Anda di halaman 1dari 4

Metode Magnetik

Metode magnetik didasarkan pada pengukuran variasi kecil intensitas medan magnetik di
permukaan bumi yang disebabkan oleh adanya variasi distribusi batuan termagnetisasi di
bawah permukaan bumi. Dari hasil pengukuran magnet diperoleh tiga macam hasil bacaan,
yaitu :
1. Medan magnet utama yang bersumber dari dalam bumi dan berubah terhadap waktu
2. Medan luar yang bersumber dari luar bumi dan merupakan hasil ionisasi di atmosfer
yang ditimbulkan oleh sinar ultraviolet dari matahari
3. Medan anomali yang sebagian besar bersumber dari batuan yang mengandung
material magnetik didalamnya.
Penggunaan utama pada metode magnetik ini banyak difokuskan pada survei awal dalam
peninjauan ekplorasi minyak bumi, panas bumi, mineral, penelitian geologi regional, dan
penelitian-penelitian geologi ekplorasi dalam lainnya.

CARA PENGUKURAN MAGNETIK


OLEH : R.SATRIA INDRA GUNAWAN

Metoda Magnetik
Metode magnetik didasarkan pada pengukuran variasi intensitas medan magnetik di
permukaan bumi yang disebabkan oleh adanya variasi distribusi benda termagnetisasi di
bawah permukaan bumi(suseptibilitas). Variasi yang terukur (anomali) berada dalam latar
belakang medan yang relatif besar. Variasi intensitas medan magnetik yang terukur kemudian
ditafsirkan dalam bentuk distribusi bahan magnetik di bawah permukaan, yang kemudian
dijadikan dasar bagi pendugaan keadaan geologi yang mungkin. Metode magnetik memiliki
kesamaan latar belakang fisika dengan metode gravitasi, kedua metode sama-sama
berdasarkan kepada teori potensial, sehingga keduanya sering disebut sebagai metoda
potensial. Namun demikian, ditinjau dari segi besaran fisika yang terlibat, keduanya
mempunyai perbedaan yang mendasar. Dalam magnetik harus mempertimbangkan variasi
arah dan besar vektor magnetisasi. Sedangkan dalam gravitasi hanya ditinjau variasi besar
vektor percepatan gravitasi. Data pengamatan magnetik lebih menunjukan sifat residual yang
kompleks. Dengan demikian, metode magnetik memiliki variasi terhadap waktu jauh lebih
besar. Pengukuran intensitas medan magnetik bisa dilakukan melalui darat, laut dan udara.
Metode magnetik sering digunakan dalam eksplorasi pendahuluan minyak bumi, panas bumi,
dan batuan mineral serta serta bisa diterapkan pada pencarian prospeksi benda-benda
arkeologi.
Terbentuknya gejala magnetisme
Ada beberapa sebab timbulnya gejala magnetisme. Pada tahun 1820, Orstead
menemukan bahwa arus di dalam sebuah kawat dapat menghasilkan efek-efek magnetik yaitu
arus tersebut dapat mengubah arah sebuah jarum kompas (Resnick & Halliday, 1984).
Magnet permanen dan arus listrik dalam elektromagnet keduanya menciptakan medan
magnet (Young & Freedman, 2004). Momen magnet elektron bebas bila diteliti lebih dalam
maka gejala ini adalah akibat dari putaran spin, putaran lintasan orbit, putaran inti atom, dan
pengaruh medan eksternal (Rachmantio, 2004).
Suseptibilitas Magnetik
Tingkat suatu benda magnetik untuk mampu dimagnetisasi ditentukan oleh
suseptibilitas kemagnetan (disimbolkan dengan k) yang ditulis sebagai:
I=kH
H = Kuat medan magnet
I = magnetisasi induksi (momen dipol magnet persatuan volume) (A/m)

Besaran ini adalah parameter dasar yang dipergunakan dalam metode magnetik. Harga k pada
batuan semakin besar apabila dalam batuan tersebut semakin banyak dijumpai mineralmineral yang bersifat magnetik. Suseptibilitas magnetik batuan merupakan harga magnet
suatu batuan terhadap pengaruh magnet yang erat kaitannya dengan kandungan mineral dan
oksida besi. Semakin besar kandungan mineral magnetit di dalam batuan, semakin besar
harga suseptibilitasnya.

Magnet Bumi

Medan geomagnetik (magnet bumi) terdiri atas tiga bagian (Telford dkk, 1979), yaitu:
1. Medan utama (main field), yang secara relatif berubah-ubah dengan lambat dan
merupakan medan internal.
Intensitas medan magnetik bumi secara kasar memiliki nilai antara 25.000 65.000 nT.
Untuk Indonesia, wilayah yang terletak di utara ekuator mempunyai intensitas lebih kurang
40.000 nT, sedangkan di selatan ekuator lebih kurang 45.000 nT. Medan Magmet Anomali.
Berdasarkan sifat medan magnet bumi dan sifat kemagnetan bahan pemebentuk batuan, maka
bentuk medan magnetik anomali yang ditimbulkan oleh benda penyebabnya bergantung
pada:
a)
inklinasi
medan
magnet
bumi
di
sekitar
benda
penyebab
b)
geometri
dari
benda
penyebab
c) kecenderungan dari arah dipol-dipol magnet di dalam benda pentebab
d) orientasi arah dipol-dipol magnet benda penyebab terhadap arah medan bumi
2. Medan eksternal, yang berubah-ubah agak cepat dan berasal dari luar bumi
Pengaruh medan luar berasal dari pengaruh luar bumi yang merupakan hasil ionisasi di
atmosfer yang ditimbulkan oleh sinar ultraviolet dari matahari. Karena sumber medan luar ini
berhubungan dengan arus listrik yang mengalir dalam lapisan terionisasi di atmosfer, maka
perubahan medan ini terhadap waktu jauh lebih cepat. Beberapa sumber medan luar antara
lain:
a) perubahan konduktivitas listrik lapisan atmosfer dengan siklus 11 tahun.
b) variasi harian dengan periode 24 jam yang berhubungan dengan pasang surut matahari dan
mempunyai jangkauan 30 nT.
c) variasi harian dengan periode 25 jam yang berhubungan dengan pasang surut bulan dan
mempunyai jangkauan 2 nT.
d) badai magnetik yang bersifat acak dan mempunyai jangkauan sampai dengan 1000 nT.
Metode Geomagnet dalam Survei Geofisika
Batuan di dalam bumi mengandung mineral-mineral yang sebagian juga memiliki sifat
kemagnetan. Mineral tersebut terinduksi medan magnet bumi dan menimbulkan medan
magnet sekunder (Bakrie, 2008). Hal inilah yang menjadi dasar metode geomagnet. Metode
geomagnet didasarkan pada pengukuran variasi intensitas magnetik di permukaan bumi yang
disebabkan adanya variasi distribusi (anomali) benda termagnetisasi di bawah permukaan
bumi. Pola anomali ini dicirikan oleh pergantian antara anomali positif negatif dan sejajar
dengan sumbu pemekarannya. Pola ini dikenal dengan Zone of stripped magnetic
anomalies.
Intensitas medan magnet di permukaan bumi diukur menggunakan magnetometer. Hasil
pengukuran magnetometer berupa penjumlahan dari medan magnet bumi utama, variasi

medan magnet bumi yang berhubungan dengan variasi kerentanan magnet batuan, medan
magnet remanen dan variasi harian akibat aktivitas matahari.
Pengukuran medan magnet bumi untuk keperluan eksplorasi dapat dilakukan di darat, laut,
dan udara. Survei geomagnet dilakukan untuk memperkirakan adanya cebakan mineral,
intrusi magnetik di daerah vulkanik, eksplorasi geotermal, dan konfigurasi cekungan sedimen
pada eksplorasi hidrokarbon (Bakrie, 2008). Metode ini juga dapat digunakan untuk
prospeksi benda-benda arkeologi (Anonim, 2008). Akurasi pengukuran metode ini relatif
tinggi dan pengoperasian alat di lapangan relatif sederhana, mudah dan cepat.
Akuisisi Data
Sebelum akuisisi data di lapangan, dilakukan terlebih dahulu langkah-langkah persiapan.
Persiapan didahului oleh penentuan koordinat lokasi penelitian menggunakan GPS (Global
Positioning System). Langkah selanjutnya adalah pembuatan lintasan geomagnet. Secara
umum lintasan geomagnet dibuat mengikuti garis lurus dengan arah barat timur dan utara
selatan. Adapun bentuk lintasan dalam penelitian ini adalah seperti gambar di bawah ini.

Akuisisi data dibagi mejadi dua yaitu akuisisi data intensitas medan magnet bumi diurnal
(harian) dengan menggunakan stasiun base (stasiun A) dan akuisisi data anomali medan
magnet penyusun kerak bumi dengan stasiun mobile (stasiun B). Pencatat waktu (time) kedua
stasiun
tersebut
telah
disamakan.
Pengambilan data magnetik dilakukan dengan spasi yang serapat mungkin (1 - 5 meter) agar
data yang diperoleh banyak. Pengambilan data juga mesti disesuaikan dengan topografi dan
keadaan vegetasi lokasi survei. Untuk daerah yang sulit dijangkau, spasi pengambilan data
dapat divariasikan.
Koreksi Data
Data intensitas medan magnet yang diukur dengan stasiun A digunakan untuk mengoreksi
nilai intensitas medan magnet pada stasiun B. Koreksi data dilakukan secara sederhana yaitu
menghitung selisih antara nilai-nilai pada kedua stasiun pada waktu yang sama. Selain itu
perlu diperhatiakan data - data yang ekstrim. Data ekstrim ini pada umumnya disebabkan
oleh aktivitas matahari. Jika pada stasiun base tidak terukur nilai - nilai ekstrim, maka
kemungkinan besar di daerah tersebut terdapat cebakan magnetik. Nilai ekstrim bisa
mencapai 100.000 nT.
Pengolahan Data
Data dapat diolah dengan Software Potent dan software lainnya