Anda di halaman 1dari 1

BAB I

PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Asma merupakan gangguan inflamasi kronik saluran nafas yang

melibatkan banyak sel dan elemennya yang menyebabkan peningkatan


hiperesponsif jalan nafas dengan gejala episodik berulang berupa mengi, sesak
nafas, dada terasa berat dan batuk-batuk terutama malam atau dini hari. Asma
dapat bersifat ringan dan tidak mengganggu aktifitas, namun jika asma sifatnya
menetap maka asma dapat mengganggu aktifitas dan produktivitas seseorang.
Berdasarkan data organisasi kesehatan dunia (WHO) menunjukkan bahwa jumlah
penderita asma di dunia diperkirakan mencapai 330 juta orang dan akan terus
meningkat hingga 400 juta orang pada 2025. Asma di Indonesia sendiri
berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (RIKESDAS) tahun 2013 mendapatkan
prevalensi nasional untuk penyakit asma pada semua umur yakni sebesar 4,5%.1,2
Jumlah penderita asma terus meningkat seiring dengan bertambahnya
komunitas yang mengikuti gaya hidup barat dan urbanisasi. Hal tersebut juga
berhubungan dengan peningkatan terjadinya alergi lain seperti dermatitis dan
rinitis. Faktor risiko yang dapat mengakibatkan asma dan memicu untuk
terjadinya serangan asma diantaranya adalah riwayat atopik keluarga. Berdasarkan
sebuah studi kohort, apabila seorang anak memiliki satu orang tua yang memiliki
alergi, maka anak tersebut memiliki kemungkinan untuk menderita alergi sebesar
33%, dan kemungkinan alergi pada anak yang kedua orangtuanya menderita alergi
sebesar 70%, disamping itu didapatkan pula hubungan antara riwayat atopik
keluarga dengan kejadian asma pada anak.3
Asma dapat di derita seumur hidup sebagaimana penyakit alergi lainnya
serta tidak dapat untuk disembuhkan secara total. Hal terbaik yang dapat
dilakukan sebagai upaya pencegahan adalah menanggulangi permasalahan asma
dengan cara menurunkan frekuensi dan derajat serangan dengan penatalaksanaan
utama yakni menghindarai faktor pencetus.1-3