Anda di halaman 1dari 7

Tugas Satria Waskiti

TO 4
Soal
Case A.
2. c, Untuk mendapatkan data yang akurat dari keluhan tersebut,setiap keluhan sebaiknya dikaji
dan dianalisis dengan factor-faktor berikut : Onset,Location,dan sebagainya. Sebukan yang
lainnya dan apa maksudnya?
5.c, Sebuitkan apa saja yang perlu Anda perkusi, apa temuan normal dan abnormal yang
mungkin ditemukan. Jelaskan temuan abnormal tersebut menandakan kelainan/penyakit apa?
Case B.
Setelah anda libur jaga malam, hari ini anda jaga pagi dan menjadi ketua tim keperawatan di
kamar 3A. Anda mempunyai tanggung jawab merawat seorang pasien tuan B. 45 tahun yang
telah dirawat di ruan tersebut selama 2 hari dengan Diagnosa COPD. Untuk mengetahui
perkembangan penyakit Tn.B
1. Jelaskan apa yang perlu anda kaji pada tn.B dan apa pertanyaan yang anda gunakan ?
peragakan!
Jawaban
2c.

Onset

: merupakan waktu awal timbulnya gejala klinis yang dikeluhkan pasien

Location

: merupakan tempat gejala klinis yang dikeluhkan pasien

Duration

: rentang waktu ketika timbulnya gejala klinis yang dikeluhkan

Characteristic

: cirri-ciri atau karakter dari keluhan tersebut

Aggravating & relieving : faktor yang dapat mempengaruhi gejala yang dikeluhkan pasien

Associated manifestation : gejala klinis penyerta ato yang ditimbulkan dari keluhan tersebut

Timing

: waktu/periode timbulnya gejala klinis yang dikeluhkan pasien.

Setting

: cara maupun tindakan yang dilakukan pasien saat keluhan.

5c. Perkusi menentukan dinding dada dan struktur dibawahnya, dalam gerakan dan
menghasilkan taktil dan dapat terdengar. Pemeriksa menggunakan perkusi untuk menentukan
apakah jaringan dibawahnya terisis oleh cairan ,udara dan bahan padat atau tidak. Pemeriksa
juga menggunakan perkusi untuk memperkirakan ukuran dan letak struktur tertentu di dalam
thoraks(misalnya diagfragma,jantung dan hepar).
Prosedur pemeriksaan :
Perkusi biasanya dimulai pada lokasi thooraks posterior. Klien dalam posisi duduk dengan
kepala fleksi ke depan dan lengan disilangkan dia atas pangkuan. Posisi ini akan memisahkan
scapula dan lebar serta memajan area paru lebih luas untuk pengkajian. Prosedur tersebut adalah
sebagai berikut :
a. Perkusi kedua bagian atas bahu, temukan letak seluas 5 cm bunyi resonan di atas kedua
apaks paru. Lanjutkan ke bawah bagian thoraks posterior,lalu perkusi area simetrik pada
interval 5-6 cm. Jari tengah diposisikan sejajar dengan iga-iga dalam spasium interkostal.
Jari-jari diletakan dengan kuat diatas dinding dada sebelum mengetuknya dengan jari
tengah dari tangan satunya. Perkusi di atas permukaan skapula atau iga mengeluarkan
suara pekak dan hanya akan membingungkan pemeriksa.
b. Rasa dari nada perkusi sama pentingnya dengan bunyinya. Nada yang timbul,
dipengaruhi oleh ketebalan dinding dada oleh struktur-struktur dibawahnya. Perkusi pada
struktur yang padat seperti hepar atau daerah konsolidasi paru menimbulkan nada yang
redup. Perkusi pada paru yang normal yang menimbulkan nada sonor dan perkusi pada
struktur yang berongga seperti usus atau pnemeuthoraks menimbulkan nada hipersonor.
c. Perkusi diatas dada anterior dilakukan pada klien dengan posisi berdiri tegak dengan
bahu ditarik ke belakang dan lengan di sisi. Pemeriksa memulai perkusi di area
supraklavikula dan dilanjutkan ke arah bawah dari spasium interkosta ke spasium
interkostal.
d. Pada klien wanita mungkin ada baiknya untuk menggeser letak payudara sehingga dapat
dilakukan pemeriksaan yang menyeluruh. Bunyi pekak yang didengar di sebelah kiri
sternum antara spasium interkostal ke-3 dan ke-5 sampai margin kosta kanan pada garis
midklavikular terdapat kerentangan kepekaan hepar. Thoraks anterior dan posterior
diperiksa padsa posisi terlentang. Jika klien tidak mampu untuk duduk tegak,perkusi
thoraks posterior dilakukan pada klien dengan posisi miring

Temuan :
Kepekakan di atas paru terjadi ketika jaringan paru yang terisi oleh udara digantikan oleh cairan
atau jaringan padat. Contohnya termasuk pnemunia lobaris,dimana terjadi konsolidasi akibat
akumulasi cairan,darah, jaringan fibrosa, sel-sel atau tumor dalam spesium pleura.
Pnhemuothoraks menghasilkan bunyi timpani atau bunyi seperti drum,sementara emfisema
dianggap mengeluarkan bunyi hipersonan
Normal:
1. Bidang paru
Bunyi resonan, tingkat kenyaringan rendah, menggaung, mudah terdengar, kualitas sama pada
kedua sisi.
2. Gerak dan posisi diafrgama
Letak diafragma pada vertebra torakik ke 10, setiap hemidiafragma bergerak 3-6 cm
Abnormal:
1. Bidang baru
Hipersonan: akan terdengar pada pengumpulan udara atau pneumotoraks
Pekak atau datar; terjadi akibat penurunana udara dalam paru (tumor, cairan)
2. Gerak dan posisi diafragma
Posisi tinggi-distensi lambung atau kerusakan saraf frenikus. Penuruanan atay tanpa gerak pada
kedua hemodiafragma

Case 2
1. Pengertian
COPD adalah sekresi mukoid bronchial yang bertambah secara menetap disertai dengan
kecenderungan terjadinya infeksi yang berulang dan penyempitan saluran nafas , batuk
produktif selama 3 bulan, dalam jangka waktu 2 tahun berturut-turut (Ovedoff, 2002).
Sedangkan menurut Price & Wilson (2005), Chronic obstructive pulmonary disease
(COPD) adalah suatu istilah yang sering digunakan untuk sekelompok penyakit paru-paru
yang berlangsung lama dan ditandai dengan obstruksi aliran udara sebagai gambaran
patofisiologi utamanya.
- Tanda dan gejalanya
Berdasarkan Brunner & Suddarth (2005) adalah sebagai berikut :
a. Batuk produktif, kronis pada bulan-bulan musim dingin.
b. Batuk kronik dan pembentukan sputum purulen dalam jumlah yang sangat
banyak.
c. Dispnea.
d. Nafas pendek dan cepat (Takipnea).
e. Anoreksia.
f. Penurunan berat badan dan kelemahan.
g. Takikardia, berkeringat.
h. Hipoksia, sesak dalam dada.
Hal yang perlu dikaji adalah sebagai berikut:

a. Riwayat Kesehatan
Riwayat kesehatan yang dikaji meliputi data saat ini dan masalah yang lalu. Perawat
mengkaji klien atau keluarga dan berfokus kepada manifestasi klinik dari keluhan utama,
kejadian yang membuat kondisi sekarang ini, riwayat kesehatan masa lalu, dan riwayat
kesehatan keluarga.
a. Keluhan Utama
Keluhan utama akan menentukan prioritas intervensi dan mengkaji pengetahuan klien tentang
kondidinya saat ini. Keluhan utama yang biasa muncul pada klien PPOK adalah sesak nafas
yang sudah berlangsung lasa sampai bertahun-tahun , dan semakin berat setelah beraktivitas .
keluhan lainnya adalah batuk, dahak berwarna hijau,, sesak semakin bertambah, dan badan
lemah.
b. Riwayat Kesehatan Sekarang
Klien dengan serangan PPOK dating mencari pertolongan terutama dengan keluhan sesak
nafas, kemudian diikuti dengan gejala-gejala lain seperti wheezing, penggunaan otot bantu
pernafasan, terjadi penumpukan lender, dan sekresi yang sangat banyak sehingga menyumbat
jalan nafas.
c.
Riwayat Kesehatan Masa Lalu
Pada PPOK dianggap sebagai penyakit yang berhubungan dengan interaksi genetic dengan
lingkungan. Misalnya pada orang yang sering merokok, polusi udara dan paparan di tempat
kerja.
d.
Riwayat Kesehatan Keluarga
Tujuan menanyakan riwayat keluarga dan sosial pasien penyakit paru-paru sekurangkurangnya ada 3 hal, yaitu:

Penyakit infeksi tertentu khususnya tuberkolosis ditularkan melalui satu orang ke


orang lainnya. Manfaat menanyakan riwayat kontak dengan orang terinfeksi akan

dapat diketahui sumber penularannya.


Kelainan alergi, seperti asma bronchial, menunjukkan suatu predisposisi keturunan
tertentu. Selain itu serangan asma mungkin dicetuskan oleh konflik keluarga atau

orang terdekat.
Pasien bronchitis kronis mungkin bermukim di daerah yang tingkat polusi udaranya
tinggi. Namun polusi udara tidak menimbulkan bronchitis kronis, melainkan hanya
memperburuk penyakit tersebut.

Pola Gordon
a. Pola persepsi kesehatan-pemeliharaan kesehatan.
Kaji status riwayat kesehatan yang pernah dialami klien, apa upaya dan dimana kliwen
mendapat pertolongan kesehatan, lalu apa saja yang membuat status kesehatan klien
menurun.
b. Pola nutris metabolik.
Tanyakan kepada klien tentang jenis, frekuensi, dan jumlah klien makan dan minnum

c.

d.

e.

f.

g.
h.

i.
j.

k.

klien dalam sehari. Kaji selera makan berlebihan atau berkurang, kaji adanya mual
muntah ataupun adanyaterapi intravena, penggunaan selang enteric, timbang juga berat
badan, ukur tinggi badan, lingkaran lengan atas serta hitung berat badan ideal klien untuk
memperoleh gambaran status nutrisi.
Pola eliminasi.
Kaji terhadap rekuensi, karakteristik, kesulitan/masalah dan juga pemakaian alat bantu
seperti folly kateter, ukur juga intake dan output setiap sift.Eliminasi proses, kaji terhadap
prekuensi, karakteristik,kesulitan/masalah defekasi dan juga pemakaian alat
bantu/intervensi dalam Bab.
Pola aktivitas dan latihan
Kaji kemampuan beraktivitas baik sebelum sakit atau keadaan sekarang dan juga
penggunaan alat bantu seperti tongkat, kursi roda dan lain-lain. Tanyakan kepada klien
tentang penggunaan waktu senggang. Adakah keluhanpada pernapasan, jantung seperti
berdebar, nyeri dada, badan lemah.
Pola tidur dan istirahat
Tanyakan kepada klien kebiasan tidur sehari-hari, jumlah jam tidur, tidur siang. Apakah
klien memerlukan penghantar tidur seperti mambaca, minum susu, menulis,
memdengarkan musik, menonton televise. Bagaimana suasana tidur klien apaka terang
atau gelap. Sering bangun saat tidur dikarenakan oleh nyeri, gatal, berkemih, sesak dan
lain-lain.
Pola persepsi kogniti
Tanyakan kepada klien apakah menggunakan alat bantu pengelihatan, pendengaran.
Adakah klien kesulitan mengingat sesuatu, bagaimana klien mengatasi tak nyaman :
nyeri. Adakah gangguan persepsi sensori seperti pengelihatan kabur, pendengaran
terganggu. Kaji tingkat orientasi terhadap tempat waktu dan orang.
Pola persepsi dan konsep diri
Kaji tingkah laku mengenai dirinya, apakah klien pernah mengalami putus
asa/frustasi/stress dan bagaimana menurut klien mengenai dirinya.
Pola peran hubungan dengan sesama
Apakah peran klien dimasyarakat dan keluarga, bagaimana hubungan klien di masyarakat
dan keluarga dn teman sekerja. Kaji apakah ada gangguan komunikasi verbal dan
gangguan dalam interaksi dengan anggota keluarga dan orang lain.
Pola produksi seksual
Tanyakan kepada klien tentang penggunaan kontrasepsi dan permasalahan yang timbul.
Berapa jumlah anak klien dan status pernikahan klien.
Pola mekanisme koping dan toleransi terhadap stress.
Kaji faktor yang membuat klien marah dan tidak dapat mengontrol diri, tempat klien
bertukar pendapat dan mekanisme koping yang digunakan selama ini. Kaji keadaan klien
saat ini terhadap penyesuaian diri, ugkapan, penyangkalan/penolakan terhadap diri
sendiri.
Pola system kepercayaan
Kaji apakah klien dsering beribadah, klien menganut agama apa? Kaji apakah ada nilainilai tentang agama yang klien anut bertentangan dengan kesehatan.
b. Pemeriksaan Fisik
a.

Inspeksi

Pada klien dengan COPD, terlihat adanya peningkatan usaha dan frekuensi pernapasan, serta
penggunaan otot bantu nafas (sternokleidomastoid0. Pada saat inspeksi, biasanya dapat
terlihat klien mempunyai batuk dada barrel chest akibat udara yang terperangkap, penipisan
massa otot, bernafas dengan bibir yang dirapatkan, dan pernapasan abnormal yang tidak
efektif. Pada tahap lanjut, dispnea terjadi pada saat beraktifitas, bahkan pada beraktivitas
kehidupan sehari-hari seperti makan dan mandi. Pengkajian produk produktif dengan sputum
parulen mengindikasikan adanya tanda pertama infeksi pernafasan
b. Palpasi
Pada palpasi, ekspansi meningkat dan taktil fremitus biasanya menurun.
c.
Perkusi
Pada perkusi, didapatkan suara normal sampai hipersonor, sedangkan diafragma
mendatar/menurun.
d. Auskultasi
Sering didapatkan adanya suara nafas ronkhi dan wheezing sesuai tingkat keparahan
obstruktif pada bronkhiolus.
(Muttaqin. 2008)

Sumber :
1. Brunet & Suddart. Buku Ajar Medikal Keperawatan Bedah volume 1,edisi 8.
Jakarta:EGC,2002.
2. http://books.google.co.id/books?
id=G3KXne15oqQC&pg=PA51&dq=perkusi+sistem+pernafasan&hl=id&sa=X&ei=VIu
SU8KpNYKdugScxILIDw&ved=0CCYQ6AEwAA#v=onepage&q=perkusi%20sistem
%20pernafasan&f=false diakses tanggal 6 juni 2014 jam 14.00 Wita.
3. www.slideshare.net/septianraha/askep-pada-pasien-ppok-2785651.com diakses tanggal
6 juni 2014 jam 13.00 Wita.