) Famili ini terdiri dari 12 genus yang meliputi 1000 jenis
d) Contoh: Eriocaulon cinereum

fam. Bromeliaceae
a) Sebagian besar berupa epifit,berupa tumbuhan besar dengan
batang yang agak panjang, daun tebal memanjang dengan
rambut-rambut berbentuk sisik, tepi dengan rigi berbentuk
duri dengan upih lebar membentuk rozet akar
b) Bunga banci tersusun dalam bulir pada sumbu pendukung
bunga yang terdapat daun peralihan yang berwarna
c) Buahnya berdaging tidak membuka
d) Terdiri dari 50 genus yang meliputi 1000 species
e) Contoh: Ananas comosus (nanas)

274

fam. Commelinaceae
a) Batang jelas berbuku-buku dengan upih yang tipis seperti
selaput
b) Bunga banci aktinomorf yang memiliki 3 daun kelopak
berwarna dan 3 daun mahkota dengan kepala sari berbentuk
bongkol atau berbagi 3
c) Terdiri dari 40 genus yang meliputi 6000 jenis
d) Contoh: Rhoeo discolor

fam. Pontederiaceae
a) Tanaman air, berakar pada dasar atau mengapung
b) Daun dengan helaian lebar bertulang melengkung pada
pangkal ada upih dan membentuk rozet
c) Bunga banci yang tersusun dalam malai yang terdapat pada
ketiak suatu daun pelindung
d) Terdiri dari 6-7 genus yang meliputi 25 species
e) Contoh: Eichhornia crassipes (eceng gondok)

4. Ordo Liliales
a. Daun tersebar pada batang atau yang merupakan rozet akar
b. Buunga banci aktinomorf, zigomorf. Tenda bunga berbilang 3, benang
sari 6 dengan bakal buah menumpang dan tenggelam
c. Buah buni/kendaga, biji dengan endosperm berdaging
d. Di bagi dalam:
Famili Amarylidaceae
a) Tanaman dengan umbi lapis jarang dengan rimpang
b) Daun pipih panjang tersusun sebagai rozet akar atau batang
c) Bunga banci yang amat menarik tersusun sebagai tandan
dengan hiasan bunga berupa tenda bunga yang menyerupai
mahkota yang tersusun dalam 2 lingkaran, bakal buahnya
tenggelam
d) Meliputi 100 genus yang terdiri dari 1400 jenis
e) Contoh: Crinum asiantum (bakung)
275

Famili Velloziaceae
a) Tumbuhan berkayu dengan batang tebal, batang tertutup oleh
sisa daun yang gugur
b) Daun sempit memanjang berujung meruncing tersusun sebagai
rozet batang
c) Bunga terpisah-pisah pada tangkai yang panjang yang
berwarna menarik
d) Terdiri dari 2 genus yang meliputi 170 jenis
e) Contoh: Barbacenia umbrosa
Famili Iridaceae
a) Akar-akar yang tumbuh dari rimpang
b) Daun pipih memanjang tersusun sebagai rozet akar
c) Bunga banci yang tampak indah dan menarik
d) Terdiri dari 60 genus yang meliputi 1500 jenis
e) Contoh: Freesia refracta
Famili Taccaceae
a) Rimpang merayap berbentuk ubi
b) Daun besar tunggal atau bergigi tersusun sebagai rozet akar
c) Bunga banci aktinomorf tersusun dalam bunga majemuk
berbentuk payung pada ujung tangkai bunga yang tidak
berdaun
d) Terdiri dari 2 marga dengan 30 jenis
e) Contoh: Tacca cristata
Famili Dioscoreaceae
a) Tanaman memanjat dengan rimpang atau umbi dalam tanah
b) Daun tunggal bangun jantung atau anak panah
c) Bunga berkelamin tunggal tersusun dalam rangkaian berupa
malai
d) Terdiri dari 10 genus yang meliputi 650 jenis
e) Contoh: Dioscorea hispida

276

Famili Juncaceae
a) Tanaman mirip rumput atau mending, jarang berupa semak
kebanyakan mempunyai rimpang. Jarang mempunyai batang di
atas tanah
b) Daun sempit panjang bangun silinder seperti pada daun rumput
yang mempunyai upih pada ujungnya kebanyakan sebagai
rozet akar
c) Bunga banci aktinomorf terangkai dalam berbagai susunn
d) Terdiri dari 8 genus dan meliputi 300 jenis
e) Contoh: Marsippospermum gracile
Famili Burmanniaceae
a) Tanaman saprofit, dengan atau tanpa daun kadang-kadang
punya rimpang
b) Batang dengan daun kecil seperti sisik yang tersebar dan jenis
yang bukan saprofit memiliki rozet akar
c) Terdiri dari 17 genus yang meliputi 100 jenis
d) Contoh: Burmannia bicolor
Famili liliaceae
a) Tanaman dengan umbi lapis, kadang semak atau perdu berupa
tumbuhan memanjat
b) Daun tunggal tersebar pada batang atau terkumpul pada rozet
akar
c) Bunga kecil sampai dengan besar dan amat menarik,
kebanyakan banci aktinomorf
d) Terdiri dari 240 genus yang meliputi 4000 jenis
e) Contoh: Allium ascalonicum
5. Ordo Cyperales
Hanya terdiri dari 1 suku Cyperaceae dengan ciri-cirinya:

Berupa terna perennial dengan habitat lembab atau berair. Dalam


tanah terdapat rimpang yang merayap atau badan umbi dengan geragih
sebagai perkembangbiakan vegetative.
277

Batang segi 3 tidak berongga

Daun bangun pita bertulang daun sejajar tanpa lidah-lidah. Biasanya


tersusun sebagai rozet akar

Bunga kecil, tidak menarik berumah 1 tersusun dalam bulir dengan


bunga terdapat pada ketiak daun pelindung, bunga majemuk hiasan
bunga mereduksi jadi sisik,sekat atau rambut. Benang sari 3, kepala
sari beruang 2, dengan bakal buah menumpang

Buah keras berisi 1 biji dengan endosperm bertepung banyak

Terbagi dalam 80 genus dan 3000 species

Contoh: Cyperus rotundus (rumput teki)

6. Ordo Poales
Terdiri dari 1 suku Poaceae atau Graminae

Berupa terna annual atau perennial, semak, atau pohon tinggi

Batang ada yang tumbuh tegak lurus, serong ke atas, berbaring atau
merayap dengan rimpang dalam tanah

Bentuk batang silinder panjang dengan ruas dan buku jelas terlihat

Daun bangun pita, panjang bertulang sejajar tersusun sebagai rozet


akar atau berseling dalam 2 baris pada batang terdiri dari helaian dan
pelepah.

Bunga banci yang terdapat dalam ketiak daun pelindung. Kelopak


berubah jd badan palea superior 2 daun kelopak berlekatan, 2 daun
mahkota yang berubah jd badan seperti sisik kecil, benang sari 1-6

Buahnya berupa buah padi

Terrsusun atas 400 marga dan 4.000 species

Contoh: Zea mays (jagung), Oryza sativa, Bambusa spinosa

7. Ordo Zingiberales
a. Tanaman memiliki rimpang/ batang dalam tanah
b. Daun terdiri dari helaian,tangkai,upih

278

c. Bunga besar, menarik, banci, zigomorf, kelopak mahkota berbilang 3,


benang sari 6 tersusun dalam 2 lingkaran, bakal buah tenggelam
beruang 3(tiap ruang 1 bakal biji)
d. Buah kendaga/berdaging
e. Biji tanpa/sedikit endosperma tetapi dengan perisperm yang besar
f. Meliputi 4 family:
Famili Zingiberaceae
a) Tanaman dengan rimpang atau umbi yang berbau aromatic
b) Batang di atas pendek mendukung bunga
c) Daun tunggal punya sel minyak menguap terdiri dari helaian,
upih, tangkai
d) Bunga majemuk tunggal/berganda, banci, zigomorf, 3 daun
kelopak, 3 daun mahkota yang bawahnya membentuk buluh,
benang sari fertile 1, bakal buah tenggelam
e) Buah kendaga ,biji bulat punya salut biji endosperm banyak.
f)

Terdiri dari 40 genus dan 1400 jenis

g) Contoh: Alpinia galangal (laos)


Famili Musaceae
a) Terna besar, batang semu dari upih yang saling membalut
b) Daun lebar menyirip
c) Bunga banci zigomorf. Bunga betina di pangkal dan bunga
jantan di ujung perbungannya. Kelopak bentuk tabung,
mahkota berbibir 2. benang sari 5 dengan 1 tereduksi, bakal
buah tenggelam.
d) Buah buni atau kendaga, berdaging tidak membuka. Biji
memiliki kulit biji keras kadang bersalut
e) Lembaga lurus terdapat dalam endosperm dan perisperm
f)

Terdiri dari 6 genus dan 150 jenis

g) Contoh: Musa paradisiaca


Famili Canaceae
a) Punya rimpang tebal seperti umbi
279

b) Daun pada batang di atas tanah bertulang daun menyirip


c) Bunga banci, dengan warna cerah dan menarik tersusun dalam
tandan atau malai. Kelopak dan mahkota berbilang 3, daun
mahkota berlekatan pada pangkalnya, benang sari 1-5
d) Buah dengan kelopak yang tidak gugur di bagian atasnya
berupa buah kendaga biji banyak, bulat, endosperm keras,
lembaga kecil
e) Terdiri dari 1 marga dan 50 jenis
f)

Canna edulis (ganyong)

Famili Marantaceae
a) Membentuk rimpang merayap, di atas tanah terdapat batang
nyata atau tidak
b) Daun dalam 2 baris berupa upih terbuka ,lamina dan tangkai
tampak sebagai rozet akar. Tangkai daun silinder menebal
pada batas dengan helaian, seringkali bersayap
c) Bunga banci, ada kalanya bunga muncul dari rimpang. Hiasan
bunga dapat dibedakan dalam kelopak dan mahkota dengan
masing-masing 3 daun kelopak yang bebas dan 3 daun
mahkota yang tidak sama besar & berlekatan
d) Membawahi 30 genus dan 350 jenis
e) Contoh: Maranta arundinaceae
8. Ordo Orchidales
a. Sebagai epifit, saprofit atau terestial
b. Daun agak tebal berdaging
c. Buah kendaga yang jika masak pecah dengan mengeluarkan biji-biji
kecil seperti serbuk
d. Biji tanpa endosperm, lembaga belum sempurna
e. Terdiri dari 2 family:
Familia Apostasiaceae
a) Tanaman terestial dengan rimpang pendek dan batang tidak
bercabang
280

b) Daun memanjang bertangkai bertulang melengkung


c) Buga kecil, banci, aktinomorf atau zigomorf tersusun dalam
bulir atau tandan Yng Mempunyai daun pelindung
d) Terdiri dari 2 genus yang meliputi 16 jenis
e) Contoh: Neuwiedia griffithii
Familia Orchidaceae
a) Tanaman dengan perawakan beraneka ragam yang hidup
sebagai epifit ada yang sebagian saprofit ada pula yang
terestial mempunyai rimpang, akar yang seperti umbi
b) Batang berdaun atau tidak pangklnya seringkali menebal
membentuk umbi semu yang mempunyai akar-akar yang
mengandung klorofil dan berfungsi untuk asimilasi
c) Daun berseling tersusun atas 2 baris, jarang berhadapan
kadang-kadang tereduksi menjadi sisik,pangkal menjadi upih
yang selalu memeluk batang
d) Bunga biasanya memiliki warna dan bentuk indah ada yang
terpisah dan ada yang tersusun dalam rangkaian bunga
e) Terdiri dari 500 genus dan 20.000 jenis
9. Ordo Arecales
a. Tumbuhan dengan perawakan terna yang besar kadang pohon atau
liana.
b. Daun majemuk dengan tulang daun menjari/menyirip
c. Bunga kecil, banci/berkelamin tunggal. Membentuk bunga majemuk
seperti bulir atau tongkol yang pada pangkalnya ada seludang yang
melindungi bunga majemuk. Hiasan bunga tidak ada, benag sari
berbeda jumlahnya, bakal buah menumpang
d. Buah buni atau buah batu,biji dn endosperm besar,lembaga kecil
e. Terdiri dari:

Famili Arecaceae
a) Semak,pohon atau liana dengan batang amat pendek hamper
tidak ada atau tinggi besar
281

b) Daun tunggakl bercanggap dengan susunan tulang daun


menyirip, besar tersusun sebagai rozet akar atau rozet batang
c) Bunga kecil ada yang berumah 1 atau 2, keselluruhan bunga
berbentuk seperti tongkol
d) Terdiri dari 200 genus yang meliputi 4000 jenis
e) Contoh: Cocos nucifera

Famili Araceae
a) Tanaman dengan getah yang cair, di dalam tanah mempunyai
rimpang yang memanjang seperti umbi, kadang-kadang
memanjat jarang dengan batang berkayu
b) Daun tidak banyak, kadang-kadang baru terbentuk setelah
keluar bunga kebanyakan tersusun sebagai rozet akar
c) Helaian daun bangun jantung atau perisai dengan tangkai
pada pangkal berubah jadi upih
d) Bunga yang banci semua sama, bunga jantan terletak di
bagian atas tongkol dan bunga betina di bagian bawahnya
e) Terdiri dari 100 genus yang meliputi 1500 jenis
f) Contoh: Colocasia esculenta (talas)

Famili Chyclantaceae
a) Habitus mirip palma, batang pendek atau tidak ada, kadang
memanjat dan jadi setengah epifit dan mempunyai getah cair
seperti susu
b) Daun berbentuk kipas bertepi rata, berlekuk
c) Bunga berumah 1 tersusun sebagai tongkol
d) Buahnya buah buni yang berisi banyak biji
e) Terdiri dari 6 genus yang meliputi 40 jenis
f)

Contoh: Cyclanthus bipartitus

Famili Lemnaceae
a) Tanaman air perennial, kecil mengapung atau tenggelam.
Tanpa batas yang nyata antaar batang dan daunnya, dengan
akar-akar seperti benang atau tanpa akar yang kesemuanya
282

tadi merupakan tanda adanya adaptasi yang sangat jauh


terhadap kehidupan di airnya
b) Tubuhnya

tereduksi menjadi bentuk jorong sehingga

menyerupai talus karena tanpa differensiasi


c) Berumah 1, bunga jantan hanya terdiri atas 1 benang sari dan
bunga betina terdiri atas 1 putik
d) Terdiri dari 3-4 marga yang meliputi 25 jenis
e) Contoh: Lemna pulsatilla
10. Ordo pandanales
a. Pohon atau perdu dengan daun pipih bangun garis atau pita
b. Buah menyerupai buah keras
c. Bunga berkelamin tunggal tersusun dalam karangan bunga tongkol
majemuk atau bonggol
d. Terdiri dari 3 familia:
Famili Pandanaceae
a) Semak, perdu atau pohon dengan batang yang besar dan
tumbuh tegak, bercabang-cabang atau berupa liana dengan
batang-batang memanjat
b) Pada pangkal batang terdapat akar tunjang
c) Daun sempit,panjang, bangun pita dengan tepi berduri kecil
tajam, duri kadang juga pada sisi punggung ibu tulangnya,
tersusun dalam spirostik yang biasanya ada 3
d) Bunga kelamin tunggal,tersusun sebagai bunga tongkol
majemuk di ujung batang atau ketiak daun pelindung besar
e) Buahnya buah batu/menyerupai buah buni terkumpul menjadi
buah ganda
f)

Terdiri dari 3 genus dan 200-300 species

g) Contoh: Pandanus amaryllifolius (pandan wangi)


Famili Sparganiaceae
a) Terna air perennial, mempunyai rimpang dan batang di atas
tanah yang sederhana atau bercabang
283

b) Daun bangun pita,panjang,kaku/terkulai di air tegak atau


mengapung dengan pangkal berupih biasanya tersusun dalam 2
baris pada pangkal batang
c) Bunga berkelamin tunggal terkumpul dalam bonggol-bonggol
yang bulat dan terpisah.bunga jantan atas dan bunga betina
pada setiap bunga majemuk
d) Bunga jantan dengan 3 benang sari dan bunga betina dengan
bakal buah duduk
e) Memiliki endosperm bertepung dengan lembaga di tengahnya
f)

Famili ini terdiri dari 1 genus dan 20-30 jenis

g) Contoh: Sparganium simplex


Famili Thypaceae
a) Terna air, perennial di rawa atau telaga.
b) Punya rimpang yang merayap dan batang sederhana yang
bagian bawah terendam air
c) Daun sempit, bangun garis,agak tebal seperti sepon
d) Bunga berkelamin tunggal tersusun dalam tongkol dengan
bunga jantan di bagian atas dan bunga betina di bagian bawah
tongkol yang terdiri atas sisik-sisik tipis seperti selaput.
e) Terdiri dari 1 genus dan 15 jenis Contoh: Typa laxmannii

284

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Kelas monokotil dibagi menjadi 10 ordo yaitu
a. Ordo Alismatales
1.

Famili Aponogetonaceae

2.

Famili Potamogetonaceae

3.

Famili Najadaceae

4.

Famili Scheuchzeriaceae

5.

Famili Alismataceae

6.

Famili Butomaceae

7.

Famili Hydrocharitaceae

b. Ordo Triuridales
1.

suku Triuridaceae

c. Ordo Bromeliales
1.

fam. Flagellariaceae

2.

fam. Restionaceae

3.

fam. Mayacaceae

4.

fam. Xyridaceae

5.

fam. Eriocaulaceae

6.

fam. Bromeliaceae

7.

fam. Commelinaceae

8.

fam. Pontederiaceae

d. Ordo Liliales
1.

Famili Amarylidaceae

2.

Famili Velloziaceae

3.

Famili Iridaceae

4.

Famili Taccaceae

5.

Famili Dioscoreaceae

6.

Famili Juncaceae
285

7.

Famili Burmanniaceae

8.

Famili liliaceae

e. Ordo Cyperales
Suku Cyperaceae
f. Ordo Poales
Suku Graminae
g. Ordo Zingiberales
1.

Famili Zingiberaceae

2.

Famili Musaceae

3.

Famili Canaceae

4.

Famili Marantaceae

h. Ordo Orchidales
1.

Familia Apostasiaceae

2.

Familia Orchidaceae

i. Ordo Arecales
1.

Famili Arecaceae

2.

Famili Araceae

3.

Famili Chyclantaceae

4.

Famili Lemnaceae

j. Ordo pandanales
1.

Famili Pandanaceae

2.

Famili Sparganiaceae

3.

Famili Thypaceae

2. Dasar pengelompokkan tanaman monokotil


a.

Dasar pokoknya jumlah keping biji

b.

Dasar secara umum berdasarkan pertulangan daun, struktur


berkas pengangkut, sistem perakaran, jumlah mahkota bunga,
ada tidaknya kambium.

286

DAFTAR PUSTAKA

Gembong, Tjitrosoepomo. 2007. Taksonomi tumbuhan (spermatothyta).


Yogyakarta : Gajah Mada University Press.

287

BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Dalam kumpulan makalah Keanekaragaman Tumbuhan, Materi yang
dibahas meliputi:
- Ruang Lingkup Keanekaragaman Tumbuhan
- Keanekaragaman Organisme Kehidupan dan Taksonomi
- Keanekaragaman Tumbuhan berdasarkan Letak Lintang dan Ketinggian
- Sumber Variasi
- Seleksi, Adaptasi, Modifikasi, Isolasi, Spesiasi dan Evolusi
- Pusat-pusat Keanekaragaman di Dunia
- Klasifikasi Tumbuhan
- Identifikasi dan Tatanama Tumbuhan
- Alga Gandar, Alga Karang dan Alga Hijau-Biru
- Alga (Diatome, Phaeophyceae, Rodhophyceae)

- Lumut (Bryophyta)
- Paku (Pterydophyta)
- Gymnospermae
- Angiospermae Dikotil
- Angiospermae Monokotil

B. SARAN
Dalam penyusunan makalah, kami sadar akan adanya kekurangan.
Oleh karena itu, agar mahasiswa dapat memperoleh hasil pengamatan
yang lebih baik, ada beberapa saran yang kami anjurkan, antara lain:
Mahasiswa lebih teliti, lebih jeli, lebih rajin dalam mencari kajian pustaka
mengenai materi-materi Keanekaragaman Tumbuhan.

288

Anda mungkin juga menyukai