Anda di halaman 1dari 13

Nama

: Putu Rina Widhiasih

NIM

: P07134014002

Semester

: V (lima)
Pemeriksaan Serologi Anti-HBs

Tanggal praktikum : Rabu, 12 Oktober 2016


Materi praktikum
I.

: Pemeriksaan Serologi Anti-HBs

Tujuan
Pemeriksaan imunokromatografi (rapid tes) untuk deteksi secara kualitatif adanya antibodi
virus Hepatitis B dalam serum / plasma pasien

II.

Metode
Metode yang digunakan untuk mengetahui adanya anti-HBs dalam sampel serum/plsma

adalah Immunokromatografi
III.

Prinsip
Anti-HBs Rapid test merupakan uji skrining yang memiliki 2 garis warna yaitu control

line dan test line. Ketika spesimen ditambahkan pada sampel well, apabila terdapat Anti-Hbs
dalam serum/plasma akan bereaksi dengan antigen HBV rekombinan yang terkonjugasi dengan
gold colloid akan bergerak di sepanjang membran secara kromatografi dengan gaya kapilaritas
menuju wilayah test yang akan membentuk garis warna sebagai reaksi kompleks partikel emas
antibodi-antigen
IV.

Dasar Teori
Virus hepatitis B (HBV) adalah agen penyebab penyakit hati akut dan kronis, termasuk

kegagalan

fulminan

hati,

sirosis

hati,

dan

karsinoma

hepatoseluler.

(Takayuki

Minekawa,dkk.2013). Virus hepatitis B (HBV) adalah infeksi patogen yang paling mengancam
yang telah terbukti menjadi faktor risiko utama untuk infeksi menular pada proses transfusi darah
manusia. Transfusi darah merupakan kegiatan penting nyelamatakan hidup jutaan manusia setiap
tahunnya. Tapi tetap saja membawa risiko transfusi penyakit seperti hepatitis, acquired
immunodeficiency syndrome (AIDS) dan beberapa penyakit menular melalui hubungan seksual
dan darah. Di seluruh dunia Sekitar 350 jutaan pasien menderita hepatitis B setelah menerima
transfusi darah yang terkontaminasi. (Susmita Maity,dkk.2012)

HBV ditemukan oleh Blumberg et al pada tahun 1965. Lima tahun kemudian, vaksin HBV
pertama dan tes darah diagnostik dikembangkan. Di seluruh dunia, lebih dari 2 miliar orang telah
terinfeksi virus hepatitis B (HBV) sekitar 240 juta memiliki infeksi HBV kronis, 20-25% di
antaranya meninggal akibat penyakit hati terkait HBV, termasuk sirosis dan karsinoma
hepatoseluler. 80% dari orang dewasa dengan infeksi HBV kronis tidak bergejala atau tidak
terindikasikan bahwa mereka telah terinfeksi. Karena sifatnya yang asymtomatic. Pengujian
untuk HBV sangat penting untuk kesehatan masyarakat, terutama untuk skrining atau uji
penyaringan. (Shyam Raj Upreti,dkk.2014). HBV kronis dapat dideteksi dengan mengukur
antigen, antibodi, dan viral load. Tes serologi untuk mendeteksi dan sebagai penanda adanya
infeksi HBV seperti HBV DNA, gen inti HBV, anti-HBs, anti-HBc, HBsAg, hepatitis B e antigen
(HBeAg) dan untuk genotip. (Sofiane Mohamed,dkk.2013)
Berdasarkan analisis perkembangan virus HBV, HBV memiliki delapan genotipe yaitu
genotipe A ke H dan dua genotipe tentatif yaitu I dan J dan memiliki hampir empat puluh
subgenotypes. Diperkirakan bahwa genotipe pertama yang diversifikasi adalah genotipe C,
diikuti oleh B, D, A, F, E, H dan G. Dahulu HBV genotipe A sampai E yang dominan di antara
populasi dunia. Namun, seiring perkembangan dunia penyebaran genotipe dari HBV sudah
memiliki wilayah geografisnya masing-masing, untuk genotipe B dan C yang dominan di Asia,
genotipe D di Afrika, Eropa dan India dan genotipe A di sub-Sahara Afrika, Afrika Utara dan
Eropa Barat genotipe E dibatasi untuk Afrika Timur. Selanjutnya, genotipe G mungkin yang
paling terakhir, dengan perkiraan waktu dari 800 tahun lalu. genotipe G dibatasi terutama untuk
populasi laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki di Amerika, menunjukkan bahwa
pasien ini memainkan peran kunci dalam penyebaran HBV ke bagian lain dari dunia, Genotipe H
dominan di Meksiko sedangkan genotipe F berlaku di Amerika Tengah dan Selatan. (Sonia
Roman,dkk.2014).
HBsAg adalah antigen permukaan HBV. Ini menunjukkan infeksi hepatitis B kronis.
Amplop virus memiliki protein permukaan yang berbeda dari sisa virus yang bertindak sebagai
antigen. Antigen ini terdeteksi oleh antibodi yang mengikat secara khusus untuk salah satu
protein permukaan tersebut. (Gong-Ying Chen,dkk.2014). Hepatitis B antigen permukaan
(HBsAg) adalah penanda kunci untuk skrining dan laboratorium diagnosis infeksi HBV dan
penanda serologi pertama yang muncul selama infeksi HBV. (Shyam Raj Upreti,dkk. 2014).
Sedangkan antibodi permukaan hepatitis B (anti-HBs) pengujian digunakan untuk menilai sistem

kekebalan tubuh dan respons tubuh terhadap vaksin HBV yang telah diberikan. (Jun
Yao,dkk.2015)
V.

Alat dan Bahan


Alat
1. Mikropipet
2. Yellow tip
3. Stopwatch / timer
Bahan
1.

Casette SD BIOLINE HBsAg


Disimpan pada suhu 1 30 C ( 34-86 F),, tidak direkomendasikan disimpan pada
freeze/tidak boleh dibekukan.

2.

Serum atau Plasma


Bila tidak segera diperiksa maka serum atau dapat disimpan pada suhu 2-8 0C atau
suhu -200C jika pemeriksaan ditunda lebih dari 3 hari. Penolakan sampel apabila
serum lipemik, hemolisis, ikterik, endapan dan serum mengandung RF. Sebelum
diperiksa, sampel dan cassete dibiarkan pada suhu ruang (15-30 C selama 30
menit)

VI.

Cara Kerja
1. Disiapkan semua alat dan bahan yang akan digunakan
2. Dipastikan sampel dan casette telah sesuai dengan suhu kamar
3. Dibuka pembungkus dari cassette dan letakkan di tempat yang kering dan datar
4. Ditambahkan 100 l sampel ke dalam sumur sampel
5. Dilihat pergerakan warna ungu yang terjadi
6. Hasil diinterpretasikan pada 20 menit jika pembacaan pada suhu 15-30 0, namun jika
pembacaan pada suhu 100 maka waktu interpretasi selama 30 menit

VII.

Interpretasi Hasil

(+)

= Tedapat 2 garis merah, pada line C dan line T berarti terdapat anti-HBs
dalam serum/plasma

(-)

= Terdapat 1 garis merah pada line C, berarti tidak terdapat anti-HBs dalam
serum/plasma

Invalid = Tidak terdapat garis merah atau terdapat garis merah pada line T saja
VIII. Hasil Pengamatan

Identitas Probandus 1

Nama

: Luh Putu Devi Kartika

Jenis Kelamin

: Perempuan

Umur

: 20 tahun

Sampel

: Serum

Hasil

: (+) positif Anti-HBs


Terdapat sua garis merah pada control line (C) dan test line (T)

Sampel
serum

SD Bioline Anti-HBs Rapid Test

Tempat meletakkan

sampel/spesimen
Terdapat garis merah pada Test Line
Terdapat garis merah pada Control
Line

Hasil pemeriksaan probandus, dengan hasil


negatif (+) Anti-HBs

IX.

Pembahasan
HBV adalah virus DNA dari keluarga Hepadnaviridae dan memiliki genom melingkar

terdiri dari sekitar 3.200 nukleotida (nt) mengandung empat template kovalen yaitu S untuk gen
permukaan, C untuk gen inti, P untuk gen polimerase, dan X untuk gen X. Seluruh virion, atau
Dane partikel berbentuk bola dengan ukuran 42 nm yang berisi nukleokapsid dan rantai DNA
HBV melingkar. HBV DNA disintesis melalui transkripsi balik RNA pregenomic, yang juga
berasal dari cccDNA. Oleh karena itu, cccDNA adalah template untuk HBV DNA dan sintesis
HBsAg. Sepuluh genotipe (A sampai J) HBV telah diidentifikasi sejauh ini. Genotip HBV
menunjukkan tingkat mutasi yang tinggi karena proses transkripsinya terbalik yang mengarah ke
generasi dari berbagai mutasi. Mutasi ini termasuk yang di wilayah hidrofilik utama (MHR) dari
protein S, termasuk T / I126S, T123N, C124R, mutasi Q129H, D144A, dan G145R. Hal ini
diketahui bahwa beberapa reagen diagnostik yang ada digunakan untuk deteksi HBsAg tidak
dapat mendeteksi mutan HBsAg bahkan ketika konsentrasi antigen yang hadir cukup dalam
sampel darah. Sejak diagnosisnya diabaikan, menyebabkan hilangnya kesempatan untuk terapi
infeksi HBV lebih dini dan menyebabkan penyebaran infeksi yang semakin tinggi, maka dari itu
pengembangan reagen diagnostik untuk deteksi HBsAg yang dapat mendeteksi berbagai strain
perlu dilakukan. (Takayuki Minekawa,dkk.2013)

Di Asia, di mana penyebaran tertinggi dari infeksi HBV, pembawa HBV biasanya mulai
terinfeksi dari kandungan atau pada anak usia 2 tahun. Atas dasar interaksi antara virus dan tuan
rumah, perjalanan alami pasien dengan infeksi HBV kronis dapat dibagi menjadi empat fase.
Yang pertama adalah "fase toleransi kekebalan", yang ditandai dengan replikasi aktif HBV,
positif untuk HBeAg, dan (ALT) normal sedangkan SGPT rendah. Yang kedua adalah "tahap
pembersihan imun", di mana pasien HBeAg-positif mengalami peningkatan kadar ALT dan
penurunan kadar HBV DNA. Dalam ketiga "replikasi rendah atau fase residual", pasien
kehilangan HBeAg dan mendapatkan antibodi terhadap HBeAg (anti-HBe) dengan remisi
penyakit hati dan ditetapkan sebagai carrier aktif. Yang keempat adalah "reaktivasi atau fase
hepatitis HBeAg-negatif" atau yang sekarang dikenal sebagai tahap pembersihan imun. Dimana
hepatitis HBeAg-negatif adalah tahap percepatan

perkembangan penyakit stadium akhir

penyakit hati untuk menjadi sirosis hati dan berkembang menjadi penyakit carcinoma
hepatoseluler. Oleh karena itu, identifikasi awal pasien yang berisiko dan pengobatan antivirus
harus cepat dilakukan untuk mencegah atau mengurangi perkembangan penyakit. (Tung-Hung
Su,dkk.2013)
Umumnya, HBV ditularkan melalui cairan tubuh yang terkontaminasi. Berbagai rute
penularan termasuk transfusi darah dari pasien yang terinfeksi, hubungan seksual, suntikan yang
tidak aman dan penularan dari ibu ke-neonatus. Baru-baru ini, air mata, urin, saliva, gigitan dan
kulit yang luka juga menjadi sarana penularannya. Sejak HBV mampu bertahan di permukaan
hingga tujuh hari, transmisi/penularannya langsung melalui permukaan yang terkontaminasi
untuk orang yang sering berhubungan dengan orang yang telah terinfeksi HBV. Prevalensi lokal
HBV dengan distribusi geografis, budaya daerah dan sosial, serta tabu dapat membantu untuk
menarik pola transmisi informatif untuk setiap genotipe. (Andreas A Besong Frambo,dkk.2014)
Meskipun vaksin yang aman dan efektif telah tersedia selama hampir 3 dekade, virus
hepatitis B (HBV) masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting. Manifestasi
klinis dari berbagai infeksi HBV dari hepatitis akut atau fulminan dengan berbagai bentuk dan
hepatitis

infeksi kronis, termasuk carrier aktif, hepatitis kronis, sirosis, kanker hati adalah

komplikasi berurutan dari infeksi hepatitis B kronis dan karsinoma hepatoseluler (HCC) yang
paling mematikan. Umumnya sirosis hati merupakan hasil dari akumulasi matriks ekstraselular
yang timbul dari cedera sel hati, dan kanker hati selanjutnya muncul sebagai penyakit sirosis
hati. Hepatitis B antigen permukaan (HBsAg) merupakan ciri khas dari infeksi HBV dan pertama

kali ditemukan oleh Blumberg dan rekan-rekannya, melaporkan pada tahun 1968. Sejak itu,
HBsAg telah digunakan sebagai penanda untuk diagnosis infeksi HBV dan menjadi tes kualitatif,
yang termasuk dalam salah satu tes serologi untuk menentukan etiologi hepatitis, tetapi tidak
untuk memantau perkembangan penyakit pada pasien dengan infeksi HBV kronis. Saat itu
etiologi hepatitis hanya bergantung pada tes serologi kualitatif dan semi-kuantitatif seperti
HBsAg dan hepatitis B e antigen (HBeAg), serta tes biokimia hati, untuk menentukan tahapan
penyakit pembawa HBV. Namun, sejak tahun 2007, kuantifikasi tingkat DNA HBV serum telah
menjadi penanda yang berguna untuk memprediksi tingkatan risiko pengembangan penyakit dan
memprediksi respon pengobatan terapi antiviral pada pasien dengan infeksi HBV kronis. (TaiChung Tseng,dkk.2013). Selain itu tes untuk mendeteksi antibodi terhadap Hepatitis B
permukaan dapat pula digunakan untuk menilai sistem kekebalan tubuh dan respon tubuh
terhadap vaksin yang telah diberikan. Titer Anti-HBs diperiksa satu tahun setelah vaksinasi
terakhir (ketiga) untuk mengevaluasi tingkat keberhasilan vaksinasi tersebut. (Jun Yao,dkk.2015)
HBsAg merupakan protein amplop glikosilasi virion HBV. HBsAg disintesis di retikulum
endoplasma dan dari HBV DNA terintegrasi ke dalam genom inang. Ada 3 HBsAg protein-kecil
(S), menengah (M), dan besar (L), dan mereka diterjemahkan dari pre-S1 mRNA dan pre-S2 / S
mRNA, yang ditranskripsi dari S gen dari cccDNA. Tiga bentuk HBsAg ditemukan dalam serum
HBsAg yaitu bagian dari virion HBV, filamen, dan partikel bulat jumlah HBsAg yang dihasilkan
biasanya 102-105 lebih besar dari nilai yang dibutuhkan untuk perakitan virion. Jenis partikel
filamen dan bulat merupakan subviral non-infeksi dari HBsAg. Metode yang digunakan untuk
mengukur serum HBsAg tidak bisa membedakan tiga bentuk tersebut. Pada fase awal dari
pembersihan imun ditandai dengan produksi HBsAg dan replikasi HBV DNA.(Ivana
Lazarevic.2014)
Anti-HBs adalah antibodi penetral, dan kehadirannya menunjukkan kekebalan terhadap
infeksi HBV. Kehadiran anti-HBs menandakan adanya antibodi untuk menetralisir virion beredar
dalam tubuh yang dianggap sebagai pembawa infeksi HBV. Tes anti-HBs ini merupakan tes
cepat dengan membran yang terkonjugasi dengan HBsAg rekombinan yang pada prinsipnya
harus mendeteksi semua antibodi terhadap virus HBs, yaitu, IgM serta IgG yang terdapat dalam
sampel serum/plasma yang terkonjugasi dengan gold colloidal bergerak sepanjang membran
secara kromatografi menuju daerah tes dan membentuk garis warna akibat reaksi kompleks

antigen-antibodi. (Odd Odinsen,dkk.2007). Ketika Serum atau plasma (100 l) ditambahkan ke


dalam sumur atau sampel well, sampel akan mengalir dengan gaya kapilaritas, dan hasil visual
yang dibaca setelah 20 menit. Jika terdapat anti-HBs maka akan bereaksi dengan antigen HBs
rekombinan secara komples yang terdapat pada membran. Perkembangan garis ungu di wilayah
garis uji dan memberikan warna merah pada garis uji/tes (T) menunjukkan adanya anti-HBs
dalam sampel. Tidak adanya garis uji berwarna menunjukkan tidak adanya anti-HBs atau
kehadirannya pada konsentrasi di bawah batas deteksi tes. Setiap tes juga menyediakan kontrol
prosedural untuk stabilitas reagen dan uji fungsi, jika garis kontrol tidak hadir, tes tidak valid.
Maka apabila sampel tidak mengandung antu-HBs, maka reaksi hanya terjadi pada Control Line
saja,

sehingga

hanya

memperlihatkan

satu

garis

merah

saja

(pada

C).

(Helena Medina Cruz,dkk.2015)


Sampel yang digunakan dapat berupa serum atau plasma. Sampel serum diperoleh dengan
mengambil darah vena pasien menggunakan tabung tanpa antikoagulan kemudian didiamkan
selama 30 menit sebelum disentrifuge dan dipisahkan serum dengan eritrositnya. Begitu juga
untuk memperoleh plasma, perbedaannya hanya pada tabung yang digunakan dan jika sampel
plasma tidak perlu didiamkan selama 30 menit, sampel plasma dapat langsung disentrifuge.
Untuk mendapatkan plasma digunakan tabung dengan antikoagulan EDTA, heparin atau citrate.
Untuk pemeriksaan yang ditunda sampel serum atau plasma dapat disimpan pada suhu 2 8 o C
jika pemeriksaan lebih dari 3 hari disarankan untuk dibekukan. Sampel harus di diletakkkan
dalam suhu ruang serta dihomogenkan sebelum digunakan. Sampel tidak boleh hemolisis,
lipemik, rheumartoid factor dan kontaminasi bakteri. Karena dapat mempengaruhi tes.
Langkah awal yang dilakukan yaitu dikeluarkan serum/plasma dan alat kaset dari kulkas
untuk mengkondisikan sampel dan alat hingga mencapai suhu ruang. Karena sensitivitas alat
akan berkurang pada suhu rendah. Kemudian dibuka alat kaset dari pembungkusnya dan
tempatkan pada tempat yang datar dan kering. Lalu ditambahkan serum/plasma sebanyak 100 l
dengan mikropipet pada tempat sampel cassete. Dilihat pergerakan warna ungu dengan gaya
kapilaritas hingga membentuk reaksi kompleks antigen-antibodi dan membentuk garis warna.
Ditunggu selama 20 menit untuk membiarkan reaksi yang terjadi maksimal dan garis warna yang
terbentuk sempurna. Hasil diinterpretasikan pada 20 menit jika pembacaan pada suhu 15-30 0,
namun jika pembacaan pada suhu 100 maka waktu interpretasi selama 30 menit. Batas
sensitivitas dari tes ini adalah 30mIU / ml. (Insert Kit.2014)

Pada praktikum kali ini dengan probandus Luh Putu Devi Kartika menggunakan sampel
serum didapatkan hasil yang positif dimana terbentuknya 2 reaksi kompleks membentuk garis
berwarna merah pada control line dan test line. Garis pada control line ini harus selalu
menunjukkan reaksi kompleks membentuk garis berwarna merah karena control line digunakan
sebagai control alat uji tersebut apakah prosedur yang kita lakukan sudah benar atau tidak. Jika
pada control line tidak menunjukkan reaksi kompleks membentuk garis warna merah, maka itu
dianggap invalid yang artinya ada kesalahan dari tahapan prosedur uji yang kita lakukan.
Terbentuknya garis warna pada daerah tes menunjukkan bahwa probandus memiliki antibodi
virus hepatitis B permukaan. Adanya anti-HBs dalam serum probandus dikarenakan probandus
sudah melakukan vaksin hepatitis B 2 tahun lalu, masih adanya anti-HBs dalam tubuh probandus
menandakan bahwa vaksinasi yang dilakukan telah berhasil secara maksimal.
Tes HBV DNA metode kualitatif dan kuantitatif yang berguna untuk mendiagnosa replikasi
HBV pada infeksi kronis, mengevaluasi prognosis penyakit dan mengikuti risiko sirosis dan
karsinoma hepatoseluler, menentukan awal pengobatan virus memantau pengobatan antiviral dan
untuk mengidentifikasi perlawanan terhadap nukleosida / analog nukleotida obat (Livia Melo
Villar,dkk.2015). Tes serologi khusus untuk mendeteksi penanda HBV dikembangkan sekitar
tahun 70-an. Berbagai teknik serologis dapat digunakan, seperti radioimmunoassay (RIA), enzim
immunoassay (EIA), Electrochemiluminescence immunoassay (ECLIA) dan chemiluminescence
immunoassay (CLIA), mikro-partikel enzim immunoassay (MEIA), CMIA. Dimana Standar
diagnosis

HBV

terdiri

dari

penggunaan

immunoassay

enzim

(AMDAL)

dan

electrochemiluminescence (ECLIA) dengan sampel serum atau plasma. Namun, tes ini memiliki
keterbatasan yaitu tidak dapat dijangkau oleh negara-negara berpenghasilan rendah dan
menengah. Mereka memerlukan ketersediaan semua infrastruktur yang diperlukan seperti
laboratorium berkualitas tinggi, peralatan mahal, cold storage, teknisi terlatih, dan pasokan listrik
yang tinggi. Sebagai alternatif, tes cepat (RT) mungkin memiliki beberapa keunggulan
dibandingkan prosedur standar karena mudah untuk melakukan sehingga tidak perlu teknisi
terlatih, dapat memberikan hasil yang konklusif dalam beberapa menit. Selain itu, tes ini dapat
dilakukan atas dasar kasus per kasus dan tidak memerlukan infrastruktur laboratorium. (Harr
Freeya Njai,dkk.2015)
Karakteristik spesifikasi ELISA dan kit cepat digunakan untuk evaluasi

Sensitivitas = Ini adalah kemampuan suatu assay untuk mendeteksi individu yang benarbenar terinfeksi dari jumlah yang sangat kecil dari analit. Hal ini dapat dihitung dengan
rumus berikut: Sensitivitas = [Benar Positif / (True Positif + Negatif False)] X100. Alat

SD Bioline casette ini memiliki sensitivitas sebesar 100%


Kekhususan = Ini adalah kemampuan suatu tes dengan benar mengidentifikasi semua
individu yang tidak terinfeksi dan tidak boleh ada positif palsu. Hal ini dapat dihitung
dengan rumus berikut: Spesifisitas = [Benar Negatif / (Benar Negatif + Positif False)]

X100. Alat SD Bioline casette ini memiliki kekhususan sebesar 100%


Positif Predictive Value (PPV) = Ini adalah kemampuan tes untuk mengidentifikasi
individu-benar terinfeksi di antara semua orang memberikan hasil positif dengan kit yang
digunakan. Hal ini dihitung dengan rumus berikut: PPV = [Benar Positif / (True Positif +

Positif False)] X100


Negatif Predictive Value (NPV) = Ini adalah kemampuan tes untuk mengidentifikasi
dengan benar individu nyata non terinfeksi di antara semua orang memberikan hasil
negatif dengan kit yang digunakan. Hal ini dihitung dengan rumus berikut: NPV = [Benar

Negatif / (Benar Negatif + Negatif Salah)] X100


Efisiensi = Ini adalah kemampuan keseluruhan tes untuk benar mengidentifikasi semua
positif sebagai positif dan semua negatif negatif. Hal ini juga disebut sebagai 'akurasi'.
Hal ini dihitung sebagai berikut : Efisiensi = [(True positif + Negatif Benar) / (True
Positif + Negatif Palsu + Benar Negatif + Positif False)] X100 (Susmita Maity,dkk.2012)

X.

Kesimpulan
Pada praktikum kali ini probandus Luh Putu Devi Katika mendapatkan hasil
positif anti-HBs dimana terbentuknya 2 garis warna merah pada control line C dan test
line T yang menandakan dalam sampel serum probandus terdapat anti-HBs.

DAFTAR PUSTAKA
Andreas A Besong Frambo,dkk.2014/Prevalence of HBsAg and knowledge about hepatitis B in
pregnancy in the Buea Health District, Cameroon: a cross-sectional study.[online].tersedia :
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4082373/.[diakses 12 Oktober 2016, 16.06]
Gong-Ying Chen,dkk.2014.Baseline HBsAg predicts response to pegylated interferon-2b in
HBeAg-positive

chronic

hepatitis

patients.[online].tersedia

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4081692/.[diakses 12 Oktober 2016, 15.23]


Harr Freeya Njai,dkk.2015.Validation of Rapid Point-of-Care (POC) Tests for Detection of
Hepatitis B Surface Antigen in Field and Laboratory Settings in the Gambia, Western
Africa.[online].tersedia : http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4365211/.[diakses
12 Oktober 2016, 15.31]
Helena Medina Cruz,dkk.2015.Evaluating HBsAg rapid test performance for different biological
samples from low and high infection rate settings & populations.[online].tersedia :
http://bmcinfectdis.biomedcentral.com/articles/10.1186/s12879-015-1249-5.[diakses

12

Oktober 2016, 17.00]


Insert Kit.2014.SD BIOLINE Anti-HBs
Ivana Lazarevic.2014.Clinical implications of hepatitis B virus mutations: Recent advances.
[online].tersedia : http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4069294/.[diakses 12
Oktober 2016, 16.23]
Jun Yao,dkk.2015.The one year effects of three doses of hepatitis B vaccine as a booster in antiHBs-negative children 1115 years after primary immunization; China, 20092011.
[online].tersedia : https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4514165/.[diakses 12
Oktober 2016, 12.12]

Livia Melo Villar.2015.Update on hepatitis B and C virus diagnosis.[online].tersedia :


https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4641225/.[diakses

12

Oktober

2016,

12.45]
Mohamed Mutocheluh,dkk.2014.Risk factors associated with hepatitis B exposure and the
reliability of five rapid kits commonly used for screening blood donors in Ghana.
[online].tersedia : http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4295511/.[diakses 12
Oktober 2016, 13.02]
Odd Odinsen,dkk.2007.Antibody Detection and Kinetics of Antibody Production during Early
Stages

of

Immunization

with

Hepatitis

Virus

Vaccine.[online].tersedia

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/pmc2168390/.[diakses 12 Oktober 2016, 12.34]


Tai-Chung Tseng,dkk.2013.Clinical utility of quantitative HBsAg in natural history and
nucleos(t)ide analogue treatment of chronic hepatitis B: new trick of old dog.
[online].tersedia : http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3698422/.[diakses 12
Oktober 2016, 16.29]
Takayuki Minekawa,dkk.2013.Development of a Highly Sensitive Bioluminescent Enzyme
Immunoassay for Hepatitis B Virus Surface Antigen Capable of Detecting Divergent
Mutants.[online].tersedia

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3754505/.

[diakses 12 Oktober 2016, 11.07]


Tung-Hung Su,dkk.2013.Longitudinal Change of HBsAg in HBeAg-negative Patients with
Genotype

or

Infection.[online].tersedia

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3577841/.[diakses 12 Oktober 2016, 12.07]


Shyam Raj Upreti,dkk.2014.Prevalence of chronic hepatitis B virus infection before and after
implementation of a hepatitis B vaccination program among children in Nepal.
[online].tersedia : http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4663719/.[diakses 12
Oktober 2016, 07.12]
Sofiane Mohamed,dkk.2013.Dried Blood Spot Sampling for Hepatitis B Virus Serology and
Molecular

Testing.[online].tersedia

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3628702/.[diakses

12

Oktober

2016,

12.09]
Sonia Roman,dkk.2014.Hepatitis B virus infection in Latin America: A genomic medicine
approach.[online].tersedia

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4064063/.

[diakses 12 Oktober 2016, 15.15]


Susmita Maity,dkk.2012.Performance and diagnostic usefulness of commercially available
enzyme linked immunosorbent assay and rapid kits for detection of HIV, HBV and HCV in
India.[online].tersedia : http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3568713/.[diakses
12 Oktober 2016, 13.23]