Anda di halaman 1dari 5

BAB II

TINJAUAN LAPANGAN

.1. Definisi Konstruksi Bangunan


Konstruksi dapat diartikan sebagai gabungan dari elemen struktur dan elemen
nonstruktur. Kontruksi juga dapat didefinisikan sebagai suatu kegiatan membangun
sarana maupun prasarana sehingga dapat digunakan untuk tujuan tertentu. Aktifitas
kontruksi bukan hanya sebatas membangun, tetapi juga kegiatan-kegiatan lain yang
terkait dengan proses pendirian bangunan seperti perencanaan rancang bangunan
penelitian yang amat dalam, penyusunan RAB, penyediaan material, dan pengawasan
proyek pembangunan.
Dalam sebuah bidang arsitektur atau teknik sipil, sebuah konstruksi juga dikenal
sebagai bangunan atau satuan infrastruktur pada sebuah area atau pada beberapa area.
Secara ringkas konstruksi diringkas sebagai objek keseluruhan bangunan yang terdiri dari
bagian-bagian struktur. Misal, konstruksi struktur bangunan adalah bentuk atau bangun
secara keseluruhan dari struktur bangunan. Contoh lain: Konstruksi Gedung, Tower,
Menara, Jalan Raya, Jembatan dan lain-lain.
Konstruksi dapat juga didefinisikan sebagai susunan model, tata letak suatu
bangunan (Pusat Bahasa 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga. Jakarta:
Balai Pustaka. ISBN 9789794071823)
Konstruksi bangunan dikelompokkan kedalam 4 kelompok, yaitu:
a. Kontruksi gedung yaitu: Kontruksi yang digunakan untuk mendukung kebutuhan
hidup manusia seperti; kantor, rumah sakit, hotel, rumah dan lain-lain.
b. Kontruksi transportasi yaitu: Kontruksi yang dibuat untuk memenuhi sarana dan
prasarana transportasi seperti; jalan raya, jembatan, rel kereta api, terminal,
pelabuhan, bandara dan sebagainya.
c. Kontruksi air yaitu: Kontruksi yang dibangun untuk mengelola air diatas tanah
bendungan, saluran irigasi, saluran drainase, waduk, parit, bangunan bagi, goronggorong dan sebagainya.

d. Bangunan khusus yaitu: Kontruksi bangunan yang didirikan untuk tujuan khusus
seperti; Menara pemancar gelombang radio, Menara pemancar televisi anjungan
minyak lepas pantai, menara jaringan listrik tegangan tinggi dan lain-lain.
Untuk keberhasilan pelaksanaan proyek konstruksi, perencanaan yang efektif sangatlah
penting. Hal ini terkait dengan rancang-bangun (desain dan pelaksanaan) infrastruktur yang
mempertimbangkan mengenai dampak pada lingkungan, pemilihan lokasi, kondisi
lingkungan, ketersediaan material bangunan, analisis pembebanan yang akurat dan sumber
daya yang mendukung.
Secara umum dalam perencanaan suatu konstruksi bangunan harus memenuhi 5
syarat, yaitu:
a. Kuat dan awet, dalam arti tidak mudah rusak sehingga biayapemeliharaan relatif
menjadi murah.
b. Fungsional, dalam arti bentuk, ukuran dan organisasi ruangan memenuhi kebutuhan
sesuai dengan fungsinya.
c. Indah, dalam arti bentuknya enak dipandang mata, berarti disinni juga diperhitungkan
nilai etestikanya.
d. Hygienis, dalam arti sirkulasi udara dan cahanya cukup sehingga penghuninya merasa
nyaman dan sehat.
e. Ekonomis, dalam arti tidak terdapat pemborosan sehingga pembiayaan menjadi relatif
efisien dan efektif.
2.2

Jenis-Jenis Bangunan
Bangunan sebagai suatu benda hasil karya orang umumnya besar dan mempunyai

bobot yang tinggi serta dikerjakan oleh banyak orang. Mengingat banyaknya macam
bangunan dalam bidang teknik, maka dapat dibedakan menjadi jenis-jenis sebagai berikut:
2.2.1

Bangunan Kering
Bangunan kering adalah bangunan yang diantaranya: Gedung, rumah, Jalan, pabrik,

tempat ibadah dan lain-lain.


2.2.2

Bangunan Basah
Bangunan basah adalah yang diantaranya: saluran air, menara air, dermaga,

pelabuhan, bendungan, saluran irigasi dan lain sebagainya. Mengingat ruang lingkup dan

jenis bangunan yang cukup luas, maka dalam hal ini hanya akan dibahas ilmu bangunan
gedung saja.

2.3

Bagian-bagian Bangunan
Setiap Bangunan merupakan susunan sesuatuyang terdiri dari komponen-komponen

yang saling berhubungan antara satu dengan lainnya agar mendapatkan kontruksi yang stabil.
Ditinjau dari susunannya, bangunana gedung dapat dibagi menjadi 3 (tiga) bagian:
2.3.1

Pondasi (Struktur bawah)


Pondasi adalah suatu bagian dari konstruksi bangunan yang berfungsi untuk

menempatkan bangunan dan meneruskan beban yang disalurkan dari struktur atas ke tanah
dasar pondasi yang cukup kuat menahannya tanpa terjadi differential settlement pada sistem
strukturnya. Yaitu bagian-bagian bangunan yang terletak dibawah permukaan lantai atau
bagian bangunan yang ada di dalam tanah, seperti balok beton (sloof), kolom beton dan
pondasi. Bangunan bagian bawah ini berfungsi untuk menahan semua beban bangunan yang
berada diatas nya termasuk beratnya sendiri.
Hal-hal berikut yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan tipe pondasi antara
lain adalah:
a.
b.
c.
d.
e.

Kedaan tanah pondasi


Batasan-batasan akibat konstruksi diatasnya (upper structure)
Keadaan daerah sekitar lokasi
Waktu dan biaya pekerjaan
Kokoh, kaku dan kuat

kebiasaannya kondisi tanah dasar pondasi mempunyai karakteristik yang bevariasi,


berbagai parameter yang mempengaruhi karakteristik tanah antara lain pengaruh muka air
tanah mengakibatkan berat volume tanah terendam air berbeda dengan tanah tidak terendam
air meskipun jenis tanah sama. Jenis tanah dengan karakteristik fisik dan mekanis masingmasing memberikan nilai kuat dukung tanah yang berbeda-beda. Dengan demikian pemilihan
tipe pondasi yang akan digunakan harus disesuaikan dengan berbagai aspek dari tanah di
lokasi tempat akan dibangunnya bangunan tersebut.
2.3.2

Balok Sloof (Struktur tengah)

Sloof adalah konstruksi yang berfungsi sebagai pengikat bagian bawah tiap-tiap kolom.
Sloof juga berfungsi meratakan beban bangunan dan mengurangi resiko penurunan yang
tidak seragam (differential settlement) akibat perbedaan daya dukung tanah yang menumpu
pondasi. Bagian-bagian bangunan yang terletak diatas balok beton sloof, seperti dinding,
pintu dan jendela.
2.3.2

Kolom (Struktur tengah)


Kolom adalah batang tekan vertikal dari rangka struktur yang memikul beban dari

balok. Kolom merupakan suatu elemen struktur tekan yang memegang peranan penting dari
suatu bangunan, sehingga keruntuhan pada suatu kolom merupakan lokasi kritis yang dapat
menyebabkan runtuhnya (collapse) lantai yang bersangkutan dan juga runtuh total (total
collapse) seluruh struktur (Sudarmoko, 1996). SK SNI T-15-1991-03 mendefinisikan kolom
adalah komponen struktur bangunan yang tugas utamanya menyangga beban aksial tekan
vertikal dengan bagian tinggi yang tidak ditopang paling tidak tiga kali dimensi lateral
terkecil.
Apabila beban yang bekerja pada kolom semakin besar, maka retak akan terjadi
diseluruh tinggi kolom pada daerah sengkang dan juga kegagalan struktur lainnya seperti
kerusakan yang disebabkan oleh factor tekuk yang bekerja pada kolom yang disebabkan oleh
tidak seimbangnya beban yang dipikul persatuan dimensi kolom. Pada batas keruntuhan
biasanya ditandai dengan selimut beton yang lepas terlebih dahulu sebelum baja tulangan
kehilangan letakan. Menurut Wang (1986) dan Ferguson (1986) jenis-jenis kolom ada tiga,
yaitu : kolom ikat (tie column), kolom spiral (spiral column), kolom komposit (composite
column).
Sedangkan berdasaarkan bentuk dan susunan tulangan, kolom dibedakan menjadi :
a. Kolom segi empat dengan tulangan memanjang dan sengkang.
b. Kolom bulat dengan tulangan memanjang dan tulangan lateral berbentuk spiral.
c. Kolom komposit yang terdiri dari beton dan baja profil didalamnya.
.
2.3.3

Ring balok (Struktur tengah)


Ring balok adalah struktur yang diletakkan diatas pasangan batu dan bata. Fungsi ring

balok adalah sebagai tumpuan konstruksi atap dan sebagai pengikat pasangan dinding batu
bata bagian atas agar tidak runtuh. Ring balok yang umumnya digunakan untuk bangunan
sederhana adalah ring balok dengan lebar 15 cm dan panjang 20 cm.
Komponen-komponen penyusun Ring balok adalah:

1.
2.
3.
4.

Beton (dengan campuran 1pc:2ps:3pk atau yang lebih baik)


Besi baja tulangan
Bekisting balok ring atau cetakan beton
Masing-masing komponen tersebut diatas menjadi biaya bahan dan biaya tenaga atau
biaya tukang.
Bagian-bagian bangunan yang terletak diatas dinding ( Pasangan bata ), seperti
plafond,balok cincin (ring balk), rangka atap dan penutup atap.

2.3.5

Konstruksi atap (Struktur atas)


Konstruksi atap adalah bagian paling atas dari suatu bangunan, permasalahan

konstruksi atap tergantung pada luasnya ruang yang harus dilindungi, bentuk dan konstruksi
yang dipilih, dan lapisan penutupnya.
Pengaruh lingkungan luar terhadap atap menentukan pilihan penyelesaian yang baik
terhadap suhu (sinar matahari), cuaca (air hujan dan kelembapan udara), serta keamanan
terhadap kebakaran (petir dan bunga api) sehingga atap harus memenuhi kebutuhan terhadap
keamanan dan kenyamanan.
2.4 Perawatan dan Perbaikan Konstruksi
Untuk menjaga dan memenuhi kualitas serta kelayakan maupun standar kegunaan
daripada tujuan fungsi utama dari perencanaan suatu konstruksi, maka perlunya dilakukan
suatu upaya untuk menjaga kualitas tersebut seperti kegiatan perawatan dan perbaikan
konstruksi sehingga tujuan dari perencanaan selalu terjaga kualitasnya.
Beberapa jenis pemeliharaan berdasarkan British Standard Institute (1984) BS 3811 :
1984 Glossary of Maintenance Management Terms in Terotechnology :
1. Pemeliharaan terencana (planned maintenance): pemeliharaan yang terorganisir
dan terencana. Adanya pengendalian dan pencatatan rencana pemeliharaan.
2. Pemeliharaan preventif (preventive maintenance): pemeliharaan dengan interval
yang telah ditetapkan sebelumnya, atau berdasarkan kriteria tertentu. Bertujuan
untuk mengurangi kemungkinan kegagalan atau degradasi performa suatu benda.
3. Pemeliharaan korektif (corrective maintenance): pemeliharaan yang dilakukan
setelah kerusakan atau kegagalan terjadi, lalu mengembalikan atau mengganti
benda tersebut ke kondisi yang disyaratkan sesuai fungsinya.
4. Pemeliharaan darurat (emergency maintenance): pemeliharaan yang dilakukan
dengan segera untuk menghindari risiko yang serius.