Anda di halaman 1dari 88

PENILAIAN KERUGIAN DAN EFEKTIVITAS PENCEGAHAN

KEBAKARAN EKOSISTEM HUTAN GAMBUT :


Studi Kasus di Taman Nasional Sebangau

KHULFI MUHAMMAD KHALWANI

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2016

PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN


SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA*
Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis berjudul Penilaian Kerugian dan
Efektivitas Pencegahan Kebakaran Ekosistem Hutan Gambut (Studi Kasus di
Taman Nasional Sebangau) adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi
pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi
mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan
maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan
dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut
Pertanian Bogor.
Bogor, Januari 2016
Khulfi Muhammad Khalwani
NIM E151124261

RINGKASAN
KHULFI MUHAMMAD KHALWANI. Penilaian Kerugian dan Efektivitas
Pencegahan Kebakaran Ekosistem Hutan Gambut (Studi Kasus di Taman
Nasional Sebangau). Dibimbing oleh BAHRUNI dan LAILAN SYAUFINA.
Salah satu lokasi ekosistem gambut di Indonesia yang memiliki resiko
kebakaran hutan yang cukup tinggi adalah kawasan Taman Nasional Sebangau
(TNS) yang terletak di antara sungai Katingan dan sungai Sebangau, Pulau
Kalimantan. Kawasan ini ditunjuk melalui SK Menhut No. 423/Menhut-II/2004
tanggal 19 Oktober 2004 dengan luas 568 700 ha dan secara administratif
termasuk dalam wilayah Kabupaten Katingan, Kabupaten Pulang Pisau dan Kota
Palangka Raya, Provinsi Kalimantan Tengah.
Kegiatan pencegahan kebakaran hutan merupakan bagian dari kegiatan
pengendalian hutan, yaitu semua usaha, tindakan atau kegiatan yang dilakukan
untuk mencegah atau mengurangi kemungkinan terjadinya kebakaran hutan.
Kegiatan pencegahan kebakaran hutan gambut di TNS merupakan salah satu dari
beberapa kegiatan yang direncanakan dan dianggarkan oleh Balai TNS selaku
pengelola kawasan disetiap tahun melalui Rencana Kerja Tahunan. Meskipun
demikian, kebakaran hutan ternyata masih terjadi di dalam kawasan TNS.
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi masalah penyebab kebakaran
hutan gambut di kawasan TNS tahun 2014; mengidentifikasi dan menilai berbagai
jenis kerugian yang ditimbulkan akibat kebakaran hutan gambut di TNS pada
tahun 2014; dan menganalisis efektivitas kegiatan pencegahan kebakaran hutan di
TNS.
Kegiatan penelitian dilakukan selama 6 bulan yaitu pada bulan Oktober
2014 Maret 2015 yang berlokasi di TNS. Metoda pengumpulan data pada
penelitian ini dibagi menjadi tiga, yaitu: studi literatur (desk study) dan
pencatatan, survey dampak biofisik, dan survey dampak sosial ekonomi.
Penilaian kerugian dari kerusakan sumberdaya hutan dapat diperoleh
berdasarkan pendekatan nilai total ekonomi atau Total Economic Value (TEV)
yang hilang akibat kerusakan yang terjadi dan timbulnya biaya akibat dampak.
Nilai kerugian total merupakan penjumlahan nilai kerusakan kayu potensial; nilai
kerugian hasil hutan non kayu; nilai kerugian sektor perikanan; nilai kerugian
sektor transportasi; nilai kerugian kesehatan masyarakat; nilai kerusakan habitat
tumbuhan dan satwa liar; nilai karbon yang hilang; nilai kegiatan pemadaman
kebakaran.
Analisis dilakukan terhadap efektivitas dan kendala-kendala permasalahan
kegiatan pencegahan kebakaran hutan di TNS. Tingkat efektifitas diukur dan
dianalisis dengan cara membandingkan pencapaian sasaran atau tujuan kegiatan
dengan apa yang direncanakan. Kemudian membandingkan realisasi anggaran
belanja dengan target anggaran belanja.
Dari hasil valuasi yang dilakukan diperoleh total nilai estimasi kerugian
ekonomi yang ditimbulkan akibat kebakaran hutan gambut pada tahun 2014 di
dalam kawasan TNS seluas 4364 ha adalah mencapai Rp134 405 786 127,Nilai kerugian terbesar diakibatkan oleh kehilangan dan kerusakan biofisik
diantaranya nilai dari emisi karbon yang terjadi, nilai potensial kayu yang ada dan
nilai potensial hasil hutan non kayu berupa rotan, jelutung dan kulit gemor.

Tingkat efektivitas pencegahan kebakaran hutan oleh Balai TNS khususnya


tahun 2014 termasuk efektif jika dilihat dari tingkat realisasi anggaran yang
mencapai 96.96%. Namun jika dilihat dari realisasi sasaran kegiatan tidak
tercapai, yaitu pengurangan jumlah hotspot dan penurunan luas kebakaran hutan
di dalam kawasan TNS hingga tahun 2014 maka kegiatan pengendalian kebakaran
hutan di TNS dikategorikan tidak efektif
Kata kunci: kebakaran gambut, efektivitas anggaran, pencegahan kebakaran,
penyebab kebakaran, hutan Sebangau

SUMMARY
KHULFI MUHAMMAD KHALWANI. Valuation of Fire Losses and
Effectiveness of Fire Prevention in Peat Forest Ecosystem (Case Study in
Sebangau National Park). Supervised by BAHRUNI and LAILAN SYAUFINA.
One location of peat ecosystem in Indonesia which has the high risk of
forest fires is Sebangau National Park (TNS). This area is designated by the
Minister of Forestry decree No. 423 / Menhut-II / 2004 dated October 19th, 2004
with an area of 568 700 ha and administratively included in the Katingan
Regency, Pulang Pisau Regency and city of Palangkaraya, Central Kalimantan
Province.
Peatland fire prevention activities in Sebangau National Park is one of the
annual activities planned by Sebangau National Park manager. Nonetheless, forest
fires still continue to occur in this area.
This study aimed to identify the cause of the problem of peat fires in the
TNS 2014; identify and assess the various types of loss caused by peat fires in
TNS in 2014; and analyze the effectiveness of forest fire prevention activities.
Research carried out for 6 months on October 2014 March 2015 located at
TNS. The method of data collection in this study were divided into three, among
which: literature review (desk study) and recording, survey the impact of
biophysical and socio-economic impact survey.
Assessment of losses from damage to forest resources can be obtained based
on the Total Economic Value (TEV) approach that lost due to damage that
occurred and the incurrence of costs due to the impact. Total loss value is the sum
value of the damage potential of wood; loss value of non-timber forest products;
loss value of the fisheries sector; loss value of the transport sector; loss value of
public health; the value of damage to plants and wildlife habitat; carbon lost
value; the value of fire fighting activities.
Analysis conducted on the effectiveness and constraints of the problem of
forest fire prevention activities at TNS. The level of effectiveness is measured and
analyzed by comparing the achievement of the goals or objectives of the activity
with what is planned. Then compare actual expenditure with the budget targets.
The total estimated value of the economic losses caused by peat fires in
2014 in the area of TNS of 4364 ha was reached Rp134 405 786 127, - The
biggest loss value caused by the loss and damage to the biophysical including the
value of the carbon emissions, potential value of timber and potential value of
non-timber forest products such as rattan, jelutung and gemor leather.
The level of cost-effectiveness of forest fire prevention by Sebangau
National Park in 2014 seems to be effective from the point of view budget
realization, that reached about 96.96%. However, by considering the realization of
the targeted activity, namely a reduction in the number of hotspots and reduction
of forest fires, the activities of fire control Sebangau National forests apparently
ineffective. Forest fire prevention activities in thea area need to be improved and
more focus on the root causes of the peat land fire problem.
Keywords : fire losses, budget effectiveness, fire prevention, fire causes, Sebangau
forest

Hak Cipta Milik IPB, Tahun 2016


Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan
atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan,
penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau
tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan
lPB
Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis ini
dalam bentuk apa pun tanpa izin lPB

PENILAIAN KERUGIAN DAN EFEKTIVITAS PENCEGAHAN


KEBAKARAN EKOSISTEM HUTAN GAMBUT :
Studi Kasus di Taman Nasional Sebangau

KHULFI MUHAMMAD KHALWANI

Tesis
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Magister Sains
pada
Program Studi Ilmu Pengelolaan Hutan

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2016

Penguji Luar Komisi pada Ujian Tesis : Prof Dr Ir Hardjanto, MS

Judul Tesis
Nama
NIM

: Penilaian Kerugian dan Efektivitas Pencegahan Kebakaran


Ekosistem Hutan Gambut (Studi Kasus di Taman Nasional
Sebangau)
: Khulfi Muhammad Khalwani
: E151124261

Disetujui oleh
Komisi Pembimbing

Dr. Ir. Bahruni, MS


Ketua

Dr. Ir. Lailan Syaufina, MSc


Anggota

Diketahui oleh

Ketua Program Studi


Ilmu Pengelolaan Hutan

Dekan Sekolah Pascasarjana IPB

Dr. Tatang Tiryana, S.Hut. M.Sc

Dr Ir Dahrul Syah, MSc Agr

Tanggal Ujian: 04 Januari 2016

Tanggal Lulus:

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah Subhanahu wa taala atas
segala karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Tema yang
dipilih dalam penelitian ini ialah kerugian kebakaran hutan dengan judul
Penilaian Kerugian dan Efektivitas Pencegahan Kebakaran Ekosistem Hutan
Gambut (Studi Kasus di Taman Nasional Sebangau).
Proses penulisan tesis ini tidak lepas dari dukungan berbagai pihak. Oleh
karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Dr. Ir. Bahruni, MS
dan Ibu Dr. Ir. Lailan Syaufina, MSc selaku pembimbing, serta Bapak Prof Dr Ir
Hardjanto, MS selaku dosen penguji dan juga khususnya untuk keluarga (Elintia,
SE, Arkana AK dan Al-Khalifi AK). Penghargaan juga penulis sampaikan kepada
teman-teman di Balai TNS yang telah membantu selama pengumpulan data..
Semoga penelitian ini bermanfaat dan terima kasih atas semua saran,
dukungan serta nasehat-nasehatnya.
Bogor, Januari 2016

Khulfi Muhammad Khalwani

DAFTAR ISI
DAFTARTABEL
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR LAMPIRAN
1 PENDAHULUAN
Latar Belakang
Perumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
Ruang Lingkup Penelitian
2 METODE
Waktu dan Tempat
Alat dan Bahan Penelitian
Jenis Data
Pengumpulan Data
Pengolahan dan Analisis Data
3 HASIL DAN PEMBAHASAN
Penyebab Kebakaran di TNS
Nilai Kerugian Kebakaran Hutan Gambut
Efektivitas Kegiatan Pencegahan Kebakaran Hutan
4 SIMPULAN
Simpulan
Saran
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
Riwayat hidup

ii
iii
iv
1
1
3
4
4
5
6
6
7
7
8
10
20
20
24
42
49
49
49
50
52

DAFTAR TABEL
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Lokasi dan luas kebakaran di TNS tahun 2014


Jenis data yang dikumpulkan
Lokasi petak penelitian nilai kerusakan hutan dan valuasi nilai
dampak sosial
Objek xiiikerxii dampak sosial
Luas & penyebab kebakaran hutan gambut TNS tahun 2014
Kerugian total kebakaran ekosistem hutan gambut Sebangau tahun
2014
Pengelompokan jenis kayu ekonomis pada area bekas terbakar di
TNS berdasarkan kelompok perdagangan
Estimasi nilai kerugian kayu potensial akibat kebakaran hutan di
TNS tahun 2014
Estimasi nilai kerugian Hasil Hutan Non Kayu potensial akibat
kebakaran hutan di TNS tahun 2014
Jenis dan harga ikan yang diakses oleh nelayan di sekitar lokasi

6
7
9
10
22
25
26
28
30
31

11
12
13
14
15
16
17
18

kebakaran TNS tahun 2014


Estimasi nilai kerugian sektor perikanan akibat kebakaran hutan
TNS tahun 2014
Estimasi dampak asap kebakaran tahun 2014 dari kawasan TNS
terhadap kerugian transportasi
Nilai kerugian akibat asap dari kebakaran hutan di kawasan TNS
tahun 2014
Standar biaya kegiatan pengkayaan jenis di kawasan TNS untuk 1
blok (luas 250 ha)
Biaya kegiatan pemadaman kebakaran hutan di kawasan TNS tahun
2014
Emisi CO2 dari kebakaran hutan gambut TNS tahun 2014
Nilai anggaran kegiatan Pengendalian Kebakaran Hutan (PKH)
oleh Balai TNS
Evaluasi dan pengelompokan kegiatan pencegahan kebakaran hutan
di TNS tahun 2014

32
35
36
14
39
42
44
45

DAFTAR GAMBAR
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18

Lokasi kawasan TNS (SK.423/Menhut-II/2004)


Perumusan masalah penelitian
Kerangka xiiiiker penelitian
Desain plot anveg dan pengukuran derajat kerusakan
Sebaran hotspot di TNS tahun 2014
Lokasi kebakaran hutan di TNS tahun 2014
Tutupan vegetasi di TNS tahun 2014
Lokasi bekas kebakaran yang terlihat dari peta citralandsat tahun
2006 di TNS Propinsi Kalimantan Tengah.
Kebun sawit rakyat dan sawah tadah hujan di sekitar kawasan TNS
(atas); Tumbuhan rasau dan perakaran rasau yang sangat mudah
terbakar saat musim kering (bawah)
Jumlah pohon per hektar berdasarkan kelas diameter di Resort
Sebangau Hulu, SPTN Wilayah I Palangka Raya
Trubusan atau tunas baru yang muncul di bawah pohon yang
terbakar dan merana di lokasi bekas kebakaran hutan bulan
September 2014
Identifikasi lokasi bekas kebakaran hutan gambut di wilayah Resort
Sebangau Hulu, SPTN I Palangka Raya
HHNK yang dimanfaatkan masyarakat desa penyangga kawasan
TNS berupa kulit Gemor dan Rotan
Rata-rata tangkapan ikan oleh nelayan di sungai dan rawa TNS
Pondok nelayan di sungai Sebangau dan sungai Katingan, Klotok
nelayan yang tidak beroperasi dan potensi ikan dari rawa TNS
Jarak pandang dari dan ke Bandara Tcilik Riwut Palangka Raya
pada dasarian I bulan Agustus s.d dasarian III bulan Oktober 2014
Wawancara dengan kepala puskesmas, mantri dan bidan
Jumlah pasien ISPA di desa sekitar lokasi kebakaran TNS di bulan

1
4
5
8
17
18
19
21
24
25
27
28
29
32
32
34
37

19
20
21
22

saat tidak ada kebakaran dan saat ada kebakaran hutan


Sarang orangutan yang ditemukan pada pohon bekas terbakar (atas);
bekas kebakaran hutan pada lokasi kegiatan RHL di dalam kawasan
(bawah)
Kegiatan pemadaman kebakaran hutan gambut dilakukan melalui
udara dan pemadaman langsung di lokasi api SPTN I Palangka
Raya (Foto Lakip 2014)
Pengukuran lapisan gambut yang terbakar di area bekas terbakar
Trend jumlah hotspot dan luas kebakaran (ha) serta trend rencana
dan realisasi anggaran pencegahan kebakaran hutan Tahun 20092014 di TNS

38
40
41
43

1 PENDAHULUAN
Latar Belakang
Kebakaran hutan dan lahan di Indonesia pada tahun 1997/98 telah dianggap
sebagai salah satu bencana lingkungan terburuk sepanjang abad karena dampak
kerusakan hutan dan jumlah emisi karbon yang dihasilkan sangatlah besar (Glover
dan Jessup 2002). Walau demikian, hingga saat ini kebakaran masih menjadi
ancaman khususnya pada musim kemarau.
Kebakaran bisa terjadi di dalam kawasan hutan dan di luar kawasan hutan,
baik pada tanah mineral maupun gambut (Saharjo 1997; Page et al 2002; Syaufina
2008). Kebakaran hutan pada tipe tanah gambut jauh lebih sulit dipadamkan
karena api bisa menyebar pada vegetasi dan bahan bakar lainnya di atas
permukaan serta di dalam lapisan tanah gambut melalui proses pembaraan
(Sumantri 2007). Proses pembaraan ini sulit diketahui penyebarannya secara
visual namun besar dampaknya untuk kerusakan selanjutnya (Rein et al 2008).
Salah satu lokasi ekosistem gambut di Indonesia yang masih memiliki resiko
kebakaran hutan yang cukup tinggi adalah kawasan Taman Nasional Sebangau
(TNS) yang terletak di antara sungai Katingan dan sungai Sebangau, Pulau
Kalimantan. Kawasan ini ditunjuk melalui SK Menhut No.423/Menhut-II/2004
tanggal 19 Oktober 2004 dengan luas 568 700 ha dan secara administratif
termasuk dalam wilayah Kabupaten Katingan, Kabupaten Pulang Pisau dan Kota
Palangka Raya, Provinsi Kalimantan Tengah (Gambar 1). Sebelumnya kawasan
TNS merupakan kawasan hutan produksi dimana terdapat 13 konsesi HPH yang
beroperasi dari 19701995 dan setelah itu menjadi open acces (WWF 2012).
Pembuatan kanal/parit untuk jalur transportasi dan ekstraksi kayu dari hutan
menuju sungai menjadikan kandungan air gambut berfluktuasi sangat nyata dan
mengakibatkan keringnya gambut pada musim kemarau sehingga menjadi mudah
terbakar (Jaenicke et al 2010).

Gambar 1 Lokasi kawasan TNS (SK Menhut 423/Menhut-II/2004)

Secara umum kawasan TNS masih memiliki kondisi yang relatif lebih baik
sebagai habitat flora dan fauna yang unik dan endemik, jika dibandingkan dengan
wilayah disekitarnya yang telah banyak dikonversi seperti pada Proyek exPLG
(BTNS 2008). Luas lahan gambut di Pulau Kalimantan adalah 5 769 246 ha dan
lebih dari 50% berada di Provinsi Kalimantan Tengah (Wahyunto et al 2005). Jika
dilihat dari segi luas kawasan, upaya konservasi gambut di TNS seluas 568 700
ha tentunya memiliki proporsi yang cukup penting bagi pelestarian hutan gambut
yang masih tersisa di Indonesia.
Kawasan Sebangau memiliki keanekaragaman hayati yang cukup tinggi.
Pada kawasan ini terdapat sekitar 792 jenis flora tumbuh yang termasuk ke dalam
128 suku (Wardani et al 2006). Suku yang terbanyak adalah Rubiaceae,
Myrtaceae dan Euphorbiaceae. Suku lainnya yang masih cukup banyak adalah
Moraceae, Fabaceae, Clusiaceae, Cyperaceae, Annonaceae dan Lauraceae. Tiga
suku diantaranya merupakan pakan utama orangutan di TNS. Kawasan ini
merupakan habitat terbesar populasi satwa langka Orangutan borneo (Pongo
pygmaeus) yaitu sekitar 62006900 individu (Husson et al 2003) dan juga habitat
terbesar pupulasi owa (Hylobates agilis albibarbis), yaitu 19 000 individu. Dari
hasil observasi mamalia diketahui bahwa di dalam kawasan ini dapat dijumpai 35
jenis mamalia dan 13 diantaranya merupakan jenis yang terancam punah. Selain
jenis mamalia juga terdapat 106 jenis burung dan 36 jenis ikan yang telah
teridentifikasi serta berbagai jenis reptilia (BTNS 2008).
Selain sebagai habitat flora fauna, ekosistem gambut Sebangau juga
berperan sebagai gudang penyimpanan karbon yaitu sekitar 2500 ton/ha (Page et
al 2002). Kawasan ini juga berfungsi sebagai pengatur tata air di Kabupaten
Katingan Kabupaten Pulang Pisau dan Kota Palangka Raya. Antara 8090%
volume gambut akan menjadi penampung air pada musim hujan dan
melepaskannya secara bertahap pada musim kemarau (BTNS 2008). Dari aspek
sosial ekonomi, hingga saat ini kawasan Sebangau masih menjadi tumpuan
masyarakat karena dapat memberikan nilai ekonomiekologi yang sangat penting
bagi peningkatan kualitas hidup masyarakat. Oleh karena itu kestabilan ekosistem
ini merupakan salah satu faktor penentu kualitas hidup manusia, baik di tingkat
lokal, regional, nasional maupun global.
Menurut Suhud et al (2007) dalam kurun waktu 19972006, Provinsi
Kalimantan Tengah menempati urutan pertama dalam jumlah titik panas
(hotspot), yang berarti sebagai daerah dengan potensi intensitas kebakaran hutan
dan lahan terbesar di Indonesia. Kawasan konservasi TNS termasuk salah satu
kawasan yang berpotensi turut terbakar dalam kurun waktu tersebut. Hingga saat
ini, terutama saat musim kemarau, kebakaran terkadang masih terjadi di dalam
dan sekitar kawasan konservasi TNS (BTNS 2013).
Kebakaran hutan akan berdampak terhadap kerusakan biofisik dan
penurunan kuantitas sumber daya hutan maupun sumber daya manusia akibat
perubahan kualitas lingkungan karena polusi asap yang ditimbulkan (Brown dan
Davis 1973). Kehilangan keanekaragaman hayati akibat kebakaran hutan
memberikan konsekuensi hilangnya nilai ekonomis potensial dari hutan (Barbier
1995). Selanjutnya menurut Pearce dan Moran (1994), kerugian ekonomi akibat
kebakaran hutan dapat berupa kerusakan biofisik dan perubahan produktifitas
serta timbulnya biaya akibat dampak kebakaran hutan terhadap perubahan kualitas
lingkungan yang disetarakan dengan istilah biaya oportunitas dalam ilmu

ekonomi. Selain itu kerusakan hutan ini akan menimbulkan risiko dan
ketidakpastian pulihnya kondisi ekosistem hutan tersebut. Hal ini berimplikasi
pada dua hal, yaitu kehilangan nilai guna hasil hutan kayu dan non kayu dimasa
akan datang akibat pemanfaatan yang tidak lestari saat kini user cost dan
kehilangan nilai guna harapan dimasa akan datang dari keanekaragaman hayati
yang saat kini belum dimanfaatkan option values (Bahruni et al 2007).
Valuasi terhadap nilai kerugian ekonomi akibat kebakaran hutan di TNS
dapat menjadi bahan masukan kepada pihak pengelola dan stakeholders. Dengan
mengetahui nilai kerugian ini dapat ditentukan strategi untuk tindakan
preventifnya dalam kaitannya dengan rencana alokasi anggaran pencegahan
kebakaran hutan. Selanjutnya akan diketahui apakah anggaran bidang pencegahan
kebakaran hutan yang telah direncanakan dan direalisasikan selama kurun waktu
tersebut sudah cukup sesuai dan efektif apabila dibandingkan dengan nilai
kerugian yang bisa dihindari jika tidak terjadi kebakaran hutan.
Perumusan Masalah
Penilaian ekonomi terhadap dampak kebakaran hutan di kawasan TNS
belum pernah dilakukan. Kaitannya dengan manajemen pengelolaan kawasan
hutan konservasi TNS, penilaian terhadap dampak kebakaran hutan dapat
memberikan bahan masukan dan pertimbangan bagi para stakeholders yang
berkepentingan dengan kawasan ini khususnya bagi pengelola kawasan yaitu
Balai TNS.
Berdasarkan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor 03/Menhut-II/2007
tanggal 1 Februari 2007 tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis
Taman Nasional, Balai TNS mempunyai tugas pokok dan fungsi melaksanakan
pengelolaan ekosistem kawasan taman nasional dalam rangka konservasi sumber
daya alam hayati dan ekosistemnya berdasarkan peraturan perundangan yang
berlaku. Dalam rangka penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi tersebut, salah
satu kegiatan pentingnya adalah penyusunan rencana, program dan evaluasi di
bidang perlindungan hutan, termasuk didalamnya kegiatan pengendalian
kebakaran hutan.
Pengendalian kebakaran hutan adalah semua usaha yang meliputi
pencegahan, pemadaman, penanganan pasca kebakaran hutan dan penyelamatan
(Permenhut P.12/Menhut-II/2009). Kegiatan pencegahan kebakaran hutan
merupakan bagian dari kegiatan pengendalian hutan, yaitu semua usaha, tindakan
atau kegiatan yang dilakukan untuk mencegah atau mengurangi kemungkinan
terjadinya kebakaran hutan. Kegiatan pencegahan kebakaran hutan gambut di
TNS merupakan salah satu dari beberapa kegiatan yang direncanakan dan
dianggarkan oleh Balai TNS disetiap tahun melalui Rencana Kinerja Tahunan.
Meskipun demikian kebakaran hutan ternyata masih terjadi di dalam kawasan
TNS.
Tacconi (2003) menyatakan untuk kasus kebakaran hutan di Indonesia, tiga
masalah kebijakan utama yang diidentifikasi diantaranya : 1) Pencemaran kabut
asap, emisi karbon dan dampak-dampak terkait lainnya; 2) Degradasi hutan dan
deforestasi, hilangnya hasil hutan dan berbagai jasa lingkungan yang diberikan
hutan, termasuk kayu dan non kayu, erosi tanah dan lenyapnya fungsi pengendali

banjir, keanekaragaman hayati; dan 3) Kerugian di sektor pedesaan akibat


kebakaran hutan dan anomali cuaca. Walau demikian, analisis kebijakan terkait
anggaran bidang kebakaran hutan belum banyak dikaji lebih lanjut.
Berdasarkan hal-hal tersebut diatas maka secara ringkas perumusan masalah
dari penelitian ini dapat dijelaskan seperti pada Gambar 2.
Nilai Ekonomi Kerugian
Kebakaran Hutan Gambut
di TNS

Anggaran Bidang
Pencegahan Kebakaran
Hutan Gambut

Berapa ?
(Belum ada yang mengukur)

Berapa ?
(Apakah cukup efektif)

Gambar 2 Perumusan masalah penelitian


Daftar pertanyaan yang akan dijawab melalui penelitian ini diuraikan
sebagai berikut :
1. Apa masalah penyebab kebakaran hutan gambut di TNS ?
2. Berapa nilai kerugian ekonomi akibat kejadian kebakaran ekosistem hutan
gambut di TNS ?
3. Bagaimana efektivitas kegiatan pencegahan kebakaran hutan di TNS jika
dilihat dari a) jenis kegiatan yang direncanakan; b) rencana dan realisasi
anggaran c) tata waktu dan lokasi kegiatan.
4. Apa kendala-kendala dalam pengendalian kebakaran hutan di kawasan TNS ?
Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :
1. Mengidentifikasi masalah penyebab kebakaran hutan gambut di kawasan TNS.
2. Mengidentifikasi dan menilai berbagai jenis kerugian yang ditimbulkan akibat
kebakaran hutan gambut di TNS pada tahun 2014
3. Menganalisis efektivitas kegiatan pencegahan kebakaran hutan di TNS.
Manfaat Penelitian
Penelitian ini bermanfaat sebagai bahan masukan dan pertimbangan bagi
para stakeholders yang berkepentingan dengan kawasan ekosistem gambut TNS,
khususnya bagi kebijakan dan strategi pengelolaan kawasan konservasi oleh Balai
TNS. Glover dan Jessup (2002) menyatakan penilaian terhadap kerusakan
lingkungan dapat memberikan beberapa manfaat, yaitu: 1) penilaian
memungkinkan dilakukannya analisis biaya manfaat (cost benefit analysis) yang

lebih lengkap dan akurat dari suatu upaya kebijakan atau proyek, 2) penilaian
dapat menjelaskan kepada kita tingkat kepentingan relatif dari perbaikan atau
perusakan lingkungan, dan bagaimana dampaknya terhadap penduduk, dan 3)
penilaian dapat menarik perhatian berbagai pihak pada permasalahan lingkungan
dan membuat arti pentingnya menjadi jelas.
Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini difokuskan untuk melakukan penilaian kerugian kebakaran
hutan di dalam kawasan TNS pada tahun 2014 dan menilai efektivitas kegiatan
pencegahan kebakaran hutan selama periode lima tahun terakhir, dengan
melakukan analisis kualitatif terhadap kesesuaian 1) jenis kegiatan yang
direncanakan, 2) rencana dan realisasi anggaran; 3) tata waktu dan lokasi
kegiatan; dengan masalah penyebab kebakaran hutan di TNS. Tahapan penelitian
terdiri dari identifikasi jenis dampak; identifikasi wilayah dampak; kuantifikasi
dampak dan kemudian diperoleh nilai kerugian. Dalam praktek valuasi ekonomi,
tidak begitu mudah memisahkan antara berbagai komponen nilai yang berbedabeda, namun karena berbagai keterbatasan cukup menghitung nilai dari beberapa
komponen penggunaan sumber daya hutan yang dominan.
Adapun kerangka pikir penelitian ini dijelaskan seperti pada Gambar 3.
Konservasi Gambut di Indonesia
(REDD+, RAMSAR, Mitigasi &
Adaptasi dll.)

Anggaran Pencegahan
- Jenis kegiatan
- Rencana & realisasi
- Waktu dan lokasi

Kebakaran Hutan Gambut


TN Sebangau

Dampak

Perubahan kualitas lingkungan

Asap

Penurunan SDH

Biaya Pemadaman

Pendekatan
pengeluaran biaya

Intangible

Tangible

Kesehatan
masyarakat

Transportasi

Perikanan

Hasil Hutan
Non Kayu

Kayu

Karbon

Pendekatan
biaya berobat

Metode
harga pasar

Metode
harga pasar

Metode
harga pasar

Pendekatan
Harga Pasar

Metode
harga Pasar

Gambar 3 Kerangka pikir penelitian

Habitat

Pendekatan
Biaya Restorasi

2 METODE
Waktu dan Lokasi Penelitian
Kegiatan penelitian dilakukan selama 6 bulan yaitu pada bulan Oktober
2014 Maret 2015 yang berlokasi di TNS (113o 18 114o 03 BT dan 010 55
03o 07 LS). Valuasi kerugian terhadap kerusakan biofisik dilakukan pada lokasi
bekas kebakaran hutan tahun 2014 dan sedangkan valuasi kerugian dampak sosial
dilakukan terhadap masyarakat desa sekitar lokasi kebakaran yang termasuk
wilayah dampak.
Berdasarkan hasil kegiatan pengukuran langsung dan digitasi luas
kebakaran hutan oleh Balai TNS diketahui bahwa luas kebakaran di dalam
kawasan TNS pada tahun 2014 mencapai 4364 ha sebagaimana dijelaskan pada
Tabel 1.
Tabel 1 Lokasi dan luas kebakaran di TNS tahun 2014
No

Lokasi kebakaran (koordinat)

Luas
(ha)

A SPTN Wilayah I Palangka Raya


1 Tangkiling, Resort Habaring Hurung
44.58
(X:113.640 Y:-1.963; X:113.640 Y:-1.958)
2 Banturung, Resort Habaring Hurung
23.04
(X:113.706 Y:-2.012; X:113.707 Y:-2.006; X:113.706
Y:-2.006; X:113.704 Y:-2.001; X:113.716 Y:-2.012)
3 Marang Jl. Cilik Riwut KM. 17, Resort Habaring Hurung
75.53
(X : 113.767; Y : -2.142)
4 Marang Jl. Cilik Riwut KM. 21, Resort Habaring Hurung
13.62
(X:113.716 Y:-2.097)
5 Kereng Bengkirai, Resort Sebangau Hulu
23.55
(X:113.838 Y:-2.299; X:113.840 Y : -2.302)
Sub total
180.32
B
SPTN Wilayah II Pulang Pisau
1 S. Bangah (kiri) Resort Bangah (X:114.004 Y: -2.706)
124.00
2 S.Sebangau, Resort Bangah (X:114.048 Y:-2.685)
509.00
3 S. Bangah (kanan) Resort Bangah (X:114.015 Y:-2.693)
112.00
4 S. Sebangau, Resort Mangkok (X:114.042 Y:-2.643)
150.00
5 S. Sampang, Resort Paduran (X:113.636 Y:-2.778)
1253.18
Sub total
2148.18
C
SPTN Wilayah III Katingan
1 S.Bulan (Sept), Resort Muara Bulan (X: 113.501 Y:-2.528)
88.97
2 S. Bulan (Sept), Resort Muara Bulan (X:113.467 Y:-2.544)
55.62
3 S. Musang, Resort Muara Bulan, (X:113.244 Y:-2.384)
1291.00
4 S. Landabung, Resort Muara Bulan
116.38
(X:113.211 Y:-2.462; X:113.213 Y:-2.455; X:113.213
Y:-2.455; X:113.214 Y: -2.464)
5 Kanal Bukit Kaki, Resort Mendawai
449.12
(X:113.184 Y:-2.590; X:113.185 Y:-2.575; X:113.192
Y:-2.574; X:113.193 Y:-2.585; X:113.193 Y : -2.585)
6 Sungai Lewang, Resort Muara Bulan (X:113.254 Y:-2.346)
34.65
Sub total
2035.74
Total luas kebakaran
4364.24
Sumber : Bagian Evaluasi dan Pelaporan Balai TNS (S.38/BTNS-1/PH/2015)

Tutupan
vegetasi
Hutan rawa
sekunder
Hutan rawa
sekunder
Hutan rawa
sekunder
Hutan rawa
sekunder
Hutan rawa
sekunder
Belukar rawa
Belukar rawa
Belukar rawa
Belukar rawa
Belukar rawa
Belukar rawa
Belukar rawa
Belukar rawa
Belukar rawa
Belukar rawa
Belukar rawa

Alat dan Bahan Penelitian


Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari kamera, GPS,
komputer (program GIS dan microsoft exel), pita meteran, penggaris, kantong
plastik, kertas label, alat tulis, perekam suara dan daftar pertanyaan.
Jenis Data
Secara garis besar data yang dikumpulkan dalam penelitian ini terdiri dari
data sekunder dan data primer yang diuraikan pada Tabel 2.
Tabel 2 Jenis data yang dikumpulkan
No
A

Jenis data
Data sekunder
1. Kejadian kebakaran
hutan
2. Kinerja Anggaran
BTNS
3. Kegiatan pencegahan
karhut
4. Kerawanan kebakaran
hutan
5. Potensi flora fauna
dan hasil hutan non
kayu
6. Potensi karbon
7. Kegiatan rehabilitasi
ekosistem
8. Sosial ekonomi
masyarakat
9. Pemadaman
kebakaran hutan
Data primer
1. Fire severity dan
burning efficiency
2. Potensi kayu
3. Potensi HHNK
4. Perikanan
sungai&rawa gambut
5. Dampak asap bagi
sector transportasi
6. Dampak asap bagi
kesehatan masyarakat
7. Karakteristik
kebakaran hutan
gambut di TNS

Variabel

Pengumpulan data

Luas dan lokasi kebakaran


Laporan tahunan, Lakip,
hutan
Statistik BTNS
Rencana dan realisasi anggaran Lakip BTNS
Jenis, lokasi dan waktu
pelaksanaan
Lokasi dan kelas kerawanan

Laporan kegiatan BTNS

Potensi Tumbuhan dan Satwa


Liar (TSL); Strutur&komposisi
vegetasi; jenis HHNK.
stok karbon, faktor emisi,
tebal gambut
Jenis kegiatan; nilai kegiatan

literatur dan laporan


kegiatan BTNS, WWF dll

Jumlah penduduk, pekerjaan,


dll.
Standar biaya; SDM;Waktu
Derajat kerusakan pohon,
Rata-rata ketebalan lapisan
gambut terbakar
Jenis pohon, diameter, tinggi
bebas cabang, potensi volume
kayu, harga
Jenis, produktivitas, harga
Jenis ikan, harga ikan, hasil
tangkapan
Jumlah angkutan sungai dan
udara tidak beroperasi,
karakteristik dan lama dampak
lama dampak, biaya obat,
jumlah pasien berobat &
masyarakat berobat sendiri

Bagian GIS BTNS

literatur dan laporan BTNS,


WWF dll
literatur dan laporan BTNS,
WWF dll
Dokumen desa, BPS dan
BTNS
BTNS, BKSDA, WWF
Pengukuran di lapangan
Pengukuran di lapangan
Wawancara pengumpul
HHNK
Wawancara nelayan

Wawancara pengusaha
transportasi pada wilayah
dampak
Wawancara dokter, bidan
desa atau kepala
Puskesmas, Masyarakat
desa
Penyebab kebakaran&kendala- Wawancara BTNS,
kendala bidang PKH
masyarakat, WWF-Kalteng
dan BKSDA-Kalteng.

Pengumpulan Data
Metoda pengumpulan data pada penelitian ini dibagi menjadi tiga, yaitu:
1) Studi literatur (desk study) dan pencatatan
2) Survey dampak biofisik, dan
3) Survey dampak sosial ekonomi
Studi literatur (desk study) dan pencatatan dilakukan terhadap semua
dokumen laporan terkait potensi kawasan konservasi, habitat flora fauna dan
prilaku satwa liar di kawasan TNS, laporan tahunan dan laporan kinerja terkait
rencana dan realisasi anggaran pencegahan kebakaran hutan, laporan
penanggulangan kebakaran hutan, laporan/ data kesehatan di Puskesmas wilayah
dampak kebakaran hutan dan laporan atau hasil penelitian terkait lainnya.
Survey biofisik meliputi 3 (tiga) kegiatan yaitu pengukuran fire severity
(tingkat keparahan) berdasarkan derajat kerusakan pohon pada area bekas terbakar
dan efisiensi kebakaran berdasarkan persentase rata-rata ketebalan gambut yang
terbakar; kemudian dilakukan analisis vegetasi pada lokasi yang tidak terbakar
pada satu hamparan yang sama atau memiliki strata (sub tipe ekosistem) yang
sama dengan area kebakaran.
Pengukuran derajat kerusakan tegakan pohon dilakukan pada area bekas
kebakaran dengan cara menghitung semua jumlah pohon yang dijumpai dalam
satu jalur pengamatan dan melakukan skoring terhadap tingkat kerusakan masingmasing pohon dengan skor sebagai berikut : pohon tidak terbakar = 0; terbakar
basah (masih bertunas) = 1; terbakar kering (merana) = 2; dan terbakar hangus = 3
(Pawirosoemardjo 1979 dalam Yunus 2005).
Metode yang digunakan dalam analisis vegetasi pada setiap petak contoh
terpilih (stratified random sampling), dengan kombinasi antara metode jalur dan
metode garis berpetak (Gambar 4). Risalah pohon dilakukan dengan metode jalur
dan permudaan dengan metode garis berpetak ukuran lebar 20 m panjang 100 m
(petak ukur pohon 20x20 m2, tiang 10x10 m2, pancang 5x5 m2, semai 2x2 m2 dan
serasah 1x1 m2).

Gambar 4 Desain plot analisis vegetasi dan pengukuran derajat kerusakan pohon
Penentuan lokasi petak penelitian kerugian kebakaran hutan on site
(kerusakan biofisik) didasarkan atas pertimbangan sebagai berikut : 1) Luas
kebakaran hutan di TNS pada tahun 2014 mencapai 4364 ha dan tersebar pada
beberapa titik di setiap wilayah Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) yaitu
di SPTN I wilayah Kota Palangka Raya, SPTN II wilayah Kabupaten Pulang
Pisau dan SPTN III wilayah Kabupaten Katingan. 2) Kebakaran sebagian besar
terjadi pada lokasi bekas terbakar pada tahun-tahun sebelumnya dan merupakan
daerah belukar rawa dengan tingkat kerapatan vegetasi yang rendah dan sebagian

kecil pada hutan rawa sekunder; 3) Pengukuran kerusakan pada lokasi bekas
terbakar idealnya dilakukan saat masih musim kemarau (setelah kebakaran
padam) sehingga kondisi tapak tidak tergenang; 4) Aksesibilitas menuju beberapa
lokasi kebakaran hutan cukup sulit dan jauh.
Survey dampak sosial ekonomi dilakukan dengan metode wawancara
terhadap responden terpilih pada wilayah cakupan dampak kebakaran hutan.
Pemilihan lokasi (desa) untuk valuasi dampak sosial dilakukan dengan metode
purposive sampling. Untuk penentuan lokasi penelitian dampak asap (off site)
hanya dibatasi pada desa-desa penyangga kawasan TNS mengingat karena pada
tahun 2014 lokasi kebakaran hutan di TNS sebagian besar jauh dari pemukiman
masyarakat dan kejadian kebakaran hutan tidak hanya terjadi di dalam kawasan
TNS. Dari desa-desa penyangga tersebut dipilih sebanyak 15 kelurahan/desa
berdasarkan survey pendahuluan dan pertimbangan jarak terdekat dari lokasi
kebakaran hutan di kawasan TNS. Khusus untuk responden nelayan dibatasi pada
desa-desa yang nelayannya secara rutin mengakses ikan di sekitar lokasi
kebakaran hutan.
Adapun lokasi petak penelitian untuk kerusakan biofisik (on site) dan
lokasi penilaian dampak sosial (off site) akibat kebakaran hutan di TNS tahun
2014 diuraikan pada Tabel 3.
Tabel 3 Lokasi petak penelitian nilai kerusakan hutan dan valuasi nilai dampak
sosial
Lokasi penelitian on site
Lokasi kebakaran
Luas kebakaran
1. Resort Sebangau Hulu,
23,55 ha
Palangka Raya
2. S. Musang, Resort
1.291 ha
Muara Bulan, Katingan
Lokasi penelitian off site
Lokasi kebakaran
Desa terpapar
1. SPTN I Palangka Raya - Kereng Bengkirai
- Habaring Hurung
- Banturung

Tipe hutan
Hutan rawa
sekunder
Belukar rawa
Jumlah penduduk *)
7517
917
3367

Wilayah administrasi
Palangka Raya
Katingan
Wilayah Resort
- Resort Sebangau
Hulu
- Resort Habaring
Hurung
- Resort Mangkok
- Resort Bangah
- Resort Paduran

1338
- Sebangau Permai
1065
- Mekar Jaya
408
- Sebangau Jaya
516
- Paduran Mulya
1234
- Sebangau Mulya
- Resort Baun Bango
748
3. SPTN III Katingan
- Baun Bango
- Resort Muara Bulan
490
- Keruing
- Resort Mendawai
1613
- Galinggang
503
- Tumbang Bulan
470
- Perigi
975
- Mendawai
712
- Mekartani
*)
Sumber : Statistik BTNS 2014, Kecamatan Sebangau Kuala 2014, Kecamatan Mendawai dalam
angka 2014
2. SPTN II Pulang Pisau

Pemilihan responden pada desa terpilih dilakukan secara acak sedangkan


key informan sudah ditetapkan dan disesuaikan dengan tujuan data yang ingin
diperoleh dan diuraikan seperti pada tabel berikut ini.

10

Tabel 4 Objek survei dampak sosial


No
A.
1

Sampling

Objek Wawancara
Responden
Masyarakat pencari ikan/
nelayan
Pengumpul HHNK (jelutung,
gemor, rotan)
Ibu Rumah Tangga

Dokter/ Mantri/ Bidan desa

Purposive

Purposive

Pengusaha transportasi darat/


air/udara
Key Informan
Balai TN Sebangau (Polhut,
Seksi perencanaan dan
evaluasi, KSBTU, Kepala
Balai)
Mitra kerja (WWF Kalteng
dan Intansi pemerintah
lainnya
Masyarakat Peduli Api

Aparat Desa

Purposive

B
1

Random
Random
Random

Purposive

Purposive
Purposive

Tujuan
Memperoleh informasi terkait nilai
kerugian perikanan
Memperoleh informasi terkait nilai
kerugian HHNK
Memperoleh informasi biaya
pengobatan sendiri akibat asap
Memperoleh informasi kerugian
kesehatan masyarakat
Memperoleh informasi kerugian
transportasi
Memperoleh informasi rencana,
realisasi dan kendala pengendalian
serta penyebab kebakaran hutan di TN
Sebangau
Memperoleh informasi jenis program
kerjasama dan nilainya
Informasi penyebab kebakaran dan
kendala-kendala permasalahan.
Informasi penyebab kebakaran dan
Jenis bantuan sosial yang diberikan

Pengolahan dan Analisis Data


Kebakaran hutan akan menimbulkan kerugian ekonomi dalam bentuk
hilangnya sumber daya hutan pada lokasi kejadian (on site effect) dan kerugian
akibat asap bagi manusia atau aktifitas ekonomi lainnya (off site effect). Asap dari
kebakaran hutan akan mengurangi jarak pandang dan mengganggu sektor
transportasi (darat, air dan udara), menurunnya produktivitas, kerugian sektor
pariwisata dan tentunya mengganggu kesehatan manusia (Yunus 2005).
Penilaian kerugian dari kerusakan sumberdaya hutan dapat diperoleh
berdasarkan pendekatan nilai total ekonomi atau Total Economic Value (TEV)
yang hilang akibat kerusakan yang terjadi (Pearce dan Turner 1992). Beberapa
peneliti juga menggunakan pendekatan Total Economic Value (TEV) untuk
menilai perubahan ketersediaan jasa lingkungan atau ekologi, dengan cara
mengukur surplus total perunit area. Menurut Pearce dan Moran (1994)
pendekatan penilaian sumberdaya alam dan lingkungan dapat dibagi dua, yaitu
pendekatan langsung dan pendekatan tidak langsung. Pendekatan langsung
dengan cara eksperimen, kuisioner, survey, dan contingent valuation method.
Sedangkan pendekatan tidak langsung yaitu pendekatan pasar pengganti
(surrogate market) dan pendekatan pasar konvensional.
Berdasarkan dampak kebakaran hutan TNS yang telah diidentifikasi,
kemudian dilakukan penilaian dengan pendekatan langsung maupun tidak
langsung. Adapun formulasinya ditetapkan sebagai berikut :
NEK = (NKP + NHHNK) + (NI + NT + NKM) + (NHTSL + NKH) + NPK

11

Keterangan :
NEK
= Nilai Ekonomi Kerugian kebakaran hutan TN Sebangau
NKP
= Nilai Kerusakan Kayu Potensial
NHHNK = Nilai Kerugian Hasil Hutan Non Kayu
NI
= Nilai Kerugian Sektor Perikanan
NT
= Nilai Kerugian Sektor Transportasi
NKM
= Nilai Kerugian Kesehatan Masyarakat
NHTSL = Nilai Kerusakan Habitat Tumbuhan dan Satwa Liar
NKH
= Nilai Karbon yang Hilang
NPK
= Nilai Kegiatan Pemadaman Kebakaran
a. Nilai Kerugian Kayu Potensial (NKP)
Pengukuran potensi kayu pada masing-masing areal terbakar didekati
dengan potensi kayu pada areal hutan yang terbakar dan tidak terbakar.
Perhitungan potensi volume kayu dibatasi terhadap pohon dengan diameter di atas
10 cm dan kemudian dikelompokkan berdasarkan kelas diameter.
Penghitungan volume pohon dilakukan dengan formula sebagai berikut :
1
=
4
Keterangan :
V = Volume kayu (m3)
t = tinggi pohon bebas cabang (m)
d = Diameter pohon (m)
f = angka bentuk (0,7)
Pengukuran derajat kerusakan tegakan pohon dapat diformulasikan dengan
menggunakan rumus yang dikemukakan oleh (Pawirosoemardjo 1979 dalam
Yunus 2005).
=

100 %

Keterangan :
I
= derajat kerusakan hutan akibat kebakaran
Jsp = Jumlah nilai dari n pohon yang ada dalam plot.
3
= Nilai tertinggi dari kempat klasifikasi akibat kebakaran,
n
= Jumlah pohon dalam tiap plot.
(Skoring : pohon tidak terbakar = 0; terbakar basah/masih bertunas = 1; terbakar
kering/merana = 2; dan terbakar hangus = 3)
Penilaian kerugian akibat kayu potensial yang hilang dilakukan dengan
cara pendekatan nilai pasar kayu yang potensial atau harga patokan untuk hasil
hutan kayu yang ditetapkan Menteri Perdagangan. Dengan formula penghitungan
sebagai berikut :
=

Keterangan :
NKP
= Nilai Kayu Potensial (m3)
VKP ij = Volume Kayu Potensial jenis ke i di lokasi j (m3/ha)
LA j
= Luas areal kebakaran lokasi ke j (ha)
HKP i = Harga kayu potensial jenis ke i (Rp/m3)

12

b.

Nilai Kerugian Hasil Hutan Non Kayu (NHHNK)


Hasil hutan non kayu yang mempunyai nilai pasar (market value) dihitung
berdasarkan pendekatan nilai pasar setempat dengan formula sebagai berikut :
=

Keterangan :
NHHNK
= Nilai Hasil Hutan Non Kayu
PHHNK ij = Potensi HHNK jenis ke i di lokasi j (unit/ha)
LA j
= Luas areal kebakaran lokasi ke j (ha)
HHHNK i = Harga HHNK jenis ke i (Rp/unit)
c. Nilai Kerugian Perikanan (NI)
Kerugian terhadap sektor perikanan dihitung dengan
produktivitas masyarakat pengumpul ikan di wilayah dampak.
=

pendekatan

2 )

Keterangan :
KPI 1ij = Kemampuan responden pengumpul ikan jenis i di wilayah dampak j
pada saat tidak terjadi kebakaran (unit/orang/bulan)
KPI 2ij = Kemampuan responden pengumpul ikan jenis i di wilayah dampak j
pada saat periode kebakaran (unit/orang/bulan)
HIi
= Harga ikan jenis i (Rp/unit)
JPI j = Jumlah masyarakat pengumpul ikan di wilayah dampak ke-j (orang)
Tij
= waktu periode/ lama dampak di wilayah ke-j (bulan)
d. Nilai Kerugian Sektor Transportasi (NT)
Kerugian terhadap sektor transportasi diprediksi dialami oleh pengusaha
transportasi sungai dan udara sehingga kerugian total merupakan penjumlahan
dari masing-masing kerugian tidak beroperasinya moda transportasi tersebut dan
penurunan jumlah penumpang. Nilai kerugian tersebut dihitung dengan
pendekatan produktivitas pengusaha transportasi pada wilayah terkena dampak
selama periode dampak dengan formula sebagai berikut :
NT = NTair + NTudara
=

)+ (

Keterangan :
= Jumlah Angkutan tidak Operasi dari perusahaan i di sungai j (unit)
selama periode dampak asap (unit)
= Jumlah penumpang per angkutan dari perusahaan i di sungai j
(orang/unit)
HTij
= Harga tiket angkutan -i di sungai j (rupiah/orang)

13

JAOij
JPKij
JPBi
JPPi
HTi

= Jumlah Angkutan Operasi dari perusahaan i di sungai j selama periode


dampak asap (unit)
= Rata-rata Jumlah Penumpang Berkurang usaha angkutan i di sungai j
(unit) selama periode dampak asap (orang)
= Jumlah Penerbangan Batal/ dialihkan dari dan ke Palangka Raya pada
maskapai i selama periode dampak
= Jumlah Penumpang per sekali penerbangan pada maskapai i
= Rata-rata harga tiket pada maskai i

e. Nilai Kesehatan Masyarakat (NKM)


Asap biomassa yang keluar pada kebakaran hutan mengandung beberapa
komponen yang dapat merugikan kesehatan baik dalam bentuk gas maupun
partikel (Brauer 2007). Penurunan kualitas udara sampai taraf membahayakan
kesehatan dapat menimbulkan dan meningkatkan penyakit saluran napas seperti
infeksi saluran napas (ISPA). Komponen gas dalam biomassa besar yang
mengganggu kesehatan adalah karbon monoksida (CO), sulfur dioksida (SO2),
nitrogen dioksida (NO2), aldehid, ozon (O3), karbon dioksida (CO2) dan
hidrokarbon.
Untuk menghitung kerugian pada aspek kesehatan masyarakat terlebih
dahulu harus ditetapkan batasan wilayah dampak dan diketahui lama periode
terpapar dampak. Kemudian dilakukan penghitungan terhadap peningkatan
jumlah penderita terkait dampak asap selama periode dampak. Nilai kerugian
dihitung dengan pendekatan pengeluaran biaya pengobatan yang terjadi selama
periode terpapar dampak dengan menggunakan formula sebagai berikut :
=

) +(
;

=
=

)+

=
Keterangan :
NKM = Nilai Kerugian Kesehatan Masyarakat
BPI1j = Biaya pengobatan rawat inap di wilayah j selama waktu dampak (Rp)
BPI2j = Rata-rata biaya pengobatan rawat inap diluar waktu dampak (Rp)
BPTI1j = Biaya pengobatan tanpa inap di wilayah dampak j (Rp)
BPTI1j = Rata-rata biaya pengobatan rawat tanpa inap di wilayah j diluar waktu
dampak (Rp)
= Biaya pengobatan sendiri oleh masyarakat di lokasi j (Rp)
JPI1j = Jumlah pasien inap/rujuk di wilayah dampak j selama waktu dampak
JPI2j = Rata-rata jumlah pasien inap/rujuk di wilayah dampak j di luar waktu
dampak
JPTI1j = Jumlah pasien inap/rujuk di wilayah dampak j selama waktu dampak
JPI2j = Rata-rata Jumlah pasien inap/rujuk di wilayah dampak j di luar waktu
dampak
HPI = Rata-rata biaya pengobatan dengan rawat inap/dirujuk
HPTI = Biaya pengobatan pada puskesmas, dokter/ bidan praktek di wilayah j
JPOj = Jumlah penduduk yang membeli obat sendiri di lokasi-j

14

HO
= Rata-rata harga / biaya pembelian obat sendiri (Rp)
f. Nilai Kerusakan Habitat Tumbuhan dan Satwa Liar (NHTSL)
Dampak kebakaran hutan terhadap satwaliar diperkirakan dari mulai
sangat dramatis sampai berpengaruh positif. Misalnya dampak kebakaran
terhadap banyak herbivora dikatakan justru akan memberikan jumlah makanan
yang lebih banyak bagi kelompok ini, sehingga populasinya di hutan bekas
kebakaran meningkat. Bagi satwaliar dengan daerah jelajah kecil dan kemampuan
mobilitas yang rendah, kebakaran akan memberikan dampak negatif.
Dampak terhadap satwa liar dapat berupa: 1) Perubahan komposisi jenis
2) Perubahan struktur populasi (kematian tingkat bayi, remaja dan sebagainya), 3)
Perubahan kerapatan, 4) Pengecilan ruang gerak atau homerange, 5) Perubahan
biomassa (penurunan berat badan satwa liar). Selain itu kebakaran hutan
menjadikan perubahan yang begitu nyata terhadap iklim mikro, sehingga
menjadikannya tempat yang tidak lagi cocok untuk banyak jenis binatang.
Kehilangan vegetasi setelah kebakaran menjadikan hutan terbuka, sehingga
memudahkan predator mendapatkan mangsanya. Kehilangan vegetasi penutup
(escape cover) sejalan juga dengan kehilangan makanan satwa.
Untuk menghitung kerugian terhadap satwa liar yang mati di lokasi
kebakaran hutan sangat sulit dilakukan karena saat terjadi kebakaran hutan
diprediksi satwa liar yang ada akan migrasi ke lokasi lainnya. Dengan kata lain
dapat dikatakan, bahwa dampak kebakaran terhadap satwaliar adalah secara tidak
langsung, yaitu terhadap habitatnya. Penghitungan kerugian terhadap kerusakan
habitat yaitu dengan pendekatan biaya yang diperlukan untuk membangun habitat
TSL tersebut melalui kegiatan restorasi habitat atau kegiatan rehabilitasi.
=

)
(

(1 + )

Keterangan :
NHTSL = Nilai Kerusakan Habitat Satwa Liar
NTR
= Nilai total kegiatan restorasi dan rehabilitasi (Rp/ha)
i
= tingkat inflasi; t = tahun kegiatan
LA
= Luas areal terbakar (ha)
g. Nilai Kegiatan Pemadaman Kebakaran (NPK)
Kegiatan pemadaman kebakaran hutan dianggap sebagai nilai kerugian
yang muncul akibat adanya kebakaran hutan. Pemadaman dimaksudkan agar api
tidak menjalar secara liar sehingga dapat menimbulkan kerusakan yang lebih
besar. Nilai biaya pemadaman dilakukan dengan mendata seluruh nilai anggaran
pemadaman dari Balai TN Sebangau maupun anggaran bantuan dari Direktorat
PHKA, BKSDA, Pemda ataupun mitra kerja.
=

Keterangan :
NPK
= Nilai Kegiatan Pemadaman Kebakaran tahun 2014
BPKHj
= Biaya kegiatan pemadaman oleh Balai TNS
BBPKH j = Biaya kegiatan pemadaman oleh instansi lain/ mitra (Rp)

15

h. Nilai Karbon yang Hilang (NKH)


Penghitungan nilai karbon yang hilang digunakan pendekatan nilai emisi
gas CO2 akibat kebakaran biomassa di atas tanah dan kebakaran pada lapisan
tanah gambut. Untuk penghitungan emisi akibat kebakaran biomassa diatas tanah
mengacu pada IPCC (2006) dan difokuskan hanya untuk biomassa pohon.
EBiomass Burn = Aburn. B. COMF . G . 10-3
Keterangan :
EBiomass burn = Emisi CO2 kebakaran biomassa (ton)
Aburn,
= Luas area terbakar (ha)
B
= Kandungan biomassa di atas permukaan sebelum terbakar (ton/ ha)
COMF
= Faktor pembakaran/ kehilangan dimensi (melihat dari Tabel 2.6
panduan IPCC)
Gef
= Faktor emisi kg/ton bahan bakar kering (melihat dari Tabel 2.5
panduan IPCC)
Selanjutnya untuk penghitungan emisi akibat kebakaran lapisan gambut
mengacu pada IPCC 2006.
L fire = Aburn . MB . Cf . Gef. 10-3
Keterangan :
L fire = jumlah emisi CO2 akibat kebakaran gambut (ton)
Aburn = total luas area terbakar (ha)
MB
= ketersediaan bahan bakar gambut kering, mengacu dari Tabel 2.6
panduan IPCC (ton/ha).
Cf
= faktor pembakaran / kehilangan dimensi
Gef
= faktor emisi kg/ton bahan bakar kering (mengacu dari Tabel 2.7
panduan IPCC)
Nilai kerugian akibat cadangan karbon yang hilang atau emisi dari
kebakaran hutan didekati dengan harga pasar karbon yang dikalikan dengan
dengan estimasi emisi karbon dari kebakaran hutan yang terjadi tahun 2014
dengan menggunakan formula sebagai berikut :
NKH = HK . (E biomass burn + L fire)
Keterangan :
NKH
= Nilai Karbon Hilang (Rp)
HK
= Harga pajak karbon equivalen emisi CO2 (Rp)
EBiomass burn = Emisi CO2 kebakaran biomassa (ton)
L fire
= Jumlah emisi CO2 akibat kebakaran gambut (ton)
i. Analisis efektivitas pencegahan kebakaran hutan
Analisis dilakukan terhadap efektivitas dan kendala-kendala permasalahan
kegiatan pencegahan kebakaran hutan di TNS. Tingkat efektifitas diukur dan
dianalisis dengan cara membandingkan pencapaian sasaran/tujuan kegiatan
dengan apa yang direncanakan. Kemudian membandingkan realisasi anggaran
belanja dengan target anggaran belanja.
Efektivitas pada dasarnya berhubungan dengan upaya pencapaian
tujuan/target kebijakan (hasil guna). Kegiatan operasional dikatakan efektif

16

apabila proses kegiatan dapat mencapai tujuan dan sasaran akhir


kebijakan/spending wisely (Mardiasmo 2009; Sumenge 2013). Kriteria efektivitas
kegiatan pencegahan kebakaran hutan oleh BTNS diukur dari perbandingan
realisasi faktor input berupa anggaran dan realisasi faktor output berupa capaian
sasaran kinerja yang direncanakan. Selanjutnya analisis kualitatif deskriptif
dilakukan terhadap gap antara input dan output; jenis dan proporsi kegiatan;
waktu dan lokasi kegiatan; dan permasalahan yang dijumpai.
Efektivitas input =

Realisasi anggaran PKH


Rencana anggaran PKH

Efektivitas output =

Capaian sasaran

x 100%;

Rencana target sasaran

Keterangan :
1. Pencapaian > 100%
2. Pencapaian 90% - 100%
3. Pencapaian 80% - 90%
4. Pencapaian 60% - 80%
5. Pencapaian < 60%

x 100%

= sangat efektif
= efektif
= cukup efektif
= kurang efektif
= tidak efektif

Organisasi sektor publik dituntut untuk memperhatikan nilai amanfaat


anggaran (value for money) dalam menjalankan aktifitasnya. Tujuan yang
dikehendaki masyarakat mencakup pertanggungjawaban mengenai pelaksanaan
value for money, yaitu ekonomis dalam pengadaan dan alokasi sumber daya,
efisien dalam penggunaan sumber daya dalam arti penggunaannya diminimalkan
dan hasilnya dimaksimalkan, serta efektif dalam arti mencapai tujuan dan sasaran.

17

18

Gambar 5 Sebaran hotspot di TNS tahun 2014

19

Gambar 6 Lokasi kebakaran hutan di TNS tahun 2014

20

Gambar 7 Tutupan vegetasi di TNS tahun 2014

3 HASIL DAN PEMBAHASAN


Penyebab Kebakaran Ekosistem Gambut di TNS
a. Historikal kebakaran hutan gambut di TNS
Kawasan TNS sebelumnya merupakan kelompok hutan yang terdiri dari
hutan produksi dan hutan produksi yang dapat dikonversi sehingga sebagai
kawasan bekas HPH dan berbagai pemanfaatan oleh masyarakat, ekosistem di
dalam kawasan ini telah mengalami perubahan. Dibangunnya kanal dan parit di
dalam kawasan hutan untuk berbagai kegiatan tersebut menjadikan kandungan air
gambut berfluktuasi sangat nyata dan mengakibatkan keringnya gambut pada
musim kemarau.
Menurut data SPTN Wilayah III Katingan kejadian kebakaran di
wilayahnya sudah dimulai dari puluhan tahun yang lalu. Tercatat dari data yang
diperoleh bahwa kebakaran sudah terjadi sekitar tahun 1965 tepatnya di daerah
Sungai Luwangan dan Sungai Ruak Raen, Desa Baun Bango. Pada tahun tersebut
terjadi kebakaran hebat yang mengakibatkan ratusan hektar kebun warga habis
dilalap api. Hal ini berlangsung setiap tahun pada musim kemarau. Kemudian di
pertengahan tahun 2006 juga kembali terjadi kebakaran dalam kawasan TNS
kurang lebih 300 Ha terletak di Danau Jalanpangen Desa Baun Bango, dan
ratusan hektar lainnya di sekitar Bukit Kaki Desa Mendawai.
Kebakaran hutan di dalam kawasan Sebangau menurut WWF Kalteng
telah terjadi sebelum tahun 1987, dimana lokasi kebakaran berada di Wilayah
Mangkok sekitar Sungai Sebangau. Kemudian pada tahun 1996 terjadi juga
kebakaran di daerah Sungai Sarangan Antang. Lebih lanjut pada tahun 1997 dan
2002 terjadi kebakaran yang cukup besar di sekitar wilayah Mangkok, bahkan
kebakaran tersebut masuk ke dalam hutan dengan jarak sekitar 300 m sampai 1,5
km dari bantaran Sungai Sebangau. Kemudian areal hutan yang terbakar terjadi
juga di Danau Jelutung sekitar Sungai Bangah sepanjang 2 km pada tahun 1997.
Kemudian untuk wilayah sungai Rasau tahun 1997 dan 2002 terjadi kebakaran
yang besar di ujung parit sekitar 11 km dari sungai Rasau dan diperkirakan api
berasal dari arah Sungai Koran dan wilayah hulu Sungai Bangah.
Pada tahun 2009, berdasarkan Laporan Bulanan Balai TNS telah terjadi
kejadian kebakaran lebih dari 1000 ha di kawasan TNS antara lain di Kelurahan
Habaring Hurung, Sungai Bangah, Daerah Sei Timba, Sekitar Pos Bangah,
Daerah Mangkok SSI serta arah Jalur Mendawai-Bukit Kaki Km. 12 18. Daerah
dengan kejadian kebakaran terbesar berada di arah jalur Mendawai-Bukit Kaki
seluas 500.052 Hektar, yang merupakan areal semak belukar dan bekas kebakaran
tahun 2006. Kerap berulangnya kejadian kebakaran di lokasi ini ditenggarai akibat
faktor kesengajaan akibat tingginya resistensi masyarakat baik Desa Mendawai
maupun Desa Sei Kaki terhadap keberadaan TNS ditambah dengan adanya
permasalahan pembangunan Jalan Mendawai - Bukit Kaki - Palangkaraya yang
secara langsung dan tidak langsung telah membuka akses kedalam kawasan
sepanjang 18 Km membelah kawasan TNS. Perkembangan terkait
pembangunan Jalan Mendawai Bukit Kaki untuk sementara dihentikan dan

21

kelanjutannya menunggu hasil paduserasi RTRWP Kalimantan Tengah. Meskipun


demikian telah terbukanya akses di kawasan ini telah terbukti meningkatkan
kerawanan kejadian kebakaran.

Gambar 8 Lokasi kebakaran yang terlihat dari peta citralandsat tahun 2006 di
TNS Propinsi Kalimantan Tengah.
b. Penyebab Kebakaran di TNS tahun 2014
Berdasarkan hasil kegiatan pengukuran langsung (groundchek) dan digitasi
luas kebakaran hutan oleh BTNS diketahui bahwa luas kebakaran di dalam
kawasan TNS pada tahun 2014 mencapai 4364 ha yang terjadi pada bulan
Agustus hingga Oktober. Dari hasil pencermatan terhadap historikal kebakaran,

22

observasi area bekas kebakaran, serta wawancara investigasi terhadap masyarakat


sekitar lokasi kebakaran, BTNS dan mitra NGO (WWF) diketahui penyebab
kebakaran hutan gambut di TNS tahun 2014 seperti pada Tabel 5.
Tabel 5 Luas dan penyebab kebakaran hutan gambut TNS tahun 2014
No

Lokasi kebakaran (koordinat)

Luas (ha)

A SPTN Wilayah I Palangka Raya


1 Tangkiling, Resort Habaring Hurung
44.58
(X:113.640 Y:-1.963; X:113.640 Y:1.958)
2 Banturung, Resort Habaring Hurung
23.04
(X:113.706 Y:-2.012; X:113.707 Y:2.006 X:113.706 Y:-2.006; X:113,704
Y:-2.001; X:113.71 Y:-2.012)
3 Marang KM. 17, Resort Habaring
75.53
Hurung (X:113.767;Y:-2.142)
4 Marang KM. 21, Resort Habaring
13.62
Hurung (X:113.716 Y:-2.097)
5 Kereng Bengkirai, Resort Sebangau
23.55
Hulu (X:113.838 Y:-2.299; X:113.840
Y:-2.302)
Sub total
180.32
B SPTN Wilayah II Pulang Pisau
1 Sungai Bangah (kiri) Resort Bangah
124.00
(X:114.004 Y:-2.706)
2 Sungai Sebangau, Resort Bangah
509.00
(X:114.048 Y:-2.685)
3 Sungai Bangah (kanan), Resort Bangah
112.00
(X:114.015 Y:-2.693)
4 Sungai Sebangau,
Resort Mangkok 150.00
(X:114.042 Y:-2.643)
5 Sungai Sampang, Resort Paduran
1253.18
(X:113.636 Y:-2.778)

Jumlah
Hotspot

Penyebab kebakaran

Penjalaran api dari


aktifitas pembukaan
kebun sawit & ladang

2
1
3

Penjalaran api dari


aktifitas nelayan

Penjalaran api dari


aktifitas nelayan

1
1
2
7

Penjalaran api dari


aktifitas penyiapan
sawah & ladang

Sub total
2148.18
C SPTN Wilayah III Katingan
1 Sungai Bulan (Sept), Resort Muara
88.97
1
Penjalaran api dari
Bulan (X:113.501 Y :-2.528)
aktifitas nelayan
2 Sungai Bulan (Sept), Resort Muara
55.62
1
Bulan (X:113.467 Y:-2.544)
3 Sungai Musang, Resort Muara Bulan
1291.00
116.38
4 Sungai Landabung, Resort Muara
3
Bulan (X:113.211 Y:-2.462; X:113.213
Y:-2.455;
X:113.213
Y:-2.455;
X:113.214 Y:-2.464)
5 Sungai Lewang, Resort Muara Bulan
34,65
1
(X : 113.254 Y : -2.346)
449.12
6 Kanal Bukit Kaki, Resort Mendawai
1
Penjalaran api dari
(X:113,184 Y:-2.590; X:113.185 Y:aktifitas nelayan,
2.575; X:113.192 Y:-2.574; X:113.193
pembukaan ladang
Y:-2.585 X:113.193 Y:-2.1585)
dan pencari HHNK
Sub total
2 035.74
Total luas kebakaran
4 364.24
Sumber : data kebakaran dari Evlap BTNS (Surat nomor: S.38/BTNS-1/PH/2015)

23

Aktifitas pencarian ikan (melauk) di dalam dan sekitar kawasan TNS atau di
bagian DAS Sebangau dan DAS Katingan yang meliputi belasan anak sungai dan
ratusan kanal ex-HPH, sudah dilakukan secara turun temurun oleh masyarakat
nelayan di sekitar kawasan. Alat tangkap yang digunakan umumnya bersifat
tradisional seperti pancing/banjur, tampirai, rengge, rawai, pangilar, kabam, haup
dan bubu (kawat dan bambu). Namun pernah juga ditemukan nelayan yang secara
illegal menggunakan strum listrik.
Fakta yang ditemukan ialah masih ada nelayan yang sengaja membakar
vegetasi di tepi sungai dan kanal yang didominasi oleh tumbuhan semak seperti
Rasau (Pandanus atrocarpus) dan kelakai (Stenochlaena palustris). Tumbuhan
rasau memiliki tipe akar serabut. Saat musim kemarau atau saat sungai dan rawa
Sebangau surut, akar tumbuhan ini akan banyak menyebar di atas permukaan
tanah dan sangat mudah sekali terbakar.
Tujuan pembakaran adalah pertama untuk membersihkan akses bagi jalur
klotok/perahu kecil saat mencari ikan di awal musim kemarau, dan kedua untuk
menciptakan ruang terbuka baru sebagai tempat ikan bermain dan berkumpul saat
awal musim hujan. Bekas kebakaran hutan akan meninggalkan lebak-lebak/
cerukan yang ditumbuhi rumput-rumput yang baru. Cerukan ini merupakan
tempat ideal untuk memasang alat tangkap berupa tempirai, rawai dan sebagainya
pada awal musim hujan. Ikan tertentu seperti patung dan biawan menyukai tempat
yang agak terbuka dan mengundang ikan-ikan predator lainnya ke tempat ini,
sehingga saat awal musim hujan nelayan bisa mendapatkan tangkapan yang lebih
banyak. Menurut nelayan hasil tangkapan ikan terbanyak didapat saat musim ikan
yaitu awal musim kemarau (saat air mulai menyurut) dan awal musim hujan (saat
air mulai naik).
Fakta lain yang ditemukan di lapangan ialah adanya aktifitas pembukaan
lahan untuk kebun sawit oleh masyarakat dengan cara pembakaran lahan yang
lokasinya berbatasan langsung dengan kawasan TNS, tepatnya di wilayah
Palangkaraya. Menurut masyarakat, pengurus desa dan petugas resort,
pembakaran ini memang sengaja dilakukan. Api yang tidak bisa dikendalikan
menjalar ke dalam kawasan TNS, bahkan ke ladang/kebun milik orang lain yang
sudah ditanami.
Pada desa-desa transmigrasi yang masyarakatnya mayoritas bertani, seperti
di Kecamatan Sebangau Kuala, Pulang Pisau dan Kecamatan Mendawai,
Katingan, diketahui bahwa pembakaran juga dilakukan sebagai teknik untuk
membersihkan alang-alang, perdu, rumput dan tumbuhan liar/semak belukar
dalam tahap penyiapan ladang untuk selanjutnya ditugal guna ditaburi benih padi.
Aktifitas ini dilakukan saat bulan Juli s.d September dengan cara melakukan
pembakaran secara gotong royong. Lokasi ladang biasanya jauh dari pusat
pemukiman namun dekat dengan kawasan TNS. Kondisi hutan rawa sekunder dan
semak belukar yang kering akan mudah terbakar jika ada lompatan api yang tidak
disadari oleh pelaku pembakaran.
Serasah dari tumbuhan, sisa cabang, ranting dan daun yang mati termasuk
rumput-rumput kering di dalam kawasan TNS akan meningkatkan ketersediaan
bahan bakar yang telah ada. Pada saat musim kering, bahan bakar yang
menumpuk ini akan menurun kadar airnya dan menjadi mudah terbakar. Namun
apabila kelembaban bahan bakar tinggi, kebakaran hutan dapat dikurangi, akan
tetapi aktivitas manusia yang berhubungan dengan api menjadi pemicu utama

24

terjadinya kebakaran hutan gambut. Kebakaran hutan selain dipengaruhi oleh


kuantitas dan kualitas bahan bakar, juga sangat ditentukan oleh keadaan iklim
hutan setempat (iklim mikro). Iklim mikro dalam hutan dipengaruhi oleh
kerapatan, kerapatan jenis dan tinggi pohon. Iklim mikro akan berpengaruh
terhadap kerawanan kebakaran si sutau daerah, sebab iklim mikro juga
mempengaruhi kecepatan angin, suhu udara, kelembabab udara serta kadar air
bahan bakar. Kondisi hutan rawa sekunder dan semak belukar yang kering akan
mudah terbakar jika ada lompatin api yang tidak disadari oleh pelaku pembakaran.

Gambar 9 Kebun sawit rakyat dan sawah tadah hujan di sekitar kawasan TNS
(atas); Tumbuhan rasau dan perakaran rasau yang sangat mudah
terbakar saat musim kering (bawah)
Nilai kerugian kebakaran hutan gambut
Menurut Pearce dan Moran (1994), nilai ekonomi total yang didapat dari
formula yang ada sebenarnya tidaklah benar-benar nilai ekonomi total dan
mungkin nilai sebenarnya masih jauh lebih besar lagi. Alasannya adalah : 1). nilai
tersebut masih belum mencakup seluruh nilai konservasi hutan dan 2). banyak ahli
ekologi menyatakan bahwa nilai ekonomi total tidak dapat dihitung dengan
formula sederhana karena ada beberapa fungsi ekologis dasar yang bersifat
sinergis sehingga nilainya jauh lebih besar dari nilai fungsi tunggal. Dalam
kaitannya dengan kerugian akibat kebakaran ekosistem gambut khususnya di
TNS, nilai tersebut minimal dapat menunjukkan betapa pentingnya upaya
pencegahan kebakaran guna menghindari nilai kerugian berupa kerusakan sumber

25

daya yang ada dan biaya lain yang ditimbulkan akibat dampak kebakaran
ekosistem gambut di TNS.
Dari hasil valuasi yang dilakukan diperoleh total nilai estimasi kerugian
ekonomi yang ditimbulkan akibat kebakaran hutan gambut pada tahun 2014 di
dalam kawasan TNS seluas 4364 ha adalah mencapai Rp134 405 786 127,(Seratus Tiga Puluh Empat Milyar Empat Ratus Lima Juta Tujuh Ratus Delapan
Puluh Enam Ribu Seratus Dua Puluh Tujuh Rupiah). Adapun uraian dan
pembahasannnya dijelaskan sebagai berikut.
Tabel 6 Kerugian total kebakaran ekosistem hutan gambut Sebangau tahun 2014
No.

Jenis kerugian

Nilai total (Rp)

Nilai kerugian kayu potensial (NKP)

74 563 218 579

55.58

2
3
4
5
6

Nilai kerugian hasil hutan non kayu (NHHNK)


Nilai kerusakan Habitat TSL (NHTSL)
Nilai kerugian sektor Transportasi (NT)
Nilai kerugian Kesehatan masyarakat (NKM)
Nilai kerugian perikanan (NI)

22 328 979 324


16 137 129 418
1 302 292 887
115 325 000
1 258 454 000

16.64

Nilai karbon hilang akibat kebakaran (NKH)

17 380 131 919

12.95

Nilai kegiatan pemadaman Kebakaran (NPK)

1 320 255 000

0.78

Total

12.02
0.97
0.08
0.93

134 405 786 127

Kerapatan (N / ha)

1. Kerugian Kayu Potensial (NKP)


Pada dasarnya pemanfaatan sumber daya hutan berupa kayu tidak
diperkenankan di dalam kawasan konservasi TNS, namun demikian perlu kiranya
untuk diketahui berapa besar potensi kerusakan terhadap tegakan pohon yang ada
dan nilai ekonomi kayu potensial yang hilang akibat kejadian kebakaran hutan
gambut agar bisa dijadikan tolok ukur bahwa kawasan tersebut memiliki stok
potensi kayu yang juga bisa dinilai secara ekonomi.
Hasil pengukuran pada areal bekas terbakar menunjukkan rata-rata diameter
pohon yang mati dan rusak akibat kebakaran hutan di TNS tahun 2014 adalah
lebih kecil dari 30 cm. Adapun jumlah pohon per hektar berdasarkan kelas
diameter pada lokasi terdekat dalam satu hamparan dengan areal kebakaran di
SPTN Wilayah I Palangka Raya dijelaskan pada Gambar 10.
120
100
80
60
40
20
0

100

103
59

47
12

10-20

20-29

30-39

40-49

50 up

diameter

Gambar 10 Jumlah pohon per hektar berdasarkan kelas diameter di Resort


Sebangau Hulu, SPTN Wilayah I Palangka Raya

26

Berdasarkan peta tutupan vegetasi TNS, lokasi kebakaran di SPTN I


Palangka Raya termasuk dalam hutan sekunder sehingga potensi kayunya cukup
tinggi. Lokasi kebakaran di SPTN II Wilayah Pulang Pisau dan SPTN III Wilayah
Katingan merupakan lokasi yang pernah mengalami kebakaran pada tahun-tahun
sebelumnya dan termasuk dalam tipe tutupan vegetasi belukar rawa dan tidak ada
pohon yang berdiameter diatas 30 cm pada lokasi kebakaran, sehingga seluruh
jenis kayu yang ada dimasukkan kedalam kelompok Kayu Bulat Kecil (KBK)
guna menghitung harga pasarnya.
Berdasarkan identifikasi yang dilakukan di area bekas terbakar dapat
diketahui jenis-jenis pohon yang terbakar (Tabel 7) dan tingkat kerusakan yang
dialaminya. Untuk memudahkan penghitungan harga maka jenis-jenis pohon pada
lokasi bekas kebakaran dibagi menjadi 4 kelompok berdasarkan Keputusan
Menteri Kehutanan Nomor: 163/KPTS-II/2003 dan harga patokan hasil hutan
kayu berdasarkan Surat Edaran Nomor : SE.3/Menhut-VI/BIKPHH/2014.
Nilai kerugian ekonomi kayu potensial diukur berdasarkan volume pohon
yang rusak dan mati. Pohon bernilai ekonomis dibatasi untuk diamater > 20 cm.
Kemudian sebagai dasar harga digunakan harga patokan hasil hutan kayu yang
berlaku di Kalimantan Tengah sesuai Keputusan Menteri Kehutanan
Nomor: 163/KPTS-II/2003 dan harga patokan hasil hutan kayu berdasarkan Surat
Edaran Nomor : SE.3/Menhut-VI/BIKPHH/2014. yaitu : Rp1 270 000/m3 untuk
kelompok meranti/ komersial 1; Rp953 000 /m3 untuk kelompok rimba campuran
atau komersial 2; Rp550 000/m3 untuk kelompok Kayu Bulat Kecil atau diameter
<30 cm dan Rp2 363 000 /m3 untuk kelompok kayu indah/ ramin.
Tabel 7 Pengelompokan jenis kayu ekonomis pada area bekas terbakar di TNS
berdasarkan kelompok perdagangan
No
1

Kelompok kayu
Kelompok meranti/ komersial 1

Kelompok jenis rimba campuran/


komersial 2

Kelompok Kayu Bulat Kecil (KBK)

Kelompok Kayu Indah

Jenis
1. Belangiran Shorea belangeran
2. Meranti lanan Shorea leprosula
3. Keruing Dipterocarpus grandiflorus
4. Meranti merah Shorea parvifolia
5. Meranti batu Shorea teysmanniana
6. Nyatoh Palaquium sp
7. Jelutung Dyera lowii
1. Asam asam Dicryoneura acumonata
2. Banitan/ terepis Polyalthia glauca
3. Bintangur Palaquium rostratum
4. Pasir pasir Stemonurus scorpioides
5. Galam tikus Eugenia spicata
6. Gerunggang Cratoxylum glaucum
7. Jambu jambu Eugenia sp.
8. Malam malam Diospyros bantamense
9. Kempas Koompassia malaccensis
10. Ketiau Madhuca mottleyana
11. Mendarahan Myristica sp
12. Pisang pisang Mazzetia sp
13. Simpur Dillenie excelsa
14. Terentang Campnospermum macrophyllum
15. Tumih Combretocarpus rotundus
Semua jenis pohon dengan diameter < 30 cm
kecuali Ramin
1. Ramin Gonystylus bancanus

27

Berdasarkan kondisi vegetasi, fire severity dikelompokkan oleh De Bano


(1998) sebagai berikut :
a. Low fire severity; Sekurang-kurangnya 50% pohon tidak menunjukkan
kerusakan, dengan sisa pohon lainnya menunjukkan tajuk yang terbakar, kematian
pucuk tetapi bertunas, atau mati akar (tidak bertunas). Lebih dari 80% pohon yang
rusak dapat bertahan hidup.
b. Moderate fire severity; Antara 2050% pohon tidak menunjukkan kerusakan,
dengan sisa pohon lainnya rusak, 4080% pohon yang terbakar dapat bertahan
hidup.
C. High fire severity; Kurang dari 20% pohon tidak menunjukkan kerusakan, sisa
pohon lainnya rusak terutama akibat mati akar. Kurang dari 40% pohon yang
rusak dapat bertahan hidup.
Tingkat keparahan (fire severity) kebakaran pada tahun 2014 ini termasuk
dalam kelas moderate fire severity karena tingkat kerusakan pohon pada area
kebakaran hutan mencapai 46%, selebihnya masih dijumpai pohon hidup dan
bahkan tumbuh trubusan baru seperti pada jenis Shorea belangeran, Eugenia sp
dan Malaleuca sp. Jenis-jenis pohon yang mati disebabkan oleh 1) terbakar
hangus, 2) roboh seluruhnya dan 3) sengaja ditebang saat kegiatan pemadaman
untuk menghindari penjalaran api.
DeBano et al. (1998) menyatakan bahwa kebakaran hutan dapat mengubah
komposisi dan kondisi vegetasi hutan. Kerusakan ini dapat menyebabkan
kematian vegetasi hutan. Khususnya pada tegakan pohon dapat menimbulkan
cacat permanen, merangsang hama penyakit hutan pada bagian tegakan pohon
yang mengalami perlukaan, menurunkan riap produksi kayu, merusak anakan dan
tanaman muda, merusak tata air serta melumpuhkan fungsi lindung hutan.

Gambar 11 Trubusan atau tunas baru yang muncul di bawah pohon yang terbakar
dan merana di lokasi bekas kebakaran hutan
Secara ekonomi, tegakan pohon di alam yang sudah rusak atau cacat akibat
terbakar tidak memiliki nilai kayu lagi karena tidak memiliki nilai pasar. Sehingga
kerugian yang timbul akibat kebakaran hutan yang terjadi sudah cukup besar jika
dilihat dari nilai kayu saja. Meskipun demikian tidak berarti pohon-pohon yang
rusak tersebut sudah tidak bernilai lagi karena masih ada nilai lain yang tersimpan
seperti stok karbon yang tersisa, habitat satwa liar dan lain sebagainya.
Nilai kerugian akibat kebakaran hutan di TNS pada tahun 2014 berdasarkan
penghitungan kerusakan tegakan pohon yang memiliki nilai kayu potensial secara

28

ekonomis saat ini, mencapai Rp 74.5 Milyar (Tabel 9). Potensi tegakan pohon
yang terparah terjadi pada lokasi kebakaran di SPTN I wilayah Palangka Raya
sedangkan pada wilayah SPTN II Pulang Pisau dan SPTN III Katingan
merupakan areal yang pernah terbakar namun masih memiliki potensi kayu
dengan diameter rata-rata dibawah 30 cm.
Tabel 8 Estimasi nilai kerugian kayu potensial akibat kebakaran hutan di TNS
tahun 2014
No

Lokasi
kebakaran

Luas
kebakaran
(Ha)

Derajat
kerusakan

Harga (Rp) dan potensi volume kayu komersil (m3/ha)


Komersial 1

Komersial 2

1 270 000/m3

953 000/m3

KBK

Ramin

Estimasi
kerugian (Rp)

550 000/m3 2 363 000/m3

SPTN Wil I
Palangkaraya

180.32

0.46

65.62

71.07

50.51

1.32

15 093 634 065

SPTN Wil II
Pulang Pisau

2148.18

0.46

50.51

1.32

30 533 894 545

SPTN Wil III


Katingan

2035.74

0.46

50.51

1.32

28 935 689 970

Total

74 563 218 579

Gambar 12 Identifikasi lokasi bekas kebakaran hutan gambut di wilayah Resort


Sebangau Hulu, SPTN I Palangka Raya
2. Kerugian hasil hutan non kayu (HHNK) potensial
Hasil hutan non kayu adalah bahan-bahan atau komoditas yang didapatkan
dari hutan tanpa harus menebang pohon. Hasil hutan non kayu dipandang sebagai
cara alternatif dalam menggerakkan perekonomian kehutanan selain dengan
melakukan penebangan kayu. Hasil hutan non-kayu juga terbukti mampu

29

menghasilkan diversitas perekonomian suatu wilayah termasuk di desa-desa


penyangga kawasan konservasi TNS.
Sebenarnya banyak sekali jenis hasil hutan non kayu yang diakses oleh
masyarakat dari dalam kawasan TNS. Namun pada penelitian ini hanya dibatasi
untuk jenis 1) getah pohon pantung/ jelutung Dyera lowii, 2) kulit pohon gemor
Nothaphoebe coriacea dan 3) batang rotan Calamus sp (Gambar 13).
Secara alami jelutung rawa dapat tumbuh baik di rawa-rawa dengan
regenerasi yang juga cukup baik. Jenis pohon jelutung rawa Dyera lowii juga
merupakan salah satu spesies untuk kegiatan rehabilitasi atau pengkayaan jenis di
kawasan TNS. Data populasi pohon jelutung di TNS di dekati dari jumlah pohon
jelutung yang disadap oleh masyarakat di Resort Sebangau Hulu Palangka Raya.
Dalam setiap jalur sadap sepanjang 2 km, setiap regu penyadap bisa menyadap
30 pohon per hektar dengan hasil sadapan sebanyak kwintal dan disadap
sebanyak 2 kali dalam setahun.
Getah pantung (jelutung) merupakan salah satu sumber pendapatan
penting bagi masyarakat di sekitar TNS. Getah pantung biasanya dijual kepada
pengumpul di desa, yang kemudian dijual lagi ke perusahaan pengolah dan
eksportir di kota Palangka Raya. Harga getah jelutung di tingkat penyadap ialah
Rp415 000/kwintal.

Gambar 13 HHNK yang dimanfaatkan masyarakat desa penyangga kawasan TNS


berupa kulit Gemor dan Rotan
Selain jelutung hasil hutan non kayu lainnya yang potensial dan memiliki
nilai ekonomi ialah kulit batang gemor Nothaphoebe coriacea. Harga kulit gemor
di tingkat peramu pada tahun 2009 di Palangka Raya berkisar Rp7000/kg dan
harga tersebut cenderung naik dari tahun ke tahun. Berdasarkan wawancara

30

terhadap pengumpul kulit gemor di desa Baun Bango, Katingan dan desa
Sebangau Permai, Pulang Pisau pada tahun 2014 harga gemor mencapai
Rp12000/kg.
Dari hasil wawancara terhadap pengumpul kulit gemor diketahui untuk
luas lahan 1 hektar bisa diperoleh kulit gemor sebanyak ton apabila
pengambilan dilakukan dengan cara menguliti sebagian batang pohon gemor.
Namun terkadang para pengumpul kulit gemor melakukan pemanenan dengan
cara menebang batang pohon gemor tersebut sehingga hal ini harus menjadi
perhatian bagi pengelola kawasan.
Jenis Rotan yang banyak dimanfaatkan masyarakat sekitar kawasan TNS
diantaranya adalah rotan taman/sega Calamus caesius, rotan irit Calamus
trachycoleus, rotan semambu Calamus scipionum, rotan buyung, rotan bulu, dan
rotan marau/manau dengan harga rata-rata Rp4 500 /kg. Dari hasil wawancara
dengan pengumpul rotan di Desa Mendawai, Kabupaten Katingan diketahui
bahwa potensi rotan yang bisa dipanen dari kawasan hutan oleh mereka kurang
lebih sebesar 1 ton per hektar setiap tahunnya.
Adapun nilai yang diperoleh dari kerugian akibat kebakaran hutan
terhadap 3 jenis hasil hutan non kayu setelah memperhitungkan tingkat keparahan
kerusakan kebakaran tahun 2014 di TNS adalah sebesar Rp22 328 979 324/tahun.
Tabel 9 Estimasi nilai kerugian Hasil Hutan Non Kayu potensial akibat
kebakaran hutan di TNS tahun 2014
No

Lokasi
kebakaran

Luas
Potensi nilai di alam (Rp/tahun)
Derajat
kebakaran
Getah pantung Kulit gemor
Rotan
kerusakan
(Rp 4 150/kg) (Rp 12 000/kg) (Rp 4 500/kg)
(Ha)

Estimasi
kerugian
(Rp/tahun)

SPTN Wil I
Palangkaraya

180.32

0.46

112 249 200

1 081 920 000

811 440 000

922 580 232

SPTN Wil II
Pulang Pisau

2148.18

0.46

1 337 242 050

12 889 080 000

9 666 810 000

10 990 840 743

SPTN Wil III


Katingan

2035.74

0.46

1 267 248 150

12 214 440 000

9 160 830 000

10 415 558 349

Total

22 328 979 324

3. Kerugian sektor perikanan


Kawasan TNS terletak diantara sungai Katingan dan sungai Sebangau.
Sungai Katingan merupakan sungai terbesar kedua di Kalimantan Tengah yang
memanjang ke laut jawa. Bagian tengah DAS Katingan mendapat tambahan air
dari sungai-sungai kecil yang berhulu di dalam kawasan Sebangau seperti sungai
Bulan, sungai Musang, sungai Landabung dan kanal Bukit Kaki.
Hulu DAS Sebangau merupakan hutan rawa gambut di SPTN Wilayah I
Palangka Raya. Bagian dari DAS Sebangau yang termasuk dalam kawasan TNS
diantaranya sub DAS Rasau, sub DAS Bangah, sub DAS Bakung dan sub DAS
Sampang, desa-desa yang mengakses ikan tangkap di DAS ini ialah Desa Kereng
Bengkirai Kota Palangkaraya dan Desa-desa di kecamatan Sebangau Kuala
diantaranya Paduran Sebangau, Paduran Mulya, Sebangau Permai, Mekar Jaya,
Sebangau Jaya, Sei Hambawang dan Sei Bakau, Kabupaten Pulang Pisau.
Aktifitas pencarian ikan (melauk) di sungai Sebangau ternyata memang
sudah dilakukan secara turun temurun oleh para pencari ikan di Kelurahan
Kereng Bengkirai yang merupakan pemukiman di daerah hulu sungai Sebangau.
Hampir seluruh pencari ikan memiliki dan menggunakan sampat/ klotok dalam

31

beraktifitas. Alat tangkap yang digunakan umumnya bersifat tradisional seperti


pancing/banjur, tampirai, rengge, rawai, pangilar, kabam, haup dan bubu (kawat
dan bambu). Namun pernah juga ditemukan nelayan yang secara illegal
menggunakan strum listrik.
Desa-desa asal nelayan yang mengakses sumber daya perikanan di sungai
sungai, kanal dan rawa di sekitar lokasi kebakaran hutan di kawasan Sebangau
tahun 2014 serta jenis-jenis ikan yang bernilai ekonomis yang dimanfaatkan,
diantaranya diuraikan pada Tabel berikut.
Tabel 10 Jenis dan harga ikan yang diakses oleh nelayan di sekitar lokasi
kebakaran TNS tahun 2014
No
1

Wilayah DAS/ sub


DAS
DAS Sebangau
- Sub DAS Rasau
- Sub DAS Bangah
- Sub DAS Bakung
- Sub DAS Sampang

Desa asal nelayan


yang mengakses
1. Kereng Bengkirai
2. Paduran Sebangau
3. Paduran Mulya
4. Sebangau Permai
5. Mekar Jaya
6. Sebangau Jaya

DAS Katingan
1. Keruing
- Sub DAS Bulan
2. Galinggang
- Sub DAS Musang
3. Tumbang Bulan
- Sub DAS
4. Perigi
Landabung
5. Mendawai
- Kanal Bukit Kaki
Jumlah nelayan wilayah dampak

Jumlah
nelayan
332
5
4
6
3
3
35
49
43
36
56

Jenis ikan yang dipasarkan


a) Banta Osteochilus tripolos
b) Bapuyu/betok Anabas testudineus
c) Baung Mystus nemurus
d) Kakapar/kapar Belontia hasselti
e) Karandang Channa pleuropthalmus
f) Kihung Channa melanopterus
g) Patung Pristolepis grooti
h) Peang Channa sp.
i) Pentet/lele Clarias sp.
j) Puhing Chycocheliichthys apogon
k) Sapat rawa Trichogaster tricopterus
l) Tahuman/toman Channa sp
m)Tapah Wallago leeri

Harga
(Rp/Kg)
2 500
5 500
25 000
27 500
15 000
30 000
30 000
30 000
6 000
6 000
5 000
30 000
27 500

628

Sumber : Data potensi desa dan wawancara

Jumlah nelayan paling banyak berasal dari kelurahan Kereng Bengkirai


yaitu berjumlah 332 orang. Mereka sengaja membuat pondok untuk tinggal di
muara-muara sungai kecil yang bermuara di sungai Sebangau. Sekali 2 minggu
akan datang pengumpul ikan untuk membeli ikan hasil tangkapan mereka. Desadesa yang ada di bagian hilir sungai Sebangau atau di kecamatan Sebangau Kuala
Kabupaten Pulang Pisau merupakan desa transmigrasi yang sebagian besar
masyarakatnya mengandalkan sektor pertanian dan perkebunan. Dari hasil
identifikasi dan wawancara terhadap para nelayan diketahui bahwa hasil
tangkapan ikan terbanyak didapatkan oleh mereka saat awal musim kemarau (saat
air mulai menyurut) dan awal musim hujan (saat air mulai naik).
Kebakaran hutan yang terjadi sejak awal bulan September hingga akhir
bulan Oktober 2014 di bagian hulu dan tengah sungai Sebangau (Resort Sebangau
Hulu, SPTN Wilayah I Palangka Raya dan Resort Mangkok Resort Bangah
SPTN Wilayah II Pulang Pisau) dan di sekitar sungai Bulan, sungai Musang,
sungai Landabung dan kanal bukit Kaki (Resort Muara Bulandan Resort
Mendawai, SPTN Wilayah III Katingan) berpengaruh terhadap total nilai ikan
yang mereka kumpulkan.
Berdasarkan hasil wawancara terhadap nelayan dan pengumpul ikan
terjadi penurunan kuantitas ikan yang diperjual-belikan dari pondok-pondok
nelayan di sungai Sebangau dan sungai Bulan sejak akhir Agustus dan hingga
pertengahan Oktober 2014 dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya saat tidak
terjadi kebakaran hutan. Hal ini bisa saja terjadi karena rawa-rawa tempat ikan
berpijah menjadi surut sedangkan lokasi-lokasi yang masih tergenang sangat jauh
untuk diakses oleh nelayan. Selain itu dampak dari asap kebakaran disadari juga

32

membuat kinerja mereka menjadi menurun, baik dari segi waktu pencarian ikan
dengan menggunakan alat tangkap jala atau pemasangan perangkap ikan, maupun
dari aspek kesehatan nelayan itu sendiri.
16
14
12
10
8
6
4
2
0

Rata-rata tangkapan saat tidak


ada kebakaran (Kg/bln)
Rata-rata tangkapan sewaktu
kebakaran (Kg/bln)

Gambar 14 Rata-rata tangkapan ikan oleh nelayan di sungai dan rawa TNS
Hasil estimasi terhadap nilai kerugian sektor perikanan tangkap di sekitar
sungai Sebangau dan sungai Katingan akibat kebakaran hutan di TNS tahun 2014
ini mencapai nilai Rp1258 454 000 yang diukur selama 2 bulan waktu dampak
dengan rincian sebagai berikut.
Tabel 11 Estimasi Nilai kerugian sektor perikanan akibat kebakaran hutan TNS
tahun 2014
No
1.

Wilayah dampak
(lokasi nelayan)
DAS Sebangau
- Sub DAS Mangkok
- Sub DAS Bangah
- Sub DAS Bakung
- Sub DAS Sampang
DAS Katingan
- Sub DAS Bulan
- Sub DAS Musang
- Sub DAS Landabung
- Kanal Bukit Kaki
Total

Luas
kebakaran
(ha)

Jumlah
nelayan
(KK)

Rata-rata Penurunan
hasil ikan (Rp/bulan)

Lama
dampak
(bulan)

2328.5

353

984.000

694 704 000

2035.74

275

1.025.000

563 750 000

Kerugian sektor
perikanan
(Rp)

1 258 454 000

Menurut persepsi masyarakat dampak kebakaran hutan saat musim


kemarau tidak dirasakan langsung oleh nelayan yang bermukim di daerah
kelurahan/desa (pemukiman tetap) dikarenakan mereka menilai saat terjadi
kebakaran hutan dan banyak asap mereka biasanya beralih ke jenis pekerjaan
yang lain. Persepsi ini merupakan permasalahan yang harus menjadi perhatian
bagi pengelola kawasan karena berhubungan dengan masalah penyebab kebakaran
hutan yaitu masyarakat tidak menyadari kerugian ekonomi yang timbul terhadap
usaha perikanan sehingga upaya pembakaran Rasau dikhawatirkan terus terjadi.
Penurunan hasil tangkapan terlihat nyata bagi nelayan yang mendirikan
pondok-pondok di pinggir sungai baik di sekitar atau di dalam kawasan hutan.
Adanya dampak asap kebakaran hutan membuat waktu untuk memulai aktifitas
mencari ikan menjadi tertunda; frekuensi kegiatan mencari ikan menurun dan
ruang jelajah mencari ikan bertambah jauh. Selain itu variasi jenis alat tangkap
ikan yang bisa digunakan saat terjadi kebakaran hutan menjadi terbatas.

33

Gambar 15 Pondok nelayan di sungai Sebangau dan sungai Katingan, Klotok


nelayan yang tidak beroperasi dan potensi ikan dari rawa TNS
4. Kerugian sektor transportasi
Kerugian terhadap sektor transportasi diprediksi dialami oleh pengusaha
transportasi sungai dan udara sehingga kerugian total merupakan penjumlahan
dari masing-masing kerugian tidak beroperasinya moda transportasi tersebut dan
penurunan jumlah penumpang. Nilai kerugian tersebut dihitung dengan
pendekatan produktivitas pengusaha transportasi umum pada wilayah terkena
dampak selama periode dampak.
Sungai Sebangau merupakan jalur transportasi air yang menghubungkan
kota Palangka Raya dengan daerah transmigrasi di kecamatan Sebangau Kuala
dan daerah Muara Bantanan (Kabupaten Pulang Pisau bagian selatan) serta
daerah Muara Pagatan (Kabupaten Katingan bagian selatan). Sumber air di DAS
Sebangau berasal dari daerah hulu yang merupakan kawasan hutan gambut di
Resort Sebangau Hulu SPTN I Palangka Raya dan pada bagian tengah mendapat
tambahan dari sub DAS Rasau, sub DAS Mangkok dan sub DAS Bangah yang
termasuk dalam wilayah kerja SPTN II Pulang Pisau.
Jenis transportasi umum yang ada di sungai sebangau ialah Spedboat
200PK dengan kapasitas penumpang 20 orang dan jadwal keberangkatan 2 kali
Pulang Pergi per 1 minggu. Dampak asap terhadap transportasi air tidak terlalu
dirasakan oleh pelaku usaha transportasi air karena hanya membuat jadwal
keberangkatan speedboat saat pagi hari menjadi tertunda 1 2 jam. Dampak yang
paling dirasakan ialah banyaknya endapan atau sampah organik yang
menghalangi badan sungai saat musim kemarau.

34

Kejadian kebakaran hutan gambut di dalam kawasan Sebangau


mengakibatkan terbukanya vegetasi dan meningkatnya erosi tanah dan jumlah
endapan-endapan organik (sisa-sisa batang, cabang, ranting, semak dll) yang
terbawa ke badan sungai Sebangau. Berdasarkan observasi dan wawancara
terhadap pelaku usaha transportasi air di Sungai Sebangau, pada saat musim
kemarau dan air di rawa gambut menyusut, maka sungai Sebangau akan
mengalami pendangkalan dan banyak sekali sampah organik sisa pembakaran
yang menghalangi alur sungai sehingga transportasi air tidak bisa beroperasi.
Nilai kerugian akibat moda tranportasi air yang tidak beroperasi selama 10
minggu khusus untuk di Sungai Sebangau adalah sebesar Rp185 600 000.
Sedangkan dari hasil wawancara terhadap pelaku usaha transportasi air di sungai
Katingan, diketahui bahwa dampak asap kebakaran tidak begitu berpengaruh bagi
operasional transportasi air karena menurut mereka asap yang ada tidak begitu
parah dan spedboat tetap bisa melewati badan sungai Katingan yang memang
cukup besar.
Khusus dampak asap kebakaran terhadap transportasi udara, wawancara
dilakukan terhadap Balai Meteorologi Bandara Tcilik Riwut Palangka Raya,
Petugas posko siaga kebakaran hutan dan lahan Badan Nasional Penanggulangan
Bencana (BNPB) yang sedang melaksanakan operasi pemadaman lewat udara dan
kantor cabang maskapai penerbangan yang beroperasi di Kalimantan Tengah
pada tahun 2014 yaitu Garuda Indonesia, Lion Air dan Susi Air. Dari hasil
wawancara diketahui bahwa asap kebakaran hutan, lahan dan pekarangan di kota
Palangka Raya berpengaruh terhadap kondisi jarak pandang yang diperbolehkan
untuk melakukan penerbangan dan pendaratan di bandara Tcilik Riwut Palangka
Raya. Selain itu, pergerakan angin pada bulan AgustusOktober 2014 juga
terkadang berasal dari arah selatan dan tenggara. Maka dapat disimpulkan bahwa
kebakaran hutan gambut di TNS, khususnya di wilayah Palangka Raya ikut
memberikan dampak terhadap transportasi udara.

Gambar 16 Jarak pandang dari dan ke Bandara Tcilik Riwut Palangka Raya pada
dasarian I bulan Agustus s.d dasarian III bulan Oktober 2014
Jarak pandang minimal untuk melakukan lepas landas atau pendaratan di
bandara berbeda-beda pada setiap maskapai namun biasanya di bawah jarak
pandang 500 meter tidak dianjurkan untuk melakukan pendaratan atau lepas
landas. Sebagai contoh dampak asap terhadap tranportasi udara selama periode
dampak dimulai sejak dasarian I Agustus sampai dasarian III bulan Oktober
2014, maskapai Garuda Indonesia tidak beroperasi sebanyak 11 kali; 1 kali

35

penerbangan dibatalkan; 61 kali delay; 1 kali penerbangan dialihkan ke Surabaya;


2 kali dialihkan ke Balikpapan, dan 2 kali dialihkan ke Banjarmasin.
Pada dasarnya tidak semua asap kebakaran yang berpengaruh pada sektor
transportasi udara berasal dari kebakaran di kawasan TNS. Untuk menghitung
nilai kerugian terhadap dampak transportasi akibat asap dari kebakaran di
kawasan TNS maka dipilih nilai koreksi sebesar 20,08% dari total kerugian sektor
transportasi udara akibat kebakaran hutan dan lahan di wilayah Kota Palangka
Raya. Nilai koreksi 20.08% ditentukan berdasarkan pendekatan persentase
jumlah hotspot di SPTN I Wilayah Palangka Raya dengan jumlah hotspot di kota
Palangka Raya selama periode dampak.
Berdasarkan rekapitulasi data hotspot satelit NOAA18 dari Direktorat
PKH (http://www.indofire.org/indofire/hotspot) sejak awal Agustus hingga akhir
Oktober 2014 jumlah hotspot yang ada di wilayah kota Palangka Raya adalah
sebanyak 239 sedangkan yang terletak didalam kawasan Sebangau (SPTN Wil. I
Palangka Raya) berjumlah 48. Hasil etimasi kerugian terhadap transportasi udara
selama dampak asap di Provinsi Kalimantan Tengah tahun 2014 ialah Rp5 560
200 000 sehingga nilai kerugian yang diakibatkan oleh sumbangsih asap dari
kawasan TNS bila didekati menggunakan peresentase jumlah hotspot adalah
sebesar Rp1 116 692 887,Tabel 12 Estimasi dampak asap kebakaran tahun 2014 dari kawasan TNS
terhadap kerugian transportasi
No
1

Moda transportasi terkena dampak


Transportasi Air
(Spedboat umum di Sungai Sebangau, rute Kereng Bengkirai ,Palangka Raya Sebangau
Kuala Muara Bantanan
Trip / minggu
Lama dampak
penumpang/ trip
Harga tiket (Rupiah)
(minggu)
4 kali
10
20
232 000
Transportasi Udara
Maskapai
Tidak/gagal
penumpang
Harga tiket
Kerugian
operasi
(Rupiah)
maskapai
Susi air
34
14
450 000
214 200 000
Garuda air
17
162
1 100 000
3 029 400 000
Lion air
22
162
650 000
2 316 600 000
Total

Nilai Kerugian
(Rp)

185 600 000

1 116 692 887

1 302 292 887

5. Kerugian kesehatan masyarakat


Asap biomassa yang keluar pada kebakaran hutan mengandung beberapa
komponen yang dapat merugikan kesehatan baik dalam bentuk gas maupun
partikel (Brauer 2007). Penurunan kualitas udara sampai taraf membahayakan
kesehatan dapat menimbulkan dan meningkatkan penyakit saluran napas seperti
infeksi saluran napas (ISPA). Komponen gas dalam biomassa besar yang
mengganggu kesehatan adalah karbon monoksida (CO), sulfur dioksida (SO2),
nitrogen dioksida (NO2), dan aldehid. Beberapa senyawa lain seperti ozon (O3),
karbon dioksida (CO2) dan hidrokarbon juga mempunyai dampak buruk terhadap
paru-paru. Untuk menghitung kerugian pada aspek kesehatan masyarakat
dilakukan dengan pendekatan human capital berupa biaya pengobatan pada
desa/kelurahan yang terdekat atau berbatasan langsung dengan lokasi kebakaran
hutan gambut.

36

Berdasarkan hasil wawancara dengan petugas kesehatan (mantri) dan


bidan dari 15 desa yang terpilih (Gambar 17), diketahui bahwa sejak bayi masih
berumur 1 minggu sudah bisa terkena ISPA akibat polusi udara dari asap
kebakaran hutan gambut. Selain itu partikulat-partikulat yang ada di asap
kebakaran hutan dapat mengendap pada makanan dan mengakibatkan
meningkatnya penderita diare.

Gambar 17 Wawancara dengan kepala puskesmas, mantri dan bidan


350
300
250
200
150
100
50
0

Jumlah pasien saat


tidak kebakaran (jiwa)
Jumlah pasien saat
periode dampak (jiwa)

Gambar 18 Jumlah pasien ISPA di desa sekitar lokasi kebakaran TNS di bulan
saat tidak ada kebakaran dan saat ada kebakaran hutan
Dari data laporan W2 UPTD Puskesmas Kereng Bengkirai kota Palangka
Raya tahun 2014 pada minggu-minggu selama dan paska kebakaran hutan yaitu
pada bulan September hingga November diketahui bahwa jumlah pasien terkait

37

ISPA dan diare meningkat sebanyak 252 orang yang terdiri dari 173 orang pasien
umur diatas 5 tahun, 44 orang pasien berumur 1-5 tahun dan 21 orang pasien
dibawah umur 1 tahun. Berdasarkan data dari puskesmas Sebangau Kuala
Kabupaten Pulang Pisau bahkan dijumpai pasien berusia di atas 70 tahun dan
dibawah 1 tahun yang meninggal dunia akibat ISPA pada bulan September 2014.
Nilai kerugian kebakaran hutan di kawasan TNS terhadap aspek kesehatan
masyarakat dihitung berdasarkan peningkatan jumlah pasien ISPA dan Diare ke
Puskesmas, bidan /mantri dan dokter praktek serta jumlah masyarakat yang
mengeluarkan biaya untuk membeli obat dan masker secara pribadi di desa yang
terpapar asap selama periode dampak yaitu bulan September November 2014.
Adapun nilainya adalah sebesar Rp115 325 000 dan diuraikan sebagai berikut.
Tabel 13 Nilai kerugian kesehatan masyarakat akibat asap dari kebakaran hutan di
kawasan TNS tahun 2014
No
1

Desa kena dampak


Kereng Bengkirai

Habaring Hurung

Banturung

Jumlah
penduduk
7517

Jumlah KK
2036

Peningkatan
Pasien ISPA &
Diare
538

Jumlah KK
berobat sendiri
1425

Nilai kerugian
(Rp)
41 093 000

917

241

67

153

4 704 500

3367

1074

197

609

16 277 500

Sebangau Permai

1338

378

104

202

6 700 000

Mekar Jaya

1065

318

82

233

6 455 000

Sebangau Jaya

408

180

37

90

2 720 000

Paduran Mulya

516

156

36

88

2.610.000

1234

401

92

267

7 255 000

748

238

65

111

3 865 000

Sebangau Mulya

Baun Bango

10

Keruing

11

Galinggang

12
13

490

156

43

73

2 545 000

1613

514

71

308

6 665 000

Tumbang Bulan

503

186

34

118

2.910.000

Perigi

470

137

44

59

2 455 000

14

Mendawai

975

292

69

146

4 485 000

15

Mekartani

712

264

53

185

4 585 000

Total

115 325 000

Meskipun luas kebakaran hutan di TNS pada tahun 2014 terbilang cukup
luas, namun berdasarkan hasil wawancara pada puskesmas dan masyarakat di
desa-desa penyangga kawasan menunjukkan bahwa nilai kerugian terhadap aspek
kesehatan masyarakat tidak terlalu besar. Hal ini bisa disebabkan jumlah
penduduk yang ada di sekitar kawasan TNS memang tidak terlalu padat dan
lokasi kebakaran jauh dari pemukiman. Populasi tertinggi ada di kelurahan
Kereng Bengkirai yang terletak di kota Palangka Raya sedangkan kebakaran
terluas terjadi di SPTN II Pulang Pisau dan SPTN III Katingan.
6. Nilai kerugian kerusakan habitat Tumbuhan dan Satwa Liar (TSL)
Kawasan TNS merupakan habitat terbesar populasi satwa langka
orangutan borneo (Pongo pygmaeus) yaitu sekitar 62006900 individu (Husson
2004) dan juga habitat terbesar pupulasi owa (Hylobates agilis albibarbis), yaitu
19 000 individu (Buckely 2006). Dari hasil observasi mamalia oleh CIMTROP

38

UNPAR (2002), diketahui bahwa di dalam kawasan ini dijumpai 35 jenis mamalia
dan 13 diantaranya merupakan jenis yang terancam punah.
Dampak kebakaran hutan terhadap satwaliar diperkirakan dari mulai
sangat dramatis sampai berpengaruh positif. Misalnya dampak kebakaran
terhadap beberapa jenis herbivora dikatakan justru akan memberikan jumlah
makanan yang lebih banyak bagi kelompok ini, sehingga populasi satwa pemakan
daun ini di hutan-hutan bekas kebakaran meningkat. Dampak api terhadap
satwaliar dengan daerah jelajah yang kecil atau kemampuan mobilitasnya yang
rendah, dikatakan banyak terpengaruh. Kebakaran hutan menjadikan perubahan
yang begitu banyak terhadap iklim mikro, sehingga menjadikannya tempat yang
tidak lagi cocok untuk banyak jenis satwa (Gambar 19). Kehilangan vegetasi
setelah kebakaran menjadikan hutan terbuka, sehingga memudahkan predator
mendapatkan mangsanya. Kehilangan vegetasi penutup (escape cover) sejalan
juga dengan kehilangan makanan satwa.
Tersedianya makanan adalah hal utama yang membatasi kehadiran satwa
di dalam hutan. Untuk menghitung kerugian terhadap satwa liar yang mati di
lokasi kebakaran hutan sangat sulit dilakukan karena saat terjadi kebakaran hutan
diprediksi satwa liar yang ada akan migrasi ke lokasi lainnya. Dengan kata lain
dapat dikatakan, bahwa dampak kebakaran terhadap satwaliar adalah secara tidak
langsung, yaitu perubahan terhadap habitatnya.
Penghitungan nilai kerugian minimal akibat kebakaran hutan terhadap
kerusakan habitat TSL di kawasan TNS dilakukan dengan menghitung total biaya
yang diperlukan untuk membangun habitat TSL tersebut melalui kegiatan
restorasi habitat atau kegiatan rehabilitasi (pengkayaan jenis) yang diperlukan.

Gambar 19 Sarang orangutan yang ditemukan pada pohon bekas terbakar (atas);
bekas kebakaran pada lokasi RHL di dalam kawasan (bawah)

39

Berdasarkan penghitungan terhadap biaya yang diperlukan untuk kegiatan


rehabilitasi atau kegiatan pengkayaan jenis di dalam kawasan konservasi gambut
dan dengan memperhatikan rata-rata nilai inflasi sebesar 5.71% maka diperoleh
nilai total kerugian saat ini dari kerusakan habitat TSL adalah sebesar Rp 924 395
164.9/blok atau Rp3 697 58066 /hektar luas kejadian kebakaran. Jika pada tahun
2014 ini luas kebakaran hutan gambut di dalam kawasan TNS mencapai 4364.24
ha maka total nilai kerugian berupa kerusakan habitat Tumbuhan dan Satwa Liar
ialah sebesar Rp16 137 129 418,Biaya yang diperlukan untuk merehabilitasi kawasan konservasi gambut
TNS dalam bentuk kegiatan pengkayaan jenis seluas 250 ha atau 1 blok diuraikan
pada Tabel 14 dan secara rinci dijelaskan pada bagian Lampiran 3.
Tabel 14. Standar biaya kegiatan pengkayaan jenis di kawasan TNS untuk 1 blok
(luas 250 ha)
No

Nilai
Rp/blok1)
Rp/ Ha
73 750 000
295 000

Jenis Kegiatan

1
2

Present value (Rp/Ha)

Penyusunan Rancangan Teknis


Penanaman dan pemeliharaan tahun berjalan
(T-0)
658 475 000
2 633 900
- Kebutuhan bahan (Rp 314.675.000)
- Upah tenaga kerja (Rp 343.800.000)
Inflasi 5.71%
3
Pemeliharaan tahun pertama (T+1)
- Kebutuhan bahan (Rp 63.000.000)
207 750 000
831 000
- Upah tenaga kerja (Rp 144.750.000)
4
Pemeliharaan tahun kedua (T+2)
93 000 000
372 000
- Penyiangan dan supervisi
Total
1 032 975 000
4 131 900
3.697.580,66
Nilai total rehabilitasi area kebakaran = Rp 3 697 580.66 /ha x 4 364.24 ha = Rp 16 137 129 418,1) BPDAS Kahayan Kalimantan Tengah

7. Kerugian yang timbul akibat biaya pemadaman


Kegiatan pemadaman kebakaran hutan dianggap sebagai nilai kerugian
yang muncul akibat adanya kebakaran hutan. Pemadaman dimaksudkan agar api
tidak menjalar secara liar sehingga dapat menimbulkan kerusakan yang lebih
besar. Nilai biaya pemadaman dilakukan dengan mendata seluruh nilai anggaran
pemadaman dari Balai TNS maupun anggaran bantuan dari Direktorat PHKA,
BKSDA dan mitra kerja. Untuk pelaksanaan kegiatan pemadaman di TNS pada
tahun 2014 besarnya realisasi dana yang digunakan ialah Rp1 320 255 000 dengan
rincian sumber dana sebagai berikut.
Tabel 15 Biaya kegiatan pemadaman kebakaran hutan di TNS tahun 2014
Sumber dana
Balai TN Sebangau
DAOPS BKSDA Kalteng

Nilai (Rp)
243 910 000
38 235 000

WWF Kalteng

216 700 000

BNPB

841 000 000

Total

Rincian kegiatan
4 kali pemadaman pendahuluan dan 1 kali pemadaman
lanjutan bersama masyarakat RPK
3 kali operasi pemadaman diantaranya :
- 1 regu pada bulan Agustus 2014 di resort Habaring
Hurung
- 2 regu bulan September 2014 di sungai koran resort
Sebangau Hulu
- 2 regu pada bulan September di resort Bangah
Pemadaman dilakukan dengan melibatkan masyarakat RPK
pada 11 cluster
Pemadaman dengan helicopter sikorsy di resort Bangah dan
resort Paduran, Pulang Pisau

1 320 255 000

Sumber : Wawancara BTNS (Bpk Dayat), BKSDA (Bpk Dody), WWF (Koordinator karhut), dan posko siaga
kebakaran hutan dan lahan Badan Nasional Penanggulangan

40

Berdasarkan data pada Kertas Kerja Anggaran & Kegiatan (DIPA) Balai
TNS 2014, nilai rencana kegiatan pemadaman pendahuluan kebakaran hutan ialah
sebesar Rp40 080 000/kegiatan untuk 4 kali kegiatan masing-masing 5 hari per
kegiatan dan pemadaman lanjutan sebesar Rp32 000 000/kegiatan untuk 2 kali
kegiatan masing 10 hari per kegiatan.
Dari hasil wawancara terhadap kepala SPTN Wilayah pengelolaan,
besaran dana ini masih sangat kurang cukup untuk kegiatan pemadaman
mengingat pada tahun 2014 kejadian kebakaran merata di setiap wilayah seksi.
Masalah utamanya ialah akses untuk mobilisasi personil dan peralatan sangat sulit
saat musim kemarau. Terbatasnya nilai anggaran yang direncanakan membuat
kegiatan pemadaman tidak berjalan optimal meskipun ada bantuan dana dari mitra
kerja dan tambahan SDM dari DAOPS Manggala Agni BKSDA Kalimantan
Tengah.

Gambar 20 Kegiatan pemadaman kebakaran hutan gambut dilakukan melalui udara dan
pemadaman langsung di lokasi api SPTN I Palangka Raya (Foto Lakip 2014)

Selain melalui darat, kegiatan pemadaman juga dilakukan oleh BNPB


melalui udara dengan menggunakan helicopter bolco (kapasitas angkut bom air
500 liter) dengan biaya 25 juta/hari dan helicopter sikorsy (kapasitas angkut bom
air 3600 liter) dengan biaya 14500 USD/jam dengan. Dari hasil wawancara
terhadap petugas posko siaga kebakaran hutan dan lahan Badan Nasional
Penanggulangan Bencana (BNPB) di Bandara Tcilik Riwut Kalimantan Tengah
diketahui bahwa untuk kegiatan pemadaman (bom air) tidak memperhatikan
apakah sumber asap atau lokasi kebakaran berada di dalam atau di luar kawasan
hutan. Namun dari catatan di posko lapangan diketahui, bahwa telah dilakukan

41

kegiatan pemadaman lewat udara dengan helicopter di daerah Bangah dan


Paduran Sebangau (kawasan TNS) selama dua hari. Hal tersebut juga dibenarkan
oleh masyarakat di kecamatan Sebangau Kuala, Kabupaten Pulang Pisau saat
dilakukan wawancara dengan masyarakat, bahwa selama kurang lebih 2 hari
Helicopter sering hilir mudik di atas desa mereka untuk melepaskan bom air di
lokasi kebakaran hutan di sekitar sungai Bangah dan sungai Sampang (Wilayah
Resort Bangah dan Resort Paduran SPTN II Pulang Pisau)
8 Kerugian karbon yang hilang
Untuk mengetahui nilai kerugian karbon yang hilang saat setelah kejadian
kebakaran ekosistem gambut TNS digunakan pendekatan nilai emisi CO2 dari
kebakaran di atas permukaan dan di bawah permukaan. Besarnya emisi diperoleh
dengan menggunakan formula yang ditetapkan dalam IPCC (2006) dan
Suplement Entire Report IPCC (2013). Untuk kandungan bahan bakar kering di
bawah permukaan merujuk pada tabel IPCC 2013 (Lampiran 2). Faktor
pembakaran / Cf (kehilangan dimensi) pada kebakaran di bawah permukaan
didekati dengan cara membandingkan rata-rata ketebalan lapisan gambut yang
terbakar dengan kedalaman gambut pada lokasi kebakaran yaitu sebesar 0.1 atau
10%. Lokasi kejadian kebakaran hutan di dalam Kawasan TNS pada tahun 2014
ini memiliki rata-rata ketebalan gambut hingga 2 m.

Gambar 21 Pengukuran lapisan gambut yang terbakar di area bekas terbakar


Untuk kebakaran di atas permukaan besarnya faktor pembakaran merujuk
pada hasil penelitian Toriyama et al (2013) yang berlokasi di sekitar sungai
Sebangau yaitu sebesar 0,32 (32%). Nilai Cf ini lebih kecil daripada nilai yang
ada dalam IPCC 2006 yaitu sebesar 0.5 (50%), sedangkan kandungan bahan
bakar kering di atas permukaan merujuk pada hasil penelitian Toriyama et al
(2013).

42

Dari hasil penghitungan diperoleh besarnya emisi CO2 untuk kejadian


kebakaran di hutan rawa gambut sekunder TNS, yaitu sebesar 62.42 ton/ha atau
total mencapai 272.415 ton CO2 dari total luas kebakaran 4.364.24 ha pada tahun
2014. Jika harga karbon tahun 2014 mencapai 24,15 U$ (Worlbank 2014) dan
rata-rata kurs dolar terhadap rupiah pada tahun 2014 sebesar Rp 11.600 maka
diperoleh nilai total kehilangan karbon akibat kebakaran ekosistem gambut di
TNS adalah sebesar Rp76 314 579 245,- Namun demikian harga patokan untuk
karbon yang digunakan mengacu pada rata-rata harga proyek karbon di Indonesia
yaitu 5.5 U$ sehingga nilai kerugian akibat emisi karbon yang terjadi ialah
sebesar Rp17 384 007 783,- Adapun rincian kerugian emisi per hektar adalah
sebagai berikut.
Tabel 16 Emisi CO2 dari kebakaran hutan gambut TNS tahun 2014
Faktor emisi/ G
Kandungan bahan
(Kg/Ton bahan
kering (ton/ha)
kering)
Kebakaran di bawah permukaan
170 1)

Faktor
pembakaran
(Cf)

Emisi CO2
(ton/Ha)

Harga
karbon
(Rp/ ton)

Nilai kerugian
(Rp/ha)

0.1

7,88

63800

503 254.4

0.32

54,54

63800

3 480 030

464 1)

Kebakaran di atas permukaan


114.4 2)

1490 1)
Total

1)

IPCC 2006

2)

62,42

3 983 284

Toriyama et al 2014

Efektivitas Kegiatan Pencegahan Kebakaran Hutan


Sumenge (2013) menyebutkan bahwa efektivitas pada dasarnya
berhubungan dengan pencapaian tujuan atau target kebijakan (hasil guna).
Efektifitas merupakan hubungan antara keluaran dengan tujuan atau sasaran yang
harus dicapai. Kegiatan operasional dikatakan efektif apabila proses kegiatan
mencapai tujuan dan sasaran akhir kebijakan (spending wisely).
Kegiatan pencegahan kebakaran hutan merupakan bagian dari kegiatan
pengendalian kebakaran hutan, yaitu semua usaha, tindakan atau kegiatan yang
dilakukan untuk mencegah atau mengurangi kemungkinan terjadinya kebakaran
hutan (Permenhut P.12/Menhut-II/2009). Kegiatan pengendalian kebakaran hutan
gambut di TNS merupakan salah satu dari beberapa kegiatan yang direncanakan
dan dianggarkan oleh Balai TNS disetiap tahun melalui Rencana Kinerja
Tahunan. Kegiatan-kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya pencapaian
sasaran Kementerian Kehutanan selama periode rencana strategis 20102014
dengan Indikator Kinerja Kegiatan (IKK) yaitu : 1) Hotspot di Pulau Kalimantan,
Pulau Sumatera dan Pulau Sulawesi berkurang 20% setiap tahun dari rerata 2005
2009, dan 2) Luas kawasan hutan yang terbakar ditekan hingga 50% dalam 5
tahun dibanding kondisi rerata 20052009.
Pada tahun 2010 tidak ada hotspotdi dalam kawasan TNS dan kejadian
kebakaran hutan juga tidak ada. Pada tahun 2014 jumlah hotspot sebanyak 107
titik dan mengalami peningkatan 80 titik dibanding tahun 2013 sebanyak 27
hotspot. Begitupun dengan luas kebakaran yang terjadi juga mengalami
peningkatan pada tahun 2011 dan tahun 2014. Berdasarkan Laporan Balai TNS
(S.38/BTNS-1/PH/2015) pada tahun 2014 luas kebakaran adalah 4364.24 ha.

43

Berdasarkan skenario pada Direktorat Pengendalian Kebakaran Hutan


(PKH) disebutkan bahwa jumlah hotspot yang masih bisa ditolerir di dalam
kawasan TNS pada tahun 2014 ialah sebanyak 59 hotspot namun jumlah hotspot
ternyata mencapai 107 sehingga capaian sasaran penurunan jumlah hotspot di
TNS selama periode Rentra 20102014 tidak terpenuhi (BTNS 2014). Luas area
terbakar di kawasan TNS mengalami peningkatan dari tahun-tahun sebelumnya.
Target luas maksimal (tolerensi) kebakaran hutan di TNS selama periode renstra
20102014 adalah seluas 545 ha sedangkan pada tahun 2014 luas kebakaran hutan
mencapai 4784.14 ha sehingga upaya pencapaian sasaran kedua, yaitu luas
kawasan hutan yang terbakar bisa ditekan hingga 50% dalam 5 tahun dibanding
kondisi rerata 20052009, juga tidak tercapai oleh Balai TNS.
Jika memperhatikan definisi efektivitas berdasarkan sasaran outcomes
yang direncanakan, maka pelaksanaan kegiatan bidang pengendalian kebakaran
hutan di TNS pada periode Rentra tahun 20102014 bisa dikatakan tidak efektif
karena jumlah hotspot dan luas areal terbakar mengalami peningkatan atau lebih
dari target yang ditolerir. Adapun jumlah hotspot dan luas kebakaran di TNS
selama periode Renstra 2010 2014 dijelaskan pada gambar 22.
5000

4364,24

4000
3000
2000

1090,72

1000

520,57

0
2010

2009

5,4

180,06

2011

2012

2013

2014

luas kebakaran (ha)


150
107

100
50

37

23

30

27

0
2009

2010

2011

2012

2013

2014

Jumlah Hotspot
(x Rp 1 juta)

1,985.22

2,000
1,500
1,000

1,309.43
499.90

670.62

500

422.53

Rencana anggaran
bidang PKH
Realisasi Anggaran
bidang PKH

478.54

0
2009

2010

2011

2012

2013

2014

Tahun

Gambar 22 Trend jumlah hotspot dan luas kebakaran (ha) serta trend rencana dan
realisasi anggaran pencegahan kebakaran Tahun 20092014 di TNS

44

Meskipun pencapaian sasaran kegiatan dikatakan tidak efektif namun jika


memperhatikan tingkat realisasi target anggaran bidang pengendalian kebakaran
hutan di TNS pada tahun 2013 dan 2014 ternyata menunjukkan tingkat serapan
yang tinggi atau bisa dikatakan efektif. Hal ini disebabkan karena sejak kejadian
kebakaran tahun 2011 Balai TNS merencanakan untuk membuat satuan khusus
DAOPS Manggala Agni di kawasan TNS. Pada tahun 2013 tingginya realisasi
disebabkan oleh pengadaan tanah untuk pembangunan markas DAOPS dan pada
tahun 2014 untuk kegiatan pembangunan Markas DAOPS Manggala Agni dan
pengadaan fasilitas lainnya (Rincian jenis kegiatan dan realisasi anggaran
terlampir). Adapun anggaran kegiatan Pengendalian Kebakaran Hutan (PKH) oleh
Balai TN Sebangau diuraikan pada Tabel 18.
Tabel 17 Nilai anggaran kegiatan Pengendalian Kebakaran Hutan (PKH) oleh
Balai TNS
Tahun

Rencana
Anggaran DIPA
Tahunan (Rp)

Rencana
Anggaran
bidang PKH (Rp)

Persentase
dari
anggaran
tahunan

Realisasi
Anggaran
bidang PKH
(Rp)

Persentase
dari
rencana
bidang PKH

Tingkat
efektivitas

2009

4 996 057 000

499 896 000

10.01 %

458 458 300

91.71 %

2010

8 360 081 000

670 617 000

8.02 %

550 190 000

82.04 %

2011

7 476 720 000

422 526 000

5.65 %

169 741 000

40.17 %

efektif
Cukup
efektif
Tidak efektif

2012

10 633 956 000

478 536 000

4.50 %

202 060 000

42.22 %

Tidak efektif

2013

12 814 750 000

1 309 428 000

10.22 %

1 223 416 100

93.43 %

efektif

2014

10 973 691 000

1 985 216 000

18.09 %

1 924 880 050

96.96 %

efektif

Sumber : LAKIP dan Laporan Tahunan 20092014 (data diolah)

Sasaran strategis kegiatan pengendalian kebakaran hutan oleh Balai TNS


ialah
meningkatkan upayaupaya sistem pencegahan pemadaman,
penanggulangan dampak kebakaran hutan, areal rawan kebakaran di 3 SPTN
wilayah, menekan jumlah hotspot, dampak asap dan luasan hutan yang terbakar.
Jika dilihat dari trend perencanaan anggaran terkait pencegahan kebakaran
hutan di TNS terlihat bahwa nilai rencana pencegahan kebakaran hutan seperti
mengikuti trend luas kejadian kebakaran pada tahun sebelumnya. Selain itu jenis
kegiatan yang direncanakan juga tidak banyak berbeda. Pada tahun 2009 terjadi
kebakaran yang cukup luas (1090 ha) sehingga hal ini membuat nilai rencana
kegiatan pada tahun berikutnya ditingkatkan. Tingginya realisasi kegiatan
pencegahan dan didukung dengan curah hujan yang tinggi selama tahun 2010
membuat tidak ada hotspot maupun kebakaran hutan yang terjadi pada tahun ini.
Hal ini membuat realisasi dana untuk kegiatan pemadaman tidak tercapai.
Tidak adanya kebakaran pada tahun 2010 ternyata membuat perencanaan
anggaran pencegahan pada tahun 2011 diturunkan dan bahkan realisasinya tidak
mencapai 50%. Kebakaran hutan gambut di dalam kawasan konservasi pada tahun
2011 mencapai luas 481 ha. Berdasarkan hasil wawancara dengan bagian
perencanaan di Balai TNS, disadari bahwa kegiatan yang ada di Balai TNS tidak
hanya difokuskan untuk pencegahan kebakaran saja karena mengingat masih
banyak tugas pokok dan fungsi lembaga yang lainnya. Selain itu bagian
perencanaan anggaran juga menyadari bahwa tidak adanya kebakaran membuat
perencanaan lengah dan kurang memperhatikan bidang ini, namun setelah

45

kebakaran tahun 2011 barulah mulai direncanakan untuk membangun satuan


khusus di bidang pengendalian kebakaran hutan. Meskipun sampai pada tahun
2014 anggaran lebih banyak untuk belanja fisik/pengadaan namun diharapkan
setelah tahun 2014 kegiatan pengendalian kebakaran hutan di TNS bisa lebih
dioptimalkan.
Hingga akhir tahun 2014 terjadi kebakaran hutan seluas 4364 ha membuat
anggaran untuk pemadaman tidak mencukupi. Adanya mekanisme pencairan
anggaran yang dibatasi oleh instansi pusat dan banyaknya jenis kegiatan lain yang
direncanakan membuat kuantitas kegiatan patroli pencegahan kebakaran hutan
menjadi berkurang akibat keterbatasan dana. Selain itu kegiatan penjagaan secara
terus-menerus yang difokuskan pada lokasi-lokasi yang diidentifikasi sebagai
daerah rawan kebakaran khususnya saat musim kemarau tidak pernah dilakukan.
Pada dasarnya kegiatan pencegahan kebakaran hutan dapat dikelompokkan
menjadi 3 bidang yang mencakup upaya : 1) penegakan hukum; 2) pendidikan dan
peningkatan pemahaman masyarakat; dan 3) pengembangan teknologi sarana dan
prasarana. Untuk tahun 2014 adapun indikator kinerja output dan detail rencana
kerja terkait bidang Pengendalian Kebakaran Hutan oleh Balai TNS diantaranya
adalah :
a) Laporan hasil pemantauan jumlah titik panas (hotspot) sebanyak 45 laporan
- Operasionalisasi posko pengendalian kebakaran hutan (5 bulan rawan)
- Rapat kerja/ evaluasi hasil pemantauan hotspot (triwulan)
- Sosialisasi/ penyuluhan pengendalian kebakaran hutan (3 kecamatan)
- Pembinaan kelompok tani hutan tanpa bakar (2 desa konservasi)
- Patroli pencegahan kebakaran hutan tingkat resort (8 Resort)
- Patroli pencegahan kebakaran hutan partisipatif (3 SPTN)
- Konsultasi dan koordinasi penanggulangan kebakaran hutan
b) Laporan pemadaman dan penanganan dampak pasca kebakaran hutan
sebanyak 12 Laporan
- Pemadaman pendahuluan kebakaran hutan (3 SPTN)
- Pemadaman lanjutan kebakaran hutan (3 SPTN)
- Identifikasi areal eks kebakaran hutan (sesuai lukos kejadian)
c) Pengembangan sarana dan prasarana khusus pengendalian kebakaran hutan
yaitu pembangunan markas DAOP TN Sebangau.
Jika diperhatikan dari jenis kegiatan yang direncanakan pada tahun 2014
(Tabel 18) untuk bidang pengendalian kebakaran hutan sebenarnya masih kurang
variatif, karena mengingat luasnya kawasan dan perbedaan masalah penyebab
kebakaran pada masing-masing lokasi. Selain itu berdasarkan pencermatan
terhadap waktu realisasi anggaran, diketahui bahwa setelah semester ke-2 baru
terjadi peningkatan belanja yang menunjukkan bahwa banyak jenis kegiatan yang
dilakukan atau anggaran yang dibelanjakan pada periode ini. Namun pada periode
ini juga merupakan waktu paling banyak kejadian hotspot atau kebakaran hutan.
Starategi alokasi anggaran diakui masih kurang terencana dengan baik dalam hal
ini.
Upaya pencegahan kebakaran hutan gambut Sebangau seharusnya tetap
menjadi prioritas yang harus direalisasikan saat menjelang bulan - bulan / periode
waktu puncak hotspot yaitu bulan Juli - Agustus September Oktober. Ada atau
tidak ada kebakaran hutan setiap tahunnya sebaiknya tidak dijadikan tolak ukur

46

karena kegiatan pencegahan yang meliputi kegiatan patroli periodik atau


penjagaan selama terus menerus serta penyuluhan harus ditingkatkan menjelang
periode waktu kemarau.
Tabel 18 Evaluasi dan pengelompokan kegiatan pencegahan kebakaran hutan di
TNS tahun 2014
No

Jenis kegiatan

Nilai (Rp)

Posko siaga PKH (Groundchek hotspot


& rapat-rapat)

93 830 000

Pembinaan kelompok tani tanpa bakar

19 326 000

Patroli pencegahan kebakaran hutan


basis resort & pertisipatif

106 454 000

Koordinasi/konsultasi bidang PKH

74 271 000

5
6

Pemadaman kebakaran
Pembangunan markas DAOP & Sapras

243 910 000


1 446 675 000

12
73

Permasalahan
Groundchek masih kurang cepat
dilakukan karena keterbatasan SDM &
tidak adanya dana siap pakai
Hanya bisa dilakukan di satu desa dan
waktu pelaksanaannya di akhir tahun
Frekuensinya masing kurang, untuk 8 wil.
resort masing-masing hanya 2 kali dan
tidak ada kegiatan penjagaan di daerah
rawan kebakaran
Kurang menyentuh stakeholders di
tingkat tapak
Anggaran yang direncanakan sedikit
Belum ada kegiatan peningkatan kapasitas
SDM (MPA)

1 984 466 000

Ketidaksingkronan antara penyebab kebakaran dan cara penanggulangannya


terjadi di semua negara di dunia. Di Indonesia dan Brazil penyebab utama
kebakaran adalah masalah sosial dan politik, namun prioritas rencana dan aksi
penanggulangannya adalah teknis dan riset pemadaman kebakaran.
Ketidaksingkronan ini ditengarahi melambatkan usaha penanggulangan kebakaran
hutan (Carmenta et al 2011).
Pada dasarnya kegiatan pemantauan titik hotspot telah dilakukan setiap hari
melalui mailinglist si Pongi dan diinformasikan pada masing-masing wilayah
seksi pengelolaan. Namun pada saat akan melakukan groundcek kendala yang
dialami ialah keterbatasan SDM dan aksesibilitas. Dengan luas kawasan TNS
yang mencapai 568.700 ha jumlah pegawai fungsional Polhut hanya 16 orang
serta penyuluh kehutanan hanya berjumlah 3 orang dari total 50 orang pegawai
keseluruhan.
Pada tahun 2004 sebelum UPT Balai TNS dibentuk, disekitar kawasan
sebangau telah dibentuk Regu Regu Pengendali Kebakaran Hutan (RPK) yang
terdiri dari masyarakat di sekitar kawasan TN. Sebangau. Pembentukan beberapa
RPK tersebut difasilitasi oleh proyek CKPP (Central Kalimantan Peatland
Project) yang merupakan gabungan/konsorsium beberapa LSM/NGO seperti
WWF, BOS, CKFCP dan lain lain. Hingga saat ini regu regu tersebut masih
ada dan setelah proyek CKPP usai kemudian UPT Balai TNS terbentuk,
keberadaan RPK ini terus dikembangkan kapasitas SDM dan sarana prasarananya
meskipun masih dirasa kurang optimal.
Pada tahun 2009 juga telah dibentuk Brigade Pengendalian Kebakaran
Hutan (Brigdalkarhut) yang terdiri dari pegawai dan staf Balai TNS. Namun
dengan semakin kompleksnya permasalahan pengelolaan TNS, serta musim
kemarau panjang yang mulai rutin datang sejak tahun 2011 keberadaan RPK
masih dirasa kurang cukup untuk mengatisipasi terjadinya bahaya kebakaran
hutan dan melakukan pengecekan titik hotspot secara langsung di lapangan.
Selain itu, secara umum RPK yang ada juga mengalami kesulitan untuk

47

melakukan koordinasi baik sesame anggota maupun dengan pihak pengelola


karena faktor kesibukan/ aktifitas pribadi masing-masing anggotanya.
Dari hasil wawancara terhadap beberapa anggota RPK, diantaranya bapak
Erwan Asbun dari RPK Baun Bango, menyebutkan bahwa,
Kegiatan pembinaan RPK masih dirasa kurang dan RPK seakan terkesan tidak
ada kejelasan. Selain itu kegiatan sosialisasi ke masyarakat tentang bahaya
kebakaran baru dilakukan setelah ada kebakaran dan ini dirasa terlambat karena
sebaiknya sosialisasi dilakukan 2 3 bulan sebelum kemarau.
Sedangkan menurut bapak Agus dari RPK Tumbang Bulan menyatakan,
Kebakaran yang terjadi sangat sulit dipadamkan selain karena sangat luas,
jumlah SDM dan peralatan masih kurang.
Berdasarkan penelusuran terhadap rencana kinerja Balai TNS kegiatan
Kegiatan Coaching clinic atau pembinaan / penyegaran terhadap masyarakat RPK
terakhir kali diadakan pada tahun 2010. Kegiatan Coaching clinic atau pembinaan
/ penyegaran terhadap masyarakat RPK sebaiknya bisa dilakukan rutin setiap
tahun sehingga kesiapan RPK bisa terus terpantau.
Permasalahan lain yang ditangkap dari hasil wawancara di lapangan ialah
secara umum dari anggota RPK / MPA yang ada masih mengalami kesulitan
untuk melakukan koordinasi dengan pihak pengelola karena faktor kesibukan/
aktifitas pribadi masing-masing anggotanya. Untuk itu Balai TNS telah
merencanakan untuk membuat satuan khusus manggala agni untuk melakukan
berbagai upaya pengendalian kebakaran hutan khususnya di dalam kawasan TNS
yang memiliki medan lapangan relatif lebih berat.
Kegiatan pembinaan/ penyuluhan kelompok tani tanpa bakar baru
direncanakan pada tahun 2014 pada dua lokasi yaitu di Resort Habaring Hurung,
Palangka Raya dan Resort Paduran, Pulang Pisau. Namun kegiatan ini hanya
terealisasi pada satu lokasi yaitu di Resort Habaring Hurung, Palangka Raya dan
baru bisa terselenggara pada bulan awal November (setelah kejadian kebakaran
hutan).
Salah satu solusi dalam mengatasi kendala akses dan luasnya kawasan ialah
adanya kegiatan yang dilakukan oleh mitra kerja yaitu WWF dan CIMTROPUNPAR di kawasan TNS. Berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala Sub
Bagian Tata Usaha Balai TNS selama ini kerjasama yang dilakukan masih kurang
sinergis dan optimal. Oleh karena itu upaya untuk meningkatkan sinergisitas dan
pembagian peranan, hak dan kewajiban sebaiknya dikaji kembali secara
komprehensif. Adanya prosedur standar, khususnya terhadap pengaturan wilayah
kegiatan seperti patroli pencegahan, penyuluhan masyarakat, pembagian atau
alokasi sumber dana perlu disusun bersama agar kegiatan yang dilakukan tertata
dengan baik dan jika terjadi kebakaran hutan alur koordinasi juga menjadi lebih
cepat dan jelas.
Upaya pencegahan kebakaran hutan di TNS tidak bisa lepas dari
kharakteristik sosial sekitar kawasan, karena pada dasarnya kebakaran hutan
gambut jarang atau tidak ada yang terjadi dengan sendirinya. Masih tingginya
ketergantungan dan akses masyarakat akan manfaat hutan membuat semakin

48

tinggi pula resiko bahaya kebakaran jika kurang mendapat perhatian dari
pengelola. Hal ini ditandai dengan masih adanya aktifitas masyarakat di dalam
maupun di sekitar kawasan TNS seperti mencari ikan atau memungut hasil hutan
non kayu. Ini juga merupakan potensi sekaligus tantangan bagi pemangku
kawasan untuk terus berupaya melakukan sosialisasi sosialisasi dan membangun
kesetaraan dalam upaya mewujudkan kawasan koservasi yang lestari dan
memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat yang ada disekitarnya
TNS secara geografis terletak di antara dua sungai besar dan sekitar 46
(empat puluh enam) desa pada 7 (tujuh) kecamatan yang berbatasan langsung
dengan kawasan. Dari 7 (tujuh) kecamatan tersebut mayoritas masyarakat di
sekitar kawasan TNS bermatapencaharian utama dari hasil perikanan dan
pertanian. Desa-desa tersebut sebagian besar merupakan desa tradisional dan desa
transmigrasi. Bentuk desa tradisional umumnya memanjang di pinggiran dan
mengikuti aliran sungai. Untuk mencapai desa-desa tersebut hanya dapat
ditempuh dengan menggunakan perahu motor atau klotok dan speed boat.
Sedangkan desa transmigrasi berpola mengumpul dan sudah mengembangkan
pertanian intensif.
Hasil pencermatan terhadap laporan kegiatan pemberdayaan masyarakat,
Model Desa Konservasi (MDK) dan pemberian bantuan sosial, menunjukkan
bahwa tekanan terhadap kawasan TNS di sekitar desa-desa tersebut (lokasi
kegiatan pemberdayaan masyarakat) tetap masih ada, khususnya terkait jumlah
hotspot tidak berpengaruh signifikan. Sehingga pengkajian mendalam terhadap
strategi kegiatan pemberdayaan masyarakat yang lebih tepat di sekitar lokasilokasi yang rawan kejadian kebakaran hutan sebaiknya dilakukan dan
ditindaklanjuti. Selain itu sinergisitas kegiatan terhadap stakeholders lain (mitra
yang sudah ada) harus tetap dijaga dan ditingkatkan khususnya saat puncak
periode hotspot.

49

4 SIMPULAN DAN SARAN


Simpulan
Penyebab kebakaran ekosistem gambut TNS saat musim kemarau
diakibatkan oleh kesengajaan dan kelalaian manusia yang bentuknya berbedabeda pada masing-masing tipe lokasi kebakaran. Nilai kerugian terbesar
diakibatkan oleh kehilangan dan kerusakan biofisik diantaranya nilai dari emisi
karbon, nilai potensial kayu yang ada dan nilai potensial hasil hutan non kayu
berupa rotan, jelutung dan kulit gemor. Nilai kerugian yang langsung berdampak
pada manusia seperti nilai kerugian kesehatan masyarakat, nilai kerugian sektor
perikanan dan nilai kerugian sektor transportasi tidak terlalu besar bila
dibandingkan dengan nilai kerugian kerusakan potensi biofisik. Nilai kerugian
lainnya yang juga diperhitungkan ialah nilai biaya yang timbul akibat kerusakan
habitat TSL serta biaya pemadaman kebakaran hutan.
Tingkat efektifitas pencegahan kebakaran hutan oleh Balai TNS khususnya
tahun 2014 termasuk efektif jika dilihat dari tingkat realisasi anggaran yang
mencapai 96.96%. Namun jika dilihat dari realisasi sasaran kegiatan yang tidak
tercapai, yaitu pengurangan jumlah hotspot dan penurunan luas kebakaran hutan
di dalam kawasan TNS hingga tahun 2014 maka kegiatan pengendalian kebakaran
hutan di TNS dikategorikan tidak efektif.
Saran
Upaya pencegahan kebakaran hutan gambut Sebangau seharusnya tetap
menjadi prioritas yang harus direalisasikan saat menjelang bulan - bulan / periode
puncak hotspot yaitu bulan Agustus September Oktober. Ada atau tidak ada
kebakaran hutan setiap tahunnya sebaiknya tidak dijadikan tolak ukur karena
kegiatan pencegahan yang meliputi kegiatan patroli periodik atau penjagaan
selama terus menerus serta penyuluhan harus ditingkatkan menjelang periode ini.
Untuk itu perlu disusun sebuah road map upaya pencegahan kebakaran hutan di
TNS. Pemetaan terhadap bentuk-bentuk strategi upaya pencegahan kebakaran
hutan di ekosistem gambut TNS sebaiknya disusun secara terarah baik dari jenis
kegiatan, lokasi kegiatan dan sasaran kegiatan.
Selain itu baiknya Balai TNS dapat membuka peluang kerjasama/ kemitraan
yang lebih banyak lagi dengan stakeholders lain (selain yang sudah ada saat ini),
khususnya dalam upaya perlindungan hutan gambut. Hal ini mengingat luas
kawasan yang lebih dari setengah juta hektar dan jumlah pegawai masih dibawah
60 orang.
Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut terhadap kerugian kebakaran hutan
gambut di TNS yang berdampak langsung terhadap masyarakat secara
komprehensif dengan memperhatikan faktor-faktor lain yang mungkin belum
diperhitungkan dalam penelitian ini. Selain itu juga perlu dilakukan penelitian
lebih lanjut untuk menganalisis apakah penggunaan hotspot masih sesuai untuk
dijadikan indikator awal (early warning system) terjadinya kebakaran hutan di
dalam kawasan TNS.

50

DAFTAR PUSTAKA
Bahruni, Suhendang E, Darusman D, Alikodra HS. 2007. A System Approach to
Estimate Total Economic Value of Forest Ecosystem : Use Value of Timber
and Non Timber Forest Products. Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi
Kehutanan. 4 (3) : 369378.
Barbier E. 1995. The Economics of Forestry and Concervation : Economic Values
and Polities. Commonwealth Forestry Review. 74 (1) : 128-140
Brauer M. 2007. Health impact of biomass air pollution. New York (USA) :
World Health Organization.
Brown A, Davis K. 1973 Forest Fire : Control and Use. New York (USA):
McGraw Hill Book Company, Inc.
[BTNS] Balai Taman Nasional Sebangau. 2008. Rencana Pengelolaan Taman
Nasional Sebangau. Palangka Raya (ID : BTNS
[BTNS] Balai Taman Nasional Sebangau. 2013. Laporan Tahunan Balai Taman
Nasional Sebangau tahun 2013. Palangka Raya (ID) : BTNS
Carmenta R, Parry L, Blackburn A, Vermeylen S, Barlow J. 2011. Understanding
human-fire interactions in tropical forest regions: a case for interdisciplinary
research across the natural and social sciences. Ecology and Society 16 (1) :
53. [online] URL: http://www.ecologyandsociety.org/vol16/iss1/art53/
Glover D, Jessup T. 2002. Indonesias Fire and Haze. Institute of Southeast Asia
Studies. Manila : International Development Research Centre.
[IPCC] Intergovernmental Mental Panel On Climate Change. 2013. Supplement
to the 2006 IPCC Guidelines for National Greenhouse Gas Inventories:
Wetlands. Methodological Guidance on Lands with Wet and Drained Soils,
and Constructed Wetlands for Wastewater Treatment. IPCC.
Jaenicke J, Wsten H, Budiman A, Siegert F. 2010. Planning hydrological
restoration of peatlands in Indonesia to mitigate carbon dioxide emissions.
Mitigation Adaptation Strategy Global Change. 15 : 223239.
Husson S, Page SE, Rieley JO. 2003. Population Status of the Borneon
Orangutan (Pongo pygmaeus) in the Sebangau Peat Swamp Forest, Central
Kalimantan, Indonesia. Biological Conservation. 110 : 141152.
Matthew B, Huberman AM. 1992. Analisis Data Kualitatif : buku sumber tentang
metode-metode baru. Jakarta (ID): UI pr.
Murdiyarso D, Rosalina U, Hairiah K, Muslihat L, Suryadiputra NN, Jaya A.
2004. Petunjuk Lapangan : Pendugaan Cadangan Karbon pada Lahan
Gambut. Proyek Climate Change, Forest and Peatlands in Indonesia.
Wetlands International Indonesia Programmed an Wildlife Habitat
Canada. Bogor (ID) : CIFOR
Page SE, Siegert S, Rieley J, Boehm H, Jaya A, Limin SH. 2002. The amount of
carbon released from peat and forest fires in Indonesia during 1997. Nature.
420:61-65
Pearce, D. 2001.The Economic Value of Forest Ecosystems. Ecosystem Health. 7
(4) Blackwell Science, Inc.
Pearce D, Moran. 1994. The Economic Value of Biodiversity. London (ENG) :
IUCN Earthscan Publications Ltd.

51

Pearce D, Turner RK. 1992. Economics of Natural Resources and The


Environment. New York (USA) : Harvester Wheatsheaf.
Rein G, Cleaver N, Pironi P, Ashton C, Torero JL. 2008. The severity of
smouldering peat fires and damage to the forest soil. Catena. 74 : 304309
Saharjo B, Putra EI, Atik U. 2012. Pendugaan Emisi CO2 sebagai Gas Rumah
Kaca akibat Kebakaran Hutan dan Lahan pada Berbagai Tipe Penutupan
Lahan di Kalimantan Tengah, Tahun 2000-2009. Jurnal Silvikultur Tropika.
03(03) : 143148.
Suhud M, Saleh C. 2007 (eds). Dampak Perubahan Iklim Terhadap Habitat
Orangutan. Jakarta (ID): WWF-Indonesia.
Sumantri. 2007. Pengendalian Kebakaran Lahan dan Hutan. Sebuah Pemikiran,
Teori, Hasil Praktek, dan Pengalaman Lapangan. Bogor (ID) : Ditjen
PHKA.
Sumenge AS. 2013. Analisis Efektivitas dan Efisiensi Pelaksanaan Anggaran
Belanja Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Minahasa
Selatan. Jurnal EMBA. 1(3): 74-81
Syaufina L. 2008. Kebakaran Hutan dan Lahan di Indonesia: Perilaku Api,
Penyebab dan Dampak kebakaran. Malang (ID) : Banyu Media Publishing.
Tacconi L. 2003. Kebakaran Hutan di Indonesia: Penyebab, Biaya dan Implikasi
Kebijakan. Bogor (ID) : CIFOR.
Toriyama J, Takahashi T, Nishimura S, Sato T, Monda Y, Saito H, Awaya Y,
Limin SH, Susanto AR, Darma F, Krisyoyo, Kiyono Y. 2013. Estimation of
fuell mass and its loss during a forest fire in peat swamp forest of Central
Kalimantan, Indonesia. Forest Ecology and Management. 314:1-8.
www.elsevier.com/locate/foreco
Turetsky MR , Wieder RK. 2001. A direct approach to quantifying organic matter
lost as a result of peatland wildfire. Can. J. For. Res. 31: 363366.
Wardani W, Erlinawati I, Widjaya EA, Karsono. 2006 : Eksplorasi dan
pengungkapan pemanfaatan flora di Taman Nasional Sebangau, Kalimantan
Tengah. Bidang Botani. Bogor (ID) : Pusat Penelitian Biologi, LIPI.
Wahyunto, Ritung S, Suparto, Subagjo H. 2005. Peatland Distribution and Carbon
Content in Sumatra and Kalimantan. Bogor (ID) : Wetland International Indonesia Program and Wildlife Habitat Canada (WHC).
[WWF] World Wildlife Foundation. 2012. Rewetting of Tropical Peat Swamp
Forest In Sebangau National Park, Central Kalimantan, Indonesia. Project
Design Document for Validation under the Climate, Community and
Biodiversity Project Design Standards Second Edition. Jakarta (ID) : WWFIndonesia Sebangau Project.
Yunus L. 2005. Metode Penilaian Ekonomi Kerusakan Lingkungan Akibat
Kebakaran Hutan dan Lahan (Studi Kasus di Kabupaten Sintang Kalimantan
Barat). [Disertasi]. Bogor (ID) : Sekolah Pascasarjana IPB.

52

53

Lampiran 1 Jenis pohon pada area terbakar di TNS

No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23

Nama lokal
Asam-asam
Banitan/ terepis
Belangiran
Bintangur
Pasir pasir
Galam tikus
Gerunggang
Jambu-jambu
Malam malam
Kempas
Ketiau
Mendarahan
Meranti/lanan
Keruing
Meranti merah
Jelutung/ pantung
Meranti rawa/ putih
Nyatoh
Pisang-Pisang
Ramin
Simpur
Terentang
Tumih

Nama latin
Dicryoneura acumonata
Polyalthia glauca
Shorea belangeran
Palaquium rostratum
Stemonurus scorpioides
Eugenia spicata
Cratoxylum glaucum
Eugenia sp.
Diospyros bantamense
Koompassia malaccensis
Madhuca mottleyana
Myristica sp
Shorea leprosula
Dipterocarpus grandiflorus
Shorea parvifolia
Dyera lowii
Shorea teysmanniana
Palaquium sp
Mazzetia sp
Gonystylus bancanus
Dillenie excelsa
Campnospermum macrophyllum
Combretocarpus rotundus

Suku
Sapindaceae
Annonaceae
Dipterocarpaceae
Sapotaceae
Icacinaceae
Myrtaceae
Hypericaceae
Myrtaceae
Ebenaceae
Leguminaceae
Sapotaceae
Myristicaceae
Dipterocarpaceae
Dipterocarpaceae
Dipterocarpaceae
Apocynaceae
Dipterocarpaceae
Sapotaceae
Annonaceae
Thymelaeaceae
Dilleniaceae
Anacardiaceae
Rhizoporaceae

54

Lampiran 2 Nilai Kandungan Bahan Bakar Kering, Faktor Emisi, Faktor


Pembakaran (IPCC 2013 dan Toriyama et al 2014)

55

Process

Tipe of land cover change

Burning
(first fire)

Unburnt to burn mature


forest
Virforestgin forest to fire
damaged
Logged forest to fire
damaged forest
Unburnt to burnt primary
tropical forest
Unburn to burn
regenerated forest
Unburnt to burn secondar
tropical forest
Burn mature forest to
regenerated forest
Burn regenerated forest
to mixed cropland and
shrubland

Burning
(Second
fire)
Loss of fuel
after
burning

Time for
loss of fuel
(years)
<1
<1
<1
<1
<1
<1
12
-

Fuel mass
Before land
After land
cover
cover
change (Mg
change
ha-1)
(Mg ha-1)
319.7
235.8 83.3
21.2
439.4
136.4 44.0
56.8
205.6
136.4 44.0
55.6
-

Loss of fuel
(Mg ha-1)

Emission factor of
Combution
GHG emission
CO2 equivalence
factor
(Mg CO2 ha-1)
(g CO2 kg-1)

Source

83.9 86.0

0.26

1810

151.8 155.5

(Toriyama et al 2014)

303.2
72.0
69.2 71.0

0.69

1810

548.7 130.3

0.34

1810

125.2 128.5

0.50

1810

290.3 21.4

(Hergpualch and Verchot


2011)
(Hergpualch and Verchot
2011)
(IPCC 2006)

0.32

1810

77.0 55.2

(Toriyama et al 2014)
(IPCC 2006)

131.5
17.1
-

89.0 25.2

160.4
11.8
42.6 30.5

46.4 8.0

0.50

1810

84.0 14.5

235.8
83.3
89.0 25.2

131.5 17.1

104.3
85.0
73.3 25.4

1723

179.6 146.5

(Toriyama et al 2014)

1723

126.2 43.8

(Toriyama et al 2014;
Hergpualch and Verchot
2011)

15.7 2.8

56

Lampiran 3 Standar biaya kegiatan Rehabilitasi di TN Sebangau


Kebutuhan biaya rehabilitasi untuk 1 blok/ 250 Ha (T-0)
No

Jenis kegiatan

Upah
1

biaya total

a. Upah pembuatan batas blok dan petak

HOK

350

45000

15750000

b. Upah pembuatan jalur tanaman

HOK

1000

45000

45000000

c. Upah penentuan arah larikan

HOK

350

45000

15750000

d. Upah pemasangan ajir (100.000 batang)

HOK

280

45000

12600000

e. Upah pembuatan lubang tanam (100.000)

HOK

1200

45000

54000000

f. Upah pembuatan papan nama kegiatan (1)

HOK

10

45000

450000

g. Upah pembuatan papan nama petak (10)

HOK

40

45000

1800000

h. Upah pembuatan pondok kerja (1)

HOK

80

45000

3600000

i. Upah pembuatan gubuk kerja (5)

HOK

200

45000

9000000

j. Upah penanaman (100.000)

HOK

1120

45000

50400000

k. Upah distribusi bibit ke lubang tanam

HOK

320

45000

14400000

Pemeliharaan tahun berjalan (T-0)


a. Upah penyulaman

HOK

440

45000

19800000

b. Upah penyiangan/ pembersihan jalur

HOK

1250

45000

56250000

30

1500000

45000000

Pengawasan/supervisi
OB

Bahan
a. Pengadaaan patok arah larikan

patok

25000

500

12500000

b. Pengadaan ajir

batang

100000

150

15000000

c. Pengadaan Papan Nama Kegiatan

unit

750000

750000

d. Pengadaan papan nama petak

unit

10

250000

2500000

e. Pengadaan pondok kerja

unit

15000000

15000000

f. Pengadaan gubuk kerja

unit

2500000

12500000

a. parang

buah

50

65000

3250000

b. ganco/tugal

buah

50

50000

2500000

paket

21875000

21875000

Pengadaan alat

Pengamanan/pemeliharaan bibit sementara


a. pengamanan

IV

biaya satuan

Bahan dan peralatan


1

III

volume

Pelaksanaan (T-0)

a. Pengawasan (5 0rang x 6 bulan)


II

satuan

pembibitan
bibit tanaman + 10% penyulaman
Jelutung (40%)

batang

44000

2500

110000000

Belangiran (60%)

batang

66000

1800

118800000

JUMLAH (I)

658475000

57

Lampiran 3 lanjutan
Kebutuhan biaya rehabilitasi untuk 1 blok/ 250 Ha (T+1)
No

Jenis kegiatan

satuan

volume

biaya satuan

biaya total

Upah
1

Pemeliharaan tanaman (T+1)


a. Upah distribusi bibit ke lubang tanaman (30.000 btg)

300

45000

13500000

b. upah penyulaman

HOK

1000

45000

45000000

c. upah penyiangan/pembersihan jalur (1 x)

HOK

1250

45000

56250000

20

1500000

30000000

18900000

Pengawasan/supervisi
a. pengawasan/supervisi (5 orang x 4 bulan)

II

HOK

OB

Pembibitan
Bibit tanaman sulaman (30%)
Belangiran (30%)

batang

9000

2100

Ubar (70%)

batang

21000

2100

JUMLAH (II)

44100000
207750000

Kebutuhan biaya rehabilitasi untuk 1 blok/ 250 Ha T+2


No

Jenis kegiatan

satuan

volume

biaya satuan

biaya total

1400

45000

63000000

20

1500000

30000000

Upah
1

Pemeliharaan tanaman (T+2)


a. Upah penyiangan/pembersihan jalur (1 x)

HOK

Pengawasan
Pengawasan/supervisi (5 orang x 4 bulan)

OB

JUMLAH (III)

93000000

Kebutuhan alat dan bahan


Kebutuhan bahan dan peralatan

Satuan

Jumlah untuk 1 blok


(250 ha)

1. Pengadaaan patok arah lairkan

Patok

100

2. Pengadaan ajir

Batang

400

3. Pengadaan Papan Nama Kegiatan

Unit

4. Pengadaan papan nama petak

Unit

10

5. Pengadaan pondok kerja

Unit

6. Pengadaan gubuk kerja

Unit

- Parang

Buah

50

- Ganco/Tugal

Buah

50

7. Pengadaan alat

58

Lampiran 3 lanjutan
Kebutuhan tenaga kerja
Kebutuhan tenaga kerja

satuan

volume/ha

Jumlah HOK

1. Upah pembuatan batas petak/blok

HOK

1.4

2. Upah penentuan arah larikan

HOK

1.4

350

3. Upah pembuatan jalur tanaman

HOK

1000

4. Upah pemasangan ajir

HOK

1.4

350

5. Upah pembuatan lubang tanaman

HOK

4.8

1500

350

6. Upah pembuatan papan nama kegiatan

HOK

0.04

10

7. Upah pembuatan papan nama petak

HOK

0.16

40

8. Upah pembutan pondok kerja

HOK

0.32

80

9. Upah penanaman

HOK

4.6

1150

10. Upah ditribusi bibit ke lubang tanam

HOK

1.28

320

11. Upah penyulaman

HOK

1.76

440

4.6

1150

0.12

30

12. Upah penyiangan/ pembersihan jalur

HOK

13. Pengawasan supervisi

OB

Sumber : RTK RHL Balai TNS 2014

59

Lampiran 4 Laporan Pencegahan Kebakaran Groundcheck Hotspot di TN Sebangau Tahun 2014


No

Hasil Pemantauan Satelit NOAA dan MODIS


Sumber Tanggal
Koordinat
Lokasi
(desa,kec,kab)
Lat
Long

Tanggal

Koordinat
Lat

Long

Lokasi
(desa,kec,kab)

Groundcheck Lapangan
Indikasi kebakaran*
Luas
Terbakar
Tdk
terbakar
Terbakar
11
12
13
V

Status
Kawasan/
Keterangan
Lahan
14
15
TNS
Walaupun telah dilakukan penyisiran
dengan radius 1 km dari koordinat hotspot,
tidak ditemukan lokasi kebakaran.
Kondisi sekitar HS merupakan hutan
sekunder
TNS
Walaupun telah dilakukan penyisiran
dengan radius 1 km dari koordinat hotspot,
tidak ditemukan lokasi kebakaran.
Kondisi sekitar HS merupakan hutan
sekunder
TNS
Tidak dapat dilakukan groundcheck karena
ke lokasi hotspot tidak dapat diakses.
Kondisi sekitar HS merupakan hutan
sekunder

2
NOAA
18

3
04/02/
2014

4
-2.108

5
6
7
8
113.69 Hiang Bana, Tasik 06/02/ 2014 -2.108
Payawan,
Katingan

9
113.69

10
Hiang Bana,
Tasik Payawan,
Katingan

NOAA
18

04/02/
2014

-1.977

113.637 Tangkiling, Bukit


Batu, Palangka
Raya

05/02/ 2014 -1.977

113.637

Tangkiling,
Bukit Batu,
Palangka Raya

NOAA
18

25/02/
2014

-2.36

113.72 Jahanjang,
Kamipang,
Katingan

26/02/ 2014 -2.36

113.72

Jahanjang,
Kamipang,
Katingan

NOAA
18

7/03/
2014

-2.32

113.82 Kereng Bangkirai, 8/03/ 2014


Sabangau,
Palangka Raya

113.821

Kereng
Bangkirai,
Sabangau,
Palangka Raya

TNS

NOAA
18

27/03/
2014

-2.12

113.6

113.6

Talingke, Tasik
Payawan,
Katingan

TNS

Talingke, Tasik
Payawan,
Katingan

-2.312

28/03/ 2014 -2.12

Walaupun telah dilakukan penyisiran


dengan radius 1 km dari koordinat hotspot,
tidak ditemukan lokasi kebakaran.
Kondisi sekitar HS merupakan hutan
sekunder
Walaupun telah dilakukan penyisiran
dengan radius 1 km dari koordinat hotspot,
tidak ditemukan lokasi kebakaran.
Kondisi sekitar HS merupakan hutan
sekunder

60

NOAA
18

27/03/
2014

-2.2

113.72 Asam Kumbang,


Kamipang,
Katingan

29/03/ 2014 -2.2

113.72

Asam
Kumbang,
Kamipang,
Katingan

TNS

Walaupun telah dilakukan penyisiran


dengan radius 1 km dari koordinat hotspot,
tidak ditemukan lokasi kebakaran.
Kondisi sekitar HS merupakan hutan
sekunder

NOAA
18

18/04/
2014

-2.12

113.76 Marang, Bukit


Batu, Palangka
Raya

19/04/ 2014 -2.12

113.76

Marang, Bukit
Batu, Palangka
Raya

TNS

NOAA
18

10/05/
2014

-2.33

113.63 Tumbang Bulan,


Mendawai,
Katingan

12/05/ 2014 -2.33

113.63

Tumbang
Bulan,
Mendawai,
Katingan

TNS

NOAA
18

10/05/
2014

-2.52

113.97 Paduran
Sebangau,
sebangau Kuala,
P Pisau

11/05/ 2014 -2.52

113.97

Paduran
Sebangau,
sebangau
Kuala, P Pisau

TNS

10

NOAA
18

17/05/
2014

-2.13

113.7

18/05/ 2014 -2.13

113.7

Talingke, Tasik
Payawan,
Katingan

TNS

11

NOAA
18

22/06/
2014

-2.265

113.725

S. Simpang Kiri,
Kereng
Bangkirai,
Palangka Raya

TNS

Walaupun telah dilakukan penyisiran


dengan radius 1 km dari koordinat hotspot,
tidak ditemukan lokasi kebakaran.
Kondisi di sekitar hotspot vegetasinya masih
rapat dan didominasi oleh pohon, lantai
hutan masih basah
Ditemukan titik asap kebakaran di luar
kawasan dengan jarak 1,5 km dari hotspot
yang dicek lahan yang terbakar diduga milik
masyarakat yang melakukan pembersihan
Walaupun telah dilakukan penyisiran
dengan radius 1 km dari koordinat hotspot,
tidak ditemukan lokasi kebakaran.
Kondisi sekitar HS merupakan hutan
sekunder
Walaupun telah dilakukan penyisiran
dengan radius 1 km dari koordinat hotspot,
tidak ditemukan lokasi kebakaran.
Kondisi sekitar HS merupakan hutan
sekunder
Walaupun telah dilakukan penyisiran
dengan radius 1 km dari koordinat hotspot,
tidak ditemukan lokasi kebakaran.
Kondisi di sekitar hotspot vegetasinya masih
rapat dan didominasi oleh pohon, lantai
hutan masih basah
Walaupun telah dilakukan penyisiran
dengan radius 1 km dari koordinat hotspot,
tidak ditemukan lokasi kebakaran.
Kondisi di sekitar hotspot vegetasinya masih

Talingke, Tasik
Payawan,
Katingan

113.725 S. Simpang Kiri,


23/06/ 2014 -2.265
Kereng Bangkirai,
Palangka Raya

61

12

NOAA
18

18/07/
2014

-2.065

113.695 Tumbang Tahai,


Bukit Batu P.
Raya

19/07/ 2014 -2.065

113.695

Tumbang Tahai,
Bukit Batu P.
Raya

TNS

13

NOAA
18

25/07/
2014

-2.13

113.74 Habaring
Hurung, Bukit
Batu P. Raya

05/08/ 2014 -2.13

113.74

Habaring
Hurung, Bukit
Batu P. Raya

TNS

14

NOAA
18

27/07/
2014

-2.15

113.745 Marang, Bukit


Batu, Palangka
Raya

05/08/ 2014 -2.15

113.745

Marang, Bukit
Batu, Palangka
Raya

TNS

15

NOAA
18

30/07/
2014

-2.173

113.752 Marang, Bukit


Batu, Palangka
Raya

05/08/ 2014 -2.173

113.752

Marang, Bukit
Batu, Palangka
Raya

TNS

16

NOAA
18

30/07/
2014

-2.15

113.745 Habaring
Hurung, Bukit
Batu P. Raya

05/08/ 2014 -2.15

113.745

Habaring
Hurung, Bukit
Batu P. Raya

17

NOAA

1/08/

-2.12

113.745 Marang, Bukit

05/08/2014

-2,12447 113,7495 Marang, Bukit

TNS

0,02 ha

TNS

rapat dan didominasi oleh pohon, lantai


hutan masih basah
Walaupun telah dilakukan penyisiran
dengan radius 1 km dari koordinat hotspot,
tidak ditemukan lokasi kebakaran.
Kondisi sekitar HS merupakan hutan
sekunder
Walaupun telah dilakukan penyisiran
dengan radius 1 km dari koordinat hotspot,
tidak ditemukan lokasi kebakaran.
Kondisi di sekitar hotspot vegetasinya masih
rapat dan didominasi oleh pohon, lantai
hutan masih basah
Walaupun telah dilakukan penyisiran
dengan radius 1 km dari koordinat hotspot,
tidak ditemukan lokasi kebakaran.
Kondisi di sekitar hotspot vegetasinya masih
rapat dan didominasi oleh pohon, lantai
hutan masih basah
Walaupun telah dilakukan penyisiran
dengan radius 1 km dari koordinat hotspot,
tidak ditemukan lokasi kebakaran.
Kondisi di sekitar hotspot vegetasinya masih
rapat dan didominasi oleh pohon, lantai
hutan masih basah
Kebakaran terjadi di luar kawasan TN
Sebangau sekitar 2 km dari hotspot pada
lahan perkebunan masyarakat..
Terjadi kebakaran pada lokasi yang di
groundcheck, namun lokasi tersebut sudah
merupakan lahan pertanian masyarakat
transmigrasi Habaring Hurung.

Ditemukan titik bekas terbakar pada

62

18

2014

Batu, Palangka
Raya

18

NOAA
18

2/08/
2014

-2.11

113.725 Marang, Bukit


Batu, Palangka
Raya

05/08/ 2014 -2,11572 113,7328 Marang, Bukit


1
Batu, Palangka
Raya

TNS

19

NOAA
18

2/08/
2014

-2.35

113.765 Bukit Tunggal,


Jekan Raya P.
Raya

06/08/ 2014 -2,23228 113,7928 Bukit Tunggal,


Jekan Raya P.
Raya

TNS

20

NOAA
18

2/08/
2014

-2.35

TNS

21

NOAA
18

5/08/
2014

-2.125

TNS

22

NOAA
18

13/08/
2014

-2.31

113.99 Paduran
3/08/ 2014 -2.348
Sebangau,
Sebangau Kuala,
P Pisau
113.77 Marang, Bukit
6/08/ 2014 -2.175
Batu, Palangka
Raya
113.81 Kereng Bangkirai, 14/08/ 2014 -2.31
Sabangau,
Palangka Raya

TNS

23

NOAA
18

14/08/
2014

-2.3

TNS

113.815 Kereng Bangkirai, 21/08/ 2014 -2.9860


Sabangau,
Palangka Raya

113.89

Batu, Palangka
Raya

Paduran
Sebangau,
Sebangau
Kuala, P Pisau
113.678 Marang, Bukit
Batu, Palangka
Raya
113.81
Kereng
Bangkirai,
Sabangau,
Palangka Raya
113.8221 Kereng
Bangkirai,
Sabangau,

koordinat Lat : -2,13127 ; Long : 113,75475


yang luasnya 200m berada pada kawasan
Taman Nasional Sebangau, tetapi pada saat
dilakukan pengecekan api sudah padam,
Kebakaran banyak ditemukan di luar kawasan
TN Sebangau, yaitu pada titik koordinat Lat : 2,111233 ; Long : 113,74475., Lat : -2,10758 ;
Long : 113,75055., Lat : -2,10540 ; Long :
113,75371 dan Lat : -2,09855 ; 113,76444,
Dilakukan penyisiran dengan radius 1 km
dari koordinat hotspot, tidak ditemukan
lokasi kebakaran.
Kebakaran terjadi di luar kawasan TN
Sebangau.
Ditemukan areal bekas terbakar pada pada
titik pada titik koordinat Lat : -2,15059 ;
Long :113,76559 dan berda pada kawasan
Taman Nasional Sebangau. Areal ini sengaja
dibakar untuk pembukaan lahan yang
dilakukan oleh kelompok tani Eka Hapakat,
kepentingan pembukaan lahan sawit.
Tidak ditemukan adanya kebakaran di sekitar
lokasi hotspot, kebakaran terjadi di luar
kawasan TN Sebangau yaitu di seberang S.
Sebangau berupa tumbuhan Rsau dan semak.
Tidak ditemukan adanya kebakaran di sekitar
lokasi hotspot, kebakaran terjadi pada lahan
masyarkat yang berjarak 1 km.
Tidak ditemukan adanya kebakaran di sekitar
lokasi hotspot, kebakaran terjadi pada lahan
masyarkat yang berada di seberang sungai.
Dilakukan penyisiran dengan radius 1 km
dari koordinat hotspot, tidak ditemukan
lokasi kebakaran.

63

Palangka Raya

24

NOAA
18

14/08/
2014

-2.3

113.78 Kereng Bangkirai, 21/08/ 2014 -2.27771 113.8195 Kereng


Sabangau,
Bangkirai,
Palangka Raya
Sabangau,
Palangka Raya

25

NOAA
18

26/08/
2014

-2.15

113.765 Marang, Bukit


Batu, Palangka
Raya

26

NOAA
18

30/08/
2014

-2

27

NOAA
18

1/09/
2014

-1.995

28

NOAA
18

3/09/
2014

-1.97

29

NOAA

3/09/

-2.12

27/08/ 2014 -2,14

113.555 Petak
Bahandang, Tasik
payawan,
Katingan
113.552 Petak
Bahandang, Tasik
payawan,
Katingan
113.635 Tangkiling, Bukit 4/09/ 2014
Batu, Palangka
Raya
113.7

Asam Kumbang,

113,772

Kondisi di sekitar hotspot vegetasinya masih


rapat dan didominasi oleh pohon, lantai
hutan masih basahV

Marang, Bukit
Batu, Palangka
Raya

TNS

75,55

TNS

Dilakukan penyisiran dengan radius 1 km


dari koordinat hotspot, tidak ditemukan
lokasi kebakaran.
Kondisi di sekitar hotspot vegetasinya masih
rapat dan didominasi oleh pohon, lantai
hutan masih basah
Ditemukan adanya bekas kebakaran dan
kejadian kebakaran kawasan TN. Sebangau
pada titik pertama koordinat Lat : -2,14;
Long : 113,772 yang berjarak + 950 meter dari
titik hotspot.
Terjadi kebakaran juga pada :
Titik kedua Lat : -2,14; Long : 113,767 yang
berjarak + 800 meter dari titik hotspot.
Titik ketiga Lat : -2,14; Long : 113,773 yang
berjarak + 1,1 km dari titik hotspot.
Titik keempat Lat : -2,13; Long : 113,763 yang
berjarak + 1 km dari titik hotspot.
Tidak dilakukan groundcheck karena kondisi
S. Rasau surut/kering sehingga tidak ada
akses untuk menuju lokasi hotspot

TNS

TNS

Kondisi S. Rasau surut/kering sehingga lokasi


hotspot tidak dapat dijangkau.

TNS

TNS

Tidak ditemukan kebakaran pada lokasi


hotspot , kebakaran terjadi di lahan
masyarakat.yang berada di sekitar jl. Cilik
Riwut.
Tidak dilakukan groundcheck karena tidak

-1.97

113.635

Tangkiling,
Bukit Batu,
Palangka Raya
-

64

18

2014

30

NOAA
18

3/09/
2014

-2.11

31

NOAA
18

4/09/
2014

-2.14

32

NOAA
18

6/09/
2014

-1.97

33

NOAA
18

6/09/
2014

-1.998

34

NOAA
18

6/09/
2014

-2.099

35

NOAA
18

6/09/
2014

-2.165

36

NOAA
18

7/09/
2014

-2.195

37

NOAA
18

7/09/
2014

-2.78

38

NOAA
18

14/09/
2014

-1.965

39

NOAA

14/09/

-2.04

Kamipang,
Katingan
113.72 Marang, Bukit
Batu, Palangka
Raya

ada akses ke lokasi tersebut.


4/09/ 2014

-2.0973

113.7172 Marang, Bukit


Batu, Palangka
Raya

TNS

113.76 Marang, Bukit


Batu, Palangka
Raya

5/09/ 2014

-2.1387

113.7648 Marang, Bukit


Batu, Palangka
Raya

TNS

113.62 Tangkiling, Bukit


Batu, Palangka
Raya
113.686 Banturung, Bukit
Batu, Palangka
Raya
113.717 Marang, Bukit
Batu, Palangka
Raya
113.75 Marang, Bukit
Batu, Palangka
Raya
113.75 Bukit Tunggal,
Jekan Raya P.
Raya
113.63 Paduran
Sebangau,
Sebangau Kuala,
P Pisau
113.635 Tangkiling, Bukit
Batu, Palangka
Raya
113.69 Habaring

7/09/ 2014

-1.972

113.52

7/09/ 2014

-1.987

113.686

7/09/ 2014

-2.177

113.723

8/09/ 2014

-2.186

113.71

15/09/ 2014 -1.967

113.622

15/09/ 2014 -2.04

113.69

Tangkiling,
Bukit Batu,
Palangka Raya
Banturung,
Bukit Batu,
Palangka Raya
Marang, Bukit
Batu, Palangka
Raya
Bukit Tunggal,
Jekan Raya P.
Raya
-

Tangkiling,
Bukit Batu,
Palangka Raya
Habaring

TNS

TNS

TNS

TNS

TNS

TNS

TNS

TNS

Tidak ditemukan kebakaran di sekitar lokasi


hotspot
Ditemukan lahan bekas terbakar yg berada
di luar TNS
Ditemukan areal bekas terbakar yang telah
dipadamkan
Ditemukan lahan bekas terbakar yg berada
di luar TNS pada kordinat Lat : -2,1460 dan
Long : 113,7797
Tidak ditemukan kebakaran pada lokasi
hotspot , kebakaran terjadi di lahan
masyarakat.yang berada 1 km dari hotspot
Tidak ditemukan kebakaran pada lokasi
hotspot , kebakaran terjadi di lahan
masyarakat.yang berada 3 km dari hotspot
Tidak dilakukan groundcheck karena tidak
ada akses ke lokasi tersebut
Tidak ditemukan kebakaran pada lokasi
hotspot , kebakaran terjadi di lahan
masyarakat.yang berada 1,7 km dari hotspot
Tidak ditemukan kebakaran pada lokasi
hotspot , kebakaran terjadi di lahan
masyarakat.yang berada 2 km dari hotspot
Kondisi S. Sampang surut/kering sehingga
lokasi hotspot tidak dapat dijangkau.

Tidak ditemukan kebakaran pada lokasi


hotspot , kebakaran terjadi di lahan
masyarakat.yang berada 3 km dari hotspot
Tidak ditemukan kebakaran pada lokasi

65

18

2014

Hurung, Bukit
Batu P. Raya

40

NOAA
18

14/09/
2014

-2.04

41

NOAA
18

14/09/
2014

-2.19

42

NOAA
18

15/09/
2014

-1.95

43

NOAA
18

15/09/
2014

-2.48

44

NOAA
18

16/09/
2014

-1.94

45

NOAA
18

16/09/
2014

-1.983

46

NOAA
18

16/09/
2014

-2.104

47

NOAA
18

23/09/
2014

-1.99

48

NOAA
18

23/09/
2014

-2.015

49

NOAA
18

23/09/
2014

-2.78

113.71 Habaring
Hurung, Bukit
Batu P. Raya
113.755 Marang, Bukit
Batu, Palangka
Raya
113.65 Tangkiling, Bukit
Batu, Palangka
Raya
113.37 Tampelas,
Mendawai,
Katingan
113.6 Tangkiling, Bukit
Batu, Palangka
Raya

Hurung, Bukit
Batu P. Raya
15/09/ 2014 -2.04

113.71

15/09/ 2014 -2.06

113.701

16/09/ 2014 -1.85

113.55

Habaring
Hurung, Bukit
Batu P. Raya
Marang, Bukit
Batu, Palangka
Raya
Tangkiling,
Bukit Batu,
Palangka Raya
-

TNS

TNS

TNS

TNS

hotspot , kebakaran terjadi di lahan


masyarakat.yang berada pada lahan usaha
transmigrasi.
Lokasi hotspot berada di lahan transmigrasi,
ditemukan kebakaran pada lahan masyarakat
transmigrasi.
Tidak ditemukan kebakaran pada lokasi
hotspot , kebakaran terjadi di lahan
masyarakat.yang berada 1,1km dari hotspot
Tidak ditemukan kebakaran pada lokasi
hotspot , kebakaran terjadi di lahan
masyarakat.yang berada 700 m dari hotspot
Tidak dilakukan groundcheck karena tidak
ada akses ke lokasi tersebut

17/09/ 2014 -1.91

113.56

Tangkiling,
Bukit Batu,
Palangka Raya

TNS

Tidak ditemukan kebakaran pada lokasi


hotspot , kebakaran terjadi di lahan
masyarakat.yang berada 1,7 km dari hotspot

113.62 Tangkiling, Bukit 18/09/ 2014 -1.93


Batu, Palangka
Raya
113.704 Tahai, Bukit Batu, 18/09/ 2014 -2.11
Palangka Raya

113.61

Tangkiling,
Bukit Batu,
Palangka Raya
Tahai, Bukit
Batu, Palangka
Raya

TNS

TNS

113.71 Banturung, Bukit


Batu, Palangka
Raya
113.71 Banturung, Bukit
Batu, Palangka
Raya
113.33 Perigi,
Mendawai,
Katingan

24/09/ 2014 -1.89

113.51

TNS

24/09/ 2014 -2.011

113.71

Banturung,
Bukit Batu,
Palangka Raya
Banturung,
Bukit Batu,
Palangka Raya
-

TNS

TNS

Tidak ditemukan kebakaran pada lokasi


hotspot , kebakaran terjadi di lahan
masyarakat.yang berada 500 m dari hotspot
Lokasi hotspot merupakan hutan sekunder,
tidak ditemukan kebakaran pada lokasi
tersebut , kebakaran terjadi di lahan
masyarakat.yang berada 1,7 km dari hotspot
Tidak ditemukan kebakaran pada lokasi
hotspot , kebakaran terjadi di lahan
masyarakat.yang berada 800 m dari hotspot
Tidak ditemukan kebakaran pada lokasi
hotspot , kebakaran terjadi di lahan
masyarakat.yang berada 1k m dari hotspot
Kondisi S. Landabung surut/kering sehingga
lokasi hotspot tidak dapat dijangkau.

113.671

66

50

NOAA
18

24/09/
2014

-1.997

113.687 Banturung, Bukit


Batu, Palangka
Raya
113.69 Habaring
Hurung, Bukit
Batu P. Raya

25/09/ 2014 -1.987

113.626

51

NOAA
18

24/09/
2014

-2.04

52

NOAA
18

24/09/
2014

53

NOAA
18

54

Banturung,
Bukit Batu,
Palangka Raya
Habaring
Hurung, Bukit
Batu P. Raya

TNS

25/09/ 2014 -2.01

113.58

-2.127

113.727 Marang, Bukit


Batu, Palangka
Raya

25/09/ 2014 -2.114

24/09/
2014

-2.29

NOAA
18

24/09/
2014

-2.3

55

NOAA
18

24/09/
2014

-2.717

TNS

113.711

Marang, Bukit
Batu, Palangka
Raya

TNS

113.81 Kereng Bangkirai, 25/09/ 2014 -2.27


Sabangau,
Palangka Raya

113.79

TNS

113.83 Kereng Bangkirai, 25/09/ 2014 -2.32


Sabangau,
Palangka Raya

113.82

Kereng
Bangkirai,
Sabangau,
Palangka Raya
Kereng
Bangkirai,
Sabangau,
Palangka Raya

TNS

113.997 Paduran
Sebangau,
Sebangau Kuala,
P Pisau
113.625 Paduran
Sebangau,
Sebangau Kuala,
P Pisau
113.655 Paduran
Sebangau,
Sebangau Kuala,
P Pisau
113.455 Tumbang Bulan,
Mendawai,

113.817

TNS

56

NOAA
18

24/09/
2014

-2.77

TNS

Kondisi S. Sampang surut/kering sehingga


lokasi hotspot tidak dapat dijangkau.

57

NOAA
18

24/09/
2014

-2.85

TNS

Kondisi S. Sampang surut/kering sehingga


lokasi hotspot tidak dapat dijangkau.

58

NOAA
18

24/09/
2014

-2.56

TNS

Terjadi kebakaran di sebelah utara lokasi


hotspot yang berjarak 1,8 km pada kordinat

26/09/ 2014 -2.711

25/09/ 2014 -2.56

113.455

Paduran
Sebangau,
Sebangau
Kuala, P Pisau
-

Tumbang
Bulan,

Tidak ditemukan kebakaran pada lokasi


hotspot , kebakaran terjadi di lahan
masyarakat.yang berada 4 km dari hotspot
Tidak ditemukan kebakaran pada lokasi
hotspot , kebakaran terjadi di lahan
masyarakat.yang berada pada lahan usaha
transmigrasi.
Lokasi hotspot merupakan hutan sekunder,
tidak ditemukan kebakaran pada lokasi
tersebut , kebakaran terjadi di lahan
masyarakat.yang berada 1,4 km dari hotspot
Tidak ditemukan kebakaran pada lokasi
hotspot , kebakaran terjadi di lahan
masyarakat.yang berada di sekitar jalan G.
Obos yg berjarak 2 Km dari hotspot..
Lokasi hotspot merupakan hutan sekunder,
tidak ditemukan kebakaran pada lokasi
tersebut , kebakaran terjadi di lahan
masyarakat.yang berada 500 km dari
hotspot
Tidak ditemukan kebakaran pada lokasi
hotspot , kebakaran terjadi di seberang S.
Sebangau.

67

Katingan
59

NOAA
18

25/09/
2014

-2.77

113.63 Paduran
Sebangau,
Sebangau Kuala,
P Pisau
113.78 Kereng Bangkirai,
Sabangau,
Palangka Raya

60

NOAA
18

1/10/
2014

-2.37

61

NOAA
18

1/10/
2014

-2.7

114

62

NOAA
18

1/10/
2014

-2.69

113.365

63

NOAA
18

1/10/
2014

-2.37

113.45

64

NOAA
18

1/10/
2014

-2.21

113.56

65

NOAA
18

2/10/
2014

-2.007

113.698

66

NOAA
18

2/10/
2014

-2.143

113.757

67

NOAA
18

2/10/
2014

-2.18

113.76

68

NOAA
18

2/10/
2014

-2.37

113.76 Kereng Bangkirai,


Sabangau,

Paduran
Sebangau,
Sebangau Kuala,
P Pisau
Tumbang Bulan,
Mendawai,
Katingan
Jahanjang,
Kamipang,
Katingan
Asam Kumbang,
Kamipang,
Katingan
Banturung, Bukit
Batu, Palangka
Raya
Marang, Bukit
Batu, Palangka
Raya
Marang, Bukit
Batu, Palangka
Raya

Mendawai,
Katingan
-

lat :-2545 dan long :113,466


-

TNS

Kondisi S. Sampang surut/kering sehingga


lokasi hotspot tidak dapat dijangkau.

TNS

TNS

Tidak dilakukan groundcheck karena tidak


ada akses ke lokasi tersebut, terjadi kebakran
di luar kawasan TNS yang berada di seberang
S. Sebangau
Kondisi S Bangah surut/kering sehingga lokasi
hotspot tidak dapat dijangkau.

TNS

Tidak dilakukan groundcheck karena tidak


ada akses ke lokasi tersebut.

TNS

Kondisi kanal Jahanjang surut/kering sehingga


lokasi hotspot tidak dapat dijangkau.

TNS

Tidak dilakukan groundcheck karena tidak


ada akses ke lokasi tersebut.

TNS

TNS

TNS

TNS

Tidak ditemukan kebakaran pada lokasi


hotspot , kebakaran terjadi di lahan
masyarakat.
Ditemukan lokasi bekas kebakaran yang
terjadi pada bulan Agustus dan telah
dilakukan pemadaman.
Tidak ditemukan kebakaran pada lokasi
hotspot , kebakaran terjadi di lahan
masyarakat.yang berjarak 1 KM dari lokasi
hotspot.
Tidak dilakukan groundcheck karena tidak
ada akses ke lokasi tersebut.

3/10/ 2014

-2.09

4/10/ 2014

-2.143

4/10/ 2014

-2.18

113.698 Banturung,
Bukit Batu,
Palangka Raya
113.757 Marang, Bukit
Batu, Palangka
Raya
113.76 Marang, Bukit
Batu, Palangka
Raya
-

68

69

NOAA
18

2/10/
2014

-2.36

70

NOAA
18

2/10/
2014

-2.4

71

NOAA
18

2/10/
2014

-2.69

72

NOAA
18

2/10/
2014

-2.76

73

NOAA
18

2/10/
2014

-2.85

74

NOAA
18

3/10/
2014

-1.96

75

NOAA
18

3/10/
2014

-1.973

76

NOAA
18

3/10/
2014

-2

77

NOAA
18

3/10/
2014

-2.02

78

NOAA

3/10/

-2.153

113.99 Paduran
Sebangau,
Sebangau Kuala,
P Pisau
113.95 Paduran
Sebangau,
Sebangau Kuala,
P Pisau
114.06 Paduran
Sebangau,
Sebangau Kuala,
P Pisau
113.63 Paduran
Sebangau,
Sebangau Kuala,
P Pisau
113.67 Paduran
Sebangau,
Sebangau Kuala,
P Pisau
113.615 Tangkiling, Bukit
Batu, Palangka
Raya
113.687 Tangkiling, Bukit
Batu, Palangka
Raya

3/10/ 2014

113.977 Paduran
Sebangau,
Sebangau
Kuala, P Pisau
-

TNS

Tidak ditemukan kebakaran pada lokasi


hotspot , kebakaran terjadi di seberang S.
Sebangau

TNS

Kondisi S. Bakung surut/kering sehingga lokasi


hotspot tidak dapat dijangkau.

-2.71

114.17

TNS

Tidak ditemukan kebakaran pada lokasi


hotspot , kebakaran terjadi di seberang S.
Sebangau

TNS

Kondisi S. Sampang surut/kering sehingga


lokasi hotspot tidak dapat dijangkau.

TNS

Kondisi S. Sampang surut/kering sehingga


lokasi hotspot tidak dapat dijangkau.

TNS

Tidak dilakukan groundcheck karena tidak


ada akses ke lokasi tersebut.
Tidak ditemukan kebakaran pada lokasi
hotspot , kebakaran terjadi di lahan
masyarakat.yang berjarak 1 KM dari lokasi
hotspot.
Tidak ditemukan kebakaran pada lokasi
hotspot , kebakaran terjadi di lahan
masyarakat.yang berjarak 1 KM dari lokasi
hotspot.
Tidak ditemukan kebakaran pada lokasi
hotspot , kebakaran terjadi di lahan
masyarakat. berjarak 1,5 KM dari hotspot
Tidak ditemukan kebakaran pada lokasi

3/10/ 2014

-2.387

Paduran
Sebangau,
Sebangau
Kuala, P Pisau
-

4/10/ 2014

-1.968

113.617 Tangkiling,
Bukit Batu,
Palangka Raya

TNS

113.68 Banturung, Bukit


Batu, Palangka
Raya

5/10/ 2014

-2,12

113.58

Banturung,
Bukit Batu,
Palangka Raya

TNS

113.68 Banturung, Bukit


Batu, Palangka
Raya
113.747 Marang, Bukit

5/10/ 2014

-2.02

113.68

TNS

5/10/ 2014

-2.153

Banturung,
Bukit Batu,
Palangka Raya
113.747 Marang, Bukit

TNS

69

18

2014

79

NOAA
18

3/10/
2014

-2.19

113.75 Marang, Bukit


Batu, Palangka
Raya

80

NOAA
18

3/10/
2014

-2.765

81

NOAA
18

3/10/
2014

-2.2

82

NOAA
18

4/10/
2014

-2.2

113.625 Paduran
Sebangau,
Sebangau Kuala,
P Pisau
113.565 Asam Kumbang,
Kamipang,
Katingan
113.75 Marang, Bukit
Batu, Palangka
Raya

83

NOAA
18

8/10/
2014

-2.28

84

NOAA
18

9/10/
2014

-2.37

113.8

85

NOAA
18

9/10/
2014

-2.57

113.38

86

NOAA
18

9/10/
2014

-2.25

113.56

87

NOAA
18
NOAA
18

9/10/
2014
10/10/
2014

-2.18

113.57

-2.38

113.785

88

Batu, Palangka
Raya

Batu, Palangka
Raya
-2.19

113.75

Marang, Bukit
Batu, Palangka
Raya

TNS

TNS

TNS

Kondisi S. Kamipang surut/kering sehingga


lokasi hotspot tidak dapat dijangkau.

6/10/ 2014

-2.22

113.79

Marang, Bukit
Batu, Palangka
Raya

TNS

113.805 Kereng Bangkirai, 9/10/ 2014


Sabangau,
Palangka Raya

-2.268

113.81

TNS

Kereng
Bangkirai,
Sabangau,
Palangka Raya
-

TNS

Tidak ditemukan kebakaran pada lokasi


hotspot , kebakaran terjadi di lahan
masyarakat.yang berjarak 1,3 KM dari lokasi
hotspot.
Tidak ditemukan kebakaran pada lokasi
hotspot , kebakaran terjadi di lahan
masyarakat.yang berada di sekitar jalan G.
Obos yg berjarak 2 Km dari hotspot..
Tidak dilakukan groundcheck karena tidak
ada akses kelokasi tersebut

TNS

Tidak dilakukan groundcheck karena tidak


ada akses kelokasi tersebut

11/10/ 2014

-2.57

TNS

TNS

TNS

Groundcheck hanya bisa dilakukan sampai


dengan Danau Jalan Pangen karena tidak ada
akses untuk menuju ke lokasi hotspot.
Kondisi S. Kamipang surut/kering sehingga
lokasi hotspot tidak dapat dijangkau.
Tidak dilakukan groundcheck karena tidak
ada akses kelokasi tersebut

Sabaru,
Sabangau,
Palangka Raya
Galinggang,
Mendawai,
Katingan
Baun Bango,
Kamipang,
Katingan
Asam Kumbang,
Kamipang,
Sabaru,
Sabangau,

5/10/ 2014

hotspot , kebakaran terjadi di lahan


masyarakat.yang berjarak 2,5 KM dari lokasi
hotspot.
Tidak ditemukan kebakaran pada lokasi
hotspot , kebakaran terjadi di lahan
masyarakat.yang berjarak 1,7 KM dari lokasi
hotspot.
Kondisi S. Sampang surut/kering sehingga
lokasi hotspot tidak dapat dijangkau.

113.508 Baun Bango,


Kamipang,
Katingan
-

70

89

NOAA
18

10/10/
2014

-2.78

90

NOAA
18

11/10/
2014

-2.55

91

NOAA
18

11/10/
2014

-2.352

92

NOAA
18

11/10/
2014

-2.23

93

NOAA
18

11/10/
2014

-2.24

94

NOAA
18

12/10/
2014

-2.39

95

NOAA
18

18/10/
2014

-2.405

96

NOAA
18

19/10/
2014

-2.404

97

NOAA
18

27/10/
2014

-2.542

98

NOAA
18
NOAA
18

28/10/
2014
28/10/
2014

-2.205

99

-2.97

Palangka Raya
113.36 Perigi,
Mendawai,
Katingan
113.375 Galinggang,
Mendawai,
Katingan
113.78 Sabaru,
Sabangau,
Palangka Raya
113.55 Baun Bango,
Kamipang,
Katingan
113.68 Baun Bango,
Kamipang,
Katingan
113.755 Sabaru,
Sabangau,
Palangka Raya
113.8 Paduran
Sebangau,
Sebangau Kuala,
P Pisau
113.776 Paduran
Sebangau,
Sebangau Kuala,
P Pisau
113.375 Galinggang,
Mendawai,
Katingan
113.56 Asam Kumbang,
Kamipang,
113.32 Mekartani,
Mendawai,
Katingan

TNS

Kondisi S. Landabung surut/kering sehingga


lokasi hotspot tidak dapat dijangkau.

TNS

Tidak dilakukan groundcheck karena tidak


ada akses kelokasi tersebut

TNS

Tidak dilakukan groundcheck karena tidak


ada akses kelokasi tersebut

13/10/ 2014

-2.234

TNS

TNS

Groundcheck hanya bisa dilakukan sampai


dengan Danau Jalan Pangen karena tidak ada
akses untuk menuju ke lokasi hotspot.
Tidak dilakukan groundcheck karena tidak
ada akses kelokasi tersebut

TNS

Tidak dilakukan groundcheck karena tidak


ada akses kelokasi tersebut

TNS

Tidak dilakukan groundcheck karena tidak


ada akses kelokasi tersebut

TNS

Tidak dilakukan groundcheck karena tidak


ada akses kelokasi tersebut

TNS

Tidak dilakukan groundcheck karena tidak


ada akses kelokasi tersebut

TNS

29/10/ 2014

-2.97

113.32

TNS

Kondisi S. Kamipang surut/kering sehingga


lokasi hotspot tidak dapat dijangkau.
Terjadi kebakaran di lahan masyarakat yang
berjarak 1 km dari lokasi hotspot

113.511 Baun Bango,


Kamipang,
Katingan
-

Mekartani,
Mendawai,
Katingan

71

100

NOAA
18

29/10/
2014

-2.97

113.32 Mekartani,
Mendawai,
Katingan
113.325 Perigi,
Mendawai,
Katingan
113.392 Tumbang Bulan,
Mendawai,
Katingan

30/10/ 2014

-2.97

113.32

101

NOAA
18

29/10/
2014

-2.78

102

NOAA
18

1/11/
2014

-2.644

103

NOAA
18

3/11/
2014

104

NOAA
18

3/11/ 2014

-2.644

-2.6

113.385 Tumbang Bulan,


Mendawai,
Katingan

4/11/ 2014

-2.59

6/11/
2014

-2.52

NOAA
18

6/11/
2014

-2.615

113.63 Tumbang Bulan,


Mendawai,
Katingan
113.4 Tumbang Bulan,
Mendawai,
Katingan

105

106

NOAA
18

8/11/
2014

-2.39

107

NOAA
18

9/11/
2014

-2.422

113.795 Sabaru,
Sabangau,
Palangka Raya
113.717 Paduran
Sebangau,
Sebangau Kuala,
P Pisau

8/11/ 2014

Mekartani,
Mendawai,
Katingan
-

TNS

Terjadi kebakaran di lahan masyarakat yang


berjarak 1 km dari lokasi hotspot

TNS

Kondisi S. Landabung surut/kering sehingga


lokasi hotspot tidak dapat dijangkau.

113.392 Tumbang
Bulan,
Mendawai,
Katingan
113.31 Tumbang
Bulan,
Mendawai,
Katingan
-

TNS

Terjadi kebakaran di pinggiran S. Bulan dan S.


Musang pada area terbuka yang sudah
padam saat groundcheck

TNS

Tidak ditemukan kebakaran pada lokasi


hotspot . Kebakaran terjadi di luar kawasan
TN Sebangau.

TNS

Kondisi SBandat surut/kering sehingga lokasi


hotspot tidak dapat dijangkau.

TNS

Terjadi kebakaran di pinggiran S. Bulan pada


area terbuka yang sudah padam saat
digroundcheck

TNS

Tidak dilakukan groundcheck karena tidak


ada akses ke lokasi tsb.

TNS

Tidak dilakukan groundcheck karena tidak


ada akses ke lokasi tsb.

-2.615

113.4

Sumber : Evlap BTNS (Surat Kepala Balai TNS nomor: S.38/BTNS-1/PH/2015)

Tumbang
Bulan,
Mendawai,
Katingan
-

72

Lampiran 4 Rekapitulasi pengukuran luas kebakaran hutan kawasan Taman Nasional Sebangau tahun 2014
I. SPTN WILAYAH I
No
Tanggal Pengukuran
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11

5 s.d. 15 September 2014


5 s.d. 15 September 2014
11 s.d. 15 September 2014
12 s.d. 15 September 2014
13 s.d. 15 September 2014
14 s.d. 15 September 2014
15 s.d. 15 September 2014
18 s.d. 24 November 2014
19 s.d. 24 November 2014
20 s.d. 24 November 2014

Koordinat

Tangkiling - Resort Habaring Hurung


Tangkiling - Resort Habaring Hurung
Banturung - Resort Habaring Hurung
Banturung - Resort Habaring Hurung
Banturung - Resort Habaring Hurung
Banturung - Resort Habaring Hurung
Banturung - Resort Habaring Hurung
Bukit Tunggal Resort Habaring Hurung
Marang Resort Habaring Hurung
Kereng Bengkirai 1 Resort Sebangau
Hulu
21 s.d. 24 November 2014
X : 113.840262
Y : -2.302401
Kereng Bengkirai 2 Resort Sebangau
Hulu
TOTAL LUAS AREAL TERBAKAR DI SPTN WILAYAH I

II. SPTN WILAYAH II


No
Tanggal Pengukuran
1
10 s.d. 17 November 2014
2
11 s.d. 17 November 2014
3
11 s.d. 17 November 2014
4
12 s.d. 17 November 2014
5
10 s.d. 17 November 2014

X : 113.640552
X : 113.640857
X : 113.706596
X : 113.707921
X : 113.706714
X : 113.704443
X : 113.716007
X : 113.767946
X : 113.71600
X : 113.838176

Lokasi Kejadian

Y : -1.963295
Y : -1.958907
Y : -2.012184
Y : -2.006057
Y : -2.006105
Y : -2.001752
Y : -2.012184
Y : -2.142517
Y : -2.097214
Y : -2.299949

Koordinat
X : 114.004
Y : -2.706
X : 114.048
Y : -2.685
X : 114.015
Y : -2.693
X : 114.042
Y : -2.643
X : 113.636
Y : -2.778

Lokasi Kejadian
Sungai Bangah Resort Bangah
Sungai Bangah Resort Bangah
Sungai Bangah Resort Bangah
Sungai Mangkok Resort Mangkok
Sungai Sampang Resort Sebangau
Kuala
TOTAL LUAS AREAL TERBAKAR DI SPTN WILAYAH II

Luas Kebakaran (Ha)


29.61
14.98
2.25
5.87
9.83
5.06
2.25
75.55
13.62
12.51
11.03
182.56

Luas Kebakaran (Ha)


124
510
112
150
1253.18
2148.18

73

III. SPTN WILAYAH III


No
Tanggal Pengukuran
1
3 s.d. 12 September 2014

Koordinat
X : 113.501
Y : -2.528

Lokasi Kejadian
Sungai Bulan - Resort Muara Bulan

Luas Kebakaran (Ha)


88.97

27 September 2014

X : 113.467

Y : -2.544

Sungai Bulan - Resort Muara Bulan

55.62

11 November 2014

X : 113.244598

Y : -2.384661

Sungai Bulan - Resort Muara Bulan

1291

25 November s.d. 1 Desember


2014
26 November s.d. 1 Desember
2014
27 November s.d. 1 Desember
2014
28 November s.d. 1 Desember
2014
29 November s.d. 1 Desember
2014
30 November s.d. 1 Desember
2014
30 November s.d. 1 Desember
2014
30 November s.d. 1 Desember
2014
30 November s.d. 1 Desember
2014
18 s.d. 24 Desember 2014

X : 113.211150

Y : -2.462968

Sungai Landabung - Resort Muara Bulan

40.15

X : 113.213402

Y : -2.455215

Sungai Landabung - Resort Muara Bulan

27.88

X : 113.213883

Y : -2.455687

Sungai Landabung - Resort Muara Bulan

18.25

X : 113.214226

Y : -2.464703

Sungai Landabung - Resort Muara Bulan

30.10

X : 113.211150

Y : -2.462972

Kanal Bukit Kaki Resort Mendawai

80.50

X : 113.211150

Y : -2.462973

Kanal Bukit Kaki Resort Mendawai

90.39

X : 113.211150

Y : -2.462974

Kanal Bukit Kaki Resort Mendawai

64.12

X : 113.211150

Y : -2.462975

Kanal Bukit Kaki Resort Mendawai

21.11

X : 113.211150

Y : -2.462976

Sungai Lewang Resort Muara Bulan

34.90

X : 113.211150

Y : -2462977

Kanal Bukit Kaki Resort Mendawai

193

5
6
7
8
9
10
11
12
13

TOTAL LUAS AREAL TERBAKAR DI SPTN WILAYAH III


TOTAL LUAS AREAL TERBAKAR DI KAWASAN TN SEBANGAU TAHUN 2014 ( I+II+III)
Sumber : Evlap BTNS (Surat Kepala Balai TNS nomor: S.38/BTNS-1/PH/2015)

2035.74
4364.24

74