Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH

STRUKTUR BETON PRATEGANG


Ruang Lingkup & Aplikasi Beton Prategang
(Prestressed Concrete)

Disusun oleh :
Didik Sulistya Hadi

NPM 13.11.1001.7311.062

KELAS F (Genap Malam)


SEMESTER VII

UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945 SAMARINDA


FAKULTAS TEKNIK

JURUSAN TEKNIK SIPIL


SAMARINDA
2016
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena hanya atas rahmat
dan petunjuk-Nya saya dapat menyelesaikan penulisan makalah serta penjelasan materi yang
telah lama saya himpun dari berbagai narasumber. Kami menyajikan sebuah materi berbentuk
makalah yang berjudul "Ruang Lingkup & Aplikasi Beton Prategang".
Sumber dari makalah ini berupa buku-buku yang mempelajari materi struktur beton
prategang, selain itu kemudian kami mendapat pelajaran melalui browsing di internet
referensi

buku

dan

sumber-sumber

lainnya.

Diantara sumber-sumber tersebut saya susun, semua informasi dan fakta yang sesuai dengan
karya tulis ini, sehingga menurut saya data-data di dalam paper ini sudah cukup akurat.
Dalam penulisan makalah ini pastilah ada banyak kendala yang saya temui namun saya
berhasil menghadapinya berkat dorongan serta motifasi dari kerabat teman dan dosen kami,
sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini tepat waktu.
Akhir kata jika ada sesuatu pada khususnya kata-kata yang tidak berkenan pada hati pembaca
mohon dimaklumi dan kami memohon maaf yang setulus-tulusnya, dan ini makalah yang
dapat kami sajikan, Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca.

Samarinda, 01 Oktober 2016

Didik Sulistya Hadi

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.

DAFTAR ISI....

ii

I.

II.

III.

PENDAHULUAN.

I.1 Pengertian beton prategang..........

I.2 Latar belakang sejarah.........

RUANG LINGKUP.

II.1Definisi beton prategang..........

II.2Material beton prategang.........

APLIKASI....

12

III.1
IV.

Pengaplikasian pada bangunan

DAFTAR PUSTAKA..

12
17

ii
I . PENDAHULUAN

1.1

PENGERTIAN BETON PRATEGANG

Prategang berarti tegangan yang bekerja sekalipun tidak ada beban yang bekerja, baik
beban mati atau beban hidup. Sehingga beton prategangan atau pratekan dapat didefenisikan
sebagai suatu sistem struktur beton yang bekerja secara khusus dengan jalan diberikan
tegangan awal tertentu sebelum memikul beban luar. Tujuan pemberian tegangan awal
tersebut adalah untuk menimbulkan tegangan awal tekan beton pada lokasi dimana nantinya
akan terjadi tegangan tarik pada saat konstruksi memikul beban luar. Sehingga diharapkan
pada saat tegangan tarik terjadi, tegangan tarik tersebut dapat berkurang atau bahkan hilang
sama sekali karena direduksi oleh tegangan pratekan. Hal ini dapat terjadi karena secara
umum dapat dikatakan bahwa logika kerja prategang adalah penjumlahan tegangantegangan dengan tanda yang berlawanan.

Teknis pemberian tegangan awal ini adalah dengan jalan memberikan tendon/kabel
baja yang ditegangakan dengan jalan ditarik sebelum dicor/ dicetak. Pemasangan tendon
diletakkan dengan suatu eksentrisitas tertentu terhadap titik erat/garis netral penamang.
Setelah pengecoran selesai, penarikan tendon dilepas sehingga menimbulkan tegangan tekan
pada daerah tarik. Tegangan tekan inilah yang akan melawan tegangan tarik yang timbul pada
saat struktur tersebut menerima beban. Tetapi perlu diingat bahwa pemberian tendon bukan
berarti meniadakan pemakaian tulangan baja. Tetapi tulangan baja tetap dibutuhkan namun
dalam jumlah yang lebih sedikit dibandingkan beton bertulang biasa.
1.2

LATAR BELAKANG SEJARAH


Beton adalah suatu bahan yang mempunyai kekuatan yang tinggi terhadap tekan,

tetapi sebaliknya mempunyai kekuatan relative sangat rendah terhadap tarik.Beton tidak
selamanya bekerja secara efektif didalam penampang-penampang struktur beton bertulang,
hanya bagian tertekan saja yang efektif bekerja, sedangkan bagian beton yang retak dibagian
yang tertarik tidak bekerja efektif dan hanya merupakan beban mati yang tidak bermanfaat.
Hal inilah yang menyebabkan tidak dapatnya diciptakan srtuktur-struktur beton bertulang
dengan bentang yang panjang secara ekonomis, karena terlalu banyak beban mati yang tidak
efektif.
2

Disampimg itu, retak-retak disekitar baja tulangan bisa berbahaya bagi struktur karena
merupakan tempat meresapnya air dan udara luar kedalam baja tulangan sehingga terjadi
karatan. Putusnya baja tulangan akibat karatan fatal akibatnya bagi struktur.
Dengan kekurangan-kekurangan yang dirasakan pada struktur beton bertulang seperti
diuraikan diatas, timbullah gagasan untuk menggunakan kombinasi-kombinasi bahan beton
secara lain, yaitu dengan memberikan pratekanan pada beton melalui kabel baja (tendon) yang
ditarik atau biasa disebut beton pratekan. Beton pratekan pertama kali ditemukan oleh Eugene
Freyssinet seorang insinyur Perancis. Ia mengemukakan bahwa untuk mengatasi
rangkak,relaksasi dan slip pada jangkar kawat atau pada kabel maka digunakan beton dan baja
yang bermutu tinggi. Disamping itu ia juga telah menciptakan suatu system panjang kawat
dan system penarikan yang baik, yang hingga kini masih dipakai dan terkenal dengan
system Freyssinet.
Dengan demikian, Freyssinet telah berhasil menciptakan suatu jenis struktur baru
sebagai tandingan dari strktur beton bertulang. Karena penampang beton tidak pernah tertarik,
maka seluruh beban dapat dimanfaatkan seluruhnya dan dengan system ini dimungkinkanlah
penciptaan struktur-struktur yang langsing dan bentang-bentang yang panjang. Beton pratekan
untuk pertama kalinya dilaksanakan besar-besaran dengan sukses oleh Freyssinet pada tahun
1933 di Gare Maritime pelabuhan LeHavre (Perancis). Freyssenet sebagai bapak beton
pratekan segera diikuti jejaknya oleh para ahli lain dalam mengembangkan lebih lanjut jenis
struktur ini,seperti:
a). Yves Gunyon
Yves Gunyon adalah seorang insinyur Perancis dan telah menerbitkan buku
Masterpiecenya Beton precontraint (2 jilid) pada tahun 1951. Beliau memecahkan
kesulitan dalam segi perhitungan struktur dari beton pratekan yang diakibatkan oleh gayagaya tambahan disebabkan oleh pembesian pratekan pada struktur yang mana dijuluki sebagai
Gaya Parasit maka Guyon dianggap sebagai yang memberikan dasar dan latar belakang
ilmiah dari beton pratekan.

b). T.Y. Lin


T.Y. Lin adalah seorang insinyur kelahiran Taiwan yang merupakan guru besar
di California University, Merkovoy. Keberhasilan beliau yaitu mampu memperhitungkan
gaya-gaya parasit yang tejadi pada struktur. Ia mengemukakan teorinya pada tahun 1963
tentang Load Balancing. Dengan cara ini kawat atau kabel prategang diberi bentuk dan
gaya yang sedemikian rupa sehingga sebagian dari beban rencana yang telah datetapkan dapat
diimbangi seutuhnya pada beban seimbang ini. Didalam struktur tidak terjadi lendutan dan
karenanya tidak bekerja momen lentur apapun, sedangkan tegangan beton pada penampang
struktur bekerja merata.
Beban-beban lain diluar beban seimbang (beban vertikal dan horizontal) merupakan
inbalanced load, yang akibatnya pada struktur dapat dihitung dengan mudah dengan
menggunakan teori struktur biasa. Tegangan akhir dalam penampang didapat dengan
menggunakan tegangan merata akibat balanced dan tegangan lentur akibat unbalanced
load. Tanpa melalui prosedur rumit dapat dihitung dengan mudah dan cepat. Gagasan ini
telah menjurus kepada pemakaian baja tulangan biasa disamping baja prategang, yaitu dimana
baja prategang hanya diperuntukkan guna memikul akibat dari inbalanced load.
Teori inbalanced load telah mengakibatkan perkembangan yang sangat pesat dalam
menggunakan beton pratekan dalam gedung-gedung bertingkat tinggi. Struktur flat slab,
struktur shell, dan lain-lain. Terutama di Amerika dewasa ini boleh dikatakan tidak ada
gedung bertingkat yang tidak menggunakan beton pratekan didalam strukturnya.
T.Y. Lin juga telah berhasil membuktikan bahwa beton pratekan dapat dipakai dengan
aman dalam bangunan-bangunan didaerah gempa, setelah sebelumnya beton pratekan
dianggap sebagai bahan yang kurang kenyal (ductile) untuk dipakai didaerah-daerah gempa,
tetapi dikombinasikan dengan tulangan baja biasa ternyata beton pratekan cukup kenyal,
sehingga dapat memikul dengan baik perubahan-perubahan bentuk yang diakibatkan oleh
gempa.
c). P.W. Abeles
P.W. Abeles adalah seorang insinyur Inggris, yang sangat gigih mendongkrak aliran
full prestressing, karena penggunaanya tidak kompetitif terhadap penggunaan beton
bertulang biasa dengan menggunakan baja tulangan mutu tinggi.

Penggunaan full prestressing ini tidak ekonomis, menurut berbagai penelitian biaya
struktur dengan beton pratekan dan full prestressing dapat sampai 3,5 atau 4 kali lebih mahal
dari pada struktur yang sama tetapi dari beton bertulang biasa dengan menggunakan tulangan
baja mutu tinggi.
Dengan demikian timbullah gagasan baru yang dikemukakan oleh P.W. Abeles untuk
mengkombinasikan prinsip pratekan dengan prinsip penulangan penampang atau dikenal
dengan nama partial prestressing. Yang mana didalam penampang diijinkan diadakannya
bagi tulangan, lebar retak dapat dikombinasikan dengan baik.
Partial prestressing telah disetujui oleh Chief Engineers Departement untuk
digunakan pada jembatan-jembatan kereta api di Inggris, dimana tegangan tarik boleh terjadi
sampai 45 kg/cm2 dengan lebar retak yang dikendalikan dengan memasang baja tulangan
biasa. Freyssinet sendiri menjelang akhir karirnya telah mengakui juga bahwa partial
prestressing mengembangkan struktur-struktur tertentu.
II. RUANG LINGKUP
2.1

DEFINISI BETON PRATEGANG

Definisi beton prategang menurut beberapa peraturan adalah sebagai berikut:


a. Menurut PBI 1971
Beton prategang adalah beton bertulang dimana telah ditimbulkan tegangan-tegangan intern
dengan nilai dan pembagian yang sedemikian rupa hingga tegangan-tegangan akibat betonbeton dapat dinetralkan sampai suatu taraf yang diinginkan.
b. Menurut Draft Konsensus Pedoman Beton 1998
Beton prategang adalah beton bertulang dimana telah diberikan tegangan dalam untuk
mengurangi tegangan tarik potensial dalam beton akibat pemberian beban yang bekerja.
c. Menurut ACI
Beton prategang adalah beton yang mengalami tegangan internal dengan besar dan distribusi
sedemikian rupa sehingga dapat mengimbangi sampai batas tertentu tegangan yang terjadi
akibat beban eksternal.
Dapat ditambahkan bahwa beton prategang, dalam arti seluas-luasnya, dapat juga termasuk
keadaan (kasus) dimana tegangan-tegangan yang diakibatkan oleh regangan-regangan internal
diimbangi sampai batas tertentu, seperti pada konstruksi yang melengkung (busur). Tetapi
dalam tulisan ini pembahasannya dibatasi dengan beton prategang yang memakai tulangan
baja yang ditarik dan dikenal sebagai tendon.
Beton prategang pada dasarnya adalah beton di mana tegangan-tegangan internal dengan
besar serta distribusi yang sesuai diberikan sedemikian rupa sehingga tegangan-tegangan yang
diakibatkan oleh beban-beban luar dilawan sampai suatu tingkat yang diinginkan. Pada batang
beton bertulang, prategang pada umumnya diberikan dengan menarik baja tulangannya.

Kekuatan tarik beton polos hanyalah merupakan suatu fraksi saja dari kekuatan tekannya
dan masalah kurang sempurnanya kekuatan tarik ini ternyata menjadi faktor pendorong dalam
pengembangan material komposit yang dikenal sebagai beton bertulang.
Timbulnya retak-retak awal pada beton bertulang yang disebabkan oleh ketidakcocokan (non
compatibility) dalam regangan-regangan baja dan beton barangkali merupakan titik awal
dikembangkannya suatu material baru seperti beton prategang. Penerapan tegangan tekan
permanen pada suatu material seperti beton, yang kuat menahan tekanan tetapi lemah dalam
menahan tarikan, akan meningkatkan kekuatan tarik yang nyata dari material tersebut, sebab
penerapan tegangan tarik yang berikutnya pertama-tama harus meniadakan prategang
tekanan. Dalam tahun 1904, Freyssinet mencoba memasukkan gaya-gaya yang bekerja secara
permanen pada beton untuk melawan gaya-gaya elastik yang ditimbulkan oleh beban dan
gagasan ini kemudian telah dikembangkan dengan sebutan prategang.
Beton prategang adalah beton yang didalamnya terdapat kawat baja yang diberi
tegangan dahulu dengan cara ditarik terus stelah itu di cor dan dipasang.Beton prategang
sangat baik untuk digunakan pada bangunan tingkat tinggi karena memiliki kuat tarik dan
tekan sama baiknya dan dibanding beton biasa beton memilki kadar usia yang panjang.Beton
ini memakai baja mutu tinggi sehingga dalam pembuatannya juga memakan cost yang tidak
sedikit.
2.2

MATERIAL BETON PRATEGANG

a. Beton
Beton berkekuatan tinggi adalah perlu di dalam beton prategang oleh karena materialnya
memberikan tahanan yang tinggi dalam tegangan tarik, geser, pengikatan dan dukungan.
Dalam daerah angker, yang tegangan-tegangan dukungnya menjadi lebih tinggi, beton
berkekuatan tinggi selalu lebih disukai untuk menghindarkan pengangkuran yang khusus,
sehingga dapat memperkecil biaya.
Pada beton prategang penting untuk mengetahui diagram tegangan-regangan untuk
memperkirakan kehilangan gaya prategang dan juga untuk analisis penampang.
Untuk lebih memahami sifat-sifat dan karakteristik dari beton mutu tinggi, pembaca
hendaknya mempelajari dari peraturan-peraturan tentang beton yang berlaku.
b. Baja
Baja mutu tinggi merupakan bahan yang umum untuk menghasilkan gaya prategang dan
mensuplai gaya tarik pada beton prategang. Yang menjadi penting juga dalam baja prategang
adalah diagram tegangan-regangannya. Diagram tegangan-regangan baja prategang (mutu
tinggi) berbeda dengan baja beton biasa
Pada baja prategang diagram tegangan regangannya tidak tetap, tergantung dari
diameter baja dan bentuknya. Sedangkan pada baja biasa, mempunyai diagram teganganregangan yang tetap untuk setiap diameter.
Beton, khususnya beton mutu tinggi, adalah komponen utama dari semua elemen beton
prategang. Dengan demikian, kekuatan dan daya tahan jangka panjang beton prategang harus
diperoleh dengan menggunakan jaminan kualitas dan kontrol kualitas yang memadai pada
tahap produksinya. Kekuatan tekan kubus 28 hari minimum yang ditentukan di dalam
peraturan I.S. adalah 40 N/mm2 untuk batang pratarik dan 30 N/mm2 untuk batang
pascatarik.
8

Perbandingan standar kekuatan silinder terhadap kekuatan kubus dianggap sebesar 0,8
bila tidak tersedia data percobaan yang relevan. Kadar semen minimum sebesar 300 sampai
360 kg/m3 telah ditetapkan terutama untuk memenuhi persyaratan daya tahan. Untuk
mengamankan terhadap susut yang berlebihan, peraturan B.S. menetapkan bahwa kadar
semen dalam campuran sebaiknya tidak melebihi 530 kg/m3. Tegangan beton sesaat sesudah
penyaluran gaya prategang (sebelum terjadinya kehilangan tegangan sebagai fungsi waktu)
tidak boleh melampaui nilai sebagai berikut :
1. Tegangan serat tekan terluar 0,6 fci
2. Tegangan serat tarik terluar ci f '
3. Tegangan serat tarik terluar pada ujung-ujung komponen struktur di atas perletakan
sederhana ci f '
Bila tegangan tarik terhitung melampaui nilai tersebut diatas, maka harus dipasang tulangan
tambahan (non-prategang atau prategang) dalam daerah tarik untuk memikul gaya tarik total
dalam beton, yang dihitung berdasarkan asumsi suatu penampang utuh yang belum retak.
Tegangan beton pada kondisi beban layan (sesudah memperhitungkan semua kehilangan
prategang yang mungkin terjadi) tidak boleh melampaui nilai berikut:
1. Tegangan serat tekan terluar akibat pengaruh prategang, beban mati dan beban hidup tetap
0,45fc
2. Tegangan serat tekan terluar akibat pengaruh prategang, beban mati dan beban hidup total
0,65fc
3. Tegangan serat tarik terluar dalam daerah tarik yang ada pada awalnya mengalami tekan c f
'

Karena kurva tegangan-regangan yang terlihat dalam Gambar 2.1 berbantuk kurvilinier
pada taraf pembebanan yang sangat awal, maka modulus elastisitas Young dapat diterapkan
hanya pada tangen dari kurva di titik asal. Kemiringan garis lurus yang menghubungkan titik
asal dengan tegangan tertentu (sekitar 0,4 fc) merupakan modulus elastisitas tekan beton.
Nilai ini, yang disebut modulus elastisitas dalam perhitungan desain, memenuhi asumsi
praktis bahwa regangan yang terjadi selama pembebanan pada dasarnya dapat dianggap
elastic (dapat pulih kembali seluruhnya jika belum dihilangkan), dan bahwa regangan
selanjutnya akibat bekerjanya beban disebut rangkak. Untuk nilai wc diantara 1500 kg/m3 dan
2500 kg/m3, nilai modulus elastisitas beton Ec dapat diambil sebesar (wc)1,50,043 c f '
(dalam Mpa). Untuk beton normal Ec dapat diambil sebesar (4700) c f ' .
Karena pada umumnya pemberian tegangan pada suatu elemen dilakukan sebelum beton
kekuatan 28 hari, perlu ditentukan kuat tekan beton fci pada taraf prategang, begitu pula
modulus beton Ec pada bebagai taraf riwayat pembebanan elemen tersebut. Rumus umum
untuk menghitung kuat tekan sebagai fungsi dari waktu adalah
Di mana fc = kuat tekan 28 hari
t = waktu (hari)
= faktor yang bergantung pada tipe semen dan kondisi perawatan = 4,00 untuk semen tipe I
yang dirawat basah dan 2,30 untuk semen tipe III yang dirawat basah = 1,00 untuk semen tipe
I yang dirawat uap dan 2,30 untuk semen tipe III yang dirawat uap
= faktor yang bergantung pada parameter-parameter yang sama dengan , dengan nilai
masing-masing 0,85; 0,92; 0,95 dan 0,98
Dengan demikian, untuk semen tipe I yang dirawat basah,
Rangkak, atau aliran material lateral, adalah peningkatan regangan terhadap waktu akibat
beban yang terus menerus bekerja. Deformasi awal akibat beban adalah regangan elastis,
sementara regangan tambahan akibat beban awal yang sama yang terus bekerja adalah
regangan rangkak. mengilustrasikan pertambahan regangan rangkak terhadap waktu, dan
seperti pada kasus susut, terlihat bahwa laju rangkak berkurang terhadap waktu.
10

Rangkak tidak dapat diamati secara langsung dan hanya dapat ditentukan dengan
mengurangkan regangan elastis dan regangan susut dari deformasi total. Meskipun susut dan
rangkak merupakan fenomena yang tidak independen, dapat diasumsikan bahwa superposisi
regangan berlaku, sehingga Regangan total (t) = regangan elastis (e) + rangkak (c) +
susut (sh).
Pada dasarnya, ada dua jenis susut: susut plastis dan susut pengeringan. Susut plastis terjadi
selama beberapa jam pertama sesudah pengecoran beton segar di cetakan. Susut pengeringan
terjadi sesudah beton mongering dan sebagian besar proses hidrasi kimiawi di pasta semen
telah terjadi. Gambar 2.3 menunjukkan peningkatan regangan susut sh terhadap waktu.
Kelajuannya berkurang terhadap waktu karena beton yang lebih tua lebih tahan terhadap
tengangan dan ini berarti beton tersebut mengalami lebih sedikit susut, sedemikian sehingga
regangan susut menjadi hamir asimtotis terhadap waktu.

11

Beberapa faktor yang mempengaruhi besarnya susut pengeringan adalah:


1. Agregat. Agregat beraksi menahan susut pasta semen. Beton dengan modulus elastisitas
tinggi atau dengan permukaan kasar lebih dapat menahan proses susut.
2. Rasio air/semen. Semakin tinggi rasio air/semen, semakin tinggi pula efek susut.
3. Ukuran elemen beton. Baik laju maupun besar total susut berkurang apabila volume elemen
beton semakin besar. Namun, durasi susut akan lebih lama untuk komponen struktur yang
lebih besar karena lebih banya waktu yang dibutuhkan dalam pengeringan untuk mencapai
daerah dalam.
4. Kondisi kelembaban di sekitar. Kelembaban relatif pada lingkungan sekitar sangat
mempengaruhi besarnya susut. Temperatur lingkungan juga merupakan faktor.
5. Banyaknya penulangan. Beton bertulang menyusut lebih sedikit dibandingkan dengan
beton polos.
6. Bahan tambahan. Efek ini bervariasi bergantung pada jenis bahan tambahan.
7. Jenis semen. Semen yang cepat mongering akan susut lebih banyak dibandingkan jenisjenis lainnya.
8. Karbonasi. Susut karbonasi disebabkan oleh reaksi antara karbondioksida (CO2) yang ada
di atmosfir dan yang ada di pasta semen.

III. APLIKASI
3.1

PENGAPLIKASIAN PADA BANGUNAN


Penggunaan sistem prategang pada elemen struktural linier adalah dengan

memberikan gaya konsentris atau eksentris dalam arah longitudinal. Gaya ini mencegah
berkembangnya retak dengan cara mengeliminasi atau sangat mengurangi tegangan tarik di
bagian tumpuan dan daerah kritis pada kondisi beban kerja, sehingga dapat meningkatkan
kapasitas lentur, geser, dan torsional penampang tersebut.

12

Selain itu, pemberian tegangan (stressing) juga digunakan pada cerobong reaktor
nuklir, pipa, dan tangki cairan, yang pada dasarnya mengikuti prinsip-prinsip dasar yang sama
dengan pemberian prategang linier. Tegangan melingkar pada struktur silindris atau kubah
menetralisir tegangan tarik di serat terluar dari permukaan kurvilinier yang disebabkan oleh
tekanan kandungan internal.
13

Struktur beton prategang mempunyai beberapa keuntungan, antara lain :


a)

Terhindarnya retak terbuka di daerah tarik, jadi lebih tahan terhadap keadaan korosif.

b)

Kedap air, cocok untuk pipa dan tangki.

c)

Karena terbentuknya lawan lendut sebelum beban rencana bekerja, maka lendutan
akhirnya akan lebih kecil dibandingkan pada beton bertulang.

d)

Penampang struktur lebih kecil/langsing, sebab seluruh luas penampang dipakai secara
efektif.

e)

Jumlah berat baja prategang jauh lebih kecil dibandingkan jumlah berat besi beton biasa.

f)

Ketahanan gesek balok dan ketahanan puntirnya bertambah. Maka struktur dengan bentang
besar dapat langsing. Tetapi ini menyebabkan Natural Frequency dari struktur berkurang,
sehingga menjadi dinamis instabil akibat getaran gempa/angin, kecuali bila struktur itu
memiliki redaman yang cukup atau kekakuannya ditambah.
14

Adapun kekurangan dari penggunaan beton prategang adalah :


a)

Dengan ketahanan gesek balok dan ketahanan puntirnya bertambah, maka struktur dengan
bentang besar dapat langsing. Tetapi ini menyebabkan natural frequency dari struktur
berkurang, sehingga menjadi dinamis instabil akibat getaran gempa/angin, kecuali bila
struktur itu memiliki redaman yang cukup atau kekakuannya ditambah.

b)

Penggunaan bahan-bahan bermutu tinggi mengakibatkan harga satuan pekerjaan menjadi


lebih tinggi.

c)

Pengerjaan membutuhkan menuntut ketelitian yang lebih tinggi dan pengawasan yang lebih
ketat dari pelaksana ahli.

3.

Sifat-Sifat Bahan

a)

Beton
Untuk beton pratekan diperlukan mutu beton yang tinggi (min K-300) karena
mempunyai sifat penyusutan dan rangkak yang rendah mempunyai modulus elastisitas dan
modulus tekan yang tinggi serta dapat menerima tegangan yang lebih besar dibandingkan
beton mutu rendah,. Sifat-sifat ini sangat penting untuk menghindarkan kehilangan tegangan
yang cukup besar akibat sifat-sifat beton tersebut.

b)

Baja Prategang
Baja mutu tinggi merupakan bahan yang umum dipakai pada struktur beton prategang.

Baja untuk beton prategang terdiri dari:

Kawat baja

Kawat baja disediakan dalam bentuk gulungan, kawat dipotong dengan panjang tertentu dan
dipasang di pabrik atau lapangan. Baja harus bebas dari lemak untuk menjamin rekatan antara
beton dengan baja prategang.

Untaian kawat (strand)

Kekuatan batas strand ada 2 jenis yaitu 1720 MPa dan 1860 MPa, yang lazim dipakai adalah
strand dengan 7 kawat.

15

Tabel spesifikasi strand 7 kawat


Nominal (mm)
6,35
7,94
9,53
11,11
12,70
15,24

Luas Nominal mm2


23,22
37,42
51,61
69,68
92,9
139,35

Kuat Putus (kN)


40
64,5
89
120,1
160,1
240,2

Batang Baja
Batang baja yang digunakan untuk beton prategang disyaratkan pada ASTM A 322, kekuatan
batas minimum adalah 1000 MPa. Modulus elastisitas 1,72 10 5 1,93.105 MPa. Batang baja
mutu tinggi tersedia pada panjang sekitar 24 m. Batang-batang baja tersedia sampai 34,9
mm.

16
IV. DAFTAR PUSTAKA

17