Anda di halaman 1dari 16

A.

JENIS PENGUJIAN
Praktikum Konstruksi Jalan kali ini diawali dengan pengujian pemanasan
aspal. Pemanasan aspal dilakukan sebelum menuju proses pengujian penetrasi
aspal. Dari praktikum ini diharapkan mahasiswa mampu memahami bagaimana
cara dan proses pencairan aspal sebelum digunakan. Pengujian ini dilakukan di
Laboratorium Bahan Bangunan Jurusan Teknik Sipil dan Perencanaan,
Universitas Negeri Yogyakarta.
B. KAJIAN TEORI
1. Definisi Aspal
Aspal adalah material termoplastik yang akan menjadi keras atau lebih
kental jika temperatur berkurang dan akan lunak atau lebih cair jika
temperatur bertambah. Sifat ini dinamakan kepekaan terhadap perubahan
temperatur, yang dipengaruhi oleh komposisi kimiawi aspal walaupun
mungkin mempunyai nilai penetrasi atau viskositas yang sama pada
temperatur tertentu. Aspal yang mengandung lilin lebih peka terhadap
temperatur dibandingkan dengan aspal yang tidak mengandung lilin. Hal ini
terlihat pada aspal yang mempunyai viskositas yang sama pada temperatur
tinggi tetapi sangat berbeda viskositas pada temperatur rendah. Kepekaan
terhadap temperatur akan menjadi dasar perbedaan umur aspal untuk menjadi
retak ataupun mengeras. Bersama dengan agregat, aspal merupakan material
pembentuk campuran perkerasan jalan. (Sukirman, 2003 halaman 75)
Aspal bersifat viskos atau padat, berwarna hitam atau coklat,
mempunyai daya lekat. Aspal mengandung bagian utama yaitu hidrokarbon
yang dihasilkan dari minyak bumi atau kejadian alami dan terlarut dalam
karbondisulfida. (Wignall, 2003 halaman 140)
Aspal adalah bahan hidrokarbon yang bersifat melekat (adhesive),
berwarna hitam kecoklatan, tahan terhadap air, dan viskoelastis. Aspal sering
juga disebut bitumen. Bitumen merupakan bahan pengikat pada campuran
1

beraspal yang dimanfaatkan sebagai pelapis permukaan lapis perkerasan


lentur. Aspal berasal dari aspal alam (aspal buton) atau aspal minyak (aspal
yang berasal dari minyak bumi). Berdasarkan konsistensinya, aspal dapat
diklasifikasikan menjadi aspal padat dan aspal cair. (Lilik, 2012 halaman 67)
Aspal atau butimen adalah suatu cairan kental yang merupakan
senyawa hidrokarbon dengan sedikit mengandung sulfur, oksigen, dan klor.
Aspal sebagai bahan pengikat dalam perkerasan lentur mempunyai sifat
viskoelastis. Aspal akan bersifat padat pada suhu ruang dan bersifat cair bila
dipanaskan. Aspal merupakan bahan yang sangat kompleks dan secara kimia
belum dikarakterisasi dengan baik. Kandungan utama aspal adalah senyawa
karbon jenuh dan tak jenuh, alifatik dan aromatic yang mempunyai atom
karbon sampai 150 per molekul. Atom-atom selain hodrogen dan karbon yang
juga menyusun aspal adalah nitrogen, oksigen, belerang, dan beberapa atom
lain. Secara kuantitatif, biasanya 80%, massa aspal adala karbon, 10%
hidrogen, 6% belerang, dan sisanya oksigen dan nitrogen, serta sejumlah renik
besi, nikel dan vanadium. Senyawa-senyawa ini sering dikelaskan atas aspal
(yang massa molekulnya kecil) dan malten (yang massa molekulnya besar).
Biasanya aspal mengandung 5 sampai 25% aspalten. Sebagian besar senyawa
di aspal adalah senyawa polar. (Anonim, 2014 halaman 14 )
Aspal merupakan suatu produk berbasis minyak yang merupakan
turunan dari proses penyulingan minyak bumi, dan dikenal dengan nama aspal
keras. Selain itu, aspal juga terdapat di alam secara alamiah, aspal ini disebut
aspal alam. Aspal modifikasi saat ini juga telah dikenal luas. Aspal ini dibuat
dengan menambahkan bahan tambah ke dalam aspal yang bertujuan untuk
memperbaiki atau memodifikasi sifat rheologinya sehingga menghasilkan
jenis aspal baru yang disebut aspal modifikasi. (Anonim, 2014 halaman 16)
2. Macam/ Jenis Aspal
Aspal memiliki macam atau jenisnya, antaralain sebagai berikut:
a. Aspal Hasil Destilasi

Minyak mentah disuling dengan cara destilasi, yaitu proses dimana


berbagai fraksi dipisahkan dari minyak mentah tersebut. Proses destilasi
ini disertai oleh kenaikan temperatur pemanasan minyak mentah tersebut.
Pada setiap temperatur tertentu dari proses destilasi akan dihasilkan
produk-produk berbasis minyak. (Anonim, 2014 halaman 17)
1) Aspal Keras
Pada proses Destilasi fraksi ringan yang terkandung dalam
minyak

bumi

dipisahkan

dengan

destilasi

sederhana

hingga

menyisakan suatu residu yang dikenal dengan nama aspal keras.


Dalam proses destilasi ini, aspal keras baru dihasilkan melalui proses
destilasii hampa pada temperatur sekitar 480 C. Temperatur ini
bervariasi tergantung pada sumber minyak mentah yang disulaing atau
tingkat aspal keras yang akan dihasilkan. Untuk menghasilkan aspal
keras dengan sifat-sifat yang diinginkan, proses penyulingan harus
ditangani sedemikian rupa sehingga dapat mengontrol sifat-sifat aspal
keras yang dihasilkan. (Anonim, 2014 halaman 17)
2) Aspal Cair
Aspal cair dihasilkan dengan melarutkan aspal keras dengan
bahan pelarut berbasis minyak. Aspal ini dapet juga dihasilkan secara
langsung dari proses destilasi, dimana dalam proses ini raksi minyak
ringan

terkandung

dalam

minyak

mentah

tidak

seluruhnya

dikeluarkan. Kecepatana menguap dari minyak yang digunakan


sebagai pelarut atau minyak yang sengaja ditinggalkan dalam residu
pada proses destilasi akan menentukan jenis aspal cair yang
dihasilkan. Aspal cair dibedakan dalam beberapa jenis, yaitu:
a)

Aspal Cair Cepat Mantap (RC = Rapid Curing)


Aspal cair cepat mantap adalah aspal cair yang bahan pelarutnya
cepat menguap. Pelarut yang digunakan pada aspal jenis ini
biasanya adalah bensin
3

b)

Aspal Cair Mantap Sedang (MC = Medium Curing)


Aspal cair mantap sedang adalah aspal cair yang bahan pelarutnya
tidak begitu cepat menguap. Pelarut yang digunakan pada aspal

c)

jenis ini biasanya adalah minyak tanah


Aspal Cair Lambar Mantap (SC = Slow Curing)
Aspal cair lambar mantap adalah aspal cair yang bahan pelarutnya
lambat menguap. Pelarut yang digunakan pada aspal jenis ini
adalah solar.Tingkat kekentalan aspal cair sangat ditentukan oleh
proporsi atau rasio bahan pelarut yang digunakan terhadap aspal
keras atau yang terkandung pada aspal cair tersebut. Aspal cair
jenis MC-800 memiliki nilai kekentalan yang lebih tinggi dari
MC-200. (Anonim, 2014 halaman 18)
3) Aspal Emulsi
Aspal emulsi dihasilkan melalui proses pengemulsian aspal
keras. Pada proses ini partikel-partikel aspal keras dipisahkan dan
didispersikan dalam air yang mengandung emulsifer (emulgator).
Partikel aspal yang terdispersi ini berukuran sangat kecil bahkan
sebagian besar berukuran sangat kecil bahkan sebagian besar
berukuran

koloid.

Jenis

emulsifer

yang

digunakan

sangat

mempengaruhi jenis dan kecepatan pengikatan aspal emulsi yang


dihasilkan.

Berdasarkan

muatan

listrik

zat

pengemulsi

yang

digunakan, Aspal emulsi yang dihasilkan dapat dibedakan menjadi:


a) Aspal emulsi Anionik, yaitu aspal emulsi yang berion negatif.
b) Aspal emulsi Kationik, yaitu aspal emulsi yang berion positif
c) Aspal emulsi non-Ionik, yaitu aspal emulsi yang tidak berion
(netral) (Anonim, 2014 halaman 19)

b. Aspal Alam

Aspal Alam adalah aspal yang secara alamiah terjadi di alam.


Berdasarkan depositnya aspal alam ini dikelompokan menjadi 2 kelompok,
yaitu:
1) Aspal Danau ( Lake Asphalt)
Aspal danau ini secara alamiah terdapat di danau Trinidad, Venezuella
dan lewele. Aspal ini terdiri dari bitumen, mineral, dan bahan organik
lainnya. Angka penetrasi dari aspal ini sangat rendah dan titik lembek
sangat tinggi. Karena aspal ini dicampur dengan aspal keras yang
mempunyai angka penetrasi yang tinggi dengan perbandingan tertentu
sehingga dihasilkan aspal dengan angka penetrasi yang diinginkan.
(Anonim, 2014 halaman 19)
2) Aspal Batu ( Rock Asphalt)
Aspal batu Kentucky dan buton adalah aspal yang secara alamiah
terdeposit di daerah Kentucky, USA dan di pulau buton, Indonesia.
Aspal dari deposit ini terbentuk dalam celah-calah batuan kapur dan
batuan pasir. Aspal yang terkandung dalam batuan ini sekitar 12 35%
dari masa batu tersebut dan memiliki persentasi antara 0 40. Untuk
pemakaiannya, deposit ini harus ditimbang terlebih dahulu, lalu
aspalnya diekstrasi dan dicampur dengan minyak pelunak atau aspal
keras dengan angka penetrasi sesuai dengan yang diinginkan. Pada
saat ini aspal batu telah dikembangkan lebih lanjut, sehingga
menghasilkan aspal batu dalam bentuk butiran partikel yang berukuran
lebih kecil dari 1 mm dan dalam bentuk mastik. (Anonim, 2014
halaman 19)
c. Aspal Modifikasi
Aspal modifikasi dibuat dengan mencampur aspal keras dengan
suatu bahan tambah. Polymer hdala jenis bahan tambah yang sering di
gunakan saat ini, sehinga aspal modifikasi sering disebut juga aspal
5

polymer. Antara lain berdasarkan sifatnya, ada dua jenis bahan polymer
yang biasanya digunakan untuk tujuan ini, yaitu:
1) Aspal Polymer Elastomer dan Karet
Aspal Polymer Elastomer dan karet adalah jenis jenis polymer
elastomer yang SBS (Styrene Butadine Sterene), SBR (Styrene
Butadine Rubber), SIS (Styrene Isoprene Styrene), dan karet hdala
jenis polymer elastoner yang biasanya digunakan sebagai bahan
pencampur aspal keras. Penambahan polymer jenis ini dimaksudkan
untuk memperbaiki sifat rheologi aspal, antara lain penetrasi,
kekentalan, titik lembek dan elastisitas aspal keras.
2) Aspal Polymer Plastomer
Seperti halnya dengan aspal polymer elastomer, penambahan bahan
polymer plastomer pada aspal keras juga dimaksudkan untuk
meningkatkan sifat rheologi baik pada aspal keras dan sifat sifik
campuran beraspal.(Anasaff, 2014 halaman 68)
3.

Konsep Viskositas Aspal


Aspal memiliki struktur molekul yang sangat kompleks dan memiliki
ukuran yang bervariasi serta jenis ikatan kimia yang berbeda-beda. Molekulmolekul aspal, aspaltene, resin, aromatik dan kejenuhan, memiliki ikatan dan
berikatan secara kimia satu dengan yang lainnya. Ikatan ini sangat lemah dan
sangat dipengaruhi oleh panas dan tegangan geser. Ikatan ini akan putus pada
saat aspal dipanaskan sehingga aspal akan mencair dan dapat dituangkan.
Ikatan ini akan segera terbentuk kembali dengan struktur yang berbeda
apabila aspal tersebut telah dingin.
Putus dan terbentuknya kembali ikatan kimia inilah yang memberikan
sifat viskoelastis pada aspal. Karena struktur molekulnya yang kompleks dan
susunan kimianya yang selalu berubah menyebabkan sulitnya memprediksi

kinerja dan sifat-sifat fisik aspal berdasarkan analisa kimianya. (Clements,


1993 dalam Anonim, 2014 repository USU halaman 16)
4. Kepekaan Aspal Terhadap Temperatur
Kepekaan aspal terhadap temperature adalah sensitifitas perubahan
sifat viskoelastis aspal akibat perubahan temperatur, sifat ini dinyatakan
sebagai indeks penetrasi aspal (IP). Aspal dengan nilai IP yang tinggi akan
memiliki kepekaan yang rendah terhadap perubahan temperatur. Oleh sebab
itu, campuran yang dibuat dari aspal dengan nilai IP yang tinggi akan
memiliki rentang temperatur pencampuran dan pemadatan yang lebih lebar
dari campuran yang dibuat dari aspal dengan nilai IP yang rendah.
Aspal dengan tingkat kekerasan atau nilai penentrasi yang sama belum
tentu memiliki nilai IP yang sama. Sebaliknya, aspal dengan nilai IP yang
sama belum tentu memiliki tingkat kekerasan yang sama. Pada aspal dengan
IP yang sama, semakin tinggi tingkat kekerasan aspal semakin tinggi
ketahanan campuran beraspal yang dihasilkannya. (Brennen, 1999 dalam
Anonim, 2014 repository USU halaman 17)
C. Alat dan Bahan
Di dalam praktik ini di perlukan alat dan bahan untuk menunjang lancarnya
pelaksanaan dalam praktik, alat dan bahan yang perlu di gunakan dalam praktik
ini, antara lain:
1. Alat
Alat yang digunakan dalam praktikum pemanasan aspal adalah sebagai
berikut:
a. Cawan
Sebagai tempat aspal setelah di lelehkan dengan suhu tertentu.

Gambar 1. Cawan
(Sumber: Dokumen Pribadi, 2016)
b. Piring Logam
Sebagai tempat untuk melelehkan aspal yang ada didalam cawan yang di
panaskan dengan kompor listrik.

Gambar 2. Piring Logam


(Sumber : Dokumen Pribadi, 2016)
c. Kompor Listrik
Digunakan untuk memanaskan aspal yang berada di piring logam tersebut
agar aspal mencair. Lihat gambar di bawah ini,

Gambar 3. Kompor Listrik


(Sumber : Dokumen Pribadi 2016)
d. Skrap
Digunakan sebagai pemindah aspal dari tempatnya ke cawan untuk
memanaskan.

Gambar 4. Skrap
(Sumber : Dokumen Pribadi, 2016)
e. Thermometer
1) Thermometer harus dikalibrasi dengan maksimum kesalahan skala
tidak melebihi 0,1 oC atau dapat juga digunakan pembagian skala
thermometer lain yang sama ketelitiannya dan kepekaannya;
2) Thermometer harus sesuai dengan SNI 19-6421-2000 Spesifikasi
Standar Termometer (RSNI 06-2456-1991-Penetrasi Aspal)

Gambar 5. Termometer
(Sumber : Dokumen Pribadi, 2016)

f. Sendok
Digunakan sebagai alat pengaduk saat aspal dipanaskan.

Gambar 6. Sendok
(Sumber : Dokumen Pribadi 2014)
g. Stopwatch
Digunakan untuk menghitung waktu pemanasan aspal.

Gambar 7. Stopwatch
(Sumber : Dokumen Pribadi, 2016)
h. Penjapit
Digunakan untuk mengambil aspal pada kompor setelah dilakukan
pemanasan.

10

Gambar 8. Penjapit
(Sumber : Dokumen Pribadi, 2016)
2. Bahan
Bahan yang digunakan dalam praktikum pemanasan aspal adalah sebagai
berikut:
a. Aspal
Digunakan sebagai bahan yang akan diamati.

Gambar 9. Aspal
(Sumber : Dokumen Pribadi, 2016)

11

D. Langkah Kerja
Tahapan-tahapan kerja dari pengujian pembakaran aspal ini adalah sebagai
berikut:
1. Alat dan bahan yang akan dipergunakan disiapkan.
2. Ambil aspal secukupnya untuk kemudian dimasukkan ke dalam cawan yang
disediakan.
3. Kompor listrik mulai dinyalakan.
4. Cawan yang berisi aspal diletakkan di atas kompor listrik yang sudah
dinyalakan.
5. Aspal yang dipanaskan diaduk sampai cair dan tidak berbuih.
6. Suhu aspal yang dipanaskan dipantau menggunakan termometer sampai
sekitar 105 - 110 C.
7. Setelah suhu yang dimaksud telah dicapai, cawan yang berisi aspal yang
dipanaskan tadi diangkat lalu didiamkan sampai dingin.
8. Setelah dingin, cawan disimpan ditempat yang aman di laboraturium.
9. Alat-alat yang telah digunakan lalu dibersihkan dan dikembalikan ke tempat
semula.
E. Penyajian Data
Praktikum pembakaran aspal kali ini diperoleh beberapa data yang
dihasilkan. Namun tidak ada hasil data yang dikerjakan dikarenakan pada
praktikum ini hanya dilakukan pengamatan suhu aspal pada saat meleleh. Dan
data yang dihasilkan adalah sebagai berikut:

Tabel 1. Data Pengujian.

12

Waktu Pengujian
Hari,
Tanggal

Waktu

Senin,
26
Septemb
er 2016

09.30 s.d
11.30
WIB

Data yang diperoleh

Cuaca

Tempat
Pengujian

Cerah

Laboratorium
Bahan
Bangunan,
PTSP, FT
UNY

Suhu
Ruangan

Suhu
Awal

Suhu
Akhir

Waktu
yang
diperluka
n

26C

27C

110C

1121

F. Pembahasan
Setelah dilakukan pengujian pemanasan aspal, maka didapatkan hasil
bahwa aspal akan benar-benar cair pada suhu 110C. Pada rentang suhu tertentu,
aspal dapat bersifat viskoelastik. Artinya aspal dapat menunjukkan sifat seperti
cairan kental dan dapat dengan mudah berubah bentuk. Sebagai contoh; pada
rentang suhu 85-150 derajat Celcius, umumnya aspal cukup encer dan di dalam
proses pengolahan berperilaku seolah pelumas atau pelincir di antara butiran
kerikil atau agregat dalam campuran aspal panas (hotmix).
G. Kendala Praktikum
Kesulitan yang dirasa yaitu pengambilan aspal kering dari drum dikarenakan
keterbatsan alat juga keterbatasan alat sehingga membuat beberapa kelompok
harus bergantian menggunakannya.
H. Kesimpulan
Dari hasil pengujian pembakaran aspal dapat di simpulkan bahwa:
1. Jika aspal dipanaskan <110oC, maka aspal belum mengalami titik lelehnya.
2. Jika aspal dipanaskan >110oC, maka aspal akan mengalami titik lelehnya,
namun jika suhunya terlalu tinggi maka akan mengalami titik bakar.
I. Saran saran
13

Agar praktikum berjalan dengan nyaman perlu adanya kesadaran tentang


kebersihan. Baik itu kebersihan tempat praktikum maupun kebersihan alatnya.
Agar diperoleh hasil praktikum yang maksimal perlu juga perbaruan alat-alat
yang sudah mulai kurang baik saat digunakan.

14

DAFTAR PUSTAKA

Sukirman. 2003. Konstruksi Jalan. Medan: BITRA Indonesia, halaman 75


Wignall, A. 2003. Proyek Jalan Teori Dan Praktek. Edisi Keempat. Jakarta : Erlangga
Anonim. 2014. ASPAL. Diunduh dari
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/34302/4/Chapter%20II.pdf
diakses pada tanggal 02 Oktober 2016 pukul 15.15 WIB
Annasaf. 2014. Aspal dan Karakteristiknya. Diunduh dari
http://anasaff.blogspot.com/2014/08/aspal-dan-kharakteristiknya.html
pada 01 Oktober 2016 pukul 15.10 WIB

diakses

Lilik. 2012. Laporan Pengujian Praktikum Konstruksi Jalan Pemanasan Aspal.


http://lilzzboys.blogspot.com/2012/09/lilik.html dikses pada hari Minggu, 2
Oktober 2016 Pukul 15.34 WIB

LAMPIRAN

15

Gambar 9. Pengukuran Suhu


(Sumber : Dokumen Pribadi, 2016)

Gambar 10. Benda uji dalam cawan


(Sumber : Dokumen Pribadi, 2016)

16