Anda di halaman 1dari 4

Kasus PT TELKOM Tbk

PT Telkom adalah perusahaan informasi dan telekomunikasi serta penyedia jasa dan
jaringan telekomunikasi secara lengkap di Indonesia. PT Telkom mengklaim bahwa dirinya
sebagai perusahaan telekomunikasi terbesar di Indonesia, dengan jumlah pelanggan telepon
tetap sebanyak 15juta dan pelanggan telepon seluler sebanyak 104 juta.
PT Telkom merupakan salah satu BUMN yang sahamnya dimiliki oleh pemerintah
Indonesia (52,47% dan 47,53% dimiliki oleh public, Bank of New York, dan investor dalam
Negeri). Selain itu PT Telkom juga merupakan pemegang saham mayoritas di 13 anak
perusahaan termasuk PT Telekomunikasi Seluler (Telkomsel).
Cikal bakal PT Telkom bermula dari didirikannya sebuah badan usaha swasta
penyedia layanan pos dan telegraf pada tahun 1882. Layanan komunikasi tersebut
dikonsolidasikan oleh pemerintah hindia Belanda ke dalam jawatan post telgraf (PTT).
Namun sebelum tahun 1882, pada tanggal 23 Oktober 1856 telah dimulai pengoperasian
layanan jasa telegraf elektromagnetik pertama yang menghubungkan Jakarta (Batavia)
dengan Bogor (Buitenzorg). Momen itulah yang dijadikan sebagai hari lahir PT Telkom.
PT Telkom awalnya memiliki reputasi yang baik di Bursa Efek Jakarta (BEJ) dan
New York Stock Exchange. Namun dengan berjalannya waktu , pada tahun 2002 PT
TELKOM mengalami masalah yaitu masalah mekanisme tender untuk mengaudit
keuangannya. Untuk mengaudit pembukuan PT Telkom tahun 2002 perusahaan menunjuk
KAP Eddy Pianto sementara untuk PT Telkomsel ditunjuk KAP Hadi Sutanto.
KAP Hadi Sutanto dan Rekan merupakan KAP yang mendapatkan kepercayaan untuk
mengaudit PT Telkomsel yaitu sebuah anak perusahaan dari PT Telkom. KAP HS dan Rekan
dalam perjalanannya mengundurkan diri untuk mengaudit PT Telkomsel. Hal itu
dimaksudkan unuk menghindari kerugian yang akan dialami di kemudian hari, bila akan
berafiliasi dengan KAP Edi Pianto dan Rekan.
Adapun alasan Pengunduran diri KAP HS, yaitu :
a) KAP HS tidak mau berafiliasi dengan KAP EP
b) KAP HS meragukan kelayakan hak praktek KAP EP dihadapan BAPEPAM AS
c) KAP HS mengetahui SEC (Security Exchange Commision) tidak mengakui keberadaan KAP
EP berkaitan dengan keraguannya atas kompetensi dan independensi yang dimiliki oleh para
auditornya.

d) KAP HS ketika mengaudit PT Telkomsel meminta izin untuk melihat 20-F seluruhnya
terlebih dahulu. Permintaan tersebut ditolak oleh PT Telkom karena waktunya yang sangat
krusial serta tidak ada hubungannya dengan KAP HS, dan juga segera dilaporkan ke SEC.
Sedangkan KAP EP dan Rekan adalah KAP yang ditunjuk untuk melakukan audit dan
konsolidasi pada PT Telkom. KAP EP adalah KAP yang melanjutkan audit PT Telkomsel
setelah ditinggal oleh KAP HS.
Kasus audit PT Telkom berawal dari kesalahan interprestasi uang dilakukan oleh KAP
Haryanto Sahari dan Rekan terhadap PT Telkom, PT Telkomsel dan United State Securities
an Exchange Commisions mengenai ketentuan standar audit Amerika. Audit PT Telkomsel
harus mengikuti standar audit Amerika dengan merujuk pada peraturan SEC Karena PT
Telkomsel membuka bursa di NYSE. Aturan SEC yang harus dijalani adalah:
a) Filing F-20 yaitu form laporan keuangan dan laporan manajemen dengan KAP yang
terpercaya.
b) Kewajiban untuk menyampaikan laporan keuangan yang telah di audit oleh auditor
independen secara berkala setiap tahun.
Karena waktunya sangat terbatas KAP EP meminta hasil audit yang dahulu pernah
dilakukan oleh KAP HS, tetapi KAP HS menolak untuk memberitahu hasil audit yang pernah
dilakukannya.
KAP Eddy Pianto pada awalnya berhak melakukan pekerjaan audit atas nama Grant
Thornton

berdasarkan engagement

latter yang

telah

ditandatangani

sebelum

tanggal withdrawal agreement tersebut. Namun untuk memahami US GASS dan GAAP
dalam rangka filin form 20-F, KAP Eddy Pianto meminta bantuan dari Mark Iwan, certified
Public Accountant independen yang bukan merupakan partner dari Grant Thornton untuk
memberi pelatihan dan konsultasi.
Penolakan tersebut telah menyebabkan perdagangan saham PT Telkom yang tercatat
di New York Stock Exchange dalam bentuk IDR dihentikan sementara. Harga saham PT
Telkom di Bursa Efek Jakarta turun secara drastis dari harga penutupan sehari sebelumnya,
serta memberikan pengaruh yang cukup signifikan terhadap penurunan Indeks Harga
Gabungan (IHG).
Adapun masalah yang timbul, yaitu :
a) Masalah muncul pada saat laporan audit (konsolidasi) tentang total kinerja PT Telkom yang
di audit oleh KAP Eddy Pianto ditolak oleh PwC (Pricewaterhouse Coopers). Alasannya
adalah lembaga itu tidak mau berasosiasi dengan pekerjaan KAP Eddy Pianto. Sikap itu
dilakukan untuk menghindari kerugian di kemudian hari.

b) KAP HS dan rekan mencoba untuk menyesatkan dan merugikan para pemegang saham dari
perseroan induk maupun anak perusahaan yakni TELKOM dan TELKOMSEL.
c) KAP HS dan KAP EP melanggar peraturan BAPEPAM tentang persaingan yang tidak sehat
antara sesama auditor.
d) Tindakan yang dilakukan oleh KAP HS yaitu tidak mengizinkan KAP EP untuk memakai
acuannya sehingga KAP EP harus memulainya lagi dari awal tanpa mengetahui dokumendokumen apa saja yang pernah di audit.
Penyelesaian Kasus PT.TELKOM Tbk
1. Adapun sanksi terhadap KAP Eddy Pianto dan Rekan, yaitu BAPEPAM

mewajibkan KAP Eddy Pianto, Partner KAP Eddy Pianto untuk tidak melakukan
kegiatan usaha di pasar modal terhitung sejak tanggal 16 Juni 2003 sampai
diputuskan lebih lanjut oleh BAPEPAM. Alasannya, karena laporan keuangan
konsolidasi PT Telkom tahun Buku 2002 ditolak oleh SEC.
2. Adapun sanksi terhadap KAP HS dan Rekan, yaitu KAP HS harus membayar
denda sebesar Rp 20 milyar ke Kas Negara dengan Undang-Undang paksa sebesar
Rp 10 juta per hari. Denda tersebut harus dibayar maksimal 30 hari setelah
pemberitahuan keputusan dari KPPU (Komisi Pengawas Persaingan Usaha).
Sanksi ini dikenakan karena KAP HS dan Rekan terbukti bersalah dan
mengakibatkan rusaknya kualitas audit KAP Eddy Pianto atas Laporan Keuangan
Konsolidasi PT Telkom tahun buku 2002.
Analisis Kasus
Secara umum atau garis besar di dalam kasus tersebut dikatakan bahwa KAP Hadi
Sutanto dikenakan sanksi dengan membayar sebesar Rp 20 milyar ke kas Negara karena
terbukti bersalah dan mengakibatkan rusaknya kualitas audit KAP Eddy Pianto atas Laporan
Keuangan Konsolidasi PT Telkom tahun buku 2002. Karena rusaknya kualitas audit KAP
Eddy Pianto tersebut sanksi yang diberikan oleh BAPEPAM terhadap KAP Eddy Pianto dan
rekan yaitu untuk tidak melakukan kegiatan usaha di pasar modal terhitung sejak tanggal 16
Juni 2003 sampai diputuskan lebih lanjut oleh BAPEPAM. Sanksi tersebut diberikan karena
laporan keuangan konsolidasi PT Telkom tahun Buku 2002 ditolak oleh SEC.
Dari kasus tersebut terlihat bahwa antara KAP Hadi Sutanto beserta rekan dan KAP
Edi Pianto beserta Rekan tidak menjalin hubungan yang baik diantara kedua belah pihak

tersebut. Seharusnya sesama Kantor Akuntan Publik perlu bekerja sama dan saling
mendukung dalam menjalankan tugas sebagai seorang auditor sehingga dengan saling adanya
kerjasama diantara kedua belah pihak, maka akan dapat menciptakan kualitas laporan
keuangan yang handal. Selain itu, para auditor juga hendaknya menjaga profesionalitas agar
reputasi saham di pasar tetap baik. Dimana profesionalitias seorang auditor tersebut dalam
menjalankan tugasnya merupakan asset penting yang harus dimiliki.
Analisis Kasus Berdasarkan Sudut Pandang Corporate Governance
1. Berdasarkan materi Corporate Governance yang telah kelompok kami pelajari, kasus
PT Telkom ini mengakibatkan penurunan drastis harga saham PT Telkom dan
penurunan IHG (Index Harga Gabungan). Hal ini sangat bertentangan dengan manfaat
Good Corporate Governance, dimana salah satu manfaat jika penerapan GCG
dilakukan dengan baik yaitu meningkatkan nilai saham perusahaan. Hal ini terjadi
karena terjadi konflik antara kedua KAP (KAP HS & KAP EP) sehingga terjadi
penurunan harga saham PT.Telkom.
2. Berdasarkan Prinsip-Prinsip Good Corporate Governance(TARIF) dengan berfokus
pada prinsip independensi, SEC tidak mengakui KAP EP berkaitan dengan keraguan
atas

kompetensi

dan

independensi

auditor

yang

menyebabkan

KAP HS

mengundurkan diri. Seharusnya PT Telkom menunjuk auditor yang sesuai dengan


ketentuan SEC, dalam hal kompetensi dan independensi auditor. Hal ini dikarenakan
PT Telkomsel mengikuti standar audit Amerika dengan merujuk pada SEC.
Rekomendasi agar kasus serupa tidak terjadi yakni sebagai berikut :
1. Perusahaan dan KAP seharusnya menjalankan tugas sesuai dengan aturan yang telah
ditetapkan
2. Perusahaan seharusnya menunjuk KAP yang sesuai dengan ketentuan SEC agar laporan
keuangan dapat diterima dengan baik.
3. Sesama Kantor Akuntan Publik perlu bekerja sama dan saling mendukung dalam
menjalankan tugas sebagai seorang Auditor.
4. Para Auditor hendaknya menjaga profesionalitas atau kinerja kerjanya supaya reputasi saham
di pasar tetap baik.
5. Professionalitas seorang auditor dalam menjalankan tugasnya merupakan asset penting yang
harus dimiliki.