Anda di halaman 1dari 87

Audit dalam Islam

Pengertian Audit dalam Islam


Berdasarkan AAOIFI-GSIFI 3, bahwa audit syariah adalah laporan
internal syariahyang bersifat independen atau bagian dari audit internal
yang melakukan pengujian dan pengevaluasian melalui pendekatan aturan
syariah, fatwa-fatwa, instruksi dan lain sebagainya yang diterbitkan fatwa IFI
dan lembaga supervisi syariah.
Menurut Shafi : 2004, auditing dalam Islam adalah :
Proses menghitung, memeriksa dan memonitor (proses sistematis)
Tindakan seseorang(pekerjaan duniawi atau amal ibadah)
Lengkap dan sesuai syariah
Untuk mendapat reward dari Allah di akhirat
Menurut definisi tersebut maka pengertian audit dalam Islam adalah
salah satu unsur meluli pendekatan administratif. Maka administrasi
menggunakan sudut pandang keterwakilan. Oleh karena itu, ia (auditor)
merupakan wakil dari para pemegang saham yang menginginkan pekerjaan
(investasi) mereka sesuai dengan hukum-hukum syariat Islam.
Tujuan audit dalam Islam :
Untuk menilai tingkat penyelesaian (progress of completness) dari suatu
tindakan
Untuk memperbaiki (koreksi) kesalahan
Memberikan reward (ganjaran baik) atas keberhasilan pekerjaan
Memberikan punishment (ganjaran buruk) untuk kegagalan pekerjaan
Audit dalam Al-Quran
Ternyata didalam al-quran sendiri sudah teridentifikasi sebagai suatu
proses audit. Seperti dalam surat Al-Insyiqaq ayat 6-9, bahwasanya Allah
akan menghisab setiap manusia di hari akhir. Bagi yang menerima cataran
amalnya ditangan kanan, maka ia akan dihisab dengan mudah dan akan
diberikan kebahagiaan.
Begitupun halnya tercatat dalam kitab suci pada surat Al-Infithar ayat
10-12. Sejatinya disisi manusia ada malaikat sebagai pencatat amal-amalnya
di dunia. Entah itu amal baik maupun buruk. Mereka (para malaikat) ini
mengetahui apa saja yang manusia lakukan. Catatan inilah yang akan
menjadi penimbang seseorang di yaumul mizan.

Selanjutnya dalam surat An-Naml ayat 20-21, dikisahkan bahwa Nabi


Sulaiman a.s melakukan pengecekan untuk mencari
Hud-Hud, seekor
burung peliharaan. Ketidakhadiran Hud-Hud dapat dikenakan sanksi oleh
Nabi Sulaiman a.s berupa hukuman berat. Dalam ayat selanjutnya terungkap
bahwa absennya Hud-hud disebabkan perjalanannya ke negeri
Saba.
Sebuah negeri yang dipimpin seorang ratu musyrik penyembah matahari.
ISRA ISLAMIC FINANCE SEMINAR
AUDIT SYARIAH UNTUK JASA KEUANGAN ISLAM
KEBUTUHAN DAN TANTANGAN
Dr. Abdul Rahim Abdur Rahman
(Internasional Islamic University Malaysia)

Pengantar
Berkenaan dengan jasa keuangan islam, tiap lembaga yang menawarkan
jasa keuangan islam diharapkan dapat beroperasi sesuai kode etik syariah
dan harus berfungsi dalam batasan-batasan syariah. Sebagai usaha untuk
memastikan bahwa operasi lembaga keuangan islam tidak bertentangan
dengan syariah maka terdapat beberapa lembaga yang berfungsi sebagai
penasihat dan pengawas kegiatan tersebut, antara lain; Shariah Advisory
Council (SAC), Shariah Supervisory Board (SSB) atau Shariah Supervisory
Committee (SSC). Secara internasional, Accounting and Auditing
Organizations of Islamic Financial Institutions (AAOIFI) dan Islamic Financial
Services Board (IFSB) telah mengeluarkan sejumlah standar dan pedoman
tata kelola berkaitan dengan jasa keuangan islam. Di Malaysia, Bank Negara
Malaysia (BNM) juga telah mengeluarkan pedoman yang relevan untuk
memastikan kehati-hatian regulasi syariah dalam persoalan lembaga
keuangan islam.
Tujuan dari makalah ini adalah untuk mengevaluasi kebutuhan audit
syariah dalam rangka melengkapi mekanisme kepatuhan syariah yang sudah
diberlakukan. Audit syariah harus dilakukan secara sistematis sebagai bagian
dari mekanisme corporate governance lembaga keuangan islam (IFIs). Hal ini
disebabkan karena meningkatnya tuntutan stakeholders yang memerlukan
jaminan kepatuhan syariah dan akuntabilitas. Makalah ini juga membahas
beberapa tantangan sebagai prasyarat untuk melaksanakan audit syariah
secara efektif.
Dalam rangka memastikan operasi lembaga keuangan syariah tidak
bertentangan dengan syariah maka dibentuklah lembaga pengawas syariah
(SSC) di Malaysia yang fungsinya sebagai pengawas sekaligus penasihat

kegiatan-kegiatan perbankan syariah. Dewan penasehat syariah nasional


(NSAC) sengaja dibentuk oleh pemerintah Malaysia dalam rangka
memberikan fatwa yg mengikat seluruh lembaga keuangan syariah, tujuan
lainnya memastikan kepatuhan lembaga keuangan syariah atau bank-bank
terhadap aturan syariah, memeriksa hukum dan undang-undang serta surat
edaran perbankan syariah dan sebagainya. Dewan Penasehat Syariah (NSAC)
memastikan bahwa bank-bank dan lembaga keuangan sesuai dengan aturan
syari'ah dan pedoman selama perancangan kontrak dan perjanjian, proses
transaksi, kesimpulan dan pelaksanaan kontrak, dan sampai pada
pelaksanaan syarat-syarat kontrak dan likuidasi.
Kepatuhan syariah pada dasarnya adalah sampel acak untuk
memastikan bahwa transaksi diselesaikan sesuai dengan aturan dan
pedoman syariah. Program Audit Syariah berarti dokumen manual berbasis
Syariah yang jelas menguraikan langkah demi langkah prosedur audit
syariah, kebijakan dan proses saat menawarkan jasa keuangan syariah.
Program Audit juga harus mencakup standar operasional prosedur, termasuk
akuntansi, peraturan dan persyaratan lainnya.
Penasihat syariah jarang melakukan kajian internal syariah secara
menyeluruh atau audit terhadap operasional bank syariah karena
terbatasnya lingkup kerja mereka. Di sisi lain, sesuai dengan syarat
perusahaan terbatas (PT), bank syariah juga mengalami audit keuangan
yang dilakukan oleh auditor eksternal yang biasanya dilakukan oleh
perusahaan akuntansi professional.
Meningkatkan keuntungan bagi stakeholder atau pemegang saham
merupakan tujuan utama bagi setiap bisnis, termasuk lembaga keuangan
Islam. Stabilitas kinerja keuangan dan kemampuan untuk sumber daya akan
tergantung pada kepercayaan pemegang saham. Karena syariah adalah
landasan dari produk dan jasa keuangan Islam, jika pelanggan menemukan
bahwa produk yang mereka miliki dalam portofolio mereka tidak sesuai
syariah, ini akan merusak kepercayaan di industri jasa keuangan Islam
secara keseluruhan. Dengan demikian, risiko ketidakpatuhan syariah jelas
merupakan tantangan besar bagi regulator.
Sistem syariah dan kontrol harus dilengkapi dengan persyaratan audit
syari'ah eksternal dan internal. Setiap struktur regulasi perlu memiliki
kekuatan penegakan hukum yang memadai untuk memastikan tindakan
yang dapat diambil dalam hal pelanggaran syariah. Pada Prakteknya untuk
memastikan kepatuhan syariah bergantung dasarnya pada struktur internal
perusahaan, hal ini memberikan keuntungan bagi kenyamanan stakeholder

(pemegang saham). Namun begitu, sejumlah tantangan yang berkaitan


dengan independensi, kerahasiaan institusi - informasi hak milik, terbatasnya
ketersediaan profesional dengan pemberian beasiswa syariah dan
keterampilan keuangan, dan perlunya konsistensi dalam pernyataan antara
berbagai lembaga pengawas syariah (SSC).
Perusahaan audit eksternal harus memperoleh pengetahuan yang
diperlukan untuk melakukan audit syariah. Hal ini terbukti dengan
meningkatnya jumlah perusahaan konsultan independen dan firma hukum
yang menawarkan jasa konsultasi syariah. Selain mengurangi biaya audit
internal lembaga keuangan, penggunaan layanan tersebut mungkin akan
memberikan akses yang lebih luas. Namun, belum diketahui secara pasti
bahwa beralih kepada auditor eksternal syariah akan memberikan jaminan
pada kepatuhan syariah. Ada pendapat bahwa auditor internal umumnya
lebih akrab dengan sistem catatan, kebijakan dan prosedur lembaga dan
dapat memberikan respon cepat untuk manajer. Hasilnya bisa lebih rinci dan
lebih lengkap.
Laporan Auditor jelas memberikan jaminan secara independen
terhadap integritas dan kewajaran informasi keuangan yang dihasilkan oleh
bank syariah. Audit laporan keuangan adalah untuk memungkinkan auditor
untuk menyatakan suatu pendapat mengenai apakah laporan disusun, dalam
seluruh aspek materi, sesuai dengan identifikasi kerangka pelaporan
keuangan. Audit laporan keuangan melibatkan keseluruhan komponen dan
mengevaluasi bukti tentang urusan keuangan suatu entitas sehingga untuk
membangun tingkat kesesuaian antara manajemen yang tegas dan kriteria
yang telah ditetapkan, seperti persyaratan hukum dan standar akuntansi.
Jenis audit diatas dilakukan oleh auditor independen yang ditunjuk
langsung oleh pemegang saham perusahaan. Auditor harus berkualitas dan
mempunyai keterampilan secara independen dan obyektif. Karena
banyaknya transaksi bisnis, seluruh bukti harus dikumpulkan secara
sampling. Dengan demikian, pendapat auditor hanya didasarkan pada
keyakinan yang masuk akal dan tentu saja bukan merupakan sebuah
jaminan yang lengkap. Di sisi lain, Laporan lembaga pengawas syariah (SSC)
berpendapat bahwa kegiatan usaha bank syariah harus dilakukan sesuai
dengan prinsip syariah.
Peran dan tanggung jawab dari lembaga pengawas syariah (SSC)
mereka tidak diharuskan untuk melakukan audit yang dilakukan oleh auditor
keuangan. Hal yang kurang bijaksana jika mereka untuk membuat suatu
pernyataan yang tegas untuk menunjukkan jaminan lengkap, karena fungsi
mereka jauh dari apa auditor keuangan lakukan. Lembaga pengawas syariah
tidak melakukan audit syariah dalam rangka menyampaikan pendapat

mereka. Mereka hanya menyetujui produk dan layanan serta dokumentasi


hukum yang diperlukan. Ini adalah kesenjangan fungsional yang dapat kita
identifikasi dengan membandingkan Laporan Auditor dan Laporan dari
Lembaga pengawas syariah.
Auditor keuangan independen mereka adalah praktisi baik individu
atau anggota kantor akuntan publik yang memberikan jasa audit profesional
kepada klien. Berdasarkan pendidikan, pelatihan dan pengalaman, auditor
independen memenuhi syarat untuk melaksanakan audit. Auditor bekerja
atas dasar biaya, jadi diharapkan untuk menjadi independen dalam
melaksanakan audit dan pelaporan hasil. Untuk menjadi independen, auditor
harus tidak memihak atau berat sebelah kepada klien saat mengaudit dan
bersifat netral, berfokus pada hasil audit.
Meskipun anggota Lembaga pengawas syariah (SSC)merupakan
sarjana syariah, mereka belum tentu mendapat pelatihan yang ketat sebagai
auditor. Lembaga pengawas syariah (SSC) harus independen sehingga
laporannya menjadi kredibel. Tidak seperti auditor keuangan yang diatur
oleh aturan-aturan hukum dan kode etik profesi, lembaga pengawas syariah
dipandu oleh keyakinan agama dan moral dimana ada kewajiban lebih untuk
agama dan masyarakat. Ini merupakan akuntabilitas Lembaga pengawas
syariah (SSC) yang menjadikannya lebih kompeten dan independen. Karena
belum adanya persyaratan untuk audit syariah, menjadikan kemudahan
Lembaga pengawas syariah untuk secara efektif memberikan laporannya.
Auditor keuangan mereka bertanggung jawab di bawah undangundang dan peraturan hukum . Dalam kasus penyimpangan, auditor diminta
melaporkan jika mereka memiliki alasan untuk mencurigai setiap perkara
yang melawan hukum. Lembaga pengawas
syariah (SSC) juga membutuhkan perlindungan tidak hanya oleh hukum
tetapi juga moral di mata publik.
Audit Syariah pada jasa keuangan Islam memiliki arti akumulasi dan
evaluasi bukti untuk menentukan dan melaporkan tingkat kesesuaian antara
informasi dan kriteria yang telah ditetapkan untuk tujuan kepatuhan syariah.
Audit harus dilakukan oleh seorang yang kompeten dan independen. Untuk
melakukan audit, harus ada informasi dalam bentuk diverifikasi dan
beberapa standar (kriteria) dimana auditor dapat mengevaluasi informasi.
Informasi didapat dan diambil dari semua lini. Auditor syariah melakukan
audit pada dua tujuan informasi objektif (misalnya informasi keuangan
pembagian keuntungan) dan informasi subjektif (informasi syari'ah) untuk
memastikan kepatuhan syari'ah bank syariah.
Petunjuk atau bukti Audit Syariah adalah untuk melakukan audit
syariah dalam penetapan bukti audit. Petunjuk atau bukti audit syariah dapat

1)
2)
3)
4)
5)

1)

2)

didefinisikan sebagai setiap informasi yang digunakan oleh auditor untuk


menentukan apakah informasi yang diaudit dinyatakan sesuai dengan
kriteria yang telah ditetapkan untuk tujuan penjaminan syariah. Kriteria
untuk mengevaluasi informasi bervariasi tergantung pada informasi yang
diaudit . Dalam audit atas laporan keuangan historis oleh auditor, kriteria
biasanya standar laporan keuangan (FRS).
Untuk proses jasa audit syariah, kriteria dapat dikembangkan
berdasarkan pendapat tertulis dari Lembaga pengawas syariah (SSC),
manual produk dan standar operasional prosedur (SOP). Petunjuk atau bukti
dalam audit syariah diantaranya: kesaksian lisan dari auditor, komunikasi
tertulis dengan pihak luar, pengamatan oleh auditor, serta transaksi data
elektronik.
Audit syariah akan mengembangkan program audit yang sistematis
dan menyeluruh. Program audit syariah dapat dikembangkan untuk
menutupi berbagai produk keuangan Islam dan layanan seperti :
Deposit Islam dan investasi berdasarkan wadi'ah dan mudarabah
Pembiayaan rumah syariah berdasarkan BBA dan musharakah
mutanaqisah
Pembiayaan kendaraan bermotor Islami berdasarkan ijarah
Pembiayaan perdagangan Islami berdasarkan murabahah, wakalah, dsb
Pendanaan pribadi Islami dan kartu kredit, dsb.
Program audit syariah juga perlu ditulis dalam bahasa yang dapat
dengan mudah dipahami oleh pemegang saham yang potensial. Tiga fase
Audit Syariah yaitu;
Perencanaan
auditor harus memahami bisnis lembaga keuangan Islam termasuk sifat
kontrak yang digunakan untuk berbagai jenis layanan keuangan syariah.
Lalu, auditor syariah perlu mengidentifikasi teknik yang tepat, sumber daya
dan ruang lingkup untuk mengembangkan program audit. Program audit
kemudian akan mengidentifikasi kegiatan utama yang akan dilakukan, tujuan
dari setiap kegiatan dan teknik yang akan digunakan, termasuk teknik
sampling dalam rangka mencapai tujuan audit. Di antara teknik yang dapat
digunakan mencakup pemeriksaan makalah, wawancara, benchmarking,
survei, studi kasus, diagram alur, dsb.
Pemeriksaan
Tehnik audit yang tepat perlu diidentifikasi dan dipaparkan. Teknik yang
tepat diperlukan untuk mengumpulkan bukti-bukti yang diperlukan baik
kualitas dan kuantitas untuk mencapai kesimpulan yang masuk akal sesuai
dengan kepatuhan syariah. Aspek-aspek utama dari pemeriksaan di
lapangan memerlukan teknik sampling. Pemeriksaan yang lebih rinci dari
dokumentasi akan diperlukan apakah metodologi sampling digunakan atau

tidak. Kertas kerja dan Catatan audit adalah dua hal paling penting dalam
tahap pemeriksaan. Tujuan kertas kerja yaitu untuk memberikan catatan
sistematis pekerjaan yang dilakukan selama audit dan merupakan catatan
informasi dan fakta yang diperoleh untuk mendukung temuan dan
kesimpulan.
3)
Laporan
hasil dari pelaksanaan audit, mencakup persiapan laporan audit syariah,
yang merupakan komunikasi yang baik dari auditor kepada para pengguna
atau pembaca. Pada umumnya laporan akan berbeda, tetapi semua harus
menginformasikan para pembaca mengenai tingkat kesesuaian antara
informasi dan kriteria yang telah ditetapkan.
Pendidikan Audit Syariah akan menghasilkan orang-orang yang
kompeten dan independen menjadi auditor syariah. Syarat menjadi auditor
syariah yang baik adalah harus memahami kriteria yang digunakan dalam
audit syariah, kompeten untuk mengetahui jenis dan jumlah bukti yang
menumpuk sebelum menyimpulkan audit dan memiliki sikap mental yang
independen.
Auditor syariah internal biasanya melaporkan langsung kepada
manajemen utama (top management), menjaga independensi auditor dari
setiap unit operasi yang mereka audit.
Pendidikan dan pelatihan program harus membekali auditor syariah
dengan dua pengetahuan dasar yaitu;
1)
Pengetahuan syariah khusus seperti yang diterapkan dalam perbankan
dan keuangan Islam
2)
Pengetahuan dan keterampilan akuntansi dan auditing.
Audit syariah diperlukan untuk melengkapi program pemerintah saat
ini dalam industri jasa keuangan Islam.

AUDITING DALAM PERSPEKTIF ISLAM


BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Sejarah Auditing

Auditing adalah proses pengumpulan dan penilaian bukti-bukti yang


dilakukan oleh pihak yang independent dan kompeten, untuk menentukan
apakah informasi yang di sajikan sesuai dengan criteria yang ditetapkan.
Menurut catatan seorang ahli sejarah akuntansi, dikatakan bahwa : Asal
usul auditing dimulai lebih awal dibandingkan dengan asal usul akuntansi.
Ketika kemajuan peradaban membawa pada kebutuhan akan adanya orang
yang dalam batas tertentu dipercaya untuk mengelola harta milik orang lain,
maka dipandang patut untuk melakukan pengecekan atas kesetiaan orang
tersebut, sehingga semuanya akan menjadi jelas.
Dikatakan bahwa penguasa Mesir purba melakukan pemeriksaan
independent dan atas catatan penerimaan pajak, orang-orang Yunani kuno
melakukan pemeriksaan atas rekening pejabat public, sedangkan orang
Romawi membandingkan antara pengeluaran dengan otorisasi pembayaran,
sementara para bangsawan penghuni puri di Inggris menunjuk auditor untuk
melakukan review atas catatan akuntansi dan laporan yang disiapkan oleh
para pelayan mereka.
Awal audit terhadap perusahaan dapat dikaitkan dengan perundangundangan Inggris selama revolusi industri pada pertengahan tahun 1800-an.
Kemajuan teknologi transportasi dan industri telah menimbulkan skala
ekonomi dan perusahaan yang lebih besar, munculnya manajer professional,
serta pertumbuhan kepemilikan perusahaan oleh banyak orang. Pada
awalnya audit terhadap perusahaan harus dilakukan oleh satu atau lebih
pemegang saham yang bukan merupakan pejabat perusahaan, serta mereka
yang ditunjuk oleh pemegang saham lainnya sebagai perwakilan pemegang
saham. Profesi akuntansi segera bangkit dengan cepat untuk memenuhi
kebutuhan pasar serta perundang-undangan yang segera direvisi, sehingga
memungkinkan orang yang bukan pemegang saham dapat melakukan audit.
Hal ini mendorong munculnya berbagai formasi kantor-kantor audit.
Beberapa diantara kantor-kantor auditor Inggris Kuno seperti Deloitte & Co,
Peat Marwick, & Mitchell, dan Price Waterhouse & Co. yang masih dapat
ditelusuri sampai saat ini serta masih membuka praktik di USA ataupun
diluar USA.
Pengaruh Inggris juga turut bermigrasi ke Amerika Serikat pada akhir
tahun 1800-an ketika para investor Inggris dan Skotlandia mengirimkan para
Auditornya sendiri untuk memeriksa kondisi perusahaan-perusahaan
Amerika, tempat mereka telah berinvestasi dalam jumlah yang sangat besar.
Secara khusus mereka melakukan investasi dalam saham pabrik pembuatan
bir dan perkeretaapian. Focus awal audit ini mula-mula adalah untuk

menemukan penyimpangan dalam akun neraca serta menangkal


pertumbuhan kecurangan yang berkaitan dengan meningkatnya fenomena
manajer professional serta pemilik saham yang pasif.
1.2. Munculnya Auditing pra-Islam
Akuntasi di kalangan Bangsa Arab sebelum Islam Dari studi sejarah
peradaban arab, tampak sekali betapa besarnya perhatian bangsa arab pada
akuntansi. Hal ini terlihat pada usaha tiap pedagang arab untuk mengetahui
dan menghitung barang dagangannya, sejak mulai berangkat sampai pulang
kembali. Hitungan ini dilakukan untuk mengetahui perubahan pada
keuangannya. Setelah berkembangnya negeri, bertambahnya kabilahkabilah, masuknya imigran-imigran dari negri tetangga, dan berkembangnya
perdaganan serta timbulnya usaha-usahainterven si perdagangan, semakin
kuatlah perhatian bangsa arab terhadap pembukuan dagang untuk
menjelaskan utang piutang. Orang-orang yahudipun (pada waktu itu) sudah
biasa menyimpan daftar-daftar (faktur) dagang. Semua telah nampak jelas
dalam sejarah peradaban bangsa arab. Jadi, konsep akuntansi dikalangan
bangsa arab pada waktu itu dapat dilihat pada pembukuan yang
berdasarkan metode penjumlahan statistik yang sesuai dengan aturanaturan penjumlahan dan pengurangan.Untuk mengerjakan pembukuan ini,
ada yang dikerjakan oleh pedagang sendiri dan ada juga yang menyewa
akuntan khusus. Pada waktu itu seorang akuntan disebut sebagai katibul
awal (pencatat keuangan) atau penaggung jawab keuangan.

BAB II

TEORI AKUNTASI DAN AUDITING

2.1. Pengertian Akuntansi


Dewasa ini, akuntasi telah mengalami perkembangan layaknya ilmu hukum,
ilmu kedokteran, serta hamper semua bidang kegiatan manusia, sejalan
dengan tuntutan kebutuhan sosial dan ekonomi masyarakat. Akuntansi telah
mengembangkan konsep-konsep baru untuk mengimbangi kebutuhan akan
informasi keuangan yang terus menerus meningkat guna melaksanakan
pembangunan ekonomi dan program-program sosial. Akuntasi dapat di
pandang dari dua sisi pengertian yaitu sebagai pengetahuan keahlian yang
dipraktekan dalam dunia nyata, dan sebagai suatu disiplin ilmu pengetahuan
yang diajarkan di perguruan tinggi. Pada awalnya, yaitu kira-kira tahun 3000
SM, akuntansi ditemukan di Mesir Kuno dan pada masa pemerintahan
Yunani. Akuntansi yang ada pada saat itu hanya sekedar untuk mengetahui
sumber-sumber keuangan kerajaan. Sehingga belum ada suatu sistem
akuntansi yang sistematis untuk satu unit tertentu (hanya untuk sebagian
transaksi saja). Di zaman Mesir Kuno tersebut dijelaskan bahwa untuk
mencatat transaksi hariannya, seorang manajer menggunakan calamos reed
(sejenis kulit). Selain itu dikenal pula dua macam teknik akuntansi, yaitu
dengan koin (dalam amplop) dan token. Pada tahun 1494, sistem doubleentry mulai dikenal setelahnya sebagai system akuntansi modern, yaitu
harta sama dengan hutang ditambah dengan modal. Lucas Pacioli
mengklaim dirinya sebagai penemu pertama dari sistem akuntansi modern
ini. Namun sebelumnya telah ada beberapa temuan double-entry system,
yaitu berasal dari kawasan Timur Tengah. Kaum Muslimin berandil besar
dalam perkembangan akuntansi dasar waktu itu. Setelah itu, bangsa Eropa
mulai berdatangan untuk mengupas secara mendalam tentang akuntansi
versi Timur Tengah tersebut.
1.

Periode Kapitalis

2.

Kapitalis Nascent

3.

Merkantilis

4.

Revolusi dan Industrialisasi

5.

Perkembangan pesat bidang akuntansi secara terus-menerus


Timbulnya revolusi industry tahun 1776 menimbulkan efek positif terhadap
perkembangan akuntasi. Salah satu yang menonjol adalah perubahan cara
memproduksi barang dari kerajinan tangan ke pabrikasi. Hal ini
menyebabkan spesialisasi dalam akuntansi biaya meningkat pesat untuk
memenuhi kebutuhan analisis biaya dan teknik pencatatannya. Akuntansi
diperlukan untuk menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan yang
berjalan sangat cepat, berkembangnya kegiatan ekonomi, dan masalah
perbandingan pelaporan keuangan antar perusahaan. Pada tahun 18001850, masyarakat mulai menggunakan dan menjadikan neraca sebagai tolak
ukur kinerja sebuah perusahaan. Pada periode ini dikenal pula pemeriksaaan
keuangan (financial auditing). Pada tahun 1850, laporan laba rugi mulai
neggantikan peranan neraca dalam menilai efektivitas dan efisiensi
perusahaan. Ilmu audit berkembang semakin pesat pada periode ini Tahun
1900, di Amerika Serikat diperkenalkan Sertifikat Profesi melalui ujian
nasional untuk mendalami ilmu akuntansi melalui edukasi. Adanya laporan
tentang pajak. Serta akuntansi biaya mulai dikenal termasuk laoran statistik
biaya dan produksi. Pada tahun 2925, mulai di kenal akuntansi pemerintah
untuk mengawasi dana pemerintah, teknik-teknik analisis biaya mulai
bermunculan dan diperkenalkan, laporan keuangan diseragamkan antar
perusahaan, dirumuskannya Norma Pemeriksaan Akuntansi, dan lahirnya
Akuntansi Perpajakan.
2.2. Pengertian Auditing
Ada beberapa pengertian audit yang diberikan oleh beberapa ahli di
bidang akuntansi, antara lain:
Menurut Alvin A.Arens dan James K.Loebbecke :
Auditing is the accumulation and evaluation of evidence about information
to determine and report on the degree of correspondence between the
information and established criteria. Auditing should be done by a
competent independent person.
Menurut Mulyadi :
Suatu proses sistematik untuk memperoleh dan mengevaluasi bukti secara
obyektif mengenai pernyataan-pernyataan tentang kegiatan dan kejadian
ekonomi, dengan tujuan untuk menetapkan tingkat kesesuaian antara

pernyataan-pernyataan tersebut dengan kriteria yang telah ditetapkan, serta


penyampaian hasil-hasilnya kepada pemakai yang berkepentingan.[1]
Secara umum pengertian di atas dapat diartikan bahwa audit adalah
proses sistematis yang dilakukan oleh orang yang kompeten dan independen
dengan mengumpulkan dan mengevaluasi bahan bukti dan bertujuan
memberikan pendapat mengenai kewajaran laporan keuangan tersebut.
Dalam melaksanakan audit faktor-faktor berikut harus diperhatikan:
1)

Dibutuhkan informasi yang dapat diukur dan sejumlah kriteria (standar)


yang dapat digunakan sebagai panduan untuk mengevaluasi informasi
tersebut, 2). Penetapan entitas ekonomi dan periode waktu yang diaudit
harus jelas untuk menentukan lingkup tanggungjawab auditor, 3). Bahan
bukti harus diperoleh dalam jumlah dan kualitas yang cukup untuk
memenuhi tujuan audit, 4). Kemampuan auditor memahami kriteria yang
digunakan serta sikap independen dalam mengumpulkan bahan bukti yang
diperlukan untuk mendukung kesimpulan yang akan diambilnya.
Audit pada umumnya dibagi menjadi tiga golongan, yaitu : audit laporan
keuangan, audit kepatuhan, dan audit operasional.

1)

Audit laporan keuangan (financial statement audit). Audit laporan


keuangan adalah audit yang dilakukan oleh auditor eksternal terhadap
laporan keuangan kliennya untuk memberikan pendapat apakah laporan
keuangan tersebut disajikan sesuai dengan kriteria-kriteria yang telah
ditetapkan. Hasil audit lalu dibagikan

2)

kepada pihak luar perusahaan seperti kreditor, pemegang saham, dan


kantor pelayanan pajak.

3)

Audit kepatuhan (compliance audit). Audit ini bertujuan untuk


menentukan apakah yang diperiksa sesuai dengan kondisi, peratuan, dan
undang-undang tertentu. Kriteria-kriteria yang ditetapkan dalam audit
kepatuhan berasal dari sumber-sumber yang berbeda. Contohnya ia mungkin
bersumber dari manajemen dalam bentuk prosedur-prosedur pengendalian
internal. Audit kepatuhan biasanya disebut fungsi audit internal, karena oleh
pegawai perusahaan.

4)

Audit operasional (operational audit). Audit operasional merupakan


penelahaan secara sistematik aktivitas operasi organisasi dalam
hubungannya dengan tujuan tertentu. Dalam audit operasional, auditor
diharapkan melakukan pengamatan yang obyektif dan analisis yang
komprehensif terhadap operasional-operasional tertentu. Tujuan audit

operasional adalah untuk : 1). Menilai kinerja, kinerja dibandingkan dengan


kebijakan-kebijakan, standar-standar, dan sasaran-sasaran yang ditetapkan
oleh manajemen, 2). Mengidentifikasikan peluang dan, 3). Memberikan
rekomendasi untuk perbaikan atau tindakan lebih lanjut. Pihak-pihak yang
mungkin meminta dilakukannya audit operasional adalah manajemen dan
pihak ketiga. Hasil audit operasional diserahkan kepada pihak yang meminta
dilaksanakannya audit tersebut.
2.2.1. Tujuan dan manfaat audit independen
Tujuan umum audit atas laporan keuangan adalah untuk menyatakan
pendapat atas kewajaran laporan keuangan, dalam semua hal yang material,
sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum. Kewajaran
laporan keuangan diukur berdasarkan asersi terkandung dalam setiap unsur
yang disajikan dalam laporan keuangan, yang disebut dengan asersi
manajemen.
Asersi manajemen yang disajikan dalam laporan keuangan dapat
diklasifikasikan menjadi lima kategori :
1)

Keberadaan atau kejadian (existency or occurence). Asersi ini merupakan


pernyataan manajemen aktiva, kewajiban, dan ekuitas yang tercantum
dalam neraca benar-benar ada pada tanggal neraca serta apakah
pendapatan dan beban yang tercantum dalam laporan rugi laba benar-benar
terjadi selama periode akuntansi.

2)

Kelengkapan (completeness). Kelengkapan berarti semua transaksi dan


akun-akun yang seharusnya tercatat dalam laporan keuangan telah dicatat.
Asersi kelengkapan berlawanan dengan asersi keberadaan. Jika asersi
keberadaan tidak benar maka akun akan dinyatakan terlalu tinggi,
sementara jika asersi kelengkapan tidak benar, maka akun akan dinyatakan
terlalu rendah. Asersi kelengkapan berkaitan dengan kemungkinan hilangnya
hal-hal yang harus dicantumkan dalam laporan keuangan, sedangkan asersi
keberadaan berkaitan dengan penyebutan angka yang seharusnya tidak
dimasukkan.

3)

Hak dan kewajiban (rights and obligations). Auditor harus memastikan


apakah aktiva memang menjadi hak klien dan apakah kewajiban merupakan
hutang klien pada tanggal tertentu.

4)

Penilaian atau alokasi (valluation or allocation). Asersi ini menyangkut


apakah aktiva, kewajiban, ekuitas, pendapatan, atau beban telah
dicantumkan dalam laporan keuangan pada jumlah yang tepat.

5)

Penyajian dan pengungkapan (presentation and disclosure). Asersi ini


menyangkut masalah apakah komponen-komponen laporan keuangan telah
diklasifikasikan, diuraikan, dan diungkapkan secara tepat. Pengungkapan
berhubungan dengan apakah informasi dalam laporan keuangan, termasuk
catatan yang terkait, telah menjelaskan secara gamblang hal-hal yang dapat
mempengaruhi penggunaannya.
Independensi
Masalah utama yang dihadapi oleh akuntan publik saat ini adalah
berkurangnya kekuasaan mereka dalam melaksanakan penugasan. Seorang
akuntan yang independen dituntut untuk bertindak sesuai dengan peraturan
perundangan dan kode etik profesi. Fenomena hubungan antara akuntan
publik dengan klien telah menjadi pusat perhatian bagi para pembuat
keputusan, seperti investor, kreditor, dan pemegang saham.
Mereka sangat menyadari adanya kemampuan yang dimiliki oleh pihak
manajemen perusahaan. Pertama, kemampuan yang berkaitan dengan
kecenderungan manajemen perusahaan untuk memanipulasi kinerja laporan
keuangan perusahaan dengan tujuan untuk mendapatkan penilaian yang
positif atas tanggung jawabnya sebagai pihak yang mengelola perusahaan.
Kecenderungan ini dikenal dengan istilah window dressing, biasanya
dilakukan dengan cara memperbaiki laporan keuangan sedemikian rupa
sehingga tampak lebih baik dari semestinya.
Berbeda dengan profesi lain, auditor tidak dapat bertindak untuk
kepentingan kliennya sebagaimana pengacara dengan kliennya. Meskipun
dibayar oleh klien akuntan publik bekerja bagi kepentingan masyarakat
umum. Auditor harus independen dalam dari segala kewajiban dan pemilikan
kepentingan dalam perusahaan yang diauditnya. Ia harus pula menghindari
keadaan-keadaan yang dapat mengakibatkan masyarakat meragukan
independensinya. Dalam kenyataannya auditor seringkali menemui kesulitan
dalam mempertahankan sikap mental independen. Keadaan yang seringkali
mengganggu sikap mental independen auditor adalah sebagai berikut :

1.

Sebagai seorang yang melaksanakan audit secara independen, auditor


dibayar oleh kliennya atas jasanya tersebut.

2.

Kecenderungan untuk memuaskan kliennya.

3.

Resiko kehilangan klien.

Jenis-jenis auditor

Auditor biasanya diklasifikasikan dalam tiga kategori berdasarkan siapa


yang mempekerjakan mereka : akuntan publik, akuntan pemerintah, dan
akuntan intern.

Akuntan publik. Akuntan publik adalah akuntan professional yang menjual


jasanya kepada masyarakat umum, terutama daam bidang pemeriksaan
terhadap laporan keuangan yang dibuat oleh kliennya.

Akuntan pemerintah. Akuntan pemerintah adalah akuntan profesional yang


bekerja di instansi pemerintah yang tugas pokoknya melakukan pemeriksaan
terhadap pertanggungjawaban keuangan yang disajikan oleh unit-unit
organisasi dalam pemerintahan atau pertanggungjawaban keuangan yang
ditujukan kepada pemerintah.

Akuntan intern. Adalah akuntan yang bekerja dalam perusahaan yang tugas
pokoknya adalah menentukan apakah kebijakan dan prosedur yang
ditetapkan oleh manajemen puncak telah dipatuhi, menentukan baik atau
tidaknya penjagaan terhadap aset-aset organisasi, menentukan efisiensi dan
efektivitas prosedur kegiatan organisasi, serta menentukan keandalan
informasi yang dihasilkan oleh berbagai bagian organisasi.

2.2.

Laporan Auditor

2.3.1. Pengertian dan jenis-jenis laporan auditor


Pembuatan laporan auditor adalah langkah terakhir dan paling penting
dari keseluruhan proses audit. Secara umum laporan auditor dapat
didefinisikan sebagai laporan yang menyatakan pendapat auditor yang
independen mengenai kelayakan atau ketepatan pernyataan klien bahwa
laporan keuangannya disajikan secara wajar sesuai dengan prinsip-prinsip
akuntan yang berlaku umum, yang diterapkan secara konsisten dengan
tahun sebelumnya. Dalam menyiapkan dan menerbitkan sebuah laporan
audit, auditor harus berpedoman pada empat standar pelaporan yang
terdapat dalam Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP).
Terpenting, harus dilihat standar yang terakhir karena standar ini
mensyaratkan suatu pernyataan pendapat atas laporan keuangan secara
keseluruhan atau pernyataan bahwa pendapat tidak dapat diberikan disertai
dengan alasan-alasannya. Standar ini mensyaratkan adanya pernyataan
auditor secara jelas mengenai sifat pemeriksaan yang telah dilakukan dan
sampai dimana auditor membatasi tanggungjawabnya. Pendapat auditor

tersebut disajikan dalam suatu laporan tertulis yang umumnya berupa


laporan audit bentuk baku.
Menyadari fungsi utama laporan audit sebagai media komunikasi
antara manajemen dengan pihak-pihak lain yang berkepentingan, maka
dibutuhkan adanya keseragaman pelaporan untuk menghindari kerancuan.
Oleh karena itu standar profesional telah merumuskan dan merinci berbagai
jenis laporan audit yang harus disertakan pada laporan keuangan.
Terdapat beberapa jenis pendapat akuntan
berkenaan dengan suatu pemeriksaan umum, yaitu :

yang

diberikannya

1. Pendapat wajar tanpa pengecualian (unqualified opinion).


2. Pendapat wajar tanpa pengecualian dengan
(unqualified opinion with explanatory language).

bahasa

penjelasan

3. Pendapat wajar dengan pengecualian (qualified opinion).


4. Pendapat tidak wajar (adverse opinion).
5. Pernyataan tidak memberikan pendapat (disclaimer of opinion).
1). Laporan pendapat wajar tanpa pengecualian (unqualified opinion)
Istilah unqualified disini bukan berarti tidak memenuhi syarat atau tidak
qualified. Arti unqualified disini adalah tanpa kualifikasi (qualification) atau
tanpa reserve atau tanpa keberatan-keberatan. Pendapat wajar tanpa
pengecualian diberikan auditor jika tidak terjadi pembatasan dalam lingkup
audit dan tidak terdapat pengecualian yang signifikan mengenai kewajaran
dan penerapan prinsip akuntansi yang berlaku umum dalam penyusunan
laporan keuangan, konsistensi penerapan prinsip akuntansi yang berlaku
umum, serta pengungkapan memadai dalam laporan keuangan. Laporan
keuangan dianggap menyajikan secara wajar posisi keuangan dan hasil
usaha suatu organisasi, sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku
umum jika memenuhi kondisi-kondisi berikut :

Prinsip akuntansi berlaku umum digunakan untuk menyusun laporan


keuangan

Perubahan penerapan prinsip akuntansi berlaku umum dari periode ke


periode telah cukup dijelaskan

2)

Informasi dalam catatan-catatan yang mendukungnya telah


digambarkan dan dijelaskan dengan cukup dalam laporan keuangan
sesuai prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum

Laporan pendapat wajar tanpa pengecualian dengan bahasa


penjelasan
(unqualified opinion with explanatory language).
Laporan keuangan tetap menyajikan secara wajar posisi keuangan dan hasil
usaha perusahaan klien namun ditambah dengan hal-hal yang memerlukan
bahasa penjelasan.
3).

Laporan pendapat wajar dengan pengecualian (qualified opinion)

Pendapat ini hanya diberikan jika secara keseluruhan laporan keuangan yang
disajikan oleh klien adalah wajar, tetapi ada beberapa unsur yang
dikecualikan, yang pengecualiannya tidak mempengaruhi kewajaran laporan
keuangan secara keseluruhan. Terdapat beberapa kondisi yang membuat
auditor harus memberikan pendapat wajar dengan pengecualian, yaitu :

Lingkup audit dibatasi oleh klien

Auditor tidak dapat melaksanakan prosedur audit penting atau tidak


dapat
memperoleh informasi penting karena kondisi-kondisi yang berada
di luar kekuasaan klien dan auditor

Laporan keuangan tidak disusun sesuai dengan prinsip akuntansi berlaku


umum

Prinsip akuntansi berlaku umum yang digunakan dalam penyusunan


laporan keuangan tidak diterapakan secara konsisten
4).

Laporan pendapat tidak wajar (adverse opinion)

Pendapat tidak wajar diberikan jika laporan keuangan klien tidak disusun
berdasarkan prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum sehingga tidak
menyajikan secara wajar posisi keuangan, hasil usaha, perubahan saldo laba
dan arus kas perusahaan klien. Auditor memeberikan pendapat tidak wajar
jika tidak terdapat pembatasan bukti audit. Pendapat tidak wajar merupakan
kebalikan pendapat wajar dengan pengecualian. Auditor memberikan
pendapat tidak wajar jika ia tidak dibatasi lingkup auditnya, sehingga ia
dapat mengumpulkan bukti kompeten dalam jumlah cukup untuk
mendukung pendapatnya.
5).

Pernyataan tidak memberikan pendapat (disclaimer of opinion)

Pernyataan tidak memberikan pendapat diberikan auditor jika ia tidak


berhasil menyakinkan dirinya bahwa keseluruhan laporan keuangan telah
disajikan secara wajar. Pernyataan tidak memberikan pendapat diberikan jika
antara lain, terdapat banyak pembatasan lingkup audit, hubungan yang tidak
independen antara auditor dan klien. Masing-masing kondisi tersebut tidak
memungkinkan auditor untuk dapat menyatakan pendapatnya atas laporan
keuangan secara keseluruhan.
2.3.2.

Tujuan dan manfaat laporan auditor


Dalam perusahaan perseroan, dimana para manajer ditempatkan pada
posisi dimana mereka dapat menguntungkan perusahaan yang tercermin
dalam laporan keuangan yang disusunnya dalam suatu periode tertentu.
Laporan keuangan yang disusun merupakan bentuk pertanggungjawaban
dari hasil pekerjaannya selama suatu periode. Para manajer tergoda untuk
menyajikan laporan keuangan yang berat sebelah, mengandung hal-hal yang
tidak benar, dan mungkin menyembunyikan informasi informasi tertentu
kepada pihak-pihak lain yang berkepentingan terhadap laporan keuangan
itu, termasuk investor, kreditor, dan regulator.
Oleh karena itu masyarakat keuangan membutuhkan jasa profesional
untuk menilai kewajaran informasi keuangan yang disajikan oleh
manajemen. Atas dasar informasi keuangan yang andal, masyarakat akan
memiliki basis yang kuat untuk menyalurkan dana mereka ke usaha-usaha
yang beroperasi secara efisien dan memiliki posisi keuangan yang sehat.
Untuk itu masyarakat menghendaki agar laporan keuangan yang diserahkan
kepada mereka diperiksa lebih dulu oleh auditor independen. Keterlibatan
audit yang independen akan memberikan manfaat-manfaat antara lain,
menambah kredibilitas laporan keuangan, mengurangi kecurangan
perusahaan, dan memberikan dasar yang lebih dipercaya untuk pelaporan
pajak dan laporan keuangan lain yang harus diserahkan kepada pemerintah.

BAB III
AUDITING DALAM ISLAM
3.1. Sejarah Akuntasi Islam
Apabila kita pelajari "Sejarah Islam" ditemukan bahwa setelah munculnya
Islam di Semenanjung Arab di bawah pimpinan Rasulullah SAW dan
terbentuknya Daulah Islamiah di Madinah yang kemudian di lanjutkan oleh
para Khulafaur Rasyidin terdapat undang-undang akuntansi yang diterapkan
untuk perorangan, perserikatan (syarikah) atau perusahaan, akuntansi
wakaf, hak-hak pelarangan penggunaan harta (hijr), dan anggaran negara.
Rasulullah SAW sendiri pada masa hidupnya juga telah mendidik secara
khusus beberapa sahabat untuk menangani profesi akuntan dengan sebutan
"hafazhatul amwal" (pengawas keuangan). Bahkan Al Quran sebagai kitab
suci umat Islam menganggap masalah ini sebagai suatu masalah serius
dengan diturunkannya ayat terpanjang , yakni surah Al-Baqarah ayat 282
yang menjelaskan fungsi-fungsi pencatatan transaksi, dasar-dasarnya, dan
manfaat-manfaatnya, seperti yang diterangkan oleh kaidah-kaidah hukum
yang harus dipedomani dalam hal tersebut. Sebagaimana pada awal ayat
tersebut menyatakan "Hai, orang-orang yang beriman apabila kamu
bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah
kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu
menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya
sebagaimana Allah telah mengajarkannya.

3.2.Perkembangan Akuntansi di Negara Islam

setiap ilmu tumbuh dari suatu kemahiran yang diupayakan. Sebelum


menjadi ilmu, harus ada praktik dan pengalaman, berdasarkan hal ini, maka
ilmu itu merupakan hasil dari pengalaman yang menentukan tanda-tanda
ilmu tersebut. (Heaps, 1985, hal. 21)
Berdasarkan apa yang dikatakan oleh Heaps, maka munculnya
sistem pencatatan sisi-sisi transaksi atau yang dikenal dengan nama sistem
pembukaan ganda (double entry), baik sebagai ilmu maupun sebagai seni,
atau sebagai yang lain, harus tumbuh dari suatu kemahiran yang

diupayakan. Kemahiran yang diupayakan ini harus tegak di atas adanya


suatu praktik kerja. Demikian pula, praktik kerja ini bukan lahir dengan
sendirinya, namun tegak di atas suatu bangunan yang tinggi dan kokoh.
Bangunan yang tinggi nan kokoh ini adalah pengetahuan yang turun
menurun dari generasi ke generasi. Jadi, hal ini mempertegas bahwa
pengetahuan yang dapat menumbuhkan adanya praktik kerja dan kemahiran
untuk sistem pencatatan sisi-sisi transaksi asasnya telah ada di negara
Islam, yang timbul karena adanya berbagai faktor. Sementara itu, kami tidak
melihat adanya faktor apa pun yang membantu perkembangan ini di dalam
Republik Itali. Di antara yang patut disebutkan bahwa akuntansi yang kami
lihat praktiknya di dunia Arab, kemudian perkembangannya di dunia Islam,
telah dijelaskan oleh Al Mazindarani bahwa itu merupakan suatu ilmu. Baik
sebagai ilmu atau seni, atau yang lain, di sana terdapat berbagai faktor
yang ikut andil, atau pada hakikatnya mengundang pekerjaan akuntansi di
negara Islam. Faktor-faktor ini berkaitan erat dengan kebutuhan-kebutuhan
negara Islam dari satu sisi, dan dari sisi yang lain dengan kebutuhankebutuhan kaum muslimin secara pribadi. Di antara faktor-faktor tersebut
adalah pendirian kantor-kantor pemerintahan, speisialisasi kemampuan, dan
kebutuhan terhadap adanya pegawai yang kapabel. Di samping faktor-faktor
tersebut yang erat kaitannya dengan kebutuhan negara Islam, di sana
terdapat faktor lain yang ikut andil dalam peletakan dasar-dasar akuntansi
dan mendorong pengembangan akuntasi di dalam negara Islam, dari sisi
kebutuhan pribadi muslim, yaitu faktor zakat. Sebab, seorang muslim
senantiasa membutuhkan suatu cara yang membantu dirinya untuk
memenuhi kewajiban-kewajibannya sebagai seorang muslim dari segi
perhitungan zakat yang harus dikeluarkan sesuai dengan syariat Islam, yang
merupakan salah satu rukun Islam.
Pedirian kantor-kantor pemerintahan berkaitan erat dengan sistem
administrasi, sejak pendirian awal negara Islam di Madinah Al Munawwarah
pada tahun 622 M., yaitu pada tahun pertama Hijriyah. Pada saat itu, kantorkantor pemerintahan dikenal dengan nama Dawawin, dan bentuk tunggalnya
adalah diwan . Kata diwan berasal dari kata Parsi, tetapi definisi dan
penggunaanya telah berjalan di negara Islam. Kata diwan artinya adalah
tempat bekerja para pegawai, yaitu tempat pencatatan dan penyimpanan
buku-buku akuntansi (Muhammad Al Marisi Lasyin, 1973, hal. 26). Ibnu
Khaldun berkata, Asal penamaan ini adalah, pada suatu hari Kisra melihat
para pegawai di kantornya sedang menghitung sendiri, seolah-olah mereka
berbicara (sendiri). Lalu, Kisra berkata, Diwanah. Arti kata tersebut adalah
gila, lalu tempat mereka itu dikatakan Diwanah. Karena kata tersebut

sering diucapkan, huruf hanya dibuang untuk mempermudah pengucapan,


dan menjadi kata diwan. (hal. 268). Tampaknya, kata diwan telah
digunakan bersamaan awal reformasi sistem kantor-kantor pemerintahan
dalam bentuk yang lebih baik dari yang sebelumnya. Salah satu ensiklopedi
ilmiah menyebutkan bahwa sistem resmi pertama untuk diwan-diwan telah
dibuat sekitar tahun 14 H./634 M. (Britanica, Vol. 22, hal. 109) yakni pada
masa Khalifah Umar Ibnul Khathab radliyallahhuanhu.
Adapun spesialisasi kemampuan mempunyai signifikansi, karena
adanya pembagian fungsi dan pekerjaan di negara Islam. Hal ini telah
dimulai pada masa kehidupan Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam
(Muhammad Al Marisi Lasin, 1973, hal. 5). Demikian pula hak dan kewajiban
para pegawai di semua level dari sistem administrasi telah dikenal sejak
pendirian negara Islam di Madinah pada tahun 622 M. Rasulullah Muhammad
shallallahu `alaihi wasallam memiliki 42 penulis yang memiliki spesialisasi di
dalam pemerintahannya yang didirikan di Madinah. Setiap pegawai memiliki
peran tertentu, demikian pula kewajiban dan gaji mereka juga tertentu dan
jelas. (Muhammad Al Hawari (A), 1989, hal. 5).
Adapun para pegawai yang kompeten telah mendapatkan perhatian
dari negara Islam. Sejak awal, negara Islam telah menaruh perhatian pada
pemilihan pegawai yang berspesialisasi. Demikian pula kebijakan Rasulullah
Muhammad shallallahu `alaihi wasallam dalam memilih pegawai, yaitu dari
orang-orang yang beliau pandang memiliki kapabilitas dan kapasitas untuk
menduduki jabatan. Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam memilih para
pegawai itu dari para sahabatnya yang memiliki kapabilitas serta
kemampuan dan kelayakan untuk menerima jabatan. (Muhammad Hawari
(B), 1989, hal. 16).
Di negara Islam, para akuntan terbagi dalam tujuh fungsi, enam
fungsi berkaitan dengan pekerjaan akuntansi, dan satu fungsi khusus untuk
mengoreksi pembukuan. Fungsi pengoreksian pembukuan memiliki
kepentingan khusus, hal ini serupa dengan yang kita namakan murajaatul
hisabat ( pengoreksian pembukuan/auditing), atau tadqiqul hisabat
(pengakurasian pembukuan), atau ar riqabatul kharijiyyah (pengawasan
ekstern). Namun, kami hanya menganggap penamaan yang pertama
sebagai ungkapan yang paling tepat untuk watak pekerjaan tersebut.
Adapun penamaan kedua dan ketiga, kami pandang tidak sesuai dengan
watak pekerjaan tersebut dan tugas yang diberikan kepada auditor. Tugas
auditor adalah memeriksa apa yang telah dibukukan. (Al Qalqasyandi, hal.
130-139). Al Qalqasyandi telah menggambarkan tugas seorang auditor dan

kebutuhan terhadapnya. Dia berkata, Enam yang lain tidaklah terpelihara


dari sifat lupa dan kesalahan dalam menghitung atau mencatat,
sebagaimana yang sudah terkenal bahwa manusia itu tidak melihat
kesalahan-kesalahannya sendiri tetapi melihat kesalahan-kesalahan orang
lain, maka pimpinan kantor harus memilih seseorang untuk mengoreksi
pembukuan. Orang yang dipilih tersebut harus menguasai bahasa Arab, hafal
Al Quranul Karim, cerdas, berakal, jujur, tidak menyakiti orang lain. Ketika
seorang auditor merasa puas terhadap isi buku yang dikoreksinya, dia harus
memaraf buku tersebut sebagai tanda bahwa dia telah puas dan menerima
isi buku tersebut. (Ibid).
Adapun zakat juga termasuk bagian dari unsur-unsur yang ikut andil
dalam pengembangan akuntansi di negara Islam. Ini jika tidak termasuk
unsur asasi. Zakat adalah salah satu rukun Islam yang lima, dan di negara
Islam, dibayarkan kepada Baitul Mal. Baitul Mal ini sekarang dinamakan
Perbendaharaan Umum atau Perbendaharaan Negara. Al Quranul Karim
telah menentukan sumber-sumber yang wajib dikeluarkan zakatnya, dan
obyek-obyek penyalurannya sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa
Ta`ala:
Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang
miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk
(memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan
orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang
diwajibkan Allah. (At Taubah : 60)

Seorang muslim wajib membayar zakat, maka seorang muslim senantiasa


membutuhkan suatu cara yang dapat membantunya dalam menentukan
jumlah zakat yang harus dibayarnya. Oleh karena itu, kami tidak
menganggap mustahil bahwa masalah penentuan jumlah zakat merupakan
faktor asasi yang mengantarkan kepada pengembangan akuntansi di negara
Islam. Hal itu agar seorang muslim dapat mengetahui perubahan-perubahan
pada hartanya, dan selanjutnya adalah perhitungan zakat yang harus
dikeluarkan karena bertambahnya harta seorang muslim selama satu tahun
penuh, di samping dari laba yang diperoleh dari modal yang berputar.
Perkembangan akuntansi di negara Islam mencapai puncaknya
dalam membangun pengertian akuntansi sebagai suatu sarana untuk
pengambilan keputusan sebagai tujuan asasi bagi penggunaan akuntansi.
Anehnya, hal inilah yang menjadi tujuan penggunaan akuntasi pada masa

kita sekarang ini. Para penulis sekarang ini mengaku bahwa merekalah yang
mengembangkan pengertian ini pada abad sekarang. Barangkali, pengakuan
mereka ini disebabkan oleh kejahilan mereka terhadap sejarah dan peran
akuntansi di negara Islam. Demikian pula, boleh jadi mereka membangun
tujuan ini pada abad XX M., sementara tujuan ini telah populer di negara
Islam sejak abad I H. atau abad VII M. Di antara yang menjelaskan tujuan ini
dan realisasinya di negara Islam adalah perkataan Imam Syafii rahimahullah
: Barang siapa mempelajari hisab (akuntansi) pikirannya bagus. (Husain
Syahatah, 1993, hal. 45). Perlu diketahaui bahwa Imam Safii hidup pada
tahun 150-204 H./767-820 M. Hal ini tidak saja menjelaskan peran yang
dimainkan akuntansi dan signifikansinya pada waktu itu, tetapi juga
menjelaskan pengetahuan masyarakat pada saat itu terhadap peran dan
signifikansi tersebut. Hal ini tampak dalam bentuk khusus, ketika ucapan ini
datang dari seorang yang faqih, bukan datang dari spesialis akuntansi.
Setelah itu, Imam SyafiIi menjelaskan ucapannya itu, yaitu sesungguhnya
seorang pedagang atau yang lain tidak dapat mengambil keputusan secara
benar atau mengeluarkan pemikiran yang tepat tanpa bantuan data-data
yang tercatat dalam buku. (Ibid). Para fuqaha berkata bahwa di antara
kewajiban seorang muslim adalah mempelajari hukum-hukum ibadah yang
menjadikan shalat, shaum, dan zakatnya sah, serta hal-hal yang harus
diketahui untuk menunaikan manasik hajinya. Demikian pula dia harus
mengetahui hukum-hukum jual beli jika ingin berprofesi sebagai seorang
pedagang; dan mempelajari akuntansi, sehingga ia tiadak berbuat zhalim
dan tidak dizhalimi. Hal inilah yang disebut ilmu dlaruri. (Abu Hamid Al
Ghazali, 1400 H., vol. 1, juz 1-3, hal. 42-30) juga (Sayid Sabiq,1403 H./1983
M., vol. III, juz 11-14, hal. 125-126).
Pengertian akuntansi dan tujuan penggunaannya telah berkembang
dari sekadar sebagai sarana untuk menentukan modal di akhir periode V dan
untuk mengukur keuntungan melalui selisih modal pada dua priode, hal ini
terjadi pada masa sebelum Islam, menjadi sebagai sarana untuk
memperoleh informasi yang bermanfaat dalam pengambilan keputusan dan
penentuan tanggung jawab, hal ini terjadi pada berbagai masa negara Islam.
Al Qalqasyandi berkata, Seorang akuntan harus berpegang pada aturanaturan atau format-format yang telah disiapkan sebelumnya, dan tidak boleh
melanggar selamanya. (hal. 54). Hal ini menunjukkan perkembangan
akuntansi dan adanya sistem pengawsan intern yang berkaitan erat
dengannya. Semuanya itu diprogram, diinterpretasikan, dan diaplikasikan
menurut syariat Islam. Demikian pula perkembangan dalam pengertian
akuntansi dan tujuan penggunaannya ini terlihat dalam perkataan Al

Qalqasyandi yang lain. Dia berkata, Sesungguhnya pekerjaan akuntansi


dibangun atas dasar kenyakinan. (hal. 154). Perkataan ini, secara khusus,
memantulkan dalam pemikiran kami akan pentingnya sistem dokumentasi.
Sebab, hitungan-hitungan yang dicatat dalam buku harus diyakini
kebenarannya; dan keyakinan ini tidak akan terwujud kecuali dengan adanya
bukti-bukti yang memadai yang dapat menetapkan terjadinya transaksi dari
satu sisi, dan kebenaran pencatatan di dalam buku dari sisi yang lain.
Perkembangan akuntasi di negara Islam tampak jelas pula bahwa
seorang akuntan yang bertanggung jawab atas pembukuan pengeluaranpengeluaran harus meneliti pengeluaran-pengeluaran yang dilakukan oleh
perangkat negara itu, untuk membuat ketetapan apabila terdapat
perbedaan-perbedaan di antara tahun-tahun keuangan. (Muhammad Al
Marisi Lasyin, 1973, hal. 37). Ini merupakan bukti lain tentang
pengembangan pengertian akuntansi sebagai sarana informasi yang
bertujuan mengambil keputusan sekitar jalannya pengeluaran-pengeluaran
itu. Hal ini mengandung pembatasan perbedaan apa pun atau keraguankeraguan dari tahun ke tahun. Selanjutnya adalah pembatasan
penanggungjawab perbedaan-perbedaan tersebut, lalu pengambilanpengambilan tindakan-tindakan yang pasti ketika perbedaan-perbedaan itu
tidak dapat di tolerir.
Imam Ghazali menyebutkan bahwa faktor yang mendukung
perkembangan pengertian akuntansi, dan selanjutnya adalah perkembangan
tujuan penggunaan adalah perhatian terhadap pengawasan diri. (juz XV, hal.
6-7). Sesunguhnya asas dalam pengawasan diri adalah takut kepada Allah.
Ini adalah ciri seorang muslim penganut aqidah yang mengetahui bahwa
Allah melihatnya. Selanjutnya, dia akan mengawasi dirinya karena dia
mengetahui di sana ada Pengawas yang dapat melihat apa yang tidak bisa
dilihat oleh manusia, dan dapat mendengar apa yang tidak dapat didengar
oleh selain-Nya di antara makhluq-makhluq-Nya. Hal ini tampak jelas di
dalam firman Allah Tabaraka Wa Taala:
Dan jika kamu melihatkan apa yang ada di hatimu atau kamu
menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan
kamu tentang perbuatanmu itu. (Al Baqarah:284)
Pengawasan diri inilah yang menjadikan seorang muslim menghisab
dirinya sebelum dihisab, khususnya mereka yang memiliki nafsu lawwamah.
Dalam hal ini, Khalifah Umar Ibnul Khaththab radliyallahu `anhu berkata,
Hisablah diri kalian sebelum dihisab; timbanglah amal kalian sebelum amal

kalian ditimbangkan;
penampakan amal.

dan

bersiap-siaplah

kalian

untuk

menghadapi

Sebagaimana telah dikemukakan bahwa perkembangan buku-buku


akuntansi dan kantor-kantor pemerintahan terjadi pada masa khalifah Al
Faruq Amirul Muminin Umar bin Khaththab radliyallahu `anhu , maka kita
patut mengkaitkan antara perkataannya ini dan perkembangan tersebut, dan
bagaimana beliau menerjemahkan jiwa lawwamah ke dalam realitas secara
umum, dan barangkali dari segi keuangan secara khusus. Wallahu Alam.
Sebab, pengawasan diri dan muhasabah terhadap diri merupakan tuntutan
asasi dari ajaran syariat Islam sebagaimana terdapat di dalam Al Quran dan
As Sunah. Diantaranya firman Allah Subhanahu Wa Ta`ala:
Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai
penghisab terhadap dirimu. (Al Isra':14)

Dari As Sunnah An Nabawiyyah, sesungguhnya pengawasan tersebut


dari hasil muhasabah terhadap diri sendiri. Muhasabah yang dimaksud
dalam hal ini adalah pertanggungjawaban . Hal ini tampak jelas di dalam
perkataan Nabi shallallahu `alaihi wasallam:
Tidak akan beranjak kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat sebelum
ditanya tentang empat perkara, yaitu : tentang umurnya, dihabiskan untuk
apa; tentang masa mudanya, dihabiskan untuk apa; tentang hartanya, dari
mana diproleh dan dibelanjakan untuk apa; dan tentang ilmunya, apa yang
telah diperbuat dengan ilmu tersebut. (H.R. Tirmidzi, dan menurut beliau
hadits ini hasan shahih).

Hadits lain adalah dari Miqdam bin Madi Yakrib bahwa sayyidul basyar,
Muhammad shallallahu `alaihi wasallam menepuk pundaknya, kemudian
berkata:
Wahai Qadim (Miqdam? pen,) beruntunglah kamu, jika kamu meninggal
tidak dalam keadaan menjadi amir, tidak menjadi pencatat (katib), dan tidak
menjadi pemimpin. (H.R. Abu Dawud)

Makna kata katib disini adalah pencatat pekerjaan dan penghitungnya.


(Zakiyyudin Abdul Azhim bin Abdul Qawiy Al Mundziri, 1986, juz 3, hal. 159)

Sebelumnya telah dikatakan bahwa awal pencatatan transaksi di


dalam buku bersamaan dengan berawalnya negara Islam pada masa
Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam sebagai akibat bertambahnya
pemasukan negara dari berbagai penaklukan dan zakat, terutama setelah
pemasukan tersebut semakin banyak dan tidak seluruhnya dapat dibagikan
pada saat itu. Tidak diragukan lagi bahwa pencatatan di dalam buku pada
awal masa tersebut berjalan sesuai dengan cara yang diikuti sebelum Islam.
Tetapi, pelaksanaan pencatatan tersebut berkembang pada masa khalifah
kedua, yaitu khalifah Al Faruq Umar Ibnul Khaththab radliyallahu `anhu pada
tahun 14--24 H. /636--646 M. Beliaulah yang memerintahkan mencatat harta
umum
diklasifikasikan
sesuai
dengan
sumber
pendapatannya.
Perkembangan pada masa khalifah Umar Ibnul Khaththab ini meliputi
penentuan
hakikat
buku
yang
harus
digunakannya
dan
cara
mengaplikasikannya, serta dokumen-dokumen yang harus dimilikinya
sebagai asas pencatatan dan harus disimpan setelah dicatat untuk
memperkuat apa yang telah dicatat.
Pada awal kehidupan negara Islam, buku-buku akuntansi masih
berupa kertas-kertas terpisah, tidak berbentuk buku yang berjilid. Orang
pertama yang memasukkan buku-buku dan catatan yang terjilid
sebagaimana yang kita kenal pada masa tersebut adalah Khalifah Al Walid
bin Abdul Malik, pada tahun 86-96 H. /706-715 M. (Muhammad Al Marisi
Lasyin, 1973, hal. 36). Ini berarti bahwa hal ini terjadi kurang lebih tujuh
ratus sembilan puluh tahun sebelum munculnya buku Pacioli. Sementara itu,
sistem buku akuntansi ini telah mencapai puncaknya pada masa Daulat
Abasiyyah pada tahun 132-232 H. /750-847 M. Yakni, pada tahun 132 H. /750
M. Khalid bin Burmuk terpilih menjadi kepala Diwan Kharaj (Diwan
pemasukan hasil-hasil pertanian) dan Diwan tentara. Khalid bin Burmuk
melakukan reformasi sistem kedua Diwan tersebut dan mengembangkan
buku-buku akuntansi serta memberi nama khusus terhadapnya.
Pada masa negara Islam, buku catatan pertama dikenal dengan
nama Jaridah. Dari sini tampak garis hubungan antara buku Pacioli yang
terbit pada tahun 1494 M. dan sumber rujukan buku tersebut, karena pada
sebagian yang disebutkannya terdapat banyak kesamaan dengan apa yang
digunakan pada masa negara Islam. Di dalam bukunya, Pacioli telah
menjelaskan bahwa buku catatan pertama yang harus digunakan dikenal
dengan nama Journal dalam bahasa Ingris (Brown dan Johnson, 1963, hal.
43) atau Zornal dalam bahasa Itali sebagaimana dikenal di kota Venice .
(Martinelli, 1977, hal. 25). Dua kata ini, yaitu Journal dan Zornal merupakan
terjemahan secara harfiah dari bahasa Arab, yaitu dari kata Jaridah. Jaridah

adalah nama untuk buku catatan pertama pada masa negara Islam, yaitu
pada masa Daulat Abbasiyyah, sekitar tahun 132 H. /749 M.,yaitu tujuh ratus
empat puluh lima tahun sebelum munculnya buku Pacioli. Dari hal ini dapat
kita simpulkan bahwa asas atau sumber rujukan bagi apa yang dipraktikkan
di Republik Itali sebagaimana tersebut dalam buku Pacioli adalah apa yang
telah dipraktikkan di negara Islam. Di antara yang harus dipraktikkan di
negara Islam adalah pencatatan Jaridah sebelum memakainya. Pencatatan
ini, sebagaimana yang telah kami sebutkan, berlangsung ketika distempel
dengan stempel Sulthan. Praktik ini adalah bagi instansi-instansi
pemerintahan Islam. Barangkali juga bagi pribadi-pribadi dan lembagalembaga khusus. Demikian pula Ibnu Khaldun yang hidup pada masa Daulat
Abbasiyyah dan menulis bukunya tahun 167 H. /784 M. Mengatakan bahwa
seorang akuntan harus memakai buku-buku akuntansi yang sesuai, dan
mencatat namanya di akhir buku, serta menstempelnya dengan stempel
Sulthan. Stempel tersebut memuat nama Sulthan atau simbol khusus bagi
Sulthan. Stempel tersebut dibubuhkan di salah satu sisi buku .(halaman
205). Sesungguhnya penggunaan kata buku-buku akuntansi yang sesuai
oleh Ibnu Khaldun menunjukkan semenjak abad ke-2 Hijriyah dan barangkali
sebelum itu, kaum muslimin menggunakan buku-buku akuntansi yang
beragam sesuai dengan perbedaan karakter kegiatan, baik tingkat negara
maupun pribadi.
Dahulu, Jaridah digunakan untuk mencatat pemasukan-pemasukan
dan pengeluaran-pengeluaran, tetapi secara terpisah. Yakni, ada jaridah
untuk pemasukan dan ada jaridah untuk pengeluaran. Hal ini termasuk
serupa dengan apa yang sekarang dikenal dengan nama Specialised
Journals. Adapun transaksi-transaksi lain dicatat dalam buku yang dikenal
dengan nama Daftarul Yaumiyyah (Daily Book/Buku Harian).
Buku harian yang dikenal di negara Islam tujuh ratus empat puluh
lima tahun sebelum munculnya buku Pacioli adalah buku harian yang
digunakan sekarang di dunia, dan dikenal dengan nama General Journal.
Buku harian ini dikenal di seluruh diwan di samping specialised journals.
Dahulu, buku harian ini digunakan untuk mencatat seluruh transaksi
keuangan khusus bagi diwan dan transaksinya dengan orang lain. Buku ini
serupa dengan apa yang sekarang dikenal di negara-negara Arab dengan
nama Daftarul Yaumiyyatil `Ammah (Buku Harian Umum).
Menurut An Nuwairi, yang meninggal pada tahun 734 H. /1336 M.
atau kurang lebih tiga puluh satu tahun sebelum munculnya buku Al
Mazindani, pekerjaan pembukuan tunduk pada praktik-praktik tertentu dan

jelas. Sebab,seluruh harta yang masuk atau keluar harus dicatat sesuai
urutan waktu terjadinya, juga harus dicatat tanggal terjadinya setiap
transaksi. Demikian pula, keharusan mencatat transaksi menurut urutan
waktu terjadinya tidaklah terbatas pada transaksi-transaksi keuangan saja
atau yang memiliki nilai keuangan, tetapi mencakup juga seluruh transaksi
yang berhubungan dengan diwan dan yang lain. (An Nuwairi, hal. 273--275).
Pencatatan di buku harian berlangsung dari realitas syahid yaitu yang
sekarang dikenal dengan nama journal voucher, yang disiapkan oleh
akuntan, yang melakukan pencatatan di buku. (Muhammad Al Marisi Lasyin,
1973, hal. 131--132). Hal ini menunjukkan kesinambungan pengembangan di
dalam pekerjaan akuntansi yang awalnya bersamaan dengan munculnya
negara Islam tahun 622 M., dan menjadi kokoh pada masa Khalifah Umar
Ibnul Khaththab, serta semakin kokoh pada masa Daulat Abbasiyyah.
Kemudian bertambah berkembang setelah itu sebagaimana yang kita
rasakan dari apa yang disebutkan oleh An Nuwairi.
Daulat Abbasiyyah, 132-232 H. /750-847 M. memiliki banyak
kelebihan dibandingkan yang lain dalam pengembangan akuntasi secara
umum dan buku-buku akuntansi secara khusus. Sebab pada saat itu,
masyarakat Islam menggunakan dua belas buku akuntansi khusus
(Specialized Accounting Books). Buku-buku ini memiliki karakter dan fungsi
dan berkaitan erat dengan fungsi dan tugas yang diterapkan pada saat itu.
Di antara contoh buku-buku khusus yang dikenal pada masa kehidupan
negara Islam itu adalah sebagai berikut:

1.

Daftarun Nafaqat (Buku Pengeluaran). Buku ini disimpan di Diwan


Nafaqat, dan diwan ini bertanggung jawab atas pengeluaran Khalifah, yang
mencerminkan pengeluaran negara.

2.

Daftarun Nafaqat Wal Iradat (Buku Pengeluaran dan Pemasukan). Buku ini
disimpan di Diwanil Mal, dan Diwan ini bertanggung jawab atas pembukuan
seluruh harta yang masuk ke Baitul Mal dan yang dikeluarkannya.

3.

Daftar Amwalil Mushadarah (Buku Harta Sitaan). Buku ini digunakan di


Diwanul Mushadarin. Diwan ini khusus mengatur harta sitaan dari para
menteri dan pejabat-pejabat senior negara pada saat itu. (Muhammad Al
Marisi Lasyin, 1973, hal. 41).
Umat Islam juga mengenal buku khusus yang lain, yang dikenal dengan
nama Al Auraj, yaitu serupa dengan apa yang sekarang dinamakan Daftar
Ustadzil Madinin (Debtors or Accounts Receipable Subsidiary Ledger). Kata

Auraj adalah dari bahasa Parsi, kemudian digunakan dalam bahasa Arab.
Auraj digunakan untuk mencatat jumlah pajak atas hasil tanah pertanian,
yaitu setiap halaman dikhususkan untuk setiap orang yang dibebani untuk
membayar pajak, di dalamnya dicatat jumlah pajak yang harus dibayar, juga
jumlah yang telah dibayar dari pokok jumlah yang harus dilunasi. Penentuan
jumlah pajak yang harus dilunasi didasarkan pada apa yang dinamakan
Qanunul Kharaj (Undang-Undang Perpajakan). (Al Mazindarani 765 H./1363
M.)
Di samping apa yang telah disebutkan, kaum muslimin di negara Islam
mengenal pembagian piutang menjadi tiga kelompok, yaitu:
1.

Ar Raij minal mal, yang dimaksudkan ialah piutang yang memungkinkan


untuk didapatkan, yaitu apa yang sekarang ini dikenal dengan nama Ad
Duyunul Jayyidah, dan dalam bahasa inggris dikenal dengan nama
Collectable Debts.

2.

Al Munkasir minal mal, yang dimaksudkan adalah piutang yang mustahil


untuk didapatkan, yaitu apa yang sekarang dinamakan Ad Duyunul
Madumah, dan dalam bahasa inggris dikenal dengan nama Bad Debts atau
Uncollectable Debts.

3.

Al Mutaadzir wal mutahayyir wal muta`aqqid minal mal, yang


dimaksudkan adalah piutang yang diragukan untuk didapatkan, dan dalam
bahasa inggris dikenal dengan nama Doubtful Debts. (Muhammad Al Marisi
Lasyin, 1973, hal. 141).
Dari pembagian piutang tersebut ada dua hal penting yang patut
didapatkan, yaitu: pertama, pengaruh kehidupan perdagangan terhadap
pekerjaan akuntansi, sebagaimana yang telah kami kemukakan pada
pendahuluan Bab I; dan yang kedua adalah pembagian ini hanya
berpengaruh terhadap penggambaran kondisi keuangan baik bagi negara
maupun pribadi, khususnya untuk tujuan zakat. Sebab, penggambaran
kondisi keuangan menuntut ketelitian dalam penggambaran hak dan
kewajiban. Tidak diragukan lagi bahwa mereka mengetahui pentingnya
inventarisasi para debitur untuk mengetahui apa yang mungkin diperoleh
pada masa-masa mendatang. Jika tidak, tentu mereka tidak segera
mengelompokkan piutang dalam tiga kelompok tersebut. Pengelompokan ini
adalah pengelompokan yang digunakan pada masa kita sekarang tanpa
menyebutkan bahwa sumbernya adalah di negara Islam. Hal ini
mempertegas sekali lagi pentingnya zakat sebagai faktor asasi yang
membantu pengembangan akuntansi. Hal ini jika tidak ada faktor lain, maka

zakat adalah faktor yang pertama. Sebab, perhitungan zakat menuntut


pentingnya inventarisasi para debitur dan kreditur untuk mengetahui
pengaruh para debitur dan kreditur terhadap jumlah zakat.
Katakankanlah,Apakah akan aku jadikan pelindung selain dari Allah yang
menjadikan langit dan bumi, padahal Dia memberi makan dan tidak diberi
makan? katakanlah, Sesungguhnya aku diperintahkan supaya aku menjadi
orang yang pertamakali menyerah diri (kepada Allah), dan jangan sekali-kali
kamu masuk golongan orang-orang musyrik. (Al Anam:14)

Dengan demikian, dapat kita saksikan dari sejarah, bahwa ternyata


Islam lebih dahulu mengenal system akuntansi, karena Al Quran telah
diturunkan pada tahun 610 M, yakni 800 tahun lebih dahulu dari Luca Pacioli
yang menerbitkan bukunya pada tahun 1494. Dari sisi ilmu pengetahuan,
Akuntansi adalah ilmu informasi yang mencoba mengkonversi bukti dan data
menjadi informasi dengan cara melakukan pengukuran atas berbagai
transaksi dan akibatnya yang dikelompokkan dalam account, perkiraan atau
pos keuangan seperti aktiva, utang, modal, hasil, biaya, dan laba.
3.3. Auditing Menurut Al-Qur'an
Dalam Al Quran disampaikan bahwa kita harus mengukur secara adil, jangan
dilebihkan dan jangan dikurangi. Kita dilarang untuk menuntut keadilan
ukuran dan timbangan bagi kita, sedangkan bagi orang lain kita
menguranginya. Dalam hal ini, Al Quran menyatakan dalam berbagai ayat,
antara
lain
dalam
surah
Asy-Syu'ara
ayat
181-184
yang
berbunyi:"Sempurnakanlah takaran dan janganlah kamu termasuk orangorang yang merugikan dan timbanglah dengan timbangan yang lurus. Dan
janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu
merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan dan bertakwalah
kepada Allah yang telah Menciptakan kamu dan umt-umat yang dahulu.
Kebenaran dan keadilan dalam mengukur (menakar) tersebut, menurut Umer
Chapra juga menyangkut pengukuran kekayaan, utang, modal pendapatan,
biaya, dan laba perusahaan, sehingga seorang Akuntan wajib mengukur
kekayaan secara benar dan adil. Seorang Akuntan akan menyajikan sebuah
laporan keuangan yang disusun dari bukti-bukti yang ada dalam sebuah
organisasi yang dijalankan oleh sebuah manajemen yang diangkat atau
ditunjuk sebelumnya. Manajemen bisa melakukan apa saja dalam
menyajikan laporan sesuai dengan motivasi dan kepentingannya, sehingga
secara logis dikhawatirkan dia akan membonceng kepentingannya. Untuk itu

diperlukan Akuntan Independen yang melakukan pemeriksaaan atas laporan


beserta bukti-buktinya. Metode, teknik, dan strategi pemeriksaan ini
dipelajari dan dijelaskan dalam ilmu Auditing. Dalam Islam, fungsi Auditing
ini disebut "tabayyun" sebagaimana yang dijelaskan dalam Surah Al-Hujuraat
ayat 6 yang berbunyi: "Hai orang-orang yang beriman, jika datang
kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan
teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum
tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas
perbuatan itu.
Kemudian, sesuai dengan perintah Allah dalam Al Quran, kita harus
menyempurnakan pengukuran di atas dalam bentuk pos-pos yang disajikan
dalam Neraca, sebagaimana digambarkan dalam Surah Al-Israa' ayat 35
yang berbunyi: "Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar, dan
timbanglah dengan neraca yang benar. Itulah yang lebih utama (bagimu)
dan lebih baik akibatnya." Dari paparan di atas, dapat kita tarik kesimpulan,
bahwa kaidah Akuntansi dalam konsep Syariah Islam dapat didefinisikan
sebagai kumpulan dasar-dasar hukum yang baku dan permanen, yang
disimpulkan dari sumber-sumber Syariah Islam dan dipergunakan sebagai
aturan oleh seorang Akuntan dalam pekerjaannya, baik dalam pembukuan,
analisis, pengukuran, pemaparan, maupun penjelasan, dan menjadi pijakan
dalam menjelaskan suatu kejadian atau peristiwa.
Dasar hukum dalam Akuntansi Syariah bersumber dari Al Quran, Sunah
Nabwiyyah, Ijma (kesepakatan para ulama), Qiyas (persamaan suatu
peristiwa tertentu, dan Uruf (adat kebiasaan) yang tidak bertentangan
dengan Syariah Islam. Kaidah-kaidah Akuntansi Syariah, memiliki
karakteristik khusus yang membedakan dari kaidah Akuntansi Konvensional.
Kaidah-kaidah Akuntansi Syariah sesuai dengan norma-norma masyarakat
islami, dan termasuk disiplin ilmu sosial yang berfungsi sebagai pelayan
masyarakat pada tempat penerapan Akuntansi tersebut.
Sistem ekonomi islam sudah mulai dipraktikkan dilapangan dan bukan hanya
menjadi bahan diskusi para ahli. Pada awalnya sistem ini diterapkan dalam
sektor perbankan, dan kemudian juga merambat pada sektor keuangan
lainnya seperti asuransi dan pasar modal. Perkembangannya sangat pesat,
saat ini tidak kurang dari 200 lembaga keuangan Islam telah beroperasi
menerapkan sistem ekonomi islam yang terdapat diberbagai belahan dunia
bukan saja dinegara Islam tetapi juga di negara non muslim. Dengan
munculnya sistem tersebut mau tidak mau lembaga ini pasti memiliki
perbedaan dengan lembaga konvensional, karena ia dioperasikan dengan

menggunakan sistem nilai syariah yang didasarkan pada kedaulatan Tuhan


bukan kedaulatan rasio ciptaan Tuhan yang terbatas. Dengan demikian maka
sistem yang berkaitan dengan eksistensi lembaga ini juga perlu menerapkan
nilai-nilai islami jika kita ingin menerapkan nilai-nilai Islami secara konsisten.
Maka disinilah relevansi perlunya sistem auditing Islami dalam melakukan
fungsi audit terhadap lembaga yang dijalankan secara Islami ini.
3.4. Dewan Pengawas Syariah
Dewan Pengawas Syariah adalah lembaga independen atau hakim
khusus dalam fiqih muamalat (Sofyan S.Harahap 2002). Dewan Pengawas
Syariah merupakan suatu badan yang diberi wewenang untuk melakukan
supervise/pengawasan dan melihat secara dekat aktivitas lembaga
keuangan syariah agar lembaga tersebut senantiasa mengikuti aturan dan
prinsip-prinsip syariah. Dewan Pengawas syariah (DPS) berkewajiban secara
langsung melihat pelaksanaan suatu lembaga keuangan syariah agar tidak
menyimpang dari ketentuan yang telah difatwakan oleh Dewan Syariah
Nasional (DSN) Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang berkedudukan di Jakarta.
DPS melihat secara garis besar dari aspek manajemen dan administrasi
harus sesuai dengan syariah, dan yang paling utama sekali mengesahkan
dan mengawasi produk-produk perbankan syariah agar sesuai dengan
ketentuan syariah dan undang-undang yang berlaku. Inilah salah satu yang
membedakan dengan perbankan konvensional yang tidak mengacu pada
ketentuan syariah.
Dewan ini sekurang-kurangnya berjumlah tiga orang, dan dibolehkan
menunjuk beberapa orang pakar ekonomi untuk membantu tugasnya,
namun anggotanya tidak boleh merangkap sebagai direktur atau komisaris
utama (Pressident commissioner atau significant shareholders) dari institusi
keuangan tersebut. Pembubaran atau penggantian anggota dewan syariah
mesti mendapat rekomendasi direktur dan mendapat pengesahan dari
pemegang saham (shareholders) dalam Rapat UmumPemegang Saham
(RUPS) atau general meeting.
Dewan Pengawas Syariah pada dasarnya merupakan perpanjangan
tangan Dewan Syariah Nasional (DSN) dalam merealisasikan fatwa-fatwa
yang telah diputuskan DSN . DPS berperan sebagai pengawas dari lembagalembaga keuangan syariah; bank syariah, asuransi syariah, pasar modal
syariah,dan lain-lain. DPS tidak terlibat secara langsung dalam pelaksanaan
manajemen lembaga keuangan syariah karena hal ini sudah menjadi
tanggung jawab langsung dibawah wewenang direksi suatu lembaga

keuangan syariah. Namun DPS berhak memberikan masukan (in-put)


kepada pihak pelaksana lembaga tersebut.
3.5. Accounting and Auditing Standards for Islamic Financial Institution
(AAOIFI)
Pada awalnya organisasi ini bernama Financial Accounting Organization
for Islamic Banks and Financial Institution di dirikan pada tanggal 1 Safar
1410 H atau 26 Pebruari 1990 di Aljiria.
Prinsip Umum Audit AAOIFI;
1.

Auditor lembaga keuangan Islam harus mematuhi Kode etik profesi


akuntan yang dikeluarkan oleh AAOIFI dan the International Federation of
Accountants yang tidak bertentangan dengan aturan dan prinsip Islam.

2.

Auditor harus melakukan auditnya menurut standar yang dikeluarkan


oleh Auditing Standar for Islamic Financial Institutions (ASIFIs).

3.

Auditor harus merencanakan dan melaksanakan audit dengan


kemampuan professional, hati-hati dan menyadari segala keadaan yang
mungkin ada yang menyebabkan laporan keuangan salah saji.
Pendekatan dalam perumusan sistem ini adalah seperti yang dikemukakan
oleh Accounting and Auditing Standards for Islamic Financial Institution
(AAOIFI) yaitu :

1.

Menentukan tujuan berdasarkan prinsip Islam dan ajarannya kemudian


menjadikan tujuan ini sebagai bahan pertimbangan dengan mengaitkannya
dengan pemikiran akuntansi yang berlaku saat ini.

2.

Memulai dari tujuan yang ditetapkan oleh teori akuntansi kapitalis


kemudian mengujinya menurut hukum syariah, menerima hal-hal yang
konsisten dengan hukum syariah dan menolak hal-hal yang bertentangan
dengan syariah.
Kode Etik Profesi Akuntan Islam
Bagaimana pengatauran Kode Etik Profesinya? Etika sering disebut moral
akhlak, budi pekerti adalah sifat dan wilayah moral, mental, jiwa, hati nurani
yang merupakan pedoman perilaku yang idial yang seharusnya dimiliki oleh
manusia sebagai mahluk moral. Kode Etik Akuntan ini adalah merupakan
bagian yang tidak terpisahkan dari syariah islam. Dalam sistem nilai Islam
syarat ini ditempatkan sebagai landasan semua nilai dan dijadikan sebagai
dasar pertimbangan dalam setiap legislasi dalam masyarakat dan negara

Islam. Namun disamping dasar syariat ini landasan moral juga bisa diambil
dari hasil pemikiran manusai pada keyakinan Islam. Beberapa landasan
Kode Etik Akuntan Muslim ini adalah :
1.

Integritas : Islam menempatkan integritas sebagai nilai tertinggi yang


memandu seluruh perilakunya. Islam juga menilai perlunya kemampuan,
kompetensi dan kualifikasi tertentu untuk melaksanakan suatu kewajiban;

2.

Keikhlasan : Landasan ini berarti bahwa akuntan harus mencari


keridhaan Allah dalam melaksanakan pekerjaannya bukan mencari nama,
pura-pura, hipokrit dan sebagai bentuk kepalsuan lainnya. Menjadi ikhlas
berarti akuntan tidak perlu tunduk pada pengaruh atau tekanan luar tetapi
harus berdasarkan komitmen agama, ibadah dalam melaksanakan fungsi
profesinya. Tugas profesi harus bisa dikonversi menjadi tugas ibadah;

3.

Ketakwaan : Takwa merupakan sikap ketakutan kepada Allah baik dalam


keadaan tersembunyi maupun terang-terangan sebagai salah satu cara
untuk melindungi seseorang dari akibat negatif dari perilaku yang
bertentangan dari syariah khususnya dlam hal yang berkitan dengan
perilaku terhadap penggunaan kekayan atau transaksi yang cenderung pada
kezaliman dan dalam hal yang tidak sesuai dengan syariah;

4.

Kebenaran dan Bekerja Secara Sempurna : Akuntan tidak harus


membatasi dirinya hanya melakukan pekerjaan-pekerjaan profesi dan
jabatannya tetapi juga harus berjuang untuk mencari dan mnenegakkan
kebenaran dan kesempurnaan tugas profesinya dengan melaksanakan
semua tugas yang dibebankan kepadanya dengan sebaik-baik dan
sesempurna mungkin. Hal ini tidak akan bisa direalisir terkecuali melalui
kualifikasi akademik, pengalaman praktik, dan pemahaman serta
pengalaman keagamaan yang diramu dalam pelaksanaan tugas profesinya.
Hal ini ditegaskan dalam firman Allah dalam Surat An Nahl ayat 90 :
Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berbuat adil dan berbuat kebajikan,
dan dalam Surat Al Baqarah ayat 195 : Dan berbuat baiklah, karena
sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik

5.

Takut kepada Allah dalam setiap Hal : Seorang muslim meyakini


bahwa Allah selalu melihat dan menyaksikan semua tingkah laku hambaNya
dan selalu menyadari dan mempertimbangkan setiap tingkah laku yang tidak
disukai Allah. Ini berarti sorang akuntan/auditor harus berperilaku takut
kepada Allah tanpa harus menunggu dan mempertimbangkan apakah orang
lain atau atasannya setuju atau menyukainnya. Sikap ini merupakan sensor
diri sehingga ia mampu bertahan terus menerus dari godaan yang berasal

dari pekerjaan profesinya. Sikap ini ditegaskan dalam firman Allah Surat An
Nisa ayat 1 : Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. Dan
dalam Surat Ar Rad Ayat 33 Allah berfirman : Maka apakah Tuhan yang
menjaga setiap diri terhadap apa yang diperbuatnya (sama dengan yang
tidak demikian sifatnya). Sikap pengawasan diri berasal dari motivasi diri
berasal dari motivasi diri sehingga diduga sukar untuk dicapai hanya dengan
kode etik profesi rasional tanpa diperkuat oleh ikatan keyakinan dan
kepercayaan akan keberadaan Allah yang selalu memperhatikan dan melihat
pekerjaan kita. Sebagaimana firman Allah dalam Surat Thaha ayat 7 :
Sesungguhnya dia mengetahui rahasia dan apa yang lebih tersembunyi;
6.

Manusia bertanggungjawab dihadapan Allah : Akuntan Muslim harus


meyakini bahwa Allah selalu mengamati semua perilakunya dan dia akan
mempertanggungjawabkan semua tingkah lakunya kepada Allah nanti di hari
akhirat baik tingkah laku yang kecil amupun yang besar. Sebagaimana
firman Allah dalam Surat Al Zalzalah ayat 7-8 : Barang siapa yang
mengerjakan kebaikan seberat zarrah niscaya dia akan melihat (balasan)
nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarrahpun
niscaya dia akan melihat balasnya pula.

Oleh karena itu akuntan/auditor harus selalu ingat bahwa dia akan
mempertanggungjawabkan semua pekerjaannya dihadapan Allah dan juga
kepada publik, profesi, atasan dan dirinya sendiri. Gambaran singkat ini
mudah-mudahan menggugah kita bahwa auditing syariah sudah mulai
berkembang sejalan dengan perkembangan sistem ekonomi islam.

BAB IV
KESIMPULAN

Dari tulisan ini kami berkesimpulan sebagai berikut ;


1.

Auditing dan akuntansi dalam Islam sudah dikenal dizaman Rasulullah


berarti 14 abad silam, beliau mendidik secara khusus beberapa sahabat
untuk menangani perofesi akuntan dengan sebutan hafazhatul amwal hal
ini merujuk Al-Qur'an surat al-Baqarah ayat 282 yang secara explisit
menjelaskan fungsi-fungsi pencatatan transaksi, dasar-dasarnya, dan
manfaat-manfaatnya, seperti yang diterangkan dalam kaidah-kaidah hukum
yang harus dipedomani. Rasulullah memiliki 42 orang penulis yang memiliki
spesialisasi didalam pemerintahannya di Madinah, Rasulullah memilih
pegawainya dari kalangan sahabat yang memiliki kapabilitas serta
kemampuan dan kelayakanuntuk menduduki jabatan yang diamanatkan.

2.

Pada masa awalnya buku pencatatan dalam Islam dinamakan jaridah


yaitu pada masa pemerintahan Daulat Abbasiyyah, sekitar tahun 132 H. ini
menunjukan bahwa Daulat Abbasiyyah sudah mengenal akuntasi tujuh ratus
empat puluh lima tahun sebelum penulis Italia Pacioli yang menulis journal

dalam bahasa Inggris, secara etimologi dua kata journal dan Zornal
adalah makna dari kata jaridah buku catatan pertama pada Negara Islam.
Dengan semakin berkembangnya system keuangan dimasa Abbasiyyah,
maka semakin spesipik pencatatan-pencatatan transaksi keuangan dengan
ditemukannya berbagai macam buku, mulai dari pendapatan, biaya, harta,
hingga buku hutang dan piutang. Dengan demikian, dapat dilihat dari
sejarah bahwa Islam ternyata lebih dahulu mengenal system akuntansi,
karena Al-Qur'an telah diturunkan 610 M, yakni 800 tahun lebih dari buku
yang yang ditulis Luca Pacioli pada tahun 1494.
3.

Al-Ghazali menekankan bahwa perkembangan tujuan penggunaan


akuntansi adalah perhatian terhadap pengawasan diri, ini adalah dasar dari
pengawasan yang lebih luas lagi karena jika seseorang telah mengawasi
dirinya, maka ia telah melakukan evaluasi terhadap dirinya sehingga
pengawasan institusi atau organisasi yang lebih luas hasilnya akan lebih
baik, dan pada akhirnya menghasilakan kinerja keuangan yang kredibel. Hal
ini berdasarkan Al-Qur'an menyatakan dalam berbagai ayat, antara lain
dalam surah al-Baqarah ayat 284.

4.

Para auditor, dalam menjalankan fungsinya secara hukum berpedoman


kepada kode etik yang dikeluarkan oleh AAOIFI dan International Federation
of Accountants yang tidak bertentangan dengan aturan dan prinsip Islam.
AAOIFI di dirikan pada tanggal 1 Safar 1410 atau 26 Pebruari 1990 di Aljiria.
Di Indonesia telah dibentuk Dewan Syariah Nasional dan Dewan Pengawas
Syariah pada tahun 2000, dan dibawah naungan Majelis Ulama Indonesia
(MUI).

DAFTAR PUSTAKA
Sofyan S. Harahap Auditing Dalam Perspektif Islam Pustaka Quantum Jakarta
2002
Sofyan S. Harahap Teori Akuntansi Laporan Keuangan Bumi Aksara Jakarta
1994
Sofyan S. Harahap Menuju Perumusan Teori Akuntansi Islam Pustaka
Quantum Jakarta 2001 Kell, Johnson, William C. Boynton. Modern Auditing.
Seventh Edition. New York.. John
Wiley & Sons. 2001

AUDITING DALAM PERSPEKTIF ISLAM

AUDITING DALAM PERSPEKTIF ISLAM


BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Sejarah Auditing


Auditing adalah proses pengumpulan dan penilaian bukti-bukti yang
dilakukan oleh pihak yang independent dan kompeten, untuk menentukan
apakah informasi yang di sajikan sesuai dengan criteria yang ditetapkan.
Menurut catatan seorang ahli sejarah akuntansi, dikatakan bahwa : Asal
usul auditing dimulai lebih awal dibandingkan dengan asal usul akuntansi.
Ketika kemajuan peradaban membawa pada kebutuhan akan adanya orang
yang dalam batas tertentu dipercaya untuk mengelola harta milik orang lain,
maka dipandang patut untuk melakukan pengecekan atas kesetiaan orang
tersebut, sehingga semuanya akan menjadi jelas.
Dikatakan bahwa penguasa Mesir purba melakukan pemeriksaan
independent dan atas catatan penerimaan pajak, orang-orang Yunani kuno
melakukan pemeriksaan atas rekening pejabat public, sedangkan orang
Romawi membandingkan antara pengeluaran dengan otorisasi pembayaran,
sementara para bangsawan penghuni puri di Inggris menunjuk auditor untuk
melakukan review atas catatan akuntansi dan laporan yang disiapkan oleh
para pelayan mereka.
Awal audit terhadap perusahaan dapat dikaitkan dengan perundangundangan Inggris selama revolusi industri pada pertengahan tahun 1800-an.
Kemajuan teknologi transportasi dan industri telah menimbulkan skala
ekonomi dan perusahaan yang lebih besar, munculnya manajer professional,
serta pertumbuhan kepemilikan perusahaan oleh banyak orang. Pada
awalnya audit terhadap perusahaan harus dilakukan oleh satu atau lebih
pemegang saham yang bukan merupakan pejabat perusahaan, serta mereka
yang ditunjuk oleh pemegang saham lainnya sebagai perwakilan pemegang
saham. Profesi akuntansi segera bangkit dengan cepat untuk memenuhi
kebutuhan pasar serta perundang-undangan yang segera direvisi, sehingga
memungkinkan orang yang bukan pemegang saham dapat melakukan audit.
Hal ini mendorong munculnya berbagai formasi kantor-kantor audit.
Beberapa diantara kantor-kantor auditor Inggris Kuno seperti Deloitte & Co,
Peat Marwick, & Mitchell, dan Price Waterhouse & Co. yang masih dapat

ditelusuri sampai saat ini serta masih membuka praktik di USA ataupun
diluar USA.
Pengaruh Inggris juga turut bermigrasi ke Amerika Serikat pada akhir
tahun 1800-an ketika para investor Inggris dan Skotlandia mengirimkan para
Auditornya sendiri untuk memeriksa kondisi perusahaan-perusahaan
Amerika, tempat mereka telah berinvestasi dalam jumlah yang sangat besar.
Secara khusus mereka melakukan investasi dalam saham pabrik pembuatan
bir dan perkeretaapian. Focus awal audit ini mula-mula adalah untuk
menemukan penyimpangan dalam akun neraca serta menangkal
pertumbuhan kecurangan yang berkaitan dengan meningkatnya fenomena
manajer professional serta pemilik saham yang pasif.
1.2. Munculnya Auditing pra-Islam
Akuntasi di kalangan Bangsa Arab sebelum Islam Dari studi sejarah
peradaban arab, tampak sekali betapa besarnya perhatian bangsa arab pada
akuntansi. Hal ini terlihat pada usaha tiap pedagang arab untuk mengetahui
dan menghitung barang dagangannya, sejak mulai berangkat sampai pulang
kembali. Hitungan ini dilakukan untuk mengetahui perubahan pada
keuangannya. Setelah berkembangnya negeri, bertambahnya kabilahkabilah, masuknya imigran-imigran dari negri tetangga, dan berkembangnya
perdaganan serta timbulnya usaha-usahainterven si perdagangan, semakin
kuatlah perhatian bangsa arab terhadap pembukuan dagang untuk
menjelaskan utang piutang. Orang-orang yahudipun (pada waktu itu) sudah
biasa menyimpan daftar-daftar (faktur) dagang. Semua telah nampak jelas
dalam sejarah peradaban bangsa arab. Jadi, konsep akuntansi dikalangan
bangsa arab pada waktu itu dapat dilihat pada pembukuan yang
berdasarkan metode penjumlahan statistik yang sesuai dengan aturanaturan penjumlahan dan pengurangan.Untuk mengerjakan pembukuan ini,
ada yang dikerjakan oleh pedagang sendiri dan ada juga yang menyewa
akuntan khusus. Pada waktu itu seorang akuntan disebut sebagai katibul
awal (pencatat keuangan) atau penaggung jawab keuangan.

BAB II

TEORI AKUNTASI DAN AUDITING

2.1. Pengertian Akuntansi


Dewasa ini, akuntasi telah mengalami perkembangan layaknya ilmu hukum,
ilmu kedokteran, serta hamper semua bidang kegiatan manusia, sejalan
dengan tuntutan kebutuhan sosial dan ekonomi masyarakat. Akuntansi telah
mengembangkan konsep-konsep baru untuk mengimbangi kebutuhan akan
informasi keuangan yang terus menerus meningkat guna melaksanakan
pembangunan ekonomi dan program-program sosial. Akuntasi dapat di
pandang dari dua sisi pengertian yaitu sebagai pengetahuan keahlian yang
dipraktekan dalam dunia nyata, dan sebagai suatu disiplin ilmu pengetahuan
yang diajarkan di perguruan tinggi. Pada awalnya, yaitu kira-kira tahun 3000
SM, akuntansi ditemukan di Mesir Kuno dan pada masa pemerintahan
Yunani. Akuntansi yang ada pada saat itu hanya sekedar untuk mengetahui
sumber-sumber keuangan kerajaan. Sehingga belum ada suatu sistem
akuntansi yang sistematis untuk satu unit tertentu (hanya untuk sebagian
transaksi saja). Di zaman Mesir Kuno tersebut dijelaskan bahwa untuk
mencatat transaksi hariannya, seorang manajer menggunakan calamos reed
(sejenis kulit). Selain itu dikenal pula dua macam teknik akuntansi, yaitu
dengan koin (dalam amplop) dan token. Pada tahun 1494, sistem doubleentry mulai dikenal setelahnya sebagai system akuntansi modern, yaitu
harta sama dengan hutang ditambah dengan modal. Lucas Pacioli
mengklaim dirinya sebagai penemu pertama dari sistem akuntansi modern

ini. Namun sebelumnya telah ada beberapa temuan double-entry system,


yaitu berasal dari kawasan Timur Tengah. Kaum Muslimin berandil besar
dalam perkembangan akuntansi dasar waktu itu. Setelah itu, bangsa Eropa
mulai berdatangan untuk mengupas secara mendalam tentang akuntansi
versi Timur Tengah tersebut.
1.

Periode Kapitalis

2.

Kapitalis Nascent

3.

Merkantilis

4.

Revolusi dan Industrialisasi

5.

Perkembangan pesat bidang akuntansi secara terus-menerus


Timbulnya revolusi industry tahun 1776 menimbulkan efek positif terhadap
perkembangan akuntasi. Salah satu yang menonjol adalah perubahan cara
memproduksi barang dari kerajinan tangan ke pabrikasi. Hal ini
menyebabkan spesialisasi dalam akuntansi biaya meningkat pesat untuk
memenuhi kebutuhan analisis biaya dan teknik pencatatannya. Akuntansi
diperlukan untuk menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan yang
berjalan sangat cepat, berkembangnya kegiatan ekonomi, dan masalah
perbandingan pelaporan keuangan antar perusahaan. Pada tahun 18001850, masyarakat mulai menggunakan dan menjadikan neraca sebagai tolak
ukur kinerja sebuah perusahaan. Pada periode ini dikenal pula pemeriksaaan
keuangan (financial auditing). Pada tahun 1850, laporan laba rugi mulai
neggantikan peranan neraca dalam menilai efektivitas dan efisiensi
perusahaan. Ilmu audit berkembang semakin pesat pada periode ini Tahun
1900, di Amerika Serikat diperkenalkan Sertifikat Profesi melalui ujian
nasional untuk mendalami ilmu akuntansi melalui edukasi. Adanya laporan
tentang pajak. Serta akuntansi biaya mulai dikenal termasuk laoran statistik
biaya dan produksi. Pada tahun 2925, mulai di kenal akuntansi pemerintah
untuk mengawasi dana pemerintah, teknik-teknik analisis biaya mulai
bermunculan dan diperkenalkan, laporan keuangan diseragamkan antar
perusahaan, dirumuskannya Norma Pemeriksaan Akuntansi, dan lahirnya
Akuntansi Perpajakan.
2.2. Pengertian Auditing
Ada beberapa pengertian audit yang diberikan oleh beberapa ahli di
bidang akuntansi, antara lain:
Menurut Alvin A.Arens dan James K.Loebbecke :

Auditing is the accumulation and evaluation of evidence about information


to determine and report on the degree of correspondence between the
information and established criteria. Auditing should be done by a
competent independent person.
Menurut Mulyadi :
Suatu proses sistematik untuk memperoleh dan mengevaluasi bukti secara
obyektif mengenai pernyataan-pernyataan tentang kegiatan dan kejadian
ekonomi, dengan tujuan untuk menetapkan tingkat kesesuaian antara
pernyataan-pernyataan tersebut dengan kriteria yang telah ditetapkan, serta
penyampaian hasil-hasilnya kepada pemakai yang berkepentingan.[1]
Secara umum pengertian di atas dapat diartikan bahwa audit adalah
proses sistematis yang dilakukan oleh orang yang kompeten dan independen
dengan mengumpulkan dan mengevaluasi bahan bukti dan bertujuan
memberikan pendapat mengenai kewajaran laporan keuangan tersebut.
Dalam melaksanakan audit faktor-faktor berikut harus diperhatikan:
1)

Dibutuhkan informasi yang dapat diukur dan sejumlah kriteria (standar)


yang dapat digunakan sebagai panduan untuk mengevaluasi informasi
tersebut, 2). Penetapan entitas ekonomi dan periode waktu yang diaudit
harus jelas untuk menentukan lingkup tanggungjawab auditor, 3). Bahan
bukti harus diperoleh dalam jumlah dan kualitas yang cukup untuk
memenuhi tujuan audit, 4). Kemampuan auditor memahami kriteria yang
digunakan serta sikap independen dalam mengumpulkan bahan bukti yang
diperlukan untuk mendukung kesimpulan yang akan diambilnya.
Audit pada umumnya dibagi menjadi tiga golongan, yaitu : audit laporan
keuangan, audit kepatuhan, dan audit operasional.

1)

Audit laporan keuangan (financial statement audit). Audit laporan


keuangan adalah audit yang dilakukan oleh auditor eksternal terhadap
laporan keuangan kliennya untuk memberikan pendapat apakah laporan
keuangan tersebut disajikan sesuai dengan kriteria-kriteria yang telah
ditetapkan. Hasil audit lalu dibagikan

2)

kepada pihak luar perusahaan seperti kreditor, pemegang saham, dan


kantor pelayanan pajak.

3)

Audit kepatuhan (compliance audit). Audit ini bertujuan untuk


menentukan apakah yang diperiksa sesuai dengan kondisi, peratuan, dan
undang-undang tertentu. Kriteria-kriteria yang ditetapkan dalam audit

kepatuhan berasal dari sumber-sumber yang berbeda. Contohnya ia mungkin


bersumber dari manajemen dalam bentuk prosedur-prosedur pengendalian
internal. Audit kepatuhan biasanya disebut fungsi audit internal, karena oleh
pegawai perusahaan.
4)

Audit operasional (operational audit). Audit operasional merupakan


penelahaan secara sistematik aktivitas operasi organisasi dalam
hubungannya dengan tujuan tertentu. Dalam audit operasional, auditor
diharapkan melakukan pengamatan yang obyektif dan analisis yang
komprehensif terhadap operasional-operasional tertentu. Tujuan audit
operasional adalah untuk : 1). Menilai kinerja, kinerja dibandingkan dengan
kebijakan-kebijakan, standar-standar, dan sasaran-sasaran yang ditetapkan
oleh manajemen, 2). Mengidentifikasikan peluang dan, 3). Memberikan
rekomendasi untuk perbaikan atau tindakan lebih lanjut. Pihak-pihak yang
mungkin meminta dilakukannya audit operasional adalah manajemen dan
pihak ketiga. Hasil audit operasional diserahkan kepada pihak yang meminta
dilaksanakannya audit tersebut.
2.2.1. Tujuan dan manfaat audit independen
Tujuan umum audit atas laporan keuangan adalah untuk menyatakan
pendapat atas kewajaran laporan keuangan, dalam semua hal yang material,
sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum. Kewajaran
laporan keuangan diukur berdasarkan asersi terkandung dalam setiap unsur
yang disajikan dalam laporan keuangan, yang disebut dengan asersi
manajemen.
Asersi manajemen yang disajikan dalam laporan keuangan dapat
diklasifikasikan menjadi lima kategori :

1)

Keberadaan atau kejadian (existency or occurence). Asersi ini merupakan


pernyataan manajemen aktiva, kewajiban, dan ekuitas yang tercantum
dalam neraca benar-benar ada pada tanggal neraca serta apakah
pendapatan dan beban yang tercantum dalam laporan rugi laba benar-benar
terjadi selama periode akuntansi.

2)

Kelengkapan (completeness). Kelengkapan berarti semua transaksi dan


akun-akun yang seharusnya tercatat dalam laporan keuangan telah dicatat.
Asersi kelengkapan berlawanan dengan asersi keberadaan. Jika asersi
keberadaan tidak benar maka akun akan dinyatakan terlalu tinggi,
sementara jika asersi kelengkapan tidak benar, maka akun akan dinyatakan
terlalu rendah. Asersi kelengkapan berkaitan dengan kemungkinan hilangnya
hal-hal yang harus dicantumkan dalam laporan keuangan, sedangkan asersi

keberadaan berkaitan dengan penyebutan angka yang seharusnya tidak


dimasukkan.
3)

Hak dan kewajiban (rights and obligations). Auditor harus memastikan


apakah aktiva memang menjadi hak klien dan apakah kewajiban merupakan
hutang klien pada tanggal tertentu.

4)

Penilaian atau alokasi (valluation or allocation). Asersi ini menyangkut


apakah aktiva, kewajiban, ekuitas, pendapatan, atau beban telah
dicantumkan dalam laporan keuangan pada jumlah yang tepat.

5)

Penyajian dan pengungkapan (presentation and disclosure). Asersi ini


menyangkut masalah apakah komponen-komponen laporan keuangan telah
diklasifikasikan, diuraikan, dan diungkapkan secara tepat. Pengungkapan
berhubungan dengan apakah informasi dalam laporan keuangan, termasuk
catatan yang terkait, telah menjelaskan secara gamblang hal-hal yang dapat
mempengaruhi penggunaannya.
Independensi
Masalah utama yang dihadapi oleh akuntan publik saat ini adalah
berkurangnya kekuasaan mereka dalam melaksanakan penugasan. Seorang
akuntan yang independen dituntut untuk bertindak sesuai dengan peraturan
perundangan dan kode etik profesi. Fenomena hubungan antara akuntan
publik dengan klien telah menjadi pusat perhatian bagi para pembuat
keputusan, seperti investor, kreditor, dan pemegang saham.
Mereka sangat menyadari adanya kemampuan yang dimiliki oleh pihak
manajemen perusahaan. Pertama, kemampuan yang berkaitan dengan
kecenderungan manajemen perusahaan untuk memanipulasi kinerja laporan
keuangan perusahaan dengan tujuan untuk mendapatkan penilaian yang
positif atas tanggung jawabnya sebagai pihak yang mengelola perusahaan.
Kecenderungan ini dikenal dengan istilah window dressing, biasanya
dilakukan dengan cara memperbaiki laporan keuangan sedemikian rupa
sehingga tampak lebih baik dari semestinya.
Berbeda dengan profesi lain, auditor tidak dapat bertindak untuk
kepentingan kliennya sebagaimana pengacara dengan kliennya. Meskipun
dibayar oleh klien akuntan publik bekerja bagi kepentingan masyarakat
umum. Auditor harus independen dalam dari segala kewajiban dan pemilikan
kepentingan dalam perusahaan yang diauditnya. Ia harus pula menghindari
keadaan-keadaan yang dapat mengakibatkan masyarakat meragukan
independensinya. Dalam kenyataannya auditor seringkali menemui kesulitan

dalam mempertahankan sikap mental independen. Keadaan yang seringkali


mengganggu sikap mental independen auditor adalah sebagai berikut :
1.

Sebagai seorang yang melaksanakan audit secara independen, auditor


dibayar oleh kliennya atas jasanya tersebut.

2.

Kecenderungan untuk memuaskan kliennya.

3.

Resiko kehilangan klien.

Jenis-jenis auditor
Auditor biasanya diklasifikasikan dalam tiga kategori berdasarkan siapa
yang mempekerjakan mereka : akuntan publik, akuntan pemerintah, dan
akuntan intern.

Akuntan publik. Akuntan publik adalah akuntan professional yang menjual


jasanya kepada masyarakat umum, terutama daam bidang pemeriksaan
terhadap laporan keuangan yang dibuat oleh kliennya.

Akuntan pemerintah. Akuntan pemerintah adalah akuntan profesional yang


bekerja di instansi pemerintah yang tugas pokoknya melakukan pemeriksaan
terhadap pertanggungjawaban keuangan yang disajikan oleh unit-unit
organisasi dalam pemerintahan atau pertanggungjawaban keuangan yang
ditujukan kepada pemerintah.

Akuntan intern. Adalah akuntan yang bekerja dalam perusahaan yang tugas
pokoknya adalah menentukan apakah kebijakan dan prosedur yang
ditetapkan oleh manajemen puncak telah dipatuhi, menentukan baik atau
tidaknya penjagaan terhadap aset-aset organisasi, menentukan efisiensi dan
efektivitas prosedur kegiatan organisasi, serta menentukan keandalan
informasi yang dihasilkan oleh berbagai bagian organisasi.

2.2.

Laporan Auditor

2.3.1. Pengertian dan jenis-jenis laporan auditor


Pembuatan laporan auditor adalah langkah terakhir dan paling penting
dari keseluruhan proses audit. Secara umum laporan auditor dapat
didefinisikan sebagai laporan yang menyatakan pendapat auditor yang
independen mengenai kelayakan atau ketepatan pernyataan klien bahwa
laporan keuangannya disajikan secara wajar sesuai dengan prinsip-prinsip
akuntan yang berlaku umum, yang diterapkan secara konsisten dengan
tahun sebelumnya. Dalam menyiapkan dan menerbitkan sebuah laporan

audit, auditor harus berpedoman pada empat standar pelaporan yang


terdapat dalam Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP).
Terpenting, harus dilihat standar yang terakhir karena standar ini
mensyaratkan suatu pernyataan pendapat atas laporan keuangan secara
keseluruhan atau pernyataan bahwa pendapat tidak dapat diberikan disertai
dengan alasan-alasannya. Standar ini mensyaratkan adanya pernyataan
auditor secara jelas mengenai sifat pemeriksaan yang telah dilakukan dan
sampai dimana auditor membatasi tanggungjawabnya. Pendapat auditor
tersebut disajikan dalam suatu laporan tertulis yang umumnya berupa
laporan audit bentuk baku.
Menyadari fungsi utama laporan audit sebagai media komunikasi
antara manajemen dengan pihak-pihak lain yang berkepentingan, maka
dibutuhkan adanya keseragaman pelaporan untuk menghindari kerancuan.
Oleh karena itu standar profesional telah merumuskan dan merinci berbagai
jenis laporan audit yang harus disertakan pada laporan keuangan.
Terdapat beberapa jenis pendapat akuntan
berkenaan dengan suatu pemeriksaan umum, yaitu :

yang

diberikannya

1. Pendapat wajar tanpa pengecualian (unqualified opinion).


2. Pendapat wajar tanpa pengecualian dengan
(unqualified opinion with explanatory language).

bahasa

penjelasan

3. Pendapat wajar dengan pengecualian (qualified opinion).


4. Pendapat tidak wajar (adverse opinion).
5. Pernyataan tidak memberikan pendapat (disclaimer of opinion).
1). Laporan pendapat wajar tanpa pengecualian (unqualified opinion)
Istilah unqualified disini bukan berarti tidak memenuhi syarat atau tidak
qualified. Arti unqualified disini adalah tanpa kualifikasi (qualification) atau
tanpa reserve atau tanpa keberatan-keberatan. Pendapat wajar tanpa
pengecualian diberikan auditor jika tidak terjadi pembatasan dalam lingkup
audit dan tidak terdapat pengecualian yang signifikan mengenai kewajaran
dan penerapan prinsip akuntansi yang berlaku umum dalam penyusunan
laporan keuangan, konsistensi penerapan prinsip akuntansi yang berlaku
umum, serta pengungkapan memadai dalam laporan keuangan. Laporan
keuangan dianggap menyajikan secara wajar posisi keuangan dan hasil

usaha suatu organisasi, sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku


umum jika memenuhi kondisi-kondisi berikut :

2)

Prinsip akuntansi berlaku umum digunakan untuk menyusun laporan


keuangan

Perubahan penerapan prinsip akuntansi berlaku umum dari periode ke


periode telah cukup dijelaskan

Informasi dalam catatan-catatan yang mendukungnya telah


digambarkan dan dijelaskan dengan cukup dalam laporan keuangan
sesuai prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum

Laporan pendapat wajar tanpa pengecualian dengan bahasa


penjelasan
(unqualified opinion with explanatory language).
Laporan keuangan tetap menyajikan secara wajar posisi keuangan dan hasil
usaha perusahaan klien namun ditambah dengan hal-hal yang memerlukan
bahasa penjelasan.
3).

Laporan pendapat wajar dengan pengecualian (qualified opinion)

Pendapat ini hanya diberikan jika secara keseluruhan laporan keuangan yang
disajikan oleh klien adalah wajar, tetapi ada beberapa unsur yang
dikecualikan, yang pengecualiannya tidak mempengaruhi kewajaran laporan
keuangan secara keseluruhan. Terdapat beberapa kondisi yang membuat
auditor harus memberikan pendapat wajar dengan pengecualian, yaitu :

Lingkup audit dibatasi oleh klien

Auditor tidak dapat melaksanakan prosedur audit penting atau tidak


dapat
memperoleh informasi penting karena kondisi-kondisi yang berada
di luar kekuasaan klien dan auditor

Laporan keuangan tidak disusun sesuai dengan prinsip akuntansi berlaku


umum

Prinsip akuntansi berlaku umum yang digunakan dalam penyusunan


laporan keuangan tidak diterapakan secara konsisten
4).

Laporan pendapat tidak wajar (adverse opinion)

Pendapat tidak wajar diberikan jika laporan keuangan klien tidak disusun
berdasarkan prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum sehingga tidak
menyajikan secara wajar posisi keuangan, hasil usaha, perubahan saldo laba

dan arus kas perusahaan klien. Auditor memeberikan pendapat tidak wajar
jika tidak terdapat pembatasan bukti audit. Pendapat tidak wajar merupakan
kebalikan pendapat wajar dengan pengecualian. Auditor memberikan
pendapat tidak wajar jika ia tidak dibatasi lingkup auditnya, sehingga ia
dapat mengumpulkan bukti kompeten dalam jumlah cukup untuk
mendukung pendapatnya.
5).

Pernyataan tidak memberikan pendapat (disclaimer of opinion)

Pernyataan tidak memberikan pendapat diberikan auditor jika ia tidak


berhasil menyakinkan dirinya bahwa keseluruhan laporan keuangan telah
disajikan secara wajar. Pernyataan tidak memberikan pendapat diberikan jika
antara lain, terdapat banyak pembatasan lingkup audit, hubungan yang tidak
independen antara auditor dan klien. Masing-masing kondisi tersebut tidak
memungkinkan auditor untuk dapat menyatakan pendapatnya atas laporan
keuangan secara keseluruhan.
2.3.2.

Tujuan dan manfaat laporan auditor


Dalam perusahaan perseroan, dimana para manajer ditempatkan pada
posisi dimana mereka dapat menguntungkan perusahaan yang tercermin
dalam laporan keuangan yang disusunnya dalam suatu periode tertentu.
Laporan keuangan yang disusun merupakan bentuk pertanggungjawaban
dari hasil pekerjaannya selama suatu periode. Para manajer tergoda untuk
menyajikan laporan keuangan yang berat sebelah, mengandung hal-hal yang
tidak benar, dan mungkin menyembunyikan informasi informasi tertentu
kepada pihak-pihak lain yang berkepentingan terhadap laporan keuangan
itu, termasuk investor, kreditor, dan regulator.
Oleh karena itu masyarakat keuangan membutuhkan jasa profesional
untuk menilai kewajaran informasi keuangan yang disajikan oleh
manajemen. Atas dasar informasi keuangan yang andal, masyarakat akan
memiliki basis yang kuat untuk menyalurkan dana mereka ke usaha-usaha
yang beroperasi secara efisien dan memiliki posisi keuangan yang sehat.
Untuk itu masyarakat menghendaki agar laporan keuangan yang diserahkan
kepada mereka diperiksa lebih dulu oleh auditor independen. Keterlibatan
audit yang independen akan memberikan manfaat-manfaat antara lain,
menambah kredibilitas laporan keuangan, mengurangi kecurangan
perusahaan, dan memberikan dasar yang lebih dipercaya untuk pelaporan
pajak dan laporan keuangan lain yang harus diserahkan kepada pemerintah.

BAB III
AUDITING DALAM ISLAM
3.1. Sejarah Akuntasi Islam
Apabila kita pelajari "Sejarah Islam" ditemukan bahwa setelah munculnya
Islam di Semenanjung Arab di bawah pimpinan Rasulullah SAW dan
terbentuknya Daulah Islamiah di Madinah yang kemudian di lanjutkan oleh
para Khulafaur Rasyidin terdapat undang-undang akuntansi yang diterapkan
untuk perorangan, perserikatan (syarikah) atau perusahaan, akuntansi
wakaf, hak-hak pelarangan penggunaan harta (hijr), dan anggaran negara.
Rasulullah SAW sendiri pada masa hidupnya juga telah mendidik secara
khusus beberapa sahabat untuk menangani profesi akuntan dengan sebutan
"hafazhatul amwal" (pengawas keuangan). Bahkan Al Quran sebagai kitab
suci umat Islam menganggap masalah ini sebagai suatu masalah serius
dengan diturunkannya ayat terpanjang , yakni surah Al-Baqarah ayat 282
yang menjelaskan fungsi-fungsi pencatatan transaksi, dasar-dasarnya, dan
manfaat-manfaatnya, seperti yang diterangkan oleh kaidah-kaidah hukum
yang harus dipedomani dalam hal tersebut. Sebagaimana pada awal ayat
tersebut menyatakan "Hai, orang-orang yang beriman apabila kamu
bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah
kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu
menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya
sebagaimana Allah telah mengajarkannya.

3.2.Perkembangan Akuntansi di Negara Islam

setiap ilmu tumbuh dari suatu kemahiran yang diupayakan. Sebelum


menjadi ilmu, harus ada praktik dan pengalaman, berdasarkan hal ini, maka
ilmu itu merupakan hasil dari pengalaman yang menentukan tanda-tanda
ilmu tersebut. (Heaps, 1985, hal. 21)
Berdasarkan apa yang dikatakan oleh Heaps, maka munculnya
sistem pencatatan sisi-sisi transaksi atau yang dikenal dengan nama sistem
pembukaan ganda (double entry), baik sebagai ilmu maupun sebagai seni,
atau sebagai yang lain, harus tumbuh dari suatu kemahiran yang
diupayakan. Kemahiran yang diupayakan ini harus tegak di atas adanya
suatu praktik kerja. Demikian pula, praktik kerja ini bukan lahir dengan
sendirinya, namun tegak di atas suatu bangunan yang tinggi dan kokoh.
Bangunan yang tinggi nan kokoh ini adalah pengetahuan yang turun
menurun dari generasi ke generasi. Jadi, hal ini mempertegas bahwa
pengetahuan yang dapat menumbuhkan adanya praktik kerja dan kemahiran
untuk sistem pencatatan sisi-sisi transaksi asasnya telah ada di negara
Islam, yang timbul karena adanya berbagai faktor. Sementara itu, kami tidak
melihat adanya faktor apa pun yang membantu perkembangan ini di dalam
Republik Itali. Di antara yang patut disebutkan bahwa akuntansi yang kami
lihat praktiknya di dunia Arab, kemudian perkembangannya di dunia Islam,
telah dijelaskan oleh Al Mazindarani bahwa itu merupakan suatu ilmu. Baik
sebagai ilmu atau seni, atau yang lain, di sana terdapat berbagai faktor
yang ikut andil, atau pada hakikatnya mengundang pekerjaan akuntansi di
negara Islam. Faktor-faktor ini berkaitan erat dengan kebutuhan-kebutuhan
negara Islam dari satu sisi, dan dari sisi yang lain dengan kebutuhankebutuhan kaum muslimin secara pribadi. Di antara faktor-faktor tersebut
adalah pendirian kantor-kantor pemerintahan, speisialisasi kemampuan, dan
kebutuhan terhadap adanya pegawai yang kapabel. Di samping faktor-faktor
tersebut yang erat kaitannya dengan kebutuhan negara Islam, di sana
terdapat faktor lain yang ikut andil dalam peletakan dasar-dasar akuntansi
dan mendorong pengembangan akuntasi di dalam negara Islam, dari sisi
kebutuhan pribadi muslim, yaitu faktor zakat. Sebab, seorang muslim
senantiasa membutuhkan suatu cara yang membantu dirinya untuk
memenuhi kewajiban-kewajibannya sebagai seorang muslim dari segi
perhitungan zakat yang harus dikeluarkan sesuai dengan syariat Islam, yang
merupakan salah satu rukun Islam.
Pedirian kantor-kantor pemerintahan berkaitan erat dengan sistem
administrasi, sejak pendirian awal negara Islam di Madinah Al Munawwarah
pada tahun 622 M., yaitu pada tahun pertama Hijriyah. Pada saat itu, kantorkantor pemerintahan dikenal dengan nama Dawawin, dan bentuk tunggalnya

adalah diwan . Kata diwan berasal dari kata Parsi, tetapi definisi dan
penggunaanya telah berjalan di negara Islam. Kata diwan artinya adalah
tempat bekerja para pegawai, yaitu tempat pencatatan dan penyimpanan
buku-buku akuntansi (Muhammad Al Marisi Lasyin, 1973, hal. 26). Ibnu
Khaldun berkata, Asal penamaan ini adalah, pada suatu hari Kisra melihat
para pegawai di kantornya sedang menghitung sendiri, seolah-olah mereka
berbicara (sendiri). Lalu, Kisra berkata, Diwanah. Arti kata tersebut adalah
gila, lalu tempat mereka itu dikatakan Diwanah. Karena kata tersebut
sering diucapkan, huruf hanya dibuang untuk mempermudah pengucapan,
dan menjadi kata diwan. (hal. 268). Tampaknya, kata diwan telah
digunakan bersamaan awal reformasi sistem kantor-kantor pemerintahan
dalam bentuk yang lebih baik dari yang sebelumnya. Salah satu ensiklopedi
ilmiah menyebutkan bahwa sistem resmi pertama untuk diwan-diwan telah
dibuat sekitar tahun 14 H./634 M. (Britanica, Vol. 22, hal. 109) yakni pada
masa Khalifah Umar Ibnul Khathab radliyallahhuanhu.
Adapun spesialisasi kemampuan mempunyai signifikansi, karena
adanya pembagian fungsi dan pekerjaan di negara Islam. Hal ini telah
dimulai pada masa kehidupan Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam
(Muhammad Al Marisi Lasin, 1973, hal. 5). Demikian pula hak dan kewajiban
para pegawai di semua level dari sistem administrasi telah dikenal sejak
pendirian negara Islam di Madinah pada tahun 622 M. Rasulullah Muhammad
shallallahu `alaihi wasallam memiliki 42 penulis yang memiliki spesialisasi di
dalam pemerintahannya yang didirikan di Madinah. Setiap pegawai memiliki
peran tertentu, demikian pula kewajiban dan gaji mereka juga tertentu dan
jelas. (Muhammad Al Hawari (A), 1989, hal. 5).
Adapun para pegawai yang kompeten telah mendapatkan perhatian
dari negara Islam. Sejak awal, negara Islam telah menaruh perhatian pada
pemilihan pegawai yang berspesialisasi. Demikian pula kebijakan Rasulullah
Muhammad shallallahu `alaihi wasallam dalam memilih pegawai, yaitu dari
orang-orang yang beliau pandang memiliki kapabilitas dan kapasitas untuk
menduduki jabatan. Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam memilih para
pegawai itu dari para sahabatnya yang memiliki kapabilitas serta
kemampuan dan kelayakan untuk menerima jabatan. (Muhammad Hawari
(B), 1989, hal. 16).
Di negara Islam, para akuntan terbagi dalam tujuh fungsi, enam
fungsi berkaitan dengan pekerjaan akuntansi, dan satu fungsi khusus untuk
mengoreksi pembukuan. Fungsi pengoreksian pembukuan memiliki
kepentingan khusus, hal ini serupa dengan yang kita namakan murajaatul

hisabat ( pengoreksian pembukuan/auditing), atau tadqiqul hisabat


(pengakurasian pembukuan), atau ar riqabatul kharijiyyah (pengawasan
ekstern). Namun, kami hanya menganggap penamaan yang pertama
sebagai ungkapan yang paling tepat untuk watak pekerjaan tersebut.
Adapun penamaan kedua dan ketiga, kami pandang tidak sesuai dengan
watak pekerjaan tersebut dan tugas yang diberikan kepada auditor. Tugas
auditor adalah memeriksa apa yang telah dibukukan. (Al Qalqasyandi, hal.
130-139). Al Qalqasyandi telah menggambarkan tugas seorang auditor dan
kebutuhan terhadapnya. Dia berkata, Enam yang lain tidaklah terpelihara
dari sifat lupa dan kesalahan dalam menghitung atau mencatat,
sebagaimana yang sudah terkenal bahwa manusia itu tidak melihat
kesalahan-kesalahannya sendiri tetapi melihat kesalahan-kesalahan orang
lain, maka pimpinan kantor harus memilih seseorang untuk mengoreksi
pembukuan. Orang yang dipilih tersebut harus menguasai bahasa Arab, hafal
Al Quranul Karim, cerdas, berakal, jujur, tidak menyakiti orang lain. Ketika
seorang auditor merasa puas terhadap isi buku yang dikoreksinya, dia harus
memaraf buku tersebut sebagai tanda bahwa dia telah puas dan menerima
isi buku tersebut. (Ibid).
Adapun zakat juga termasuk bagian dari unsur-unsur yang ikut andil
dalam pengembangan akuntansi di negara Islam. Ini jika tidak termasuk
unsur asasi. Zakat adalah salah satu rukun Islam yang lima, dan di negara
Islam, dibayarkan kepada Baitul Mal. Baitul Mal ini sekarang dinamakan
Perbendaharaan Umum atau Perbendaharaan Negara. Al Quranul Karim
telah menentukan sumber-sumber yang wajib dikeluarkan zakatnya, dan
obyek-obyek penyalurannya sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa
Ta`ala:
Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang
miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk
(memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan
orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang
diwajibkan Allah. (At Taubah : 60)

Seorang muslim wajib membayar zakat, maka seorang muslim senantiasa


membutuhkan suatu cara yang dapat membantunya dalam menentukan
jumlah zakat yang harus dibayarnya. Oleh karena itu, kami tidak
menganggap mustahil bahwa masalah penentuan jumlah zakat merupakan
faktor asasi yang mengantarkan kepada pengembangan akuntansi di negara
Islam. Hal itu agar seorang muslim dapat mengetahui perubahan-perubahan

pada hartanya, dan selanjutnya adalah perhitungan zakat yang harus


dikeluarkan karena bertambahnya harta seorang muslim selama satu tahun
penuh, di samping dari laba yang diperoleh dari modal yang berputar.
Perkembangan akuntansi di negara Islam mencapai puncaknya
dalam membangun pengertian akuntansi sebagai suatu sarana untuk
pengambilan keputusan sebagai tujuan asasi bagi penggunaan akuntansi.
Anehnya, hal inilah yang menjadi tujuan penggunaan akuntasi pada masa
kita sekarang ini. Para penulis sekarang ini mengaku bahwa merekalah yang
mengembangkan pengertian ini pada abad sekarang. Barangkali, pengakuan
mereka ini disebabkan oleh kejahilan mereka terhadap sejarah dan peran
akuntansi di negara Islam. Demikian pula, boleh jadi mereka membangun
tujuan ini pada abad XX M., sementara tujuan ini telah populer di negara
Islam sejak abad I H. atau abad VII M. Di antara yang menjelaskan tujuan ini
dan realisasinya di negara Islam adalah perkataan Imam Syafii rahimahullah
: Barang siapa mempelajari hisab (akuntansi) pikirannya bagus. (Husain
Syahatah, 1993, hal. 45). Perlu diketahaui bahwa Imam Safii hidup pada
tahun 150-204 H./767-820 M. Hal ini tidak saja menjelaskan peran yang
dimainkan akuntansi dan signifikansinya pada waktu itu, tetapi juga
menjelaskan pengetahuan masyarakat pada saat itu terhadap peran dan
signifikansi tersebut. Hal ini tampak dalam bentuk khusus, ketika ucapan ini
datang dari seorang yang faqih, bukan datang dari spesialis akuntansi.
Setelah itu, Imam SyafiIi menjelaskan ucapannya itu, yaitu sesungguhnya
seorang pedagang atau yang lain tidak dapat mengambil keputusan secara
benar atau mengeluarkan pemikiran yang tepat tanpa bantuan data-data
yang tercatat dalam buku. (Ibid). Para fuqaha berkata bahwa di antara
kewajiban seorang muslim adalah mempelajari hukum-hukum ibadah yang
menjadikan shalat, shaum, dan zakatnya sah, serta hal-hal yang harus
diketahui untuk menunaikan manasik hajinya. Demikian pula dia harus
mengetahui hukum-hukum jual beli jika ingin berprofesi sebagai seorang
pedagang; dan mempelajari akuntansi, sehingga ia tiadak berbuat zhalim
dan tidak dizhalimi. Hal inilah yang disebut ilmu dlaruri. (Abu Hamid Al
Ghazali, 1400 H., vol. 1, juz 1-3, hal. 42-30) juga (Sayid Sabiq,1403 H./1983
M., vol. III, juz 11-14, hal. 125-126).
Pengertian akuntansi dan tujuan penggunaannya telah berkembang
dari sekadar sebagai sarana untuk menentukan modal di akhir periode V dan
untuk mengukur keuntungan melalui selisih modal pada dua priode, hal ini
terjadi pada masa sebelum Islam, menjadi sebagai sarana untuk
memperoleh informasi yang bermanfaat dalam pengambilan keputusan dan
penentuan tanggung jawab, hal ini terjadi pada berbagai masa negara Islam.

Al Qalqasyandi berkata, Seorang akuntan harus berpegang pada aturanaturan atau format-format yang telah disiapkan sebelumnya, dan tidak boleh
melanggar selamanya. (hal. 54). Hal ini menunjukkan perkembangan
akuntansi dan adanya sistem pengawsan intern yang berkaitan erat
dengannya. Semuanya itu diprogram, diinterpretasikan, dan diaplikasikan
menurut syariat Islam. Demikian pula perkembangan dalam pengertian
akuntansi dan tujuan penggunaannya ini terlihat dalam perkataan Al
Qalqasyandi yang lain. Dia berkata, Sesungguhnya pekerjaan akuntansi
dibangun atas dasar kenyakinan. (hal. 154). Perkataan ini, secara khusus,
memantulkan dalam pemikiran kami akan pentingnya sistem dokumentasi.
Sebab, hitungan-hitungan yang dicatat dalam buku harus diyakini
kebenarannya; dan keyakinan ini tidak akan terwujud kecuali dengan adanya
bukti-bukti yang memadai yang dapat menetapkan terjadinya transaksi dari
satu sisi, dan kebenaran pencatatan di dalam buku dari sisi yang lain.
Perkembangan akuntasi di negara Islam tampak jelas pula bahwa
seorang akuntan yang bertanggung jawab atas pembukuan pengeluaranpengeluaran harus meneliti pengeluaran-pengeluaran yang dilakukan oleh
perangkat negara itu, untuk membuat ketetapan apabila terdapat
perbedaan-perbedaan di antara tahun-tahun keuangan. (Muhammad Al
Marisi Lasyin, 1973, hal. 37). Ini merupakan bukti lain tentang
pengembangan pengertian akuntansi sebagai sarana informasi yang
bertujuan mengambil keputusan sekitar jalannya pengeluaran-pengeluaran
itu. Hal ini mengandung pembatasan perbedaan apa pun atau keraguankeraguan dari tahun ke tahun. Selanjutnya adalah pembatasan
penanggungjawab perbedaan-perbedaan tersebut, lalu pengambilanpengambilan tindakan-tindakan yang pasti ketika perbedaan-perbedaan itu
tidak dapat di tolerir.
Imam Ghazali menyebutkan bahwa faktor yang mendukung
perkembangan pengertian akuntansi, dan selanjutnya adalah perkembangan
tujuan penggunaan adalah perhatian terhadap pengawasan diri. (juz XV, hal.
6-7). Sesunguhnya asas dalam pengawasan diri adalah takut kepada Allah.
Ini adalah ciri seorang muslim penganut aqidah yang mengetahui bahwa
Allah melihatnya. Selanjutnya, dia akan mengawasi dirinya karena dia
mengetahui di sana ada Pengawas yang dapat melihat apa yang tidak bisa
dilihat oleh manusia, dan dapat mendengar apa yang tidak dapat didengar
oleh selain-Nya di antara makhluq-makhluq-Nya. Hal ini tampak jelas di
dalam firman Allah Tabaraka Wa Taala:

Dan jika kamu melihatkan apa yang ada di hatimu atau kamu
menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan
kamu tentang perbuatanmu itu. (Al Baqarah:284)
Pengawasan diri inilah yang menjadikan seorang muslim menghisab
dirinya sebelum dihisab, khususnya mereka yang memiliki nafsu lawwamah.
Dalam hal ini, Khalifah Umar Ibnul Khaththab radliyallahu `anhu berkata,
Hisablah diri kalian sebelum dihisab; timbanglah amal kalian sebelum amal
kalian ditimbangkan; dan bersiap-siaplah kalian untuk menghadapi
penampakan amal.
Sebagaimana telah dikemukakan bahwa perkembangan buku-buku
akuntansi dan kantor-kantor pemerintahan terjadi pada masa khalifah Al
Faruq Amirul Muminin Umar bin Khaththab radliyallahu `anhu , maka kita
patut mengkaitkan antara perkataannya ini dan perkembangan tersebut, dan
bagaimana beliau menerjemahkan jiwa lawwamah ke dalam realitas secara
umum, dan barangkali dari segi keuangan secara khusus. Wallahu Alam.
Sebab, pengawasan diri dan muhasabah terhadap diri merupakan tuntutan
asasi dari ajaran syariat Islam sebagaimana terdapat di dalam Al Quran dan
As Sunah. Diantaranya firman Allah Subhanahu Wa Ta`ala:
Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai
penghisab terhadap dirimu. (Al Isra':14)

Dari As Sunnah An Nabawiyyah, sesungguhnya pengawasan tersebut


dari hasil muhasabah terhadap diri sendiri. Muhasabah yang dimaksud
dalam hal ini adalah pertanggungjawaban . Hal ini tampak jelas di dalam
perkataan Nabi shallallahu `alaihi wasallam:
Tidak akan beranjak kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat sebelum
ditanya tentang empat perkara, yaitu : tentang umurnya, dihabiskan untuk
apa; tentang masa mudanya, dihabiskan untuk apa; tentang hartanya, dari
mana diproleh dan dibelanjakan untuk apa; dan tentang ilmunya, apa yang
telah diperbuat dengan ilmu tersebut. (H.R. Tirmidzi, dan menurut beliau
hadits ini hasan shahih).

Hadits lain adalah dari Miqdam bin Madi Yakrib bahwa sayyidul basyar,
Muhammad shallallahu `alaihi wasallam menepuk pundaknya, kemudian
berkata:

Wahai Qadim (Miqdam? pen,) beruntunglah kamu, jika kamu meninggal


tidak dalam keadaan menjadi amir, tidak menjadi pencatat (katib), dan tidak
menjadi pemimpin. (H.R. Abu Dawud)

Makna kata katib disini adalah pencatat pekerjaan dan penghitungnya.


(Zakiyyudin Abdul Azhim bin Abdul Qawiy Al Mundziri, 1986, juz 3, hal. 159)
Sebelumnya telah dikatakan bahwa awal pencatatan transaksi di
dalam buku bersamaan dengan berawalnya negara Islam pada masa
Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam sebagai akibat bertambahnya
pemasukan negara dari berbagai penaklukan dan zakat, terutama setelah
pemasukan tersebut semakin banyak dan tidak seluruhnya dapat dibagikan
pada saat itu. Tidak diragukan lagi bahwa pencatatan di dalam buku pada
awal masa tersebut berjalan sesuai dengan cara yang diikuti sebelum Islam.
Tetapi, pelaksanaan pencatatan tersebut berkembang pada masa khalifah
kedua, yaitu khalifah Al Faruq Umar Ibnul Khaththab radliyallahu `anhu pada
tahun 14--24 H. /636--646 M. Beliaulah yang memerintahkan mencatat harta
umum
diklasifikasikan
sesuai
dengan
sumber
pendapatannya.
Perkembangan pada masa khalifah Umar Ibnul Khaththab ini meliputi
penentuan
hakikat
buku
yang
harus
digunakannya
dan
cara
mengaplikasikannya, serta dokumen-dokumen yang harus dimilikinya
sebagai asas pencatatan dan harus disimpan setelah dicatat untuk
memperkuat apa yang telah dicatat.
Pada awal kehidupan negara Islam, buku-buku akuntansi masih
berupa kertas-kertas terpisah, tidak berbentuk buku yang berjilid. Orang
pertama yang memasukkan buku-buku dan catatan yang terjilid
sebagaimana yang kita kenal pada masa tersebut adalah Khalifah Al Walid
bin Abdul Malik, pada tahun 86-96 H. /706-715 M. (Muhammad Al Marisi
Lasyin, 1973, hal. 36). Ini berarti bahwa hal ini terjadi kurang lebih tujuh
ratus sembilan puluh tahun sebelum munculnya buku Pacioli. Sementara itu,
sistem buku akuntansi ini telah mencapai puncaknya pada masa Daulat
Abasiyyah pada tahun 132-232 H. /750-847 M. Yakni, pada tahun 132 H. /750
M. Khalid bin Burmuk terpilih menjadi kepala Diwan Kharaj (Diwan
pemasukan hasil-hasil pertanian) dan Diwan tentara. Khalid bin Burmuk
melakukan reformasi sistem kedua Diwan tersebut dan mengembangkan
buku-buku akuntansi serta memberi nama khusus terhadapnya.
Pada masa negara Islam, buku catatan pertama dikenal dengan
nama Jaridah. Dari sini tampak garis hubungan antara buku Pacioli yang

terbit pada tahun 1494 M. dan sumber rujukan buku tersebut, karena pada
sebagian yang disebutkannya terdapat banyak kesamaan dengan apa yang
digunakan pada masa negara Islam. Di dalam bukunya, Pacioli telah
menjelaskan bahwa buku catatan pertama yang harus digunakan dikenal
dengan nama Journal dalam bahasa Ingris (Brown dan Johnson, 1963, hal.
43) atau Zornal dalam bahasa Itali sebagaimana dikenal di kota Venice .
(Martinelli, 1977, hal. 25). Dua kata ini, yaitu Journal dan Zornal merupakan
terjemahan secara harfiah dari bahasa Arab, yaitu dari kata Jaridah. Jaridah
adalah nama untuk buku catatan pertama pada masa negara Islam, yaitu
pada masa Daulat Abbasiyyah, sekitar tahun 132 H. /749 M.,yaitu tujuh ratus
empat puluh lima tahun sebelum munculnya buku Pacioli. Dari hal ini dapat
kita simpulkan bahwa asas atau sumber rujukan bagi apa yang dipraktikkan
di Republik Itali sebagaimana tersebut dalam buku Pacioli adalah apa yang
telah dipraktikkan di negara Islam. Di antara yang harus dipraktikkan di
negara Islam adalah pencatatan Jaridah sebelum memakainya. Pencatatan
ini, sebagaimana yang telah kami sebutkan, berlangsung ketika distempel
dengan stempel Sulthan. Praktik ini adalah bagi instansi-instansi
pemerintahan Islam. Barangkali juga bagi pribadi-pribadi dan lembagalembaga khusus. Demikian pula Ibnu Khaldun yang hidup pada masa Daulat
Abbasiyyah dan menulis bukunya tahun 167 H. /784 M. Mengatakan bahwa
seorang akuntan harus memakai buku-buku akuntansi yang sesuai, dan
mencatat namanya di akhir buku, serta menstempelnya dengan stempel
Sulthan. Stempel tersebut memuat nama Sulthan atau simbol khusus bagi
Sulthan. Stempel tersebut dibubuhkan di salah satu sisi buku .(halaman
205). Sesungguhnya penggunaan kata buku-buku akuntansi yang sesuai
oleh Ibnu Khaldun menunjukkan semenjak abad ke-2 Hijriyah dan barangkali
sebelum itu, kaum muslimin menggunakan buku-buku akuntansi yang
beragam sesuai dengan perbedaan karakter kegiatan, baik tingkat negara
maupun pribadi.
Dahulu, Jaridah digunakan untuk mencatat pemasukan-pemasukan
dan pengeluaran-pengeluaran, tetapi secara terpisah. Yakni, ada jaridah
untuk pemasukan dan ada jaridah untuk pengeluaran. Hal ini termasuk
serupa dengan apa yang sekarang dikenal dengan nama Specialised
Journals. Adapun transaksi-transaksi lain dicatat dalam buku yang dikenal
dengan nama Daftarul Yaumiyyah (Daily Book/Buku Harian).
Buku harian yang dikenal di negara Islam tujuh ratus empat puluh
lima tahun sebelum munculnya buku Pacioli adalah buku harian yang
digunakan sekarang di dunia, dan dikenal dengan nama General Journal.
Buku harian ini dikenal di seluruh diwan di samping specialised journals.

Dahulu, buku harian ini digunakan untuk mencatat seluruh transaksi


keuangan khusus bagi diwan dan transaksinya dengan orang lain. Buku ini
serupa dengan apa yang sekarang dikenal di negara-negara Arab dengan
nama Daftarul Yaumiyyatil `Ammah (Buku Harian Umum).
Menurut An Nuwairi, yang meninggal pada tahun 734 H. /1336 M.
atau kurang lebih tiga puluh satu tahun sebelum munculnya buku Al
Mazindani, pekerjaan pembukuan tunduk pada praktik-praktik tertentu dan
jelas. Sebab,seluruh harta yang masuk atau keluar harus dicatat sesuai
urutan waktu terjadinya, juga harus dicatat tanggal terjadinya setiap
transaksi. Demikian pula, keharusan mencatat transaksi menurut urutan
waktu terjadinya tidaklah terbatas pada transaksi-transaksi keuangan saja
atau yang memiliki nilai keuangan, tetapi mencakup juga seluruh transaksi
yang berhubungan dengan diwan dan yang lain. (An Nuwairi, hal. 273--275).
Pencatatan di buku harian berlangsung dari realitas syahid yaitu yang
sekarang dikenal dengan nama journal voucher, yang disiapkan oleh
akuntan, yang melakukan pencatatan di buku. (Muhammad Al Marisi Lasyin,
1973, hal. 131--132). Hal ini menunjukkan kesinambungan pengembangan di
dalam pekerjaan akuntansi yang awalnya bersamaan dengan munculnya
negara Islam tahun 622 M., dan menjadi kokoh pada masa Khalifah Umar
Ibnul Khaththab, serta semakin kokoh pada masa Daulat Abbasiyyah.
Kemudian bertambah berkembang setelah itu sebagaimana yang kita
rasakan dari apa yang disebutkan oleh An Nuwairi.
Daulat Abbasiyyah, 132-232 H. /750-847 M. memiliki banyak
kelebihan dibandingkan yang lain dalam pengembangan akuntasi secara
umum dan buku-buku akuntansi secara khusus. Sebab pada saat itu,
masyarakat Islam menggunakan dua belas buku akuntansi khusus
(Specialized Accounting Books). Buku-buku ini memiliki karakter dan fungsi
dan berkaitan erat dengan fungsi dan tugas yang diterapkan pada saat itu.
Di antara contoh buku-buku khusus yang dikenal pada masa kehidupan
negara Islam itu adalah sebagai berikut:

1.

Daftarun Nafaqat (Buku Pengeluaran). Buku ini disimpan di Diwan


Nafaqat, dan diwan ini bertanggung jawab atas pengeluaran Khalifah, yang
mencerminkan pengeluaran negara.

2.

Daftarun Nafaqat Wal Iradat (Buku Pengeluaran dan Pemasukan). Buku ini
disimpan di Diwanil Mal, dan Diwan ini bertanggung jawab atas pembukuan
seluruh harta yang masuk ke Baitul Mal dan yang dikeluarkannya.

3.

Daftar Amwalil Mushadarah (Buku Harta Sitaan). Buku ini digunakan di


Diwanul Mushadarin. Diwan ini khusus mengatur harta sitaan dari para
menteri dan pejabat-pejabat senior negara pada saat itu. (Muhammad Al
Marisi Lasyin, 1973, hal. 41).
Umat Islam juga mengenal buku khusus yang lain, yang dikenal dengan
nama Al Auraj, yaitu serupa dengan apa yang sekarang dinamakan Daftar
Ustadzil Madinin (Debtors or Accounts Receipable Subsidiary Ledger). Kata
Auraj adalah dari bahasa Parsi, kemudian digunakan dalam bahasa Arab.
Auraj digunakan untuk mencatat jumlah pajak atas hasil tanah pertanian,
yaitu setiap halaman dikhususkan untuk setiap orang yang dibebani untuk
membayar pajak, di dalamnya dicatat jumlah pajak yang harus dibayar, juga
jumlah yang telah dibayar dari pokok jumlah yang harus dilunasi. Penentuan
jumlah pajak yang harus dilunasi didasarkan pada apa yang dinamakan
Qanunul Kharaj (Undang-Undang Perpajakan). (Al Mazindarani 765 H./1363
M.)
Di samping apa yang telah disebutkan, kaum muslimin di negara Islam
mengenal pembagian piutang menjadi tiga kelompok, yaitu:

1.

Ar Raij minal mal, yang dimaksudkan ialah piutang yang memungkinkan


untuk didapatkan, yaitu apa yang sekarang ini dikenal dengan nama Ad
Duyunul Jayyidah, dan dalam bahasa inggris dikenal dengan nama
Collectable Debts.

2.

Al Munkasir minal mal, yang dimaksudkan adalah piutang yang mustahil


untuk didapatkan, yaitu apa yang sekarang dinamakan Ad Duyunul
Madumah, dan dalam bahasa inggris dikenal dengan nama Bad Debts atau
Uncollectable Debts.

3.

Al Mutaadzir wal mutahayyir wal muta`aqqid minal mal, yang


dimaksudkan adalah piutang yang diragukan untuk didapatkan, dan dalam
bahasa inggris dikenal dengan nama Doubtful Debts. (Muhammad Al Marisi
Lasyin, 1973, hal. 141).
Dari pembagian piutang tersebut ada dua hal penting yang patut
didapatkan, yaitu: pertama, pengaruh kehidupan perdagangan terhadap
pekerjaan akuntansi, sebagaimana yang telah kami kemukakan pada
pendahuluan Bab I; dan yang kedua adalah pembagian ini hanya
berpengaruh terhadap penggambaran kondisi keuangan baik bagi negara
maupun pribadi, khususnya untuk tujuan zakat. Sebab, penggambaran
kondisi keuangan menuntut ketelitian dalam penggambaran hak dan
kewajiban. Tidak diragukan lagi bahwa mereka mengetahui pentingnya

inventarisasi para debitur untuk mengetahui apa yang mungkin diperoleh


pada masa-masa mendatang. Jika tidak, tentu mereka tidak segera
mengelompokkan piutang dalam tiga kelompok tersebut. Pengelompokan ini
adalah pengelompokan yang digunakan pada masa kita sekarang tanpa
menyebutkan bahwa sumbernya adalah di negara Islam. Hal ini
mempertegas sekali lagi pentingnya zakat sebagai faktor asasi yang
membantu pengembangan akuntansi. Hal ini jika tidak ada faktor lain, maka
zakat adalah faktor yang pertama. Sebab, perhitungan zakat menuntut
pentingnya inventarisasi para debitur dan kreditur untuk mengetahui
pengaruh para debitur dan kreditur terhadap jumlah zakat.
Katakankanlah,Apakah akan aku jadikan pelindung selain dari Allah yang
menjadikan langit dan bumi, padahal Dia memberi makan dan tidak diberi
makan? katakanlah, Sesungguhnya aku diperintahkan supaya aku menjadi
orang yang pertamakali menyerah diri (kepada Allah), dan jangan sekali-kali
kamu masuk golongan orang-orang musyrik. (Al Anam:14)

Dengan demikian, dapat kita saksikan dari sejarah, bahwa ternyata


Islam lebih dahulu mengenal system akuntansi, karena Al Quran telah
diturunkan pada tahun 610 M, yakni 800 tahun lebih dahulu dari Luca Pacioli
yang menerbitkan bukunya pada tahun 1494. Dari sisi ilmu pengetahuan,
Akuntansi adalah ilmu informasi yang mencoba mengkonversi bukti dan data
menjadi informasi dengan cara melakukan pengukuran atas berbagai
transaksi dan akibatnya yang dikelompokkan dalam account, perkiraan atau
pos keuangan seperti aktiva, utang, modal, hasil, biaya, dan laba.
3.3. Auditing Menurut Al-Qur'an
Dalam Al Quran disampaikan bahwa kita harus mengukur secara adil, jangan
dilebihkan dan jangan dikurangi. Kita dilarang untuk menuntut keadilan
ukuran dan timbangan bagi kita, sedangkan bagi orang lain kita
menguranginya. Dalam hal ini, Al Quran menyatakan dalam berbagai ayat,
antara
lain
dalam
surah
Asy-Syu'ara
ayat
181-184
yang
berbunyi:"Sempurnakanlah takaran dan janganlah kamu termasuk orangorang yang merugikan dan timbanglah dengan timbangan yang lurus. Dan
janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu
merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan dan bertakwalah
kepada Allah yang telah Menciptakan kamu dan umt-umat yang dahulu.
Kebenaran dan keadilan dalam mengukur (menakar) tersebut, menurut Umer
Chapra juga menyangkut pengukuran kekayaan, utang, modal pendapatan,

biaya, dan laba perusahaan, sehingga seorang Akuntan wajib mengukur


kekayaan secara benar dan adil. Seorang Akuntan akan menyajikan sebuah
laporan keuangan yang disusun dari bukti-bukti yang ada dalam sebuah
organisasi yang dijalankan oleh sebuah manajemen yang diangkat atau
ditunjuk sebelumnya. Manajemen bisa melakukan apa saja dalam
menyajikan laporan sesuai dengan motivasi dan kepentingannya, sehingga
secara logis dikhawatirkan dia akan membonceng kepentingannya. Untuk itu
diperlukan Akuntan Independen yang melakukan pemeriksaaan atas laporan
beserta bukti-buktinya. Metode, teknik, dan strategi pemeriksaan ini
dipelajari dan dijelaskan dalam ilmu Auditing. Dalam Islam, fungsi Auditing
ini disebut "tabayyun" sebagaimana yang dijelaskan dalam Surah Al-Hujuraat
ayat 6 yang berbunyi: "Hai orang-orang yang beriman, jika datang
kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan
teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum
tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas
perbuatan itu.
Kemudian, sesuai dengan perintah Allah dalam Al Quran, kita harus
menyempurnakan pengukuran di atas dalam bentuk pos-pos yang disajikan
dalam Neraca, sebagaimana digambarkan dalam Surah Al-Israa' ayat 35
yang berbunyi: "Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar, dan
timbanglah dengan neraca yang benar. Itulah yang lebih utama (bagimu)
dan lebih baik akibatnya." Dari paparan di atas, dapat kita tarik kesimpulan,
bahwa kaidah Akuntansi dalam konsep Syariah Islam dapat didefinisikan
sebagai kumpulan dasar-dasar hukum yang baku dan permanen, yang
disimpulkan dari sumber-sumber Syariah Islam dan dipergunakan sebagai
aturan oleh seorang Akuntan dalam pekerjaannya, baik dalam pembukuan,
analisis, pengukuran, pemaparan, maupun penjelasan, dan menjadi pijakan
dalam menjelaskan suatu kejadian atau peristiwa.
Dasar hukum dalam Akuntansi Syariah bersumber dari Al Quran, Sunah
Nabwiyyah, Ijma (kesepakatan para ulama), Qiyas (persamaan suatu
peristiwa tertentu, dan Uruf (adat kebiasaan) yang tidak bertentangan
dengan Syariah Islam. Kaidah-kaidah Akuntansi Syariah, memiliki
karakteristik khusus yang membedakan dari kaidah Akuntansi Konvensional.
Kaidah-kaidah Akuntansi Syariah sesuai dengan norma-norma masyarakat
islami, dan termasuk disiplin ilmu sosial yang berfungsi sebagai pelayan
masyarakat pada tempat penerapan Akuntansi tersebut.
Sistem ekonomi islam sudah mulai dipraktikkan dilapangan dan bukan hanya
menjadi bahan diskusi para ahli. Pada awalnya sistem ini diterapkan dalam

sektor perbankan, dan kemudian juga merambat pada sektor keuangan


lainnya seperti asuransi dan pasar modal. Perkembangannya sangat pesat,
saat ini tidak kurang dari 200 lembaga keuangan Islam telah beroperasi
menerapkan sistem ekonomi islam yang terdapat diberbagai belahan dunia
bukan saja dinegara Islam tetapi juga di negara non muslim. Dengan
munculnya sistem tersebut mau tidak mau lembaga ini pasti memiliki
perbedaan dengan lembaga konvensional, karena ia dioperasikan dengan
menggunakan sistem nilai syariah yang didasarkan pada kedaulatan Tuhan
bukan kedaulatan rasio ciptaan Tuhan yang terbatas. Dengan demikian maka
sistem yang berkaitan dengan eksistensi lembaga ini juga perlu menerapkan
nilai-nilai islami jika kita ingin menerapkan nilai-nilai Islami secara konsisten.
Maka disinilah relevansi perlunya sistem auditing Islami dalam melakukan
fungsi audit terhadap lembaga yang dijalankan secara Islami ini.
3.4. Dewan Pengawas Syariah
Dewan Pengawas Syariah adalah lembaga independen atau hakim
khusus dalam fiqih muamalat (Sofyan S.Harahap 2002). Dewan Pengawas
Syariah merupakan suatu badan yang diberi wewenang untuk melakukan
supervise/pengawasan dan melihat secara dekat aktivitas lembaga
keuangan syariah agar lembaga tersebut senantiasa mengikuti aturan dan
prinsip-prinsip syariah. Dewan Pengawas syariah (DPS) berkewajiban secara
langsung melihat pelaksanaan suatu lembaga keuangan syariah agar tidak
menyimpang dari ketentuan yang telah difatwakan oleh Dewan Syariah
Nasional (DSN) Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang berkedudukan di Jakarta.
DPS melihat secara garis besar dari aspek manajemen dan administrasi
harus sesuai dengan syariah, dan yang paling utama sekali mengesahkan
dan mengawasi produk-produk perbankan syariah agar sesuai dengan
ketentuan syariah dan undang-undang yang berlaku. Inilah salah satu yang
membedakan dengan perbankan konvensional yang tidak mengacu pada
ketentuan syariah.
Dewan ini sekurang-kurangnya berjumlah tiga orang, dan dibolehkan
menunjuk beberapa orang pakar ekonomi untuk membantu tugasnya,
namun anggotanya tidak boleh merangkap sebagai direktur atau komisaris
utama (Pressident commissioner atau significant shareholders) dari institusi
keuangan tersebut. Pembubaran atau penggantian anggota dewan syariah
mesti mendapat rekomendasi direktur dan mendapat pengesahan dari
pemegang saham (shareholders) dalam Rapat UmumPemegang Saham
(RUPS) atau general meeting.

Dewan Pengawas Syariah pada dasarnya merupakan perpanjangan


tangan Dewan Syariah Nasional (DSN) dalam merealisasikan fatwa-fatwa
yang telah diputuskan DSN . DPS berperan sebagai pengawas dari lembagalembaga keuangan syariah; bank syariah, asuransi syariah, pasar modal
syariah,dan lain-lain. DPS tidak terlibat secara langsung dalam pelaksanaan
manajemen lembaga keuangan syariah karena hal ini sudah menjadi
tanggung jawab langsung dibawah wewenang direksi suatu lembaga
keuangan syariah. Namun DPS berhak memberikan masukan (in-put)
kepada pihak pelaksana lembaga tersebut.
3.5. Accounting and Auditing Standards for Islamic Financial Institution
(AAOIFI)
Pada awalnya organisasi ini bernama Financial Accounting Organization
for Islamic Banks and Financial Institution di dirikan pada tanggal 1 Safar
1410 H atau 26 Pebruari 1990 di Aljiria.
Prinsip Umum Audit AAOIFI;
1.

Auditor lembaga keuangan Islam harus mematuhi Kode etik profesi


akuntan yang dikeluarkan oleh AAOIFI dan the International Federation of
Accountants yang tidak bertentangan dengan aturan dan prinsip Islam.

2.

Auditor harus melakukan auditnya menurut standar yang dikeluarkan


oleh Auditing Standar for Islamic Financial Institutions (ASIFIs).

3.

Auditor harus merencanakan dan melaksanakan audit dengan


kemampuan professional, hati-hati dan menyadari segala keadaan yang
mungkin ada yang menyebabkan laporan keuangan salah saji.
Pendekatan dalam perumusan sistem ini adalah seperti yang dikemukakan
oleh Accounting and Auditing Standards for Islamic Financial Institution
(AAOIFI) yaitu :

1.

Menentukan tujuan berdasarkan prinsip Islam dan ajarannya kemudian


menjadikan tujuan ini sebagai bahan pertimbangan dengan mengaitkannya
dengan pemikiran akuntansi yang berlaku saat ini.

2.

Memulai dari tujuan yang ditetapkan oleh teori akuntansi kapitalis


kemudian mengujinya menurut hukum syariah, menerima hal-hal yang
konsisten dengan hukum syariah dan menolak hal-hal yang bertentangan
dengan syariah.
Kode Etik Profesi Akuntan Islam

Bagaimana pengatauran Kode Etik Profesinya? Etika sering disebut moral


akhlak, budi pekerti adalah sifat dan wilayah moral, mental, jiwa, hati nurani
yang merupakan pedoman perilaku yang idial yang seharusnya dimiliki oleh
manusia sebagai mahluk moral. Kode Etik Akuntan ini adalah merupakan
bagian yang tidak terpisahkan dari syariah islam. Dalam sistem nilai Islam
syarat ini ditempatkan sebagai landasan semua nilai dan dijadikan sebagai
dasar pertimbangan dalam setiap legislasi dalam masyarakat dan negara
Islam. Namun disamping dasar syariat ini landasan moral juga bisa diambil
dari hasil pemikiran manusai pada keyakinan Islam. Beberapa landasan
Kode Etik Akuntan Muslim ini adalah :
1.

Integritas : Islam menempatkan integritas sebagai nilai tertinggi yang


memandu seluruh perilakunya. Islam juga menilai perlunya kemampuan,
kompetensi dan kualifikasi tertentu untuk melaksanakan suatu kewajiban;

2.

Keikhlasan : Landasan ini berarti bahwa akuntan harus mencari


keridhaan Allah dalam melaksanakan pekerjaannya bukan mencari nama,
pura-pura, hipokrit dan sebagai bentuk kepalsuan lainnya. Menjadi ikhlas
berarti akuntan tidak perlu tunduk pada pengaruh atau tekanan luar tetapi
harus berdasarkan komitmen agama, ibadah dalam melaksanakan fungsi
profesinya. Tugas profesi harus bisa dikonversi menjadi tugas ibadah;

3.

Ketakwaan : Takwa merupakan sikap ketakutan kepada Allah baik dalam


keadaan tersembunyi maupun terang-terangan sebagai salah satu cara
untuk melindungi seseorang dari akibat negatif dari perilaku yang
bertentangan dari syariah khususnya dlam hal yang berkitan dengan
perilaku terhadap penggunaan kekayan atau transaksi yang cenderung pada
kezaliman dan dalam hal yang tidak sesuai dengan syariah;

4.

Kebenaran dan Bekerja Secara Sempurna : Akuntan tidak harus


membatasi dirinya hanya melakukan pekerjaan-pekerjaan profesi dan
jabatannya tetapi juga harus berjuang untuk mencari dan mnenegakkan
kebenaran dan kesempurnaan tugas profesinya dengan melaksanakan
semua tugas yang dibebankan kepadanya dengan sebaik-baik dan
sesempurna mungkin. Hal ini tidak akan bisa direalisir terkecuali melalui
kualifikasi akademik, pengalaman praktik, dan pemahaman serta
pengalaman keagamaan yang diramu dalam pelaksanaan tugas profesinya.
Hal ini ditegaskan dalam firman Allah dalam Surat An Nahl ayat 90 :
Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berbuat adil dan berbuat kebajikan,
dan dalam Surat Al Baqarah ayat 195 : Dan berbuat baiklah, karena
sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik

5.

Takut kepada Allah dalam setiap Hal : Seorang muslim meyakini


bahwa Allah selalu melihat dan menyaksikan semua tingkah laku hambaNya
dan selalu menyadari dan mempertimbangkan setiap tingkah laku yang tidak
disukai Allah. Ini berarti sorang akuntan/auditor harus berperilaku takut
kepada Allah tanpa harus menunggu dan mempertimbangkan apakah orang
lain atau atasannya setuju atau menyukainnya. Sikap ini merupakan sensor
diri sehingga ia mampu bertahan terus menerus dari godaan yang berasal
dari pekerjaan profesinya. Sikap ini ditegaskan dalam firman Allah Surat An
Nisa ayat 1 : Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. Dan
dalam Surat Ar Rad Ayat 33 Allah berfirman : Maka apakah Tuhan yang
menjaga setiap diri terhadap apa yang diperbuatnya (sama dengan yang
tidak demikian sifatnya). Sikap pengawasan diri berasal dari motivasi diri
berasal dari motivasi diri sehingga diduga sukar untuk dicapai hanya dengan
kode etik profesi rasional tanpa diperkuat oleh ikatan keyakinan dan
kepercayaan akan keberadaan Allah yang selalu memperhatikan dan melihat
pekerjaan kita. Sebagaimana firman Allah dalam Surat Thaha ayat 7 :
Sesungguhnya dia mengetahui rahasia dan apa yang lebih tersembunyi;

6.

Manusia bertanggungjawab dihadapan Allah : Akuntan Muslim harus


meyakini bahwa Allah selalu mengamati semua perilakunya dan dia akan
mempertanggungjawabkan semua tingkah lakunya kepada Allah nanti di hari
akhirat baik tingkah laku yang kecil amupun yang besar. Sebagaimana
firman Allah dalam Surat Al Zalzalah ayat 7-8 : Barang siapa yang
mengerjakan kebaikan seberat zarrah niscaya dia akan melihat (balasan)
nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarrahpun
niscaya dia akan melihat balasnya pula.

Oleh karena itu akuntan/auditor harus selalu ingat bahwa dia akan
mempertanggungjawabkan semua pekerjaannya dihadapan Allah dan juga
kepada publik, profesi, atasan dan dirinya sendiri. Gambaran singkat ini
mudah-mudahan menggugah kita bahwa auditing syariah sudah mulai
berkembang sejalan dengan perkembangan sistem ekonomi islam.
BAB IV
KESIMPULAN

Dari tulisan ini kami berkesimpulan sebagai berikut ;

1.

Auditing dan akuntansi dalam Islam sudah dikenal dizaman Rasulullah


berarti 14 abad silam, beliau mendidik secara khusus beberapa sahabat
untuk menangani perofesi akuntan dengan sebutan hafazhatul amwal hal
ini merujuk Al-Qur'an surat al-Baqarah ayat 282 yang secara explisit
menjelaskan fungsi-fungsi pencatatan transaksi, dasar-dasarnya, dan
manfaat-manfaatnya, seperti yang diterangkan dalam kaidah-kaidah hukum
yang harus dipedomani. Rasulullah memiliki 42 orang penulis yang memiliki
spesialisasi didalam pemerintahannya di Madinah, Rasulullah memilih
pegawainya dari kalangan sahabat yang memiliki kapabilitas serta
kemampuan dan kelayakanuntuk menduduki jabatan yang diamanatkan.

2.

Pada masa awalnya buku pencatatan dalam Islam dinamakan jaridah


yaitu pada masa pemerintahan Daulat Abbasiyyah, sekitar tahun 132 H. ini
menunjukan bahwa Daulat Abbasiyyah sudah mengenal akuntasi tujuh ratus
empat puluh lima tahun sebelum penulis Italia Pacioli yang menulis journal
dalam bahasa Inggris, secara etimologi dua kata journal dan Zornal
adalah makna dari kata jaridah buku catatan pertama pada Negara Islam.
Dengan semakin berkembangnya system keuangan dimasa Abbasiyyah,
maka semakin spesipik pencatatan-pencatatan transaksi keuangan dengan
ditemukannya berbagai macam buku, mulai dari pendapatan, biaya, harta,
hingga buku hutang dan piutang. Dengan demikian, dapat dilihat dari
sejarah bahwa Islam ternyata lebih dahulu mengenal system akuntansi,
karena Al-Qur'an telah diturunkan 610 M, yakni 800 tahun lebih dari buku
yang yang ditulis Luca Pacioli pada tahun 1494.

3.

Al-Ghazali menekankan bahwa perkembangan tujuan penggunaan


akuntansi adalah perhatian terhadap pengawasan diri, ini adalah dasar dari
pengawasan yang lebih luas lagi karena jika seseorang telah mengawasi
dirinya, maka ia telah melakukan evaluasi terhadap dirinya sehingga
pengawasan institusi atau organisasi yang lebih luas hasilnya akan lebih
baik, dan pada akhirnya menghasilakan kinerja keuangan yang kredibel. Hal
ini berdasarkan Al-Qur'an menyatakan dalam berbagai ayat, antara lain
dalam surah al-Baqarah ayat 284.

4.

Para auditor, dalam menjalankan fungsinya secara hukum berpedoman


kepada kode etik yang dikeluarkan oleh AAOIFI dan International Federation
of Accountants yang tidak bertentangan dengan aturan dan prinsip Islam.
AAOIFI di dirikan pada tanggal 1 Safar 1410 atau 26 Pebruari 1990 di Aljiria.
Di Indonesia telah dibentuk Dewan Syariah Nasional dan Dewan Pengawas
Syariah pada tahun 2000, dan dibawah naungan Majelis Ulama Indonesia
(MUI).

DAFTAR PUSTAKA
Sofyan S. Harahap Auditing Dalam Perspektif Islam Pustaka Quantum Jakarta
2002
Sofyan S. Harahap Teori Akuntansi Laporan Keuangan Bumi Aksara Jakarta
1994
Sofyan S. Harahap Menuju Perumusan Teori Akuntansi Islam Pustaka
Quantum Jakarta 2001 Kell, Johnson, William C. Boynton. Modern Auditing.
Seventh Edition. New York.. John
Wiley & Sons. 2001

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Banyak yang terjadi pada sistem auditing yang belum sesuai dengan standard
auditing itu sendiri, apalagi standard auditing syariah yang harus diuji
kebenarannya dan sesuai dengan standard auditing syariah yang telah ditetapkan.
Dari itu kami ingin membahas tentang standard auditing syarah yang telah
ditetapkan.
Dalam auditing syariah banyak hal yang hal yang berbeda dengan auditing lainnya,
atau sistem auditing yang umum. Maka dari itu kami ingin memaparkan standard
auditing syariah yang telah ditetapkan oleh AAOIFI.
B. Tujuan
Tujuan kami membuat makalh ini adalah untuk menjelaskan standard auditing
syariah yang telah ditetapan oleh AAOIFI, sehingga para pihak audit bisa
terstruktur dalam melakukan audit baik pada lembaga keuangan maupun instansi
lain yang terkait.
BAB II
STANDARD AUDITING AAOIFI
A. Standard Auditing untuk LKS (lembaga keuangan syariah) AAOIFI
1. Tujuan organisasi ini adalah
a. Mengembangkan pemikiran akuntansi dan auditing yang relefan dengan lembaga
keuangan
b. menyamakan pemikiran akuntansi dan auditing yang relevan pada lembaga
keuangan dan penerapannya melalui pelatihan, seminar, penerbitan jurnal yang
berkaitan dengan hasil riset
c. menyajikan, mengumumkan dan menafsirkan standard akuntansi dan auditing
untuk lembaga keuangan islam

d. mereviu dan merubah standard akuntansi dan auditing untuk lemnaga keuangan
islam
struktur orgsnisasi AAOIFI ini terdiri dari general asembley (majlis umum) yang
beranggotakan pendiri dan nonpendiri. Anggota Board of trustees terdiri dari
a. Badan pengatur dan pengawas
b. Lembaga keuangan islam
c. DPS
d. Profesor dari berbagai universitas
e. Organisasi dan Asosiasi yang bertugas mengatur profesi akuntansi dan atau yang
bertanggung jawab untuk menyusun standard akuntansi dan auditing
f. Akuntan terdaftar
g. dan para pemakai laporan keuangan lembaga keuangan islam
3. wewenang dari board of trustees
a. Menunjuk dan memberhentikan Chairman dan Anggota Acounting dan auditing
standad boards
b. Mengatur sumber dana AAOIFI
c. Menunjuk komite Eksekutif diantara anggota Board of trustees dan standard
board
d. Menunjukkan sekretaris jendral
Namun mereka ini tidak berhak untuk mengarahkan atau mempengaruhi standard
board dalam merumuskan standard Akuntansi dan auditing dalam bentuk apapun.
Standard auditing menurut AAOIFI atau dikenal dengan nama Auditing standard
for Islamic institution (ASIFIs) No 1 dengan judul Tujuan dan Prinsip Audit yang
disusun oleh tim yang beranggotakan 14 orang dan standard ini berlaku sejak
tanggal 1 Muharram 1418 H atau 1 Januari 1998. standard ini disahkan pada
pertemusn Dewan yang ke 11 yang dilaksanakan pada tanggal 2-3 Muharram 1417
atau 19-20 Mei 1996. dewan diketuai oleh Abdul Malik yoesef Al Hamar.
3. Tujuan standard Auditing
Tujuan dari standard auditing untuk lembaga keuangan adalah untuk menetapkan
standard dan memberikan pedoman mengenai tujuan dan prinsip umum
pelaksanaan aidit atas laporan keuangan yang disajikan oleh lembaga keungan
islam yang beroperasi sesuai dengan prinsip dan aturan syariah.
Tujuan audit adalah agar auditor mampu menyatakan suatu pendapat apakah
laporan keungan yang disusun oleh lembaga keuangan itu, dari semua aspek yang
bersifat material true and fair atau benar dan wajar sesuai dengan aturan dan
prinsip syariah,standard Akuntansi IIAOIFI, serta standard dan praktek Akuntansi
nasional yang berlaku di Negara itu.
4. Prinsip umum Audit AAOIFI adalah:
a. auditor lembaga keuangan islam harus mematuhi kode etik profesi akuntan
yang dikeluarkan oleh AAOIFI dan the international federation of accountants yang

tidak bertentangan dengan aturan dan prinsip islam


b. auditor harus melakukan auditnya menurut standard yang dikeluarkan oleh
auditing standard for Islamic financial institutions (ASIFIs)
c. auditor harus merencanakan dan melaksanakan audit dengan kemampuan
profesinal, hati-hati dan menyadari segala keadaan yang mungkin ada yang
menyebabkan laporan keuangan salah saji
5. Skop Audit
Skop audit adalah cakupan audit yang harus dilaksanakan oleh auditor dalam
melaksanakan audit atas Lembaga Keuangan Islam. Prosedur yang dibutuhkan
untuk melakukan audit sesuai dengan standard audit untuk lembaga keuangan
islam ini harus ditentukan oleh auditor dengan berpedoman pada persyaratan yamg
ditentukan oleh:
a. Aturan dan Prinsip Islam
b. Standard ASIFIs
c. Badan Profesi Resmi
d. Peraturan Legislasi lainnya
e. Peraturan dan prinsip yang tidak bertentangan dengan aturan islam yang
berkaitan dengan penugasan
f. International Standard on Auditing dianggap termasuk didalam aturan ini
sepanjang tidak bertentangan dengan ASIFIs
6. Keyakinan yang wajar
Audit dilakukan untuk memberikan keyakinan yang wajar bahwa laporan keuangan
secara menyeluruh bebas dari kesalahan saji material. Namun demikain kita harus
juga menyadari bahwa ada keterbatasan kemapuan auditor dalam menemukan
kesalahan saji itu. Keterbatasan itu berasal dari:
a. Penggunaan metode sampling dalam audit
b. Keterbatasan sistem akuntansi, pengawasan internal
c. Kemungkinan kolusi yang tidak ditemukan
d. Fakta yang menyatakan bahwa sebagian besar bukti itu bersifat persuasif bukan
bersifat konklusif
e. Pendapat akuntan itu sendiri adalah
Judgment yang diambil dari proses pengumpulan bukti audit yang dilakukan
secara judgment juga, misalnya dalam menentukan waktu, batas dan luas
pemeriksaan.
Judgment sewaktu mengambil kesimpulan dari bukti yang dikumpulkan, misalnya
dalam menilai kewajaran, taksiran, yang dibuat manajement dalam laporan
keuangan
f. Laporan keuangan itu sendiri mengandung transaksi yang dilakukan dengan pihak
yang memiliki hubungan istimewa
7. Tanggung jawab terhadap laporan keuangan
Audotor bertanggungjawab untuk menetapkan dan menyatakan pendapat atas
laporan keuangan. Sedangkan manajemen bertanggungjawab menyajikan laporan

keuangan yang sesuai dengan aturan dan prinsip syariah dan peraturan resmi
lainnya. Pelaksanaan audit tidak berarti melepaskan tanggungjawab manajemen
terhadap penyajian laporan keuangan.

8. Prinsip etika profesi:


Prinsip etika yang mengatur professi dan tanggungjawab akuntan adalah:
a. kebenaran (righteousness)
b. integritas (integrity)
c. dapat dipercaya (trustworthiness)
d. keadilan dan kewajaran (fairness)
e. kejujuran (honestly)
f. bebas dari segala kepentingan (independent)
g. objektif (objectivity)
h. kemampuan professional (professional competence)
i. bekerja hati-hati (due professional care)
j. menjaga kerahasiaan (confidentiality)
k. perilaku professional (professional behaviour)
l. menguasai standard teknis (technical standars)
BAB III
PENUTUP
1. Kesimpulan
Standard auditing menurut AAOIFI atau dikenal dengan nama Auditing standard
for Islamic institution (ASIFIs) No 1 dengan judul Tujuan dan Prinsip Audit yang
disusun oleh tim yang beranggotakan 14 orang dan standard ini berlaku sejak
tanggal 1 Muharram 1418 H atau 1 Januari 1998. standard ini disahkan pada
pertemusn Dewan yang ke 11 yang dilaksanakan pada tanggal 2-3 Muharram 1417
atau 19-20 Mei 1996. dewan diketuai oleh Abdul Malik yoesef Al Hamar.
Tujuan dari standard auditing untuk lembaga keuangan adalah untuk menetapkan
standard dan memberikan pedoman mengenai tujuan dan prinsip umum
pelaksanaan aidit atas laporan keuangan yang disajikan oleh lembaga keungan
islam yang beroperasi sesuai dengan prinsip dan aturan syariah.
2. Saran
Saran kami dalam makalah ini adalah sebaiknya demi kemajuan dalam sebuah
perusahaan maka perlu adanya standard auditing yang telah ditetapkan oleh AAOIFI
yang bisa dijadikan sebagai pedoman atau arahan bagi lembaga keuangan syariah
yang beroperasi diseluruh dunia ini.
DAFTAR PUSTAKA
Sofyan safri harahap, Auditing dalam perspektif islam,Pustaka Quantum,

Jakarta.2002.
Standard auditing syariah www.indoskripsi.com

KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, puji dan
syukur kehadirat Allah SWT berkat rahmat dan karunianya kepada kami sehingga
kami dapat menyelesaikan makalah ini, shalawat serta salam kita hadiahkan keatas
junjungan kita Nabi Muhammad SAW.
Berkat pertolongan Allah SWT, kami dapat menyelesaikan makalah ini yang judul
pembahasannya adalah tentang Standard Auditing AAOIFI. Kami menyadari
sepenuhnya bahwa penyusunan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan karena
kesempurnaan hanyalah milik Allah. Oleh karena itu, kami mengharapkan adanya
saran yang membangun dari teman-teman dan para pembaca agar makalah ini
dapat tersusun dengan lebih baik, dan juga untuk perbaikan selanjutnya.
Demikianlah semoga Allah SWT, memberikan ridho-Nya kepada kita semua. Amin

Bengkalis, 05 Mei 2008

Penulis
DAFTAR ISI
Kata Pengantar ii
Daftar Isi i
BAB I : Pendahuluan 1
A. Latar Belakang 1
B. Tujuan 1
BAB II : Standard Auditing AAOIFI 2
A. Standard Auditing untuk LKS 2
1. Tujuan Organisasi 2
2. Wewenang dari Board of trustees 3
3. Tujuan Standard Auditing 3
4. Prinsip umum Audit AAOIFI 4
5. Skop Audit 4
6. Keyakinan yang wajar 5
7. Tanggung Jawab terhadap laporan keuangan 5
8. Prinsip etika profesi 6
BAB III: Penutup 7

A. Kesimpulan 7
B. Saran 7
Daftar Pustaka 8
DEWAN PENGAWAS SYARIAH
(data yang kami gunakan kurang update, jadi salahkan di cek kembali)

BAB I
PENDAHULUAN
A.

B.
1.
2.
3.
C.
1.
2.
3.

Latar Belakang
Pesatnya perkembangan bisnis syariah yang terjadi di sektor perbankan,
asuransi, pasar modal dan jasa keuangan syariah lainnya. Akan tetapi dalam
mendukung kinerjanya perlu peran Dewan Pengawas Syariah (DPS).
Dewan Pengawas Syariah (DPS) merupakan salah satu bagian penting dari
institusi Lembaga Keuangan Syariah (LKS) di Indonesia. Kedudukan dan fungsinya
secara sederhana hanya diatur dalam salah satu bagian dalam SK yang dikeluarkan
oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang berkenaan tentang susunan pengurus
DSN-MUI.
Untuk itu perlu kiranya kita membahas mengenai Dewan Pengawas Syariah
yang merupakan lembaga memberikan fatwa dalam hal boleh atau tidaknya dalam
melakukan transaksi tersebut. Untuk itu ada beberapa permasalah.
Rumusan Masalah
Pengertian Dewan Pengawas Syariah?
Peran Dewan Pengawas Syariah?
Problematika Dewan Pengawas Syariah?
Tujuan
Mengetahui apa yang dimaksud dengan Dewan Pengawas Syariah
Mengetahui apa peran Dewan Pengawas Syariah terhadap Perusahaan
Mengetahui Problematika Dewan Pengawas Syariah dan memberikan Solusi
terhadap masalah yang terjadi.

BAB II
PEMBAHASAN
A.
1.
2.
3.
4.
5.
B.
1.
2.
3.
1.
2.
3.
4.

5.
6.
C.
1.
2.
1.

Pengertian, Kedudukan, Status, dan Anggota DSN 1[1]


Dewan Syariah Nasional adalah Dewan yang dibentuk oleh MUI untuk menangani
masalah-masalah yang berhubungan dengan aktivitas lembaga keuangan syariah.
DSN merupakan bagian dari Majelis Ulama Indonesia
DSN membantu pihak terkait, seperti Departemen keuangan, Bank Indonesia, dan
lain-lain dalam menyusun peraturan/ ketentuan untuk lembaga keuangan syariah
Anggota DSN terdiri dari para ulama, praktisi, dan para pakar dalam bidang yang
terkait dengan muamalah syariah
Anggota DSN ditunjuk dan diangkat oleh MUI dengan masa bakti sama dengan
periode masa bakti pengurus MUI Pusat 5 (lima) tahun.
Tugas dan Wewenang DSN2[2]
Tugas DSN
Menumbuhkembangkan
penerapan
nilai-nilai
syariah
dalam
kegiatan
perekonomian pada umumnya dan keuangan pada khususnya
Mengeluarkan fatwa atas jenis-jenis kegiatan keuangan
Mengeluarkan fatwa atas produk dan jasa keuangan syariah
Wewenang
Mengeluarkan fatwa yang mengikut DPS di masing-masing lembaga keuangan
syariah dan menjadi dasar tindakan hukum pihak terkait
Mengeluarkan fatwa yang menjadi landasan bagi ketentuan/ peraturan yang
dikeluarkan oleh instansi yang berwenang, seperti depkeu dan BI
Memberikan rekomendasi dan/ atau mencabut rekomendasi naa-nama yang akan
duduk sebagai DPS pada suatu lembaga keuangan syariah
Mengundang para ahli menjelaskan sautu masalah yang diperlukan dalam
pembahasan ekonomi syariah, termasuk otoritas moneter/ lembaga keuangan
dalam maupun luar negeri
Memberikan peringatan kepada lembaga keuangan syariah untuk menghentikan
penyimpangan dari fatwa yang telah dikeluarkan oleh DSN
Mengusulkan kepada instansi yang berwenang untuk mengambil tindakan apabila
peringatan tidak diindahkan.
Pengertian, Fungsi dan Struktur DPS3[3]
Dewan Pengawas Syariah adalah badan yang ada dilembaga keuangan syariah
tersebut.
Dewan Pengawas Syariah diangkat dan diberhentikan di Lembaga Keuangan
Syariah melalui RUPS setelah mendapat rekomendasi dari DSN.
Fungsi Dewan Pengawas Syariah adalah sebagai berikut:
DPS melakukan pengawasan secara periodik pada lembaga keuangan syariah yang
berada di bawah pengawasannya.
1[1] Muhammad Syakir Sula, Asuransi Syariah (life and general), (Jakarta: Gema
Insani Press, 2004), h. 543
2[2] Ibid.
3[3] Ibid, h. 541-542

2.

DPS berkewajiban mengajukan usul-usul pengembangan lembaga keuangan


syariah kepada pimpinan lembaga yang bersangkutan dan kepada DSN.
3.
DPS melaporkan perkembangan produk dan operasional lembaga keuangan
syariah yang diawasinya kepada DSN sekurang-kurangnya dua kali dalam satu
tahun anggaran.
4. DPS merumuskan permasalahan-permasalahan yang memerlukan pembahasanpembahasan DSN.

1.
2.

3.
4.
5.

Struktur DPS
DPS dalam struktur perusahaan berada setingkat dengan fungsi komisaris sebagai
pengawas Direksi.
Jika fungsi komisaris adalah pengawas dalam kaitan dengan kinerja manajemen,
maka DPS melakukan pengawasan kepada manajemen, dalam kaitan dengan
implementasi sistem dan produk-produk agar tetap sesuai dengan syariah Islam.
Bertanggung jawab atas pembinaan akhlak seluruh karyawan berdasarkan sistem
pembinaan keislaman yang telah diprogramkan setiap tahunnya.
Ikut mengawasi pelanggaran nilai-nilai Islam di lingkungan perusahaan tersebut.
Bertanggung jawab atas seleksi syariah karyawan baru yang dilaksanakan oleh
Biro Syariah.
Contoh struktur organisasi di PT. Bank Mandiri Syariah tbk: 4[4]
[4] DPS dibentuk oleh BANK MANDIRI SYARIAH berdasarkan pengesahan RUPS

setelah adanya Keputusan Dewan Syariah Nasional (DSN) dan persetujuan BI.
Tujuan dan tugas utamanya adalah mewakili pihak DSN untuk membantu
independensi fungsi pengawasan terhadap pelaksanaan fatwa-fatwa DSN. DPS juga
bertugas mengarahkan, memeriksa dan mengawasi kegiatan Bank guna menjamin
bahwa Bank telah beroperasi sesuai dengan aturan dan prinsip-prinsip syariah. Saat
ini DPS beranggotakan 3 (tiga) orang dengan komposisi :a. Ketua DPS (pihak
independen berpengetahuan fiqih syariah)
b.

Anggota DPS (pihak independen berpengetahuan fiqih dan ekonomi syariah)

c.

Anggota DPS (pihak independen berpengetahuan perbankan syariah)


DPS terus meningkatkan perannya terhadap pelaksanaan operasional Bank secara
keseluruhan dalam laporan publikasi Bank dan mengkaji produk/jasa baru yang
belum ada fatwanya untuk dimintakan kepada DSN. Laporan hasil pengawasan
syariah dibuat mengikuti ketentuan yang berlaku untuk disampaikan kepada
Direksi, Komisaris, DSN, dan BI. (sumber:
http://arifsubarkah.wordpress.com/2010/04/12/struktur-organisasi-pt-bank-mandirisyariah/)

Sebagai contoh DPS di BSM adalah sebagai berikut:

Prof. DR. Komaruddin Hidayat


Ketua

D.

Dr. Muhammad Syafii


Antonio, MEc

Drs. H. Mohamad
Hidayat, MBA.

Anggota

Anggota

DPS berdasarkan AAOIFI5[5]


Organisasi akuntansi dan audit atas institusi finansial Islami (Accounting and
Auditing Organization of Islamic Financial Institutions = AAOIFI) telah menyiapkan
standar untuk dewan pengawas Syariah, komposisinya, dan aspek terkaitnya
seperti peraturan, laporan dan sebagainya. Menurut standar ini, dewan syariah
harus merupakan dewan independen yang terdiri atas banyak fuqaha terkait ilmu
hukum komersial Islami. Ia dapat pula terdiri atas ahli-ahli lain dalam bidang
institusi finansial Islami dengan pengetahuan mengenai ilmu hukum Islami yang
berkaitan dengan transaksi komersial.
Dewan syariah dipercayai dengan tugas untuk mengarahkan, meninjau, dan
mengawasi aktivitas institusi finansial Islami guna memastikan ia telah sesuai
dengan peraturan dan prinsip syariah Islami. Fatwa dan peraturan dewan pengawas
syariah bersifat mengikat bagi institusi finansial Islami.
Menurut standar AAOIFI, dewan syariah setidaknya harus terdiri atas tiga
anggota cendekiawan syariah. Ia dapat mencari jasa dari konsultan yang memiliki
keahlian dalam bisnis, ekonomi, hukum, akuntansi, dan/atau bidang lain. Ia
seharusnya tidak memasukkan direktur atau pemegang saham signifikan dari
institusi finansial Islami.
Berikut rumusan kata ilustratif dari laporan dewan syariah mengenai kegiatan
institusi finansial Islami:
kita telah meninjau prinsip dan kontrak (akad) yang berkaitan dengan transaksi
dan aplikasi yang diperkenalkan oleh institusi finansial Islami (IFI) selama periode
yang berakhir..... kita juga telah melakukan peninjauan guna membentuk opini
mengenai apakah institusi telah mengikuti peraturan dan prinsip syariah serta juga
sesuai dengan fatwa, peraturan, dan pedoman spesifik yang diterbitkan oleh kami.
(AAOIFI, 2004-5b, Standar Pemerintah No. 1 Dewan Pengawas Syariah, paragraf 13)
5[5] Muhammad Ayub, Understanding Islamic Finance, diterjemahkan oleh Aditya
Wisnu Pribadi, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009), h. 590-591

Kami telah melakukan peninjauan, yang melibatkan pemeriksaan, dengan


menggunakan tes untuk setiap jenis transaksi, dokumentasi dan prosedur yang
relevan yang diadopsi oleh IFI. Kami merencanakan dan melakukan peninjauan
guna memperoleh semua informasi dan penjelasan yang kami anggap perlu dalam
memberi kami bukti yang memadai untuk memberikan kepastian yang sewajarnya
bahwa institusi terkait tidak melanggar peraturan dan prinsip syariah (AAOIFI,
2004-5b, Standar Pemerintah No. 1 Dewan Pengawas Syariah, paragraf 16)
Dewan syariah seharusnya hanya memusatkan perhatian pada kesesuaian
syariah dari struktur finansial, termasuk produk, dokumentasi, dan proses transaksi.
Bila diperlukan, laporan dari dewan harus mencantumkan pernyataan yang jelas
bahwa laporan keuangan telah diperiksa untuk kesesuaianya dengan basis syariah
dalam pengalokasian keuntungan di antara pemegang ekuitas dan deposan.
Laporan dewan syariah sebaiknya juga mencantumkan pernyataan yang jelas
bahwa semua pendapatan didapatkan dari sumber-sumber atau melalui cara-cara
yang dilarang oleh peraturan dan prinsip syariah Islami telah diberikan untuk amal.
Dalam kasus pelanggaran terhadap salah satu peraturan dan pengaturan syariah
dari dewan syariah, dewan harus meindikasikan pelanggarannnya dalam laporan.
Dewan syariah pusat juga dapat menyetujui kriteria fit and proper untuk
penunjukkan penasihat syariah dalam intitusi perbankan Islami.
AAOIFI juga telah menerbitkan standar mengenai peninjauan syariah oleh
dewan syariah (standard governance No. 2) dan peninjauan syariah internal
(standard governance N. 3) oleh departemen audit internal dari bank masingmasing. Peninjaun syariah biasanya dilaksanakan dalam tahap-tahapan berikut:
1.

Perencanaan prosedur peninjauan

2.

Pelaksanaan prosedur peninjauan dan persiapan dokumen kerja

3.

Pendokumentasian kesimpulan dan laporan.

E.
1.
2.

3.

Peninjauan syariah internal seharusnya dilakukan untuk memeriksa dan


mengevaluasi jngkauan kesesuaian atas peraturan syariah dari sudut pandang
pedoman yang telah disediakan oleh pengawas syariah.
Dasar Hukum6[6]
Peraturan Bank Indonesia (PBI) No. 6/17/PBI/2004 tanggal 1 Juli 2004 tentang
Perkreditan Rakyat berdasarkan Prinsip Syariah.
Peraturan Bank Indonesia No.6/24/PBI/2004 tanggal 14 Oktober tentang Bank
Umum yang melaksanakan kegiatan usaha yang berdasarkan Prinsip Syariah yang
lalu di ubah dengan Peraturan Bank Indonesia No.7/35/PBI/2005 tanggal 29
September 2005 tentang Bank Umum yang melaksanakan kegiatan usaha yang
berdasarkan Prinsip Syariah.
Peraturan Bank Indonesia No.8/3/PBI/2006 tanggal 30 Januari tentang perubahan
kegiatan usaha Bank Umum Konvensional menjadi Bank Umum yang
melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan Prinsip Syariah dan Pembukaan Kantor
6[6] http://naifu.wordpress.com/2011/12/28/dewan-pengawasan-syariah-dasarhukum-persyaratan-anggota-serta-tugas-dan-wewenangnya/

F.
1.
2.
3.
4.
5.

1.
2.
3.
4.
5.
6.
G.

1.
2.

Bank yang melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan Prinsip Syariah oleh Bank
Umum Konvensional.
Semua Peraturan Bank Indonesia (PBI) tersebut mewajibkan setiap Bank
Syariah harus memiliki Dewan Pengawasan Syariah (DPS).
Tugas, Wewenang Dan Tanggung jawab DPS 7[7]
Tugas, Wewenang dan Tanggungjawab Dewan Pengawas Syariah (DPS) antara
lain;
Memastikan dan mengawasi kesesuaian kegiatan operasional Bank terhadap fatwa
yang telah ditetapkan oleh DSN-MUI.
Menilai aspek syariah terhadap pedoman operasional. Dan produk yang
dikeluarkan Bank.
Memberikan opini dari aspek syariah terhadap pelaksanaan operasional Bank
secara keseluruhan dan laporan publikasi Bank.
Mengkaji produk dan jasa baru yang belum ada fatwa untuk dimintakan fatwa
kepada DSN-MUI.
Menyampaikan hasil pengawasan syariah sekurang-kurangnya setiap 6 bulan
kepada Direksi, Komisaris, DSN-MUI dan Bank Indonesia.
Adapun Tugas dan tanggung jawab Dewan Pengawas Syariah dalam Bank
Syariah Mandiri adalah8[8]:
Memberikan nasihat dan saran kepada Direksi serta mengawasi kegiatan Bank
agar sesuai dengan Prinsip Syariah
Menilai dan memastikan pemenuhan Prinsip Syariah atas pedoman operasional
dan produk yang dikeluarkan Bank
Mengawasi proses pengembangan produk baru Bank
Meminta fatwa kepada Dewan Syariah Nasional untuk produk baru Bank yang
belum ada fatwanya
Melakukan review secara berkala atas pemenuhan prinsip syariah terhadap
mekanisme penghimpunan dana dan penyaluran dana serta pelayanan jasa Bank
Meminta data dan informasi terkait dengan aspek syariah dari satuan kerja Bank
dalam rangka pelaksanaan tugasnya.
Prosedur Penerapan Anggota DPS9[9]
Sebelum mendapat penetapan dari DSN-MUI dan persetujuan dari Bank
Indonesia pihak Bank wajib mengajukan calon untuk anggota DPS. Permohonan
Pengajuan ini ditunjukan kepada Bank Indonesia setelah mendapat rekomendasi
dasi DSN-MUI.
Ada 2 hal yang dilakukan Bank Indonesia dalam hal memberikan persetujuan
atas permohonan anggota DPS, yaitu;
Penelitian atas kelengkapan dan kebenaran dokumen.
Melakukan wawancara kepada calon anggota DPS.
7[7] naifu.wordpress.com/2011/12/28/dewan-pengawasan-syariah-dasar-hukumpersyaratan-anggota-serta-tugas-dan-wewenangnya/
8[8] http://www.syariahmandiri.co.id/category/infoperusahaan/organisasi/pimpinan/dewan-pengawas-syariah/
9[9] Ibid.

1.
2.
3.
H.

1.
2.
3.
4.
I.

1.

2.

1.

Dua hal tersebut dilakukan untuk memenuhi ketentuan Bank Indonesia


khususnya untuk kompetensi mengenai pemahaman operasional Bank Syariah.
Sedangkan penetapan dari DSN-MUI dilakukan untuk kompetensi pemahaman
mengenai Prinsip Syariah.
Sedangkan prosedur surat permohonannya adalah sebagai berikut;
Lima Belas (15) hari sejak diterbitkannya surat persetujuan Bank Indonesia,
permohonan untuk mendapatkan penetapan DSN-MUI sudah wajib disampaikan.
Tiga Puluh (30) hari sejak diterbitkanya surat persetujuan Bank Indonesia, DSN-MUI
wajib menetapkan calon untuk anggota DPS.
Sepuluh (10) hari setelah pengangkatan anggota DPS, anggota DPS melalui Bank
wajib melaporkan diri kepada Bank Indonesia.
Kewajiban Bank Syariah Terhadap DPS10[10]
Bank Syariah wajib memberikan fasilitas kepada DPS guna mendukung kinerja
pengawasan syariah untuk melaksanakan tugas serta wewenang dan
tanggungjawab selaku DPS, antara lain:
Mengakses data dan informasi yang diperlukan terkait dengan pelaksanaan
tugasnya serta mengklarifikasikannya kepada manajemen Bank.
Memanggil dan meminta pertanggungjawaban dari segi syariah kepada
manajemen Bank.
Memperoleh fasilitas yang memadai untuk melaksanakan tugas secara efektif.
Memperoleh imbalan sesuai dengan aturan perseroan.
Jumlah Anggota dan Perangkapan Keanggotaan DPS 11[11]
DPS dapat melakukan perangkapan jabatan dalam rangka penerapan prinsip
Good Corporate Governance dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku, maka DPS
dapat melakukan perangkapan jabatan dengan ketentuan sebagai berikut:
Jumlah anggota DPS sekurang-kurangnya 2-5 orang untuk Bank Umum Syariah
Dan Unit Usaha Syariah, sedangkan untuk BPRS anggota DPS sekurang-kurangnya
harus berjumlah 2-3 orang.
Anggota DPS dapat merangkap jabatan sebagai anggota DPS lain sebanyak 4 Bank
lain atau lembaga keuangan Syariah bukan Bank.
Sedangkan dalam referensi lain Jumlah anggota DPS tersebut telah memenuhi
ketentuan apabila sesuai Peraturan Bank Indonesia Nomor 11/3/PBI/2009 tanggal 29
Januari 2009 yang menetapkan bahwa anggota DPS sekurang-sekurangnya
sebanyak 2 (dua) orang dan maksimal sebanyak 50% dari jumlah Direksi, atau bagi
Bank Muamalat sebanyak-banyaknya 3 (tiga) orang 12[12].
Anggota DPS dapat merangkap jabatannya sebagai anggota DSN-MUI
sebanyak 2 orang dari lembaga keuangan Syariah.
Dasar hukum perangkapan jabatan anggota DPS yaitu;
Untuk Bank Umum Syariah dan Usaha Unit Syariah sebelum dikeluarkannya PBI
No.6/24/PBI/2004 yang telah diubah dengan PBI No.7/35/PBI/2005 serta PBI
No.8/3/PBI/2006 harus disesuaikan selambat-lambatnya tanggal 14 Oktober 2007.
10[10] Ibid.
11[11] Ibid.
12[12] http://www.muamalatbank.com/assets/cd/p05/02.html

2.
J.

a.

b.

c.

d.

e.

f.

K.

Untuk BPRS sebelum dikeluarkannya PBI No.6/17/PBI/2004 harus disesuaikan


selambat-lambatnya 1 Juli 2007.
Pengawasan Penerapan Prinsip Syariah13[13]
Di Indonesia, fatwa ulama mengenai produk dan jasa keuangan syariah
diberikan oleh Majelis Ulama Indonesia melalui Dewan Syariah Nasional. Kemudian
untuk mengawasi pelaksanaan pemberian produk dan jasa keuangan oleh lembaga
keuangan Dewan Syariah Nasional akan menunjuk Dewan Pengawas Syariah untuk
tiap lembaga keuangan yang bersangkutan.
Peran DSN dan DPS memang tidak terbatas pada pemberian fatwa atas produk,
jasa dan transaksi keuangan yang akan dilakukan oleh lembaga keuangan, tetapi
juga harus menentukan proses purifikasi dan memonitor pengelolaan lembaga
keuangan. Secara umum tugas DSN dan DPS meliputi:
Penentuan transaksi keuangan yang diperbolehan. Transaksi dalam keuangan
haruslah sesuai dengan syariah. Apabila penerapan prinsip syariah tidak
dilaksanakan dengan konsisten (istiqomah) walaupun kreatif (fathonah) dalam
menjalankannya tentu akan menurunkan nilai hakiki dari prinsip syariah itu sendiri.
Purifikasi. Purifikasi adalah memisahkan yang haram (yang terpaksa ada dan
jumlahnya relatif kecil) dari yang halal, bukan memisahkan yang halal dari yang
haram.
Advokasi untuk nasabah funding dan lending. Transaksi keuangan syariah harus
memberikan perlindungan terhadap yang haram khususnya untuk menjaga
keimanan, kehidupan, dan akal mereka. Dan memberikan kepentingan nasabah
secara proporsional.
Monitor kepatuhan. Pengawasan kepatuhan dapat dilakukan dengan memonitor
pelaksanaan sejak awal hingga akhir, termasuk kajian atas dokumentasi transaksi,
dan membuat laporan yang akurat dan tepat waktu atas penyimpangan yang ada.
Kepedulian terhadap masyarakat sekitar. Ide dasar dari ekonomi Syariah juga
untuk memanfaatkan sumber daya yang telah diciptakan Allah Swt dan diciptakan
untuk kemashlahatan manusia.
Tanggung jawab sosial
Mengingat tingkat pemahaman dan kecanggihan ekonomi syariah masih relatif
rendah maka tanggung jawab sosial ini juga dapat mencakup tanggung jawab
peningkatan pendidikan ekonomi syariah.
Peran Dewan Pengawas Syariah14[14]
Dalam pasal 10 ayat (1 s.d 3) peraturan ketua badan Pengawas Pasar Modal dan
Lembaga Keuangan Nomor: Per-03/BI/2007 tentang kegiatan perusahaan
pembiayaan berdasarkan prinsip syariah telah dikemukakan mengenai peran dewan
pengawas syariah. Dala ayat (1) dikemukakan bahwa perusahaan pembiayaan yang
melakukan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah wajib memiliki dewan
pengawas syariah yang terdiri dari paling kurang 2 (dua) orang anggota dan satu
orang ketua. Pada ayat (2) menegaskan bahwa anggota dewan pengawas syariah
diangkat dalam rapat umum pemegang saham atas rekomendasi mejelis ulama
13[13] Adrian Sutedi, Pasar Modal Syariah: Sarana Investasi Keuangan Berdasarkan
Prinsip Syariah, (Jakarta: Sinar Grafika, 2011), h. 236-238
14[14] Ibid, h. 239-240

Indonesia dan ayat (3) menegaskan bahwa dewan pengawas syariah bertugas
memberikan nasihat dan saran kepada direksi, mengawasi aspek syariah kegiatan
operasional perusahaan pembiayaan dan sebagai mediator antara perusahaan
pembiayaan dengan DSN-MUI.
Demikian juga dalam pasal 109 UU No. 40 Tahun 2007 tentang perusahaan
terbatas mengemukakan bahwa:
a.
Perseroan yang menjalankan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah selain
mempunyai dewan komisaris wajib mempunyai dewan pengawas syariah.
b.
Dewan pengawas syariah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas
seorang ahli syariah atau lebih yang diangkat oleh Rapat Umum Pemilik Saham atas
rekomendasi Majelis Ulama Indonesia.
c.
Dewan Pengawas Syariah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertugas
memberikan nasihat dan saran kepada Direksi, serta mengawasi kegiatan Perseroan
agar sesuai dengan prinsip syariah.
Ketentuan baru dalam Undang-undang Perseroan Terbatas tersebut merupakan
kewajiban perusahaan membentuk dewan pengawas syariah. Bagi perusahaan yang
menjalankan usahanya dengan prinsip syariah selain mempunyai dewan komisaris
juga mempunyai dewan pengawas syariah. Dalam ketentuan tersebut, dewan
pengawas syariah tugasnya memberi nasihat dan saran kepada direksi, serta
mengawasi jalannya perseroan.
Fungsi dewan pengawas syariah sebagai pengawas memiliki kesamaan dengan
fungsi komisaris. Bedanya, kepentingan komisaris dalam melakukan fungsinya
adalah memastikan perusahaan selalu menghasilkan keuntungan ekonomis. Akan
tetapi kepentingan dewan pengawas syariah semata-mata hanya untuk menjaga
kemurnian agama Islam dalam praktik kegiatan perusahaan.
L.

1.
a.
b.
c.

Kedudukan Dewan Pengawas Syariah15[15]


Bagi Bank Syariah yang berbentuk perseroan terbatas (lihat Pasal 7 UUPS)
organisasinya mengacu pada ketentuan UU No. 40 Tahun 2007. Hal tersebut berarti
bahwa dalam sebuah bank syariah kekuasaan tertinggi ada pada RUPS, pengurusan
dilaksanakan oleh Direksi, dan pengawasan terhadap direksi dilaksanakan oleh
komisaris.
Dalam keputusan Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia Nomor 03
Tahun 2000 juga ditetapkan beberapa hal, diantranya adalah:
Keanggotaan Dewan Pengawas Syariah adalah sebagai berikut:
Setiap LKS harus memiliki sedikitnya tiga orang anggota Dewan Pengawas
Syariah;
Salah satu dari jumlah tersebut ditetapkan sebagai ketua;
Masa tugas anggota dewan pengawas syariah adalah 4 (empat) tahun dan akan
mengalami pergantian antar waktu apabila meninggal dunia, minta berhenti,
diusulkan oleh LKS yang bersangkutan, atau telah merusak citra DSN.
Menurut Muhammad: Setiap Bank Umum Syariah atau Bank Konvensional yang
memiliki Unit Usaha Syariah harus memiliki setidaknya 2-5 orang sebagai anggota
Dewan Pengawasan Syariah. Sedangkan untuk Bank Pengkreditan Rakyat Syariah
setidaknya memiliki 1-3 orang anggota DPS. Jika anggota DPS di setiap lembaga
15[15] Adrian Sutedi, Perbankan Syariah: Tinjauan dan Beberapa Segi Hukum,
(Bogor: Ghalia Indonesia, 2009), h. 141-144

keuangan syariah memiliki lebih dari satu anggota maka salah satu dari anggota
tersebut harus menjadi ketua DPS dilembaga Keuanngan Syariah tersebut. 16[16]

2.
a.
b.
c.
d.

a.
b.
c.
a.
b.
c.
d.

a.
b.

3.
a.

Syarat Anggota Deawn Pengawas Syariah


Memiliki akhlaq karimah;
Memiliki kompetensi kepakaran di bidang syariah muamalah dan pengetahuan di
bidang perbankan dan/atau keuangan secara umum;
Memiliki komitmen untuk mengembangkan keuangan berdasarkan syariah;
Memiliki kelayakan sebagai pengawas syariah, yang dibuktikan dengan
surat/sertifikat dari DSN.
Sedangkan menurut Muhammad persyaratan anggota DPS dalah sebagai
berikut:17[17]
Persyaratan utama bagi anggota Dewan Pengawas Syariah adalah mereka harus
memiliki kemampuan di bidang Hukum Muamalah, Hukum Ekonomi dan Perbankan.
Selain itu, anggota DPS juga wajib memenuhi persyaratan berikut;
Integritas
Kompetensi, dan
Reputasi keuangan
Anggota DPS yang memenuhi persyaratan integritas tersebut, antara lain adalah
pihak-pihak yang:
Memiliki akhlak dan moral baik
Memiliki komitmen untuk mematuhi peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Memiliki komitmen yang tinggi dalam mengembangkan perbankan syariah yang
sehat.
Tidak termasuk daftar TIDAK LULUS sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh
Bank Indonesia.
Anggota DPS yang memenuhi persyaratan kompetensi merupakan pihak-pihak
yang memiliki pengetahuan dan pengalaman di bidang syariah muamalah dan
pengetahuan di bidang perbankan serta pengetahuan di bidang keuangan secara
umum.
Sedangkan anggota DPS yang memenuhi persyaratan reputasi keuangan adalah
pihak-pihak yang:
Tidak termasuk dalam kredit/pembiayaan macet.
Tidak pernah dinyatakan failed atau menjadi direksi atau komisaris yang
dinyatakan bersalah menyebabkan suatu perseroan dinyatakan failed dalam waktu
5 tahun sebelum dicalonkan.
Hal-hal yang harus diperhatikan untuk menjamin kebebasan mengeluarkan
pendapat dewan pengawas syariah, yaitu:
Mereka bukan staf bank, dalam arti mereka tidak tunduk di bawah kekuasaan
administratif;
16[16] http://naifu.wordpress.com/2011/12/28/dewan-pengawasan-syariah-dasarhukum-persyaratan-anggota-serta-tugas-dan-wewenangnya/
17[17] Ibid.

b.
c.
d.
M.

Mereka dipilih oleh RUPS;


Honorarium mereka ditentukan oleh RUPS;
DPS mempunyai sistem kerja dan tugas-tugas tertentu seperti halnya badan
pengawas lainnya.
Kegiatan DPS dalam Pengawasan Internal Syariah 18[18]
Aktivitas dewan pengawas syariah dalam melaksanakan pengawasan syariah,
menurut Briston dan Ashker yang dikutip oleh Yaya (2004), ada tiga yaitu : ex ante
auditing, ex post auditing, dan perhitungan dan pembayaran zakat. Pertama, Ex
ante auditing merupakan aktivitas pengawasan syariah dengan melakukan
pemeriksaan terhadap berbagai kebijakan yang diambil dengan cara melakukan
review terhadap keputusan-keputusan manajemen, dan melakukan review terhadap
seluruh jenis kontrak yang dibuat oleh manajemen bank syariah dengan semua
pihak.
Tujuan pemeriksaan tersebut untuk mencegah bank syariah melakukan kontrak
yang melanggar prinsip-prinsip syariah. Kedua, Ex post auditing merupakan
aktivitas pengawasan syariah dengan melakukan pemeriksaan terhadap laporan
kegiatan (aktivitas) dan laporan keuangan bank syariah. Tujuan pemeriksaan ini
adalah untuk menelusuri kegiatan dan sumber-sumber keuangan bank syariah yang
tidak sesuai dengan prinsip-prinsip syariah. Ketiga, Perhitungan dan pembayaran
zakat merupakan aktivitas pengawasan syariah dengan memeriksa kebenaran bank
syariah dalam menghitung zakat yang harus dikeluarkan dan memerikasa
kebenaran dalam pembayaran zakat sesuai dengan ketentuan syariah. Tujuan
pemeriksaan tersebut adalah untuk memastikan agar zakat atas segala usaha yang
berkaitan dengan hasil usaha bank syariah telah dihitung dan dibayar secara benar
oleh manajemen bank syariah.
Shari'a review merupakan aktivitas utama dewan pengawas syariah untuk
melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai pengawas kepatuhan syariah dalam
operasional bank syariah. Tujuan utama shari'a review adalah untuk memastikan
kesesuaian seluruh operasional bank dengan prinsip dan aturan syariah yaitu
dengan mengeluarkan fatwa - fatwa, aturan - aturan, dan arahan - arahan dalam
masalah fiqih yang digunakan pedoman bagi manajemen dalam mengoperasikan
bank syariah (GSIFI No. 2 paragraf 1). Dengan menganalogkan pada pengertian
tentang Pengertian tentang sharia review berdasarkan GSIFI No. 2 paragraf 3
adalah :
Sharia review is an examination of the extent of IFIs compliance, in all its
activities, with sharia. This examination includes contracts, agreements, policies,
products, transactions, memorandum and articles of association, financial
statements, reports (espicially internal audit and central bank inspection) circulars
etc.
Sharia review merupakan pengujian kepatuhan syariah secara menyeluruh
terhadap aktivitas bank syariah, sehingga dewan pengawas syariah harus memiliki
akses yang lengkap dan bebas atas semua dokumen transaksi dan semua informasi
18[18] Adrian Sutedi, Pasar Modal Syariah: Sarana Investasi Keuangan Berdasarkan
Prinsip Syariah, op.cit, h. 248-252

1.
2.
3.
4.
1.
2.
3.
4.

yang berasal dari berbagai sumber baik itu saran dari para ahli maupun dari
karyawan bank sendiri. Tujuan dari sharia review adalah untuk memastikan bahwa
aktivitas yang dilakukan oleh bank syariah tidak bertentangan dengan prinsipprinsip dan aturan syariah yang telah difatwakan dan diatur oleh dewan syariah
(GSIFI No. 2 paragraf 4). Sehingga dengan dilakukan sharia review diharapkan
semua aktivitas dan produk bank syariah dapat dipastikan sesuai dengan aturan
dan prinsip syariah yang telah ditetapkan dan diatur oleh dewan pengawas syariah.
Tanggung jawab dewan pengawas syariah dalam masalah kepatuhan syariah
adalah memberikan opini atas kepatuhan syariah dari bank syariah serta
memberikan arahan, petunjuk, dan pelatihan yang berhubungan dengan kepatuhan
terhadap prinsip syariah kepada manajemen bank syariah. Sedangkan tanggung
jawab atas pelaksanaan kepatuhan syariah berada di pihak manajemen bank
syariah. Sharia review bukan merupakan tanggung jawab manajemen, tetapi juga
tidak membebaskan manajemen dari kewajiban untuk melaksanakan semua
transaksi berdasarkan syariah. Manajemen bank syariah bertanggung jawab untuk
memberikan semua informasi yang berkaitan dengan kepatuhan syariah kepada
dewan pengawas syariah (GSIFI No. 2 paragraf 5). Governance Standard for Islamic
Financial Institutions No. 2 dalam paragraf 7 menyebutkan tiga prosedur dalam
pelaksanaan sharia review yaitu planning review procedures, executing review
procedure and review of working papers, dan documenting conclusions and report.
Planning review procedures bertujuan untuk memperoleh pemahaman yang
menyeluruh atas operasi bank syariah yang meliputi produk, skala operasi, lokasi,
kantor cabang, anak perusahaan dan divisi, serta bertujuan untuk memperoleh
daftar semua fatwa, aturan, dan petunjuk yang dikeluarkan oleh dewan pengawas
syariah. Sedangkan executing review procedure and review of working papers
bertujuan untuk menemukan temuan audit dengan melakukan serangkaian
pengujian atas transaksi dan dokumen serta mendokumentasikan semua prosedur
audit yang telah dilakukan selama pemeriksaan. Hasil sharia review adalah berupa
kesimpulan dari dewan pengawas syariah atas kepatuhan bank syariah terhadap
aturan dan prinsip-prinsip syariah. Kesimpulan tersebut dibuat dalam laporan
dewan pengawas syariah yang akan disampaikan dalam rapat umum pemegang
saham bank syariah. Laporan hasil sharia review tersebut juga harus diterbitkan
bersamaan dengan penerbitan laporan keuangan pihak manajemen bank syariah
kepada masyarakat (GSIFI No.2 paragraf 13).
Aktivitas shari'a review dalam praktek pengawasan internal syariah oleh DPS
terbagi menjadi dua bagian yaitu aktivitas ex ante auditing dan ex post auditing.
Untuk aktivitas shari'a review ex ante auditing antara lain :
Menetapkan standar kepatuhan syariah;
Menetapkan sistem dan prosedur operasional;
Mereview kebijakan dan keputusan manajemen;
Menetapkan produk bank.
Sedangkan aktivitas shari'a review ex post auditing yang dilaksanakn DPS
dalam menjalankan fungsi pengawasan syariah antara lain :
Menentukan indikator kepatuhan syariah;
Menentukan lingkup pengawasan syariah;
Merencanakan mekanisme penilaian kepatuhan syariah;
Menilai kepatuhan syariah atas kinerja manajemen;

5.
6.
N.

1.

2.
3.

1.

Tindak lanjut atas temuan syariah;


Melaporkan hasil penilaian kepatuhan syariah.
Optimalisasi Peran Dewan Pengawas Syariah19[19]
Peran vital dewan pengawas syariah di Indonesia, dalam praktik di lapangan
saat ini, belum optimal. Ada beberapa faktor utama penyebab peran dan fungsi
dewan pengawas syariah belum optimal di Indonesia antara lain: 20[20]
Lemahnya status hukum hasil penilaian kepatuhan syariah oleh DPS akibat
ketidakefektifan dan ketidakefesienan mekanisme pengawasan syariah dalam
perbankan syariah di Indonesia saat ini;
Terbatasnya ketrampilan sumberdaya DPS dalam masalah audit, akuntansi,
ekonomi, dan hukum bisnis;
Belum adanya mekanisme dan struktur kerja yang efektif dari DPS dalam
melaksanakan fungsi pengawasan internal syariah dalam bank syariah
Akibat dari ketiga faktor tersebut menjadikan peran supervisi dari DPS dalam
pengawasan syariah di bank syariah termaginalkan. Sehingga peran DPS di
Indonesia pada saat ini lebih banyak berperan sebagai penasehat syariah bagi
manajemen, alat komunikasi dan marketing bagi bank syariah, dan sebagai
legislator produk bank syariah. Fungsi pengawasan terhadap proses operasional
yang merupakan aktivitas shari'a review ex post auditing jarang atau bahkan tidak
pernah dilakukan oleh DPS, karena aktivitas shari'a review terfokus pada aktivitas
ex
ante
auditing.
Salah satu alternatif untuk mengoptimalkan peran dewan pengawas syariah dalam
bank syariah di Indonesia adalah dengan mengembangkan fungsi pendukung
dewan pengawas syariah berupa staf yang memadai untuk membantu DPS
melaksanakan tugas-tugas pengawasan (Yaya, 2004). Accounting and Audting
Organization for Islamic Financial Institution (AAOIFI) dalam Governance Standard
for Islamic Financial Institutions (GSIFI) No. 1 tentang Sharia Supervisory Board :
Appoitment, Composition and Report, paragraf 7, menyatakan bahwa dewan
pengawas syariah dapat mencari jasa konsultan yang ahli dalam bisnis, ekonomi,
hukum, akuntansi dan lainnya. Dewan pengawas syariah dalam melakukan tugas
pengawasan dan sharia review terhadap bank syariah berdasarkan GSIFI No. 1
tersebut dapat menggunakan jasa internal auditor yang ada dalam sistem
pengawasan bank syariah, yaitu dengan memperluas ruang lingkup dan tugas
departemen internal audit dengan memasukkan aspek syariah. Internal auditor
akan melakukan internal sharia review berdasarkan panduan dewan pengawas
syariah dan melaporkan temuan-temuan selama internal sharia review kepada
dewan pengawas syariah.
Jadi, agar DPS dan DSN memiliki peran yang optimal dan signifikan, setidaknya
ada lima hal penting yang harus menjadi perhatian bersama.
MUI menentukan klasifikasi keahlian pihak-pihak yang dapat diangkat menjadi
anggota DSN atau DPS;

19[19] Ibid, h. 254-267


20[20] http://novensuprayogi.blogspot.com/2008/03/dps-dan-pengawasan-internalsyariah.html

2.

Anggota DSN dilarang menjadi konsultan pada lembaga keuangan syariah atau
divisi unit syariah pada lembaga keuangan konvensional;
3. Lembaga keuangan syariah harus memiliki DPS di daerah;
4. DPS didukung full time oleh seluruh pihak yang terkait;
5. Posisi DPS setidaknya harus sejajar dengan komisaris.
O.
Laporan DPS21[21]
Laporan Dewan Pengawas Syariah (DPS) pada dasarnya mencakup informasi
yang diberikan oleh anggota-anggota dewan mengenai praktik perbankan yang
tidak bertolak belakang dengan ajaran agama islam. Biasanya laporan DPS ini
disampaikan bersamaan dengan laporan tahunan bank. Bentuk dari laporan DPS ini
tidak sama antara satu bank dengan bank lainnya walaupun masih dalam cakupan
negara yang sama karena mempunyai mekanisme operasinal yang berbeda-beda.
Abdallah (1994), menyatakan bahwa DPS harus melakukan empat pemeriksaan
laporan keuangan bank Islam. Pertama, DPS memastikan bahwa formula yang
digunakan untuk mengalokasikan profit antara shareholder dan pemegang akun
investasi adalah adil dan sejalan dengan rekomendasi yang diberikan oleh DPS.
Kedua, DPS mengonfirmasikan bahwa semua penerimaan bank Islam berasal dari
transaksi yang sah sesuai hukum. Jika bank Islam mendapat penerimaan ini tidak
sesuai hukum Islam, DPS akan menyatakan bahwa penerimaan ini tidak boleh
dimasukkan dalam profit yang dialokasikan untuk shareholder dan pemegang akun
investasi. Ketiga, DPS memastikan agar zakat dihitung dengan benar, dilaporkan
secara transparan dan didistribusikan secara merata kepada penerima zakat.
Keempat, DPS bertanggung jawab menyatakan opini bank Islam dalam menjalankan
peran sosialnya di lingkungan masyarakat.
BAB III
PENUTUP
A.

B.

Kesimpulan
Dewan Pengawas Syariah merupakan Dewan yang mengawasi, mengarahkan
serta yang lainnya yang berkaitan dengan kesyariahan perusahaan. sehingga
perusahaan tersebut tidak hanya mendapatkan keuntungan tetapi mendapatkan
berkah dari Allah Swt sehingga mencapai titik falah.
Peran DPS dalam perkembangan ekonomi Islam sangatlah besar tanpa adanya
DPS, masyarakat sulit untuk memahami perusahaan mana yang bisa membawa
mereka yang juga menguntungkan disisi Akhirat. Namun, pada saat ini ada
beberapa hal yang perlu di perbaiki lagi seperti pengawasan secara menyeluruh
sampai kekantor-kantor cabang diberikan pengawasan.
Saran
Makalah ini hanya membahas segelintir saja mengenai Dewan Pengawas
Syariah maka dari itu kami mengharapkan kepada seluruh peserta untuk dapat
memberi sumbangan ilmu yang sudah diketahui, demi kesempurnaan para Econom
Masa Kini.

21[21] http://jenzsixs.blogspot.com/2012/03/dewan-pengawas-syariah.html

REFERENSI
Adrian Sutedi, Pasar Modal Syariah: Sarana Investasi Keuangan Berdasarkan Prinsip
Syariah, (Jakarta: Sinar Grafika, 2011)
___________, Perbankan Syariah: Tinjauan dan Beberapa Segi Hukum, (Bogor: Ghalia
Indonesia, 2009)
http://naifu.wordpress.com/2011/12/28/dewan-pengawasan-syariah-dasar-hukumpersyaratan-anggota-serta-tugas-dan-wewenangnya/
http://www.syariahmandiri.co.id/category/info-perusahaan/organisasi/pimpinan/dewanpengawas-syariah/
http://www.muamalatbank.com/assets/cd/p05/02.html
http://jenzsixs.blogspot.com/2012/03/dewan-pengawas-syariah.html
Muhammad Ayub, Understanding Islamic Finance, diterjemahkan oleh Aditya Wisnu
Pribadi, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009)
Muhammad Syafii Antonio, Bank Syariah: dari Teori ke Praktek, (Jakarta: Gema Insani,
2010)
Muhammad Syakir Sula, Asuransi Syariah (life and general), (Jakarta: Gema Insani Press,
2004)