Anda di halaman 1dari 21

PERAWATAN LUKA

ABRAHAM B. RUMAYARA, S.Kep.,Ns


PENGERTIAN
Suatu keadaan terputusnya kontinuitas jaringan tubuh, yang dapat menyebabkan terganggunya
fungsi tubuh sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari.
Terjadinya gangguan kontinuitas suatu jaringan sehingga terjadi pemisahan jaringan yang semula
normal.
Tidak selamanya terjadi diskontinuitas (terputusnya) jaringan kulit pada suatu luka, walaupun
jaringan di bawah kulit terganggu. Contohnya pada luka memar.
Secara umum luka dapat dibagi dua yaitu Simpleks (hanya melibatkan kulit) dan komplikatum
(melibatkan kulit dan jaringan dibawahnya)

Gambar 1. Luka
ANATOMI KULIT

Gambar 2. Anatomi Kulit

Gambar 3. Anatomi Kulit


ETIOLOGI
Luka dapat disebabkan oleh berbagai hal, yaitu :
1. Trauma mekanis yang disebabkan oleh karena tergesek, terpotong, tertusuk, terbentur dan
terjepit.
2. Trauma elektris dengan penyebab cedera karena Listrik dan petir
3. Trauma termis, disebabkan oleh panas dan dingin
4. Trauma kimia, disebabkan oleh zat kimia yang bersifat asam dan basa serta serta zat
iritatif dan korosif lainnya.

Tabel 1. Etiologi Luka

PENYEBAB
Tekanan

Shear

Kelembaban
Kimiawi
Hipertensi Vena
Iskemia

Neuropathi

LOKASI
Tonjolan tulang pada pasien
dengan
keterbatasan
mobilitas
Kulit yg terpapar permukaan
matras /kursi roda pada
pasien dengan keterbatasan
mobilitas / turgor kulit buruk
Area yang resiko tinggi
lembab
Area yang terpapar urine,
feces atau drainase
Kaki

KARAKTERISTIK
Stage I IV

Superfisial
epidermal
Hematoma

dermalterpisah

Maserasi, erosi superfisial


epidermis
Superfisial
(epidermal,
superfisial dermal)
Hiperpigmentasi, edema, luka
exudatif, vena varicose
Ujung jari kaki, extremitas
Jaringan sekitar dingin dan
bawah, area trauma
pucat
Nadi kecil / tidak ada
Pengisian kapiler lambat
Area kehilangan sensori Berkaitan
dgn
posisi
yang
terpapar
trauma/ abnormal; lubang luka kecil
tekanan (kaki / tumit)
namun ada tunnel, kerusakan
jaringan yang luas

JENIS LUKA
Berdasarkan sifat kejadian, luka dibagi menjadi dua jenis, yaitu luka disengaja dan luka tidak
disengaja. Luka disengaja misalnya luka terkena radiasi atau bedah, sedangkan luka tidak di
sengaja misalnya luka terkena trauma.
Luka yang tidak di senggaja juga dibagi menjadi luka tertutup dan luka terbuka.
Luka tertutup : Luka dimana tidak terjadi hubungan antara luka dengan dunia luar, misalnya :
1. luka memar (Vulnus Contusum) : disini kulit tidak apa-apa, pembuluh darah sub kutan
dapat rusak sehingga terjadi hematom. Bila hematom kecil maka ia akan diserap oleh
jaringan sekitarnya. Bila hematom besar maka penyembuhan berjalan lambat.
2. vulnus traumatikum : terjadi di dalam tubuh tetapi tidak tampak dari luar. Dapat
memberikan tanda-tanda dari hematom hingga gangguan system tubuh. Bila melibatkan
organ vital maka penderita dapat meninggal mendadak. Contoh luka ini pada benturan di
dada, perut, leher dan kepala yang dapat menyebabkan kerusakan pada organ-organ
dalam.
Luka terbuka : Luka dimana terjadi hubungan antara luka dengan dunia luar, misalnya :
1. Vulnus excoriatio (luka lecet) : merupakan luka yang paling ringan dan paling mudah
sembuh. Terjadi karena gesekan tubuh dengan benda-benda rata, misalnya aspal, semen
atau tanah.
2. Vulnus scissum/incisivum (luka sayat) : tepi luka tajam dan licin. Bila luka sejajar dengan
garis lipatan kulit maka luka tidak terlalu terbuka. Bila memotong pembuluh darah, maka
darah sukar berhenti karena sukar terbentuk cincin thrombosis (trombose ring)
3. Vulnus laceratum (luka robek) : biasanya disebabkan oleh benda tumpul, tepi luka tidak
rata, dan perdarahan sedikit karena mudah terbentuk cincin thrombosis akibat pembuluh
darah yang hancur dan memar.
4. Vulnus punctum (luka tusuk) : luka ini disebabkan oleh benda runcing memanjang. Dari
luar luka tampak kecil tetapi di dalam mungkin rusak berat. Derajat bahaya tergantung
atas benda yang menusuk (besarnya, kotornya) dan daerah yang tertusuk. Luka tusuk
yang mengenai abdomen atau thorax sering pula disebut vulnus penetrosum (luka
tembus). Terpenting pemeriksaan untuk mencari organ yang terkena dan menentukan
tingkat bahaya kerusakan tersebut. Pada luka ini sebaiknya dilakukan tindakan eksplorasi
(membuka dan melebarkan luka)
5. Vulnus caesum (luka potong) : luka ini disebabkan oleh benda tajam yang besar, misalnya
kapak, klewang, disertai tekanan. Tepi luka tajam dan rata dan luka sering terkontaminasi
oleh karena itu kemungkinan infeksi lebih besar.
6. Vulnus sclopetorum (luka tembak) : terjadi karena tembakan, granat. Tepi luka dapat
tidak teratur. Corpus alienum (benda asing) dapat dijumpai dalam luka misalnya pecahan
granat, anak peluru, sobekan baju yang mengikuti peluru dalam tubuh. Kemungkinan
infeksi dengan bakteri anaerob dan gangren gas lebih besar.
7. Vulnus morsum (luka gigit) : disebabkan oleh gigitan binatang atau manusia.
-

Kemungkinan infeksi lebih besar. Bentuk luka tergantung bentuk gigi penggigit.
Di bidang kebidanan luka yang sering terjadi adalah luka episiotomi, luka bedah sectio
cesaria atau luka dalam proses persalinan.

Luka non mekanik terdiri atas luka akibat :

zat kimia

Termik

Radiasi

Sengatan listrik

JENIS-JENIS LUKA
a. Luka akut adalah berbagai jenis luka bedah yang sembuh melalui intensi primer atau luka
traumatic atau luka bedah yang sembuh melalui intensi sekunder dan melalui proses
perbaikan yang tepat pada waktu dan mencapai hasil pemulihan integritas anatomis.
b. Luka Kronis adalah terjadi bila proses perbaikan jaringan tidak sesuai dengan waktu yang
telah diperkirakan dan penyembuhannya mengalami komplikasi, terhambat baik oleh faktor
intrinsik maupun ekstrinsik yang berpengaruh kuat pada individu, luka atau lingkungan.
KLASIFIKASI LUKA
1. Luka akut
Luka relatif baru
Terjadi secara mendadak
Kecepatan penyembuhan sesuai dengan target waktu yang diprediksikan ( 4 minggu)
Sembuh secara Intensi Primer
Contoh : Luka operasi dan luka traumatik (luka bakar, abrasio, laserasi, dan lain-lain)
2. Luka kronis
Luka berkembang lama
Penyembuhan lambat atau terhenti
Sembuh secara Intensi Sekunder
Contoh : ulkus vaskular (vena, arteri / campuran), ulkus diabetik, ulkus dekubitus, luka
kanker
TANDA-TANDA LUKA
Tanda-tanda luka dibagi atas :
1. Tanda-tanda umum, terdiri dari Syok dan syndrome remuk (crush syndrome)
2. Tanda-tanda local, terdiri dari rasa nyeri dan perdarahan.
TANDA-TANDA UMUM
Syok, terjadi akibat kegagalan sirkulasi perifer dengan tanda-tanda : tekanan darah turun hingga
tak teratur, nadi kecil hingga tak teraba, keringat dingin dan lemah, kesadaran menurun
hingga tak sadar. Syok dapat disebabkan oleh rasa nyeri dan perdarahan.
Syndrome remuk, terjadi akibat banyaknya daerah yang hancur, misalnya otot-otot pada daerah
luka, sehingga mioglobin turut hancur dan menumpuk diginjal yang mengakibatkan kelainan
yang disebut Lower nephron nephrosis. Tanda-tandanya yaitu urine berwarna merah, oliguria
hingga anuria, ureum darah meningkat.

TANDA-TANDA LOKAL
Rasa nyeri, disebabkan oleh lesi pada system saraf. Pada luka-luka besar sering tidak terdapat
nyeri karena gangguan sensibilitas akibat syok setempat (local) pada jaringan tersebut.
Perdarahan, banyaknya perdarahan tergantung atas vaskularisasi daerah luka dan banyaknya
pembuluh darah yang terpotong atau rusak. Perdaraha terhenti bila terjadi retraksi atau
kontraksi pembuluh darah dan telah terbentuk cincin thrombosis. Jenis perdarahan ada tiga
yaitu : perdarahan parenkimatosa (berasal dari kapiler), perdarahan venosa (berasal dari
vena) dan perdarahan arterial (berasal dari arteri).
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENANGANAN LUKA
Ada empat factor yang mempengaruhi penanganan suatu luka, yaitu :
1. Lama luka. Golden period (masa emas) merupakan saat kita menganggap suatu luka
dapat ditangani dengan sempurna. Jadi luka dapat dijahit secara primer. Golden period
suatu luka lebih kurang 6 (enam) jam. Masa ini tidak berlaku untuk luka kotor dan jelas
terkontaminasi. Pada daerah dengan vaskularisasi sangat baik (kepala dan wajah), golden
periodnya lebih kurang 8 (delapan) jam. Bila luka masih berada dalam golden period
maka dapat diperoleh clean surgical wound (luka bedah yang bersih) dengan jalan
menghentikan perdarahan, toilet luka, lakukan debridemen (pembersihan luka).
2. Bentuk anatomi luka. luka-luka sederhana cukup dibersihkan dan diberi obat. Sedang
luka-luka dengan bentuk tak teratur harus didebridemen kemudian dilakukan tindakan
selanjutnya.
3. Bersih tidaknya luka. Luka yang kotor harus dicuci bersih. Jangan biarkan benda asing
tertinggal di dalam luka. Bila luka kotor maka penyembuhan sulit terjadi, kalaupun
sembuh akan memberikan hasil kosmetik yang buruk. Harus diyakini suatu luka telah
bersih sehingga dapat dilakukan tindakan selanjutnya.
4. Lokalisasi luka. Luka di daerah thoraks dan abdomen lebih sulit ditangani dibandingkan
luka di daerah lain, sebab harus dipastikan bahwa luka tidak menembus ke rongga
tersebut. Luka pada daerah wajah dan kepala banyak mengeluarkan darah jadi
penanganannya harus cepat. Luka pada sendi harus ditangani dengan cara yang benar
sebab bila salah maka dapat timbul kontraktur (kekakuan).
MODE PENYEMBUHAN LUKA
Menurut cara penyembuhannya dapat dibagi atas :
a.

Intensi

primer

(Primary

Intention)/Penyembuhan

Primer

(Sanatio

per

Premium

Intentionum/Primary Healing) ; Luka-luka yang bersih sembuh dengan cara ini, misalnya
luka operasi, luka kecil yang bersih. Penyembuhannya tanpa komplikasi. Penyembuhan
dengan cara ini berjalan cepat dan hasilnya secara kosmetis baik. Jika ada kehilangan
jaringan minimal dan kedua tepi luka dirapatkan baik dengan suture (benang), clips
(aggrave), tissue glue, atau tape (plester). Penyembuhan melalui epithelisasi dan deposisi
jaringan konektif dan jaringan parut minimal.
b. Intensi primer lambat (Delayed Primary Intention/closure)/Penyembuhan tersier (Sanatio per
Tertium Intentionem/Tertiary Healing) ; Terjadi pada luka yang dibiarkan terbuka karena
adanya kontaminasi, kemudian setelah tidak ada tanda-tanda infeksi dan granulasi telah baik

baru dilakukan jahitan sekunder (secondary suture) yang dilakukan setelah hari ke empat bila
tanda-tanda infkesi telah menghilang. .Jika luka terinfeksi atau mengandung benda asing dan
terdapat edema/hematome yang membutuhkan pembersihan intensif. Bagian tengah luka
akan diisi oleh jaringan granulasi;
c. Intensi sekunder (Secondary Intention)/Penyembuhan sekunder (Sanatio per Secundum
Intentionem/Secondary Healing); Penyembuhan pada luka terbuka adalah melalui jaringan
granulasi dan sel epitel yang bermigrasi. Luka-luka yang lebar dan terinfeksi, luka yang tak
dijahit, luka bakar, sembuh dengan cara ini. Setelah luka sembuh akan timbul jaringan
parut. .Penyembuhan luka terlambat karena kehilangan jaringan yang luas. Penyembuhan
melalui proses pertumbuhan jaringan granulasi, kontraksi dan epithelisasi. Jaringan parut
(scar) cukup luas;
d. Skin Graft; Cangkok kulit (skin graft) ketebalan parsial atau penuh digunakan untuk
mempercepat proses penyembuhan dan mengurangi resiko infeksi;
e. Flap. pembedahan relokasi kulit dan jaringan subcutan ke luka yang berasal dari jaringan
terdekat.
KEHILANGAN JARINGAN
Kehilangan jaringan menggambarkan kedalaman kerusakan jaringan atau berkaitan dengan
stadium kerusakan jaringan kulit.
-

Superfisial; Luka sebatas epidermis.


Parsial (Partial-thickness); Luka meliputi epidermis dan dermis.
Penuh (Full-thickness). Luka meliputi epidermis, dermis dan jaringan subcutan. Bahkan
dapat melibatkan otot, tendon dan tulang.

Atau dapat juga digambarkan melalui beberapa stadium luka yaitu :


a. Stage I; Lapisan epidermis dan dermis utuh, ditandai dengan erithema atau perubahan warna
epidermis;
b. Stage II; Kehilangan ingan superfisial dengan kerusakan lapisan epidermis dan dermis.
Erithema di jaringan sekitar, yang nyeri, panas, nyeri dan edema. Exudate sedikit sampai
sedang mungkin ada;
c. Stage III ; Kehilangan jaringan mencapai jaringan sub- cutan, fascia, otot dan tendon namun
tidak mencapai tulang, dengan terbentuknya rongga (cavity) yang disebut tunelling
(terowongan) atau undermining (goa). Produksi exudate sedang banyak;
d. Stage IV ; Hilangnya jaringan subcutan yang melibatkan fascia, otot, tendon dan/atau tulang .
Terbentuk rongga (cavity) yang disebut tunelling (terowongan) atau undermining (goa).
Exudate luka sedang sangat banyak;
e. Unstageable; Kedalaman luka tidak dapat ditentukan karena permukaan masih tertutup oleh
jaringan nekrotik. Kedalaman luka baru dapat ditentukan setelah jaringan nekrotik dibuang
(dilakukan debridemen).
TEKNIK HEMOSTASIS LUKA
Usaha menghentikan perdarahan (hemostasis) pada luka dapat dilakukan sebagai berikut :

1. Menekan luka sebentar atau sementara dengan kasa atau kapas. Bila perdarahan berhenti,
dianggap tidak perlu melakukan tindakan selanjutnya.
2. Bila perdarahan terus berlangsung tetapi kecil dan bukan berasal dari arteri dapat
dilakukan pembalut tekan (balut tekan) dan pemberian obat hemostatic (Adona,Anaroxyl,
Transamin)
3. Bila perdarahan besar dan berasal dari arteri maka ia dapat diklem dan melakukan
pengikatan sumber perdarahan.
4. Bila perdarahan besar tetapi fasilitas tak mencukupi maka dapat dilakukan :
a. Pemasangan torniket dilakukan pada bagian proksimal luka. Tiap 5-10 menit
dilonggarkan atau dibuka untuk mencegah nekrosis. Torniket dapat dibuat dari dasi,
tali, dsb.
b. Menekan bagian proksimal arteri yang luka.
c. Melipat bagian tubuh yang bersangkutan (terutama pada luka-luka yang terdapat di
tangan atau kaki).
INFEKSI PADA LUKA
JENIS INFEKSI PADA LUKA
Terdapat 2 jenis infeksi pada luka, yaitu :
1. Infeksi primer : segera setelah luka, akan terjadi kontaminasi kuman. Ini disebabkan
karena benda yang menyebabkan luka mengandung mikroorganisme pathogen.
2. Infeksi sekunder : timbul beberapa waktu setelah terjadinya luka. Keadaan ini disebabkan
oleh kuman yang berasal dari luar luka.
STADIUM INFEKSI
Terdapat 3 stadium infeksi, yaitu :
1. Stadium kontaminasi : infeksi ini terjadi pada saat kuman masuk ke dalam luka.
2. Stadium inkubasi : stadium dimana kuman berkembang biak. Misalnya kuman piogenik
(penyebab nanah misalnya streptokokus) masa inkubasinya 8-12 jam, kelompok kuman
yang membentuk gas gangrene mempunyai masa inkubasi 2-4 hari.
3. Stadium klinis : tanda-tanda klinis muncul setelah 6 jam. Kalor (demam) timbul karena
bertambahnya vaskularisasi, jadi semakin banyak darah mengalir ke daerah luka. Rubor
(merah) terjadi karena hyperemia. Dolor (sakit) terjadi karena toksin kuman dan eksudat
(cairan radang) yang merangsang saraf disekitar luka. Tumor (bengkak) terjadi karena
keluarnya leukosit dan terjadi migrasi sel-sel makrofag. Functio laesa (gangguan fungsi)
terjadi karena rasa nyeri.
MACAM-MACAM INFEKSI
Macam-macam infeksi pada luka :
1. Infeksi piogenik atau bernanah : penyebabnya adalah streptokokus, stafilokokus. Pada
infeksi ini terjadi pembentukan pus (nanah) dan infiltrate (penimbunan substansi yang
secara normal tidak terdapat pada sel atau jaringan).
2. Infeksi putridae : bersifat spesifik karena baunya yang busuk. Etiologinya adalah
Escherichia Coli. Dijumpai pada luka-luka besar dan banyak jaringan yang hancur dan
tidak dijumpai nanah.
3. Infeksi anaerob : misalnya tetanus dan infeksi kelompok gas gangrene.
4. Infeksi spesifik : infeksi karena kuman TBC, sifilis dan difteri.

PENAMPILAN KLINIS (WARNA DASAR LUKA)


Luka terdiri dari kombinasi jenis jaringan dan harus dideskripsikan dalam persentase (%). Misal:
50% eschar, 25% slough dan 25% jaringan granulasi. Warna, konsistensi dan perlekatan jaringan
nekrotik di dasar luka harus dicacat.
Jenis jaringan luka yang dimaksud adalah :
a. Nekrotik atau Hitam; eschar yang keras, nekrotik, dan avaskular, mungkin kering atau lembab.
Jaringan yang telah mati dan kehilangan aktivitas fisik dan biologisnya. Warna mungkin
hitam, hitam kecoklatan atau hitam kehijauan.
b. Sloughy atau Kuning; jaringan mati/avaskular yang fibrous dan lunak (slough) yang melekat
secara kuat atau longgar di dasar luka. Warna dasar luka mungkin kuning, kuning kecoklatan,
kuning kehijauan atau kuning pucat. Kondisi luka ini cenderung terkontaminasi, terkolonisasi
atau terinfeksi
c. Granulasi atau Merah; jaringan granulasi sehat. Warna dasar luka adalah merah tua/terang,
tampak seperti kumpulan buah berry, lembab, vaskularisasi baik dan mudah berdarah.
d. Epithellisasi atau Pink; terjadi epithelisasi. Warna dasar luka adalah merah-muda (pink), tidak
ada exudate. Merupakan indikator penyembuhan luka.
e. Terinfeksi atau Kehijauan; terdapat tanda-tanda klinis infeksi seperti nyeri, panas, bengkak,
kemerahan dan peningkatan exudate.
LOKASI LUKA
Posisi luka, yang berhubungan dengan posisi anatomis dan mudah dikenali didokumentasikan
sebagai referensi utama. Lokasi luka di area yang cenderung bergerak dan tergesek, mungkin
lebih lambat sembuh karena regenerasi dan migrasi sel terkena trauma (siku, lutut, kaki). Area
yang rentan oleh tekanan atau gaya lipatan (shear force) akan lambat sembuh (pinggul, pantat),
sedangkan penyembuhan meningkat di area dengan vaskularisasi baik (wajah).

Tabel 2. Lokasi Luka

Lokasi
Area lutut sd mata kaki
Sacrum, tumit, trochanter

Tipe luka
Ulkus vena
Ulkus dekubitus atau pressure
ulcer
Dorsum kaki
Ulkus arterial atau vasculitis
Lateral malleolus
Ulkus vena, arterial atau
pressure ulcer
Plantar dan aspek lateral kaki Ulkus diabetic
dan jari kaki

Area yang
matahari

terpapar

sinar Basal
cell
carcinoma;
squamous cell carcinoma

EXUDATE PADA LUKA


Hal yang perlu dicatat tentang exudate adalah jenis, jumlah, warna, konsistensi dan bau.
a. Jenis exudate
- Serous cairan berwarna jernih
- Hemoserous cairan serous yang mewarna merah terang
- Sanguenous cairan berwarna darah kental/pekat
- Purulent kental, mengandung nanah.
b. Jumlah
Dokumentasi pengkajian jumlah exudates meliputi: tidak ada, sedikit (+ or dressing moist),
sedang (++ or dressing wet) & banyak (+++ or dressing soaked).
Kehilangan jumlah exudate luka berlebihan, seperti tampak pada luka bakar atau fistula dapat
mengganggu keseimbangan cairan dan mengakibatkan gangguan elektrolit. Kulit sekitar luka
juga cenderung maserasi jika tidak menggunakan balutan atau alat pengelolaan luka yang
tepat.
c. Warna. Ini berhubungan dengan jenis exudate namun juga menjadi indikator klinik yang baik
dari jenis bakteri yang ada di luka terinfeksi (contoh Pseudomonas aeruginosa yang berwarna
hijau/kebiruan).
d.Konsistensi. Ini berhubungan dengan jenis exudate, sangat bermakna pada luka yang edema
dan fistula.
e. Bau. Ini berhubungan dengan infeksi luka dan kontaminasi luka oleh cairan tubuh seperti feces
seperti terlihat pada fistula. Bau mungkin juga berhubungan dengan proses autolisis jaringan
nekrotik pada balutan oklusif (pemakaian hidrocolloid). Bau dapat digambarkan sebagai
tidak berbau, bau sedikit, bau sedang atau bau kuat. Fruity smell menunjukkan organisme
Staphylococcus. Foul odor (fecal-like) mengindikasikan bakteri gram negatif. Putrid
smell (bau ikan busuk) mengindikasikan bakteri anaerob pada jaringan nekrotik.

KULIT SEKITAR LUKA


Inspeksi dan palpasi kulit sekitar luka akan menentukan apakah ada sellulitis, edema, benda
asing, ekzema, dermatitis kontak atau maserasi. Vaskularisasi jaringan sekitar dikaji dan batasbatasnya dicatat. Catat warna, kehangatan dan waktu pengisian kapiler (capillary refill) jika luka
mendapatkan penekanan/kompresi.
Palpasi denyut nadi terutama saat mengkaji luka di tungkai bawah. Denyut nadi yang kecil dan
lemah mengindikasikan adanya gangguan aliran darah akibat insufisiensi arteri pada extremitas

yang bersangkutan. Penting untuk memeriksa tepi luka terhadap ada tidaknya epithelisasi dan
atau kontraksi.
Juga perlu dicatat tentang kondisi kulit sekitar luka antara lain warna, kelembaban dan
kebersihan, maserasi, blister/lepuhan, callus atau scar, distribusi bulu, suhu dan sensasi.
INFEKSI LUKA
Infeksi klinis dapat didefinisikan sebagai pertumbuhan organisme dalam luka yang berkaitan
dengan reaksi jaringan. Reaksi jaringan tergantung pada daya tahan tubuh host terhadap invasi
mikroorganisme. Derajat daya tahan tergantung pada faktor-faktor seperti status kesehatan
umum, status nutrisi, pengobatan dan derajat kerusakan jaringan. Infeksi mempengaruhi
penyembuhan luka dan mungkin menyebabkan dehiscence, eviserasi, perdarahan dan infeksi
sistemik yang mengancam kehidupan. Secara reguler klien diobservasi terhadap adanya tanda
dan gejala klinis infeksi sistemik atau infeksi luka.
Berdasarkan kondisi kontaminasi, luka operasi diklasifikasikan atas :
a. Bersih. Tidak ada tanda-tanda infeksi. Luka dibuat dalam kondisi pembedahan yang aseptik,
tidak termasuk pembedahan pada sistem perkemihan, pernapasan atau pencernaan.
b. Bersih terkontaminasi. Luka pembedahan pada sistem perkemihan, pernapasan atau
pencernaan. Luka terkontaminasi oleh flora normal jaringan yang bersangkutan namun tidak
ada reaksi host.
c. Kontaminasi. Kontaminasi oleh bakteri diikuti reaksi host namun tidak terbentuk pus/nanah.
d. Infeksi. Terdapat tanda-tanda klinis infeksi dengan peningkatan kadar lekosit atau
makrophage. Exudate luka berupa cairan purulent/nanah.
Tanda dan gejala klinis infeksi luka kronis :
Bertambahnya jumlah slough atau jaringan nekrotik
Exudate bertambah, warna dan konsistensi berubah
Jaringan granulasi memburuk rapuh, merah gelap, menonjol
Erithema dan hangat di sekitar luka
Peningkatan kadar glukosa mendadak pada pasien dengan diabetes
Bau aneh atau tidak lazim
Ukuran luka meluas atau ada area kerusakan baru.

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENYEMBUHAN LUKA


a. Faktor lokal
Suplai darah tidak adekuat
Ketegangan kulit meningkat
Wound dehiscence (jahitan luka terlepas)
Buruknya drainase vena
Aposisi pembedahan yang buruk

Adanya benda asing dan reaksi benda asing


b. Faktor sistemik
Usia lanjut dan immobilisasi umum
Kondisi-kondisi co-morbid (obesitas, malignansi, diabetes, penyakit terminal)
Obat-obatan (corticosteroid, imunosupresan, kemoterapi)
Radiotherapi
Penyakit sel darah (seperti leucocyte adhesion deficiency)
Gangguan aktivitas makrophage (malacoplakia)
Penurunan oksigenasi dan perfusi jaringan
Malnutrisi
Defisiensi vitamin dan trace elemen
Dehidrasi
c. Faktor extrenal.
Faktor resiko pressure ulcer
Terganggunya akses terhadap sumber-sumber yang tepat
Psychosocial barriers (dukungan keluarga, sumber-sumber finansial, dan lainnya)
FASE PENYEMBUHAN LUKA
Penyembuhan luka adalah suatu kualitas dari kehidupan jaringan, hal ini juga berhubungan
dengan regenerasi jaringan. Fase penyembuhan luka menurut Taylor (1997) :
1. Fase Inflamatory
Fase inflammatory dimulai setelah pembedahan dan berakhir hari ke 3 4 pasca operasi. Dua
tahap dalam fase ini adalah Hemostasis dan Pagositosis. Hemostasis adalah kondisi dimana
terjadi konstriksi pembuluh darah, membawa platelet menghentikan perdarahan.
Bekuan membentuk sebuah matriks fibrin yang mencegah masuknya organisme infeksius.
Sebagai tekanan yang besar, luka menimbulkan sindrom adaptasi lokal. Sebagai hasil adanya
suatu konstriksi pembuluh darah, berakibat terjadinya pembekuan darah untuk menutupi
luka. Diikuti vasodilatasi menyebabkan peningkatan aliran darah ke daerah luka yang
dibatasi oleh sel darah putih untuk menyerang luka dan menghancurkan bakteri dan debris.
Lebih kurang 24 jam setelah luka sebagian besar sel fagosit (makrofag) masuk ke daerah luka
dan mengeluarkan faktor angiogenesis yang merangsang pembentukan anak epitel pada akhir
pembuluh luka sehingga pembentukan kembali dapat terjadi.
2. Fase Proliferative
Dimulai pada hari ke 3 atau 4 dan berakhir pada hari ke-21. Fibroblast secara cepat
mensintesis kolagen dan substansi dasar. Dua substansi ini membentuk lapis-lapis perbaikan
luka. Sebuah lapisan tipis dari sel epitel terbentuk melintasi luka dan aliran darah ada di
dalamnya, sekarang pembuluh kapiler melintasi luka (kapilarisasi tumbuh). Jaringan baru ini
disebut granulasi jaringan, adanya pembuluh darah, kemerahan dan mudah berdarah.

3. Fase Maturasi
Fase akhir dari penyembuhan, dimulai hari ke-21 dan dapat berlanjut selama 1 2 tahun
setelah luka. Kollagen yang ditimbun dalam luka diubah, membuat penyembuhan luka lebih
kuat dan lebih mirip jaringan. Kollagen baru menyatu, menekan pembuluh darah dalam
penyembuhan luka, sehingga bekas luka menjadi rata, tipis dan membentuk garis putih.
PRINSIP PENYEMBUHAN LUKA
Ada beberapa prinsip dalam penyembuhan luka, yaitu:
1. Kemampuan tubuh untuk menangani trauma jaringan dipengaruhi oleh luasnya kerusakan
dan keadaan umum kesehatan tiap orang
2. Respon tubuh pada luka lebih efektif jika nutrisi yang tepat tetap dijaga
3. Respon tubuh secara sistemik pada trauma
4. Aliran darah ke dan dari jaringan yang luka
5. Keutuhan kulit dan mukosa membran disiapkan sebagai garis pertama untuk
mempertahankan diri dari mikroorganisme
6. Penyembuhan normal ditingkatkan ketika luka bebas dari benda asing tubuh termasuk
bakteri.
KOMPLIKASI PENYEMBUHAN LUKA
1. Infeksi
Invasi bakteri pada luka dapat terjadi pada saat trauma, selama pembedahan atau setelah
pembedahan. Gejala dari infeksi sering muncul dalam 2 7 hari setelah pembedahan.
Gejalanya berupa infeksi termasuk adanya purulent, peningkatan drainase, nyeri, kemerahan
dan bengkak di sekeliling luka, peningkatan suhu, dan peningkatan jumlah sel darah putih.
2. Perdarahan
Perdarahan dapat menunjukkan adanya pelepasan jahitan, darah sulit membeku pada garis
jahitan, infeksi, atau erosi dari pembuluh darah oleh benda asing (seperti drain). Waspadai
terjadinya perdarahan tersembunyi yang akan mengakibatkan hipovolemia. Sehingga balutan
(dan luka di bawah balutan) jika mungkin harus sering dilihat selama 48 jam pertama setelah
pembedahan dan tiap 8 jam setelah itu. Jika perdarahan berlebihan terjadi, penambahan
tekanan luka dan perawatan balutan luka steril mungkin diperlukan. Pemberian cairan dan
intervensi pembedahan juga mungkin diperlukan.
3. Dehiscence dan Eviscerasi
Dehiscence dan eviscerasi adalah komplikasi operasi yang paling serius. Dehiscence adalah
terbukanya lapisan luka partial atau total. Eviscerasi adalah keluarnya pembuluh melalui
daerah irisan. Sejumlah faktor meliputi, kegemukan, kurang nutrisi, ,multiple trauma, gagal
untuk menyatu, batuk yang berlebihan, muntah, dan dehidrasi, mempertinggi resiko klien
mengalami dehiscence luka. Dehiscence luka dapat terjadi 4 5 hari setelah operasi sebelum
kollagen meluas di daerah luka. Ketika dehiscence dan eviscerasi terjadi luka harus segera

ditutup dengan balutan steril yang lebar, kompres dengan normal saline. Klien disiapkan
untuk segera dilakukan perbaikan pada daerah luka.

PERAWATAN LUKA
Merupakan tindakan untuk merawat luka dan melakukan pembalutan, dengan tujuan untuk
mencegah infeksi silang (masuk melalui luka) dan mempercepat proses penyembuhan luka.
PERSIAPAN LUKA
Luka dicuci dengan NaCl 0,9% atau akuades, jangan menggunakan bahan yang merangsang
misalnya Alkohol sebab menimbulkan nyeri. Pembuluh darah besar yang terluka atau perdarahan
besar diklem dan dibiarkan.
PEMBERSIHAN LUKA DAN SEKITARNYA
Tutup luka dengan kasa steril. Cukur bulu atau rambut di sekitar luka dan cuci sekitar luka
dengan antiseptic. Kemudian lakukan dibridemen, buang jaringan nekrotik dan benda asing,
usahakan agar tepi luka menjadi rata dan tajam. Bila belum ratakan dengan gunting atau pisau
dan perdarahannya diatasi. Semprot luka dengan perhidrol sehingga semua kotoran keluar. Bila
perlu luka digosok dengan kasa sambil disiram perhidrol. Kemudian bilas luka dengan aquades
atau NaCl 0,9%. Sekarang diperoleh luka bedah yang bersih.
MENUTUP LUKA
Menutup luka tidak identic dengan menjahit luka. Sebaiknya luka disiram sekali lagi dengan
bethadine lalu sekeliling luka diberi pembalut steril.
Pada luka bedah bersih dapat dilakukan :
1. Penjahitan primer. Sebaiknya jangan terjadi penegangan kulit yang dapat menyebabkan
nekrosis. Dengan cara ini penyembuhan berlangsung cepat terjadi.
2. Rotation flap. Menurut prinsip bedah plastic dan dilakukan pada daerah dengan cacat
yang besar dan luas, tetapi jaringan sekitarnya cukup memenuhi syarat untuk
pengambilan Flap-nya.
3. Dibiarkan terbuka. Diberi obat perangsang granulasi seperti : Betadine, bioplacenton,
levertraan zalf (salep minyak ikan). Bila granulasi baik dan tak ada infeksi maka dapat
dilakukan penjahitan sekunder, skin graft (tandur kulit, transplantasi kulit) menurut
prosedur bedah plastic.
Luka yang lebih dari 6-8 jam dianggap luka kotor dan pada luka ini dapat dilakukan :
a. Jahitan sementara atau situasi dan drain, jahitan sewaktu-waktu dapat dibuka
terutama bila terjadi pernanahan untuk memberi jalan secret keluar dan bila secret tak
terbentuk lagi maka drain dicabut. Bila masih ada secret, drain diganti tiap 2-3 hari
sekali.
b. Dibiarkan terbuka dan ditutup dengan kasa steril serta diberi obat perangsang
granulasi
c. Kompres dengan boorwater 3%, rivanol.
Pada luka yang kotor berikan antibiotika berspektrum luas dalam dosis tinggi
misalnya ampisilin, tetrasiklin. Pada luka bersih atau dianggap bersih, berikan

antibiotika profilaksis (pencegahan). Pada luka kotor bila granulasi baik dan infeksi
mereda dapat dilakukan penjahitan sekunder dan atau skin graft.
PENGOBATAN LUKA DEFINITIF
a. Luka tertutup. Umumnya tidak diperlukan tindakan bedah. Bila terjadi rupture atau
robekan otot atau ligamentum maka diperlukan tindakan bedah misalnya menyambung
otot, tendon atau ligamentum tersebut. Hati-hati bila mengena regio thoraks atau
abdomen. Pemeriksaan fisik sangat penting untuk mengetahui adanya rupture organ
dalam.
b. Luka terbuka. Pada prinsipnya adalah mengubah luka terkontaminasi menjadi luka bedah
yang bersih. Pemeriksaan luka dilakukan dengan menarik tepi luka dan membukanya
lebar-lebar kemudian dilihat apakah terdapat organ dibawahnya yang terpotong seperti
otot, tendon, pembuluh darah. Periksa juga keadaan luka tersebut apakah keadaannya
bersih, kotor, terkontaminasi, ada benda asing, apakah masih terdapat perdarahan. Bila
terdapat perdarahan harus dihentikan. Prinsip hemostasis (penghentian perdarahan harus
baik). Luka berdarah sukar sembuh maka bila terlihat perdarahan harus sedapat mungkin
dihentikan. Luka-luka dikepala tidak usah diklem atau diikat sebab dengan penjahitan
yang rapat dan tepat maka perdarahan dakan berhenti sendiri.

LUKA PERINEUM

Gambar 4. Robekan Pada Perineum


Laserasi perineum adalah perlukaan yang terjadi pada saat persalinan di bagian perineum.
BENTUK LUKA PERINEUM
Bentuk luka perineum setelah melahirkan ada 2 macam, yaitu :
a. Ruptur : luka pada perineum yang diakibatkan oleh rusaknya jaringan secara alamiah karena
proses desakan kepala janin atau bahu pada saat proses persalinan. Bentuk rupture biasanya
tidak teratur sehingga jaringan yang rupture sulit dilakukan penjahitan.
b. Episiotomi : sebuah irisan bedah pada perineum untuk memperbesar muara vagina yang
dilakukan tepat sebelum keluarnya kepala bayi.
Episiotomi adalah suatu tindakan yang disengaja pada perineum dan vagina yang sedang
dalam keadaan meregang. Tindakan dilakukan jika perineum diperkirakan akan robek
teregang oleh kepala janin, harus dilakukan infiltrasi perineum dengan anastesi local, kecuali
bila pasien sudah diberi anestesi epidemal. Insisi episiotomi dapat dilakukan digaris tengah
atau mediolateral.

Gambar 5. Jenis-Jenis Insisi pada Tindakan Episiotomi


ETIOLOGI
a. Penyebab maternal
- Partus precipitatus yang tidak dikendalikan dan tidak ditolong
- Pasien tidak mampu berhenti mengejan
- Partus diselesaikan secara tergesa-gesa dengan dorongan fundus yang berlebihan
- Edema dan kerapuhan pada perineum
b. Factor janin
- Bayi besar
- Posisi kepala yang abnormal
- Kelahiran bokong
- Ekstraksi forcep yang sukar
- Distosia bahu
KLASIFIKASI LASERASI PERINEUM
a.Robekan derajat 1
Meliputi mukosa vagina, kulit perineum tepat dibawahnya. Umumnya robekan tingkat 1
dapat sembuh sendiri, penjahitan tidak diperlukan jika tidak perdarahan dan menyatu
dengan baik.
b.Robekan derajat 2
Meliputi mukosa vagina, kulit perineum dan otot perineum. Perbaikan luka dilakukan
setelah diberi anestesi local kemudian otot-otot diafragma urogenitalis dihubungkan digaris
tengah dengan jahitan dan kemudian luka pada vagina dan kulit perineum ditutupi dengan
mengikutsertakan jaringan-jaringan dibawahnya.

Gambar 6. Robekan Perineum Derajat 1 dan 2


c.Robekan derajat 3

Meliputi mukosa vagina, kulit perineum, otot perineum dan otot spingterani eksternal. Pada
robekan partialis derajat ke tiga yang robek hanyalah spingter.
d.Robekan derajat 4
Pada robekan yang total spingter recti terpotong dan laserasi meluas hingga dinding anterior
rectum dengan jarak yang bervariasi.

Gambar 7. Robekan Perineum Derajat 3 dan 4


PERAWATAN PERINEUM
Perawatan perineum adalah pemenuhan kebutuhan untuk menyehatkan daerah antar paha yang
dibatasi vulva dan anus pada ibu yang dalam masa antara kelahiran placenta sampai dengan
kembalinya organ genetic seperti pada waktu sebelum hamil.
Menjaga kebersihan pada masa nifas untuk menghindari infeksi baik pada luka jahitan atau kulit.

Tujuan Perawatan Luka Perinium :


1. Untuk mencegah terjadinya infeksi di daerah vulva, perineum, maupun di dalam uterus.
2. Untuk penyembuhan luka perinium (jahitan perineum)
3. Untuk kebersihan perineum dan vulva
4. Untuk mencegah infeksi seperti diuraikan diatas bahwa saat persalinan vulva merupakan pintu
gerbang masuknya kuman-kuman. Bila daerah vulva dan perineum tidak bersih, mudah
terjadi infeksi pada jahitan perineum, saluran vagina dan uterus.

KEBERSIHAN ALAT GENITALIA


Setelah melahirkan biasanya perineum menjadi agak bengkak atau memar dan mungkin ada luka
jahitan bekas robekan atau episiotomy. Untuk itu dianjurkan :
a. Menjaga alat genitalia dengan mencucinya menggunakan sabun dan air, kemudian daerah
vulva sampai anus harus kering sebelum memakai pembalut wanita, setiap kali selesai
buang air kecil atau besar, pembalut diganti minimal 3 kali sehari.
b. Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir sebelum dan sesudah membersihkan daerah
genitalia.
c. Mengajarkan ibu membersihan daerah kelamin dengan cara membersihkan daerah
disekitar vulva terlebih dahulu dari depan ke belakang, baru kemudian membersihkan
daerah sekitar anus. Bersihkan vulva setiap kali buang air kecil atau besar.
d. Sarankan ibu untuk mengganti pembalut atau kain pembalut setidaknya dua kali sehari.
Kain dapat digunakan ulang-ulang jika dicuci dengan baik dan dikeringkan dibawah
matahari atau disetrika.

e. Pada luka Episiotomi, hindari untuk menyentuh daerah luka karena kebersihan tangan
biasanya tidak terjamin sehingga dapat menimbulkan infeksi.
MEMBERSIHKAN VAGINA
Pada prinsipnya urgensi kebersihan vagina pada saat nifas dilandasi beberapa alasan, yaitu :
a. Banyak darah dan kotoran yang keluar dari vagina
b. Vagina berada dekat saluran buang air kecil dan buang air besar yang tiap hari kita
lakukan
c. Adanya luka didaerah perineum yang bila terkena kotoran dapat terinfeksi
d. Vagina merupakan organ terbuka yang mudah dimasuki kuman untuk kemudian menjalar
ke Rahim.
Langkah-langkah untuk menjaga kebersihan vagina :
a. Siram mulut vagina hingga bersih dengan air bersih setiap kali habis BAK dan BAB.
Basuh dari depan ke belakang hingga tidak ada sisa-sisa kotoran yang menempel
disekitar vagina, baik itu dari air seni maupun feses yang mengandung kuman dan bisa
menimbulkan infeksi pada luka jahitan.
b. Vagina boleh di cuci menggunakan sabun maupun cairan anti septik karena dapat
berfungsi sebagai penghilang kuman.
c. Bila ibu benar-benar takut menyentuh luka jahitan, upaya menjaga kebersihan vagina
dapat dilakukan dengan cara duduk berendam dalam cairan anti septik selama 10 menit.
Lakukan setelah BAB atau BAK.
d. Setelah vagina dibersihkan keringkan perineum dengan handuk lembut lalu kenakan
pembalut baru. Pembalut harus diganti setiap habis BAB atau BAK atau minimal 3 jam
sekali atau bila dirasa sudah tidak nyaman.
e. Setelah semua langkah diatas dilakukan, perineum dapat diolesi salep anti biotik yang
diresepkan dokter.

PERAWATAN PASCA BEDAH

Gambar 8. Operasi Seksio Sesarea


Perawatan pasca bedah sangat diperlukan untuk mencegah komplikasi yang dapat ditimbulkan
pasca tindakan seksio sesarea. Perawatan pembalutan luka (wound dressing) dengan baik
merupakan perawatan pertama yang diperlukan pasca bedah, kemudian melakukan pemeriksaan
tanda-tanda vital yaitu tekanan darah, frekuensi nadi, frekuensi pernapasan, jumlah cairan yang
masuk dan keluar serta pengukuran suhu tubuh. Pengukuran tanda-tanda vital dilakukan hingga
beberapa jam pasca bedah dan beberapa kali sehari untuk perawatan selanjutnya.

PERAWATAN LUKA INSISI KULIT ABDOMEN


Perawatan luka insisi dapat dimulai dengan membersihkan luka insisi menggunakan alcohol atau
cairan suci hama dan ditutup dengan kasa steril. Setiap hari pembalut luka diganti dan luka
dibersihan. Perhatikan apakah luka telah sembuh sempurna atau mengalami komplikasi. Luka
yang mengalami komplikasi seperti sebagian luka yang sembuh sedangkan sebagian lain
mengalami infeksi eksudat, luka terbuka sebagian atau seluruhnya, memerlukan perawatan
khusus atau bahkan perlu dilakukan reinsisi. Komplikasi-komplikasi tersebut sering dijumpai
pada pasien seksio sesarea dengan obesitas, diabetes mellitus dan partus lama.

PERAWATAN LUKA
Alat dan bahan
1.

Pinset anatomi

2.

Pinset cirurghi

3.

Gunting steril

4.

Kapas sublimat / savlon dalam tempatnya

5.

Larutan H2O2

6.

Larutan boorwater

7.

NaCl 0,9 %

8.

Gunting perban

9.

Plester/pembalut

10. Bengkok
11. Kasa steril
12. Mangkok kecil
13. Handskon steril
Prosedur kerja
1.

Cuci tangan

2.

Jelaskan prosedur yang akan dilaksanakan

3.

Gunakan sarung tangan steril

4.

Buka plester dan balutan dengan menggunakan pinset

5.

Bersihkan luka dengan menggunakan savlon/sublimat, h2o2, boorwater atau NaCL 0,9 %
sesuai dengn keadaan luka. Lakukan hingga bersih.

6.

Berikan obat luka

7.

Tutup luka dengan menggunakan kasa steril

8.

Balut luka

9.

Catat perubahan keadaan luka

10. Cuci tangan.

PENJAHITAN LUKA
PERSIAPAN ALAT
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Nald voeder/needle holder


Pincet chirrurgis
Gunting benang
Jarum jahit
Benang jahit : Seide/silk (sutera), chromic cat gut, plain cat gut
Doek lubang yang steril
Kasa steril
Sarung tangan steril

CARA KERJA
1. Mencuci tangan
2. Kenakan sarung tangan steril
3. Tepi luka ditarik dengan pincet, ditentukan pertautannya untuk mendapatkan bentuk yang
tepat dan rapih bila dilakukan penjahitan nantinya
4. Jarum jahit yang berisi benang dijepit dengan nald voeder kira-kira 1/3 dari ujungnya
(bagian yang runcing)
5. Tusukan pada tepi luka (kira-kira 3-4 mili meter dari tepi luka). Sewaktu jarum ditusukan
ke kulit, pinset menahan kulit dengan sedikit dorongan ke arah satu titik temu (arah
saling berhadapan).
6. Setelah jarum menembus kulit, jepitan nald voeder dibuka dan dipindahkan mendekati
pangkal (bagian jarum tempat benang disangkutkan) sambil mendorong jarum. Sambil
menahan kulit dengan pinset, jarum ditarik keluar. Demikian juga dilakukan untuk kulit
yang sebelah lagi.
7. Kulit dijahit satu per satu.
8. Bila jarum sukar dicabut jangan dipaksakan tapi ulangi lagi mendorong jarum jarum dari
pangkal.
9. Setelah jarum ditarik keluar dari kulit, benang ditarik dan ujungnya disisihkan sedikit
(biasanya 1-2 cm).
10. Pemegang jarum digerakan sedemikian rupa sambil benang dililitkan kepada nald voeder.
11. Jumlah lilitan disesuaikan menurut kemauan (biasanya 1 lilitan). Dua lilitan digunakan
bila diinginkan jahitan yang agak ketat.
12. Setelah benang dililitkan pada nald voeder maka nald voeder segera menjepit ujung
benang lainnya (yang disisahkan 1-2 cm tadi). Ujung benang pertama ditarik dan ujung
yang dijepit dipertahankan. Benang dieratkan dengan tarikan dan arah tarikan sejajar arah
luka. Tindakan ini diulangi satu atau dua kali lagi. Maka satu jahitan telah selesai.
13. Lakukan penjahitan hingga luka merapat.
14. Selesai penjahitan, lakukan adaptasi agar tepi luka tidak tumpang tindih (overlapping).
Jahitan tidak boleh terlalu tegang karena dapat terjadi nekrosis dan memberikan bekas
yang buruk.

15. Pada luka yang dalam dilakukan jahitan lapis demi lapis dengan bagian sebelah dalam
dijahit dengan plain catgut dan kulit dengan seide (sutera). Catgut disimpulkan paling
sedikit tiga kali. Jahitan yang berada dibagian dalam tubuh (catgut) dipotong sependek
mungkin (mendekati simpul)
16. Jahitan seide pada kulit dipotong - 1 cm dari simpul.
ANESTESI LOKAL
Suntikan zat anestesi local disekitar luka. Penyuntikannya dilakukan pada kulit di luar atau
sekitar luka pada luka kotor atau di dalam luka pada luka bersih atau tak begitu kotor. Seperti
penyuntikan lainnya lakukan aspirasi sebelum penyuntikan, jangan biarkan masuk ke dalam
pembuluh darah. Pada end-organ (organ ujung : hidung, telinga,ujung jari) jangan gunakan zat
anestesi mengandung epinefrin (adrenalin) sebab dapat terjadi nekrosis organ yang bersangkutan.
MACAM-MACAM JAHITAN LUKA
macam-macam jahitan luka sederhana yaitu :
a. Jahitan terputus : terbanyak digunakan karena sederhana dan mudah. Tiap jahitan
disimpul sendiri. Dapat dilukan pada kulit atau bagian tubuh lain dan cocok pada bagian
yang banyak bergerak karena tiap jahitan saling menunjang satu dengan yang lain.
b. Jahitan kontinu : sering disebut doorloven. Simpul hanya pada ujung-ujung jahitan, jadi
hanya dua simpul. Bila salah satu simpul terbuka maka jahitan akan terbuka seluruhnya.
Jahitan ini jarang dipakai untuk menjahit kulit. Secara kosmetik bekas luka jahitan seperti
pada jahitan terputus. Jahitan kontinu dapat dilakukan lebih cepat dari jahitang terputus.
c. Jahitan intra dermal : memberikan hasil kosmetik yang lebih bagus (hanya berupa satu
garis saja). Tidak dapat dipakai untuk daerah yang banyak bergerak. Paling baik untuk
wajah. Terdapat berbagai modifikasi jahitan intra dermal ini. Diperlukan banyak latihan
untuk memahirkan cara penjahitan intra dermal ini.

DAFTAR PUSTAKA
Johnson, Ruth, Taylor. 1997. Buku Ajar Praktek Kebidanan. Jakarta, EGC.
Potter. 2000. Perry Guide to Basic Skill and Prosedur Dasar, Edisi III, Alih bahasa Ester
Monica. Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Samba, Suharyati. 2005. Buku Ajar Praktik Kebidanan. Jakarta, EGC.
Musrifatul Uliyah, A. Aziz Alimul Hidayat, 2008, Keterampilan dasar praktik klinik
kebidanan, edisi 2, Salemba medika, Jakarta.
Sumarni Karakata, Bob Bachsinar, 1995, Bedah Minor, Hipokrates, Jakarta.
A. Aziz Alimul Hidayat, 2006, Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia, Aplikasi Konsep dan
Proses Keperawatan, Buku 1, Penerbit Salemba Medika, Jakarta.