Anda di halaman 1dari 8

Laporan Kasus Geriatri

PENCEGAHAN DEPRESI PADA LANJUT USIA


DENGAN AKTIVITAS PRODUKTIF

Disusun oleh :

Tri Rizky Nugraha


NPM : 110.2010.280
Bidang Kepeminatan : Geriatri
Tutor : dr. Yulia Suciati, M.Biomed

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI


JAKARTA
NOVEMBER 2013

Pencegahan Depresi Pada Lanjut Usia Dengan


Aktivitas Produktif
Abstrak
Latar Belakang : Depresi merupakan gangguan psikiatri yang paling sering terjadi pada lanjut usia,
karena berkurangnya aktivitas rutin yang biasanya dilakukan dan juga berkurangnya tenaga sehingga
lanjut usia merasa tidak berharga lalu kepercayaan dirinya menurun, ini dapat menjadi prediktor kejadian
depresi pada lanjut usia. Laporan kasus ini bertujuan untuk menganalisis pencegahan kejadian depresi
dengan mengajak lanjut usia untuk meningkatkan aktivitas yang produktif di Panti Sosial Tresna Werdha
Budi Mulia 3 Ciracas Jakarta Timur.
Presentasi Kasus : Dengan melakukan wawancara sampel yang mewakili gender di Panti Sosial Tresna
Werdha terdiri dari satu orang lanjut usia laki-laki dan satu orang lanjut usia perempuan dengan
menggunakan algoritma pemeriksaan psikiatrik menurut Pedoman Pengolongan dan Diagnosis Gangguan
Jiwa III (PPDGJ-III) ditemukan diagnosis kerja gangguan depresi pada sampel dua orang lanjut usia,
yang ditandai dengan keluhan fisologik yaitu gangguan tidur dan gangguan makan dengan ditemukan dua
gejala utama dan dua gejala tambahan yang juga minimal dialami selama 2 pekan terakhir.
Diskusi : Dalam rangka untuk meningkatkan kualitas hidup lanjut usia dengan memberikan terapi
okupasi, bertujuan untuk memberdayakan lanjut usia dalam suatu aktivitas yang produktif sesuai dengan
kondisi fisik dan psikologis masing-masing individu.
Simpulan dan Saran : Diperlukan dukungan dari pengelola panti dan pemerintah daerah dalam
memberdayakan dan menekan tingginya angka depresi lanjut usia di Panti Sosial Tresna Werdha.
Kata kunci : depresi; lanjut usia; panti tresna wredha; terapi okupasi

Latar Belakang
Survey badan kesehatan dunia (WHO) di 14 negara (1990) memperlihatkan
bahwa depresi merupakan masalah kesehatan yang mengakibatkan beban sosial nomor
empat terbesar di dunia. Prediksi WHO tentang penderita depresi penduduk dunia dalam
dua dekade mendatang lebih dari 300 juta orang. Pada tahun 2020 depresi akan
menempati masalah kesehatan nomor dua terbesar di dunia setelah penyakit
kardiovaskular [WHO, 1990].
Sementara itu, jumlah penduduk lanjut usia di Indonesia yang berusia 60 tahun
ke atas semakin meningkat berdasarkan data dari Kementerian Koordinator Bidang
Kesejahteraan Rakyat Kedeputian I Bidang Kesejahteraan Sosial tahun 2008, jumlah
penduduk lanjut usia pada tahun 1990 kurang lebih sebesar 6,29% dari jumlah total
penduduk Indonesia, selanjutnya pada tahun 2000 sebesar 7,18% dan pada tahun 2006
sebesar 8,9%. Diperkirakan jumlah penduduk lanjut usia di Indonesia tahun 2010
sebesar 23,9 juta (9,77%) dengan usia harapan hidupnya 67,4 tahun dan pada tahun
2020 diperkirakan sebesar 28,8 juta (11,34%) dengan usia harapan hidup 71,1 tahun
[Kemenkokesra, 2008].
Depresi pada lanjut usia disebabkan karena pada individu mengalami perubahan
fisik maupun mental khususnya kemunduran dalam berbagai fungsi dan kemampuan
yang pernah dimiklikinya. Perubahan fisik sebagai bagian dari proses penuaan yang
normal seperti menurunnya ketajaman panca indera, berkurangnya daya tahan tubuh
merupakan ancaman bagi orang dengan usia lanjut. Selain itu, lanjut usia masih harus
Tri Rizky Nugraha (110.2010.280)

Laporan Kasus Geriatri | 1

berhadapan dengan perubahan peran, kedudukan sosial, serta perpisahan dengan orangorang yang dicintai. Kondisi tersebut menyebabkan lanjut usia (lansia) menjadi lebih
rentan untuk mengalami masalah mental [Sudoyo AW. dkk, 2009].
Penulisan laporan kasus ini bertujuan untuk menganalisis pencegahan kejadian
depresi pada lanjut usia yang tinggal di panti, selain itu penulisan ini juga bertujuan
untuk menganalisis faktor risiko yang berperan terhadap kejadian depresi pada lanjut
usia di Panti Werdha. Diharapkan dapat memberikan masukan untuk pelayanan
kesehatan dan kesejahteraan lanjut usia terutama bidang psikogeriatri, serta sebagai
dasar untuk penelitian lebih lanjut.

Presentasi Kasus
Tn. B berusia 70an, penghuni ruang garuda, sudah berada di panti sejak tahun
2008, belum pernah menikah, beragama Islam, suku bangsa Sunda, latar belakang
pendidikan SMP. Dahulu memiliki hobi bermain alat musik suling dan mempunyai
kebiasaan membuat kerajinan tangan dari bambu yang sekarang sudah tidak dilakunnya
lagi karena keterbatasan fasilitas panti. Dilakukan wawancara dan ditemukan diagnosis
kerja gangguan depresi pada Tn. B ditandai dengan gejala utama kehilangan minat lalu
sering terbangun dimalam hari dan makan tidak berselera. Lalu gejala tambahan seperti
kehilangan kepercayaan diri, kesulitan berfikir, dan mengaku merasa tidak berharga.
Keadaan ini sudah Tn. B rasakan sekitar satu tahun terakhir.
Ny. Z berusia 80an, penghuni ruang mawar, sudah berada di panti sejak tahun
2006, belum pernah menikah, beragama Islam, suku bangsa betawi, latar belakang
pendidikan SD, riwayat pekerjaan Ny. Z adalah penjual bunga yang dirangkai.
Dilakukan wawancara dan ditemukan diagnosis kerja gangguan depresi pada Ny. Z
ditandai dengan gejala utama kehilangan kegembiraan lalu sulit untuk tidur dimalam
hari dan nafsu makan yang menurun. Lalu gejala tambahan seperti bergerak lebih
lambat, kehilangan kepercayaan diri, kesulitan berfikir, dan mengaku merasa tidak
berharga. Keadaan ini sudah Ny. Z rasakan sekitar tiga tahun terakhir.

Diskusi
Terapi okupasi adalah proses penyembuhan melalui aktivitas. Aktivitas yang
dikerjakan tidak hanya sekedar membuat sibuk para lanjut usia, melainkan aktivitas
fungsional yang mengandung efek terapetik dan bermanfaat bagi lanjut usia. Artinya
aktivitas yang langsung diaplikasikan dalam kehidupan [Kay J and Tasman A, 2006].
Salah satu program yang dapat diterapkan adalah program Green Economy yang
tujuannya untuk memberdayakan lanjut usia dalam suatu aktivitas yang produktif sesuai
dengan kondisi fisik dan psikologis lansia sebagai bentuk terapi kerja. Terapi kerja
(work therapy) adalah terapi atau bentuk intervensi (penanganan) yang diberikan dalam
bentuk aktivitas atau kegiatan menjalankan hobi sehingga dengan kegiatan tersebut
terdapat pemaknaan diri ataupun sesuatu yang bermanfaat bagi individu [Yuwanto L,
2013].
Green Economy adalah suatu aktivitas yang bertujuan memanfaatkan bahanbahan ataupun peralatan yang sifatnya sudah tidak terpakai dan dapat didaur ulang
Tri Rizky Nugraha (110.2010.280)

Laporan Kasus Geriatri | 2

sehingga menjadi bentuk atau sesuatu yang bermanfaat dan memiliki nilai ekonomi,
aktivitas tersebut dapat mengurangi dampak kerusakan lingkungan. Dengan terapi kerja
dalam bentuk program Green Economy, para lanjut usia dapat beraktivitas sesuai
dengan kemampuan dan hobi yang dimiliki dengan menggunakan peralatan atau bahanbahan tidak terpakai yang dapat didaur ulang sehingga menjadi sesuatu yang lebih
bermanfaat dan memiliki nilai ekonomi [Yuwanto L, 2013].
Rancangan programnya secara garis besar sebagai berikut :
1. Mengenalkan tentang apa itu Green Economy pada pihak lanjut usia dan pengelola
Panti Werdha. Prinsip pengenalan bahwa Green Economy adalah suatu cara atau
prinsip dalam mengurangi atau mencegah kerusakan lingkungan.
2. Menjelaskan tentang pentingnya program Green Economy bagi pribadi lanjut usia
dan masyarakat umum serta bagi Panti Werdha. Bagi lanjut usia dapat sebagai
pengisi waktu luang yang sifatnya produktif dan dapat meningkatkan makna hidup.
Program ini sebagai salah satu bentuk aplikasi terapi kerja yang intinya adalah
membuat lanjut usia memiliki perasaan berdaya, bertanggungjawab, dan berarti
bagi diri dan lingkungannya. Bagi masyarakat paling tidak beberapa kebutuhan
hidup dapat dipenuhi dari produk Green Economy yang dihasilkan lansia. Bagi
Panti Werdha akan terdapat program yang dapat digunakan untuk mengatasi
masalah psikologi lansia, selain itu juga adanya income dari bentuk aktivitas ini
secara finansial dan produk (sifatnya pemberdayaan lanjut usia untuk pencegahan
depresi, bukan untuk pemanfaatan tenaga kerja lanjut usia). Bagi lingkungan dapat
membantu mengolah limbah atau barang-barang yang tidak terpakai sehingga dapat
mengurangi kerusakan lingkungan seperti limbah plastik, kertas, ataupun bahan
kimia.
3. Mengidentifikasi SWOT dan komitmen Panti Werdha dan lanjut usia untuk
menjalankan program Green Economy. SWOT ini dapat dilakukan secara fisik,
psikologis, ataupun finansial pada individu (lanjut usia) ataupun pada lembaga
(panti werdha, ataupun lembaga pendukung program ini. Lembaga-lembaga
tersebut harus memiliki potensi untuk mendukung program ini dalam bentuk
pendampingan, pemberi modal, penyedia sumber material (barang bekas) yang
dapat diolah, serta pengguna produk, ataupun pemasaran produk.
4. Identifikasi kemampuan lanjut usia secara fisik, psikis, dan ketrampilan yang dapat
menunjang suatu program Green Economy yang akan dilakukan.
5. Mengenalkan bentuk-bentuk Green Economy yang dapat dilakukan sesuai dengan
kemampuan lanjut usia di Panti Werdha.
6. Identifikasi kesiapan fasilitas usaha (lokasi, peralatan, sarana, dan prasarana)
7. Identifikasi pasar dan cara memasarkan produk.
8. Identifikasi kecepatan menghasilkan produk (perlu adanya uji coba mengingat
keterbatasan kemampuan lanjut usia secara motorik dan tenaga, kondisi ini sesuai
dengan karakteristik lanjut usia). Perlu adanya back up dari sukarelawan mahasiswa
dalam menghasilkan produk ini.
Tri Rizky Nugraha (110.2010.280)

Laporan Kasus Geriatri | 3

9. Identifikasi pihak penyandang dana (modal awal, bagi hasil, dan sejenisnya perlu
diidentifikasi)
10. Identifikasi nilai strategis produk bagi masyarakat atau pengguna.
11. Memberikan ketrampilan yang dibutuhkan dalam program Green Economy (baik
ketrampilan penunjang ataupun ketrampilan utama) pada lanjut usia yang memiliki
komitmen berpartisipasi dalam program Green Economy.
12. Aplikasi dan monitoring program.
13. Evaluasi program [Yuwanto L, 2013].
Program terapi okupasi ini sangat cocok diterapkan pada lanjut usia di panti,
karena para lanjut usia perlu membantu dirinya sendiri dalam kehidupan sehari-hari
sehinga dapat membantu kepercayaan dirinya kembali. Dengan program Green
Economy bisa juga meningkatkan kesejahteraan keuangan lanjut usia meskipun tidak
signifikan, dengan menjual barang-barang kerajinan tangan yang telah dibuat untuk
dipasarkan di acara-acara yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah.
Aspek Agama Islam
Orang yang sehat insya Allah dapat melakukan banyak aktivitas, Sehat dalam
hal ini adalah sehat dalam segala aspek baik fisik, mental, sosial, maupun aqidah.
Dalam Musyawarah Nasional Ulama tahun 1983 Majelis Ulama Indonesia (MUI)
merumuskan kesehatan sebagai "ketahanan jasmaniah, ruhaniah, dan sosial yang
dimiliki manusia, sebagai karunia Allah yang wajib disyukuri dengan mengamalkan
(tuntunan-Nya), dan memelihara serta mengembangkannya. Nabi bersabda :
Seorang mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada
mukmin yang lemah (HR. Muslim dari Abu hurairah)
Dari hadits di atas dapat dipahami bahwa islam sangat memperhatikan kesehatan
fisik, jiwa, akal, sosial dan aqidah. Yang dimana manusia diharuskan sehat oleh Nabi
Muhammad SAW untuk menjalankan ibadah kepada Allah SWT dengan memelihara
kesehatan jiwa yaitu tidak boleh stress bahkan sampai depresi yang dapat menggangu
kegiatan ibadah kepada Allah SWT.
Islam mendorong manusia agar memiliki jiwa yang sehat dari segala macam
penyakit dengan jalan bertobat, dan mendekatkan diri kepada Tuhan, sebagaimana Allah
SWT telah berfirman dalam Al quran :

Tri Rizky Nugraha (110.2010.280)

Laporan Kasus Geriatri | 4

(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat
Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah hati menjadi tenteram (QS.ArRad:28)

Simpulan
Pada kedua sampel lanjut usia yang telah diwawancara mereka menginginkan
adanya wadah untuk menyalurkan hobi dan kebiasaan mereka yang biasa dilakukan
sebelum masuk Panti Sosial Tresna Werdha. Tentunya peran dari pangurus Panti sosial
sangat berperan disini untuk menekan angka kejadian depresi pada lanjut usia dengan
merencanakan terapi okupasi sesuai dengan kondisi fisik dan psikologis masing-masing
individu dan diharapkan dengan terapi okupasi para lanjut usia merasa bahwa dirinya
masih produktif sehingga mengembalikan kepercayaan diri dari masing-masing
individu.

Saran
Diperlukannya pelaksanaan program terapi okupasi dengan memakai instrument
atau parameter yang bisa digunakan untuk mengevaluasi kondisi lanjut usia, sehingga
mudah untuk menentukan program terapi selanjutnya. Tetapi tentunya parameter
tersebut harus disesuaikan dengan kondisi fisik dan psikis lanjut usia, karena hal ini
sangat individual sekali, dan apabila dipaksakan justru tidak akan memperoleh hasil
yang diharapkan. Dalam keadaan ini maka upaya pencegahan berupa latihan-latihan
atau terapi yang sesuai harus dilakukan secara rutin dan berkesinambungan.

Ucapan Terima Kasih


Puji syukur kepada Allah SWT karena tugas laporan kasus blok elektif ini dapat
selesai tepat pada waktunya. Saya ucapkan terima kasih kepada dr. Yulia Suciati, M.
Biomed sebagai tutor kelompok 2 geriatri yang telah memberikan bimbingan dan
perhatiannya kepada kami sehingga dapat terselesaikannya laporan kasus ini, juga
kepada dr. Hj. RW. Susilowati sebagai koordinator pelaksana blok elektif yang sudah
mengantar kami (kelompok kepeminatan geriatri) ke Panti Tresna Werdha pada
kunjungan hari pertama. Selain itu, tidak lupa saya ucapkan terima kasih kepada
pengurus Panti Sosial Tresna Werdha Budi Mulia 3 Ciracas yang telah memberikan
kesempatan untuk berkunjung dan mengumpulkan data dan tentu saja juga untuk Tn. B
dan Ny. Z yang sudah bersedia untuk diwawancara. Juga untuk kelompok 2 semoga
sukses dalam meraih apa yang dicita-citakan.

Tri Rizky Nugraha (110.2010.280)

Laporan Kasus Geriatri | 5

Daftar Pustaka
1. Marcus M. Depression A Global Public Health Concern.
http://www.who.int/mental_health/management/depression/.pdf
Tanggal,14 November 2013).

(Diakses

2. Anonim. Lansia Perlu Perhatian.


http://www.menkokesra.go.id/content/lansia-perlu-perhatian
(Diakses Tanggal,14 November 2013).
3. Sudoyo AW. dkk. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi 5. Jilid 1. Interna
Publishing Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta. 2009. Hal. 845-850.

4. Baldwin DS. and Birtwistle J. An Atlas Of Depression. Section I. The Parthenon


Publishing Group. London. 2002. Page 7-8.
5. Levenson JL. Textbook of Psychosomatic Medicine. The American Psychiatric
Publishing. Washington DC. 2005. Part 2. Section 9. Page 193-218.
6. Cacioppo J. Et all. The Handbook of Psychophysiology. Cambridge University Press.
Third Edition. New York. 2007. Page 211-232.
7. Kay J. and Tasman A. Essentials of Psychyiatry. John Wiley & Sons Ltd. West
Sussex. 2006. Part 6. Chapter 69. Page 872-885.
8. Anonim. Standar Profesi Okupasi Terapis.
http://www.hukor.depkes.go.id/up_prod_kepmenkes/KMK.No.57/ttg_Standar_Profes
iOkupasi_Terapis.pdf (Diakses Tanggal,14 November 2013).
9. Yuwanto L. Program Green Economy Bagi Lansia Di Panti Wredha.
http://www.ubaya.ac.id/2013/content/articles_detail/25/Program-Green-EconomyBagi-Lansia-di-Panti-Werdha.html (Diakses Tanggal,14 November 2013).
10. Anonim. Menjaga Kesehatan Ala Rasulullah SAW.
http://http://media.isnet.org/islam/Quraish/Wawasan/Kesehatan1.html
(Diakses Tangal,14 November 2013).

Tri Rizky Nugraha (110.2010.280)

Laporan Kasus Geriatri | 6

Tri Rizky Nugraha (110.2010.280)

Laporan Kasus Geriatri | 7