Anda di halaman 1dari 3

NOVITALIA

10 2011 062
Refleksi Live In
Dusun Cuntel, Kecamatan Gretesan
Kabupaten Semarang
Jawa Tengah

Saya sebagai mahasiswa fakultas kedokteran UKRIDA Jakarta memiliki


kewajiban untuk mengikuti Live In sebagai soft skill yang tidak dapat kita pelajari
di dalam kampus. Dimana Live In ini berlangsung tanggal 3 Febuary sampai
tanggal 8 Febuary. Kita berangkat dari kampus mengunakan bus yang memakan
waktu perjalanan antara 15-18 jam. Dan kita sampai di Kopeng sekitar pukul 8
pagi.
Sesampainya di Kopeng kita disambut dengan dinginnya suhu disana yang
terasa sangat menusuk kulit. Maklum kami orang Jakarta yang jarang terpapar oleh
suhu dingin apalagi di daerah pegunungan seperti di Kopeng.
Setelah kami turun dari bus dan kami pun bergegas mengambil barang yang
disimpan di bagasi bus sambil menunggu pengumuman selanjutnya aoa yang harus
kami lakukan. Dan ternyata kami belumlah sampai di dusun tempat kami Live In.
melainkan kami masih harus menempuh perjalanan lagi sekitar 30 menit sampai
dengan 1 jam sesuai dengan dusun masing-masing sesuai dengan pembagian yang
telah ditentukan oleh kampus. Yang anehnya lagi kami harus mengunakan mobil
pick up atau mobil bak terbuka. Sedangan kami tahu kalau di Jakarta, mobil
tersebut merupakan mobil pengangkut barang, sapi, kambing dan sebagainya.
Bukan untuk mengangkut orang seperti ini. Dan kami harus berdiri sambil
memijakkan kaki dan mencengkram kuat pada tiang pinggiran pick up tersebut.
Betapa terheran-heran dan terpaku takut kami semua. Bahkan medan yang
ditempuh tidaklah mudah, kami melalui tikungan tajam, turunan dan tanjakan
curam.
Sesampainya di dusun Cuntel (dusun yang telah ditunjuk kampus untuk saya
dan teman-teman sekelompok saya) kami langsung disajikan makanan dengan lauk

pauk seadanya dan kami makan di rumah kepala dusun. Setelah itu kami langsung
menuju rumah masing-masing yang telah ditentukan.
Kami tinggal di rumah penduduk dusun sana sekitar 3 hari dan kami
beraktivitas sesuai dengan pemilik rumah yang kita tinggali dan kitapun makan
makanan yang disajikan disana .
Sungguh pengalaman yang luar biasa yang saya dapatkan setelah Live In
disana. Dimana saya dapat melihat betapa indahnya perkebunan nan hijau dan
tebalnya kabut. Bukanlah seperti Jakarta yang selalu melihat kemacetan dan juga
penuh kabut yaitu kabut asap.
Saya mendapatkan pelajaran luar biasa dari sana, dimana saya melihat
kehidupan masyarakat sana yang serba sederhana atau bahkan dapat dibilang jauh
dibawah kata sederhana jika dibandingkan dengan kesederhanaan masyarakat yang
tinggal di ibukota Jakarta. Kesederhanaan dan kekurangan mereka bukanlah dari
satu faktor, tapi banyak faktor. Baik dari sisi kesehatan, transportasi, keuangan,
kesejahteraan, dan pendidikan.
Dari wawancara yang saya lakukan dengan pemilik rumah saya, saya
menyimpulkan bahwa mereka masih sulit mendapatkan bantuan tenaga medis
seperti dokter. Karena jika mereka sakit mereka haruslah keluar dusun
menggunakan pick up yang disewakan oleh masyarakat sekitar dan menempuh
jarak yang cukup jauh. Oleh sebab itu jika mereka sakit, mereka lebih sering pergi
ke alternative dimana jarak tempuh yang dilalui lebih dekat dan tentu saja biaya
yang dikeluarkan menjadi lebih sedikit.
Dari sisi transportasi, menurut mereka sekarang sudah memiliki kemajuan
yanjg cukup pesat yaitu dimana hampir semua orang yang tinggal di dusun sana
sudah memiliki kendaraan bermotor. Bandingkan dengan Jakarta dimana hampir
semua orang menggunakan mobil dan bukanlah mobil seperti pick up tadi,
melainkan mobil yang dapat dikatakan sangat mewah untuk warga dusun Cuntel.
Bahkan untuk pergi ke pasar, para ibu harus menaiki pick up bersama-sama dengan
ibu-ibu lain yang akan ke pasar juga, dan mereka harus merogoh kocek sebesar 10
ribu rupiah dan mereka menganggap itu cukuplah mahal, oleh karena itu mereka
kepasar sekitar seminggu sekali atau dua kali.
Dari sisi pendapatan, mereka tergolong pendapatan yang cukup kecil jika
dibandingkan dengan masyarakat Jakarta. Dimana mereka rata-rata
bermatapencaharian dengan berladang. Dan mereka mengatakan mereka tidaklah
selalu makan daging, mereka hanyalah makan makanan seadanya.

Dari sisi pendidikan, mereka masih memiliki pendidikan yang standar. Ratarata mereka lulusan SMP ataupun SMA. Sangat jarang ada anak mereka yang
berkuliah. Bahkan di dusun Cuntel tidak ada satu orangpun yang mengenyam
pendidikan sebagai dokter. Kebetulan sekali pemilik rumah saya memiliki anak
yang berkuliah di kota (Salatiga), dan si pemilik rumah mengaku kepada saya
bahwa ia harus mengumpulkan uang setiap harinya yang dimana menyebabkan dia
tidaklah selalu dapat makan nasi, karena ia harus mengirim uang untuk anaknya
sebesar Rp. 1.500.000,.
Biasa setiap harinya saya di Jakarta makan makanan yang bervariasi setiap
harinya dan saya dapat membeli makanan apapun yang saya mau, bahkan cukup
mengangkat telepon atau cukup mensuruh karyawan atau pembantu rumah tangga.
Sungguh berbeda dengan keadaan di dusun sana yang saya harus kemana-kemana
berjalan kaki dan sulitnya mencari makanan yang saya mau. Bahkan untuk uang
Rp. 1.500.000,. mereka harus tidak makan nasi, sungguh amat berbeda dengan
Jakarta, dimana nominal tersebut dapat keluar dengan mudahnya untuk membeli
satu lembar baju.
Dari segala kekurangan tersebut mereka tetap merasa sejahtera, karena
menurut mereka kesejahteraan itu bukanlah di ukur dari berapa besar penghasilan
dan apa yang mereka miliki tetapi kesejakteraan meraka yang sesungguhnya
adalah kebersamaan dan kenyamanan dalam hidup mereka yang selalu diberkati
oleh Tuhan.
Sungguh berharga pengalaman ini, karena saya dapat melihat betapa
indahnya pemandangan di desa, betapa rukunnya umat beragama disini, betapa
berharganya kebersamaan dalam keluarga dimana sangat jarang ditemui keluarga
di Jakarta.
Terima kasih, Dusun Cuntel. Dusun kecil penuh cerita dan makna.