Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH DASAR-DASAR DAN PROSES

PEMBELAJARAN BIOLOGI II
Total Quality Management K Isikhawa

KELOMPOK VI

DOSEN PENGAMPU:
DISUSUN OLEH KELOMPOK 5:
Desya Pradista
Diah Suliandani (A1C414034)
Hastuti Setia Adhikrom
Ida Mala
Natalia Magdalena
Risky Nara
Sinta Eka Putri
PRODI PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
T.P 2014-2015

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat tuhan Yang Maha Esa, karena atas
limpahan rahmat dan karunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan makalah dari mata
kuliah Dasar-dasar dan proses pembelajaran biologi II dalam waktu yang telah
ditentukan.
Dalam makalah ini penulis sampaikan informasi Total Quality Management
(TQM) dengan menggunakan literatur dari buku dan internet.
Dalam menyelesaikan makalah ini penulis banyak mendapat bantuan dari
berbagai pihak, untuk itu penulis ingin mengucapkan terimakasih kepada :
1. Dosen pengampu mata kuliah Dasar-dasar dan proses pembelajaran biologiII
2. Teman-teman prodi biologi
Penulis berharap makalah ini dapat bermanfaat dalam pemberian informasi tentang Total
Quality Management K ishikawa. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua
untuk masa sekarang dan masa yang akan datang.

Jambi, 27 November 2015

penulis

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL

...............................

KATA PENGANTAR ..........................................................................................


DAFTAR ISI
BAB I

ii

..............................

iii

PENDAHULUAN
1.1.

Latar belakang

....

1.2.

Rumusan Masalah ....

1.3.

Tujuan Masalah

....

2.1

pengertian total quality management ....................................

2.2.

sejarah singkat perkembangan TQM.................................................

2.3

biografi ishikawa.................................

2.4.
2.5.

sejarah total quality management k ishikawa....


sistem kendali mutu..........................................................................

10
11

2.6

Diagram Tulang ikan (Fishbone)

13

2.7

Implementasi Diagram Tulang ikan dalam pendidikan

2.8

Kelebihan dan kekurangan

BAB II

PEMBAHASAN

..............
.................

14

.................................................................

14

16

17

LAMPIRAN .

18

BAB III
3.1

PENUTUP
Kesimpulan

DAFTAR PUSTAKA

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1

Latar belakang
Konsep Total Quality Management (Pengelolaan Mutu Total/PMT) lahir beberapa

dasawarsa yang lalu terutama untuk mengatasi beberapa masalah di bidang bisnis dan
industri. Konsep TQM telah diimplementasikan dengan sangat berhasil oleh dunia bisnis dan
industri di Jepang, kemudian konsep ini juga banyak di adopsi di banyak negara lain
(Tjiptono, 2001:31). Indonesia, sebagai negara yang sedang berkembang menuju negara
industri perlu membangun sistem kualitas modern dan praktik manajemen kualitas terpadu di
berbagai bidang kehidupan sebagai senjata untuk memenangkan kompetisi pasar
global.Sangat menarik bahwa konsep TQM ini kemudian ditelaah penerapannnya dalam
dunia pendidikan dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan. Relevansi TQM dengan
dunia pendidikan sangat erat, tujuan TQM untuk mempersiapkan tenaga manajer pendidikan
profesional yang sangat menguasai isu-isu TQM dan teknik-teknik manajemen mutu (Sallis,
2008:21). TQM diartikan sebagai perpaduan semua fungsi dari perusahaan ke dalam falsafah
holistik yang dibangun berdasarkan konsep kualitas, teamwork, produktivitas, dan pengertian
serta kepuasan pelanggan (Ishikawa dalam Tjiptono, 2001:4). Dalam memenuhi kebutuhan
pelanggan, khususnya budaya kerja yang mantap harus terbina dan berkembang dengan baik
dalam diri setiap karyawan yang terlibat dalam pendidikan itu. Motivasi, sikap, kemauan, dan
dedikasi adalah bagian yang tidak terpisahkan dari budaya kerja tersebut.
Dunia pendidikan, filosofi TQM memandang pendidikan sebagai jasa dan usaha
lembaga pendidikan sebagai industri jasa dan bukan proses produksi. TQM tidak berbicara
tentang masukan (input), yaitu peserta didik dan keluaran (output), yaitu lulusan,
sebagaimana umum berpendapat. TQM berbicara tentang pelanggan yang mempunyai
berbagai kebutuhan dan tentang bagaimana memuaskan para pelanggan tersebut.
Lulusan adalah produk pendidikan yang dinilai mempunyai kelemahan dasar, karena
lulusan (peserta didik) adalah individu yang perilaku dan perbuatan bukan hanya dipengaruhi
ilmu dan keterampilan yang diperolehnya selama pendidikan, melainkan juga oleh berbagai
faktor lain, seperti motivasi belajar, sikap, dan latar belakang keluarga serta pengaruh
lingkungan. TQM menganggap produk pendidikan sebagai industri jasa pada hakikatnya

adalah jasa dalam bentuk pelayanan yang diberikan oleh pengelola pendidikan beserta
seluruh karyawan kepada para pelanggan sesuai dengan standar mutu pendidikan.
Jasa pendidikan adalah pelayan yang diberikan kepada para pelanggan untuk
memenuhi kebutuhan mereka, sehingga mutu jasa pendidikan itu haruslah sesuai dengan atau
melebihi kebutuhan itu. Mutu jasa pendidikan bersifat relatif, sehingga mutu jasa pendidikan
dinilai baik dan memuaskan jika sesuai dengan atau melebihi kebutuhan pelanggan
bersangkutan. Mutu tersebut dapat diukur secara kualitatif dengan menggunakan beberapa
indikator lunak seperti rasa kepedulian dan perhatian terhadap kebutuhan para pelanggan.
Tingkat kepuasan pelanggan setelah menerima jasa pendidikan juga dapat merupakan
indikator penting.
1.2

Rumusan Masalah

1.2.1. Apa pengertian total quality management?


1.2.2. Bagaimana sejarah singkat perkembangan TQM?
1.2.3. Bagaimana biografi ishikawa?
1.2.4. Bagaimana sejarah total quality management k ishikawa?
1.2.5. Bagaimana sistem kendali mutu?
1.2.6. Apa yang dimaksut diagram tulang ikan?
1.2.7. Bagaimana implementasi diagram tulang ikan dalam pendidikan?
1.2.8. Apa kelebihan dan kekurangannya?

1.3

Tujuan Masalah
1.3.1. Mendeskripsikan pengertian total quality management.

1.3.2. Mendeskripsikan sejarah singkat perkembangan TQM.


1.3.3. Mendeskripsikan biografi ishikawa.
1.3.4. Mendeskripsikan sejarah total quality management k ishikawa.
1.3.5. Mendeskripsikan sistem kendali mutu.
1.3.6. Mendeskripsikan mengenai diagram tulang ikan.
1.3.7. Mendeskripsikan implementasi diagram tulang ikan dalam pendidikan.
1.3.8. Mendeskripsikankelebihan dan kekurangan yang ada.

BAB 11
LANDASAN TEORI
2.1. Pengertian Total Quality Management
Total Quality Management dapat didefinisikan dari tiga kata, yaitu Total
(keseluruhan), Quality (kualitas, derajat/tingkat keunggulan barang atau jasa), Management
5

(tindakan, seni, cara menghandel, pengendalian, pengamatan). Dari tiga tersebut TQM dapat
diartikan sebagai sistem manajemen yang berorientasi pada kepuasan pelanggan (Customer
Satisfaction) dengan kegiatan yang diupayakan sekali benar (right first time), melalui
perbaikan berkesinambungan (Continuous Imptovement) dan motivasi karyawan.
Mutu atau kualitas suatu barang pada umumnya diukur dengan tingkat kepuasan konsuinen atau pelanggan. Seberapa besar kepuasan yang diperoleh pelanggan tergantung dari
tingkat kecocokan penggunaan masmg-masing pelanggan. Seorang pengusaha membeli
produk yang digunakan sebagai bahan baku akan mengatakan barang tersebut mempunyai
kualitas baik jika barang tersebut dirasa cocok penggunaannya dan mempunyai kemampuan
memproses aku menjadi barang jadi dengan biaya rendah dan sisa yang minimal, Seorang
membeli barang jadi dengan harapan barang-barang cacat bawaan dari pabrik sehingga tidak
rugi mengeluarkan uang untuk membeli barang tersebut. Dengan demikian, pengertian
kualitas mencakup kegiatan yang berkaitan dengan tercapainya kepuasan pemakai barang
tersebut.
Konsep kualitas itu sendiri sering dianggap sebagai ukuran relatif kebaikan suatu
produk atau jasa yang terdiri atas kualitas desain atau rancangan dan kualitas kesesuaian atau
kecocokan. Kualitas rancangan merupakan fungsi spesifikasi produk, sedang-kan kualitas
kecocokan adalah seberapa baik produk itu sesuai dengan spesifikasi dan kelonggaran yang
disyaratkan oleh rancangan itu.
Dari pengertian kualitas di atas sebenamya terdapat be-berapa elemen sebagai berikut.
1. Kualitas adalah usaha untuk memberi kepuasan bagi pelanggan.
2. Kualitas meliputi produk, jasa, proses dan lingkungannya.
3. Kualitas yang selalu berubah kondisinya (kondisi dinamis), saat ini dianggap
kualitas hari yang akan datang kemungkinan dianggap tidak kualitas.
Perpaduan semua fungsi dari perusahaan yang dibangun berdasarkan konsep kualitas,
teamwork, produktivitas dan pengertian serta kepuasan pelanggan inilah yang dinamakan
Total Quality Management (TQM). TQM merupakan sistem manajemen yang mengangkat
kualitas sebagai strategi usaha dan berorientasi pada kepuasan pelanggan dengan melibatkan
seluruh anggota organisasi. Pengertian TQM lain menyebutkan bahwa TQM me-rupakan
suatu pendekatan dalam menjalankan usaha yang mencoba untuk memaksimumkan daya

saing organisasi melalui per-baikan terus menerus atas produk, jasa, manusia, proses, dan
lingkungannya.
2.2. Sejarah Singkat Perkembangan TQM
Banyak yang beranggapan bahwa TQM berasal dari Jepang, mengingat konsep TQM
banyak dipengaruhi perkembangan-per-kembangan di Jepang. Sebenamya gerakan total
quality dimulai pada masa studi gerak dan waktu yang diperkenalkan oleh F. Tailor sekitar
tahun 1920. Kemudian pada tahun 1931 Walter A. Shewhart dari Bell Laboratories
memperkenalkan metode statistik yang dikenal dengan Statistical Quality Control. Tokoh
yang dikenal luas dalam TQM adalah Edward Deming. Beliau meng-ajarkan teknik-teknik
pengendalian kualitas di U. S. War Department, serta mengajarkan mata kuliah mengenai
kualitas kepada ilmuan, insinyur, dan eksekutif perusahaan Jepang. Berawal dari sinilah TQM
berkembang pesat di negara Sakura ini.
Pada awalnya orang Jepang memperhatikan tentang perilaku pelanggan. Pelanggan
suka sekali memilih dan mengeluh terhadap hal-hal yang sepele, mereka berharap sesuatunya
sempurna. Sebagai contoh, seorang pelanggan membeli kendaraan bermotor. Kebetulan
asesoris kendaraan motor kurang tepat pemasanganya yang sebenamya ia dapat
memasangnya sendiri, dan hal tersebut tidak periu diributkan. Hanya sayangnya mereka tidak
terbiasa dengan hal itu, dan mereka akan senang jika kejadian semacam itu dapat dicegah.
Berawal dari situlah orang Jepang dalam memproduksi barang sangat memperhatikan pelanggan. Produk barang/jasa yang dihasilkan sesuai dengan keingnan pelanggan sama persis
seperti yang dilaporkan penjual.
Sekarang telah menjadi kenyataan, bahwa produk dari Jepang yang dulunya dikenal
sebagai produk rongsokan dan imitasi murahan dari produk Barat, kini justru sebaliknya
menjadi produk-produk yang berkualitas tinggi dan berkembang pesat di dunia. Perusahaanperusahaan Jepang menyadari bahwa pada masa mendatang adalah kualitas. Berlakukan
antara lain dengan menciptakan infra-kualitas, yaitu aspek manusia, proses, dan Upaya
perbaikan dilakukan dengan mengirimkan tim ke luar untuk mempelajari pendekatanpendekatan dilakukan perusahaan asing dan mengundang dosen-dosen datang ke Jepang
untuk memberikan kursus pelatihan kepada para manajer. Hasil dari semua upaya tadi adalah
banyak ditemukannya strategi-strategi baru untuk menciptakan revolusi.

Sejak pertengahan tahun 70-an, barang-barang manufaktur Jepang, seperti mobil dan
produk-produk elektronika mulai mendominasi perdagangan dunia karena kualitas yang
dihasilkan sudah melampaui kualitas yang dihasilkan pesaingnya dari Amerika dan Eropa.
Begitu pula dalam beberapa industri kunci, misal mesin industri, baja, otomotif, industri
Barat mulai tergeser. Aspek perhatian atau penekanan Amerika sejak Perang Dunia II, yakni
pada aspek kuantitas dan kurang memperhatikan kualitas menjadi penyebab kegagalan
bersaing dengan perusahaan Jepang.
Sejarah pengembangan dari konsep di atas dan tokoh-tokoh TQM dapat disebutkan di
bawah ini.
1. Pada tahun 1946 - 1950 adalah periode perintisan atau periode penelitian dan
penelaahan (Research and Study). Pada periode ini, yaitu pada bulan Juli 1950, Dr. W.
E. Deming menyampaikan seminar delapan hari mengenai kualitas pada para ilmu-wan,
insinyur dan para eksekutif perusahaan Jepang.
2. Tahun 1951 - 1954 adalah periode pengendalian mutu statistik (Statistical Quality
Control). Pada bulan Juli 1954 diadakan seminar tentang manajemen pengendalian
mutu (Quality Control Mangement Seminar) dengan pembicara Dr. J. M. Juran.
3. Tahun 1955 -1960 adalah periode pengendalian mutu secara sistematik. Kelompok
belajar pengendalian mutu (Quality Control Study Group) memperkenalkan
pengendalian mutu menyeluruh dalam perusahaan (Company Wide Quality Control
atau CWQC).
4. Tahun 1961 sampai sekarang dikatakan sebagai periode pemantapan dan
pengembangan (New Quality Creation). Pada tahun 1962, Prof. DR. Kaoru Ishikawa
memperkenalkan Gugus Kendali Mutu (Quality Control Circle).

2.3. Biografi Ishikawa


Kaoru Ishikawa (Ishikawa Kaoru) (1915-1989), seorang ilmuwan yang
dilahirkan di Tokyo, Jepang merupakan anak tertua dari delapan bersaudara Ichiro Ishikawa.

Pada Tahun 1939 beliau meraih gelar sebagai sarjana teknik bidang kimia terapan dari
Universitas Tokyo. Pekerjaan pertamanya adalah sebagai teknisi kapal (1939-1941) kemudian
pindah bekerja di Perusahaan Bahan Bakar Cair Nissan (Nissan Liquid Fuel Company)
sampai tahun 1947.
Pada tahun 1960, Ishikawa menjadi professor tetap pada Fakultas Teknik, Universitas
Tokyo.Profesor yang juga merupakan salah seorang murid dari Edward Deming ini aktif
dalam pergerakan mutu di Jepang dan merupakan anggota dari Union of Japanese Scientist
and Engineers (JUSE).
Setelah Perang Dunia II, Jepang terlihat mengubah sektor industrinya, tetapi pada saat
itu Amerika Utara masih memandang Jepang sebagai produsen mainan murah dan kamera
dengan kualitas rendah. Merupakan keahliannya dalam mengerahkan banyak orang ke arah
tujuan yang lebih spesifik dengan tanggung jawab yang semakin besar untuk peningkatan
kualitas di Jepang.Ishikawa menterjemahkan, menggabungkan serta memperluas konsep
manajemen Deming dan Juran ke dalam Japanese system.
Pada saat itulah Ishikawa memperkenalkan konsep Quality Circles (Lingkaran
Kualitas).Konsep ini dikembangkan sebagai percobaan untuk menemukan pengaruh
kepemimpinan manajer perusahaan terhadap kualitas produksi.Meskipun banyak perusahaan
diundang untuk berpartisipasi, hanya satu perusahaanNippon Telephone and Telegraph
yang menerimanya.
Diantara usahanya untuk meningkatkan kualitas adalah menyelenggarakan Konferensi
Tahunan Peningkatan Mutu bagi Top Manajemen (1963) dan menulis beberapa buku tentang
Quality Control.Dia adalah seorang ketua dewan redaksi majalah bulanan Statistical Quality
Control.Ishikawa juga terlibat dalam kegiatan standardisasi internasional. Atas jasa-jasanya
itu dan konsistensinya dalam peningkatan mutu, Ishikawa mendapatkan sejumlah
penghargaan yaitu, Deming Prize, the Nihon Keizai Press Prize, the Industrial
Standardization Prize untuk karya tulisnya mengenai quality control, dan the Grant Award
yang diperoleh dari American Society for Quality Control untuk program pendidikan
mengenai quality control. Ishikawa meninggal dunia pada tahun 1989. Sebagai penghargaan,
di tahun kematiannya itu Juran mengatakan.
2.4. Sejarah Total Quality Management K Ishikawa

Setelah keluar dari Angkatan Laut, pada tahun 1943, Ishikawa mendesain Diagram
Sebab-Akibat (Diagram Tulang Ikan) bagi Kawasaki Steel Works. Lalu pada akhirnya, di
tahun 1949, Ishikawa begabung dengan JUSE (Japanese Union of Scientists and
Engineerings) yang notabene merupakan kelompok penelitian pengawasan kualitas, karena
pada saat itu, industri Jepang memproduksi barang murah dengan kualitas yang rendah.
Ishikawa mempunyai tujuan untuk merubah itu semua.
Pada tahun 1962, Ishikawa mengembangkan Quality Circles, di mana sekumpulan
orang belajar untuk mengidentifikasi masalah lalu memberikan solusi atas masalah tersebut.
Solusi yang diberikan selanjutnya kaan dipresentasikan kepada manajemen tingkat atas dari
suatu organisasi.
Kontribusi Ishikawa yang juga tak kalah pentingnya adalah menyempurnakan model
PDCA (Plan Do Check Act) yang dikembangkan oleh Edward Deming, penemu konsep PMT.
Ishikawa mengkolaborasikannya menjadi rencana enam langkah:
1. Tentukan target dan tujuan;
2. Tentukan metoda pencapaian;
3. Lakukan sosialisasi melalui pelatihan;
4. Terapkan pekerjaan;
5. Lakukan pemeriksaan dari implementasi yang berjalan;
6. Lakukan hal-hal yang diperlukan untuk mencapai tujuan.
Quality Circles yang dikembangkan oleh Ishikawa, seringkali menggunakan metode
ini untuk memberikan solusi dari suatu permasalahan dan pertama kali menggunakan metode
ini awal tahun 60-an. Mereka juga menggunakan salah satu metoda yang paling terkenal,
yang didesain oleh Ishikawa, Diagram Sebab-Akibat (Diagram Tulang Ikan). Diagram ini
diilustrasikan sebagai alat untuk memecahkan masalah.
Menggunakan diagram ini, letakkan permasalahan pada bagian tulang utama yang
mengarah ke kepala ikan. Lalu letakkan masalah-masalah potensial pada tulang-tulang kecil
yang menjadi bagian dari tulang utama. Kategori umum untuk masalah potensial tersebut
adalah:

Material

10

Mesin

Pengukuran

Orang

Metoda

2.5. Sistem Kendali Mutu


Kaoru Ishikawa, seorang pakar kendali mutu terkemuka di dunia yang berasal dari
Jepang mendefinisikan kendali mutu sebagai berikut , Melaksanakan kendali mutu adalah
mengembangkan, merancang, memproduksi dan memberikan jasa produk bermutu yang
paling ekonomis, paling berguna, dan selalu memuaskan bagi konsumen. Berdasarkan
definisi ini kendali mutu selalu berorientasi kepada kepuasan pelanggan dan dalam hal
pendidikan berarti pelayanan yang dapat memuaskan para peserta didik.Ishikawa percaya
bahwa inisiatif untuk mencapai peningkatan kualitas yang berkesinambungan haruslah
berasal dari organisasi secara keseluruhan.
Buku Ishikawa yang berjudul Guide to Quality Control (1982) dianggap klasik karena
menjelaskan secara mendalam mengenai quality tools serta ilmu statistik yang terkait.
Beberapa tool yang diperkenalkannya adalah user friendly control, Fishbone cause and effect
diagram, emphasised the internal customer. Ishikawa juga yang pertama memperkenalkan 7
(seven) quality tools: control chart, run chart, histogram, scatter diagram, pareto chart, and
flowchart yang sering juga disebut dengan 7 alat pengendali mutu/kualitas (quality control
seven tools).
Tool Ishikawa yang menjadi sangat populer serta digunakan di seluruh dunia
adalah diagram sebab akibat (Ishikawa Cause and Effect Diagram). Sering kali disebut
sebagai fishbone diagram dikarenakan bentuknya yang menyerupai tulang ikan. Dalam
penerapannya diagram ini digunakan untuk melakukan identifikasi terhadap faktor yang
menjadi penyebab masalah. Fishbone diagram tergolong praktis dan memandu setiap tim
untuk terus berpikir menemukan penyebab utama suatu permasalahan.
Penggunaannya dapat dilihat pada gambar 1.1. Misalnya, ada masalah utama berupa
peningkatan produksi (bagian kepala). Kemudian ada beberapa faktor masalah yang dapat
diidentifikasikan sebagai tulang besar, yaitu manajemen, material/bahan baku, sumber daya
manusia (manpower), mesin dan metode. Selanjutnya, berdasarkan faktor masalah pada

11

tulang besar itu dicari penyebab-penyebab (tulang kecil) yang mempengaruhi peningkatan
produksi (kepala) dari masing-masing sisi (tulang besar). Secara ringkas, hasilnya dapat
dilihat pada gambar 1.2.
Dengan menerapkan diagram Fishbone ini dapat menolong kita untuk dapat
menemukan akar penyebab terjadinya masalah, khususnya di industri manufaktur atau
organisasi pendidikan dimana prosesnya terkenal dengan banyaknya ragam variabel yang
berpotensi menyebabkan munculnya permasalahan. Apabila masalah dan penyebab
sudah diketahui secara pasti, maka tindakan dan langkah perbaikan akan lebih mudah
dilakukan. Dengan diagram ini, semuanya menjadi lebih jelas dan memungkinkan kita untuk
dapat melihat semua kemungkinan penyebab dan mencari akar permasalahan
sebenarnya. Melalui diagram ini Ishikawa mengajarkan kita untuk melihat ke dalam
dengan bertanya tentang permasalahan yang sedang terjadi dan menemukan solusinya dari
dalam juga.
Penyelesaian masalah melalui fishbone dapat dilakukan secara individu tp manajemen
maupun dengan kerja tim. Seperti dengan cara mengumpulkan beberapa orang yang
mempunyai pengalaman dan keahlian memadai menyangkut problem yang terjadi. Semua
anggota tim memberikan pandangan dan pendapat dalam mengidentifikasi semua
pertimbangan mengapa masalah tersebut terjadi. Kebersamaan sangat diperlukan di sini, juga
kebebasan memberikan pendapat dan pandangan setiap individu.Ini tentu bisa dimaklumi,
manusia mempunyai keterbatasan dan untuk mencapai hasil maksimal diperlukan kerjasama
kelompok yang tangguh.
Solusi instan yang hanya mampu memandang sampai tingkat gejala, tidak akan
efektif. Masalah mungkin akan teratasi sesaat, namun cepat atau lambat akan datang kembali.
Kaoru Ishikawa yang juga penggagas konsep implementation of quality circles ini sangat
percaya pentingnya dukungan dan kepemimpinan dari manajemen puncak (top management)
dalam suatu organisasi/perusahaan didukung oleh kerjasama tim (teamwork) yang solid
sangat berperan dalam pembuatan produk unggul dan berkualitas.
2.6. Diagram Tulang Ikan (Fishbone)
Diagram tulang ikan disebut juga sebagai diagram Ishikawa / fishbone diagram atau
juga disebut diagram sebab akibat,,yaitu diagram yang menunjukkan sebab akibat yang

12

berguna untuk mencari atau menganalisa sebab sebab timbulnya masalah sehingga
memudahkan cara mengatasinya.Ditemukan oleh Prof. Kouru Ishikawa .
Gasversz (1997: 112) mengungkapkan bahwa diagram sebab akibat ini merupakan
pendekatan terstruktur yang memungkinkan dilakukan suatu analisis lebih terperinci dalam
menemukan penyebab-penyebab suatu masalah, ketidaksesuaian, dan kesenjangan yang ada.
Penggunaan analisis sebab akibat :
-

Untuk mengenal sebab yang penting

Untuk memahami semua akibat dan penyebab

Untuk membandingkan prosedur kerja

Untuk menemukan pemecahan yang tepat

Untuk memecahkan hal apa yang harus dilakukan

Untuk mengembangkan proses.


Cara membuat diagram Tulang Ikan :

Tuliskan permasalahan pada kotak dikepala

Tuliskan kategori utama penyebab permasalahan pada tulang tulang ikan yang besar

Pada tulang tulang kecilnya digunakan untuk menuliskan akar permasalahan dengan
menggunakan pertanyaan mengapa sebanyak 5 kali atau

Gunakan data yang ada kemudian tuliskan jawabannya pada tempat yang
sesuai.Selesaikan satu persatu mencari akar masalah di suatu katagori,jangan pindah ke
kategori lain sebelum sebab sebab yang lain dalam satu kategori digali dan diperoleh
akar permasalahan.

Apabila dirasakan perlu maka diagram sebab akibat dapat berkembang sesuai
kebutuhan.

Dalam menggunakan diagram sebab akibat sebaiknya pada waktu mencari sebab
difokuskan dimana akibat itu terjadi.

Pilih 3 s/d 5 sebab dominan dari seluruh sebab yang ada yang letaknya pada tulang ikan
terkecil.

Berilah tanda elips pada sebab dominan tersebut.

2.7. Implementasi Fishbone Diagram (Prof. Kaoru Ishikawa) dalam Pendidikan


2.7.1. Merencanakan Inovasi Pendidikan

13

Berdasarkan pada 6 prinsip dasar inovasi pendidikan maka setidaknya kita tidak akan
semena-mena dalam merencanakan inovasi. Kembali ketitik awal bahwasanya proses inovasi
dapat bermula dari munculnya kesenjangan (GAP), ketidaksesuaian sehingga diperlukan
pembaharuan, perubahan atau tindakan korektif atau kebijakan baru yang sifatnya inovatif,
meskipun setiap perubahan belum berarti inovasi namun setiap inovasi meski di dalamnya
adalah perubahan. Singkatnya langkah langkah secara global sebagai berikut di bawah ini:
1. Dokumentasi gap atau kesenjangan dan ketidaksesuaian (proses). Baik secara
kuantitatif maupun kualitatif.
2. Identifikasi kebutuhan (demand) pelanggan dalam hal ini pengguna jasa pendidikan.
3. Menganalisis gap dan kesenjangan dan ketidaksesuaian (analisa proses) tersebut.
4. Pengembangan tindakan korektif (root causes analysis)
5. Implementasi inovasi.
6. Validasi
Tahapan tersebut di atas menunjukkan bahwa root causes analysis memegang peranan
penting

dalam

menentukan

kebijakan

selanjutnya

(korektif/pembaharuan/inovasi).

Gejolak, Penomena, Gap, Ketidak sesuian yang terjadi dalam proses pendidikan atau
berbagai permasalahan yang aktual baik teoritis maupun paraktis, baik dalam tatanan makro
maupun mikro, bahkan skup yang lebih kecil seperti permasalahan di dalam kelas dijadikan
sandaran dalam berinovasi di dunia pendidikan. Namun untuk kebermaknaan suatu inovasi
tetap harus mengusung prinsip-prinsip inovasi itu sendiri. Untuk itu salah satunya, masalah
yang diungkap haruslah terlebih dahulu dinalisis (akar masalah) sehingga inovasi betul-betul
berkenaan dan bermakna (mainfull).
2.8. Kelebihan dan kekurangan.
Adapun kelebihan dan kekurangana dari Total Quality Management K Ishikawa
diantaranya adalah sebagai berikut:
2.8.1. Kelebihan
-

Dapat mengenal sebab yang penting

Dapat memahami semua akibat dan penyebab

Dapat membandingkan prosedur kerja

Dapat menemukan pemecahan yang tepat

14

Dapat memecahkan hal apa yang harus dilakukan

Dapat mengembangkan proses.

Dapat menjabarkan setiap masalah yang terjadi dan setiap orang yang terlibat
didalamnya dapat menyumbangkan saran yang mungkin menjadi penyebab
masalahtersebut

2.8.2. Kekurangan
Adapun kekurangandari TotalQuality Management K Ishikawa adalah membatasi
kemampuan tim /pengguna secaran visual dalam menjabarkan masalah yang mengunakan
metode

BAB III
PENUTUP
15

3.1

KESIMPULAN
Dari pembahasan tentang TQM menurut Kaoru Ishikawa diatas dapat ditarik

kesimpulan sebagai berikut:


TQM dapat diartikan sebagai sistem manajemen yang berorientasi
pada kepuasan pelanggan (Customer Satisfaction) dengan kegiatan
yang diupayakan sekali benar (right first time), melalui perbaikan
berkesinambungan

(Continuous

Imptovement)

dan

motivasi

karyawan.
Pada tahun 1946 - 1950 adalah periode perintisan atau periode
penelitian dan penelaahan (Research and Study).Tahun 1951 - 1954
adalah periode pengendalian mutu statistik (Statistical Quality
Control. Tahun 1955 -1960 adalah periode pengendalian mutu secara
sistematik. Tahun 1961 sampai sekarang dikatakan sebagai periode
pe-mantapan dan pengembangan (New Quality Creation).

Kaoru Ishikawa (Ishikawa Kaoru) (1915-1989), seorang ilmuwan yang


dilahirkan di Tokyo, Jepang merupakan anak tertua dari delapan bersaudara
Ichiro Ishikawa. Pada Tahun 1939 beliau meraih gelar sebagai sarjana teknik
bidang kimia terapan dari Universitas Tokyo
Pada tahun 1962, Ishikawa mengembangkan Quality Circles, di mana

sekumpulan orang belajar untuk mengidentifikasi masalah lalu memberikan

solusi atas masalah tersebut


Melaksanakan kendali

mutu

adalah

mengembangkan,

merancang,

memproduksi dan memberikan jasa produk bermutu yang paling ekonomis,

paling berguna, dan selalu memuaskan bagi konsumen


dan Morgan (1994) mengungkapkan ada tiga teknik mendasar dalam
menetapkan mutu, yaitu quality assurance, contract conformance, dan customer
driven.

DAFTAR PUSTAKA

16

Gaspersz, Vincent. 1997. Manajemen Kualitas Penerapan Konsep-Konsep Kualitas Dalam


Manajemen Bisnis Total. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Morgatroyd, S. dan Morgan, C. 1994. Total Quality Management and The School.
Buckingham: Open University Press.
Nawawi, Hadari. 2005. Manajemen Strategik. Yogyakarta: Gadjah Mada Pers.

LAMPIRAN
17

Gambar 1.1.

Gambar 1.2

18