Anda di halaman 1dari 6

Pengertian Ihram, Tawaf, Wukuf, Sai

Pengertian Ihram
Menurut bahasa : berasal dari kata yaitu terlarang atau tercegah.
Menurut istilah: Niat untuk mengerjakan haji atau umroh bagi kaum muslimin yang hendak
menunaikan Ibadah Haji ataupun Umroh ke Tanah suci Mekah. Dengan menggunakan
pakaian Ihram yaitu pakaian putih yang disebut juga pakaian suci. Ihram bagi pria adalah
pakaian yang bersifat unik dan spesifik karena tidak boleh dijahit. Cara memakainya dililitkan
ke sekeliling tubuh. Mengenkan pakaian ihram merupakan pertanda ibadah haji mulai
dilakukan.
Dinamakan ihram karena dengan berniat masuk ke dalam pelaksanaan ibadah haji atau
umrah, seseorang dilarang berkata dan beramal dengan hal-hal tertentu, seperti jima,
menikah, melontarkan ucapan kotor, dan lain-sebagainya.
Pengertian Tawaf:
Menurut bahasa Kata tawaf adalah bentuk jamak dari kata taif, artinya orang yang bertawaf
di sekeliling Baitul Haram (Kabah)
Menurut istilah: mengelilingi Kabah sebanyak 7 kali putaran, di mana tiga kali pertama
dengan lari-lari kecil (jika mungkin) dan selanjutnya dengan berjalan biasa. Tawaf dimulai
dan berkir di Hajar Aswad (tempat batu hitam) dengan menjadikan Baitullah di sebelah kiri
Pengertian Wukuf:
Menurut bahasa: berhenti atau berdiam diri
Menurut istilah: berhenti di Arafah (nama tempat yang letaknya kurang lebih 20 km dari kota
Mekkah) sejak tergelincirnya matahari pada tanggal 9 Dzulhijah hingga terbit fajar pada
tanggal 10 Dzulhijah.
Arafah berasal dari kata A-ra-fa, yang berarti mengerti dan paham pada sesuatu.
Pengertian Sai:
Menurut bahasa: lari-lari kecil / jalan cepat
Menurut istilah: aktivitas ibadah haji (rukun haji/umrah) yang dilakukan dengan lari-lari kecil /
jalan cepat sebanyak tujuh kali dimulai dari Shofa dan diakhiri di Marwah.
Shofa adalah gunung kecil tempat orang memulai sai. Marwah adalah gunung kecil tempat
orang mengakhiri Sai. Tapi saat ini kedua-duanya sudah menjadi bagian dari komplek
Masjid Haram dan sudah tidak tampak sebagai gunung.

3. Sai Antara Bukit Shafa dan Marwah


- Sai dilaksanakan 7 kali perjalanan antaraShafa dan Marwah.
- Perjalanan dimulai dari Shafa dan diakhiri di Marwah.
- Perjalanan dari Shafa ke Marwah dihitung satu kali perjalanan dan dari Marwah keShafa
juga dihitung satu kali.

Adapun urut urutannya adalah sebagai berikut :


Menuju BukitShafa.
Di bukitShafa menghadap Kabah sambil berdoa untuk memulai sai.
Kemudian turun menuju Marwah sambil berdoa yang dikehendaki
Ketika melintas antara pilar hijau, baik ketika menuju Marwah ataupunShafa
disunnahkan berlari lari kecil bagi laki laki sambil berdoa.
Setelah mendekati Marwah ataupunShafa membaca doa
Setelah selesai Sai 7 perjalanan dan masih berada di atas bukit Marwah, membaca
doa yang dikehendaki dengan menghadap Kabah.
Tentang Wukuf di Padang Arafah
Wukuf yaitu pelaksanaan yang utama dalam ibadah haji. Lebih dari itu, kunci ibadah
haji yaitu wukuf di Padang Arafah. Bilamana dalam serangkaian pelaksanaan haji jamaah
tak bisa menunaikan wukuf secara baik, dipastikan tak syah ibadah hajinya. Wukuf
dilakukan hanya di satu hari (siang hari) di tanggal 9 Dzulhijjah pada kalender Hijriyah. Cara
menjalankan ibadah wukuf ini yakni dengan berdiam diri (& berdoa) di padang luas di bagian
timur luar kota Mekkah, Arab Saudi. Pada wilayah tidak tertutup yang gersang tanpa
bangunan inilah, lebih dari 2 juta kaum muslimin di berbagai penjuru dunia selalu berkumpul
setiap tahunnya menunaikan wukuf.
Wukuf yaitu puncaknya haji. Secara fisik, wukuf Di arafah yakni akhir bertemunya semua
jamaah haji, yang berjumlah jutaan, dari pelosok dunia dalam saat bersamaan. Berdasarkan
amaliah, wukuf Arafah mengindikasikan akhir dalam menyempurnakan haji. Di Padang
Arafah inilah Nabi menyampaikan khutbahnya yang dikenal dengan nama khutbah wada
atau khutbah perpisahan, sebab tidak lama sesudah menyampaikan khutbah itu beliaupun
meninggal. Tatkala tatkala itu, ayat Al-Quran, surat al-Maaidah ayat 3 turun sebagai
ketetapan sudah sempurna & lengkapnya ajaran Islam yang disampaikan Allah SWT
dengan perantara Muhammad SAW. Firman Allah SWT: Saat hari ini sudah Kusempurnakan untuk kamu agamamu & sudah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku & sudah
Ku-ridhai Islam itu menjadi agama bagimu (Al-Maaidah: 3)

Padang arafah termasuk gambaran padang Mahsyar, yang nantinya seluruh makhluk
dikumpulkan disana sebelum melangkah ke surga atau neraka. Kehadiran di Padang Arafah
memberikan arti & nuansa akhirat dengan Mahsyarnya, plus merenunginya dalam bersiapsiap menghadapi hal itu. Padang arafah juga yakni tempat bertemunya Adam & Hawa
sesudah beratus tahun saling mencari di muka bumi. Wukuf berarti hadir & ada di Arafah
ketika saat tertentu antara waktu dzuhur & ashar. Disini masing-masing jamaah
dipersilahkan untuk mengkondisikan dirinya berkonsentrasi kepada Allah, melaksanakan
perenungan atas dirinya, apa yang telah dikerjakan selama masa hidupnya, merenungi
kebesaran Allah melalui Asmaul Husna-Nya, merenungi hari akhirat.
Bentangkan dosa-dosamu di padang Arafah ini, ingatlah satu persatu dosa-dosa yang
pernah engkau kerjakan, ingatlah betapa waktumu selama ini habis terbuang sia-sia sebab
lebih banyak dipergunakan untuk mempercantik kehidupan duniamu. Pengakuan yang jujur
& ikhlas, tanpa rasa sombong & takabur, di hadapan Allah ialah puncak amaliah haji. Itulah
Arafah, wukuf ialah untuk mendefinisikan hakekat keberadaan manusia dihadapan Allah,
meskipun sebenarnya Allah telah tahu itu semua. Pandanglah langit Arafah. Renungilah
bahwa di hari yang mulia itu Allah SWT sedang memanggil para malaikatnya berkumpul di
langit Arafah, & membangga-banggakan umatnya yang sedang wukuf di Arafah di hadapan
para malaikatnya di langit.
Dijelaskan dalam hadits qudsi bahwa Allah berfirman bahwa: Lihatlah kepada hamba-Ku di
Arafah yang lesu & berdebu. Mereka datang kesini dari penjuru dunia. Mereka datang
memohon rahmat-Ku meskipun mereka tidak melihatku. Mereka memohon perlindungan
dari azab-Ku, meski mereka tidak melihat Aku. Allah sangat memuliakan hari wukuf di
Arafah. Hari itu, Allah mendekat sedekat-dekatnya kepada orang-orang yang wukuf di
Arafah untuk mendengarkan ungkapan dan keluhan hati mereka, menatap dari dekat wajah
& perilaku mereka. Nabi Muhammad saw bersabda: Ia (Allah) mendekat kepada orangorang yang di Arafah. Dengan bangga Ia bertanya kepada para malaikat, Apa yang
diinginkan oleh orang-orang yang sedang wukuf itu?
Saat hari itu, Allah senang sekali bilaman mereka berdoa kepada-Nya. Ia mengaminkan
seluruh doa mereka disana, sebagaimana tersebut dalam hadist yang lain: Sabda
Rasullullah saw: Di antara berbagai jenis dosa, ada dosa yang tak akan tertebus kecuali
dengan melaksanakan wukuf di Arafah (disinadkan oleh Jafar bin Muhammad hingga
kepada Rasulullah saw). Bahkan Allah murka tatkala manusia tidak yakin dosanya
diampunkan di Arafah, seperti sabda Rasullullah saw: Yang paling besar dosanya di antara
manusia adalah seseorang yang berwukuf di Arafah lalu berprasangka bahwa Allah tidak
memberinya ampun (Al Khatib dalam kitab Al-Muttafaq wal Muftaraq)

Demikian agung & mulianya hari Arafah ini, walau wukuf hanya beberapa jam saja. Sungguh
sangat penting berdoa di Arafah, disaksikan dari dekat oleh Allah SWT & dibanggabanggakan-Nya di depan para malaikatnya. Hai malaikat-Ku! Apa balasan (bagi) hamba-Ku
ini, ia bertasbih kepada-Ku, ia bertahlil kepada-Ku, ia bertakbir kepada-Ku, ia
mengagungkan-Ku, ia mengenali-Ku, ia memuji-Ku, ia bershalawat kepada nabi-Ku. Wahai
para malaikat-Ku! Saksikanlah, bahwasanya Aku sudah mengampuninya, Aku memberi
syafaat (bantuan) kepadanya. Jika hambaku memintanya tentu akan Kuberikan untuk
seluruh yang wukuf di Arafah ini.
4. Tahallul

Setelah selesai membaca doa-doa Sai kemudian melakukan Tahallul dengan memotong
minimal tiga ( 3 ) helai rambut. Dengan Tahallul ini maka rangkaian Ibadah Umrah sudah
selesai.
Perlu diketahui bahwa Umrah wajib atau Umrah sunnah kegiatan dan urutannya sama,
namun Jamaah Haji Indonesia yang sedang berada di Tanah suci Makkah ketika akan
melaksanakan Ihram Umrah Miqatnya ada beberapa tempat yaitu: Jironah, Tanim dan
Hudaibiyah.
Hukum Menggunduli Kepala atau Mencukur Sebagiannya Dalam Haji
Dari ayat Quran yang merupakan bagian dari tasyri' dan praktek langsung Rasulullah SAW
tentang al-halaq dan at-taqshir di atas, kemudian para ulama kemudian memasukkan
hukum menggunduli kepala dan mencukur sebagian rambut sebagai bagian dari syariat haji.
Mazhab Al-Hanafiyah sebagaimana yang kita baca dalam kitab Al-Bada'i' jilid 2 halaman
140 mengatakan bahwa menggunduli kepala dan mencukur sebagian rambut hukumnya
wajib.
Mazhab Al-Maliki sebagaimana yang kita baca dalam kitab Asy-Syarhul-Kabir jilid 2
halaman 46 mengatakan bahwa menggunduli kepala hukumnya wajib dan bila hanya
mencukur sebagian hukumnya boleh.
Mazhab Asy-Syafi'i sebagaimana yang kita baca dalam kitab Al-Mujmu' Syarah AlMuhazzab karya Al-Imam An-Nawawi jilid 8 halaman 152, malah menyebutkan bahwa
menggunduli kepala atau mencukur sebagain rambut termasuk rukun haji, di mana ibadah
haji menjadi tidak sah tanpa ritual tersebut. Bahkan tidak bisa diganti dengan membayar
dam (menyembelih seekor kambing).
Mazhab Al-Hanabilah mengalami sedikit perbedaan dalam masalah hukum ini. Dari salah
satu kitab standar rujukan fiqih mazhab Hambali, Al-Mughni jilid 3 halaman 435-436, kita
mendapatkan keterangan bahwa tidak termasuk dalam manasik haji. Tetapi sekedar
merupakan simbol dari sudah terlepasnya seseorang dari ikatan berihram yang tidak
membolehkan menggunting rambut, memakai pakaian berjahit, membunuh atau berburu

hewan. Jadi dalam mazhab ini, bila sama sekai tidak menggunduli rambut atau mencukur
sebagiannya, tidak mengapa.
Namun dalam kitab standar rujukan lainnya, Al-Uddah Syarhul 'Umdah halaman 207, kita
justru mendapat keterangan bahwa al-halaq dan at-taqshir merupakan bagian dari manasik
haji. Dan hukumnya wajib. Di mana al-halaq lebih afdhal dari at-taqshir.
Menggunduli Kepala Lebih Afdhal Dari Mencukur Sebagiannya
Kalau ditanya mana yang lebih afdhal dari keduanya, jawabnya tentu saja menggunduli
kepala lebih afdhal. Akan tetapi bukan berarti mencukur sebagian menjadi tidak sah.
Keduanya sama-sama sah dan dianggap bahwa kewajiban haji telah ditunaikan, cukup
dengan melakukan salah satunya.
Tentang dalil keafdhalannya, kita menemukan banyak dalil:
1. Praktek Rasulullah SAW
Meski pun dalam ayat tentang mimpi Rasulullah SAW ada yang menggunduli dan ada yang
hanya mencukur, namun yang dilakukan oleh beliau SAW langsung adalah menggunduli
kepala. Ini berarti menggunduli lebih utama.
2. Perkataan Rasulullah SAW
Selain praktek nabi SAW, ada juga dalil qauliyah (perkataan) berupa hadits yang shahih:
Dari Ibnu Umar ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Ya Allah, rahmatilah orang yang
menggunduli kepalanya (dalam haji)." Sebagian sahabat bertanya, "Bagaimana dengan
mereka yang hanya mencukur sebagian rambutnya, ya Rasulallah?" Rasulullah SAW
menjawab, "Ya Allah, rahmatilah orang yang menggunduli kepalanya (dalam haji)."
Sebagian sahabat bertanya lagi, "Bagaimana dengan mereka yang hanya mencukur
sebagian rambutnya, ya Rasulallah?" Rasulullah SAW bersabda, "Ya Allah, rahmatilah
orang yang mencukur sebagian rambutnya." (HR Bukhari)
Demikianlah sekedar jawaban singkat tentang hukum menggunduli kepala atau mencukur
sebagian rambut bagi jamaah haji setelah selesai berihram
Lempar jumrah
Lempar jumrah atau lontar jumrah adalah sebuah kegiatan yang merupakan bagian
dari ibadah haji tahunan ke kota suci Mekkah, Arab Saudi. Para jemaah haji melemparkan
batu-batu kecil ke tiga tiang (jumrah; bahasa Arab: jamarah, jamak: jamaraat) di
kota Mina yang terletak dekat Mekkah. Para jemaah mengumpulkan batu-batuan tersebut
dari tanah di hamparan Muzdalifah dan meleparkannya. Kegiatan ini adalah kegiatan
kesembilan dalam rangkaian kegiatan-kegiatan ritual yang harus dilakukan pada saat
melaksanakan ibadah haji, dan umumnya menarik jumlah peserta yang sangat besar
(mencapai lebih dari sejuta jemaah).

Nama : Andri Herdianto

Kelas : X-TKJ-4