Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Pada dasarnya kesehatan merupakan salah satu aspek yang
menentukan tinggi rendahnya standar hidup seseorang. Status kesehatan
yang baik dibutuhkan oleh manusia untuk menopang semua aktivitas hidup.
Setiap individu akan berusaha mencapai status kesehatan tersebut dengan
menginvestasikan dan atau mengkonsumsi sejumlah barang dan jasa
kesehatan. Maka untuk mencapai kondisi kesehatan yang baik tersebut
dibutuhkan sarana kesehatan yang baik pula.
Teori ekonomi mikro tentang permintaan (demand) jasa pelayanan
kesehatan menyebutkan bahwa harga berbanding terbalik dengan jumlah
permintaan jasa pelayanan kesehatan. Teori ini mengatakan bahwa jika jasa
pelayanan kesehatan merupakan normal good, makin tinggi income keluarga
maka makin besar demand terhadap jasa pelayanan kesehatan tersebut.
Sebaliknya jika jenis jasa pelayanan kesehatan tersebut merupakan inferior
good, meningkatnya pendapatan keluarga akan menurunkan demand
terhadap jenis jasa pelayanan kesehatan tersebut.
Nilai guna pelayanan kesehatan dapat dilihat dari kualitas
pelayanan kesehatan sehingga akan membentuk sebuah kepuasan
pelanggan. Kualitas pelayanan kesehatan bersifat multi dimensi. Ditinjau
dari pemakai jasa pelayanan kesehatan (health consumer) maka pengertian
kualitas pelayanan lebih terkait pada ketanggapan petugas memenuhi
kebutuhan pasien, kelancaran komunikasi antara petugas dengan pasien,
keprihatinan serta keramahtamahan petugas dalam melayani pasien,
kerendahan hati dan kesungguhan. Ditinjau dari penyelenggara pelayanan
kesehatan (health provider) maka kualitas pelayanan lebih terkait pada
kesesuaian pelayanan yang
ilmu

dan

otonomi

teknologi
yang

diselenggarakan

dengan

perkembangan

kedokteran mutakhir. Hal ini terkait pula dengan

dimiliki

oleh

masing-masing

profesi

dalam

menyelenggarakan pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan


pasien.
1.2

Rumusan Masalah
1. Bagaimana definisi demand dalam pelayanan kesehatan?

2. Bagaimana definisi need dalam pelayanan kesehatan?


3. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi demand

1.3

pelayanan

kesehatan?
4. Bagaimana elastisitas demand pelayanan kesehatan?
Tujuan
1. Untuk mengetahui definisi dari demand dalam pelayanan kesehatan
2. Untuk mengetahui definisi dari need dalam pelayanan kesehatan
3. Untuk mengetahui apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi demand
pelayanan kesehatan
4. Untuk mengetahui konsep elastisitas demand pelayanan kesehatan

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi Demand Pelayanan Kesehatan

Ada dua pendekatan yang digunakan untuk membahas permintaan terhadap


pelayanan kesehatan. Yang pertama ialah the agency relationship atau dikenal
juga dengan supllier induced demand model. Sedangkan pendekatan yang
kedua adalah investment model yang diajukan oleh Grossman (1972a-1972b).
Perbedaan yang utama diantara dua pendekatan tersebut adalah terletak pada
asumsinya tentang kedudukan pasien dalam model demand tersebut. Pada
pendekatan pertama dikatakan peranan pasien sangat kecil dibandingkan
peranan ahli kesehatan. sementara Grossman mengatakan bahwa si pasien
cukup memiliki informasi dan kebebasan dalam menentukan demandnya sendiri.
A. Demand Menurut Model Agency Relationship
Dalam pendekatan ini dokter bertindak sebagai agen bagi pasiennya
yang kurang mempunyai informasi tentang segala sesuatu yang
menyangkut pelayanan kesehatan. Kejadian ini tiada lain disebabkan
oleh sifat komoditi pelayanan kesehatan yang akhirnya mengacu
kepada situasi di mana dokterlah yang secara efektif sering bertindak
untuk melakukan permintaan (demanding).
Untuk menunjang hubungan tersebut dapat beroperasi secara efisien,
menurut Artells (1981) diperlukan tiga kelompok informasi yaitu:
1) Pengetahuan dasar mengenai masalah-masalah medis, yaitu
suatu bentuk informasi yang pada dasarnya pasien tidak harus
memikirkannya. Informasi ini menyangkut pengetahuan khusus
untuk

melakukan

penilaian

status

kesehatan

dan

mengidentifikasikan perawatan apa saja yang tersedia.


2) Keterangan

tentang

keadaan

pasien,

yang

meliputi

pengetahuan tentang simptom pasien, sejarah kesehatan dan


keadaan lingkungan pasien sehingga memungkinkan dokter
untuk menerapkan ilmu kedokterannya terhadap kasus yang
saat ini tengah dia temui pada pasiennya. Juga yang termasuk
dalam informasi ini adalah posisi keuangan pasien dan sumber
keuangan lainnya yang dia miliki.
3) Informasi tentang penilaian pasien sendiri mengenai penyakit
yang tengah dideritanya. Pada penilaian ini termasuk di
dalamnya preferensi pasien atas berbagai alternatif perawatan
yang

tersedia,

sikapnya

dalam

menghadapi

risiko

dan

penilaiannya atas kemungkinan trade-off dari beraneka dimensi


keadaan sehat.
Di balik agency relationship hubungan individuil antara si dokter
dan si pasien, masih ada bentuk hubungan lain yang melibatkan grup
dokter (dengan atau grup ahli medis lainnya seperti perawat, bidan,
dan sebagainya) dengan grup pasien yang menjadi tanggung jawab
mereka semua.
B. Demand Menurut Model Grossman
Model Grossman merupakan konsep dimana lebih menekankan
terhadap demand pelayanan kesehatan melalui investasi, asuransi,
dan lain sebagainya yang berhubungan dengan kesehatan

demi

mencapai keadaan sehat.


Grossman juga menguraikan bahwa demand untuk kesehatan
memeliki beberapa hal yang membedakan dengan pendekatan
tradisional demand dalam sector lain :
1. Yang diinginkan masyarakat atau konsumen adalah kesehatan,
bukan pelayanan kesehatan, pelayanan kesehatan merupakan
derived demand sebagai input untuk menghasilkan kesehatan.
Dengan demikian demand untuk pelayanan rumah sakit
umumnya berbeda dengan demand untuk pelayanan hotel.
2. Masyarakat tidak memebeli kesehatan dari pasar secara pasif.
Masyarakat menghasilkannya, menggunakan waktu untuk
usaha-usaha peningkatan kesehatan, disamping menggunakan
pelayana kesehatan.
3. Kesehatan dapat dianggap sebgai bahan investasi karena
tahan lama dan tidak terdepresisasi dengan segera.
4. Kesehatan dapat dianggap sebagai bahan konsumsi sekaligus
sebagai bahan investasi.
2.2 Definisi Need Pelayanan Kesehatan
Need terhadap pelayanan kesehatan merupakan fungsi dari need terhadap
kesehatannya sendiri; dengan didasari oleh pengalaman yang selama itu dilalui
oleh seseorang. Dalam berbagai perdebatan tentang need, cenderung terjadi
salah kaprah dan melupakan keterkaitan di antara keduanya. Banyak

perdebatan yang sering tidak jelas memakai istilah need tersebut. Dan bahkan
ada yang mengaburkan pendengarnya tentang need mana yang dimaksudkan
oleh pembicara. Bagi para ekonom, need adalah sesuatu pengertian yang
evaluatif dan normatif, yaitu yang mempunyai suatu objek yang melandasinya.
Dalam setiap pembahasan tentang total need, maka yang perlu digarisbawahi
ialah bahwa tidak seluruh need akan dapat dipenuhi. Dengan demikian akan
terdapat sebuah ranking need, dalam pengertian-ceteris paribus- kita akan lebih
memilih satu need untuk dipenuhi dibanding need yang lain, bila need yang
dipilih tadi akan memberikan manfaat yang lebih tinggi dibandingkan dengan
yang tidak dipilih. Tapi mungkin asumsi ceteris paribus tadi tidak dapat
terpenuhi. Khususnya bila dikaitkan dengan persoalan biaya. Dengan konsep
opportunity cost yang telah ada jelas bahwa pemilihan need mana yang akan
dipenuhi akan harus merupakan bagian dari fungsi biayanya. Itu berarti dalam
rangka memenuhi suatu need tidak perlu mekanisme yang paling efektif yang
harus dipilih. Sekali lagi kemungkinan untuk memenuhi suatu need merupakan
fungsi dari biaya dan manfaat yang terkandung dibelakangnya; yaitu biaya dan
manfaat yang marjinal. Need bukan merupakan suatu yang absolut maupun
terbatas. Need adalah sesuatu yang dinamis dan cenderung untuk terus tumbuh
bersama dengan berjalannya waktu. Dan dalam kasus ini

pertumbuhan need

tersebut akan bisa dilihat merupakan sebagian dari perkembangan penawaran


fasilitas pelayanan kesehatan.
Dapat diambil beberapa ide pokok yang berkaitan dengan uraian tentang
need :
1. Need tidak selalu harus dijelaskan dengan tanpa mempertimbangkan
apakah hasil akhir yang ingin dicari serta jenis pelayanan kesehatan
manakah yang dijadikan instrumennya.
2. Pengabaian kemungkinan pertukaran dalam rangka memenuhi suatu
need nampaknya akan merupakan persoalan awal dari timbulnya
masalah ketidakefisienan.
3. Bagaimanapun kita mendefinisikan need maka hampir selalu timbul
usaha bagi pihak ketiga yang terlibat ke dalam proses penilaian;
berbeda halnya dengan demand di mana konsumenlah yang berdaulat
(sovereign).
4. Need tidak absolut.

5. Need harus diranking dan juga harus dihitung.


6. Kontribusi utama dari ilmu ekonomi ke dalam needology diderivasikan
dari pasar pengertian bahwa need mana yang akan dipenuhi akan
tergantung sekali dengan biaya-manfaat untuk memenuhi need
tersebut.
2.3 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Demand Pelayanan Kesehatan
Menurut Fuchs (1998), Dunlop dan Zubkoff (1981) faktor-faktor yang
mempengaruhi demand pelayanan kesehatan antara lain :
1. Kebutuhan Berbasis Fisiologis
Kebutuhan berbasis pada aspek fisiologis menekankan pentingnya keputusan
petugas medis yang menentukan perlu tidaknya seseorang mendapat
pelayanan medis. Keputusan petugas medis ini akan mempengaruhi penilaian
seseorang akan status kesehatannya. Dengan keadaan seperti ini demand
terhadap pelayanan kesehatan dapat ditingkatkan atau dikurangi. Faktorfaktor ini dapat diwakilkan dalam pola epidemiologi yang seharusnya diukur
berdasarkan kebutuhan masyarakat. Namun, data epidemiologi yang ada
sebagian besar menggambarkan demand, bukan kebutuhan (needs).
2. Penilaian Pribadi akan Status Kesehatan
Secara

sosio-antropologis,

dipengaruhi oleh

penilaian

pribadi

kepercayaan, budaya, dan

akan

status

norma-norma

kesehatan
sosial

di

masyarakat. Indonesia sebagai negara Timur sejak dahulu telah mempunyai


pengobatan alternatif dalam bentuk pelayanan dukun ataupun tabib.
Pelayanan ini sudah berumur ratusan tahun sehingga dapat dilihat demand
terhadap pelayanan pengobatan alternatif ada dalam masyarakat. Sebagai
contoh, untuk berbagai masalah kesehatan jiwa peranan dukun masih besar.
Di samping itu, masalah persepsi mengenai risiko sakit merupakan hal yang
penting.
3. Variabel-Variabel Ekonomi Tarif
Hubungan tarif dengan demand terhadap pelayanan kesehatan adalah
negatif. Semakin tinggi tarif maka demand akan semakin rendah. Hubungan
negatif ini secara khusus terlihat pada keadaan pasien yang mempunyai

pilihan. Pada pelayanan rumah sakit, tingkat demand pasien sangat


dipengaruhi oleh keputusan dokter. Keputusan dari dokter mempengaruhi
length of stay, jenis pemeriksaan, keharusan untuk operasi, dan berbagai
tindakan medik lainnya. Pada keadaan yang darurat, butuh penanganan
pelayanan segera seperti kecelakaan yang jika tidak segera ditangani maka
pasien akan meninggal atau cacat seumur hidup, maka faktor tarif mungkin
tidak berperan dalam mempengaruhi demand, sehingga elastisitas harga
bersifat inelastik.
Masalah tarif ini merupakan hal yang kontroversial. Pernyataan normatif di
masyarakat memang mengharapkan bahwa tarif rumah sakit harus rendah
agar masyarakat miskin mendapat akses. Akan tetapi tarif yang rendah
dengan subsidi yang tidak cukup dapat menyebabkan mutu pelayanan turun
bagi orang miskin dan hal ini menjadi masalah besar dalam manajemen
rumah sakit.
4. Penghasilan Masyarakat
Kenaikan penghasilan keluarga akan meningkatkan demand untuk pelayanan
kesehatan yang sebagian besar merupakan barang normal. Akan tetapi, ada
pula sebagian pelayanan kesehatan yang bersifat barang inferior, yaitu
adanya kenaikan penghasilan masyarakat justru menyebabkan penurunan
konsumsi. Hal ini terjadi pada rumah sakit pemerintah di berbagai kota dan
kabupaten. Ada pula kecenderungan mereka yang berpenghasilan tinggi tidak
menyukai pelayanan kesehatan yang menghabiskan banyak waktu. Hal ini
diantisipasi oleh rumah saikit-rumah sakit yang menginginkan pasien dari
golongan

mampu

untuk

mengasntisipasinya.

Contohnya

dengan

menyediakan layanan rawat jalan dengan perjanjian. Faktor penghasilan


masyarakat dan selera mereka merupakan bagian penting dalam analisis
demand untuk keperluan pemasaran rumah sakit.
5. Asuransi Kesehatan dan Jaminan Kesehatan
Pada negara-negara maju, faktor asuransi kesehatan menjadi penting dalam
hal demand pelayanan kesehatan. sebagai contoh, di Amerika Serikat
masyarakat tidak membayar langsung ke pelayanan kesehatan, tetapi melaui
sistem asuransi kesehatan. di samping itu, dikenal pula program pemerintah

dalam bentuk jaminan kesehatan untuk masyarakat miskin dan orang tua.
Program pemerintah ini sering disebut sebagai asuransi sosial. Adanya
asuransi kesehatan dan jaminan kesehatan dapat meningkatkan demand
terhadap pelayanan kesehatan. Dengan demikian, hubungan asuransi
kesehatan dengan demand terhadap pelayanan kesehatan bersifat positif.
Asuransi kesehatan bersifat dapat mengurangi efek faktor tarif yang
menghambat orang-orang yang kurang mampu mendapatkan pelayanan
kesehatan. peningkatan demand ini dipengaruhi pula oleh faktor moral
hazard. Seseorang yang tercakup oleh asuransi kesehatan akan terdorong
menggunakan pelayanan kesehatan sebanyak-banyaknya.
6. Jenis Kelamin
Penelitian di Amerika Serikat menunjukkan bahwa demand terhadap
pelayanan kesehatan oleh wanita ternyata lebih tinggi dibanding dengan lakilaki. Hasil ini sesuai dengan dua perkiraan. Pertama, wanita mempunyai
insidensi penyakit yang lebih tinggi dibanding dengan laki-laki. Kedua, karena
angka kerja wanita lebih rendah maka kesediaan meluangkan waktu untuk
pelayanan kesehatan lebih besar dibanding dengan laki-laki. Akan tetapi,
pada kasus-kasus yang bersifat darurat perbedaan antara wanita dan laki-laki
tidaklah nyata.
7. Pendidikan
Seseorang dengan pendidikan tinggi cenderung mempunyai demand yang
lebih tinggi. Pendidikan yang lebih tinggi cenderung meningkatkan kesadaran
akan status kesehatan, dan konsekuensinya untuk menggunakan pelayanan
kesehatan.
Faktor-Faktor Lain
Berbagai faktor lain yang mempengaruhi demand pelayanan kesehatan,
yaitu:
1. Pengiklanan
Iklan merupakan faktor yang sangat lazim digunakan dala bisnis
komoditas ekonomi untuk meningkatkan demand. Akan tetapi, sektor
pelayanan kesehatan secara tradisional dilarang karena bertentangan
dengan etika dokter dan apabila akan diberikan maka dalam bentuk

informasi mengenai pelayanan rumah sakit. Pelayanan kesehatan


tradisional seperti para tabib, dukun, dan pengobatan alternatif sudah
lazim melakukan iklan di surat kabar dan majalah. Berbagai rumah
sakit di Indonesia telah memperhatikan faktor pengiklanan sebagai
salah satu cara peningkatan demand.
2. Tersedianya Dokter dan Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Tersedianya dokter dan fasilitas pelayanan kesehatan merupakan
faktor lain yang meningkatkan demand. Fuchs (1998) menyatakan
bahwa pada asumsi semua faktor lain tetap, kenaikan jumlah dokter
spesialis bedah sebesar 10% akan meningkatkan jumlah operasi
sebesar 3%. Kehadiran dokter gigi akan meningkatkan demand untuk
pelayanan kesehatan mulut. Keberadaan dokter spesialis THT akan
meningkatkan demand untuk operasi tonsilektomi. Kehadiran dokter
spesialis kebidanan dan penyakit kandungan dengan peralatan operasi
akan meningkatkan demand untuk pelayanan bedah caesar.
3. Inflasi
Efek inflasi terhadap demand terjadi melalui perubahan-perubahan
pada tarif pelayanan rumah sakit, jumlah relatif pendapatan keluarga,
dan asuransi kesehatan. Faktor ini harus diperhatikan oleh rumah sakit
karena pada saat inflasi tinggi, ataupun pada resesi ekonomi, demand
terhadap pelayanan kesehatan akan dapat terpengaruh. Pada saat
krisis ekonomi di Indonesia, tercatat berbagai rumah sakit di
Yogyakarta tidak mengalami penurunan demand. Justru bangsalbangsal VIP tidak menurun penghuninya, bahkan menunjukkan
kecenderungan naik. Salah satu dugaan adalah pasien kaya yang bisa
pergi ke Jakarta atau Singapura, mengubah perilakunya untuk mencari
penyembuhan pada rumah sakit di Yogyakarta. Ketika kasus SARS
merebak di Singapura, pengamatan menunjukkan bahwa BOR kelas
VIP sebuah kota besar di Indonesia ternyata meningkat. Ada
kemungkinan penduduk Indonesia yang demand mencari pengobatan
biasa ke Singapura, kemudian mengubahnya ke Indonesia akibat takut
terkena SARS.

2.4 Elastisitas Pelayanan Kesehatan


Dalam pengukuran perubahan antara dua momen, hal penting lain yang perlu
dibahas adalah unsur elastisitas. Elastisitas adalah ukuran derajat kepekaan
jumlah

permintaan

terhadap

perubahan

salah

satu

faktor

yang

mempengaruhinya. Beberapa macam konsep elastisitas yang berhubungan


dengan permintaan yaitu elastisitas harga dan elastisitas permintaan.
Elastisitas harga
Bila harga bangsal VIP dinaikan 50%, apakah para pengguna bangsal VIP akan
turun 50%, 10%, ataukah turun 75% ? pertanyaan ini sangat penting terutama
bagi konsumen yang mempunyai anggaran terbatas. Kemungkinan konsumen
akan berpindah bangsal kelas I,II, atau menggunakan bangsal VIP di rumah
sakit lain yang tidak naik, cateris paribus. Perbandingan perubahan persentase
ini menghasilkan konsep elastisitas harga yang diukur dengan formal.

persentas e peruba h an jumla h yang diminta


persetase petubah an h arga barang tersebut
h=

Pemakaian tanda negatif (-) di depan perbandingan untuk menghindari hasil


negatif karena dengan hukum permintaan barang normal apabila terjadi
kenaikan harga maka akan terjadi penurunaan permintaan barang.
Bila h > 1 berarti bahwa permintaan elastis. Dalam hal ini persentase
penurunaan permintaan lebih besar dibandingkan dengan persentase kenaikan
harga dapat dinyatakan bahwa barang tersebut sangat responsif terhadap
kenaikan sehingga total pengeluaran untuk barang tersebut menjadi turun.
Bila h < 1 berarti bahwa permintaan inelastis. Artinya jumlah yang diminta tidak
reponsif terhadap kenaikan harga persentase penurunan permintaan lebih kecil
dibandingkan dengan persentase kenaikan harga. Hasilnya konsumen akan
membelanjakan uangnya lebih banyak pada barang yang inelastis tersebut.
Bentuk tengah dari elastisitas adalah elastistitas tunggal (Unit elastic) ditunjukan
oleh h = 1. Arti elastis tunggal adalah persentase kenaikan harga adalah sama
dengan persentase penurunan permintaan.

Faktor-faktor penentu elatisitas harga


Menurut kantz and rosen 1998 beberapa faktor yang menentukan elastisitas
harga sebagai berikut:
1. Adanya barang substitusi cenderung mendorong barang lebih elastis. sebagai
contoh orang menganggap rumah sakit swasta sebagai substitusi yang dekat
dengan rumah sakit pemerintah. Jika di rumah sakit pemerintah lebih mahal
dan kualitas pelayanannya yang kurang, maka akan banyak konsumen yang
beralih ke rumah sakit swasta, cateris paribus. Dengan demikian, elastis
harga rumah sakit pemerintah elastis.
2. Elastisitas tergantung pada beberapa besar bagian dari barang tersebut pada
anggaran konsumen. Secara umum, semakin kecil bagian (fraksi) dari
pendapatan yang dipergunakan untuk membeli barang tersebut, maka
elastisitasnya cenderung semakin kecil, cateris paribus.
3. Elatisitas harga tergantung pada waktu pengambilan analisis. Waktu
pengambilan nilai elastisitas sangat penting untuk diperhatikan. Sebagai
contoh satu minggu setelah kenaikan harga bangsal VIP kemudian dilakukan
pengukuran elastisitas. Hasilnya kan berbaeda jika dilakukan pengukuran
kembali setelah dua bulan pengukuran berikutnya. Kemungkinan elatisitas
akan semakin kurang setelah masyarakat terbiasa dengan harga baru.
Elastisitas harga silang
Prinsip elastisitas berlaku pula pada barang-banrang substistusi, dan barangbarang yang bersifat komplementer. Elastisitas harga secara silang untuk
permintaan y terhadap perubahan barang harga z adalah persentase perubahan
permintaan barang x akibat perubahan persentase harga barang y. secara umum
dinyatakan dengan rumus sebagai berikut:
xy=

persentase peruba h an permintaanakan barang X


persentase peruba h an h arga barang Y

Sebagai catatan, tidak seperti elastis harga, dalam hal ini tidak tanda negatif pada
rumus xy. Elastisitas harga silang dapt menjadi positif atau negatif karena kan
memberikan tanda mengenai jenis hubungan barang X dan Y. jika X dan Y
bersifat substitusi, kenaikan terhadap barang Y, maka konsumsi barang X akan

meningkat, sehingga xy akan positif. Sedangkan apabila X dan Y adalah


komplemen

maka

xy

akan

negatif.

Untuk

barang-barang

yang

tidak

berhubungan maka xy akan 0.


Elastisitas pendapatan
Penggunaan kosep elatisitas dapat dipergunakan untuk menilai dampak
perubahan pendapatan (income) seseorang terhadap konsumsi suatu barang.
Elastisitas pendapatan didefiniskan sebagai persentase perubahanpermintaan
terhadap suatu barang dalam hubungannya dengan perubahan pendapatan
(income) nyata konsumen. Secara umum dinyatakan dengan rumus sebagai
berikut:
EI =

per sentase peruba h an permintaanakan barang X


persentase peruba h an pendapatan nyata

Seperti elatisitas harga silang, elastisitas pendapatan dapat positif atau negatif.
Untuk barang normal, EI bertanda positif, dan untuk barang inferior EI bertanda
negatif. Barang-barang kebutuhan pokok biasanya mempunyai I < 1, sedangkan
untuk barang-barng tidak pokok (barang-barang mewah) I > 1. Barang-barang
mewah mempunyai ciri menarik yaitu persentase kenaikan pendapatan
terkaitdengan persentase konsumsi barang tersebut dengan besaran yang lebih
besar.

STUDI KASUS
Dikutip dari www.jpnn.com
Artikel mengenai Suami Meninggal, Istri Terima Rp 2,8 Miliar dari BPJS TK
Berkat keikutsertaan BPJS (TK) suami dari perusahaan kami sangat
terbantu. Mohon doanya agar anak-anak kami bisa menjadi sukses, ujar sang istri

setelah menerima cek senilai lebih dari Rp 2,8 miliar dari Kakanwil BPJS TK DKI
Hardi Yuliwan.
Saat dilarikan ke RS MMC, dia dinyatakan meninggal di ruang gawat darurat.
Meski tergolong kepesertaan baru, yakni sejak April 2008, ahli waris berhak atas
klaim 56 kali gaji dari program Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK). Selain itu berhak
pula klaim daro program Jaminan Hari Tua (JHT) dan santunan berkala.
Dengan mengikutkan BPJS TK, pihak perusahaan diuntungkan. Sebab kalau
tidak dijaminkan ke BPJS TK, maka perushaaanlah yang harus membayar jaminan
sosial karywan. Kalau begini maka terjadi pengalihan risiko finansial perusahaan,
paparnya. Hardi mengatakan, kasus tersebut sebenarnya masuk kategori meninggal
karena sakit.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan

Secara umum keadaan demand dan need pelayanan kesehatan dapat


dilukiskan dalam suatu konsep yang disebut fenomena gunung es. Konsep ini
mengacu pada pengertian bahwa demand yang benar seharusnya merupakan
bagian dari need. Secara konseptual, need akan pelayanan kesehatan dapat
berwujud suatu gunung es yang hanya sedikit puncaknya terlihat sebagai
demand. sedikit tersebut bersifat variatif. Di negara-negara maju mungkin
puncak gunung es akan terlihat relatif besar bila dibanding dengan negaranegara yang masih dalam keadaan miskin. Pelayanan kesehatan tentunya
berusaha agar batas air menjadi serendah mungkin.
Menurut Fuchs (1998), Dunlop dan Zubkoff (1981) faktor-faktor yang
mempengaruhi demand pelayanan kesehatan antara lain: kebutuhan berbasis
pada aspek fisiologis; penilaian pribadi akan status kesehatannya; variabelvariabel ekonomi seperti tarif, ada tidaknya sistem asuransi, dan penghasilan;
variabel-variabel demografis dan organisasi. Di samping faktor-faktor tersebut
terdapat faktor lain misalnya, pengiklanan, pengaruh jumlah dokter dan fasilitas
pelayanan kesehatan, dan pengaruh inflasi. Faktor-faktor ini satu sama lain
saling terkait secara kompleks.
Dalam pengukuran perubahan antara dua momen, hal penting lain yang perlu
dibahas adalah unsur elastisitas. Elastisitas adalah ukuran derajat kepekaan
jumlah

permintaan

terhadap

perubahan

salah

satu

faktor

yang

mempengaruhinya. Beberapa macam konsep elastisitas yang berhubungan


dengan permintaan yaitu elastisitas harga dan elastisitas permintaan.