Anda di halaman 1dari 32

BAB I

PENDAHULUAN

A.

LATAR BELAKANG
Kode Etik bagi profesi Notaris sangat diperlukan untuk menjaga kualitas

pelayanan hukum kepada masyarakat oleh karena hal tersebut, Ikatan Notaris Indonesia
(INI) sebagai satu-satunya organisasi protesi yang diakui kebenarannya sesuai dengan
UU Jabatan Notaris No.30 Tahun 2004, menetapkan Kode Etik bagi para anggotanya.
Jabatan notaris adalah merupakan jabatan kepercayaan. Undang-undang telah
memberi kewenangan kepada para Notaris yang begitu besar untuk membuat alat bukti
yang otentik, karenanya ketentuan-ketentuan dalam UU Jabatan Notaris begitu ketatnya
dan penuh dengan sanksi, baik sanksi administrasi maupun sanksi pidana tanpa
mengurangi kemungkinan diterapkannya sanksi pemberhentian sementara sampai ke
pemecatan.
Kode etik notaris sendiri sebagai suatu ketentuan yang mengatur tingkah laku
notaris dalam melaksanakan jabatannya, juga mengatur hubungan sesama rekan notaris.
pada Pada hakekatnya Kode Etik Notaris merupakan penjabaran lebih lanjut dari apa
yang diatur dalam Undang Undang Jabatan Notaris. Dalam kehidupan bermasyarakat
diperlukan suatu profesi dimana seseorang dapat menyelesaikan masalah-masalah hukurn
yang dihadapinya yaitu salah satunya dengan menghadap kepada seorang Netarts.
Notaris adalah suatu protesi kepercayaan dan berlainan dengan profesi pengacara,
dimana Notaris dalam menjalankan jabatannya tidak memihak. Oleh karena itu dalam
jabatannya kepada yang bersangkutan dipercaya untuk rnernbuat alat bukti yang
mempunyai kekuatan otentik. Dengan demikian, peraturan atau undang-undang yang
mengatur tentang jabatan Notaris telah dibuat sedemikian ketatnya sehingga dapat
menjamin tentang otentisitasme akta-akta yang dibuat dihadapannya. Untuk menjaga
kualitas pelayanan kepada masyarakat, maka Asosiasi Profesi Notaris seperti lkatan
Notaris Indonesia membuat Kode Etik yang berlaku terhadap para anggotanya.

B.

RUMUSAN MASALAH
1. posisi kasus pelanggaran kode etik notaris berdasarkan surat Putusan Majelis
Pemeriksa Wilayah Notaris Jawa Barat No.129/MPW-JABAR/2007
2. bagaimana Alur Pengawasan Pelanggaran Jabatan dan Kode Etik Notaris
3. tinjauan yuridis Terhadap Pelanggaran yang Dilakukan oleh Notaris
Terlapor

C. TUJUAN PENELITIAN
1. Untuk mengetahui posisi kasus pelanggaran kode etik notaris berdasarkan
surat Putusan Majelis Pemeriksa Wilayah Notaris Jawa Barat No.129/MPWJABAR/2007
2. Untuk mengetahui alur pengawasan terhadap pelanggaran jabatan dan kode
etik notaris
3. Untuk mengetahui Tinjauan yuridis terhadap pelanggaran yang dilakukan
oleh notaris terlapor.

D. MANFAAT PENELITIAN
Penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat baik secara teoritis maupun
secara praktis, yaitu :
1. Secara Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dalam memberikan masukan
untuk penambahan ilmu pengetahuan dibidang Ilmu Hukum pada umunya, ilmu hukum
dibidang kenotariatan pada khususnya yaitu mengenai Tinjauan Yuridis Pelanggaran
Kode Etik Notaris Berdasarkan Surat Putusan Majelis Pemeriksa Wilayah Notaris Jawa
Barat No.129/Mpw-Jabar/2007.

2. Secara Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan dan penambah wawasan
bagi pembaca dan rekan mahasiswa yang mempunyai minat dalam bidang dunia profesi
Kenotariatan.

BAB II
LANDASAN TEORI
1. RUANG LINGKUP
Landasan filosofis dibentuknya Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang
Jabatan Notaris adalah terwujudnya jaminan kepastian hukum, ketertiban dan
perlindungan hukum yang berintikan kebenaran dan keadilan. Melalui akta yang
dibuatnya, Notaris harus dapat memberikan kepastian hukum kepada masyarakat
pengguna jasa Notaris. Akta yang dibuat oleh atau dihadapan Notaris dapat menjadi bukti
otentik dalam memberikan perlindungan hukum kepada para pihak manapun yang
berkepentingan terhadap akta tersebut mengenai kepastian peristiwa atau perbuatan
hukum itu dilakukan.
Notaris adalah pejabat umum yang berwenang untuk membuat Akta Otentik dan
kewenangan lainnya sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang. Tempat kedudukan
Notaris adalah daerah Kabupaten atau Kota. Wilayah Jabatan Notaris adalah meliputi
seluruh wilayah Propinsi dari tempat kedudukannya.
Notaris berwenang mengeluarkan berbagai perbuatan, perjanjian dan penetapan
yang diharuskan oleh suatu peraturan umum atau lebih yang berkepentingan dikehendaki
untuk dinyatakan dalam suatu Akta Otentik. Notaris juga ditugaskan untuk melakukan
pendaftaran dan mensahkan surat-surat/akta-akta yang dibuat 10 dibawah tangan. Notaris
juga dapat memberikan nasihat hukum dan penjelasan mengenai Undang-Undang kepada
pihak-pihak yang bersangkutan.
Dalam rangka pengawasan terhadap Notaris, sebagaimana diatur dalam Pasal 67
Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris, bahwa pengawasan atas
Notaris dilakukan oleh Menteri dengan membentuk Majelis Pengawas Notaris. Majelis
Pengawas Notaris anggotanya berjumlah 9 (sembilan) orang yang terdiri dari unsur
pemerintah, organisasi Notaris dan ahli/akademisi dengan anggota masing-masing
sebanyak 3 (tiga) orang. Dalam rangka melakukan tugas pengawasan, Menteri
membentuk Majelis Pengawas Notaris ditingkat Pusat, Propinsi dan tingkat Kabupaten/
Kota. Selama ini telah dilakukan pembentukan Majelis Pengawas Pusat Notaris, Majelis
Pengawas Wilayah Notaris di setiap Propinsi dan sebagian telah dibentuk Majelis
Pengawas Daerah Notaris di setiap Kabupaten/ Kota. Kendala utama Pengawasan

terhadap Notaris adalah belum terbentuknya seluruh Majelis Pengawas Daerah sebagai
ujung tombak pengawasan dan juga dari beberapa unsur selaku Anggota Majelis tidak
besedia menjadi anggota Majelis Pengawas Daerah.

2. KETENTUAN DAN KODE ETIK NOTAIS


1. Ketentuan Kode Etik Notaris
Kode Etik dalam arti materil adalah norma atau peraturan yang praktis baik
tertulis amupun tidak tertulis mengenai etika berkaitan dengan sikap serta pengambilan
putusan hal-hal fundamental dari nilai dan standar perilaku orang yang dinilai baik atau
buruk dalam menjalankan profesinya yang secara mandiri dirumuskan, ditetapkan dan
ditegakan oleh organisasi profesi.
Kode Etik Notaris merupakan suatu kaidah moral yang ditentukan oleh
perkumpulan Ikatan Notaris Indonesia berdasarkan Keputusan Kongres Perkumpulan
dan/atau yang ditentukan dan diatur dalam peraturan perundang-undangan yang mengatur
tentang hal itu dan yang berlaku bagi serta wajib ditaati oleh setiap dan semua anggota
perkumpulan dan semua orang yang menjalankan tugas dan jabatan sebagai Notaris,
Pasal 83 ayat (1) Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris
menyatakan bahwa Organisasi Notaris menetapkan dan menegakan Kode Etik Notaris.
Ketentuan tersebut diatas ditindaklanjuti dengan ketentuan Pasal 13 ayat (1) Anggaran
Dasar Ikatan Notaris Indonesia yang menyatakan: Untuk menjaga kehormatan dan
keluhuran martabat jabatan Notaris, Perkumpulan mempunyai Kode Etik Notaris yang
ditetapkan olrh Kongres dan merupakan kaidah moral yang wajib ditaati oleh setiap
anggota Perkumpulan.
Kode Etik Notaris dilandasi oleh kenyataan bahwa Notaris sebagai pengemban
profesi adalah orang yang memiliki keahlian dan keilmuan dalam bidang kenotariatan,
sehingga mampu memenuhi kebutuhan masyarakat yang memerlukan pelayanan dalam
bidang kenotariatan. Secara pribadi Notaris bertanggungjawab atas mutu pelayanan jasa
yang diberikan.
Spirit Kode Etik Notaris adalah penghormatan terhadap martabat manusia pada
umumnya dan martabat Notaris pada khususnya. Dengan dijiwai pelayanan yang
berintikan penghormatan terhadap martabat manusia pada umumnya dan martabat
Notaris pada khususnya, maka pengemban Profesi Noatris mempunyai ciri-ciri mandiri

dan tidak memihak, tidak mengacu pamrih, rasionalitas dalam arti mengacu pada
kebenaran obyektif, spesifitas fungsional serta solidaritas antar sesama rekan seprofesi.
Notaris merupakan profesi yang menjalankan sebagai kekuasaan Negara dibidang
hukum privat dan mempunyai peran penting dalam membuat akta otentik yang
mempunyai kekuatan pembuktian sempurna dan oleh karena jabatan Notaris merupakan
jabatan kepercayaan, maka seorang Notaris harus mempunyai perilaku yang baik1 .
Perilaku Notaris yang baik dapat diperoleh dengan berlandaskan pada Kode Etik Notaris.
Dengan demikian maka Kode Etik Notaris mengatur mengenai hal-hal yang harus ditaati
oleh seorang Notaris dalam menjalankan jabatannya dan juga di luar menjalankan
jabatannya.

3. KODE ETIK NOTARIS MELIPUTI KEWAJIBAN, LARANGAN DAN


PENGECUALIAN
Pasal 83 ayat (1) Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris
menyatakan :
Organisasi Notaris menetapkan dan menegakan Kode Etik Notaris
Atas dasar ketentuan Pasal 83 ayat (1) UUJN tersebut Ikatan Notaris Ondonesia
pada Kongres Luar Biasa di Bandung pada tanggal 27 Januari 2005, telah menetapkan
Kode Etik yang terdapat dalam Pasal 13 Anggaran Dasar :
Untuk

menjaga

kehormatan

dan

keluruhan

martabat

jabatan

Notaris,

Perkumpulan mempunyai Kode Etik yang ditetapkan oleh Kongres dan


merupakan kaidah moral yang wajib ditaati oleh setiap anggota perkumpulan
Dewan kehormatan melakukan upaya-upaya untuk menegakan Kode Etik.
Pengurus perkumpulan dan/ atau Dewan Kehormatan bekerja sama dan
berkoordinasi dengan Majelis Pengawas untuk melakukan upaya penegakan
Kode Etik.

a. Kewajiban
Pasal 3 Kode Etik Notaris mengatur mengenai kewajiban Notaris, seorang Notaris
mempunyai kewajiban sebagai berikut :

1.

Seorang Notaris harus mempunyai moral, akhlak serta kepribadian yang baik,
karena Notaris menjalankan sebagai kekuasaan Negara di bidang Hukum Privat,
merupakan jabatan kepercayaan dan jabatan terhormat.

2.

menghormati dan menjunjung tinggi harkat dan martabat jabatan Notaris,


karena harkat dan martabat merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari
jabatan.

3.

Menjaga dan membela kehormatan perkumpulan, karena anggota yang


merupakan bagian dari perkumpulan, maka seorang Notaris harus dapat menjaga
kehormatan perkumpulan dan kehormatan merupakan bagian yang tidak
terpisahkan dari perkumpulan.

4.

Bertindak jujur, mandiri, tidak berpihak, penuh rasa tanggung jawab berdasarkan
perundang-undangan dan isi sumpah jabatan Notaris. Maksudnya Jujur terhadap
diri sendiri, terhadap klien dan terhadap profesi. Mandiri dalam arti dapat
menyelenggarakan kantor sendiri, tidak tergantung pada orang atau pihak lain
serta

tidak

menggunakan

jasa

pihak

lain

yang

dapat

mengganggu

kemandiriannya. Tidak berpihak berarti tidak membela/ menguntungkan salah


satu pihak dan selalu bertindak untuk kebenaran dan keadilan. Penuh rasa
tanggung jawab dalam arti selalu dapat mempertanggungjawabkan semua
tindakannya, akta yang dibuatnya dan bertanggung jawab terhadap kepercayaan
yang diembannya.
5. Meningkatkan ilmu pengetahuan yang telah dimiliki tidak terbatas pada ilmu
pengetahuan hukum dan kenotariatan. Menyadari Ilmu selalu berkembang serta
hukum tumbuh dan berkembang bersama dengan perkembangan masyarakat.
6.

Mengutamakan pengabdian kepada kepentingan masyarkat dan Negara. Notaris


diangkat bukan untuk kepentingan individu Notaris, jabatan Notaris adalah
jabatan pengabdian, oleh karena itu Notaris harus selalu mengutamakan
kepentingan masyarakat dan Negara.

7. Memberikan jasa pembuatan akta dan jasa kenotarisan lainnya untuk masyarakat
yang tidak mampu tanpa memungut honorarium. Hal tersebut merupakan salah
satu bentuk kepedulian (rasa sosial) Notaris terhadap lingkungannya dan
merupakan bentuk pengabdian Notaris terhadap masyarakat, bangsa dan Negara.
8. Menetapkan satu kantor di tempat kedudukan dan kantor tersebut merupakan
satu-satunya kantor bagi Notaris yang bersangkutan dalam melaksanakan tugas
jabatan sehari-hari. Notaris tidak boleh membuka kantor cabang, kantor tersebut

harus benar-benar menjadi tempat ia menyelenggarakan kantornya. Kantor


Notaris dan PPAT harus berada di satu kantor.
9. Memasang 1 (satu) buah papan nama di depan/di lingkungan kantornya dengan
pilihan ukuran, yaitu 100 cm x 40 cm; 150 cm x 60 cm atau 200 cm x 80 cm,
yang memuat :
a. Nama lengkap dan gelar yang sah ; 17
b. Tanggal dan Nomor Surat Keputusan ;
c. Tempat kedudukan ;
d. Alamat kantor dan Nomor telepon/ fax. Papan nama bagi kantor
Notaris adalah Papan Jabatan yang dapat menunjukan kepada masyarakat
bahwa di tempat tersebut ada Kantor Notaris bukan tempat promosi.
Papan jabatan tidak boleh bertendesi promosi seperti jumlah lebih dari
satu atau ukuran tidak sesuai dengan standar.
10. Hadir, mengikuti dan berpartisipasi aktif dalam setiap kegiatan diselenggarakan
oleh perkumpulan, menghormati, mematuhi, melaksanakan setiap dan seluruh
keputusan perkumpulan. Aktivitas dalam berorganisasi dianggap dapat
menumbuhkembangkan rasa persaudaraan profesi. Mematuhi dan melaksanakan
keputusan organisasi adalah keharusan yang merupakan tindak lanjut dari
kesadaran dan kemauan untuk bersatu dan bersama.
11. Membayar uang iuran perkumpulan secara tertib, memenuhi kewajiban financial
adalah bagian dari kebersamaan untuk menanggung biaya organisasi secara
bersama dan tidak membebankan pada salah seorang atau sebagian orang.
12. Membayar uang duka untuk membantu ahli waris teman sejawat yang meninggal
dunia. Meringankan beban ahli waris rekan seprofesi merupakan wujud
kepedulian dan rasa kasih antar rekan.
13. Melaksanakan dan mematuhi semua ketentuan tentang honorarium yang
ditetapkan perkumpulan. Hal tersebut adalah untuk menghindari persaingan tidak
sehat, menciptakan peluang yang sama dan mengupayakan kesejahteraan bagi
seluruh Notaris.
14. Menjalankan jabatan Notaris teutama dalam pembuatan, pembacaan dan
penandatanganan akta dilakukan di kantornya, kecuali karena alasan-alasan yang
sah. Akta dibuat dan diselesaikan di Kantor Noatris, diluar kantor pada dasarnya
meruipakan pengecualian. Diluar kantor harus dilakukan dengan tetap mengingat
Notaris hanya boleh mempunyai satu kantor.

15. Menciptakan suasana kekeluargaan dan kebersamaan dalam melaksanakan tugas


jabatan dan kegiatan sehari-hari serta saling memperlakukan rekan sejawat secara
baik, saling menghormati, saling menghargai, saling membantu serta selalu
berusaha menjalin komunikasi dan tali silaturahim. Dalam berhubungan antar
sesama rekan dilakukan dengan sikap dan perilaku yang baik dengan saling
menghormati dan menghargai atas dasar saling bantu membantu tidak boleh
saling menjelekan apalagi dihadapan klien.
16. Memperlakukan setiap klien yang datang dengan baik, tidak membedakan status
ekonomi dan status sosialnya. Memperlakukan dengan baik harus diartikan tidak
saja Notaris bersikap baik tetapi juga tidak membuat pembedaan atas dasar suku,
ras, agama serta status sosial dan keuangan.
17. .Melakukan perbuatan-perbuatan yang secara umum disebut sebagai kewajiban
untuk ditaati dan dilaksanakan antara lain namun tidak terbatas pada ketentuan
yang tercantum dalam UUJN, Penjelasan Pasal 19 ayat (2) UUJN, Isi Sumpah
Jabatan Notaris, Anggaran Dasar dan Rumah Tangga ini.

b. Larangan
Pasal 4 Kode Etik Notaris mengatur mengenai larangan, larangan
tersebut meliputi hal-hal sebagai berikut :
1. Mempunyai lebih dari 1 (satu) kantor, baik kantor cabang maupun kantor
perwakilan. Larangan ini diatur pula dalam Pasal 19 UUJN sehingga pasal ini
dapat diartikan pula sebagai penjabaran UUJN dan mempunyai satu kantor harus
diartikan termasuk kantor PPAT
2.

Memasang papan nama atau tulisan yang berbunyi Notaris/Kantor Notaris


diluar lingkungan kantor. Larangan ini berkaitan dengan kewajiban yang terdapat
dalam Pasal 3 ayat (9) Kode Etik Notaris sehingga tindakannya dapat dianggap
sebagai pelanggaran atas kewajiban.

3. Melakukan publikasi atau promosi diri, baik sendiri maupun secara bersamasama dengan mencantumkan nama dan jabatannya, menggunakan sarana media
cetak dan atau elektronik dcalam bentuk iklan, ucapan selamat, ucapan bela
sungkkawa, ucapan terima kasih, kegiatan pemasaran, kegiatan sponsor baik
dalam bidang social, keagamaan maupun olah raga. Larangan ini merupakan
konsekuensi logis dari kedudukan Notaris sebagai Pejabat Umum dan bukan

sebagai Pengusaha/Kantor Badan Usaha sehingga publikasi/promosi tidak dapat


dibenarkan.
4. Bekerjasama dengan biro jasa/orang/Badan Hukum yang pada hakikatnya
bertindak sebagai perantara untuk mencari atau mendapatkan klien. Notaris
adalah Pejabat Umum dan apa yang dilakukan merupakan pekerjaan jabatan dan
bukan dengan tujuan pencarian uang atau keuntungan sehingga penggunaan biro
jasa/orang/badan hukum sebagai perantara pada hakikatnya merupakan tindakan
pengusaha dalam pencairan keuntungan yang tidak sesuai dengan kedudukan
peran dan fungsi Notaris.
5. Menandatangani akta yang proses pembuatan minutanya telah disiapkan oleh
pihak lain. Jabatan Notaris harus mandiri, jujur dan tidak berpihak sehingga
pembuatan minuta yang telah dipersiapkan oleh pihak lain tidak memenuhi
kewajiban Notaris yang terdapat dalam Pasal 3 ayat (4) Kode Etik Notaris.
6.

Mengirimkan minuta kpada klien untuk ditandatngani. Penandatanganan akat


Notaris merupakan bagian dari keharusan agar akta tersebut dikatakan sebagai
akta otentik. Selain hal tersebut, Notaris menjamin kepastian tanggal
penandatanganan.

7. Berusaha atau berupaya dengan jalan apapun agar seseorang berpindah dari
Notaris lain kepadanya, baik upaya itu ditujukan langsung kepada klien yang
bersangkutan maupun melalui perantara orang lain. Berperilaku baik dan
menjaga hubungan baik dengan sesama rekan diwujudkan antara lain dengan
tidak melakukan upaya baik langsung maupun tidak langsung mengambil klien
rekan.
8. Melakukan pemaksaan kepada klien dengan cara menahan dokumen-dokumen
yang telah diserahkan atau melakukan tekanan psikologis dengan maksud agar
klien tersebut tetap membuat akta padanya. Pada dasarnya setiap pembuatan akta
harus dilakukan dengan tanpa adanya paksaan dari siapapun termasuk Notaris.
Kebebasan membuat akta merupakan hak dari klien itu.
9. Melakukan usaha-usaha baik langsug maupun tidak langsung yang menjurus ke
arah timbulnya persaingan yang tidak sehat dengan sesama rekan Notaris.
Persaingan yang tidak sehat merupakan pelanggaran terhadap Kode Etik sehingga
upaya yang dilakukan baik secara langsung maupun tidak langsung harus
dianggap sebagai pelanggaran Kode Etik

10. Menetapkan honorarium yang harus dibayar oleh klien dengan jumlah lebih
rendah dari honorarium yang telah ditetapkan Perkumpulan. Penetapan honor
yang lebih rendah dianggap telah melakukan persaingan yang tidak sehat yang
dilakukan melalui penetapan honor.
11. Memperkejakan dengan sengaja orang yang masih berstatus karyawan kantor
Notaris lain tanpa persetujuan terlebih dahulu dari Notaris yang bersangkutan.
Mengambil karyawan rekan Notaris dianggap sebagai tindakan tidak terpuji yang
dapat mengganggu jalannya kantor Rekan Notaris.
12. Menjelekkan dan/atau mempersalahkan rekan Notaris atau akta yang dibuat
olehnya. Dalam hal seorang Notaris menghadapi atau menemukan suatu akta
yang dibuat oleh rekan sejawat yang ternyata didalamnya terdapat kesalahankesalahan yang serius dan/atau membahayakan klien, maka Notaris tersebut
wajib memberitahukan kepada rekan sejawat yang bersangkutan atas kesalahan
yang dibuatnya dengan cara yang tidak bersifat menggurui, melainkan untuk
mencegah timbulnya hal-hal yang tidak diinginkan terhadap klien yang
bersangkutan ataupun rekan sejawat tersebut.
13. Membentuk kelompok sesama rekan sejawat yang bersifat eksklusif dengan
tujuan untuk melayani kepentingan suatu instansi atau lembaga, apalagi menutup
kemungkinan

bagi

Notaris

lain

untuk

berpartisipasi.

Notaris

wajib

memperlakukan rekan Notaris sebagai keluarga seprofesi, sehingga diantara


sesama rekan Notaris harus saling menghormati, saling membantu serta selalu
berusaha menjalin komunikasi dan tali silaturahim.
14. Menggunakan dan mencantumkan gelar yang tidak sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku. Mencantumkan gelar yang tidak saah
merupakan tindak pidana, sehingga Notaris dilarang menggunakan gelar-gelar
tidak sah yang dapat merugikan masyarakat dan Notaris itu sendiri.
15.Melakukan perbuatan-perbuatan lain yang secara umum disebut sebagai
pelanggaran terhadap Kode Etik Notaris, antara lain namun tidak terbatas pada
pelnggaran-pelanggaran terhadap ketentuanketentuan dalam UUJN.

c. Pengecualian
Pasal 5 Kode Etik Notaris mengatur mengenai hal-hal yang merupakan
pengecualian, sehingga tidak termasuk pelanggaran, hal tersebut meliputi :

10

1. Memberikan ucapan selamat, ucapan duka cita dengan menggunakan kartu


ucapan, surat, karangan bunga ataupun media lainnya dengan tidak mecantumkan
Notaris, tetapi hanya nama saja. Dibolehkan sebagai pribadi dan tidak dalam
jabatan dan tidak dimaksudkan sebagai promosi tetapi upaya menunjukan
kepedulian sosial dalam pergaulan.
2. Pemuatan nama dan alamat Notaris dalam buku panduan nomor telepon, fax dan
telex yang diterbitkan secara resmi oleh PT. Telkom dan/atau instansi-instansi
dan/atau lembaga-lembaga resmi lainnya. Hal tersebut dianggap tidak lagi
sebagai media promosi tetapi lebih bersifat pemberitahuan.
3. Memasang 1 (satu) tanda penunjuk jalan dengan ukuran tidak melebihi 20 x 50
cm, dasar berwarna putih, huruf berwarna hitam, tanpa mencantumkan nama
Notaris serta dipasang dalam radius maksimum 100 meter dari kantor Notaris
dipergunakan sebagai papan petunjuk, bukan papan promosi.

11

BAB III
PEMBAHASAN

1. POSISI KASUS PELANGGARAN KODE ETIK NOTARIS


Berdasarkan surat Putusan Majelis Pemeriksa Wilayah Notaris Jawa Barat
No.129/MPW-JABAR/2007, berikut adalah ringkasan dari kasus posisi yang telah
terjadi antara Pelapor dan Terlapor.
Pelapor
Nama

: Ana Mardiana

Pekerjaan

: Wiraswasta

Alamat

: Jl. Kacapiring No. 92/122, Bandung

Notaris Terlapor
Notaris Diastuti, S.H., Notaris di Kota Bandung
Alamat Kantor Jl. Sadakeling No.9 di Bandung
Dalam laporannya, Pelapor yang bernama Ana Mardiana dengan pekerjaan
wiraswasta dan beralamat di Jalan Kaca Piring Nomor 92/122 Bandung ini adalah
seorang direktur dari Perseroan Terbatas bernama PT Inovasi Cipta Kreasi. Dalam
mengembangkan dan melaksanakan usahanya, Pelapor melakukan pinjaman
tambahan modal pada seorang pihak yang dikenal sebagai Koesmajadi.
Peminjaman uang ini dilakukan sebanyak beberapa kali dengan rincian sebagai
berikut:
-

Pelapor tahun 2003 mendapat pinjaman tambahan modal dari


Koesmajadi dan sudah di kembalikan pada awal tahun 2004,

Tahun 2004 Pelapor kembali meminjam uang kepada koesmajadi


sebesar Rp. 250.000.000,00 untuk menutupi kekurangan modal kerja

Berikutnya Pelapor kembali meminjam uang kepada koesmajadi


beberapa kali dengan variasi antara Rp. 5.000.000,- sampai dengan
Rp.50.000.000,- yang sudah dikembalikan semua baik secara kas
ataupun transfer rekening bank

12

Kemudian Pelapor pinjam uang lagi kepada Koesmajadi sehingga


seluruh nilai hutang menjadi sebesar Rp. 580.000.000,- dan sudah
dikembalikan sebagian

Kemudian, karena uang tersebut belum dikembalikan seluruhnya


Koesmajadi meminta jaminan dari Pelapor yang kemudian adalah berupa 3 buah
ruko di IBCC milik Pelapor. Ruko tersebut masih berupa cicilan yang belum lunas
pembayarannya. Ketika kemudian suatu hari Pelapor akan mengambil sisa
pinjaman dari Koesmajadi, Koesmajadi meminta agar bertemu dengan Pelapor di
sebuah tempat di Sadakeling, Bandung, dimana Pelapor tidak mengetahui bahwa
tempat tersebut adalah sebuah kantor notaris.
Kantor Notaris tersebut adalah kantor milik Notaris Diastuti S.H., Notaris
di Kota Bandung yang alamatnya adalah Jalan Sadakeling No. 9 Bandung. Di
kantor Notaris tersebut Pelapor diminta untuk menandatangani sebuah blangko
kosong yang isinya akan dibacakan oleh Koesmajadi. Awalnya Pelapor keberatan,
namun pada akhirnya

setuju

untuk

menandatangai. Pelapor kemudian

meninggalkan tempat tersebut setelah mendapatkan sisa uang pinjaman dari


Koesmajadi.
Setelahnya, pada tanggal 25 september 2006 Pelapor mendapat panggilan
dari kepolisian daerah Jawa Barat unit III sat OPS III/Tripiter dit reskrim. Pelapor
dianggap sebagai tersangka tindak pidana penipuan sebagaimana pasal 378
KUHPidana dan diperiksa untuk diminta keterangannya. Penyidik kemudian
menunjukkan kopi dari salinan Akta No.53 yang berisi perjanjian pengikatan diri
untuk melakukan perbuatan Jual Beli antara Pelapor dan Koesmajadi. Pelapor
yang tidak pernah mengetahui bahkan menandatangani akta tersebut merasa
dirugikan dengan adanya akta No. 53 dan melaporkan Notaris Diastuti sebagai
Terlapor.
Berdasarkan Surat putusan tersebut diatas, Pelapor mengajukan tuntutan
berupa:
-

Mempertemukan Pelapor dan Terlapor dihadapan majelis pengawas


Notaris jawa barat

Memberikan peringatan keras terhadap Terlapor

13

Menyatakan bahwa isi dan akta no 53 adalah tidak benar atau palsu

Berdasarkan pemeriksaan, fakta-fakta yang ditemukan betul dilakukan


oleh Terlapor adalah sebagai berikut:
-

Penandatanganan Akta tanpa dibacakan secara patut

Tindakan yang tidak seksama yaitu persetujuan Suami untuk


melakukan tindakan terbalik dengan persetujuan Istri.

Dalam surat putusan tersebut juga disebutkan hal-hal yang meringakan


Terlapor yaitu bahwa Terlapor kooperatif dalam pemeriksaan. Sedangkan hal-hal
yang memberatkan adalah sebagai berikut:
-

Terlapor telah berulangkali diperiksa oleh Majelis Pengawas Wilayah


Notaris untuk kasus-kasus lainnya.

Terlapor saat ini sedang dalam pengusulan skorsing berdasarkan


putusan Majelis Pengawas Wilayah Notaris Jawa Barat

Perbuatan Terlapor dapat menimbulkan ketidakpercayaan masyarakat


kepada akta Notaris

Perbuatan Terlapor dapat menimbulkan kerugian pada masyarakat

Perbuatan Terlapor dapat merusak martabat dan kehormatan Notaris

Perbuatan Terlapor dapat merupakan perbuatan yang tidak profesional

Kemudian setelah menjalani sidang pemeriksaan, Majelis Pemeriksa


Wilayah Notaris kemudian memberikan putusan sebagai berikut:
Mengusulkan kepada majelis pengawas pusat untuk memberhentikan
sementara Notaris yang bersangkutan atau Terlapor dari jabatannya selama 6
bulan vide pasal 9 UU no 30 tahun 2004 tentang jabatan Notaris.

14

2. ALUR PENGAWASAN PELANGGARAN JABATAN DAN KODE


ETIK NOTARIS
Dalam suatu tindakan pelanggaran yang dilakukan oleh seorang profesi
notaris terdapat beberapa hal yang dicakup didalamnya antara lain yaitu
pelanggaran kode etik, pelanggaran jabatan, dan apabila terdapat unsur tindak
pidana. Apabila dalam suatu perbuatan yang dilakukan Notaris terjadi kerugian
yang diakibatkan perbuatan Notaris diluar tugas/atau jabatannya, seperti misalnya
terdapat unsur penipuan atau penggelapan, maka perbuatan ini dapat dilaporkan
langsung kepada pihak kepolisian untuk ditindak lanjuti sebagaimana terjadinya
perbuatan melanggar hukum yang telah diatur dalam Kitab Undang-undang
Hukum Pidana dan cara beracaranya.
Sedangkan apabila perbuatan notaris tersebut merugikan pihak lain seperti
misalnya klien, berkaitan dengan melaksanakan jabatannya (dalam pembuatan
akta dan semacamnya yang menjadi tugas dan kewenangan notaris), maka sesuai
dengan pasal 67 ayat (1) Undang-undang Republik Indonesia Nomor 30 tahun
2004 tentang Jabatan Notaris, yang berwenang untuk melakukan suatu tindakan
pengawasan adalah Menteri. Menteri yang kemudian dimaksud adalah Menteri
Hukum dan Hak Asasi Manusia.
Dalam melakukan pengawasan terhadap Notaris dalam ranah pelanggaran
jabatan dan kode etiknya ini terdapat dua lembaga yang dianggap berwenang
untuk melakukan pengawasan dan tindakan selanjutnya yang akan diberikan
terhadap tindak lanjut bagi pelanggaran yang dilakukan oleh notaris tersebut.
Lembaga-lembaga tersebut adalah Majelis Pengawas Notaris (selanjutnya disebut
MPN) dan Dewan Kehormatan (selanjutnya disebut DK).

2.1 Kewenangan Majelis Pengawas Notaris


Dalam memenuhi tugasnya dalam melakukan suatu bentuk pengawasan
terhadap pejabat notaris, selanjutnya Menteri Hukum dan HAM membentuk
lembaga yang berwenang dan berhak untuk melakukan pengawasan yaitu Majelis

15

Pengawas atau MPN. Berdasarkan pasal 1 angka 6 Undang-undang Republik


Indonesia Nomor 30 tahun 2004 tentang Jabatan Notaris (selanjutnya disebut
sebagai UU No 30 tahun 2004) pengertian Majelis Pengawas sebagaimana
kutipan isi dari pasal tersebut adalah:
Majelis Pengawas adalah suatu badan yang mempunyai kewenangan dan
kewajiban untuk melaksanakan pembinaan dan pengawasan terhadap Notaris.1
Majelis Pengawas ini kemudian terdiri dari:
-

Majelis Pengawas Daerah yang dibentuk di Kabupaten atau Kota2

Majelis Pengawas Wilayah yang dibentuk dan berkedudukan di ibukota


Provinsi3

Majelis Pengawas Pusat yang dibentuk berkedudukan di ibukota Negara4


Dalam hal mendapati seorang pejabat notaris melakukan suatu

pelanggaran yang berkaitan dengan jabatan dan kode etiknya (yang bersifat
berkaitan dengan jabatannya) alur yang terjadi adalah sebagai berikut:
a. masyarakat dapat melaporkan pelanggaran jabatan dan kode etik
langsung kepada Majelis Pengawas Daerah yang dibentuk dimasingmasing Kabupaten atau Kota5.
b. Pelanggaran ini dapat pula diketahui melalui Dewan Kehormatan
Perkumpulan atau berdasarkan pemeriksaan Protokol Notaris yang
dilakukan secara berkala.
c. Kemudian Majelis Pengawas Daerah akan menyelenggarakan sidang
untuk memeriksa adanya dugaan pelanggaran kode etik Notaris atau
pelanggaran pelaksanaan jabatan Notaris
d. Majelis Pengawas Daerah kemudian wajib untuk memberikan berita
acara pemeriksaan tersebut kepada Majelis Pengawas Wilayah
setempat6 karena yang berwenang untuk mengambil keputusan
terhadap laporan tentang Notaris yang melakukan pelanggaran kode
1

Lihat Pasal 1 angka 6 Undang-undang RI Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris
Lihat Pasal 69 Undang-undang RI Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris
3
Lihat pasal 72 Undang-undang RI Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris
4
Lihat Pasal 76 Undang-undang RI Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris
5
Lihat Pasal 71 huruf e Undang-undang RI Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris
6
Lihat pasal 71 huruf b Undang-undang RI Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris
2

16

etik atau pelaksanaan jabatan tersebut adalah Majelis Pengawas


Wilayah.
e. Majelis

pengawas

Wilayah

kemudian

berwenang

untuk

menyelenggarakan sidang dan mengambil keputusan berdasarkan


berita acara dari Majelis Pengawas Daerah
f. Majelis Pengawas Wilayah dapat memanggil Notaris Terlapor untuk
dilakukan pemeriksaan, yang apabila terbukti dapat memberikan
sanksi berupa teguran tertulis ataupun lisan7.
g. Sedangkan untuk sanksi selain sanksi diatas harus melalui Majelis
Pengawas Pusat.
Uraian ini membenarkan bahwa Majelis Pengawas Wilayah Notaris Jawa
Barat berwenang untuk memeriksa perkara karena Terlapor merupakan Notaris
yang memiliki kantor yang berkedudukan di Jalan Sadakeling, Bandung, Jawa
Barat.

2.2 Kewenangan Dewan Kehormatan


Sebenarnya dalam melakukan pengawasan terutama dalam dugaan
pelanggaran kode etik dan jabatan Notaris terdapat suatu lembaga lain yang juga
dianggap berwenang yaitu Dewan Kehormatan sebagaimana yang tertera dalam
Kode Etik Notaris Ikatan Notaris Indonesia (selanjutnya disebut sebagai Kode
Etik Notaris) bab I pasal 1. Pelanggaran yang dimaksud sebagaimana pasal 1
angka 3 Kode Etik Notaris adalah perbuatan yang dilakukan oleh anggota
Perkumpulan yang melanggar ketentuan Kode Etik dan/atau disiplin organisasi.
Dalam kode etik ini disebutkan bahwa terutama dalam pasal 8 disebutkan
bahwa DK merupakan alat perlengkapan Perkumpulan yang berwenang
melakukanpemeriksaan atas pelanggaran terhadap Kode Etik dan menjatuhkan

Lihat pasal 78 ayat (1) Undang-undang RI Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris

17

sanksi kepada pelanggarnya8. DK adalah bagian dari perkumpulan yang bersifat


mandiri dan bertugas untuk melakukan beberapa hal mencakup9:
a. pembinaan, bimbingan, pengawasan, maupun pembenahan anggota
dalam hal kode etik.
b. Memeriksa dan mengambil keputusan atas dugaan pelanggaran
ketentuan kode etik yang bersifat internal yang

tidak mempunyai

kaitan dengan kepentingan masyarakat secara langsung.


c. memberikan saran dan pendapat kepada Majelis Pengawas atas dugaan
pelanggaran yang dilakukan oleh Notaris.
Sebagaimana MPN yang memiliki jenjang, DK juga memiliki jenjang
pranata dengan fungsi masing-masing yaitu:
a. Dewan Kehormatan Daerah
b. Dewan Kehormatan Wilayah
c. Dewan Kehormatan Pusat
Saat terjadi suatu pelanggaran kode etik, baik karena dugaan DK Daerah
sendiri ataupun karena laporan Pengurus maupun orang lain, maka berdasarkan
pasal 9 Kode Etik Notaris, akan dilakukan hal-hal sebagai berikut10:
a. Selambat-lambatnya dalam waktu tujuh hari kerja DK Daerah wajib
mengadakan sidang untuk membicarakan dugaanterhadap pelanggaran
tersebut.
b. Apabila menurut hasil sidang ada dugaan kuat terhadap pelanggaran
Kode Etik, maka dalam waktu tujuh hari kerja setelah sidang tersebut,
DK Daerah berkewajiban memanggilanggota yang diduga melanggar
tersebutuntukdidengar keterangannya dan diberi kesempatan untuk
membela diri.
c. Dalam hal anggota yang dipanggil tidak datang atau tidak memberi
kabar apapun dalam waktu tujuh hari kerja setelah dipanggil, maka DK
Daerah akan mengulangi panggilannya sebanyak 2 kali dengan jarak
waktu tujuh hari kerja, dan apabila masih belum memenuhi panggilan
8

Lihat Pasal 8 Kode Etik Notaris Ikatan Notaris Indonesia


Lihat Bab I pasal 1 angka 8 Kode Etik Notaris Ikatan Notaris Indonesia
10
Lihat Pasal 9 angka 1 sampai 10 Kode Etik Ikatan Notaris Indonesia
9

18

tersebut, sidang akan tetap dilanjutkan tanpa mendengarkan pembelaan


diri anggota yag dipanggil
d. DK Daerah kemudian akan menentukan putusannya mengenai terbukti
atau tidaknyapelanggaran kode etik serta penjatuhan sanksi selambatlambatnya dalam waktu 15 hari kerja.
e. Bila dalam putusan sidang DK Daerah dinyatakan terbukti ada
pelanggaranterhadap Kode Etik, maka sidang sekaligus menentukan
sanksi terhadap pelanggarnya.
f. Putusan sidang DK Daerah wajib dikirim kepada anggota yang
melanggar dengan surat tercatat atau dengan ekspedisi dan
tembusannya kepadaPengurus Cabang, Pengurus Daerah, Pengurus
Pusat dan DK Pusatdalam waktu tujuhhari kerja, setelah dijatuhkan
putusan oleh sidang DK Daerah.
Dalam putusan yang dijatuhkan oleh DK Daerah tersebut dapat dimintai
banding yang diajukan kepada DK Wilayah. Putusan banding tersebut juga dapat
dimintai pemeriksaan tingkat akhir yang diajukan atau dimohonkan kepada DK
Pusat.

2.3 Perbedaan Kewenangan Pengawasan MPN dan DK


Bagaimanapun dalam pelaksanaan tugasnya, terdapat sedikit perbedaan
antara Majelis Pengawas dan DK. T. Muzakkar dalam tesis yang disusunnya
untuk memperoleh Gelar Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara yang
berjudul Perbandingan Peranan Dewan Kehormatan dengan Majelis Pengawas
Notaris dalam Melakukan Pengawasan Setelah Keluarnya Undang-undang
Nomor 30 Tahun 2004 menyimpulkan terdapat perbedaan antara pengawasan
terhadap Notaris yang dilakukan oleh DK dan Majelis Pengawas Notaris. Bahwa
pengawasan yang dilakukan oleh DK hanyalah mengenai pelanggaran kode etik.
Pelanggaran ini pula haruslah hanya mengenai dan menyangkut Notaris itu sendiri
tanpa menyangkut orang lain. Sedangkan pengawasan yang dilakukan oleh

19

Majelis Pengawas Notaris lebih luas mencakup pengawasan terhadap pelanggaran


UU No 30 Tahun 2004 dan terhadap pelanggaran jabatan Notaris.

2.4 Unsur Tindak Pidana atau Kriminalitas


Sebagaimana telah disinggung diatas, Apabila dalam suatu perbuatan yang
dilakukan Notaris terjadi kerugian yang diakibatkan perbuatan Notaris diluar
tugas/atau jabatannya, seperti misalnya terdapat unsur penipuan atau penggelapan,
maka perbuatan ini dapat dilaporkan langsung kepada pihak kepolisian untuk
ditindak lanjuti sebagaimana terjadinya perbuatan melanggar hukum yang telah
diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana dan cara beracaranya.
MPN juga memiliki suatu bentuk kewenangan yang diberikan jika
menemukan sesuatu tindak pidana. MPN dapat bertindak sebagai pelapor tindak
pidana sebagaimana substansi pasal 32 ayat (1) dan (2) Peraturan Menteri Hukum
dan HAM Republik Indonesia Nomor M.02.PR.08.10 Tahun 2004 (selanjutnya
disebut sebagai Permen M.02.PR.08.10).
Laporan menurut Pasal 1 angka 24 KUHPidana adalah pemberitahuan
yang disampaikan oleh seseorang karena hak atau kewajiban berdasarkan undangundang kepada pejabat yang berwenang tentang telah atau sedang atau diduga
akan terjadinya peristiwa pidana.
Namun berdasarkan pasal KUHPidana tersebut, yang berhak untuk
menjadi pelapor adalah perseorangan. Badan hukum tidak memiliki legal standing
untuk menjadi pelapor. Hal ini menjadikan Majelis Pengawas yang merupakan
suatu badan hukum tidak dapat menjadi pelapor tindak pidana sehingga
bertentangan dengan tugas yang diberikan oleh peraturan menteri diatas. Terlebih
berdasarkan pengertian KUHPidana tersebut, pelapor dapat mengajukan laporan
hanya apabila mempunyai hak dan kewajiban yang diberikan oleh undangundang, sedangkan Majelis Pengawas hanyalah diberikan wewenang oleh
peraturan Menteri.
Hal ini memberikan ketidaksinkronan antara peraturan yang lebih tinggi
dengan yang lebih rendah sehingga harus lebih diperhatikan dimasa mendatang.

20

Dalam hal ini yang akan digunakan adalah lex superiori derogat lex inferiori
dimana peraturan yang lebih tinggi mengesampingkan peraturan yang lebih
rendah. Sehingga Majelis Pengawas tidak dapat menjadi pelapor tindak pidana
kepada penyidik dan penyelidik ataupun jaksa sebagai sebuah badan hukum.
Alternatif yang dapat dilakukan adalah pihak yang merasa dirugikan oleh tindak
pidana yang dilakukan oleh Notaris tersebut melaporkannya langsung kepada
kepolisian.
Menurut Peraturan Menteri ini, yang memegang prinsip bahwa MPN
memiliki kewenangan untuk melaporkan tindak pidana yang dilakukan notaris
kepada pihak berwenang, apabila ditemukan unsur tindak pidana maka Ikatan
Notaris Indonesia dan kepolisisan membuat nota kesepahaman tentang
pemanggilan notaris ke kepolisian. Pemanggilan notaris harus dilakukan tertulis
dan ditandatangani penyidik. Surat panggilan harus mencantumkan dengan jelas
status sang notaris, alasan pemanggilan, dan polisi harus tepat waktu. Pada
hakekatnya, notaris harus hadir memenuhi panggilan yang sah. Tetapi jika notaris
yang bersangkutan berhalangan dan tidak bisa hadir, polisi bisa datang ke kantor
notaris bersangkutan.Nota kesepahaman ini memperkuat aturan pemanggilan
notaris dalam Pasal 6 UU No 30 Tahun 2004 yang menentukan, jika polisi hendak
memanggil notaris atau mengambil minuta akta harus mendapat persetujuan dari
MPN Daerah11.

3. TINJAUAN

YURIDIS

TERHADAP

PELANGGARAN

YANG

DILAKUKAN OLEH NOTARIS TERLAPOR


Berdasarkan putusan yang dikeluarkan oleh Majelis Pengawas Wilayah
Notaris Jawa Barat (selanjutnya disebut MPWN Jabar) diatas, Majelis Pemeriksa
yang memeriksa perkara ini berkesimpulan bahwa Terlapor telah melakukan

11

Lihat Pasal 6 Undang-undang RI Nomor 30 Tahun 2004 tenang Jabatan Notaris

21

tindakan pelanggaran jabatan dan kode etik Notaris yang terdapat dalam pasalpasal berikut:
a. Pasal 4 ayat (2) UU No 30 tahun 2004, tentang Sumpah Jabatan
Sebagai profesi yang memenuhi kebutuhan masyarakat serta bertanggung
jawab dalam jasa pelayanannya, profesi Notaris memiliki sumpah jabatan yang
harus dipegang teguh. Sumpah atau janji ini wajib diucapkan oleh Notaris
menurut agamanya yang dilakukan didepan Menteri atau pejabat yang ditunjuk.
Sumpah atau janji tersebut diatur dalam pasal 4 ayat (2) UU No 30 Tahun 2004
sebagaimana kutipannya sebagai berikut:
Saya bersumpah/berjanji: bahwa saya akan patuh dan setia kepada
Negara Republik Indonesia, Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945, Undang-Undang tentang Jabatan Notaris serta
peraturan perundang-undangan lainnya. bahwa saya akan menjalankan jabatan
saya dengan amanah, jujur, saksama, mandiri, dan tidak berpihak. bahwa saya
akan menjaga sikap, tingkah laku saya, dan akan menjalankan kewajiban saya
sesuai dengan kode etik profesi, kehormatan, martabat, dan tanggung jawab saya
sebagai Notaris. bahwa saya akan merahasiakan isi akta dan keterangan yang
diperoleh dalam pelaksanaan jabatan saya. bahwa saya untuk dapat diangkat
dalam jabatan ini, baik secara langsung maupun tidak langsung, dengan nama
atau dalih apa pun, tidak pernah dan tidak akan memberikan atau menjanjikan
sesuatu kepada siapa pun.12
Jika sumpah ini diuraikan terdapat beberapa hal yang yang wajib
dilakukan oleh seorang Notaris sesuai dengan janjinya, yaitu:
1) Patuh dan Setia kepada Negara Republik Indonesia, Pancasila dan
UUD 1945, Undang-undang tentang Notaris, dan peraturan
lainnya.
2) Menjalankan jabatan sebagai Notaris dengan amanah, jujur,
saksama, mandiri, dan tidak berpihak.
3) Menjaga sikap dan tingkah laku.

12

Lihat Pasal 4 ayat (2) Undang-undang RI Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris

22

4) Menjalankan kewajiban sebagai Notaris sesuai dengan kode etik


profesi, kehormatan, martabat, dan tanggung jawab sebagai
Notaris.
5) Merahasiakan isi akta dan keterangan.
6) Tidak memberikan atau menjanjikan sesuatu kepada siapa pun.
Dari beberapa hal yang wajib dilakukan oleh seorang Notaris berdasarkan
sumpahnya diatas, jika dikaitkan dengan kasus diatas, Notaris Terlapor dengan
jelas telah melanggar sumpahnya yaitu pada poin 2 untuk menjalankan jabatan
Notarisnya dengan jujur dan saksama. Dalam sidang pemeriksaan, diketahui
bahwa Notaris telapor telah melaksanakan jabatannya dengan tidak saksama yaitu
akta yang telah dibuat oleh Notaris Terlapor tidaklah dibacakan dengan secara
patut serta persetujuan suami untuk melakukan tindakan ternyata terbalik dengan
persetujuan istri.
Notaris Terlapor juga juga melanggar sumpahnya pada poin 1 untuk patuh
pada Undang-undang Notaris dan pada poin 4 yaitu untuk melaksanakan jabatan
Notarisnya sesuai dengan kode etik Notaris. Pelanggaran ini akan diuraikan lebih
lanjut pada poin pembahasan berikut.
b. Pasal 16 ayat (1) huruf a dan l UU No 30 Tahun 2004
Dalam pasal ini terutama menjelaskan tentang kewajiban-kewajiban yang
harus dilakukan oleh seorang notaris. Sebagaimana telah dikemukakan pada kasus
posisi diatas, Notaris Terlapor melakukan pelanggaran terhadap pasal 16 ayat (1)
huruf a yang kutipannya adalah:
bertindak jujur, saksama, mandiri, tidak berpihak, dan menjaga
kepentingan pihak yang terkait dalam perbuatan hukum.13
Terkait dengan pasal ini, bahwa Notaris Terlapor disimpulkan telah
melakukan hal berikut; Pertama, berlaku tidak jujur dengan memberikan blanko
kosong kepada terlapor. Yang kemudian blanko tersebut menimbulkan kerugian
bagi pelapor. ; Kedua, tidak bertindak saksama yaitu dengan terbalik dalam
menentukan persetujuan suami dengan persetujuan istri, dan; Ketiga, tidak
13

Lihat pasal 16 ayat (1) huruf a Undang-undang RI Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan
Notaris

23

menjaga kepentingan pihak yang terkait, karena pelapor tidak mengetahui blanko
tersebut akan digunakan untuk apa. Baru pada kemudian harilah pelapor
mengetahui bahwa telah terjadi perikatan perjanjian Jual beli antara Pelapor
dengan pihak Koesmajadi berdasarkan blanko tersebut. Padahal pelapor tidak
mengetahui tentang perikatan ini.
Sedangkan isi dari pasal 16 ayat (1) huruf l adalah sebagai berikut:
Membacakan akta di hadapan penghadap dengan dihadiri oleh paling
sedikit 2 (dua) orang saksi dan ditandatangani pada saat itu juga oleh
penghadap, saksi, dan Notaris.14
Dalam kasus posisi telah jelas bahwa notaris pelapor tidak melakukan
kewajibannya untuk membacakan akta dengan patut dihadapan penghadap.
Namun tidak jelas dalam sidang pemeriksaan apakah terdapat saksi dalam
penandatangan akta tersebut.
c. Pasal 44 ayat (1) UU No 30 Tahun 2004
Berikut kutipan isi dari pasal 44 ayat (1):
Segera setelah akta dibacakan, akta tersebut ditandatangani oleh setiap
penghadap, saksi, dan Notaris, kecuali apabila ada penghadap yang tidak dapat
membubuhkan tanda tangan dengan menyebutkan alasannya.15
Sesuai dengan kasus posisi diatas, Notaris Terlapor tidak melakukan
pembacaan secara patut kepada para penghadap sehingga Notaris Terlapor
dianggap telah melakukan pelanggaran terhadap pasal ini.
d. Pasal 3 dan 4 Kode Etik Notaris
Kedudukan kode etik bagi notaris adalah penting karena notaris
merupakan suatu profesi yang butuh diatur dengan suatu kode etik. Terutama
karena notaris adalah pekerjaan yang berpusat pada legalisasi terutama terkait
pada status kebendaan, harta, bahkan hak dan kewajiban dari klien yang
menggunakan jasa notaris. Karena itu agar tidak terjadi ketidakadilan yang
mungking dapat diakibatkan dari pemberian status-status tersebut seperti

14

Lihat Pasal 16 ayat (1) huruf l Undang-undang RI Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris
Lihat pasal 44 ayat (1) Undang-undang RI Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris

15

24

mengacaukan ketertiban umum dan hak-hak pribadi masyarakat, maka kode etik
ini menjadi sangat penting.16
Menurut Pasal 1 angka 2 Kode Etik Notaris, yang dimaksud dengan kode
etik Notaris adalah sebagai berikut:
seluruh kaidah moral yang ditentukan oleh Perkumpulan lkatan Notaris
Indonesia yang selanjutnya akan disebut "Perkumpulan" berdasarkan keputusan
Kongres Perkumpulan dan/atau yang ditentukan oleh dan diatur dalam peraturan
perundang-undangan yang mengatur tentang hal itu dan yang berlaku bagi serta
wajib ditaati oleh setiap dan semua anggota Perkumpulan dan semua orang yang
menjalankan tugas jabatan sebagai Notaris, termasuk didalamnya pars Pejabat
Sementara Notaris, Notaris Pengganti dan Notaris Pengganti Khusus.17
Kode etik ini dikeluarkan oleh ikatan profesi Notaris yang ada di
Indonesia yaitu Ikatan Notaris Indonesia yang ditetapkan pada tanggal 27 Januari
2005. Kode etik notaris ini mencakup Ketentuan Umum, Ruang Lingkup,
Kewajiban,

Larangan,

pengecualian,

Sanksi,

Tata

cara

Penegakkannya,

Pemecatan sementara, kewajiban pengurus pusat dan ketentuan umum yang


dihimpun dalam delapan bab dan lima belas pasal.
Kewenangan Ikatan Notaris Indonesia atau I.N.I dalam membentuk kode
etik ini terdapat dalam pasal 83 ayat (2) UU No 30 Tahun 2004. Dalam pasal ini,
yang kemudian menetapkan dan menegakkan Kode Etik Notaris adalah
Organisasi Notaris dimana para Notaris kemudian berhimpun. Kemudian pada
pasal berikutnya yaitu pasal 89 undang-undang tersebut ditegaskan bahwa Kode
Etik notaris yang ditetapkan akan berlaku dan mengikat hingga kode etik notaris
yang baru ditetapkan.
Isi dari pasal 3 kode etik notaris adalah tentang kewajiban Notaris yaitu
sebagai berikut18:
1) Memiliki moral, akhlak serta kepribadian yang balk.

16

Munir Fuady, 2005, Profesi Mulia (Etika Profesi Hukum bagi Hakim, Jaksa, Advokat, Notaris,
Kurator, dan Pengurus), Bandung, PT Citra Aditya Bakti, hlm. 133
17
Lihat Pasal 1 angka 2 Kode Etik Notaris Ikatan Notaris Indonesia
18
Lihat pasal 3 Kode Etik Notaris Ikatan Notaris Indonesia

25

2) Menghormati dan menjunjung tinggi harkat dan martabat jabatan


Notaris.
3) Menjaga dan membela kehormatan Perkumpulan.
4) Bertindak jujur, mandiri, tidak berpihak, penuh rasa tanggung
jawab, berdasarkan peraturan perundang-undangan dan isi sumpah
jabatan Notaris.
5) Meningkatkan ilmu pengetahuan yang telah dimiliki tidak terbatas
pada ilmu pengetahuan hukum dan kenotariatan.
6) Mengutamakan pengabdian kepada kepentingan masyarakat dan
Negara;
7) Memberikan jasa pembuatan akta dan jasa keNotarisan lainnya
untuk masyarakat yang

tidak mampu tanpa memungut

honorarium.
8) Menetapkan satu kantor di tempat kedudukan dan kantor tersebut
merupakan satu-satunya kantor bagi Notaris yang bersangkutan
dalam melaksanakan tugas jabatan sehari-hari.
9) Memasang 1 (satu) buah papan nama di depan / di lingkungan
kantornya dengan pilihan ukuran yaitu 100 cm x 40 cm, 150 cm x
60 cm atau 200 cm x 80 cm, yang memuat :
a. Nama lengkap dan gelar yang sah;
b. Tanggal dan nomor Surat Keputusan pengangkatan yang
terakhir sebagai Notaris.
c. Tempat kedudukan;
d. Alamat kantor dan nomor telepon/fax. Dasar papan nama
berwarna putih dengan huruf berwarna hitam dan tulisan di
papan nama harus ielas dan mudah dibaca. Kecuali di
lingkungan

kantor

tersebut

tidak

dimungkinkan

untuk

pemasangan papan nama dimaksud.


10) Hadir, mengikuti dan berpartisipasi aktif dalam setiap kegiatan
yang diselenggarakan oleh Perkumpulan; menghormati, mematuhi,
melaksanakan setiap dan seluruh keputusan Perkumpulan.

26

11) Membayar uang iuran Perkumpulan secara tertib.


12) Membayar uang duka untuk membantu ahli waris teman sejawat
yang meninggal dunia.
13) Melaksanakan dan mematuhi semua ketentuan tentang honorarium
ditetapkan Perkumpulan.
14) Menjalankan

jabatan

Notaris

terutama

dalam

pembuatan,

pembacaan dan penandatanganan akta


15) dilakukan di kantornya, kecuali alasan-alasan yang sah.
16) Menciptakan suasana kekeluargaan dan kebersamaan dalam
melaksanakan tugas jabatan dan kegiatan sehari-hari serta saling
memperlakukan rekan sejawat secara baik, saling menghormati,
saling menghargai, saling membantu serta selalu berusaha menjalin
komunikasi dan tali silaturahmi.
17) Memperlakukan setiap klien yang datang dengan baik, tidak
membedakan status ekonomi dan/atau status sosialnya.
18) Melakukan perbuatan-perbuatan yang secara umum disebut
sebagai kewajiban untuk ditaati dan dilaksanakan antara lain
namun tidak terbatas pada ketentuan yang tercantum dalam :
a. UU Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris;
b. Penjelasan Pasal 19 ayat (2) UU Nomor 30 Tahun 2004 tentang
Jabatan Notaris;
c. Isi Sumpah Jabatan Notaris;
d. Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Ikatan Notaris
Indonesia.
Maka berdasarkan kasus pelanggaran diatas, Notaris Terlapor telah
melakukan pelanggaran terhadap kewajiban yang harusnya dilakukannya.
Pelanggaran ini terutama pada poin 14, yaitu melakukan jabatan notarisnya
terutama dalam pembuatan, pembacaan, dan penandatanganan akta yang
dilakukan di kantornya. Notaris pelapor melanggar pasal 3 angka 14 ini
sebagaimana dikemukakan dalam kasus posisi diatas yaitu dengan tidak
membacakan secara patut akta yang dibuat dihadapannya.

27

Berikutnya, Notaris Terlapor melakukan pelanggaran terhadap pasal 4


kode etik notaris tentang Larangan, terutama terkait dengan poin 15 yang
kutipannya adalah sebagai berikut19:
Melakukan perbuatan-perbuatan lain yang secara umum disebut sebagai
pelanggaran terhadap Kode Etik Notaris, antara lain namun tidak terbatas pada
pelanggaran-pelanggaran terhadap :
a. Ketentuan-ketentuan dalam Undang-undang Nomor 30 Tahun
2004 tentang Jabatan Notaris;
b. Penjelasan pasal 19 ayat (2) Undang-undang Nomor 30 tahun 2004
tentang Jabatan Notaris;
c. Isi sumpah jabatan Notaris;
d. Hal-hal yang menurut ketentuan Anggaran Dasar, Anggaran
Rumah Tangga dan/atau
e. Keputusan-Keputusan lain yang telah ditetapkan oleh organisasi
Ikatan Notaris Indonesia tidak boleh dilakukan oleh anggota.

3.1 Sanksi Pelanggaran Jabatan dan Kode Etik


Dalam UU No. 30 Tahun 2004 telah dijabarkan dengan rinci tentang
sanksi yang dapat dijatuhkan oleh terhadap pelanggaran jabatan dan kode etik.
Sanksi-sanksi ini dijelaskan pada BAB XI tentang Ketentuan Sanksi. Terdapat
dua pasal dalam penentuan sanksi di bab ini.
Pasal pertama yaitu pasal 84 menyebutkan bahwa sanksi dapat berupa
suatu akta tersebut yang dibuat oleh Notaris Terlapor dianggap batal demi hukum
sehingga turun derajat menjadi akta dibawah tangan. Disebutkan pula, apabila
terdapat pihak yang dirugikan dengan hal ini, dapat menuntut penggantian biaya,
ganti rugi maupun bunga kepada Notaris. Sanksi ini hanya mencakup tindakan
pelanggaran notaris yang diatur dalam pasal-pasal berikut20: Pasal 16 ayat (1)

19

Lihat pasal 4 Kode Etik


Lihat Pasal 84 Undang-undang RI Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris

20

28

huruf i; Pasal 16 ayat (1) huruf k; Pasal 41; Pasal 44; Pasal 48; Pasal 49; Pasal 50;
Pasal 51, atau;Pasal 52.
Pasal berikutnya adalah pasal 85 yang menyebutkan sanksi-sanksi berupa:
a. Teguran lisan
b. Teguran tertulis
c. Pemberhentian sementara
d. Pemberhentian dengan hormat; atau
e. Pemberhentian dengan tidak hormat
Sanksi tersebut berlaku bagi pelanggaran-pelanggaran ketentuan dalam
GGGGGpasal-pasal berikut: Pasal 7; Pasal 16 ayat (1) huruf a; Pasal 16 ayat (1)
huruf b; Pasal 16 ayat (1) huruf c; Pasal 16 ayat (1) huruf d; Pasal 16 ayat (1)
huruf e; Pasal 16 ayat (1) huruf f; Pasal 16 ayat (1) huruf g; Pasal 16 ayat (1)
huruf h; Pasal 16 ayat (1) huruf i; Pasal 16 ayat (1) huruf j; Pasal 16 ayat (1) huruf
k; Pasal 17; Pasal 20; Pasal 27; Pasal 32; Pasal 37; Pasal 54; Pasal 58; Pasal 59;
dan/atau Pasal 6321.
Dalam Kode Etik Notaris juga diatur tentang sanksi yang dapat dijatuhkan
apabila terjadi pelanggaran terhadap kode etik yang telah diatur. Sanksi tersebut
diatur dalam pasal 6 ayat (1) BAB IV tentang Sanksi, berikut kutipannya;
Sanksi yang dikenakan terhadap anggota yang melakukan pelanggaran
Kode Etik dapat berupa
a. Teguran;
b. Peringatan;
c. Schorsing (pemecatan sementara) dari keanggotaan Perkumpulan;
d. Onzetting (pemecatan) dari keanggotaan Perkumpulan;
e. Pemberhentian

dengan

tidak

hormat

dari

keanggotaan

Perkumpulan.22
Sanksi tersebut berlaku bagi setiap anggota Ikatan Notaris Indonesia yang
melanggar kode etik disesuaikan dengan kuantitas dan kualitas pelanggarannya.23

21

Lihat Pasal 85 Undang-undang RI Nomor 30 tahun 2004 tentang Jabatan Notaris


Lihat Pasal 6 Kode Etik Notaris
23
Lihat Pasal 6 ayat (2) Kode Etik Notaris
22

29

Dalam kasus pelanggaran jabatan dan kode etik diatas, Notaris Terlapor
melanggar pasal 16 ayat (1) huruf a yang sanksinya diatur dalam pasal 85 diatas
dan pasal 44 yang sanksinya diatur dalam pasal 84. Sehingga mengakibatkan akta
yang diperkarakan (akta No. 53) tentang perjanjian jual beli antara Pelapor dengan
pihak Koesmajadi menjadi batal demi hukum dan turun derajat menjadi akta
bawah tangan. Dalam hal ini, apabila Pelapor menyatakan tidak sepakat dengan
isi perjanjian, maka akta perjanjian tersebut tidak perlu dilanjutkan kecuali bagi
pihak Koesmajadi untuk memperkarakan dengan dalih wanprestasi. Kemudian
Notaris Terlapor juga dapat dikenai sanksi sebagaimana yang diatur dalam pasal
85.
Dalam hal memberikan atau menjatuhkan sanksi-sanksi diatas dapat
dilakukan oleh:
a. Majelis Pengawas Wilayah, yaitu dalam pasal 73 ayat (1) huruf e
berwenang untuk memberikan sanksi berupa sanksi teguran lisan
ataupun tertulis. Selanjutnya dalam huruf f dapat mengusulkan
pemberian sanksi kepada Majelis Pengawas Pusat
b. Majelis Pengawas Pusat, yaitu dalam pasal 77 huruf c berwenang
untuk menjatuhkan sanksi pemberhentian sementara dan pada huruf d
mengusulkan sanksi kepada Menteri.
c. Menteri Hukum dan HAM; melakukan sanksi pemberhentian tidak
hormat.
Dalam UU No. 30 Tahun 2004 tidak menyebutkan adanya penerapan
sanksi pemidanaan tetapi tindakan hukum terhadap pelanggaran yang dilakukan
oleh Notaris apabila mengandung suatu undur tindak pidana seperti pemalsuan
atas kesengajaan/kelalaian dalam pembuatan surat/akta otentik yang keterangan
isinya palsu maka setelah dijatuhi sanksi administratif/kode etik profesi jabatan
notaris dan sanksi keperdataan kemudian dapat ditarik dan dikualifikasikan
sebagai suatu tindak pidana yang dilakukan oleh Notaris yang menerangkan
adanya bukti keterlibatan secara sengaja melakukan kejahatan pemalsuan akta
otentik.

30

BAB IV
PENUTUP

1. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

Dari analisis kasus diatas, dapat disimpulkan beberapa hal berikut:


a. Bahwa, dalam menangani suatu kasus pelanggaran jabatan dan kode
etik yang dilakukan oleh seorang Notaris dapat dilakukan oleh dua
lembaga tergantung fungsi masing-masing yaitu Majelis Pengawas
Notaris, yang berkaitan dengan pelanggaran jabatan dan kode etik
yang berhubungan dengan pihak selain Notaris; dan Dewan
Kehormatan, yang berkaitan dengan pelanggaran kode etik secara
internal. Sehingga Majelis Pengawas Wilayah Notaris (dalam kasus ini
adalah MPWN Jabar) berwenang dan dapat melakukan pengadilan
terhadap pelanggaran jabatan dan kode etik yang dilakukan oleh
Notaris Terlapor
b. Bahwa, berdasarkan pemeriksaan di persidangan, pasal-pasal yang
dianggap dilanggar oleh Notaris Terlapor adalah pasal berikut:
a. Pasal 4 ayat (2) UU No 30 tahun 2004
b. Pasal 16 ayat (1) huruf a dan l UU No 30 tahun 2004
c. Pasal 44 UU No 30 tahun 2004
d. Pasal 3 dan 4 Kode Etik Notaris
c. Sesuai dengan analisis yang telah dilakukan, Notaris Terlapor benar
telah melakukan pelanggaran sebagaimana pasal-pasal yang dimaksud.
d. Bahwa, sanksi yang dijatuhkan berdasarkan pelanggaran jabatan dan
kode etik yang dilakukan oleh Notaris Terlapor adalah sanksi sesuai
dengan pasal:
a. Pasal 84 UU No 30 Tahun 2004
b. Pasal 85 UU No 30 Tahun 2004
e. Sanksi tersebut diusulkan oleh Majelis Pengawas Wilayah Notaris
kepada Majelis Pengawas Pusat untuk dilakukan pemberhentian

31

sementara. Sanksi tersebut telah benar dan sesuai dengan yang diatur
dalam peraturan perundang-undangan.

Rekomendasi yang dapat diberikan terhadap putusan kasus tersebut adalah


sebagai berikut:
1. Majelis Pengawas Wilayah Notaris memutuskan secara tegas bahwa
akta yang telah dibuat oleh Notaris Terlapor adalah batal demi hukum
dan turun menjadi akta dibawah tangan.
Majelis Pengawas Wilayah Notaris selain mengusulkan kepada Majelis

Pengawas Pusat Notaris untuk melakukan pemberhentian sementara, dapat pula


memberikan peringatan atau teguran baik secara tertulis maupun tidak tertulis.

32