Anda di halaman 1dari 35

BAB I

STATUS PASIEN
I.

IDENTITAS PASIEN
Nama

: Tn. N

Jenis kelamin

: Laki-Laki

Tanggal Lahir

: 22-05-1986

Usia

: 29 tahun

Agama

: Islam

Suku

: Minang

Pendidikan Terakhir

: SMP

Status Pernikahan

: Belum Menikah

Pekerjaan

: Tidak bekerja

Alamat Rumah

: Jln. Kramat Pulo Dalam II GG.18 RT.03/08 Kel.


Kramat Kec.Senen, Jakarta Pusat

II.

Tanggal masuk RS

: 28 Desember 2015

Nomor Rekam Medis

: 821293

RIWAYAT PSIKIATRI
Anamnesis diperoleh dari :
Autoanamnesis dilakukan pada hari Minggu, 31 Januari 2016.
Alloanamnesis dengan kakak pasien (Tn.R) pada hari Minggu, 31 Januari 2016
A. Keluhan Utama
Pasien berbicara sendiri dan sulit tidur.
B. Riwayat Gangguan Sekarang
Pasien sebelumnya sudah pernah dirawat di RSPAD Gatot Soebroto 1
minggu SMRS dan kembali masuk ruang perawatan dikarenakan pasien
sering berbicara sendiri dan sulit tidur kembali sejak 3 hari SMRS.
Pasien diantar oleh keluarganya ke Paviliun Amino RSPAD Gatot
Soebroto. Menurut kakaknya, Rendi, pasien sering berbicara sendiri, tidak
1

bisa tidur serta tidak mau meminum obat. Pasien juga sering tertawa sendiri di
dalam kamarnya.
Menurut kakak pasien, pasien mulai mengalami perubahan perilaku yang
mencolok sejak tahun 2004, ketika berumur sekitar 19 tahun, pasien ingin
menjadi

seperti

ayahnya

yang

mempunyai

keahlian

khusus

bisa

menyembuhkan orang, namun pasien tidak tahu bagaimana caranya dan tidak
ada bimbingan dari keluarga karena ayah pasien memiliki kemampuan
tersebut secara autodidak.
Dalam keluarga pasien, orang yang memiliki keahlian khusus untuk bisa
mengobati orang adalah hal yang lumrah, maka ketika pertama kali pasien
memiliki perubahan perilaku dan juga dapat menebak nomor togel selalu tepat
keluarga menganggap hal itu adalah hal yang biasa, perubahan perilaku
menjadi makin memburuk sejak adik laki-laki pasien meninggal karena sakit
HIV pada tahun 2006, pasien lebih sering mengurung diri di kamarnya dan
sering terlihat berbicara sendiri. Menurut keluarga, pasien memiliki hubungan
yang sangat dekat dengan adiknya, keduanya sering berkunjung ke tempat
habib di Masjid dekat rumahnya untuk menuntut ilmu dan selalu pergi berdua
kemana-mana.
Kakak pasien juga mengatakan dahulu sewaktu lulus SD pasien ingin
melanjutkan sekolahnya ke pesantren, namun dikarenakan masalah biaya
pasien hanya dapat lanjut ke SMP, menurut kakaknya hal ini membuat pasien
sangat kecewa dan membuat pasien sering tidak masuk sekolah, sehingga
pasien hanya sekolah sampai kelas dua SMP. Alasan pasien ingin melanjutkan
sekolah di Pesantren dikarenakan ingin belajar ilmu yang dapat mengobati
orang seperti Ayah pasien. Puncak terjadinya perubahan perilaku pada pasien
adalah ketika pasien secara tiba-tiba menusuk kakaknya dengan gunting
sebanyak tiga kali pada tahun 2006, sehingga kakaknya harus dioperasi karena
luka yang tembus ke rongga dada. Pasien kemudian dibawa ke Rumah Sakit
Jiwa Grogol dan dirawat selama 2 minggu. Pasien sudah keluar masuk
perawatan di Rumah sakit jiwa Grogol sejak tahun 2006 sebanyak 4 kali,
namun pasien tidak mau kontrol rutin dan tidak minum obat sejak dua bulan
SMRS.
2

Menurut keterangan kakak pasien, 3 bulan yang lalu pasien sempat ingin
bunuh diri dengan minum air karbol, pasien sampai mengeluarkan busa dari
mulutnya. Namun, setelah kejadian tersebut pasien sadarkan diri sehingga
tidak dibawa ke rumah sakit. Menurut pasien dia melakukan hal tersebut
karena ada yang menyuruhnya melakukan hal tersebut, pasien melihat orang
itu seperti kuntilanak laki-laki orang Belanda yang bernama Jager yang
tingginya sekitar 5 meter, Jager tinggal di kamar pasien dan suka tidur di goa,
menurut pasien Jager merupakan teman si Pitung dan dia selalu berusaha
menyuruh pasien mati karena dianggap tukang bikin ulah dikamar dan pasien
ketakutan dengan hal tersebut. Sebelumnya pasien juga pernah mencoba
bunuh diri dengan menusukkan pisau ke bagian lehernya, pasien mengamuk
di pasar dan dicegah oleh orang-orang banyak. Menurut keterangan pasien
dirinya melakukan hal tersebut karena merasa ada yang mengejar-mengejar
dirinya seperti suara kaki serdadu yang membuat dirinya ketakutan dan tidak
tahan lagi sehingga ia marah-marah dan mencoba bunuh diri.
Dari autoanamnesa, didapatkan alasan mengapa pasien masuk RSPAD
karena pasien ingin menghindari kakak pertama pasien yang bernama
Iren/Reno yang menurut pasien suka mencelakai pasien. Pasien mengatakan
dirinya pernah dicincang, digorok dan dibakar oleh Reno. Pasien menjelaskan
kulitnya hitam karena akibat dibakar oleh Reno. Pasien juga mengaku alasan
dia tertawa sendiri di kamar adalah karena pasien sedang berkomunikasi jarak
jauh dengan Mpeh. Mpeh adalah seorang kakek berusia 82 tahun dengan
rambut putih yang menurutnya adalah temannya di daerah rumah. Pasien
mengaku sering bercanda dengan Mpeh di kamarnya. Pasien juga mengaku
sering berkomunikasi dengan mama aslinya yang menurutnya adalah Ibu
kandungnya yaitu Rumaidah Kastil. Kini pasien dapat membaca makna
tulisan dari pergelangan tangan manusia. Menurutnya, pada setiap nadi
manusia terdapat tulisan yang berbeda dan memiliki arti tersendiri.
Semenjak 3 hari SMRS pasien tidak mau meminum obat lagi. Menurut
pasien, dirinya tidak mau mengkonsumsi obat karena ingin mengirit, sebab

untuk mengambil obat kontrol ke RSPAD ia membutuhkan uang yang banyak


untuk transportasi.
Menurut pengakuan pasien, pasien pernah menusuk kakaknya pada
tahun 2006, dikarenakan pasien mendengar saran dari Ilham yang mengatakan
keluarganya sudah tidak peduli dengannya karena sering bikin masalah dan
pasien yakin kakaknya ingin membunuh pasien karena dianggap tidak
berguna, Ilham juga mengatakan bahwa kakak pasien sudah menyiapkan
golok untuk menggorok pasien, pasien mengatakan mencoba membela diri
dan mengambil gunting lalu menusuk kakaknya duluan.
Ketika ditanya alasan mengapa berada di rumah sakit, pasien tidak merasa
dirinya sakit, Pasien hanya mencari ketenangan akibat dirumahnya ia merasa
ingin dicelakai Reno. Menurut pasien jika seorang kakak kandung tidak akan
memperlakukannya seperti binatang dan seharusnya kakak kandung akan
menyayangi dan memeluk adiknya, bukan memperlakukan secara kasar.
Pasien mengaku menjadi seperti sekarang karena frustasi, setiap kerja
yang ia lakukan tidak pernah dihargai dan selalu dianggap salah, dia selalu
diremehkan oleh kakaknya dan lingkungan sekitarnya dan tidak pernah
dihargai seperti manusia. Pasien mengatakan dia hanya mau sedikit dihormati
dan dihargai sebagai manusia. Pasien memukuli kakaknya dan marahmarah
karena tidak tahan dengan perlakuan orang-orang disekitarnya di tambah lagi
karena pasien mendapat saran dari suara yang didengarnya untuk menusuk
kakaknya karena ia mendengar dirinya akan dibunuh oleh keluarganya karena
menurutnya keluarganya dipengaruhi oleh orang jahat. Pasien mengatakan
sering main dan tidur di pasar juga lapangan didekat rumahnya. Pasien sering
makan buah sisa orang berjualan di pasar, dan ketika mengajak ibu-ibu di
pasar mengobrol dia juga sering dipukuli oleh orang-orang di pasar.

C. Riwayat Gangguan Sebelumnya


1. Gangguan Psikiatri
4

Pasien telah memiliki riwayat gangguan jiwa sejak usia 19 tahun dengan
diagnosa skizofrenia, pasien sering keluar masuk perawatan di Rumah Sakit
Jiwa Grogol. Saat ini pasien sudah kedua kalinya di rawat di RSPAD Gatot
Soebroto dikarenakan pasien berbicara dan tertawa sendiri serta sulit tidur.
Menurut keterangan keluarga pasien sudah pernah 5 kali dirawat sejak tahun
2006. Gejala muncul pertama kali saat pasien berusia 19 tahun (tahun 2004).
Pasien suka berbicara sendiri di kamarnya dan suka menempel jimat di
dinding kamarnya, pasien memiliki kenginan bisa menyembuhkan orang
seperti ayahnya tapi keinginannya tidak tercapai.
Pada tahun 2006, adik laki-laki pasien meninggal karena HIV, pasien
sangat

dekat

dengan

adiknya

dan

merasa

sangat

kehilangan

dan

mengakibatkan perilaku pasien menjadi semakin berubah, pasien lebih suka


menyendiri di dalam kamar, berbicara sendiri dengan suara yang tidak jelas,
dan mulai bertingkah aneh, sampai puncaknya pasien menusuk kakaknya
dengan gunting sebanyak 3 kali (tahun 2006) hingga kakaknya di operasi,
menurut keterangan pasien dia mendengar suara yang menyuruhnya untuk
menusuk kakaknya karena dari suara yang didengarnya tersebut mengatakan
bahwa kakak-kakaknya akan membunuh dirinya karena dianggap tidak
berguna dan selalu membuat masalah. Pasien dibawa keluarga ke rumah sakit
dan sempat mendapat perawatan di RS Grogol selama kurang lebih 2 minggu.
1 tahun yang lalu pasien sempat mencoba untuk bunuh diri dengan
menusukkan pisau ke bagian lehernya, pasien mengamuk di pasar dan dicegah
oleh orang-orang banyak. Menurut keterangan pasien dirinya melakukan hal
tersebut karena merasa ada yang mengejar-mengejar dirinya seperti suara
serdadu yang membuat dirinya ketakutan dan tidak tahan lagi sehingga dia
marah-marah dan mencoba bunuh diri. Pasien lalu di rawat kembali di RSJ
Grogol untuk dilakukan perawatan.
3 bulan yang lalu pasien juga sempat ingin bunuh diri lagi dengan
meminum karbol, menurut pasien dirinya disuruh oleh orang Belanda seperti
kuntilanak laki-laki orang yang bernama Jager yang tingginya sekitar 5 meter,
Jager tinggal di kamar pasien dan suka tidur di goa, menurut pasien Jager
5

merupakan teman si Pitung dan dia selalu berusaha menyuruh pasien mati
karena dianggap tukang bikin ulah dikamar dan dia ketakutan dengan hal
tersebut.
2. Gangguan Medik
Pasien tidak pernah memiliki riwayat trauma kepala, tidak pernah
kejang, tidak pernah demam tinggi, tidak pernah mengalami penyakitpenyakit berat yang membutuhkan perawatan sebelumnya.
3. Penggunaan Zat Psikoaktif
Dari hasil autoanamnesa, pasien mengaku sewaktu kecil sering
dicekoki oleh teman main dan preman disekitar lingkungan rumahnya untuk
minum alkohol dan juga dipaksa untuk mencoba pil lexotan. Namun pasien
tidak menyukai hal tersebut dan tidak mengkonsumsi alkohol dan obat-obatan
lagi. Pasien menyangkal menggunakan narkoba, pasien mengatakan tidak
suka mengkonsumsi obat-obatan terlarang karena adik pasien meninggal
karena HIV. Pasien merupakan perokok aktif sejak SMP, pasien mengaku
mulai merokok sejak berhenti sekolah.
D. Riwayat Kehidupan Pribadi
1. Riwayat Perkembangan Fisik dan Kepribadian
Periode Prenatal dan Perinatal
Dari hasil alloanamnesa didapatkan bahwa selama kehamilan, Ibu
pasien tidak pernah mengalami masalah kesehatan yang serius, tidak
mengalami muntah yang berlebihan, tidak mengonsumi alkohol maupun
obat-obatan secara bebas. Ibu pasien rutin memeriksakan kandungannya
ke bidan. Pasien lahir cukup bulan, spontan dan langsung menangis, tidak
ada cacat bawaan. Pasien lahir dengan bantuan bidan dengan berat badan
normal (3,2 kilogram), panjang 50 cm.
Periode Anak Awal (Lahir sampai usia 3 tahun)
Menurut kakak pasien, tumbuh kembang pasien normal seperti
anak-anak seusianya. Pasien diberikan ASI oleh ibunya sampai usia 4
bulan. Pasien dapat berjalan dan berbicara saat usia 1 tahun. Pasien
6

mendapatkan imunisasi secara lengkap, pasien tidak pernah mengalami


demam tinggi disertai kejang. Pasien termasuk anak yang aktif. Pasien
dirawat oleh keluarganya sendiri, pasien adalah anak yang ceria, cukup
dekat dengan keluarga. Dari hasil autoanamnesa, pasien mengatakan sejak
usia 3 tahun pasien pindah dari padang dan merantau ke Jakarta. Menurut
kakak pasien, orang tua pasien menyayangi semua anaknya dengan sama
rata. Hubungan pasien dengan bapak ibunya baik. Hubungan pasien
dengan saudarasaudaranya baik, pasien paling dekat dengan adik lakilakinya.
Periode Kanak-kanak Menengah (Usia 3 sampai11 tahun)
Dari hasil alloanamnesis, pasien memulai jenjang pendidikan
langsung dari Sekolah Dasar (SD) pada usia 6 tahun. Di sekolah, pasien
adalah siswa yang rajin dan pintar selalu masuk 10 besar dan sering
diikutkan lomba matematika. Sejak sekolah, pasien hanya memiliki 4
teman dekat yang bernama, Firman, Enoy, Dado, dan Iman, mereka sering
berkunjung ke rumah pasien. Menurut kakak pasien, pasien tidak terlalu
punya banyak teman dan tidak terlalu pandai bergaul. Pasien bercita-cita
menjadi seorang penulis dan ilmuan penemu. Pasien dulu juga suka
menulis dan melukis kaligrafi.
Periode Remaja Awal (Pubertas hingga dewasa)
Setelah SD pasien melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah
Pertama (SMP) menurut keluarga pasien, pasien menginginkan untuk
masuk pesantren setelah lulus SD namun karena keterbatasan biaya,
pasien akhirnya masuk ke SMP, hal ini membuat pasien kecewa dan
pasien jadi malas-malasan sekolah dan sering keluar dari sekolah sehingga
pasien hanya sekolah sampai kelas 2 SMP dan tidak melanjutkan
pendidikan sampai SMA. Karena tidak bersekolah lagi pasien berkeliaran
kemana-mana dan sering main ke pasar. Pasien juga mengatakan sering
diremehkan oleh orang-orang disekitarnya. Pasien mengatakan mulai
merokok sejak SMP, merokok filter. Sejak sekolah pasien tidak memiliki
banyak teman. Sejak SMP, pasien bercita-cita ingin menjadi penulis dan
7

ilmuan, namun dari segi finansial tidak mendukung. Pasien tidak pernah
melakukan tindakan pelanggaran hukum maupun berurusan dengan pihak
berwajib. Pasien mulai mengalami perubahan sikap ketika adik pasien
yang sangat dekat dengan pasien meninggal saat usia pasien 19 tahun,
ditambah lagi frustasi dengan perlakuan dari kakak dan orang-orang
disekitar pasien yang tidak pernah menghargai dan selalu meremehkan dan
memukuli pasien. Setelah mengalami gangguan jiwa, pasien kadang
marah-marah, suka berbicara sendiri, dan juga pemalas.
2. Riwayat Pendidikan
Pasien mengenyam pendidikan di SD kebon melati Tanah Abang sampai
kelas 4 SD, lalu pindah ke SD Bendungan 5 sampai kelas 6, karena keluarganya
pindah rumah karena diusir. Pasien masuk SMP di Mtsn 9 di Johar. Pasien hanya
sekolah sampai kelas 2 SMP karena pasien tidak mau masuk SMP, pasien ingin
masuk pesantren namun tidak bisa karena keterbatasan biaya yang menyebabkan
pasien sangat kecewa dan malas-malasan masuk sekolah.
3. Riwayat Pekerjaan
Dari hasil alloanamnesa, pasien pernah bekerja sebagai cleaning service di
rental A Car selama 3 bulan, pasien keluar dari pekerjaannya karena sepupunya
yang bekerja disana juga keluar dari pekerjaannya dan pasien merasa tidak
memiliki teman dan kesepian saat sepupunya keluar. Pasien juga pernah bekerja
membuat susu kedelai selama 6 bulan, pasien belajar membuat susu kedelai dari
menonton televisi dan dari temannya namun tidak dilanjutkan karena kondisinya
tidak stabil menurut pasien setiap pekerjaan yang dia kerjakan selalu dianggap
salah, dan pasien mengatakan hanya ingin sedikit dihargai selayaknya manusia
saat bekerja.
4. Riwayat Kehidupan Beragama
Dari hasil alloanamnesa, didapatkan bahwa pasien beragama Islam dan
merupakan penganut yang taat sebelum sakit. Sering berguru dan mengaji
8

bersama habib didekat rumah pasien. Pasien rajin sholat, mengaji, dan mengikuti
kajian keagamaan di Masjid. Namun setelah sakit pasien jarang beribadah karena
menurut pasien, sholat wajib hanya dilakukan seperlunya saja. Bila pasien sedang
merasa tidak perlu, maka ia tidak melakukan solat.
5. Riwayat Kehidupan Seksual dan Perkawinan
Dari hasil alloanamnesa, didapatkan bahwa pasien belum menikah. Pasien
pernah memiliki hubungan dengan 2 orang wanita namun tidak sampai
melanjutkan ke jenjang pernikahan karena ditinggal selingkuh oleh pihak wanita.
Menurut pasien sekarang dirinya selalu ditolak oleh setiap wanita yang didekati
oleh pasien. Pasien memiliki orientasi seksual yang normal, yaitu heteroseksual.
Pasien juga ingin menikah namun diakui susah dikarenakan kondisinya sekarang.
6. Riwayat Keluarga
Pasien merupakan anak keenam dari tujuh bersaudara, tidak ada anggota
keluarga yang memiliki riwayat gangguan jiwa sebelumnya. Pasien mengaku
keluarganya yang paling baik adalah Ibu pasien, dan pasien sangat dekat dengan
adiknya yang sudah meninggal. Menurut keterangan pasien, bapak pasien
bernama bapak Suar dan Ibunya bernama Aminar. Orang tua pasien berasal dari
Padang Ibu pasien dan kakaknya berdagang baju bekas di pasar Gaplok. Ayah
pasien kini telah meninggal dunia sejak 5 hari SMRS. Pasien memiliki 5 orang
kakak dan 1 orang adik, kakak pasien bernama Tn. RF, Tn. RT, Ny.RH, Ny.S, dan
Ny. F, adik pasien bernama Tn.Re.

Genogram

7. Situasi Kehidupan Sosial Sekarang


Saat ini pasien tinggal bersama Ibunya, ibu pasien sudah berusia tua.
Pasien jarang mendapat perhatian dari keluarga, pasien lebih sering dibiarkan
melakukan hal yang ingin dilakukannya tanpa ada bimbingan dari keluarga.
Keluarga kurang bisa mengingatkan dan menyuruh pasien untuk meminum
obatnya secara teratur. Orang tua pasien mengatakan tidak mampu mengurus
pasien jika pasien masih berperilaku seperti sebelumnya. Pasien juga jarang
bergaul dengan tetangga sekitar rumah dan lebih sering menyendiri di kamar atau
main ke pasar.
8. Persepsi Pasien tentang dirinya dan kehidupan
Pasien terkadang tidak menyadari bahwa dirinya sakit. Pasien mengakui
jarang meminum obat dan kontrol ke rumah sakit dikarenakan pasien tidak
memiliki uang untuk ongkos pergi ke rumah sakit. Untuk mengambil obat.
Persepsi pasien terhadap lingkungan normal.
9. Persepsi Keluarga terhadap Pasien
Keluarga berharap kondisi pasien membaik dan dapat sembuh dan pulang
ke rumah untuk membantu kedua orang tua yang sudah sepuh. Menurut keluarga
pasien sebelum sakit pasien adalah orang yang pintar dan bercita-cita menjadi

10

tabib yang dapat menyembuhkan orang sakit dan penulis, dan keluarga berharap
pasien dapat mandiri dalam menjalankan hidupnya.
10. Fantasi, Mimpi dan Nilai-nilai
Pasien bermimpi namun lupa apa mimpinya, tetapi tidak ingat
memimpikan hal yang menakutkan atau menegangkan. Pasien mengharapkan
kakaknya yang bernama Reno mati, karena pasien ingin hidup tenang.
III. STATUS MENTAL
Pemeriksaan dilakukan pada hari Minggu tanggal 31 Januari 2016.
A. Deskripsi Umum
1) Penampilan
Seorang

laki-laki,

berusia

29

tahun,

bertubuh

kurus

dan

tinggi,

berpenampilan seperti laki-laki dengan rambut pendek berwarna hitam, tampak


sesuai usia. Kulit pasien berwarna hitam. Tinggi badan pasien 175 cm dan berat
badan 58 kg. Pasien menggunakan baju kaos berwarna putih, celana panjang. Pasien
dengan perawatan diri sendiri, tubuh kurang terawat, gigi tampak kotor dan kuning.
Pasien dapat berjalan dengan baik tetapi cara berjalan agak sedikit membungkuk.
2) Kesadaran
Compos mentis dan kesiagaan baik.
3) Pembicaraan
Cara berbicara : spontan
Volume bicara : cukup
Kecepatan bicara : sedang, artikulasi jelas dan dapat dimengerti, intonasi
sesuai emosi
Pasien cenderung banyak berbicara
Tidak ada gangguan bicara

11

4) Perilaku dan Aktivitas Psikomotor yang Nyata


Pada saat wawancara, pasien tenang. Pasien tampak bersemangat ketika
diajak berbicara. Pasien mudah terdistraksi ketika ada stimulus eksternal. Saat
ditanya terkadang pasien sering berbicara sendiri. Pasien sering bergerak-gerak,
berubah posisi, dan suka bertopang tangan serta melipat lutut. Pasien melakukan
kontak mata dengan pemeriksa, tetapi sering kali melihat ke arah lain.
5) Sikap Pasien Terhadap Pemeriksa
Pasien cukup kooperatif, masih mau menjawab pertanyaan yang diajukan. Pasien
akan menceritakan hal-hal yang ditanyakan dan harus digali terus. Pasien cenderung
cepat berganti topik pembicaraan walaupun masih dapat difokuskan kembali topik
yang sedang dibicarakan. Pasien cenderung mendominasi pembicaraan namun masih
dapat diinterupsi. Pasien cenderung banyak berbicara, namun sering mengeluarkan
kalimat-kalimat yang tidak jelas.
B. Alam Perasaan
1. Mood : Labil
2. Afek : terbatas
3. Keserasian : serasi antara mood dan afek
C. Gangguan Persepsi (Persepsi Panca Indera)
Halusinasi

Auditorik : Ada. Pasien memiliki riwayat mendengar suara seorang yang


bernama Rumaidah Kastil, menurutnya Rumaidah adalah ibu kandung pasien.
Menurut pasien, Rumaidah menyuruh pasien mandi, tidur dan sering
mengomentari perilaku pasien. Selain itu pasien juga mengaku sering
berkomunikasi dengan Mpeh, yang menurut pasien adalah teman rumahnya.
Pasien sering berbicara dan tertawa dikamarnya karena menurut pasien ia sedang
berbicara dengan Mpeh.

Visual : Ada. Pasien dapat melihat tulisan pada tangan seseorang yang
dainggapnya tulisan tersebut memiliki arti.
12

Taktil : tidak ada

Olfaktorik : tidak ada

Gustatorik : tidak ada

Ilusi : tidak ada


Depersonalisasi : tidak ada
Derealisasi : tidak ada
D. Fungsi Intelektual
1. Intelegensi dan Kemampuan Informasi
Pasien dapat menjawab siapa presiden RI saat ini dan Ibukota Indonesia.
2. Orientasi
- Waktu

: pasien dapat membedakan waktu pagi, siang dan malam hari, serta
mengetahui hari, tanggal dan jam.

- Tempat : pasien mengetahui bahwa dirinya sedang dirawat di RSPAD Gatot


Soebroto.
- Orang

: pasien dapat mengingat identitasnya, keluarga dan temannya di


bangsal.

3. Ingatan
- Jangka panjang : pasien dapat mengingat tanggal lahir, nama sekolah dan nama
anggota keluarganya.
- Jangka sedang : pasien dapat mengingat siapa yang mengantarnya ke RS.
- Jangka pendek : pasien dapat mengingat menu sarapan pagi ini.
- Segera : Pasien dapat mengingat nama pemeriksa.
4. Konsentrasi dan Perhatian
Pasien terkadang sulit berkonsentrasi, terutama jika ada stimulus eksternal.
Pasien dapat menjawab perhitungan 100 dikurangi 7 tetapi hanya 1 kali. Pasien
dapat mengeja kata WAHYU secara berurutan dan terbalik dengan benar.
Pasien sulit berkonsentrasi jika ada orang lain berbicara saat ia akan bicara dan
13

terkadang tampak berbicara sendiri. Perhatian mudah teralihkan (distraktibilitas


tinggi) saat ada faktor eksternal.
5. Kemampuan Membaca dan Menulis
Kemampuan membaca dan menulis pasien baik. Pasien dapat membaca
sebuah kalimat yang ditulis oleh pemeriksa dan melakukan instruksi yang ada
dalam kalimat tersebut. Pasien dapat menulis kalimat lengkap yang sederhana.

6. Kemampuan visuospasial
Pasien dapat meniru gambar 2 segilima yang bertumpukan. Pasien dapat
menggambarkan jam sesuai dengan instruksi, memperlihatkan arah jarum panjang
dan pendek dengan benar.
14

7. Pikiran Abstrak
Pasien mengerti arti peribahasa berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke
tepian dan mengerti arti peribahasa ada udang dibalik batu.
8. Kemampuan Menolong Diri Sendiri

E. Pikiran
1. Proses Pikir
Produktivitas : ide banyak
Kontinuitas :
15

Blocking : tidak ada

Asosiasi longgar : ada

Inkoherensi : tidak ada

Flight of ideas : ada

Word salad : tidak ada

Neologisme : tidak ada

Sirkumstansialitas : tidak ada

Tangensialitas : tidak ada


2. Isi Pikir
Waham kejar : pasien merasa selalu ingin dicelakai oleh kakaknya, Reno.
Pasien mengaku pernah digorok, dicincang dan dibakar oleh kakak pasien.
Pasien menjelaskan kulitnya berwarna hitam karena dulu pernah dibakar oleh
kakaknya. Pasien merasa ia dan saudara-saudaranya dijadikan tumbal oleh
kakaknya yang bernama Reno karena kakaknya disuruh oleh Ki Joko Bodo.
F. Pengendalian Impuls
Pengendalian impuls pasien cukup baik. Pasien berbicara cukup. Pasien
masih belum dapat sepenuhnya mengontrol keinginannya untuk merokok, pasien
selalu meminta diberi rokok selama pembicaraan. Pasien tidak merokok saat
pembicaraan, hanya merokok saat sedang sendiri.
G. Daya Nilai dan Tilikan
- Daya nilai sosial : baik, pasien bersikap ramah dan sopan terhadap seluruh
tenaga medis, seperti dokter spesialis dan perawat, serta pasien lain di bangsal.
- Uji daya nilai : baik
- Reality Test Ability (RTA) : terganggu
- Tilikan derajat 2. Ambivalensi terhadap penyakitnya.
H. Reliabilitas
Pasien dapat dipercaya dan mampu melaporkan keadaannya secara akurat.
Karena beberapa informasi yang didapat dari pasien dan kakak pasien sesuai.

16

Contoh: pasien menyadari penggunaan narkoba dapat berpengaruh buruk dan


pasien tidak mau konsumsi hal tersebut.
IV. PEMERIKSAAN FISIK GENERALIS
A. Status Generalis
-

Keadaan Umum : Baik


Berat badan : 55 kg; Tinggi badan : 175cm ; Kesan gizi: Kurang
Tanda Tanda Vital :
Tekanan Darah
: 120 / 80 mmHg
Nadi
: 82 x / menit
Pernafasan
: 20 x / menit
Suhu
: 36,7oC (per aksila)
Limfonodi : Tidak teraba pembesaran
Jantung :
Inspeksi
: Tidak tampak iktus cordis
Palpasi
: Iktus cordis teraba di ICS 5 linea midclavicula sinistra , tidak kuat
angkat, tidak ada thrill
Perkusi
: Batas kanan : ICS IV linea parasternal dextra
Batas kiri : ICS V 2 cm ke arah medial midclavikula

Auskultasi

sinistra
Pinggang jantung : ICS III linea parasternal sinistra
: BJ I > BJ II reguler,murni, Gallop -/-, Murmur -/-

Paru :

Inspeksi

pergerakan dinding dada simetris, tidak ada retraksi intracosta


Palpasi
: Pergerakan dinding dada simetris kanan dan kiri, vokal fremitus

simetris kanan sama dengan kiri


Perkusi
: Sonor pada kedua lapang paru: Suara nafas vesikuler

: Bentuk normochest, ukuran dinding dada normal,

melemah kanan dan kiri


Auskultasi
: Suara tambahan wheezing (-/-), Suara gesek pleura (-/-)
Abdomen :
Inspeksi : Datar, tidak ada striae, tidak ada spider naevi, terdapat tato
Auskultasi
: Bising usus normal
Palpasi : tidak ada nyeri tekan, hepar lien tidak teraba
Perkusi : timpanik, tidak ada pekak alih
- Ekstremitas
: Akral hangat, edema (-), sianosis (-), perfusi < 2 detik,

17

B. Status Neurologis

GCS : 15 (E4M6V5)
Tanda rangsang meningeal : tidak ada
Cara berjalan : sedikit membungkuk
Keseimbangan : baik
Motorik : baik 5555|5555
5555|5555

Sensorik : baik
Tanda Ekstrapiramidal :
Tremor
: tidak ditemukan
Akatasia
: tidak ditemukan
Bradikinesia
: tidak ditemukan
Rigiditas
: tidak ditemukan
Motorik
: tidak ditemukan
Tonus
: tidak ditemukan
Turgor
: tidak ditemukan
Kekuatan
: tidak ditemukan
V. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Hematologi Lengkap
Hemoglobin
Hematokrit
Eritrosit
Leukosit
Trombosit
Hitung Jenis :
- Basofil
- Eosinofil
- Batang
- Segmen
- Limfosit
- Monosit
MCV
MCH
MCHC
RDW
Kimia darah
SGOT

13.7
42
5.1
9470
322000

13 18 g/dL
40 52 %
4.3 6.0 juta/L
4.800-10.800/ L
150.000 400.000/ L

0
4
3
51
25
7
83
27
33
13.10

0-1%
1-3%
2-6%
50-70%
20-40%
2-8%
80-96% fL
27 -32 pg
32-36 g/dL
11.5 14.5 %

12
11
15
0.9
4.5

<1.1 mg/dL<35 U/L


<40 U/L
20-50 mg/dL
0.5 1.5 mg/dL
3.5 7 mg/dL

18

SGPT
Ureum
Kreatinin

147
3.9
102
64

135-147 mmol/L
3.5-5.0 mmol/ L
95-105 mmol/L
< 140 mg/dL

Asam Urat
Natrium
Kalium
Klorida
Glukosa darah sewaktu
VI. IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA
Tn N, laki-laki, 29 tahun, beragama islam, belum menikah, suku minang,
pendidikan terakhir SMP, saat ini tidak bekerja, warga negara Indonesia, masuk
perawatan pada tanggal 26 Januari 2015. Pasien kembali masuk perawatan
Paviliun Amino RSPAD Gatot Soebroto setelah sebelumnya sempat menjalani
rawat jalan selama 1 minggu, dengan keluhan sering berbicara dan tertawa sendiri
serta sulit tidur sejak 3 hari SMRS, menurut keterangan keluarga, pasien tidak
mau meminum obat. Menurut keterangan kakak pasien, pasien sering tertawa
sendiri tengah malam.
Dari autoanamnesa, didapatkan alasan mengapa pasien sering berbicara
sendiri di rumah karena dia sedang berkomunikasi jarak jauh dengan Mpeh. Pada
saat berada di perawatan, pasien sering berbicara sendiri yang menurut pasien, ia
sedang berbicara dengan Rumaidah Kastil. Pasien juga mengaku dapat melihat
adanya tulisan pada pergelangan tangan seseorang.
Pasien mengaku masuk perawatan RSPAD Gatot Soebroto karena pasien
hanya ingin mencari ketenangan dan ingin menghindari kakaknya yang
menurutnya kejam dan jahat bernama Reno. Pasien selama ini merasa tidak
pernah dihargai dan selalu dianggap salah, dia selalu diremehkan oleh kakaknya
dan lingkungan sekitarnya dan tidak pernah dihargai seperti manusia. Pasien
mengatakan dia hanya mau sedikit dihormati dan dihargai sebagai manusia.
Pada pemeriksaan status mental tanggal 31 Januari 2016 didapatkan seorang
pria, penampilan sesuai usianya, berambut pendek, berkulit hitam, perawatan dan
19

kerapihan diri kurang, dan memakai kaos berwana putih dan celana jeans panjang.
Pasien tampak tenang dan bersemangat saat diajak berbicara. Pasien kooperatif
dan mau menjawab pertanyaan. Kesadaran pasien kompos mentis. Pasien
bersikap sopan terhadap pemeriksa. Pembicaraan spontan, artikulasi jelas, dan
intonasi biasa. Mood labil dan afek terbatas, serasi. Isi pikir berupa waham kejar.
Proses pikir assosiasi longgar. Orientasi dan daya ingat baik. Pasien terkadang
sulit berkonsentrasi, terutama jika ada stimulus eksternal. Kemampuan
mengendalikan impuls dan daya nilai pasien baik. RTA pasien terganggu dengan
tilikan derajat II. Dapat dipercaya, pernyataan pasien sama dengan pernyataan
keluarga pasien. Pemeriksaan fisik lainnya dan hasil laboratorium dalam batas
normal.
VII. FORMULASI DIAGNOSTIK
Formulasi diagnostik menggunakan pendekatan diagnosis multiaksial yang
didasarkan pada PPDGJ III dan DSM-IV:

Aksis I
Berdasarkan wawancara didapatkan adanya gangguan pada pikiran,

perasaan, serta perilaku pasien yang menimbulkan hendaya dan disfungsi


dalam keseharian. Maka, pasien dapat dikatakan mengalami gangguan jiwa.
Pasien tidak memiliki penyakit primer maupun sekunder (trauma kepala,
riwayat kejang, epilepsi, atau infeksi otak) yang dapat menyebabkan adanya
disfungsi otak sehingga adanya gangguan mental akibat kerusakan dan
disfungsi otak (F0) dapat disingkirkan. Pasien juga tidak memiliki riwayat
penyalahgunaan zat psikoaktif dan alkohol sehingga penyebab akibat
penggunaan zat (F1) dapat disingkirkan.
Pada pasien terdapat halusinasi auditorik dan visual serta waham paranoid
(Kriteria A DSM IV). Kondisi ini menyebabkan gangguan pada fungsi
keseharian pasien (Kriteria B DSM IV) yang berlangsung lebih dari 6 bulan
(Kriteria C DSM IV). Pasien tidak pernah mengalami kondisi episode mood
depresif maupun episode manik selama periode aktif penyakit (Kriteria D
DSM IV) dan tidak pernah mengkonsumsi zat psikoatif (Kriteria E DSM IV).
20

Berdasarkan kriteria DSM IV pasien telah memenuhi kriteria Skizofrenia


sehingga dapat disimpulkan diagnosis pasien adalah Skizofrenia (F20).
Pada pasien kriteria umum skizofrenia telah terpenuhi dan ditemukan
adanya gejala tambahan berupa halusinasi auditorik dan visual yang amat
menonjol dan waham paranoid berupa waham kejar sehingga berdasarkan hal
tersebut pasien memenuhi kriteria diagnosis Skizofrenia Paranoid (F20.0)
menurut PPDGJ-III.

Aksis II
Ciri kepribadian pasien adalah kepribadian skizoid, dengan ciri-ciri pasien

yang termasuk dalam kriteria diagnostik adalah sbb :

Hampir selalu memilih aktivitas yang dilakukan sendiri.

Tidak mempunyai teman dekat atau hubungan pribadi yang akrab


(kalau ada hanya satu) dan tidak ada keinginan untuk menjalin
hubungan seperti itu.

Aksis III
Pada pasien tidak ditemukan adanya kelainan klinis (fisik dan neurologis)

lain yang bermakna sehingga aksis III pasien tidak ada diagnosis.

Aksis IV
Ditemukan masalah psikoedukatif yaitu pasien sebelumnya tidak

meminum obat secara teratur. Terdapat masalah primary support group


(keluarga), yaitu tidak ada anggota keluarga yang dapat memastikan pasien
meminum obat karena anggota keluarga tidak selalu berada di rumah sehingga
pemberian obat tidak dilakukan dengan baik. Kondisi Ibunya yang sudah usia
lanjut menjadi keterbatasan dalam perawatan pasien secara keseluruhan. Serta
masalah ekonomi

Aksis V

21

Penilaian kemampuan peyesuaian aktivitas sehari-hari menggunakan skala


Global Assessment of Functioning (GAF) :

Highest Level Past Year (HLPY) : 20-11, pasien memiliki bahaya


mencederai diri sendiri atau orang lain, disabilitas sangat berat dalam
komunikasi dan mengurus diri

GAF current : 60-51, gejala sedang (moderate), disabilitas sedang, karena


sampai saat ini waham kejar pasien belum hilang, namun pasien sudah
mampu

berkomunikasi

dengan

baik,

kooperatif

dan

mampu

mengendalikan emosinya.
VIII. EVALUASI MULTIAKSIAL
Aksis I

: Skizofrenia paranoid.

Aksis II

: Ciri kepribadian schizoid.

Aksis III

: Tidak ada.

Aksis IV

: Ketidakpatuhan minum obat, dan kurang dukungan dari


keluarga

Aksis V

: GAF Current 60-51 dan GAF HLPY 20-11

Diagnosis kerja

: Skizofrenia Paranoid (F20.0)

IX. PROGNOSIS
Quo Ad Vitam

: ad bonam

Quo Ad Fungsionam : dubia ad malam


Quo Ad Sanationam

: dubia ad malam

Faktor yang mendukung prognosis baik:


1. Tidak ada penyakit penyerta lain yang mempengaruhi vital sign
pasien.
2. Pasien memiliki semangat untuk sembuh.
Faktor yang mendukung prognosis buruk:
1. Perjalanan penyakit yang sudah Berlangsung 10 tahun. Sering relaps.
22

2. Pasien pertama kali terdiagnosis sakit pada usia muda (19 tahun)
3. Pasien beberapa kali putus obat dan tidak patuh minum obat.
4. Kondisi keluarga tidak mendukung untuk merawat pasien (faktor
keluarga). Riwayat melakukan tindakan penyerangan.
5. Kondisi keuangan yang tidak baik (faktor ekonomi).
6. Pasien tidak menikah dan riwayat sosial dan pekerjaan buruk
X. DAFTAR MASALAH
1. Organobiologis

Tidak ada

2. Psikologis
Skizofrenia paranoid
Mood
: Labil
Afek
: Terbatas, serasi
Persepsi
: Halusinasi auditorik dan visual
Proses pikir
: Asosiasi longgar
Isi Pikir
: Waham kejar
RTA
: Terganggu
Tilikan
: Derajat 2, ambivalensi dengan penyakitnya. Pasien
terkadang menyadari bahwa dirinya sakit namun di lain waktu pasien

mengatakan dirinya sehat.


Ketidakpatuhan pasien minum obat
Kebiasaan merokok

3. Lingkungan dan Sosio-Kultural


Masalah dengan primary group support
Masalah ekonomi
XI. RENCANA TERAPI
a. Farmakologi :

Clozapine 1x12,5 mg(PO)


Risperidone 2x2 mg PO
Trihexylphenidyl 2x2 mg
Haloperidol 2x5 mg

b. Nonfarmakologis
1. Terhadap pasien
23

Psikoterapi suportif: melihat pasien secara holistik dengan membina


hubungan, menunjukan empati dan memberikan perhatian kepada pasien,
tidak menghakimi pasien, memberi dukungan segala usaha adaptif pasien,
menghormati pasien sebagai manusia seutuhnya dan peduli pada aktivitas
keseharian pasien, memotivasi pasien untuk lebih produktif dan minum
obat secara teratur agar penyakitnya tidak muncul kembali.
2. Terhadap keluarga dan teman
o Psikoedukasi mengenai :
a. Penyakit pasien
Memberikan penjelasan mengenai penyakit pasien, penyebab,
gejala-gejalanya, faktor-faktor yang dapat memperberat keadaan
penyakit pasien dan bagaimana cara pencegahan. Sehingga keluarga
dan teman atau lingkungan sekitar dapat mengerti keadaan pasien dan
mendukung proses kesembuhannya.
b. Terapi yang diberikan
Memberikan penjelasan tentang terapi yang dijalani, menjelaskan
fungsi obat kepada keluarga pasien dan efek samping yang mungkin
terjadi. Menyarankan keluarga untuk selalu memberi memotivasi
terhadap pasien untuk minum obat secara teratur dan juga memberikan
ketenangan serta kenyamanan pasien selama pasien masih dalam masa
perawatan sehingga pengobatan pasien dapat berjalan baik. Menunjuk
salah satu keluarga sebagai key person untuk mengontrol konsumsi
obat pasien.

24

BAB II
PEMBAHASAN
Berdasarkan PPDGJ III yang merujuk ke DSM IV, seseorang dikatakan gangguan
jiwa atau gangguan mental jika ditemukan adanya perubahan terhadap pola perilaku atau
psikologik seseorang, yang secara klinik menimbulkan distress (penderitaan) dan
disabilitas dalam melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari serta perawatan diri. Pada
pasien didapatkan adanya gangguan pada pikiran, perasaan, serta perilaku pasien yang
menimbulkan hendaya dan disfungsi dalam keseharian. Maka, pasien dapat dikatakan
mengalami gangguan jiwa.
Pada pasien ini terdapat waham tentang dirinya ingin dicelakai oleh kakak pasien,
pada pasien juga terdapat halusinasi yang menonjol. Pasien mendengar suara yang
berkomentar secara terus menerus terhadap perilaku pasien, dan pasien juga melihat
tulisan pada pergelangan tangan seseorang. Gejala-gejala tersebut berlangsung lebih dari
enam bulan, dan juga mengakibatkan pasien mengalami perubahan mutu kehidupan,
25

tidak bisa mengurus diri, hilangnya minat, dan hidup tidak bertujuan. Semua hal ini
sesuai dengan gejala skizofenia.
Untuk menegakkan sebuah diagnosis, hierarki diagnosis psikiatri harus
digunakan. Pada pasien ini, tidak ada riwayat trauma pada kepala, nyeri kepala, pusing,
mual, demam tinggi ataupun kejang. Pada pemeriksaan fisik juga tidak ditemukan
kelainan. Sehingga kecurigaan ke arah diagnosis gangguan mental organik dapat
disingkirkan. Selain itu, perlu diperhatikan diagnosis ke arah gangguan mental akibat zat
psikoaktif. Pasien merokok sejak SMP sampai sekarang, tetapi selain itu pasien tidak
menggunakan zat psikoaktif lainnya dan tidak juga mengkonsumsi alkohol. Dengan data
tersebut diagnosis gangguan psikotik akibat penggunaan zat psikoaktif dapat disingkirkan
juga. Maka dapat disimpulkan bahwa gangguan pasien adalah murni akibat gangguan
psikotik primer bukan sekunder karena kondisi medis lainnya.
Pasien ini didiagnosis dengan skizofrenia paranoid (F20.0). Skizofrenia
ditunjukkan dengan adanya gejala berupa waham dan halusinasi pada pasien. Untuk
menegakkan diagnosis skizofrenia paranoid, pasien harus memenuhi kriteria skizofrenia
terlebih dahulu.
Diagnosis umum skizofrenia (F20.-) berdasarkan kriteria diagnostik PPDGJ-III :
A. Harus ada sedikitnya satu gejala berikut ini yang amat jelas (dan biasanya dua gejala
atau lebih bila gejala-gejala itu kurang tajam atau kurang jelas) : (memenuhi 2 dari 4
kriteria dengan jelas)
Thought echo = isi pikiran dirinya sendiri yang berulang atau bergema dalam
kepalanya (tidak keras), dan isi pikiran ulangan, walaupun isinya sama,

namun kualitasnya berbeda .


Thought insertion = isi pikiran yang asing dari luar masuk ke dalam
pikirannya (insertion) atau isi pikirannya diambil keluar oleh sesatu dari luar

dirinya (withdrawal) .
Thought broadcasting = isi pikirannya tersiar ke luar sehingga orang lain

atau umum mengetahuinya. Tidak ada


Delusion of control = waham tentang dirinya dikendalikan oleh suatu
kekuatan tertentu dari luar.
Delusion of influence = waham tentang dirinya dipengaruhi oleh suatu
kekuatan tertentu dari luar .
26

Delusion of passivity = waham tentang dirinya tidak berdaya dan pasrah


terhadap suatu kekuatan dari luar (tentang dirinya = secara jelas
merujuk ke pergerakan tubuh/anggota gerak atau ke pikiran, tindakan

atau penginderaan khusus) .


Delusional perception = pengalaman inderawi yang tak wajar, yang
bermakna sangat khas bagi dirinya, biasanya bersifat mistik atau

mukjizat.
Halusinasi auditorik :
Suara halusinasi yang berkomentar secara terus-menerus terhadap perilaku
pasien dan terkadang memerintah pasien untuk melakukan suatu tindakan,
contohnya memerintah pasien untuk meminum air karbol dan menusuk

kakaknya.
Mendiskusikan perihal pasien di antara mereka sendiri (diantara berbagai

suara yang berbicara) .


Jenis suara halusinasi lain yang berasal dari salah satu bagian tubuh. Pada

pasien tidak didapatkan gejala ini.


Waham-waham menetap jenis lainnya, yang menurut budaya setempat
dianggap tidak wajar dan sesuatu yang mustahil, misalnya perihal
keyakinan agama atau politik tertentu, atau kekuatan dan kemampuan di
atas manusia biasa (misalya mampu mengendalikan cuaca, atau
berkomunikasi dengan mahluk asing dari dunia lain) . pada pasien ini
didapatkan adanya waham kejar yang menetap.

B. Atau paling sedikit dua gejala dibawah ini yang harus selalu ada secara jelas:
(memenuhi 2 dari 4 kriteria)
Halusinasi yang menetap dari panca-indera apa saja, apabila disertai baik
oleh waham yang mengambang maupun yang setengah berbentuk tanpa
kandungan afektif yang jelas, ataupun disertai oleh ide-ide berlebihan (overvalued ideas) yang menetap, atau apabila terjadi setiap hari selama
berminggu-minggu atau berbulan-bulan terus menerus , halusinasi auditorik
(mendengar bisikan yang mengomentari tindakan pasien dan memerintah
pasien melakukan tindakan) dan visual (melihat tulisan di pergelangan
tangan pemeriksa).
27

Arus pikiran yang terputus (break) atau mengalami sisipan (interpolation),


yang berakibat inkoherensi atau pembicaraan yang tidak relevan, atau

neologisme, seperti yang didapatkan pada pasien.


Perilaku katatonik, seperti keadaan gaduh-gelisah (excitement), posisi tubuh
tertentu (posturing), atau fleksibilitas cerea, negativisme, mustisme, dan

stupor, pada pasien tidak dipapatkan gejala seprti ini.


Gejala-gejala negatif, seperti sikap sangat apatis, bicara yang jarang, dan
respons emosional yang menumpul atau tidak wajar, biasanya yang
mengakibatkan penarikan diri dari pergaulan sosial dan menurunnya kinerja
sosial; tetapi harus jelas bahwa semua hal tersebut tidak disebabkan oleh
depresi atau medikasi neuroleptika , tidak didapatkan pada pasien ini.

C. Adanya gejala-gejala khas tersebut diatas telah berlangsung selama kurun waktu
satu bulan atau lebih (tidak berlaku untuk setiap fase nonpsikotik prodromal). Gejala
yang dialami pasien berlangsung selama lebih dari 6 tahun, episode terakhir berawal
dari bulan Desember sampai sekarang.
D. Harus ada suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu keseluruhan
(overall quality) dari beberapa aspek perilaku pribadi (personal behaviour),
bermanifestasi sebagai hilangnya minat, hidup tak bertujuan, tidak berbuat sesuatu,
sikap larut dalam diri sendiri (self-absorbed attitude), dan penarikan diri secara
sosial saat rutin dalam pengobatan pasien dapat berfungsi dengan lebih baik dalam
hal sosial maupun pekerjaan, namun saat kambuh pasien tidak dapat melakukan
fungsi sosial maupun pekerjaannya dimana pasien cenderung menarik diri dan
mengurung diri sepanjang hari.
Berdasarkan hal tersebut pasien menurut kriteria DSM IV pasien memenuhi
kriteria skizofrenia. Kriteria diagnostik DSM-IV-TR subtipe skizofrenia:
A Gejala Karakteristik: dua (atau lebih) berikut, masing-masing ditemukan untuk
bagian waktu yang bermakna selama periode 1 bulan (atau kurang jika diobati
dengan berhasil):
1 Waham
2 Halusinasi
3 Bicara terdisorganisasi (misalnya sering menyimpang atau inkoherensi)
4 Perilaku terdisorganisasi atau katatonik yang jelas
28

Gejala negatif yaitu pendataran afektif, alogia, atau tidak ada kemauan
(avolition)

Catatan: Hanya satu gejala kriteria A yang diperlukan jika waham adalah kacau
atau halusinasi terdiri dari suara yang terus-menerus mengomentari perilaku atau
pikiran pasien atau dua lebih suara yang saling bercakap-cakap satu sama lainnya.
B Disfungsi sosial/pekerjaan: untuk bagian waktu yang bermakna sejak onset
gangguan, satu atau lebih fungsi utama seperti pekerjaan, hubungan interpersonal,
atau perawatan diri, adalah jelas di bawah tingkat yang dicapai sebelum onset
(atau jika onset pada masa anak-anak atau remaja, kegagalan untuk mencapai
tingkat pencapaian interpersonal, akademik, atau pekerjaan yang diharapkan).
C Durasi: tanda gangguan terus-menerus menetap selama sekurangnya 6 bulan.
Pada 6 bulan tersebut, harus termasuk 1 bulan fase aktif (yang memperlihatkan
gejala kriteria A) dan mungkin termasuk gejala prodormal atau residual.
D Penyingkiran gangguan skizoafektif atau gangguan mood: gangguan skizoafektif
atau gangguan mood dengan ciri psikotik telah disingkirkan karena: (1) tidak ada
episode depresif berat, manik atau campuran yang telah terjadi bersama-sama
gejala fase aktif atau (2) jika episode mood telah terjadi selama gejala fase aktif,
durasi totalnya relatif singkat dibandingkan durasi periode aktif dan residual.
E Penyingkiran zat/kondisi medis umum
F Hubungan dengan gangguan perkembangan pervasif
Pada pasien terdapat halusinasi auditorik berupa suara-suara yang didengar pasien
dan waham kejar (Kriteria A DSM IV). Kondisi ini menyebabkan gangguan pada
fungsi keseharian pasien dimana karena pasien selalu ketakutan sehingga pasien tdak
mau keluar rumah untuk berinteraksi dengan orang lain (Kriteria B DSM IV) yang
berlangsung lebih dari 6 bulan (Kriteria C DSM IV). Pasien tidak pernah mengalami
kondisi episode mood depresif maupun episode manik selama periode aktif penyakit
(Kriteria D DSM IV) dan tidak pernah mengkonsumsi zat psikoatif (Kriteria E DSM
IV). Berdasarkan kriteria DSM IV pasien telah memenuhi kriteria Skizofrenia
sehingga dapat disimpulkan diagnosis pasien adalah Skizofrenia (F20).
Pasien sesuai dengan kriteria diagnostik skizofrenia (F20).

29

Diagnosis skizofrenia dilanjutkan dengan menegaskan sub-tipe gangguan yang


dialami pasien, dengan kecurigaan ke arah tipe paranoid, pasien lebih menunjukkan
gejala waham dan halusinasi. Diagnosis skizofrenia paranoid (F20.0) berdasarkan
kriteria diagnostik PPDGJ-III :
a. Memenuhi kriteria umum diagnosis skizofrenia.
b. Sebagai tambahan :
Halusinasi dan/atau waham harus menonjol.
a. Suara-suara halusinasi yang mengancam pasien atau memberi perintah,
atau halusinasi auditorik tanpa bentuk verbal berupa bunyi pluit
(whistling), mendengung (humming) atau bunyi tawa (laughing) pasien
mendengar suara yang memberi perintah pada pasien, beberapa kali pasien
mencoba buuh diri dan menusuk kakaknya, dan mengaku bahwa ada suara
yang memerintahkannya.
b. Halusinasi pembauan atau pengecapan rasa, atau bersifat seksual, atau
lain-lain perasaan tubuh, halusinasi visual mungkin ada tetapi jarang
menonjol pasien mengalami halusinasi visual (melihat tulisan yang hanya
dapat dilihat oleh dirinya).
c. Waham dapat berupa hampir setiap jenis, tetapi waham dikendalikan
(delusion of control), atau passivity (delusion of passivity), dan
keyakinan dikejar-kejar yang beraneka ragam, adalah yang paling khas
pada pasien didapatkan waham kejar dimana pasien merasa dirinya ingin
dicelakai oleh kakaknya.
Gangguan afektif, dorongan kehendak dan pembicaraan, serta gejala katatonik
secara relatif tidak nyata / tidak menonjol memenuhi kriteria ini.
Kriteria diagnostik DSM-IV subtype skizofrenia Tipe paranoid :
- Preokupasi terhadap satu atau lebih waham atau halusinasi auditorik yang
sering
- Tidak ada hal berikut yang prominen bicara kacau, perilaku kacau, afek datar
atau tidak sesuai.
Pasien sesuai dengan kriteria diagnostik skizofrenia paranoid (F20.0)
Pasien memenuhi seluruh kriteria diagnostik yang dipaparkan sehingga
dapat ditarik kesimpulan bahwa diagnosis pasien adalah skizofrenia paranoid
(F20.0).

30

Penatalaksanaan yang disarankan pada pasien ini adalah psikoedukatif dan


psikofarmaka.

Psikoedukasi

ditujukan

kepada

pasien

dan

keluarganya.

Psikoedukasi yang diberikan kepada pasien adalah melihat pasien secara holistik
dengan membina hubungan, menunjukan empati, memotivasi pasien untuk lebih
produktif dan minum obat secara teratur agar penyakitnya tidak muncul kembali.
Psikoedukasi yang diberikan kepada keluarga pasien adalah memberikan
penjelasan mengenai penyakit pasien, faktor-faktor yang dapat memperberat
keadaan penyakit pasien dan bagaimana cara pencegahannya sehingga keluarga
dan teman atau lingkungan sekitar dapat mengerti keadaan pasien dan mendukung
proses kesembuhannya. Terapis juga disarankan memberikan penjelasan tentang
terapi yang dijalani, menjelaskan efek samping yang mungkin terjadi, serta
menyarankan keluarga untuk selalu memberi memotivasi terhadap pasien untuk
minum obat secara teratur dan juga memberikan ketenangan serta kenyamanan
pasien selama pasien masih dalam masa perawatan sehingga pengobatan pasien
dapat berjalan baik.
Dalam

penatalaksanaan

skizofrenia

pada

umumnya

diperlukan

antipsikotik atipikal untuk mengontrol gejala. Adapun antipsikotik atipikal yang


dapat menjadi pilihan, antara lain aripiprazole, asenapine, clozapine, iloperidone,
olanzapine, paliperidone, quetiapine, risperidone, dan ziprasidone. Pemilihan
antipsikotik atipikal lebih disarankan daripada antipsikotik tipikal untuk
menghindari gejala ekstrapiramidal atau sindrom parkinson. Selain itu
antipsikotik atipikal lebih bermanfaat untuk gejala positif dan negatif skizofrenia,
Pada pasien ini terdapat kedua gejala sehingga disarankan untuk pemberian
antipsikotik atipikal.
Clozapine termasuk dalam golongan obat antipsikotik atipikal, yang
digunakan untuk mengontrol gejala, Sejenis dengan obat dibenzodiazepine
lainnya, seperti olanzapine dan zotepine. Antipsikotik atipikal lebih bermanfaat
untuk gejala positif dan negatif skizofrenia, pada pasien ini terdapat kedua gejala
sehingga disarankan untuk pemberian antipsikotik atipikal. Pada dasarnya semua
obat anti psikosis mempunyai efek primer (efek klinis) yang sama pada dosis
ekuivalen, perbedaan utama pada efek sekunder (efek samping: sedasi, otonomik,
31

ekstrapiramidal). Pemilihan jenis anti psikosis mempertimbangkan gejala psikosis


yang dominan dan efek samping obat. Pergantian disesuaikan dengan dosis
ekuivalen. Apabila obat antipsikosis tertentu tidak memberikan respons klinis
dalam dosis yang sudah optimal setelah jangka waktu yang tepat, dapat diganti
dengan obat anti psikosis lain (sebaiknya dan golongan yang tidak sama) dengan
dosis ekuivalennya. Mekanisme kerja obat antipsikotik atipikal adalah
memblokade dopamine pada reseptor pasca-sinaptik di otak, khususnya di sistem
limbik dan sistem ekstrapiramidal (dopamine D2 receptor antagonists) efektif
untuk gejala positif, serta berafinitas terhadap serotonin 5 HT2 receptors
(serotonin-dopamine antagonists) sehingga efektif juga untuk gejala negatif.
Clozapin harus diawali dengan dosis rendah dan dinaikkan secara bertahap untuk
meminimalkan risiko agranulositosis. Rendahnya affinitas terhadap reseptor D2
berhubungan dengan rendahnya efek samping terhadap gejala ekstrapiramidal. Itu
sebabnya dibandingkan dengan antipsikotik atipikal lainnya, klozapin memiliki
efek gejala ekstrapiramidal yang lebih aman. Berdasarkan penelitian yang
membandingkan klozapin dengan obat antipsikotik lainnya, 79% menunjukkan
bahwa klozapin lebih superior dibandingkan antipsikotik lainnya.. Efek samping
lain yang dapat timbul pada pemberian klozapin adalah konstipasi akibat efek
antikolinergiknya, takikardia dan efek metabolik seperti kenaikan berat badan
yang signifikan, resistensi insulin, dan dislipidemia. Dengan demikian, ada
beberapa pemeriksaan yang perlu dilakukan untuk mengurangi dampak terjadinya
efek samping, antara lain dengan pemeriksaan leukosit setiap minggu selama 6
bulan pertama terapi. Dosis anjuran yang disarankan adalah 150- 600 mg per hari.
Dalam penatalaksanaan skizofrenia pada umumnya diperlukan. Adapun
antipsikotik atipikal yang dapat menjadi pilihan, antara lain aripiprazole,
asenapine,

clozapine,

iloperidone,

olanzapine,

paliperidone,

quetiapine,

risperidone, dan ziprasidone. Pemilihan antipsikotik atipikal lebih disarankan


daripada antipsikotik tipikal untuk menghindari gejala ekstrapiramidal atau
sindrom parkinson. Indikasi pemberian clozapine secara umum adalah pasien
skizofrenia yang tidak responsif atau intoleransi terhadap obat neuroleptik klasik
dimana pemilihan obat clozapine tepat terhadap pasien ini.
32

Pada pasien juga diberikan obat risperidone, merupakan obat antipsikotik


generasi 2. Pemeilihan obat antipsikotik generasi 2 (APG II) adalah karena APG
II resiko efek samping ektrapiramidal yang rendah jika dibandingkan dengan APG
I. Selain itu, risperidone dapat memperbaiki fungsi kognitif pasien dan juga fungsi
terapeutiknya terjadi pada dosis rendah. Absorpsi dari risperidone tidak
dipengaruhi oleh makanan. Risperidone termasuk ke dalam golongan antipsikosis
atipikal. Aktivitas antipsikosis diperkirakan melalui hambatan terhadap reseptor
serotonin dan dopamine. Risperidon diberikan untuk mengatasi gejala negatif
ataupun positif skizofrenia.
Selain itu pada pasien ini juga diberikan obat haloperidol, yaitu obat APG
I. Kerja terapeutik obat obat antipsikotik konvensional adalah menghambat
reseptor D2, khususnya pada jalur mesolimbic. Hal ini dapat menimbulkan efek
berkurangnya hiperaktivitas dopamine pada jalur ini, yang merupakan sebagai
penyebab simtom positif pada psikosis. Haloperidol adalah salah satu obat yang
umumnya digunakan pada pasien agresif dan berbahaya, yang dimana pada pasien
ini terdapat tindakan agresif pada saat pertama masuk RSPAD karena pasien
menyerang kakaknya. Haloperidol memiliki efek samping yang cukup berat yang
termasuk

simtom ektrapiramidal dan akatisia. Waktu paruh obat ini adalah

berkisar 24 jam. Orang dewasa dalam keadaan akut cukup sesuai dengan
menggunakan dosis ekivalen haloperidol 5 hingga 20 mg, pada pasien ini
diberikan 2x5 mg.
Selain itu pada pasien ini diberikan obat trihexyphenidyl yaitu sebagai
obat untuk mengurangi gejala ektrapiramidal yang diakibatakan oleh efek
samping dari pemberian haloperidol. Triheksipenidil memiliki daya antikolinergik
yang berkerja menghambat pelepasan asetil kolin endogen dan eksogen,
menghambat reuptake dopamine pada ujung saraf presinaptik di otak.
Faktor resiko terjadinya gangguan jiwa terdiri dari faktor biologis yang
meliputi genetik, fisik dan lingkungan; dan faktor psikososial yang terdiri dari
faktor kepribadian, peristiwa kehidupan, dan stres lingkungan. Seorang yang
memiliki sanak saudara derajat pertama (orang tua atau saudara kandung) yang
33

menderita

gangguan

memungkinkan

skizoafektif,

seseorang

untuk

bipolar

ataupun

mengembangkan

skizofrenia
gangguan

lebih
tersebut

dibandingkan dengan orang tanpa sanak saudara derajat pertama yang menderita
gangguan tersebut. Berdasarkan anamnesa keluarga pihak ayah dan ibu, tidak ada
keluarga yang memiliki gejala yang sama dengan pasien. Selain itu tidak ada
saudara kandung pasien yang memiliki keluhan yang sama. Kelainan genetik ada
pada pasien ini dapat dikesampingkan.
Faktor psikososial yang paling mendukung terjadinya gangguan
skizofrenia adalah stress, dimana suatu teori diajukan bahwa stress berkelanjutan
dapat menyebabkan perubahan biologi otak yang bertahan lama yang dapat
menyebabkan perubahan keadaan fungsional berbagai neurotransmitter dan
sistem pemberi signal intraneuronal. Perubahan ini menyebabkan seseorang
berada pada risiko lebih tinggi untuk menderita episode gangguan skizofrenia
selanjutnya tanpa adanya stressor eksternal. Pasien awalnya mengalami kesedihan
dan kecewa saat dirinya tidak bisa masuk ke pesantren untuk lanjutkan sekolah,
ditambah lagi adik pasien meinggal karena HIV, pasien juga mengaku frustasi
karena selalu di remehkan, merasa tidak dihargai, dan merasa selalu dijahati di
rumah. Faktor-faktor ini berpengaruh terhadap terjadinya gangguan skizofrenia.

34

DAFTAR PUSTAKA
1. Maramis, W.S. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Airlangga University Presss :
Surabaya. 1994.
2. Stuart, G. W. dan Sundeen, S. J. Buku Saku Keperawatan Jiwa, Edisi 3. Penerbit
Buku Kedokteran EGC. 1998.
3. Olfson, Mark. Treatment Patterns for Schizoaffective Disorder and Schizophrenia
AmongMedicaid Patients. Diakses melalui: www.psychiatryonline.org/data/Journals/
4. American Psychiatric Association. Diagnosis dan Statistical Manual of Mental
disorders (DSM V TM). American Psychological Association (APA): Washington
DC.
5. Agus, Dharmady. 2003. Psikopatologi: Dasar di Dalam Memahami Tanda dan
Gejala dari Suatu Gangguan Jiwa. Ed.1. Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika
Atmajaya: Jakarta.
6. Maslim, Rusdi, 2013. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas dari
PPDGJ-III dan DSM 5. Cetakan 2. Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika
Atmajaya: Jakarta.
7. Sadock, Benjamin James., Sadock, Virginia Alcott. Kaplan & Sadock Buku Ajar
Psikiatri Klinis. Ed.7. Jakarta : EGC
8. Maslim, Rusdi, 2007. Panduan Klinis Obat Psikotropik. Ed 3.Bagian Ilmu
Kedokteran Jiwa FK Unika Atmajaya: Jakarta.

35