Anda di halaman 1dari 68

LAPORAN MINI RISET

TAK ADA HITAM DI ATAS PUTIH


STRATEGI KOPING MAHASISWA UIN SUSKA PASCA MEMUTUSKAN
HUBUNGAN BERPACARAN

OLEH:
PUTRIANA / 10961005439
DOSEN PEMBIMBING
LISYA CHAIRANI, M.Psi, Psi

FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SULTAN SYARIF KASIM
RIAU
2012
DAFTAR ISI
DAFTAR
ISI..................................................................................................
....... 1
BAB I
:
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG.............................................................. 2

B. PERUMUSAN MASALAH..................................................... 2
C. MAKSUD DAN TUJUAN PENELITIAN............................... 3
D. MANFAAT PENELITIAN...................................................... 3
BAB II : LANDASAN TEORITIS
A. STRATEGI KOPING.............................................................. 4
B. HUBUNGAN ANTARPRIBADI........................................
6
C. GANGGUAN DALAM HUBUNGAN ANTARPRIBADI........ 7
BAB III :
METODE PENELITIAN
A. DESAIN PENELITIAN.......................................................... 8
B. SUBJEK PENELITIAN........................................................... 8
C. METODE PENGUMPULAN DATA....................................... 8
D. METODE ANALISIS DATA .................................................. 8
BAB IV :
PELAKSANAAN PENELITIAN, HASI PENELITIAN,
DAN PEMBAHASAN
A. PELAKSANAAN PENELITIAN............................................. 9
B. HASIL PENELITIAN........................................................ .... 9
C. PEMBAHASAN................................................................. .... 12
BAB V
:
PENUTUP
A. KESIMPULAN.................................................................. .... 14
B. SARAN-SARAN................................................................. .... 14
DAFTAR PUSTAKA.................................................................... 14
LAMPIRAN

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Pacaran sangat akrab dengan kehidupan remaja. Pacaran menurut remaja adalah suatu
ikatan perasaan cinta dan kasih antara dua individu yakni laki-laki dan perempuan untuk
menjalin suatu hubungan yang lebih dekat, pada esensinya untuk saling mengenal lebih jauh,
untuk membina hubungan saling pengertian dan perhatian atau untuk mencari pasangan hidup
yang dianggap cocok. Hubungan sebagai sesuatu yang terjadi bila dua orang saling
mempengaruhi satu sama lain, bila yang satu bergantung pada yang lain (Kelly, 1983 dalam
Freedman dkk 1985).

B.
1.
2.
3.

Remaja yang memasuki perguruan tinggi atau perkuliahan mendapatkan banyak materi
kognitif dan pengalaman yang lebih mendewasakan pola berfikir. Mereka dapat merencanakan
masa depan yang lebih realistis. Masa remaja yang transisi mulai terlewatkan. Kondisi emosional
dan kognitif yang matang membuat remaja dapat menganalisa hakikat dan mengevaluasi apa
yang dilakukannya.
Evaluasi tidak terkecuali pada hubungan keterikatan emosional dengan lawan jenis atau
pacar, dimana pacar merupakan pribadi yang memberi kasih sayang, perhatian, dan selalu
menemani dalam kondisi diperlukan. Banyak peran pacar yang dirasakan sehingga menimbulkan
rasa keterikatan sesama pihak.
Hubungan berpacaran mendapatkan stigma negatif dalam lingkungan pendidikan
maupun masyarakat karena hubungan ini banyak menimbulkan dekadensi moral bagi remaja.
Seks pra-nikah banyak terjadi pada hubungan ini. Oleh karena itu, meskipun telah memiliki
keterikatan emosional, remaja yang telah menyadari dan memahami dampak negatif tersebut
akan memutuskan hubungan berpacaran dengan suatu tekad yang kuat.
PERUMUSAN MASALAH
Penelitian ini menggunakan pertanyaan penelitian:
Apa sebabnya memutuskan pacar?
Bagaimana kondisi psikologis setelah memutuskan pacar?
Bagaimana bentuk strategi koping untuk mengatasi masalah psikologis setelah memutuskan
pacar?

C. MAKSUD DAN TUJUAN PENELITIAN


Penelitian ini dilakukan dalam rangka memenuhi tugas akhir Mata Kuliah Psikologi
Kualitatif, serta melatih penulis untuk mengadakan riset mini. Riset mini diharapkan dapat
memberi gambaran mengenai penelitian kualitatif.
D. MANFAAT PENELITIAN
Penelitian ini dapat bermanfaat untuk menambah pengetahuan mengenai penelitian
kualitatif itu sendiri. Selain itu untuk mengetahui bentuk-bentuk strategi koping bagi mahasiswi
khususnya setelah mengambil keputusan untuk memutuskan pacar. Keputusan yang dilandasi
oleh motif tertentu bagi memperlancar kuliah dan mencapai impian.

BAB II
LANDASAN TEORITIS
A. Strategi Koping
1. Pengertian Strategi Koping
Strategi koping adalah upaya, baik secara mental maupun perilaku, untuk menguasai,
mentoleransi, mengurangi atau meminimalisasikan suatu situasi atau kejadian yang penuh
tekanan. Dengan kata lain, strategi koping merupakan suatu proses dimana individu berusaha
untuk menangani dan menguasai situasi stress yang menekan akibat dari masalah yang sedang
dihadapi dengan cara melakukan perubahan kognitif maupun perilaku untuk memperoleh rasa
aman dalam dirinya (Mutadin, 2002).
Penilaian strategi koping dapat berubah sesuai kondisi dan tingkat masalah yang
dihadapi. Menurut lazarus, strategi koping didefinisikan sebagai upaya mengatasi sters, yang
memerlukan proses kognitif dan afektif untuk menyesuaikan diri terhadap sters dan bukan
memberantas stress (Davidson, Neale, &Kring, 2006: 275).
Menurut Feldman dalam bukunya Understanding Psychology, koping adalah usaha yang
dilakukan untuk mengendalikan, mengurangi atau belajar untuk mentoleransi ancaman yang
dapat menimbulkan sters (Feldman, 1999: 513). Baron dan Byrne (Baron, 2005: 237)
mengatakan coping adalah respon-respon terhadap stress dalam cara yang akan mengurangi
ancaman dan efeknya, termasuk apa yang dilakukan, dirasakan, atau dipikirkan seseorang dalam
rangka menguasai, menghadapi, ataupun mengurangi efek-efek negative dari situasi-situasi
penuh tekanan. Kamus Istilah Konseling dan Terapi mendefenisikan koping sebagai berbagai

ragam respon spontan yang meredakan rasa tegang individu selama waktu-waktu stress
(Mappiare, 2006: 66).
Jadi, dapat disimpulkan bahwa strategi koping adalah usaha-usaha mental dan perilaku
yang dilakukan oleh individu untuk mengendalikan, mengatasi, mengurangi atau mentoleransi
berbagai keadaan dan situasi yang dapat menimbulkan tekanan terhadap individu.
2. Jenis-Jenis Strategi Koping
Menurut Lazarus (1991), dalam menghadapi stress terdapat dua jenis strategi koping
yang biasanya digunakan oleh individu yaitu problem-focused coping dan emotion-focused
coping (dalam Arianti, 2002: 19) :
a. Problem-focused coping
Problem-focused coping adalah usaha individu untuk mengurangi atau menghilangkan stress
dengan cara menghadapi masalah yang menjadi penyebab timbulnya stress secara langsung
(Lazarus and Folkman, 1980 dalam Diponegoro, 2001: 52). Problem-focused coping mencakup
bertindak secara langsung untuk menatasi atau mencari informasi yang relevan dengan solusi.
Dalam strategi koping Problem-focused coping individu secara aktif mencari penyelesaian dari
masalah untuk menghilangkan kondisi atau situasi yang menibulkan stress (Mutadin, 2002).
Menurut Parker dan Endler (1996) ada lima dimensi dalam Problem-focused coping(dalam
Arianti, 2002: 20-22), yaitu:
1 Perilaku aktif mengatasi stress (active coping) adalah proses pengambilan langkah aktif untuk
mencoba memindahkan atau menghilangkan sumber stress untuk mengurangi akibatnya.
2 Perencanaan (planning) melibatkan pemikiran ke masa depan dengan strategi tindakan tentang
langkah yang akan diambil untuk mengatasi masalah.
3 Penekanan kegiatan lain (suppression of competing activities) adalah pembatasan ruang gerak
atau aktivitas diri yang tidak berhubungan dengan masalah agar dapat berkonsentrasi penuh pada
masalah yang sedang dialami.
4 Pengendalian perilaku mengatasi stress (restrain coping) adalah latihan mengendalikan dengan
menunggu kesempatan yang tepat untuk bertindak, menahan respon individu atau tidak bertindak
terlalu cepat.
5 Mencari dukungan social berupa bantuan (seeking support for instrumentall reasons) dengan
alasan mendapatkan cara mengatasi masalah.
b. Emotion-focused coping
Emotion-focused coping adalah usaha individu untuk mengurangi atau menghilangkan stress
yang dirasakannya tidak dengan menghadapi secara langsung tetapi lebih pada usaha untuk
mmpertahanan keseimbangan afeksinya (Lazarus and Folkman, 1980 dalam Diponegoro, 2001:
52). Emotion-focused coping merujuk pada berbagai upaya untuk mengurangi berbagai reaksi
emosional negative terhadap stress. Dalam Emotion-focused coping, individu melibatkan usahausaha untuk mengatur emosinya dalam rangka menyesuaikan diri dengan dampakk yang akan
ditimbulkan oleh suatu kondisi atau situasi yang penuh tekanan (Mutadin, 2002).
Menurut Parker dan Endler (1996) ada lima dimensi dalam Emotion-focused coping(dalam
Arianti, 2002: 23-24), yaitu:

1. Mencari dukungan social untuk alasan emosional (seeking support for emotional reasons)adalah
mendapat dukungan moral, simpati dan pemahaman.
2. Interpretasi kembali secara positif dan pendewasaan diri (positive interpersonal and
growth)bertujuan untuk lebih mengendalikan emosi-emosi yang tidak menyenangkan daripada
menghadapi sumber stress secara langsung.
3. Penolakan (denial)diartikan sebagai ketidakmauan untuk mempercayai ada sumber stress atau
mencoba untuk bertindak seolah-olah sumber stress tidak nyata.
4. Penerimaan (acceptance) adalah sesuatu yang harus diterima namun belum tentu pada keadaan
dimana sumber stress tersebut mudah diubah.
5. Berpaling pada agama (turning to religion) yaitu agama merupakan sumber dukungan emosi.
Menurut Lazarus and Folkman (1984, dalam Mutadin, 2002), individu menggunakan
kedua strategi koping ini untuk mengatasi berbagai masalah yang menekan dalam berbagai
ruang lingkup kehidupan sehari-hari. Proporsi penggunaan kedua strategi ini relative bervariasi
tergantung pada bagaimana penilaian individu terhadap situasi yang sedang dihadapinya.
Pada umumnya jika individu merasa yakin dengan sumber daya yang dimilikinya dan
menilai situasi yang dihadapinya dapat dikendalikan dan diatasinya, maka ia akan cenderung
menggunakan problem-focused coping, tetapi jika individu merasa tidak dapat mengubah situasi
yang menekan dan hanya dapat menerima situasi tersebut karena sumber daya yang dimilikinya
tidak cukup untuk menghadapi situasi tersebut maka ia cenderung akan menggunakan
bentuk emotion-focused coping. Selain itu, Lazarus dan Folkman (1984) juga menambahkan
bahwa individu paa umumnya menggunakan problem-focused copingjika menghadapi masalah
yang berkaitan dengan pekerjaan dan menggunakan emotion-focused coping jika menghadapi
masalah yang berkaitan dengan kesehatan (Arianti, 2002: 25).
3. Factor-Faktor Yang Mempengaruhi Strategi Koping
Factor yang mempengaruhi strategi koping yag dipilih oleh individu (Mutadin, 2002),
antara lain adalah:
a. Kesehatan fisik. Kesehatan merupakan hal yang penting karena selama dalam usaha mengatasi
stress individu dituntut untuk mengerahkan tenaga yang cukup besar.
b. Keyakinan atau pandangan (locus of control). Keyakinan menjadi sumber daya psikologis yang
sangat penting. Misalnya keyakinan akan nasib (locus of control external) yang mengarahkan
individu pada penilaian ketidakberdayaan (helplessness) yang akan menurunkan kemampuan
strategi koping dengan tipe problem-focused coping.
c. Keterampilan memecahkan masalah (problem solving). Keterampilan ini meliputi kemampuan
untuk mencari informasi, enganalisa situasi, mengidentifikasi masalah dengan tujuan untuk
menghasilkan alternative tindakan, kemudian mempertimbangkan alternatif tersebut dengan hasil
yang ingin dicapai, dan akhirnya melaksanakan rencana dengan melakukan suatu tindakan yang
tepat.
d. Keterampilan sosial. Keterampilan ini meliputi kemampuan untuk berkomunikasi dan
bertingkah laku dengan cara-cara yang sesuai dengan nilai-nilai social yang berlaku di
masyarakat.

e.

f.
B.

C.

1.

Dukungan sosial. Dukungan ini meliputi dukungan pemenuhan kebutuhan informasi dan
emosional pada diri individu yang diberikan oleh orang tua, anggota keluarga lain, saudara,
teman dan lingkungan masyarakat sekitar.
Materi. Dukungan ini meliputi sumber daya berupa uang, barang-barang atau layanan yang
biasanya dapat dibeli.
Hubungan Antarpribadi Remaja
Bila dua manusia menjalin suatu hubungan (relationship), kehidupan mereka akan
saling terjalin satu dengan yang lain. Apa yang dilakukan oleh yang satu akan mempengaruhi
yang lainnya. Orang lain dapat membuat kita sedih atau gembira, menceritakan kabar burung
yang terbaru atau mengkritik pendapat kita, membantu kita melakukan sesuatu, memberikan
nasihat atau saran kepada kita, memberi kita hadiah atau malah membuat kita kehabisan uang.
Pada contoh-contoh di atas, tergambar adanya beberapa faktor yang berperan dalam suatu
hubungan, yaitu keyakinan, perasaan, dan perilaku. Berdasarkan hal itu kita dapat
mendefenisikan hubungan sebagai sesuatu yang terjadi bila dua orang saling mempengaruhi satu
sama lain, bila yang satu bergantung pada yang lain (Kelly, 1983 dalam Freedman dkk 1985).
Remaja yang berlainan jenis kelamin, hubungan teman dekat dapat (walaupun tidak
selalu) berkembang menjadi hubungan romantis. Pasangan dalam hubungan romantis adalah
orang yang dirasakan paling dekat (Bersceid dkk, 1989). Jika hubungan sudah beitu dekatnya,
orang dapat saling memasukkan ke dalam dirinya masing-masing (Inclusion of other in the
self/IOS)(Aron, Aron & Smollan, 1982). Dalam keadaan ini kedua orang rasanya tak dapat
dipisahkan lagi dan lahirlah puisi-puisi atau tembang-tembang yang indah mengenai hubungan
mereka. (kalau aku jadi kumbang, abang jadi kumbangnya). Pada umumnya hubungan
romantis ini disebut hubungan cinta oleh remaja.
Ciri hubungan romantis adalah cinta yang membara (passionate love). Cinta seperti ini
ditandai oleh kecenderungan untuk terus menerus tidak dapat melupakan pasangannya, baik
dalam pikiran, ucapan maupun perbuatan. Pacar itu (sasaran cinta) juga dinilai selalu positif,
selalu sempurna. Kekurangan sedikit-sedikit (seperti gigi gingsul, mata sipit sebelah atau malas
mandi, atau agak cerewet) justru dipandang sebagai penambah kesempurnaan sang pacar.
Padahal, kalau sudah tidak cinta lagi akan menjadi sumber kritik. Cinta yang membara juga
ditandai dengan hasrat seksual, mudah terangsang secara fisik, selalu ingin bersama, tidak mau
memikirkan kalau harus berpisah dan selalu ingin berbalas cinta (Hatfield, 1988).
GANGGUAN PADA HUBUNGAN ANTARPRIBADI REMAJA
Hubungan cinta romantis sering tidak bertahan lama karena adanya gangguan.
Gangguan dapat berupa rasa tidak puas pada salah seorang atau kedua pihak dari pasangan
hubungan romantis. Gangguan dalam membina hubungan sosial berupa:
Kerugian
Kerugian merupakan konsekuensi negatif dari suatu hubungan. Hubungan bisa
mendatangkan kerugian, misalnya karena memakan waktu dan tenaga terlampau banyak, karena
banyak menimbulkan pertentangan, karena orang lain tidak menyetujui hubungan itu, dan
sebagainya. Hubungan juga dianggap merugikan bila menutup peluang untuk mengikuti kegiatan

yang bermanfaat misalnya akhir pekan dihabiskan untuk jalan bareng bersama pacar, yang
berarti pada saat yang sama individu bersangkutan tidak mungkin belajar atau mengunjungi
sanak saudara (freedman dkk, 1985).
2. Mengevaluasi hasil
Orang menggunakan beberapa tolok ukur untuk menilai hasil suatu hubungan. Tolok
ukur yang paling sederhana adalah dengan melihat apakah hubungan itu menguntungkan atau
merugikan. Biasanya individu cenderung mencari hasil akhirnya saja, apakah resultan dari
hubungan itu menguntungkan (ganjaran melebihi kerugian) atau merugikan (kerugian melebihi
ganjaran).
3. Konflik
Konflik yang terjadi pada hubungan remaja / mahasiswa adalah konflik di sekitar norma
dan peran. Misalnya, salah satu pihak tidak mengerti akan cita-cita dan kehendak pasangannya.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. DESAIN PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan untuk mengungkapkan strategi koping remaja putri / mahasiswi
yang memutuskan hubungan dengan lawan jenis dengan alasan tidak ingin berpacaran lagi.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang merupakan desain penelitian yang bersifat
alamiah, dalam arti peneliti tidak berusaha memanipulasi seting penelitian, melainkan melakukan
studi terhadap suatu fenomena.
Alasan menggunakan metode penelitian kualitatif adalah berdasarkan pendapat Alsa
(2003) yaitu penelitian kualitatif umumnya dipakai apabila peneliti tertarik untuk mengeksplorasi
dan memahami satu fenomena sentral, seperti proses atau peristiwa.
Data yang muncul dalam penelitian kualitatif ini berbentuk kata-kata, dan bukan
rangkaian angka. Cara-cara yang digunakan peneliti untuk memperoleh data adalah dengan
melakukan wawancara langsung dan tak langsung.
B. SUBJEK PENELITIAN
Subjek penelitian adalah 2 orang remaja / mahasiswi UIN SUSKA yang tidak lagi
memiliki hubungan dengan lawan jenis / berpacaran.
C. METODE PENGUMPULAN DATA
1. Wawancara langsung
2. Wancara tak langsung
D. METODE ANALISA DATA
Tehnik analisis data kualitatif dilakukan sesuai dengan pendekatan studi kasus, sehingga
analisis data yang digunakan dengan cara menelaah jawaban-jawaban yang dikumpulkan yang
dapat didapat dari subjek penelitian. Jawaban-jawaban tersebut diorganisir dengan cara
mengidentifikasikan dan mengkategorisasikan sesuai dengan tujuan-tujuan penelitian. Hal ini
sesuai dengan langkah pokok penelitian studi kasus yang diungkapkan oleh Sudjarwo (2001).

BAB IV
PELAKSANAAN PENELITIAN, HASIL PENELITIAN, DAN PEMBAHASAN
A. PERSIAPAN PENELITIAN
Langkah awal dari penelitian ini adalah mengumpulkan dan mempelajari sejumlah
literature baik dari buku, jurnal maupun artikel yang berkaitan dengan topik strategi koping
remaja yang memutuskan hubungan berpacaran. Sebelum peneliti melakukan penelitian maka
terlebih dahulu mempersiapkan instrumen yang digunakan yaitu, alat perekam, pedoman
wawancara, dan instrumen lainnya untk menunjang kelancaran jalannya penelitian. Kemudian
peneliti mencari subjek yang memenuhi kriteria.
B. PELAKSANAAN PENELITIAN
Peneliti menjalin komunikasi yang baik guna memperlancar proses penelitian.
Kemudian peneliti memilih tempat yang sesuai untuk melakasanakan wawancara agar partisipan
tidak bias dan bebas bercerita. Penelitian berlangsung mulai dari tanggal 3 januari sampai 15
januari 2012.
Sebelum melakukan wawancara, peneliti membuat janji untuk mengadakan wawancara
dengan subjek dan mengambil data pribadi yang diperlukan.
C. HASIL PENELITIAN
Hasil pengumpulan data yang menggunakan metode wawancara, peneliti melakukan
pemilahan kategorisasi dari setiap responden. Masalah-masalah psikologis remaja/ mahasiswa
yang memutuskan hubungan berpacaran berkaitan dengan rasa bersalah dan kesepian.
Selanjutnya diperoleh data sebagai berikut:
3. Masalah-masalah psikologis pasca memutuskan pacar
Responden: MD
Aktivitas apa yang menyenangkan saudari ?
Mengamati dan berinteraksi dengan hal-hal yang bersifat ilmiah
Apa yang ingin saudari capai dalam hidup ?
Kesuksesan. (menjadi wanita mandiri dalam aspek ekonomi dan memperoleh pasangan hidup
yang baik, menjalin hubungan baik dengan lingkungan sosial)
Bagaimana pendapat saudari apabila ada pertanyaan mengapa tidak berpacaran ?
Karena berpacaran lebih banyak membawa dampak negatif dalam kehidupan saya dan pacaran
bukan jaminan memperoleh pasangan hidup yang tepat.
Menurut saudari, berhakkah anda memutuskan pacar tanpa ada perselisihan? Patutkah hal itu
terjadi?

Tidak, saya berhak memutuskan pacar, perselisihan pasti ada meskipun sedikit.
Bagaimana pandangan saudari tentang pacaran ?
Pacaran merupakan hal yang pada umumnya dipandang sebagai masa pengenalan / pencarian
pasangan hidup tapi sekaligus menjadi hal yang lebih banyak dampak negatifnya dan dilarang
agama.
Apa saja masalah yang dihadapi pasca memutuskan pacar ?
Kesepian, munculnya rasa bersalah yang tidak hanya berasal dari diri sendiri namun juga temanteman mantan saya yang tidak mendukung keputusan saya dengan cara memberikan komentarkomentar yang dapat memojokkan saya.
Apakah saudari tetap dihargai pacar setelah memutuskannya ?
Tetap dihargai namun butuh waktu.
Siapakah yang memotivasi atau hal apa yang mendasari tindakan saudari memutuskan pacar ?
Keluarga, pengetahuan agama dan keputusan / pertimbangan yang matang dan objektif.
Apakah saudari memiliki hambatan setelah memutuskan pacar ?
Iya
Menurut saudari, apakah hubungan berpacaran harus dilanggengkan layaknya pernikahan?
Tidak. Karena berpacaran hanya merupakan tahap pengenalan terhadap pribadi masing-masing
meskipun hanya 50% atau kurang 50%. Tidak ada ikatan yang sah baik dari segi hukum atau
agama yang ada hanya ikatan hati!!
Apa yang saudari rasakan setelah memutuskan pacar ?
Kesepian dan hidup lebih tidak terikat
4. Strategi koping yang digunakan untuk mengatasi rasa bersalah dan kesepian
Menurut saudari, kualitas diri atau potensi apa yang harus dikembangkan seorang perempuan
lajang ?
Sesuai dengan potensi masing-masing. Tapi tidak lebih banyak bergantung pada laki-laki
khususnya (harus mandiri).
Bagaimana saudari menanggapi keputusan sendiri ?
Harus siap dengan semua resiko dari keputusan saya
Bagaimana saudari menghadapi hambatan dalam keseharian berkaitan dengan ketidakhadiran
pacar ?
Menyibukkan diri dengan hal-hal yang positif. Ex: belajar, organisasi,dll.
Apa yang akan saudari lakukan menghadapi stigma pacar yang mungki berprasangka negatif ?
Memberikan beberapa alasan yang objektif berkaitan dengan keputusan saya dan seiring
berjalannya waktu dia akan memahami / menghargai keputusan saya.
Bagaimana menghadapi rasa kesepian setelah tidak berpacaran lagi?
Sama seperti jawaban point ke 3
Bagaimana saudari menghadapi sikap mantan pacar ?
Berusaha memahami sikapnya yang tidak bertentangan dengan keputusan saya. Tapi jika
bertentangan saya akan mengabaikan.
Bagaimana anda membangun komunitas (kelompok sosial)/dukungan sosial dalam kondisi pasca
memutuskan pacar?

Lebih banyak bersosialisasi dengan semua kelompok tidak terkecuali komunitas mantan
Bagaimana saudari mempersiapkan diri untuk masa depan?
Merencanakan target dan langkah-langkahnya dan hidup harus optimis, harus yakin bahwa
keputusan adalah langkah untuk mencapai tujuan.
Bagaimana saudari menghilangkan rasa kesepian ?
Fokus dengan target. Banyak menyibukkan diri dan menghindarkan diri dari semua hal yang
berhubungan dengan masa lalu
Responden: PE
1. Masalah-masalah psikologis pasca memutuskan pacar
Aktivitas apa yang menyenangkan saudari ?
Kuliah, berorganisasi, jalan-jalan, nobrol.
Apa yang ingin saudari capai dalam hidup ?
Kebahagiaan di dunia dan akhirat
Bagaimana pendapat saudari apabila ada pertanyaan mengapa tidak berpacaran ?
Ya dijelaskan bahwa agama Islam tidak ada menganjurkan berpacaran melainkan menjauhi zina.
Menurut saudari, berhakkah anda memutuskan pacar tanpa ada perselisihan? Patutkah hal itu
terjadi?
Ya, patut karena punya alasan tersendirilah
Bagaimana pandangan saudari tentang pacaran ?
Tak baik.
Apa saja masalah yang dihadapi pasca memutuskan pacar ?
Biasa saja, hidup lebih nyantai dan bebas
Apakah saudari tetap dihargai pacar setelah memutuskannya ?
Iya, pastinya karena kita harus pandai menyikapinya.
Apakah saudari memiliki hambatan setelah memutuskan pacar ?
Tidak
Menurut saudari, apakah hubungan berpacaran harus dilanggengkan layaknya pernikahan?
Tidak, hanya perlu komitmen dan saling menjaga dan menjalankan batasan-batasan dengan hati
pacar
2. Strategi koping yang digunakan untuk mengatasi rasa bersalah dan kesepian
Menurut saudari, kualitas diri atau potensi apa yang harus dikembangkan seorang perempuan
lajang ?
Kemampuan dalam persiapan memasuki mahligai rumah tangga
Bagaimana saudari menanggapi keputusan sendiri ?
Yakin. Karena sudah punya prinsip
Bagaimana saudari menghadapi hambatan dalam keseharian berkaitan dengan ketidakhadiran
pacar ?
Hanya tidak ada yang care sepenuhnya seperti pacar.
Apa yang akan saudari lakukan menghadapi stigma pacar yang mungki berprasangka negatif ?
Kembalikan saja, terserah kepada pacar itu mau menanggapi apa.
Bagaimana menghadapi rasa kesepian setelah tidak berpacaran lagi?

Melakukan hal-hal yang bermanfaat untuk mengisi waktu, ikut organisasi, jalan bersama temanteman.
Bagaimana saudari menghadapi sikap mantan pacar ?
Bersikap seperti biasa saja karena semua telah berakhir.
Bagaimana anda membangun komunitas (kelompok sosial)/dukungan sosial dalam kondisi pasca
memutuskan pacar?
Saya memilih lingkungan yang baik dan kondusif untuk mendukung prinsip saya.
Bagaimana saudari mempersiapkan diri untuk masa depan?
Melakukan yang terbaik di masa sekarang ini. Berbuat baik, menjauhi hal-hal buruk, main yoga,
untuk tubuh yang baik, belajar masak, dll.
Bagaimana saudari menghilangkan rasa kesepian ?
Berjalan-jalan dengan teman-teman, cerita-cerita, dll.
Hasil penelitian dari strategi koping diperoleh data bahwa terdapat beberapa strategi
koping yang dimiliki oleh remaja / mahasiswi yang memutuskan hubungan berpacaran. Yaitu
strategi menghadapi masalah yang berorientasi pada masalah dan emosi.
D. PEMBAHASAN
Hubungan antarpribadi remaja khususnya yang berlawanan jenis melibatkan emosi
keterikatan seperti suami istri. Hubungan ini memiliki passionate love (cinta romantis) pada awal
hubungan namun akan cepat berakhir jika satu pihak atau keduanya mengalami konflik. Konflik
terjadi karena adanya kejenuhan dari hubungan yang monoton, ketidakjelasan arah hubungan,
dan adanya motivasi untuk mencapai cita-cita. Hubungan passionate love (hubungan tanpa
status) ini diyakini menghambat pencapaian cita-cita.
Evaluasi mengenai kerugian waktu dan materi memperkuat keputusan untuk mengakhiri
hubungan passionate love ini. Walaupun keterikatan emosional berat untuk dilepaskan, adanya
prinsip dapat mengatasi rasa bersalah tersebut. Prinsip yang dimaksud adalah tidak lagi
menganggap pacaran itu sebuah kebutuhan emosi akan tetapi pacaran merupakan hal yang tak
baik. Pacaran memiliki dampak negatif lebih daripada dampak positif.
Remaja yang telah memasuki dunia perkuliahan lebih mengedepankan pemikiran logis
ketimbang emosional semata. Remaja yang kuliah atau mahasiswa lebih banyak berinteraksi
dengan berbagai individu dan latabelakang budaya. Interaksi ini memberikan pengalaman yang
membuka wawasan atau referensi untuk berani melakukan atau membuat keputusan. Keputusan
untuk memutuskan pacar dimaksudkan untuk membebaskan diri dari kekangan pacar yang
dinilai tak lagi penting.
Memutuskan pacar menimbulkan masalah emosional yang membutuhkan waktu dan
proses untuk menstabilkan kembali. Diantara masalah emosional adalah rasa bersalah, kesepian,
rasa kehilangan, ketiadaan perhatian dan adanya sikap pacar yang negatif. Sikap pacar ditanggapi
dengan menjelaskan kronologi pengambilan keputusan atau diam jika sikap pacar itu dinilai tak
wajar.

Masalah-masalah emosional seperti rasa kesepian, rasa bersalah, dan ketiadaan


perhatian diatasi dalam bentuk menyibukkan diri di organisasi, fokus pada kuliah, meningkatkan
religiusitas, berkumpul dengan teman-teman, dan memilih lingkungan kondusif.
Proses menstabilkan membutuhkan usaha dan waktu yang lama. Kenangan tentang
pacaran dapat mengusik konsentrasi dalam belajar. Rasa kesepian dan ketiadaan perhatian
membuat subjek merindukan mantan pacarnya. Strategi koping yang digunakan adalah dengan
memikirkan kembali keputusan yang telah dibuat, mengevaluasi hasil berpacaran banyak
merugikan waktu dan materi, serta menyadari bahwa pacaran itu dilarang oleh agama dan tak
ada izin dari orang tua.

BAB V
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Memutuskan hubungan berpacaran dilandasi dengan pemikiran logis bahwa berpacaran
akan menghambat pencapaian cita-cita dan memiliki dampak negatif lebih daripada dampak
positif. Masalah-masalah psikologis yang timbul setelah remaja memutuskan pacar adalah rasa
bersalah, rasa kesepian, muncul kenangan tentang pacar, rasa rindu, ketiadaan perhatian dan

adanya sikap pacar yang negatif. Hal tersebut dapat diatasi dengan strategi koping dalam bentuk
menyibukkan diri di organisasi, fokus kuliah, memilih lingkungan baru dan meningkatkan
religiusitas.
B. SARAN-SARAN
Penelitian ini kekurangan subjek yang memenuhi kriteria. Peneliti disarankan untuk
mencari responden di luar wilayah penelitian ini di ambil agar lebih memperkaya informasi dan
pemahaman dari banyaknya pengalaman orang lain.
DAFTAR PUSTAKA
Sarwono, Sarlito Wirawan. 2005. Psikologi Sosial. Jakarta: Balai Pustaka.
Freedman Dkk. 2006. Psikologi Sosial. Jakarta: Rajawali Pers.
Wade, Carol & Wave, Carol. 2007. Psikologi Umum. Jakarta: Erlangga.
Nesfvi, Indria. 2008. Hubungan Antara Locus Of Control Dengan Strategi Koping Wanita
Menopause Di Kecamatan Senapelan Kota Pekanbaru. Skripsi.

Posts Tagged With: LAPORAN PENELITIAN PSIKOLOGI PERKEMBANGAN REMAJA


LAPORAN PENELITIAN PSIKOLOGI PERKEMBANGAN (STUDY IDOLA REMAJA)
Dipublikasi pada Juni 17, 2011 oleh abiechuenk
6 Votes

ABSTRAKSI

IDOLA REMAJA

Dalam perjalanan kehidupan manusia tidak akan lepas dari peran dan
keberadaanya orang lain. Karena manusia adalah makhluk sosial, yang mana tidak
bisa lepas dari bantuan atau pertologan orang lain. Itu adalah fitrah dari manusia
sendiri, manusia biasanya dalam perjalanan kehidupannya mempunyai idola.
Biasanya idola adalah seseorang yang dikagumi dan disukai dari sikap dan
tindakannya oleh orang yang mengidolakan. Sehingga orang yang mengidolakan
dapat meniru dan membuat pola kehidupannya tidak jauh berbeda dari yang
diidolakan. Remaja adalah masa pencarian identitas diri, masa transisi yang penuh
dengan masalah dan mencari pola hidup dewasa yang lebih baik kelak. Dan
kebanyakan orang yang mempunyai idola adalah kalangan anak remaja, karena
mereka masih dalam keadaan krisis identitas. Artinya, Perubahan biologis dan
sosiologis pada diri remaja memungkinkan terjadinya dua bentuk integrasi.
Pertama, terbentuknya perasaan akan konsistensi dalam kehidupannya. Kedua,
tercapainya identitas peran. Dan disini bahwa remaja dalam pencarian identitas diri
maka akan banyak tiruan-tiruan dari orang lain yang mungkin peran dan sikapnya
membuat remaja ini terkagum.

Dengan pertimbangan inilah, maka penulis sebagai mahasiswa pendidikanan


Fakultas Tarbiyah dan Keguruan tertarik untuk mengangkat tema Idola Remaja. Hal
ini dilakukan sebagai upaya untuk mengetahui sejauh mana pengaruh idola dalam
pencarian identitas diri pada masa remaja, Bagaimana manfaat yang didapat oleh
remaja, dan bagaimana pengaruh idola terhadap motivasi remaja dalam kehidupan
sehari-hari.

Dalam penelitian ini, penulis mengunakan metode wawancara terpimpin


terstrukstur. Hal ini digunakan agar hasil tanggapan dari informan tidak terlalu

menyimpang dari pembahasan sehingga proses wawancara tersusun sistematis.


Disamping itu, dalam penulisan ini mengunakan metode observasi retrospeksi
adalah mengobservasi baru kemudian mengadakan pencatatan. Dan dalam
pendekatannya penulis mengunakan pendekatan narasi deskritif, penggunaan
narasi deskripsi dalam penelitian tersebut digunakan sebagai upaya agar penulisan
ini dapat mencapai objektifikasi keilmuan.

Hasil penelitian yang diperoleh dengan mengunakan metode wawancara dan


observasi adalah bahwa peran idola itu memang sangat berpengaruh dalam proses
pencarian jati diri remaja, bahwa idola juga sangat berperan sebagai motivator
dalam menuju kehidupan yang berkualitas dan berbudi pekerti yang baik. Namun,
dari kedua informan yang penulis wawancarai bahwa idola juga dapat menjadikan
pemicu kepada keburukan atau sering dikatakan sebagai dampak negatifnya, yaitu
antara lain jika seseorang terlalu fanatik dan terobsesi yang berlebihan sampai
memuja-muja, hal ini ditakutkan akan menjadikan pemicu untuk menyekutukan
Allah SWT. Dan dilain sisi jika terlalu fanatik maka akan dapat mengakibatkan emosi
antar remaja menjadi naik, sehingga akhirnya pada bertengkar dan berantem antar
remaja.

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Masa remaja merupakan masa yang sangat menentukan karena pada masa ini
anak-anak mengalami banyak perubahan pada psikis dan fisiknya. Perubahan
kejiwaan ini menimbulkan kebingungan dikalangan remaja sehingga masa ini
disebut oleh orang barat sebagai periode strum und drang. Sebabnya karena
mereka mengalami penuh dengan gejolak emosi dan tekanan jiwa sehingga mudah
menyimpang dari aturan dan norma-norma sosial yang berlaku dikalangan
masyarakat.[1] Karena remaja adalah masa yang berada di antara anak-anak dan
masa dewasa. Ia adalah masa di mana individu tampak bukan anak-anak lagi, tapi
juga tidak tampak sebagai orang dewasa yang matang, baik pria maupun wanita.[2]

Disini penulis melihat bahwa peran remaja begitu besar dalam kemajuan bangsa
Indonesia sendiri. Karena remaja adalah pundi-pundi penerus para pejuang yang

telah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Bahwa memang remaja sudah


diklaim sebagai penerus pejuang-pejuang bangsa maka secara tidak langsung para
remaja harus mulai menyiapkan dan siap menghadapi tantangan didepannya, harus
mempunyai jiwa yang kuat, tegas, bijaksana, dan bertanggung jawab. Dan
pertanyaanya, jika ada seorang remaja yang mungkin tidak dapat besikap baik dan
bijaksana lantas kita harus berbuat seperti apa?. Dalam hal ini agar terbentuk sikap
yang baik, bijaksana, adil, tanggung jawab dalam diri manusia sendiri maka
pastinya banyak faktor yang akan mempengaruhinya. Baik faktor internal maupun
ekternal.

Berangkat dari fenomena yang dipaparkan diatas maka penulis mencoba meneliti
bagaimana faktor ekternal mempengaruhi sikap dan pencarian indentitas remaja,
fokus peneliti adalah dalam hal idola. Karena bagi penulis bahwa idola merupakan
faktor ekternal yang hampir semua remaja mempunyai idola. Maka dari itu penulis
memfokuskan dalam pembahasan penulisan ini pada idola remaja dalam
mempengaruhi proses pencarian jati diri dan sebagai motivator dalam kehidupan
sehari-hari.

B.

Rumusan Masalah

Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam dasar pemikiran di atas maka penulis
dapat menarik rumusan masalah sebagai berikut:

Apa pengertian idola dan remaja?


Bagaimana pengaruh idola terhadap perkembangan pada masa remaja yang
mencari identitas diri?
Bagaimana pengaruh idola terhadapa motivasi remaja dalam kehidupan seharihari?
BAB II

PEMBAHASAN

Pegertian Reamaja
Periodisasi masa remaja (Pubertas, Remaja Awal dan Remaja Akhir) dalam sudut
pandang psikologi islam disebut amrad [3], yaitu fase persiapan bagi manusia untuk

melakukan peran sebagai khalifah Allah di bumi adanya kesadaran akan tanggung
jawab terhadap sesama makhluk meneguhkan pengabdiannya kepada Allah melalui
amar maruf nahi munkar pubertas. Pubertas berasal dari bahasa pubes (dalam
bahasa latin) yang berarti ramput kelamin, yaitu merupakan tanda kelamin
sekunder yang menekankan pada perkembangan seksual.[4]

Masa remaja merupakan masa yang sangat menentukan karena pada masa ini
anak-anak mengalami banyak perubahan pada psikis dan fisiknya. Perubahan
kejiwaan ini menimbulkan kebingungan dikalangan remaja sehingga masa ini
disebut oleh orang barat sebagai periode strum und drang. Sebabnya karena
mereka mengalami penuh dengan gejolak emosi dan tekanan jiwa sehingga mudah
menyimpang dari aturan dan norma-norma sosial yang berlaku dikalangan
masyarakat.[5] Karena remaja adalah masa yang berada di antara anak-anak dan
masa dewasa. Ia adalah masa di mana individu tampak bukan anak-anak lagi, tapi
juga tidak tampak sebagai orang dewasa yang matang, baik pria maupun wanita.[6]
Sehingga tidaklah heran jika dalam masa remaja banyak hal yang dilakukan remaja
itu banyak yang negatif atau menyimpang dari aturan-aturan masyarakat maupun
syariat.

Aspek-aspek Perkembangan Masa Remaja


Perkembangan Fisik
Masa remaja ditandai dengan percepatan pertumbuhan fisik. Pertumbuhan
perkembangan fisik pada akhir masa remaja menunjukan terbentuknya remaja lakilaki sebagai bentuk khas laki-laki dan remaja perempuan menjadi bentuk khas
perempuan.[7] Pertumbuhan fisik ini mengalami perubahan dengan cepat, bahkan
lebih cepat dibandingkan dengan masa anak-anak dan masa dewasa. Untuk
mengimbangi pertumbuhan yang cepat itu, remaja membutuhkan makan dan tidur
yang lebih banyak.

Perkembangan Seksual
Perkembangan seksual kadang-kadang menimbulkan masalah dan menjadi
penyebab timbulnya perkelahian, bunuh diri,dan sebagainya. Perkembanga seksual
pada anak-anak laki-laki biasanya ditandai antaranya: alat produksi sperma yang
mulai berproduksi (mereka mengalami masa mimpi yang indah pertama, dan tanpa
sadar mereka mengeluarkan sperma). Sedangkan pada anak perempuan bila
rahimnya sudah bisa dibuahi karena ia sudah mendapatkan mentruasi (datang
bulan) yang pertama.

Perkembangan Kognisi
Ketika masa remaja cara berpikir mereka ialah cara berpikir kausalitas, yaitu
menyangkut hubungan sebab dan akibat. Misalnya remaja duduk didepan pintu,
kemudian orang tua melarangnya sambil berkata pantang (suatu alasan yang
bisa diberikan orang tua di Sumatera secara turun-temurun). Anadaikan yang
dilarang itu anak kecil, pastia dia akan menurut perintah dari orang tuanya, tetapi
lain halnya jika remaja maka ia akan mempertanyakan mengapa ia tidak boleh
duduk di depan pintu. Namun jika orang tua tidak mampu menjawab pertanyaan
anaknya itu, dan menganggap anak yang dinasehati itu melawan, lalu orang tua itu
marah padanya, maka anak yang sedang menginjak remaja itu pasti akan
melawannya. Sebab anak itu merasa dirinya sudah berstatus remaja, sedangkan
orang tua itu memperlakukanya seperti anak-anak yang bisa dibodoh-bodohi.[8]

Konsep Kecerdasan
Kemampuan berpikir termasuk dalam aspek kognitif yang sering disebut dengan
kecerdasan atau intelegensi. Charles Spearman, mengatakan bahwa intelegensi
adalah suatu kemampuan yang merupakan kemampuan tunggal artinya semua
tugas dan prestasi mental hanya menuntut dua macam koalitas saja, yaitu
intelegensi umum dan ketrampilan individu dalam hal tertentu.

Pengukuran Kecerdasan
Kecerdaasan dapat diukur melalui tes kecerdasan, orang pertama yang melakukan
tes kecerdasan ini adalah Binet yang mengukur fungsi kognitif, tes tersebut
kemudian disempurnakan oleh Theodore Simon, sehingga dikenal tes inteligensi
Binet-Simon, hasil tes dikenal Inteligency Quotien (IQ) yang menunjukan tingkat
inteligensi seseorang. Adapun rumus untuk menghitung sekor IQ adalah:
IQ=MA/CAX100%.[9]

Perkembangan Emosi
Keadaan emosi pada remaja masih labil karena erat kaitannya dengan keadaan
hormon. Suatu saat ia bisa sedih sekali, dan dilain waktu ia bisa marah sekali. Hal
ini dapat terlihat pada remaja yang sedang putus cinta atau remaja yang
tersinggung perasaannya, misalnya ia dipelototi atau dihina-hina. Kalau sedang
senang-senangnya mereka kadang mudah lupa diri karena mereka belum mampu

menahan emosi yang meluap-luap itu, bahkan remaja ada yang terjerumus dalam
tindakan yang tidak bermoral.[10]

Pengertian Idola
Kata idola sering kita dengar, karena kata idola begitu familiar di tengah realitas
sosial. Kata idola dalam kamus ilmiah diartikan sembahan, pujaan, sanjungan.[11]
Tidak heran jika banyak dari kalangan remaja yang hampir semua pasti memliki
idola dalam hidupnya. Artinya pujaan hati yang secara tidak langsung memberi
stimulus baik motivasi atau sikap yang baik pada dirinya.

Orang yang mengidolakan idola disebut dengan idolator, baik pertanyaannya


adalah apakah harus orang yang besar, kaya, selebritis, usahawan, dan yang elitelit yang harus kita idolakan?. Bagaiku tidak idola dari orang yang bukan selebritis
pun banyak. Karena ketika kita mengidolakan orang yang besar, namun mereka
sikap da perbuatannnya jelek maka jelas yang banyak orang pilih adalah orang kecil
yang mempunyai karisma yang alim dan bijaksana.

Motif
Motif berasal dari bahas latin movere yang berarti bergerak atau to move (Branca,
1964). Karena itu motif diartikan sebagai kekuatan yang terdapat dalam diri
organisme yang mendorong untuk berbuat atau merupakan driving force.

Teori-teori Motif
Di atas telah sedikit dijelaskan tentang motif, walaupun hanya dasar dan
sederhana. Motif atau driving state dapat timbul karena stimulus internal, stimulus
eksternal, ataupun interaksi antara keduanya (Crider, dkk., 1983). Misalnya
keinginan untuk mendapatkan restu (approval) adalah dari stimulus ekternal, yaitu
keadaan sosial. Kadang motif timbul karena stimulus internal, namun apa yang akan
dimakan dan bagaimana makannya, merupakan hal yang dipengaruhi oleh
lingkungan, dipengaruhi oleh faktor belajar.

Mengenai motif ada beberapa teori yang diajukan yang memberi gambaran tentang
beberapa jauh peranan dari stimulus internal dan eksternal. Teori-teori tersebut
adalah sebagai berikut:

Teori insting
Teori dorongan
Teori intensif
Teori atribusi
Teori kognitif
Jenis-jenis Motif
Dalam masalah motif terdapat adanya macam-macam motif, namun ternyata
pendapat ahli yang satu dapat berbeda dengan pendapat ahli yang lain. Disamping
itu ada ahli yang menekannkan pada sesuatu macam motif, tetapi ada juga ahli
yang menekankan pada macam motif yang lain. Namun demikian para ahli pada
umumnya sependapat bahwa ada motif yang berkaitan dengan kelangsungan hidup
organisme, yaitu yang disebut sebagai motif biologis (Gerungan, 1965).

Motif fisiologis
Dorongan atau motif fisiologis pada umumnya berakar pada keadaan jasmani, misal
dorongan untuk makan, dorongan untuk minum, dorongan seksual, dorongan untuk
mendapatkan udara segar.

Motif Sosial
Motif sosial merupakan motif yang kompleks, dan merupakan sumber dari banyak
prilaku atau perbuatan manusia.

Motif eksplorasi, kompetensi, dan self-aktualisasi


Pembicararaan meneganai motif belumlah tuntas jika belum membahas atau
mengemukakan ketiga motif ini, khususnya menyangkut manusia. Ketiga motif ini
ialah,

Motif untuk mengadakan eksplorasi terhadap lingkungan.


Motif untuk menguasai tantangan yang ada dalam lingkungan dan menanganinya
dengan secara efektif.

Motif untuk aktualisasi diri, yang berkaitan sampai seberapa jauh seorang dapat
bertindak atau berbuat untuk mengaktualisasikan dirinya seperti yang dikemukakan
oleh Maslow.[12]
BAB III

HASIL PENELITIAN

A.

Identitas Diri Remaja A

Nama dari informan pertama yang penulis wawancarai dan teliti adalah Muhammad
Burhanudin, Dia lahir di Grobogan, 12- Sepetember-1991, anak ketiga dari empat
bersaudara, Alamat rumah: Jln. Raya Sulursari, RT01/RW04, Desa Pandan Harum,
Kecamatan Gabus, Kabupaten Grobogan. Dia dilahirkan dari pasangan suami istri
yang berlatar belakang baik, ayahnya bernama Mochammad Mudjahid Baqin alumni
Pondok Pesantren Langitan, Widang-Tuban-JaTim, dan ibunya bernama Masruatun
alumni Pondok Pesantren Futuhiyyah, Mranggen-Demak.

Riwayat pendidikannya dia mulai belajar di TK (Taman Kanak-kanak) tepatnya TK itu


di daerah Pandan Harum selama dua tahun. Kemudian setelah itu melanjutkan
kejenjang yang lebih tinggi lagi, yaitu di Madrasah Ibtidaiyah Fathul Ulum. Kemudian
dilanjutkan lagi dalam satu yayasan tetapi berbeda tingkatannya, yaitu masuk pada
jenjang Madrasah Tsanawiyah Fathul Ulum. Setelah lulus dari MTs kemudian saudara
Burhan melanjutkan ke Madrasah Aliyah Mambaus Sholohin, Yayasan Pondok
Pesantren Mambaus Sholihin, desa Suci, kecamatan Manyar, kabupaten GresikJATIM.

Setelah selesai atau lulus dari Madrasah Aliyah Mambaus Sholihin pada tahun 2009,
kemudian dia melanjutkan pada Institut Keislaman Abdullah Faqih (INKAFA) jurusan
Pendidikan Agama Islam dan aktif di Organisasi Santri Pondok Pesantren Mambaus
Sholihin (OSPMS) sebagai sekretaris komplek Al-Ghozali dan anggota Departeman
Minat dan Bakat sebagai koordinator pelatihan Sanggar Kaligrafi. Tetapi dengan dia
melanjutkan dalam pendidikannya dia merasa tidak cocok baik dengan
lingkungannya ataupun bidang yang dia ikuti. Setelah satuh tahun dalam
perjalanan hidup yang begitu membosannkan dia mempunyai padangan untuk
berpindah kampus. Alhasil pada tahun ajaran 2010-2011 di UIN Sunan Kalijaga dia
mencoba mendaftar, dan hasilnya Alhamdulillah diterima di Fakultas Adab dan Ilmu
Budaya Jurusan Sastra Inggris.

Sekarang saudara Burhan tinggal di Yogyakarta di daerah Kotagede, tepatnya


Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiin. Karena dia ingin lebih mendalami ilmu-ilmu
agama yang dulu pernah di lakukan pada jenjang pendidikan yang sebelumnya. Dan
dia aktif di organisasi yang ada di pondoknya, yaitu orgaisasi KASTA (Kaum
Sarungan Kota). Meskipun saudara Burhan hanya sebagai angota, karena dia masih
baru dalam lingkungan pondoknya, namun saudara burhan sudah sering
menyumbangkan ide atau gagasan demi keeksisitensian organisasi KASTA
tersebut, Selain itu dia juga anggota Himpunan Alumni Mambaus Sholihin (HAMAM)
dan Keluarga Mahasiswa Grobogan Yogjakarta (KaMaGaYo) sebagai sarana untuk
mempererat tali siaturrahim antara para alumni pondok Mambaus Sholihin dan
sesama mahasiswa Grobogan.[13]

B.

Indentitas Idola Remaja A

Saudara Burhan mengidolakan sosok seorang yang begitu berwibawa, dan


bijaksana yang membawa banyak perubahan dalam hidupnya, beliau tidak lain
adalah pengasuh Pondok Pesantren Mambaus Sholihin, Suci-Manyar-Gresik yaitu
KH. Masbuhin Faqih. Beliau adalah Alumni Pondok Pesantren Darussalam, GontorPonorogo dan Pondok Pesantren Langitan, Widang-Tuban.

Karena menurut saudara Burhan Beliau bukan hanya seorang Kyai atau Guru yang
mengajarkan ilmu agama, Tapi juga seorang Maha Guru yang begitu luar biasa yang
karena Fadhol dari Allah dapat mengemban amanah membimbing ribuan santri
menjadi seorang yang bukan hanya Alim dan Sholeh, tapi juga Kafi yang berarti
seorang santri yang cakap dan mampu mengahadapi tantangan zaman. Sehingga
dapat mengaplikasikan motto pesantren. Menjaga tradisi lama yang baik dan
mengambil tradisi baru yang di anggap lebih baik. Baik secara tersirat maupun
tersurat.

Mungkin prilaku atau Uswatun Hasanah dari beliau yang samapi detik ini masih
ternanam dalam setiap detak nafas saudara Burhan adalah cinta terhadap
dzurriyyah Rosul dan Ketaatan beliau kepada gurunya yaitu KH. Abdullah Faqih
pengasuh Pondok Pesantren Langitan, Widang-Tuban-JaTim. Begitu cintanya beliau
terhadap para keturunan sang rahmatan lil alamiin, setiap tahun ada banyak
habaib yang di undang beliau baik dalam negeri maupun luar negeri karena dengan
cinta kepada keturunan Nabi Muhammad SAW, maka akan bertambah keberkahan
pada hidup dan pondok pesantren.

Yang selanjutnya adalah ketaatan beliau pada gurunya atau dalam istilah pesantren
Khidmah ata mengabdi pada guru dan di setiap untaian kata penyejuk hati beliau
kepada santri-santrinya selalu menamkan Wa bil ilmi tuntafau wa bil khidmati
turtafau, dan dengan berilmu seseorang itu akan menjadi bermanfaat dan dengan
berkhidmah atau mengabdi seseorang itu akan diangkat derajatnya oleh Allah SWT.
Guru disini bukan hanya seorang Kyai atau Pengasuh Pondok Pesantren, Tapi semua
guru yang pernah mengajarkan kamu meskipun hanya satu huruf. Sehingga tidak
ada istilah mantan Guru. Seperti petuah sayyida Ali Ana abdu man allamani,
walau harfan wakhidan.[14] Di sini letak kekaguman saudara Burhan kepada beliau
dan sampai sekarang pun dia masih megidolakan beliau.

C.

Pengaruh Dalam Pencarian Jati Diri Remaja A

Masa remaja adalah masa pencarian identitas diri atau banyak orang mengatakan
jati diri. Dengan sebuah perjalanan hidup pada masa remaja yang penuh dengan
masalah dan masa transisi dari kanak-kanak menuju dewasa artinya masa yang
berada diantara kanak-kanak dan masa dewasa.[15] Tentunya dalam perjalanan ini
banyak faktor yang mempengaruhi baik faktor internal maupun eksternal. Dan
kebanyakan faktor-faktor ini tidak berdiri sendiri, melainkan faktor ini saling
berkaitan dan saling terafiliasi untuk mencapai prilaku yang baik. Karena faktor
dalam akan ditentukan oleh faktor luar, dan sebaliknya.[16]

Dalam penelitian ini penulis meneliti saudara Muhammad Burhanudin, karena


terkait upaya penulis dalam pencarian seberapa jauh pengaruh seorang idola dalam
perjalanan masa remaja yang sering disebut dengan pencarian jati diri. Setelah
penulis melakukan metode wawancara kepada saudara Muhammad Burhanudin,
yang mana tadi sudah dijelaskan dimuka bahwasanya menurut saudara Burhan
bahwa beliau (idola) membawa pengaruh yang begitu besar dalam pencarian jati
dirinya sebagia seseorang yang lebih baik dan pribadi yang Alim, Sholeh, Kafi.
Karena belajar dari beliau saudara Burhan seakan terinspirasi dari sosok beliau yang
ikhlas mencurahkan jiwaraga dan harta bahkan nyawa untuk menyebarkan agama
Allah SWT.[17]

D.

Pengaruh Idola Tehadap Motivasi Remaja A

Motif sebagai pendorong pada umumnya tidak berdiri sendiri, tetapi saling kait
mengait dengan faktor-faktor lain. Hal-hal yang mempengaruhi motif disebut
motivasi. Kalau ornag ingin mengetahui mengapa oranga berbuat atau berprilaku
ke arah sesuatu yang dikerjakan, maka orang tersebut akan terkait dengan motivasi

atau perilaku yang termotivasi(motivated behavior). motivasi merupakan keadaan


dalam diri individu atau organisme yang mendorong perilaku kearah tujuan.[18]

Dalam penelitian ini penulis meneliti saudara Muhammad Burhanudin, karena


dalam upaya untuk mengetahui bagaimana pengaruh idola dalam motivasi
kehidupan saudara Muhammad Burhanudin dan setelah melakukan metode
wawancara dan observasi dengan beliau sehingga menghasilkan data menurut dia
adalah bahwasanya Idola jelas menjadi motivasi utama bagi saudara Burhan,
karena menurut saudara Burhan jika setiap orang diberi pertanyaan yang sama,
mengapa anda ingin menjadi seperti itu atau menjadi jati diri seperti itu (idola) ?
pastilah mereka akan menjawab karena saya ingin menjadi yang seperti idola saya.
Jadi menurut saudara Burhan Idola tidak hanya sebagai motivator saja tapi lebih,
karena idola juga seseorang yang sangat berpengaruh dalam kehidupan remaja,
Baik menjadikan remaja menjadi lebih baik atau bahkan menjadikan jati diri remaja
yang sangat buruk sekalipun, dan terkadang perkataan idola lebih diperhatikan
melebihi peran orang tua sendiri.[19]

A.

Identitas Diri Remaja B

Dalam penelitian ini penulis meneliti saudara Moch Mizan Fadhil,lahir 17 april 1992
di desa Kepatihan Rt 03 Rw 02 Menganti Gresik Jawa Timur.Anak ke 2 dari 4
bersaudara yang dilahirkan dari pasanagan suami istri Drs.Sumain & Nur hidayati
keluarga tersebut berlatar belakang ekonomi yang alhamdulillah berkecukupan.

Ayahnya diahirkan di desa Tambakberas, kec Cerme , Kab gresik JATIM dan
menyelesaikan S1 di salah satu perguruan tinggi Surabaya (UNESA), Bundanya lahir
di Desa Kepatihan Rt 03 Rw 02 Kec. Menganti, Kab. Gresik JATIM.

Jenjang pendidikan saudara Moch Mizan Fadhil dimulai dari TK (Taman KanakKanak) Nurul Huda I di desa kepatihan Rt 03 Rw 02 kecamatan Menganti Kabupaten
Gresik dan meneruskan ke lembaga pendidikan MI (Madrasah Ibtidaiyah) Nurul
Huda I selama enam tahun di wilayah yang sama.

Setelah lulus dari pendidikan dasarnya saudara Moch Mizan Fadhil melanjutkan ke
jenjang lembaga keagamaan MMA (Madrasah Mualimin Mualimat) dari tahun 20052010 selama di MMA saudara aktif di Jamiyah Atthulab nama lain dari OSIS yang
mana lembaga tersebut berdiri di bawah naungan pondok pesantren Sunan Drajat

yang diasuh oleh beliau Prof.Dr.K.H Abdul Ghofur yang terletak di dusun
Banjaranyar Desa Banjarwati, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan-Jawa
Timur. Setelah tamat dari lembaga keagamaannya Alhamdulillah saudara masih
bisa melanjutkan ke perguruan tinggi UIN Sunan Kalijogo Jogjakarta di fakultas
Dakwah Jurusan Menejen Dakwah dan sementara tinggal di ponpes Hidayatul
Mubtadiin desa darakan barat kota Gede Bantul Yogyakarta.

B.

Identitas Idola Remaja B

Saudara Moch Mizan Fadhil mengidolan sesosok orang yang kepribadiannya


bertnggung jawab,tegar menghadapi permasalahan-permasalahan hidup,tidak
menyerah dan putus asa melainkan selalu berusaha. Sosok orang tersebut tidak
lain adalah Ayah dan bundanya. Latar belakang dan prilaku kepribadian yang
membuat saudara Moch Mizan Fadhil mengidolai dan mengaguminya yakni dari
perjalanan hipup. Ayahnya terlahir dari keluarga yang kurang mampu, anak ke
empat dari tujuh bersaudara yang sejak dari lahir belum pernah melihat sosok
ayahnya.

Kesehariannya makan dengan makanan seadanya itu pun kalau ada,sedangkan


kalau tidak ada ya gag makan bahkan pernah tidak makan sampai tiga hari hanya
cukup mengkonsumsi minuman sebagai penyambung hidu, penderitaannya tidak
cukup sampai disitu,karana beliau anak lelaki yang pertama yang masih hidup
sedangkan saudara yang pertama itu perempuan,saudara ke dua dank e tiganya
laki-laki tapi sudah meninggal maka beliau sebagai saudara laki-laki pertama yang
masih hidup beliau merasa mempunyai beban bukan hanya kepada dirinya sendiri
tapi mempunyai beban sebagai tulang punggung keluarga dan menyekolahkan
adik-adiknya.beliau melakoninya dengan cara bekerja seusai sekolah sebagai buruh
pengembala kambing milik orang di desanya.

Jarak antara sekolah dan desanya itu kurang lebih 14 km yang mana pada tahun itu
masih belum ada yang banyak memiliki sepeda moto, jangankan sepeda motor
sepeda ontel aja orang-orang tertentu yang mempunyainya , beliau berangkat dari
rumah sebelum subuh dan salat subuh di jalan sehingga sampai sekolah kurang dari
jam setengah tujuh,beliau berangkat pagi-pagi berharap agar tidak
terlambat.begitu seterusnya, beliau melakoni hingga sampai lulus SMA.

Karena beliau memendam cita-cita dan semangat yang tinggi dengan di tunjang
prestasi-prestasi yang di peroleh, beliau bisa melanjutkan ke salah satu perguruan
tinggi di Surabaya (UNESA) dan medapat gelar Sarjana. Selama proses meneuntut

ilmu di perguruan tinggi di samping sebagai mahasiswa beliau juga bekerja sebagai
guru SMP.setelah menyelesaikan sarajananya beliau di angkat sebagai guru tetap,
saat ini beliau menjabat sebagai kepala sekolah dan menjadi ketua takmir masjid.

Bukan hanya beliau saja tapi adik-adik beliau juga mengikuti jejak kakaknya,adik
beliau ada yang menjadi PNS,ada yang jadi pengelolah tambak (perikanan) dan ada
juga yang menjadi juragan angkot. Bundanya juga terlahir dari kalangan keluarga
yang kurang mampu keturunan suku Madura yang terkenal berwatak keras dan
kemauannya tidak bisa di cegah. Bundanya anak pertama dari lima bersaudara,
ayahnya meninggal pada waktu beliau berumur enam tahun.

Berawal dari umur enam tahun beliau sudah di ajari untuk hidup mandiri. Beliau
membantu ibunya bekerja sebagai pedagang ayam potong. Setelah usai sekolah
beliau segera pergi ke pasar untuk membantu ibunya menjual ayam-ayam
dagangannya, kalau ayam tersebut tidak habis orang tua beliau di suruh pulang
untukistirahat dan beliau sendiri yang menjualnya keliling desa bahkan keuar desa
sampai ayam tersebut habis tanpa di temani oarang tua. Bundanya menggungakan
masa kecilnya bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya dan
menyekolahkan adik-adiknya, tidak seperti anak normal pada umumnnya yang
mana masa kecilnya digunakan untuk bermain. Begitu beliau melakoni
kesehariannya tanpa mengeluh dan putus asa.

Beliau selalu bergembira meskipun sekilas pernah bertanya-tanya kepada orang


tuanya tentang nasib keluarganya. Orang tuanya pun menjawab yang dalam
bahasa indonesianya seperti ini meskipun hidup kita sekarang susah, besok harus
jadi orang yang berguna, berilmu, beriman dan berakhlakul karimah, pasti derajat
akan di angkat, Kata-kata itu selalu di ingat oleh saudara-saudara dan bundanya
saudara Moch Mizan Fadhil. Sampai akhirnya lulus Sekolah Dasar dan memutuskan
untuk melanjutkan di Mts pondok pesantren Tambak Beras Jombang JATIM. Agar jadi
seperti orang yang di katakana orang tuanya. Beliau selalu tegar dan bersyukur
dalam menghadapi dilema-dilema persoalan hidup meskipun beliau wanita di
sinilah saudara Moch Mizan Fadhil sangat mengaguminya.[20]

Itulah sekilas kisah yang membuat saudara Moch Mizan Fadhil mengidolakan dan
menggumi dua orang yang membuatnya selalu memotivasi diri. Sebenarnya
panjang kisahnya tapi cukup itulah yang bisa di persembahkan dari penulis dan
informan penulis yang diwawancarai tentang identitas dari idola yang sampai
sekarang pun masih mengidolakannya.

C.

Pengaruh Idola Dalam Pencarian Jati Diri Remaja B

Menurut pendapat saudara Moch Mizan Fadhil yang mengidolakan sosok yang
bertanggung jawab dan bijakasana, yaitu adalah kedua orang tuanya, ayah dan ibu.
Tegasnya bahwa pengaruh dari idola terhadap pencarian jati diri itu sangatlah besar
dan frekuensinya begitu tinggi dalam bidang motivator untuk mencapai jati diri
yang sejati. Memang banyak yang menjadi idola-idola bagi kehidupan saudara Moch
Mizan Fadhil, namun tidak lah seperti kedua orang tua yang begitu membuat
saudara Moch Mizan Fadhil sendiri merasakan pengaruh yang sangat besar. Dengan
sikap kesabaran dan keteguhan hati dalam mengarahkan dan membimbing yang
dilakukan oleh idola, menjadikan tolak ukur untuk membuat saudara Moch Mizan
Fadhil menjadi seorang yang lebih baik, berakhlak, berilmu, soleh, dan berguna bagi
masyarakat khususnya dan umumnya untuk bangsa Indonesia tercinta.

Dan disamping itu, ada sikap idola yang selalu memberikan nasehat dan tausiyah
dalam perjalanan kehidupan saudara Moch Mizan Fadhil dalam mengarungi
samudra kehidupan yang penuh dengan badai. Tidak mengenal kata sampai disini,
meskipun itu sudah tidak menjadi kewajibannya, karena dari segi umur saudara
Moch Mizan Fadhil yang sedang masa remaja (puber).

D.

Pengaruh Idola Tehadap Motivasi Remaja B

Menurut pendapat saudara Moch Mizan Fadhil, bahwa peran idola sangat
berpengaruh sebagai pendorong (motivasi) dalam kehidupannya sehari-hari, namun
dilain sisi bahwa idola tidak hanya sebagai motivator saja, melainkan sebagai bahan
renungan dan rujukan menuju kehidupan yang lebih baik dan berkualitas.

E.

Manfaat Mempunyai Idola

Menurut saudara Muhammad Burhanuddin dan Moch Mizan Fadhil bahwasanya


disini yang dimaksud adalah Idola yang baik, bukan yang Idola yang merusak
genrasi ramaja. Dalam kehidupan remaja bahwa peran idola mempunyai banyak
manfaat atau dampak positif, dan juga terkadang ada dampak negatif nya juga,
dianataranya:

v Dampak Positif:

Remaja dapat meniru perilaku atau hal-hal positif dari idola mereka.
Sebagai motivator dalam menjalani hidup.
Secra tidak langsung sebagai inspirasi atas segala hal remaja lakukan.
Sebagai pencerah penatap cahaya masa depan, untuk mencapai sebuah cita-cita
yang besar.
v Dampak Negatif:

Fanatisme terhadap Idola yang berlebihan yang berakibat pada keyakinan yang
berlebihan melebihi keyakinan tehadap Allah SWT.
Seseorag akan menganggap Idola yang lain adalah salah dan Idolannyalah yang
paling benar, yang mengakibatkan perpecahan dan pertengkaran antara remaja.
[21]
BAB IV

PENUTUP

KESIMPULAN
Masa remaja merupakan masa yang sangat menentukan karena pada masa ini
anak-anak mengalami banyak perubahan pada psikis dan fisiknya. Perubahan
kejiwaan ini menimbulkan kebingungan dikalangan remaja sehingga masa ini
disebut oleh orang barat sebagai periode strum und drang. Sebabnya karena
mereka mengalami penuh dengan gejolak emosi dan tekanan jiwa sehingga mudah
menyimpang dari aturan dan norma-norma sosial yang berlaku dikalangan
masyarakat.

Maka karena itu tidak heran kalau remaja kebanyakan mempunyai idola dalam
hidupya demi menuju lebih baik lagi. Idola bukan hanya sebagai mengagumi belaka
pada orang yang di idolakan, namu ketika kita semua sudah mengidolakan
seseorang yang dianggap oleh kita mempunyai kharisma yang begitu
mengagumkan maka kita juga akan terinspirasi dan termotivasi untuk bersikap
sama seperti itu. Hasil penelitian yang diperoleh dengan mengunakan metode
wawancara dan observasi adalah bahwa peran idola itu memang sangat
berpengaruh dalam proses pencarian jati diri remaja, bahwa idola juga sangat

berperan sebagai motivator dalam menuju kehidupan yang berkualitas dan berbudi
pekerti yang baik.

Memang tidak penulis nafikan bahwa idola pun dapat berdampak negatif dalam
kehidupan remaja, hal ini terjadi jika kita tidak mampu mengontrol emosi dan
perasaan kita yang tidak terlalu fanatik kepada idola kita. Disisi lain pun idola begitu
banyak berperan dalam msa remaja, di sini peran idola setelah melakukan
penelitian penulis dapat menyimpulkan bahwa peran idola hampir sama perannya
dengan orang tua kita sendiri, terkadang bahkan kita lebih mendengarkan nasehat
dari idola kita dibanding dari orang tua kita sendiri.

DAFTAR PUSTAKA

Zulkifli . L, Psikologi perkembangan, Bandung, PT REMAJA ROSDAKARYA, 2009.


H.H. Remmers dan C.G. Hacket, Lets Listen To Youth, Diterjemahkan oleh Prof. Dr.
Zakiah Daradjat, Memahami Persoalan Remaja, Jakarta, PT Bulan Bintang, 1984.
Walgito. Bimo., Pengantar Psikologi Umum, Yogyakarta, ANDI OFFSET, 2004.
Al Barry. M. Dahlan, Kamus Ilmiah Populer, Surabaya, ARLOKA, 1994.
[1] Drs. Zulkifli L, Psikologi perkembangan, (Bandung: PT REMAJA ROSDAKARYA,
2009), hlm. 63

[2] H.H. Remmers dan C.G. Hacket, Lets Listen To Youth, Diterjemahkan oleh Prof.
Dr. Zakiah Daradjat, Memahami Persoalan Remaja, (Jakarta: PT Bulan Bintang,
1984), hlm. 4.

[3] Fuad Nashori, Potensi-Potensi Manusia, (Yogyakarta: PUSTAKA PELAJAR, 2003),


hlm. 153.

[4] Siti Partini Suardiman, Perkembangan Peserta Didik, (Yogyakarta: FIP UNY, 2006),
hlm. 127.

[5] Drs. Zulkifli L, op. cit. Hlm. 63.

[6] H.H. Remmers dan C.G. Hacket, Lets Listen To Youth, Diterjemahkan oleh Prof.
Dr. Zakiah Daradjat, op, cit. hlm. 4.

[7] Dra. Wiji Hidayat, M.Ag dan Sri Purnami, S.Psi, op. cit. Hlm. 143.

[8] Drs. Zulkifli L, op. cit. Hlm. 65.

[9] Abdul Rahman-Muhbib Abdul Wahab, Psikologi Suatu Pengantar Dalam Perspektif
Islam, (Jakarta: Prenada Media, 2005), hlm. 196.

[10] Drs. Zulkifli L, op. cit. Hlm 66.

[11] M. Dahlan Al Barry, Kamus Ilmiah Populer, (Surabaya: ARLOKA, 1994), hlm.
239.

[12] Prof. Dr. Bimo Walgito, Pengantar Psikologi Umum, (Yogyakarta: ANDI OFFSET,
2004), hlm.220-232.

[13] Data di ambil dari wawancara kepada saudara Muhammad Burhanudin pada
tanggal 20 Desember 2010, pada hari Senin jam 10.15 menit WIB, tempat di Pondok
Pesantren Hidayatul Mubtadiin, Kotagede, Yogyakarta.

[14] Data di ambil dari wawancara kepada saudara Muhammad Burhanudin pada
tanggal 22 Desember 2010, pada hari Rabu jam 16.15 menit WIB, tempat di
Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiin, Kotagede, Yogyakarta.

[15] H.H. Remmers dan C.G. Hacket, Lets Listen To Youth, Diterjemahkan oleh Prof.
Dr. Zakiah Daradjat, Memahami Persoalan Remaja, (Jakarta: PT Bulan Bintang,
1984), hlm. 4.

[16] Prof. Dr. Bimo Walgito, Pengantar Psikologi Umum, (Yogyakarta: ANDI OFFSET,
2004), hlm. 220.

[17] Data dari hasil wawancara kepada Muhammad Burhanudin.

[18] Prof. Dr. Bimo Walgito, Ibid, hlm. 220.

[19]Data di ambil dari wawancara kepada Remaja A saudara Muhammad


Burhanudin pada tanggal 22 Desember 2010, pada hari Rabu jam 17.00 menit WIB,
tempat di Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiin, Kotagede, Yogyakarta.

[20] Data di ambil dari wawancara kepada Remaja B saudara Moch Mizan Fadhil
pada tanggal 23 Desember 2010, pada hari Rabu jam 13.00 menit WIB, tempat di
Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiin, Kotagede, Yogyakarta.

[21] Data di ambil dari wawancara kepada Remaja A dan B saudara Muhammad
Burhanudin dan Moch Mizan Fadhil pada tanggal 24 Desember 2010, pada hari Rabu
jam 14.00 menit WIB, tempat di Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiin, Kotagede,
Yogyakarta.

PENGARUH GAME TERHADAP PERKEMBANGAN


PSIKOLOGIS ANAK
TUGAS UJIAN AKHIR SEMESTER PSIKOLOGI PERKEMBANGAN
PENGARUH GAME TERHADAP PSIKOLOGIS ANAK
Dosen pengampu :
Drs. Mukhtar Gojali, M.Ag

Disusun oleh :
SEPTIAN SUKMAWA (1141040132)
Tasawuf Psikoterapi 3D
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DAJTI BANDUNG 2015

BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pada zaman sekarang ini banyak anak anak yang sangat suka bermain video game. Game
merupakan hal yang tidak bisa dipisahkan dari perkembangan seorang anak. Saat ini, bisnis
game telah berkembang dengan pesat. Hal ini tercermin dari semakin menjamurnya pusat-pusat
permainan (game center) di kota besar maupun kota kecil. Berkembangnya game tersebut diikuti
pula oleh ketakutan para orang tua akan dampak yang akan ditimbulkan oleh game tersebut.
Orang tua khawatir kalau nanti anaknya bermain game yang bukan untuk usianya dan tidak
cocok untuk perkembangan kejiwaannya. Beberapa alasan awal para pecandu game tersebut
lebih mementingkan gamenya dibandingkan kehidupan nyatanya adalah karena kurangnya
perhatian orang tua. ketika si pecandu tersebut menjadi korban bullying di sekolahnya, anak jadi
enggan memberitahu orang tua karena orang tua kurang peduli terhadap perkembangan anaknya
disekolah dan akhirnya bermain game untuk menghilangkan emosi dan stress akibat bullying
tadi. Lalu ada juga orang tua yang terlalu mendukung dan memfasilitasi anak dalam bermain
game. Akibatnya si anak menjadi terlalu bebas dalam bermain game dan akan lebih banyak
menghabiskan waktunya dengan bermain game. Sebagai orang tua seharusnya bisa lebih peduli
terhadap perkembangan anaknya disekolah dan memberikan perhatian lebih terhadap si anak.
Kemudian batasi waktu bermain anak, jangan biarkan anak bermain game terlalu lama dan
masukkanlah si anak ke les akademik ataupun non-akademik untuk meningkatkan prestasinya di
sekolah maupun di luar sekolah. Dengan cara itu mungkin saja si anak jadi bisa terhindar dari
dampak negative games.
B. Masalah
1. Mengapa anak anak suka bermain game ?
2. Bagaimana pengaruh game terhadap perkembangan psikologis anak ?
C. Maksud dan Tujuan Penelitian
Penelitian ini dilakukan dalam rangka memenuhi tugas akhir Mata Kuliah Psikologi
Perkembangan, serta melatih penulis untuk mengadakan mini riset. Mini riset diharapkan dapat
memberi gambaran mengenai penelitian perkembangan.
D. Manfaat Penelitian

Penelitian ini dapat bermanfaat untuk menambah pengetahuan mengenai penelitian


perkembangan itu sendiri. Selain itu untuk mengetahui bagaimana anak bisa terhindar dari
dampak negative bermain game dan mengetahui cara agar anak tidak ketergantungan terhadap
game tersebut.

BAB 2
LANDASAN TEORITIS
A. Pengertian perkembangan
Perkembangan yaitu proses mutlak yang akan dialami oleh makhluk hidup. Namun tidak
hanya makhluk hidup, banyak juga hal lain yang dapat berkembang atau berubah seiring
perubahan waktu. Banyak sekali faktor faktor yang mempengaruhi perkembangan seseorang.
Beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan seseorang adalah sebagai berikut :
1. Factor intern
Kesehatan
Anak-anak yang sehat mempunyai banyak energi untuk bermain dibandingkan dengan
anak-anak yang kurang sehat, sehingga anak-anak yang sehat menghabiskan banyak waktu untuk
bermain yang membutuhkan banyak energy. Ketika anak dalam keadaan sehat frekuensi untuk
bermain bersama teman akan semakin sering dengan seringnya bermain anak akan sering
berinteraksi, dengan berinteraksi anak akan terasah kepekaan emosinya.
Intelegensi
Anak-anak yang cerdas lebih aktif dibandingkan dengan anak-anak yang kurang cerdas.
Anak-anak yang cerdas lebih menyenangi permainan-permainan yang bersifat intelektual atau
permainan yang banyak merangsang daya berpikir mereka, misalnya permainan drama,
menonton film, atau membaca bacaan-bacaan yang bersifat intelektual. Anak aktif tentu akan
sering untuk berinteraksi dan senantiasa luwes dalam bergaul hal ini akan mempengaruhi
kepekaan emosinya.
Jenis kelamin
Anak perempuan biasanya lebih peka terhadap sebuah perasaan dibandingkan dengan
laki laki, oleh karena itu anak permpuan biasanya lebih cepat dalam kepekaan emosinya
dibanding laki laki .
Religi
Dasar agama yang kuat dalam keluarga ataupun lingkungan sangat berpengaruh dalam
perkembangan emosi anak, karena agama senantiasa mengajarkan kebaikan dalam hubungan
antar personal.
2. Faktor ekstern
Lingkungan
Lingkungan yang baik sangat mempengaruhi perkembangan emosi anak, karena pada
usia perkembangan anak akan melihat apa yang ia lihat dilingkungannya dan kemudian ditiru
tanpa melihat apa sesuatu itu baik atau buruk, karena dalam usia perkembngan anak belum bisa

membedakan mana yang baik dan apa yang buruk. Apa yang dirasa lumrah dalam lingkungannya
maka itu akan melekat dalam memorinya. Sesuatu yang dirasa lumrah disuatu lingkungan belum
tentu lumrah juga d lingkungan lain, jadi pilihlah lingkungan yang sehat dalam pergaulan
sehingga perkembangan emosi anak dapat berkembang dengan baik.
Keluarga
Lingkungan keluarga adalah lingkungan yang paling berpengaruh, apa yang diketahui,
dilihat dalam keluarga sangat berpengaruh dalam perkembangan emosi anak,teladan orang tua
yang baik akan membentuk kepekaan emosi anak yang baik. misalnya. Anak yang sering meihat
ayahnya memukul ibunya maka akan terbentuk emosi bahwa memukul itu adalah sesuatu yang
biasa, dan ketika bergaul dengan lingkungannya kemuadian terjadi permasalahan, maka anak
akan tidak segan memukul temannya, karena anak merasa bahwa memlukul itu adalah sesuatu
yang biasa saja.
Status sosial ekonomi
Orang yang status ekonomi lebih tinggi biasanya akan kurang berinteraksi dengan
lingkungannya dibanding dengan orang dengan ekonomi lebih rendah, para orang tua dengan
status ekonomi rendah biasanya membiarkan anak anaknya bermain dengan lingkungannya
dibanding orang tua yang dengan status ekonomi lebih tinggi yang menjaga anaknya tetap
dirumah dan memajakan anak dengan permainan permainan yang tidak melibatkan teman untuk
menjaga anaknya lebih terkontrol.

B. Psikologi Perkembangan Menurut Para Ahli


Psikologi Perkembangan merupakan cabang dari psikologi. Psikologi (Psychology dari
bahasa yunani dari kata psycho yang berarti roh, jiwa (daya hidup) dan logos berarti ilmu,
secara harfiah psikologi berarti ilmu jiwa.
1. David G Myers (1996)
Psikologi perkembangan a branch of psychologu that studies physical, coginitive, and
socialchange throughout the life span
2. Kevil L.Seifert & Robert J Hoffnung (1994)
Psikologi Perkembangan The schientificy study of how thoughts, feeling, personalitu, social
relationships, and body of motor skill envolve as an individual grows older
3. Linda L Daidoff (1991)
Psikologi Perkembangan adalah cabang psikologi yang mempelajari perubahan dan
perkembangan stuktur jasmani, perilaku, dan fungsi mental manusia yang dimulai sejak
terbentuknya makhluk itu melalui pembuahan hingga menjelang mati.
4. M Lenner (1976)
Psikologi perkembangan sebagai pengetahuan yang mempelajari persamaan dan perbedaan
fungsi-fungsi psikologis sepanjang hidup (mempelajari bagaimana proses berpikir pada
anakanak, memiliki persamaan dan perbedaan, dan bagaimana kepribadian seseorang berubah
dan berkembangn dari anak-anak, remaja, sampai dewasa.
C. Emosi
Emosi adalah perasaan intens yang ditujukan kepada seseorang atau sesuatu. Emosi adalah
reaksi terhadap seseorang atau kejadian. Emosi adalah gejolak yang terdapat di dalam jiwa

seseorang yang diperlihatkan melalui raut muka dan perilaku ketika seorang individu menjalani
kehidupannya sehari hari ketika merasa senang mengenai sesuatu, marah kepada seseorang,
ataupun takut terhadap sesuatu. Emosi yang sehat perlu pengendalian pikiran, perasaan dan
perilaku baik positif atau negatif.
D. Game
Menurut Wikipedia (2012) menyatakan bahwa : video game is an electronic game that
involves human interaction with a user interface to generate visual feedback on a video device.
(game adalah sebuah permainan elektronik yang melibatkan interaksi antara pemain dengan
interface game untuk menghasilkan efek umpan balik secara visual pada perangkat
video.)Menurut bahasa, game berasal dari bahasa inggris yang artinya permainan. Dalam
bahasan ini, permainan adalah sebuah video yang dapat dimainkan oleh pemain melalui alat
permainan seperti komputer atau laptop dan konsol seperti Playstation, Xbox 360, Nintendo Wii
dan sebagainya. Permainan tersebut melibatkan interaksi dengan pemain agar dapat
menimbulkan efek visual seperti umpan balik dari permainan yang mereka mainkan.
E. Dampak Game Bagi Perkembangan Anak
Munculnya berbagai game yang semakin beragam ini perlu ditindak secara positif dan
negatif, karena game tidak hanya menimbulkan dampak negatif saja, namun juga dapat
menimbulkan dampak positif bagi perkembangan anak. Sebagai orang tua, pasti kita tidak ingin
anaknya tidak mendapatkan kebutuhan akan game berkurang kan ? maka dari itu, kita sebagai
orang tua atau orang yang mengerti akan dampak-dampak dari game yang semakin beragam ini
agar dapat memberikan anaknya game-game apa saja yang cocok atau sesuai usia si anak.
1.
Dampak positif game
Berikut dampak positif dari game online yang kami dapat dari berbagai sumber :
a. Membuat orang pintar. Penelitian di Manchester University dan Central Lanchashire University
membuktikan bahwa gamer yang bermain game 18 jam per minggu (rata-rata 2.5 jam/hari)
memiliki koordinasi yang baik antara tangan dan mata yang juga setara dengan kemampuan atlet.
b. Meningkatkan konsentrasi. Dr. Jo Bryce, kepala penelitian di suatu universitas di Iggris
menemukan bahwa gamer sejati punya daya konsentrasi tinggi yang memungkinkan mereka
mampu menuntaskan beberapa tugas hidup mereka.
c. Ketajaman mata yang lebih cepat. Penelitian di Rochester University mengungkapkan bahwa
anak-anak yang memainkan game action secara teratur memiliki ketajaman mata yang lebih
cepat daripada mereka yang tidak terbiasa bermain game.
d. Meningkatkan kinerja otak dan memacu otak dalam menerima cerita. Sama halnya dengan
belajar, bermain game yang tidak berlebihan dapat meningkatkan kinerja otak bahkan memiliki
kapasitas jenuh yang lebih sedikit dibandingkan dengan belajar dan membaca buku.
e. Membantu bersosialisasi. Beberapa profesor di Loyola University, Chicago telah mengadakan
penelitian dan menurut mereka game online dapat menumbuhkan interaksi sosial yang
menentang stereotip gamer yang terisolasi. friendship, brotherhood, organisasi (guild),
menghadapi conflict bersama (guild wars), managing people (jika menjadi guild leader), kontrol
emosi, politik, dsb.
f. Mengusir stres!!! Para peneliti di Indiana University menjelaskan bahwa bermain game dapat
mengendurkan ketegangan syaraf. Jelas aja daripada berantem mendingan berantem lewat game,

g.
2.
a.

b.
c.

d.
e.

f.
g.

darahnya bohongan, senjata bohongan, semuanya serba bohongan, buat apa kita hidup di jaman
digital kalau tidak memanfaatkannya.
Memulihkan kondisi tubuh. Dr. Mark Griffiths, psikolog di Nottingham Trent University
melakukan penelitian sejauh mana manfaat game dalam terapi fisik.
Dampak Negatif dari Game
Menimbulkan efek ketagihan, yang berakibat melalaikan kehidupan nyata. Inilah masalah
sebenarnya yang dihadapi oleh para gamer yang intinya adalah pengendalian diri. Dan juga efek
ketagihan semacam ini dapat memicu perilaku negatif seperti mencuri uang untuk membeli game
baru, bolos sekolah, malas mengerjakan pekerjaan rumah (PR), atau rasa tak tenang saat tidak
dapat bermain games.
Kehidupan real menjadi berantakan, seperti nilai pelajaran, tugas kampus, dipecat, dsb.
Membuat orang menjadi bodoh. Orang berpikir terlalu pendek karena jalan main game yang ia
mainkan. Ada salah satu kasus, seseorang membunuh seorang sopir taksi karena orang itu
menginginkan uang dari sopir taksi itu untuk bermain game. Game kesukaannya adalah GTA.
Membuat orang terisolisir dengan lingkungan sekitar. Ini adalah efek karena terlalu seringnya
bermain game sehingga lupa akan kehidupan nyatanya.
Mengganggu kesehatan. Karena seseorang yang bermain game dalam waktu sangat lama ia
hanya melakukan kegiatan pasif dan juga bila seseorang bermain game dengan tingkat
ketergantungan yang tinggi dan posisi duduk yang salah saat bermain games dikawatirkan
seseorang itu akan mengidap Repetitive Strain Injury (RSI) atau nyeri sendi.
Menghayal dan pikiran yang selalu tertuju pada game adalah efek negative yang
ditimbulkannya. Mempengaruhi pola piker dan tingkah laku
Pemborosan, Jika game online telah menjadi candu. Karena jika seseorang telah kecaduan, ia
dapat mengorbankan apapun demi keinginannya.

BAB 3
METODE PENELITIAN
A. Desain Penelitian
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perkembangan emosi pada anak yang suka
bermain game. Penelitian ini menggunakan metode interview jadi penelitian ini bersifat alamiah.
B. Subjek Penelitian
Subjek penelitiannya adalah 2 orang anak gamers usia 10 tahun atau sekitar kelas 5 SD dan
anak usia 14 tahun atau sekitar kelas 2 SMP.
C. Metode Pengumpulan Data
Pengumpulan data penelitian ini dengan wawancara langsung terhadap gamers.
D. Metode Analisis Data

Teknik analisis data interview langsung, sehingga analisis data yang digunakan dengan cara
menelaah jawaban jawaban dari subjek penelitian. Jawaban jawaban tersebut dikategorisasikan
sesuai dengan tujuan dari penelitian ini.

BAB 4
PELAKSANAAN PENELITIAN, HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Persiapan Penelitian
Langkah awal dari penelitian ini adalah mengumpulkan sejumlah bahasan dari buku, web,
artikel yang berkaitan dengan pengaruh game terhadap perkembangan emosi pada anak. Sebelum
meneliti, peneliti mempersiapkan beberapa alat seperti alat perekam dan alat tulis. Kemudian
peneliti mewawancarai subjek yang terdapat di sebuah rental game.
B. Pelaksanaan Penelitian
Penelitian ini menjalin terlebih dahulu komunikasi dengan subjek yang akan di teliti.
Kemudian peneliti berkunjung ke tempat yang sudah di sepakati dengan subjek yaitu di sebuah
rental game. Penelitian pada anak pertama yang berusia 10 tahun dilaksanakan pada tanggal 13
Desember dan pada anak yang kedua yang berumur 14 tahum dilaksanakan pada tanggal 19
Desember.
C. Hasil Penelitian
Hasil pengumpulan data dengan metode wawancara. Masalah masalah emosi yang terjadi
ketika telah bermain game.
Subjek : MJ anak yang berumur 10 tahun
Masalah psikologis yang di alami ketika sering bermain game
Apakah yang dilakukan sodara agar merasa senang ?
Bermain game
Apa yang menyebabkan sodara memilih bermain game untuk membuat senang ?
Karena main game itu seru dan asik
Bagaimana pengaruhnya ketika telah bermain game ?
Kadang puas kadang juga suka kurang puas
Apa alasan yang menyebabkan sodara kurang puas ?
Saat game masih seru waktu ngerentalnya sudah habis
Apakah setelah bermain game ini ada perubahan yang terjadi pada diri sodara ?

3.

Ada, seperti kadang suka berhayal menjadi karakter yang ada pada game tersebut suka
menirukan gaya gayanya.
Apakah game tersebut selain bisa membuat sodara senang juga bisa membuat sodara mengalami
perasaan lain ?
Bisa yaitu ketika game nya susah kita kalah terus bermainnya, terus melihat orang lain bisa
terkadang suka sedih atau stress juga.
Apakah sodara memiliki hambatan ketika sering bermain game ?
Ada, seperti tidak bisa jajan makanan karena uangnya habis dipakai untuk main game.
Apa dampak yang di alami sodara dilingkungan teman bermain ketika telah sering bermain
game ?
Lebih memilih teman yang juga suka bermain game, karena nyambung di ajak ngobrol dan lebih
asik.
Apakah setelah sering bermain game ada pengaruhnya terhadap pembelajaran sodara di
sekolah ?
Ada, jadi bisa lebih berusaha sendiri mengerjakan soal, terus karena game kebanyakan berbahasa
inggris jadi lebih suka dan lebih mudah mengerti ketika belajar bahasa inggris.
Subjek : FID anak yang berumur 14 tahun
Apakah yang dilakukan sodara agar merasa senang ?
Bermain game
Apa yang menyebabkan sodara memilih bermain game untuk membuat senang ?
Karena main game itu seru dan menghilangkan stress
Bagaimana pengaruhnya ketika telah bermain game ?
Pengaruhnya ya ada kepuasan tersendiri yang timbul
Apakah setelah bermain game ini ada perubahan yang terjadi pada diri sodara ?
Ada, seperti kadang suka berhayal menjadi karakter yang ada pada game tersebut suka
menirukan gaya gayanya. Kadang juga suka memperlakukan teman seperti yang ada di game tapi
itu hanya sebatas bercanda saja.
Apakah game tersebut selain bisa membuat sodara senang juga bisa membuat sodara mengalami
perasaan lain ?
Bisa yaitu kadang juga bisa membuat marah dan kesal karena game tersebut susah di pecahkan
permasalahannya.
Apakah sodara memiliki hambatan ketika sering bermain game ?
Ada, seperti tidak bisa jajan tidak bisa menabung, tidak bisa membeli barang yang di inginkan
karena uangnya habis dipakai untuk main game.
Apa dampak yang di alami sodara dilingkungan teman bermain ketika telah sering bermain
game ?
Lebih memilih teman yang juga suka bermain game, karena nyambung di ajak ngobrol dan lebih
asik. Kadang juga suka melupakan teman teman yang lain karena lebih merasa nyaman bergaul
dengan orang yang sama sama suka bermain game.
Apakah setelah sering bermain game ada pengaruhnya terhadap pembelajaran sodara di
sekolah ?
Ada, jadi bisa lebih berusaha sendiri mengerjakan soal, jadi lebih suka soal soal yang bergambar,
menambah kreativitas ketika belajar seni rupa, lebih suka belajar bahasa inggris karena

kebanyakan game menggunakan bahasa inggris, tetapi kadang juga ketika sedang belajar di kelas
sering keingat game dan membuat pelajaran terasa mudah jenuh dan ingin cepat cepat selesai.
D. Pembahasan
Game yang dimainkan oleh anak anak ini banyak pengaruhnya terhadap perkembangan
psikologisnya. Pada awalnya anak hanya coba coba saja dalam bermain game, tapi lama
kelamaan menjadi suatu kecanduan bahkan ada yang sudah menjadi kebutuhan. Mereka bermain
game kebanyakan hanya untuk kepuasan semata saja. Tanpa berfikir panjang ketika anak anak
itu di beri uang oleh orang tuanya uang itu langsung di pakai untuk bermain game.
Kebanyakan dari anak saat bermain game selalu lupa akan segalanya, lupa makan lupa waktu
dan ketika libur sekolah tiba mereka sampai sering bergadang hanya untuk bermain game tanpa
memperhatikan kesehatannya. Anak yang bermain game itu tau bagaimana pengaruh yang
ditimbulkan karena keseringan bermain game karena mereka merasakannya. Tetapi mereka
mengabaikannya karena sudah terlalu terbiasa. Anak yang telah sering bermain game akan sering
berkhayal tentang karakter karakter yang ada pada game yang sering dimainkannya bahkan
sampai menirukannya di kehidupan kehidupan nyata.
Mereka yang sudah kecanduan game akan sering berada didalam rumah, mengisolasi diri
dari kehidupan luar dan memfokuskan dirinya kedunia game. Ya walaupun didalam game yang
mereka mainkan masih bersosialisasi dengan orang-orang sesama gamer, namun mereka jadi
melupakan teman-teman disekitar rumahnya. Mereka yang sudah kecanduan game akan lebih
senang mencari teman yang sama-sama menyukai game, karena mereka dapat bertukar pikiran
mengenai game tersebut, leveling bersama, berpetualang bersama atau bahkan berbisnis bersama
didalam game tersebut.
Tapi dari semua hal tersebut ada juga sisi yang bermanfaat bagi mereka saat telah bermain
game, yaitu menambah kreativitas saat belajar seni. Meraka yang sering bermain game
cenderung lebih banyak berimajinasi yang menjadikan mereka mendapatkan suatu inovasi
inovasi yang baru. Mereka yang sering bermain game juga menjadi lebih mudah untuk
mempelajari bahasa inggris, karena hampir di semua game menggukan bahasa inggris.

BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN
A.

Kesimpulan
Game adalah sesuatu yang sudah tidak asing lagi. Game merupakan hal yang tidak bisa
dipisahkan dari perkembangan seorang anak. Game bisa berdampak negative dan berdampak
positif. Maka dari itu kita harus berusaha memaksimalkan dampak positifnya dan meminimalisir
dampak negatifnya demi kemajuan bangsa.
B.

Saran
Peran sebagai orang tua seharusnya bisa lebih peduli terhadap perkembangan anaknya
disekolah dan memberikan perhatian lebih terhadap si anak. Kemudian batasi waktu bermain
anak, jangan biarkan anak bermain game terlalu lama dan masukkanlah si anak ke les akademik
ataupun non-akademik untuk meningkatkan prestasinya di sekolah maupun di luar sekolah.
Dengan cara itu mungkin saja si anak jadi bisa terhindar dari dampak negative games.

Daftar Pustaka
Santrock, John W.(2002). Life-Span Development : perkembangan perspektif masa hidup jilid 1.
Jakarta : Erlangga.
Yusuf, Syamsu. Mental Hygiene. Bandung : Pusataka Bani Quraisy 2004
Suryabrata, Sumadi. Psikologi Kepribadian. Jakarta : Rajawali Pers, 2013

Lampiran-lampiran
Daftar Pertanyaan :
Apakah yang dilakukan sodara agar merasa senang ?
Apa yang menyebabkan sodara memilih bermain game untuk membuat senang ?
Bagaimana pengaruhnya ketika telah bermain game ?
Apa alasan yang menyebabkan sodara kurang puas ?
Apakah setelah bermain game ini ada perubahan yang terjadi pada diri sodara ?
Apakah game tersebut selain bisa membuat sodara senang juga bisa membuat sodara mengalami
perasaan lain ?
Apakah sodara memiliki hambatan ketika sering bermain game
Apa dampak yang di alami sodara dilingkungan teman bermain ketika telah sering bermain
game ?
Apakah setelah sering bermain game ada pengaruhnya terhadap pembelajaran sodara di
sekolah ?

PERAN ORANG TUA YANG MEMBERLAKUKAN DISIPLIN WAKTU TERHADAP


PERKEMBANGAN KARAKTER ANAK

Laporan Penelitian
Disusun untuk Memenuhi Tugas Ujian Akhir Semester Mata Kuliah Psikologi
Pendidikan
Dosen Pembimbing Dr. Warsiman M.Pd. dan Machrus Abadi, M.Pd.
Oleh
Aan Indriyani

(155110700111007)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA


FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
JUNI 2016

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dalam bahasa Indonesia istilah disiplin kerap kali terkait dan menyatu dengan
istilah tata tertib dan ketertiban. Dengan demikian, kedisiplinan hal-hal yang
berkaitan dengan ketaatan atau kepatuhan seseorang terhadap peraturan atau tata
tertib yang berlaku. Kedisiplinan adalah suatu kondisi yang tercipta dan terbentuk
melalui proses dari serangkaian perilaku yang menunjukkan nilai-nilai ketaatan,
kepatuhan, kesetiaan, keteraturan dan atau ketertiban (Prijodarminto 1994:23).
Salah satu unsur pokok disiplin adalah peraturan. Peraturan adalah ketentuanketentuan yang telah ditetapkan untuk menata tingkah laku seseorang dalam suatu
kelompok, organisasi, institusi atau komunitas. Tujuanya adalah membekali anak
dengan pedoman perilaku yang disetujui dalam situasi tertentu (Hurlock, 1999: 85).
Contoh sikap disiplin dalam kehidupan sehari-hari antara lain bangun pagi,
berangkat sekolah sebelum bel masuk berbunyi, belajar pada waktu malam hari,
dan lain sebagainya. Dari penerapan kedisiplinan maka akan membantu dalam
perkembangan karakter anak.
Menurut bahasa, karakter adalah tabiat atau kebiasaan. Sedangkan menurut ahli
psikologi, karakter adalah sebuah sistem keyakinan dan kebiasaan yang
mengarahkan tindakan seorang individu. Karena itu, jika pengetahuan mengenai
karakter seseorang itu dapat diketahui, maka dapat diketahui pula bagaimana
individu tersebut akan bersikap untuk kondisi-kondisi tertentu.
Pada zaman sekarang yang sering terjadi di kehidupan kita adalah budaya
terlambat, waktu akan menjadi mundur dari yang sudah ditentukan. Budaya
terlambat semakin hari semakin parah saja.
Maka beberapa orangtua sudah menerapkan disiplin waktu terhadap anak-anaknya
sejak dini dengan harapan supaya kedepannya anak-anaknya bisa berkembang
menjadi anak yang tepat waktu dan memiliki karakter yang baik dengan cara
mereka mengajarkan supaya kita menghargai betul dan benar-benar memanfaatkan
waktu walupun hanya satu detik.

Perlu diperhatikan yaitu bahwa disiplin dilakukan secara rela dan bukan merupakan
paksaan dari pihak manapun. Namun dengan diberlakukannya disiplin waktu oleh
orangtua terhadap anak-anaknya, belum tentu anak merasa senang, karena dengan
diberikannya disiplin waktu oleh orangtua dalam melakukan aktivitasnya bisa saja
merasa dibatasi, karena setiap apa yang dilakukannya diberi waktu, dari merasa
dibatasi itupun lama kelamaan dapat menimbulkan rasa tertekanan dan dapat
menimbulkan dampak-dampak negatif pada perkembangan karakternya, namun
ada juga anak yang merasa biasa saja karena penerapan disiplin waktu sejak dini
menjadi sebuah kebiasaan terhadap jam aktivitas yang dijalaninya. Penelitian ini
ditujukan untuk mengetahui bagaimana perkembangan karakter seorang anak yang
orangtuanya menerapkan disiplin waktu di kehidupannya.

1.2 Rumusan Masalah :


1.

Apa pengertian kedisiplinan?

2.

Apa saja unsur-unsur disiplin?

3.

Bagaimana cara menanamkan disiplin?

4.

Apa manfaat dari disiplin?

5.

Apa pengertian karakter?

6.

Apa saja aspek-aspek penting dalam pendidikan karakter anak?

7.

Bagaimana pola asuh orang tua dalam perkembangan karakter anak?

8.

Bagaimana proses pembentukan karakter?

9.

Apa langkah mengubah karakter?

10. Bagaimana cara orang tua menerapkan disiplin waktu terhadap anaknya?
11. Apa saja dampak yang muncul dari penerapan disiplin waktu yang diberlakukan
orang tua kepada anaknya?
12. Bagaimana solusi untuk mengatasi dampak yang muncul dari penerapan
disiplin waktu yang diberlakukan orang tua terhadap anaknya?

1.3 Tujuan Penelitian :


1.

Untuk mengetahui pengertian kedisiplinan.

2.

Untuk mnegetahui unsur-unsur disiplin.

3.

Untuk mengetahui cara menanamkan disiplin.

4.

Untuk mnegetahui manfaat disiplin.

5.

Untuk mnegetahui pengertian karakter.

6.

Untuk mnegetahui aspek-aspek penting dalam pendidikan karakter anak.

7.

Untuk mnegetahui pola asuh orangtua dalam perkembangan karakter anak.

8.

Untuk mnegetahui proses pembentukan karakter.

9.

Untuk mengetahui langkah mengubah karakter.

10. Untuk mengetahui cara orangtua menerapkan disiplin waktu terhadap anaknya.
11. Untuk mengetahui dampak yang muncul dari penerapan disiplin waktu yang
diberlakukan orangtua terhadap anaknya.
12. Untuk memberikan solusi dari dampak yang muncul dari penerapan disiplin
waktu yang diberlakukan orangtua terhadap anaknya.

1.4 Manfaat Penelitian


1.
Supaya para orangtua mengerti apa saja dampak yang muncul dari
pemberlakuan disiplin waktu terhadap anak
2.
Untuk memberikan solusi dalam mengatasi dampak yang muncul dari
penerapan disiplin waktu.
3.
Untuk membantu dalam memotivasi ego anak ke arah pembentukan karakter
dan moral yang baik.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Kedisiplinan


Kedisiplinan berasal dari kata disiplin. Istilah disiplin berasal dari bahasa latin
Disciplina yang menunjuk pada kegiatan belajar dan mengajar. Sedangkan istilah
bahasa inggrisnya yaitu Discipline yang berarti: 1) tertib, taat atau
mengendalikan tingkah laku, penguasaan diri; 2) latihan membentuk, meluruskan
atau menyempurnakan sesuatu, sebagai kemampuan mental atau karakter moral;
3) hukuman yang diberikan untuk melatih atau memperbaiki; 4) kumpulan atau
sistem-sistem peraturan-peraturan bagi tingkah laku (Mac Millan dalam Tuu,
2004:20).
Disiplin juga dapat berarti tata tertib, ketaatan, atau kepatuhan kepada peraturan
tata tertib (Depdikbud 1988:208). Dalam bahasa Indonesia istilah disiplin kerap kali
terkait dan menyatu dengan istilah tata tertib dan ketertiban. Dengan demikian,
kedisiplinan hal-hal yang berkaitan dengan ketaatan atau kepatuhan seseorang
terhadap peraturan atau tata tertib yang berlaku.
Kedisiplinan adalah suatu kondisi yang tercipta dan terbentuk melalui proses dari
serangkaian perilaku yang menunjukkan nilai-nilai ketaatan, kepatuhan, kesetiaan,
keteraturan dan atau ketertiban (Prijodarminto 1994:23). Sedangkan, menurut
Amatembun (1974:6) kedisiplinan adalah keadaan tertib dimana orang yang
tergabung dalam organisasi tunduk pada peraturan yang telah ada dengan senang
hati.
Disiplin dalam arti sempit sering disamakan dengan hukuman, menurut pendapat
ini disiplin hanya digunakan bila anak melanggar peraturan atau perintah yang
diberikan orang tua, guru atau orang dewasa yang mengatur kehidupan anak dalam
lingkungan tinggalnya. Pada prinsipnya disiplin adalah keharusan anak untuk
menaati peraturan-peraturan yang berlaku di masyarakatnya. Dengan demikian,
menanamkan disiplin pada anak bukan hukuman (punishment) yang diperlukan,
tetapi pujian atau hadiah (reward) sangat besar peranannya. Oleh karena itu,
disiplin sebagai pembentukan perilaku moral anak yang disetujui

kelompok masyarakat tempat tinggalnya lebih tepat daripada pengertian disiplin


yang diartikan sebagai hukuman. (Daeng Sari :1996).
Menurut Hurlock (1999:82) dalam bukunya Perkembangan Anak mengartikan
perilaku disiplin yakni perilaku seseorang yang belajar dari atau secara sukarela
mengikuti seorang pemimipin. Dari pengertian-pengertian di atas dapat disimpulkan
bahwa disiplin adalah kondisi yang tercipta dan terbentuk melalui proses dari
serangkaian perilaku yang sering disamakan dengan hukuman untuk membentuk
perilaku tertib pada seseorang.

2.2 Unsur-Unsur Disiplin


Menurut Tulus Tuu (2004:33) menyebutkan unsurunsur disiplin adalah sebagai
berikut :
a.

Mengikuti dan menaati peraturan, nilai dan hukum yang berlaku.

b.
Pengikutan dan ketaatan tersebut terutama muncul karena adanya kesadaran
diri bahwa hal itu berguna bagi kebaikan dan keberhasilan dirinya. Dapat juga
muncul karena rasa takut, tekanan, paksaan dan dorongan dari luar dirinya.
c.
Sebagai alat pendidikan untuk mempengaruhi, mengubah, membina, dan
membentuk perilaku sesuai dengan nilai-nilai yang ditentukan atau diajarkan.
d.
Hukuman yang diberikan bagi yang melanggar ketentuan yang berlaku, dalam
rangka mendidik, melatih, mengendalikan dan memperbaiki tingkah laku.
e.

Peraturan-peraturaan yang berlaku sebagai pedoman dan ukuran perilaku.

Menurut Elizabeth B. Hurlock (1970:74) mengemukakan unsur-unsur disiplin yang


diharapkan mampu mendidik anak untuk berperilaku sesuai dengan standar yang
ditetapkan kelompok sosial mereka. Ia harus mempunyai empat unsur pokok, yaitu:
peraturan, hukuman, penghargaan, dan konsistensi.
1.

Peraturan

Peraturan adalah pola yang ditetapkan untuk tingkah laku. Pola tersebut bisa
ditetapkan oleh orang tua, guru atau teman bermain. Tujuannya adalah

membekali anak dengan pedoman perilaku yang disetujui dalam situasi-situasi


tertentu.
2.

Hukuman

Hukuman mempunyai peran antara lain menghalangi pengulangan tindakan yang


tidak diinginkan oleh masyarakat, mendidik anak membedakan mana yang benar
dan mana yang salah, serta memberi motivasi untuk menghindari perilaku yang
tidak diterima masyarakat.
3.

Penghargaan

Penghargaan berarti tiap bentuk pemberian untuk suatu hasil yang baik.
Penghargaan mempunyai nilai mendidik, sebagai motivasi untuk mengulang
perilaku yang disetujui secara sosial, memperkuat perilaku yang disetujui secara
sosial.
4.

Konsistensi

Konsistensi berarti tingkat keseragaman atau stabilitas. Harus ada konsistensi


dalam peraturan yang digunakan sebagai pedoman perilaku, konsistensi dalam
cara peraturan ini diajarkan dan dipaksakan, dalam hukuman yang diberikan pada
mereka yang tidak menyesuaikan pada standar dan dalam penghargaan bagi
mereka yang menyesuaikan.

2.3 Cara Menanamkan Disiplin


Elizabeth B. Hurlock (1997:93) mengemukakan bahwa cara-cara menanamkan
disiplin dapat dibagi menjadi tiga cara, yaitu: mendisiplinkan dengan otoriter,
mendisiplinkan dengan permisif, dan mendisiplinkan dengan demokratis.
1.

Mendisiplinkan dengan Otoriter

Peraturan dan pengaturan yang keras untuk memaksakan perilaku yang diinginkan
menandai semua jenis disiplin yang otoriter. Tekniknya mencakup hukuman yang
berat bila terjadi kegagalan memenuhi standar dan sedikit, atau sama sekali tidak
adanya persetujuan, pujian atau tanda-tanda penghargaan lainnya bila anak
memenuhi standar yang diharapkan.
2.

Mendisiplinkan dengan Permisif

Disiplin permisif sebenarnya berarti sedikit disiplin atau tidak disiplin. Biasanya
disiplin permisif tidak membimbing ke pola perilaku yang disetujui secara sosial
dan tidak menggunakan hukuman. Dalam hal ini tidak diberi batas-batas atau
kendala yang mengatur apa saja yang boleh dilakukan, mereka diijinkan untuk
mengambil keputusan sendiri dan berbuat sekehendak mereka sendiri.
3.

Mendisiplinkan dengan Demokratis

Metode demokratis menggunakan menggunakan penjelasan, diskusi dan penalaran


untuk membantu anak mengerti mengapa perilaku tertentu diharapkan. Metode ini
lebih menekankan aspek edukatif dari disiplin daripada aspek hukuman. Disiplin
demokratis menggunkan hukuman dan penghargaan. Hukuman tidak pernah keras
dan biasanya tidak berbentuk hukuman badan.

2.4 Manfaat Disiplin


Seperti dikatakan oleh Dirk Meyer, Gutkin dan Redh (Oteng Sutisna) bahwa manfaat
dari disiplin adalah :
1.
Disiplin memberi rasa aman dan memberitahukan apa yang boleh dan tidak
boleh dilakukan
2.
Dengan membantu anak menghindari perasaan bersalah, rasa malu akibat
perilaku yang salah, perasaan yang pasti mengakibatkan rasa tidak bahagia dan
penyesuaian yang baik terhadap disiplin memungkinkan anak hidup menurut
standar yang disetujui oleh lingkungan sosialnya dan dengan demikian memperoleh
prsetujuan sosial.
3.
Dengan disiplin anak belajar bersikap menurut cara yang akan mendatangkan
pujian yang akan ditampilkan anak sebagai tanda kasih sayang dan penerimaan hal
ini esensial bagi penyesuaian yang berhasil dan berakhir dengan kebahagiaan.
4.
Disiplin yang sesuai dengan perkembangan berfungsi sebagai motivasi
pendorong ego yang mendorong anak mencapai apa yang diharapkan dirinya.

2.5 Pengertian Perkembangan


Herbart berpendapat bahwa terjadinya perkembangan adalah oleh karena adanya
unsur-unsur berasosiasi, sehingga sesuatu yang semuanya bersifat simpel makin
lama makin banyak dan kompleks. Herbart berpendapat demikian karena teorinya,
bahwa nak baru lahir keadaan jiwanya masih bersih.
Menurut Teori Gestalt bahwa proses perkembangan bukan berlangsung dari sesuatu
yang simpel ke sesuatu yang kompleks, melainkan berlangsung dari sesuatu yang
bersifat global (menyeluruh tapi samar-samar) ke makin lama makin dalam keadaan
jelas, tampak bagian-bagian dalam keseluruhan itu.
Teori sosialisasi (James Mark Baldwin) berpendapat bahwa proses perkembangan
itu adalah proses sosialisasi dari sifat individualis. Dalam hal ini Baldwin terkenal
dengan teori Circulair Reastion. Dia berpendapat bahwa perkembangan sebagai
proses sosoalisasi, adalah dalam bentuk imitasi yang berlangsung dengan adaptasi
dan seleksi.
Jadi dapat disimpulkan bahwa perkembangan adalah terjadinya perkembangan
sebagai proses sosoalisasi berlangsung dari sesuatu yang bersifat globalke makin
lama makin dalam keadaan jelas, tampak bagian-bagian dalam keseluruhan
itu.dalam bentuk imitasi yang berlangsung dengan adaptasi dan seleksi.

2.6 Pengertian Karakter


Karakter berasal dari bahasa Yunani karasso yang berarti to mark atau
menandai dan memfokuskan bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam
bentuk tindakan atau tingkah laku, sehingga orang yang tidak jujur, kejam, rakus
dan perilaku jelek lainnya dikatakan orang berkarakter jelek. Sebaliknya, orang
yang perilakunya sesuai dengan kaidah moral disebut dengan berkarakter mulia.
Menurut bahasa, karakter adalah tabiat atau kebiasaan.
Pengertian karakter menurut Pusat Bahasa Dekdiknas adalah bawaan, hati, jiwa,
kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat, temperamen, watak.
Adapun berkarakter, adalah berkepribadian, berperilaku, bersifat, dan berwatak.
Definisi karakter menurut ahlinya, antara lain :

1.
Menurut ahli psikologi, karakter adalah sebuah sistem keyakinan dan
kebiasaan yang mengarahkan tindakan seorang individu.
2.
Menurut Lickona, karakter berkaitan dengan konsep moral (moral knonwing),
sikap moral (moral felling), dan perilaku moral (moral behavior).
3.
Suyanto (2009) mendefinisikan karakter sebagai cara berpikir dan berperilaku
yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam
lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, maupun negara.
4.
Karakter adalah ciri khas yang dimiliki oleh suatu benda atau individu. Ciri
khas tersebut adalah asli dan mengakar pada kepribadian benda atau individu
tersebut, serta merupakan mesin yang mendorong bagaimana seorang bertindak,
bersikap, berucap, dan merespon sesuatu (Kertajaya, 2010).
5.
Menurut (Ditjen Mandikdasmen Kementerian Pendidikan Nasional), Karakter
adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk
hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan
negara. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang bisa membuat
keputusan dan siap mempertanggungjawabkan tiap akibat dari keputusan yang ia
buat.
6.
W.B. Saunders (1977: 126) menjelaskan bahwa karakter adalah sifat nyata
dan berbeda yang ditunjukkan oleh individu, sejumlah atribut yang dapat diamati
pada individu.
7.
Gulo W (1982: 29) menjabarkan bahwa karakter adalah kepribadian ditinjau
dari titik tolak etis atau moral, misalnya kejujuran seseorang, biasanya
mempunyai kaitan dengan sifat-sifat yang relatif tetap.
8.
Kamisa (1997: 281) mengungkapkan bahwa karakter adalah sifat-sifat
kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain,
tabiat, watak. Berkarakter artinya mempunyai watak, mempunyai kepribadian.
9.
Alwisol menjelaskan pengertian karakter sebagai penggambaran tingkah laku
dengan menonjolkan nilai (benar-salah, baik-buruk) baik secara eksplisit maupun
implisit. Karakter berbeda dengan kepribadian kerena pengertian kepribadian
dibebaskan dari nilai. Meskipun demikian, baik kepribadian (personality) maupun
karakter berwujud tingkah laku yang ditujukan

kelingkungan sosial, keduanya relatif permanen serta menuntun, mengerahkan dan


mengorganisasikan aktifitas individu.
Setiap para ahli memiliki sudut pandang yang berbeda mengenai definisi karakter.
Dari definisi-definisi diatas dapat kita simpulkan bahwa karakter adalah watak, sifat,
budi pekerti dan kepribadian serta merupakan kualitas dan kuantitas moral seorang
individu. Karakter juga dapat mencerminkan cara berpikir dan berperilaku
seseorang dalam berinteraksi dan bekerja sama dengan orang lain dalam
kehidupan sehari-hari.

2.7 Aspek-Aspek Penting dalam Pendidikan Karakter Anak


Untuk membentuk karakter anak diperlukan syarat-syarat mendasar bagi
terbentuknya kepribadian yang baik. Menurut Megawangi (2003), ada tiga
kebutuhan dasar anak yang harus dipenuhi, yaitu maternal bonding, rasa aman,
dan stimulasi fisik dan mental.
1.

Maternal Bonding (Kelekatan Psikologis dengan Ibunya)

Merupakan dasar penting dalam pembentukan karakter anak karena aspek ini
berperan dalam pembentukan dasar kepercayaan kepada orang lain (trust) pada
anak. Kelekatan ini membuat anak merasa diperhatikan dan menumbuhkan rasa
aman sehingga menumbuhkan rasa percaya. Menurut Erikson, dasar kepercayaan
yang ditumbuhkan melalui hubungan ibu-anak pada tahun-tahun pertama
kehidupan anak akan memberi bekal bagi kesuksesan anak dalam kehidupan
sosialnya ketika ia dewasa. Dengan kata lain, ikatan emosional yang erat antara
ibu-anak di usia awal dapat membentuk kepribadian yang baik pada anak.
2.

Kebutuhan akan Rasa Aman

Yaitu kebutuhan anak akan lingkungan yang stabil dan aman. Kebutuhan ini penting
bagi pembentukan karakter anak karena lingkungan yang berubah-ubah akan
membahayakan perkembangan emosi bayi. Pengasuh yang berganti-ganti juga
akan berpengaruh negatif pada perkembangan emosi anak. Menurut Bowlby (dalam
Megawangi, 2003) normal bagi seorang bayi untuk mencari kontak dengan hanya
satu orang (biasanya ibu) pada tahap-tahap awal masa bayi. Kekacauan emosi anak
yang terjadi karena tidak adanya rasa aman ini diduga oleh

para ahli gizi berkaitan dengan masalah kesulitan makan pada anak. Tentu saja hal
ini tidak kondusif bagi pertumbuhan anak yang optimal.
3.

Kebutuhan akan Stimulasi Fisik dan Mental

Hal ini membutuhkan perhatian yang besar dari orang tua dan reaksi timbal balik
antara ibu dan anaknya. Menurut pakar pendidikan anak, seorang ibu yang sangat
perhatian (yang diukur dari seringnya ibu melihat mata anaknya, mengelus,
menggendong, dan berbicara kepada anaknya) terhadap anaknya yang berusia usia
di bawah enam bulan akan mempengaruhi sikap bayinya sehingga menjadi anak
yang gembira, antusias mengeksplorasi lingkungannya, dan menjadikannya anak
yang kreatif.

2.8 Pola Asuh Orang Tua dalam Perkembangan Karakter Anak


Berikut empat tipe pola asuh yang dikembangkan pertama kali oleh Diana Baumrind
(1967) : pola asuh demokratis, pola suh otoriter, pola asuh permisif atau
pemanjaan, dan pola asuh penelantara.
1.

Pola Asuh Demokratis

Pola asuh demokratis adalah pola asuh yang memprioritaskan kepentingan anak,
akan tetapi tidak ragu-ragu mengendalikan mereka. Orang tua dengan pola asuh ini
bersikap rasional, selalu mendasari tindakannya pada rasio atau pemikiranpemikiran. Orang tua tipe ini juga bersikap realistis terhadap kemampuan anak,
tidak berharap yang berlebihan yang melampaui kemampuan anak. Orang tua tipe
ini juga memberikan kebebasan kepada anak untuk memilih dan melakukan suatu
tindakan, dan pendekatannya kepada anak bersifat hangat.
2.

Pola Asuh Otoriter

Pola asuh otoriter cenderung menetapkan standar yang mutlak harus dituruti,
biasanya dibarengi dengan ancaman-ancaman. Misalnya, kalau tidak mau makan,
maka tidak akan diajak bicara. Orang tua tipe ini juga cenderung memaksa,
memerintah, menghukum. Apabila anak tidak mau melakukan apa yang dikatakan
oleh orang tua, maka orang tua tipe ini tidak segan menghukum anak. Orang tua
tipe ini juga tidak mengenal kompromi, dan dalam komunikasi biasanya bersifat
satu arah. Orang tua tipe ini tidak memerlukan umpan balik dari anaknya untuk
mengerti mengenai anaknya.

3.

Pola Asuh Permisif Atau Pemanja

Pola asuh ini biasanya meberikan pengawasan yang sangat longgar. Memberikan
kesempatan pada anaknya untuk melakukan sesuatu tanpa pengawasan yang
cukup darinya. Mereka cenderung tidak menegur atau memperingatkan anak
apabila anak sedang dalam bahaya, dan sangat sedikit bimbingan yang diberikan
oleh mereka. Namun orang tua tipe ini biasanya bersifat hangat, sehingga seringkali
disukai oleh anak.
4.

Tipe Penelantar

Orang tua tipe ini pada umumnya memberikan waktu dan biaya yang sangat minim
pada anak-anaknya. Waktu mereka banyak digunakan untuk keperluan pribadi
mereka, seperti bekerja, dan juga kadangkala biayapun dihemat-hemat untuk anak
mereka. Termasuk dalam tipe ini adalah perilaku penelantar secara fisik dan psikis
pada ibu yang depresi. Ibu yang depresi pada umumnya tidak mampu memberikan
perhatian fisik maupun psikis pada anak-anaknya.

2.9 Proses Pembentukan Karakter


Karakter terbentuk setelah mengikuti proses sebagai berikut :
1)
Adanya nilai yang diserap seseorang dari berbagai sumber, mungkin agama,
ideology, pendidikan, temuan sendiri atau lainnya.
2)
Nilai membentuk pola fikir seseorang yang secara keseluruhan keluar dalam
bentuk rumusan visinya.
3)
Visi turun ke wilayah hati membentuk suasana jiwa yang secara keseluruhan
membentuk mentalitas.
4)
Mentalitas mengalir memasuki wilayah fisik dan melahirkan tindakan yang
secara keseluruhan disebut sikap.
5)
Sikap-sikap yang dominan dalam diri seseorang yang secara keseluruhan
mencitrai dirinya adalah apa yang disebut sebagai kepribadian atau karakter.
Proses pembentukan mental tersebut menunjukan keterkaitan antara fikiran,
perasaan dan tindakan. Dari akal terbentuk pola fikir, dari fisik terbentuk menjadi
perilaku. Cara berfikir menjadi visi, cara merasa menjadi mental dan cara berprilaku
menjadi karakter. Apabila hal ini terjadi terus menerus akan menjadi

sebuah kebiasaan. Akhlak atau karakter adalah suatu perbuatan yang dilakukan
oleh seseorang tanpa melalui proses pemikiran (Imam Al-Ghozali).
Jadi, proses pembentukan karakter itu menunjukkan keterkaitan yang erat antara
fikiran, perasaan dan tindakan.

2.10

Langkah Mengubah Karakter

Dengan mengetahui tahapan, metoda dan proses pembentukan karakter, maka bisa
diketahui bahwa akar dari perilaku atau karakter itu adalah cara berfikir dan cara
merasa seseorang. Sehingga untuk mengubah karakter seseorang, kita bisa
melakukan tiga langkah berikut :
a.
Langkah pertama adalah melakukan perbaikan dan pengembangan cara
berfikir yang kemudian disebut terapi kognitif, dimana fikiran menjadi akar dari
karakter seseorang.
b.
Langkah kedua adalah melakukan perbaikan dan pengembangan cara merasa
yang disebut dengan terapi mental, karena mental adalah batang karakter yang
menjadi sumber tenaga jiwa seseorang.
c.
Langkah ketiga adalah melakukan perbaikan dan pengembangan pada cara
bertindak yang disebut dengan terapi fisik, yang mendorong fisik menjadi
pelaksana dari arahan akal dan jiwa.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam membentuk karakter:
1.

Pembiasaan tingkah laku sopan.

Sopan santun atau etiket adalah akhlak yang bersifat lahir. Ukuran sopan santun
terletak pada cara pandang suatu masyarakat. Sopan santun pada anak tertanam
melalui kebiasaan sehari-hari di rumah. Apa yang diajarkan orang tua di rumah
akan melekat pada diri anak. Sopan santun pada remaja tertanam disamping
melalui kebisaan dalam rumah juga melalui proses pergaulan teman sebaya, di
sekolah atau melalui suatu tontonan. Sedangkan sopan santun pada remaja
disamping karena perbekalan pada masa anak-anak dan remaja terbentuk melalui
perilalu para tokoh masyarakat, terutama tokoh yang dihormati dan diidolakan

2.

Kebersihan, kerapian dan ketertiban

Pengetahuan tentang hubungan kebersihan dengan lingkungan dibentuk melalui


proses pendidikan, tetapi kepekaan terhadap kebersihan dibangun melalui proses
pembiasaan sejak kecil.
3.

Kejujuran

Jujur bukan berarti mengatakan semua yang diketahui apa adanya, tetapi
mengatakan apa yang diketahui sepanjang mengandung kebaikan dan tidak
menyebutnya jika diperkirakan memabawa akibat buruk bagi dirinya dan orang lain.
4.

Disiplin.

Tingkah laku disiplin dilakukan karena mengikuti suatu komitmen. Disiplin bisa
berhubungan dengan kejujuran, bisa juga tidak. Kejujuran juga diwariskan oleh
genetika orang tuannya, terutama ketika anak masih dalam kandungan, secara
psikologis dapat menetas pada anaknya. Keharmonisan orang tua didalam rumah
akan sangat berpengaruh dalam membentuk watak dan kepribadian anak-anak
pada umur perkembangannya.

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Metode Penelitian


a. Metode penelitian :
Didalam penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif, kuisioner. Pada
penenelitian metode kuantitatif ini hanya mementingkan hasil dari peneltian.
Hubungan-hubungan antar-bagian terlihat jelas dalam proses yang menjadi objek
dalam penelitian.
Menurut Sugiyono, metode penelitian kuantitatif dapat diartikan sebagai metode
penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti
pada populasi atau sampel tertentu. Teknik pengambilan sampel pada umumnya
dilakukan secara random, pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian,
analisis data bersifat kuantitatif/statistik dengan tujuan untuk menguji hipotesis
yang telah ditetapkan (Sugiyono, 2012:7). Metode ini disebut metode kuantitatif
karena data penelitian berupa angka-angka dan analisis menggunakan statistik.
Selain itu metode penelitian kuantitatif dikatakan sebagai metode yang lebih
menekankan pada aspek pengukuran secara obyektif terhadap fenomena sosial.
Tujuan utama dati metodologi ini ialah menjelaskan suatu masalah tetapi
menghasilkan generalisasi. Generalisasi ialah suatu kenyataan kebenaran yang
terjadi dalam suatu realitas tentang suatu masalah yang di perkirakan akan berlaku
pada suatu populasi tertentu.
Kuesioner merupakan alat teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara
memberikan seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden
untuk dijawabnya. Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang efisien bila
peneliti tahu pasti variabel yang akan diukur dan tahu apa yang bisa diharapkan
dari responden(Iskandar, 2008:77).

b.

Teknik Penelitian : Teknik Pengumpulan data

Menurut Sugiyono (2013:224) teknik pengumpulan data merupakan langkah yang


paling strategis dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah
mendapatkan data.

c.

Populasi dan sampel :

Populasi

: Kabupaten Karanganyar dan Kota Malang

Sampel
: Beberapa warga dari Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah
yang terdiri dari 7 anak dan 4orangtua, beberapa mahasiswa jurusan Pendidikan
Bahasa dan Sastra Indonesia angkatan 2015, Universitas Brawijaya, Malang,
sebanyak 8 anak dan 2 orangtua dari orang tua mahasiswajurusan Pendidikan
Bahasa dan Sastra Indonesia angkatan 2015,Universitas Brawijaya.
d. Lokasi dan waktu:
Lokasi penelitian dilaksanakan di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah dan kota
Malang dengan menyebarkan angket di beberapa rumah dan di Fakuktas Ilmu
Budaya, Universitas Brawijaya, waktu dilakukan dalam 1 minggu dimulai dari
tanggal 6 Mei 2016- 12 Mei 2016.
e.

Analisis data :

Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang
diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan bahan-bahan lain, sehingga
dapat mudah dipahami, dan temuannya dapat diinformasikan kepada orang lain
(Bogdan dalam Sugiyono, 2013:244). Para respondendengan memberi tanda
centang pada kolom antara 1-3 dengan keriteria 1= sering, 2= jarang-jarang, 3=
tidak pernah. Para responden diperuntukan untuk mengisi angket dengan
pertanyaan sebagai berikut.

a.

Untuk orang tua

NO

PERTANYAAN

Apakah anak Anda bangun


terlambat?

Apakah anak Anda pulang


terlambat?

Apakah anak Anda membantah


perintah Anda?

Apakah anak Anda terbuka terhadap


Anda?

ALTERNATIF JAWABAN
1

Apakah anak Anda mengikuti


organisasi / ekstrakulikuler di
sekolah?

Apakah Anda pernah menemui anak


Anda berbohong terhadap Anda?

Apakah anak Anda berperilaku baik


terhadap Anda, keluarga dan temantemannya?

Apakah anak Anda tiba-tiba sering


marah-marah sendiri?

1.

Bagaimana langkah Anda supaya anak tidak melanggar disiplin waktu?

2.
Apakah anda pernah berfikiran dengan menerapkan disiplin waktu dapat
membuat anak merasa tertekan ? Berikan alasan Anda?

b.

Untuk anak :

NO

PERTANYAAN

Apakah Anda bangun terlambat?

Apakah Anda sengaja pulang


terlambat?

Apakah Anda terbuka terhadap


orangtua?

Apakah Anda mengikuti organisasi/


ekstrakulikuler di sekolah?

Apakah Anda pernah berbohong


terhadap orangtua Anda?

Apakah Anda ingin memberontak


terhadap peraturan waktu yang
diterapkan orangtua Anda?

Apakah Anda merasa dibatasi oleh


orangtua Anda?

Apakah Anda merasa tertekan?

ALTERNATIF JAWABAN
1

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian dan Pembahasan


a. Hasil angket untuk orang tua :
1.
Hasil penelitian dengan banyak 6 responden pada keterlambatan bangun
anaknya bahwa sebanyak 16,7% sering, 50% jarang-jarang dan 33,3% tidak pernah.
Jadi, dengan memberlakukan disiplin waktu maka anak akan memiliki kesadaran diri
untuk menaati peraturan dengan bukti mereka lebih jarang-jarang bangun
terlambat bahkan tidak pernah bangun terlambat.
2.
Hasil penelitian dengan banyak 6 responden pada keterlambatan pulang
anaknya bahwa sebanyak 0 %sering, 33,3% jarang-jarang dan 66,7% tidak pernah.
Jadi, dengan memberlakukan disiplin waktu maka hasilnya anak akan tepat waktu
ketika pulang sekolah.
3.
Hasil penelitian dengan banyak 6 responden tentang anak membantah
perintah orangtua bahwa sebanyak 0% sering, 66,7% jarang-jarang dan 30,3% tidak
pernah. Jadi, meskipun diberlakukan disiplin waktu anak akan jarang-jarang bahkan
tidak pernah membantah perintah orang tua.
4.
Hasil penelitian dengan banyak 6 responden tentang keterbukaan anak
terhadap orangtua bahwa sebanyak 66,7% sering, 33,3% jarang-jarang dan 0%
tidak pernah. Jadi, dengan diberlakukannya disiplin waktu maka anak akan lebih
terbuka dengan orang tuanya.
5.
Hasil penelitian dengan banyak 6 responden tentang menemui anak
berbohong bahwa sebanyak 0%sering, 50% jarang-jarang dan 50% tidak pernah.
Jadi, dengan diberlakukannya didiplin waktu memiliki keseimbangan antara pernah
dan tidak penah anak berbohong terhadap orang tua.
6.
Hasil penelitian dengan banyak 6 responden tentang anak membantah
perintah orangtua bahwa sebanyak 0% sering, 16,7% jarang-jarang, dan 30,3%
tidak pernah. Jadi, dengan diterapkannya disiplin waktu anak akan jarang bahkan
tidak pernah membantah perintah orang tua.
7.
Hasil penelitian dengan banyak 6 responden tentang anak berperilaku baik
terhadap orangtua, keluarga dan teman-temannya bahwa sebanyak 100%

sering, 0% jarang-jarang dan 0 % tidak pernah tidak berperilaku baik. Jadi, dengan
diterapkannya disiplin waktu akan menghasilkan anak yang berperilaku baik
terhadap orang-orang disekitarnya.
8.
Hasil penelitian dengan banyak 6 responden tentang anak yang tiba-tiba
marah-marah sendiri bahwa sebanyak 16,7% sering, 50% jarang-jarang dan 33,3%
tidak pernah. Jadi, dengan diterapkannya disiplin waktu maka akan menghasilkan
anak yang memiliki sikap suka marah-marah sendiri.
9.
Hasil penelitian dengan banyak 6 responden tentang cara mereka supaya
anak tidak melanggar disiplin waktu adalah dengan melatih anak dispilin waktu
sejak dini, rajin menasehati anak supaya disiplin waktu dan dengan
memperingatkan jika sering pulang terlambat.
10. Hasil penelitian dengan banyak 6 responden tentang apakah mereka pernah
berfikiran membuat anaknya merasa tertekan, 5 dari mereka berfikiran bahwa
anak-anak mereka tidak merasa tertekan terbukti dari sikap mereka yang semakin
lama semakin disiplin terhadap waktu karena dibisasakan semenjak kecil,
sedangkan 1 responden berfikiran bahwa anaknya mungkin merasa tertekan karena
sikap anaknya yang terkadang memberontak dan berbicara dengan menggunakan
nada tinggi.

b.

Hasil angket untuk anak :

1.
Hasil penelitian dengan banyak 15 responden pada keterlambatan bangun
bahwa sebanyak 13,3% sering, 60% jarang-jarang dan 26,7% tidak pernah. Jadi,
dengan diterapkannya disiplin waktu maka akan membuat anak lebih tertib dalam
bangun dari tidurnya.
2.
Hasil penelitian dengan banyak 15 responden pada kesengajaan pulang
terlambat bahwa sebanyak 20% sering, 46,7% jarang-jarang dan 33,3% tidak
pernah. Jadi, dengan diterapkannya disiplin waktu maka akan menghasilkan anak
yang secara diam-diam sengaja pulang terlambat dari sekolah.
3.
Hasil penelitian dengan banyak 15 responden dalam keterbukaan terhadap
orang tua bahwa sebanyak 46,7% sering, 53,7% jarang-jarang dan 0% tidak pernah
tidak terbuka. Jadi, dengan diterpkannya disiplin waktu maka akan menghasilkan
anak yang bersikap terbuka terhadap orang tua.

4.
Hasil penelitian dengan banyak 15 responden dalam mengikuti organisasi
atau ekstrakulikuler di sekolah bahwa sebanyak 46,7% sering, 40% jarang-jarang
dan 13,3% tidak pernah. Jadi, meskipun orangtua menerapkan disiplin waktu namun
kebanyakan anak-anak mereka tetap mengikuti kegiatan organisasi atau
ekstrakulikuler disekolah.
5.
Hasil penelitian dengan banyak 15 responden dalam berbohong terhadap
orangtua bahwa sebanyak 6,7% sering, 80% jarang-jarang dan 13,3% tidak pernah
berbohong. Jadi, dengan diterapkannya disiplin waktu maka akan menghasilkan
anak-anak yang suka berbohong terhadap orangtuanya.
6.
Hasil penelitian dengan banyak 15 responden dalam keinginan memberontak
terhadap peraturan waktu yang diterapkan oleh orangtua bahwa sebanyak 6,7%
sering, 40% jarang-jarang dan 53,3% tidak pernah. Jadi, dengan diterapkannya
disiplin waktu anak terkadang merasa ingin memberontak peraturan tersebut.
7.
Hasil penelitian dengan banyak 15 responden tentang merasa dibatasi oleh
orangtua bahwa sebanyak 6,7% sering, 40% jarang-jarang dan 50,3% tidak pernah.
Jadi, dengan diterapkannya disiplin waktu anak terkadang merasa dibatasi oleh
orangtuanya.
8.
Hasil penelitian dengan banyak 15 responden tentang merasa tertekan bahwa
sebanyak 20% sering, 20% jarang-jarang dan 60% tidak pernah. Jadi, dengan
diterapkannya disiplin waktu dapat membuat anak merasa tertekan.
Dari penerapan disiplin waktu yang diberlakukan orangtua oleh anak dampak
positifnya anak akan lebih tertib dalam menggunakan waktu, anak menjadi penurut
terbukti dari jarang-jarangnya bahkan tidak pernah membantah perintah orang tua
dan anak menjadi lebih terbuka terhadap orang tua, berperilaku baik terhadap
orangtua, kelarga dan rekan-rekannya karena orangtua selalu menasehati.
Selain dampak positif juga ada beberapa dampak negatif yaitu anak tidak jujur,
terbukti terkadang berbohong kepada orangtua dan sengaja terlambat pulang
sekolah, hal tersebut bisa dikarenakan karena mereka terkadang merasa dibatasi
waktunya, dan anak tiba-tiba menjadi marah-marah sendiri hal tersebut bisa

dikarenakan anak terkadang merasa tertekan akan disiplin waktu yang diterapkan
oleh orang tuanya.
Cara untuk mengatasi supaya anak tidak melanggar disiplin waktu maka hal yang
biasanya dilakukan orang tua adalah dengan melatih anak dispilin waktu sejak dini,
rajin menasehati anak supaya disiplin waktu dan dengan memperingatkan jika
sering pulang terlambat.

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Dari penerapan disiplin waktu yang diberlakukan orangtua kepada anak maka
dampak positif dari perkembangan karakter anak adalah:
1.

Anak akan lebih tertib dalam menggunakan waktu,

2.

Anak menjadi penurut,

3.

Anak menjadi lebih terbuka terhadap orangtua,

4. Berperilaku baik terhadap orangtua, kelarga dan rekan-rekannya karena


orangtua selalu menasehati.
Selain dampak positif juga ada beberapa dampak negatif dalam perkebangan
karakter anak, yaitu:
1.

Anak tidak jujur,

2.

Anak tiba-tiba menjadi marah-marah sendiri.

Cara untuk mengatasi supaya anak tidak melanggar disiplin waktu maka hal yang
dapat dilakukan orang tua adalah:
1.

Melatih anak dispilin waktu sejak dini,

2.

Rajin menasehati anak supaya disiplin terhadap waktu, dan

3.

Memperingatkan jika sering pulang terlambat.

5.2 Saran
Terlaksananya proses penelitian ini, yang didalamnya perlu adanya sinegritas dan
integrtitas yang mampu membangun unsur dari kesalahan dalam pembuatan
penelitian ini. Maka dari itu makalah ini perlu saran agardapat membangun pihak
peneliti apabila terjadi kesalahan, supaya dapat menjadi kaca pembanding dalam
pembuatan penelitian selanjutnya. Dalam penelitian ini tidak sepenuhnya benar,
karena itu peneliti meminta saran tentang kekurangan yang ada dalam hasil
penelitian ini supaya lebih baik lagi.

DAFTAR PUSTAKA

Sugiyono.2008.Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D. Bandung: Alfabeta


Rahman, Hendri A. 18 Nopember 2009.Konsep, Proposisi dan Teori.
(Bloghendry@gmail.com, diakses 14 Juni 2016)
Rimm, Sylvia.(2003.Mendidik dan Menerapkan Disiplin pada Anak Prasekolah.
Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama.
Shochib, Moh.2000.Pola Asuh Orang Tua dalam Membantu Anak Mengembangkan
Disiplin Diri.Jakarta:Rineka Cipta.
Slamet Suyanto. (1998).Beberapa Prinsip pada Pendidikan Anak Usia
Dini (Makalah).Yogyakarta.
Darmuin.2003.Konsep Dasar Pendidikan Karakter Taman KanakKanak.Semarang:Pustaka Zaman.
Soejanto, Agus.Psikologi Perkembangan.2005.Jakarta:Rineka Cipta

Anda mungkin juga menyukai