Anda di halaman 1dari 35

HEAT EXCHANGER PLATE

A. Tujuan Percobaan
Pada percobaan ini diharapkan mahasiswa dapat :
1. Memahami prinsip kerja dari alat penukar panas.
2. Menentukan nilai koefisien perpindahan panas overall (U).
3. Membandingankan massa fluida yang diperoleh secara praktek dan teoritis.

B. Alat dan Bahan


1. Alat

Seperangkat alat HE Plate

Boiler

Cooler

Thermocouple

Baskom

Termometer

Timbangan

2. Bahan

Air umpan boiler

Air pendingin

C. Teori Dasar
1. Definisi Alat Penukar Kalor
Alat penukar kalor atau heat exchanger (HE) adalah suatu alat yang digunakan
untuk menukarkan kalor dari suatu fluida ke fluida lain baik dari fasa cair ke cair
maupun dari fasa uap ke cair. Pengertian lainnya adalah suatu alat yang dapat
menyerap ataupun memberikan panas pada fluida yang mengalir. Mekanisme
perpindahan kalor pada alat penukar kalor yaitu secara konveksi pada kedua fluida
yang mengalir dan secara konduksi pada dinding pemisah kedua fluida.

2. Prinsip Kerja Heat Exchanger


Pada dasarnya prinsip kerja dari alat penukar kalor yaitu memindahkan panas dari
dua fluida padatemperatur berbeda di mana transfer panas dapat dilakukan secara
langsung ataupun tidak langsung.
a. Secara kontak langsung
Panas yang dipindahkan secara kontak langsung berarti perpindahan kalor
terjadi antara fluida bersuhu lebih tinggi dan bersuhu lebih rendah melalui kontak
langsung (tidak ada dinding pemisah antara kedua fluida).
Transfer panas yang terjadi yaitu melalui interfase/penghubung antara kedua
fluida. Contoh aliran pada kontak langsung yaitu dua zat cair yang immiscible,
gas-liquid, dan partikel padat-kombinasi fluida.
b. Secara kontak tak langsung
Panas yang dipindahkan secara kontak langsung berarti perpindahan kalor
terjadi antara fluida bersuhu lebih tinggi dan bersuhu lebih rendah melalui sebuah
dinding pemisah. Skema perpindahan kalor seacar kontak tak langsung dapat
dilihat pada gambar di bawah ini.

Gambar 1.1. Perpindahan Kalor secara Tak Langsung pada Heat Exchanger
(Sumber: Ikhsan, 2012. http://beck-fk.blogspot.com/2012/05/alat-heat-exchanger.html)

3. Jenis-jenis Alat Penukar Kalor


Alat penukar kalor atau Heat Exchanger (HE) sering dinamakan dengan lebih
spesifik sesuai dengan aplikasinya. Kondenser merupakan HE di mana fluida
didinginkan dan berkondensasi ketika mengalir melalui HE. Boiler merupakan HE di
mana fluidanya mengabsorbsi panas dan menguap. Sedangkan space radiator
merupakan HE yang menukar kalor dari fluida panas ke lingkungan melalui radiasi.
Berikut ini adalah jenis alat penukar kalor berdasarkan kompleksitas alat:

a. Double pipe HE
Terdiri dari satu buah pipa yang diletakkan di dalam sebuah pipa lainnya
yang berdiameter lebih besar secara konsentris. Fluida yang satu mengalir di
dalam pipa kecil sedangkan fluida yang lain mengalir di bagian luarnya. Pada alat
penukar kalor ini, salah satu fluida mengalir melalui pipa kecil sedangkan yang
satu lagi melalui annulus.
Pada bagian pipa kecil biasanya dipasang fin atau sirip memanjang, hal ini
dimaksudkan untuk mendapatkan permukaan panas yang lebih luas. Double pipe
ini dapat digunakan untuk memanaskan atau mendinginkan fluida hasil proses
yang membutuhkan area perpindahan panas yang kecil (biasanya hanya mencapai
50 m2). Double pipe ini juga dapat digunakan untuk mendidihkan atau
mengkondensasikan fluida proses tapi dalam jumlah yang sedikit.
Ada dua jenis arah aliran yang dapat mungkin terjadi, yaitu aliran paralel dan
aliran counter.

(a)

(b)

Gambar 1.2. (a) Parallel flow, (b) Counter flow pada double-pipe HE
(Sumber: Holman, J.P. 2009. Heat Transfer 10th ed.)

Pada alat ini, mekanisme perpindahan kalor terjadi secara tidak langsung
(indirect contact type), karena terdapat dinding pemisah antara kedua fluida sehingga
kedua fluida tidak bercampur. Fluida yang memiliki suhu lebih rendah (fluida
pendingin) mengalir melalui pipa kecil, sedangkan fluida dengan suhu yang lebih
tinggi mengalir pada pipa yang lebih besar (pipa annulus).
Penukar kalor demikian mungkin terdiri dari beberapa lintasan yang disusun
dalam susunan vertikal. Perpindahan kalor yang terjadi pada fluida adalah proses
konveksi, sedang proses konduksi terjadi pada dinding pipa. Kalor mengalir dari
fluida yang bertemperatur tinggi ke fluida yang bertemperatur rendah.
Kerugian yang ditimbulkan jika memakai heat exchanger ini adalah kesulitan
untuk memindahkan panas dan mahalnya biaya per unit permukaan transfer. Tetapi,
double pipe ini juga memiliki keuntungan yaitu heat exchanger ini dapat dipasang
dengan berbagai macam fitting (ukuran). Selebihnya kelebihan dan kekurangan dari
double pipe HE akan dijabarkan lebih lanjut pada Tabel 1.1
Tabel 1.1. Kelebihan dan Kekurangan Double Pipe HE

b. Compact HE
Pada alat penukar kalor jenis ini didesain secara spesifik agar surface area per
unit volume-nya besar. HE jenis ini mampu menerima perpindahan kalor dari
suatu fluida dalam jumlah kecil yang biasanya digunakan pada situasi di mana
berat dan volume HE dibatasi. Area permukaan pada compact HE yang luas
disebabkan dipasangnya plat tipis seperti sirip pada dinding yang memisahkan
dua fluida.
Compact HE biasanya digunakan untuk gas-to-gas dan gas-to-liquid HE.
Fluida-fluida dalam HE ini umumnya bergerak saling tegak lurus sehingga
dinamakan aliran menyilang. Aliran menyilang diklasifikasikan menjadi:
1) unimixed, karena fluida didorong plat sirip agar mengalir melalui ruang
tertentu dan mencegahnya bergerak dalam arah menyilang
2) mixed, jika fluida bebas bergerak sambil menukar kalor.

Gambar 1.3. Konfigurasi aliran menyilang pada Compact HE: (kiri) kedua fluida tidak bercampur,
(kanan) satu fluida bercampur, satu lagi tidak
(Sumber: Holman, J.P. 2009. Heat Transfer 10th ed.)

c. Shell and Tube HE


Alat penukar kalo jenis ini adalah alat penukar kalor yang umum digunakan
dalam industri. Secara sederhana, prinsip kerja HE adalah sebagai berikut.
Terdapat dua fluida yang berbeda temperatur; yang satu dialirkan dalam tube dan
yang lainnya dalam shell hingga bersentuhan secara tidak langsung. Panas dari
fluida yang temperaturnya lebih tinggi berpindah ke fluida yang temperaturnya
lebih rendah.

Dengan demikian fluida panas yang masuk akan menjadi lebih dingin dan
fluida dingin yang masuk akan menjadi lebih panas. Untuk menjamin fluida di
sebelah shell mengalir melintasi tube (agar perpindahan kalornya tinggi), maka
dalam shell dipasang sekat-sekat (baffles) seperti terlihat pada Gambar 1.4.

Gambar 1.4. Skematik shell-and-tube heat exchanger (one-shell-pass dan one-tube-pass)


(Sumber: Holman, J.P. 2009. Heat Transfer 10th ed.)

d. Plate and Frame HE


Alat penukar kalor jenis ini terdiri dari rangkaian plat dengan corrugated flat.
terdiri dari rangkaian plat dengan corrugated flat. Pada konstruksi ini terdapat
coil pipa bersirip plat untuk mengalirkan fluida yang berlainan.

Gambar 1.5. Bentuk Fisik & Skema Aliran Fluida pada Plate-And-Frame Heat Exchanger
(Sumber : Anonim, 2012. http://www.brighthubengineering.com)

Adapun jika dilihat berdasarkan aliran dan distribusi temperatur idealnya,


dibagi menjadi:
1) Parallel flow
Kedua fluida mengalir dalam heat exchanger dengan aliran yang searah.
Kedua fluida memasuki HE dengan perbedaan suhu yang besar. Perbedaan
temperatur yang besar akan berkurang seiring dengan semakin besarnya x,
jarak pada HE. Temperatur keluaran dari fluida dingin tidak akan melebihi
temperatur fluida panas.
2) Counter flow
Aliran jenis ini berlawanan dengan parallel flow, kedua aliran fluida
yang mengalir dalam HE masuk dari arah yang berlawanan. Aliran keluaran
yang fluida dingin ini suhunya mendekati suhu dari masukan fluida panas
sehingga hasil suhu yang didapat lebih efekrif dari parallel flow. Mekanisme
perpindahan kalor jenis ini hampir sama dengan parallel flow, di mana
aplikasi dari bentuk diferensial dari persamaan steady-state:

3) Cross flow HE
Aliran jenis ini terjadi jika di mana satu fluida mengalir tegak lurus
dengan fluida yang lain. Biasa dipakai untuk aplikasi yang melibatkan dua
fasa. Sebagai contoh yaitu pada sistem kondensor uap (tube and shell heat
exchanger), di mana uap memasuki shell, air pendingin mengalir di dalam
tube dan menyerap panas dari uap sehingga uap menjadi cair.
Dari ketiga tipe aliran pada heat exchanger diatas maka dapat
disimpulkan bahwa tipe counterflow yang paling efisien ketika kita
membandingkan laju perpindahan kalor per unit area. Dengan beda
temperatur fluida yang paling maksimal di antara kedua tipe heat exchanger
lainnya, maka beda temperatur rata-rata (log mean temperature difference)
akan maksimal.
4. Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja HE
Di bawah ini merupakan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kinerja dari
suatu heat exchanger yaitu sebagai berikut:

a. Fouling factor
Setelah dipakai beberapa lama, permukaan perpindahan kalor alat penukar
kalor mungkin dilapisi oleh berbagai endapan yang biasa terdapat dalam sistem
aliran; atau permukaan itu mungkin mengalami korosi sebagai akibat interaksi
antara fluida dengan bahan yang digunakan dalam konstruksi penukar kalor.
Dalam kedua hal di atas, lapisan itu memberikan tahanan tambahan terhadap
aliran kalor, dan hal ini menyebabkan menurunnya kemampuan kerja alat itu.
Pengaruh menyeluruh daripada hal tersebut di atas biasa dinyatakan dengan
faktor pengotoran (fouling factor), atau tahanan pengotoran, Rf, yang harus
diperhitungkan bersama tahanan termal lainnya, dalam menghitung koefisien
perpindahan kalor menyeluruh.
Faktor pengotoran harus didapatkan dari percobaan, yaitu dengan
menentukan U (koefisien perpindahan kalor keseluruhan/ overall coefficient of
heat transfer) untuk kondisi bersih (UC) dan kondisi kotor (UD) pada penukar
kalor itu. Oleh karena itu, faktor pengotoran didefinisikan sebagai:

dimana U pipa yang kotor tersebut dapat dihitung dengan menggunakan rumus
sebagai berikut :

Sementara itu, untuk U << 10000 W/m2.C, fouling mungkin tidak begitu
penting karena hanya menghasilkan resistan yang kecil. Namun, pada water heat
exchanger di mana nilai U terletak sekitar 2000 maka fouling factor akan menjadi
penting. Pada finned tube heat exchanger di mana gas panas mengalir di dalam
tube dan gas yang dingin mengalir melewatinya, nilai U mungkin sekitar 200, dan
fouling factor akan menjadi signifikan.
Fouling dapat didefinisikan sebagai pembentukan lapisan deposit pada
permukaan perpindahan panas dari suatu bahan atau senyawa yang tidak
diinginkan. Pembentukan lapisan deposit ini akan terus berkembang selama alat
penukar kalor dioperasikan. Akumulasi deposit pada alat penukar kalor

menimbulkan kenaikan pressure drop dan menurunkan efisiensi perpindahan


panas. Keterlibatan beberapa faktor di antaranya: jenis alat penukar kalor, jenis
material yang dipergunakan, dan fluida kerja (jenis fluida, temperatur fluida, laju
alir massa, jenis, dan konsentrasi kotoran yang ada dalam fluida).
Nilai fouling factor yang disarankan untuk beberapa fluida diberikan dalam
Tabel 1.2.

Lapisan fouling dapat berasal dari partikel-partikel atau senyawa lainnya


yang terangkut oleh aliran fluida. Pertumbuhan lapisan tersebut dapat meningkat
apabila permukaan deposit yang terbentuk mempunyai sifat adhesif yang cukup
kuat. Gradien temperatur yang cukup besar antara aliran dengan permukaan dapat
juga meningkatkan kecepatan pertumbuhan deposit. Pada umumnya, proses
pembentukan lapisan fouling merupakan phenomena yang sangat kompleks
sehingga sukar sekali dianalisa secara analitik. Selain itu, mekanisme
pembentukannya sangat beragam dan metode pendekatannya juga berbeda-beda.

Gambar 1.6. Proses Pembentukan Fouling dan Faktor Pengotoran pada Pipa

b. Penurunan tekanan heat exchanger


Pressure drop merupakan banyaknya penurunan tekanan yang terjadi akibat
heat transfer dalam pipa. Penurunan tekanan ini dikarenakan adanya perubahan
suhu secara tiba-tiba karena beban kecepatan dan faktor friksi dalam aliran kedua
fluida. Pressure drop dapat digunakan rumus sebagai berikut :

dimana L adalah panjang pipa, D adalah jari-jari pipa, adalah masa jenis fluida,
Uav adalah kecepatan rata-rata dan f adalah faktor friksi.
1) Penurunan tekanan pada sisi shell
Apabila dibicarakan besarnya penurunan tekanan pada sisi shell alat alat
penukar panas, masalahnya proporsional dengan beberapa kali fluida itu
menyebrangi pipa bundle diantara sekat-sekat. Besarnya penurunan tekanan
pada isothermal untuk fluida yang dipanaskan atau didinginkan, serta
kerugian saat masuk dan keluar, adalah :

2) Penurunan tekanan pada sisi pipa


Besarnya penurunan tekanan pada sisi pipa alat penukar panas telah
diformulasikan, persamaan terhadap faktor gesekan dari fluida yang
dipanaskan atau yang didinginkan di dalam pipa.

Mengingat bahwa fluida itu mengalami belokan pada saat pass-nya,


maka akan terdapat kerugian tambahan penurunan tekanan:

dimana:

Penurunan tekanan pada heat exchanger khususnya pada tabung dan


rangkunan tabung dapat menyebabkan perubahan faktor gesek (friction
factor). Pada tabung hubungan antara faktor friksi dan penurunan tekanan
dituliskan sebagai berikut :

Perubahan faktor friksi ini mengakibatkan berubahnya angka Reynold


dan angka Nusselt, sehingga nilai koefisien perpindahan kalor konveksinya
berubah. Dengan berubahnya koefisien perpindahan kalor konveksi maka
kofisien perpindahan kalor menyeluruhpun ikut berubah. Pressure drop dapat
menurunkan kinerja dari alat penukar kalor dan membuat nilai U (koefisien
heat transfer overall) menjadi berkurang, yang akibatnya perpindahan kalor
antara kedua fluida juga akan makin sedikit. Dengan demikian, proses tidak
akan berjalan secara efisien. Oleh karena itu, semakin besar nilai pressure
drop, semakin rendah kinerja alat penukar kalor.

c. Koefisien perpindahan panas


Pada aliran di mana satu fluida mengalir pada bagian dalam tabung yang
lebih kecil di mana fluida yang lain mengalir dalam ruang anular diantara dua
tabung, maka perpindahan kalor dapat dideskripsikan dengan:

d. Jumlah lintasan
Di dalam alat penukar kalor, jumlah lintasan sangat menentukan kecepatan
perpindahan kalor. Apabila jumlah lintasan yang ada banyak, maka akan
berpengaruh pada luas permukaan yang melepas kalor. Seperti yang diketahui,
apabila luas permukaan yang terkena fluida panas semakin banyak atau luas,
maka perpindahan kalor akan terjadi lebih cepat.
e. Kecepatan
Kecepatan dari fluida mempengaruhi bilangan reynoldnya. Sementara itu,
angka reynold sangat berpengaruh dalam perhitungan matematis.
f. Distribusi temperatur
Apabila distribusi temperatur di dalam fluida tidak merata, maka perpindahan
kalor yang terjadi tidak merata di beberapa permukaan. Ada permukaan yang
lebih banyak aliran konveksinya apabila distribusi suhu di tempat tersebut cukup
besar, begitu pula sebaliknya.
g. Luas permukaan perpindahan panas
Semakin tinggi luas permukaan panas, semakin besar panas yang
dipindahkan. Luas perpindahan panas ini tergantung pada jenis tube dan ukuran
tube yang digunakan suatu heat exchanger.
h. Beda suhu rata-rata
Temperatur fluida panas maupun fluida dingin yang masuk heat exchanger
biasanya selalu berubah-ubah. Untuk menentukan perbedaan temperatur tersebut
digunakan perbedaan temperatur rata-rata atau Logarithmic Mean Temperature

Difference (LMTD). LMTD digunakan dalam perhitungan-perhitungan heat


exchanger yang menunjukkan panas yang dipindahkan.

5. Perpindahan Kalor HE
Jumlah kalor yang dipindahkan dalam alat penukar kalor dapat dihitung dengan
LMTD metode NTU efektivitas.
a. Beda Suhu Rata-rata Logaritmik (LMTD)
Dalam penukar kalor pipa ganda, fluidanya dapat mengalir dalam aliran
sejajar maupun aliran lawan arah. Profil suhu untuk kedua kasus ini telah
ditunjukkan sebelumnya pada gambar 1 yang (a) dan juga (b).
Kita dapat menghitung perpindahan kalor dalam susunan pipa ganda ini
dengan

Beda suhu rata-rata yang dimaksud di atas adalah beda suhu rata-rata log
(LMTD = log mean temperature difference), yaitu :

Subskrib 1 dan 2 menunjukkan masuk dan keluar, subskrib h dan c


menunjukkan panas dan dingin. Penurunan LMTD di atas berkenaan dengan dua
asumsi:
1) kalor spesifik fluida tidak berubah menurut suhu.
2) koefisien perpindahan kalor konveksi tetap, untuk seluruh penukar kalor.

Asumsi kedua biasanya sangat penting karena pengaruh pintu-masuk,


viskositas fluida, perubahan konduktivitas-termal, dan sebagainya. Biasanya
untuk memberikan koreksi atas pengaruh-pengaruh tersebut perlu digunakan
metode numerik.
Jika suatu penukar-kalor yang bukan jenis pipa-ganda digunakan,
perpindahan kalor dihitung dengan menerapkan faktor koreksi terhadap LMTD
untuk susunan pipa ganda aliran-lawan-arah dengan suhu fluida panas dan suhu
fluida dingin yang sama. Bentuk persamaan menjadi:

Nilai faktor koreksi F digambarkan dalam gambar di lampiran untuk


berbagai jenis penukar-kalor. Bila terdapat perubahan fase, seperti kondensasi
atau penguapan, fluida biasanya berada pada suhu yang sebenarnya tetap, dan
persamaan-persamaan itu menjadi lebih sederhana. Untuk kondisi ini P atau R
menjadi nol, dan kita dapatkan untuk pendidihan atau kondensasi. 0 .1F
b. Metode NTU-Efektivitas
Pendekatan LMTD dalam analisis penukar kalor berguna bila suhu masuk
dan suhu keluar diketahui atau dapat ditentukan dengan mudah, sehingga LMTD
dapat dengan mudah dihitung, dan aliran kalor, luas permukaan, dan koefisien
perpindahan kalor menyeluruh dapat ditentukan. Bila kita harus menentukan suhu
masuk atau suhu keluar, analisis kita akan melibatkan prosedur iterasi karena
LMTD itu suatu fungsi logaritma. Dalam hal demikian, analisis akan lebih mudah
dilaksanakan dengan menggunakan metode yang berdasarkan atas efektivitas
penukar-kalor dalam memindahkan sejumlah kalor tertentu. Metode efektivitas
ini juga mempunyai beberapa keuntungan untuk menganalisis soal-soal di mana
kita harus membandingkan berbagai jenis penukar kalor guna memilh jenis yang
terbaik untuk melaksanakan sesuatu tugas pemindahan kalor tertentu.
Efektivitas penukar-kalor (heat exchanger effectiveness) didefinisikan
sebagai berikut:

untuk penukar kalor aliran searah, persamaan ini dapat diturunkan menjadi:

untuk penukar kalor aliran lawan arah:

Dengan C = m c, dinamakan laju kapasitas. Subskrib min dan max menunjukkan


aliran yang mempunyai C = m c minimum dan m c maksimum. Kelompok suku
UA/Cmin disebut jumlah satuan perpindahan (number of transfer unit = NTU)
karena memberi petunjuk tentang ukuran penukar-kalor.
Meskipun bagan-bagan efektivitas NTU sangat bermanfaat dalam soal
merancang alat penukar kalor, ada pula penerapan lain yang memerlukan
ketelitian yang lebih tinggi dari yang biasa didapatkan dari grafik. Selain itu,
prosedur merancang mungkin banyak menggunakan komputer, yang memerlukan
adanya persamaan analitis untuk kurva-kurva itu. Persamaan-persamaan
efektivitas dirangkum dalam daftar di lampiran. Dalam banyak hal, tujuan analisis
ialah untuk menentukan NTU dan untuk itu dapat dibuat suatu persamaan
eksplisit untuk NTU dengan menggunakan efektivitas dan perbandingan
kapasitas.
6. Efisiensi Alat Penukar Kalor
Pendekatan LMTD dalam analisis penukar kalor berguna bila suhu masuk dan
suhu keluar diketahui atau dapat ditentukan dengan mudah, sehingga LMTD dapat
dengan mudah dihitung, dan aliran kalor, luas permukaan, dan koefisien perpindahan
kalor menyeluruh dapat ditentukan. Namun, pada kondisi dimana hanya suhu masuk
atau suhu keluar yang diketahui, maka dapat digunakan metode lain yakni metode
NTU yang merupakan salah satu metode analisis pada alat penukar kalor berdasarkan
pada efektivitas jumlah kalor yang dapat dipindahkan antar fluida.
Efektivitas penukar kalor dapat dirumuskan sebagai berikut :

Perpindahan kalor yang sebenarnya dapat dihitung dari energi yang dilepaskan
oleh fluida panas (subscript h) atau energi yang diterima oleh fluida dingin (subscript
c). Untuk penukar kalor aliran sejajar, kalor tersebut dapat dinyatakan dengan:

dan untuk penukar kalor aliran lawan arah:

Besar perpindahan kalor maksimum dapat terjadi ketika fluida mengalami perubahan
suhu yang setara dengan perbedaan suhu maksimum antar fluida yaitu tepat saat
kedua fluida masuk ke dalam alat penukar panas. Perpindahan kalor maksimum akan
terjadi apabila fluida mempunyai nilai massa dikali dengan kalor jenis yang
minimum. Kalor maksimum dapat dinyatakan dengan:

Dengan definisi tersebut, maka besar efektivitas dapat dinyatakan dengan:

Untuk penukar kalor aliran sejajar:

Untuk penukar kalor aliran lawan arah:

Secara umum efektivitas dapat dinyatakan sebagai:

Setelah beberapa penurunan, maka didapat persamaan efisiensi:

Adapun untuk fluida dengan aliran lawan arah, hubungan efisiensinya:

Suku UA/Cmin inilah yang dikenal dengan jumlah satuan perpindahan atau NTU
(Number of Transfer Units) karena memberi petunjuk tentang ukuran alat penukar
kalor. Cmin merupakan nilai C terkecil antara Ch dan Cc, sedangkan Cmax
merupakan nilai yang terbesar.
Dengan menggunakan metode NTU-efektivitas ini akan didapat beberapa
manfaat. Diantaranya adalah memudahkan analisis dalam penyelesaian soal untuk
menentukan suhu masuk ataupun suhu keluar. Metode ini juga mempermudah dalam
menganalisa soal yang membandingkan berbagai jenis alat penukar kalor untuk
memilih yang terbaik dalam melaksanakan suatu tugas pemindahan kalor tertentu.
7. Koefisien perpindahan kalor keseluruhan
Koefisien perpindahan kalor keseluruhan (U) terdiri dari dua macam yaitu:
a.

UC adalah koefisien perpindahan kalor keseluruhan pada saat alat penukar kalor
masih baru

b.

UD adalah koefisien perpindahan kalor keseluruhan pada saat alat penukar kalor
sudah kotor.

Secara umum kedua koefisien itu dirumuskan sebagai:

8.

Perpindahan Kalor pada Alat Penukar Kalor

dimana tm adalah suhu rata-rata log atau Log Mean Temperature Difference
(LMTD). Untuk shellandtubeheat exchanger, nilai LMTD harus dikoreksi dengan
faktor yang dicari dari grafik yang sesuai (Fig 18 s/d Fig 23 Kern). Caranya adalah
dengan menggunakan parameter R dan S.

Nilai LMTD dapat dihitung dengan ketentuan sebagai berikut :


a. Bila konstan pada aliran searah atau aliran berlawanan arah

Aliran Searah (cocurrent)

atau

Aliran Berlawanan Arah (countercurrent)

dan harga tm =FT.LMTD

b. Bila dinyatakan dalam UD maka persamaan LMTD berupa persamaan implisit:

Nilai LMTD yang diperoleh ini harus dikoreksi dengan faktor FT yang dicari dari
grafik yang sesuai. Caranya yaitu dengan menggunakan parameter R dan S.

D. Prosedur Kerja
1. Menyiapkan peralatan dan bahan yang akan digunakan selama percobaan
berlangsung.
2. Menimbang wadah kosong dari fluida yang akan dihasilkan
3. Menyuplai steam dari boiler ke Heat Exchanger Plate bersamaan dengan
menyuplai fluida dingin ke alat.
4. Mengatur suhu steam yang ingin digunakan yaitu 120 oC dengan mengatur katup
manual pada pipa masukan steam.
5. Mengatur skala laju alir fluida dingin yang ingin digunakan yaitu 500. Proses
dimulai bersamaan dengan menyalakan stopwatch.
6. Pada saat proses berjalan, diamati nilai suhu fluida dingin keluar dan suhu fluida
dingin masuk hingga konstan. Jika telah konstan, dicatat suhu fluida dingin masuk
dan keluar serta suhu steam dan kondensat.
7. Hal yang sama dilakukan dengan skala laju alir yang berbeda ( 400, 300, 200, dan
100 ).
8. Setelah dilakukan percobaan dengan 5 titik skala laju alir, proses dihentikan
bersamaan dengan pemberhentian stopwatch. Kondensat yang telah ditampung
lalu ditimbang bobotnya.
9. Pada saat mengistirahatkan alat, skala laju alir diatur full agar proses pendinginan
berjalan lebih cepat.
10. Melakukan tahap yang sama dengan mengubah suhu steam yang akan masuk
yaitu 130oC.

E. Data Pengamatan
1. Dalam satuan SI

Percobaan

Skal
a

Laju
Alir
(ml/s)

t1
( C)

t2
( C)

T1
(oC)

T2
(oC)

500
400
300
200
100
500
400
300
200
100

132
105
80
51
23
132
105
80
51
23

41
41
43
43
44
45
47
47
48
47

118
118
117
117
117
123
123
122
123
121

120,5
120,1
119,9
120,1
120,2
130,9
130,5
129,5
130,3
130,5

79
80
80
80
80
78
78
82
81
82

Laju
Alir
(ft^3/hr
)

t1
(F)

t2
(F)

T1
(F)

T2
(F)

105,
8
105,
8
109,
4
109,
4

244,
4
244,
4
242,
6
242,
6
242,
6
253,
4
253,
4
251,
6
253,
4
249,
8

248,9

174,
2

248,18

176

247,82

176

248,18

176

248,36

176

Berat
Kondensat
(kg)

Waktu
(detik)

11,72

589,68

13,46

566,86

2. Dalam satuan British

Percobaan Skala

500

16,764

400

13,335

300

10,16

200

6,477

100

2,921

111,2

500

16,764

113

400

13,335

116,6

300

10,16

116,6

200

6,477

118,4

100

2,921

116,6

267,62
266,9
265,1
266,54
266,9

172,
4
172,
4
179,
6
177,
8
179,
6

Berat
Kondensat
(lb)

Waktu
(jam)

25,8426

0,1651104

29,6793

0,1587208

F. Perhitungan
1. Mengitung massa kondensat per satuan waktu aktual (M)
M actual=

massa kondensat
waktu

Misalkan dihitung nilai M aktual pada percobaan ke 1.


Massa kondensat =
25,8426 lb
Waktu operasi
=
0.1651104 jam
25,8426lb
M actual=
0,1651104 jam
M actual=156,517094

lb
jam

Berdasarkan metode perhitungan di atas yang diterapkan pada data lain, maka
diperoleh hasil perhitungan sebagai berikut ;
Tabel 1. Hasil perhitungan M aktual
Berat
Percobaan

Skala

Kondensat

Massa kondensat
Waktu (jam)

(lb)
500
400
300
200
100
500
400
300
200
100

per satuan waktu


(lb/jam)

25,8426

0,1651104

156,517094

29,6793

0,1587208

186,990615

2. Menghitung nilai suhu rata-rata fluida dingin dan fluida panas (t rata-rata & T
rata-rata)
T ratarata=

T 1 +T 2
t +t
, t rata rata= 1 2
2
2

Misalkan dihitung nilai t rata-rata dan T rata-rata pada percobaan ke 1 dengan


skala 500.
t1 =
t2 =
t ratarata=

105,8 F
244,4 F
105,8 F+ 244,4 F
2

T1
T2

=
=

248.9 F
174,2 F

t ratarata=175,1 F

T rata rata=

248,9 F+174,2 F
2

T ratarata=211,55 F
Berdasarkan metode perhitungan di atas yang diterapkan pada data lain, maka
diperoleh hasil perhitungan sebagai berikut ;
Tabel 2. Hasil perhitungan suhu rata-rata
Percobaan

Skala
500
400

300
200
100
500
400

300
200
100

t1 (F)

t2 (F)

105,8

244,4

105,8

t rata-

T rata-rata

T1 (F)

T2 (F)

175,1

248,9

174,2

211,55

244,4

175,1

248,18

176

212,09

109,4

242,6

176

247,82

176

211,91

109,4

242,6

176

248,18

176

212,09

111,2

242,6

176,9

248,36

176

212,18

113

253,4

183,2

267,62

172,4

220,01

116,6

253,4

185

266,9

172,4

219,65

116,6

251,6

184,1

265,1

179,6

222,35

118,4

253,4

185,9

266,54

177,8

222,17

116,6

249,8

183,2

266,9

179,6

223,25

rata (F)

(F)

3. Menentukan nilai Heat Capacity (Cp) fluida panas dan fluida dingin.
Penentuan nilai Cp dilakukan dengan plot data suhu rata-rata fluida panas
maupun fluida dingin pada diagram nilai Cp yang terdapat pada buku Heat
Transfer. (diagram nilai Cp terlampir)
Berdasarkan metode yag dijelaskan di atas, maka diperoleh data sebagai
berikutsebagai berikut ;
Tabel 3. Nilai kapasita panas
Percobaan
1

Skala
500
400

t ratarata (F)

T rata-rata
(F)

Cp fluida dingin
(Btu/lb F)

Cp fluida panas
(Btu/lb F)

175,1

211,55

1,02

0,46

175,1

212,09

1,02

0,46

300
200
100
500
400
2

300
200
100

176

211,91

1,03

0,46

176

212,09

1,03

0,46

176,9

212,18

1,03

0,46

183,2

220,01

1,05

0,45

185

219,65

1,05

0,45

184,1

222,35

1,05

0,45

185,9

222,17

1,05

0,45

183,2

223,25

1,05

0,45

4. Penentuan nilai (Hfg)


Hfg=HgHf
Nilai Hf dan nilai Hg diperoleh melalui interpolasi data Hf dan Hg yang terdapat
pada Steam Table.
Misalkan dihitung nilai Hfg pada percobaan ke 1 dengan skala 500.
Hf
=
143,1 Btu/lb
Hg
=
1150 Btu/lb

Hfg=1150

Btu
Btu
143,1
lb
lb

Hfg=1006,9

Btu
lb

Berdasarkan metode perhitungan di atas yang diterapkan pada data lain, maka
diperoleh hasil perhitungan sebagai berikut ;
Tabel 4. Nilai Hg, Hf, dan Hfg
Percobaan

Skala
500
400

300
200
100

500

hg (Btu/lb)
1150

hf (Btu/lb)
143,1

Hfg (Btu/lb)
1006,9

1150,03

143,1

1006,93

1150

144

1006

1150,03

144

1006,03

1150,07

144,9

1005,17

1153,004

151,2

1001,804

400
300
200
100

1152,87

153

999,87

1153,94

152,1

1001,84

1153,87

153,9

999,97

1154,3

151,2

1003,1

5. Menghitung nilai LMTD


Counter Current

t2
t1
T1

T2

LMTD=

1 2
1
ln
2

( )

Misalkan dihitung LMTD pada percobaan ke 1.dengan skala 500.


t1 =
t2 =
LMTD=

105,8 F
244,4 F

T1
T2

=
=

248,9 F
174,2 F

( 174,2105,8 ) (248,9244,4)
F
( 174,2105,8 )
ln
(248,9244,4)

LMTD=23,481 F

Berdasarkan metode perhitungan di atas yang diterapkan pada data lain, maka
diperoleh hasil perhitungan sebagai berikut ;
Tabel 5. Nilai LMTD

Percobaan

Skala

400

300

200

100

500

400

t2

T1

T2

(F)

(F)
244,
4

(F)

(F)

248,9

174,2

23,4814638

105,8

500

t1

300

200

100

LMTD (F)

105,8

244,
4

248,18

176

22,7339292

109,4

242,
6

247,82

176

24,1064437

109,4

242,
6

248,18

176

24,6096435

111,2

242,
6

248,36

176

24,3929836

113

253,
4

267,62

172,4

31,6022553

116,6

253,
4

266,9

172,4

29,8079568

116,6

251,
6

265,1

179,6

32,1335709

118,4

253,
4

266,54

177,8

30,6635169

116,6

249,
8

266,9

179,6

35,1978678

6. Menghitung nilai massa fluida dingin (md)


md=F x
Misalkan dihitung nilai md pada percobaan ke 1 dengan skala 500.
ml
g
md=132
x1
s
ml
g
s
lb
md=132 x 3600
x 0.0022
s
jam
g
md=1045,44

lb
jam

Berdasarkan metode perhitungan di atas yang diterapkan pada data lain, maka
diperoleh hasil perhitungan sebagai berikut ;
Tabel 7. Nilai md
Percobaan

Skala

Laju Alir (ml/s)

md (lb/hr)

500

132

1045,44

400
300
200
100
500
400
2

300
200
100

105

831,6

80

633,6

51

403,92

23

182,16

132

1045,44

105

831,6

80

633,6

51

403,92

23

182,16

7. Menghitung nilai Qd (Q sensible)


Qd=md x Cp d x t

Misalkan dihitung Qd pada percobaan ke 1 dengan skala 500.


md
Cp d
t

=
=
=

1045,44 lb/jam
1.02 Btu/lb F
138.6 F

Qd=1045,44

lb
Btu
x 1. 02
x 138 .6
hr
lb

Qd=147795,9437

Btu
hr

Berdasarkan metode perhitungan di atas yang diterapkan pada data lain, maka
diperoleh hasil perhitungan sebagai berikut ;
Tabel 7. Nilai Q sensible (Qd)
Percobaan

Skala

500
400
300
200

md
(lb/hr)

Cp fluida
dingin
(Btu/lb F)

Q SENSIBEL
dt

(Btu/jam)
147795,9437

1045,44

1,02

(F)
138,6

831,6

1,02

138,6

117564,9552

633,6

1,03

133,2

86927,3856

403,92

1,03

133,2

55416,20832

100
500
400
2

300
200
100

182,16

1,03

131,4

24653,89872

1045,44

1,05

140,4

154118,7648

831,6

1,05

136,8

119451,024

633,6

1,05

135

89812,8

403,92

1,05

135

57255,66

182,16

1,05

133,2

25476,8976

8. Mengitung massa kondensat per satuan waktu teoritis (M)


M=

Qd
( Cp p x T )

T =TkondensatT referent

T referent =25 =77

Misalkan dihitung M teoritis pada percobaan ke 1 dengan skala 500.


Qd

Cp p
T

=
=
=
=

1447795,9437 Btu/hr
1006,9 Btu/lb
0.46 Btu/lb F
(174,2 77)oF =
97,2 F

Btu
hr
M=
Btu
Btu
1006,9
0.46
x 97,2
lb
lb
1447795,9437

M =153,604

lb
hr

berikutnya dijumlahkan nilai M dari persamaan di atas yang diperoleh dari


masing-masing titik (skala berbeda).
Berdasarkan metode perhitungan di atas yang diterapkan pada data lain, maka
diperoleh hasil perhitungan sebagai berikut ;
Tabel 8. Nilai massa kondensat per satuan waktu teoritis (M)
Percobaan

Skala

Q SENSIBEL

Hfg

Cp fluida panas

(Btu/jam)

(Btu/lb)

(Btu/lb F)

(F)

M (lb/jam)

M (lb/jam)

500
400
1

300
200
100
500
400

300

147795,9437

1006,9

0,46

97,2

153,6040188

117564,9552

1006,93

0,46

99

122,2864344

86927,3856

1006

0,46

99

90,50599255

55416,20832

1006,03

0,46

99

57,69576812

24653,89872

1005,17

0,46

99

25,69104626

154118,7648

1001,804

0,45

95,4

160,7289016

119451,024

999,87

0,45

95,4

124,826033

89812,8

1001,84

0,45

102,6

93,97888392

941.06

0.44

131.4

66.55293169

937.9028

0.44

133.2

33.19610215

57255,66

200

25476,8976

100

449,7832602

466,1354578

9. Menghitung persentase error Massa kondensat per satuan waktu


%Error=

M teoritisM actual
x 100
M teoritis

Misalkan dihitung nilai % error untuk percobaan 1


%Error=

449,7832156,517
x 100
449,7832

%Error=65,202
Berdasarkan metode perhitungan di atas yang diterapkan pada data lain, maka
diperoleh hasil perhitungan sebagai berikut ;
Tabel 9. Nilai % error
M aktual

M teoritis

(lb/jam)

(lb/jam)

156,517094

449,7832602

65,20166314

186,990615

466,1354578

59,88491932

Percobaan

% error

10. Menghitung nilai koefisisen perpindahan panas overall (U)


Q
U=
ALMTD
A=8.217 ft 2
Misalkan dihitung nilai U pada percobaan ke 1 dengan skala 500.
Q
=
147795,9437 Btu/hr
LMTD
=
23,481 F
U=

147795,9437 Btu/hr
8.217 f t 223,481

U=765,991

Bt u
hr f t 2

Berdasarkan metode perhitungan di atas yang diterapkan pada data lain, maka
diperoleh hasil perhitungan sebagai berikut ;
Tabel 10. Nilai U
Percobaan

Q SENSIBEL

LMTD (F)

U (Btu/ft^2 hr F)

23,4814638

765,9916963

117564,9552

22,7339292

629,3468933

86927,3856

24,1064437

438,84402

55416,20832

24,6096435

274,0426744

24653,89872

24,3929836

123,0006474

154118,7648

31,6022553

593,5046907

119451,024

29,8079568

487,6905974

89812,8

32,1335709

340,1464625

57255,66

30,6635169

227,2391596

25476,8976

35,1978678

88,08803014

(Btu/jam)
147795,9437

G. Pembahasan
Pada dasarnya terdapat tiga mekanisme perpindahan panas, yaitu konduksi
dimana perpindahan panas terjadi karena adanya perpindahan molekul, konveksi
dimana perpindahan panas terjadi karena adanya perpindahan zat (fluida), dan radiasi
dimana perpindahan panas melalui pancaran gelombang elektromagnetik. Alat yang

digunakan pada praktikum ini adalah Heat Exchanger Plate. Semua mekanisme
perpindahan panas terjadi pada alat ini.

cooling

water

PLATE

Steam in

Perpindahann panas konduksi pada HE Plate terjadi antara plate. Panas plate
bersumber dari fluida panas yang di suplai ke dalam plate, lalu terjadi transfer panas
kondensat out

antara plate. perpindahan panas konveksi terjadi antara fluida panas dan fluida dingin
yang terdapat dalam plate. sedangkan perpindahan panas radiasi terjadi saat dinding
plate men-transfer panas ke udara.
HE Plate terdiri dari beberapa rangkaian alat seperti, thermometer, valve, plate,
pipe, isolator, dan steam trap. Kegunaan steam trap adalah untuk menangkap dan
menkondensasikan sisa uap yang tidak menkondensasi setelah proses transfer panas.
Steam trap ini diharapkan dapat mengkondensasikan semua sisa uap sehingga
keluaranya semua dalam bentuk cair.
Berdasarkan data praktikum dilakukan perhitungan nilai massa kondensat per
satuan waktu (M) aktual maupun teoritis kemudian kedua nilai tersebut dibandingkan.
berdasarkan data hasil perhitungan, diketahui bahwa pada semua tahap percobaan,
nilai M teoritis jauh lebih besar dibandingkan nilai M aktual, hal ini menyebabkan
nillai persentase error cukup besar. Berdasarkan analisa penulis, hal ini terjadi karena
pada saat praktikum, kondensat yang keluar berada dalam fasa cair jenuh dimana saat
masih berada dalam pipa setelah melalui steam trap, kondensat berada pada kondisi
bertekanan tinggi dan saat keluar dari pipa, kondensat berpindah ke kondisi tekanan
rendah (tekanan standar) sehingga ada beberapa kondensat yang berubah fasa kembali
menjadi uap. Uap yang berasal dari kondensat ini disebut flas steam. Berdasarkan hal
tersebut, kondensat yang ditampung dan ditimbang bukanlah massa kondensat
keseluruhan, melainkan hanya massa kondensat yang tidak menjadi flash steam.
Kondensat yang menjadi flash steam tidak terhitung karena telah terakumulasi dengan

udara bebas. itulah mengapa pada saat praktikum berlangsung banyak uap (flash
steam) yang keluar dari kondensat yang ditampung. Hal ini menyebabkan jumlah
kondensat aktual jauh lebih kecil dibandingkan nilai kondensat teoritis yang diperoleh
dari perhitunagan.
Nilai koefisien perpindahan panas overall (U) juga dihitung pada pengolahan data
praktikum ini. Koefisien perpindahan panas overall melalui persamaan
Q
U=
ALMTD
Berdasarkan data diatas, dapat diamati bahwa nilai U terus menurun pada tiap
percobaan. Hal ini terjadi dikarenakan nilai koefisien perpindahan panas overall (U)
berbanding lurus dengan nilai panas yang diberikan (Q).

H. Kesimpulan
Dari hasil percobaan yang telah dilakukan maka dapat kami simpulkan bahwa :
1. Prinsip kerja HE Plate adalah melakukan transfer panas antar fluida melalui plate
yang terdapat dalam alat HE Plate. selain itu transfer panas juga terjadi antara
plate dan plate ke udara.
2. Nilai koefisien perpindahan paanas overall (U) yang diperoleh semakin lama
semakin turun sebanding dengan bertambahnya panas yang diberikan.
3. Perbandingan antara massa fluida secara teoritis dan secara praktek sangat
berbeda dengan persentase error 65,20 % dan 59,88 %.

Daftar Pustaka
Anonim. Buku Panduan Praktikum Proses Operasi Teknik I. 1989. Teknik Gas dan
Petrokimia UI. (online : diakses tanggal 16 Nov 2016)
Kern,D.Q. 1981. Process Heat Transfer. New York: Mc-Graw Hill International Company.

Lampiran