Anda di halaman 1dari 2

Saudariku Kuingin Meraih Surga

Bersamamu
May 25th, 2008/Akhlak dan Nasehat/77 Comments

Penulis: Ummu Ziyad


Memakai jilbab, untuk saat ini dan di negara ini, bukanlah berarti sebuah pengilmuan akan
agama. Dulu aku pernah beranggapan bahwa seorang yang memakai jilbab adalah orang yang
akan berusaha mempertahankan jilbabnya disebabkan proses pemakaian jilbab itu sendiri
membutuhkan pergulatan di hati yang membuncah-buncah dan penuh derai air mata. Tapi
sayangnya, makin bertambah usiaku, maka berubah pula anggapan itu disebabkan berbagai
kenyataan yang kutemui.
Aku baru menyadari ada sebagian wanita yang menggunakan jilbab hanya karena sekedar
disuruh atau diwajibkan oleh orang tua, tempat belajar atau tempatnya bekerja. Jika telah keluar
dari aturan itu, maka lepas pula jilbab yang menutupi kepalanya. Mungkin karena itulah kainkain itu tidak menutup secara benar kepala dan dada mereka.
Sebagian lagi, memakai jilbab karena pada saat itu, jilbab terasa pas untuk dipakai dan lebih
menimbulkan kesan gaya dan kereligiusan agama. Apalagi jika diberi pernak-pernik di sanasini. Jilbab yang seharusnya menutup keindahan wanita tersebut malah justru menambah
keindahan itu sendiri. Ditambah lagi kesan agamis yang terasa nyaman di hati.
Aku juga pernah berpikir dan bertanya-tanya, bahwa orang-orang memakai cadar dan berjilbab
lebar apakah tidak kepanasan dengan seluruh atributnya? Apakah tidak repot jika hendak keluar
dimana mereka harus memakai seluruh kain panjang tersebut? Mulai dari baju, jilbab yang lebar,
masih harus ditambah memakai kaus kaki! Ah! Dan di balik jilbab itu, ternyata masih ada jilbab
lagi! Dan apakah mereka bisa melihat dari balik cadar yang menutup matanya?

Untuk yang satu ini, waktu tidak cukup untuk menjawab semua pertanyaan itu. Karena butuh
pengetahuan lain yang merasuk ke dalam hati untuk mendapatkan jawabannya. Pengetahuan
akan indahnya Islam dengan segala pengaturan yang diberikan oleh Allah. Pengetahuan akan
surga yang begitu indah dan damai dengan segala kenikmatannya. Pengetahuan bahwa surga
tidak akan tercium oleh wanita yang mengumbar-umbar aurat di depan khalayak. Pengetahuan
bahwa penghuni neraka yang paling banyak adalah wanita. Ternyata kerepotan itu bukanlah
kerepotan, melainkan sebuah usaha. Usaha dari seorang wanita muslimah untuk menggapai
surga-Nya. Untuk bersanding dengan suaminya ditemani dengan bidadari cantik lainnya. Panas
dari jilbab itu bukanlah rasa panas yang menyesakkan pikiran dan dada. Akan tetapi hanya
sepercik penguji jiwa yang dapat meluruhkan dosa-dosa kecil dari seorang insan wanita.
Bukankah Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengatakan bahwa setiap kesusahan yang dialami
muslim merupakan peluruh bagi dosa-dosanya.
Maka hatiku kini pedih Ketika kemarin melihat saudariku yang lain, seiring dengan
berjalannya waktu, kini telah membuka jilbabnya. Sempat kutanyakan, Di mana jilbabnya?
Ia menjawab, Tidak sempat kupakai.
Aih waktu kutanyakan itu, memang pada saat dimana orang-orang sibuk menyelamatkan
dirinya dikarenakan bencana alam. Aku hanya terdiam mendengar jawaban itu. Ah mungkin
karena sangat terkejutnya sehingga tidak sempat berbalik lagi untuk mengambil jilbab.
Tapi hari ini kutemukan dia sudah menanggalkan jilbabnya. Bahkan tak tersisa sedikitpun
jejak bahwa ia pernah memakai jilbab. Kini ia telah bercelana pendek dengan pakaian yang
pendek pula. Sesak rasanya dada ini. Tetapi belum ada daya dari diriku untuk bertanya lagi
tentang sebuah kain yang menutupi kepala dan dadanya. Masih tersisa di benakku, jika seseorang
yang menggunakan jilbab melepas jilbabnya maka habislah sudah karena perenungan dan
pergulatan hati itu kini telah dikalahkan oleh hawa nafsu. Perenungan yang pernah mendapatkan
kemenangan dengan dikenakannya jilbab itu kini justru bahkan tak mau diingat. Hanya kepada
Allah-lah aku mengadu dan memohonkan hidayah itu agar tetap ada bersamaku dan kembali
ditunjukkan kepadanya.
Saudariku kuingin meraih surga bersamamu. Maka, saat ini aku hanya bisa berdoa. Semoga
kita bertemu di surga kelak