Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PENDAHULUAN

HEMORAGIK POST PARTUM


DEPARTEMEN MATERNITAS
RUANG SAKINAH RS MUHAMMADIYAH LAMONGAN

Disusun oleh :
Ardean Wahyu Nengtyas
201410461011021

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2015

LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN PENDAHULUAN
DEPARTEMEN MATERNITAS

Laporan Pendahuluan dan Asuhan Keperawatan ini dibuat dalam rangka PRAKTIK
PROFESI Ners mahasiswa Program Pendidikan Profesi Ners Fakultas Ilmu Kesehatan
Universitas Muhammadiyah Malang di Ruang Sakinah RS Muhammadiyah
Lamongan mulai tanggal 1 Juni 6 Juni 2015.

Malang,

Juni 2015

Nama Mahasiswa (Ners Muda)

Ardean Wahyu Nengtyas


NIM.201410461011021

Mengetahui,
Pembimbing Institusi

Pembimbing Lahan (RS)

HEMORAGIK POST PARTUM (HPP)


1.

Definisi
Hemoragi post partum biasanya didefinisikan sebagai kehilangan darah lebih
dari 500 ml selama dan/atau setelah kelahiran. Ini adalah salah satu penyebab
mortalitas ibu. Hemoragi

dapat terjadi

awal,

dalam 24 jam pertama setelah

kelhiran, atau lambat, sampai 28 hari pasca partum (akhir dari puerperium).
Perdarahan pasca persalinan atau perdarahan post partum adalah perdarahan
melebihi

500 ml yang terjadi

setelah

bayi lahir.

Kehilangan

darah pasca

persalinan seringkali diperhitungkan secara lebih rendah dengan perbedaan 30-50%.


Kehilangan darah setelah persalinan per vaginam rata-rata 500 ml, dengan 5% ibu
mengalami perdarahan > 1000 ml. Sedangkan kehilangan darah pasca persalinan
dengan bedah sesar rata-rata 1000 ml. Perkembangan terkini, perdarahan pasca
persalinan didefinisikan sebagai

10% penurunan hematokrit sejak masuk atau

perdarahan yang memerlukan transfusi darah. (Errol, 2008)


Perdarahan postpartum adalah perdarahan pervaginam 500 cc atau lebih
setelah kala III selesai (setelah plasenta lahir) (Wiknjosastro, 2000)
Fase dalam persalinan dimulai dari kala I yaitu serviks membuka kurang dari 4
cm sampai penurunan kepala dimulai, kemudian kala II dimana serviks sudah
membuka lengkap sampai 10 cm atau kepala janin sudah tampak, kemudian
dilanjutkan dengan kala III persalinan yang dimulai dengan lahirnya bayi dan
berakhir dengan pengeluaran plasenta. Perdarahan postpartum terjadi setelah
kala III persalinan selesai (Saifuddin, 2002).
2.

Klasifikasi
Klasifikasi klinis perdarahan postpartum yaitu:
a. Perdarahan Postpartum Primer yaitu perdarahan pasca persalinan yang
terjadi dalam 24 jam pertama kelahiran. Penyebab utama perdarahan
postpartum primer adalah atonia uteri,

retensio plasenta, sisa plasenta,

robekan jalan lahir dan inversio uteri. Terbanyak dalam 2 jam pertama.
b. Perdarahan Postpartum Sekunder yaitu perdarahan pascapersalinan yang
terjadi setelah 24 jam pertama kelahiran. Perdarahan postpartum sekunder

disebabkan oleh infeksi, penyusutan rahim yang tidak baik, atau sisa
plasenta yang tertinggal.
Perdarahan Post partum diklasifikasikan menjadi 2, yaitu :
a. Early Hemoragyc Postpartum : Terjadi 24 jam pertama setelah bayi lahir
b. Late Hemoragyc Postpartum: Terjadi lebih dari 24 jam pertama setelah
bayi lahir. 4 jam biasanya antara hari ke 5 sampai 15.
3.

Etiologi
a. Atonia uteri adalah uterus yang tidak berkontraksi setelah janin dan
plasenta lahir. Atonia uteri merupakan penyebab terbanyak perdarahan
pospartum dini (50%), dan merupakan alasan paling sering untuk
melakukan

histerektomi postpartum. Kontraksi

uterus merupakan

mekanisme utama untuk mengontrol perdarahan setelah melahirkan. Atonia


terjadi karena kegagalan mekanisme ini. Perdarahan pospartum secara
fisiologis dikontrol oleh kontraksi serabut-serabut miometrium yang
mengelilingi pembuluh darah yang memvaskularisasi daerah implantasi
plasenta. Atonia uteri terjadi apabila serabut-serabut miometrium tidak
berkontraksi.
b. Retensio plasenta adalah terlambatnya kelahiran plasenta selama setengah
jam setelah kelahiran bayi, atau 1 - 2 jam post partum tanpa perdarahan
yang berlebihan jika home birth Plasenta harus dikeluarkan karena
dapat menimbulkan bahaya perdarahan dan infeksi (Aprillia, 2011).
c. Sisa plasenta yang tertinggal merupakan penyebab 20 - 25 % dari
kasus perdarahan

postpartum. Penemuan Ultrasonografi

adanya

masa

uterus yang echogenic mendukung diagnosa retensio sisa plasenta. Hal ini
bisa digunakan jika perdarahan beberapa jam setelah persalinan ataupun
pada late postpartum hemorraghe. Apabila didapatkan cavum uteri kosong
tidak perlu dilakukan dilatasi dan curettage.
d. Trauma, Sekitar 20% kasus hemorraghe postpartum disebabkan oleh
-

trauma jalan lahir.


Ruptur uterus, ruptur spontan uterus jarang terjadi, faktor resiko yang bisa
menyebabkan antara lain grande multipara, malpresentasi, riwayat operasi
uterus sebelumnya, dan persalinan dengan induksi oxytosin. Repture uterus
sering terjadi akibat jaringan parut section secarea sebelumnya.

Inversi uterus, Pada inversion uteri bagian atas uterus memasuki kovum
uteri, sehingga fundus uteri sebelah dalam menonjol kedalam kavum
uteri. Peristiwa ini terjadi tiba-tiba dalam kala III atau segera setelah
plasenta keluar. Inversio uteri dapat dibagi :
o Fundus uteri menonjol kedalam kavum uteri tetapi belum keluar
dari ruang tersebut.
o Korpus uteri yang terbalik sudah masuk kedalam vagina.
o Uterus dengan vagina semuanya terbalik, untuk sebagian besar
terletak diluar vagina.
Tindakan yang dapat menyebabkan inversion uteri ialah perasat crede pada
korpus uteri yang tidak berkontraksi baik dan tarikan pada tali pusat dengan
plasenta yang belum lepas dari dinding uterus. Pada penderita dengan syok
perdarahan dan fundus uteri tidak ditemukan pada tempat yang lazim
pada kala III atau setelah persalinan selesai.
Pemeriksaan dalam dapat menunjukkan tumor yang lunak diatas servix uteri
atau dalam vagina. Kelainan tersebut dapat menyebabkan keadaan gawat
dengan angka kematian tinggi (15 70 %). Reposisi secepat mungkin
memberi harapan yang terbaik untuk keselamatan penderita.

e. Laserasi dapat mengenai uterus, cervix, vagina, atau vulva, dan biasanya
terjadi karena persalinan secara operasi

ataupun persalinan pervaginam

dengan bayi besar, terminasi kehamilan dengan vacuum atau forcep, walau
begitu laserasi bisa

terjadi

pada

sembarang

persalinan.

Laserasi

pembuluh darah dibawah mukosa vagina dan vulva akan menyebabkan


hematom,

perdarahan

akan tersamarkan dan dapat menjadi berbahaya

karena tidak akan terdeteksi selama beberapa jam dan bisa menyebabkan
terjadinya syok.
f. Episiotomi dapat

menyebabkan

perdarahan

mengenai artery atau vena yang besar,

yang

berlebihan

jika episitomi luas,

jika

jika ada

penundaan antara episitomi dan persalinan, atau jika ada penundaan


antara persalinan dan perbaikan episitomi. Perdarahan yang terus terjadi
(terutama merah menyala) dan kontraksi uterus baik akan mengarah pada
perdarahan dari laserasi ataupun episitomi. Ketika laserasi cervix atau

vagina diketahui sebagai penyebab perdarahan maka repair adalah solusi


terbaik.
g. Thrombin : Kelainan pembekuan darah. Gejala-gejala kelainan pembekuan
darah

bisa

berupa

penyakit

keturunan ataupun didapat, kelainan

pembekuan darah bisa berupa :


Hipofibrinogenemia,
Trombocitopeni,
Idiopathic thrombocytopenic purpura,
HELLP syndrome (hemolysis, elevated liver enzymes, and low platelet

count),
Disseminated Intravaskuler Coagulation,
Dilutional coagulopathy bisa terjadi pada transfusi darah lebih dari 8 unit
karena darah donor biasanya tidak fresh sehingga komponen fibrin dan
trombosit sudah rusak

4.

Manifestasi Klinis
Gejala Klinis umum yang terjadi adalah kehilangan darah dalam jumlah yang
banyak (> 500 ml), nadi lemah, pucat, lochea berwarna merah, haus, pusing, gelisah,
letih, dan dapat terjadi syok hipovolemik, tekanan darah rendah, ekstremitas dingin,
mual.
Gejala Klinis berdasarkan penyebab:
a. Atonia Uteri:
Gejala yang selalu ada: Uterus tidak berkontraksi dan lembek dan perdarahan
segera setelah anak lahir (perarahan postpartum primer)
Gejala yang kadang-kadang timbul: Syok (tekanan darah rendah, denyut nadi
cepat dan kecil, ekstremitas dingin, gelisah, mual dan lain-lain.
b. Robekan jalan lahir
Gejala yang selalu ada: perdarahan segera, darah segar mengalir segera setelah
bayi lahir, kontraksi uterus baik, plasenta baik.
Gejala yang kadang-kadang timbul: pucat, lemah, menggigil.
c. Retensio plasenta
Gejala yang selalu ada : plasenta belum lahir setelah 30 menit, perdarahan segera,
kontraksi uterus baik.
Gejala yang kadang kadang timbul: tali pusat putus akibat traksi berlebihan,
inversi uteri akibat tarikan, perdarahan lanjutan

d. Tertinggalnya plasenta (sisa plasenta)


Gejala yang selalu ada : plasenta

atau

sebagian

selaput

(mengandung

pembuluh darah ) tidak lengkap dan perdarahan segera.


Gejala yang kadang-kadang timbul: uterus berkontraksi baik tetapi tinggi
fundus tidak berkurang
e. Inversio uterus
Gejala yang selalu ada: uterus tidak teraba, lumen vagina terisi massa, tampak
tali pusat (jika plasenta belum lahir), perdarahan segera, dan nyeri sedikit atau
berat.
Gejala yang kadang-kadang timbul: Syok neurogenik dan pucat
5.

Patofisiologi
Dalam persalinan pembuluh darah yang ada di uterus melebar untuk
meningkatkan sirkulasi ke sana, atoni uteri dan subinvolusi uterus menyebabkan
kontraksi uterus menurun sehingga pembuluh darah-pembuluh darah yang melebar
tadi tidak menutup sempurna sehingga perdarahan terjadi terus menerus. Trauma
jalan lahir seperti episiotomi yang lebar, laserasi perineum, dan rupture uteri juga
menyebabkan perdarahan karena terbukanya pembuluh darah, penyakit darah pada
ibu; misalnya afibrinogemia atau hipofibrinogemia karena tidak ada atau kurangnya
fibrin untuk membantu proses pembekuan darah juga merupakan penyebab dari
perdarahan postpartum. Perdarahan yang sulit dihentikan bisa mendorong pada
keadaan shock hemoragik.
Perbedaan perdarahan pasca persalinan karena atonia uteri dan robekan jalan lahir
adalah:
1. Atonia uteri (sebelum/sesudah plasenta lahir)
1) Kontraksi uterus lembek, lemah, dan membesar (fundus uteri masih tinggi.
2) Perdarahan terjadi beberapa menit setelah anak lahir.
3) Bila kontraksi lemah, setelah masase atau pemberian uterotonika, kontraksi
yang lemah tersebut menjadi kuat.
2. Robekan jalan lahir (robekan jaringan lunak)
1) Kontraksi uterus kuat, keras dan mengecil.

2)Perdarahan terjadi langsung setelah anak lahir.Perdarahan ini terus-menerus.


Penanganannya, ambil spekulum dan cari robekan.
3) Setelah dilakukan masase atau pemberian uterotonika langsung uterus
mengeras tapi perdarahan tidak berkurang.

WOC

Laserasi

Adanya sisa placenta

Persalinan yang disertai dengan:

jalan lahir
Robekan

di dalam rahim

Retensi placenta

Kelainan
darah
Afibrinogen

Serabut serabut meometrium

pembuluh

Darah sukar

gagal berkontraksi

darah

membeku

Atonia uteri
Kegagalan penutupan pembuluh darah yang robek
Pengeluaran darah yang lebih dari 500-600cc
setelah melahirkan (ari dan anak)
Krisis situasional

Kurang

Eritrosit keluar

Berkurangnya volume intravaskuler

Hb menurun

Ansietas

Syok hipovolemik
Kekurangan volume cairan

Pengetahuan

Hb menurun
Anemia

Neuron di vena hepatica

5L

tidak mendapat asupan

Transport O2 ke organ menurun

Darah ke paru
minim O2

Ke otak

Merespon hipofisis anterior


Pembentukan
Hiperaktivitas lambung
Peningkatan
Respon mual
asam
- muntah
lambung

Ke jaringan
perifer

Depresi sumsum tulang

Intoleransi
aktivitas

Terganggunya fungsi organ

leukosit menurun
Resiko tinggi infeksi

Gangguan
pertukaran gas

Pusing

G3
perfusi

G3

jaringa
Resiko
n otak

perfusi

tinggi

jatuh

jaringa

Nyeri
G3 pemenuhan nutrisi kurang dari

akut

6.

Pemeriksaan Penunjang
a. Golongan darah menentukan Rh, ABO dan percocokan silang yang natinya
dapat membantu dalam tindakan transfuse darah.
b. Jumlah darah lengkap menunjukkan penurunan Hb/Ht dan peningkatan
jumlah sel darah putih (SDP). (Hb saat tidak hamil:12-16gr/dl, saat hamil:
10-14gr/dl. Ht saat tidak hamil:37%-47%, saat hamil:32%-42%. Total SDP
saat tidak hamil 4.500-10.000/mm3. Saat hamil 5.000-15.000)
c. Kultur uterus dan vagina mengesampingkan infeksi pasca partum
d. Urinalisis memastikan kerusakan kandung kemih
e. Profil koagulasi peningkatan degradasi, kadar produk fibrin/produk split
fibrin (FDP/FSP), penurunan kadar fibrinogen : masa tromboplastin
partial diaktivasi, masa tromboplastin partial (APT/PTT), masa protrombin

8.

memanjang pada KID


f. Sonografi menentukan adanya jaringan plasenta yang tertahan
7.
Komplikasi
9.
disertai

Komplikasi kehilangan darah yang banyak adalah syok hipovolemik


dengan perfusi jaringan

yang tidak adekuat, anemia. Komplikasi

perdarahan post partum primer yang paling berat yaitu syok. Bila terjadi syok
yang berat dan pasien selamat, dapat terjadi komplikasi lanjutan yaitu anemia
dan infeksi dalam masa nifas. Infeksi dalam keadaan anemia bisa berlangsung berat
sampai

sepsis.

merata

dapat

Pada perdarahan yang disertai


terjadi

kegagalan

fungsi

oleh pembekuan intravaskuler

organorgan

seperti

gagal

ginjal

mendadak (Chalik, 2000).


10.
11.

Penatalaksanaan
1) Penanganan umum
12.

Perbaikan keadaa umum dengan :

a. Pemasangan infuse
b. Transfusi darah
c. Pemberian antibiotic
d. Pemberian uterotonik
e. Pada keadaan gawat dilakukan rujukan ke rumah sakit.
2) Pada robekan serviks, vagina dan perineum pendarahan diatasi dengan
jala menjahit.
3) Penanganan khusus
a. Atonia uteri
13.

Tergantung pada banyaknya pendarahan dan derajat atonia uteri.

- Menimbulkan kontraksi otot uterus


1) Pemberian uterotonika:
14. a) Oksitosi langsung IV/IM, menimbulkan kontraksi cepat
15. b) Meterghin IV/IM, mempertahankann kontrkasi
16. c) Prostaglandin
2) Kompresi bimanual
17. a) Tangan kanan dimasukkan ke dalam vagina, membuat tinju
kea rah dinding depan uterus. Tangan kiri melipat fundus uteri
sehingga uterus terlipat, dengan tujuan menghentikan pendarahan.
18. b) Tangan kanan dimasukkan ke dalam vagina, selanjutnya
menjepit serviks

sehingga

tertutup.

Tangan

kiri

di

luar

melakukan masase sehingga timbul kontraksi otot uterus.


- Melakukan uterovaginal tampon
19. Penghentian pendarahan dengan tampon tidak banyak dikerjakan
lagi dan bila tampo basah, tidak boleh diulagi lagi karena darah
dalam tampon cukup banyak yang menandakan pendarahan belum
berhenti. Bila dengan uterotonik kontraksi otot uterus tidak terjadi,
uterovagiinal tampon tidak perlu dipasang. Nilai tampon lebih rendah
-

dari uterotonik.
Penjepitan parametrium cara Henkel
20. Tujuannya untuk menjepit arteri uterin sehingga pendarahan

berhenti.
Ligasi arteri hipogastrik
21. Operasi untuk menghentika pendarahan dengan melakukan
ligasi arteri hipogastrika, cukup sulit karena ada kemungkinan ikut

terikatnya ureter dan minimbulkan komplikasi pada ginjal.


Histerektomi supravaginal
22. Bila pendarahan tidak dapat diatasi, untuk meyelamatkan

jiwa penderita dilakukan histerektomi supravaginal.


b. Retensio plasenta
23.

Setelah memberikan infuse profilaksis, antibiotik dan uterotonik

tetapi plasenta belum lahir dalam setengah sampai satu jam setelah
bayi lahir, maka yang dapat dilakukan adalah:
o Coba 1-2 kali dengan perasat Crede
o Keluarkan plasenta dengan tangan (manual plasenta)
o Bila masih ada sisa-sisa plasenta, maka akan dilakukan kuretase dan
diperiksakan ke PA
c. Inversio uteri
o Pencegahan:

Hati-hati

dalam

memimpin

persalinan,

jagan

terlalu

mendorong rahim atau melakukan perasat Crede berulangulang dan hati-hatilah dalam menarik tali pusat serta
melakukan pengeluaran plasenta dengan tangan.
o Bila telah terjadi maka terapinya adalah:
24.
25.
26.
27.

a. Pasang infuse rangkap, mempersiapkan darah yang cukup


b. Berikan tokolitik: ritrodine, magnesium sulfat
c. Hilangkan rasa nyeri dengan petidine atau morfin
d. Lakukan reposisi
1) Anestesi general
2) Reposisi pervaginal

plasenta manual, mesase, uterotoik,

oksitosin, dan metargin


28.

e. Bila gagal reposisi, lakukan tindakan operasi:

1) Transabdominal menurut Haultein


2) Transvaginal menurut Spinelli
d. Rupture uteri
29.

31.

Dengan tindakan :
Histerektomi

adalah bedah pengangkatan rahim (uterus)

yang

sangat umum dilakukan


Cuci kavum abdomen dan irigasi dengan antibiotika
Pemasangan drainase
30.
Asuhan Keperawatan
32. PENGKAJIAN
33. Pengkajian fokus pada perdarahan post portum meurut Dongoes dan Marylin E,
(2001) sebagai berikut :
34. a.
Alasan dan keluhan pertama masuk Rumah Sakit
35.
Apa yang dirasakan saat itu ditujukan untuj mengenali tanda atau
gajala yang berkaitan dengan perdarahan post portum misalnya antonio uteri,
retensio plasenta robekan jalan lahir, vagina, perineum, adanya sisa selaput
plsenta dan biasanya ibu nampak perdarahan banyak > 500 CC
b. Riwayat kesehatan sekarang
36.

Dikaji untuk mengetahui apakah seorang ibu menderita penyakit

yang bisa menyebabkan perdarahan post portum seperti aspek fisiologis dan
psikososialnya.
c. Riwayat kesehatan dahulu

37.

Dikaji untuk mengrtahui apakah seorang ibu perah menderita penyakit

yang lain yang menyertai dan bisa memperburuk keadaan atau mempersulit
penyambuhan. Seperti penyakit diabetus mellitus dan jantung.
d. Riwayat kesehatan keluarga
38.

Meliputi penyakit yang diderita pasien dan apakah keluarga pasien

ada yang mempunyai riwayat yang sama


e. Riwayat obstetric
1. Riwayat menstruasi meliputi : Menarche, lamanya siklus, banyaknya,
2. baunya , keluhan waktu haid, HPHT
3. Riwayat perkawinan meliputi : Usia kawin, kawin yang keberapa, Usia
mulai
4. hamil.
5. Riwayat hamil, persalinan dan nifas yang lalu.
6. Riwayat Kehamilan sekarang
f. Pola pengkajian kesehatan menurut (Dongoes

dan Marilyn

E,2001),

Sebagai berikut :
39.
40.

1) Aktivitas istirahat -> Insomia mungkin teramat.


2) Sirkulasi -> Kehilangan darah selama proses post portum, Rembesan

kontinu atau perdarahan tiba-tiba.


41.
Dapat tampak pucat, anemik
42.
3) Integritas ego -> Peka rangsang, takut atau menangis sering terlihat
kirakira 3 hari setelah melahirkan post portum blues
43.
4) Eliminasi -> BAK tidak teratur sampai hari ke 2dan ke 5
44.
5) Makan dan cairan->Kehilangan nafsu makan mungkin dikeluhkan
kira-kira sampai hari ke 5
45.
6) Persepsi sensori -> Tidak ada gerakan dan sensori
46.
7) Nyeri dan ketidaknyamanan -> Nyeri tekan payudara dan
pembesaran dapat terjadi diantara hari ke 3 sampai hari ke 5 post partum
47.
8) Ketidaknyamanan: Nyeri tekan uterus (fragmen-fragmen
plasenta tertahan)
48.
Ketidaknyamanan vagina/pelvis, sakit punggung (hematoma)
49.
9) Keamanan : Pecah ketuban dini
50.
10) Seksualitas

Uterus diatas umbilikus pada 12 jam setelah kelahiran menurun satu jari

setiap harinya
Lochea rubra berlanjut sampai hari ke 2
Payudara produksi kolostrum 24 jam pertama
Tinggi fundus gagal kembali pada ukuran dan fungsi kehamilan
(Subinvorusi),

Leukorea mungkin ada


Terus terlepasnya jaringan.
g. Pengkajian Psikologis
Apakah pasien dalam keadaan stabil
Apakah pasien biasanya cemas sebelum persalinan dan masa penyembuhan
h. Pemeriksaan fisik head to toe
51.
52.

1) B1 Breath : takipnea, sianosis


2) B2 Blood : takikhardia, perdarahan, akral ekstremitas dingin, TD

menurun
53.
3) B3 Brain : pasien kadang mengeluh pusing, bisa disertai
gangguan kesadaran jika perdarahan berlebihan.
54.
4) B4 Bowel : anoreksia
55.
5) B5 Bladder : gangguan eliminasi urine karena pasien takut
untuk miksi
56.

6) B6 Bone : lemas, intoleransi aktivitas

i. Pemeriksaan tanda-tanda vital


57.
58.
59.
60.

1. Suhu badan, biasanya meningkat sampai 38C dianggap normal.


2. Nadi, akan meningkat cepat karena nyer
3. Tekanan darah biasanya stabil, memperingan hipovolemia
4. Pernafasan juga menjadi tidak normal.

j. Pemeriksaan Diagnostik
61.

1) Golongan darah : Menentukan Rh, golongan ABO dan pencocokan

silang
62.
63.
64.
65.

2) Jumlah darah lengkap


3) Kultur uterus dan vaginal
4) Urinalisis
5) Profil koagulasi : Peningkatan degeradasi kadar produk fibrin/ produk

spilit fibrin (SDP/FSP)


66.
6) Sonografi : Menentukan adanya jaringan plasenta yang tertahan.
67.
68.
5. DIAGNOSA KEPERAWATAN PRIORITAS
69.
1) Kekurangan volume cairan dan elektrolit berhubungan dengan
70.
71.

perdarahan berlebih
2) Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan hipovelemia
3) Ansietas berhubungan krisis situasi ancaman perubahan pada status

72.

kesehatan atau kematian


4) Resiko tinggi terjadinya infeksi

73.
74.
75.

berhubugan dengan gangguan

pembentukan sel darah putih


5) Resiko syok berhubugan dengan efek dari perdarahan
6. INTERVENSI KEPERAWATAN

76.
77.
78.
a.
b.
c.
d.
e.

1. Kekurangan volume cairan b/d perdarahan pervaginam


Tujuan : Mencegah disfungsional bdleeding dan memperbaiki volume cairan
Rencana tindakan :

Tidurkan pasien dengan posisi kaki lebih tinggi sedangkan badannya tetap terlentang.
Monitor tanda vital
Monitor intake dan output setiap 5-10 menit
Evaluasi kandung kencing
Lakukan masage uterus dengan satu tangan serta tangan lainnya diletakan diatas

simpisis.
f. Batasi pemeriksaan vagina dan rectum
79.

Bila tekanan darah semakin turun, denyut nadi makin lemah, kecil dan cepat,

pasien merasa mengantuk, perdarahan semakin hebat, segera kolaborasi.


g.
h.
i.
j.

Berikan infus atau cairan intravena


Berikan uterotonika ( bila perdarahan karena atonia uteri )
Berikan antibiotik
Berikan transfusi whole blood ( bila perlu )

80.
2. Gangguan perfusi jaringan b/d perdarahan pervaginam
81.
82.
a.
b.
c.
d.
o

Tujuan: Tanda vital dan gas darah dalam batas normal


Rencana keperawatan :

Monitor tanda vital tiap 5-10 menit.


Catat perubahan warna kuku, mukosa bibir, gusi dan lidah, suhu kulit
Kaji ada / tidak adanya produksi ASI
Tindakan kolaborasi :
Monitor kadar gas darah dan PH (perubahan kadar gas darah dan PH merupakan

tanda hipoksia jaringan)


o Berikan terapi oksigen (Oksigen diperlukan untuk memaksimalkan transportasi
sirkulasi jaringan).
83.
3. Cemas/ketakutan berhubungan dengan perubahan keadaan atau ancaman kematian
84.

Tujuan : Klien dapat mengungkapkan secara verbal rasa cemasnya dan

mengatakan perasaan cemas berkurang atau hilang.


85.
Rencana tindakan :
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Kaji respon psikologis klien terhadap perdarahan paska persalinan


Kaji respon fisiologis klien (takikardia, takipnea, gemetar)
Perlakukan pasien secara kalem, empati, serta sikap mendukung
Berikan informasi tentang perawatan dan pengobatan
Bantu klien mengidentifikasi rasa cemasnya
Kaji mekanisme koping yang digunakan klien
86.

87.
88.
89.
90.
91.
92.
93.
94.
95.
96.
97.
98.
99.
100.
101.
102.
103.
104.
105.
106.
107.
108.
109.
110.
111.
112.
113.
114.

115. DAFTAR PUSTAKA


117.

116.
Hamilton C, Marry. 2005. Dasar-dasar Keperawatan Maternitas Edisi 6.

118.

Jakarta: ECG.
Israr, Yayan A., S.Ked., dkk. 2009. Perdarahan Post Partum. Riau : Belibis-

119.

17 Faculty of Medicine University of Riau.


Marilyne E, Doenges. 2001. Rencana asuhan Keperawatan Maternal/ Bayi.

120.

Jakarta: ECG.
Prawirohardjo S. 2002. Perdarahan Paca Persalinan. Dalam : Buku Acuan
Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta : YBP-SP.
121.

Anda mungkin juga menyukai