Anda di halaman 1dari 4

PROSIDING HIMPUNAN AHLI GEOFISIKA INDONESIA

Pertemuan Ilmiah Tahunan ke-29, Yogyakarta 5-7 Oktober 2004

GEOFISIKA EXPERIMENTAL PADA BIDANG KONTAK DI DAERAH


KARANGSAMBUNG
Agus Laesanpura, Darharta Dahrin, T.A. Sanny, Susanti Alawiyah, Setianingsih, Warsa, Wahyudi
Parnadi, Wawan Gunawan, Fathkan, Alfian, Djoko Santoso, M.I. Tachyudin Taib, Sigit Sukmono
Alamat: Departemen Teknik Geofisika, ITB, jl. Ganesha no 10 Bandung, Basic Science Center
build. 2nd fl. e-mail:laesanpu@gf.itb .ac.id, tutg@gf.itb.ac.id

I.

Pendahuluan
Bidang kontak merupakan objek yang menarik untuk diobservasi melalui respon peralatan geofisika,

diinterpretasi bahkan direkonstruksi. Bidang kontak ini pada umumnya bukan kontak horizontal tapi
mendekati kontak vertikal. Beberapa fenomena yang berkaitan-pun muncul, terutama pada topik seismik,
geolistrik. Beberapa fenomena Pada data seismik refleksi muncul fenomena difraksi gelombang, pada data
seismik refraksi muncul dengan gejala lag, begitupula pada geolistrik profilling. Fenomena ini menarik jika
dikaitkan dengan fenomena yang terdapat dan diobservasi di permukaan seperti patahan, pembajian, dll.
Beberapa gejala kontak litologi muncul di daerah Karangsambung,suatu tempat di Kebumen yang
merupakan objek studi dan pelatihan mahasiswa dalam bidang geosains. Kontak litologi diamati di tiga tempat
pada kontras batuan sedimen, batuan metamorf-sedimen, dan batuan metamorf-metamorf. Dengan demikian
bukti-bukti yang sebagian diamati di permukaan, diteruskan ke bawahnya secara tidak langsung dengan
harapan akan membantu lebih tegas dan saling melengkapi atau bahkan memberi koreksi terhadap hal-hal yang
diobservasi di permukaan.
Respon geofisika yang muncul, dibatasi pada tiga metoda, yaitu seismik refraksi, georadar, dan
tahanan jenis(resistivity), untuk melihat apakah fenomena yang diobservasi dengan kuat atau sebagian dapat
muncul melalui responnya.

II.

Akuisisi Data
Akuisisi data dilakukan pada objek geologi yang telah jelas terlihat, namun adakalanya pada suatu

fenomena yang belum tegas keberadaannya. Untuk itu akuisi data geofisika diarahkan dan diposisikan silang
atau sejajar dilakukan, dengan melihat batas-batas kontak yang dekat dan teramati. Peralatan yang digunakan
sbb:
- Seismik refraksi 24 Channel
- Georadar frekuensi 25 Mhz
- Resistivity meter sounding AB/2 = 150 m.
Layout yang diamati adalah sbb:
Kontak batugamping dan batulempung, dilakukan sejajar antara seismik refraksi dan Georadar, dan
random untuk resistivity. Dengan susunan :
-

seismik refraksi, 2 spread, interval geophone 5 m, bentangan 240 m

Georadar 150 m.

547

Resistivity sounding,6 titik

Kontak batuan metamorf, filit dan sekis,sekitar S. Lok Ulo dilakukan dengan dua
metoda yaitu :
Georadar dengan resistivity, dengan susunan sbb:

III.

Georadar 150 m

Resistivity 5 titik sounding

Analisa dan Hasil


Pengukuran kontak batugamping dan batu lempung, ini dilakukan di bukit batugamping yang

terisolir diantara batulempung Formasi Karangsambung(lempung breksian). Bukit batugamping ini dari
beberapa literatur (Asikin & Handoyo, 1989) kemungkinan merupakan suatu produk allochton dan berumur
lebih tua dari batulempung yang mengepungnya, disamping itu dijumpai gejala patahan di salah satu sisi barat
dengan apparent dip ke arah selatan, arah ini hampir memotong arah alur sungai kecil yang mengalir ke arah
utara. Di tempat inilah dilakukan experimen geofisika.
Pengukuran seismik refraksi dilakukan dengan arah selatan ke utara, untuk shot awal di singkapan
batugamping, kemudian memotong jejak yang diperkirakan sesar tadi, diakhiri pada jarak 250 m,
merupakan batu lempung. Pada analisa kurva travel time first break terdapat:
Anomali lokal kecepatan tinggi pada travel time curve (Gambar 1), dari 3 shot, pada segmennya makin ke
arah utara memiliki intercept time makin besar, dengan kecepatan berkisar dari 3000 m/s hingga 4000 m/s,
fenomena ini kemungkinan menunjukkan rambatan ray menyentuh batuan dengan kecepatan tinggi dan
makin ke utara makin dalam yang sejalan dengan kemenerusan batugamping di bawah permukaan
dengan dip sekitar 18NN, sementara fenomena ini berlawanan dengan kemungkinan dip patahan ke arah
selatannya. Fenomena ini untuk

sementara menyimpulkan bahwa bentuk tubuh lensa lebih

memungkinkan untuk hubungan bukit batugamping terisolir dan batu lempung yang mengepungnya.
Pengukuran Georadar pada arah hampir sejajar dengan seismik refraksi dilakukan pada jarak 150m.
dengan titik awal pada singkapan batu lempung di utara terus menempuh jalan setapak ke arah selatannya
menuju singkapan batugamping. Pada radargram dalam domain depth yang telah mengalami pemrosesan
dasar dan diterapkan kecepatan RMS, terdapat:
Reflektor kuat dengan dip sekitar 14NN (Gambar 2a), ke arah utara, yang mana ini diperkirakan
merupakan kemenerusan singkapan batugamping yang diobservasi di permukaan. Pada keadaan ini tidak
terdapat gejala difraksi, jadi kontaknya kemungkinan memiliki relief relatif smooth. Sementara tidak ada
tanda-tanda pemisahan yang berarti pada signal radargram antara batu lempung dan batugamping.
Sementara itu pada profil menyilang pada segmen lain yang berdekatan, batas kontak masih
memperlihatkannya tetapi muncul gejala difraksi (Gambar 2b).
Pengukuran resistivity sounding dilakukan pada 6 titik, 4 titik diukur dekat singkapan batugamping, dan 2
titik diukur dekat singkapan batu lempung. Profil sounding memperlihatkan:
Terdapat suatu kedalaman sistimatis batas dua tahanan jenis 20 Ohm.m (batu lempung) dan 50 Ohm.m
(batu gamping).ke arah utara, seperti diperlihatkan oleh dua pengukuran geofisika (seismik refraksi dan
Georadar)

548

Pengukuran batas kontak antara batuan metamorf, filit dan sekis dilakukan di sekitar K. Lok Ulo,
diatas sungai yang memiliki jalan stapak, daerah ini sebenaranya merupakan lereng dari perbukitan yang khas
dan ditempati batuan metamorfosa beraneka macam. Beberapa segemen antara dua litologi terkadang terlihat
berupa tektonik unit, namun ada kalanya batas kabur dan memerlukan pengamatan terlatih. Salah satu petunjuk
bidang kontak adalah batas antara filit dan sekis merupakan bidang patahan (Chalid I.A., person.comm.).
ditempat inilah dilakukan experimen geofisika.
Pengukuran Georadar dilakukan pada arah S-N pada bentangan 120 m. Pada radargram dalam domain
depth yang telah mengalami pemrosesan dasar dan diterapkan kecepatan RMS, terdapat:
Reflektor kuat yang diperlihatkan oleh kontras amplitudo tinggi, beberapa gejala difraksi terlihat di
beberapa tempat.
Pengukuran resistivity sounding dilakukan pada 8 titik pengamatan sebagian diperkirakan pada batuan
filit, sebagian pada sekis. Profile memperlihatkan :
Resistivitas tinggi 400 Ohm.m, sampai 100 ohm.m, untuk sekis dan filit bahkan terdapat harga beberapa
Ohm.m, kemungkinan lempung atau terdapat kontaminasi air. Secara quick look terdapat suatu hubungan
sistimatis antara susunan resistivitas antara titik sounding, yaitu offset harga resistivitas pada dua segmen
yang diperkirakan merupakan kontak patahan.
IV. Kesimpulan
1.

Kontak litologi ada kalanya merupakan kontak sedimenter, namun adakalanya kontak patahan dan
kedua-duanya dapatdiperlihatkan secara serentak oleh ketiga metoda geofisika (Georadar, seismik refraksi,
resistivity) secara koheren.

2.

Gejala bidang kontak dapat muncul baik sebagai gejala langsung, maupun tidak langsung, informasi
pengetahuan geologi penting sebagai konstrain dan memberi peluang dalam melakukan interpretasi.

Daftar Pustaka
Asikin, Sukendar, A.H. Harsolumakso,1992, Geology Lembar Kebumen Jawa Tengah, P3G
Dobrin, M, and C. Savit 1988, Introduction to Geophysical Prosfecting, Mc. Graw Hill,
pp.750-771
Milsom, John,1996, Field Geophysics, John Wiley and Sons, p.131-141
Robinson, E.S., Cahit coruh, 1988, Basic Exploration Geophysics, John Wiley and sons, p.39-76

549

Gambar 1. Profile seismik refraksi menembus bidang kontak

Gambar 2. Profile Georadar menembus bidang kontak. a) Pada arah N-S memperlihatkan bidang kontak
dengan tegas. b) Pada arah W-E bidang kontak memperlihatkan beberapa gejala difraksi

550