Anda di halaman 1dari 21

ROTIFERA DAN PORIFERA

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Terstruktur Semester Ganjil


Matakuliah Avertebrata Air
oleh:
1. Marisa Ekaputri D.

(155080300111005)

2. Moh. Dwi Pratomo

(155080300111007)

3. Aulia Halidar Rahmah

(155080300111015)

Kelas T01

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI HASIL PERIKANAN


JURUSAN MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2016
iii

KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, puji dan syukur penyusun panjatkan kehadirat Allah SWT
yang telah memberi rahmat, karunia, serta kasih sayang terbesar-Nya sehingga
penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Rotifera dan Porifera.
Penyusunan makalah ini dimaksudkan untuk memenuhi tugas terstruktur
mata kuliah Avertebrata Air pada semester ganjil tahun 2016/2017. Selain itu
sebagai upaya untuk meningkatkan kemampuan dan memotivasi mahasiswa
dalam memahami materi Avertebrata Air.
Penyusun menyadari bahwa masih terdapat banyak kekurangan dalam
penulisan makalah ini. Oleh karena itu penyusun dengan tangan terbuka
menerima saran dan kritik dari pembaca sekalian demi memperbaiki penulisan
lain di kemudian hari.
Akhirnya, semoga makalah ini dapat mendatangkan manfaat bagi semua
pihak.
Sekian dan terimakasih.

Senin, 12 September 2016

Penyusun

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...........................................................................................i
DAFTAR ISI.......................................................................................................ii
DAFTAR GAMBAR............................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN.....................................................................................1
1.1 Latar Belakang.........................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah...................................................................................2
1.3 Tujuan Penulisan.....................................................................................3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA............................................................................4
Rotifera
2.1 Pengertian ..............................................................................................4
2.2 Morfologi dan Anatomi.............................................................................4
2.3 Proses Fisiologis......................................................................................5
2.3.1 Sistem Pencernaan..........................................................................5
2.3.2 Sistem Ekskresi................................................................................6
2.3.3 Susunan Saraf.................................................................................6
2.4 Reproduksi...............................................................................................6
2.5 Klasifikasi.................................................................................................7
2.6 Peranan...................................................................................................8
Rotifera
2.7 Pengertian ..............................................................................................9
2.8 Morfologi dan Anatomi.............................................................................9
2.9 Proses Fisiologis......................................................................................10
2.9.1 Sistem Gerak dan Rangka Tubuh....................................................11
2.9.2 Sistem Respirasi..............................................................................11
2.9.3 Sistem Pencernaan..........................................................................12
2.9.3 Sistem Ekskresi................................................................................12
2.10 Reproduksi.............................................................................................12
2.11 Klasifikasi...............................................................................................13
2.12 Peranan.................................................................................................15
BAB III PENUTUP.............................................................................................16
3.1 Kesimpulan..............................................................................................16
3.2 Saran.......................................................................................................16
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................17

ii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Rotifera.............................................................................................4
Gambar 2. Morfologi Rotifera.............................................................................5
Gambar 3. Saraf Rotifera...................................................................................6
Gambar 4. Reproduksi Rotifera..........................................................................7
Gambar 5. Porifera.............................................................................................9
Gambar 6. Morfologi Porifera.............................................................................10
Gambar 7. Reproduksi Porifera..........................................................................13

iii

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Ada begitu banyak makhluk hidup yang hidup di bumi ini. Jenis makhluk
hidup yang sedemikian banyak ini memiliki keanekaragamaan yang hampir tidak
terbatas baik hewan maupun tumbuhan. Dalam kingdom animalia dibedakan
menjadi 2 kelompok yaitu Invertebrata dan Vertebrata. Hewan invertebrata
adalah hewan yang tidak memiliki tulang belakang misalnya cacing, cumi, siput
sedangkan vertebrata adalah hewan yang memiliki tulang belakang, misalnya
katak, sapi, ikan. Invertebrata mencangkup hampir seluruh anggota kerajaan
animalia.
Avertebrata air merupakan hewan yang sangat penting untuk dipelajari
karena jumlah vertebrata di seluruh dunia hanya 5% di permukaan bumi,
keanekaragaman avertebrata air yang sangat beraneka ragam, adanya kaitan
antara

avertebrata

air

dengan

perikanan,

avertebrata

air

ada

yang

menguntungkan bagi manusia dan ada yang merugikan. Kaitan avertebrata air
dengan

perikanan yaitu avertebrata air sebagai pakan ikan, sebagai parasit

pada ikan, sebagai bioindikator dalam perikanan, dan sebagai penentu kualitas
perairan. Avertebrata air yang menguntungkan bagi manusia yaitu bisa
dikonsumsi, dapat dibudidayakan dan sebagainya. Yang merugikan ialah
avertebrata air ada yang menyebabkan penyakit contohnya demam keong dan
kaki gajah (Barnes, 1982).
Salah satu contoh avertebrata air ialah filum rotifera. Filum rotifera atau
rotatoria merupakan metazoa yang sangat kecil. Filum ini pernah dianggap
sebagai Infusoria. Sekitar 1200 jenis telah diketahui dan kebanyakan hidup di air
tawar, beberapa hidup di air laut dan sedikit yang parasit. Rotifera merupakan
filum menarik karena bentuk tubuhnya sangat menyerupai larva trokofor. Adanya
bentuk-bentuk yang serupa tersebut menunjukkan adanya nenek myang yang
sama antara rotifera, Mollusca, dan Annelida. Rotifera mempunyai banyak bulu
getar yang membantu untuk

bergerak

dan

menarik makanan ke dalam

mulutnya (Suwignyo et al., 2005).

Di dunia terdapat sekitar 10.000 spesies sponge, di Indonesia


diperkirakan sebanyak 850 spesies sampai 1500 spesies (Hooper dan van
Soest, 2002 dalam Haris et al., 2013). Sponge atau porifera adalah hewan dari
phylum porifera yang merupakan salah satu hewan primitif yang hidup menetap
dan bersifat filter feeder. Sponge memompa air keluar melalui tubuhnya dan
menyaring partikel sebagai bahan makanan (Hickman et al., 2002 dalam Haris et
al., 2013). Secara
pada

ekosistem

karang dan

ekologi,
pesisir

sponge
dan

laut,

merupakan

salah

satu

penyusun

terutama pada ekosistem terumbu

padang lamun yang umumnya dijumpai di perairan tropik

dan subtropik (Haris et al., 2009).

1.2 Rumusan Masalah


Dari latar belakang yang telah dipaparkan diatas dapat diperoleh rumusan
masalah sebagai berikut.
Rotifera
1. Apa pengertian rotifera?
2. Bagaimana morfologi dan anatomi rotifera?
3. Bagaimana fisiologi rotifera?
4. Bagaimana klasifikasi rotifera?
5. Bagaimana reproduksi rotifera?
6. Apa peranan rotifera?
Porifera
1. Apa pengertian porifera?
2. Bagaimana morfologi dan anatomi porifera?
3. Bagaiman fisiologi porifera?
4. Bagaimana klasifikasi porifera?
5. Bagaimana Reproduksi porifera?
6. Apa peranan porifera?

1.3 Tujuan Penulisan


Dari rumusan masalah yang telah disebutkan diatas dapat diperoleh tujuan
penulisan sebagai berikut.
Rotifera
1. Mengetahui pengertian rotifera.
2. Mengetahui morfologi dan anatomi rotifera.
3. Memahami fisiologi rotifera.
4. Mengetahui klasifikasi rotifera.
5. Mengetahui sistem reoroduksi rotifera.
6. Mengetahui peranan rotifera.
Porifera
1. Mengetahui pengertian porifera.
2. Mengetahui morfologi dan anatomi porifera.
3. Memahami fisiologi porifera.
4. Mengetahui klasifikasi porifera.
5. Mengetahui sistem reoroduksi porifera.
6. Mengetahui peranan porifera.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Rotifera
2.1 Pengertian
Rotifera adalah filum dengan ukuran sedang, berbentuk bilateral simetris,
hewan unsegmented yang hidup terutama di air. Rotifera berasal dari kata rota =
roda dan fera = membawa. Kata rotifer berasal dari bahasa latin artinya rodapembawa, karena korona di sekitar mulut yang bergerak menyerupai roda
meskipun organ tidak benar-benar memutar. Pertama kali ditemukan oleh John
Harris tahun 1696 yang waktu itu dikenal dengan nama bdelloid rotifer yaitu
hewan mirip cacing. Dari 1700 spesies, kebanyakan hidup di air tawar, hanya 50
spesies di laut, beberapa di hamparan lumut yang basah. Rotifera termasuk
metazoan yang paling kecil berukuran antara 40-2500 mikron rata-rata 200
mikron. Umunya hidup bebas, soliter, koloni, sessile (Suwignyo et al., 2005).

Gambar 1. Rotifera.

2.2 Morfologi dan Anatomi


Tubuh rotifera dapat dibagi menjadi tiga bagian anterior yang pendek /
kepala, badan yang besar dan kaki. Daibagian anterior terdapat corona dan
mastax yang merupakan ciri khas filum rotifera. Corona terdiri atas dareah sekitar
mulut yang bercilia, dan cilia ini melebar diseputar tepi anterior hingga seperti
bentuk mahkota. Gerakan cilia pada trochal disk tampak seperti roda berputar.
Mastax tarletak antara mulut dan pharynx. Mastax adalah pharynx yang berotot,
bulat atau lonjong dan bagian dalamnya terdapat trophi, semacam rahang
berkhitin. Trophi terdiri atas tujuh buah gigi yang saling berhubungan. Mastax

berfungsi untuk menangkap dan menggiling makanan, bentuknya beraneka


ragam sesuai tipe kebiasaan makan rotifera (Suwignyo et al., 2005).
Bentuk badan bulat atau silindris, pada bagian badan terdapat tiga buah
tonjolan kecil pada yaitu sebuah atau sepasang antena dorsal dan dua buah
antena lateral. Pada ujung antena terdapat bulu-bulu sebagai alat indera.
Kaki terletak diujung posterior. Kaki acapkali berkerut-kerut sehingga
tampak seperti beruas-ruas, yang dapat memendek dan dimasukkan kedalam
badan. Didalam kaki terdapat kelenjar kaki (pedal gland) yang menghasilkan
bahan perekat untuk menempel pada substrat (Suwignyo et al., 2005).

Gambar 2. Morfologi Rotifera.

2.3 Proses Fisiologi


2.3.1 Sistem Penceranaan
Mulut rotifera terletak dibagian ventral dan biasanya dikelilingi oleh
sebagian corona. Daerah sekitar mulut (buccal field) pada jenis Colothecacea
mengalami modifikasi melebar sedemikian rupa hingga menyerupai corong, dan
mulut terletak di dasar corong. Jenis filter feeder memakan partikel organik yang
lembut dengan bantuan aliran air yang dihassilkan cilia pada corona. Memakan
dari mulut dialirkan ke mastax. Pharynx dihubungkan dengan perut oleh
esofagus. Perut berbentuk tabung dan kantong, berhubungan dengan usus yang
pendek dan berakhir pada anus (Suwignyo et al., 2005).

2.3.2 Sistem Ekskresi


Pada tiap sisi lateral terdapat sebuah protonephridium dengan 2-8 flame
bulb. Kedua protonephridia tersebut bersatu pada kantung kemih (bladder), yang
bermuara pada bagian ventral kloaka. Isi bladder dikosongkan melalui anus
dengan jalan konstraksi, dengan kecepatan satu sampai empat kali per menit.
Pembuangan yang demikian cepat membuktikan bahwa fungsi protonephridia
adalah sebagai osmoregulator, yaitu membuang kelebihan air di dalam tubuh
rotifera (Suwignyo et al., 2005).
2.3.3 Susunan Saraf
Rotifera mempunyai otak yang terdiri atas masa ganglion dorsal, dan
terletak diatas mastax. Dari otak keluar sejumlah pasangan saraf yang menuju
ke berbagai indera, antara lain ke mata dan ke atena. Beberapa Jenis rotifera,
terutama sesil tidak mempunyai mata. Maka berupa ocellus sederhana, dan
berjumlah tiga hingga lima buah (Suwignyo et al., 2005).

Gambar 3. Saraf Rotifera.

2.4 Reproduksi
Siklus hidup rotifera mengandung kedua fase yaitu fase askesual dan
seksual. Produk reproduksi seksual adalah embrio aktif encysted disebut kista.
Pada rotifera dioecious, reproduksi selalu seksual. Individu jantan selalu lebih
kecil daripada betina biasanya mengalami degenerasi yaitu tidak mempunyai alat
pencernaan, hanya memiliki alat reproduksi saja. Perkawinan pada rotifera

biasanya dengan jalanhypodermic impregnation, dimana sperma masuk melalui


dinding tubuh. Rotifera jantan siap melakukan perkawinan satu jam setelah
menetas, kemudian akan mati. Bila tidak menemukan rotifera betina maka
rotifera jantan akan mati pada umur 2-7 hari, tergantung pada jenisnya. Pada
Bdelloidea, dimana tidak pernah ada jantannya reproduksi selalu dengan cara
partenogenesis, yaitu betina menghasilkan telur yang menetas menjadi
betina (Suwignyo et al., 2005).

Gambar 4. Reproduksi Rotifera.

2.5 Klasifikasi
Menurut Suwignyo et al. (2005), klasifikasi rotifera terdiri dari beberapa
kelas diantaranya:
1. Kelas Seisonacea
Tubuh panjang, corona mengecil, ovari sepasang, jantan berkembang
baik, hanya ada satu genus Seison, dengan dua spesies laut, hidup
komensal pada Nebalia, filum Crustacea.
2. Kelas Bdelloide
Tubuh silindris dan retraktil, corona seperti dua roda yang berputar, ovari
sepasang, jantan tidak dikenali, partenogenesis, berenang atau merayap.
Contohnya: Pbilodina, Embata, Rotaria.

3. Kelas Monogononta
A. Ordo Ploima.
Tubuh bulat, sampai lonjong, atau agak pipih, lorica ada atau tidak
ada,

berenang

bebas

atau

merayap,

Contohnya:

Keratella,

Syncbaeta, dan di air tawar dan laut, Chromogaster.


B. Ordo Flosculariacea
Corona terdri atas dua rangkaian cilia yang konsentrik dan ditengah
terdapat galur bercilia, biasanya terdapa 1 atau 2 atena, soliter atau
koloni, berenang bebas. Contohnya: Testudinella, Floscularia sessile
dan Conochilus.
C. Ordo Collothecacea
Corona

besar,

mastax

uncinate,

atau

kurang

berkembang.

Contohnya: Colotheca.

2.6 Peranan
Rotifera memegang peranan penting dalam rantai makanan pada
ekosistem perairan tawar. Disatu pihak memakan serpihan organik dan gangang
bersel satu, dilain pihak rotifera merupakan makanan bagi hewan yang lebih
besar seperti cacing dan crustacea. Branchionus merupakan rotifera yang
banyak dibudidayakan sebagai makanan alami untuk larva ikan dan udang,
karena berukuran kecil sekitar 300 mikron, dan berkembang biak dengan cepat,
hingga cocok untuk makanan burayak ikan yang baru habis kuning telurnya.
Menurut Fluks dan Main (1991) dalam Yudha et al. (2013), menyatakan bahwa
rotifera merupakan makanan utama dalam kultur larva ikan serta kultur
organisme lainnya dari beberapa kelompok takson, karena dapat menyediakan
nutrisi yang baik bagi pertumbuhan larva, disebabkan karena kandungan gizinya
yang tinggi.

Porifera
2.7 Pengertian
Sponge meupakan filum porifera yang paling primitif. Semua anggota
sesile memperlihatkan pergerakan yang sangat kecil. 150 spesies hidup di dalam
air tawar, lainnya hidup di laut. Beberapa spesies hidup didaerah pasir yang
halus atau dasar berlumpur. Kebenyakan menyukai kedalaman yang relatif
rendah. Beberapa kelompok hidup di perairan yang dalam meliputi jenis kelas
sponge (Wijarni, 1990).

Gambar 5. Porifera.

2.8 Morfologi dan Anatomi


Ukuran tubuh porifera sangat bervariasi, dari sebesar kacang polong
sampai setinggi 90 cmdan lebar 1 m. Bentuk tubuh spons juga bermacammacam. Pada permukaan tubuh terdapat lubang-lubang atau pori-pori (asal
nama porifera) yang merupakan lubang air masuk ke spongocoel, untuk akhirnya
keluar melalui osculum. Pada dasarnya dinding tubuh porifera terdiri atas tiga
lapisan, yaitu a) Pinacocyte atau Pinacoderm, seperti epidermis berfungsi untuk
melindungi tubuh bagian dalam. Bagian sel pinacocyte dapat berkontraksi atau
berkerut, sehingga seluruh tubuh hewan dapat sedikit membesar atau mengecil;
b) Mesohy atau mesoglea, terdiri dari zat semacam agar, mengandung bahan
tulang dan sel amebocyte; c) Choanocyte, yang melapisi rongga spongocoel.
Bentuk choanocyte agak lonjong, ujung satu melekat pada mesohyl dan ujung
yang lain melekat pada spoongocoel serta dilengkapi flagelum (Kastawi, 2005).

Menurut Suwignyo et al. (2005), bentuk tubuh porifera dibagi menjadi tiga
tipe, yaitu Asconoid, Syconoid, Leuconoid.
1.

Asconoid
Diantara ketiga bentuk tersebut diatas, asconoid merupakan bentuk yang
paling primitif, menyerupai vas bunga atau jambangan kecil. Pori-pori atau
lubang air masuk merupakan saluran pada sel porocyte yang berbentuk
tabung, memanjang dari permukaan tubuh sampai spongocoel.

2.

Syconoid
Spons memperlihatkan lipatan-lipatan dinding tubuh pada tahap pertama
termasuk tipe syconoid. Misalanya Scypha. Dinding tubuh melipat secara
horisontal, sehingga potongan melintangnya seperti jari-jari, hingga masih
tetap simetri radial. Lipatan sebelah dalam menghasilkan sejumlah besar
kantung yang diapisi choanocyte, disebut flagellated canal, sedang lipatan
luar sebagai saluran air masuk.

3.

Leuconoid
Tingkat perlipatan dinding spongocoel paling tinggi terdapat pada leuconoid
Flagellated canal melipat-lipat membentuk rongga kecil berflagel, disebut
flageliated chamber. Dengan banyaknya lipatan menyebabkan bentuk
spons tidak beraturan.

Gambar 6. Morfologi Porifera.

2.9 Proses Fisiologi


Proses-proses fisiologi hewan spons dipengaruhi oleh aliran air yang
melewati dinding tubuhnya. Air yang mengalir melewati tubuhnya membawa
oksigen dan makanan serta membuang sisa metabolisme atau sampah. Kadangkadang telur dan sperma juga keluar lewat aliran air tersebut. Volume air yang
melewati tubuh spons cukup besar. Pada sebuah spons Leuconia (Leucandra)
yang

tingginya 10 cm dengan diameter 1 cm, dan

memiliki

kira-kira
10

2.250.000 rongga berflagel, dapat memompa lebih kurang

22,5

liter

air

per hari (Kastawi, 2005).


2.9.1 Sistem Gerak dan Rangka Tubuh
Rangka sebagai penyangga tubuh porifera berupa kristal-kristal kecil
seperti duri dan bintang (spikula-spikula) atau berupa anyaman serabut-serabut
fiber dari bahan protein/spongin. Keragka tubuh seperti ini dapat disebut sebagai
kerangka dalam atau endoskeleton.
Menurut Kastawi (2005), ditinjau dari bahan pembentuk kerangkanya,
maka hewan-hewan porifera dapat dikelompokkan menjadi 3 golongan.
a. Porifera lunak, yakni golongan porifera yang jenis kerangka
tubuhnya tersusun dari bahan spongin (organis). Jika hewan telah
mati tubuhnya dapat digunakan sebagai alat penggosok tubuh
pada waktu mandi, penggosok alat rumah tangga misalnya
penghalus meubelair dll.
b. Porifera Kapur, yakni golongan porifera yang jenis kerangka
tubuhnya terbuat dari ibahan kristal kapur caCO3.
c. Porifera kaca, yakni golongan porifera yang jenis kerangka
tubuhnya terbuat dari bahan kristal silikat H2Si3O7.
2.9.2 Sistem Respirasi
Sebetulnya spons tidak mempunyai alat atau organ pernafasan khusus,
kendati demikian mereka hal respirasi bersifat aerobik. Dalam hal ini yang
bertugas menangkap/mendifusikan oksigen yang terlarut dalam air mediannya
bila dijajaran luar adalah sel-sel epidermis (sel-sel pinakosit), sedangkan pada
jajaran dalam yang bertugas adalah sel-sel leher (khoanosit) selanjutnya oksigen
yang telah berdifusi ke dalam kedua jenis sel tersebut diedarkan ke seluruh
tubuh oleh amoebosit. Berhubungan hewan spons bersifat sesil artinya tidak
mengadakan perpindahan tempat sedangkan hidupnya sepenuhnya tergantung
akan tidaknya kandungan oksigen
merupakan
sanggup

dan

partikel

makanan dari air yang

medianya, maka ketika porifera masih dalam fase larva yang

mengadakan pergerakan yaitu berenang-renang mengembara kian

kemari dengan bulu-bulu gatarnya, ia akan memilih tempat yang strategis dalam
arti

kaya akan kandungan

material

yang

dibutuhkan untuk kepentingan

hidup (Kastawi, 2005).

11

2.9.3 Sistem Pencernaan


Hewan spons memakan partikel-partikel organik dan mikroba yang
sangat halus yang tersuspensi dalam air. Bahan organik tersebut merupakan
lelapukan atau sisa-sisa tubuh organisme yang telah mati. Diantara partikel halus
yang dimakan tersebut kira-kira 20 persennya berupa bakteri, dinoflagellata, dan
plankton-plankton halus. Dalam hal nutrisi hewan porifera bersifat holozoik
maupun saprozoik. Partikel-partikel yang berukuran 5 50 mikro dapat difagosit
oleh sel-sel pinakosit yang melapisi saluran masuk (inhalant) (Kastawi, 2005).
Mekanisme pencernaan tersebut adalah bila aliran air yang membawa
partikel-partikel makanan itu melewati ruangan yang berasal dari leher, maka
disitu terjadi proses penyaringan, dimana mikrovili-mikrovili sel leher akan
bertindak sebagai filter tehadap material yang terbawa oleh arus aliran air.
Selanjutnya dimasukan kedalam vakuola makanan. Didalam vakuola makanan
partikel tersebut akan dicerna oleh enzim karbohidrase, protase dan lipase.
Selanjutnya partikel makanan tersebut ditransfer ke dalam amoebosit di dekat sel
leher. Kemudian diedarkan ke seluruh tubuh (Kastawi, 2005).
2.9.4 Sistem Ekskresi
Untuk pembuangan sisa-sia metabolisme atau sampah tubuh, hewan
spons juga belum mempunyai alat khusus. Zat-zat sampah yang berupa butirbutir dikeluarkan dari lingkungan internal tubuhnya oleh amoebosit. Kemudian ke
luar berasama aliran air melewati oskulum (Kastawi, 2005).

2.10 Reproduksi
Porifera dapat berkembang biak secara seksual maupun aseksual.
Perkembangbiakan secara seksual dilakukan dengan membentuk kuncup
(budding) atau benih (gemmulae). Kuncup setelah mengalami pertumbuhan ada
yang masih tetap melekat pada tubuh induk sehingga membentuk koloni, ada
yang memisahkan diri dengan induk. Perkembangan secara seksual pada
porifera belum ditunjang oleh alat reproduksi khusus, baik ovum maupun
spermatozoidnya

berkembang

dari

amoeba

khusus

yang

disebut

arkheosit (Kastawi, 2005).


Ada jenis porifera yang bersifat monosius (hermaprodit) ada yang diosius
(kelamin terpisah). Bagi yang bersifat hermaprodit perkawinannya dilakukan
secara perkawinan silang artinya ovum porifera yang satu dikawini oleh

12

spermatozoid porifera yang lain. Ovum sebelum dan sesudah dikawini masih
tinggal didalam tubuh induk yaitu dikawasan mesoglea (Kastawi, 2005).

Gambar 7. Reproduksi Porifera.

2.11 Klasifikasi
Menurut Kozloff (1990) dalam Pratama (2014), Filum porifera terdiri dari 4
kelas, yaitu Calcarea, Hexactinellida, Demosponiae dan Selerospongae.
A. Kelas Calcarea (Calcispongiae)
Spikul kapur, monaxon, triaxon, atau tetraxon, permukaan tubuh berbulu,
warna suram, tinggi kurang dari 15 cm. Terdiri dari 2 ordo.
1. Ordo Homocoela
Tipe asconoid, dinding tubuh tipis. Contohnya: Leucosolenia dan
Clatbrina.
2. Ordo Heterocoela
Tipe Syconoid atau leuconoid, dinding tubuh tebal. Contohonya:
Scypha.
B. Kelas Hexactinellida (Hyalospongiae)
Spons kaca, Spikula silikat, hexactinal, beberapa bersambungan seperti
pagar, beberapa terjalin seperti kaca, tipe syconoid, bentuk tubuh silindris,
datar atau bertangkai, tinggi 90 cm, di laut pada kedalaman 90 sampai
5000 m.
1. Ordo Hexasterophora
Spikula kecil hexactinal, Contohnya: Euplectella aspergillum.

13

2. Ordo Amphidiscophora
Spikul kecil dengan kait-kait pada kedua ujungnya. Contohnya:
Hyalonema.
C. Kelas Demospongiae
Spikul silkat, serat spons atau keduanya atau tidak ada, bila ada
spikulnya monaxon atau tetraxon, tipe leuconoid
1. Sub kelas Tetractinellida
Spikul tetraxon atau tidak ada, bentuk tubuh bulat atau datar tanpa
percabangan, diperairan dangkal.
a. Ordo Myxospongiae (Dendroceratisa)
Tidak

mempunyai

spikul,

bentuk

tubuh

sederhana,

tanpa

kerangka. Contohnya: Oscarella.


b. Ordo Carnosa (Homosclerophora atau Microsclerophora)
Spikul tetraxon, ukuran hampir sama. Contohnya: Plakina,
Plakortis.
c. Ordo Choristida
Spikul tetraxon, dua macam ukuran besar dan kecil ada semua.
Contohnya: Thenea dan Geodia.
2. Sub kelas Monaxonida
Spikul monaxon, ada yang berserat spons; bentuk tubuh bervariasi, di
tepi pantai kedalaman 45 cm, beberapa jenis sampai 5,5 km,
melimpah dan umum.
a. Ordo Hadromerida (Astromonaxonellida)
Spikul besar terpisah. Suberitas dan Cliona (spons pengebor)
b. Ordo Halichondrida
Spikul

besar

dan

mempunyai

serat

spons.

Contonhnya:

Hakichondria
c. Ordo Poecilosclerida
Spikul besar diikat oleh serat spons. Contonhnya: Microciona
d. Ordo Haplosclerida
Spikul besar, biasanya tidak ada spikul kecil. Contonhnya: spons
air tawar Spongilla dan spons laut Haliclona.

14

D. Kelas Sclerospongiae
Spons karang (Corraline sponges). Berbeda dari spons kelas lainnya,
spons karang menghasilkan rangka CaCO3 (aragonit) yang terjalin dalam
serat spons hingga sepintas hingga sepintas lalu mirip batu koral. Spikul
silikat, monaxon, banyak ditemukan di daerah terumbu karang.
Contohnya: Ceratoporella, Merlia, dan Stromatospongiae.

2.12 Peranan
Beberapa jenis spons laut seperti Axinella carabina, diperdagangkan
untuk menghias akuarium laut, ada juga yang diekspor ke Singapura dan
Eropa. Jenis spons dari famili Clionidae mampu mengebor dan menembus batu
karang dan cangkang molusca sehinga membantu pelapukan pecahan batu
karang

dan

cangkang

molusca yang

berserakan di tepi pantai. Ada pula

yang tumbuh pada kerang-kerangan tertentu sehingga mengganggu peternakan


tiram (Suwignyo et al., 2005).

15

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
-

Rotifera
a. Rotifera adalah filum dengan ukuran sedang, berbentuk bilateral
simetris, hewan unsegmented yang hidup terutama di air.
b. Tubuh rotifera dapat dibagi menjadi tiga bagian anterior yang pendek,
badan yang besar dan kaki.
c. Fisiologi rotifera terdiri dari sistem pencernaan, sistem ekresi dan
susunan saraf.
d. Siklus hidup rotifera mengandung kedua fase yaitu fase askesual dan
seksual.
e. Rotifera terbagi menjadi 3 kelas yaitu Seisonacea, Bdelloide dan
Monogononta.
f.

Rotifera memegang peranan penting dalam rantai makanan pada


ekosistem perairan tawar.

Porifera
a. Porifera adalah hewan spons yang merupakan hewan multiseluler
yang primitif.
b. Bentuk tubuh porifera dibagi menjadi tiga tipe, yaitu Asconoid,
Syconoid, Leuconoid.
c. Fisiologi porifera terdiri dari sistem gerak dan rangka tubuh, sistem
respirasi, sistem pencernaan dan sistem ekresi.
d. Porifera dapat berkembang biak secara seksual maupun aseksual.
e. Filum porifera terdiri dari 4 kelas, yaitu Calcarea, Hexactinellida,
Demosponiae dan Selerospongae.
f.

Beberapa jenis spons laut diperdagangkan untuk menghias akuarium


laut, ada juga yang diekspor ke Singapura dan Eropa.

3.2 Saran
Saran yang dapat kami ajukan dalam makalah ini yaitu agar tetap
menjaga dan memelihara ekosistem perairan, baik air tawar maupun air laut
karena mempunyai peranan yang penting dalam kehidupan.

16

DAFTAR PUSTAKA
Barnes, Robert D. 1982. Avertebrata Zoologi. Philadelphia, PA: Holt-Saunders
International. pp. 272-286.
Haris, A.; S. Werorilsngi; S. Gosalam; dan A. Masud. 2013. Komposisi Jenis dan
Kepadatan Sponge di Kepulauan Spermonde Kota Makasar. Jurnal
BIOTA Vol IV (2):1-8.
Kastawi, Y. 2005. Zoologi Avertebrata. Malang: UM Press.
Pratama, F. 2014. Skripsi Distribusi dan Kelimpahan Sponge di Perairan Pulau
Karammasang Kabupaten Polewali Mandar: Keterkaitan dengan
Terumbu Karang dan Oseanografi Perairan. Makasar: Universitas
Hasanuddin.
Suwignyo, dkk. 2005. Avertebrata Air Jilid I. Jakarta: Penebar Swadaya.
Wijarni. 1990. Diktat Kuliah Avertebrata Air I. Malang: Universitas Brawijaya.
Yudha, Aji A; F. Agustriani; dan Isnaini. 2013. Pemberian Mikroalga terhadap
Pertambahan Populasi Rotifera pada Skala Laboratorium di BBPBL
Lampung. Maspari jurnal vol v (2):140-144.

17