Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI

ANALISIS MIKROSKOPIS, HISTOKIMIA DAN


KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS HERBA
Simplisia Phyllanthi Herba (Phyllanthus niruri)

Disusun oleh:
1. Agne Yuliana
2. Berylian Arief Kurniawan
3. Bagus Tri Laksono
4. Ulfia Dwi Novita
5. Intan Alvi Ayu N. S.
6. Muhammad Zulfikhar A.
7. Zubaidah Khoiril Wafiq
8. Irsalina Triastutik
9. Regol Sasaka Raudiah
10. Septi Sudianingsih

(152210101056)
(152210101058)
(152210101062)
(152210101065)
(152210101067)
(152210101068)
(152210101069)
(152210101070)
(152210101075)
(152210101076)

BAGIAN BIOLOGI FARMASI FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS JEMBER
2016
BAB I
PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang
Kromatografi adalah cara pemisahan campuran yang didasarkan atas
perbedaan distribusi dari komponen campuran tersebut diantara dua fase, yaitu
fase diam (stationary) dan fase bergerak (mobile). Fase diam dapat berupa zat
padat atau zat cair, sedangkan fase bergerak dapat berupa zat cair atau
gas.Dalam farmakognosi ini, yang menjadi pembelajaran utama adalah bahan
alam yaitu tumbuhan. Tumbuhan memiliki banyak kandungan senyawa yang
dapat dimanfaatkan sebagai obat. Bahan alam kemudian dapat diolah menjadi
suatu senyawa yang dapat memberikan manfaat melalui zat-zat atau
kandungan kimia yang ada di dalamnya. Bahwa simplisia sebagai bahan
dengan kandungan kimia yang bertanggungjawab terhadap respons biologis
untuk mempunyai spesifikasi kimia, yaitu informasi komposisi (jenis dan
kadar) senyawa kandungan.(Anonim,2000)
Pada makalah kali ini, kami akan membahas tentang hasil praktikum uji
histokimia dan KLT terhadap Phillanthi Herba. Dimana dari hasil uji tersebut
dapat diketahui kandugan apa saja yang terdapat pada Phillanthi herba. Uji
seperti ini sangat bermanfaat, karena dengan melakukan pengujian terhadap
suatu simplisia kita dapat menentukan kandungan kimia apa saja yang terdapat
pada simplisia tersebut sehingga memudahkan kita dalam membuat suatu
sediaan yang sesuai dengan keinginan. Uji kandungan ini juga berguna agar
sediaan yang terbuat dari suatu simplisia dapat memberi efek terapi yang
optimum sesuai dengan kandungan kimia pada simplisia tersebut.

1.2.

Tujuan
- Mahasiswa dapat mengidentifikasi fragmen-fragmen spesifik serbuk
-

herba
Mahasiswa dapat mengidentifikasi serbuk herba dengan penambahan

reagen kimia.
Mahasiswa mampu menganalisis senyawa identitas serbuk herba dengan
metode KLT

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kromatografi Lapis Tipis
Istilah kromatografi berasal dari bahasa Latin chroma berarti warna dan
graphien berarti menulis. Kromatografi pertama kali diperkenalkan oleh Michael
Tswest (1903) seorang ahli botani dari Rusia. Michael Tswest dalam
percobaannya ia berhasil memisahkan klorofil dan pigmen-pigmen warna lain
dalam ekstrak tumbuhan dengan menggunakan serbuk kalsium karbonat (CaCO3)
yang diisikan ke dalam kaca dan petroleum eter sebagai pelarut. Proses pemisahan
itu diawali dengan menempatkan larutan cuplikan pada permukaan atas kalsium
karbonat (CaCO3), kemudian dialirkan pelarut petroleum eter. Hasilnya berupa
pita-pita berwarna yang terlihat sepanjang kolom sebagai hasil pemisahan
komponen-komponen dalam ekstrak tumbuhan.

Dalam teknik kromatografi, sampel yang merupakan campuran dari


berbagai macam komponen ditempatkan dalam situasi dinamis dalam sistem yang
terdiri dari fase diam dan fase gerak. Semua pemisahan pada kromatografi
tergantung pada gerakan relatif dari masing-masing komponen diantara kedua fase
tersebut. Senyawa atau komponen yang tertahan lebih lemah oleh fase diam akan
bergerak lebih cepat daripada komponen yang satu dengan lainnya disebabakan
oleh perbedaan dalam adsorbsi, partisi, kelarputan atau penguapan diantara kedua
fase.
Kromatografi lapis tipis mirip dengan kromatogafi lapis tipis (KLT).
Bedanya lapis tipis (KLT) digantikan lembaran kaca atau plastik yang dilapisi
dengan lapisan tipis adsorben seperti alumina, silika gel, selulosa atau materi
lainnya. Kromatografi lapis tipis bersifat boleh ulang (reprodusibel) dari pada
kromatografi lapis tipis (KLT).
Adsorben yang digunakan pada kromatogrfai lapis tipis biasanya terdiri
dari silika gel atau alumina dapat langsung atau dicampur dengan bahan perekat
misalnya kalsium sulfat untuk disalutkan pada pelat. Pada pemisahannya, fase
bergerak akan membawa komponen campuran sepanjang fase diam pada pelat
sehingga terbentuk kromatogram. Pemisahan yang terjadi berdasarkan adsorbsi
dan partisi. Teknik kerja KLT prinsipnya hampir sama dengan komatografi lapis
tipis (KLT).
2.2 Phillanthus niruri
Meniran adalah tumbuhan yang sebenarnya tumbuh liar dan mudahditemui
di pekarangan rumah, kebun, atau hutan. Meniran tumbuh subur di tempat lembab
dan berbatu, seperti di tepi sungai, pantai, semak, lahan bekas sawah,ladang, tanah
terlantar diantara rumput atau selokan. Tumbuhan ini merupakan salah satu dari
700 jenis genus Phyllanthus yang banyak tumbuh di Asia seperti Indonesia,
China, Filipina, dan India. Tumbuhan ini berasal dari Asia tropic yang tersebar di
seluruh daratan Asia termasuk Indonesia. Kini tumbuhan ini tersebar ke benua
Afrika, Amerika, dan Australia. Meniran tumbuh di daerah dataranrendah hingga
dataran tinggi dengan ketinggian 1.000 m di atas permukaan laut. Beberapa jenis

tumbuhan ini sudah digunakan sejak 2.000 tahun lalu untuk pengobatan
tradisional Ayurveda di India. Beberapa genus Phyllanthus yang memiliki khasiat
menyembuhkan

diantaranya

Phyllanthus

urinaria,

Phyllanthus

niruri

dan Phyllanthus amarus.


Merupakan pohon yang bercabang banyak,kulit batang berwarna coklat
tua, tinggi mencapai 4 m. Daun majemuk, berbentuk bulat telur sampai lanset,
letak berseling ,menyirip ganda, tepi bergerigi,ujung runcing, pangkal
membulat/tumpul, permukaan atas daun berwarna hijau tua, sedangkan bagian
bawahnya berwarna hijau muda, panjang 3 - 7cm dan lebar 1,5 3 cm.Bunga
majemuk dalam malai yang panjangnya 10 20 cm dan keluar dari ketiak daun.
Daun mahkota berjumlah 5, panjangnya 1 cm, berwarna ungu pucat dan berbau
harum. Buah batu, berbentuk bulat, diameter sekitar 1,5 cm. Jika matang, akan
berwarna cokelat kekuningan dan berbiji 1. Syarat Tumbuh : Meniran tumbuhan
berasal dari daerah tropis yang tumbuh liar di Hutan-hutan, ladang-ladang,
Kebun-kebun maupun pekarangan halaman rumah, pada umumnya tidak
dipelihara, karena dianggap tumbuhan rumput biasa. Meniran tumbuh subur
ditempat yang lembab pada dataran rendah sampai ketinggian 1000 meter di atas
permukaan laut.Bagian yang digunakan : Kulit kayu, kulit akar, buah, daun dan
bunga.

BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1.

Waktu dan Tempat Pelaksanaan Praktikum


Tempat Praktikum : Laboratorium Biologi Farmasi Fakultas Farmasi
Universitas Jember
Waktu
: Senin, 07November 2016 Pukul 13.20 WIB - selesai

3.2.

Alat dan Bahan


3.2.1. Uji Histokimia
Plat tetes

KOH 5%

Simplisia Phyllanthi Herba

Amonia 25%

Asam sulfat Pekat

FeC

NaOH 5%

3.2.2. Uji KLT


Tabung reaksi

Penggaris

Neraca analitik

Pensil

Corong kaca

Pipet ukur

Gel silica GF 254

Ball filler

Chamber

Mikropipet

Sinar UV 366 nm

Kertas saring

Labu ukur

Air

Botol timbang

Sitroborat

Phyllanthi Herba

Kuersetin

Methanol

Aluminiuma klorida

Kloroform

3.3.

Cara Kerja
3.3.1. Uji Histokimia

3.1.1.

Uji KLT

BAB IV
HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
4.1.

Uji
Histokimia

4.1.1. Hasil
Reagen

Warna Phyllanti Herba

H2SO4 P
NaOH 5%
KOH 5%
Amonia 25%
FeCl3

Hijau (+)
Coklat (+)
Coklat (+)
Coklat (+)
Hijau violet (+)

4.1.2. Pembahasan (Penambahan Masing-Masing Reagen pada Phyllanti herba)


4.1.2.1.

Reagen Asam Sulfat Pekat

Pertama, 2 mg Phyllanti herba ditempatkan di plat tetes kemudian ditetesi

beberapa reagen asam sulfat. Diaduk dan ditunggu selama 15 menit kemudian diamati,
terjadi perubahan warna menjadi warna hijau. Hal ini sesuai dengan literatur. Dalam
literatur disebutkan bahwa akan terjadi perubahan warna hijau apabila ditambah asam
sulfat pekat.

Asam sulfat pekat adalah reagen kimia untuk mengidentifikasi adanya

triterpen dan steroid. Jadi berdasarkan hasil percobaan, Phyllanti herba mengandung
triterpen dan steroid.

Triterpenoid adalah senyawa yang kerangka karbonnya berasal dari


enam satuan isoprene dan secara biosintesis diturunkan dari hidrokarbon C30 asiklik,
yaitu skualena. Triterpenoid dapat dipilah menjadi sekurang kurangnya empat
golongan senyawa : triterpena sebenarnya, steroid, saponin dan glikosida jantung.
Kedua golongan yang terakhir sebenarnya triterpena atau steroid yang terutama terdapat
sebagai glikosida. Sterol adalah triterpena yang kerangka dasarnya sistem cincin
siklopentana perhidrofenantrena.(Harbrone.J.B,1987)

4.1.1.2.

Reagen NaOH 5%

Pertama, 2 mg Phyllanti herba ditaruh di plat tetes kemudian ditetesi

beberapa NaOH 5%. Diaduk dan ternyata menghasilkan warna coklat. Hal ini sesuai

dengan literatur bahwa akan terjadi perubahan warna coklat apabila ditambah NaOH
5%.

NaOH 5% adalah reagen kimia untuk mengidentifikasi adanya kuinon.

Jadi Phyllanti herba positif mengandung kuinon.

Kuinon adalah senyawa berwarna dan mempunyai kromofor dasar


seperti kromofor pada benzokuinon, yang terdiri atas dua gugus karbonil yang
berkonjugasi dengan dua ikatan rangkap karbon karbon. Untuk tujuan identifikasi,
kuinon dapat dipilah menjadi empat kelompok : benzokuinon, naftokuinon,
antrakuinon, dan kuinon isoprenoid. Tiga kelompok pertama biasanya terhidroklisasi
dan bersifat senyawa fenol serta mungkin terdapat in vivo dalam bentuk gabungan
dengan gula sebagai glikosida atau dalam bentuk kuinol.

Untuk memastikan adanya adanya suatu pigmen termasuk kuinon atau


bukan, reaksi warna sederhan masih tetap berguna. Reaksi yang khas ialah reduksi
bolak balik yang mengubah kuinon menjadi senyawa tanwarna, kemudian warna
kembali lagi bila terjadi oksidasi oleh udara (Harbone.J.B, 1987)
4.1.1.3.

Reagen KOH 5%

Pertama, 2 mg Phyllanti herba ditaruh di plat tetes kemudian ditetesi

beberapa KOH 5%. Diaduk dan ternyata menghasilkan warna coklat. Hal ini sesuai
dengan literatur bahwa akan terjadi perubahan warna coklat apabila ditambah KOH 5%.
4.1.1.4.

Reagen Ammonia 25 %

Pertama, 2 mg Phyllanti herba ditaruh di plat tetes kemudian ditetesi

beberapa ammonia 25%. Diaduk dan ternyata menghasilkan warna coklat. Hal ini sesuai
dengan literatur bahwa akan terjadi perubahan warna coklat apabila ditambah amonia
25%.

Amonia 25% adalah reagen kimia untuk mengidentifikasi

adanya alkaloid. Jadi Phyllanti herba positif mengandung alkaloid dan kumarin.

Alkaloid merupakan golongan zat tumbuhan sekunder yang terbesar.


Pada umumnya alkaloid menccakup senyawa bersifat basa yang mengandung satu atau
lebih atom nitrogen, biasanya dalam gabungan, sebagai bagian dari sistem siklik.
Alkaloid seringkali beracun bagi manusia dan banyak yang mempunyai kegiatan
fisiologi yang menonjol yang digunakan secara luas dalam bidang pengobatan.alakoloid

biasanya tanpa warna, seringkali bersifat optis aktif, kebanyakan berbentuk Kristal
tetapi hanya sedikit yang berupa cairan ( misalnya nikotina pada suhu kamar ).

Prazat alkaloid yang paling umu adalah asam amino, meskipun


sebenarnya biosintesis kebanyakan alkaloid lebih rumit. Secara kimia, alkaloid
merupakan suatu golongan heterogen. Ia berkisar dari senyawa sederhana seperti
koniina, yaitu alkaloid utama Conium maculatum sampai pentasiklik seperti estrikhnina
yaitu racun kulit strychnos.

Alkaloid, sekitar 5500 telah di ketahui, merupaan golongan zat


tumbuhan sekunder yang terbesar. Tidak ada satu pun istilah alkoloid yang memuaskan
tetapi pada umumnya alkoloid mencakup senyawa bersifat basa mengandung satu atau
lebih atom nitrogen, biasanya dalam gabungan sebagai bagian dari sistem siklik.
Alkoloid sering kali beracun bagi manusia dan banyak yang mempunyai kegiatan
fisiologi yang menonjol jadi digunakan secara luas dalam bidang pengobatan. Alkoloid
biasanya tanwarna, sering kali bersifat optis aktif, kebanyakan berbentuk kristal tetapi
hanya sedikit yang berupa cairan (misalnya nikotina) pada suhu kamar .uji sederhana
tetapi yang sama sekali tidak satu sempurna, untuk alkoloid dalam daun atau buah segar
adalah rasa pahitnya di lidah. Misalnya, alkoloid kinina adalah zat yang dikenal paling
pahit dan pada konsentrasimolar 1x 103 membeikan rasa pahit yang berarti.prazat
alkoloid yang paling umum adalah asam amino, meski pun sebenarnya, biosintesis
kebanyakan alkoloid lebih rumit. Secara kimia, alkoloid merupakan suatu golongan
heterogen. Ia berkisar dari senyawa sederhana seperti koniina, yaitu alkoloid utama
conium maculatum, sampai ke struktur pentasiklik seperti strikhnina , yaitu racun kulit
Strychnos. Amina tumbuhan (misalnya meskalina) dan basa Purina dan pirimidina
(misalnya kafeina) kadang-kadang digolongkan sebagai alkoloid dalam arti umum.
Banyak alkoloid bersifat terpenoid dan beberapa (misalnya solanina alkoloid steroid
kentang, Solanum tuberosum) sebaiknya ditinjaudari segi biosintesis sebagai terpenoid
termodifikasi. Yang lainnya terutama berupa senyawa aromatic ( misalnya kolkhisina,
alkoloid tropolon umbi crocus musim gugur ) yang mengandung gugus basa sebagai
gugus rantai samping. Banyak sekali alkoloid yang khas pada suatu suku tumbuhan atau
beberapa tumbuhan sekerabat. Jadi nama alkoloid sering kali diturunkan dari sumber
tumbuhan penhasilnya, misalnya alkoloid Atropa atau alkoloid tropana, dan sebagainya.
(Harbrone.J.B,1987)
4.1.1.5.

Reagen FeCl2 5%

Pertama, 2 mg Phyllanti herba ditempatkan di plat tetes kemudian

ditetesi beberapa FeCl2 5%. Diaduk dan ternyata menghasilkan warna hijau violet. Hal
ini sesuai dengan literatur bahwa akan terjadi perubahan warna hijau violet apabila
ditambah FeCl3 5%.

Reagen FeCl3 ini berfungsi untuk mendeteksi adanya tanin. Jadi

Phyllanti herba positif mengandung tanin.

Tanin

terdapat

luas

dalam

tumbuhan

berpembuluh,

dalam

angiospermae terdapat khusus dalam jaringan kayu. Menurut batasanya, tanin dapat
bereaksi dengan protein membentuk kepolumer mantap yang tidak larut dalam air.
Dalam industri, tanin adalah senyawa yang berasal dari tumbuhan, yang mampu
mengubah kulit hewan yang mentah menjadi kulit siap pakai karena kemampuanya
menyambung silang protein.

Secara kimia terdapat dua jenis utama tanin yang tersebar tidak merata
dalam dunia tumbuhan. Tanin terkondensasi hampir terdapat di dalam paku-pakuan
dan gimnosperae, serta tersebar luas dalam angiospermae, terutama pada jenis
tumbuhan berkayu. Sebaliknya, tanin yang terhidrolisiskan penyebaranya terbatas pada
tumbuhan berkeping dua (Harbrone.J.B,1987)
4.2.

Uji Kromatografi Lapis Tipis

4.2.1. Hasil

Pembanding : Filantin1 %
Vol. Penotolan : 1 l pembanding dan 10 l larutan uji
Fase gerak
: Kloroform : Metanol : Air = 8,5 : 1,3 : 0,2
Fase diam
: Silika Gel 60 F254
Penampak noda
: Sitroborat
Warna noda
: kuning
Rf standar
: 0,625
Rf Analit
: 0,6875 (Phyllanthi Herba )

4.2.2. Pembahasan

Kromatografi merupakan bentuk kromatografi planar, selain kromatografi


kertas dan elektroforesis. Meskipun demikian, kromatografi planar ini dapat dikatakan
sebagai bentuk terbuka dari kromatografi kolom. Fase gerak yang dikenal sebagai
pelarut pengembang akan bergerak sepanjang fase diam karena pengaruh kapiler pada
pengembangan secara menaik (ascending) atau karena pengaruh gravitasi pada
pengembanngan secara menurun (descending) (Rohman, 2007).
Fase diam yang digunakan dalam percobaan ini adalah gel silica yang memiliki
mekanisme sorpsi adsorbsi. Gel silica dapat digunakan pada senyawa-senyawa yang
mengandungasam amino, hidrokarbon, vitamin, dan alkaloid. Kebanyakan fase diam
dikontrol keajegan ukuran partikel dan luas permukaannya
Eluen adalah fase gerak yang berperan penting pada proses elusi bagi larutan
umpan (feed) untuk melewati fase diam (adsorbent). Interaksi antara adsorbent dengan
eluen sangat menentukan terjadinya pemisahan komponen. Eluen dapat digolongkan
menurut ukuran kekuatan teradsorbsinya pelarut atau campuran pelarut tersebut pada
adsorben dan dalam hal ini yang banyak digunakan adalah jenis adsorben alumina atau
sebuah lapis tipis silica. Suatu pelarut yang bersifat larutan relatif polar, dapat mengusir
pelarut yang relatif tak polar dari ikatannya dengan alumina. Fase gerak yang digunakan
pada pratikum kali ini adalah Kloroform : Metanol : Air dengan perbandingan 8,5 : 1,3 :
0,2
Sistem fase gerak KLT yang paling sederhana ialah campuran dua pelarut
organik karena daya elusi campuran kedua pelarut ini dapat mudah diatur sedemikian
rupa sehingga pemisahan dapat terjadi secara optimal. Fase gerak harus mempunyai
kemurnian yang sangat tinggi karena KLT merupakan teknik yang sangat sensitif. Daya
elusinya pun harus diatur sedemikian rupa sehingga harga Rf terletak antara 0,2-0,8
untuk memaksimalkan pemisahan (Rohman, 2007).
Dari hasil praktikum ini, jarak analit ke larutan standar ialah 1,8 cm sehingga
diperoleh nilai Rf analit sebesar 0,6875. Sedangkan nilai Rf standar 0,625. Hal ini
sangat jauh berbeda jika dibandingkan dengan literatur yang mengatakan bahwa nilai Rf
simplisia guazumae adalah 0,3 dihitung sebagai filantin.
Perolehan nilai Rf yang berbeda jauh mungkin disebabkan oleh beberapa hal,
diantaranya :
1. Suhu ruangan

2. Penyemprotan penampak noda yakni sitroborat. Mengingat pada saat


praktikum alat penyemprot mengalami sedkit gangguan sehingga mungkin
saja mempengaruhi jumlah sitroborat yang disemprotkan ke lempeng klt.
3. Ketidaktelitian saat pengenceran.
4. Penotolan yang kurang tepat
5. Proses homogenisasi yang kurang

BAB V
PENUTUP

A. KESIMPULAN
1. Berdasarkan hasil praktikum uji histokimia pada sampel simplisia tersebut
termasuk kedalam simplisia Phyllanthi Herba
2. Berdasarkan hasil uji KLT dari sampel nilai Rf nya adalah Filantin

B. SARAN
1. Dalam melakukan pengenceran sampel harus dilakukan dengan hati-hati karena
dapat mempengaruhi hasil nilai Rf nya, karena noda yang ditimbulkan tidak sesuai
dengan persyaratan yang ditentukan
2. Dalam praktikum harus memperhatikan titik kritis, dimana titik itu sangat
berpengaruh terhadap hasil uji sampel yang ditentukan.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim.1987. Analisis Obat Tradisional. 2 3. Jakarta : Depkes RI

Anonim. 2009. Farmakope Herbal Indonesia Edisi I. Jakarta : Departemen Kesahatan


Republik Indonesia

Anonim. 1978. Materia Medika Indonesia Jilid II. Jakarta : Departemen Kesahatan
Republik (Hal 44-45)

Anonim, 1989, Materia Medika Indonesia Jilid V-VI. Jakarta : Departemen kesehatan
Republik Indonesia

Lampiran Gambar

1. Sebelum di semprot Sitroborat

2. Setelah di semprot Sitroborat