Anda di halaman 1dari 20

KELEBIHAN DAN KEKURANGAN TES ALERGI

Viona Aprilia Sucipto1, Suswardana2


Dokter Muda Fakultas Kedokteran Trisakti di
SMF Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin RSAL dr. Mintohardjo
2
SMF Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin RSAL dr. Mintohardjo
1

ABSTRAK
Reaksi simpang obat adalah respon terhadap obat yang tidak diharapkan dan
berbahaya, terjadi pada dosis normal dan pada penggunaan sebagai profilaksis, terapi
penyakit atau modifikasi fungsi fisiologis. Reaksi obat alergi adalah bagian dari reaksi
simpang obat yang dapat mengenai setiap target organ, seperti hati, jantung, ginjal, paru
dan sistem hemopoesis, tetapi tersering akan bermanifestasi pada kulit yang disebut
erupsi obat. Obat yang sama dapat menyebabkan reaksi yang berbeda pada individu
yang sama dalam waktu berlainan, sebaliknya berbagai obat dapat menyebabkan reaksi
atau manifestasi klinis yang sama. Pada keadaan erupsi obat, tes diagnostik dapat
dilakukan untuk membantu dan mencari penyebab erupsi obat. Tes alergi kulit yang
dapat dilakukan antara lain uji tempel (patch test), uji tusuk (prick test), uji provokasi
oral (oral provocation test/oral challenge) ataupun cara intradermal dengan berbagai
pertimbangan meliputi kerugian dan keuntungan bagi pasien bila tes alergi kulit ini
dilaksanakan pada pasien dengan erupsi obat.
Kata kunci: uji tempel, uji tusuk, erupsi obat, reaksi simpang obat

PENDAHULUAN

Secara umum penyakit alergi digolongkan dalam beberapa golongan, yaitu


alergi atopik, alergi obat dan dermatitis kontak. Serum sickness yang digolongkan oleh
beberapa ahli digolongkan sebagai penyakit kompleks imun, oleh ahli lain sering juga
digolongkan sebagai penyakit alergi sehingga disebut sebagai immune complex allergic
disease. Di lain pihak, manifestasi klinik alergi paling sering tampak melalui tiga organ
sasaran, yaitu saluran nafas, gastrointestinal, dan kulit.1
Manifestasi klinik dari penyakit alergi dapat dilakukan konfirmasi melalui
pemeriksaaan penunjang. Pemeriksaan penunjang dilakukan untuk memperkuat dugaan
adanya penyakit alergi serta dapat sebagai usaha preventif sedini mungkin. Sehingga
perlunya membahas mengenai bagaimana mencegah munculnya penyakit alergi pada
kulit serta sebagai alat diagnostik yaitu dengan cara menggunakan tes alergi sebagai
penegakkan diagnosis dan penatalaksanaan penyakit alergi.1
Tes alergi sering digunakan untuk membedakan suatu penyakit yang disebabkan
oleh alergi ataupun oleh sebab lain. Dikenal beberapa metode pemeriksaan alergi
diantaranya secara in vivo dan secara in vitro.3

REAKSI ALERGI
Reaksi alergi semula dibagi dalam 2 golongan berdasarkan kecepatan timbulnya
reaksi, yaitu tipe cepat (immediate type, antibody mediated)dan tipe lambat (delayed
type, cell mediated)(7). Sedangkan Combs dan Gell (1975) membagi reaksi ini menjadi 4
jenis yaitu reaksi hipersensitivitas tipe I, II, III dan IV.(1,5,7)
Reaksi Tipe I
Pada paparan pertama, allergen masuk sampai kedalam mukosa dan di
tampilkan oleh sel B dan sel T. Respon imun yang di dapat akan memproduksi
proliferasi populasi sel yang spesifik terhadap antigen dan membangun sel memori dan
sel plasma. IgE spesifik untuk allergen tersebut di bentuk dan berikatan dengan sel mast
di dalam tubuh. Pada paparan kedua allergen masuk kembali ke dalam mukosa dan
melepas ikatan antara IgE dan mast sel. Sehingga mast sel akan melepaskan mediator
seperti heparin dan histamin. Pengaktifan metabolisme asam arakidonat menghasilkan
prostaglandin dan leukotrien yang nantinya akan menimbulkan gejala.
Reaksi Tipe II
Pada paparan pertama alergen menginduksi respon sel B dengan memproduksi
antibodi. Pada paparan berikutnya antibodi berikatan dengan permukaan sel untuk
menampilkan alergen. Kemudian, sistem komplemen lainnya diaktifkan dan sel menjadi

lisis atau antibodi yang terbentuk bertindak sebagai opsonin dan sel fagosit yang
tertarik. Kerusakan jaringan khusus, tergantung pada distribusi dari permukaan sel
alergen. Belum jelas jika reaksi tipe II terlibat dalam pembentukan gejala alergi.
Reaksi Tipe III
Pada paparan pertama, alergen mempengaruhi respon dari sel B dengan
memproduksi antibodi. Pada paparan kedua, alergen beredar dalam sirkulasi darah
berikatan dengan antibodi untuk membentuk kompleks imun. Ketika jumlah antigen
yang lebih besar tampak, kompleks imun tadi menjadi banyak, besar dan irregular dan
mereka tidak dapat disingkirkan secara cepat oleh sistem retikuloendotelial. Kompleks
tadi berikatan dengan endothelium dari pembuluh darah kecil dan membentuk respon
inflamasi (edema, Infiltrat selular) sampai komplemen menjadi aktif. Efek samping dari
kerusakan jaringan tergantung dari jumlah deposit dari kompleks tadi.
Reaksi Tipe IV hipersensitivitas tipe lambat
Pada paparan pertama alergen merangsang sel T. pada paparan kedua allergen
ditemukan pada permukaan sel target. Sebelumnya merangsang sel T kemudian sel
target lisis dan respon inflamasi terbentuk.(5)

INDIKASI PEMERIKSAAN TES ALERGI(3,8)


Secara umum indikasi pemeriksaan alergi pada seseorang berdasarkan kondisi
yang dialami.
Tabel 1.
Indikasi untuk pemeriksaan tes alergi
Kondisi

Indikasi

Rhinitis

Gejala tidak dapat dikontrol dengan pemberian


medikamentosa dan diperlukan kepastian untuk
mengetahui jenis alergen sehingga kemudian hari
alergen dapat dihindari

Asma

Asma persisten pada pasien yang terpapar alergen di


dalam ruang

Dugaan alergi makanan

Sebelumnya didapatkan dugaan reaksi sistemik


terhadap makanan

Dugaan alergi obat

Sebelumnya didapatkan dugaan reaksi sistemik


terhadap obat dan indikasi klinis untuk obat yang
diduga

Dugaan
binatang

alergi

gigitan Sebelumnya didapatkan dugaan reaksi sistemik


terhadap sengatan binatang

TES ALERGI PADA KULIT


Pada dasarnya banyak tes alergi kulit yang dapat dilakukan pada berbagai
kondisi khususnya alergi (dermatitis kontak alergi) atau untuk menyingkirkan diagnosis
alergi (dermatitis kontak iritan).10 Adapun cara konvensional yang sering dilakukan
pada tes alergi yaitu uji tempel (pacth test) dan uji tusuk (prick test) serta beberapa cara
modifikasi seperti cara intradermal, uji gores (scratch test), uji tempel terbuka, uji
tempel semi terbuka, stripping test, tes provokasi oral (oral provocation test/oral
challenge) dan uji terbuka berulang (repeated open application test).10,11
Pada keadaan erupsi obat dapat dilakukan tes alergi kulit pada obat yang
dicurigai menyebabkan reaksi imunologis ataupun non imunologis. Tes alergi yang
disarankan yaitu uji tempel (patch test), uji tusuk (prick test), uji provokasi oral (oral
provocation

test/oral

challenge)

ataupun

cara

intradermal,

dengan

berbagai

pertimbangan meliputi kerugian dan keuntungan bagi pasien.5,12,13


a. Uji tempel (patch test)
Penggunaan uji tempel (patch test) pada erupsi obat telah dibahas pada banyak
penelitian. Uji tempel disarankan dilakukan pada kasus erupsi obat seperti pustulosis
eksanthema generalisata akut (PEGA), erupsi eksematosa, erupsi makulopapular
eksantematosa, erupsi obat fikstum, sindrom hipersensitivitas (DRESS), erupsi obat
likenoid, eruosi obat psoriasiform dan sebagainya (Gambar 2.3).5,13 Alat, bahan dan
perlengkapan yang digunakan tidak jauh berbeda dari uji tempel pada kasus alergi atau
lesi kulit lainnya (Gambar 2.4 dan Tabel 2.4).14

Seperti pada uji tempel


pada kasus alergi ataupun kasus
lainnya, pada uji tempel akibat
reaksi simpang obat juga dapat

menginduksi reaksi positif yang


cepat,

terutama

pada

penggunaan
D

obat

antibiotik

betalaktam. Uji tempel dengan


penggunaan

obat

betalaktam

tersebut harus dibaca 20 menit


setelah uji dilakukan dan segera

mengevaluasi

pasien

dengan

melihat urtikaria dan tanda syok anafilaktik. Reaksi cepat pada uji tempel juga banyak
dilaporkan pada penggunaan antibiotik betalaktam, neomisin, gentamisin, basitrasin dan
natrium diklofenak. Pembacaan selanjutnya dilakukan pada hari ke 3, 4 dan 7 setelah
oklusi (uji tempel dilaksanakan) atau hari ke 1, 2 dan 5 setelah strip pada uji tempel di
buka. 5,15

Gambar 2.3. A) Erupsi obat likenoid akibat metildopa, terdapat papul idiopatik liken planus; B)
Erupsi obat sistemik akibat sulfonamide, terdapat bercak eksema simetris pada tungkai atas; C) Erupsi
obat psoriasiform akibat beta-blocker, terdapat plak eritemaskuamosa berbatas tegas; D) Erupsi obat
fikstum/ fixed drug eruption akibat piroksikam, terdapat macula eritema atau merah keunguan pada lokasi
yang sama setiap penggunaan obat tersebut dalam beberapa jam hingga 1 2 hari.5

Gambar 2.4. Finns chamber atau plastic chamber yang digunakan saat uji tempel. Uji tempel
dapat dilakukan di daerah punggung yang mempunyai area cukup luas.5,13-15

Hasil dari uji tempel obat mempunyai skor berdasarkan kriteria yang ditetapkan
oleh ICDRG (The International Contact Dermatitis Research Group)5, yaitu:

Gambar. 2.5. Hasil positif dari uji tempel (patch test)

Indikasi Uji Tempel adalah persistent eczematous eruptions ketika kontak dengan
allergen dan dermatitis kronis yang mengenai tangan, kaki, wajah, atau mata serta
pasien Eczematous dermatitis dengan resiko tinggi terkena dermatitis, seperti petugas
medis, cosmetologists, teknisi, pekerja pabrik karet dan plastik.
1) Prosedur Pemeriksaan Uji Tempel
Macam prosedur patch test :
a) Patch test terbuka
Patch test terbuka dilakukan dengan mengoleskan sediaan uji
pada luas tertentu, lokasi lekatan dibiarkan terbuka selama 24 jam,
amati reaksi kulit yang terjadi.
Iritan primer umumnya lebih menyebabkan rasa pedih dari
gejala rasa gatal dan

reaksi kulit yang ditimbulkan lebih cepat

dibandingkan alergen. Reaksi kulit yang disebabkan iritan primer


terjadi beberapa menit hingga satu jam setelah pelekatan sedangkan
alergen baru menimbulkan reaksi kulit dalam waktu 24-48 jam.
Reaksi kulit karena iritan primer hanya nampak pada daerah
pelekatan sedangkan pada alergen akan menyebar pada lokasi
pelekatan.
Patch test terbuka terutama digunakan untuk pengujian
sediaan uji yang mengandung minyak atsiri. Patch test terbuka dapat
digunakan sebagai kosmetik, seperti alat pengikat rambut, shampoo,
sabun, detergen, dll.
b) Patch test tertutup
Uji tempel tertutup dilakukan dengan menggunakan tinta
tempel jika dikehendaki pengujian ganda atau talam tempel jika
dikehendaki pengujian tunggal. Sediaan uji dilekatkan pada talam
tempel setelah lokasi lekatan ditempeli tinta/talam tempel. Biarkan
dalam waktu tertentu tergantung prosedur uji yang digunakan.
Kemudian diamati reaksi kulit yang terjadi pada uji tempel tertutup.
Panel di uji instruksi sebagai berikut :
Jika terjadi reksi kuli yang parah dan tidak tertahankan buka
talam tempel dari daerah lokasi lekatan yang terasa sangat gatal dan

pedih tanpa mengganggu talam tempel yang lain dan untuk


mengurangi keradangan daerah lokasi lekatan dapat kompres dengan
air dingin tanpa menggangu talam tempel

yang lain. Jika panel

masih terasa sakit boleh menelan obat analgetik. Tinta tempel/talam


tempel dan lokasi lekatan harus dijaga agar tidak basah, tidak boleh
di lap dan tidak boleh di garuk.
c) Patch test sinar
Patch test sinar (pada dasarnya sama dengan uji tempel
tertutup).

2) Pengujian Uji Tempel


a) Uji tempel harus dilakukan pada kulit dengan dermatitis yang tidak
jelas
b) Alergen dicampur dengan bahan non-alergi (dasar) dengan
konsentrasi yang sesuai. Kemudian oleskan pada kulit, biasanya pada
punggung atas
c) Gunakan pita perekat digunakan dan tandai lokasi uji coba
d) Diamkan selama 48 jam, selama itu jangan sampai kena air atau
berolahraga karena jika pita perekat lepas proses harus diulang
e) Patch tidak boleh terkena sinar matahari atau sumber lain seperti
sinar ultraviolet (UV)
f) Setelah 48 jam patch dilepaskan
g) Pembacaan dilakukan dilakukan 2 kali. Pembacaan awal dilakukan
satu jam kemudian setelah pelepasan pembacaan akhir lakukan 48
jam kemudian. Pembacaan lebih dari 48 jam akan meningkatkan
hasil positif palsu sebesar 34 %
3) Interpretasi Hasil Uji Tempel
Biasanya digunakan pada dermatitis kontak dengan menempelkan
bahan pada kertas saring yang diletakkan diatas kertas impermeable.
Selanjutnya, ditempel pada kulit punggung dengan plester. Bahan yang
digunakan adalah benzokain, merkapto benzotiazol, kolofoni, lanolin
alcohol dan lain-lain. Pembacaan dilakukan setelah 48 jam dan diulangi
96 jam sesudah pemasazngan agar hasil lebih jelas terlihat. Adapun
interpretasi hasil tes: (IR) = iritasi (kulit merah sekali, contoh : ruam
keringat, follicular pustules, purpura dan burn-like reactions)
0

= tidak ada reaksi

+/- = eritema ringan, meragukan


1+ = reaksi ringan (eritema dengan edema ringan)
2+ = reaksi kuat (popular eritema dengan edema)
3+ = reaksi sangat kuat (vesikel atau bula) (Yunihastuti E, 2010)

Gambar 2.4. Uji Tempel dan Hasilnya


Relevansi tergantung pada lokasi dan jenis dermatitis dan alergen
tertentu. Interpretasi hasil membutuhkan pengalaman yang cukup dan
pelatihan.
Negative patch test reactions

reaction (hair dye


discolouration)

irritant reaction

+/-reaction

Positive patch test reactions

+ reaction
++ reaction
Gambar 2.5. Contoh berbagai hasil uji tempel

+++ reaction

4) Hal-Hal yang Harus Diperhatikan pada Uji Tempel


a) Dermatitis harus sudah sembuh. Bila masih dalam keadaan akut atau
berat dapat terjadi reaksi angry back atau excited skin, reaksi

10

positif palsu dapat juga menyebabkan penyakit yang sedang diderita


memburuk.
b) Tes dilakukan sekurang-kurangnya satu minggu setelah pemakaian
kortikosteroid sistemik dihentikan sebab dapat menghasilkan reaksi
negative palsu. Pemberian kortikosteroid topical di punggung
dihentikan

sekurang-kurangnya

satu

minggu

sebelum

tes

dilaksanakan. Luka bakar sinar matahari yang terjadi 1-2 minggu


sebelum test dilakukan juga dapat member hasil negatif palsu.
Sedangkan antihistamin sistemik tidak mempengaruhi hasil tes,
kecuali diduga karena urtikaria kontak.
c) Patch test dibuka setelah dua hari, kemudian dibaca; pembacaan
kedua dilakukan pada 48 jam setelahnya.
d) Penderita dilarang melakukan aktivitas yang menyebebkan uji temple
menjadi longgar, karena memberikan hasil negative palsu. Penderita
juga dilarang mandi sekurang-kurangnya dalam 48 jam dan menjaga
punggung agar tetap kering.
e) Jangan menggunakan bahan standar pada penderita urtikaria dadakan
karena dapat menimbulkan urtikaria generalisata bahkan reaksi
anafilaksis. Pada penderita seperti ini dilakukan tes dengan prosedur
khusus.
Reaksi positif palsu dapat terjadi bila konsentrasi terlalu tinggi
atau bahan tersebut bersifat iritan bila dalam keadaan tertutup (oklusi),
efek pinggir uji temple, umunya karena iritasi, bagian tepi menunjukkan
reaksi lebih kuat, sedang di bagian tengahnya reaksi ringan atau sama
sekali tidak ada. Hal tersebut dikarenakan meningkatnya iritasi
konsentrasi cairan di bagian pinggir. Sebablain oleh karena efek tekan,
terjadi bila menggunakan bahan padat.
Reaksi negatif palsu dapat terjadi misalnya konsentrasi terlalu
rendah, vehikulum tidak tepat, bahan uji temple tidak melekat dengan
baik, atau longgar akibat pergerakan, kurang cukup waktu pemberian
kortikosteroid sistemik atau topical poten yang lama dipakai pada area
pengujian.
Efek samping pemeriksaan ini dapat terjadi suatu reaksi
kemerahan yang persisten selama 3-10 hari tanpa meninggalkan

11

sikatriks. Pada orang yang sangat sensitif dapat timbul vesikel dan
ulserasi pada lebih dari satu lokasi antigen.
Dermatitis kontak iritan dan dermatitis kontak alergi akan
menunjukkan perbedaan reaksi. Suatu reaksi iritasi menunjukkan
penonjolan segera setelah patch dihapus dan memudar pada hari
berikutnya. Suatu reaksi alergi menonjol pada hari kelima setelah patch
dihapus. Suatu zat yang menyebabkan reaksi iritasi bisa memperburuk
dermatitis apapun yang mendasari seperti eksim atopik, tapi ini tidak
akan memburuk dan dapat dicegah dengan memakai krim penghalang
atau krim pelembab dengan intensitas tinggi. Sebuah zat yang
menyebabkan reaksi alergi akan menyebabkan dermatitis dan harus
dihindari sama sekali jika memungkinkan. Semakin sering kulit terpapar
alergen, semakin buruk reaksi alergi ternbentuk.
Beberapa pasien harus menjalani tes photopatch karena kulit
yang sensitif jika terkena sinar matahari (fotosensitivitas). Hal tersebut
dikarenakan ada beberapa bahan kimia yang mampu menghasilkan reaksi
alergi jika terkena cahaya (biasanya jenis sinar ultraviolet A, UVA).
Pasien yang sensitif terhadap cahaya, ruam akan muncul pada bagianbagian tubuh yang biasanya terkena cahaya (kebanyakan wajah, 'V' dari
leher dan tangan) tetapi tidak muncul di daerah yang terlindung dari
cahaya (misalnya di bawah dagu dan daerah segitiga antara hidung dan
mulut).

b. Uji tusuk (prick test)


Uji tusuk (prick test) pada erupsi obat juga dapat menjadi pilihan terutama saat
dicurigai terjadi akibat reaksi imunologi tipe cepat atau tipe I (terutama pada reaksi
urtikaria akibat penggunaan obat) walaupun tetap saja juga dihubungkan dengan
mekanisme imunologi lainnya. Keuntungan dilakukan uji tusuk terutama terlihat pada
urtikaria yang diprovokasi oleh penggunaan penisilin. Uji tusuk dilakukan pada lengan

12

bawah bagian volar dan disarankan obat yang digunakan adalah obat dalam sediaan
dilusi sekuensial. 5,16
Tujuan uji tusuk Tes kulit pada alergi ini untuk menentukan macam alergen
sehingga di kemudian hari bisa dihindari dan juga untuk menentukan dasar pemberian
imunoterapi.
Kelebihan uji tusuk antara lain rhinitis alergi , asma , kecurigaan terhadap alergi
makanan. Kontraindikasi absolut pada tes ini adalah lesi luas pada kulit, kooperasi
pasien buruk, dan pasien tidak bisa menghentikan pengobatan yang dapat mengganggu
hasil sedangkan kontraindikasi relatif

berupa asma yang persisten dan instabil,

anafilaksis, kehamilan, dan penggunaan obat-obatan seperti antihistamin, antidepresan


trisiklik, dan beta blocker.
1) Persiapan Uji Tusuk
Sebagai dokter pemeriksa kita perlu menanyakan riwayat
perjalanan penyakit pasien, gejala dan tanda yang ada yang membuat
pemeriksa bisa memperkirakan jenis alergen, apakah alergi ini terkait
secara genetik dan bisa membedakan apakah justru merupakan penyakit
nonalergi, misalnya infeksi atau kelainan anatomis atau penyakit lain
yang gambarannya menyerupai alergi. Persiapan Tes Tusuk (Pawarti,
2004; Mayo, 2005):
a) Persiapan bahan/material ekstrak alergen.
i. Menggunakan material yang belum kedaluwarsa
ii. Menggunakan ekstrak alergen yang terstandarisasi

13

b) Pesiapan Penderita :
i. Menghentikan pengobatan antihistamin 5-7 hari sebelum tes.
ii. Menghentikan pengobatan jenis antihistamin generasi baru paling
tidak 2-6 minggu sebelum tes.
iii. Usia : pada bayi dan usia lanjut tes kulit kurang memberikan
reaksi.
iv. Jangan melakukan tes tusuk pada penderita dengan penyakit kulit
misalnya urtikaria, SLE dan adanya lesi yang luas pada kulit.
v. Pada penderita dengan keganasan,limfoma, sarkoidosis, diabetes
neuropati juga terjadi penurunan terhadap reaktivitas terhadap tes
kulit ini.
Tabel 2.2. Daftar Obat-obatan yang dapat mempengaruhi tes kulit
sehingga harus dibebaskan beberapa hari sebelumnya (Krouse, 2003)
Anti histamin generasi I
dibebaskan
klorfeniramin
1-3 hari
klemastin
1-10 hari
ebastin
3-10 hari
hidroksisin
1-10 hari
ketotifen
3-10 hari
mequisatin
3-10 hari
Antihistamin generasi II
setirisin
loratadin
feksofenadin
3-10 hari
desloratadin
Astemizole
6 minggu
Antidepresan
Imipramin
Fenotiazine
10 hari
Kortikosteroid jangka
pendek
< 1 minggu
Cimetidin
juga
Ranitidin
mempengaruhi
tes kulit
Kromolin
tidak
B 2 adrenergik agonis
mempengaruhi
Teofilin
tes kulit.

14

c) Persiapan pemeriksa :
i. Teknik dan ketrampilan pemeriksa perlu dipersiapan agar tidak
terjadi interpretasi yang salah akibat teknik dan pengertian yang
kurang difahami oleh pemeriksa.
ii. Ketrampilan teknik melakukan tusuk
iii. Teknik menempatkan lokasi tusukan karena ada tempat-tempat
yang reaktifitasnya tinggi dan ada yang rendah. Berurutan dari
lokasi yang reaktifitasnya tinggi sampai rendah : bagian bawah
punggung > lengan atas > siku > lengan bawah sisi ulnar > sisi
radial > pergelangan tangan.
2) Prosedur Uji Tusuk (Pawarti, 2004; Nelson et al, 1998)
Uji tusuk ( Skin Prick Test ) seringkali dilakukan pada bagian
volar lengan bawah. Pertama-tama dilakuakn desinfeksi dengan alkohol
pada area volar, dan tandai area yang akan kita tetesi dengan ekstrak
alergen. Ekstrak alergen diteteskan satu tetes larutan alergen (Histamin/
Kontrol positif ) dan larutan kontrol ( Buffer/ Kontrol negatif)
menggunakan jarum ukuran 26 G atau 27 G atau blood lancet.
Kemudian ditusukkan dengan sudut kemiringan 45 menembus
lapisan epidermis dengan ujung jarum menghadap ke atas tanpa
menimbulkan perdarahan. Tindakan ini mengakibatkan sejumlah alergen
memasuki kulit. Tes dibaca setelah 15-20 menit dengan menilai bentol
yang timbul.
A.

B.

C.

Gambar 2.2. A. Cara menandai ekstrak alergen yang diteteskan pada lengan;
B. Sudut melakukan cukit pada kulit dengan lancet; C. Contoh reaksi hasil
positif pada tes cukit

15

3) Mekanisme Reaksi pada Uji Tusuk


Di bawah permukaan kulit terdapat sel mast, pada sel mast
didapatkan granula-granula yang berisi histamin. Sel mast ini juga
memiliki reseptor yang berikatan dengan IgE. Ketika lengan IgE ini
mengenali alergen (misalnya house dust mite) maka sel mast terpicu
untuk melepaskan granul-granulnya ke jaringan setempat, maka timbulah
reaksi alergi karena histamin berupa bentol (wheal) dan kemerahan
(flare) (Lie, 2004).

Gambar. 2.3. Uji Tusuk dan Hasilnya


4) Interpretasi Uji Tusuk
Untuk menilai ukuran bentol berdasarkan The Standardization
Committee of Northern (Scandinavian) Society of Allergology dengan
membandingkan bentol yang timbul akibat alergen dengan bentol positif
histamin dan bentol negatif larutan kontrol. Adapun penilaiannya sebagai
berikut:
a) Bentol histamin dinilai sebagai +++ (+3)
b) Bentol larutan kontrol dinilai negatif (-)
c) Derajat bentol + (+1) dan ++(+2) digunakan bila bentol yang timbul
besarnya antara bentol histamin dan larutan kontrol.
d) Untuk bentol yang ukurannya 2 kali lebih besar dari diameter bentol
histamin dinilai ++++ (+4).

16

Di Amerika cara menilai ukuran bentol menurut Bousquet (2001)


seperti dikutip Rusmono

sebagai berikut (Rusmono, 2003; Pawarti,

2004):
-0

: reaksi (-)

- 1+

: diameter bentol 1 mm > dari kontrol (-)

- 2+

: diameter bentol 1-3mm dari kontrol (-)

- 3+

: diameter bentol 3-5 mm > dari kontrol (-)

- 4+

: diameter bentol 5 mm > dari kontrol (-) disertai eritema.


Tes kulit dapat memberikan hasil positif palsu maupun negatif

palsu karena tehnik yang salah atau faktor material/bahan ekstrak


alergennya yang kurang baik (Nelson, 1998). Jika Histamin ( kontrol
positif ) tidak menunjukkan gambaran wheal/ bentol atau flare/hiperemis
maka

interpretasi

harus

dipertanyakan,

Apakah

karena

sedang

mengkonsumsi obat-obat antialergi berupa antihistamin atau steroid.


Obat seperti antidepresan trisiklik, phenothiazines adalah sejenis anti
histamin juga (Nelson, 1998).
Hasil negatif palsu dapat disebabkan karena kualitas dan potensi
alergen yang buruk, pengaruh obat yang dapat mempengaruhi reaksi
alergi, penyakit-penyakit tertentu, penurunan reaktivitas kulit pada bayi
dan orang tua, teknik cukitan yang salah (tidak ada cukitan atau cukitan
yang lemah ) (Pawarti, 2004). Ritme harian juga mempengaruhi
reaktifitas tes kulit. Bentol terhadap histamin atau alergen mencapai
puncak pada sore hari dibandingkan pada pagi hari, tetapi perbedaan ini
sangat minimal. Hasil positif palsu disebabkan karena dermografisme,
reaksi iritan, reaksi penyangatan (enhancement) nonspesifik dari reaksi
kuat alergen yang berdekatan, atau perdarahan akibat cukitan yang
terlalu dalam (Nelson, 1998).
Dermografisme terjadi pada seseorang yang apabila hanya
dengan

penekanan

saja

bisa

menimbulkan

wheal/bentol

dan

flare/kemerahan. Dalam rangka mengetahui ada tidaknya dermografisme


ini maka kita menggunakan larutan garam sebagai kontrol negatif. Jika
Larutan garam memberikan reaksi positif maka dermografisme. Semakin

17

besar bentol maka semakin besar sensitifitas terhadap alergen tersebut,


namun tidak selalu menggambarkan semakin beratnya gejala klinis yang
ditimbulkan. Pada reaksi positif biasanya rasa gatal masih berlanjut 3060 menit setelah tes (Nelson, 1998).
Uji tusuk untuk alergen makanan kurang dapat diandalkan
kesahihannya dibandingkan alergen inhalan seperti debu rumah dan
polen. Uji tusuk untuk alergen makanan seringkali negatif palsu (Nelson,
1998).
5) Kesalahan yang Sering Terjadi pada Uji Tusuk
a) Tes dilakukan pada jarak yang sangat berdekatan ( < 2 cm )
b) terjadi perdarahan, yang memungkinkan terjadi false positive.
c) Teknik cukitan yang kurang benar sehingga penetrasi eksrak ke kulit
kurang, memungkinkan terjadinya false-negative.
d) Menguap dan memudarnya larutan alergen selama tes.

c. Uji kulit intradermal


Selain itu dapat dilakukan tes intradermal pada paska erupsi obat, namun uji
kulit intradermal hanya dilakukan bila uji tusuk pada menit ke 20 memberikan hasil
yang negatif pada obat yang diduga menyebabkan erupsi obat. Namun uji kulit
intradermal ini perlu dilakukan di rumah sakit karena membutuhkan keadaan yang steril
dan tehnik dari pemeriksa yang amat terlatih. Setelah 20 menit, uji intradermal dapat
dikatakan positif bila menghasilkan urtikaria berdiameter lebih dari 6 mm (> 6mm). 5,17
d. Uji provokasi oral (oral provocation test/oral challenge)
Uji provokasi oral adalah cara diagnostik terbaik pada keadaan reaksi simpang
obat karena dapat mengindikasikan kondisi klinis sebelum terjadi onset penyakit. 18
Sebagai lanjutan dari uji provokasi oral dapat dilakukan uji terbuka berulang (repeated
open application test/ROAT)19 untuk menyingkirkan adanya dermatitis kontak alergi.
Kombinasi dari kedua uji tersebut yang lebih baik dan hasilnya mendekati realitas

18

daripada hanya dilakukan uji tempel konvensional. Namun, pada praktik medis, uji
provokasi oral mempunyai banyak kerkurangan dan syarat yang harus dipenuhi. Pada
keadaan reaksi simpang obat tertentu, contohnya a) erupsi obat menyeluruh yang
mengakibatkan disabilitas total pada pasien, b) gejala klinis yang berat (DRESS,
vaskulitis, Sindrom Steven Johnson), c) erupsi obat yang mengancam kehidupan
(sindrom Lyells), uji provokasi obat tidak disarankan. Selain itu, pada reaksi simpang
obat yang lebih ringan, contohnya erupsi makopapular yang hanya terbatas pada lokasi
tertentu dan erupsi obat fikstum, uji provokasi oral ini dapat dilakukan setelah
mendapatkan persetujuan dari pasien, namun hanya disarankan dilakukan bila tes
lainnya memberikan hasil negatif (uji tempel dan uji tusuk memberikan hasil negatif
atau negatif palsu).5 Jika meragukan, keputusan akhir tergantung pada evaluasi antara
risiko dan manfaat bagi pasien. Dosis obat yang akan diberikan tidak dikodifikasi dan
tidak ada pedoman yang berlaku umum dalam literatur. Dosis yang dapat digunakan
pada uji ini yaitu setengah atau seperempat dari dosis inisial obat yang diberikan
pasien.19,20

DAFTAR PUSTAKA
1. Gruchalla RS. Understanding drug allergies. J Alergy Clin Immunol 2000; 105:
S637 5644.
2. Riedl MA, Casillas AM, Adverse Drug Reactions: Types and Treatment Options.
In: American Family Physician. Volume 68, Number 9. 2003. Accessed on: 7 th
February, 2016. Available at: www.aafp.org/afp.
3. Edward IR, Aronson JK. Adverse drug reactions: definitions, diagnosis and
management. Lancet 2000;356:125559.
4. Knowles SR. Idiosyncratic drug reactions: the reactive metabolite syndrome.
Lancet 2000;356:158791.
5. Lachapelle JM, Maibach HI, Patch Testing and Prick Testing:1A Practical
Guide/ Official Publication of the ICDRG, DOI: 10.1007/978-3-540-92806-5_1.
Springer-Verlag Berlin: Heidelberg; 2009.

19

6. Shear NH, Knowles SR, Sullivan JR, Shapiro L. Cutaneus Reactions to Drugs.
In: Fitzpatricks Dermatology in General Medicine. 6 thed. USA: The Mc Graw
Hill Companies, Inc. 2003. p: 133037.
7. Lee A, Thomson J. Drug-induced skin. In: Adverse Drug Reactions, 2nd ed.
Pharmaceutical Press. 2006. Accessed on: 10th February, 2016. Available at:
http://drugsafety.adisonline.com/pt/re/drs/pdf
8. Revus J, Allanore AV. Drugs Reaction. In: Bolognia Dermatology. Volume One.
2nd ed. Elserve limited, Philadelphia. United States of America. 2003. p: 33352.
9. Purwanto SL. Alergi Obat. In: Cermin Dunia Kedokteran 1976(6). Accessed on:
10th February, 2016. Available from: www-portalkalbe-files-cdk-files-07Alergi
Obat006_pdf-.mhtl
10. Lachapelle JM, Marot L. Histopathological and immunohistopathological
features of irritant and allergic contact dermatitis. In: Frosch PJ, Menn T,
Lepoittevin JP (eds). Contact Dermatitis, 4th edn. Springer, Berlin, 2006. pp
10716.
11. Isaksson M, Gruvberger B, Frick- Engfeldt M, Bruze. Which test chambers
should be used for acetone, ethanol and water solutions when patch testing?
Contact Dermatitis 2007;57:13416.
12. Benezra C, Andanson J, Chabeau G, Ducombs G, Foussereau J, Lachapelle JM,
et al. Concentrations of patch test allergens: are we comparing the same things?
Contact Dermatitis 1978;4:1035.
13. Goossens A, Morren M. Contact allergy in children. In: Frosch PJ, Menn T,
Lepoittevin JP (eds) Contact Dermatitis, 4th edn. Springer, Berlin, 2006. pp
81130.
14. The ESSCA Working Group. The European Surveillance System of Contact
Allergies (ESSCA): results of patch testing the standard series, 2004. JEADV
2008;22:1748.
15. De Groot AC, Frosch PJ. Patch test concentrations and vehicles for testing
contact allergens. In: Frosch PJ, Menn T, Lepoittevin JP (eds). Contact
Dermatitis, 4th edn. Springer, Berlin. 2006. pp 907928.
16. Bashir SJ, Maibach HI. Contact urticaria syndrome. In: Chew AL, Maibach HI
(eds) Irritant Dermatitis. Springer, Berlin. 2006. pp 6370.
17. Barbaud A, Gonalo M, Bruynzeel D, Bircher A. Guidelines for performing skin
tests with drugs in the investigation of cutaneous adverse drug reactions. Contact
Dermatitis 2001;45:32128.
18. Veien NK, Hattel T, Justesen O, Norholm A. Oral challenge with nickel and
cobalt in patients with positive patch tests to nickel and/or cobalt. Acta Derm
Venereol 1987;67:32125.
19. Hannuksela M, Salo H. The repeated open application test (ROAT). Contact
Dermatitis 1986;14:221227.
20. Barbaud A. Drug skin tests and systemic cutaneous adverse drug reactions: an
update. Expert Rev Dermatol 2007;2:14.

20