Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH PENDIDIKAN PANCASILA

MENGIDENTIFIKASI PANCASILA SEBAGAI DASAR NEGARA

DISUSUN OLEH :
RIDHO SURYADI
3335150076
TEKNIK KIMIA 2015

UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA


CILEGON- BANTEN
2015

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT karena berkat rahmat
dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas Pendidikan Pancasila
yang mengenai tentang Identifikasi Pancasila Sebagai Ideologi Negara dengan baik
dan benar, serta tepat pada waktunya.
Adapun tujuan penyusunan makalah ini adalah sebagai tolak ukur dalam
memahami konsep Mata Kuliah Pendidikan Pancasila yang sebelumnya telah
diberikan.
Dalam penyusunan makalah ini, penulis menyadari masih banyak kekurangan.
Maka dari itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang sifatnya membangun dari
pembaca untuk penyempurnaan dan perbaikan tugas selanjutnya. Adapun makalah ini
dibuat dalam bentuk makalah populer
Semoga maksud dan tujuan penulis dapat tersampaikan kepada pembaca.
Akhir kata penulis ucapkan terimakasih

Cilegon,Desember 2015

Penulis

DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL....................................................................................................i
KATA PENGANTAR...................................................................................................ii
DAFTAR ISI................................................................................................................iii
BAB I: PENDAHULUAN...........................................................................................1
BAB II: ISI...................................................................................................................3
BAB III: PENUTUP.....................................................................................................9
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN
1

Latar Belakang
Nilai-nilai Pancasila sebagai ideologi atau falsafah terlahir dan telah
membudaya di dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia. Nilai-nilai itu
tertanam dalam hati, tercermin dalam sikap dan perilaku serta kegiatan lembagalembaga masyarakat. Dengan perkataan lain, Pancasila telah menjadi cita-cita
moral bangsa Indonesia, yang mengikat seluruh warga masyarakat baik sebagai
perorangan maupun sebagai kesatuan bangsa (Poespowardojo dan Hardjatno,
2010). Namun demikian nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara harus
diimplementasikan sebagai sumber dari semua sumber hukum dalam negara dan
menjadi landasan bagi penyelenggaraan negara.
Pada saat sekarang ini, bangsa Indonesia menghadapi tantangan berat.
Indonesia masih berhadapan dengan keadaan krisis global (tahun 1999 dan 2009)
yang belum sepenuhnya pulih. Hal ini ditambah dengan tekanan politik domestik
yang belum cukup kondusif bagi perekonomian (sejenis kasus bank Century).
Pada tahun 2009, pertumbuhan ekonomi hanya 4.5 persen, sementara masih
ditemukan pengangguran sebesar 8.34 persen atau setara 8.5 juta orang (BPS,
2010). Berdasarkan World Development Report (WDR) tahun 2009, IPM[1]
Indonesia masih berada diperingkat ke 111, tertinggal dibanding Thailand
(peringkat 87), Malaysia (66), Filipina (105) atau Singapura (23); sekalipun lebih
baik dibanding Myanmar (138) dan Vietnam (116) (UNDP, 2009). Tidak jauh
berbeda, indeks kompetisi global atau IKG (Global Competitive Index) Indonesia
(peringkat 54) juga ketinggalan dibanding Singapura (3), Malaysia (24), dan
Thailand (36), namun lebih baik dibanding Filipina (75) dan Vietnam (87) (Worl
Economic Forum, 2009).
Lemahnya kinerja ekonomi tersebut dengan mudah terbawa kepada masalah
dan kerawanan sosial atau politik daerah, yang pada gilirannya berdampak kepada
lemahnya solidaritas sosial sebagai penopang persatuan dan kesatuan (Pokja
Tannas, 2010). Kondisi ini mencerminkan ketahanan nasional yang lemah,
sekaligus mengindikasikan rendahnya daya tangkal terhadap Tantangan,
Ancaman, Hambatan dan Gangguan (TAHG). Disamping itu, rendahnya indeks
kualitas manusia Indonesia secara umum menunjukkan rendahnya kemampuan

kompetisi dan survival dikaitkan dengan tantangan dan dinamika global


(Poespowardojo dan Hardjatno, 2010).

Tujuan dan Manfaat


Dalam penyusunan makalah ini, memiliki tujuan yakni mengetahui dan
mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari mengenai PANCASILA sebagai Dasar
Negara, supaya terciptanya manusia pancasila.

BAB II
ISI
A. Sejarah Lahirnya Pancasila sebagai Dasar Negara
Kedudukan pokok Pancasila bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia
(NKRI)adalah sebagai dasar negara. Pernyataan demikian berdasarkan ketemtuan
Pembukaan UUD 1945 yang menyatakan sebagai berikut :maka disusunlah
Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara
Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang
berkedaulatan rakyat dengan berdasarkan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa,
Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia dan Kerakyatan yang
dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusywaratan perwakilan, serta dengan
mewujudkan suatu Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Kata berdasarkan tersebut secara jelas menyatakan bahwa Pancasila merupakan
dasar dari NKRI. Kedudukan Pancasila sebagai dasar negara ini merupakan
kedudukan yuridis formal oleh karena tertuang dalam ketentuan hukum negara, dalam
hal ini UUD 1945 pada Pembukaan Alenia IV. Secara historis pula dinyatakan bahwa
Pancasila yang dirumuskan oleh para pendiri bangsa (the founding fathers) itu
dimaksudkan untuk menjadi dasarnya Indonesia merdeka.
Pancasila sebagai dasar negara mengandung makna bahwa nilai-nilai yang
terkandung dalam Pancasila menjadi dasar atau pedoman bagi penyelenggaraan
bernegara. Pancasila sebagai dasar negara berarti nilai-nilai Pancasila menjadi
pedoman normatif bagi penyelenggaraan bernegara.
Konsekuensi dari rumusan demikian berarti seluruh pelaksanaan dan
penyelenggaraan pemerintah negara Indonesia termasuk peraturan perundangundangan merupakan pencerminan dari nilai-nilai Pancasila. Penyelenggaraan
bernegara mengacu dan memiliki tolok ukur, yaitu tidak boleh menyimpang dari
nilai-nilai Ketuhanan, nilai Kemanusiaan, nilai Persatuan, nilai Kerakyatan, dan nilai
Keadilan.

B. Pengertian Pancasila Sebagai Ideologi Nasional


Ideologi berasal dari kata ideo artinya cita-cita,gagasan,konsep pengertian dasar, citacita. dan logyberarti: pengetahuan, ilmu dan paham. Dalam pengertian sehari-hari,
idea disamakan artinya dengan cita-cita. Cita-cita yang dimaksud adalah cita-cita
yang bersifat tetap yang harus dicapai sehingga cita-cita itu sekaligus merupakan
dasar atau pandangan/paham. Hubungan manusia dan cita-ctanya disebut dengan
ideologi. Ideologi berisi seperangkat nilai, dimana nilai-nilai itu menjadi cita-citanya
atau manusia bekerja dan bertindak untuk mencapai nilai-nilai tersebut. Ideologi yang
pada mulanya berisi seperangkat gagasan, dan cita-cita berkembang secara luas
menjadi suatu paham menngenai seperangkat nilai atau pemikiran yang dipegang
oleh seseorang atau sekelompok orang untuk menjadi pegangan hidup.
Adapun ideologi negara itu ternasuk dalam golongan pengetahuan sosial, dan
tepatnya dapat digolongkan kedalam ilmu politik atau political sciences sebagai anak
cabangnya. Bila kita terapakan rumusan ini pada Pancasila dengan definisi-definisi
filsafat dapat kita simpulkan, maka Pancasila itu ialah hasil usaha pemikiran manusia
untuk mencari kebenaran, kemudian sampai mendekati atau menggangggap suatu
kesanggupan yang digenggamnya seirama dengan ruang dan waktu. Hasil pemikiran
manusia Indonesia yang sungguh-sungguh secara sistematis radikal itu kemudian
dituangkan dalam suatu rangkaian kalimat yang mengandung satu pemikiran yang
bermakna bulat dan utuh untuk dijadikan dasar, asas dan pedoman atau norma hidup
dan kehidupan bersama dalam rangka perumusan satu negara Indonesia merdeka,
yang diberi nama Pancasila.
C. Cita- Cita, Tujuan dan Visi Negara Indonesia
Bangsa Indonesia bercita-cita mewujudkan negara yang bersatu, berdaulat, adil dan
makmur. Dengan rumusan singkat, negara Indonesia bercita-cita mewujudkan
masyarakat Indonesia yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
Hal ini sesuai dengan amanat dalam Alenia II Pembukaan UUD 1945 yaitu negara
Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat adil dan makmur.
Tujuan Negara Indonesia selanjutnya terjabar dalam alenia IV Pembukaan UUD
1945. Secara rinci sbagai berikut :
1. Melindungi seganap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia.
2. Memajukan kesejahteraan umum.
3. Mencerdaskan Kehidupan bangsa.
4. Ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian

abadi, dan keadilan sosial


Adapun visi bangsa Indonesia adalah terwujudnya masyarakat Indonesia yang damai ,
demokratis, berkeadilan, berdaya saing, maju dan sejahtera, dalam wadah Negara
Kesatuan Republik Indonesia yang didukung oleh manusia Indonesia yang sehat,
mandiri, beriman, bertakwa dan berahklak mulia, cita tanah air, berkesadaran hukum
dan lingkungan, mengausai ilmu pengetahuandan teknologi, serta memiliki etos kerja
yang tinggi serta berdisiplin.
Ideologi dan dasar negara kita adalah Pancasila. Pancasila terdiri dari limasila.
Kelima sila itu adalah: Ketuhanan yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan
beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan
dalam permusayawaratan perwakilan, dan Keadilan sosial bagi seluruh rakyat
Indonesia. Untuk mengetahui latar belakang atau sejarah Pancasila dijadikan ideologi
atau dasar negara coba baca teks Proklamasi berikut ini.
Sebelum tanggal 17 Agustus bangsaIndonesiabelum merdeka.
BangsaIndonesiadijajah oleh bangsa lain. Banyak bangsa-bangsa lain yang menjajah
atau berkuasa diIndonesia, misalnya bangsa Belanda, Portugis, Inggris, dan Jepang.
Paling lama menjajah adalah bangsa Belanda. Padahal sebelum kedatangan penjajah
bangsa asing tersebut, di wilayah negara RI terdapat kerajaan-kerajaan besar yang
merdeka, misalnya Sriwijaya, Majapahit, Demak, Mataram,Ternate, dan Tidore.
Terhadap penjajahan tersebut, bangsaIndonesiaselalu melakukan perlawanan dalam
bentuk perjuangan bersenjata maupun politik.
Perjuangan bersenjata bangsaIndonesia dalam mengusir penjajah.
Dalam hal ini, Belanda, sampai dengan tahun 1908 boleh dikatakan selalu mengalami
kegagalan.
Penjajahan Belanda berakhir pada tahun 1942, tepatnya tanggal 8 Maret.
Sejak saat ituIndonesiadiduduki oleh bala tentara Jepang. Namun Jepang tidak terlalu
lama mendudukiIndonesia. Mulai tahun 1944, tentara Jepang mulai kalah dalam
melawan tentara Sekutu. Untuk menarik simpati bangsaIndonesiaagar bersedia
membantu Jepang dalam melawan tentara Sekutu, Jepang memberikan janji
kemerdekaan di kelak kemudian hari. Janji ini diucapkan oleh Perdana Menteri Kaiso
pada tanggal7 September 1944. Oleh karena terus menerus terdesak, maka pada
tanggal 29 April 1945 Jepang memberikan janji kemerdekaan yang kedua kepada
bangsa Indonesia, yaitu janji kemerdekaan tanpa syarat yang dituangkan dalam
Maklumat Gunseikan (Pembesar Tertinggi Sipil dari Pemerintah Militer Jepang di
Jawa dan Madura).
Dalam maklumat itu sekaligus dimuat dasar pembentukan Badan Penyelidik UsahaUsaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).

Tugas badan ini adalah menyelidiki dan mengumpulkan usul-usul untuk selanjutnya
dikemukakan kepada pemerintah Jepang untuk dapat dipertimbangkan bagi
kemerdekaanIndonesia.
Keanggotaan badan ini dilantik pada tanggal 28 Mei 1945, dan mengadakan sidang
pertama pada tanggal 29 Mei 1945 1 Juni 1945. Dalam sidang pertama ini yang
dibicarakan khusus mengenai calon dasar negara untukIndonesiamerdeka nanti. Pada
sidang pertama itu, banyak anggota yang berbicara, dua di antaranya adalah
Muhammad Yamin dan Bung Karno, yang masing-masing mengusulkan calon dasar
negara untukIndonesiamerdeka. Muhammad Yamin mengajukan usul mengenai dasar
negara secara lisan yang terdiri ataslimahal, yaitu:
1. Peri Kebangsaan
2. Peri Kemanusiaan
3. Peri Ketuhanan
4. Peri Kerakyatan
5. Kesejahteraan Rakyat
Selain itu Muhammad Yamin juga mengajukan usul secara tertulis yang juga terdiri
atas lima hal, yaitu:
1. Ketuhanan Yang Maha Esa
2. Persatuan Indonesia
3. Rasa Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab
4. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan,
dalam Permusyawaratan/Perwakilan.
5. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Usulan ini diajukan pada tanggal 29 Mei 1945, kemudian pada tanggal 1 Juni 1945,
Bung Karno mengajukan usul mengenai calon dasar negara yaiyu:
1. Nasionalisme (Kebangsaan Indonesia)
2. Internasionalisme (Perikemanusiaan)
3. Mufakat atau Demokrasi
4. Kesejahteraan Sosial
5. Ketuhanan yang Berkebudayaan
Kelima hal ini oleh Bung Karno diberi nama Pancasila.
Lebih lanjut Bung Karno mengemukakan bahwa kelima sila tersebut dapat diperas
menjadi Trisila, yaitu:
1. Sosio nasionalisme
2. Sosio demokrasi
3. Ketuhanan
Berikutnya tiga hal ini menurutnya juga dapat diperas menjadi Ekasila yaitu Gotong

Royong.
Selesai sidang pertama, pada tanggal 1 Juni 1945 para anggota BPUPKI sepakat
untuk membentuk sebuah panitia kecil yang tugasnya adalah menampung usul-usul
yang masuk dan memeriksanya serta melaporkan kepada sidang pleno BPUPKI.
Tiap-tiap anggota diberi kesempatan mengajukan usul secara tertulis paling lambat
sampai dengan tanggal 20 Juni 1945. Adapun anggota panitia kecil ini terdiri atas
delapan orang, yaitu:
1. Ir. Soekarno
2. Ki Bagus Hadikusumo
3. K.H. Wachid Hasjim
4. Mr. Muh. Yamin
5. M. Sutardjo Kartohadikusumo
6. Mr. A.A. Maramis
7. R. Otto Iskandar Dinata
8. Drs. Muh. Hatta
Pada tanggal 22 Juni 1945 diadakan rapat gabungan antara Panitia Kecil, dengan para
anggota BPUPKI yang berdomisili di Jakarta.
Hasil yang dicapai antara lain disetujuinya dibentuknya sebuah Panitia Kecil
Penyelidik Usul-Usul/Perumus Dasar Negara, yang terdiri atas sembilan orang, yaitu:
1.Ir.Soekarno.
2. Drs. Muh. Hatta.
3. Mr. A.A. Maramis..
4. K.H. Wachid Hasyim.
5. Abdul Kahar Muzakkir.
6. Abikusno Tjokrosujoso.
7. H. Agus Salim.
8. Mr. Ahmad Subardjo.
9. Mr. Muh. Yamin.
Panitia Kecil yang beranggotakan sembilan orang ini pada tanggal itu juga
melanjutkan sidang dan berhasil merumuskan calon Mukadimah Hukum Dasar, yang
kemudian lebih dikenal dengan sebutan Piagam Jakarta.
Dalam sidang BPUPKI kedua, tanggal 10-16 juli 1945, hasil yang dicapai adalah
merumuskan rancangan Hukum Dasar. Sejarah berjalan terus. Pada tanggal 9 Agustus
dibentuk Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Pada tanggal 15 Agustus
1945 Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu, dan sejak saat itu Indonesia
kosong dari kekuasaan. Keadaan tersebut dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh
para pemimpin bangsa Indonesia, yaitu dengan memproklamasikan kemerdekaan

Indonesia, pada tanggal 17 Agustus 1945. Sehari setelah proklamasi kemerdekaan


PPKI mengadakan sidang, dengan acara utama (1) mengesahkan rancangan Hukum
Dasar dengan preambulnya (Pembukaannya) dan (2) memilih Presiden dan Wakil
Presiden.
Untuk pengesahan Preambul, terjadi proses yang cukup panjang. Sebelum
mengesahkan Preambul, Bung Hatta terlebih dahulu mengemukakan bahwa pada
tanggal 17 Agustus 1945 sore hari, sesaat setelah Proklamasi Kemerdekaan.Ada
utusan dariIndonesia bagian timur yang mengutusnya.
Intinya, rakyat Indonesia bagian Timur mengusulkan agar pada alinea keempat
preambul, di belakang kata ketuhanan yang berbunyi dengan kewajiban
menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya dihapus. Jika tidak maka
rakyatIndonesiabagian Timur lebih baik memisahkan diri dari negara RI yang baru
saja diproklamasikan. Usul ini oleh Muh. Hatta disampaikan kepada sidang pleno
PPKI, khususnya kepada para anggota tokoh-tokoh Islam, antara lain kepada Ki
Bagus Hadikusumo, KH. Wakhid Hasyim dan Teuku Muh. Hasan. Muh. Hatta
berusaha meyakinkan tokoh-tokoh Islam, demi persatuan dan kesatuan bangsa.
2. Selaku Ideologi Nasional, Pancasila Memiliki Beberapa Dimensi :
a. Dimensi Idealitas artinya ideologi Pancasila mengandung harapan-harapan dan
cita-cita di berbagai bidang kehidupan yang ingin dicapai masyarakat.
b. Dimensi Realitas artinya nilai-nilai dasar yang terkandung di dalamnya bersumber
dari nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat penganutnya, yang menjadi milik
mereka bersama dan yang tak asing bagi mereka.
c. Dimensi normalitas artinya Pancasila mengandung nilai-nilai yang bersifat
mengikat masyarakatnya yang berupa norma-norma atauran-aturan yang harus
dipatuhi atau ditaati yang sifatnya positif.
d. Dimensi Fleksilibelitas artinya ideologi Pancasila itu mengikuti perkembangan
jaman, dapat berinteraksi dengan perkembangan jaman, dapat mengikuti
perkembangan ilmu dan teknologi, bersifat terbuka dan demokratis.
Pancasila dan kelima silanya merupakan kesatuan yang bulat dan utuh, sehingga
pemahaman dan pengalamannya harus mencakup semua nilai yang terkandung di
dalamnya.

Sila Ketuhanan Yang Maha Esa, mengandung nilai sprituil yang memberikan
kesempatan seluas-luasnya kepada semua pemeluk agama dan kepercayaan terhadap

Tuhan YME sehingga atheis tidak berhak hidup di bumi Indonesia.


Sila Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, mengandung nilai satu derajat, sama hak
dan kewajiban, serta bertoleransi dan saling mencintai.
Sila Persatuan Indonesia, mengandung nilai kebersamaan, bersatu dalam memerangi
penjajah dan bersatu dalam mengembangkan negara Indonesia.
Sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam
Permusyawaratan/Perwakilan,mengandung nilai kedaulatan berada di tangan rakyat
atau demokrasi yang dijelmakan oleh persatuan nasional yang rill dan wajar.
Sila Keadiilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, mengandung sikap adil,
menghormati hak orang lain dan bersikap gotong royong yang menjadi kemakmuran
masyarakat secara menyeluruh dan merata.

Pancasila sering disebut sebagai dasar falsafat negara (dasar filsafat negara) dan
ideologi negara. Pancasila dipergunakan sebagai dasar untuk mengatur pemerintah
dan mengatur penyelanggaraan negara. Konsep-konsep Pancasila tentang kehidupan
bernegara yang disebut cita hukum (staatsidee) merupakan cita hukum yang harus
dilaksanakan secara konsisten dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Pancasila juga mempunyai fungsi dan kedudukan sebagai pokok atau kaidah negara
yang mendasar (fundamental norm). Kedudukan Pancasila sebagai dasar negara
bersifat tetap, kuat, dan tidak dapat diubah oleh siapa pun, termasuk oleh MPR-DPR
hasil pemilihan umum. Mengubah Pancasila berarti membubarkan Negara Kesatuan
Republik Indonesia yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945.
Pancasila sebagai kaidah negara yang fundamental berarti bahwa hukum dasar tertulis
(UUD), hukum tidak tertulis (konversi), dan semua hukum atau peraturan perundangundangan yang berlaku dalam negara Republik Indonesia harus bersumber dan
berada di bawah pokok kaidah negara yang fundamental tersebut.

Dasar hukum Pancasila sebagai dasar negara


Pengertian Pancasila sebagai dasar negara sesuai dengan bunyi Pembukaan UUD
1945 pada alinea keempat ........,maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan
Indonesia dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara indonesia yang
berkedaulatan rakyat dengan berdasarkan kepada: Ketuhanan Yang Maha Esa;
kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, kerakyatan yang dipimpin
oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta dengan
mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Meskipun di dalam Pembukaan UUD 1945 tersebut tidak tercantum kata Pancasila,
namun bangsa Indonesia sudah bersepakat bahwa limat prinsip yang menjadi dasar
negara Republik Indonesia disebut Pancasila. Kesepakatan tersebut tercantum pula
dalam berbagai Ketetapan MPR-RI di antaranya adalah:

Ketetapan MPR-RI No. XVIII/MPR/1998, pasal 1 menyebutkan bahwa


Pasal sebagaimana dimaksud dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar
1945 adalah dasar negara dari Negara Kesatuan Republik Indonesia yang
harus dilaksakan secara konsisten dalam kehidupan bernegara.

Ketetapan MPR No. III/MPR/2000, diantaranya menyebutkan: sumber hukum


dasar nasional yang tertulis dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945,
yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa; kemanusiaan yang adil dan beradab;
persatuan Indonesia kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan
dalam permusyawaratan/perwakilan serta dengan mewujudkan suatu
keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Pancasila memenuhi syarat sebagai dasar negara


Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, perlu dipahami konsep, prinsip, dan nilai
yang terkandung di dalam Pancasila supaya bisa diimplementasikan dengan tepat.
Namun, sebaliknya perlu diyakini terlebih dahulu bahwa Pancasila memenuhi syarat
sebagai dasar negara dari Negara Kesatuan Republik Indonesia yang beragam suku,
agama, ras, dan golongannya.
Pancasila memenuhi syarat sebagai dasar negara dari Negara Kesatuan Republik
Indonesia yang beragam suku, agama, ras, dan golongannya.
Pancasila memenuhi syarat sebagai dasar negara bagi Negara Kesatuan Republik
Indonesia dengan alasan sebagai berikut:

Pancasila memiliki pontensi menampung keadaan pluralistik masyarakat


Indonesia yang beraneka ragam suku, agama, ras, dan golongan. Sila
Ketuhanan Yang Maha Esa menjamin kebebasan untuk beribadah sesuai
agama dan keyakinan masing-masing. Kemudian, Sila Persatuan Indonesia
mampu mengikut keanekaragaman dalam satu kesatuan bangsa dengan tetap
menghormati sifat masing-masing apa adanya.

Pancasila memberikan jaminan terealisasinya kehidupan yang pluralistik,


dengan menjunjung tinggi dan menghargai manusia sesuai dengan harkat dan
martabatnya sebagai makhluk Tuhan secara berkeadilan yang disesuaikan

dengan kemampuan dan hasil usahanya. Hal ini ditunjukkan dengan Sila
Kemanusiaan yang Adila dan Beradab.

Pancasila memiliki pontensi menjamin keutuhan Negara Kesatuan Republik


Indonesia yang bertentangan dari Sabang sampai Merauke, yang terdiri atas
ibuan pulau. Hal ini sesuai dengan Sila Persatuan Indonesia.

Pancasila memberikanjaminan berlangsung demokrasi dan hak-hak asasi


manusia sesuai dengan budaya bangsa. Hal ini selaras dengan Sila Kerakyatan
yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam
Permusyawaratan/Perwakilan.

Pancasila menjamin terwujudnya masyarakat yang adil dan sejahtera sesuai


dengan Sila Keadilan Sosial bagi seluruh Rakyat indonesia.

Dasar negara Pancasila menjadi sumber hukum Negara Kesatuan Republik


Indonesia.
Dalam kedudukan sebagai dasar negara, Pancasila menjadi sumber hukumnya yang
berlaku di Indonesia. Dengan demikian, segala peraturan perundang-undang harus
yang berlaku di Indonesia. Dengan demikianm segala peraturan perundang-undangan
harus merupakan peraturan perundang-undangan yang tidak kompatibel dan/atau
tidak mengacu pada Pancasila dapat dinyatakan batal demi hukum.

BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Pancasila sering disebut sebagai dasar falsafat negara (dasar filsafat negara) dan ideologi
negara. Pancasila dipergunakan sebagai dasar untuk mengatur pemerintah dan mengatur
penyelanggaraan negara. Konsep-konsep Pancasila tentang kehidupan bernegara yang disebut
cita hukum (staatsidee) merupakan cita hukum yang harus dilaksanakan secara konsisten
dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dasar hukum Pancasila sebagai dasar negara


Pengertian Pancasila sebagai dasar negara sesuai dengan bunyi Pembukaan UUD
1945 pada alinea keempat ........,maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan
Indonesia dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara indonesia yang
berkedaulatan rakyat dengan berdasarkan kepada: Ketuhanan Yang Maha Esa;
kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, kerakyatan yang dipimpin
oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta dengan
mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
.
3.2 Saran
Berdasarkan uraian diatas yang telah dijabarkan, kiranya kita dapat menyadari
bahwa Pancasila sebagai Dasar Negara kita Negara Kesatuan Republik Indonesia,
maka kita harus menjujung tinggi dan mengamalkan sila-sila dari Pancasila dalam
kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati dan penuh rasa tanggung jawab. Semoga
dengan mempelajari Pendidikan Pancasila, kita dapat menjadi manusia Pancasila.

DAFTAR PUSTAKA
BPS (Badan Pusat Statistik). 2010. Perkembangan Indikator-indikator Utama Sosial
Ekonomi Indonesia, Bulan Maret 2010. BPS Pusat Jakarta.
Poespowardojo, S dan Hardjatno, N. J. M. T. 2010. Pancasila Sebagai Dasar Negara
dan Pandangan Hidup Bangsa. Dalam Modul 1. Sub Bidang Studi Pancasila dan
Perkembangannya. Pokja Ideologi. Lemhannas, Jakarta
Pokja Tannas. 2010. Materi Pokok Ketahanan Nasional: Konsepsi dan tolok ukur.
Pokja Tannas, Lemhannas RI, Jakarta.