Anda di halaman 1dari 1

Geologi Regional Pegunungan Cyclop.

Di ujung timur laut Irian Jaya, batuan lempeng Pasifik telah melengkung dimana
membentuk antiklin luas yang telah terkikis ke inti yang menimbulkan terangkatnya batuan
ultrabasa dan batuan beku dasar dikelilingi oleh batuan gunungapi busur-kepulauan dan
diatasnya terbentuk batugamping. Batuan mantel yang bisa dibedakan dari Sabuk Ofiolit Irian
Jaya itu terdiri dari ultramafik (serpentinit, piroksen terserpentin, peridotit dan dunit ), gabro
dan dolerit, dan batuan dasar metamorf. Batuan metamorf terbentuk ditengah inti/pusat
sebagai batuan sekis, gneiss, dan amfibolit. Kumpulan mineral yang paling umum adalah
albit-epidot-klorit-muskovit dengan atau tanpa kuarsa dan/atau aktinolit dan banyak batuan
menunjukkan bukti metamorf retrograde. Amfibol hijau biru (aktinolit-glaukofan) adalah
kelompok amfibol yang banyak dapat ditemukan di Pegunungan Cyclop.
Indonesia memiliki beberapa komplek ofiolit salah satunya terdapat di Pegunungan
Cyclop di Papua. Di Kawasan kompleks ofiolit tersebut banyak ditemukan mineralisasi yang
muncul setempat-setempat dan secara terbatas ditemukan emas. Hal ini kemungkinan
berkaitan dengan mineralisasi emas yang berasosiasi dengan komplek ofiolit. Mineralisasi
emas dalam ultrabasa masih belum diketahui secara luas karena belum dikaji secara intensif.
Batuan permata yang kita temukan sekarang ini, kebanyakan merupakan hasil
pembentukan proses geologi, antara lain seperti diferensiasi magma, metamorfosa, ataupun
sedimentasi yang terjadi jutaan - milyaran tahun yang lalu yang terbawa ke permukaan oleh
erupsi magma yang sangat kuat yang terjadi di masa lalu. Kemungkinan terbentuknya batu
Cyclop ini merupakan pengaruh atau akibat dari proses metamorfosa, didukung dengan
adanya data geologi regional yang menjelaskan batuan dimana terdapatnya batu Cyclop ini
yaitu didominasi oleh batuan dasar metamorf dan batuan beku ultramafik.