Anda di halaman 1dari 11

PERUBAHAN AKUNTANSI

Apabila terdapat akuntansi alternatif, maka komparabilitas laporan antar periode dan
antar perusahaan akan menjadi berkurang dan data kecenderungan historis yang bermanfaat
menjadi tidak jelas. Sebagai contoh, jika Ford merevisi estimasinya atas usia kerja peralatan,
pengeluaran penyusutan tahun berjalan tidak akan dapat dibandingkan dengan pengeluaran
penyusutan yang dilaporkan Ford pada tahun-tahun sebelumnya. Serupa dengan itu, jika Best
Buy beralih ke penetapan harga inventori FIFO sementara Circuit City memakai LIFO, akan
sulit membandingkan hasil yang dilaporkan kedua perusahaan ini. Kerangka kerja pelaporan
membantu menjaga komparabilitas ketika terjadi perubahan akuntansi.
FASB telah menetapkan kerangka kerja pelaporan, yang mencakup tiga jenis
perubahan akuntansi. Tiga jenis perubahan akuntansi adalah :
1. Perubahan Prinsip Akuntansi
Perubahan dari satu prinsip akuntansi yang berlaku umum ke prinsip akuntansi
yang berlaku umum lainnya. Sebagai contoh, perubahan metode penilaian
persediaannya dari LIFO menjadi biaya rata-rata.
2. Perubahan Estimasi Akuntansi
Perubahan yang terjadi sebagai akibat dari informasi baru atau diperolehnya
pengalaman tambahan. Contohnya adalah perubahan estimasi umur manfaat aktiva
yang dapat disusutkan.
3. Perubahan Entitas Pelaporan
Perubahan dari pelaporan sebagai satu jenis entitas ke jenis entitas lainnya;
sebagai contoh, perubahan anak perusahaan spesifik dalam satu kelompok perusahaan
di mana laporan keuangan konsolidasi disusun.
Kategori keempat membutuhkan perubahan akuntansi, walaupun hal ini tidak
diklasifikasikan sebagai perubahan akuntansi.
4. Kesalahan-Kesalahan dalam Laporan Keuangan
Kesalahan yang terjadi sebagai akibat dari kesalahan matematis, kesalahan
penerapan prinsip akuntansi, atau kelalaian dan penyalahgunaan fakta yang ada pada
saat laporan keuangan disusun. Contohnya adalah penerapan metode persediaan
eceran yang tidak tepat dalam menentukan nilai persediaan akhir.
Perubahan-perubahan itu diklasifikasikan oleh FASB dalam empat kategori ini karena
karakteristik individual dari setiap kategori membutuhkan metode yang berbeda untuk
mengakui perubahan ini dalam laporan keuangan. Masing-masing kategori tersebut akan

dibahas untuk menentukan bagaimana masing-masing ketegori harus dilaporkan dalam akun
serta bagaimana informasi harus diungkapkan dalam laporan komparatif.

PERUBAHAN PRINSIP AKUNTANSI


Perubahan prinsip akuntansi melibatkan perubahan dari satu prinsip akuntansi yang
berlaku umum ke yang lainnya. Sebagai contoh, suatu perusahaan dapat mengubah dasar
penetapan harga persediaan dari biaya rata-rata ke LIFO. Atau perusahaan itu dapat
mengubah metode penyusutan aktiva pabrik dari metode dipercepat ke garis-lurus, atau
sebaliknya. Sementara itu, perubahan lainnya yang mungkin terjadi adalah dari metode
kontrak-selesai ke persentase-penyelesaian dalam akuntansi untuk kontrak konstruksi.
Pengujian yang seksama harus dilaksanakan dalam setiap situasi ini untuk
memastikan bahwa perubahan prinsip memang telah terjadi. Perubahan prinsip akuntansi
tidak dianggap berasal dari penerapan prinsip baru dalam mengakui kejadian-kejadian yang
telah terjadi untuk pertama kalinya atau yang terjadi sebelumnya tetapi tidak material.
Sebagai contoh, apabila metode penyusutan yang diterapkan atas aktiva pabrik yang baru
diperoleh berbeda dari metode yang digunakan untuk aktiva sejenis yang sebelumnya telah
tercatat, maka perubahan prinsip akuntansi tidak akan terjadi. Pengeluaran untuk pemasaran
tertentu yang sebelumnya tidak material dan dibebankan dalam periode terjadinya mungkin
akan menjadi material dan dapat ditangguhkan serta diamortisasi tanpa mengubah prinsip
akuntansi.
Akhirnya, jika prinsip akuntansi yang sebelumnya diikuti tidak dapat diterima, atau
jika prinsip itu diterapkan secara tidak benar, maka perubahan ke prinsip akuntansi yang
berlaku umum dianggap sebagai koreksi kesalahan. Perpindahan dari akuntansi dasar kas atau
pajak penghasilan ke dasar akrual dianggap juga sebagai koreksi kesalahan. Jika perusahaan
mengurangkan nilai sisa ketika menghitung penyusutan aktiva pabrik dengan metode saldo
menurun berganda dan akhirnya menghitung kembali penyusutan itu tanpa mengurangkan
estimasi nilai sisa, maka suatu kesalahan telah dikoreksi.
Tiga pendekatan berikut telah disarankan untuk melaporkan perubahan prinsip
akuntansi:
1. Pelaporan perubahan pada periode berjalan
Pengaruh kumulatif dari penggunaan metode baru terhadap laporan keuangan
pada periode berjalan dilaporkan sebagai pos luar biasa. Pengaruh kumulatif adalah

perbedaan laba tahun sebelumnya antara metode baru dan metode lama. Penyesuaian
ini kemudian dilaporkan hanya dalam laporan laba rugi tahun berjalan. Perusahaan
tidak mengubah laporan laba rugi tahun sebelumnya.
Pendukung metode ini berpendapat bahwa menyatakan kembali laporan
keuangan tahun-tahun sebelumnya akan mengakibatkan hilangnya kepercayaan para
investor atas laporan keuangan itu. Menyetakan kembali laporan, jika diijinkan, juga
dapat mengganggu banyak kontrak dan perjanjian lainnya yang didasarkan pada
angka-angka masa lampau. Sebagai contoh, perjanjian pembagian laba yang dihitung
berdasarkan angka-angka masa lampau mungkin harus dihitung kembali sebelum
dapat dibagikan, sehingga bisa menimbulkan banyak masalah hukum. Terdapat juga
banyak kesulitan dalam menjalankan praktek ini; yaitu, biaya untuk melaporkan
kembali mungkin sangat besar, atau pelaporan kembali itu mungkin saja tidak dapat
dilakukan berdasarkan data yang tersedia.
2. Pelaporan perubahan secara retrospektif
Penyesuaian retrospektif (retrospective application) atas laporan keuangan
akan menyusun kembali laporan keuangan tahun sebelumnya atas dasar yang
konsisten dengan prinsip yang baru diterapkan. Perusahaan menyajikan pengaruh
kumulatif dari perubahan atas penyesuaian atas laba ditahan awal di tahun paling awal
yang disajikan dalam laporannya.
Pendukung pendekatan ini berpendapat bahwa hanya dengan menyusun
kembali laporan periode sebelumnya yang dapat menjamin perubahan prinsip
akuntansi atas laporan keuangan tetap dapat dibandingkan. Jika pendekatan ini tidak
digunakan, maka laporan keuangan tahun sebelum perubahan akan disajikan dengan
metode lama; sementara laporan keuangan pada tahun perubahan akan melaporkan
keseluruhan penyesuaian kumulatif atas laba; dan laporan keuangan setelah tahun
perubahan akan menyajikan laporan keuangan atas dasar baru tanpa pengaruh
kumulatif perubahan. Konsistensi dianggap penting dalam menyediakan data
kecenderungan-laba yang berarti dan hubungan keuangan lainnya yang diperlukan
untuk mengevaluasi bisnis.
3. Pelaporan perubahan secara prospektif (di masa depan)
Pada pendekatan ini, hasil yang telah dilaporkan sebelumnya biasanya tidak
diubah. Saldo awal tidak perlu disesuaikan. Pendukung pendekatan ini berargumen
bahwa setelah manajemen menyajikan laporan keuangan berdasarkan prinsip
akuntansi yang dapat diterima, maka laporan tersebut sudah final; manajemen tidak
dapat mengubah periode sebelumnya dengan menerapkan prinsip baru. Berdasarkan
alasan ini, penyesuaian kumulatif selama tahu berjalan dianggap tidak tepat, karena

pendekatan ini meliputi jumlah yang memiliki hubungan yang kecil atau bahkan tidak
ada sama sekali dengan laba atau peristiwa ekonomi selama tahun berjalan.
FASB mensyaratkan agar perusahaan memakai pendekatan retrospektif. Karena
pendekatan ini menyediakan informasi yang lebih berguna bagi para pemakai laporan
keuangan dibanding pendekatan pengaruh kumulatif maupun pendekatan prospektif.
Logikanya, pengubahan laporan terdahulu sesuai prinsip baru akan menghasilkan konsistensi
yang lebih besar diantara periode-periode akuntansi. Para pengguna akan lebih tepat
membandingkan kesimpulan-kesimpulan antarperiode.
Pendekatan Perubahan Akuntansi Retrospektif
Ada asumsi awal bahwa sekali perusahaan mengadopsi prinsip akuntansi tertentu,
prinsip tersebut tidak boleh berubah. Asumsi tersebut dapat dipahami terkait ide bahwa
konsistensi pemakaian prinisp akuntansi tertentu menambah manfaat laporan keuangan.
Namun, lingkungan terus berubah dan perusahaan ikut berubah. Standar-standar baru dengan
subjek seperti opsi saham, pertukaran aktiva nonmoneter, derivatif, dan sebagainya,
menandai bahwa perusahaan dalam prinsip akuntansi akan terus terjadi.
Ketika perusahaan mengubah satu prinsip akuntansi, perubahan tersebut sebaiknya
dilaporkan dengan aplikasi retrospektif. Secara umum, perusahaan tersebut harus melakukan
hal-hal berikut ini:
1. Perusahaan mengoreksi laporan keuangannya pada setiap periode yang tercakup.
Maka, informasi laporan keuangan terkait periode terdahulu akan berdasar pada
prinsip akuntansi yang baru.
2. Perusahaan mengoreksi nilai pindah buku atas aktiva dan kewajiban terhitung awal
bulan

pertama

yang

tercakup

dalam

laporan.

Maka,

akun-akun

tersebut

mencerminkan pengaruh kumulatif pada periode-periode terdahulu akibat perubahan


pada periode-periode yang lebih baru. Perusahaan juga melakukan koreksi
pengimbang (offset) terhadap neraca pembukaan atas akun laba ditahan atau
komponen relevan lainnya dalam ekuitas pemegang saham atau aktiva bersih
terhitung awal tahun pertama yang tercantum dalam laporan.
Sebagai contoh, asumsikan Target memutuskan mengubah metode penilaian
persediaannya pada tahun 2007 dari metode persediaan ritel (FIFO) menjadi persediaan
ritel (biaya rata-rata). Target menyertakan informasi komparatif tahun 2005 dan 2006,
berdasarkan metode yang baru. Ketika menyusun laporan keuangan komparatif, Target

akan mengoreksi aktiva, kewajiban, dan laba ditahan periode-periode sebelumnya tahun
2005 dan melaporkan jumlah tersebut dalam laporan keuangan tahun 2005.
Contoh Perubahan Akuntansi Retrospektif
Dalam rangka mengilustrasikan pendekatan retrospektif, asumsikan Lancer Company
memakai metode LIFO atas akuntansi persediaanya. Pada tahun 2007, perusahaan ini beralih
ke metode FIFO karena pihak manajemennya meyakini pendekatan baru tersebut
menghasilkan pengukuran lebih akurat atas biaya-biaya persediannya. Ilustrasi 22-1
menyajikan informasi Lancer Company.

Menurut informasi Lancer Company, ilustrasi 22-2 menyajikan laporan keuangan,


laporan laba ditahan, neraca, dan laporan arus kas untuk tahun 2005-2007 mnurut LIFO.

Menurut ilustrasi 22-2, berdasarkan LIFO Lancer Company melaporkan laba bersih
$120.000 pada tahun 2005, $100.000 pada 2006, dan $87.000 pada 2007. Nilai persediaan
yang dilaporkan dalam neraca Lancer mencerminkan pembiayaan LIFO.
Ilustrasi 22-3 menyajikan laporan laba rugi, laba ditahan, neraca, arus kas Lancer
pada tahun 2005-2007 berdasarkan FIFO. Dapat anda lihat bahwa laporan arus kas
berdasarkan FIFO sama dengan berdasarkan LIFO. Meski laba bersih berbeda pada setiap
periode, tidak ada pengaruh arus kas yang berasal dari perbedaan laba bersih tersebut. (Jika
kita mempertimbangkan pajak penghasilan, barulah ada pengaruh arus kas.)

Bandingkan laporan-laporan keuangan pada Ilustrasi 22-2 dan 22-3. Dapat dilihat
bahwa, berdasarkan penerapan retrospektif, perubahan menjadi penilaian persediaan FIFO
berpengaruh pada persediaan yang dilaporkan, biaya barang yang dijual, laba bersih, dan laba
ditahan. Dalam subbab berikut kami membahas akuntansi dan laporan atas perubahan
akuntansi Lancer dari LIFO ke FIFO.

Akuntansi untuk Pelaporan atas Perubahan Prinsip


Menurut informasi pada ilustrasi 22-1, 22-2 dan 22-3, sekarang kita siap mencatat dan
melaporkan perubahan akuntansi terkait.

Pencatatan Perubahan Prinsip Akuntansi


Langkah pertama adalah megoreksi catatan keuangan terkait perubahan dari LIFO ke FIFO.
Dalam praktiknya, kita menjalankan analisis seperti pada ilustrasi 22-4
ILUSTRASI 22-4. Data untuk Mencatat Perubahan Prinsip Akuntansi

Ayat yang mencatat perubahan ke metode FIFO pada awal tahun 2007 disajikan
berikut ini.
Persediaan
Laba Ditahan

5.000
5.000

Perubahan menambah akun persediaan sebesar $5.000. Nilai ini mencerminkan


perbedaan antara persediaan akhir per 31 Desember 2006 menurut LIFO ($20.000) dan
persediaan akhir menurut FIFO ($25.000). Kredit pada Laba Ditahan menunjukan nilai yang
diperlukan dalam rangka mengubah laba tahun terdahulu, dengan asumsi Lancer telah
memakai FIFO sejak periode-periode sebelumnya.
Melaporkan Perubahan Prinsip Akuntansi
Pengungkapan perubahan akuntansi sangatlah penting. Para pemakai laporan
keuangan menginginkan informasi konsisten dari satu periode ke periode berikutnya.
Konsistensi seperti ini menjamin manfaat laporan keuangan. Persyaratan pengungkapan
utama disajikan sebagai berikut ini.
1. Sifat dan alasan perubahan prinsip akuntansi tersebut. Bagian ini harus menyertakan
penjelasan mengenai kelebihan prinsip akuntansi baru tersebut.
2. Metode penerapan perubahan tersebut, dan:
a. Deskripsi informasi periode terdahulu yang telah dikoreksi secara retrospektif,
jika ada.
b. Pengaruh perubahan tersebut terhadap laba operasi yang berlanjut, laba bersih
(atau judul lainnya yang sesuai perubahan aktiva bersih atau indikator kinerja),
setiap item dalam satu bagian yang ikut terpengaruh, dan setiap nilai per saham
yang terpengaruh dalam periode berjalan dan dalam setiap periode terdahulu yang
terkoreksi secara retrospektif.

Lancer Company akan menyusun laporan keuangan komparatif tahun 2006 dan 2007
berdasarkan FIFO (metode baru persediaan). Ilustrasi 22-5 menyajikan cara Lancer
melaporkan informasi ini.
Seperti pada Ilustrasi 22-5, Lancer Company melaporkan laba bersih berdasarkan
metode FIFO yang baru diadopsi untuk tahun 2006-2007. Perusahaan mengoreksi secara
retrospektif laporan laba rugi 2006 sehingga informasi di dalam laporan ini sesuai dengan
basis FIFO. Lebih lanjut, catatan dalam laporan keuangan tersebut menjelaskan sifat
perubahannya, alasan perusahaan melakukan perubahan tersebut, dan tahun-tahun yang
terpengaruh. Catatan itu juga menyajikan data mengenai perbedaan penting antara nilai yang
dilaporkan berdasarkan LIFO versus FIFO. (ketika mengidentifikasi perbedaan yang
signifikan, sejumlah perusahaan menyajikan keseluruhan laporan keuangannya dan
perbedaan baris-per-baris antara LIFO dan FIFO.)

Penyesuaian Laba Ditahan


Seperti disajikan di atas, salah satu syarat pengungkapan adalah penyajian pengaruh
kumulatif dari perubahan akuntansi terhadap nilai laba ditahan terhitung awal periode paling
terdahulu tersebut adalah 1 Januari 2006. Lancer mengungkapkan informasi terkait dengan
deskripsi naratif (Lihat catatan A pada ilustrasi 22-5). Lancer juga akan mengungkapkan
informasi itu dalam laporan laba ditahan. Ilustrasi 22-6 menyajikan laporan laba ditahan
Lancer menurut LIFO-yaitu, sebelum berlakunya pengaruh perubahan prinsip akuntansi
terkait. (Informasi ini diambil dari Ilustrasi 22-2)

Jika Lancer menyajikan laporan komparatif tahun 2006 dan 2007 menurut FIFO,
Lancer harus mengubah saldo awal laba ditahan per 1 Januari 2006. Perhitungan perbedaan
antara saldo laba ditahan menurut LIFO dan FIFO disajikan berikut ini

Perbedaan sebesar $2.000 merupakan pengaruh kumulatif. Ilustrasi 22-7 menyajikan


laporan laba ditahan komparatif tahun 2006 dan 2007, setelah berlakunya pengaruh
perubahan prinsip akuntansi ke FIFO.

Lancer menyesuaikan saldo awal laba ditahan pada 1 Januari 2006, untuk kelebihan
laba bersih FIFO dibanding laba bersih LIFO pada tahun 2005. Penyajian komparatif ini
menunjukan jenis penyesuaian yang harus dilakukan perusahaan. Lebih lanjut, nilai
penyesuaian ini akan lebih besar jika periode terdahulu yang ikut diperhitungkan lebih
banyak.

Pengaruh Langsung dan Tidak Langsung dari Perubahan


Pengaruh Langsung
FASB berketetapan bahwa perusahaan harus menerapkan pengaruh langsung
perubahan prinsip akuntansi secara retrospektif. Contoh pengaruh langsung berupa koreksi
neraca persediaan akibat perubahan metode penilaian persediaan. Sebagai contoh, Lancer
Company harus mengubah nilai persediaan periode terdahulu dalam rangka menunjukkan
perubahan penilaian persediaan ke metode FIFO. Contoh lain terkait persediaan berupa
koreksi kesalahan akibat penerapan uji lower-of-cost-or-market (LCM) terhadap neraca
persediaan terkoreksi. Perubahan terkait, antara lain pengaruh pajak penghasilan yang
ditangguhkan yang muncul akibat koreksi kesalahan, juga dianggap sebagai pengaruh
langsung.
Untuk mengilustrasikan pengaruh dari efek langsung atas pajak, asumsikan bahwa
Denson Constraction Co. telah memperhitungkan labanya dari kontrak konstruksi jangka
panjang dengan menggunakan metode kontrak-selesai. Pada tahun 2007, perusahaan ini
beralih ke metode persentase-penyelesaian karena manajemen percaya bahwa pendekatan ini
akan menghasilkan ukuran yang lebih tepat atas laba yang diperoleh. Untuk keperluan pajak
(asumsikan tarif pajak yang berlaku adalah 40%), perusahaan menerapkan metode kontrakselesai dan merencanakan untuk terus menggunakan metode ini di masa datang.
Ilustrasi 22-8 menyajikan bagian-bagian laporan laba rugi tahun 2005-2007menurut
metode kontrak selesai dan metode persentase penyelesaian.

Dalam rangka mencatat perubahan dari metode kontrak-selesai ke metode persentase


penyelesaian, kita menganalisis berbagai pengaruh, seperti disajikan pada Ilustrasi 22-9 .

Ayat jurnal untuk mencatat perubahan pada tahun 2007 adalah:


Konstruksi dalam proses

220.000

Kewajiban Pajak yang Ditangguhkan

88.000

Laba Ditahan

132.000

Akun konstruksi dalam proses bertambah $220.000 (dijelaskan di kolom pertama di


bawah judul Perbedaan Laba pada Ilustrasi 22-9). Kredit $132.000 pada akun Laba Ditahan
mewakili pengaruh laba kumulatif sebelum tahun 2007 (kolom ketiga di bawah judul
Perbedaan Laba pada Ilustrasi 22-9). Perusahaan mengkredit akun Laba Ditahan karena
laba tahun-tahun terdahulu ditutup ke akun ini setiap tahunnya. Kredit ke akun Kewajiban
Pajak yang Ditangguhkan mewakili koreksi pengeluaran pajak tahun-tahun terdahulu.
Perusahaan kini mengakui nilai tersebut $88.000, sebagai kewajiban pajak untuk masa depan.
Artinya, di periode mendatang penghasilan pajak akan lebih besar dibanding penghasilan
menurut pembukuan akibat perbedaan yang bersifat sementara pada periode berjalan ini;
maka Denson harus melaporkan kewajiban pajak yang ditangguhkan pada tahun berjalan.
Denson melaporkan laporan keuangan komparatif, seperti terlihat pada paruh bawah
di Ilustrasi 22-8. Laporan ini menyertakan besarnya pajak yang baru. Seperti yang dijelaskan
sebelumnya, semua perusahaan harus mencatat pada tahun berjalan mengenai pengaruh
langsung perubahan nilai pajak yang diakibatkan oleh perubahan prinsip akuntansi.
Perusahaan juga harus menyajikan informasi periode terdahulu, mencakup perubahan nilai
pajak, berdasarkan metode akuntansi yang baru.
Pengaruh Tidak Langsung
Selain pengaruh langsung, perusahaan juga dapat mengalami pengaruh tidak langsung
terkait perubahan prinsip akuntansi. Pengaruh tidak langsung adalah semua perubahan atas
arus kas perusahaan pada periode berjalan atau masa depan yang disebabkan oleh perubahan
prinsip akuntansi yang diterapkan secara retrospektif. Contoh pengaruh tidak langsung
berupa perubahan pembagian laba atau pembayaran royalti yang bergantung pada nilai dalam
laporan seperti pendapatan atau laba bersih. Pengaruh tidak langsung tidak mengubah nilainilai dalam laporan pada periode terdahulu.

Sebagai contoh, mari kita asumsikan bahwa Denson Construction memiliki program
pembagian laba kepada karyawan berdasarkan laba bersih. Seperti disajikan Ilustrasi 22-8,
Denson akan melaporkan laba lebih besar pada tahun 2005 dan 2006 bilamana perusahaan ini
memakai metode persentase-penyelesaian. Lebih lanjut, mari kita asumsikan program
pembagian laba tersebut mengharuskan Denson membayar berdasarkan jumlah laba menurut
metode persentase-penyelesaian. Dalam situasi ini, Denson melaporkan biaya tambahan
tersebut pada periode berjalan; Denson tidak akan mengubah nilai biaya ini pada periode
terdahulu. Bilamana perusahaan menyusun laporan keuangan komparatif, perusahaan juga
tidak akan menerapkan biaya tambahan ini pada periode terdahulu.
Jika ketentuan program pembagian laba menyatakan tidak perlu ada pembayaran pada
periode berjalan terkait perusahaan di atas, perusahaan tidak perlu mengakui biaya
pembagian laba tambahan pada periode berjalan. Perusahaan juga tidak mengubah nilai
dalam laporan periode terdahulu.
Ketika perusahaan mengakui pengaruh tak langsung dari perubahan prinsip akuntansi,
perusahaan menyertakan dalam laporan keuangannya deskripsi pengaruh tak langsung
tersebut. Sejalan dengan itu, perusahaan mengungkapkan nilai yang diakui pada periode
berjalan dan informasi yang relevan lainnya terkait saham.

Ketidakpraktisan
Perusahaan tidak selalu dapat menentukan bagaimana mereka seharusnya melaporkan
informasi keuangan periode terdahulu berdasarkan penerapan retrospektif dari perubahan
prinsip akuntansi. Penerapan retrospektif dianggap tidak praktis (impracticable) jika
perusahaan

tidak

dapat

menentukan

pengaruh

periode-terdahulu

bahkan

setelah

mengusahakan semua cara yang masuk akal.


Perusahaan tidak boleh memakai penerapan retrospektif bila menemui salah satu
kondisi berikut ini :
1. Perusahaan tidak dapat menentukan pengaruh penerapan retrospektif
2. Penerapan retrospektif memerlukan penetapan asumsi-asumsi mengenai rencana kerja
pihak manajemen pada periode terdahulu
3. Penerapan retrospektif memerlukan estimasi-estimasi signifikan terkait periode
terdahulu, dan perusahaan tidak dapat secara objektif menegsahkan informasi yang
diperlukan dalam menerapkan estimasi-estimasi tersebut.

Jika salah satu kondisi di atas terjadi, penerapan pendekatan retrospektif dianggap tidak
praktis. Dalam kasus ini, perusahaan menerapkan secara retrospektif prinsip akuntansi baru
dengan mencakup hingga tanggal paling terdahulu yang masih dianggap praktis.
Sebagai contoh, asumsikan Williams Company mengubah metode persediaannya dari
FIFO menjadi LIFO, terhitung 1 Januari 2008. Williams menyusun laporan berbasis tahun
kalender dan telah memakai metode FIFO sejak berdirinya perusahaan. Williams
menganggap penerapan metode barunya secara retrospektif tidak praktis. Penentuan pengaruh
periode terdahulu memerlukan asumsi-asumsi subjektif mengenai lapisan LIFO yang terjadi
di periode terdahulu. Asumsi-asumsi itu biasanya akan mengakibatkan penetapan nilai-nilai
laba yang berbeda.
Jadi, satu-satunya koreksi yang diperlukan berupa pelaporan ulang persediaan awal ke
dasar biaya dari pendekatan lower-of-cost-or-market. Williams hanya perlu mengungkapkan
pengaruh perubahan metodenya terhadap hasil operasi pada periode terjadinya perubahan
tersebut. Kemudian, perusahaan perlu menjelaskan alasan pengabaian penghitungan pengaruh
kumulatif terhadap tahun-tahun terdahulu. Terakhir, perusahaan perlu mengungkapkan
justifikasi perusahaan ke metode LIFO tersebut. Ilustrasi 22-10, dari laporan tahunan Quaker
Oats Company, menyajikan jenis pengungkapan yang diperlukan.