Anda di halaman 1dari 4

Tinjauan Pustaka

A. Pengertian
UU No. 1 Tahun 2011 Tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman Pasal 1
Perumahan (Houses, Land Settlement): Kumpulan rumah sebagai bagian dari permukiman, baik
di perkotaan maupun di perdesaan yang dilengkapi dengan prasarana, sarana dan utilitas umum
sebagai hasil upaya pemenuhan rumah yang layak huni
Permukiman (Houshing, Human Settlement): Bagian dari lingkungan hunian yang terdiri atas
lebih dari satu satuan perumahan, yang mempunyai prasarana, sarana, utilitas umum, serta
mempunyai penunjang kegiatan fungsi lain di kawasan perkotaan atau kawasan perdesaan
Permukiman Kumuh (Slums): permukiman yang tidak layak huni karena ketidakteraturan
bangunan, tingkat kepadatan bangunan yang tinggi, dan kualitas bangunan serta sarana dan
prasarana yang tidak memenuhi syarat.
Kumuh adalah kesan atau gambaran secara umum tentang sikap dan tingkah laku yang
rendah dilihat dari standar hidup dan penghasilan kelas menengah. Dengan kata lain, kumuh
dapat diartikan sebagai tanda atau cap yang diberikan golongan atas yang sudah mapan kepada
golongan bawah yang belum mapan. Kawasan kumuh adalah kawasan di mana rumah dan
kondisi hunian masyarakat di kawasan tersebut sangat buruk. Rumah maupun sarana dan
prasarana yang ada tidak sesuai dengan standar yang berlaku, baik standar kebutuhan, kepadatan
bangunan, persyaratan rumah sehat, kebutuhan sarana air bersih, sanitasi maupun persyaratan
kelengkapan prasarana jalan, ruang terbuka, serta kelengkapan fasilitas sosial lainnya (Kurniasih,
2007).
Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia No. 1 Tahun 2011 tentang Perumahan
dan Kawasan Permukiman, permukiman kumuh adalah permukiman yang tidak layak huni
karena ketidakteraturan bangunan, tingkat kepadatan bangunan yang tinggi, dan kualitas
bangunan serta sarana dan prasarana yang tidak memenuhi syarat. Perumahan kumuh adalah
perumahan yang mengalami penurunan kualitas fungsi sebagai tempat hunian. Berkembangnya
permukiman kumuh (slum), pada umumnya disebabkan tiga faktor, yaitu yang pertama adalah
kondisi fisiknya, kedua kondisi sosial ekonomi budaya komunitas yang bermukim di pemukiman

tersebut, dan ketiga dampak oleh kedua kondisi tersebut. Kondisi fisik tersebut antara lain tampak dari kondisi bangunannya yang sangat rapat dengan kualitas konstruksi rendah, jaringan
jalan tidak berpola dan tidak diperkeras, sanitasi umum dan drainase tidak berfungsi serta
sampah belum dikelola dengan baik. Kondisi sosial ekonomi masyarakat yang berada dikawasan
pemukiman kumuh antara lain mencakup tingkat pendapatan rendah, norma sosial yang longgar,
budaya kemiskinan yang mewarnai kehidupannya yang antara lain tampak dari sikap dan
perilaku yang apatis. Kondisi tersebut sering juga mengakibatkan kondisi kesehatan yang buruk,
sumber pencemaran, sumber penyebaran penyakit dan perilaku menyimpang, yang berdampak
pada kehidupan kota keseluruhannya.
b. Kriteria Permukiman Kumuh

Menurut Prof. Dr. Supardi Suparlan Kriteria Permukiman kumuh yaitu:


1. Fasilitas umum yang kondisinya kurang atau tidak memadai
2. Kondisi hunian rumah dan pemukiman serta penggunaan ruangnya mencerminkan
penghuninya yang kurang mampu atau miskin
3. Adanya tingkat frekuensi dan kepadatan volume yang tinggi dalam penggunaan ruangruang yang ada di pemukiman kumuh sehingga mencerminkan adanya kesemrawutan
tata ruang dan ketidakberdayaan ekonomi penghuninya
4. Pemukiman kumuh merupakan suatu satuan-satuan komuniti yang hidup secara
tersendiri dengan batas-batas kebudayaan dan sosial yang jelas, yaitu terwujud sebagai :
Sebuah komuniti tunggal, berada di tanah milik negara, dan karena itu dapat

digolongkan sebagai hunian liar.


Satuan komuniti tunggal yang merupakan bagian dari sebuah RT atau sebuah RW.
Sebuah satuan komuniti tunggal yang terwujud sebagai sebuah RT atau RW atau
bahkan terwujud sebagai sebuah Kelurahan, dan bukan hunian liar

5. Penghuni pemukiman kumuh secara sosial dan ekonomi tidak homogen, warganya
mempunyai mata pencaharian dan tingkat kepadatan yang beranekaragam, begitu juga
asal muasalnya. Dalam masyarakat pemukiman kumuh juga dikenal adanya pelapisan
sosial berdasarkan atas kemampuan ekonomi mereka yang berbeda-beda tersebut
6. Sebagian besar penghuni pemukiman kumuh adalah mereka yang bekerja di sektor
informal atau mempunyai mata pencaharian tambahan di sektor informal.

2. Menurut Ditjen Bangda Kemendagri


1. Sebagian besar penduduknya berpenghasilan dan berpendidikan rendah, serta memiliki
sistem sosial yang rentan
2. Sebagaian besar penduduknya berusaha atau bekerja di sektor informal Lingkungan
permukiman, rumah, fasilitas dan prasarananya di bawah standar minimal sebagai tempat
bermukim, misalnya memiliki:
Kepadatan penduduk yang tinggi > 200 jiwa/km
Kepadatan bangunan > 110 bangunan/Ha.
Kondisi prasarana buruk (jalan, air bersih, sanitasi, drainase, dan persampahan).
Kondisi fasilitas lingkungan terbatas dan buruk, terbangun <20% dari luas
persampahan.
Kondisi bangunan rumah tidak permanen dan tidak memenuhi syarat minimal
untuk tempat tinggal.
Permukiman rawan terhadap banjir, kebakaran, penyakit dan keamanan.
Kawasan permukiman dapat atau berpotensi menimbulkan ancaman (fisik dan
non fisik ) bagi manusia dan lingkungannya.

Karakteristik Umum Dan Khusus Permukiman Kumuh


Karakteristik Umum:
1. Mandiri dan produktif dalam banyak aspek, namun terletak pada tempat yang perlu
dibenahi.
2. Keadaan fisik hunian minim dan perkembangannya lambat. Meskipun terbatas, namun
masih dapat ditingkatkan.
3. Para penghuni lingkungan permukiman kumuh pada umumnya bermata pencaharian
tidak tetap dalam usaha non formal dengan tingkat pendidikan rendah
4. Pada umumnya penghuni mengalami kemacetan mobilitas pada tingkat yang paling
bawah, meskipun tidak miskin serta tidak menunggu bantuan pemerintah, kecuali dibuka
peluang untuk mendorong mobilitas tersebut.
5. Ada kemungkinan dilayani oleh berbagai fasilitas kota dalam kesatuan program
pembangunan kota pada umumnya.
6. Kehadirannya perlu dilihat dan diperlukan sebagai bagian sistem kota yang satu, tetapi
tidak semua begitu saja dapat dianggap permanen.
Karakteristik Khusus :

1.
2.
3.
4.
5.

Berada di lokasi tidak legal


Dengan keadaan fisik yang substandar, penghasilan penghuninya amat rendah (miskin)
Tidak dapat dilayani berbagai fasilitas kota
Tdak diingini kehadirannya oleh umum, (kecuali yang berkepentingan)
Permukiman kumuh selalu menempati lahan dekat pasar kerja (non formal), ada sistem
angkutan yang memadai dan dapat dimanfaatkan secara umum walau tidak selalu murah.

KRITERIA PERMUKIMAN KUMUH (Menurut Dit Bangkim DJCK Kemen PU)


Vitalitas Non Ekonomi
Vitalitas Ekonomi
Status Kepemilikan Tanah
KRITERIA PERMUKIMAN KUMUH
Kondisi Prasarana dab Sarana
Komitmen emerintah Kabupaten/Kota
Prioritas Penanganan

Penetapan lokasi perumahan dan permukiman kumuh wajib memenuhi persyaratan:


1. Kesesuaian dengan rencana tata ruang wilayah nasional, rencana tata ruang wilayah provinsi,
dan rencana tata ruang wilayah kabupaten atau kota.
2. Kesesuaian dengan rencana tata bangunan dan lingkungan.
3. Kondisi dan kualitas prasarana, sarana, dan utilitas umum yang memenuhi persyaratan dan
tidak membahayakan penghuni.
4. Tingkat keteraturan dan kepadatan bangunan.
5. Kualitas bangunan.
6. Kondisi sosial ekonomi masyarakat setempat.