Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH METODOLOGI PENELITIAN BIOLOGI

SPESIFIKASI PERANCANGAN PENELITIAN BIOLOGI POLA BIVARIAT


MENGGUNAKAN METODE EKSPERIMEN SEJATI BESERTA CONTOH
PERMASALAHANNYA DENGAN TUJUAN PEMBANDINGAN DUA
KELOMPOK
Disusun untuk melengkapi tugas mata kuliah metodologi Penelitian Biologi

Disusun oleh:
Milade Annisa Muflihaini
(14304241004)
Ulfa Yulia Rochmah (14304241050)
Rika Nuryani Suwarno
(14304241044)
PendidikanBiologiInternasional

JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2016

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Penelitian
merupakan
alat
untuk
mengembangkan
ilmu
pengetahuan. Penelitian memiliki tujuan untuk merevisi konsep keliru
yang telah ditemukan atau menemukan konsep-konsep baru. Penelitian
dilakukan secara sistematis menggunakan prosedur ilmiah dan
menggunakan desain atau perancangan penelitian tertentu. Sebelum
melakukan penelitian, hendaknya seorang peneliti mengetahui prinsip
perancanaan penelitian. Prinsip perencanaan penelitian adalah prinsip
yang harus dilakukan peneliti dalam upaya agar hasil penelitian yang
diperoleh sesuai dengan tujuan yang ditargetkan. Prinsip perencanaan
penelitian meliputi prinsip dalam memilih permasalahan penelitian,
prinsip dalam memilih kajian pustaka, dan prinsip dalam prosedur atau
cara atau langkah-langkah penelitian dan prinsip dalam mengorganisasi
data hasil penelitian beserta prinsip dalam memilih teknik analisis
datanya (Subali, 2015:51).
Desain penelitian merupakan keseluruhan proses atau kerangka kerja sistematis
dalam pelaksanaan penelitian, guna mengumpulkan, mengukur, dan melakukan analisis
data sehingga dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian yang belum ada
jawabannya. Desain penelitian yang digunakan untuk penelitian disesuaikan dengan
tujuan penelitian, jenis, dan variabel penelitian. Salah satu jenis penelitian adalah
penelitian eksperimen yang ditandai dengan adanya manipulasi secara sengaja oleh
peneliti. Penelitian eksperimen berdasarkan cara pengendalian variabel pengganggu dan
cara pengundian pemberian perlakuan telah dibedakan menjadi penelitian eksperimen
sejati/ sesungguhnya/sebernarnya (true experiment) dan eksperimen semu (Quasi
experiment).
Pengetahuan tentang penelitian eksperimen penting bagi mahasiswa dan calon
peneliti. Oleh karena itu, pada makalah kali ini akan dilakukan pembahasan khusus
mengenai Spesifikasi Perancangan Penelitian Biologi Pola Bivariat
Menggunakan Metode Eksperimen Sejati dengan Tujuan Pembandingan
Dua Kelompok.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana spesifikasi perancangan penelitian Biologi pola bivariat
menggunakan metode eksperimen sejati dengan tujuan
pembandingan dua kelompok?
2. Apa saja contoh permasalahan yang dapat dipecahkannya?
C. Tujuan
1. Mendeskripsikan spesifikasi perancangan penelitian Biologi pola
bivariat menggunakan metode eksperimen sejati dengan tujuan
pembandingan dua kelompok.
2

2. Menyajikan contoh permasalahan yang dapat dipecahkannya.

BAB II
PEMBAHASAN
Dalam metode penelitian biologi dikenal ada metode penelitian
deskriptif/ non kespermen dan metode penelitian eksperimen atau
disingkat metode eksperimen. Penelitian deskriptif /non eksperimen yaitu
penelitian yang tidak disertai manipulasi oleh peneliti secara sengaja
terhadap variabel bebas. Sedangkan penelitian eksperimen adalah
penelitian yang dicirikan oleh adanya maniplasi terhadap variabel bebas
secara sengaja oleh peneliti. Tujuan eksperimen adalah untuk
mengungkap perubahan yang terjadi pada variabel tergayut akibat
pengaruh variabel bebas. Dengan demikian, variabel bebas berkedudukan
sebagi faktor yang menjadi penyebab terjadinya variabel respons pada
variabel tergayut. Oleh karena itu, sebgai faktor maka variabel bebas
eksperimen juga berkedudukan sebagai variabel prediktor. Sementara,
variabel tergayut sebagai variabel respons. (Subali, 2015: 21)
McMillan (2012: 14) mengatakan in experimental research, the researchers can
manipulate of factors (variables) that may influence subjects and then see what happens ti the
subjects responses as a result. Jadi dalam penelitian eksperimen, peneliti dapat
memanipulasi faktor-faktor (variabel) yang mungkin mempengaruhi subjek, kemudian
melihat respon dari subjek tersebut sebagai hasilnya. Selanjutnya menurut Gall dan Borg
(2003: 633) variabel yang dimanipulasi disebut experimental treatment, kadang juga disebut
variabel independent (independent variable, variabel eksperimental (experimental variable),
variabel perlakuan (treatment variable), atau intervensi (intervention).
Menurut Gay (dalam Emzir, 2012: 64), penelitian eksperimen merupakan satu-satunya
metode penelitian yang dapat menguji secara benar hipotesis menyangkut hubungan kausal
(sebab akibat). Peneliti memanipulasi paling sedikit satu variabel, mengontrol variabel lain
yang relevan, dan mengobservasi efek/pengaruhnya terhadap satu atau lebih variabel
terikat. Sugiyono (2012: 109) menambahkan penelitian eksperimen dapat diartikan sebagai
metode penelitian yang digunakan untuk mencari pengaruh perlakuan tertentu terhadap yang
lain dalam kondisi yang terkendalikan.
Dalam bentuk paling sederhana penelitian eksperimen, menurut Ary (2011: 338),
mempunyai tiga ciri yaitu:
1. Suatu variabel bebas dimanipulasi,
2. Semua variabel lainnya, kecuali variabel bebas, dipertahankan tetap,
3. Pengaruh manipulasi variabel bebas terhadap variabel terikat diamati.
Variabel pengganggu atau penekan dalam penelitian ekspeimen
dapat hadir dari lingkungan internal maupun eksternal. Lingkungan
internal adalah lingkungan yang melekat pada setiap anggota sample
yang akan dijadikan unit eksperimen. Sebagai contoh, jenis/macam
organisme dan ukuran serta bentuk tubuh organisme akan dapat
mempengaruhi hasil eksperimen jika hal-hal tersebut berkaitan erat
dengan hubungan stimulus respon yang terjadi antara variable bebas
sebagai factor dan variable tergayut sebagai variable respon. Berbeda
spesies atau varietas akan berbeda sifat genetiknya sehingga peneliti
4

harus menetapkan spesies atau varietas apa yang akan dijadikan objek
eksperimen. Ukuran dan bentuk tubuh akan mempengaruhi aktivitas,
sehingga berbeda ukuran tubuh akan berbeda pula kecepatan unit
eksperimen yang bersangkutan dalam merespon variable bebas yang
mengenainya. Umur unit eksperimen akan mempengaruhi ukuran tubuh,
dan ukuran tubuh akan mempengaruhi aktifitas, sehingga berbeda umur
akan berpeluang terjadi perbedaan respon dari unit-unit eksperimen yang
bersangkutan.
Variable pengganggu yang berasal dari lingkungan eksternal dapat
berasal dari habitat atau tempat hidup organisme yang dijadikan unit-unit
eksperimen. Kemampuan merespon sample kacang panjang yang ditanam
di pematang sawah akan berbeda dengan kemampuan merespon sampel
kacangpanjang yang ditanam di ladang. Kemampuan merespon kelompok
kacang panjang yang ditanam diladang dekat dengan sungai akan
berbeda dengan kemampuan merespon kelompok kacang panjang yang
ditanam diladang jauh dari sungai sebagai akibat ketersediaan air di
dalam tanah. Oleh karena itu, jika variable-variabel tersebut tidak
dijadikan factor dalam suatu eksperiman haruslah dihomogenkan. Dengan
demikian, penghomogenan pengganggu yang berkait dengan habitat
khususnya media untuk hidup antara penelian eksperimen di laboratorium
dan lapangan akan berbeda. Dalam penelitian laboratorium media untuk
hidup tanaman yang dapat dikendalikan secara penuh dengan menanam
tanaman pada pot yang seragam dengan jenis tanah yang seragam.
Sementara pengendalian media untuk hidup dalam penelitian eksperimen
lapangan untuk tumbuhan dapat dilakukan dengan memilih lahan yang
homogen.
Sumber variable pengganggu yang berkaitan dengan factor
lingkungan eksternal selain media tempat hiudp adalah factor yang ada
diudara. Seperti factor klimat, suara, kandungan gas yang ada di
dalamnya. Factor klimat, ada dua yaitu factor klimat makro dan mikro.
Factor klimat mikro adalah factor mikro yang terbentuk secara khusus
karena lingkungan khusus seperti factor klimat mikro dibawah tajuk
hutan. Dalam penelitian lapangan, factor klimat makro bukan hanya
sebagai variable pengganggu melainkan akan menjadi variable moderator
yang akan mempengaruhi variable bebas dan variable tergayut atau
dengan kata lain mempunyai hubungan sebab akibat yang terjadi.
Sumber variable pengganggu juga tidak dapat terlepas dari
manusia, baik peneliti maupun orang lain yang terlibat dalam eksperimen.
Ketidak konsistenan peneliti lapangan dalam melakukan pengukuran,
pencatatan data, kegiatan pemeliharaan hewan/tumbuhan selama
eksperimen berlangsung akan menghasilkan data yang tidak akurat. Oleh
karena itu, peneliti harus dapat mengidentifikasi mana yang menjadi
benar-benar variable pengganggu dan mana yang merupakan variable
5

acak yang boleh diabaikan saat eksperimen berlangsung yang tidak akan
mempengaruhi hasil eksperimen. (Subali, 2015)
Penelitian Berdasarkan cara pengendalian variabel pengganggu dan
cara pengundian pemberian perlakuan yang akan dikenakan, penelitian
eksperimen dapat dipisahkan antara eksperimen sesungguhnya dan
eksperimen semu (Subali, 2015: 31).Berikut disajikan tabel dari karakteristik dari
setiap jenis desain penelitian eksperimen menurut Creswell (2012: 307), yaitu:
Tabel. Jenis Penelitian Eksperimen
Perihal
Karakter
Penugasan
Acak
Jumlah
grup/individu
yang
dibandingkan
Jumlah
intervensi
yang
digunakan
Jumlah
variabel
terikat
diukur/diamat
i
Kontrol yang
digunakan

Jenis Desain Eksperimen


Faktorial
Seri Waktu

Eksperimen
Sejati

Eksperimen
Semu

Eksperime
n Berulang

Subjek
Tunggal

Ya

Tidak

Mungkin

Tidak

Tidak

Tidak

2 atau lebih

2 atau lebih

2 atau
lebih

1 grup

1 grup

1 individu
belajar pada
suatu waktu

1 atau lebih

1 atau lebih

2 atau
lebih

1 atau lebih

2 atau lebih

1 atau lebih

1 kali

1 kali

1 kali

Setelah
banyak
diberikan
intervensi

Setelah
banyak
diberikan
intervensi

Banyak waktu

Pretes,
Pencocokan,
Pengeblokan,
Kovarian

Pretes,
Pencocokan,
Pengeblokan
,
Kovarian

Pretes,
Pencocoka
n,
Pengeblok
an,
Kovarian

Grup
menjadi
pengontroln
ya

Kovarian

Individual
menjadi
pengontrolnya

A. Prinsip Penelitian Biologi Eksperimen Sejati


Eksperimen sejati/sesungguhnya/ sebenarnya (true experiment)yang umumnya cukup disebut eksperimen saja, adalah eksperimen
yang disertai dengan penangan variabel pengganggu secara penuh.
Salah satu cara yang dilakukan adalah mengendalikan dengan cara
menghomogenkan unit eksperimen atas variabel-variabel yang dapat
mempengaruhi hasil eksperimen jika variabel tersebut diabaikan.
Eksperimen sejati/sesungguhnya/ sebenarnya (true experiment) adalah
eksperimen yang dalam pemberian suatu taraf/ level atau
kategori/atribut perlakuan terhadap unit eksperimen dilakukan dengan
mengundi terhadap stiap unit eksperimen dengan harapan tidak terjadi
kekeliruan yanga sistematik (sistematic error). (Subali, 2015: 31)
Eksperimen sejati berbeda dengan eksperimen semu.
Eksperimen semu adalah eksperimen yang dalam pemberian suatu
taraf/level atau kategori/atribut perlakuan terhadap unit eksperimen
dilakukan dengan mengundi terhadap cluster yang di dalamnya
6

terdapat kelompok-kelompok unit eksperimen. Hal ini terjadi karena


peneliti tidak dapat mengendalikan variabel bebas yang dijadikan faktor
dalam eksperimen tersebut. Banyaknya kelompok unit eksperimen
sesuai dengan banyaknya taraf/level atau kategori/atribut perlakuannya
(Subali, 2015: 32).
Berikut ini contoh penelitian biologi eksperimen sejati dengan
pengendalian variabel pengganggu secara penuh. Seorang peneliti
akan menggunakan perlakuan kadar pupuk kompos terhadap
pertumbuhan tanaman tomat pelangi yang dalam hal ini ada empat
taraf/level perlakuan. Tiap perlakuan membutuhkan replikasi 10 kali.
Dengan demikian diperlkukan 4x 10 semaitanaman tomat pelangi
sebagai unit eksperimen atau sebanyak 40 semai tanaman tersebut
sebagai keseluruhan unit eksperimen. Sebanyak 40 unit eksperimen
tersebut dipilih yang benar-benar homogen/ seragam dari pengaruh
variabel pengganggu/ penekan. Selanjutnya 40 unit eksperimen
tersebut dipisah dengan cara diundi sehingga diperoleh 10 bibit
tanaman tomat pelangi untuk setiap kadar pupuk kompos.
Secara umum ada beberapa pendapat mengenai karakteristik
penelitian eksperimen sejati. Menurut Ary (2011: 342) ada tiga unsur
penting dalam pelaksanaan suatu eksperimen sejati yaitu:
1.
Pengendalian
Pengendalian merupakan inti metode eksperimen karena tanpa
pengendalian peneliti tidak mungkin dapat menilai secara tegas
pengaruh variabel bebas. Pengendalian, menurut Sukardi (2013: 181)
adalah usaha peneliti untuk memindahkan pengaruh variabel lain
pada variabel terikat yang mungkin mempengaruhi penampilan
variabel tersebut. Kegiatan mengendalikan suatu variabel atau
subyek dalam penelitian eksperimen memiliki peranan penting,
karena tanpa melakukan kendali secara sistematis, seorang peneliti
tidak mungkin dapat melakukan evaluasi dengan melakukan
pengukuran secara cermat terhadap variabel terikat.
Menurut Ary (2011: 342-343) ada dua asumsi yang menjadi
dasar penelitian eksperimen yaitu sebagai berikut
a. Apabila dua situasi sama dalam segala hal, kecuali faktor yang
ditambahkan ke atau dibuang dari salah satu situasi itu, maka
setiap perbedaan yang muncul di antara kedua situasi tersebut
dapat dikaitkan dengan faktor tersebut. Pernyataan ini disebut
hukum variabel tunggal (law of the single variable).
b. Apabila dua situasi tidak sama tetapi dapat ditunjukkan bahwa
tidak ada satu variabel pun yang signifikan dalam menimbulkan
gejala yang sedang diselidiki, atau gejala variabel-variabel yang
signifikan itu dibuat sama, maka setiap perbedaan yang terjadi di
antara kedua situasi itu sesudah dimasukkannya variabel baru ke
dalam salah satu di antaranya, dapat dianggap sebagai disebabkan
7

oleh variabel baru tersebut. Pernyataan ini disebut hukum satusatunya variabel yang signifikan (the law of the only signifikan
variable).
Tujuan pengendalian dalam penelitian eksperimen adalah untuk
mengatur situasi sehingga pengaruh variabel dapat diselidiki. Dalam
penelitian kita tidak dapat menghindari bercampurnya variabel yang
tidak ada kaitannya dengan masalah penelitian (extraneous variable)
dengan variabel bebas. Kekacauan tersebut dapat dihilangkan
dengan jalan mengendalikan pengaruh variabel-variabel luar
(extraneous variable) yang relevan. Ada lima prosedur pengendalian
perbedaan subyek menurut Ary (2011:345) yaitu:
a. Penempatan secara acak (random assignment)
Random assignment Penempatan subyek ke dalam kelompok
sedemikian rupa sehingga untuk setiap kali penempatan, setiap
anggota populasi memiliki peluang yang sama untuk ditempatkan
di kelompok manapun, kelompok eksperimen atau kelompok
kontrol.
b. Pemadanan teracak (randomized matching)
Metode untuk mengendalikan sebagian perbedaan antar subyek.
Yang pertama dilakukan adalah menetapkan variabel yang akan
digunakan untuk memadankan, seperti IQ, usia mental, pretest,
status sosio ekonomi, umur, jenis kelamin. Variabel yang digunakan
sebagai patokan harus mempunyai korelasi yang tinggi dengan
variabel terikat agar mempunyai nilai guna.
c. Pemilihan yang homogen
d. Analisa kovariansi (analysis of covariance)
merupakan metode untuk menganalisis perbedaan variabel terikat
di
antara
kelompok-kelompok
eksperimen,
sesudah
memperhitungan setiap perbedaan ukuran pratest atau ukuran
variabel terikat relevan lainnya yang telah ada sebelumnya di
antara kelompok-kelompok tersebut. Analisis kovariansi adalah
metode statistik yang memberikan pengendalian sebagian
terhadap variabel-variabel luar yang mengacaukan (extraneous
variable) hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat.
e. Penggunaan subyek sebagai pengendali mereka sendiri.
Prosedur pengendalian yang menempatkan subyek ke semua
kondisi eksperimen dan kemudian mengukur hasil subyek tersebut
dan menjadikan hasil pengukuran tersebut sebagai dasar dalam
pembagian kelompok.
Selain perbedaan antar subyek, variabel situasional juga perlu
dikendalikan agar subyek tidak merasa sedang diteliti. Ada tiga
metode yang biasanya digunakan untuk mengendalikan variabel
situasional yaitu:
a. menjaga agar keadaan variabel tersebut tetap seperti semula,
b. mengacak variabel tersebut
8

2.

3.

c. memanipulasi variabel tersebut secara sistematis dan terpisah dari


variabel bebas yang utama.
Manipulasi
Karakteristik utama penelitian eksperimen adalah adanya
tindakan memanipulasi variabel secara terencana oleh peneliti.
Manipulasi dalam penelitian eksperimen, menurut Emzir (2012: 65)
adalah peneliti memutuskan apa bentuk atau nilai-nilai variabel
bebas (sebab) yang akan diambil dan kelompok mana akan
mendapat bentuk yang sama. Manipulasi yaitu tindakan atau
perlakuan yang dilakukan oleh seorang peneliti atas dasar
pertimbangan ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan secara
terbuka guna memperoleh perbedaan efek dalam variabel terikat
(Sukardi, 2013: 181).
Pengamatan
Menurut Sukardi (2013: 182), tindakan pengamatan atau
observasi dilakukan dengan tujuan agar dapat mengamati dan
mencatat fenomena yang muncul dalam variabel terikat sebagai
akibat dari adanya pengendalian dan manipulasi variabel.
Sederhananya, pengamatan dilakukan untuk mengetahui apakah ada
pengaruh manipulasi variabel bebas terhadap variabel terikat.

B. Prinsip dan Prosedur Perancangan Penelitian Biologi


Eksperimen Sejati pada Populasi Terbatas (Finite
Population)dengan Tujuan Pembandingan 2 kelompok
Eksperimen dapat dilakukan terhadap sampel suatu populasi
yang terbatas (finite population). Jika eksperimen dikenakan pada
sampel populasi yang terbatas maka pengambilan sampel tersebut
harus dilakukan secara acak agar simpulan hasil eksperimen
berdasarkan hasil analisis data dapat berlaku pada tingkat populasi.
Oleh karena itu, kombinasi antara karakteristik populasi dan penganan
variable penekan/pengganggu/luar yang berasal dari factor lingkungan
eksternal harus diperhatikan dalam merancang eksperimen. (Subali,
2015)
Penelitian eksperimen dengan populasi terbatas jarang ditemukan
karena organisme sebagai objek penelitian biologi terdistribusi sangat
luas. Populasi terbatas menjadi sangat istimewa karena populasi
tersebut haruslah terbatas keberadaannya dan terdaftar pula individuindividu anggotanya sehingga peneliti memiliki kerangka sampel
(sampling frame) sebagai dasar untuk melakukan pengacakan ketika
akan menarik sampel secara acak. Sebagai contoh tentang populasi
terbatas misalnya populasi komodo di pulau komodo.
1. Eksperimen Sejati Menggunakan Sampel dari Populasi
Terbatas yang Homogen

Penelitian eksperimen yang dikenakan pada sample acak dari


populasi terbatas yang homogen akan menjadikan populasi tersebut
terbebas dari keberadaan variable pengganggu yang berasal dari
lingkungan internal objek penelitian. Dengan demikian, tidak akan
ada kekeliruan/galat/error yang disebabkan oleh factor internal yang
berasal dari populasi yang bersangkutan. (Subali, 2015)
Sebagai contoh populasi sapi jenis limosin yang diimpor tahun
ini sebanyak 950 ekor yang dipelihara kelompok peternak di
Kecamatan Cangkringan kabupaten Sleman adalah sapi jantan
dengan umur dan berat yang relative sama, sehingga dapat
dikatakan umur dan beratnya homogen. Peneliti akan menguji
bagaimana respon sapi terhadap jenis pakan untuk menu utamanya.
Peneliti merancangeksperimen untuk dicobakan dua jenis pakan yaitu
bekatul
yang
difermentasikan
dan
bekatul
yang
tidak
difermentasikan. Jika dalam eksperimen tersebut digunakan replikasi
masing-masing 15 ekor sapi maka harus diambil sampel acak
sebanyak 30 ekor sapi dari 950 ekor sapi tersebut. Kelompok
eksperimen 1 sebanyak 15 ekor sapi diberi pakan bekatul yang
difermentasikan dan kelompok eksperimen 2 sebanyak 15 ekor sapi
diberi pakan bekatul yang tidak difermentasikan.
Karena sampel yang dijadikan unit-unit eksperimen homogeny
maka peneliti tinggal memfokuskan diri kepada pengendalian
variable penekan/pengganggu/luar yang berasal dari factor eksternal.
a. Eksperimen sejati menggunakan sampel dari populasi
terbatas yang homogen tanpa variable penekan
Jika seluruh variable pengganggu yang berasal dari lingkungan
eksternal dapat dikendalikan sepenuhnya maka peneliti dalam
merancang eksperimen harus memperhatikan berapa banyak
variable bebas yang dijadikan faktornya. Selain itu, peneliti juga
harus memperhatikan apakah sampel eksperimen yang digunakan
berupa sampel yang terdiri atas kelompok independen ataukah
sampel yang terdiri atas kelompok yan berpasangan/related.
(Subali, 2015)
1) Eksperimen sejati menggunakan dua kelompok sampel
independent
Dalam hal ini peneliti hanya menggunakan dua kelompok
independen sebagai sampel eksperimen karena factor
eksperimen hanya terdiri atas 2 taraf/lefel atau kategori/atribut.
Misalnya peneliti ingin menyelidiki perbedaan nilai rata-rata
berat tubuh antara sampel sapi limosin jantan yang dipelihara
peternak di kecamatan Cangkringan diberi pakan tambahan
ransum ampas kedelai sekali sehari dan diberi pakan tambahan
ransum ampas kedelai dua kali sehari. Sampel pertama maupun
kedua masing-masing terdiri atas 15 ekor sapi yang diundi
10

secara acak dari populasinya. Jika persyaratan keparametrikan


terpenuhi maka peneliti meggunakan rancangan teknik analisis
data berupa uji t sampel independen agar simpulan berlaku
pada tingkat populasi. Jika persyaratan keparametrikan tidak
terpenuhi, peneliti mengguakan rancangan teknik analisis data
berupa uji U Mann-Whitney. (Subali, 2015)
2) Eksperimen sejati menggunakan dua kelompok sampel
berpasangan / berhubungan / related
Dalam hal ini peneliti hanya mengenakan sekali perlakuan
terhadap sampel acak yang terdiri atas satu kelompok
eksperimen. Dalam hal ini, peneliti hanya akan membandingkan
antar nilai rata-rata sebelum dan sesudah perlauan. Misalnya
peneliti ingin menyelidiki apa akibat sapi impor jenis limosin
yang dijemnr diterik matahari mengingat sapi impor limosin
berasal dari kawasan subtropis. Untuk keperuan tersebut,
peneliti menggunakan sampel acak yang terdiri atas 15 ekor
sapi sebagai bagian dari populasi sapi limosin jantan yang
dipelihara peternak di kecamatan Cangkringan. Sapi-sapi
tersebut baru diimpor dari Australia pada tahun ini. Peneliti ingin
mengetahui kenaikan tekanan darahnya jika kelompok sapi
tersebut dijemur selama 6 jam, mulai dari jam 8 sampai jam 11.
Jika persyaratan keparametrikan terpenuhi maka peneliti
meggunakan rancangan teknik analisis data berupa uji t sampel
berpasangan/related agar simpulan berlaku pada tingkat
populasi. Jika persyaratan keparametrikan ternyata tidak
terpenuhi, peneliti mengguakan rancangan teknik analisis data
berupa uji bertanda Wilcoxon. (Subali, 2015)
b. Eksperimen sejati menggunakan sampel dari populasi
terbatas yang homogen dengan satu variable penekan yang
dapat diendalikan dengan blok
Variable pengganggu dapat muncul dari lingkungan eksternal
pada penelitian lapangan yang menggunakan objek tanaman,
meskipun sampel berasal dari populasi terbatas yang homogeny.
Misalnya, lahan untuk eksperimen tidak datar, sehingga tanah dan
humus bagian atas sangat tipis dan semakin kebawah semakin
tebal. Hal ini disebabkan oleh adanya limpasan permukaan air hujan
yang mengangkut butiran tanah dan humus ke bagian bawah. Oleh
karena itu, hanya pada ketinggian yang sama maka akan homoen
ketebalan tanah dan humusnya. Lahan akan menjadi homogeny
setelah diblok berdasarkan ketinggiannya. Jika lahan diblok menjadi
10 blok atas dasar urutan ketinggiannya maka blok 1 adalah blok
yang paling atas akan homogeny ketebalan tanah dan humusnya.
Blok II dibawah blok I juga akan homogeny ketebalan tanah dan
humusnya. Namun, ketebalan tanah dan humusnya akan lebih tbal
11

blok II dari pada blok I. Demikian pula hal yang sama akan terjadi
pada blok III dan seterusnya sampai blok X.
Peneliti dapat merancang eksperimen menggunakan sampel
acak dari populasi terbatas yang homogen yang disertai adanya
satu
variable
penekan/pengganggu
yang
masih
dapat
dihomogenkan dengan cara diblok. Dalam hal ini eksperimen
menggunakan dua sampel acak dengan kondisi lingkungan
eksternal homogen pada masing-masing blok dan factor/variable
bebas eksperimen hanya terdiri atas 2 taraf/level atau
kategori/atribut. Misalnya, peneliti ingin menyelidiki perbedaan nilai
rata-rata produktifitas tomat varietas unggul baru sebagai akibat
perbedaan jenis pupuk yang diberikan. Dalam hal inipeneliti ingin
membandingkan produktifitas tomat varietas unggul baru antara
menggunakan pupuk anorganik dan organic. Karena lahan berteras
sampai 10 teras dan diduga berbeda tingkat kesuburan dari masingmasing teras, maka pada setiap petak disediakan 2 unit lahan, satu
unit lahan untuk menanam tomat tersebut dan dipupuk
menggunakan pupuk organic, kemudian satu unit lahan kedua juga
untuk menanam kentang yang dipupuk menggunakan pupuk
anorganik. Dengan demikian tersedia 10 pasang data sampel dalam
eksperimen tersebut sesuai dengan bayaknya teras. Jadi seluruhnya
ad 20 unit lahan percobaan. Jika persyaratan keparametrikan
terpenuhi maka peneliti meggunakan rancangan teknik analisis data
berupa uji t sampel berpasangan/related agar simpulan berlaku
pada tingkat populasi. Jika persyaratan keparametrikan ternyata
tidak terpenuhi, peneliti mengguakan rancangan teknik analisis data
berupa uji bertanda Wilcoxon. (Subali, 2015)
2. Eksperimen Sejati Menggunakan Sampel dari Populasi
Terbatas yang Tidak Homogen
Populasi yang terbatas mempunyai kemungkinan tidak
homogennya antaranggotanya. Sebagai contoh populasi komodo di
pulau komodo terdiri dari komodo jantan dan betina dengan umur
dan ukuran tubuh yang bervariasi. Komodo betinanya ada yang
perawan, pernah beranak sekali, maupun 2 kali. Dengan kata lain,
populasi komodo tersebut terditi atas beberapa sub populasi. Oleh
karena itu, jika peneliti ingin mengadakan eksperimen menggunakan
komodo-komodo tersebut maka sampel yang diambil dari populasi
harus memperhatikan subpopulasinya.
Jika peneliti bereksperimen menggunakan sampel-sampel acak
dari populasi terbatas yang tidak homogeny maka sampel-sampel itu
harus ditarik secara acak dari setiap sub populasi. Dalam hal ini
peneliti hanya melibatkan satu factor dan hanya terdiri dari dua
taraf/level atau kategori/atribut. Sebagai contoh, peneliti ingi
mengetahui tekanan darah sapi lomosi n yang baru diimpor tahun ini
12

jika dijemur dibawah terik matahari selama sehari. Karena hanya ada
dua taraf/level yakni sapi limosin yang tidak dijemur dan dijemur
selama sehari, setiap subpopulasi diundi dua ekor sapi untuk
dijadikan sampel. Jika berdasarkan ukuran berat tubuh seluruh sapi
limosin jantan yang ada dibagi menjadi 6 subpopulasi yakni (1)
subpopulasi sapi dengan berat tuuh >500 kg, (2) subpopulasi sapi
dengan berat tuuh >450-500 kg, (3) subpopulasi sapi dengan berat
tuuh >400-450 kg, (4) subpopulasi sapi dengan berat tuuh >350-400
kg, (5) subpopulasi sapi dengan berat tuuh >300-350 kg, dan (6)
subpopulasi sapi dengan berat tuuh < 300 kg. diperlukan 12 ekor
sapi yang diambil secara acak dua ekor dari setiap subpopulasi.
Setiap dua sampel sapi yang diambil dari setiap subpopulasi adalah
sampel yang bersifat berpasangan/related karena setiap subpopulasi
berkedudukan sebagai blok. Jika persyaratan keparametrikan
terpenuhi maka data dianalisis menggunakan uji t sampel
berpasangan/related karena hanya ada dua pasang kelompok
eksperimen. Jika persyaratan keparametrikan ternyata tidak
terpenuhi, data dianalisis menggunakan uji peringkat bertanda
Wilcoxon. (Subali, 2015)
3. Prinsip
Perancangan
Penelitian
Eksperimen
Sejati
Menggunakan Sampel dari Populasi Terbatas
Peneliti dalam merancang penelitian eksperimen menggunakan
sampel acak dari populasi terbatas harus memperhatikan hal-hal
berikut (Subali, 2015):
a. Tujuan eksperimen untuk mencari dukungan atau bukti empiris
atas hipotesis yang dirumuskan, sehingga nantinya akan menjadi
simpulan yang berlaku pada tingkat populasi.
b. Ekperimen dilakukan pada tingkat sampel, bukan pada tingkat
populasi.
c. Agar diperoleh simpulan pada tingkat populasi, peneliti harus
memperhatikan persyaratan teknik analisis statistika inferensial
untuk mengolah data penelitiannya.
d. Kelayakan permasalahan ekperimen yang akan dilakukan.
e. Keterjangkauan/fisibilitas pelaksanaan eksperimen.
f. Respon yang terjadi pada variable tergayut harus dipastikan
merupakan akibat dari manipulasi variable bebas.
g. Kelompok yang tidak diberi perlakuan digunakan sebagai kelompok
pembanding.
4. Prosedur Penelitian Eksperimen Sejati menggunakan Sampel
dari Populasi Terbatas
Prosedur atau langkah-langkah yang harus ditempuh seorang
peneliti dalam melakukan eksperimen dengan populasi terbatas
adalah sebagai berikut (Subali, 2015):
a. Menetapkan permasalahan yang akan ditelitilengkap dengan latar
belakang alasan eksperimen yang akan dilakukan.
13

b. Menetapkan tujuan ekspertimen


c. Melakukan kajian pustaka untuk menjelaskan rasionalitas
hubungan variable bebas sebagai factor dan variable tergayut
sebagai respon.
d. Menetapkan banyaknya variable bebas yang akan dilibatkan
sebagai factor.
e. Menetapkan banyaknya taraf/level faktornya (jika faktornya
merupakan variable kuantitatif) atau kategori/atribut faktornya
(jika faktornya merupakan variable kualitatif).
f. Menetapkan banyaknya variable tergayut yang menjadi variable
respon.
g. Menyiapkan alat dan bahan yang digunakan untuk penelitian.
h. Menyiapkan sampel-sampel objek eksperimen yang harus ditarik
secara acak dari populasinya.
i. Menetapkan urutan langkah/prosedur kerja.
j. Menetapkan teknik analisis data.
k. Melaksanakan penelitian
l. Mengolah data hasil eksperimen
m. Melaporkan hasil eksperimen
n. Menyebarluaskan hasil eksperimen secara tertulis dengan
membuat laporan penelitian dan/atau artikel jurnal dan/atau poster
penelitian.
o. Menyebarluaskan hasil eksperimen secara lisan melalui forum
seminar hasil penelitian.
C. Prinsip dan Prosedur Perancangan Eksperimen Sejati
Menggunakan Sampel Populasi Tak Terbatas/Tak Berhingga
(Infinite Population)dengan Tujuan Pembandingan 2 kelompok
1. Penyiapan Sampel Untuk Eksperimen Jika Populasi Tak
Terbatas
Contoh:
Untuk mengetahui efek jenis pakan berbentuk pellet terhadap
pertumbuhan ikan lele, peneliti mendefinisikan bahwa populasi ikan
leleyang dimaksud adalah sesuai ukuran pellet), berat 2 ons, panjang
tubuh 20 cm, dan memperoleg sampel sebagaimana karakteristik
populasinya. Selain media tempat hidup, sumber variabel
penekan.pengganggu/ekstra/luar yang berasal ari faktor lingkungan
eksternal adalah faktor yang berkenaan dengan atmosfer, yang
diantaranya berupa faktor klimat, suara, dan kandungan gas yang
ada di dalamnya. Faktor klimat, baik faktor klimat makro dan faktor
klimat mikro. Faktor klimat mikro adalah faktor klimat yang terbentuk
secara khusus karena lingkungan yang khusus, misalnya faktor klimat
mikro yang terbentuk di bawah tajuk hutan. Dalam penelitian
lapangan,
faktor
makro
bukan
hanya
sebagai
variabel
penekan/pengganggu/ekstra/luar melainkan akan menjadi variabel
moderator.
Variable
moderator
merupakan
variabel
yang
14

mempengaruhi variabel bebas dan variabel tergayut sehingga


mempengaruhi hubungan sebab-akibat yang terjadi.
Penelitian eksperimen pada saat musim hujan akan
menghasilkan respon yang berbeda pada variabel tergayutnya
dibandingkan penelitian eksperimen yang dilaksanakan saaat musim
kemarau karena perbedaan musim akan mempengaruhi banyaknya
hujan, suhu udara, dan kelembapan udara. Faktor lingkungan berupa
suara akan menjadi variabel penekan/pengganggu/eksrtra/luar/jika
penelitian menggunakan hewan sebagai objeknya. Ayam tidak akan
bertelur jika tiba-tiba ada suara gaduh. Udara yang berasap akan
mempengaruhi
pernapadasn
hewan
yang
dijadikan
objek
eksperimen.
2. Rancangan Acak Lengkap (Completely Randomized Design)
Kemampuan peneliti dalam mengendalikan faktor lingkungan
akan sangat menentukan random assignment yang akan dilakukan
ketika akan mengenakan suatu macam perlakuan terhadap masingmasing unit eksperimen. Jenis-jenis rancangan eksperimen
berdasarkan kemampuan peneliti dalam mengendalikan faktor
lingkungan baik lingkungan internal dan lingkungan eksternal akan
berlaku sama, baik untuk rancangan eksperimen faktor tunggal
(single factor experiment design) maupun untuk rancangan
eksperimen faktor ganda (multi factors experiment design).
Rancangan eksperimen kaitannya dengan kemampuan peneliti dalam
mengendalikan faktor lingkungan disebut dengan sebutan singkat
menjadi rancangan lingkungan.
Di atas sudah diuraikan bahwa berkaitan dengan eksperiment
yang menggunakan kelompok sampel yang berasal dari populasi
yang tak terbatas (infinite population), peneliti harus mencari
kelompok sampel yang sesuai dengan definisi karakteristik agar tidak
muncul variabel pengganggu yang berasal dari lingkungan internal,
akan tersedia kapanpun dan dimanapun adanya populasi penelitian
yang anggotanya benar-benar sama atau setidaknya homogeny atas
ciri-ciri tertentu yang jika tidak disamakan atau dihomogenkan akan
mempengaruhi hasil eksperimen.
Contoh:
Peneliti ingin meneliti pengaruh dosisi pupuk buaya tersebut
harus memiliki helaian daun yang sama banyaknya, setiap helaian
daun sama/homogenya panjangnya, /setiap helaian daun juga
sama/homogen lebar bagian terlebarnya. Jika anakan tanaman
tersebut diperoleh dari penanaman, umurnya pun dapat diharapkan
sama/homogen.
Setiap populasinya didefinisikan dengan jelas, sampel tinggal
dipilih sesuai dengan karakteristik/criteria populasinya. Jumlah
sampel yang dibutuhkan akan sebanding dengan banyaknya taraf
15

perlakuan serta banyaknya ulangan. Jika raeaf dosis pupuk urea yang
digunakan ada 3 taraf/level perlakuan, yakni 0 g/pot, 5 g/pot dan 10
g/pot, kemudian setiap jenis perlakuan ditetapkan dengan
replikasi/ulangan 10 kali, diperlukan 30 batang tanaman lidah buaya.
Pekerjaan kedua peneliti adalah menetapkan faktor lingkungan
eksternal yang kondisinya sama atau setidaknya homogen. Jika
tanaman lidah buaya yang sudah sama/homogeny ukurannya
ditanam dalam pot yang sama ukurannya, tebal tanah dalam pot juga
sama, jenis tanahnya sama, tingkat kesuburan sama (dengan
mencampur tanah berulang-ulang), dapat kita nyatakan bahwa
media tumbuh homogen. Jika eksperimen dilaksanakan di rumah
kaca, otomatis lingkungan eksternal yang berkait dengan faktor
klimat juga akan sama.
3. Rancangan Acak Lengkap (Completely Randomized Design)
yang Melibatkan 1 Faktor
Eksperimen dengan model rancangan acak berlaku baik
terhadap eksperimen faktor tunggal (single factor experiment) atau
eksperimen bivariat (karena hanya ada satu variabel bebas) maupun
eksperimen faktor ganda (multiple factor experiment). Rancangan
acak lengkap pada eksperimen satu faktor dapat dirancang lebih
lanjut berdasarkan banyaknya taraf/level atau kategori/atribut
faktornya. Adapun kemungkinan rancangannya antara lain adalah
sebagai berikut.
a. Rancangan acak lengkap pada eksperimen faktor tunggal
menggunakan sampel independen.
Jika
peneliti
merancang
eksperimen
faktor
tunggal
menggunakan rancangan acak lengkap dan sampel yang
digunakan adalah sampel indepenen, berdasarkan banyaknya
taraf/level atau kategori/atribut faktor dalam eksperimennya
memiliki 2 kemungkinan. Namun, yang akan dibahas pada kali ini
adalah ketika peneliti menggunakan k kelompok sampel
independen sebagai unit-unit eksperimen karena variabel bebas
yang dijadikan faktor hanya tersiri atas k taraf/level atau
kategori/atribut. Misalnya, peneliti ingin menyelidiki perbedaan
nilai rata-rata berat tubuh antara anak ayam potong yang diberi
jenis ransum yang berbeda. Kelompok I diberi ransum bekatul
difermentasi. Kelompok sampel II diberi ransum bekatul dicampur
ampas tahu dan difermentasi. Kelompok sampel III diberi ransum
bekatul dicampur ampas ketela dan difermentaso. Kelompok IV
diberi ransum bekatul dicampur ampas tahu tanpa difermentasi.
Kelompok V diberi ransum bekatul dicampur ampas ketela tanpa
difermentasi. Jika dilakukan replikasi 10 kali, diperlukan 50 ekor
anak ayam potong dengan varietas, jenis kelamin dan umur yang
sama serta berat awal homogeny sebnyak 50 ekor. Kemudian
16

dilakukan random assignment segingga terbagi menjadi 5


kelompok ayam yang masing-masing memperoleh satu macam
ransum.
Selain itu, pastikan selama berlangsungnya pelaksanaan
eksperimen kondoso tetap dijamin sama, baik itu ukuran kandang,
banyaknya ayam setiap kandang, waktu pemberian pakan, jenis air
minum dan vitamin yang diberikan, maupun variabel pengganggu
lainnya. Jika persyaratan keparametrikan terpenuhi, peneliti akan
menggunakan uji ragam/variansi satu jalur untuk menganalisis
data sampel kedua kelompok sampel sapi yang menjadi unit-unit
ekperimennya agar simpulan berlaku pada tingkat populasi.
Sumber-sumber variasi dalam analisis ragam tersebut yaitu:
a. Jenis pakan
b. Kekeliruan/galat/error eksperimen.
Jika persyaratan tidak terpenuhi, peneliti akan menggunakan
uji ragam/variansi berperingkat Kruskall Wallis atau disingkat uji
Kruskall Wallis.
4. Eksperimen
Faktor
Tunggal
Menggunakan
Sampel
Berhubungan/Related
Jika
peneliti
merancang
eksperimen
faktor
tunggal
menggunakan sampel berpasangan/berhubungan dari populasi
yang tak terbatas yang homogen, yang harus diperhatikan adalah
berapa banyak perlukannya. Oleh karena itu, pada kesempatan kali
ini yang akan dibahas yaitu ketika peneliti mengenakan lebih dari
satu perlakuan pada satu kelompok sampel sebagai unit-unit
eksperimennya. Kemudian peneliti membandingkan antarnilai ratarata sebelum perlakuan dan sesudah perlakuan ke-1, ke-2, sampai
perlakuan ke-k.
Misal:
Peneliti ingin meneliti apa akibat sapi impor dijemur diterik
matahari, mengingat sapi diimpor dari kawasan subtropis. Peneliti
memilih salah satu jenis sapi impor kemudian dipilih lagi yang
berjenis kelamin sama, kemudian umur, berat tubuh, lingkar dada,
lingkar perut dan panjang tubuh homogeny sebanyak 15 ekor.
Peneliri ingin mengetahui kenaikan tekanan darahnya jika sapi
dijemur dalam sehari selama 2 jam, 4 jam, 6 jam dan 8 jam. Agar
supaya tidak ada efek dari penjemuran sebelumnya, setelah diberi
perlakuan, sapi-sapi sampel tersebut diistirahatkan/tidak dijemut
selama 2 hari. Setiap selesai perlakuan sapi diukur tekanan
darahnya. Dengan demikian, peneliti memiliki data tekanan darah
15 ekor sapi yang dijadikan unit-unit eksperimennya pada kondisi 1.
Setelah dijemur 2 jam, 2. Setelah dijemur 4 jam, 3. Setelah dijemur
6 jam dan 4. Setelah dijemur 8 jam. Jadi terdapat 4 nilai rata-rata
17

tekanan darah sapi yang akan diperbandingkan. Selain itu, 15 ekor


sapi tersebut harus dirawat dengan cara yang ama dan ditempatkan
[ada tempat yang sama pula. Intinya eksperimen harus terbebas
dari variabel pengganggu selama berlangsungnya pelaksanan
eksperimen. Jika persyaratan keparametrikan terpenuhi, peneliti
menggunakan uji ragam/variansi dua jalur untuk meganalisis data
sampel kelompok sampel sapi sebagai unit-unit eksperimennya agar
simpulan berlaku pada tingkat populasi. Sumber-sumber variasi
dalam analisis ragam tersebut yaitu:
a. Lama penjemuran
b. Individu sapi sebagai blok
c. Kekeliruan/galat/error eksperimen
Jika peneliti dalam eksperimen lain dengan pola yang sama
peneliti tidak mampu memenuhi persyaratan keparametrikan, ia
harus menggunakan uji ragam/variansi dua jalur berperingkat
Friedman atau disingkat dengan uji Friedman menganalisis datanya
5. Rancangan acak berblok (Completely Randomized Blok
Design) yang melibatkan satu faktor
Dalam suatu eksperimen tidak selalu peneliti dapat
mengendalikan semua bariabel penekan/pengganggu. Dengan
demikian, peneliti tidak dapat menggunakan rancangan acak
lengkap. Sebagai contoh pada awalnya peneliti sudah merancang
baha dengan menggunakan objek eksperimen berupa semai
tanaman cendana, ia berharap dapat memperoleh semai sama
banyak helaian daunnya, homogeny tinggi dan diameter batangnya
serta luas helaian-helaian daunnya. Namun setelah mengumpulkan
biji cendana dari hutan kemudian disemai, ternyata semai tidak
tumbuh serempak. Akibatnya ukuran semai tidak homogeny,
beragam ada yang besar dan ada yang kecil, bahkan sangat kecil.
Jadi jika kemudian semai tersebut dijadikan unit-unit eksperimen,
ada kelompok sampel yang sangat besar, agak besar dan sampai
yang sanagt kecil. Dengan sendirinya kelompok sampel ini mewakili
populasi semai cendana yang berkarakteristik sebagimana ukuran
semai sampel. Dengan demikian, ada satu variabel pengganggu
yaitu ukuran semai cenana.
Jika suatu variabel pengganggu yang dihadapi peneliti dapat
dihomogenkan dengan cara diblok, peneliti dapat menerapkan
rancangan
acak
berblok
(randomized
completely
block
design).Eksperimen dengan model rancangan acak berblok berlaku
baik terhadap eksperimen faktor tunggal maupun bivariat maupun
faktor ganda. Rancangan acak berblok pada eksperimen satu faktor
dapat dirancang lebih lanjut berdasarkan banyaknya taraf/level.
Eksperimen dengan model rancangana acak berblok berlaku
baik terhadap eksperimen bivariat maupun faktor ganda.
18

Rancangan acak berblok pada eksperimen satu faktor dapat


dirancang lebih lanjut berdaarkan banyaknya level atau kategori
faktornya. Adapun salah satu kemungkinannya adalah eksperimen
faktor tunggal menggunakan k sampel sebagai unit eksperimennya
dalam setiap blok karena faktor eksperimennya terdiri atas k
taraf/level atau kategori/atribut.
Misal:
Peneliti ingin menyelidiki perbedaan nilai rata-rata perbedaan
produktivitas kentang terhadap beberapa jenis pupuk kompos. Ada
empat kategori jenis pupuk kompos yang digunakan pada
eksperimen ini. Jenis pupuk kompos I berbahan dasar kotoran sapi,
pupuk kompos II berbahan dasar kotoran kambing, pupuk kompos II
berbahan dasar kotoran ayam kampong dan pupuk kmpos IV
berbahan dasar kotoran ayam potong. Hasil analisis lab
menunjukkan kadar proteinnya berbeda satu sama lain. Dengan
demikian, pada setiap petak kebun di setiap teras disediakan 4 unit
petak tanaman kentang yang siap diberi pupuk dengan salah satu
jenis pupuk yang telah disiapkan. Karena homogenitas petak
eksperimen ada pada masing-masing petak kebun, dilakukan
random assignment dengan mengundi petak tanaman kentang
mana yang dipupuk menggunakan kompos I, II, III dan IV. Jika
persyaratan keparametrikan terpenuhi, peneliti akan menggunakan
uji ragam/variansi dua jalur ntuk menganalisis data agar simpulan
berlaku pada tingkat populasi. Sumber variasinya berupa:
a. Jenis pupuk
b. Petak kebun (akibat dibuat berteras) sebagai blok
c. Kekeliruan/galat/error eksperimen.
Jika peneliti dalam eksperimen yang lain ternyata tidak
memenuhi
persyaratan
keparametrikan,
digunakan
uji
ragam/variansi dua jalur berperingkat Friedman atau disingkat uji
Friedman.Namun sebagai batasan makalah ini, pembandingan yang
menjadi ranah makalah ini hanya pembandingan dua kelompok saja.
Sehingga pembandingan k nilai rata-rata pada uji varian tidak
digunakan dalam analisis pembandingan 2 kelompok data.
Tujuan pembandingan dua kelompok data hanya dapat
dilakukan dengan analisis dua kelompok saja yaitu dependent dan
independent yang harus meninjau sifat keparametrikannya pula.
data tidak berpasangan parametrik dilanjutkan dengan melihat
homogentiasnnya homogen dan tidak homogen
data tidak berpasangan non parametrik Uji U Mann Whitney
data berpasangan parametrik Uji t berpasangan
data berpasangan non parametrikUji Wilcoxon

19

BAB III
PENUTUP
Berdasarkan hasil diskusi kelompok dan studi literatur yang
dijelaskan dalam pembahasan, dapat disimpulkan bahwa spesifikasi
perancangan penelitian Biologi pola bivariat menggunakan metode
eksperimen sejati dengan tujuan pembandingan dua kelompok terbagi
dalam populasi terbatas (finite population) dan populasi tak terbatas
(infinite population). Prinsip utama penelitian eksperimen sejati adalah
pengendalian penuh suatu variabel pengganggu dan pemberian suatu
taraf/ level atau kategori/atribut perlakuan terhadap unit eksperimen
dilakukan dengan mengundi terhadap setiap unit eksperimen. Syaratsyarat yang harus dipenuhi yaitu:
1. pertanyaan penelitian belum terjawab sebelumnya
2. sistematis
3. objeknya adalah fenomena-fenomena mahkluk hidup
4. terdapat manipulasi secara sengaja oleh peneliti
5. terdapat variabel bebas dalam bentuk perlakuan yang diduga mempengaruhi
variabel tergayut
6. pengendalian penuh suatu variabel pengganggu
7. pemberian suatu taraf/ level atau kategori/atribut perlakuan terhadap
unit eksperimen dilakukan dengan mengundi terhadap setiap unit
eksperimen
8. pembandingan yang dilakukan adalah pada setiap 2 kelompok data
sesuai dengan tujuan walaupun tetap diperbolehkan lebih dari 2
kelompok data yang diteliti.
Contoh permasalahan yang dapat dipecahkan dalam makalah ini
adalah perlakuan kadar pupuk kompos terhadap pertumbuhan tanaman
tomat pelangi;respon sapi terhadap jenis pakan; respon tekanan darah
kelompok sapi jika kelompok sapi tersebut dijemur selama 6 jam dan
tidak;produktifitas tomat varietas unggul baru antara menggunakan
pupuk anorganik dan organic; dll.

20

DAFTAR PUSTAKA
Ary, Donald, Jacobs, L. C. dan Razavieh, Asghar. 2011. Pengantar
Penelitian dalam Pendidikan, Terjemahan Arief Furchan. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Creswell, John W. 2008. Educational Research: Planning, Conducting, and
Evaluating Quantitative and Qualitative Research. New Jersey:
Pearson Education Inc.
Emzir. 2012. Metodologi Penelitian Pendidikan: Kuantitatif dan Kualitatif.
Jakarta: Rajawali Pers.
Gall, M.B., Gall, J.P. and Borg, W.R. 2003. Educational Research: An
Introduction. New York: Pearson Education Inc.
McMillan, James H. 2012. Educational Research: Fundamentals for The
Consumer. Sixth Edition. Virginia: Pearson.
Subali, Bambang. 2015. Metodologi Penelitian Biologi dan Biologi Terapan.
Yogyakarta: UNY Press.
Sukardi. 2013. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

21